Showing posts with label owa. Show all posts
Showing posts with label owa. Show all posts

Thursday, November 24, 2022

Urgensi Kanopi Hutan Bagi Primata Arboreal di Hutan Sokokembang

 oleh : M.Y . Khansa Kharismawan


Apa yang terbersit dalam benak anda ketika melihat beberapa foto diatas? Zebra cross sebagai jalur bagi pejalan kaki menyeberang atau Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang jalurnya terpisah dengan ketinggian tertentu dengan kendaraan bermotor dibawahnya. Kedua gambar tersebut mengingatkan kita akan betapa pentingnya keamanan dan keselamatan pejalan kaki dalam beraktivitas di sekitar jalan raya. Pertanyaan muncul terkait gambar ketiga berupa ranting-ranting pepohonan dan korelasinya terhadap kedua gambar pertama. Apakah gambar ketiga merupakan kondisi hutan sebelum dibangun jalan raya dan segala fasilitasnya? Tentu tidak gambar tersebut merupakan salah satu kondisi kanopi di Hutan Petungkriyono, Pekalongan, Jawa Tengah. Tepat di bawahnya melintas Jalan Raya Doro-Pekalongan yang menjadi akses menuju berbagai ekowisata di area Hutan Petungkriyono. Ketika melewati jalan tersebut kita dapat melihat berbagai satwa liar beraktivitas di diantara kanopi contohnya adalah lutung jawa (Trachypithecus auratus) dan owa jawa (Hylobates moloch).

Kotoran Lutung dan Kotoran Owa
Lutung jawa dan owa jawa merupakan jemis primata arboreal yang menghabiskan sebagian besar waktu diantara pepohonan. Apa yang akan terjadi apabila konektivitas kanopi  disekitar jalan raya tidak lagi dapat digunakan lagi bagi kedua primata tersebut? Apakah mereka harus mencari konektivitas kanopi lain, turun ke jalan untuk berpindah habitat atau bahkan terisolasi. Walaupun keberadaan jalan tidak memutus konektivitas kanopi secara seluruhnya, pelebaran jalan dan pembangunan fasilitas untuk ekowisata di sekitar area jalan yang tidak berkelanjutan bagi primata arboreal dapat mengancam keselamatan mereka. Ancamannya antara lain tertabrak kendaraan yang melintas, predasi, tersengat aliran listrik, dan rentan tertular penyakit. Penularan penyakit pada primata yang turun ke jalan dan melakukan kontak dengan tanah adalah infeksi Soil-Transmitted Helminth (STH),  cacing dari golongan nematoda  usus yang sifatnya parasit yang siklus perkembangbiakannya melalui tanah. Parasit ini bisa menginfeksi primata-primata yang turun ketanah atau mempunyai potensi bersentuhan dengan permukaan tanah.

 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi infeksi STH pada lutung jawa dan owa jawa melalui sampel feses di Hutan Petungkriyono. Hasil yang diperoleh nantinya dapat digunakan digunakan sebagai data pembanding apabila konektivitas antar kanopi di sekitar area jalan semakin jauh dan kontak antara primata arboreal dengan STH semakin sering. Indikasi owa jawa menggunakan akses jalan untuk berpindah habitat belum ditemukan. Berbeda dengan lutung jawa yang memiliki kecenderungan untuk beraktivitas pada strata kanopi yang dekat dengan tanah ataupun diatas tanah. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya bangkai lutung jawa di pinggir jalan dimana tidak ditemukan aliran listrik di area yang sama. Kami menduga lutung jawa tersebut mati tertabrak kendaraan yang melintas. Hasil publikasi selengkapnya dapat dilihat di  https://smujo.id/biodiv/article/view/11023/6152

 

Sunday, October 10, 2021

Seberapa populer Owa di Twitter ?

Saturday, August 28, 2021

Limbah Konfeksi untuk Konservasi

 oleh : Elna Novitasari Br.Ginting dan Arif Setiawan



Salah satu yang menggerakkan ekonomi warga di Pekalongan adalah konfeksi (industri pakaian), dan hal ini hampir merata di semua wilayah, dari kota hingga ke pelosok desa-desa sekitar hutan pun juga ada rantai ekonomi usaha konfeksi ini. Mulai dari memotong bahan baku kain, menjahit, memasang kancing,resleteing, sablon, mewarnai, dan juga yang sudah turun temurun dilakukan adalah membatik.

Kami melihat rantai ekonomi konfeksi ini di Sokokembang, salah satu dusun paling dekat dengan habitat Owa Jawa (Hylobates moloch) di Pekalongan, primata langka yang hampir punah dan sudah ada sejak pertama kali kami singgah di dusun di Tengah hutan habitat Owa ini, tahun 2006. Beberapa warga terlibat langsung dan mendapatkan penghasilan utama dari kegiatan konveksi, menjahit bagian dari pakaian yang merupakan bagian kecil dari sbuah rangkaian proses produksi pakaian jadi. Warga yang bekerja di sektor ini bisa di bilang 45% dari total keluarga yang ada di Sokokembang, yang bekerja di sektor lain seperti bertani, beternak,  di kebun dan hutan. Tahun-tahun awal kami memulai kegiatan di sokokembang hingga tahun 2014, warga yang bekerja menjahit, melakukan pekerjaannya ini di tempat bos atau juragan yang mempunyai mesin-mesin jahit dan bahan kain, tidak melakukan pekerjaan ini di rumah. Setiap hari dari Senin-Kamis, Sabtu, Minggu, dan libur di hari Jumat.


Sudah tentu pekerja-pekerja konfeksi ini relasi dengan hutan sebagai habitat Owa Jawa tidak sedekat warga yang bekerja dirumah, bertani, kehutan, mengolah kopi dan lain sebagainya. Namun mereka mempunyai peran penting juga dalam memutar roda ekonomi pada umumnya kehidupan di sekitar hutan. Nama-nama pohon hutan, pengetahuan tentang binatang-binatang hutan, tentu berbeda dengan warga yang sering masuk hutan. Menceritakan dan menggambarkan Owa saja kadang masih salah dengan menyebut ekor ada di Owa, karena sanggat jarang sekali melihat Owa. Yang sudah benar mereka ceritakan adalah mengenai suaranya, karena suara-suara owa terdengar cukup jelas di pagi hari.


Tim Wildgibbon Indonesia- Swaraowa beberapa waktu lalu dalam suasana pandemi, mencoba mencari solusi untuk menyambungkan permasalahan owa ini ke bidang yang menjadi mayoritas pekerjaan dan yang ada di Pekalongan, konfeksi. Melihat kain-kain perca sisa potongan, ada dimana-mana, meskipun juga sudah ada yang memanfaatkan, namun tim mencoba membuat berbeda dengan tujuan untuk mengenalkan dusun Sokokembang .

Tas kain 'tote bag' menjadi pilihan, memanfaatkan limbah kain potongan, bagi warga yang pekerjaannya memang menjahit, mulai membuat pola, menyambung  kain-kain dan membentuk sebuah tas yang siap dan layak pakai adalah hal mudah yang dapat di kerjakan di sela-sela menjahit menyelesaikan pekerjaan harian. Namun, hal ini juga coba diperkenalkan kepada generasi muda yang aktif di Sokokembang. Pelatihan singkat diberikan oleh warga yang sudah mahir dalam menjahit, dan tim Wildgibbon memberikan sentuhan tambahan untuk kain perca yang di manfaatkan ulan untuk tas. Hasil akhir dari kain perca tersebut jadi sebuah "tote bag", dengan logo utama Owa Coffee dan Sokokembang.


