Showing posts with label mendolo. Show all posts
Showing posts with label mendolo. Show all posts

Monday, September 14, 2026

Memanen Pembelajaran dari Kunjungan Belajar KWT Brayan Urip

 

masak bersama, dengan bahan pangan dari hutan Mendolo di Pasar Sehat Kepayang Yogyakarta

oleh : Sri Windriyah (Ketua KWT Brayan Urip Desa Mendolo)

Kegiatan Kunjungan Belajar KWT Brayan Urip dilaksanakan selama dua hari, yaitu pada tanggal 29 – 30 Agustus 2026. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menambah wawasan, pengetahuan, keterampilan, serta memperoleh inspirasi dalam pengembangan potensi desa, produk olahan, pengelolaan wisata, dan tata kelola kelembagaan.

Destinasi yang dikunjungi pertama pada hari Sabtu (29/8) adalah Pasar Sehat Kepayang. Lokasinya di Animalika Social Space, Jalan Kaliurang km 9, Sardonoharjo, Ngangklik, Sleman, Yogyakarta. Kegiatan diawali dengan perkenalan kedua komunitas. Selanjutnya kami berbagi pengalaman, khususnya bagaimana memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitar untuk dikembangkan menjadi produk maupun kegiatan yang memiliki nilai manfaat dan nilai ekonomi.

Di pasar sehat, kami mendapatkan berbagai pembelajaran yang bersifat teknis, antara lain: cara memanfaatkan potensi yang tersedia di desa dan lingkungan sekitar sebagai ciri khas desa, dan bagaimana mengenalkan produk yang dikembangkan oleh masing-masing komunitas.

penyambutan di pasar sehat kepayang

Produk yang ada di Pasar Sehat Kepayang sangat beragam, antara lain: kombucha, tepache, es krim sehat, jus aneka sayur, es dawet, dan aneka sayur organik. Sementara itu, kami dari KWT Brayan Urip membawa aneka produk hasil bumi Mendolo, seperti: nasi gadung, tepung gadung, kerupuk gadung rasa udang, brownis gadung, sambel kluwek, dan aneka sayur hutan.

Kami juga mendapatkan ilmu baru lewat pengenalan bahan pengganti bumbu penyedap kimia buatan, alternatif bumbu sehat, obat herbal, dan olahan keripik dari tumbuhan alam sekitar. Kami diperkenalkan dengan beberapa tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan maupun obat herbal, antara lain: tumbuhan walang sangit dan wedusan sebagai alternatif pengganti micin, bunga bakso sebagai pengganti bawang putih, kemadu dan kenikir/cokra-cakri sebagai sayuran dan obat herbal, serta klateng yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan keripik dan obat herbal.

Selain itu, peserta juga mendapatkan pengetahuan baru mengenai cara penyimpanan sayuran, khususnya sayur rebung. Agar tahan lama, rebung bisa disimpan dengan cara difermentasi. Hal ini bisa meningkatkan kualitas dan daya simpan produk.

Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan memasak bersama dan dilanjutkan makan bersama. Kami saling bertukar sajian: peserta dari Mendolo menikmati sajian makanan yang disajikan Komunitas Pasar Sehat Kepayang, di antaranya: nasi sayur brongkos, es dawet, es krim manggga-kweni, tepache, kombucha, dan jus sayur.  Sebaliknya, KWT Brayan Urip Mendolo menghidangkan nasi gadung, sambel cepokak campur klanting, tumis blibar pucung, urap kecombrang campur kremo, botok keji, sambel kluwek, kerupuk gadung udang, dan brownis gadung. 

Setelah kegiatan di hari itu selesai, dilanjutkan dengan penutupan dan foto bersama. Selanjutnya, kami menuju penginapan. Kali ini kami mendapatkan pengalaman menginap di Hotel Java Village Resort. Lokasinya tidak jauh dari Animalika, tepatnya di Jalan Griya Taman Asri, Sleman.

mencicip sajian berbagai jamu produk Kebon Pasinaon,Magelang

Kunjungan hari ke dua (30/8) di Kebon Pasinaon Living Museum yang lokasinya ada di Jl. Wirodigdo Km. 3, Sirahan, Salam, Magelang. Kegiatan diawali dengan perkenalan dan penjelasan mengenai latar belakang serta konsep pembelajaran yang diterapkan di Kebon Pasinaon Living Museum. Kami mendapatkan berbagai pengalaman dan pengetahuan tentang kehidupan masyarakat, pertanian, budaya, dan tradisi masyarakat desa yang bertahan sejak zaman dahulu.

