Tuesday, September 25, 2018

Konservasi Owa di Perkebunan Kelapa Sawit, Mungkinkah?

Hylobates albibarbis, Owa di  Kalimantan Tengah

Mengawali bulan September 2018, SwaraOwa mendapatkan kesempatan untuk belajar, bertualang dan berbagi kisah seputar owa dan primata lainnya. Kegiatan kali ini terbilang istimewa. Jika biasanya SwaraOwa berkegiatan bersama rekan-rekan mahasiswa, peneliti, atau pegiat lingkungan lainnya, kali ini SwaraOwa berkumpul bersama perwakilan dari berbagai perusahaan perkebunan kelapa sawit. Kok bisa? Bukankah perkebunan kelapa sawit merupakan tersangka utama dalam deforestasi hutan di Indonesia? Bukankan gara-gara perkebunan sawit ini juga keberadaan berbagai kehidupan liar turut terancam? Belum lagi berbagai permasalah sosial yang timbul karenanya.


Tulisan ini tidak akan membahas berbagai pro-kontra terkait perkebunan kelapa sawit, namun lebih pada salah satu upaya yang dilakukan pengelola perkebunan kelapa sawit untuk menuju perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan. Apa yang dimaksud dengan minyak sawit berkelanjutan? Silahkan langsung cek prinsip dan kriteria minyak sawit berkelanjutan di website RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) atau ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) yang kemudian dikenal dengan Sistem Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia.
 
Materi kelas, teori dan analisis data hasil survey 
Pada tanggal 4-6 September 2018, SwaraOwa bekerjasama dengan Goodhope Asia Holding mengadakan pelatihan Program Konservasi Primata di Areal HCV (High Conservation Value) atau NKT (Nilai Konservasi Tinggi) Perkebunan Kelapa Sawit. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai nilai penting primata dan upaya konservasinya, serta pengenalan metode survey primata dengan metode vocal count/ fixed point count-triangulation. Peserta pelatihan merupakan perwakilan dari perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Tengah yakni Wilmar, KMA (KLK Group), Minamas Plantation,  Sawit Nabati Agro di Ketapang (IOI Group), serta Goodhope Asia Holdings yang bertindak sebagai tuan rumah. Narasumber dalam pelatihan ini adalah perwakilan dari RSPO, PT. SMART, tokoh adat Desa Tumbang Penyahuan, serta 3 orang dari SwaraOwa.
Aolia (swaraowa) memberikan pengantar tentang jenis primata di Kalimatan Tengah

Hari pertama pelatihan berpusat di training centre PT AICK. Acara dibuka dengan sambutan sekaligus pembukaan oleh General Manager PT AICK, yang dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh perwakilan dari RSPO, Bapak Djaka Riksanto. Beberapa point penting dalam materi dan diskusi pada sesi ini adalah prinsip dan kriteria sustainable palm oil yang terkait dengan konservasi primata, serta pentingnya pedoman pengelolaan dan pemantauan HCV yang hingga saat ini belum final. Berikutnya, perwakilan dari PT. SMART berbagi pengalaman mengenai praktik pengelolaan KBKT (Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi) dengan optimalisasi jasa lingkungan serta monitoring keanekaragaman hayati. Diskusipun berkembang, mencakup pengalaman restorasi/rehabilitasi riparian, potensi konflik dengan masyarakat berikut upaya pengelolaannya, serta kesulitan para pengelola perusahaan ketika harus menjelaskan payung hukum HCV kepada masyarakat.
Presentasi berikutnya disampaikan oleh Bapak Dante, tokoh adat dari Desa Penyahuan, yang menceritakan tentang inisiatif konservasi Bukit Santuai sebagai kawasan konservasi berbasis Adat dan Spiritual. Bukit Santuai merupakan salah satu areal HCV PT AWL. Bagi masyarakat setempat, Bukit Santuai dianggap keramat dan memiliki kisah tersendiri terait dengan nenek moyang mereka. Selain itu, untuk keperluan ritual adat, masyarakat memerlukan beberapa jenis tumbuhan yang tumbuh di Bukit Santuai ini.

Praktek lapangan di HCV Bukit Santuai

Selepas makan siang, giliran SwaraOwa menyampaikan kisahnya tentang program konservasi primata berbasis masyarakat di Petungkriyono, Pekalongan dan di kep.Mentawai. Antusiasme peserta sangat terlihat pada saat sesi diskusi. Mereka berharap program yang sejenis bisa dilakukan di site mereka masing-masing, dengan pendekatan yang disesuaikan dengan potensi dan karakter daerah masing-masing. Sebelum lanjut ke pengenalan metode survey primata, Aolia membawakan materi tentang jenis-jenis primata di Kalimantang Tengah lengkap beserta ciri dan status konservasinya. Materi mengenai metode survey primata menjadi penutup materi ruang, dilanjutkan dengan briefing dan pembagian kelompok praktik, yakni menjadi 3 kelompok.
Lokasi praktek HCV Bukit Santuai

