Saturday, August 11, 2018

Kunjungan Fortwayne Children’s Zoo ke habitat Owa Jawa

Bulan Juli 2018, swaraowa kedatangan tamu special yang sudah sejak tahun 2010 mendukung kegiatan lapangan kita untuk melestarikan primata jawa, khususnya Owa jawa. Dr. Joe Smith dan Amber dari Fortwayne Children's Zoo, mewakili Kebun binatang yang berbasis di Indiana Amerika berkunjung untuk melihat langsung habitat  Owa Jawa.

kegiatan pengamatan primata

Kegiatan kunjungan ini di awali dengan mengunjungi swaraowa di Yogyakarta, melihat rumah produksi kopi owa, beramah tamah dengan tim dan juga sedikit berbagi update tentang kegiatan yang sudah berjalan hingga saat ini. Kami mengajak 2 tamu special ini ke habitat Owa di Sokokembang dan juga berkunjung ke Desa Tlogohendro, dan Mendolo di Kecamatan Lebakbarang.

Owa jawa terekam sedang istirahat

Primatewatching menjadi tujuan utama di Sokokembang, untuk melihat langsung primata-primata Jawa yang ada di hutan sekitar dusun Sokokembang. Meskipun tidak masuk kedalam hutan, pengamatan di jalur yang biasa kita gunakan untuk monitoring, kita sangat beruntung pagi itu melihat langsung ke-4 primata Jawa, kecuali si Kukang yang memang aktif malam hari.
Dusun Mendolo, kurang lebih 1 jam perjalanan dari Sokokembang ke kecamatan Lebakbarang, dan kegiatan kita disini sudah kita inisiasi kurang lebih 2 tahun,untuk pendampingan budidaya lebah klanceng dan juga pengolahan kopi hutan. Kami sempat melakukan night walk di jalan tengah hutan yang menghubungkan desa Mendolo dan Kutorembet, dan hasilnya kami melihat kucing hutan (Prionailurus bengalensis)  yang termasuk salah satu carnivor malam dan  juga kucing di lindungi yang berhabitat di hutan-hutan dataran rendah di Jawa.
mengenalkan berbagai macam karakter cita rasa kopi 

Cupping test, menjadi penutup rangkaian kunjungan ini, bersamaan dengan kegiatan panen raya kopi tahun ini, kami mencoba mengenalkan beberapa jenis kopi dengan beberapa proses pengolahan. Kopi-kopi ini bersal dari lokas-lokasi yang merupakan habitat primata Jawa, mulai dari Gunung Papandayan di Jawa Barat, Gunung slamet, Purbalingga, Pekalongan dan di bagian paling timur kita mendapatkan kopi dari Temanggung.  Beberapa daerah ini merupakan lokasi penting untuk pelestarian primata jawa, dan melihat potensi kopi saat ini, mengolahnya sebagai produk yang bekelanjutan tanpa merusak hutan menjadi tantangan untuk waktu-waktu mendatang, mengingat potensi terus meningkatnya konsumsi kopi.


foto bersama keluarga kopi owa di Sokokembang

Friday, July 27, 2018

Owa jawa : dalam riuh derasnya Kali Paingan





Halo, perkenalkan saya Fadhil mahasiswa tingkat akhir departemen Biologi Universitas Diponegoro, Semarang, penikmat masakan ibu dan saya suka berkegiatan di alam.

Menjelang akhir tahun 2017, pergolakan dalam hati saya semakin menuju titik puncaknya, ketika teman seangkatan sebagian besar sudah memiliki konsep yang akan mereka bawa untuk tugas akhirnya. namun saya, jangankan konsep topik saja saya tidak punya, karena ilmu biologi murni itu sangat luas.

Saya baru ingat, sebelumnya saya sempat mengikuti kegiatan pelatihan dan pengamatan Owa Jawa di Petungkriyono, yang di selenggarakan oleh Swaraowa tahun lalu,  saya sadar begitu kayanya Indonesia dengan banyak spesies primata endemik yang mendiami bumi pertiwi. Kecintaan akan primata semakin bertumbuh, saya kemudian memutuskan mewujudkannya dalam topik tugas akhir yang menghantarkan saya jauh ke pedalaman hutan tropis sungai Kali Paingan, di Desa Linggo Asri, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan.
Jalur Jurang Jero, Kalipaingan

Secara topografi, sungai yang berada 2 kilometer dari objek wisata Linggo Asri ini dikelilingi oleh perbukitan hutan tropis yang lebat. Kawasan hutan lindung ini dikelola oleh Perhutani dan sebagian lainnya digarap sebagai perkebunan dan pertanian oleh warga. Aktivitas pariwisata menjadi primadona disini, LMDH Kali Paingan sebagai pengelola menyediakan beragam fasilitas wisata seperti outbond, fun rafting, river tubbing, serta jungle tracking. Selain itu fasilitas penunjang berupa mushalla, aula, makanan & minuman, perpustakaan dan toilet. Semuanya lengkap dan terangkum menempatkan sungai Kali Paingan menjadi porosnya.

Dalam penelitian ini saya berusaha untuk mengetahui berapa populasi Owa jawa yang mendiami hutan lindung kali paingan dengan menggunakan metode jalur “line transect”. Jalur yang saya gunakan berupa jalan setapak dengan 2 jalur berbeda yakni jalur kali wadas mewakili sisi timur dan jalur jurang jero yang mewakili sisi barat kali paingan. Pada bulan april lalu saya menetap dan tinggal bersama kru “Kali Paingan Adventure” selama hampir 1 bulan. Sepuluh hari bersih digunakan untuk pengamatan, masing 5 hari pada pada dua jalur berbeda.

 
Owa yang mencari makan di Pohon Benda
Pengamatan pertama jalur Kali wadas. Nama jalur ini diambil dari nama anak sungai Kali Paingan. Jarak yang harus ditempuh adalah sekitar 4 km dari pemukiman warga terdekat. Jarak yang lumayan jauh dan medan yang cukup sulit menguji ketahanan fisik saya. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal saya mensiasati untuk memulai aktivitas pengamatan lebih pagi sekitar jam 05.30 WIB. Hari pertama membuahkan hasil, setelah perjalanan dan beberapa jam penantian, akhirnya terpantau 2 individu jantan dan betina yang sedang bergelantungan pada pohon Pukuran (Ficus sinuata). Saya rasa ini merupakan pasangan muda karena sekilas perawakan tubuhnya tidak terlalu besar untuk sekelas owa jawa dewasa. Keesokan harinya saya kembali lagi, dengan kondisi hari yang masih pagi buta saya mempercepat gerak langkah agar tidak kehilangan momentum sedikitpun. Ketika hampir sampai pada pos pengamatan, tiba – tiba terdengar suara gemuruh pada pohon, saya berusaha agar tetap tenang dan mengamati kondisi sekitar, dugaan saya benar. Terdapat 2 individu dewasa dan 1 individu muda sedang melakukan akrobatik berpindah dari satu pohon menuju pohon Benda (Artocarpus elasticus (Blume)).
Habitat Owa Jawa di Kalipaingan