Pengelola memberikan presentasi singkat mengenai latar belakang pendirian dan gambaran kegiatan pembelajaran di Kebon Pasinaon Living Museum. Selanjutnya, kami mengikuti program trip dengan berbagai tema. Kami mulai dengan mengenal tata cara pemilihan lurah pada zaman dulu. Alat-alat yang digunakan untuk pemilihan yaitu menggunakan biting dan juga simbolis dari hasil bumi seperti padi, jagung, dan kelapa.

Kami kemudian diajak mengenal berbagai alat pertanian tradisional. Ada wluku, ani-ani, kepang, tedo, irig, pacul, lesung, dan alu. Mengenal berbagai tradisi pertanian seperti nggaru (membajak sawah menggunakan sapi), gengsot, napeni, tandur, nginter, ngencek, dan nutu. Di sesi ini, kami juga dikenalkan mengenai cara membuat jamur dari limbah janggel jagung.

Kami lalu berjalan berkeliing menuju pos-pos yang disediakan, mengikuti sepuluh tema Kebon, seperti Kebon Tandur, Kebon Empon, Kebon Dolan, Kebon Tonton, hingga Kebon Ciblon. Di pos berikutnya, kami mengenal berbagai empon-empon dan cara membuat jamu tradisional, khususnya jamu beras kencur. 

mencoba permainan tradisional

Selanjutnya, kami mencoba permainan tradisional seperti egrang, congklak, bekel, lompat tali dari karet, jamuran, dan balap perahu. Pos ini berada di Kebon Dolan. 

Karena kental dengan muatan budaya, Kebon Pasinaon menyajikan pengalaman langsung berupa praktik kesenian tradisional berupa tari dan kami pun mengikuti praktik menari. Kami juga mendapat kesempatan untuk menyimak seni geguritan dan puisi karya salah satu tokoh Kebon Pasinaon Living Museum.

Di pos Kebon Pawon, kami memasuki replika pawon tradisional dan mengenal berbagai alat dapur tradisional seperti luweng, dandang, kendi, kuali, teko, ceret, kenceng, centhong, irus, siwur, cething, kalo, parutan, ntik, tedo, irig, cobek, munthu, layah, cangkir, muk, dan masih banyak lagi.

Selanjutnya, kami berjalan menuju bagian belakang kampung untuk mengunjungi tempat mandi masyarakat zaman dulu yaitu belik dan sungai. Kami juga diperkenalkan mata air bertuah yang sumber airnya berasal langsung dari Gunung Merapi. Masyarakat setempat memiliki kepercayaan bahwa air tersebut dapat dimanfaatkan berbagai keperluan dan penyembuhan berbagai macam penyakit. Cara penggunaan air tersebut bisa diminum atau untuk cuci muka.

Di pos terakhir, kami belajar mengenai sejarah Desa Sirahan dengan mengunjungi bekas bangunan rumah tua yang merupakan peninggalan pemerintahan lurah pertama desa tersebut.

Kegiatan ditutup dengan makan bersama, penyampaian pesan dan kesan serta di lanjut foto bersama. Selesai sudah kunjungan kami, lalu rombongan dari Mendolo bersiap untuk perjalanan pulang.

Memanen banyak pembelajaran

Dari kegiatan kunjungan belajar di Pasar Sehat Kepayang, KWT Brayan Urip Mendolo memperoleh banyak ilmu dan inspirasi, khususnya dalam hal pengembangan produk dengan memanfaatkan tumbuhan dan potensi alam sekitar. Kami para peserta mendapatkan pengetahuan mengenai alternatif pengganti bahan penyedap, bumbu, pembuatan minuman, obat herbal tradisional, bahan pangan dari tumbuhan alam sekitar, serta cara penyimpanan sayuran rebung agar lebih tahan lama. Selain pengembangan produk, kami juga mendapatkan wawasan mengenai pengembangan wisata berbasis potensi lokal serta strategi pemasaran produk dan desa wisata.

Sementara itu, dari kunjungan ke Kebon Pasinaon Living Museum, kami mendapatkan pengetahuan mengenai pelestarian budaya, pertanian tradisional, kesenian, makanan dan jamu tradisional, serta pemanfaatan potensi desa sebagai daya tarik wisata. Yang tidak kalah penting, kegiatan tersebut memberikan motivasi dan kepercayaan diri kelompok untuk terus maju. Penjelasan mengenai potensi desa, berbagai kendala yang dihadapi, struktur kelembagaan, serta tata kelola kegiatan juga memberikan gambaran yang sangat bermanfaat bagi KWT Brayan Urip Mendolo. Berbagai potensi dan kegiatan yang telah dikembangkan di Kebon Pasinaon Living Museum ternyata memiliki banyak kesamaan dengan potensi yang ada di desa kami.