Hari kedua pelatihan berpusat di PT AWL, dengan agenda utama praktik lapangan metode vocal count untuk mengestimasi densitas owa-owa atau klempiau (Hylobates allbibarbis) di Bukit Santuai. Pagi hari menjelang subuh, suara owa-owa membangunkan kami. Tepat pukul 05.00 seluruh tim sudah siap berkumpul untuk selanjutnya bergerak menuju Pos Keramat. Setiap kelompok segera menuju listening post (LPS) masing-masing. Pukul 06.00 setiap kelompok telah tiba di LPS, langsung disambut great call owa-owa yang sahut-menyahut antar kelompok. Masing-masing tim segera bejibaku untuk pengambilan data, hingga pukul 07.30, kemudian dilanjutkan praktik analisis data untuk mendapatkan estimasi densitas owa-owa. Triangulasi untuk memperkirakan distribusi kelompok owa yang terdeteksi, dilakukan bersama-sama di guest house PT AWL. Menjelang sore, rombongan kembali ke training centre PT AICK untuk persiapan presentasi kelompok esok harinya.
foto bersama peserta dan pembicara

Di hari terakhir pelatihan, masing-masing kelompok diberikan waktu untuk presentasi hasil “penelitian” mereka, mencakup estimasi densitas serta hal-hal menarik dan kendala yang ditemui selama praktik. Tanya jawab berlangsung sangat seru, termasuk munculnya pertanyaan-pertanyaan “nyeleneh” namun berarti seperti, “jika great call merupakan komunikasi antar kelompok, apakah dari suara yang terdengar, bisa diketahui adanya betina yang berpasangan atau belum? 

Tiga hari pelatihan yang penuh keakraban disertai diskusi dan sharing pengalaman akhirnya berakhir. Tiga hari pelatihan yang membuat peserta mahir menirukan great call owa-owa. Tiga hari pelatihan yang diharapkan dapat menjadi inisiasi untuk program konservasi primata di areal HCV perkebunan kelapa sawit. Perkebunan sawit, kebutuhan akan minyak nabati adalah kenyataan dan kerusakan hutan telah terjadi, mepertahankan populasi yang ada yang tersisa saat ini adalah upaya yang harus terus di arusutamakan.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
di tulis oleh : Kasih Putri Handayani , email : kasihputri288@gmail.com

Saturday, September 15, 2018

Kalipaingan : Cerita Hutan dari Pekalongan


Pada minggu pertama ini survey dilakukan di hutan-hutan terfragmentasi di sekitar Obyek Wisata Linggoasri dan Kali Paingan, Pekalongan. Pengamatan dilakukan di area hutan lindung. Hutan di sini juga mengalami masa sangat suram, yaitu masa illegal logging yang parah, kurang lebih 2 dekade lalu. Beredar istilah plesetan kala itu di masyarakat tentang hutan negara. Dalam bahasa Jawa istilah “hutan negara” menjadi ‘alas negoro”. Kemudian diplesetkan menjadi negor’o (silahkan me-negor), negor = nebang. Jadi artinya silahkan menebang hutan…heheheh. Istilah ini menjadi guyonan bagi kami sambil berjalan menyusuri area survey. Tapi hal itu saat ini hanya guyonan, beberapa warga telah sadar dan bertekad untuk ikut membantu dalam usaha pelestarian hutan dan Owa Jawa.
Lutung Jawa

Dalam waktu seminggu kami melakukan pra survey ini, tiada hari dalam survey kami tidak bertemu dengan primata endemik Jawa. Mereka adalah Lutung Jawa (Trachypithecus auratus), Rekrekan (Presbytis comata), dan Owa Jawa (Hylobates moloch). Intensitas pertemuan dengan Lutung Jawa paling tinggi diantara 2 primata lainnya. Suara “Kekok” yang menggema dari Lutung Jawa seakan menyambut kedatangan kami saat hari pertama ke lapangan. Kemudian disusul dengan suara rekrekan “krekkk…krkkk…krekkkk” dan pada akhirnya nyanyian Owa Jawa yang sangat merdu pun juga terdengar.  Suara burung di area ini juga kadang terdengar cukup ramai di pagi hari. Beberapa kali kami bertemu dengan Kadalan birah (Rhamphococcyx curvirostris), Takur Tohtor (Megalaima armillaris), Cekakak Batu (Lacedo pulchella), dll. Burung elang juga kerap kali melintas di atas kami. Bahkan suara hempasan sayap Julang juga sempat mengegetkan kami dan kelompok Owa yang sedang memakan buah benda. Hal yang kurang pada survey kali ini yaitu kami tidak bertemu sama sekali dengan monyet ekor Panjang (Macaca fascicularis). Menurut Pak Waluyo dan Kang Sidik, teman kami, monyet ekor panjang banyak terdapat di kebun karet di pinggir jalan raya.
Rekrekan 
Kadalan Birah 

