Thursday, April 2, 2020

Dukungan Ostrava Zoo dan Warga Ceko untuk Konservasi Owa Jawa


swaraowa mobile unit

Kopi dan konservai primata adalah proyek yang di inisiasi oleh SWARAOWA yang bertujuan untuk melestarikan Owa jawa melalui kegiatan ekonomi berkelanjutan di sekitar habitat Owa. Kegiatan ini dimulai tahun 2012, dengan dasar penelitian survey populasi dan distribusi Owa Jawa di Jawa Tengah. Salah satu hasil penelitian tersebut adalah mencatat populasi terbesar untuk Owa di Jawa Tengah terdapat di Hutan Petungkriyono, Pekalongan. Prioritas upaya pelestarian dengan peningkatan ekonomi warga sekitar hutan habitat Owa jawa terus di kembangkan hingga saat ini.
Pengembangan pengolahan komoditas hutan, peningkatan kapasitas kelompok-kelompok masyarakat sekitar hutan dan pemasaran menjadi kegiatan utama untuk mendorong keberlanjutan pelestarian Owa Jawa dan habitat aslinya. Sejak tahun 2012 dengan bantuan Ostrava Zoo dan beberapa donor lain sudah memberikan hasil nyata dengan munculnya usaha kopi untuk konservasi Kopi Owa di tingkat lokal hingga pasar internasional.

Tahun 2019 tepatnya bulan September, bekerjasama dengan Ostrava Zoo,  telah digelar charity run, lari untuk tujuan menggalang dana untuk konservasi Owa Jawa. Tujuan penggalangan dana ini adalah untuk mendukung tim lapangan dengan kendaraan operasional yang dapat digunakan untuk kegiatan kampanye edukasi konservasi dan pemasaran produk-produk komoditas dari habitat Owa Jawa.
Acara lari yang digelar tersebut berlangsung sukses,berhasil mengumpulkan dana CZK 200.00 liputan acara lari ini dapat dilihat disini.

Dana ini kemudian secara langsung deserahkan tim swaraowa untuk kendaraan operasional seperti yang dimaksud di awal rencana. Dalam waktu sekitar 3 bulan, kami dapat mewujudkan kendaraan tersebut, dan saat ini sudah digunakan tim  sebagai kendaraan operasional. lihat di youtube https://youtu.be/vAjHCaTEKCg


untuk mendukung kegiatan ekonomi di habitat Owa Jawa

mendukung kegiatan edukasi konservasi 


Acara simbolis penyerahaan bantuan ini dilakukan beberapawa waktu yang lalu oleh perwakilan dari Ostrava Zoo yang di wakili oleh Frantisek Pibirsky dan Bapak Jacub Cerny Deputi Duta Besar Republik Ceko  untuk Indonesia. Namun acara ini tidak bisa mengajak langsung ke lapangan karena dampak wabah COVID_19 ini juga melanda habitat Owa Jawa. Dengan kondisi yang mendadak berubah acara yang sudah direncanakan sebelumnya akhirnya di batalkan dan mudah mudahan akan ada kesempatan lain waktu yang lebih baik.
Perwakilan dari Kedutaan Rep.Ceko dan Ostrava Zoo
Ostrava zoo juga mengirimkan 2000 gelas yang dapat di gunakan untuk perlengkapan minum sehari-hari, gelas ini dapat diperoleh kalau anda berkunjung ke Kopi Owa di Sokokembang  atau belanja produk-produk SWARAOWA seharga minimal Rp 100,000.

Kopi Owa Sokokembang

Jungle bean - Owa Coffee


Atas nama tim SWARAOWA kami mengucapkan terimakasih kepada Ostrava Zoo dan warga Ceko pada umumnya yang ikut acara charity run untuk mendukung pelestarian Owa Jawa . 

" Ahoj Ostravo, dekujeme" !!