Pada ujung jalur ini terdapat lahan pertanian warga dan juga sebuah gubuk petani yang saya gunakan untuk beristirahat dan mengamati owa jawa dan primata lain karena lokasinya yang cukup strategis. Selain Owa jawa, beberapa primata endemik seperti rekrekan dan lutung juga dijumpai disini. Pada jalur ini vegetasi bambu (Bambusa vulgaris), beberapa pohon pakan lainnya seperti pohon Benda (Artocarpus elasticus (Blume)) dan pohon pukuran (Ficus sinuata )  adalah yang mendominasi sehingga jalur ini memang habitat yang cocok untuk primata melangsungkan hidupnya. Pengamatan tetap dilanjutkan hingga hari kelima, namun tidak ada tanda – tanda kehadiran kembali owa jawa.
Peta lokasi penelitian di Kalipaingan

Pengamatan kedua di jalur Jurang Jero. Seperti namanya, jalur ini berada diatas jurang yang terhubung dengan sungai kali paingan di bawahnya. Jarak yang ditempuh cukup singkat di banding jalur kali wadas yakni sekitar 2 km namun harus melewati jalan setapak yang menanjak. Pengamatan hari pertama saya menemukan 3 individu, 2 individu dewasa dan 1 individu muda. Kelompok ini sedang melakukan brakhiasi pada percabangan pohon buluh (Urostigma glaberrimum (Blume)). Hari kedua tidak membuahkan hasil, namun keesokan harinya, ada yang membuat saya terkagum – kagum. Saya menemukan 1 kelompok owa jawa yang lengkap, terdapat 4 individu, dua diantaranya pasangan induk dan dua lainnya adalah satu juvenile dan 1 bayi (infant) yang masing dalam gendongan induknya.

Dari keseluruhan data yang telah diperoleh, saya berhasil menemukan 4 kelompok Owa jawa  dengan ukuran beragam. Komposisi 2 pasangan induk dan 1 anak menjadi ukuran kelompok tertinggi yang dapat dijumpai pada dua jalur. Vegetasi kedua jalur sangat mendukung kehidupan owa jawa maupun primata yang lain. Pohon pakan favorit seperti pohon Benda, rumpun Bambu, pohon buluh dan pohon Pukuran tersedia pada dua jalur ini. 

bersama crew Kalipaingan

Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Swaraowa yang sudah mendukung kegiatan penelitian ini, tak lupa juga kepada seluruh kru “Kali Paingan Adventure” terutama mas Sidik yang telah mendukung dan memfasilitasi kegiatan pengamatan selama di lapangan. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan menjadi salah satu bagian dari agen konservasi owa jawa. Semoga penelitian dapat bermanfaat bagi kita semua.


Panjang umur konservasi!


Penulis :
M. Fadhil Randa Putra

randa_fadhil@yahoo.com










Sunday, July 15, 2018

SwaraOwa di Kongress Asosiasi untuk Biologi Tropis dan Konservasi 2018


Bertemu dengan komunitas global, merupakan salah satu sumber pengetahuan yang selama ini  sangat berguna untuk membangun jaringan di tingkat internasional untuk pelestarian Owa di Indonesia. Hal itu sangat terasa sekali ketika swaraowa menghadiri acara kongres tahunan Associatio for Tropical Biodiversity and Conservation  (ATBC) tanggal1-5 Juli 2018 di Kuching, Sarawak, Malaysia.
Acara ini adalah pertemuan para peneliti, akademisi, pegiat konservasi, pemerintah, NGO, untuk mempresentasikan, ide, hasil penelitian, kisah sukses dan juga  tantangan kegiatan konservasi untuk keanekaragaman hayati di berbagai tipe habitat, di banyak negara-negara tropis asia pasifik. Kurang lebih ada 800 peserta terdaftar di acara ini,mewakili  60 negara.
Poster presentasi, di kongress ATBC Kuching, Sarawak, Malaysia 2018

Acara ini swaraowa membawa poster presentasi tentang kegiatan pengembangan komunitas disekitar habitat asli primata terancam punah di Jawa Tengah (Owa jawa) dan Kepulauan Mentawai (Bilou). Baca disini presentasi poster kami berjudul “ Grassroot initiative for conservation of Endangered Gibbon in Mentawai and Java” .  Kesempatan bertemu dengan para ahli, belajar metode-metode penelitian, aplikasi teknologi untuk konservasi dan lebih khusus lagi berjumpa dengan pemerhati primata dari berbagai negara menjadi ajang saling bertukar informasi dan membangun jaringan untuk pelestarian keanekargaman hayati. Saling menguatkan bahwa kita mempunyai keanekaragaman hayati yang menjadi identitas kita di komunitas global.

Meskipun kami terlambat 2 hari di acara ini, baru datang dan mempresentasikan kegiatan kami di hari ke-tiga, masih banyak presentasi-presentasi yang menarik untuk di ikuti. Beberapa presentasi yang sempat  kami ikuti mulai hari ke 3, di antaranya : presentasi dari salah satu keynote speaker berjudul “ Supermarkets – Superhigways : The wildlife trade in Southeast Asia, oleh Kanitha Krishnasamy (TRAFFIC), dan sungguh kalau melihat langsung presentasi ini betapa satwaliar bisa dibilang adalah komoditas yang nilai ekonominya sangat tinggi, dan ini melalui pasar illegal global. Perdagangan satwaliar inilah, yang menghilangkan populasi di alam, melalui jaringan kriminal global, asia tenggara, sebagai pusat keanekargaman hayati tropis, ternyata juga menjadi jalur perdangangan utama, tempat transit, transaksi dan konsumen dari perdagangan satwaliar di asia sendiri, bahkan dunia.Beruntung sekali menemukan rekaman presentasi ini di youtube, simak disini :



Ada presentasi lain, tentang prediksi kepunahan beberapa species mamalia di sunda land, terkait dengan teori island biogeography dan pengaruh manusia, di presentasi ini menyebutkan Owa dari Mentawai (Hylobates klossii) yang di prediksi mengalami kepunahan di massa mendatang. Presentasi-presentasi tentang community development dan pembangunan berkelanjutan juga menjadi topik khusus juga dan sepertinya juga di beberapa tahun kedepan akan mejadi tema besar dan terus berkembang, melihat banyaknya presentasi di bidang ini, 3 hari terakhir symposium.