Diantara hutan terfragmentasi ini juga terdapat sawah masyarakat setempat. Saat ini sebagian besar sawah tidak dikelola karena musim kemarau. Saat musim kemarau air sungai tidak mampu mencukupi kebutuhan masyarakat untuk menanam padi.
Walaupun kami belum pernah menemukan tanda-tanda keberadaannya, kukang Jawa (Nicticebus javanicus) juga diperkirakan ada di area hutan ini. Untuk kukang, masyarakat mempunyai anggapan mistis tersendiri. Kukang dianggap sebagai satwa yang bisa membawa ketidakberuntungan, apalagi jika sampai membunuhnya. Menurut beberapa orang tua di sini, kukang juga bisa digunakan sebagai alat tenung untuk memisahkan suatu rumah tangga dan untuk membuat orang jatuh cinta , layaknya jaran goyang atau semar mesem.
Hutan habitat primata disekitar Linggoasri

Sempat saya bertanya ke beberapa orang mengenai kondisi owa saat ini dibanding dahulu. Seorang Ibu yang mengatakan, sebelumnya tidak mengetahui tentang Owa jawa. Mereka mengetahui bahwa di hutan ada Owa Jawa setelah adanya penelitian di desanya. Ternyata peran peneliti cukup penting untuk penyadartahuan masyarakat tentang keberadaan satwa penting di sekitarnya dalam upaya konservasi satwa terancam punah ini.
Cekakak Batu
Biji Kopi Kotoran Musang/Luwak 

Keberadaan satwa primata, burung, dan satwa lainnya sangat penting dalam ekosistem hutan. Keberadaan primata dan burung juga membuat keindahan tersendiri bagi hutan. Hutan yang sepi tanpa nyanyian satwa menjadikan hutan tersebut kurang menarik dan serasi. Beruntunglah hutan-hutan di area ini masih cukup ramai dengan suara satwa liarnya. Jejak kotoran yang diperkirakan adalah feses keluarga kucing dan juga feses luwak juga masih bisa dijumpai. Semoga hutan-hutan di kawasan Linggoasri ini terus lestari. Dan untuk kalian, primata dan burung-burung penghuni hutan, teruslah bertahan kawan, rimbunkan dan indahkan hutan dengan kehadiran dan nyanyian kalian!!!

--------------------------------------------------------------------------------------------------------
ditulis OLeh : Ika Yuni Agustin, Pegiat Konservasi Primata, dari Malang, Jawa Timur; e-mail : ikayuni.agustin@gmail.com

Wednesday, September 12, 2018

Kopi untuk Konservasi Primata : Seduhan dari Afrika

Mempromosikan konservasi melalui produk konsumsi berkelanjutan menjadi bagian kegiatan swaraowa dalam kongres primata ke-27 di Kenya. Sudah ke 3 kalinya sejak pertemuan di Vietnam tahun 2014, kami selalu membawa produk-produk yang di hasilkan dari kegiatan konservasi primata di Jawa Tengah. Melalui proyek kopi dan Konservasi primata, tentu saja sangat bangga mengenalkan Owa jawa di komunitas global.
Kopi Owa hadir di IPS Nairobi, Kenya
Acara ritual untuk penggalangan dana konservasi untuk primata-primata di dunia selalu di gelar di sela-sela congres, yaitu melalui IPS silent auction, peserta kongress jauh-jauh hari sebelum kongress di mulai di sarankan membawa barang/souvenir untuk di donasikan dalam acara lelang.

Kopi Owa tentu saja turut ambil bagian dalam acara ini, kopi yang diproduksi  di habitat owa, dusun Sokokembang dan juga yang di buat oleh tim swaraowa, t-shirt dan tote bag turut meramaikan acara ini. Selama 5 hari barang-barang ini akan di pamerkan dan penawaran terbuka di mulai sejak hari pertama, dengan nilai minimal, peserta yang ingin mendapatkan barang tersebut, menulis harga yang di tawarkan, karenan ini merupakan lelang, jadi siapapun yang sangat ingin memperoleh akan menawar dengan harga yang lebih tinggi dari orang sebelumnya.  Di hari terakhir kopi owa yan di mulai harga 5 $US di tutup dengan harga 11 $US.
Menjadi bagian dari Lelang untuk konservasi, Kopi Owa

Penawaran harga, di hari terakhir lelang

Tentang kopi untuk konservasi, ternyata ada juga di Afrika yang mempunyai kesaamaan ide untuk mengembangkan kopi untuk konservasi primata, yaitu Gorila Konservasi Kopi. Kopi ini juga di inspirasi dari konservasi Gorila di Uganda, kami sangat beruntung bertemu dengan project leadernya, dan berbagi pengalaman tentang kopi di Afrika khususnya untuk konservasi Gorila.
Kopi Arabica, di Kenya

Kebun Kopi disekitar kantor PBB Nairobi
Kopi Owa dan  Kopi Konservasi Gorilla dari Uganda

Demikian liputan kongres (liputan 1; liputan 2), primata ke-27, acara dua tahun mendatang akan di adakan di Equador, Amerika Selatan. Kami mengucapan terimkasih kepada Wildlife Reserve Singapore, Ostrava zoo, Fortwayne Children'z Zoo yang mendukung melalui Proyek Kopi dan Konservasi primata 2018, dan IUCN gibbonSpecialist group yang mendukung kegiatan konservasi Owa di Mentawai, sehingga kami bisa hadir menjadi wakil dari primata Indonesia, dan mempresentasikan di acara di Nairobi Kenya.