Monday, March 9, 2020

Primata dan Durian : Fauna Endemik dan Cita Rasa Asli Mentawai

Oleh A.Setiawan (A.Setiawan@swaraowa.org)

·         Pohon durian juga sangat erat kaitannya dengan budaya Mentawai, sebagai pohon  “Kirekat” dimana kalau orang yang sudah  meninggal  akan di pahatkan gambar tangan dan kakinya di batang durian yang masih hidup dan sebagai tanda, dan biasanya pohon durian dipilih yang paling baik, besar, berbuah lebat, dan tidak boleh di tebang
·         Ada 5 jenis primata yang ada hanya di kepulauan Mentawai yaitu  Joja ( Presbytis potenziani), Bokoi ( Macaca siberu), Siteut ( Macaca pagensis), Bilou ( Hylobates klossii) dan Simakobu (Simias concolor)




Kalau anda penikmat durian, sekaligus hobi jalan-jalan di alam liar, anda harus masukkan Mentawai untuk tujuan wisata minat khusus ini. Kepulauan yang terletak kurang lebih 157 km dari Padang di Samudra Hindia ini menjadi sejarah alam yang harus di pertahankan untuk kita pelajari dan wariskan ke generasi selanjutnya. Ada 5 jenis primata yang ada hanya Kep.Mentawai  yaitu, Joja ( Presbytis potenziani), Bokoi ( Macaca siberu), Siteut ( Macaca pagensis), Bilou ( Hylobates klossii) dan Simakobu (Simias concolor) 1

Ke lima jenis primata ini mengalami ancaman kepunahan yang tinggi, dimana IUCN telah mengkategorikan sebagai primata di kepulauan Mentawai dengan status Edangered, dan simakobu yang paling terancam punah dengan status Kritis ( Critically endangered), dan termasuk salah satu dari 25 primata yang paling terancam punah di dunia.

Pulau siberut adalah pulau terbesar, pulau Sipora menjadi pusat pemerintahan dan dua pulau besar yang lain adalah Pulau Pagai utara dan Pulau Pagai selatan. Kepulauan Mentawai sangat terkenal akan ombak besarnya di kalangan olahraga sport extreme, yaitu berselancar.  Untuk ke Mentawai dapat melalui pelabuhan Muara Padang, dengan kapal cepat “Mentawai fast’ dapat menepuh kurang lebih 4-6 jam. Tujuan primate watching trip ini ke pulau siberut, dengan Malinggai Uma Tradisional Mentawai sebagai salah satu organisasi adat yang aktif di Pulau Siberut yang akan mendampingi perjalanan melihat primata-primata asli Mentawai.

Tujuan utama kami selain untuk primate watching sebenarnya adalah memberikan pelatihan khusus kepada anggota Uma untuk mengenal hidupan liar, khususnya dari jenis amphibi dan reptile, juga tentang serangga dari jenis-jenis capung. Acara pelatihan ini dapat di baca di laporan berikut ini.


Lokasi primatewatching kami adalah di dusun Tololago, desa Katurai, Kecamatan Siberut Barat Daya, hutan di kawasan ini diluar kawasan Taman Nasional Siberut, namun berdasar hasil survey tim Malinggai Uma kawasan hutan ini relatif baik kondisinya dan 5 jenis primata endemik Mentawai ada hutan Tololago ini. Untuk menuju hutan Tololago dari Muara siberut, melewati kawasan hutan mangrove tua yang sepertinya paling luas di Kep.Mentawai. Melalui  terusan dari Sungai Siberut ke Teluk Katurai, yang dikenal dengan nama Bandar Monaci, yang menurut cerita  dibuat oleh pastor Vatikan yang membuat terusan ini tahun 80an, terusan yang menghubungkan Teluk Katurai dan Sungai Siberut ini menjadi nadi ekonomi, yang menhubungkan kawasan penting di Siberut barat yang banyak wisatawan surfing dan penduduk siberut di sekitar Teluk Katurai, transportasi hasil bumi, perikanan, wisatawan melalui lebih dekat lewat terusan ini, dibanding menyusuri bagian luar pulau siberut yang tentunya ombak dan ongkos bahan bakar tidak mesti bersahabat. 

