Showing posts with label owajawa. Show all posts
Showing posts with label owajawa. Show all posts

Friday, April 3, 2026

Pemetaan Potensi Kopi untuk Inklusivitas Habitat Owa Jawa

 

Owajawa ( Hylobates moloch) di temukan di habitat kopi naungan hutan alam /rustic shade grown coffee

Oleh : Sidiq Harjanto & Muhammad Kuswoto

Kopi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap habitat Owa Jawa di Hutan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan. Ada irisan kepentingan yang nyata antara kebutuhan ekonomi masyarakat dengan keutuhan hutan sebagai habitat berbagai satwa liar, termasuk primata endemik yang terancam punah ini. Belum lagi sederet fungsi hutan seperti penjaga siklus air dan pengikat tanah–pencegah longsor. Melanjutkan upaya untuk menemukan titik keseimbangan berbagai kepentingan itu, pada tahun ini kami memulai perluasan skema pengembangan kopi naungan (shade-grown coffee).

Selama satu bulan terakhir, kami telah melaksanakan pendataan terhadap komunitas petani kopi. Survei ini dilakukan ke sepuluh lokasi, meliputi enam desa dekat hutan di tiga kecamatan yang merupakan penyangga habitat Owa Jawa di Hutan Petungkriyono. Pendataan ini melintasi gradien ekologi maupun sosio-ekonomi yang kontras, mulai dari dataran yang relatif rendah–kurang lebih 300 mdpl, hingga dataran tinggi di atas 1.500 mdpl, mulai dari masyarakat petani hutan hingga masyarakat petani sayur–peladang intensif.

Pendataan ini tidak hanya memotret aspek pembudidayaan kopi, tetapi juga mencoba menyelami karakteristik masyarakat yang beranekaragam, mulai dari pola interaksi sosial hingga relasi mereka terhadap sumber daya hutan secara umum. Metode pendataan dilakukan dengan wawancara untuk melihat beberapa aspek: model pengelolaan kebun kopi yang dijalankan, potensi komoditas selain kopi, hingga aktivitas lain yang dilakukan di hutan. Sedangkan untuk mendapatkan gambaran langsung mengenai praktik budidaya kopi, kami melakukan peninjauan langsung ke kebun-kebun kopi yang dikelola masyarakat.

rustic shade-grown coffee /kopi naungan hutan alam 

Spektrum agroforestri kopi

Ada beberapa catatan menarik yang kami rangkum. Dari sisi produksi kopi, karena variasi ketinggian (altitude) yang cukup ekstrem, lokasi-lokasi penghasil kopi memiliki profil spesifik. Tujuh lokasi merupakan penghasil kopi robusta, sedangkan tiga lokasi lainnya dominan menghasilkan kopi arabika. Jenis kopi excelsa dan liberika juga dijumpai, namun kuantitasnya relatif kecil.

Kami menemukan ada tiga spektrum utama dalam pola pembudidayaan kopi di sekitar habitat Owa Jawa, dan sebagai penyederhanaan kami menyebutnya: kebun campur, agroforest sederhana, dan naungan hutan. Pada dasarnya, semua tipe merupakan bentuk agroforestri, tetapi berbeda dalam struktur penyusun dan kompleksitasnya. Pertama, yang dimaksud kebun campur adalah pembudidayaan kopi yang relatif intensif (dengan penyambungan batang, pemangkasan, dan kadang pemupukan) dikombinasi dengan jenis-jenis tanaman komoditi seperti cengkih, durian, alpukat, hingga pisang. Umumnya, praktik ini dilakukan di kebun milik atau di lahan hutan yang mudah diakses.

Burung paruh kodok, ditemukan di habitat kopi naungan rustic

Kedua, agroforest sederhana adalah saat tanaman kopi dikombinasikan dengan tanaman pangan seperti sayur-mayur atau jagung. Praktik ini jamak dilakukan di dataran tinggi dengan komoditas kopi dari jenis arabika. Kopi ditanam sebagai tanaman pembatas kebun atau tanaman sela pada ladang-ladang sayur ataupun tanaman jagung. Terkadang dijumpai pula pohon-pohon penaung, baik jenis liar maupun komersil sehingga menyerupai kebun campur. Meskipun demikian, perawatan kopi yang intensif jarang dijumpai pada tipe ini.

Ketiga, tipe naungan hutan (rustic shade) merupakan pembudidayaan kopi yang berada dalam kawasan hutan dan tumbuh di bawah naungan pohon-pohon hutan. Dalam praktik ini, perlakuan atau perawatan terhadap tanaman-tanaman kopi sangat minim, tanaman kopi umumnya tumbuh tinggi karena berlomba mendapatkan paparan cahaya matahari dengan pepohonan hutan. Pada tipe ini, kopi adalah bagian dari strata hutan itu sendiri. Tipe inilah yang paling ramah terhadap keberadaan satwa liar, termasuk Owa Jawa. Kami menjumpai beberapa praktik baik dalam pengelolaan kopi naungan hutan, misalnya: konservasi spesies pohon tertentu sebagai penaung, seperti pohon bendo (Artocarpus elasticus).

Aktivitas ekstraktif di desa-desa penghasil kopi


Kopi robusta kebun campur

Selain menggali potensi kopi dari desa-ke desa, kami juga menelusuri informasi mengenai aktivitas masyarakat yang berkaitan dengan hutan. Kami menjumpai masih adanya ruang aktivitas ekstraktif, termasuk perburuan satwa liar. Masalah perburuan ini melibatkan berbagai faktor yang berkelindan.

Kami mengidentifikasi tiga tipologi utama dalam aktivitas perburuan berdasarkan motivasi. Pertama, motif ekonomi: sebagian warga melakukan perburuan sebagai strategi bertahan hidup untuk menutupi celah pendapatan dari sektor utama terutama pertanian yang belum optimal. Umumnya menarget spesies burung kicauan yang punya nilai ekonomi. Kedua, motif rekreasi: sebagian lainnya melihat aktivitas ini sebagai hobi, pengisi waktu luang, atau pemuasan kegemaran yang telah mengakar dalam keseharian. Ketiga, motif pengendalian hama: sebagian masyarakat menganggap aktivitas perburuan sebagai upaya untuk mengendalikan populasi hewan-hewan yang dianggap hama bagi pertanian, misalnya babi hutan.

Kami mencoba memahami ketiga dimensi ini secara netral agar bisa menawarkan upaya intervensi yang tidak konfrontatif, melainkan substitusi nilai yang lebih berkelanjutan. Pendataan ini merupakan inisiasi untuk program peningkatan kapasitas petani dalam pengolahan kopi sekaligus untuk upaya konservasi, terutama bagi mereka yang memiliki aktivitas sampingan pemburu satwa liar. Skema ini bermaksud memperluas dampak dari Coffee and Primates Project yang telah melahirkan Owa Coffee lebih dari satu dekade lalu.

Titik nol baru kopi penjaga owa

 
Kopi arabica di tanam di tepi lahan kebun sayur

Sebagai tindak lanjut, kami akan berkolaborasi dengan 25 petani yang akan menjadi pionir dalam program peningkatan kapasitas selama kurang lebih satu tahun ke depan. Fokus utama kami adalah membangun komitmen jangka panjang untuk mengalihkan energi dan sumber daya mereka dari aktivitas berburu ke pengelolaan Kopi Naungan (shade-grown coffee). Upaya ini diarahkan untuk meningkatkan ekonomi keluarga petani melalui kopi berbasis agroforestry, sekaligus mengurangi aktivitas berburu di Hutan Petungkriyono.

Tentu tidak ada resep tunggal untuk mengurai problematika tersebut, tetapi ada beberapa tawaran untuk itu. Strategi Resiliensi Ekonomi: meningkatkan nilai tambah produk melalui perbaikan pasca-panen dan diversifikasi tanaman dalam lahan kopi (multi-komoditi). Targetnya adalah memastikan pendapatan dari kopi naungan lebih stabil dan menguntungkan ketimbang aktivitas ekstraktif di hutan. Petani didorong untuk tidak hanya menggantungkan nasib pada kopi sebagai komoditas tunggal, tetapi mengombinasikan dengan berbagai komoditas lain.

