Showing posts with label kopi owa. Show all posts
Showing posts with label kopi owa. Show all posts

Friday, April 3, 2026

Pemetaan Potensi Kopi untuk Inklusivitas Habitat Owa Jawa

 

Owajawa ( Hylobates moloch) di temukan di habitat kopi naungan hutan alam /rustic shade grown coffee

Oleh : Sidiq Harjanto & Muhammad Kuswoto

Kopi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap habitat Owa Jawa di Hutan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan. Ada irisan kepentingan yang nyata antara kebutuhan ekonomi masyarakat dengan keutuhan hutan sebagai habitat berbagai satwa liar, termasuk primata endemik yang terancam punah ini. Belum lagi sederet fungsi hutan seperti penjaga siklus air dan pengikat tanah–pencegah longsor. Melanjutkan upaya untuk menemukan titik keseimbangan berbagai kepentingan itu, pada tahun ini kami memulai perluasan skema pengembangan kopi naungan (shade-grown coffee).

Selama satu bulan terakhir, kami telah melaksanakan pendataan terhadap komunitas petani kopi. Survei ini dilakukan ke sepuluh lokasi, meliputi enam desa dekat hutan di tiga kecamatan yang merupakan penyangga habitat Owa Jawa di Hutan Petungkriyono. Pendataan ini melintasi gradien ekologi maupun sosio-ekonomi yang kontras, mulai dari dataran yang relatif rendah–kurang lebih 300 mdpl, hingga dataran tinggi di atas 1.500 mdpl, mulai dari masyarakat petani hutan hingga masyarakat petani sayur–peladang intensif.

Pendataan ini tidak hanya memotret aspek pembudidayaan kopi, tetapi juga mencoba menyelami karakteristik masyarakat yang beranekaragam, mulai dari pola interaksi sosial hingga relasi mereka terhadap sumber daya hutan secara umum. Metode pendataan dilakukan dengan wawancara untuk melihat beberapa aspek: model pengelolaan kebun kopi yang dijalankan, potensi komoditas selain kopi, hingga aktivitas lain yang dilakukan di hutan. Sedangkan untuk mendapatkan gambaran langsung mengenai praktik budidaya kopi, kami melakukan peninjauan langsung ke kebun-kebun kopi yang dikelola masyarakat.

rustic shade-grown coffee /kopi naungan hutan alam 

Spektrum agroforestri kopi

Ada beberapa catatan menarik yang kami rangkum. Dari sisi produksi kopi, karena variasi ketinggian (altitude) yang cukup ekstrem, lokasi-lokasi penghasil kopi memiliki profil spesifik. Tujuh lokasi merupakan penghasil kopi robusta, sedangkan tiga lokasi lainnya dominan menghasilkan kopi arabika. Jenis kopi excelsa dan liberika juga dijumpai, namun kuantitasnya relatif kecil.

Kami menemukan ada tiga spektrum utama dalam pola pembudidayaan kopi di sekitar habitat Owa Jawa, dan sebagai penyederhanaan kami menyebutnya: kebun campur, agroforest sederhana, dan naungan hutan. Pada dasarnya, semua tipe merupakan bentuk agroforestri, tetapi berbeda dalam struktur penyusun dan kompleksitasnya. Pertama, yang dimaksud kebun campur adalah pembudidayaan kopi yang relatif intensif (dengan penyambungan batang, pemangkasan, dan kadang pemupukan) dikombinasi dengan jenis-jenis tanaman komoditi seperti cengkih, durian, alpukat, hingga pisang. Umumnya, praktik ini dilakukan di kebun milik atau di lahan hutan yang mudah diakses.

Burung paruh kodok, ditemukan di habitat kopi naungan rustic

Kedua, agroforest sederhana adalah saat tanaman kopi dikombinasikan dengan tanaman pangan seperti sayur-mayur atau jagung. Praktik ini jamak dilakukan di dataran tinggi dengan komoditas kopi dari jenis arabika. Kopi ditanam sebagai tanaman pembatas kebun atau tanaman sela pada ladang-ladang sayur ataupun tanaman jagung. Terkadang dijumpai pula pohon-pohon penaung, baik jenis liar maupun komersil sehingga menyerupai kebun campur. Meskipun demikian, perawatan kopi yang intensif jarang dijumpai pada tipe ini.

Ketiga, tipe naungan hutan (rustic shade) merupakan pembudidayaan kopi yang berada dalam kawasan hutan dan tumbuh di bawah naungan pohon-pohon hutan. Dalam praktik ini, perlakuan atau perawatan terhadap tanaman-tanaman kopi sangat minim, tanaman kopi umumnya tumbuh tinggi karena berlomba mendapatkan paparan cahaya matahari dengan pepohonan hutan. Pada tipe ini, kopi adalah bagian dari strata hutan itu sendiri. Tipe inilah yang paling ramah terhadap keberadaan satwa liar, termasuk Owa Jawa. Kami menjumpai beberapa praktik baik dalam pengelolaan kopi naungan hutan, misalnya: konservasi spesies pohon tertentu sebagai penaung, seperti pohon bendo (Artocarpus elasticus).

Aktivitas ekstraktif di desa-desa penghasil kopi


Kopi robusta kebun campur

Selain menggali potensi kopi dari desa-ke desa, kami juga menelusuri informasi mengenai aktivitas masyarakat yang berkaitan dengan hutan. Kami menjumpai masih adanya ruang aktivitas ekstraktif, termasuk perburuan satwa liar. Masalah perburuan ini melibatkan berbagai faktor yang berkelindan.

Kami mengidentifikasi tiga tipologi utama dalam aktivitas perburuan berdasarkan motivasi. Pertama, motif ekonomi: sebagian warga melakukan perburuan sebagai strategi bertahan hidup untuk menutupi celah pendapatan dari sektor utama terutama pertanian yang belum optimal. Umumnya menarget spesies burung kicauan yang punya nilai ekonomi. Kedua, motif rekreasi: sebagian lainnya melihat aktivitas ini sebagai hobi, pengisi waktu luang, atau pemuasan kegemaran yang telah mengakar dalam keseharian. Ketiga, motif pengendalian hama: sebagian masyarakat menganggap aktivitas perburuan sebagai upaya untuk mengendalikan populasi hewan-hewan yang dianggap hama bagi pertanian, misalnya babi hutan.

