Monday, April 22, 2024

Bokkoi, primata endemik Mentawai mencoba selfie dengan camera trap

 oleh Arif Setiawan

Bokkoi ( Macaca siberu)

Primata mentawai dengan segala keunikannya sudah seharusnya menjadi perhatian banyak pihak, 6  jenis primate endemik hanya ada di temui di Kepulauan Mentawai, Bilou – (Hylobates klossii), Bokkoi (Macaca siberu),Siteut ( Macaca pagensis), Atapaipai ( Presbytis potenziani), Joja ( Presbytis siberu), dan Simakobu ( Simias concolor), yang terakhir ini bahkan endemic di level genus- monotypic genus.  

Status konservasi ke-6 primata ini,terancam punah semuanya bahkan simakobu sudah masuk kategori kritis, artinya apabila tidak ada internvensi  konservasi sangat mungkin primata-primata asli kepulauan Mentawai ini akan punah.

Malinggai Uma Mentawai, sebagai salah satu organisasi sosial Masyarakat telah dan sedang menginisiasi pelestarian primata Mentawai dengan melakukan monitoring rutin dengan menggunakan camera jebak.

Pemasangan camera jebak oleh tim Malinggai Uma

Sejak bulan awal tahun ini, swaraowa berkolaborasi dengan tim malinggai uma mentawai di siberut untuk memantau jenis-jenis primata Mentawai, khususnya untuk jenis yang sering turun ketanah. Bokkoi  atau beruk Mentawai meskipun hidup dalam kelompok yang relative besar namun perjumpaan langsung melalui kegiatan survey sangat rendah sekali  encounter rate-nya, karena mereka telah mengalami tekanan yang tinggi dari perburuan, sehingga ketika mendeteksi keberadaan manusia langsung secepatnya lari dan bersembunyi. Namun mereka  biasanya kadang bisa kita deteksi dari jejak-jejak sisa-sisa makanan, dan suara  dan  pergerakannya. 

Kelompok Bokkoi sedang makan di depan camera

Tim Malingai Uma Mentawai di Siberut, telah mencoba memasang camera trap untuk mendeteksi keberadaan Bokkoi, camera ini di pasang di hutan di siberut Selatan, selama dua minggu, tujuannya adalah mencoba melihat ukuran kelompok dari Bokkoi, ada berapa jumlah individu bokkoi dalam satu kelompok.

Pemasangan di bulan Maret 2024 oleh tim Malinggai menggunakan umpan yang di letakkan di depan camera trap, berupa batang sagu dan buah cempedak hutan, sebelum pemasangan lokasi terlebih dahulu di survey, dan keberadaan Bokkoi telah terdeteksi dari suara , jejak dan sisa sisa makannya yang ditinggalkan.

Kamera dipasang selama kurang lebih dua minggu, dan menggunakan mode video dan berhasil mendapatkan video 2 jenis primata yaitu Joja dan Bokkoi.

 Joja ( Presbytis siberu)


Wednesday, April 17, 2024

Sekali tanam, tak habis petik manfaat

 Oleh: Sidiq Harjanto

 

Persemaian Mendolo, membuat bibit durian


Musim kemarau tahun 2023 yang diwarnai dengan fenomena el-nino membawa dampak kekurangan air di berbagai wilayah. Tak terkecuali dirasakan pula oleh masyarakat di site kegiatan kami Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang. Di Dusun Mendolo Wetan, suplai air melalui Pamsimas untuk kebutuhan rumah tangga bahkan tidak mencukupi. Sumber air di Gunung Pawon tak lagi mampu mengairi sekira lima puluh rumah warga. Beruntungnya, ada beberapa mata air kecil di sekitar dusun yang masih mengeluarkan air.

 Masyarakat Dusun Sawahan, yang mayoritas merupakan petani durian, terpaksa berebut air untuk mengairi pohon-pohon durian usai musim pembungaan. Kalau tidak disusul dengan penyiraman, buah-buah muda bisa-bisa rontok tak bersisa. Beberapa mata-air yang muncul di alur-alur/anak sungai yang masuk ke Kali Wisnu debitnya jauh menyusut dampak kemarau panjang.

 Kali Wisnu sendiri adalah badan air yang membelah Desa Mendolo dan merupakan bagian dari Daerah Aliran Sungai (DAS) Sengkarang. Menjadi urat nadi kehidupan masyarakat, keberadaan sungai ini menunjang kebutuhan sehari-hari, menyuplai kebutuhan pertanian, dan menjadi sumber energi melalui pembangkit listrik tenaga mikrohidro.

 Kondisi kekeringan telah menebalkan tekad masyarakat Desa Mendolo untuk melakukan gerakan penanaman di area-area terbuka. Program pembibitan pohon hutan yang dikelola Paguyunan Petani Muda Mendolo menghasilkan sekira 200 bibit pucung (Pangium edule) yang mulai ditanam sejak awal tahun ini. Jenis ini dipilih karena dua alasan utama. Pertama, pucung sangat baik menjaga tata air. Kebanyakan mata air di Mendolo terlindung di antara pohon-pohon pucung berukuran raksasa.

bibit pohon Pucung, di persemaian Mendolo
 Alasan kedua, biji buah pucung bisa dimanfaatkan dan bernilai ekonomi. Dikenal sebagai buah kepayang, biji pucung mengandung racun sianida. Tentu sangat berbahaya jika dikonsumsi langsung. Namun, jika diproses dengan benar, biji pucung menjelma menjadi olahan lezat. Masyarakat menyebutnya blibar. Kalau difermentasi lebih lanjut sampai 40 hari, bisa dihasilkan kluwak, bumbu masak berwarna hitam yang khas digunakan untuk brongkos dan rawon. Di Pekalongan sendiri, ada kuliner pindang tetel yang memakai kluwak sebagai bumbu utama.