Simposium khusus tentang penelitian dan konservasi jenis-jenis Owa di hari terakhir, kami melakukan live tweet di acara ini, baca thread nya disini :


informasi lebih lanjut baca di http://atbc2018.org/

Monday, July 9, 2018

Pelatihan Jurnalistik : Melatih kemampuan menyampaikan berita konservasi


Ketika mendapat email berisi undangan tentang pelatihan Jurnalistik dari Borneo Nature Foundation (BNF) merasa sangat beruntung sekali, karena inilah dari beberapa skill khusus yang di saat ini sangat di butuhkan di dalam sebuah tim konservasi, dan sudah lama menantikan pelatihan semacam ini terkait dengan konservasi atau pelestarian alam. Jurnalism, kalau di terjemahkan kedalam bahasa Indonesia Jurnalistik berarti kewartawanan, berasal dari suku kata warta, atau berita. Wartawan atau journalist  orang yang menyampaikan berita, berdasarkan KKBI online wartawan/ juru warta : orang yang pekerjaanya mencari dan menyusun berita untuk dibuat dalam surat kabar, majalah radio televesi,  atau media massa lainya video documenter, juga melalui internet, dan media sosial .
Mas Een dari Infis, peran video dokumenter penting bagi konservasi

Tanggal 23-26 Juni, bertempat di kota habitat  7 jenis primata Kalimantan, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, menjadi motivasi tersendiri untuk memenuhi undangan pelatihan ini, melihat langsung primata di habitat aslinya. Orangutan, owa, lutung merah, adalah beberapa primata Kalimantan yang masuk dalam daftar harus dilihat kalau ke Kalimantan. Selain itu motivasi untuk ikut bergabung dengan acara ini adalah untuk mengasah ketrampilan menyuarakan mereka yang “tidak bisa bersuara”, menyuarakan pelestarian hidupan liar dan keberlanjutan lingkungan sekitar kita.
Tira dan Sue memandu acara pelatihan 

Ada 2 jurnalist internasional yang di undang memandu acara ini yaitu,  Tira Subbart dan Sue Phillips, keduanya adalah journalist pemenang berbagai penghargaan internasional yang kini selain bekerja sebagai jurnalist, kedua sahabat ini juga  beraktifitas untuk konservasi Badak di Afrika. Tira Subbart bisa di baca profilnya disini http://www.tirashubart.com/index.html, dan Sue Philiphs adalah Network Director Aljazeera baca disini : https://www.independent.co.uk/news/media/my-life-in-media-sue-phillips-837999.html.

Hari pertama pelatihan Tira dan Sue , menekankan bahwa informasi tentang konservasi ini harus dengan mudah di sampaikan kepada audience, oleh karena itu target audience juga perlu pertimbangan, pemilihan bahasa untuk komunikasi. Misalnya bahasa untuk warga sekitar hutan, tentu sangat berbeda dengan menulis berita untuk para pembuat kebijakan, untuk publik, juga untuk target donor atau pihak-pihak yang telah mendukung program konservasi yang sedang kita jalankan.
Sue philiphs, menekankan pentingnya International audience, karena biasanya public  international lebih tertarik dengan berita-berita tentang hidupan liar dan konservasi. Contohnya tentang berita kematian Badak putih beberapa waktu lalu, menjadi headline hampir semua media mainstream. Sue juga menekankan kita sebagai feeder  untuk para jurnalist, karena kita punya keterbatasan menulis dan bahasa yang kadang terlalu akademis. Cotohnya kita memberikan informasi kepada jurnalist dan jurnalist akan menulis dan menyebarkan ke seluruh dunia melalui jaringan penyiarannya.

Budaya jurnalisme di Indonesia mungkin juga ada bedanya dengan jurnalisme di beberapa negara maju, hal ini juga menjadi topik diskusi bersama bahwa kondisi di daerah, dimana merupakan habitat asli keanekaragaman hayati belum mempunyai porsi yang cukup, di koran misalnya berita lingkungan ini sangat sedikit sekali di tampilkan. Dan juga seringkali untuk di banyak daerah di Indonesia untuk menampilkan berita juga harus mengeluarkan biaya tidak sedikit, untuk sebuah event yang dimuat di harian surat kabar. Kadang meskipun sudah ada biaya untuk mengundang jurnalist datang beritanya juga tidak dimuat. Membangun budya jurnalisme yang sehat masih menjadi tantangan tersendiri untuk berita-berita konservasi dan keanekaraman hayati.

Teknik-teknik penyampaian informasi juga menjadi kunci dari sebuah berita, profiling sebuah isu, berita positif seperti temuan keanekargaman hayati, atau keberhasilan sebuah upaya konservasi bisa menarik perhatian publik, selain berita negatif yang menyajikan kerusakan-kerusakan dan kehilangan keanekargaman hayati. Dan pemilihan kata-kata yang sesuai mudah di pahami oleh masyarakat luas akan mempermudah menyampaian pesan-pesan konservasi. Contohnya orang dengan mudah memahami bahwa laju kerusakan hutan di Indonesia ini seluas lapangan sepak bola per bulan, daripada ukuran 1 hektar per bulan.

Sosial media juga sangat penting saat ini digunakan, oleh karena itu juga harus di gunakan secara serius, untuk menyampaikan pesan-pesan konservasi. Tira menceritakan kenapa dia lebih memilih twitter untuk bersosial media, karena twitter ada faktor human intelligent disbanding facebook atau yang lainnya yang menggunakan  algoritma.
Peserta pelatihan, sedang mendengarkan pemaparan peneliti BNF

Rahmadi Rahmad dari Mongabay Indonesia juga turut berbagi pengalaman di acara ini, menceritakan kisah-kisah peliputan sebuah kasus konservasi yang terjadi di Indonesia. Yang terbaru adalah tentang gajah Bunta yang di racun dan di ambil gadingnya, foto-foto ketika Bunta masih hidup ketika bekerja digunakan untuk mengusir serangan gajah-gajah liar di tampilkan dan sangat sadis ketika gajah ini mati di racun dengan rahang mengaga lebar di potong gadingnya  (baca disini : https://www.mongabay.co.id/2018/06/10/tangkap-pembunuh-gajah-patroli-di-cru-aceh-timur/ ) Mas Rahmadi Rahamad, menjelaskan bahwa untuk berita-berita itu tidak perlu menunggu moment, tapi harus bisa menciptakan moment.