Selain manfaat dari kunjungan pada dua destinasi utama, ada juga pembelajaran bagi kami selama di hotel. Kami mendapatkan pengalaman mengenai bagaimana tata cara check-in dan check-out, menggunakan fasilitas yang disediakan hotel berbintang, serta merasakan standar keramah-tamahan dan pelayanan hotel.

Kegiatan kunjungan belajar selama dua hari memberikan pengalaman dan wawasan yang sangat berharga bagi KWT Brayan Urip Mendolo. Kegiatan ini membuka pemikiran bahwa potensi alam, pertanian, budaya dan sumber daya yang ada di desa dapat dikembangkan menjadi produk unggulan maupun daya tarik wisata apabila dikelola dengan baik, kreatif, dan berkelanjutan.

Melalui kunjungan belajar ini, KWT Brayan Urip Mendolo semakin termotivasi untuk melakukan pembenahan tata kelola kelompok, pengembangan produk, pemanfaatan potensi alam sekitar, pelestarian budaya, pengelolaan wisata, dan strategi pemasaran produk.

Ilmu, pengalaman dan inspirasi yang diperoleh selama kunjungan belajar dapat diterapkan dan dikembangkan di desa sendiri, sehingga KWT Brayan Urip Mendolo menjadi kelompok yang semakin aktif, kreatif, mandiri, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Pada akhirnya, kami bisa turut serta dalam mendorong kemajuan desa.


Dari Produk dan Jasa Hutan ke Pasar Beretika: Kunjungan Belajar Masyarakat Mendolo ke Sleman dan Magelang

Ds. Sawahan, Mendolo, Lebakbarang

oleh : Sidiq Harjanto

Desa Mendolo merupakan salah satu area kerja prioritas SwaraOwa dalam upaya pelestarian hutan sebagai habitat penting primata Jawa. Lanskap hutan desa ini menjadi rumah bagi lima jenis primata sekaligus, yaitu: Owa Jawa, Lutung Jawa, Rekrekan, Monyet Ekor-Panjang, dan Kukang Jawa. Kehadiran primata-primata ini menandakan ekosistem hutan yang masih terjaga, di mana keberlangsungannya sangat bergantung pada harmoni antara tutupan kanopi hutan dan pola aktivitas masyarakat di sekitarnya.

Bagi masyarakat setempat, hutan merupakan ruang hidup yang menyimpan potensi ekonomi untuk menunjang kesejahteraan di masa depan. Selama ini, kopi dan durian telah menjadi dua komoditas utama yang menjadi tumpuan hidup sebagian besar warga desa. Pengelolaan lahan garapan berbasis agroforestri untuk kedua komoditas tersebut bisa dimaknai secara positif sebagai upaya menjaga keselarasan antara pemenuhan ekonomi masyarakat dengan kelestarian hutan habitat primata.

Mengangkat Nilai Tambah Pangan Lokal Berbasis Hutan

Di luar dua komoditas tersebut, Desa Mendolo menyimpan potensi hasil hutan yang sangat berharga jika dikembangkan melalui peningkatan nilai tambah (added value). Produk-produk seperti madu klanceng, umbi gadung, hingga puluhan jenis pangan lokal lainnya memiliki peluang pasar yang menjanjikan. Dengan sentuhan inovasi olahan dan pengemasan yang tepat, hasil alam yang dulunya dipandang sebelah mata ini dapat bertransformasi menjadi sumber pendapatan baru yang memperkuat resiliensi ekonomi warga.

Menangkap peluang tersebut, Kelompok Wanita Tani (KWT) Brayanurip telah mengambil langkah konkret melalui inisiatif olahan pangan lokal berbasis sumber daya hutan. Sebagai contoh, para ibu anggota KWT mengolah umbi gadung beracun melalui proses yang presisi hingga menjadi tepung gadung yang aman dan tahan lama. Bentuk tepung juga menjamin fleksibilitas bahan pangan ini untuk dijadikan aneka olahan seperti kue maupun kerupuk.

Selain gadung, mereka juga mengreasikan aneka sambal hutan khas berbasis kluwek (biji kepayang) dan berbagai tumbuhan liar. Inisiatif ini tidak hanya mendongkrak nilai jual produk lokal, tetapi juga menempatkan kaum perempuan sebagai penggerak utama ekonomi kreatif berbasis konservasi.

mengenalkan produk hasil olahan pangan dari hutan Mendolo

Konsep Wisata Imersif: Menjual Pengalaman dan Narasi Hutan

Selain komoditas fisik, potensi ekonomi Desa Mendolo juga terletak pada potensi jasa lingkungan dan pengetahuan lokal yang dapat ditawarkan kepada publik. Jasa ekowisata menjadi peluang besar yang sangat ideal dikembangkan di desa ini, khususnya model wisata minat khusus yang menekankan pada aspek pengalaman (experience). Para pengunjung tidak sekadar menikmati keasrian alam, tetapi juga diajak berinteraksi langsung dengan kehidupan desa, mempelajari cara pengolahan pangan hutan tradisional, hingga mengamati primata di habitat aslinya secara bertanggung jawab.