Sunday, September 9, 2018

Penghuni Wana Wisata Kali Paingan : Lutung Jawa

Lutung jawa (Trachypithecus auratus) merupakan salah satu primata endemik yang dimiliki Indonesia. Primata ini adalah salah satu dari 40 jenis primata yang dapat ditemukan di Indonesia. Lutung jawa dapat ditemukan di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Lombok. Namun, sebagai salah satu satwa eksotis yang dimiliki negeri kita, kondisi lutung jawa berada pada titik rawan untuk menuju kepunahan. Dalam IUCN red list status konservasi lutung jawa berada pada tingkat “vulnerable” yang artinya lutung jawa memiliki kondisi rentan terhadapat kepunahan di habitatnya.

Lutung Jawa, Kali paingan, Linggo Asri.

Salah satu tempat kita dapat menemukan lutung jawa adalah di hutan yang berada di kawasan Wana Wisata Kalipaingan. Wana Wisata Kalipaingan sendiri berada di Kabupaten Pekalongan, Kecamatan Kajen, Desa Linggoasri. Untuk menemukan lutung jawa di lokasi ini cukup mudah, Biasanya pada pagi atau sore hari di sekitar resort wisata dapat dijumpai satu kelompok lutung yang bermain dan mencari makan di pepohonan di sekitar resort wisata. Dengan perjumpaan yang mudah apakah kondisi lutung jawa di Wana Wisata Kalipaingan berada dalam kondisi yang aman ?. Pertanyaan ini yang pertama kali muncul saat melihat lutung jawa begitu mudah ditemukan di kawasan wisata ini, mengingat kondisi lutung jawa sendiri yang semakin hari semakin terancam keberadaanya di alam.

Dalam 3 kali survei yang dilakuakan di dua jalur hutan sekitar Wana Wisata Kalipaingan ditemukan beberapa kelompok lutung jawa. Intensitas pertemuan dengan lutung termasuk cukup sering. Dalam jalur pengamtan dengan panjang 4 km dapat ditemukan 7 kelompok lutung jawa dengan pengulangan pengambilan data sebanyak 3 kali. Jumlah individu yang dapat teramati adalah 26.

(feeding time, lutung jawa sedang makan)

Meskipun intesitas pertemuan dengan lutung jawa di lokasi ini cukup sering, terdapat kerawanan terhadap kondisi habiatat lutung jawa di sekitar Wana Wisata Kalipaingan. Dalam survei yang dilakukan terhadap habitat lutung jawa terdapat perubahan fungsi hutan menjadi ladang perkebunan yang menyebabkan deforestasi dan fragmentasi. Hutan sekitar Wana Wisata Kalipaingan berada dekat dengan pemukiman masyarakat sehingga ada beberapa wilayah hutan yang dijadikan sebagai ladang atau kebun dengan cara membuka ladang baru di hutan. Perubahan fungsi ini membuat kondisi lutung jawa tidak aman. Faktor deforestasi hutan menjadi faktor selain perburuan yang dapat menurunkan populasi lutung jawa.

Meskipun perjumpaan lutung jawa di Wana Wisata Kalipaingan cukup sering namun, kondisi habitat lutung jawa di lokasi ini cukup mengkhawatirkan. Apabila tidak ada solusi terhadap perubahan tata fungsi hutan menjadi area ladang dan perkebunan hal ini dapat menurunkan populasi lutung jawa di sekitar Wana Wisata Kalipaingan. Sehingga perlu kerjasama antara pemerintah, masyarakat dan pemerhati primata agar kondisi habitat dan populasi lutung jawa bisa tetap dijaga.
Survey, ini merupakan bagian dari Kegiatan penelitian, dalam menempuh skripsi,di fakultas Biologi Universitas Diponegoro, Semarang yang bekerjasama dengan program “Kopi dan Konservasi Primata 2018-SwaraOwa, didukung oleh Fortwayne Children’s Zoo, Ostrava Zoo, dan Wildlife Reserve Singapore.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
ditulis Oleh : Arif Kurniawan, email :  kurniawanarif160@gmail.com
mahasiswa Fakultas Biologi, Universitas Diponegoro Semarang.

Thursday, September 6, 2018

Kenya : Catatan Perjalanan Owa

Hari pertama sebelum kongres primata dunia ke-27 di kantor PBB, Nairobi dimulai, menjadi kesempatan untuk mengetahui Kenya, khususnya Nairobi, yang terkenal dengan wildlife based tourism-nya,  wisata satwaliar, safari adalah salah satu pendapatan terbesar di Kenya, menurut laporan World Tourism and Travel Kenya, tahun 2016, sektor wisata di Kenya ini memicu banyak rantai ekonomi yang lain, seperti penginapan, makanan, dan transportasi, dengan menyumbang 3.7% dari total GDP Kenya.  Penyumbang devisa terbesar setelah produk produk pertanian. Bisa dikatakan inilah mungkin sebuah Wildlife industry yang sepertinya sudah dengan tata kelola yang lebih dulu berkembang dibanding dengan kita yang sebagai negara kita Indonesia  yang “mega biodiversity”.