Een Erawan Putra, dari INFIS (Indonesian Nature Film Society) memberikan cerita di acara ini dengan pengalaman-pengalama memvisualisasikan informasi lingkungan dan dampaknyat terhadap pengambil kebijakan. Salah satunya adalah tentang tambang batu sinabar sebagai penghasil merkuri atau air raksa di Banten dan Maluku, dari liputan ini data-data penelitian pendukung sangat penting, dan ternyata saat ini Indonesia adalah penghasil merkuri terbesar di dunia, melebihi jumlah produksi merkuri yang pernah membuat penduduk di teluk Minamata, Jepang yang menderita cacat syaraf seumur hidup( baca :Minamata desease) . Visualisasi berita yang berdasarkan data-data ilmiah dan disajikan dalam grafis yang menarik akan membantu mengkomunikasikan isu penting di tingkat pengambil kebijakan. lihat di sini tentang liputan-liputan INFIS .

Fieldtrip dalam rangkaian pelatihan ini berkunjung  ke lokasi penelitian BNF di areal  rehabilitasi lahan gambut yang sejak tahun 90 an di Kelola melelaui proyek CIMTROP Universitas Palangkaraya. Melihat hutan gambut secara langsung , manfaat dan permasalahnnya sangat menarik di jelaskan oleh para peneliti dan staff BNF yang merupakan warga sekitar Sebagau, merekalah ujung tombak penelitian-penelitian yang dilakukan saat ini.
rel lori, yang digunakan menuju lokasi camp penelitian BNF

Kelasi (Presbytis rubicunda) teramati sedang istirahat

Di akhir acara, yang saya cari-cari akhirnya ketemu juga, Lutung Merah (Presbytis rubicunda) salah satu penghuni hutan rawa gambut Sebagau, Kelasi  nama lokal jenis monyet pemakan daun ini,  yang tersebar hampir di seluruh Kalimantan. Warna bulu yang coklat kemerahan dan wajahnya sangat khas berwana agak kebiruan  ada bantalan pipinya. Salah satu primata identitas Kalimantan, yang saat ini juga semakin susah di jumpai karena hutan sebagai habitat aslinya semakin hilang. Kami menjumpai kelasi ini sedang duduk tertidur di cabang di atas pohon yang tingginya kurang lebih 20 Meter. Jenis-jenis monyet pemakan daun ini mempunyai sistem pencernaan yang istimewa dengan ruang-ruang di lambung dan juga bakter fermentasi untuk mencerna daun-daun yang dicerna. Seringkali terlihat diam istirahat, namun sebenarnya monyet ini sedang bekerja untuk mencerna daun-daunan, hampir seperti sapi yang mempunyai kebiasaan diam, namun sebenarnya sedang mencerna makanannya. Hal yang menarik tentang sebagau ternyata Kelasi ini lebih dari 70 % makanannya adalah biji-bijian, dan konsumsi daun-danan ternyata di bawah dari yang di perkirakan untuk jenis-jenis monyet pemakan daun. Nah…kenapa seperti itu ya? Masih banyak yang menarik untuk dipelajari lagi…dan lagi…

Daftar pustaka :

EHLERS SMITH, D.A., Husson, S.J., EHLERS SMITH, Y.C. and Harrison, M.E., 2013. Feeding Ecology of Red Langurs in Sabangau Tropical PeatS wamp Forest, Indonesian Borneo: Extreme Granivory in a NonM asting Forest. American Journal of Primatology75(8), pp.848-859

Monday, June 25, 2018

Pengamatan primata : Kelas imajinasi untuk pemula


Menginspirasi generasi selanjutnya untuk mengenal alam dan lingkungan sekitarnya adalah penting untuk sebagai bagian upaya untuk melestarikan alam. Apa yang kita rasakan di sekitar kita 10-30 tahun yang lalu tentu sangat berbeda dengan apa yang anak-anak sekarang rasakan, terutama terkait dengan interaksi dengan lingkungannya. Gadget dan Internet lebih dekat dengan generasi sekarang, dan bermain di sungai, di sawah, mencari serangga tanah, tidak lebih menarik daripada main game atau di aktif di sosial media melihat, tokoh idola atau permainan yang sedang trending.
pengamat primata cilik dari Sokokembang


Sepertinya hal ini juga terjadi dimanapun, di kota, di kampong-kampung, desa, pinggiran kota, bahkan di desa-desa tengah hutan, meskipun dengan intensitas yang berbeda tentunya. Sebagi contoh di Sokokembang sebagai dusun di Tengah hutan hingga sejak beberapa tahun silam warga disini sangat intense berinteraksi dengan pendatang dari luar terutama yang terkait dengan hutan dan primata.  Interaksi secara fisik anak-anak dengan hutan sepertinya juga sudah mengalami perubahan, karena beberapa orangutan mereka juga berubah mata pencaharian dan apalagi orangtua baru yang mempunyai mata pencaharian yang tidak terkait langsung dengan hutan. Sepertinya juga butuh analisis yang lebih dalam tentang perubahan pola-pola interaksi ini.
 anak-anak sedang mengamati Lutung

Suatu hari anak-anak yang awal awal tahun kita berada di Sokokembang masih dalam gendongan atau baru lahir, kini anak-anak ini sudah berumur 5-8 tahun, mereka sering berkumpul di pedopo kopi Owa, sekedar main-main, dan sering juga mereka penasaran dengan apa yang kita lakukan. Mencoba camera, mencoba binokuler, dan bertanya apapun tentang apa yang mereka ingin tahu.
Kemudian kita singkatnya bersepakat dengan anak-anak ini, untuk mengajak mereka pengamatan primata, terlebih dahulu kita minta anak-anak ini untuk minta ijin orangtuanya. Hari yang di tentukan mereka datang lengkap, pakai sepatu, celana panjang, topi, bekal minum dan makanan kecil, dan tidak lupa alat tulis.

Mendampingi anak-anak pengamatan tentu sangat berbeda dengan mendampingi orang dewasa, seakan kelebihan energy, selalu muncul pertanyaan pertanyaan yang kadang tidak kita duga sama sekali. Mengamati pohon, owa, lutung, serangga secara langsung dan mendiskusikan secara sederhana dengan mereka tidak semudah menjelaskan kepada orang dewasa.


Membawa anak-anak ke alam, menjadi fenomena baru di beberapa kota besar, dan apakah ini hanya ikut-ikutan saja atau memang menjadi keresahan para penyelenggara pendidikan? 15-20 tahun mendatang anak-anak ini akan menjadi pelaku penting dalam pelestarian alam, organisasi dan pegiat konservasi di berbagai negara haibitat primata  juga melakukan strategi ini untuk anak-anak, meskipun juga banyak keterbatasan, namun pendidikan konservasi adalah pekerjaan bersama. Mendekatkan mereka kepada alam harusnya menjadi bagian dari strategi untuk melestarikan bumi dan isinya. Bisa kita mulai dari halaman depan rumah kita, hal kecil kehidupan yang sering kita lihat, dengar dan rasakan.