Kami mencoba memahami ketiga dimensi ini secara netral agar bisa menawarkan upaya intervensi yang tidak konfrontatif, melainkan substitusi nilai yang lebih berkelanjutan. Pendataan ini merupakan inisiasi untuk program peningkatan kapasitas petani dalam pengolahan kopi sekaligus untuk upaya konservasi, terutama bagi mereka yang memiliki aktivitas sampingan pemburu satwa liar. Skema ini bermaksud memperluas dampak dari Coffee and Primates Project yang telah melahirkan Owa Coffee lebih dari satu dekade lalu.

Titik nol baru kopi penjaga owa

 
Kopi arabica di tanam di tepi lahan kebun sayur

Sebagai tindak lanjut, kami akan berkolaborasi dengan 25 petani yang akan menjadi pionir dalam program peningkatan kapasitas selama kurang lebih satu tahun ke depan. Fokus utama kami adalah membangun komitmen jangka panjang untuk mengalihkan energi dan sumber daya mereka dari aktivitas berburu ke pengelolaan Kopi Naungan (shade-grown coffee). Upaya ini diarahkan untuk meningkatkan ekonomi keluarga petani melalui kopi berbasis agroforestry, sekaligus mengurangi aktivitas berburu di Hutan Petungkriyono.

Tentu tidak ada resep tunggal untuk mengurai problematika tersebut, tetapi ada beberapa tawaran untuk itu. Strategi Resiliensi Ekonomi: meningkatkan nilai tambah produk melalui perbaikan pasca-panen dan diversifikasi tanaman dalam lahan kopi (multi-komoditi). Targetnya adalah memastikan pendapatan dari kopi naungan lebih stabil dan menguntungkan ketimbang aktivitas ekstraktif di hutan. Petani didorong untuk tidak hanya menggantungkan nasib pada kopi sebagai komoditas tunggal, tetapi mengombinasikan dengan berbagai komoditas lain.

Strategi Prestise dan Keterampilan: mengalihkan aspek "tantangan" dan "kesenangan". Dari aktivitas berburu yang menantang ke iklim kompetitif lain yang produktif, misalnya kualitas kopi (specialty coffee). Kesenangan untuk mengeksplorasi hutan juga membawa peluang untuk melibatkan para petani dalam pendataan dan pemantauan kehati secara partisipatif dalam bingkai citizen science. Kontribusi kawan-kawan petani muda di Desa Mendolo dalam skema ini telah membuktikannya.

Tak bisa dimungkiri bahwa konflik satwa liar seringkali merupakan puncak gunung es dari permasalahan yang lebih besar dan kompleks. Munculnya gangguan pada tanaman budidaya oleh satwa liar bisa jadi disebabkan gangguan pada keseimbangan ekosistem: akibat hilangnya peran predator, misalnya. Strategi Literasi Ekologi (ekoliterasi): diterapkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat petani terhadap pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem demi keberlanjutan pertanian kita.

Bisa dibilang, pendataan ini menjadi titik nol baru bagi perjalanan panjang ke depan, di mana upaya gotong royong kita untuk kesejahteraan petani dan kelestarian habitat Owa Jawa tumbuh secara beriringan dalam satu lanskap produktif yang inklusif. Mengarusutamakan kopi naungan bukan saja menjaga resiliensi ekonomi masyarakat petani, tetapi juga menjaga koneksivitas habitat–prasyarat mutlak bagi kelestarian satwa liar. Artinya, prinsip inklusivitas berlaku tidak saja kepada sesama manusia, namun diperluas: termasuk memberi ruang kepada satwa liar. Kami ucapkan terima kasih kepada Air Asia Foundation atas dukungan terhadap program ini.

Saturday, August 28, 2021

Limbah Konfeksi untuk Konservasi

 oleh : Elna Novitasari Br.Ginting dan Arif Setiawan



Salah satu yang menggerakkan ekonomi warga di Pekalongan adalah konfeksi (industri pakaian), dan hal ini hampir merata di semua wilayah, dari kota hingga ke pelosok desa-desa sekitar hutan pun juga ada rantai ekonomi usaha konfeksi ini. Mulai dari memotong bahan baku kain, menjahit, memasang kancing,resleteing, sablon, mewarnai, dan juga yang sudah turun temurun dilakukan adalah membatik.

Kami melihat rantai ekonomi konfeksi ini di Sokokembang, salah satu dusun paling dekat dengan habitat Owa Jawa (Hylobates moloch) di Pekalongan, primata langka yang hampir punah dan sudah ada sejak pertama kali kami singgah di dusun di Tengah hutan habitat Owa ini, tahun 2006. Beberapa warga terlibat langsung dan mendapatkan penghasilan utama dari kegiatan konveksi, menjahit bagian dari pakaian yang merupakan bagian kecil dari sbuah rangkaian proses produksi pakaian jadi. Warga yang bekerja di sektor ini bisa di bilang 45% dari total keluarga yang ada di Sokokembang, yang bekerja di sektor lain seperti bertani, beternak,  di kebun dan hutan. Tahun-tahun awal kami memulai kegiatan di sokokembang hingga tahun 2014, warga yang bekerja menjahit, melakukan pekerjaannya ini di tempat bos atau juragan yang mempunyai mesin-mesin jahit dan bahan kain, tidak melakukan pekerjaan ini di rumah. Setiap hari dari Senin-Kamis, Sabtu, Minggu, dan libur di hari Jumat.


Sudah tentu pekerja-pekerja konfeksi ini relasi dengan hutan sebagai habitat Owa Jawa tidak sedekat warga yang bekerja dirumah, bertani, kehutan, mengolah kopi dan lain sebagainya. Namun mereka mempunyai peran penting juga dalam memutar roda ekonomi pada umumnya kehidupan di sekitar hutan. Nama-nama pohon hutan, pengetahuan tentang binatang-binatang hutan, tentu berbeda dengan warga yang sering masuk hutan. Menceritakan dan menggambarkan Owa saja kadang masih salah dengan menyebut ekor ada di Owa, karena sanggat jarang sekali melihat Owa. Yang sudah benar mereka ceritakan adalah mengenai suaranya, karena suara-suara owa terdengar cukup jelas di pagi hari.