Dari program ini, salah satu hal lagi yang menjadi contoh dan sekaligus tantangan adalah memunculkan kegiatan konservasi sekaligus memupuk jiwa entrepreneur atau wirausaha. Keberadaan tim konservasi sudah seharusnya dapat menambah nilai dari apapun yang terkait langsung atau tidak langsung dengan misi konservasi yang di angkatnya. Menjual produk dengan strategi pemasaran, tidak akan jadi apabila hanya dalam tataran rencana dan wacana, namun hal ini sudah menjadi bagian dari kegiatan wirausaha itu sendiri, yang juga dapat mendatangkan keuntungan ekonomi, dan harapnnya memang mendorong kegiatan konservasi selanjutnya.


Sunday, March 7, 2021

Penyelamatan Hulu Sungai Kupang, Aksi konservasi Forum Kolaborasi Pengelolaan Hutan Petungkriyono

 oleh : Arif Setiawan @swaraowa

Dusun Lindon, desa Tlogohendro, menjadi lokasi yang menjembatani komunikasi antar pihak dalam wadah forum komunikasi pengelolaan hutan petungkriyono, untuk bertemu dan memulai  aksi bersama di lapangan. Kegiatan lapangan ini menjadi yang pertama kali sejak surat keputusan di keluaran oleh Gubernur jawa tengah, untuk forum kolaborasi pengelolaan hutan Petungkriyono.



Acara yang di inisiasi oleh Perhutani KPH Pekalongan Timur,  Cabang Dinas Kehutanan 4, Jawa Tengah dan SwaraOWA, telah berhasil mengundang  dan mempertemukan pihak-pihak terkait yang peduli akan pembangunan dan kelestarian hutan Petungkriyono.

Untuk sampai ke dusun Lindon, niat saja tidak cukup, namun perlu upaya yang tidak biasa-biasa saja, karena geografis yang bergunung, dan jalan berliku yang kanan-kirinya jurang dan tebing batu. Menjadi semangat  semua perserta yang  belum pernah berkunjung ke desa di pelosok pegunungan Kabupaten Pekalongan.






Acara penanaman pohon di hulu sungai Kupang,  mempertemukan anggota forum dan warga desa Tlogohendro, setidaknya untuk mengenalkan personal dan juga selanjutnya dapat  mengkomunikasikan kebijakan masing-masing Lembaga dalam mensinergikan tata Kelola  hutan yang menjadi habitat Owa Jawa, dan satwa-satwa endemik Jawa lainnya.  


Acara penanaman pohon hari kamis tanggal 4 Maret 2021 di hadiri oleh setidaknya 120 orang, yang Sebagian besar adalah warga desa Tlogohendro, dan tamu undangan dari anggota forum kolaborasi pengelolaan hutan Petungkriyono. Dibuka oleh Bapak Kaslam, selaku kepala Desa Tlogohendro, membuka dengan mengajak warga Tlogohendro khususnya untuk terus menjaga alam, karena alam juga sudah memberikan manfaatnya untuk kita sehari-hari,sperti udara bersih, menjaga dari bencana, dan tidak menebang  pohon-pohon yang ada di hutan. “Kegiatan seperti ini harusnya dapat di teruskan atau dapat di lakukan secara berkelanjutan, agar hutan juga terus lestari dan aman”, harapan pak Kaslam.

Bapak Sugiharto, dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah memberi sambutan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi momentum untuk melestarikan fungsi penting DAS Kupang, mengajak warga sekitar  menjadi bagian penting dalam menjaga Kawasan penting di Petungkriyono.  Jenis-jenis yang di tanam dan dibagikan ke warga di Tlogohendro kuranglebih 1250 batang, terdiri dari Bambu petung, dan Aren, yang secara ekologis penting untuk pelestarian tanah dan air, namun juga dari sisi ekonomi sangat berarti bagi warga Petungkriyono. Jenis yang lain adalah tanman buah Nangka, Sirsak, dan Petai dan Jengkol.




Pemilihan jenis pohon yang di tanam sudah melalui survey awal terhadap lokasi tanam, berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut, kondisi tegakan yang masih hidup,  keinginan warga dan fungsi ekologis tanaman itu sendiri. Bambu Petung ( Dendrocalamus asper) merupakan tanaman pencegah longsor yang baik, Bambu petung ini biasanya tumbuh di tepi-tepi sungai kecil yang berkontur curam. Bambu petung juga merupakan komoditas bahan pangan yang memanfaatkan rebungnya. Untuk bahan konstruksi dan kebutuhan penanaman sayuran ( ajir), juga sudah banyak di manfaatkan oleh petani-petani di bagian atas Petungkriyono, khususnya Tlogohendro.


Nangka ( Arthocarpus heterophyllus), merupakan komoditas bahan pangan yang utama untuk di Pekalongan, karena nasi megono , kuliner khas Pekalongan ini menggunakan Nangka muda sebagai bahan bakunya, meskipun belum ada data mengenai kebutuhan Nangka untuk megono, namun produsen Nangka untuk megono ini salah satunya berasal dari Kecamatan Petungkriyono. Jenis-jenis tanaman buah yang di tanam juga merupakan komoditas tanaman pangan sekaligus untuk fungsi ekologis tutupan hutan dan perbaikan habitat satwaliar.

Kopi Arabica Jawa, varian typica dan pohon Aren ( Arenga pinnata) menjadi salah satu komoditas unggulan warga di Tlogohendro dan umumnya warga di Petungkriyono, dan menjadi keinginan warga untuk memperbanyak tegakan kopi muda yang di tanam di lahan-lahan milik warga. Pohon aren selain berfungsi untuk mencegah longsor dan vegetasi penahan air hujan, aren ini menjadi sumber bahan baku untuk Gula aren dan Kolang-kaling yang sudah sejak dahulu di kelola warga di Petungkriyono. Pak Tasbin, Ketua LMDH Tlogohendro, mengungkapkan kalau potensi kopi di Desa Tloghendro ini sangat besar, namun masih belum dikelola dengan baik, tanaman-tanaman kopi sudah banyak yang tua dan kurang produktif. Dengan adanya regenerasi tanaman kopi ini, diharapkan dapat menyediakan kopi-kopi istimewa dalam waktu 4 tahun mendatang, ungkap pak Tasbin. 


Salah satu program pemberdayaan yang dilakukan oleh tim Swaraowa juga telah membuat semai kopi dan Aren ini di dusun Sokokembang. Bersama warga khusunya ibu-ibu di Sokokembang, tahun ini telah berhasil memproduksi kuranglebih 15000 batang bibit kopi Arabica dan 500 batang bibit Aren. Bibit siap tanam dari kebun bibit  di dusun, Sokokembang ini yang digunakan untuk penanaman di hulu Sungai Kupang.





Acara penanaman pohon di hulu Sungai Kupang, bertema “Penyelamatan hulu Sungai Kupang, untuk Pencegahan Banjir dan Longsor” juga merupakan bentuk kampanye penyadar tahuan tentang pentingnya Kawasan hulu sungai petungkriyono sebagai Kawasan tankapan air untuk wilayah dibawah, dan sarana edukasi untuk mengajak siapapun untuk menanam dan merestorasi Kawasan hutan. Pohon-pohon penting secara ekologis untuk melindungi tanah dan air, menyediaka pilihan-pilihan  komoditas ekonomi, dan juga tempat berlindung bagi berbagai hidupan liar.