Strategi Prestise dan Keterampilan: mengalihkan aspek "tantangan" dan "kesenangan". Dari aktivitas berburu yang menantang ke iklim kompetitif lain yang produktif, misalnya kualitas kopi (specialty coffee). Kesenangan untuk mengeksplorasi hutan juga membawa peluang untuk melibatkan para petani dalam pendataan dan pemantauan kehati secara partisipatif dalam bingkai citizen science. Kontribusi kawan-kawan petani muda di Desa Mendolo dalam skema ini telah membuktikannya.

Tak bisa dimungkiri bahwa konflik satwa liar seringkali merupakan puncak gunung es dari permasalahan yang lebih besar dan kompleks. Munculnya gangguan pada tanaman budidaya oleh satwa liar bisa jadi disebabkan gangguan pada keseimbangan ekosistem: akibat hilangnya peran predator, misalnya. Strategi Literasi Ekologi (ekoliterasi): diterapkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat petani terhadap pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem demi keberlanjutan pertanian kita.

Bisa dibilang, pendataan ini menjadi titik nol baru bagi perjalanan panjang ke depan, di mana upaya gotong royong kita untuk kesejahteraan petani dan kelestarian habitat Owa Jawa tumbuh secara beriringan dalam satu lanskap produktif yang inklusif. Mengarusutamakan kopi naungan bukan saja menjaga resiliensi ekonomi masyarakat petani, tetapi juga menjaga koneksivitas habitat–prasyarat mutlak bagi kelestarian satwa liar. Artinya, prinsip inklusivitas berlaku tidak saja kepada sesama manusia, namun diperluas: termasuk memberi ruang kepada satwa liar. Kami ucapkan terima kasih kepada Air Asia Foundation atas dukungan terhadap program ini.

Wednesday, March 11, 2026

Beasiswa SwaraOwa: Bahasa Inggris sebagai Jembatan Konservasi dan Pariwisata

 oleh : Imam Taufiqurrahman

Dari kiri ke kanan: Alek, Lukni , dan Iyan, di halaman Briliant English Course, 

Kampung Inggris, Pare.

Dewasa ini, bahasa asing—utamanya Inggris—menjadi hal penting untuk dipelajari. Penguasaan bahasa tersebut amat dibutuhkan bagi seseorang dalam interaksinya dengan masyarakat global. Kecakapan berbahasa Inggris menjadi prasyarat di banyak bidang, terlebih di pariwisata. 

Sektor kepariwisataan, dalam bentuk ekowisata satwa liar, yang dikembangkan Swaraowa di Desa Kayupuring dan Mendolo, tak luput dari kebutuhan itu. Sebagai desa yang memiliki potensi satwa liar dan telah banyak mendapat kunjungan wisatawan asing, pengembangan kapasitas masyarakat desa dalam bahasa Inggris menjadi penting dan sangat diperlukan. 

Itulah yang melatarbelakangi Swaraowa untuk memfasilitasi tiga pemuda, Lukni Al Khabib dan Feri Fitriyanto dari Desa Kayupuring, Kec. Petungkriyono dan Alek Ripa’i dari Desa Mendolo, Kec. Lebakbarang, untuk belajar berbahasa Inggris. Ketiganya adalah sudah ikut serta dalam pengembangan wisata minat khusus pengamatan owa "gibbon watching" di Kayupuring dan Mendolo, yang setidaknya 3 tahun terakhir mendapat kunjunga wisatawan mancanegara. Ketiganya juga tim monitoring keanekargaman hayati, yang setiap 2 bulan sekali melakukan kegiatan pengamatan satwaliar khususnya Owajawa secara partisipatif di desa mereka.  

Mereka menjadi yang pertama  ditahun 2026 sebagai penerima beasiswa belajar bahasa Inggris dari Swaraowa. Selama satu bulan, di rentang 12 Januari-8 Februari 2026, ketiganya berkesempatan belajar di Kampung Inggris Pare, Kediri, Jawa Timur. Ketiganya mendapat pembelajaran secara intensif, tidak hanya di ruang kelas, namun juga yang berlangsung di keseharian mereka selama tinggal di asrama.

Secara praktis, para pemuda ini mengikuti program kelas percakapan yang bertujuan menyiapkan pesertanya untuk mampu aktif berbahasa Inggris. Program ini menempa kepercayaan diri dalam berkomunikasi agar mampu bercakap-cakap dengan lancar dan penguasaan berbagai macam kosakata, termasuk tata bahasa.

Alek dan teman sekelasnya foto bersama dengan gaya Owajawa

Kegiatan kursus bahasa Inggris di lingkungan seperti di kampung Inggris ini, juga memupuk rasa percaya diri, dari Lukni, Alek dan Iyan, yang sehari-sehari memang di tinggal di hutan, bertemu dengan teman-teman kursus dari berbagai daerah di Indonesia, bertukar pengalaman dan terntu saja ikut mempromosikan owa jawa di antara teman-teman mereka. 

Ketiganya benar-benar memanfaatkan kesempatan belajar di Kampung Pare sebagai sarana pengembangan diri. Selama masa tinggal, mereka berinteraksi dan menggali pengalaman bersama para peserta lain dari berbagai wilayah di Indonesia.

suasana pembelajaran di kampung Inggris

Di tiap akhir pekan, masing-masing mereka ditugasi menulis cerita serta pengalaman mingguan. Isinya berupa kegiatan belajar di kelas maupun aktivitas keseharian mereka di Kampung Inggris Pare. Tentu banyak kisah, suka dan duka, yang mereka rasakan (catatan tersedia pada tautan di ujung tulisan ini). Di penghujung catatan mereka, masing-masing membagikan kesan dan refleksi atas berbagai hal yang telah dilalui. Kami cuplik di sini:

Lukni Al Khabib:

After one month of studying at Brilliant Kampung Inggris, I felt a significant improvement in my English skills, especially in speaking and vocabulary mastery. Daily practice, supportive tutors, and a friendly environment made the learning process effective and enjoyable. This program provided valuable experience and motivation for me to continue improving my English skills in the future. I would like to express my deepest gratitude to SwaraOwa and my colleagues at Swaraowa. Thank you for providing a scholarship to study English in Pare.

Feri Fitriyanto (Iyan):

I say a big thank you to Swaraowa, with this scholarship from Swaraowa I can learn English because this opportunity is not available to everyone. And I have a desire to continue my English lessons in Kampung Inggris for maximum results.

Alek Ripa’i:

It's really fun and exciting to studying here. Thanks to Swaraowa for giving me this opportunity! And last but not least! Thanks to all my tutors, my classmates, campmates, and everyone in Kampung Inggris. Thank you, for all the good memories, and i will see you when i see you!

Mereka, generasi muda dari desa-desa yang menjadi habitat owa jawa, telah menumbuhkan harapan di masa depan. Merekalah yang akan mewakili masyarakatnya memperkenalkan potensi desa mereka masing-masing. Ke depan, menjadi tugas mereka sebagai duta dalam menyambut, berinteraksi, dan berkomunikasi dengan masyarakat global yang datang berkunjung ke desa mereka.



Monday, February 16, 2026

Pembibitan Pohon Koridor: Konektivitas Ekologis dengan Ekonomi Inklusif di Habitat Owa Jawa

tunas Kepayang/Pucung (Pangium edule)

Oleh : Sidiq Harjanto

Awal tahun 2026 kami isi dengan program pembibitan untuk koridor habitat Owa Jawa (Hylobates moloch) di wilayah Petungkriyono dan Lebakbarang. Program ini telah diinisiasi tiga tahun lalu di Desa Mendolo, Lebakbarang dan terus berjalan hingga saat ini. Penanaman pohon merupakan upaya mendesak untuk mengatasi fragmentasi habitat sebagai ancaman senyap yang mempercepat kepunahan berbagai spesies.

Bagi Owa Jawa, konektivitas habitat adalah jembatan kehidupan yang vital untuk keberlangsungan spesies. Terbukanya area hutan dapat memutus akses antar-blok hutan, mengisolasi kelompok keluarga owa dalam "pulau-pulau" kecil yang terfragmentasi. Isolasi kelompok-kelompok kecil dari populasi utama memicu hanyutan genetik (genetic drift), kondisi melemahnya keturunan suatu spesies akibat perkawinan sedarah. Dampaknya bisa sangat fatal: penurunan derajat kesehatan, melemahnya kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim, hingga risiko kepunahan yang meningkat.