Hutan di Dusun Tololago saat ini menjadi tujuan wisata minat khusus yang sedang di kembangkan oleh Malinggai Uma  dan warga sekitar untuk Pengamatan Primata Mentawai. Terletak di luar kawasan konservasi, Taman Nasional Siberut hutan di belakang dusun ini masih relatif lengkap primatanya. Sayangnya kegiatan penebangan pohon untuk kegiatan pembangunan dan pengadaan rumah rakyat terlihat saat kami datang sedang mengolah kayu-kayu besar dari hutan.

Jalur pengamatan kami melewati kebun durian yang sudah terlihat hampir siap panen, ada 3 varietas durian yang ada di Mentawai, yang pertama adalah Durio zibetinus, yang seperti durian pada umumnya, buah berduri keras dan tajam, warna daging buah putih ke kuningan.  Dua lagi dikenal dengan nama Toktuk dan Kinoso, berduri panjang dan tidak tajam. Tidak seperti daerah lain, penduduk asli Mentawai lebih suka makan durian yang belum sepenuhnya masak, dagingnya masih keras dan mengkal. Katanya yang durian terlalu masak bisa membuat demam badan.
Kirekat di pohon durian
pohon durian terpilih untuk kirekat

Melihat langsung habitat asli durian Mentawai tumbuh, dan mencicip rasanya tentu merupakan pengalaman berbeda, pohon durian ini tumbuh di hutan, yang bisa dikatakan penanda untuk lahan hutan ini dimiliki oleh suku keluarga atau suku tertentu. Pohon durian juga sangat erat kaitannya dengan leluhur asli Mentawai, sebagai pohon  “Kirekat” dimana kalau orang yang sudah  meninggal  akan di pahatkan di batang durian yang masih hidup dan sebagai tanda, dan biasanya pohon durian dipilih yang paling baik, besar,dan berbuah lebat, dan tidak boleh di tebang. Salah satu pohon penting dalam upacara adat Mentawai. Cara makan durian di Mentawai juga berbeda, biasanya orang Mentawai lebih suka yang masih keras, atau mengkal dan membelahnya juga langsung di tebas pakai parang, jadi dua, di rasain sedikit, kalau tidak enak langsung di buang.


Pengamatan hari sore hari itu, kami lanjutkan esok paginya, jam 5.30 kami sudah bersiap dan berangkat ke hutan, kami mencata suara Bilou terdengar jelas dari belakan sebelah kanan dusun tololago, berjarak kira-kira 1 km.  kira-kira 1 jam perjalan sampai di bukit di belakan hutan kami berhenti, dan sangat beruntung sekali ketika sedang istirahat ini kami berjumpa dengan Simakobu ( Simias concolor), salah satu primata paling terancam punah di dunia. Morphologi simakobu  yang khas adalah ekornya yang pendek seperti ekor beruk, meskipun termasuk monyet pemakan daun, tubuh berwarna hitam dan muka juga hitam, ada sedikit bulu-bulu warna putih di sekililng kanan kiri pipi. Rambut di kepala agak membentuk jambul di depan dengan bagian samping rambut jambang lebih panjang. Secara taxonomy simakobu jenis monotypic, 1 genus dan 1 species saja, tidak ada subjenis lainnya, namun secara evolusi kekerabatan simakobu lebih dekat dengan Bekantan (Nasalis larvatus) yang ada di Kalimantan.
Simakobu 