Mata uang Kenya Shilling, dengan gambar Gajah Afrika
Kenya, di Benua Afrika bagian Timur, merupakan rumah bagi satwa-satwa iconic,terdapat 60 Taman Nasional dan cagar alam, salah satu safari terbaik di afrika, Taman Nasional Amboseli, Gunung Kilimanjaro, Masai mara yang berbatasan dengan Tanzania sangat populer dengan pemandangan migrasi besar-besaran mamalia besarnya, seperti Gajah, Wildebest, Kerbau, Badak, Jerapah , dan Zebra.

Penasaran dengan salah satu tour yang di tawarkan di Nairobi, saya mencoba mengunjungi Taman Nasional Nairobi, lokasi terdekat dan mudah di jangkau dari pusat kota, di wilayah konservasi negara ini, dapat di jangkau dengan angkutan umum kurang lebih 1 jam dari pusat kota Nairobi, saya menggunakan matatu, sebutan untuk sejenis angkot di Nairobi, ongkosnya 50 KHS sekali jalan, dimulai dari terminal yang menggunakan matatu Jurusan Langata.

Masuk ke gerbang di sambut Ranger yang bersenjata lengkap, dengan senapan mesin otomatis. Tidak heran, karena salah satu  ancaman taman nasional ini adalah para gangster penjahat satwaliar, poacher , pemburu gading gajah, cula badak, dan tentunya bushmeat (untuk daging konsumsi).
Ranger menjelaskan bahwa untuk safari harus menggunakan mobil, dan haru menyewa, kita langsung dcarikan mobil dan guide yang siap disekitar pintu masuk taman nasional, harga yang di tawarkan waktu itu kita sepakati 16000 KHS, kebetulan di bagi berdua dengan teman saya yang dari Republik Ceko, 8000 KHS, masing-masing. Biaya masuk taman Nasiona sendiri 4300 KHS. 

Buku panduan burung tersedia dalam kendaraan safari dan antrian kedaraan.
Antrian pengunjungn yang akan masuk menggunakan mobil sendiri ataupun mobil safari juga terlihat, jam siang hari seperti ini biasanya juga bukan waktu yang bagus untuk melihat satwa-satwa di padang savanna Nairobi, namun guide yang juga sekaligus driver kami menjamin akan bertemu dengan Jerapah, Kerbau liar, Antelope, Badak, Singa. Sekilas saya mengajak driver berbicara tentang satwa-satwa tersebut cukup paham dan bisa menjelaskan paling tidak jumlah perkiraan populasi Jerapah dan Singa. Terlihat juga di dashboard mobil sudah di sediakan buku panduan mamalia taman nasional Nairobi dan buku panduan burung, kamera dengan tele 300 mm, dan juga binocular.
Eland, jenis antelop terbesar di Afrika

Berkeliling menyusuri jalan berdebu di savanna Nairobi, terlihat sekali jalan-jalan ini sangat padat menandakan banyaknya kendaraan yang membawa pengunjugn bersafari. Tour-tour ini biasanya di kelola oleh agen wisata yang ada di kota, bahkan di hampir setiap penginapan di kota juga ada tawaran untuk ikut tour-tour ini.
Zebra dan Harteebest

Alcelaphus buselaphus cokii

Baru beberapa puluh meter dari pintu masuk taman nasional , pandangan pertama begitu mengagumkan  barisan Jerapah masai  (Giraffa camelopardalis tippelskirchii) sedang berbaris dengan leher setinggi pohon, dan Nampak sekali view ini dengan background kota Nairobi di belakang, bahwa taman nasional ini sangat dekat sekali dengan kota.  Kemudian rombongan Antelope Kenya (Alcelaphus buselaphus cokii), Eland  (Taurotragus oryx) yang sedang merumput.
Rumput setinggi kurang lebih 50-100 meter menjadi tempat bersembunyi dan mengintai bagi predator besar di padang ini, kami sempat melihat 3 Singa (Phantera leo melanochaita) sendang berbaring di rerumputan.

Jerapah masaai
Singa terlihat di tengah padang rumput
Warthog (Phacochoerus aethiopicus pallas)

Birding di Taman Naisonal Nairobi juga sangat menyenangkan, Burung-burung juga terlihat disekitar danau buatan yang disediakan untuk tempat minum binatang, African spoon bill (Platalea alba), Plover ( Vanellus spinosus) dan si cantik Grey Corned Crane (Balearica regulorum) dan burung Unta (Struthio camelus), jenis-jenis burung perkotaan juga sering di jumpai Maribou Stork, Gagak, dan Ibis.
Crane, salah satu burung dengan status Endangered di Kenya
African spoon bill
Jenis-jenis Vulture di Taman Nasional Nairobi
Badak putih afrika (Ceratotherium simum), kami beruntung sekali bisa menjumpai sangat dekat dengan kendaraan kami,  ada dua jenis badak disini, yaitu badak hitam dan badak putih, keduanya hampir mirip, namun dapat di bedakan dari mulutnya, badak putih mempunyai mulut yang rata, dan badak hitam agak membentuk lancip bibirnya, hal ini untuk adaptasi dengan pakannya, badak putih lebih cenderung grassing dan badak hitam makan dari daun-dan ranting muda. Sepertinya memang mereka sudah terbiasa dengan pengunjung yang bergerombol dengan kendaraan masing-masing, dan para driver ini kadang juga sangat gesit, memakirkan kendaraan di antara kendaraan yang lagi agar supaya tamu yang di bawanya dapat memotret dengan leluasa.