Infrastruktur pembibitan pohon hutan di Sokokembang

Melalui program Titian Lestari, penanaman pohon diharapkan memperbaiki kualitas habitat di beberapa area yang terbuka, membangun kembali konektivitas kanopi hutan sebagai jembatan mobilitas kelompok-kelompok Owa Jawa maupun berbagai spesies satwa liar lainnya. Kami menargetkan 10.000 bibit diproduksi di dua unit pembibitan, satu di Sokokembang dan satu lagi di Mendolo. Kedua unit pembibitan ini dikelola secara kolaboratif bersama masyarakat.

Jenis-jenis pohon yang dibibitkan merupakan spesies-spesies asli setempat dan memiliki nilai penting bagi konservasi area sempadan sungai dan pohon-pohon pakan bagi Owa Jawa. Jenis-jenis itu antara lain: gintung, sentul, rau, pucung/kepayang, jengkol, klepu, putat, serta berbagai spesies asli lainnya.

Lanskap Kerja melalui Kopi Naungan

Kami tidak hanya menanam pohon sebagai penyediaan koridor habitat dan potensi pakan owa di masa depan, tetapi juga mengintegrasikannya dengan skema kopi naungan. Upaya mengarusutamakan pengelolaan kopi di bawah naungan (shade grown coffee) di habitat Owa Jawa telah dirintis sejak 2012. Skema ini melahirkan Owa Coffee, sebuah produk yang bukan sekadar komoditas melainkan ada atribut konservasi di dalamnya. 

Kopi di bawah naungan hutan

Kopi di bawah naungan menjadi solusi untuk menemukan ekuilibrium antara kepentingan ekonomi dan konservasi. Ini adalah tentang lanskap kerja (working landscape) yang produktif, tetapi tetap mampu mendukung kelestarian keanekaragaman hayati. Dalam model ini, kopi tumbuh di bawah naungan pepohonan hutan, memastikan hutan tetap berfungsi sebagai pelindung satwa liar sekaligus menjadi sumber penghidupan masyarakat. 

Ada beberapa prinsip yang mendasarinya. Lanskap produktif lestari dikembangkan dalam perspektif ekosistem yang holistik. Pertama, polikultur strategis: mengombinasikan berbagai komoditas dalam satu lahan. Tanaman-tanaman bernilai ekonomi dikembangkan dalam satu lahan berdampingan dengan pepohonan hutan. Kopi bukan menjadi tanaman tunggal dalam satu petak lahan, melainkan menjadi bagian dari strata hutan itu sendiri. 

Metode ini menjamin fungsi ekologis hutan sebagai penyedia relung habitat bagi berbagai spesies, termasuk Owa Jawa, satwa arboreal penghuni lapisan tajuk. Di sisi lain, petani memiliki lebih banyak alternatif sumber pemasukan, memberi ketahanan (resiliensi) terhadap ketidakpastian pasar, dan memberi lebih banyak “laboratorium” untuk mengembangkan keterampilan.

Kedua, optimalisasi jasa lingkungan: pengembangan budidaya lebah, dan pelestarian burung. Lebah madu tidak hanya memberi manfaat ekonomi berupa madu yang bisa dijual, tetapi sekaligus membantu penyerbukan bagi berbagai tanaman, termasuk kopi. Budidaya lebah klanceng telah diinisiasi sejak 2017 dan telah memberikan tambahan ekonomi bagi petani. Peran penyerbukan belum bisa dikuantifikasi, namun kami meyakini bahwa budidaya berkelanjutan telah berkontribusi dalam pelestarian populasi serangga penyerbuk ini.

Burung, kelompok satwa yang paling banyak diburu, memiliki peran penting dalam pengendalian hama. Melestarikan burung berarti menjaga pertanian kita dari kerugian. Upaya kami dalam pelestarian burung meliputi: edukasi kepada masyarakat umum, dukungan inisiasi dan implementasi aturan lokal, serta pengembangan ekowisata sebagai alternative pemanfaatan lestari.

Ketiga, pengarus-utamaan konsep “hutan warung hidup”: menjaga hutan sebagai penyedia pangan liar dan obat tradisional bagi komunitas. Hutan menyediakan berbagai potensi pangan, meliputi: umbi-umbian, buah-buahan, sayur-sayuran, maupun jamur-jamur liar. Berbagai tumbuhan obat (biofarmaka) juga tersimpan di dalamnya. Kekayaan ini bisa menopang kehidupan masyarakat di sekitarnya jika dikelola dengan baik.

Hutan tidak sekadar simpanan kekayaan berupa objek konkret (pangan dan obat), tetapi juga penyimpan database pengetahuan yang dikumpulkan nenek moyang. Sifatnya akumulatif dan terus berkembang, melekat pada tradisi dan budaya kita. Artinya, melestarikan fungsi hutan sebagai warung hidup adalah merawat identitas kita sendiri.

Perawatan bibit

Inklusivitas program untuk inklusivitas habitat

Hutan bukanlah anugerah yang secara eksklusif diberikan kepada umat manusia, melainkan habitat inklusif untuk beragam kehidupan liar. Ekosistem di dalamnya merupakan jaring-jaring rumit yang menjaga resiliensi alam. Namun, gangguan pada satu mata rantai bisa memicu dampak sistemik, merusak jaringan secara lebih luas dan pada akhirnya menurunkan fungsinya secara keseluruhan.

Kami menyadari bahwa inklusivitas menjadi kunci keberlanjutan program ini. Pada pelaksanaannya, program ini berbasis warga; mulai dari penyediaan bibit, kerelaan penggarap lahan untuk lokasi penanaman, pemantauan (monitoring) biodiversitas, hingga komitmen pemeliharaan jangka panjang. Kami juga berkomitmen dalam penyediaan ruang bagi kaum perempuan sebagai bentuk pengakuan atas peran strategis mereka dalam konservasi.

Program Konservasi Titian Lestari ini didukung oleh: Yayasan Astra Honda Motor dan affiliated group: PT Musashi Auto Parts Indonesia, PT Astemo Bekasi Manufacturing, PT Yutaka Manufacturing Indonesia, PT Suryaraya Rubberindo Industries.


Sunday, November 30, 2025

Owa Jawa di Tengah Perubahan Lahan: Catatan Monitoring dari Pekalongan dan Batang

lokasi pengamatan Owa Jawa

oleh : Kurnia Ahmaddin

Pada bulan Juli kami mengunjungi desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan yang merupakan perwakilan area paling Barat pegunungan Dieng selama 4 hari. Kunjungan tersebut merupakan agenda kami untuk monitoring populasi Owa jawa (Hylobates moloch) dengan metode Triangulation vocal count. Lokasi lain yang kami untuk kunjungan serupa adalah dusun Sawanganronggo desa Tlogopakis, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan dan desa Tombo, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang. Kami menempatkan 3 Listening Post (LPs) pada masing-masing desa dengan jarak antar LPs adalah 300 m. Tim yang terlibat monitoring tidak berganti personil pada tiap LPsnya dengan menambahkan 1 warga lokal pada tiap desa. Bersamaan dengan pengambilan data suara, kami juga menempatkan 3 perekam pasif dengan jarak 150-200 m untuk tiap perekam. 

 Hasil dari monitoring di Kutorojo kami mengonfirmasi 7 kelompok Owa bersuara dari minimal 2 LPs yang mendengar Greatcall. Sedangkan di Sawanganronggo kami mengonfirmasi 15 titik suara dan di Tombo 9 titik. Dari seluruh area yang di survei jarak maksimal yang terdengar oleh tim adalah 1 Km. Di Kutorojo dan Sawangganronggo lokasi LPs kami merupakan punggungan bukit dengan kopi lokal yang sebagian besar sudah di hilangkan pohon hutannya. Arah datang suara Owa dari kedua lokasi tersebut cenderung datang dari hutan alam tanpa tanaman kopi. Akibatnya banyak suara yang terdengar tumpang tindih dari kedua lokasi tersebut. Namun demikian di Sawanganronggo kami masih menjumpai Owa jawa yang berpindah dengan menggunakan pohon kopi dengan tinggi 7-9 meter. Kami juga mendapat laporan dari warga bahwa Owa jawa di Sawangganronggo sempat terlihat sekali mencicipi buah kopi matang. 

Hasil konfirmasi pada ketiga titik tersebut belum dianalisis, kami hanya mendeskripsikan hasil data dari lapangan. Pada bulan Juni Tim Monitoring juga melakukan Triangulasi di desa Mendolo, namun dari 7 kelompok yang kami hitung tidak satupun melakukan Greatcall selama periode pengambilan data.