Untuk menjembatani potensi melimpah yang dimiliki Desa Mendolo dengan langkah pengelolaan konkret di lapangan, diperlukan penguatan kapasitas bagi para penggerak lokal agar mampu mengelola serta mengemas potensi tersebut secara optimal. Desa Mendolo tidak hanya kaya akan keanekaragaman hayati dan tradisi pangan hutan yang unik, tetapi juga memiliki peluang besar dalam pengembangan produk bernilai tambah serta skema wisata edukasi berbasis pengalaman. Namun, proses transformasi dari potensi menjadi dampak ekonomi dan konservasi yang nyata membutuhkan perspektif baru, wawasan pasar, serta keterampilan teknis dalam menyampaikan narasi produk maupun kawasan di mana produk itu berasal.

Mengenalkan Produk-produk desa Mendolo, Oleh Sri Windriyah, oleh Ketua  KWT Brayan Urip ( https://youtube.com/shorts/79yvEAF2Sys?si=iS2EGliNXCvd8bct) 

Kunjungan Belajar: Membawa Produk dan Narasi Hutan Mendolo ke Pasar Beretika

Merespons kebutuhan tersebut, pada tanggal 29-30 Agustus 2026 kami telah mengadakan kegiatan kunjungan belajar dan penjajagan pasar ke dua destinasi strategis di Sleman dan Magelang. Inisiatif ini secara khusus melibatkan pengurus dan anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Brayanurip sebagai penggerak ekonomi pangan lokal, perwakilan dari Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo sebagai motor penggerak generasi muda, dan perwakilan perangkat desa. Total 20 orang peserta terlibat dalam kunjungan yang berfokus pada tiga agenda utama: pengembangan produk, penjajagan akses pasar ‘beretika’, dan formulasi konsep wisata edukasi berbasis pengalaman.

Kunjungan ke pasar Sehat Kepayang di Yogyakarta
Ada dua destinasi yang dikunjungi, masing-masing telah berhasil memperkaya wawasan bagi peserta: Pasar Sehat Kepayang di Sleman, dan Kebon Pasinaon Living Museum di Magelang. Di Pasar Sehat Kepayang, para peserta mendapatkan kesempatan berdiskusi dan praktik langsung mengenai penyajian produk pangan agar semakin menarik dan memberikan narasi yang lengkap bagi produk-produk yang dihasilkan sebagai nilai tambah. Dengan tambahan wawasan dan keterampilan dalam storytelling dan penyajian, diharapkan produk-produk yang telah diinisiasi oleh masyarakat di Desa Mendolo bisa menemukan pasar yang tepat.

foto bersama di Kebon Pasinaon Living museum
Bagi para peserta, kunjungan ke Kebon Pasinaon Living Museum telah memberikan perspektif baru mengenai bentuk wisata yang berbasis narasi dan pengalaman langsung yang relevan dengan potensi yang dimiliki Mendolo. Kelompok juga mendapatkan gambaran bagaimana pengelolaan dan pemasaran yang melibatkan warga desa sebagai aktor utama. Model wisata seperti ini bisa memberikan kontribusi nyata ke banyak pihak, baik secara ekonomi maupun dalam bentuk lain seperti peningkatan wawasan dan keterampilan.

Konservasi Berbasis Masyarakat melalui Titian Lestari

Melalui kunjungan belajar ini, KWT Brayanurip, para pemuda perwakilan PPM Mendolo, dan perwakilan perangkat desa tidak hanya membawa pulang wawasan dan keterampilan baru, tetapi juga kepercayaan diri untuk mengelola potensi Desa Mendolo secara mandiri. Sinergi antara inovasi produk pangan lokal, narasi etnobotani yang kuat, dan konsep wisata edukasi yang imersif bisa menjadi motor penggerak baru yang memperkuat resiliensi ekonomi warga sekaligus menjaga kelestarian habitat Owa Jawa secara berkelanjutan.