Badak Putih Afrika

Spot terakhir yang kami kunjungi adalah lokasi pembakaran Gading, salah satu lokasi bersejarah dimana Taman Nasional Nairobi ini pernah mengalami masa krisis dengan para pemburu gading gajah, dan tahun 1989 merupakan awal dari perang dengan para pemburu ini dengan di tangkap dan di sita barang bukti berupa gading gajah sebanyak 15 ton.!!. di perkirakan ada sekitar 3000 gajah terbunuh oleh pemburu waktu itu, untuk di ambil gadingnya. Dan tahun 2016 ternyata juga di tempat ini dibakar lebih banyak lagi 105 ton gading gajah (sekitar 8000 gajah !! Lokasi ini dijadikan monument pembakaran gading,  dan saat intu juga pemerintah Kenya menyatakan melawan dan melarang setiap perburuan gajah untuk gading. Kejahatan global dan saat ini juga masih terjadi, sungguh ancaman serius untuk gajah-gajah di afrika. Pembakaran gajah ini merupakan bentuk perang terhadap kejahatan satwaliar, dan pemerintah kenya dengan tegas bahwa gading gajah dan cula badak bukanlah komoditas komersial.



Monumen, pembakaran gading gajah (bawah), abu dari 15 ton gading yang di bakar (atas-tengah)

Primata, tidak cukup budget saya untuk melihat gorilla salah satu yang paling populer untuk primatewatching di Afrika, namun sempat melihat langsung ketika berkunjung ke Karura forest, hutan di dekat kantor UNEP, setidaknya beberapa primata afrika setidak menjadi daftar tambahan lifer saya yaitu Black and White Colobus (Colobus guereza ), Blue Monkey (Cercopithecus mitis)    and Shyke’s monkey (Cercopithecus albogularis) .
Monyet colobus
Cercopithecus albogularis
Blue monkey

Thursday, August 30, 2018

Kongress Primata Dunia ke 27 : membawa suara Owa Indonesia di Afrika




Acara 2 tahunan, Kongress Primata Dunia-International Primatological Society yang ke-27,  sebagai tuan rumah adalah GRASP-UNEP,Afrikan Wildlife Foundation, Colobus Conservation, Institute for Primate Research, yang menggunakan tempat kantor PBB UNEP, Nairobi Kenya, tanggal 19-25 Agustus 2018 . Menurut laporan panitia tercatat lebih dari 800 peserta terdaftar di kongress ini mewakili  dari 63 Negara.  

Resepsi pembukaan pada tanggal 19 Agustus 2018, sore hari dengan makan malam, dan paginya tanggal 20 Agustus di buka secara resmi oleh oleh Oleh presiden IPS Karen Strier dan GRASP-UNEP Johanes Refisch, memberikan sambutan bahwah penelitian dan konservasi primata ini di seluruh dunia telah berkontribusi untuk pembangunan di masing-masing negara habitat primata, karena banyak program-program yang terkait primata juga menjadi bagian pembangunan dari setiap negara. Di awal acara juga di umumkan bahwa berdasarkan proposal penawaran negara-negara yang akan menjadi host kongress 4 tahun selanjutnya, dan ada 2 negara yang mengajukan proposal yakni Malaysia dan China, di tahun 2022. Dan keputusannya adalah Malaysia, menjadi tuan rumah, sementara tahun 2020 ini telah di putuskan di kongress 2 tahun seblumnya yaitu di Qito, Euquador.
Pembukaan acara Kongress

Setelah acara di buka, ada 9 paralel tema symposium yang di sediakan oleh panitia, berdasarkan abstract yang masuk. Dan masing-masing symposium ini ada ketua sesinya, yang mengatur presentasi-presentasi peserta dalam alokasi waktu 15 menit, ada 8-15 presentasi yang berbeda. Presentasi-presentasi inilah kesempatan peserta saling belajar,ber interaksi  tentang topik yang disampaikan. Kesempatan diskusi dan membangun inisiasi kolaborasi juga sangat terbuka. Selain juga disediakan poster sesi, presentasi poster yang di pasang di lokasi khusus untuk peserta lebih berinteraksi dengan penyaji atau peneliti.

Fotobersama peserta symposium Owa (Foto oleh Susan Cheyne-IUCN SSA)

Swaraowa, di acara ini membawakan presentasi oral tentang kegiatan konservasi Owa di Kepulauan Mentawai. Berjudul “Calling from the wild : Mentawai Gibbon Conservation Fieldwork” (baca abstract disini ) , bergabung dalam symposium di hari kelima, Kamis,  tanggal 23 Agustus 2018 berjudul “ The State of the Gibbon : Updates on Small Ape Conservation and Research”, sebagai ketua sesinya adalah Profesor Helen Chatterjee, dari Universitas Colleage London, dan DR.Susan Cheyne ketua IUCN Gibbon Specialist Group. Perwakilan dari sebaran jenis-jenis Owa di dunia ada di symposium ini, China, India, Thailand, Indonesia, Vietnam topik juga beragam dari penelitian perilaku, genetika, ekologi, dan konservasi. Di Simposium ini menjadi media untuk meluncurkan website IUCN Gibbon Specialist Group dan mensosialisasikan acara International Gibbon Day pada tanggal 24 Oktorber 2018. (bersambung).