Selama periode monitoring kami tidak menentukan tujuan spesifik terutama untuk penelitian ilmiah. Dikemudian hari kami harap dapat menentukan tujuan riset sehingga kami dapat menggunakan metode yang terukur dan SOP dalam pengambilan data dapat ditentukan. Sehingga data yang telah diperoleh dapat di analisis menggunakan tools yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Penggunaan aplikasi lain juga dapat di terapkan jika SOP sudah ditentukan mengingat ‘Kobotoolbox’ tidak dapat menggunakan fitur ‘tracking’ dan hanya memiliki 1 Gb untuk cadangan data. 

Perubahan lahan hutan agaknya perlu disikapi lebih serius mengingat tren kopi sambung untuk memperbanyak produksi. Hal ini cenderung membuat petani lokal memangkas pohon hutan untuk memberi cahaya matahari pada tanaman kopi mereka. Kedepan mungkin diperlukan klasterisasi lahan kopi sehingga deskripsi kesesuaian habitat dapat lebih dideskripsikan spesifik dan petani hutan dapat diapresiasi dari kelimpahan spesies di lahan garapan mereka. Selain ancaman perubahan habitat, perburuan primata tidak ditemukan selama periode monitoring namun, perburuan burung semakin masif bahkan di lapangan saat ini seluruh burung menjadi target tangkapan tidak terbatas pada  jenis burung kicau.  


Saturday, July 5, 2025

Lebih dari Sekadar Burung: PPBI XII dan Inklusivitas Konservasi di Gunung Halimun Salak

 Oleh : Kurnia Ahmaddin




Pertemuan Pengamat Burung Indonesia ke-XII tahun ini dilaksanakan di IPB Bogor dan kampung Citalahab sentral. Menyambut acara tahunan tersebut, Swaraowa berpartisipasi mengirimkan 2 delegasi bersama 4 pemuda dari Pekalongan untuk mengikuti rangkaian kegiatan ini. Kami sangat antusias untuk mengikuti acara ini mengingat kampung Citalahab merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak dimana habitat terluas dan populasi terbesar Owa jawa (Hylobates moloch) ada di lansekap ini.

Malam tanggal 25 kami berangkat menuju Bogor dari Pekalongan yang kami tempuh selama 8 jam menggunakan bus dan 1 jam menggunakan angkot untuk sampai di Aula Fakultas Kedokteran Hewan IPB.  Sambil menahan kantuk kami siap mengikuti  seluruh rangkaian acara yang dimulai pada pukul 9 pagi. Sebagai pembuka rangkaian acara, sambutan mas Aris Hidayat selaku ketua panitia penyelenggara dari YIARI yang mempesona membuka mata kami sehingga hilang rasa kantuk. Sambutan dilanjutkan ibu Prof. Dr. Ir. Ani Mardiastuti, M.sc dari Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB yang bercerita mengenai sulitnya mencari referensi satwa liar sebelum tahun 1990. Saat ini beliau bangga melihat karya dan antusias generasi saat ini dalam upaya konservasi satwa liar.



Acara pada hari pertama merupakan seminar yang dibagi menjadi 3 sesi. Setelah pembukaan sesi pertama dibawakan oleh mas Ganjar Cahyadi dan mas Asman A.P. dari BISA Indonesia yang bercerita mengenai perlombaan pendataan perdagangan satwa liar. Sesi kedua Bapak Dedi Candra dari KKHSG Kemenhut dan Prof. Mirza Dikari Kusrini berbicara mengenai regulasi perlindungan satwa liar lokal dan international. Acara di IPB ditutup pada sesi ketiga dengan dialog menarik mengenai fakta lapangan perdangan satwa liar yang dibawakan oleh mas Hendry Pramono dari WCS-IP dan drh. Wendi Prameswari dari YIARI.

Sore hari setelah seminar, kami melanjutkan 6 jam perjalanan untuk fieldtrip menuju kampung Citalahab sentral dengan menggunakan truk tronton menghadapi guncangan dahsyat jalan makadam. Melewati kawasan perkebunan teh Cianten dan Taman Nasional Halimun Salak kami tiba di Citalahab pada pukul 9.30 malam. Sambutan warga kampung dan sajian nasi sop ayam menghangatkan dinginnya cuaca desa tepi hutan. Kebaikan panitia untuk menjadikan malam pertama khusus untuk istirahat adalah pilihan yang sangat tepat setelah lelah terguncang dan kelaparan.

surili ( Presbytis comata)
Mengisi kegiatan di pagi hari, kami menyusuri hutan untuk melakukan pengamatan satwa liar. Terbagi dalam 3 kelompok, lebih dari 120 peserta dan panitia ditemani warga lokal serta staff TNGHS berjalan bersama untuk mendokumentasikan satwa liar yang terlihat ataupun sekedar melihat. Pada siang hari di hari kedua, acara dilanjutkan dengan mengisi otak dengan informasi baru mengenai project safe nest oleh teman-teman BISA Indonesia dan Biologi Society. Dilanjutkan pembicaraan mengenai kegiatan pendataan burung dan pendampingan masyarakat oleh teman-teman dari Burung Indonesia. Sedangkan siang hari ketiga, cerita dari masyarakat Desa Jatimulyo dan kampung Citalahab yang saling berbagi potensi desa masing-masing sangat menarik untuk disimak. Penampilan angklung dari warga lokal juga turut memeriahkan rangkaian acara PPBI XII ini. 

Owa jawa ( Hylobates moloch)
Kegiatan malam hari setelah diskusi bebas mengenai kebutuhan keterlibatan masyarakat umum mengenai perolehan data populasi satwa liar dan penulisan artikel ilmiah, yang tak kalah menarik adalah ‘Herping’. Agak aneh memang forum pengamat burung namun pada malam hari peserta malah berbondong-bondong ke hutan untuk melihat katak dan ular. Namun, inilah PPBI, forum yang begitu cair dan dapat merespon kebutuhan terkini di dunia konservasi satwa liar. Menurut kami PPBI kali ini semakin menunjukkan inklusifitasnya sebagai wadah semua orang tidak terbatas taksonomi, gelar, profesi dan bahkan generasi.

Hal ini dapat terlihat dari antusias seluruh peserta mulai dari usia 60 hingga siswi SD yang baru naik kelas 2 berjalan bersama saling bantu menunjukkan satwa liar liar yang terlihat di pagi hari itu. Mereka tidak hanya berburu foto burung, namun juga herpetofauna, kupu-kupu, mamalia dan jenis arthropoda lain juga tak luput dari bidikan kamera peserta. Alek anggota PPM mendolo juga antusias terhadap perjumpaanya dengan Surili (Presbytis comata comata) menurutnya ‘ Saya sangat senang bertemu dengan Surili di Citalab. Berbeda dengan Rekrekan (Presbytis comata fredericae) di tempat kami. Surili berwarna dominan abu-abu, meski sama-sama memiliki jambul, namun Surili bibirnya lebih pucat seperti tidak memakai Lipstik’. Tak hanya itu perjumpaanya dengan Kawan-kawan KIARA juga memacu semangatnya untuk tetap berjuang melestarikan Owa Jawa di desa Mendolo.

delegasi swaraowa di PPBI XII

 Malam hari terakhir sesi diskusi di tutup dengan diskusi terbuka dengan bapak Kepala Balai Taman Nasional  Gunung Halimun Salak dan foto bersama di hari terakhir kami di Citalahab. Penutup rangkaian acara sebelum kembali diguncang makadam. Kami berfoto bersama dengan seluruh orang yang terlibat dalam acara ini ‘sebagai simbol guyub rukun’ begitu menurut Ridho anggota PPM Mendolo lain. Sebagai penutup Ridho dan Dodi juga mengungkapan ‘Meski perjalanan panjang penuh kesabaran menuju lokasi, terimakasih kepada panitia atas segala suguhan dan pengalamannya.

Kami jadi bertambah ilmu, teman dan makin semangat kami untuk berkegiatan konservasi. Semoga tahun depan bisa mengikuti PPBI lagi. Sampai jumpa di PPBI XIII di Cilongok Banyumas’.