Menjadi bagian dari Program Titian Lestari, upaya penguatan kelembagaan lokal, inovasi produk dan jasa, serta penetrasi pasar beretika selanjutnya bisa dipahami sebagai langkah konkret dalam mengarusutamakan skema konservasi berbasis masyarakat. Dalam skema ini, konservasi tidak lagi berhenti pada perlindungan flora-fauna dan hutan sebagai habitat, melainkan bekerja melalui upaya sistemik untuk menjaga keseimbangan antara ekonomi dan ekologi. Masyarakat secara mandiri menjadi agen konservasi aktif bagi lingkungan mereka sendiri.

(Baca Selengkapnya kunjungan KWT Brayan Urip di Pasar Sehat Kepayang Yogyakarta dan Living Museum, Kebon Pasinaon Magelang)

Monday, August 17, 2026

Konservasi Cawan Madu: Pendekatan Regeneratif untuk Resiliensi Habitat Owa Jawa

 

Interaksi lebah dan bunga kopi meningkatkan peluang terjadinya penyerbukan

Oleh: Sidiq Harjanto

Pada kotak-kotak kayu kecil di sudut kebun petani, lebah-lebah klanceng bekerja dengan tekun. Tidak seperti lebah sengat yang membangun sarang berbentuk segi enam simetris dari lilin murni, lebah nirsengat ini membangun wadah-wadah yang unik. Mereka mengumpulkan resin dari berbagai pepohonan hutan, lalu membentuk cawan-cawan cokelat kehitaman untuk menyimpan cadangan madu maupun polen yang mereka kumpulkan.

Dari cawan-cawan kecil itulah lahir sebuah cerita besar tentang keterhubungan. Setiap tetes madu yang kita minum terkoneksi langsung dengan keanekaragaman flora dan kelestarian hutan. Ketika petani merawat habitat klanceng dan menjaga tutupan pohon, mereka tak cuma mengisi cawan-cawan madu, tetapi sedang mempertahankan jalinan kehidupan.

Berangkat dari pemahaman itu, SwaraOwa memaknai pengembangan ekonomi berbasis hutan bukan sekadar memberikan keterampilan atau mengenalkan teknologi terapan kepada petani melainkan juga menumbuhkan 'ekosistem' yang regeneratif. Di dalamnya perlu ada koherensi antarpihak, kolaborasi, dan inovasi. Pembelajaran ini kami dapatkan dari pengalaman lebih dari delapan tahun introduksi pembudidayaan lebah klanceng di desa habitat Owa Jawa.

Darso dan Suroyo sedang memanen madu menggunakan pompa sedot

Lebah sebagai agen konservasi

Nektar adalah cairan manis yang dihasilkan berbagai jenis tumbuhan. Dengan kekayaan spesies penyusun vegetasi hutan, nektar dihasilkan dalam jumlah besar. Kita susah mengestimasinya karena sifatnya yang tersebar. Meskipun tersedia dalam jumlah melimpah, nektar tidak bernilai ekonomi. Namun, keajaiban terjadi ketika lebah telah mengubahnya menjadi madu, ia menjelma komoditas bernilai tinggi dan telah diperdagangkan selama ribuan tahun.

Lebah mengambil nektar dan serbuk sari dari tumbuhan sebagai sumber energi dan protein. Bagi mereka, itu adalah mekanisme mempertahankan eksistensi spesies. Akan tetapi, dilihat dari sudut pandang berbeda, kerja lebah juga meningkatkan kemungkinan keberlanjutan berbagai spesies lain. Interaksi antara lebah dengan bunga dapat berkontribusi meningkatkan keberhasilan penyerbukan, yang kemudian memicu pembuahan dan menghasilkan biji sebagai bakal generasi baru spesies tumbuhan yang didatanginya.

Regenerasi tumbuh-tumbuhan penyusun hutan adalah salah satu fondasi regenerasi hutan itu sendiri. Dengan hutan yang terus tumbuh, aneka spesies yang bergantung kepadanya otomatis juga lestari.

Logika ini yang kami pakai saat pertama kali belajar bersama mengenai pembudidayaan lebah bersama masyarakat di desa-desa sekitar habitat Owa Jawa. Konservasi spesies primata endemik dan terancam punah ini tidak hanya ditempuh dengan jalan linear seperti perlindungan dari perburuan, tetapi juga melalui jaring-jaring kompleksitas hutan itu sendiri.

Jika regenerasi hutan sebagai habitat Owa Jawa adalah isu jangka panjang, ketersediaan pakan baginya bisa diamati dalam skala waktu yang lebih singkat. Kelompok kera kecil ini merupakan satwa pemakan buah. Di sisi lain, lebah merupakan kelompok serangga penyerbuk dominan di hutan-hutan tropis. Di titik inilah kita menemukan korelasi beberapa aspek yang bertautan. Jejak jasa lebah mungkin terekam pada sebagian pakan yang menopang kehidupan Owa.