Saturday, August 11, 2018

Kunjungan Fortwayne Children’s Zoo ke habitat Owa Jawa

Bulan Juli 2018, swaraowa kedatangan tamu special yang sudah sejak tahun 2010 mendukung kegiatan lapangan kita untuk melestarikan primata jawa, khususnya Owa jawa. Dr. Joe Smith dan Amber dari Fortwayne Children's Zoo, mewakili Kebun binatang yang berbasis di Indiana Amerika berkunjung untuk melihat langsung habitat  Owa Jawa.

kegiatan pengamatan primata

Kegiatan kunjungan ini di awali dengan mengunjungi swaraowa di Yogyakarta, melihat rumah produksi kopi owa, beramah tamah dengan tim dan juga sedikit berbagi update tentang kegiatan yang sudah berjalan hingga saat ini. Kami mengajak 2 tamu special ini ke habitat Owa di Sokokembang dan juga berkunjung ke Desa Tlogohendro, dan Mendolo di Kecamatan Lebakbarang.

Owa jawa terekam sedang istirahat

Primatewatching menjadi tujuan utama di Sokokembang, untuk melihat langsung primata-primata Jawa yang ada di hutan sekitar dusun Sokokembang. Meskipun tidak masuk kedalam hutan, pengamatan di jalur yang biasa kita gunakan untuk monitoring, kita sangat beruntung pagi itu melihat langsung ke-4 primata Jawa, kecuali si Kukang yang memang aktif malam hari.
Dusun Mendolo, kurang lebih 1 jam perjalanan dari Sokokembang ke kecamatan Lebakbarang, dan kegiatan kita disini sudah kita inisiasi kurang lebih 2 tahun,untuk pendampingan budidaya lebah klanceng dan juga pengolahan kopi hutan. Kami sempat melakukan night walk di jalan tengah hutan yang menghubungkan desa Mendolo dan Kutorembet, dan hasilnya kami melihat kucing hutan (Prionailurus bengalensis)  yang termasuk salah satu carnivor malam dan  juga kucing di lindungi yang berhabitat di hutan-hutan dataran rendah di Jawa.
mengenalkan berbagai macam karakter cita rasa kopi 

Cupping test, menjadi penutup rangkaian kunjungan ini, bersamaan dengan kegiatan panen raya kopi tahun ini, kami mencoba mengenalkan beberapa jenis kopi dengan beberapa proses pengolahan. Kopi-kopi ini bersal dari lokas-lokasi yang merupakan habitat primata Jawa, mulai dari Gunung Papandayan di Jawa Barat, Gunung slamet, Purbalingga, Pekalongan dan di bagian paling timur kita mendapatkan kopi dari Temanggung.  Beberapa daerah ini merupakan lokasi penting untuk pelestarian primata jawa, dan melihat potensi kopi saat ini, mengolahnya sebagai produk yang bekelanjutan tanpa merusak hutan menjadi tantangan untuk waktu-waktu mendatang, mengingat potensi terus meningkatnya konsumsi kopi.


foto bersama keluarga kopi owa di Sokokembang

Friday, July 27, 2018

Owa jawa : dalam riuh derasnya Kali Paingan





Halo, perkenalkan saya Fadhil mahasiswa tingkat akhir departemen Biologi Universitas Diponegoro, Semarang, penikmat masakan ibu dan saya suka berkegiatan di alam.

Menjelang akhir tahun 2017, pergolakan dalam hati saya semakin menuju titik puncaknya, ketika teman seangkatan sebagian besar sudah memiliki konsep yang akan mereka bawa untuk tugas akhirnya. namun saya, jangankan konsep topik saja saya tidak punya, karena ilmu biologi murni itu sangat luas.

Saya baru ingat, sebelumnya saya sempat mengikuti kegiatan pelatihan dan pengamatan Owa Jawa di Petungkriyono, yang di selenggarakan oleh Swaraowa tahun lalu,  saya sadar begitu kayanya Indonesia dengan banyak spesies primata endemik yang mendiami bumi pertiwi. Kecintaan akan primata semakin bertumbuh, saya kemudian memutuskan mewujudkannya dalam topik tugas akhir yang menghantarkan saya jauh ke pedalaman hutan tropis sungai Kali Paingan, di Desa Linggo Asri, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan.
Jalur Jurang Jero, Kalipaingan

Secara topografi, sungai yang berada 2 kilometer dari objek wisata Linggo Asri ini dikelilingi oleh perbukitan hutan tropis yang lebat. Kawasan hutan lindung ini dikelola oleh Perhutani dan sebagian lainnya digarap sebagai perkebunan dan pertanian oleh warga. Aktivitas pariwisata menjadi primadona disini, LMDH Kali Paingan sebagai pengelola menyediakan beragam fasilitas wisata seperti outbond, fun rafting, river tubbing, serta jungle tracking. Selain itu fasilitas penunjang berupa mushalla, aula, makanan & minuman, perpustakaan dan toilet. Semuanya lengkap dan terangkum menempatkan sungai Kali Paingan menjadi porosnya.