Simakobu diburu, dengan alasan preferensi rasa dagingnya, selain itu alasan berburu simakobu lebih mudah, karena pergerakan simakobu ini relatif lebih lambat dibanding primata lainnya yang ada dimentawai. Ukuran tubuh dewasa yang bisa mencapai 10 kg, tidak selincah Bilou yang dapat berayun cepat dari pohon ke pohon lainnya. Dari pengamatan kami sejak kami pertama kali menjumpai simakobu, 1 individu yang kami lihat tersebut hanya diam saja, tidak bergerak sedikitpun, duduk diam dan sepertinya memang hal itu perilaku simakobu ketika bertemu manusia sebagai predator utamanya. Kondisi seperti ini sangat memudahkan para pemburu untuk menembaknya dengan senapan atau panah beracun. Pohon Dipterocarpus sp, sepertinya menjadi pohon favorit untuk bersembunyi simakobu, karakter pohon besar tinggi, daun lebar, dan biasanya banyak di tumbuhin liana, ephipit dan paku-pakuan menjadi penghalang untuk simakobu terlihat, dan karena sifatnya yang tidak bergerak sama sekali, biasanya orang akan mengira kalau simakobu yang di cari sudah tidak ada di pohon tersebut, setelah menunggu beberapa lama. Meskipun agak terlalu jauh namun cukup untuk mendapatkan foto dan melihat langsung simakobu, terlihat ada beberapa gerakan lain di cabang pohon lain, namun simakobut tidak terlihat.

Tidak berapa jauh dari kami melihat simakobu, Nampak dengan jelas sekali primata hitam dan bergerak cepat berayun dari cabang pohon ke pohon lain, ya itulah Bilou yang sejak tadi pagi  terdengar bersuara. Satu terlihat dengan jelas Jantan namun sepertinya belum sepenuhnya dewasa ,terlihat dari ukuran tubuh dan akftifitasnya yang agak jauh dari kelompok intinya, aktif berayun dari sana kemari, sesekali melihat mencari arah siapa yang ada disekitarnya, rupanya bilou ini sudah mendeteksi keberadaan kami juga. Ada 4 individu dengan 1 bayi yang masih digendong, dalam grup yang teramati. Jenis burung yang sempat termati dalam perjalanan kali ini di antaranya : Kailaba (Anthracoceros albirostris), Mainong (Gracula religiosa), Laibug (Dicrurus leucophaeus), Ngorut (Ducula aenea) dan Taktag ( Pycnonotus atriceps) 2.

Kailaba
Mainong


Perjalanan kembali ke Malinggai Uma, tim dari uma memberitahu kami kalau nanti kita akan ambil durian diladang, ladang ini terletak di tepi teluk Katurai, dibelakang hutan mangrove yang tadi kita lewati, benar saja ketika kami pulang melewati  teluk katurai yang tenang tersebut, pompong kami membelok ke kanan kea rah mangrove dan mencarai bandar untuk menepi. Setelah sampai daratan kami menunggu di tempat lokasi pompong kami berlabuh. Tim dari uma malinggai kemudian turun dan lansung masuk ke balik rapatnya pohon bakau dan Sagu. Lama kami menunggu setelah salah satu tim kembali ke pompong dengan 2 durian di tangan, kami disalahkan makan dan mereka balik lagi ke dalam rimbunnan pohon bakau dan sagu.



Hampir 15 menit kami menunggu, mereka kembali muncul dan kali ini dengan 3 pikul durian !!. “masih banyak lagi di dalam, smua durian, toktuk belum ada” kata Damian, cara membungkus durian juga sangat unik dengan daun sagu yang di anyam sedemikian rupa, ada sekitar 20 biji dalam masing-masing bungkusan ini. Kami pun sejenak tertegung dengan apa yang kami lihat, mereka menjelaskan kalau durian yang sudah jatuh ini bisa di ambil  oleh siapa saja yang mau, meskipun ini bukan ladang milik kita. Hampir setengah sampan penuh durian kita bawa pulang ke uma, setelah kita puas makan durian asli Mentawai ini. Untuk rasa durian, dalam satu ladang ini sepertinya cukup beragam, daging buah juga ada yang tebal dan tipis, ada rasa pahit, ada manis dan ada juga yang seperti tepung manis degan sedikit kesat. Cita rasa ini hanya ada di Mentawai !

Jenis-jenis primata dan keragaman cita rasa durian alam di kepulauan Mentawai, adalah dua kombinasi yang istimewa untuk penikmat primata di alam liar dan pecinta durian.