Tim Wildgibbon Indonesia- Swaraowa beberapa waktu lalu dalam suasana pandemi, mencoba mencari solusi untuk menyambungkan permasalahan owa ini ke bidang yang menjadi mayoritas pekerjaan dan yang ada di Pekalongan, konfeksi. Melihat kain-kain perca sisa potongan, ada dimana-mana, meskipun juga sudah ada yang memanfaatkan, namun tim mencoba membuat berbeda dengan tujuan untuk mengenalkan dusun Sokokembang .

Tas kain 'tote bag' menjadi pilihan, memanfaatkan limbah kain potongan, bagi warga yang pekerjaannya memang menjahit, mulai membuat pola, menyambung  kain-kain dan membentuk sebuah tas yang siap dan layak pakai adalah hal mudah yang dapat di kerjakan di sela-sela menjahit menyelesaikan pekerjaan harian. Namun, hal ini juga coba diperkenalkan kepada generasi muda yang aktif di Sokokembang. Pelatihan singkat diberikan oleh warga yang sudah mahir dalam menjahit, dan tim Wildgibbon memberikan sentuhan tambahan untuk kain perca yang di manfaatkan ulan untuk tas. Hasil akhir dari kain perca tersebut jadi sebuah "tote bag", dengan logo utama Owa Coffee dan Sokokembang.


Dari program ini, salah satu hal lagi yang menjadi contoh dan sekaligus tantangan adalah memunculkan kegiatan konservasi sekaligus memupuk jiwa entrepreneur atau wirausaha. Keberadaan tim konservasi sudah seharusnya dapat menambah nilai dari apapun yang terkait langsung atau tidak langsung dengan misi konservasi yang di angkatnya. Menjual produk dengan strategi pemasaran, tidak akan jadi apabila hanya dalam tataran rencana dan wacana, namun hal ini sudah menjadi bagian dari kegiatan wirausaha itu sendiri, yang juga dapat mendatangkan keuntungan ekonomi, dan harapnnya memang mendorong kegiatan konservasi selanjutnya.


Monday, July 15, 2019

Seri Diskusi Konservasi 3 #Avitourism

foto bersama peserta dan pembicara seri diskusi 


Sokokembang, 6 Juli 2019. Menghadirkan 2 pembicara yang merupakan pelaku dalam industri wisata minat khusus pengamatan burung di Indonesia, Seri diskusi konservasi yang ke-3 telah sukses dilaksanakan. Peserta yang hadir juga tidak hanya dari sekitar Pekalongan juga dari ada beberapa peserta dari luar kota pekalongan, mahasiswa, masyarakat umum, Perhutani, dan perwakilan dari LMDH, Perangkat Desa Mesoyi , Desa Kayupuring dan Desa Tlogohendro.

Seperti biasanya acara yang di kemas dengan obrolan santai di pandu oleh tim SwaraOwa, yang sengaja mendatangkan narasumber untuk mewacanakan dan mengarus utamakan kegiatan wisata minat khusus di antara wisata-wisata massal yang telah dan sedang berkembang di wilayah kabupaten Pekalongan, khususnya di Petungkriyono.
Imam (Loontour

Imam Taufiqurrahman ornithologist dari kota Gudeg, dan juga sebagai  pelaku operator birding tour Lootour, mengawali dengan pengertian Avitourism itu sendiri, yaitu merupakan bagian dari kegiatan wisata alam yang fokus pada aktifitas mengamati burung liar, bentuk aktifitasnya bisa berupa  pengamatan burung ( birdwatching),  mengunjungi bird fair,(yaitu pameran tetang kegiatan biridwatching di seluruh dunia), ikut dalam kegiatan pengamatan yang di selenggarakan oleh birowisata, dan fotografi burung. Kesemua aktivitas ini dilakukan dengan prinsip bertanggunjawab, mengedepankan perlindungan lingkungan, dan meningkatkan kehidupan masyarakat setempat.
Peminat wisata minat khusus ini menurut Imam juga mempunyai karakter tersendiri,seperti ketertarikan yang tinggi terhadap burung di habitat asli, kalangan terpelajar, melakukan perjalanan dalam kelompok kecil dan mampu secara finansial.

Potensi Indonesia, sebagai negara yang memiliki keanekaragaman yang tinggi, jenis-jenis endemic dan keragaman landscape dan budaya memilik potensi untuk di terapkannya wisata minat khusus pengamatan burung. Namun ancaman wisata ini telah, dan sedang terjadi perburuan burung, kerusakan habitat, dan wisata yang tidak berwawasan lingkungan mengakibatkan burung-burung  di alam sebagai atraksi wisata juga hilang.

Sebagai tour operator yang dirintis  sejak tahun 2009, Loontour birding nya mas Imam banyak melakukan kegiatan membawa wisatawan pengamat burung di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Seperti tour operator lainnya pelayanan terhadap wisatawan ini memang harus mendapat perhatian serius, selain membantu wisatawan  mengamati burung. Wisatawan dari Amerika dan Eropa masih menjadi konsumen terbanyak dari birding tournya mas Imam.
Kukuh ( Birdpacker)

Pembicara kedua Waskito Kukuh Wibowo, yang juga sudah beberapa kali mengunjungi habitat Owa di Petungkriyono ini, tentu saya kedatangan sebelumnya juga untuk birding. Kebetulan juga mas Kukuh ini sama dengan mas Imam mengawali kegiatan birding nya juga dari almamater yang sama di Yogyakarta, kemudian dengan Birdpacker yang berbasis di Malang, Jawa Timur, mengembangkan usaha guiding pengamatan burung. Yang awalnya hanya sebatas hobi namun sekarang menjadi pekerjaan yang memberi banyak pengalaman, teman dan tentunya penghasilan.

Yang harus menjadi perhatian dan menjadi tantang dalam bisnis ekowisata ini  menurut mas Kukuh di antaranya adalah : laju kehancuran dan kepunahan burung-burung di alam, ketrampilan bahasa inggris, karena target pasarnya adalah orang luar negri, hospitality dan standar operational prosedur dari mitra/tour operator lokal, persaingan dengan tour operator dari luar negeri, penetrasi pasar, dan peralatan yang kurang memadai. 