Melalui budidaya lebah, konservasi Owa Jawa tidak hanya berlangsung di dalam hutan, tetapi juga diperluas ke lanskap sosial-ekologis yang mengelilinginya. Cawan madu menjadi titik masuk untuk memulainya, dengan argumen dasar: nilai ekonomi diperoleh bukan dengan menghabiskan sumber daya, tetapi dengan mempertahankan kemampuan lanskap untuk terus menghasilkan manfaat.


Dengan hati-hati, Yukni mengangkat brood cells - tempat untuk menetaskan telur dan larva lebah
 
untuk dibagi menjadi dua bagian


Posisi lebah dalam kompleksitas sistem sosial-ekologi

Menggunakan paradigma sistemik, kita menyadari bahwa hutan bukanlah entitas yang terisolir. Ekosistem hutan tropis secara tidak langsung dipengaruhi oleh bagaimana dinamika global berjalan. Dalam skala yang lebih kecil, dinamika ekosistem hutan berhubungan dengan bagaimana masyarakat di sekitarnya mendapatkan manfaat langsung. Cerita para petani hutan di Dusun Sawahan, Desa Mendolo, bisa memberikan gambaran yang mempermudah kita memahaminya.

Sebagai petani, Rohim (41) menggantungkan ekonomi dari tiga komoditas utama, meliputi durian, kopi, dan madu. Di luar itu, ada sumbangan dalam porsi yang lebih kecil dari kapulaga, jengkol, dan biji kepayang. Berangkat sebagai pemanen madu hutan (Apis dorsata), lima tahun terakhir ia membudidaya klanceng dari jenis Heterotrigona itama. Kini, mayoritas madu yang dijualnya berasal dari kotak-kotak budidaya di kebun, sementara sebagian kecil lainnya dari panen alam. Madu telah menyumbang sekitar 20% pemasukannya.

Bagi para pembudidaya klanceng di Sawahan, madu menjadi bantalan yang cukup kuat dalam hal ekonomi. Jika dihitung dari hasil panenan maupun potensi nilai ekonomi, madu relatif lebih stabil ketimbang komoditas lain. Bandingkan dengan kopi yang disparitas hasil panennya menunjukkan kontras yang lebar, angka tertinggi pada musim raya mencapai sekira tiga kali lipat dibandingkan angka terendah pada musim paceklik seperti sekarang ini.

Pada durian, kontras itu bisa jauh lebih besar lagi. Meskipun tertolong dengan harga pasar, namun tampaknya durian memiliki ambang optimal tertentu. Ketika panen raya, pasar bisa mencapai titik jenuh sehingga pengepul lokal kesulitan memasarkan lebih banyak durian yang disetor petani. Akibatnya, harga langsung jatuh.

Kombinasi beberapa sumber pendapatan seperti yang dimiliki Rohim dan banyak petani di desanya merupakan strategi untuk menjaga daya tahan menghadapi ketidakpastian pasar. Melalui agroforestri, petani bisa memperoleh pendapatan dari sumber yang beragam. Agroforestri adalah mengombinasi berbagai spesies tanaman pada satu lahan. Dalam satu kebun, kita bisa menemukan durian, kopi, kapulaga, pisang, dan berbagai tanaman pangan. Tak hanya tanaman budidaya, spesies liar masih diberi ruang untuk tumbuh.

praktik pemecahan koloni dengan warga Sawahan ( 8 agustus 2026)

Praktik ini tidak hanya menjaga resiliensi ekonomi bagi petani, tetapi juga memberi berbagai keuntungan lain.

Alih-alih menjual semua madu hasil panen, Rohim selalu menyisihkan setidaknya satu liter madu klanceng untuk mencukupi kebutuhan keluarga setiap bulannya. Baginya dan banyak keluarga pembudidaya lebah di dusun Sawahan, madu adalah suplemen kesehatan yang murah meriah, diramu oleh proses alami di hutan yang melingkupi desa. Pada cawan-cawan kecil di dalam kotak lebah klanceng itulah, para petani bisa mengaksesnya.

Demikian pula yang dilakukan Darso (34). Pekerjaan di kebun dan hutan membuatnya butuh stamina prima. Menurutnya, mengonsumsi madu secara rutin menjaga tubuh tetap bugar. Bagi masyarakat sekitar hutan, kebugaran adalah salah satu aset ekonomi. Ketika masyarakat merasakan langsung bahwa madu dari hutan yang terjaga menjadi "suplemen alami" dan benteng imunitas keluarga, itu memberi peluang terciptanya sistem umpan balik.