Bacaan :
Uhl, C., 1998. Conservation biology in your own front yard. Conservation Biology12(6), pp.1175-1177.

Monday, June 11, 2018

Diskusi Komunitas : Menyebarkan pesan Konservasi


Menyebarluaskan pesan konservasi dan pengalaman lapangan sering kali kita coba di kalangan yang sudah mengenal atau mempunyai latar belakang primata dan konservasi alam. Berbagai komunitas atau forum diskusi sangat beragam dan sepertinya beberapa tahun terakhir ini juga mulai marak kembali, meskipun banyak di antaranya bersifat fun , namun melalui komunitas-komunitas seperti ini pesan-pesan konservasi dapat menembus batas-batas pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan konservasi.
Seluruh peserta diskusi  (Foto :GPYID)


Kesempatan berharga bulan Ramadhan 2018, tim swaraowa bertemu dengan salah satu komunitas anak muda di Yogyakarta, yang tergabung dalam Greepeace Youth Indonesia Yogyakarta (GPYID). Awal mula pertemuan ini adalah, salah satu anggota GPYID ini pernah ikut dalam acara pelatihan metode survey primata tahun 2017 lalu. Dan inilah yang menjadi tujuan kegiatan pelatihan itu, yaitu membangun jaringan untuk pelestarian Owa jawa.
diskusi berjalan santai namun berkualitas (Foto : GPYID)

Sangat sederhana acara sore itu tanggal 3 Juni 2018, bertempat di AOA resto and  creative space,  di wilayah Seturan Yogyakarta, kurang lebih 25 peserta anak-anak muda GPYI dengan beragam latar belakang pendidikan dan pekerjaan berkumpul. Waktu 2 jam sepertinya sangat singkat, dan diskusi berkualitas, hangat berjalan dengan cerita –cerita lapangan kegiatan swaraowa yang awalnya hanya penelitian primata di jawa tengah, berkembang kearah pembangunan ekonomi berkelanjutan di tingkat site, habitat asli Owa Jawa.
Owa coffee sebagai media pembawa pesan konservasi (Foto : GPYID)

Pertanyaan kritis dan tajam juga di sampaikan peserta, mulai dari owa jawa itu sendiri, apakah beda antara monyet dan kera? Dampak wisata yang sedang berkembang di habitat Owa khusunya di Petungkriyono, hingga kebijakan pembangunan yang ramah hutan dan Owa. Produk-produk lokal berasal dari hutan dan sekitarnya merupakan potensi lokal yang tidak hanya bernilai ekonomi tinggi, namun juga secara ekologi sangat penting untuk dipertahankan, sementara keberlanjutan dan kelestarian menjadi tantangan yang harus di hadapi. Tentunya hal ini menjadi penyemangat tim swaraowa bahwa hal kecil yang bisa kita lakukan saat ini masih terus berkembang dan banyak tantang kedepan untuk menyelamatkan salah satu identitas di Pulau Jawa ini.
Ucapan terimakasih kepada GPYID atas terselenggaranya acara ini dan foto-foto berikut adalah dokumentasi dari panitia diskusi sore itu.

Salam hijau.

Saturday, April 28, 2018

Seri Diskusi Konservasi #1 : “Penelitian Owa dan Lutung Merah di Kalimantan”

Lutung merah (Foto BNF)
Belajar  dari pengalaman dan keberhasilan kegiatan penelitian dan konservasi di tempat lain, tentu menjadi hal yang sangat istimewa. Permasalahan dan strategi pelestarian di tingkat site sudah pasti akan berbeda dari lokasi yang satu ke lokasi yang lain. Diskusi konservasi, pemaparan kegiatan lapangan, dan interaksi komunikasi secara langsung dengan pelaku pegiat konservasi menjadi motivasi tersendiri untuk terus melakukan kegiatan pelestarian alam.

Hal inilah salah beberapa hal yang mendasari swaraowa mengadakan seri diskusi konservasi, kebetulan sekali bulan April ini SwaraOwa bekerjasama dengan lembaga konservasi internasional yang berada di Kalimantan Tengah –Borneo Nature Foundation (BNF), ada kegiatan pertukaran staff untuk field visit. Seri dikusi konservasi yang pertama, telah sukses dilaksanakan tanggal 27 April 2018.

Owa Kalimantan (Foto BNF)

Acara di laksanakan di Welo asri, sebuah lokasi wisata edukasi yang sedang dibangun di habitat owa jawa oleh kelompok sadar wisata (Pokdarwis) desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono.Tim BNF di wakili oleh Eka Cahyaningrum (primate scientist), supian (koordinator peneliti lutung merah) dan Azis ( koordinator peneliti owa) dengan senang hati berbagi cerita lapangan untuk peserta yang mewakili beberapa lembaga dan organisasi yang tertarik dengan kegiatan ini.

Acara ini di hadiri oleh kurang lebih 40 peserta, dari mahasiswa, kelompok pecinta alam, BKSDA dan Petugas Penyuluh Kehutanan, dan beberapa pegiat media sosial  di Kab.Pekalongan. Acara dibuka oleh ketua pokdarwis Welo Asri (M.Kuswoto) dengan memperkenalkan wilayah petungkriyono secara umum dan kemudian di sambut oleh pemaparan singkat jenis-jenis primata oleh Salmah widyastuti (swaraowa).


Mendengarkan cerita lapangan tim BNF yang sangat berbeda kondisi alamnya dengan habitat Owa di Petungkriyono, memberikan gambaran langsung bagaimana kegiatan penelitian di hutan rawa gambut dataran rendah di Sebangau.  Azis dan Supian menceritakan suka duka ketika dilapangan yang membatu peneliti-peneliti dari dalam dan luar negeri, kondisi hutan rawa yang terendam air dan ketika musim kemarau mengalami kebakaran hebat, adalah hal luar biasa yang di lakukan, untuk mengumpulkan informasi ilmiah sebagai dasar ilmu pengetahuan dan masukan untuk pengelolaan keanekargaman hayati.