Wednesday, December 30, 2020

Kilasbalik 2020 : gita karya di tengah pandemi.

 oleh : Arif Setiawan. E-mail : a.setiawan@swaraowa.org


bentangalam kawasan hutan Petungkriyono


Bulan januari 2020, rencana untuk kegiatan-kegiatan pelestarian primata khususnya jenis-jenis owa  sudah sedemikian rupa telah  disusun,  tanpa menaruh perhatian pada gemuruh badai global yang sudah begerak. 2 kegiatan utama yaitu  untuk konservasi Owa di Jawa Tengah dan Owa bilou di Kep.Metawai telah menjadi motivasi kuat untuk memperkuat kerja konservasi di tingkat tapak.

Kegiatan bersama dengan tim malinggai Uma Mentawai disiberut selatan, dilakukan dengan tujuan untuk  meningkatkan kapasitas anggota Malinggai Uma, dengan mengenalkan fotografi satwa untuk tujuan pelestarian budaya dan keanekargaman hayati. 2 anggota malinggai uma telah di persenjatai dengan 2 kamera yang akan digunakan untuk berburu satwa, merekam sejarah alam, dan meninggalkan kebiasaan berburu yang tidak lagi menggunakan adat.

Program ini telah sedikit banyak memberikan dampak langsung, dengan terbitnya buku burung Mentawai dan buku primata Mentawai. Kerja kolaboratif dengan mendorong warga sekitar sebagai actor utama “paraconservationist” .  Tidak hanya primata, namun mengenalkan keanekargaman hayati lainnya yang ada di mentawai sekaligus memperkuat nilai budaya asli.

Bilou (Hylobates klossii)

Kegiatan Mentawai di bulan januari tersebut, sebenarnya juga akan mengawali kegiatan promosi konservasi primata Mentawai melalui wisata pengamatan primata, promosi melalui  website https://wildgibbonindonesia.com/  juga sudah di mulai dan perjalanan ini sebenarnya sudah di lakukan untuk ujicoba sebuah trip wisata pengamatan primata endemik Mentawai, dengan kombinasi wisata budaya. Baca trip reportnya di sini. Namun hal ini juga tertuda untuk pengembangannya, kalau sejak bulan Maret sampai saat ini wisata ke Mentawai juga masih tertunda untuk wisatawan target primatewatching ini yang kebanyak dari luar negeri. Beberapa kelompok wisatawan sudah memesan perjalanan ini sejak promosi kami di akhir tahun 2019, namun harus di batalkan karena situasi pandemi global.

Bulan februari, menjadi bulan terakhir sebelum tatanan global berubah karena pandemi virus covid 19, kesempatan mengupgrade pengetahuan, dan pengalaman tentang primate-primata sumatera datang Ketika Noel Rowe PCI mengajak untuk melakukan  primate watching trip ke sumatera bagian tengah, dan yang menjadi target species adalah jenis-jenis Presbytis sp.

Konsep primate watching trip ini lebih mirip perjalanan overland, dengan kendaraan 4x4, yang melintas hutan-hutan yang dapat di lalui kendaraan roda 4, namun masih memungkinkan melihat primate-primata. Perjalanan dimulai dari Padang sumatera barat, Jambi, Riau, hingga ke Sumatera Utara, dan Kembali lagi ke Padang. Total panjang perjalanan ini adalah kurang lebih 3500 km, selama 24 hari. Selain melihat langsung dan mendokumentasikan species-species simpai sumatera bagian tengah, juga melihat langsung ancaman kelestarian habitat dan populasi monyet daun endemik Sumatera. Taksonomi jenis-jenis simpai Sumatra ini memang masih sangat membingungkan dan di perdebatkan, selain kurang di perhatikan di kalangan peneliti dan konservasionist.  Primate watching ini sebenarnya baru di inisiasi dan akan menjadi salah satu sumberpendaan kegiatan swaraowa, pengalaman merencanakan, handling tamu dan juga kondisi lapangan menjadi sarana latihan untuk tur primata. Cerita perjalanan ini dapat di ikuti di Instagram swaraowa mulai tanggal 5 februari sampai 25 Februari 2020. Beberapa spot lokasi untuk pengamatan Ungko dan siamang terdata dengan kemungkinan akan di kunjungi lagi  di waktu mendatang. Hari-hari terakhir primatewatching trip Sumatra, kabar mengenai virus corona 19 sudah menyebar, di berbagai negara, namun sepertinya di Indonesia masih belum mendapat perhatian serius.

Tim kopi owa ds.Tlogohendro

Bulan Maret 2020, kegiatan proyek kopi dan konservasi primata 2020, akan ada kunjugan resmi dari Ostrava zoo, yang di wakili staf kebun binatang dan wakil duta besar dari Ceko untuk Indonesia. Kegiatan yang di rencakan mengunjungi Sokokembang dan desa mendolo untuk melihat demplot budidaya Lebah, namun bersamaan dengan acara ini, kami mendapat surat edaran dari Bupati kabupaten Pekalongan kalau tidak boleh mengadakan acara yang sifatnya mengumpulkan orang dan berkerumun untuk mencegah penularan virus. Sangat kecewa tentusaja, tapi ini juga mengikuti aturan pemerintah, apalagi untuk menjaga situasi tetap kondusif di desa tempat kegiatan. Acara di batalkan dan kami hanya bertemu dengan perwakilan staff kebun binatang Ostrava Zoo di Kota Pekalongan, dan langsung balik ke Jakarta.

Bulan  Maret awal adan juga tim swaraowa yang ikut pameran di Indofest awal bulan maret juga harus kembali ke habitat asal, karena acara festival produk-produk outdoor dan wisata alam itu juga di tutup sebelum acara selesai. Acara ini sebenarnya juga menjadi media promosi wisata minat khusus, di habitat owa jawa, namun sepertinya juga banyak hal yang harus dipersiapkan dan tertunda untuk pengembangan wisata ini. Sepertinya kegiatan wisata juga yang paling terkena dampak dari pandemi covid19.

Dari semua kegiatan proyek kopi dan konservasi primata tahun 2020, yang paling terasa dampaknya adalah ketika rantai penjualan komoditas kopi ramah hutan yang bekerjasama dengan Singapore zoo, terhenti, karena café shop  utama yang menjual kopi owa di Singapore tutup karena covid19. Stok kopi menumpuk di gundang kopi owa di Jogja, dan di rumah warga sekitar hutan habitat owa di Petungkriyono. Rencana kunjungan tim Wildlife Reserve Singapore dan journalist dari Singapore yang telah disusun pertengahan tahun 2019 juga harus di batalkan karena pandemi ini

Kuncitara terjadi dimana-mana, membatasi gerak manusia dan ekonomi , namun yang terjadi di habitat owa tidaklah sepenuhnya terkuncitara, dari pengamatan bulan Maret-Juni 2020, orang-orang sudah mulai jenuh dengan kondisi di rumah saja, dampaknya terhadap habitat owa apa ? hal ini juga masih menjadi tanda tanya. 2 bulan pertama lockdown saja jalan-jalan hutan sepi, setelah itu sepertinya hutan menjadi tempat hiburan di kala pandemi, wisatawan lokal setiap hari datang, entah hanya sekedar jalan-jalan, melihat hutan, dan beberapa spot  wisata  sungai juga menjadi tempat mengisi waktu. Kegiatan monitoring owa di sepanjang jalan dilakukan oleh warga di sokokembang, mencatat perjumpaan primate di sepanjang jalan antara Kroyakan hingga Sokokembang, kurang lebih 6 km.