Dengan jumlah species burung di Indonesia kurang lebih 1777 species 1 dan kurang lebih 430 nya adalah endemik, potensi yang belum tergarap optimal oleh sektor wisata saat ini, di Amerika industri wisata minat khusus ini sudah bisa menghasilkan 32 Miliar Dollar, dalam setahun, , menurut mas Kukuh. Birdwatching tours merupakan salah satu alternatif untuk menekan dampak eksploitasi burung di alam, dan menjadi solusi kompromi antara ekonomi dan ekologi yang sering kali berseteru satu sama lain.

Daftar pustaka :

Friday, March 22, 2019

Menggagas Pengelolaan Kolaboratif Hutan Petungkriyono

  Oleh : Ahmad A Fahmi, Arif Setiawan, 22 Maret 2019

  •   Hutan Petungkriyono termasuk dalam BKPH Doro, KPH Pekalongan Timur memiliki luas 5189,507  ha, terdiri atas hutan Produksi Terbatas dengan Tanaman Pokok Pinus dan Hutan Alam Kayu Lain atau hutan alam yang berfungsi sebagai Hutan Lindung Terbatas (HLT) untuk fungsi Lindung Hidrologis 
  • Habitat satwa-satwa dan flora endemik Jawa, seperti : Owa, Macan tutul, Elang Jawa
  • Atraksi wisata yang ditawarkan sebagian besar berupa air terjun, wisata sungai, dan pemandangan alam. Jenis wisata yang dikembangkan masih berupa mass tourism dimana pengembangan infrastruktur buatan seperti tempat selfie yang instagrammable menjadi obyek favorit wisatawan
  • ·Berkembangnya kegiatan wisata alam di kawasan ini dapat dijadikan bukti bahwa hutan mampu memberikan manfaat ekonomi tanpa harus menebang ataupun mengubahnya.
  • Kelestarian  hutan merupakan kepentingan dan kebutuhan berbagai lapisan masyarakat, baik yang tinggal di sekitar hutan maupun masyarakat yang tinggal di daerah hilir, rusaknya Hutan Petungkriyono  akan memberikan dampak negatif  bagi keanekargaman hayati dan potensi ekonominya dan resiko bencana alam bagi masyarakat yang tinggal di daerah hilir,



Petungkriyono merupakan daerah pegunungan dengan ketinggian antara 600-2100 meter di atas permukaan air laut (mdpl) dimana sebagian wilayah merupakan daerah dataran tinggi Pegunungan Serayu Utara. Sebelah Selatan merupakan Kawasan Dataran Tinggi Dieng dengan rangkaian gunung seperti Gunung Rogojembangan, Gunung Kendalisodo, Gunung Sikeru, Gunung Perbata, Gunung Geni, dan Gunung Kukusan.


Kecamatan Petungkriyono berada di wilayah Kabupaten Pekalongan bagian Selatan yang berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara di bagian Selatan. Luas wilayah Kecamatan Petungkriono adalah 7.358,523 ha yang sebagian besar adalah hutan negara seluas 5.189,507 Ha. Luas pemukiman hanyalah 119,652 ha (16 %) dari luas wilayah. Kawasan hutan di Kecamantan Petungkriyono merupakan salah satu kawasan hutan tropis yang masih tersisa di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah. Sebagian kawasannya yang masih utuh, rangkaian pegunungan Dieng di tengah Pulau jawa, mampu mendukung kehidupan beberapa satwa langka yang terancam punah seperti Elang jawa, monyet daun (Lutung dan Rekrekan, Macan tutul dan juga juga satwa endemik jawa yang sangat penting yaitu owa jawa (1; 2). 


Hutan Petungkriyono termasuk dalam BKPH Doro, KPH Pekalongan Timur memiliki luas 5189,507  ha, terdiri atas hutan Produksi Terbatas dengan Tanaman Pokok Pinus dan Hutan Alam Kayu Lain atau hutan alam yang berfungsi sebagai Hutan Lindung Terbatas (HLT) untuk fungsi Lindung Hidrologis . Hutan lindung memiliki luas 1931,90 ha (SK Menhut Nomor: 359/Menhut.II/2004 tanggal 1 Oktober 2004) (3). Hutan lindung Petungkriyono berfungsi sebagai Hutan Lindung Terbatas, Hutan lindung Petungkriyono masih merupakan hutan primer yang relatif terjaga, dengan tipe vegetasi hutan hujan tropis. Hutan primer merupakan hutan yang belum pernah dilakukan tebang habis (4).
Owa Jawa (Hylobates moloch)

Potensi dan Ancaman
Kondisi hutan yang masih utuh memberikan dampak sangat positif terhadap lingkungan sekitarnya, dimana banyak sungai dan air terjun yang masih dialiri air jernih sepanjang tahun. Dengan kondisinya yang masih alami, Kawasan Hutan Petungkriyono mempunyai potensi wisata alam yang sangat besar. Pada saat ini terdapat sekitar  8 obyek wisata alam yang terdapat di kawasan tersebut yang dikelola oleh masyarakat bekerjasama dengan Perhutani.

Atraksi wisata yang ditawarkan sebagian besar berupa air terjun, wisata sungai, dan pemandangan alam. Jenis wisata yang dikembangkan masih berupa mass tourism dimana pengembangan infrastruktur buatan seperti tempat selfie yang instagrammable menjadi obyek favorit wisatawan. Ekowisata meskipun sudah menjadi wacana di tingkat pemerintah daerah semenjak tahun 2005 namun masih belum dikembangkan secara serius meskipun potensi yang ada sangat besar.Masyarakat di sekitar Kawasan Hutan Petungkriyono saat ini tengah mengembangkan banyak inisiatif dan membangun berbagai obyek wisata di sekitar kawasan hutan ini. Berbagai atraksi coba dikembangkan oleh masyarakat seperti, melihat air terjun, wisata sungai ( river tubing, river tracking), pengamatan satwa di alam dan umumny pemandangan bentang lahan dan topografi bergunung dengan kehidupan pedesaan yang asri.