Eka, Supian dan Azis dari BNF menyampaikan presentasi

Secara umum Eka memparkan bahwa kegiatan kegiatan penelitian inilah yang membentuk sebuah organisasi yang solid, program penelitian, program pelaksana, dan tim pendukung, menjadi sebuah kesatuan organisasi yang saling melengkapi untuk melestarikan keanekaragaman hayati di Sebangau.
Sesi Tanya jawab, memunculkan pertanyaan yang cukup menarik karena dari penelitian di Sebangau terdapat kelompok owa yang di anggota kelompoknya yang betinanya lebih dari satu, dan hal ini sangat jelas di ceritakan oleh tim, bagaimana mereka mengikuti perubahan yang terjadi dalam kelompok ini, owa yang di kenal sebagai binatang yang setia pasangan, ternyata kondisi di alam kadang berbeda dengan teori yang selama ini berlaku. Perilaku owa Kalimantan juga sangat jelas di ceritakan tentang perilaku bersuara yang berbeda dengan perilaku bersuara owa di petungkriyono, dimana owa jantan dan betina melakukan panggilan bersama-sama (duet call).
Suasana diskusi

Lutung merah yang di kenal dengan Bahasa Dayak dengan nama Kelasi (Presbytis rubicunda) sangat menarik di ceritakan bagaimana anggota  dalam kelompok ini menjalankan fungsi sosialnya, individu lain yang dewasa akan menjanga dan menggendong bayi lutung yang di tinggal induknya, bayi lutung merah teramati lebih berani, dan mandiri, meskipun terpisah dari induknya, berbeda dengan bayi Owa yang selalu dalam gendongan selama hampir 3 tahun.

Foto bersama dengan peserta (Foto Suprio Y)

Seri diskusi konservasi ini, di tutup oleh tim swaraowa dengan harapan kedepan dapat membangun komunikasi antar pegiat konservasi di wilayah habitat primata terancam punah, saling tukar pengalaman dan informasi juga menjadi hal yang sangat mungkin untuk membangun kolaborasi yang lebih nyata untuk konservasi primata Indonesia.

Sampai jumpa seri diskusi konservasi selanjutnya. (Salam Hijau)

Monday, April 9, 2018

Nyanyian Owa Bukit Santuai



Ditengah perkebunan sawit, Kalimantan Tengah , di antaranya masih terdapat sisa-sisa tegakan hutan alami yang masih bertahan dan kalau kita perhatikan ada nyanyian Owa di antaranya . Perjalanan tim swaraowa bulan Maret 2018 ini menuju salah satu kawasan hutan alami yang tersisa di antara bentang alam monoculture, Kelapa Sawit.

Kota tujuan yang kami tuju adalah Sampit, Kabupaten Kota Waringin Timur. Keluar dari Bandara  Sampit nampak sekali atmosfer perkebunan dan industri minyak sawit, terasa. Ratusan mungkin bisa mencapai ribuan truk pengangkut minyak hilir mudik di jalan-jalan Sampit ini. Perjalan kami kurang lebih 6 jam, dari kota sampit, Bukit Santuai adalah nama kota kecamatan, yang di wakili oleh bukit yang memang tersisa vegetasi alamnya yang terletak di antara perkebunan Sawit.

Bornean-white bearded Gibbon (Hylobates albibarbis)

Pengalaman berbeda dan menambah pengalaman lapangan terkait dengan pelestarian primata di kalimatan tengah. Yang menjadi perhatian kami adalah jenis owa, di Kalimantan, mengupdate pengetahuan dan permasalahan konservasi yang sama sekali berbedan dengan di Jawa atau di Mentawai yang telah kami kunjungi.

Menurut Cheyne, et al 2016, saat ini taxonomy jenis Owa di Kalimantan dan umumnya Borneo yang memasukkan Malaysia dan Brunai, terdapat 4 jenis Owa, yaitu Hylobates funereusHylobates MuelleriHylobates albibarbis, dan Hylobates abboti. Sebaran geografis nya di batasi sungai-sungai besar dan pegunungan di bagian tengah-utara Kalimantan.

Pengamatan singkat kami di kawasan bernilai konservasi tinggi perkebunan sawit, Agro Wana Lestari masih menjumpai kelompok Owa, bahkan beberapa di antaranya juga terdapat di kawasan riparian yang terisolasi oleh habitat Sawit.  Simak video berikut Owa dan nyanyiannya  yang kami jumpai di hutan bukit Hawuk dan Bukit Santuai.


Kunjungan singkat ke beberapa desa sekitar habitat Owa kalimantan ini, terlihat masih ada kegiatan adat yang sangat terkait dengan alam sekitar. Penganut  kaharingan , membuat tempat-tempat khusus untuk orang yang telah meninggal melalui upacara adat. Ada tiang-tiang (sapundu) bernila sakral untuk menghormati orang yang telah meninggal, berukir binatang, seperti burung, monyet, bajing,  di makam-makam orang , menunjukkan pengetahuan mereka tentang alam di sekitar mereka.
tiang-tiang bernilai sakral berukir monyet


Refferensi :

Cheyne, S.M., Gilhooly, L.J., Hamard, M.C., Höing, A., Houlihan, P.R., Loken, B., Phillips, A., Rayadin, Y., Capilla, B.R., Rowland, D. and Sastramidjaja, W.J., 2016. Population mapping of gibbons in Kalimantan, Indonesia: correlates of gibbon density and vegetation across the species’ range. Endangered Species Research30, pp.133-143.



Wednesday, March 28, 2018

Owa Jawa Hutan Sokokembang

Infografis Owa jawa hutan Sokokembang, Petungkriyono

Info grafis primata hutan Sokokembang ini dibuat berdasarkan penelitian Setiawan et. al 2012, penelitian-penelitian dasar terkait data populasi dan ancaman merupakan informasi awal yang sangat penting untuk menentukan langkah konservasi yang lebih lanjut.  dari penelitian-penelitian seperti inilah kegiatan konservasi yang sekarang dilakukan berdasarkan prioritas permasalahan dan kemungkinan keberhasilannya di pilih untuk di lakukan.

Menyampaikan hasil penelitian agar mudah di pahami masyarakat luas sepertinya masih menjadi tantantang tersendiri bagi akademisi, apalagi di gunakan sebaga rujukan pengambil kebijakan masih sangat perlu untuk di arus utamakan. sebagai contoh ,di tingkat lapangan dinamika sosial ekonomi dan perubahan penggunaan lahan tentu terus terjadi dari waktu ke waktu, dan tentu sedikit banyak mempengaruhi kondisi Owa Jawa di Sokokembang hingga saat ini.

Owa Jawa

Yang sering di tanyakan  orang mengenai Owa jawa biasanya  ada berapa populasinya? apakah banyak atau tidak? dan  ini adalah pertanyaan logis, juga  penting tapi  populasi saja sebenarnya tidak cukup untuk yang menjadi kriteria untuk sebuah kelestarian. banyak faktor lain yang mempengaruhi, apalagi dalam jangka waktu tertentu. dan sebenarnya owa jawa hanya bagian kecil dari keseluruhan pengelolaan habitat yang melampaui bentang alam dan administratif. Terlebih lagi jenis-jenis primata seperti Owa jawa telah menjadi perhatian komunitas global.