Kegiatan panen madu klanceng di Ds. Mendolo

Kegiatan budidaya klanceng, yang telah berkembang di Dusun Mendolo,  kecamatan Lebakbarang, kabupaten Pekalongan, terus dipantau dari jarak jauh selama pandemic, meskipun tidak melihat langsung namun laporan-laporan perkembangan kegiatan terus di update tim di Mendolo.

Bulan Mei 2020, menjadi bulan baik untuk Owa Bilou, publikasi survey salah satu primata endemik Mentawai ini terbit di jurnal biodiversitas, yang di dukung penerbitannya oleh PERHAPPI melalui kongres primata Indonesia bulan September 2019.

Seri diskusi konservasi, menjadi kegiatan yang di tiadakan di tahun 2020, karena tidak memungkinkan untuk membuat acara mengumpulkan banyak orang di masa pandemi, kegiatan seri diskusi konservasi ini bertujuan untuk mengarus utamakan kegiatan pelestarian alam di habitat owa jawa, tidak hanya terkait dengan owa saja, tapi keanekaragaman hayati secara umum dan bagaimana memperkuat nilai tambahnya, sebagai bagian dari ekosistem, dan potensi sosial ekonominya. Sempat membuat acara pengganti seri diskusi konservasi ini dengan podcast swaraowa, yang kebetulan sempat menginterview Dr. Bas van Balen ketika berkunjung ke Petungkriyono. Podcastpun juga tidak dapat di lakukan secara berseri dengan kendala teknis.

Memasuki bulan juni 2020, ada 2 kegiatan penelitian di Sokokembang, perempuan-perempuan tangguh yang sangat tertarik untuk tidak terpaku diam di rumah, namun lebih memilih hutan dan membaur bersama warga sekitar hutan, yang pertama Nur Aoliya dari IPB yang meneliti perilaku bersuara owa jawa di wilayah pegunungan Dieng, yang mencakup 2 kabupaten, Batang dan Pekalongan. Baca cerita lapangan Aoliya disini  yang mengisahakan Owa seperti Diva di tengah rimba.  Yenni Rachmawati dari UNAIR tertarik meneliti keberadaan salah satu burung yang sangat terancam punah, Raja Udang Kalung Biru, yang ditemukan oleh tim swaraowa tahun 2018.  Kedua penelitian ini merupakan bagian dari program beasiswa Kopi Owa yang setiap tahun di adakan oleh proyek kopi dan konseravasi primata di Jawa Tengah.  Penelitian-penelitian ini masih terus berjalan hingga awal tahun 2021.

Bulan Agustus 2020, swaraowa menerima salah salah satu mahasiswa magang dari sebuah sekolah di Inggris, kegiatan magang ini juga bertujuan untuk memperluas jejaring konservasi owa dan meningkatkan kapasitas generasi muda untuk ikut dalam kegiatan lapangan konservasi owa secara langsung.

Memasuki akhir tahun 2020, kegiatan terkait budidaya lebah di desa Mendolo selain monitoring rutin setiap bulan, di bulan Oktober kami mengadakan kegiatan pelatihan pengolahan produk-produk turunan dari kegiatan perlebahaan ( beekeeping). Beeswax yang di hasilkan dari kegiatan pemanenan madu hutan di olah menjadi lilin dan pomade perawatan rambut. Produk-produk ini masih dalam taraf ujicoba dan memberikan contoh kepada warga sekitar hutan bahwa ada produk lain yang bisa di kembangkan dari kegiatan budidaya lebah . Bulan oktober juga menjadi hari Owa Internasional, tidak seperti biasanya kegiatan Pelatihan Metode Survey Primata ( MSP) yang dilakukan setiap tahun sejak tahun 2013 harus di tiadakan, tahun ini seharunya menjadi acara yang ke-8.

Kegiatan konservasi Bilou di Kep.Mentawai, bulan November 2020 aktif kembali, dengan melaksanakan kegiatan yang sempat tertunda  karena pandemi. Pelatihan guru-guru untuk meningkatkan pengalaman dan pengetahuan, serta metode mengajar yang menggunakan materi terkait dengan konservasi alam dan budaya Mentawai. Kegiatan ini didasari dari semakin terkikisnya budaya  asli Mentawai, yang juga semakin susahnya melihat primata-primata Mentawai , karena hilangnya hutan dan perburuan.

Salah satu kegiatan baru yang juga di inisiasi oleh tim swaraowa di masa  pandemi , adalah survey Monyet endemic pulau Natuna, Presbytis natunae. Bertujuan untuk mengupdate status dari jenis primata pemakan daun yang hanya ada di Pulau Natuna. Survey berhasil menemukan populasi Kekah Natuna di Pulau Bunguran. Hasil survey ini diharapkan juga dapat mengarusutamakan pelestarian primate di Pulau Natuna, dengan melibatkan pihak-pihak terkait .

Webinar Owa Indonesia menjadi salah satu kolaborasi aksi dengan pegiat konservasi primata Indonesia khususnya, jenis-jenis Owa dan hal ini terlaksana dengan adanya 3 seri diskusi online, seri Jawa, Sumatera dan Kalimantan.

Beberapa kegiatan tidak sempat terdokumentasikan di website atau blog swaraowa, karena keterbatasan waktu untuk menulis. Salah satu capaian penting namun juga tantanganbaru  untuk konservasi Owa di Kabupaten Pekalongan adalah , pengelolaan kolaboratif yang diinisiasi di tahun 2019, mendapatkan perhatian dari permerintah provinsi dengan adanya surat keputusan forum kolaboratif pengelolaan Kawasan hutan Petungkriyono, yang dalam hal ini forum bersama multipihak di wilayah kecamatan petungkriyono mengusulkan kurang lebih 5,173.80  ha, untuk dikelola secara kolaboratif, dalam usulan Kawasan Ekosistem Esensial.

Satu hal penting , pandemic global ini telah membatasi gerak  manusia, dimana kita juga berbagi ruang dengan alam dan segala isi dan permasalah sosial ekonominya. Praktik budaya konsumsi dan produksi yang berkelanjutan harus tempatkan di daftar prioritas, meskipun dalam sekala kecil, dan komunitas yang terbatas, karena ini  adalah pilihan yang harus kita ambil demi setiap gerak berdampak untuk alam.  

Kopi Owa Bilou


Akhir tahun 2020, kami tutup dengan meluncurkan Kopi Owa Bilou, yang bertujuan untuk mempromosikan kegiatan konservasi primata khususnya Bilou ( Hylobates klosii), owa endemik Mentawai.   Penjualan kopi ini di prioritaskan di wilayah sumatera barat khususnya Padang, dan Kepulauan Mentawai, bekerjasama dengan Malinggai Uma di Siberut Selatan.

Selamat tahun baru 2021.

 







Friday, July 3, 2020

Nyanyian Owa Jawa : diva di tengah rimba

Oleh : Nur Aoliya , email :  nuraoliya@apps.ipb.ac.id

 

Sepasang Owa Jawa

“Emang ada Owa Jawa di Pekalongan?” itu pertanyaan pertama saya saat mendengar program konservasi owa jawa oleh Coffee and Primate Conservation Project atau sekarang lebih dikenal SwaraOwa  di desa sukokembang, kecamatan petungkriyono kabupaten pekalongan tahun 2014. Sampai sekarang tahun 2020 masih ada orang yang mempertanyakan akan hal itu, bahkan orang pekalongan sendiri ada yang tidak tahu kalo ada Owa Jawa di Pekalongan.