Pengembangan potensi wisata ini masih bersifat sporadis dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat atau individu secara mandiri. Pihak pemerintah daerah sendiri sangat mendukung dengan pengembangan wisata alam ini. Sejak tahun 2018 dilakukan penyempurnaan akses ke dalam kawasan dengan memperbaiki jalan. Saat ini akses jalan ke dalam kawasan sangat lancar karena jalan sudah berupa aspal hotmix dengan lebar 4 m. Dengan semakin terbukanya akses ini maka kegiatan wisata di kawasan ini semakin marak.

Berkembangnya wisata alam di kawasan ini merupakan berkah tersendiri bagi masyarakat. Kunjungan semakin meningkat pada hari-hari libur. Namun disisi lain kegiatan wisata ini berpotensi untuk meningkatkan gangguan terhadap kehidupan satwa liar yang ada di kawasan, jika tidak terkendali kegiatan wisata yang berlebihan justru dapat berefek negatif terhadap satwa liar seperti Owa Jawa yang merupakan ikon kawasan ini.

"primatewatching" salah satu kegiatan wisata minat khusus

Di sisi yang lain ternyata kawasan ini juga masih mengalami tekanan dan juga gangguan. Kegiatan-kegiatan pelanggaran hukum seperti perburuan liar dan juga pembalakan liar masih terjadi di kawasan hutan ini. Perburuan liar yang terjadi saat ini dilakukan oleh pendatang dari luar dan sebagian juga masyarakat setempat. Jenis satwa yang diburu adalah terutama jenis-jenis burung, kijang , Ayam hutan, babi hutan, luwak, trenggiling, landak, dan berbagai macam satwa lainnya. Bisa dikatakan tidak ada jenis satwa spesifik yang dijadikan target dimana satwa yang dijumpai itulah yang akan diburu.

Meskipun tidak dalam jumlah besar dan masif, disinyalir masih terdapat praktek illegal logging yang dilakukan oleh oknum masyarakat. Meskipun skala penebangan tersebut kecil namun jika dilakukan secara terus-menerus maka dikhawatirkan hal ini akan menimbulkan dampak kerusakan pada ekosistem hutan. Terdapat beberapa jenis kayu yang sering dijadikan target favorit para penebang yaitu kayu wuru dan kayu babi. Fenomena perburuan liar dan juga illegal logging yang terjadi di kawasan hutan ini menunjukkan bahwa sistem pengelolaan yang saat ini ada masih belum mampu memberikan jaminan keamanan bagi kawasan hutan ini.

Kebutuhan Dukungan Parapihak dan Nilai Penting Kolaborasi

Hutan dengan segala potensi dan fungsinya, sejatinya berhubungan dengan kepentingan banyak pihak. Kelestarian hutan bukanlah kepentingan pihak pengelola (dalam hal ini Perhutani, misalnya). Kelestarian  hutan merupakan kepentingan dan kebutuhan berbagai lapisan masyarakat, baik yang tinggal di sekitar hutan maupun masyarakat yang tinggal di daerah hilir, rusaknya Hutan Petungkriyono  akan memberikan dampak negatif dan resiko bencana alam bagi masyarakat yang tinggal di daerah hilir. Kerusakan hutan juga akan memicu hilangnya keanekaragaman hayati dan juga potensi ekonomi masyarakat seperti potensi wisata alam.

Berkembangnya kegiatan wisata alam di kawasan ini dapat dijadikan bukti bahwa hutan mampu memberikan manfaat ekonomi tanpa harus menebang ataupun mengubahnya. Pengelolaan wisata alam yang baik dan berkelanjutan ke depan tentunya juga membutuhkan peran banyak pihak. Dengan demikian pengelolaan Hutan Petungkriyono sejatinya juga membutuhkan dukungan dari banyak pihak selain institusi utama yaitu Perhutani. Masyarakat dan pemerintah desa perlu ditingkatkan kepeduliannya dalam hal ini. Instansi pemerintah daerah baik di kabupaten maupun provinsi juga seharusnya memberikan kontribusi positif bagi pengelolaan Hutan Petungkriyono yang lestari dan mensejahterakan masyarakat. Beberapa pihak yang terkait dengan kawasan ini adalah:

Table. Para pihak dan Fungsi Utamanya
Para Pihak
Fungsi/Peran Utama Yang diharapkan dalam pengembangan manajemen kolaboratif

Perhutani KPH Pekalongan Timur
Pengelolaan kawasan Hutan Petungkriyono secara umum.
Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah
Berwenang dalam pengelolaan sumberdaya hutan di wilayah Provinsi Jawa Tengah
Mengkoordinasikan peran parapihak di tingkat provinsi maupun nasional
Bappeda Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Pekalongan
Mengembangkan perencanaan pembangunan dan tata ruang wilayah
Balai Konservasi Sumberdaya Alam Provinsi Jawa Tengah
Pelestarian sumberdaya hayati terutama spesies langka di wilayah Provinsi Jawa Tengah, khususnya di kawasan Hutan Petungkriyono dan sekitarnya
Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Pekalongan
-         Mengembangkan program-program yang bertujuan menjaga kualitas lingkungan hidup
          Melaksanakan pemantauan terhadap kualitas lingungan hidup
Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Pekalongan
Mengembangkan destinasi dan obyek wisata yang ramah lingkungan dan berkeadilan sosial
Dinas PU
Meningkatkan kualitas infrastruktur
Kepolisian
Penegakan dan pembinaan hokum hokum
Pemerintah Desa
          Mengembangkan dan menjalankan kebijakan pembangunan desa yang ramah lingkungan  sesuai kewenangannya
        Mengembangkan program-program kesejahteraan berbasis dana desa
Masyarakat Desa  
Mengembangkan potensi hutan secara berkelanjutan,

      Berpartisipasi aktif dalam pengembangan kebijakan dan program pembangunan
Organisasi masyarakat / LSM
Pengembangan kapasitas, advokasi, networking, dll
Pihak Swasta/Perusahaan
            Mengembangkan  investasi berdasarkan prinsip keberlanjutan
            Pengembangan program-program Tanggung Jawab Sosial  Perusahaan (CSR)

Keterlibatan dan kontribusi dari berbagai pihak ini seharusnya tidak berjalan sendiri-sendiri namun juga ditopang oleh semangat mengembangkan sinergi atau keterpaduan sehingga terjadi hubungan yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya sehingga pengelolaan kawasan ini dapat berjalan secara optimal. Jika peran parapihak ini  tanpa didasari oleh semangat menjalin sinergi maka hal ini dapat menyebabkan berbagai persoalan ke depan berupa konflik kepentingan antar pihak.(5) Oleh karena itu perlu dikembangkan sebuah proses kolaborasi parapihak yang berkepentingan dengan pengelolaan Hutan Petungkriyono.