Madu sebagai komoditas ekonomi, maupun madu sebagai suplemen kesehatan bisa dimaknai sebagai bentuk-bentuk insentif yang diberikan hutan kepada masyarakat. Namun, insentif hanya bisa dipertahankan melalui resiprositas. Artinya, jika para petani ingin mendapatkan manfaat yang terus-menerus, mereka perlu secara sadar memelihara keutuhan hutan agar fungsi itu terus berjalan.

hasil pemecahan koloni

Merawat 'ekosistem' budidaya lebah

Inisiasi budidaya lebah klanceng yang kami jalankan berawal dari penyelamatan koloni liar yang dipanen dari alam. Semula, para pemanen madu sekadar mengambil madu dari sarang di pohon dan meninggalkan begitu saja koloni lebah dalam keadaan rusak. Pada akhirnya, jarang koloni yang selamat. Praktik semacam itu dikhawatirkan bisa mengancam populasi lebah liar di hutan.

Para pemanen madu lalu belajar memindahkan sarang klanceng ke dalam kotak budidaya untuk dipelihara. Tidak mudah untuk melakukan itu. Permasalahannya bukan pada hal teknis, melainkan pada aspek psikologis. Seorang pemanen madu alam biasa pergi ke hutan lalu membawa pulang hasil panen pada hari itu juga. Sementara itu, seorang pembudidaya perlu menghadapi delayed gratification. Memulai budidaya hari ini berarti baru bisa memanen beberapa bulan lagi.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, mereka pada akhirnya berhasil melewati titik kritis itu. Di Sawahan sendiri, sudah lebih dari sepuluh orang pembudidaya klanceng yang kini memetik manfaat nyata. Mereka bisa rutin memanen madu setiap bulan, mulai Juni hingga menjelang puncak musim hujan di bulan Desember.

Perkembangan ini membawa beberapa implikasi menarik, termasuk dalam hal bagaimana mendapatkan koloni untuk dipelihara. Suroyo (35), seorang petani lain yang baru dua tahun terakhir menekuni klanceng, menuturkan bahwa ia mendapatkan koloni dengan cara memasang kotak jebak. Dibandingkan rekan-rekan sesama pembudidaya, tingkat keberhasilan yang didapatnya jauh lebih tinggi. Didukung pengalaman panjang dengan lebah madu lokal (Apis cerana), ia memahami bagaimana menentukan lokasi pemasangan yang ideal.

Banyak warga ingin memulai budidaya, tetapi kesulitan mendapatkan koloni lebah adalah tantangan tersendiri. Keahlian yang dimiliki Suroyo sangat berharga untuk menjawabnya. Hanya saja, seringkali keahlian semacam ini sulit ditularkan karena variabelnya kompleks dan kalkulasi terjadi secara intuitif. Padahal, teknik jebak merupakan metode yang lestari karena tidak perlu membongkar sarang koloni liar yang risiko kegagalannya lebih tinggi sehingga berpotensi mengganggu keberlanjutan populasi di alam.

Menjawab tantangan kebutuhan koloni budidaya, awal Agustus ini kami mengadakan workshop. Berbeda dari workshop pada umumnya, tidak ada status narasumber ataupun peserta karena semua mengambil posisi setara—punya kesempatan yang sama dalam berbagi pengalaman masing-masing. Kegiatan ini hendak meningkatkan keterampilan para pembudidaya dalam metode pemecahan koloni (colony splitting). Pemecahan koloni adalah proses membagi satu koloni lebah klanceng yang sudah kuat menjadi dua atau lebih koloni baru. Ini merupakan alternatif di saat metode jebak belum efektif.

Yukni Buhan (32) tampak sangat telaten mengamati sarang yang sudah terbuka. Menurut pengalamannya, tingkat keberhasilan pemecahan koloni terletak pada pengamanan ratu dan pupa ratu. Pada teknik splitting manual, prinsipnya adalah: satu koloni dipertahankan dengan ratu aktif, sedangkan koloni pecahan diberikan pupa ratu sebagai calon ratu baru. Jika pemecahan koloni dilakukan dengan grasa-grusu, seringkali ratu hilang atau terluka sementara sel calon ratu (queen cell) yang rawan pecah menjadi rusak.

Sebagai pembudidaya yang paling berpengalaman dalam teknik pemecahan, Yukni memandu proses ini sembari membagi banyak tips untuk meningkatkan keberhasilan. Metode ini membutuhkan kesabaran tingkat tinggi agar jangan sampai melukai lebah-lebah atau merusak kumpulan telur – pupa – larva (brood cell). Ia juga mewanti-wanti untuk secara rutin memeriksa perkembangan koloni pasca-pemecahan agar terhindar dari binatang pengganggu seperti semut.