Salah satu yang unik dari owa adalah suara atau nyanyiannya, bak sebuah lagu. Baik owa betina maupun jantan dapat bersuara, namun waktu dan tipe suaranya berbeda. Owa jantan cenderung bersuara sebelum fajar sedangkan Owa betina cenderung bersuara setelah terang dan kadang siang hari. Jenis-jenis owa menghasilkan  nyanyian lagu yang keras dan panjang yang sebagian besar dipamerkan oleh pasangan yang telah kawin. Biasanya, pasangan menggabungkan nyanyian ini  (repertoire) dalam interaksi vokal, tepat waktu, dan kompleks untuk menghasilkan  pola duet yang baik.1

Perbedaan waktu bersuara Owa Jawa ini, kenapa seperti itu juga belum banyak yang meneliti. Di dunia hanya Owa dari Jawa dan Owa dari Mentawai dimana antara jantan dan betina tidak menyanyi bersama.

Lebih menarik lagi suara yang dinyanyikan owa betina pada pagi hari yang disebut great call, karena suaranya sangat khas. Suaranya dimulai dengan suara “waa” dengan interval lambat yang semakin cepat sampai ke lengkingan panjang dan diakkhiri dengan interval yang semakin melambat.  Mungkin karena itulah satwa ini lebih dikenal sebagai owa-owa/ uwek-uwek karena suarnya terdengar melafalkan kata tersebut. Suara betina selain khas juga memiliki peranan sangat penting, yaitu sebagai tanda daerah teritorinya. Setiap kelompok owa memiliki area yang digunakan sebagai tempat mencari makan, istirahat, reproduksi, dan segala aktifitasnya. Area tersebut akan dijaga dan tidak akan mengijinkan owa dari kelompok lain untuk memasuki area mereka. Tugas owa betina ini menyiarkan batas-batas areanya melalui suaranya tiap pagi.

Lantas bagaimana owa tau bahwa ini suara betina yang mana? Dan dari kelompok mana? ini menjadi daya tarik saya untuk mepelajari variasi great call owa di sokokembang sebagai skripsi yang didukung oleh Swaraowa. Ternyata setelah saya mempelajari lebih lanjut baik secara literature maupun penelitian langsung setiap suara betina ini memiliki perbedaan. Perbedaanya dapat kita lihat dengan cara memvisualisasikan suara nyanyiannya, dan perbedaan yang utama  dari nadanya, durasinya dan frekuensinya (lihat gambar dan video). Seperti suara manusia yang berbeda-beda sehingga kita bisa membedakan manusia hanya dari suaranya tanpa melihat wujudnya kan? owa jawa juga begitu.

Visualisasi suara 3 individu Owa jawa

Saat ada satu betina yang bersuara maka akan memancing betina lain akan bersuara.  Antar betina yang beda kelompok tidak akan bersuara bersamaan alias bergantian, agar pesan  masing-masing kelompok tersampaikan. Biasanya betina remaja akan belajar bersuara bersama induk betinanya, tapi kadang suaranya masih nanggung atau tidak seharmoni induknya. Owa tidak akan bersuara saat hujan atau malam harinya hujan. Soalnya suaranya akan lebih sulit terdengar oleh kelompok lain dan butuh energi lebih saat hujan.  Jadi dari pada energi terbuang sia-sia untuk bersuara lebih baik digunakan untuk menghangatkan badan. Sama seperti kita kalo hujan juga penginya rebahan ajah, tidak  buang-buang energi.

Demikianlah sebagian fakta unik tentang owa jawa. Mudah-mudahan owa jawa dimanapun khususnya di Petungkriyono akan tetap lestari,  owa membantu regenerasi alami pohon-pohon alam, kita butuh hutan  dan owa jawa sebegai satu kesatuan, menikmati udara segar, air sungai yang deras dan jernih, sumber ekonomi dan  ilmu pengetahuan  yang harus kita rawat dan kelola dengan bijaksana. Menikmati nyanyiannya di hutan setidaknya akan memberikan rasa kedamaian diantara riuhnya suara-suara gemuruh pembangungan anthroposentris , nyanyian Owa seperti diva di tengah belatara, yang menunjukkan bahwa hutan tempat hidupnya masih terjaga. Melestarikan owa jawa dan hutan sama sajah menjamin kehidupan untuk manusia generasi selanjutnya.

 

Daftar Pustaka

1. Geissmann, T. dan V. Nijman. 2001. Calling Behaviour of Wild Javan Gibbons Hylobates moloch In Java, Indonesia dalam Forest (and) Primates. Conservation and ecology of the endemic primates of Java and Borneo. Tropenbos Kalimantan Series


Sunday, June 28, 2020

Beasiswa SWARAOWA : Kopi dan Konservasi Primata

Hutan Sokokembang

Regenerasi peneliti dan pegiat konservasi menjadi salah satu program sebagai bagian dari kegiatan Kopi dan Konservasi primata. Generasi muda dari perguruan tinggi menjadi target peningkatan kapasitas dan mendorong kegiatan ilmiah di habitat Owa Jawa, di Pekalongan. Harapannya informasi ilmiah ini dapat digunakan oleh siapapun untuk belajar, dan menjadi informasi yang dapat digunakan sebagai dasar pengeloaan kawasan hutan habitat owa jawa dan umumnya pengelolaan berdasarkan bentang lahan di Jawa Tengah. Meskipun fokus kegiatan ada di Hutan Sokokembang, namun penelitian-penelitian yang dilakukan juga meluas di habitat Owa Jawa yang ada di wilayah Jawa Tengah lainnya.

kegiatan pengamatan primata, di acara tahunan MSP


Kegiatan penelitian flora dan fauna ini, melengkapi kegiatan pengumpulan informasi ilmiah yang terkait keanekargaman hayati yang ada di habitat Owa Jawa, harapannya dapat memberikan pengetahuan baru dan pengalaman penelitian khususnya bagi para mahasiswa di Jawa Tengah. Acara setiap tahun Pelatihan Metode Survey Primata yang diadakan setiap bulan Oktober, juga menjadi forum pembelajaran, peningkatan kapasitas dan berjejaring untuk regenerasi peneliti primata dan pegiat konservasi.   Tahun ini ada beberapa laporan mahasiswa yang sudah menyelesaikan penelitian di Sokokembang, beberapa diantaranya mendapat dukungan langsung melalui program beasiswa. Yang berikan kepada peneliti-peneliti muda ini untuk melakukan penelitian yang sesuai dengan bidang minat yang diarahkan dari kampus masing-masing.

Berikut ini penelitian-penelitian yang mendapat dukungan langsung melalui program beasiswa SWARAOWA di tahun 2019.