Tujuan dari pengembangan Pengelolaan Kolaboratif di Kawasan Hutan Petungkriyono adalahMengembangkan kesepakatan-kesepakatan  parapihak yang terkait dengan Hutan Petungkriyono yang dapat menjamin kelestarian sumberdaya hutan dan keberlanjutan pengelolaan potensinya. Mengembangkan keterpaduan dan sinergi parapihak yang mempunyai kepentingan terhadap pengelolaan Hutan Petungkriyono. Mengembangkan dukungan yang lebih luas terhadap pengelolaan potensi dan pelestarian Hutan Petungkriyono

Dalam jangka pendek kegiatan pengembangan co-manajemen ini akan menghasilkan sebuah dokumen Rencana Induk Kolaboratif yang berisi gagasan mendasar dan umum parapihak dalam memanfaatkan sekaligus melestarikan kawasan Hutan Petungkriyono

Beberapa dampak yang diharapkan dari kegiatan penyusunan Rencana Kolaborasi Pengelolaan dan Pelestarian Kawasan Hutan Petungkriyono  adalah sebagai berikut: Munculnya keterpaduan dan sinergi yang konstruktif diantara parapihak yang terkait dengan pengelolaan dan pelestarian Kawasan Hutan Petungkriyono ke depan. Terkoleksinya data sebagai basis analisis untuk pengembangan Kawasan Hutan Petungkriyono ke depan. Terbukanya jalinan komunikasi antar pihak yang berkepentingan dengan Kawasan Hutan Petungkriyono sehingga mengurangi dan mencegah resiko konflik di masa yang akan datang. Meningkatnya kemampuan parapihak terutama masyarakat desa dalam menyusun langkah-langkah pengembangan Kawasan Hutan Petungkriyono yang menjamin kelestarian sumberdaya dan lingkungan.

Daftar Pustaka:

1 . Nijman, V. and Van Balen, S.B., 1998. A faunal survey of the Dieng Mountains, Central Java, Indonesia: distribution and conservation of endemic primate taxa. Oryx, 32(2), pp.145-156.
2. Setiawan, A., Nugroho, T.S., Wibisono, Y., Ikawati, V. and SUGARDJITO, J., 2012. Population density and distribution of Javan gibbon (Hylobates moloch) in Central Java, Indonesia. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 13(1).
3. SK Menhut Nomor: 359/Menhut.II/2004 tanggal 1 Oktober 2004
4. Fisher, R.J., 1995. Collaborative management of forests for conservation and development (p. 65). Gland, Switzerland: Iucn.



Thursday, November 15, 2018

Tabungan ekologi : Serangga pollinasi



Akhir tahun 2017, kita pertamakali mencoba mengenalkan teknik budidaya lebah kepada warga sekitar hutan habitat Owa di Pekalongan (baca disini liputannya). Berawal dari pengamatan sehari-hari ketika musim kemarau memang banyak sekali pemburu lebah madu, ada beberapa warga yang sudah mencoba membudidayakan dengan metode tradisional.  Artinya pengetahuan dan praktik budidaya sudah ada hanya perlu di tingkatkan pengetahuan dan prakteknya.

Melihat tempat lain sebagai referensi juga sangat membantu pengetahuan budidaya lebah ini, terutama membangun sesama pegiat lebah saling tukar pengalaman dan pengetahuan. Sisi ekonomi juga sudah mulai muncul, karena madu juga di banyak di jual belikan di dusun-dusun sekitar hutan.
Seperti tulisan terdahulu, lebah klanceng sangat potensial untuk dikembangkan untuk mendukung pelestarian hutan habitat owa, pengelolaan yang berkelanjutan menjadi tantangan ke depan, karena selain ada nilai ekonomi, budidaya lebah juga sangat erat kaitannya dengan sistem budidaya pertanian yang ramah lingkungan. Dan sangat sesuai apabila di terapkan dalam sistem agroforest, sebagai kawasan penyangga hutan habitat Owa.
Sedang memeriksa kotak lebah di Ds.Sokokembang

Di Sokokembang kini ada salah satu alumni pelatihan tahun lalu yang terus mencoba pengembangan budidaya Klanceng ini, pengalaman setahun ini dimulai dari koloni liar yang coba di domestikasi dan di kembangkan di sekitar rumah. Sudah ada sekitar 20 kotak, lebah yang terus di pantau perkembangannya. Ada yang pergi, ada yang mati, ada yang di serang kelompok lebah lain, menyesuaikan ukuran kotak lebah, dan produksi madu dapat di pantau selama setahun ini, dan sepertinya untuk melangkah ke sisi bisnis, juga masih perlu waktu dan ketekunan.
Budah durian di dusun Mendolo, setelah 1 minggu usai berbunga
Di Dusun Mendolo, kita juga mempunya tempat belajar tentang lebah ini, hampir semua warga dusun sudah mengenal lebah klanceng, berburu madu hutan menjadi pekerjaan sampingan yang utama ketika musim kemarau. Bukan hal baru tentang lebah madu, tapi selalu ada yang baru untuk dipelajari dari kegiatan ini. Salah satu warga di dusun ini saat ini juga mempunyai kurang lebih 30 kotak lebah, dan melihat hal ini beberapa tetangga juga sudah mulai ada yang memelihara 1-3 kotak di sekitar rumah. Pengalaman yang berbeda dengan di Sokokembang juga memunculkan hal-hal yang tidak di perkirakan sebelumnya, misalnya, kondisi sekitar tempat budidaya adalah banyak sumber bunga, produksi madu juga sangat melimpah.
kotak-kotak lebah di sela-sela tanaman kebun sekitar rumah
Lebah, T. itama di hutan habitat Owa Jawa