Penelitian-penelitian yang terus di perbaharui juga tentunya akan sangat membantu mendorong upaya konservasi yang menyesuaikan dengan situasi terbaru juga. Populasi Owa jawa khususnya di hutan Sokokembang, umumnya di Jawa Tengah ini memang perlu di update lagi, mudah-mudahan ini menjadi prioritas pekerjaan bersama pihak terkait untuk memperbaharui informasi ini sebagai masukan untuk pengelolaan yang berkelanjutan.

Referensi :

Setiawan, A., Nugroho, T.S., Wibisono, Y., Ikawati, V. and SUGARDJITO, J., 2012. Population density and distribution of Javan gibbon (Hylobates moloch) in Central Java, Indonesia. Biodiversitas Journal of Biological Diversity13(1).

Saturday, March 17, 2018

Uliat Bilou : Tarian Bagi Roh

Bilou , Owa endemik Mentawai

Sebuah kehormatan berada di antara warga asli Pulau Siberut yang merayakan upacara adat. Tentu saja ini pengalaman yang sangat berharga. Suku-suku Mentawai adalah yang salah satu komunitas tertua di Indonesia tercatat sejak 2000-500 tahun sebelum masehi sudah ada catatan mengenai keberadaan manusia di kepulauan yang terpisah dari daratan Sumatera itu. Banyak hal yang menarik tentang interaksi manusia-alam khususnya di Mentawai, hingga sekarang meskipun arus budaya modern tiada henti menggerus budaya asli Mentawai, namun adat istiadat masyarakat Mentawai sejak ribuan tahun silam masih dapat kita jumpai.

sikerei sedang melakukan ritual

Salah satu acara adat yang minggu ini kita ikuti adalah Punen Panunggru, upacara untuk “mendamaikan” roh-roh orang yang telah meninggal dunia. Kepercayaan terhadap roh atau jiwa dalam setiap benda masih melekat erat di masyarakat Mentawai khususnya di Siberut. Kepercayaan akan tentang roh dapat di katakan bahwa nyaris setiap tempat, setiap hewan, setiap tumbuhan, dan setiap fenomena alam memiliki kesadaran dan perasaan, dan dapat berkomunikasi dengan manusia secara langsung. Sebenarnya hubungan yang relatif kompleks, namun dapat di mengerti dan ada yang dapat membantu komunikasi antar entitas-entitas non material ini yaitu para “Sikerei”. Mereka semua dapat berkomunikasi melalui perantara tarian, nyanyian, binatang yang di kurbankan, atau upacara.
Karena berangkat dari ketertarikan terhadap primata, dalam upacara adat punen panunggru, yang telah di selenggarakan selama beberapa hari ada kalanya para sikerei ini berkomunikasi dengan para roh ini dengan tarian.

Teulaka, salah satu Sikeri yang memimpin acara punen panunggru

Salah satu tarian yang di lakukan oleh para sikerei ini adalah  tarian Bilou,  Owa Mentawai (Hylobates klossii),  ‘turuk uliat bilou’ yang menceritakan 3 individu yang sedang bergembira di hari yang cerah. Dengan iringan tetabuhan hentakan kaki sikerei juga menambah harmonisasi antara penabuh, penari dan pesan yang disampaikan. Simak video berikut ini :


Tentu saja hal seperti ini banyak mengundang ketertarikan banyak orang, dan tentunya sudah ratusan orang menulis tentang adat, budaya dan alam mentawa ini. Upaya melestarikan pengetahuan alam, memperkaya budaya dan isinya khususnya di Mentawai, menjadi tantangan tersendiri, identitas ini bisa jadi ini sebuah romantisme belaka, keunikan alam dan budaya ini hanya indah dalam laporan dan tulisan sementara itu kepunahan-kepunahan akan akan terus terjadi dalam sekala micro. Pesan-pesan yang tersirat dalam  upacara ini harusnya menjadi renungan untuk terus di sampaikan kepada generasi sekarang,bahwa sejarah alam sangatlah tergantung kepada manusia, kita bisa membuat sakit, rusak, punah alam budaya kita, namun kita juga di bekali akal, tenaga, dan kemampuan berkomunikasi yang sempurna untuk mengelola alam dengan bijaksana.

Referensi:

Reeves, G., 1999. History and ‘Mentawai’: Colonialism, Scholarship and Identity in the Rereiket, West Indonesia. The Australian journal of anthropology10(1), pp.34-55.

Whittaker, D. & Geissmann, T. 2008. Hylobates klossii. The IUCN Red List of Threatened Species 2008: e.T10547A3199263. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T10547A3199263.enDownloaded on 16 March 2018.

Monday, February 26, 2018

Kopi dan Owa : Identitas Global dari Jawa

menikmati seduhan kopi owa di Singapore zoo


Minggu ini tim swaraOwa memenuhi undangan dari organisasi konservasi di Singapura untuk berbagi pengalaman tentang kegiatan pelestarian Owa di Indonesia. Khususnya Owa jawa melalui proyek Kopi dan Konservasi Primata yang telah berjalan hingga tahun ke 8 ini masih terus berjalan dan berkembang dalam upaya melestarikan Owa dan habitatnya di wilayah Jawa Tengah.
Wildlife reserve singapore melalui singapore zoo yang mengundang kami untuk mempresentasikan kegiatan yang telah berjalan. Sejak tahun 2013 WRS telah menjadi bagian utama sebagai donor dari proyek ini.  Tidak hanya sekedar menjadi donor namun 2 tahun terakhir ini wrs melalui singapore zoo dengan tim lapangan swaraowa mencoba membangun sebuah jaringan usaha ekonomi yang berkelanjutan untuk mendorong kegiatan konservasi Owa Jawa. Sekema kopi ramah owa yang telah di inisiasi telah berhasil membawa produk kopi dari habitat Owa ke pasar yang lebih luas di Singapura.
papan informasi tentang Kopi Owa di Singapore zoo

Presentasi juga berjalan lancar, kurang lebih hampir 50 orang staff dari  zoo hadir dalam acara ini. Dan berlanjut ke kunjungan lapangan untuk melihat langsung bagaimana kopi owa di proses di singapura dan di sajikan untuk para pengunjung yang berkunjung.
Salah satu sudut di pintu masuk  zoo kini telah menjual kopi owa dalam bentuk kemasan dan seduhan, dan untuk di ketahui kopi yang di proses disini di buat blend atau campuran antara robusta dan arabica.
Foto bersama dengan panitia dan pembicara