Daftar pustaka :
1. Setiawan A.,Agustin I Y,Handayani K.,Saumanuk I.,Tateburuk D.,Sakaliau M,.2019. Primata Kepulauan Mentawai, SwaraOwa-Malinggai Uma Tradisional Mentawai, Yogyakarta
2. Taufiqurahman I.,Saumanuk I.,Tateburuk D.,Sakaliau M.,Setiawan A,. 2019. Burung-Burung Kepulauan Mentawai, SwaraOwa- Malinggai Uma Tradisional Mentawai, Yogyakarta

Tuesday, February 18, 2020

Mengenal Herpetofauna di Pulau Siberut


Oleh : Hastin Ambar Asti (hastin.ambar.asti@gmail.com)

Herpetofauna merupakan kelompok hewan yang terdiri atas taksa Amphibia dan Reptilia. Termasuk di dalamnya adalah katak, kodok, sesilia, salamander, ular, kadal, kura-kura, labi-labi, penyu, dan buaya. Kecuali salamander, anggota amfibi dan reptil lainnya dapat dijumpai di Indonesia. Katak, kodok, kadal, dan bahkan ular dapat dengan mudah dijumpai di sekitar permukiman. Sedangkan untuk kura-kura, labi-labi, penyu dan buaya, diperlukan sedikit usaha dan keberuntungan. Ini dikarenakan jenis-jenis reptil tersebut hidup di dalam hutan, di sungai, di pesisir, dan bahkan di lautan.

Menelisik keberadaan Herpetofauna di Pulau Siberut ternyata cukup mudah. Di Uma Malinggai setidaknya terdapat tiga ukiran biawak dan kura-kura yang menghiasi dinding dan pilar kayu uma. Dengan melihat ukiran satwa yang ada di uma, kita dapat mengetahui berbagai jenis satwa yang hidup di Pulau Siberut. Ukiran tersebut ternyata menjadi sarana untuk memperkenalkan tentang satwa kepada anak-anak Suku Mentawai.
 
Ukiran kura-kura dan biawak di pilar dan dinding uma

Ukiran kura-kura dan biawak menceritakan kisah kura-kura dan biawak yang sedang mencari makan di hutan. Setelah jauh berjalan memasuki hutan, kura-kura dan biawak akhirnya menemukan pohon yang berbuah. Biawak dapat dengan mudah memanjat pohon dan memakan buah yang ada. Namun tidak demikian halnya dengan kura-kura. Melihat kura-kura yang tidak dapat memanjat, biawak menawarkan diri untuk membantu kura-kura. Namun, ternyata biawak punya pikiran yang licik karena dia ingin memakan sendiri buah-buah yang ada.

Biawak berkata, “Kura-kura, gigitlah ekorku dan aku akan membawamu ke atas pohon. Tapi dengan syarat ketika nanti sampai di tengah pohon, kamu harus bersorak sebagai tanda hampir sampai ke puncak pohon”. Kura-kura pun setuju dan segera menggigit ekor biawak. Biawak kemudian memanjat pohon dan membawa kura-kura bersamanya. Sampai di tengah pohon, biawak menyuruh kura-kura untuk bersorak. Kura-kura membuka mulutnya untuk bersorak, namun seketika itu kura-kura jatuh terlentang di tanah. Kura-kura menangis sedih, dia kecewa karena ternyata biawak mempermainkannya.

Selain mengenal kura-kura dan biawak, masyarakat Mentawai juga mengenal berbagai jenis katak untuk dikonsumsi dan penyu yang digunakan dalam ritual upacara adat. Masyarakat Mentawai sebenarnya memiliki pengetahuan dalam membedakan jenis atau spesies Herpetofauna berdasar ukuran dan corak warnanya. Walaupun identifikasi tersebut masih umum dan kadang rancu, namun bisa cukup membantu untuk memperkirakan jenis-jenis Herpetofauna yang ada di Pulau Siberut.