Dalam penelitian ini saya berusaha untuk mengetahui berapa populasi Owa jawa yang mendiami hutan lindung kali paingan dengan menggunakan metode jalur “line transect”. Jalur yang saya gunakan berupa jalan setapak dengan 2 jalur berbeda yakni jalur kali wadas mewakili sisi timur dan jalur jurang jero yang mewakili sisi barat kali paingan. Pada bulan april lalu saya menetap dan tinggal bersama kru “Kali Paingan Adventure” selama hampir 1 bulan. Sepuluh hari bersih digunakan untuk pengamatan, masing 5 hari pada pada dua jalur berbeda.

 
Owa yang mencari makan di Pohon Benda
Pengamatan pertama jalur Kali wadas. Nama jalur ini diambil dari nama anak sungai Kali Paingan. Jarak yang harus ditempuh adalah sekitar 4 km dari pemukiman warga terdekat. Jarak yang lumayan jauh dan medan yang cukup sulit menguji ketahanan fisik saya. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal saya mensiasati untuk memulai aktivitas pengamatan lebih pagi sekitar jam 05.30 WIB. Hari pertama membuahkan hasil, setelah perjalanan dan beberapa jam penantian, akhirnya terpantau 2 individu jantan dan betina yang sedang bergelantungan pada pohon Pukuran (Ficus sinuata). Saya rasa ini merupakan pasangan muda karena sekilas perawakan tubuhnya tidak terlalu besar untuk sekelas owa jawa dewasa. Keesokan harinya saya kembali lagi, dengan kondisi hari yang masih pagi buta saya mempercepat gerak langkah agar tidak kehilangan momentum sedikitpun. Ketika hampir sampai pada pos pengamatan, tiba – tiba terdengar suara gemuruh pada pohon, saya berusaha agar tetap tenang dan mengamati kondisi sekitar, dugaan saya benar. Terdapat 2 individu dewasa dan 1 individu muda sedang melakukan akrobatik berpindah dari satu pohon menuju pohon Benda (Artocarpus elasticus (Blume)).
Habitat Owa Jawa di Kalipaingan

Pada ujung jalur ini terdapat lahan pertanian warga dan juga sebuah gubuk petani yang saya gunakan untuk beristirahat dan mengamati owa jawa dan primata lain karena lokasinya yang cukup strategis. Selain Owa jawa, beberapa primata endemik seperti rekrekan dan lutung juga dijumpai disini. Pada jalur ini vegetasi bambu (Bambusa vulgaris), beberapa pohon pakan lainnya seperti pohon Benda (Artocarpus elasticus (Blume)) dan pohon pukuran (Ficus sinuata )  adalah yang mendominasi sehingga jalur ini memang habitat yang cocok untuk primata melangsungkan hidupnya. Pengamatan tetap dilanjutkan hingga hari kelima, namun tidak ada tanda – tanda kehadiran kembali owa jawa.
Peta lokasi penelitian di Kalipaingan

Pengamatan kedua di jalur Jurang Jero. Seperti namanya, jalur ini berada diatas jurang yang terhubung dengan sungai kali paingan di bawahnya. Jarak yang ditempuh cukup singkat di banding jalur kali wadas yakni sekitar 2 km namun harus melewati jalan setapak yang menanjak. Pengamatan hari pertama saya menemukan 3 individu, 2 individu dewasa dan 1 individu muda. Kelompok ini sedang melakukan brakhiasi pada percabangan pohon buluh (Urostigma glaberrimum (Blume)). Hari kedua tidak membuahkan hasil, namun keesokan harinya, ada yang membuat saya terkagum – kagum. Saya menemukan 1 kelompok owa jawa yang lengkap, terdapat 4 individu, dua diantaranya pasangan induk dan dua lainnya adalah satu juvenile dan 1 bayi (infant) yang masing dalam gendongan induknya.

Dari keseluruhan data yang telah diperoleh, saya berhasil menemukan 4 kelompok Owa jawa  dengan ukuran beragam. Komposisi 2 pasangan induk dan 1 anak menjadi ukuran kelompok tertinggi yang dapat dijumpai pada dua jalur. Vegetasi kedua jalur sangat mendukung kehidupan owa jawa maupun primata yang lain. Pohon pakan favorit seperti pohon Benda, rumpun Bambu, pohon buluh dan pohon Pukuran tersedia pada dua jalur ini. 

bersama crew Kalipaingan

Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Swaraowa yang sudah mendukung kegiatan penelitian ini, tak lupa juga kepada seluruh kru “Kali Paingan Adventure” terutama mas Sidik yang telah mendukung dan memfasilitasi kegiatan pengamatan selama di lapangan. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan menjadi salah satu bagian dari agen konservasi owa jawa. Semoga penelitian dapat bermanfaat bagi kita semua.


Panjang umur konservasi!


Penulis :
M. Fadhil Randa Putra

randa_fadhil@yahoo.com