Yang utama dari acara kunjugan swaraowa di Singapura adalah memenuhi undangan Jane Goodall Institute, dalam acara  berjudul "Wonderful Indonesian Primates".  Lembaga yang di dirikan oleh salah satu perempuan pioneer primatologist, Dr. Jane Goodall. Salah satu tokoh dan ahli primata dunia yang hingga saat ini sangat aktif tidak hanyak untuk penelitian dan mendorong upaya pelestarian primata, meskipun awalnya di Afrika namun semangatnya kini telah menyebar menginspirasi ke berbagai penjuru habitat asli primata-primata dunia. Khusus di Asia Jane Goodall  Institute Singapore menjadi tuan rumah untuk menyebarluaskan pesan konservasi primata di wilayah Asia dengan keragaman priamata yang sangat tinggi . Acara semacam kuliah umum ini di adakan setiap 3 bulan sekali untuk mengenalkan kepada publik primata-primata di Asia dan upaya pelestariannya. Untuk acara ini di adakan di Singapore Botanic Garden, salah satu kebun botani yang yang di dirikan sejak tahun 1800an di Asia Tenggara.
Presentasi Dr.Leif tentang Orangutan

Kesempatan ini menjadi sangat istimewa bagi swaraowa, bertemu dengan ahli-ahli primata lain dan juga berinteraksi langsung dengan komunitas global. Tidak hanya mengenalkan owa namun juga nilai konservasi lainnya yang saling melengkapi. Dalam acara ini karena swaraowa juga ada kegiatan di Kepulauan Mentawai, kita juga menceritakan pengalaman lapangan dari habitat Bilou owa endemik Mentawai untuk peserta yang hadir. 2 pembicara yang lain yang hadir adalah dari Proyek Orangutan dan Proyek konservasi Kukang. membuktikan bahwa primata Indonesia sudah menjadi bagian penting dari upaya konservasi global. tidak hanya penelitian namun juga membangun komunitas di habitat asli tentu sebuah upaya yang tidak mudah dan penuh tantangan.
acara di luar ruangan untuk anak-anak

Salah satu hal yang patut kita renungkan selama mengikuti acara ini adalah pelestarian primata dan habitatnya ini sudah menjadi concern masyarakat global,  penelitian yang lebih bersifat terapan di lapangan sangat  membantu mencegah kepunahan dan memperkuat nilai-nilai penting dari primata dan habitat asli. Komunikasi dan kerjasama pihak pihak terkait memberi kesempatan kita untuk saling menguatkan peran kita dalam mengelola alam ini lebih baik. Sementara upaya berkelanjutan dari sisi ekonomi menjadi bagian tidak terpisahkan dari upaya konservasi itu sendiri.

Thursday, February 15, 2018

Catatan dari Lapangan : Bagaimana perilaku primata ketika hujan?

Rekrekan - Javan Surili ( Presbytis comata)

Hampir satu minggu lebih di habitat Owa jawa, hutan Sokokembang ini selalu basah, hujan setiap hari mengguyur setiap sudut belantara. Owa yang biasanyanya bersuara sejak dini hari, hari-hari ini tidak tedengar sama sekali. Matahari pun dalam hitungan menit saja bersinar, itupun tertup awan, panggilanp panggilan sinden hutan yang menunjukkan wilayah kelompok owa juga tidak terdengar.
Apa yang di lakukan owa atau primata lain di hutan ketika hari hujan? Bagaimana perilakunya? Seperti apa mereka memanfaatkan pohon ketika hari hujan?

Kemungkinan berjumpa dengan primata memang sangat kecil ketika hari hujan, dan data penelitian tentang hari hujan terkait dengan primata-primata sepertinya tidak banyak yang mengkajinya. Beberapa penelitian tentang pemanfaatan habitat primata, sebenarnya dapat diprediksi dengan sebaran resourcenya, entah itu sumber pakan , tempat berlindung, dan ruang.
Lutung ketika hujan

Kami mencoba menyusuri jalan yang biasa kami gunakan untuk monitoring primata ketika hari-hari biasa tidak hujan.Kami memilih jalur yang paling mudah, dari sisi aksesibilitas dan juga visibilitas, karena hujan dan kabut membatasi pengelihatan kita, peralatan juga di persiapkan untuk dalam kondisi hujan.


Satu kelompok Lutung (Trachyithecus auratus) akhirnya teramati dalam jalur ini, teramati 4 individu sendang berada di pohon, dan melihat mereka dalam hujan, terduduk diam, kami mengamati ada2 invidiu memang berada di cabang pohon yang tidak ada sama sekali peneduhnya, 1 individu terlihat berada di bawah naungan daun-daun , dan 1 individu terlihat berlindung di bawah tebalnya tanaman paku-pakuan (simbar). Dari 4 individu ini ter amati hampir lebih dari 30 menit, tidak melakukan aktifitas apapun, diam dan hanya sesekali berpindah posisi istirahat.  Kami mencoba menggunakan camera video untuk melihat bagaimana lebih dekat, dan sesekali rambut tebal Lutung ini di kibaskan.
Tidak jauh dari kelompok ini, teramati juga 2 individu Rekrekan ( Presbytis comata) yang meskipun hujan cukup deras kelompok ini terlihat bergerak. Namun sepertinya juga tidak melakukan akftifitas makan.

Lutung sedang berlindung ketika hujan

Pergerakan primata seringkali dapat di prediksi dengan sebaran resource nya, aktifitas harian sebenarnya dapat dengan mudah di ikuti ketika hari normal, waktu makan, waktu bergerak, istirahat , bisa di analisis pola nya. Ruang jelajah dan wilayah inti aktfitias tentu juga berubah. Anomali cuaca seperti minggu ini di habitat alam hutan sokokembang seperti minggu ini tentu juga mengubah pola normal yang biasanya primata lakukan. Hutan yang relatif utuh, sepertinya akan memberikan daya dukung yang sempurna untuk mengatasi anomali cuaca. Meskipun belum banyak yang meneliti tentang hal ini, asosiasi pohon dengna tanaman lain, karakteristik pohon dan keragaman jenis sangat mungkin mempengaruhi keberadaan primata.

Referensi :

Reyna-Hurtado, R., Teichroeb, J.A., Bonnell, T.R., Hernández-Sarabia, R.U., Vickers, S.M., Serio-Silva, J.C., Sicotte, P., Chapman, C.A. and Stephens, D., 2017. Primates adjust movement strategies due to changing food availability. Behavioral Ecology.


Mitani, M., 1989. Cercocebus torquatus: adaptive feeding and ranging behaviors related to seasonal fluctuations of food resources in the tropical rain forest of south-western Cameroon. Primates30(3), pp.307-323.