Masyarakat Mentawai menyebut semua jenis katak dengan taratad. Kemudian penyebutan taratad diikuti dengan ciri lain, misalnya taratad sikad kad untuk menyebut katak berukuran kecil seperti Hylarana parvacola dan taratad paili untuk menyebut katak berukuran besar seperti Limnonectes blythii. Beberapa kata ganti untuk menyebut amfibi dan reptil dalam Bahasa Mentawai:
·         Taratad = katak
·         Teilek = kodok
·         Pikkot = kadal
·         Ular = ulou
·         Kura-kura = lokkipad dan toulu

Duttaphrynus melanostictus atau Teilek Padang

Ada sebuah cerita menarik mengenai keberadaan “Teilek Padang” atau Duttaphrynus melanostictus. Menurut masyarakat Mentawai, “Teilek Padang” bukan merupakan spesies asli di Pulau Siberut. Kodok tersebut diduga berasal dari Padang yang kemudian terbawa oleh kapal-kapal yang singgah di Pulau Siberut. Sehingga masyarakat Mentawai kemudian menyebutnya dengan “Teilek Padang” yang berarti kodok yang berasal dari Padang.
 
Beberapa jenis Herpetofauna yang dijumpai di Desa Tololago


Jenis-jenis Herpetofauna lainnya yang dijumpai di Pulau Siberut antara lain Trimeresurus popeorum (ulou bopai pai), Cyclemys dentata (lokkipad), Hylarana parvacola dan Amnirana nicobariensis (taratad sikad kad), serta Eutropis multifasciata (pikkot). Beberapa diantaranya dijumpai di permukiman dan kebun. Beberapa lainnya dijumpai di sungai kecil yang letaknya cukup jauh dari permukiman. Anggota Uma Malinggai yang ikut dalam praktek pengamatan Herpetofauna ini berjalan sangat cepat, sehingga seringkali melewatkan beberapa jenis Herpetofauna yang berukuran kecil. Namun tak jarang mereka justru menemukan jenis-jenis unik yang berukuran besar.
Dua anak pemberani yang turut serta dalam sesi praktek pengamatan Herpetofauna



Tuesday, February 11, 2020

Mentawai Primates: Sharing Conservation Message through Photography Training and Wildlife Watching

by : Eka Cahya Ningrum (ec.cahyaningrum@gmail.com)


Mentawai primate skulls

Due to habitat loss and hunting, forests and wildlife -primates in particular- are beginning to face severe threats in Mentawai Island. Increasing alternative economic opportunities leading to migration from remote areas is also influencing the community by distancing them from their cultural value systems that was once closely intertwined with nature. We want to use their strong existing relationships with nature and beliefs and practices about nature to share conservation messages.

Malinggai Uma and its mentawai hospitality
Through SWARAOWA and working with MALINGGAI UMA  Mentawai , we wants to achieve this objective by introducing the community with the unique and exotic biodiversity surrounding their area. In January we invited two experts to train   Uma Malinggai members (cultural community in Siberut) about wildlife photography and identification of Herpetofauna (reptiles and amphibians), Damselflies and Dragonflies. We believe this method will serve as tools to increase awareness regarding the change of their environment and biodiversity. The methods of photography can also served as a biodiversity monitoring method, we could find the species list and see if the species will survive time after time. With support of Fortwayne Children’s Zoo we able to donate two cameras for Uma Malinggai so they can be the agent of change and pursue their interest with photography.

introducing dragonfly to Uma members
We hold the training for three days, the first day is the presentation about how two identify different species of herpetofauna, damselfly and dragonfly and where to find them. The second and third day is practical session where we went to the forest in Tololago village to do survey and hunt for photographs of the species. This methods of introducing photography is proven very effective to engage the local people in Mentawai about the conservation issues of forest lost and biodiversity lost. This activity can also help the locals to promote ecotourism and produce a field guide that will increase their local revenue.
will heads to Tololago village

Other than the training, we also did some primates monitoring in Mailepet and Tololago village. Sadly, on one of the forest in Mailepet village, we could no longer find primates as easy as before. This could be a good thing, because if they are harder to find, than hopefully the hunter will have a hard time finding them. But this could also mean that all the primates population are gone from that forest patch.  Forest fire was happened in this forest fragment during dry season in 2019, causing maybe primates move away from this forest.