Friday, June 20, 2025

Tugas Akhir, Nyanyian Owa, dan Pelajaran dari Hutan Mendolo

oleh : Yessy Wika Maharani


salah satu anggota kelompok  Owa jawa Mendolo

        Menjadi mahasiswa tingkat akhir sepintas terkesan begitu menyenangkan, tidak lagi mengikuti mata kuliah, tidak lagi dikejar deadline tugas dan laporan praktikum. Tapi nyatanya realita di lapangan tidak semudah itu, Di tingkat akhir artinya ada tanggung jawab besar yang harus segera diselesaikan. Yap! Dan ini adalah cerita tentangku dan tugas akhir yang menjadi awal kisah mengenal lebih dalam tentang hutan sebagai rumah bagi makhluk berwarna abu pemilik nyanyian merdu di Pulau Jawa, siapa lagi kalau bukan Owa jawa.

Saya Yessy Wika mahasiswa tingkat akhir pada minat Konservasi Sumber Daya Hutan Fakultas Kehutanan UGM baru saja menyelesaikan pengambilan data untuk tugas akhir saya di Desa Mendolo dengan judul penelitian “Karakteristik Habitat Owa Jawa (Hylobates moloch) di Area Terfragmentasi Desa Mendolo, Pekalongan, Jawa Tengah”. Bukan tanpa sebab mengapa habitat Owa jawa menjadi topik yang ingin saya teliti pada tugas akhir kali ini. Habitatnya yang makin memprihatinkan karena adanya fragmentasi menjadi sebuah ancaman serius bagi kelestariannya. Mengingat pergerakannya yang khas dengan brakiasi dimana hutan dengan tajuk-tajuk pohon yang terhubung sebagai faktor penting bagi keberlangsungan hidupnya. Berdasarkan data monitoring milik SwaraOwa, habitat Owa jawa yang berada di Desa Mendolo saat ini terindikasi akan ataupun sedang mengalami peristiwa fragmentasi tersebut.

plot petak ukur vegetasi

Kisah pengambilan data di Desa Mendolo yang memakan waktu selama hampir menyentuh dua bulan lamanya, adalah awal saya bertemu dengan Nisa dan Zizah mahasiswa Biologi dari UIN Jakarta. Selain itu, saya juga mengenal banyak teman baru dari Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo, ada Mas Iman, Mas Alec, Mas Ripki, Mas Madran, Mas El, dan masih banyak lagi. Mereka adalah teman, saudara, sekaligus 911 bagi saya selama berada di Desa Mendolo. Dalam pengambilan data habitat, saya mendatangi sekitar 50 lebih plot yang tersebar di seluruh Desa Mendolo. Untungnya perjalanan saya tidak sendiri, saya ditemani oleh

tim monitoring

Dalam praktiknya di lapangan saya membagi menjadi beberapa tahap, tahap pertama adalah pengambilan data habitat yang meliputi struktur dan komposisi vegetasi. Di dalam analisis vegetasi kali ini, digunakan plot nested dengan ukuran 2x2 m untuk semai, 5x5 m untuk pancang, 10x10 untuk tiang dan 20x20 m untuk pohon. Adapun beberapa data yang harus saya ambil meliputi: jenis tumbuhan, diameter batang, dan tinggi pohon. Selain itu, guna menggambarkan profil hutan secara vertikal saya juga mengambil data berupa koordinat tumbuhan, tinggi batang bebas cabang, tinggi tajuk terlebar, dan lebar tajuk. Tahap kedua adalah pengambilan data populasi dengan metode triangulasi yang dilakukan selama 4 hari. Di samping itu, selama perjalan menyusuri tiap plot, saya juga menerapkan metode line transect guna mengestimasi populasi Owa jawa melalui perjumpaan langsung.

        Meskipun ini perjalanan untuk menyelesaikan tugas akhir, nyatanya ini awal bagi saya untuk memulai belajar banyak hal baru. Misalnya dalam proses identifikasi tumbuhan, banyaknya jenis tumbuhan yang dijumpai dan dengan segala keterbatasan yang ada, saya dituntut untuk bisa mengidentifikasinya satu per satu. Alhasil banyak sekali ilmu-ilmu dendrologi yang saya dapat di semester satu harus dibuka kembali. Disamping itu, saya sangat bersyukur karena teman-teman di sini baik warga lokal, PPM Mendolo, tim swaraowa, dan nisa juga zizah membantu saya dalam proses identifikasinya.

        
pengukuran diameter pohon

Dalam perjalanan mencari data habitat tersebut, beberapa plot yang saya datangi tak jarang hanya terdiri dari tanaman kopi dan durian saja. Tentu ini menjadi hal menarik untuk menjadi bahan pembahasan pada tugas akhir saya kelak. Mengingat kondisi yang terlalu homogen dan tingkat tutupan tajuk yang cukup rendah, apakah dapat dimungkinkan untuk menjadi ancaman bagi keberlangsungan Owa jawa yang ada di sekitarnya. Meskipun begitu, banyak juga plot-plot yang terdiri dari berbagai macam jenis vegetasi serta ukuran strata tajuk yang bervariasi. Seperti pada plot nomor 2 dimana di dalam plot tersebut kerap dijumpai sekelompok Owa jawa, tengah melakukan aktivitas sehari-harinya. Menurut penuturan tim monitoring dari SwaraOwa dan PPM Mendolo, ada satu area pada plot tersebut yang terdiri dari pohon dengan tajuk yang terhubung kerap menjadi jembatan berpindah bagi kelompok Owa jawa tersebut. 

Setelah menyelesaikan pengambilan data habitat, kegiatan dilanjut untuk pengambilan data populasi dengan metode triangulasi. Terdapat 3 titik listening point (lps) yang digunakan dengan pengambilan data sebanyak 4 hari. Proses triangulasi kali ini saya dibantu oleh Zizah, Mas Iman, Mas Alec, Mas Ripki, dan Mas El dimana setiap lps terdiri dari 2 orang. Kami berangkat dari rumah sekitar pukul 05.00 pagi dan telah berada di lps pada pukul 05.30. Pengamatan biasanya dilakukan hingga pukul 10.00 pagi. Terkadang terdapat hari-hari dimana hal-hal tak terduka terjadi, seperti saat tiba-tiba terdengar suara sound horeg, chainsaw pemotong kayu, bahkan suara binatang sekecil tenggeret pun mampu mengganggu proses pengamatan. Namun akhirnya proses pengamatan tetap dapat dijalankan dengan lancar hingga selesai.

Pengambilan data ini bagi saya adalah pengalaman yang tak cukup jika diungkapkan dengan satu dua paragraph cerita pendek saja. Banyak hal-hal kecil yang ternyata patut untuk disyukuri. Sesederhana nikmatnya siomay dan es dawet Pak Kaliri, tangan yang tidak menyentuh kemadu, dan capcay bekal makan siang buatan Nisa. Ditambah selama di sana kami selalu diajak mencoba kegiatan dari SwaraOwa ataupun PPM Mendolo. Seperti monitoring rutin, Bird Watching for Kids, sampai dituruti herping malam karena ingin  melihat kukang.
tour guide kondang mas Iman, pengendali Parang

Satu lagi yang perlu disyukuri adalah saya banyak dipertemukan dan dikelilingi oleh orang-orang baik, mulai dari Ibu-ibu Dusun Sawahan yang sering menanyakan “tidur di atas aman kan?”, Bapak-bapak yang tidak sengaja bertemu di plot tapi tetap ditanyai “pak ini tanaman apa ya?”, dan tak lupa tour guide kondang sang ahli parang siapa lagi kalau bukan Mas Iman. Walaupun jarang mandi tapi dia selalu bertanggung jawab menjaga keselamatan saya. Beliau selalu mengingatkan dan mengusahakan yang terbaik selama di lapangan. Misalnya mengingatkan ketika ada batang berduri, jalanan yang licin, bahkan bertemu dengan ular berbisa pun semua dia handle. Tapi hal itu tidak terlepas juga karena saya yang membawa minum dan bekal makan siangnya. Pada intinya ini adalah sepenggal cerita seru yang ingin saya kenang selalu. Terima kasih untuk SwaraOwa yang telah memberikan fasilitas belajar dan kesempatan mengenal banyak hal. Terima kasih juga untuk PPM Mendolo, warga Desa Mendolo, serta orang-orang baik lainnya yang telah memberikan pengalaman dan pemahaman selama pengambilan data. Dua bulan di sana rasanya akan selalu terasa kurang. Namun, dalam hidup yang terus berjalan, selamat merindukan hal-hal yang tak bisa diulang.