1. A. Kurniawan, K. Baskoro, and J. Jumari, "Komposisi Vegetasi Habitat Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) di Kawasan Wana Wisata Kalipaingan Kabupaten Pekalongan," Bioma : Berkala Ilmiah Biologi, vol. 21, no. 2, pp. 132-138, Dec. 2019. https://doi.org/10.14710/bioma.21.2.132-138

2. I. Herdiansyah, and B. Setiyono, "Pemberdayaan dalam Perspektif Pembangunan Berkelanjutan: Studi Kasus Strategi Pemberdayaan Masyarakat Hutan Sokokembang LSM swaraOwa di Kabupaten Pekalongan," Journal of Politic and Government Studies, vol. 8, no. 03, pp. 301-310, Jul. 2019

3. M. F. R. Putra, K. Baskoro, and M. Hadi, "Studi Populasi dan Habitat Owa Jawa (Hylobates moloch Audebert 1797) di Kawasan Wana Wisata Kali Paingan Linggo Asri, Pekalongan, Jawa Tengah," Bioma : Berkala Ilmiah Biologi, vol. 20, no. 2, pp. 154-164, Jan. 2018. https://doi.org/10.14710/bioma.20.2.154-164

4. Widyastuti, S., Perwitasari-Farajallah, D., Prasetyo, L. B., Iskandar, E., & Setiawan, A. (2020). Maxent modelling of habitat suitability for the endangered javan gibbon (Hylobates moloch) in less-protected Dieng Mountains, Central Java. E&ES, 457(1), 012014.

Beberapa laporan ilmiah terbaru yang juga dilakukan di habitat Owa di Petungkriyono namun tidak melalui program beasiswa,kita melakukan pendampingan lapangan dan menyediakan fasilitas alat-alat penelitian camera dan GPS yang kami sediakan untuk bagi siapa saja untuk membantu penelitian dan pelestarian hutan dan habitat aslinya.

1. M. Mardiyana, M. Murningsih, and S. Utami, "Inventarisasi Anggrek (Orchidaceae) Epifit di Kawasan Hutan Petungkriyono Pekalongan Jawa Tengah," Jurnal Akademika Biologi, vol. 8, no. 2, pp. 1-7, Jul. 2019

2.  I. Lestari, M. Murningsih, and S. Utami, "Keanekaragaman jenis tumbuhan paku epifit di Hutan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah," NICHE Journal of Tropical Biology, vol. 2, no. 2, pp. 14-21, Dec. 2019.

 

Kami terus membuka kesempatan untuk mahasiswa, pelajar atau siapapun yang tertarik untuk meneliti, survey ataupun kegiatan terkait pelestarian Owa Jawa, primata, satwaliar , hutan dan pengembangan ekonomi dan konservasi berkelanjutan di wilayah sebaran populasi Owa Jawa di Jawa Tengah, untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi lewat email swaraowa at gmail dot com.


Friday, December 7, 2018

Legenda Owa Jawa : Onomatopoeia


Owa Jawa (Hylobates moloch)

Cerita asal usul tetang kera kecil ini berasal dari Pegunungan Dieng Bagian barat, masuk dalam wilayah Kabupaten Pekalongan. Rangkaian pegunungan yang saat ini menjadi benteng pertahanan terakhir untuk Owa, di Pulau Jawa. Catatan penelitian tahun 70 an  hingga 80an, mencatat sebaran owa ini mulai ketinggian hutan pantai  hingga hutan pegunungan 1500 meter di atas permukaan laut.

Melihat sejara sebaran owa, yang dari hutan dataran rendah hingga ke pegunungan, sangat mungkin bahwa Owa ini juga mempunyai hubungan cukup erat dengan manusia-manusia disekitar tempat hidupnya.

Mencoba melihat sisi lain untuk mengarusutamakan upaya pelestarian primata endemik Jawa, setiap bekunjung ke dusun-dusun tepi hutan, cerita-cerita asal usul Owa ini di pastikan ada, meskipun terbatas pada orang-orang tua, yang rata-rata berusia di atas 60 tahun.
Seorang anak yang diajak ke hutan kemudian ditinggal di hutan, dan kemudian memanggil, manggil pamannya “uwa..wa..uwa’’..dengarkan cerita versi pertama disini :



Owa adalah binatang arboreal, kera kecil tak berekor yang selalu hidup di pohon, dan biasanya warga sekitar mengenal dari suaranya, meskipun tidak melihat langsung seperti apa wujudnya. Berada di pohon,di hutan yang rapat, namun suaranya bisa terdengar keras hingga 2 km. Sebuah Onomatopoeia, menamakan binatang berdasar suaranya. Dinamakan Owa karena suaranya Uwa...wa..wau..wau...wa., kadang sering juga bertemu warga sekitar hutan mengenal owa memang dari suaranya, ketika mendiskripsikan secara ciri-ciri morphologi kurang begitu jelas kalau itu adalah owa yang dimaksud.

Simak rekaman video wawancara dengan Bapak Riyanto  (Korep) 70 tahun, warga dusun Glidigan, Tlogohendro, Pekalongan.


Memasukkan perspektif budaya sekiranya juga harusnya menjadi bagian dari pembangunan konservasi berkelanjutan, dan mungkin hal ini juga bisa menjadi masukan untuk pengambil kebijakan. cerita-cerita lama,seperti legenda menjadi metode tersendiri untuk membangkitkan semangat pelestarian owa dan hutan segala isinya, membangkitkan rasa bangga bahwa kita memiliki primata yang tidak ada belahan bumi manapun selain di Jawa.

Daftar Pustaka

Kappeler M. 1984. The gibbon in Java. In; Preuschoft H, Chivers DJ, Brockelmann WY, Creel N, eds. The lesser apes. Evolutionary and behavioural biology. Edinburgh: Edinburgh University Press, 19-31

Assaneo MF, Nichols JI, Trevisan MA. The anatomy of onomatopoeia. PLoS One. 2011;6(12):e28317.

Thursday, November 15, 2018

Tabungan ekologi : Serangga pollinasi



Akhir tahun 2017, kita pertamakali mencoba mengenalkan teknik budidaya lebah kepada warga sekitar hutan habitat Owa di Pekalongan (baca disini liputannya). Berawal dari pengamatan sehari-hari ketika musim kemarau memang banyak sekali pemburu lebah madu, ada beberapa warga yang sudah mencoba membudidayakan dengan metode tradisional.  Artinya pengetahuan dan praktik budidaya sudah ada hanya perlu di tingkatkan pengetahuan dan prakteknya.

Melihat tempat lain sebagai referensi juga sangat membantu pengetahuan budidaya lebah ini, terutama membangun sesama pegiat lebah saling tukar pengalaman dan pengetahuan. Sisi ekonomi juga sudah mulai muncul, karena madu juga di banyak di jual belikan di dusun-dusun sekitar hutan.
Seperti tulisan terdahulu, lebah klanceng sangat potensial untuk dikembangkan untuk mendukung pelestarian hutan habitat owa, pengelolaan yang berkelanjutan menjadi tantangan ke depan, karena selain ada nilai ekonomi, budidaya lebah juga sangat erat kaitannya dengan sistem budidaya pertanian yang ramah lingkungan. Dan sangat sesuai apabila di terapkan dalam sistem agroforest, sebagai kawasan penyangga hutan habitat Owa.
Sedang memeriksa kotak lebah di Ds.Sokokembang