Catatan publikasi terbaru tentang populasi serangga termasuk di dalamnya lebah dan kumbang, di bebebrapa negara tropis mengalami penurunan yang cukup drastic. Tahun 2014 para ahli serangga dunia telah memperingatkan bahwa telah terjadi penurunan hingga 45%. Dan tahun 2017 publikasi terbaru ini telah mengalami penurunan hingga 75 %. Tentu saja hal ini di peroleh dari data yang informasi tentang serangga ini sudah cukup tersedia dengan baik.  Dari tulisan tersebut sangat sederhana indikatornya, dan mungkin bisa kita coba juga di tempat kita. Kalau berkendara malam hari dalam jarak tertentu berapa banyak serangga yang menabrak kaca mobil kita, atau lampu depan kita? Karena serangga bisanya mencari arah datang sumber cahaya kalau malam hari.  Bisa anda ingat waktu kecil anda kalau sering naik motor atau mobil malam hari sering nggak nabrak serangga terbang malam hari? dan kalau anda ingat, bandingkan dengan sekarang apakah serangga yang menabrak anda ketika jalan malam hari lebih banyak sekarang atau jauh lebih sedikit?

Apa nilai pentingnya serangga? Lebih dari 70% species binatang adalah serangga. Mungkin bisa saja kita katakan sekedar serangga, tapi merekalah yang membuat sistem ekologi di bumi berputar. Serangga menyerbuki tanaman pangan yang kita makan (sayuran, durian, mangga, pisang, pohon buah di hutan), serangga merupakan pengendali alami hama tanaman pangan, ada juga serangga-serangga yang khusus menguraikan sampah-sampah kita. 
Ya mereka sangat penting untuk kehidupan kita. Kehilangan para serangga bisa terjadi bencana ekologis !!
Owa jawa primata pemakan buah
Sentul, atau kecapi  (Sandoricum sp) salah satu buah kesukaan Owa

Kegiatan-kegiatan di sekitar hutan, sebagai pendukung untuk menjaga hutan tetap ada seperti hutan berdasarkan hubungan saling ketergantungan inilah menjadi salah satu yang coba terus di arus utamakan dalam bingkai  konservasi Owa jawa. Prinsip ekologis yang saling terkait,  peran penting hidupan  liar untuk kehidupan , dalah hal yang mudah di baca atau di ucapkan, namun pelaksanaan dari ide atau gagasan itu tidaklah semudah yang ada dalam tulisan, karena madu memang tidak selalu “manis”.

Sumber bacaan :




Monday, June 11, 2018

Diskusi Komunitas : Menyebarkan pesan Konservasi


Menyebarluaskan pesan konservasi dan pengalaman lapangan sering kali kita coba di kalangan yang sudah mengenal atau mempunyai latar belakang primata dan konservasi alam. Berbagai komunitas atau forum diskusi sangat beragam dan sepertinya beberapa tahun terakhir ini juga mulai marak kembali, meskipun banyak di antaranya bersifat fun , namun melalui komunitas-komunitas seperti ini pesan-pesan konservasi dapat menembus batas-batas pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan konservasi.
Seluruh peserta diskusi  (Foto :GPYID)


Kesempatan berharga bulan Ramadhan 2018, tim swaraowa bertemu dengan salah satu komunitas anak muda di Yogyakarta, yang tergabung dalam Greepeace Youth Indonesia Yogyakarta (GPYID). Awal mula pertemuan ini adalah, salah satu anggota GPYID ini pernah ikut dalam acara pelatihan metode survey primata tahun 2017 lalu. Dan inilah yang menjadi tujuan kegiatan pelatihan itu, yaitu membangun jaringan untuk pelestarian Owa jawa.
diskusi berjalan santai namun berkualitas (Foto : GPYID)

Sangat sederhana acara sore itu tanggal 3 Juni 2018, bertempat di AOA resto and  creative space,  di wilayah Seturan Yogyakarta, kurang lebih 25 peserta anak-anak muda GPYI dengan beragam latar belakang pendidikan dan pekerjaan berkumpul. Waktu 2 jam sepertinya sangat singkat, dan diskusi berkualitas, hangat berjalan dengan cerita –cerita lapangan kegiatan swaraowa yang awalnya hanya penelitian primata di jawa tengah, berkembang kearah pembangunan ekonomi berkelanjutan di tingkat site, habitat asli Owa Jawa.
Owa coffee sebagai media pembawa pesan konservasi (Foto : GPYID)

Pertanyaan kritis dan tajam juga di sampaikan peserta, mulai dari owa jawa itu sendiri, apakah beda antara monyet dan kera? Dampak wisata yang sedang berkembang di habitat Owa khusunya di Petungkriyono, hingga kebijakan pembangunan yang ramah hutan dan Owa. Produk-produk lokal berasal dari hutan dan sekitarnya merupakan potensi lokal yang tidak hanya bernilai ekonomi tinggi, namun juga secara ekologi sangat penting untuk dipertahankan, sementara keberlanjutan dan kelestarian menjadi tantangan yang harus di hadapi. Tentunya hal ini menjadi penyemangat tim swaraowa bahwa hal kecil yang bisa kita lakukan saat ini masih terus berkembang dan banyak tantang kedepan untuk menyelamatkan salah satu identitas di Pulau Jawa ini.
Ucapan terimakasih kepada GPYID atas terselenggaranya acara ini dan foto-foto berikut adalah dokumentasi dari panitia diskusi sore itu.

Salam hijau.