Saturday, May 31, 2025

Jejak Sunyi Owa Jawa: Cerita Perjalanan dari Hutan Mendolo, Pekalongan

 Oleh : Nur Azizah Firdaus

Hutan Mendolo
Langit pagi yang cerah dan sunyi. Angin berhembus kencang menggoyangkan pohon-pohon dengan lembut. Saya tidak menyangka, kaki ini melangkah di jalan setapak dan membawa lebih dari sekedar data. Hutan Mendolo bercerita – tentang hidup, kehilangan, dan harapan.

Halo! Saya Zizah, mahasiswi Biologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Seperti banyak mahasiswi tingkat akhir yang lain, saya melakukan penelitian lapangan untuk tugas akhir/skripsi dengan Beasiswa SwaraOwa. Topik penelitian saya adalah Wilayah Jelajah dan Preferensi Pakan Owa Jawa (Hylobates moloch) di Hutan Mendolo. Hutan ini berlokasi di Dukuh Sawahan, Desa Mendolo, Pekalongan. Lalu mengapa owa jawa? Karena mereka primata endemik Indonesia yang berperan dalam menjaga ekosistem hutan tropis di Pulau Jawa. Namun, sayangnya mereka terancam punah. Mereka adalah pesan alam yang mungkin kita abaikan. Nyanyian mereka yang indah di pagi hari kini menjadi lagu terakhir dari kanopi hutan yang kian sepi. Jadi, ini bukan hanya tentang kewajiban akademik, tetapi perjalanan hidup yang tak terduga. 

Perjalanan menuju hutan, saya tidak sendirian tetapi bersama Nisa, Yessy, dan tim monitoring PPM Mendolo. Komunitas lokal anak muda yang menjaga dan menjadi pendengar setia nyanyian hutan. Saya terkagum pada tekad mereka yang melangkah dengan keberanian untuk ikut andil dalam konservasi. Dengan kamera, catatan lapangan, dan langkah yang ringan menyusuri jalur curam, mereka menjadikan hutan sebagai sahabat yang harus dijaga. Bagi saya, masa depan hutan di tangan mereka bukan sebagai cerita kehilangan, tetapi kisah yang terus hidup.

 

Pencarian owa jawa

Kegiatan monitoring owa jawa bukan hal yang mudah. Suara indah owa jawa yang dapat menjadi petunjuk utama tak selalu setiap hari terdengar. Pergerakan mereka yang cepat, brakiasi dari pohon ke pohon, dan terkadang menghilang begitu saja. Tenang, tim kami tetap ada semangat untuk mengejar karena bagi kami momen pertemuan dengan mereka adalah hadiah dari hutan. Kami mencari dengan melihat kanan, kiri, atas, dan akhirnya melihat mereka – sepasang owa jawa yang sedang beristirahat bersama di dahan pohon. Kami tersenyum karena ini lebih dari sekedar data aktivitas sosial, tetapi potret cinta sunyi dan nyata di tengah hutan.
Sepasang owa jawa beristirahat (doc. PPM Mendolo)

Sepasang owa jawa yang kami amati memiliki 3 anak. Anak pertama yang sudah memasuki usia dewasa karena sering terlihat sendiri atau agak sedikit berjarak dengan individu lainnya, anak kedua usia remaja, dan anak ketiga usia anakan yang aktif bermain dan terkadang digendong oleh induknya ketika mereka merasa waspada. Mereka adalah keluarga cemara, selalu bersama melakukan aktivitas hariannya dan menjaga satu sama lain. Kami mengamati lalu mencatat setiap aktivitas mereka dengan metode scan sampling dan GPS untuk menitikan posisi pohon yang mereka gunakan dalam melakukan aktivitasnya.

Saat aktivitas makan berlangsung, mereka melakukannya dengan tenang dan menikmatinya. Bagian dan jenis pakan yang dikonsumsi dicatat selama pengamatan. Ternyata, mereka memilih bagian pohon tertentu dan tidak sembarang petik, seolah tahu mana yang harus dimakan dan ditinggal. Mulai dari buah, bunga, dan daun muda mereka makan untuk menambah energi di pagi dan siang menjelang sore hari. Aktivitas makan bukan hanya tentang bertahan hidup, tetapi harmoni abadi antara makhluk dan alamnya.

 

Pakan owa jawa. A. Kukuran, B. Bulu karet (Ficus elastica), C. Sempu (Dillenia sp.), D. Klepu (Nauclea sp.), E. Miosis (Maeopsis eminii), dan F. Rao (Dracontomelon dao)

Dari kejauhan, kanopi hutan agroforestri yang menjadi habitat owa jawa disini masih tampak hijau dan lebat. Nyatanya, dari jarak dekat banyak kanopi hutan yang hilang. Banyak hal yang menarik dan menantang saat di lapangan. Mulai dari cerita terdahulu, dimana masyarakat memburu owa jawa dengan senapan. Meskipun, kini suara tembakan hilang, tetapi luka memori mereka belum sepenuhnya pulih. Ketika melihat manusia, mereka sangat waspada dan bersiap untuk berpindah dengan cepat. Awalnya terasa menyakitkan, seolah kehadiran kami dari jarak jauh sudah mengusik mereka yang seharusnya tenang. Tapi, saya sadar itu bukan penolakan, itu naluri yang melindungi mereka sejak manusia pernah datang membawa ancaman. Terkadang, di sela pergerakan mereka yang waspada dan cepat, ada momen kecil dimana seekor owa jawa berhenti. Matanya menangkap keberadaan kami yang mungkin bukan seperti melihat ancaman, tetapi rasa ingin tahu dan mencoba mengerti: siapa kami dan apa yang kami cari disini.

 Tidak hanya owa jawa yang ditemukan saat pengamatan. Kami juga bertemu primata lutung jawa (Trachypithecus auratus), rek-rekan (Presbytis comata fredericae), dan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Keberadaan monyet ekor panjang ini terkadang membuat onar di kebun kopi warga. Monyet memetik buah kopi dan memakannya. Tak lama dari itu, pemilik kebun mengusir mereka dengan teriakan. Owa jawa yang sedang tenang tiba-tiba ketakutan dan  hilang tanpa jejak.

Rasanya masih belum puas, masih ada satu primata endemik Pulau Jawa, yaitu kukang jawa. Primata ini aktif pada malam hari dan tentunya kami mencoba untuk pengamatan malam di Dukuh Mendolo Kulon. Perkiraan setengah jam kami melakukan pencarian dengan headlamp, mencari mata yang bersinar. Akhirnya ketemu, kukangnya berada di balik ranting pohon sengon. Saya mengira pergerakannya lambat, tetapi ternyata tidak. Keheningan malam terasa penuh makna.

 Penuh harapan dan dukungan untuk menjaga keberadaan fauna di hutan ini. Mulai dari peran masyarakat lokal, pemerintah, dan lembaga swadaya masyarakat seperti SwaraOwa yang terus akan menjadi garda terdepan dan penjaga setia owa jawa dan habitatnya. Dengan langkah kecil tapi penuh arti. Kesadaran akan tindakan nyata seperti monitoring rutin, penanaman pohon, dan edukasi konservasi. Mari kita dukung untuk kegiatan konservasi masyarakat lokal. Harapan bersama alam semakin lestari, hutan tidak tinggal nama, owa jawa tidak sekedar jejak di peta tetapi nyawa yang harus terus dijaga. Menjaga hutan = menjaga owa jawa.

Kegiatan konservasi oleh PPM Mendolo. A. Penanaman pohon, B. Edukasi konservasi (bird watching for kids)
 Terima kasih untuk SwaraOwa, Desa Mendolo, dan PPM Mendolo atas kesempatan yang telah diberikan. Salam lestari!

Thursday, May 15, 2025

Urgensi koridor habitat bagi owa jawa: dua tahun program penanaman partisipatif

 oleh Sidiq Harjanto ( SwaraOwa) dan  Alex Rifa’i (PPM Mendolo)

kelompok owa yang di monitor di Sawahan ( foto PPM Mendolo)

Owa jawa (Hylobates moloch) adalah satu di antara sembilan jenis owa (gibbon) yang ada di Indonesia. Sebaran kera kecil dengan warna rambut abu-abu ini endemik Pulau Jawa dan terbatas di bagian tengah dan barat pulau. Owa jawa dijumpai di habitat hutan tropis dataran rendah dengan spesifikasi tertentu. Mereka hidup arboreal (pada kanopi hutan) sehingga membutuhkan konektivitas kanopi hutan yang baik. Saat ini, owa jawa masuk dalam daftar spesies terancam punah (endangered) dalam daftar merah IUCN.