Di Sokokembang kini ada salah satu alumni pelatihan tahun lalu yang terus mencoba pengembangan budidaya Klanceng ini, pengalaman setahun ini dimulai dari koloni liar yang coba di domestikasi dan di kembangkan di sekitar rumah. Sudah ada sekitar 20 kotak, lebah yang terus di pantau perkembangannya. Ada yang pergi, ada yang mati, ada yang di serang kelompok lebah lain, menyesuaikan ukuran kotak lebah, dan produksi madu dapat di pantau selama setahun ini, dan sepertinya untuk melangkah ke sisi bisnis, juga masih perlu waktu dan ketekunan.
Budah durian di dusun Mendolo, setelah 1 minggu usai berbunga
Di Dusun Mendolo, kita juga mempunya tempat belajar tentang lebah ini, hampir semua warga dusun sudah mengenal lebah klanceng, berburu madu hutan menjadi pekerjaan sampingan yang utama ketika musim kemarau. Bukan hal baru tentang lebah madu, tapi selalu ada yang baru untuk dipelajari dari kegiatan ini. Salah satu warga di dusun ini saat ini juga mempunyai kurang lebih 30 kotak lebah, dan melihat hal ini beberapa tetangga juga sudah mulai ada yang memelihara 1-3 kotak di sekitar rumah. Pengalaman yang berbeda dengan di Sokokembang juga memunculkan hal-hal yang tidak di perkirakan sebelumnya, misalnya, kondisi sekitar tempat budidaya adalah banyak sumber bunga, produksi madu juga sangat melimpah.
kotak-kotak lebah di sela-sela tanaman kebun sekitar rumah
Lebah, T. itama di hutan habitat Owa Jawa

Catatan publikasi terbaru tentang populasi serangga termasuk di dalamnya lebah dan kumbang, di bebebrapa negara tropis mengalami penurunan yang cukup drastic. Tahun 2014 para ahli serangga dunia telah memperingatkan bahwa telah terjadi penurunan hingga 45%. Dan tahun 2017 publikasi terbaru ini telah mengalami penurunan hingga 75 %. Tentu saja hal ini di peroleh dari data yang informasi tentang serangga ini sudah cukup tersedia dengan baik.  Dari tulisan tersebut sangat sederhana indikatornya, dan mungkin bisa kita coba juga di tempat kita. Kalau berkendara malam hari dalam jarak tertentu berapa banyak serangga yang menabrak kaca mobil kita, atau lampu depan kita? Karena serangga bisanya mencari arah datang sumber cahaya kalau malam hari.  Bisa anda ingat waktu kecil anda kalau sering naik motor atau mobil malam hari sering nggak nabrak serangga terbang malam hari? dan kalau anda ingat, bandingkan dengan sekarang apakah serangga yang menabrak anda ketika jalan malam hari lebih banyak sekarang atau jauh lebih sedikit?

Apa nilai pentingnya serangga? Lebih dari 70% species binatang adalah serangga. Mungkin bisa saja kita katakan sekedar serangga, tapi merekalah yang membuat sistem ekologi di bumi berputar. Serangga menyerbuki tanaman pangan yang kita makan (sayuran, durian, mangga, pisang, pohon buah di hutan), serangga merupakan pengendali alami hama tanaman pangan, ada juga serangga-serangga yang khusus menguraikan sampah-sampah kita. 
Ya mereka sangat penting untuk kehidupan kita. Kehilangan para serangga bisa terjadi bencana ekologis !!
Owa jawa primata pemakan buah
Sentul, atau kecapi  (Sandoricum sp) salah satu buah kesukaan Owa

Kegiatan-kegiatan di sekitar hutan, sebagai pendukung untuk menjaga hutan tetap ada seperti hutan berdasarkan hubungan saling ketergantungan inilah menjadi salah satu yang coba terus di arus utamakan dalam bingkai  konservasi Owa jawa. Prinsip ekologis yang saling terkait,  peran penting hidupan  liar untuk kehidupan , dalah hal yang mudah di baca atau di ucapkan, namun pelaksanaan dari ide atau gagasan itu tidaklah semudah yang ada dalam tulisan, karena madu memang tidak selalu “manis”.

Sumber bacaan :




Monday, October 29, 2018

"Mereka adalah Miliki Kita" Pameran Foto dari Habitat Owa

Acara International Gibbon Day inisiasi global yang mulai dari IUCN Gibbon Specialist Group di Kota Pekalongan  dilakukan dengan Pameran Foto, bekerjasama dengan komunitas PEKAOWA yang di bentuk berdasarkan keinginan tulus sekelompok anak muda di Kota Pekalongan berkontribusi melestarikan Owa jawa di habitat aslinya. Tanggal 27 Oktober 2018 mulai jam 6 Sore sampai selesai, di Taman Hortikultura Yosorejo Pekalongan, bergabung dengan komunitas-komunitas lainnya di Pekalongan dalam rangka malam Budaya dan Parade Juang, 90 tahun hari sumpah pemuda.

grafis yang di buat oleh Komunitas Peduli Kelestarian Owa Jawa Pekalongan-PekaOwa

Acara ini juga muncul secara sepontan saja, dari awalnya, Mas Ubaidillah adalah peserta pelatihan Metode Survey Primata (MSP), tahun 2016 dan Mas dan Anjar Prasojo perta MSP 2018,  yang hobi berkegiatan fotografi alam liar, mempunyai foto-foto keanekaragaman hayati yang di dapat di hutan Petungkriyono. Diskusi singkat akhirnya kita merencanakan pameran foto untuk tujuan mengenalkan kepada publik tentang species dan perlindungan habitat aslinya.
Anjar  Prasojo (kiri) dan Foto-foto yang di pamerkan.

Pameran ini bertema “ Mereka adalah milik kita”. Mencoba mengenalkan kepada masyarakatluas, bahwa Pekalongan, di tengah Pulau Jawa sebagai kesatuan bentang alam memiliki perwakilan tipe habitat yang lengkap, mulai dari laut, pantai,dataran rendah hingga ke pegunungan dataran tinggi. Masing-masing tipe habitat ini dihuni oleh species-species unik, yang istimewa. Primata adalah salah satunya, berada di Pekalongan sisi Selantan-Timur, hutan alam dari ketinggian 250 – 1900 mdpl. Owa, Lutung, Rekrekan dan Monyet Ekorpanjang, mewakili taxa yang  hidup dan berkembang di antara tingginya aktifitas manusia di wilayah ini. Mereka bertahan dan bertahan,juga mengalami ancaman.


antusias pengunjung dalam acara pameran foto " Mereka adalah Milik Kita"

Species-species istimewa ini juga punya peran penting, membantu regenerasi hutan alam, penyebar biji, sumber ilmu pengetahuan, sebagai identitas daerah diantara pergaulan global. Foto-foto ini adalah sebagian yang ada di hutan Pekalongan, hutan sebagai habitat,  mutlak  harus ada untuk mereka, para primata-bukan manusia. mereka butuh kanopi pohon untuk berayun, mereka butuh tempat bernaung dan ruang.Hutan tempat mereka hidup adalah sumber segala sumber kehidupan, air, udara, pemandangan indah,  sudah setiap hari kita nikmati, mereka para primata adalah milik kita, menjaga mereka tetap hidup di belantara adalah kewajiban kita.

Kegiatan pameran foto ini juga bertujuan mendorong pegiat-pegiat fotografi khususnya generasi muda dari wilayah sekitar habitat Owa agar supaya tampil didepan menyuarakan mereka hidupan liar dan habitat aslinya yang harus di perhatikan. Seperti mas Anjar Prasojo  yang berjuang untuk melestarikan Owa dan habitat aslinya dengan hasil-hasil fotonya. Beberapa foto yang di pamerkan adalah berikut ini, yang merupakan primata-primata asli Jawa dari Pekalongan:

Owa Jawa
Lutung jawa
Rekrekan

Ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah menyiapkan acara pameran foto ini yang juga merupakan bagian dari kegiatan Kopi dan Konservasi 2018. 