Mentawai Durian another unique taste experience

Thankfully we could still find Bilou (Hylobates klossi) and most critically endangered primates Simakobu (Simias concolor) and heard some mentawai langur’s (Presbytis potenziani) call in Tololago village. At times, hunting photograph of animals sometimes can be tiring and frustrating, that’s why we didn’t forget to have our share of fun. During the forest walk we find so many durian trees with lots of fruits! So as a reward, we ate the durian to our heart content to restore our energy and spirit!!





Monday, January 20, 2020

Jaring Hantu Mengancam hidupan liar di Hutan


  • perburuan burung masih terjadi di hutan-hutan alam di Jawa Tengah
  • Jaring hantu, jaring burung yang ditinggalkan oleh para pemburu di hutan, terbentang dan menjerat burung-burung dan mamalia terbang seperti kelelawar.
  • burung mempunyai peran penting di alam, sebagai penyerbuk, penyebar biji, pemakan serangga hama, dan tentunya suara merdunya di alam adalah nilai seni tak terkira.


Jaring Hantu atau ghost net, mungkin pernah mendengar ini, dan biasanya ini untuk di perairan/lautan  (marine wildlife), awalnya jaring-jaring nelayan ini  lepas , hilang, atau hanyut dan akhirn ya menjadi masalah buat ikan-ikan, penyu atau hidupan liar di laut. Banyak hidupan liar ini mati terjerat, terluka, kelaparan bahkan menelan jaring-jaring ini, ditemukan dalam pencernaan ikan bersama sampah-sampah plastik,  dan ternyata jaring hantu ini juga ada di hutan.

burung yang mati  hingga kering terjerat "jaring hantu"

Penggunaan jaring untuk menangkap burung, banyak di gunakan oleh pemburu-pemburu burung, hal ini dengan tujuan tentunya mendapat burung buruan lebih banyak dan mudah. Penggunaan jaring burung ini di kenali dari tanda-tanda yang biasa kita temukan, biasanya ada di tempat terbuka, atau membuat tempat terburka ada 2 tiang panjang dan terdapat sudung, atau tempat menunggu burung.
Jaring yang digunakan biasanya juga merupakan jaring khusus, ada yang menyebut dengan jala kabut, tidak terlihat jelas karena ukurannya benang yang dipakai yang kecil, dan sangat kuat, tidak mudah putus.
Jaring kabut terbentang  untuk menangkap burung

Namun yang terjadi ada beberapa pemburu yang mungkin karena tidak sabar atau alasan lain, meninggalkan jaring yang di pasang tadi, jaring yang di tinggalkan ini tentu saja akan menjadi jebakan untuk satwaliar yang terbang melintas, dan tentu saja tidak hanya burung, dan ini saya namakan “Jaring Hantu”.
jaring burung yang ditinggalkan pemburu

“Jaring Hantu”, karena di tinggalkan begitu saja tidak di lepas, dan menjadi perangkap apa saja yang lewat di tempat tersebut terutama yang terbang melintas seperti burung dan kelelawar. Yang terjerat jaring ini bisa di pastikan mati, karena tidak bisa lepas dan seperti yang kami temukan burung dan kelelawar yang tersangkut di jaring ini sampai mati kering. Burung-burung pemangsa bisa juga terjerat jaring tak bertuan ini, melihat ada burung yang terjerat tentu akan mengundang menarik burung pemangsa untuk datang juga. 
tiang penyangga jaring kabut untuk menangkap burung

Burung punya peran penting untuk sistem lingkungan, pemakan serangga penggangu tanaman, membantu penyerbukan, penyebar biji-bijian hutan dan masih banyak lagi, penelitian-penelitian tentang hal ini juga sudah banyak dibuktikan kalau ada peran penting burung di sekitar kita. Perburuan dengan cara apapun dan mengurungnya dalam sangkar tentu menghilangkan nilai penting burung untuk kita sendiri.
Caladi tilik (Picoides moluccensis) sedang mencarai serangga di pohon Sengon