Fragmentasi habitat menjadi ancaman yang mempercepat kepunahan spesies karismatik ini. Kondisi fragmentasi habitat yang dimaksud adalah saat area hutan tidak lagi menyediakan konektivitas tajuk atau kanopi yang baik. Sederhananya, satu hamparan hutan terpecah menjadi blok-blok yang lebih kecil. Karena kebutuhan akan tajuk hutan yang terkoneksi, sedikit saja gangguan pada habitat owa semisal pembukaan jalan bisa memberikan fragmentasi habitat bagi jenis-jenis owa, termasuk owa jawa.

Ketika satu kelompok atau keluarga owa terpisah dari populasi, meningkatkan peluang terjadinya perkawinan sedarah yang berujung pada hanyutan genetik. Perkawinan antar anggota keluarga yang masih berkerabat dekat secara dramatis mengurangi keanekaragaman gen. Hal ini berakibat pada masalah-masalah kesehatan maupun kemampuan adaptasi dan meningkatkan risiko kepunahan. Semakin masif isolasi populasi, maka laju kepunahan suatu spesies juga semakin meningkat.

peta hutan terfragmentasi di Sawahan
Monitoring kelompok owa di habitat terfragmentasi

Butuh kejelian untuk memastikan adanya fragmentasi habitat bagi owa jawa. Secara sekilas, tak jarang tutupan lahan tampak relatif baik. Namun, jika kita mengacu pada kebutuhan spesifik spesies kera kecil dari suku Hylobatidae ini yang membutuhkan hutan heterogen, ternyata tidak semua area cocok dengan kebutuhan populasi owa. Tercacat beberapa kantong hutan habitat owa jawa dikelilingi area kebun, seperti durian dan kopi, atau tutupan vegetasi homogen lain yang tidak kompatibel dengan kebutuhan habitat.

Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo bekerja sama dengan Swaraowa, telah melakukan monitoring terhadap kelompok-kelompok owa jawa yang berada pada blok hutan kecil yang terpisah dari blok hutan utama. Kelompok-kelompok owa tersebut umumnya berbagi ruang pada area berhutan yang jauh di bawah luas teritori ideal. Dari data monitoring inilah, ke depannya upaya-upaya pelestarian bisa dirumuskan.

Kegiatan monitoring Owa jawa ( foto PPM Mendolo)
Tim monitoring berjumlah dua atau tiga orang setiap harinya, berangkat di pagi hari sekitar pukul 05:30  WIB atau kadang jadwal berangkat bisa lebih pagi lagi. Setiba di lokasi monitoring, tim mulai mengamati aktivitas harian kelompok owa jawa, seperti aktivitas makan, bermain, istirahat, dan tidur. Selain itu, kami juga mencatat jenis-jenis pohon pakan, dan rata-rata ketinggian kanopi yang mereka gunakan untuk beraktivitas. Data-data ini penting mengingat area habitat mereka beririsan dengan lahan garapan masyarakat.  

Beberapa kali kelompok owa terpantau menyeberang ke area kebun kopi yang rata-rata ketinggian pohonnya tidak lebih dari lima meter. Bahkan, sempat ada beberapa orang warga yang melaporkan bahwa mereka pernah melihat owa jawa berjalan di atas tanah. Fenomena owa berjalan di tanah ini sekilas tampak lucu, tetapi temuan ini mengkhawatirkan karena menyimpang dari perilaku alaminya. Owa jawa adalah hewan yang sepenuhnya arboreal, jika sampai turun ke tanah untuk menyeberang dari satu pohon ke pohon yang lain, hal ini mengindikasikan habitatnya sudah tidak ideal.

penanaman pohon pakan Owa ( foto PPM Mendolo)


Koridor hutan untuk koneksi habitat

Saat ini kita berpacu dengan waktu. Data-data mengenai fragmentasi habitat bagi owa jawa di Kawasan Dieng Utara masih sangat terbatas. Namun, mulai ada temuan-temuan yang mengindikasikan kondisi itu. Hal ini menuntut respon yang sigap untuk menghindari risiko percepatan kepunahan. Berangkat dari data yang masih sangat terbatas, upaya-upaya meskipun dalam skala yang kecil telah dilakukan. Salah satu upaya yang ditempuh adalah melalui pembuatan koridor habitat dan pengayaan pohon pakan.

Tahun ini, menjadi tahun kedua bagi warga Dukuh Sawahan, Desa Mendolo untuk menjalankan program penanaman koridor dan pengayaan jenis-jenis pohon hutan. Bibit yang ditanam tahun ini meliputi kayu babi (Crypteronia sp.), kayu sapi (Pometia pinnata), rau, sentul, nangkan. Total sekira 700 batang bibit. Sebagian bibit ditanam pada sempadan sungai-sungai kecil, atau alur menurut istilah lokal. Penanaman pada alur-alur ini diharapkan bisa menjadi koridor hutan di masa depan, sekaligus untuk konservasi air dan tanah.

Selain area-area sempadan sungai, aneka bibit buah hutan juga ditanam di lahan-lahan garapan guna meningkatkan populasi pohon pakan bagi owa jawa. Jenis-jenis pohon pakan kesukaan owa misalnya rau (Drancontomelon dao), bendo (Artocarpus elasticus), nangkan (Artocarpus rigidus), dan sentul (Sandoricum koetjape). Dengan model agroforestri yang diperkaya, diharapkan kelompok-kelompok owa jawa masih dapat bertahan, setidaknya dari sisi koneksi tajuk dan ketersediaan pakan.

Konsep koridor habitat di Mendolo ini mirip dengan program community baboon sanctuary yang telah berhasil menjaga populasi monyet howler di Belize, Amerika Tengah. Sifatnya jangka panjang dan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Secara prinsip, program ini berusaha mencari ekuilibrium antara kebutuhan ideal habitat owa jawa dengan kepentingan ekonomi masyarakat dari pengelolaan lahan.

Konservasi berbasis masyarakat

Tak bisa dimungkiri bahwa banyak permasalahan lingkungan hidup bersifat global, seperti perubahan iklim, kepunahan massal, dan deforestasi –termasuk fragmentasi habitat. Namun, cara-cara penanganannya bisa kita mulai dari skala kecil. Aksi-aksi konservasi perlu disesuikan dengan konteks lokal. Skalanya bisa berbasis ekoregion, bioregion, lansekap, atau bahkan pada lingkup administratif yang kecil, misalnya desa. Pada konteks desa, konservasi berbasis masyarakat menjadi paradigma sekaligus strategi yang menjanjikan.

Di Dukuh Sawahan telah ada inisiasi Peraturan Dukuh (Perduk) yang mengatur perlindungan satwa liar. Perduk ini berlaku untuk beberapa kelompok satwa, yaitu: ikan, burung, dan primata. Bergulirnya kesepakatan warga ini membawa angin segar bagi upaya pelestarian keanekaragaman hayati di Desa Mendolo. Pelestarian satwa liar tentu tidak bisa berhenti pada larangan perburuan saja, tetapi perlu semakin diperdalam menuju pelestarian habitat. Program koridor hutan ini menjadi salah satu ikhtiar jangka panjang menuju ke sana.

Program koridor habitat dan pengayaan pohon pakan ini berbasis masyarakat. Partisipasi warga menjadi kunci keberlangsungan. Kerelaan penggarap lahan (area-area sempadan sungai), konsistensi pengadaan bibit, penanaman, hingga komitmen perawatan-pemeliharaan pohon sangat tergantung peran aktif warga masyarakat. Saat ini peran-peran itu ada pada para petani sebagai penggarap lahan, kelompok wanita tani yang membantu penyediaan bibit, juga para anggotai PPM Mendolo yang secara bergantian melakukan monitoring kelompok-kelompok owa di wilayah Mendolo. Kami ucapkan terima kasih kepada mereka untuk kontribusi yang sangat berarti.