Tuesday, September 25, 2018

Konservasi Owa di Perkebunan Kelapa Sawit, Mungkinkah?

Hylobates albibarbis, Owa di  Kalimantan Tengah

Mengawali bulan September 2018, SwaraOwa mendapatkan kesempatan untuk belajar, bertualang dan berbagi kisah seputar owa dan primata lainnya. Kegiatan kali ini terbilang istimewa. Jika biasanya SwaraOwa berkegiatan bersama rekan-rekan mahasiswa, peneliti, atau pegiat lingkungan lainnya, kali ini SwaraOwa berkumpul bersama perwakilan dari berbagai perusahaan perkebunan kelapa sawit. Kok bisa? Bukankah perkebunan kelapa sawit merupakan tersangka utama dalam deforestasi hutan di Indonesia? Bukankan gara-gara perkebunan sawit ini juga keberadaan berbagai kehidupan liar turut terancam? Belum lagi berbagai permasalah sosial yang timbul karenanya.


Tulisan ini tidak akan membahas berbagai pro-kontra terkait perkebunan kelapa sawit, namun lebih pada salah satu upaya yang dilakukan pengelola perkebunan kelapa sawit untuk menuju perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan. Apa yang dimaksud dengan minyak sawit berkelanjutan? Silahkan langsung cek prinsip dan kriteria minyak sawit berkelanjutan di website RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) atau ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) yang kemudian dikenal dengan Sistem Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia.
 
Materi kelas, teori dan analisis data hasil survey 
Pada tanggal 4-6 September 2018, SwaraOwa bekerjasama dengan Goodhope Asia Holding mengadakan pelatihan Program Konservasi Primata di Areal HCV (High Conservation Value) atau NKT (Nilai Konservasi Tinggi) Perkebunan Kelapa Sawit. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai nilai penting primata dan upaya konservasinya, serta pengenalan metode survey primata dengan metode vocal count/ fixed point count-triangulation. Peserta pelatihan merupakan perwakilan dari perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah yakni Wilmar, KMA (KLK Group), Minamas Plantation,  Sawit Nabati Agro di Ketapang (IOI Group), serta Goodhope Asia Holdings yang bertindak sebagai tuan rumah. Narasumber dalam pelatihan ini adalah perwakilan dari RSPO, PT. SMART, tokoh adat Desa Tumbang Penyahuan, serta 3 orang dari SwaraOwa.
Aolia (swaraowa) memberikan pengantar tentang jenis primata di Kalimatan Tengah

Hari pertama pelatihan berpusat di training centre PT AICK. Acara dibuka dengan sambutan sekaligus pembukaan oleh General Manager PT AICK, yang dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh perwakilan dari RSPO, Bapak Djaka Riksanto. Beberapa point penting dalam materi dan diskusi pada sesi ini adalah prinsip dan kriteria sustainable palm oil yang terkait dengan konservasi primata, serta pentingnya pedoman pengelolaan dan pemantauan HCV yang hingga saat ini belum final. Berikutnya, perwakilan dari PT. SMART berbagi pengalaman mengenai praktik pengelolaan KBKT (Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi) dengan optimalisasi jasa lingkungan serta monitoring keanekaragaman hayati. Diskusipun berkembang, mencakup pengalaman restorasi/rehabilitasi riparian, potensi konflik dengan masyarakat berikut upaya pengelolaannya, serta kesulitan para pengelola perusahaan ketika harus menjelaskan payung hukum HCV kepada masyarakat.
Presentasi berikutnya disampaikan oleh Bapak Dante, tokoh adat dari Desa Penyahuan, yang menceritakan tentang inisiatif konservasi Bukit Santuai sebagai kawasan konservasi berbasis Adat dan Spiritual. Bukit Santuai merupakan salah satu areal HCV PT AWL. Bagi masyarakat setempat, Bukit Santuai dianggap keramat dan memiliki kisah tersendiri terait dengan nenek moyang mereka. Selain itu, untuk keperluan ritual adat, masyarakat memerlukan beberapa jenis tumbuhan yang tumbuh di Bukit Santuai ini.

Praktek lapangan di HCV Bukit Santuai

Selepas makan siang, giliran SwaraOwa menyampaikan kisahnya tentang program konservasi primata berbasis masyarakat di Petungkriyono, Pekalongan dan di kep.Mentawai. Antusiasme peserta sangat terlihat pada saat sesi diskusi. Mereka berharap program yang sejenis bisa dilakukan di site mereka masing-masing, dengan pendekatan yang disesuaikan dengan potensi dan karakter daerah masing-masing. Sebelum lanjut ke pengenalan metode survey primata, Aolia membawakan materi tentang jenis-jenis primata di Kalimantang Tengah lengkap beserta ciri dan status konservasinya. Materi mengenai metode survey primata menjadi penutup materi ruang, dilanjutkan dengan briefing dan pembagian kelompok praktik, yakni menjadi 3 kelompok.
Lokasi praktek HCV Bukit Santuai

Hari kedua pelatihan berpusat di PT AWL, dengan agenda utama praktik lapangan metode vocal count untuk mengestimasi densitas owa-owa atau klempiau (Hylobates allbibarbis) di Bukit Santuai. Pagi hari menjelang subuh, suara owa-owa membangunkan kami. Tepat pukul 05.00 seluruh tim sudah siap berkumpul untuk selanjutnya bergerak menuju Pos Keramat. Setiap kelompok segera menuju listening post (LPS) masing-masing. Pukul 06.00 setiap kelompok telah tiba di LPS, langsung disambut great call owa-owa yang sahut-menyahut antar kelompok. Masing-masing tim segera bejibaku untuk pengambilan data, hingga pukul 07.30, kemudian dilanjutkan praktik analisis data untuk mendapatkan estimasi densitas owa-owa. Triangulasi untuk memperkirakan distribusi kelompok owa yang terdeteksi, dilakukan bersama-sama di guest house PT AWL. Menjelang sore, rombongan kembali ke training centre PT AICK untuk persiapan presentasi kelompok esok harinya.
foto bersama peserta dan pembicara

Di hari terakhir pelatihan, masing-masing kelompok diberikan waktu untuk presentasi hasil “penelitian” mereka, mencakup estimasi densitas serta hal-hal menarik dan kendala yang ditemui selama praktik. Tanya jawab berlangsung sangat seru, termasuk munculnya pertanyaan-pertanyaan “nyeleneh” namun berarti seperti, “jika great call merupakan komunikasi antar kelompok, apakah dari suara yang terdengar, bisa diketahui adanya betina yang berpasangan atau belum? 

Tiga hari pelatihan yang penuh keakraban disertai diskusi dan sharing pengalaman akhirnya berakhir. Tiga hari pelatihan yang membuat peserta mahir menirukan great call owa-owa. Tiga hari pelatihan yang diharapkan dapat menjadi inisiasi untuk program konservasi primata di areal HCV perkebunan kelapa sawit. Perkebunan sawit, kebutuhan akan minyak nabati adalah kenyataan dan kerusakan hutan telah terjadi, mepertahankan populasi yang ada yang tersisa saat ini adalah upaya yang harus terus di arusutamakan.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
di tulis oleh : Kasih Putri Handayani , email : kasihputri288@gmail.com