 Ciptakan koridor satwa

Dengan menanam pohon, banyak manfaat bisa dipetik. Terjaganya suplai air, misalnya. Pepohonan punya fungsi dalam melindungi tanah dari erosi dan aliran permukaan (surface runoff), serta mampu menyimpan air. Pohon dan hutan yang lestari menjadi kunci bagi ketersediaan air yang mencukupi. Tentu masih banyak manfaat lainnya dari aktivitas menanam pohon dan memelihara hutan bagi ekosistem kita.

 Menanam pohon tidak hanya mendatangkan manfaat bagi manusia. Satwa liar juga diuntungkan saat pohon-pohon di hutan masih terawat.  Pada konteks Mendolo, menanam pohon ditujukan untuk menciptakan koridor-koridor agar populasi primata dan aneka satwa lainnya tetap saling terkoneksi. Swaraowa sangat mendukung program rehabilitasi sempadan Kali Wisnu, mengingat kawasan ini juga sangat penting bagi aneka hidupan liar, seperti: jenis-jenis primata, burung, herpetofauna, ikan, dan banyak jenis serangga.

 Terinspirasi dari program jangka panjang konservasi berbasis masyarakat untuk howler monkey di Belize (https://www.howlermonkey.org/), kami memfasilitasi para petani yang lahan kelolaannya dilalui sungai maupun anak-anak sungai untuk menghijaukan kembali area sempadannya. Zona sempadan inilah, sebagaimana dimaksud di atas, nantinya berfungsi menjadi koridor-koridor yang menghubungkan populasi-populasi satwa sehingga terhindar dari ancaman penurunan kualitas gen atau hanyutan genetik (genetic drift) akibat fragmentasi atau isolasi habitat.


Kukang Jawa ( Nycticebus coucang), di habitat wanatani durian ds.Mendolo

 Lebih jauh lagi, masyarakat diharapkan menjadi bagian aktif dari gerakan konservasi primata itu sendiri. Kawasan hutan Desa Mendolo menjadi habitat bagi lima jenis primata jawa: owa jawa, lutung jawa, rekrekan/surili, monyet ekor panjang, dan kukang jawa. Dengan kekayaan jenis-jenis primata dan kesadaran serta partisipasi masyarakatnya yang terus tumbuh, desa ini potensial untuk menjadi pionir dalam gerakan konservasi primata berbasis masyarakat.

 Selain jenis-jenis primata, burung raja udang kalung biru (Alcedo euryzona) menjadi spesies prioritas lainnya. Burung ini membutuhkan habitat sungai yang ternaungi hutan alam. Fragmentasi habitat dan pengurangan tutupan vegetasi menjadi ancaman serius bagi jenis burung dengan status keterancaman kritis (CR) ini. Oleh karenanya, merawat vegetasi di sempadan sungai dan merehabilitasi area-area terbuka menjadi keniscayaan dalam upaya melestarikan si burung pemalu ini.

Raja udang Kalung Biru ( Alcedo euryzona) 

 Para peternak lebah jadi ujung tombak

Komunitas peternak lebah klanceng di Dusun Sawahan memelopori gerakan penanaman ini. Dari kurang lebih 20 orang petani yang merelakan lahannya ditanami, sebagian merupakan pembudidaya lebah klanceng (lebah nirsengat). Keseimbangan ekosistem menjadi isu penting bagi peternak lebah. Dari situlah semangat menanam muncul. Menanam pohon berarti menyediakan habitat, pakan, maupun kebutuhan vital lainnya bagi kelangsungan hidup lebah.

 Seturut dengan warga Sawahan, Kelompok Tani Hutan Podo Dadi Dusun Mendolo Wetan, yang sebagian besar anggotanya juga peternak lebah dan pemanen madu hutan juga berencana melakukan kegiatan pembibitan dan penanaman serupa. Sebelumnya, para peternak lebah di Mendolo Wetan telah mengidentifikasi lebih dari 30 jenis pohon hutan yang penting dalam mendukung usaha perlebahan yang telah mereka rintis. Beberapa jenis pohon hutan paling disukai oleh lebah, antara lain: sarangan, kayu babi, dan nagasari.

 Program budidaya lebah telah diinisiasi oleh Swaraowa pada 2017, bertujuan untuk menumbuhkan alternatif ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat yang tinggal di tepi kawasan hutan. Budidaya lebah juga digadang mampu menjadi media untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya merawat hutan. Sebagai serangga penyerbuk yang dominan, keberadaan populasi lebah sangat bernilai bagi keberlanjutan ekosistem hutan itu sendiri.