Friday, March 28, 2025

Para perempuan penjaga hutan: KWT Brayan Urip

Oleh : Sidiq Harjanto 

Ibu Ibu dukuh sawahan pulang dari Hutan mencari Umbi Gadung

Tanggal 25 Februari 2025 menjadi hari bersejarah bagi kelompok perempuan “Brayan Urip” di dukuh Sawahan, Desa Mendolo. Kelompok informal ini telah bertransformasi menjadi Kelompok Wanita Tani (KWT) dan akan semakin intens mewarnai kegiatan-kegiatan berkelanjutan yang dijalankan di Mendolo. Sri Windriyah didapuk memimpin kelompok yang sementara telah merekrut 16 orang ini untuk periode kepengurusan 2025-2030.

Sebagai kelompok yang kegiatan utamanya di bidang pertanian, KWT Brayan Urip mengusung visi: Terciptanya budaya pertanian yang mengedepankan solidaritas, gotong royong, kreativitas, inovasi, dan menjaga nilai-nilai kearifan lokal. Tentunya, untuk mencapai visi tersebut perlu upaya-upaya nyata merawat pengetahuan dan keterampilan yang telah menjadi tradisi turun-temurun dan terbukti menjamin keberlanjutan.

musyawarah pengukuhan KWT Brayan Urip disaksikan Kepada Desa Sawahan

Dengan adanya KWT, posisi dan peran kaum perempuan bisa diperkuat. Kelompok juga bisa mengelaborasi berbagai ide dan membuahkan inovasi pangan, praktik pertanian berkelanjutan, hingga konservasi secara umum. Berbagai permasalahan bisa dirembug dan dicari penyelesaiannya. Di samping itu, adanya kelompok perempuan ini bisa menjadi medium regenerasi dalam komunitas masyarakat, terutama untuk mewariskan berbagai pengetahuan praktis maupun filosofis mengenai kehidupan masyarakat dekat hutan.

Sri Windriyah Ketua KWT Brayan Urip dukuh Sawahan

Ekologi pangan: merawat ekosistem dari dapur

Menurut Piramida Maslow, pangan adalah kebutuhan fisiologis umat manusia, menempati posisi paling dasar bersama oksigen, air, pakaian, shelter (tempat berlindung), dan seks. Kebutuhan ini sifatnya biologis dan mendesak sehingga pasti menjadi prioritas pemenuhan setiap manusia. Jika kebutuhan ini belum terpenuhi, maka manusia tidak termotivasi mengejar kebutuhan di tingkat selanjutnya.

Kebutuhan pangan dipenuhi dari alam, baik melalui pembudidayaan atau pertanian maupun pemanenan berbagai spesies liar. Karena tergantung faktor alam, pangan bisa mencerminkan relasi manusia dengan alam atau lingkungannya. Apa yang kita makan bisa saja memberikan dampak buruk bagi keseimbangan alam, tanpa kita sadari. Diperlukan kearifan dalam memilih pangan yang kita konsumsi sehari-hari. Misalnya, memilih pangan organik, non-GMO ( genetically modified organism), diproduksi lokal (meminimalkan jejak karbon), dan berbagai pertimbangan lainnya.

Sebagai kaum ibu yang sangat berkepentingan dalam penyediaan pangan sehat bagi keluarga, para anggota KWT Brayan Urip bertekad untuk merawat dan terus mempraktikkan tradisi pangan lokal yang selama ini masih terpelihara. Tradisi ini kiranya masih relevan dengan semangat menjaga keseimbangan alam. Memperjuangkan kelestarian dan keberlanjutan alam bisa dimulai dari dapur-dapur tiap rumah. Dari pilihan menu makan sehari-hari yang bijak dan bertanggung jawab.

Memilih pangan lokal membawa banyak manfaat. Sebagaimana disebutkan di atas, memilih pangan lokal bisa mengurangi jejak karbon karena minim pengangkutan. Tak cuma itu saja, tradisi pangan lokal bisa mendorong masyarakat setempat untuk melindungi sumber daya alam yang ada. Pangan lokal sendiri merupakan bagian dari biodiversitas yang penting dalam ekosistem. Pada aspek lain, pangan lokal cenderung lebih segar sehingga lebih kaya nutrisi, dan lebih sehat karena tanpa pengawetan. Pangan lokal juga berpotensi mendongkrak ekonomi setempat.

Pendataan awal mengenai potensi pangan berbasis hutan pada tahun 2022 telah menemukan tak kurang 80 jenis tumbuhan dan jamur liar yang bisa dikonsumsi. Sebagian dari potensi itu masih terus dimanfaatkan oleh masyarakat hingga saat ini. Sayur pakis, belibar pucung, dan jamur lember misalnya, masih lazim mengisi meja-meja makan warga Desa Mendolo.

Pemanenan dan pengolahan umbi gadung telah menjadi tradisi turun-menurun bagi kaum perempuan di Mendolo. Umbi ini umumnya diolah menjadi keripik maupun pengganti nasi. Pada tahun 2024, kelompok Brayan Urip telah melakukan uji coba pembuatan tepung berbahan gadung dengan hasil yang cukup menjanjikan. Ini merupakan sebentuk inovasi setelah tak kurang 70 tahun pemanfaatan gadung di Mendolo. Maka pada tahun ini, produksi tepung gadung hendak ditingkatkan pada skala yang lebih besar sehingga diharapkan bisa turut mendongkrak perekonomian warga, khususnya kaum perempuan.

Sebagai catatan, umbi gadung (Dioscorea hispida) tumbuh liar di area-area hutan di sekitar Dukuh Sawahan. Keberlanjutan tanaman umbi ini tergantung kepada kelestarian hutan sebagai habitat. Artinya, upaya kelompok perempuan Sawahan untuk mengelola potensi umbi gadung ini membawa konsekuensi untuk adanya upaya memperjuangkan kelestarian hutan itu sendiri.

Di sisi lain, hutan di Mendolo merupakan habitat bagi aneka satwa, termasuk owa jawa, lutung jawa, rek-rekan, kukang, elang jawa, burung raja-udang kalung-biru, dan lain sebagainya. Di sini kita menemukan irisan kepentingan yang sama antara urgensi pelestarian hutan sebagai “lumbung pangan” bagi masyarakat dan hutan sebagai habitat berbagai jenis satwa. Dua kepentingan yang perlu sinergi saling menguatkan untuk hutan yang lestari.

Pendidikan sebagai salah satu misi strategis

Kegiatan edukasi di Sawahan
Telah disinggung sebelumnya bahwa keberadaan kelompok bisa menjadi medium regenerasi di masyarakat. KWT Brayan Urip memiliki komitmen itu sehingga salah satu misi yang tercantum dalam AD-ART kelompok adalah melakukan edukasi kepada generasi muda. Edukasi ini tidak terbatas pada bidang tertentu namun bersifat umum tergantung urgensi, karena perlu disadari bahwa kehidupan ini sifatnya holistik-sistemis.

Mengawali kiprah dalam bidang edukasi, KWT Brayan Urip berkolaborasi dengan PPM Mendolo dan didukung Swaraowa mengajak anak-anak di lingkup Dukuh Sawahan untuk belajar bersama mengenai potensi keanekaragaman hayati desa. Pada tanggal 19 Maret 2025, sembari menunggu waktu berbuka puasa, para ibu ini mengumpulkan putra-putri dukuh sawahan untuk berdiskusi mengenai nilai penting keanekaragaman hayati, serta dampaknya jika terjadi kerusakan.

Tema keanekaragaman hayati ini sejalan dengan momentum perumusan Peraturan Dukuh (Perduk) untuk pelestarian satwa liar. Telah disepakati perlindungan jenis-jenis ikan, burung, dan primata di lingkup Sawahan. Sebagai salah satu elemen masyarakat, KWT turut mendukung upaya pelestarian tersebut melalui bentuk pendidikan lingkungan bagi anak-anak usia sekolah dasar.

Pendidikan menjadi salah satu misi strategis yang diusung oleh KWT Brayan Urip. Banyak pengetahuan dan keterampilan lokal yang saat ini belum terakomodir oleh lembaga pendidikan formal. Butuh media di luar pendidikan formal yang sudah ada untuk mentransformasikannya. Atas dasar itulah, kelompok membangun komitmen untuk mengisi ruang-ruang yang masih kosong tersebut agar generasi muda di Dukuh Sawahan tidak tercerabut dari akar budaya dan lingkungan tempat tumbuhnya.