Monday, February 26, 2018

Kopi dan Owa : Identitas Global dari Jawa

menikmati seduhan kopi owa di Singapore zoo


Minggu ini tim swaraOwa memenuhi undangan dari organisasi konservasi di Singapura untuk berbagi pengalaman tentang kegiatan pelestarian Owa di Indonesia. Khususnya Owa jawa melalui proyek Kopi dan Konservasi Primata yang telah berjalan hingga tahun ke 8 ini masih terus berjalan dan berkembang dalam upaya melestarikan Owa dan habitatnya di wilayah Jawa Tengah.
Wildlife reserve singapore melalui singapore zoo yang mengundang kami untuk mempresentasikan kegiatan yang telah berjalan. Sejak tahun 2013 WRS telah menjadi bagian utama sebagai donor dari proyek ini.  Tidak hanya sekedar menjadi donor namun 2 tahun terakhir ini wrs melalui singapore zoo dengan tim lapangan swaraowa mencoba membangun sebuah jaringan usaha ekonomi yang berkelanjutan untuk mendorong kegiatan konservasi Owa Jawa. Sekema kopi ramah owa yang telah di inisiasi telah berhasil membawa produk kopi dari habitat Owa ke pasar yang lebih luas di Singapura.
papan informasi tentang Kopi Owa di Singapore zoo

Presentasi juga berjalan lancar, kurang lebih hampir 50 orang staff dari  zoo hadir dalam acara ini. Dan berlanjut ke kunjungan lapangan untuk melihat langsung bagaimana kopi owa di proses di singapura dan di sajikan untuk para pengunjung yang berkunjung.
Salah satu sudut di pintu masuk  zoo kini telah menjual kopi owa dalam bentuk kemasan dan seduhan, dan untuk di ketahui kopi yang di proses disini di buat blend atau campuran antara robusta dan arabica.
Foto bersama dengan panitia dan pembicara

Yang utama dari acara kunjugan swaraowa di Singapura adalah memenuhi undangan Jane Goodall Institute, dalam acara  berjudul "Wonderful Indonesian Primates".  Lembaga yang di dirikan oleh salah satu perempuan pioneer primatologist, Dr. Jane Goodall. Salah satu tokoh dan ahli primata dunia yang hingga saat ini sangat aktif tidak hanyak untuk penelitian dan mendorong upaya pelestarian primata, meskipun awalnya di Afrika namun semangatnya kini telah menyebar menginspirasi ke berbagai penjuru habitat asli primata-primata dunia. Khusus di Asia Jane Goodall  Institute Singapore menjadi tuan rumah untuk menyebarluaskan pesan konservasi primata di wilayah Asia dengan keragaman priamata yang sangat tinggi . Acara semacam kuliah umum ini di adakan setiap 3 bulan sekali untuk mengenalkan kepada publik primata-primata di Asia dan upaya pelestariannya. Untuk acara ini di adakan di Singapore Botanic Garden, salah satu kebun botani yang yang di dirikan sejak tahun 1800an di Asia Tenggara.
Presentasi Dr.Leif tentang Orangutan

Kesempatan ini menjadi sangat istimewa bagi swaraowa, bertemu dengan ahli-ahli primata lain dan juga berinteraksi langsung dengan komunitas global. Tidak hanya mengenalkan owa namun juga nilai konservasi lainnya yang saling melengkapi. Dalam acara ini karena swaraowa juga ada kegiatan di Kepulauan Mentawai, kita juga menceritakan pengalaman lapangan dari habitat Bilou owa endemik Mentawai untuk peserta yang hadir. 2 pembicara yang lain yang hadir adalah dari Proyek Orangutan dan Proyek konservasi Kukang. membuktikan bahwa primata Indonesia sudah menjadi bagian penting dari upaya konservasi global. tidak hanya penelitian namun juga membangun komunitas di habitat asli tentu sebuah upaya yang tidak mudah dan penuh tantangan.
acara di luar ruangan untuk anak-anak

Salah satu hal yang patut kita renungkan selama mengikuti acara ini adalah pelestarian primata dan habitatnya ini sudah menjadi concern masyarakat global,  penelitian yang lebih bersifat terapan di lapangan sangat  membantu mencegah kepunahan dan memperkuat nilai-nilai penting dari primata dan habitat asli. Komunikasi dan kerjasama pihak pihak terkait memberi kesempatan kita untuk saling menguatkan peran kita dalam mengelola alam ini lebih baik. Sementara upaya berkelanjutan dari sisi ekonomi menjadi bagian tidak terpisahkan dari upaya konservasi itu sendiri.

Monday, August 28, 2017

Camera Trap : alternatif solusi pengamanan kawasan hutan


camera trap
Penggunaan camera trap hingga saat ini telah banyak membantu upaya penelitian terutama, untuk mendeteksi keberadaan satwaliar, monitoring populasi, dan identifikasi satwa yang sifatnya pemalu atau susah di jumpai di habitat aslinya.   Di hutan sokokembang sebagai habitat Owa jawa penggunaan camera trap ini telah di gunakan mulai beberapa tahun terakhir. Banyak binatang yang pemalu dan sangat susah di jumpai ter rekam di  camera. Jeni-jenis ini menambah daftar penting kawasan ini, sebagai habitat satwaliar.
pemasangan camera trap


Beberapa hasil dari camera trap ini dapat di lihat hasilnya di sini, salah satu temuan di hutan sokokembang ini juga  masih ada macan tutul jawa (baca : Kelana si Kembang Asem).

Setelah beberapa lama unit kamera tidak dapat di gunakan lagi karena beberapa masalah mekanis  kamera dan  kelembaban tinggi  baru minggu ini kita memasang camera trap lagi di hutan sokokembang, namun tujuan kali ini adalah untuk melihat pergerakan aktifitas manusia yang masuk ke hutan. Dari beberapa pengamatan di lapangan masih saja ada pemburu yang ke hutan, kegiatan ini tentu saja merugikan dari sisi keanekaragaman hayati, apalagi beberapa waktu terakhir ini kegiatan pengamatan satwa ini telah menjadi alternatif wisata alam di antara maraknya wisata massal yang sedang di kembangkan di wilayah ini.


Penggunaan camera ini akan menjadi rekomendasi selanjuntnya untuk pihak terkait, yang bekepentingan dengan pengamanan kawasan, meskipun masih bersifat ujicoba penggunaan camera trap untuk pengamanan kawasan bisa menjadi alternatif menggantikan patroli hutan, terutama di lokasi-lokasi yang sulit di jangkau. Kita hanya memasang dan meninggalkan unit kamera dalam waktu tertentu, dan apabila ada yang melewati camera ini akan terekam, foto atau video, jam dan tanggalnya. . 
Bagi anda yang tertarik dengan kegiatan ini, silahkan hubungi email swaraOwa at gmail dot com, atau berkunjung ke dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Pekalongan Jawa Tengah.