Praktik pemecahan koloni kali ini berjalan lancar, meskipun keberhasilannya baru bisa dilihat beberapa minggu ke depan. Namun, pertemuan ini bukan sekadar meningkatkan pengalaman teknis melainkan sebentuk upaya merawat ‘ekosistem’ budidaya lebah yang telah dibangun para praktisinya. Ekosistem yang dimaksud adalah interaksi antar-aktor yang membentuk jaring-jaring kerja sama dalam skema pengembangan budidaya klanceng.

Melalui praktik bersama, keahlian dan keterampilan tidak lagi bersifat eksklusif. Dalam hal ini, karakter regeneratif itu kembali dimunculkan pada konteks lain, yaitu ekosistem pengetahuan. Dalam momen yang terbilang singkat, pembicaraan tidak berhenti pada bagaimana memperbanyak koloni, tetapi berkembang ke berbagai hal termasuk bagaimana meningkatkan ketersediaan pakan alami lebah, perkembangan alat penyedot madu, hingga pengalaman-pengalaman sederhana namun tetap berguna.

Bertambahnya koloni bisa berimplikasi pada kemungkinan peningkatan hasil panen yang artinya perlu memikirkan akses pasar yang lebih luas. Hal itu mungkin bisa dipecahkan bersama melalui perjumpaan-perjumpaan semacam ini. Membangun ekosistem ekonomi-ekologi berkelanjutan membutuhkan kolaborasi, alih-alih kompetisi.

Cawan madu bukan sekadar tempat di mana para pembudidaya mengarahkan ujung selang mesin sedotnya—mengumpulkan tetes demi tetes cairan manis yang membawa manisnya ekonomi lestari. Karena di dalamnya, simpul keterhubungan itu terlihat: Owa Jawa – hutan – pohon – lebah – manusia. Pendekatan regeneratif bukan sekadar tentang membiarkan hutan bertahan, melainkan tentang mendesain interaksi manusia di dalamnya menjadi tindakan memulihkan dan menjaga resiliensi. Hutan yang regeneratif adalah hutan di mana keberadaan manusia tidak dianggap sebagai beban ekologis, melainkan sebagai pemelihara.

Monday, August 10, 2026

Sensasi seru fish watching di Kali Wisnu

mengamati ikan di Kali Wisnu

Oleh : Imam Taufiqurrahman

Ada pemandangan tak biasa di Kedung Kali Bengang, Kali Wisnu, pada 23-24 Mei 2026. Sekelompok pemuda dan anak-anak Dusun Sawahan, Desa Mendolo, memenuhi area kedung. Sebagian yang berkacamata selam dan snorkel, tampak membenamkan diri di beningnya aliran sungai. Mereka tengah asyik mencoba ber-fish watching.

Segerombolan ragalan menjadi incaran mereka. Sang penghuni kedung berukuran sedang hingga besar itu berenang dengan lincah di beningnya air, terus menghindar dari anak-anak yang coba menghampiri.

“Jangan dikejar, biarkan,” cegah Pak Irwanjasmoro, narasumber sekaligus instruktur kegiatan. “Ditunggu saja,” lanjutnya, “biar ikannya datang sendiri.”

Sebegitu antusias anak-anak itu berkecipakan mencoba mendekati. Lantas, tersadar kalau mengejarnya percuma.

Mereka terlalu bersemangat. Pun, saking belum terbiasanya ber-fish watching. Baru pertama mereka mencoba melakukan pengamatan ikan dari bawah sungai. Naluri yang timbul jadinya mengejar, seperti ingin menangkap. Padahal, justru dengan berdiam, ikan-ikan akan menghampiri.

Layaknya snorkeling di perairan laut, fish watching di sungai rupanya tak kalah seru. Dan kita sama tau, sekadar berenang atau bermain air saja sudah cukup menyenangkan.

Sementara, fish watching lebih lagi dalam menyuguhkan sensasi yang berbeda. Membenamkan wajah, lalu bernapas dengan snorkel dan mendengarkan hembusan napas yang berderu telah cukup jadi pengalaman baru yang unik.

Belum lagi dari yang biasanya melihat ikan sebatas dari atas permukaan sungai. Lazimnya, ragalan atau Tor tambra hanya dilihat dari jalan atau jembatan, menyambut siapa pun yang hendak masuk ke Dusun Sawahan. Fish watching memungkinkan kita berenang bersama mereka, mengikuti pergerakannya di kedalaman air, sesekali mendapati mereka sejajar pandang mata.

peserta pengamatan ikan anak-anak remaja dan dewasa

Seiring waktu, anak-anak pun terlihat lebih tenang. Mereka rela bergantian menggunakan snorkel, antre dengan sabar di pinggir sungai. Ada yang hanya memperhatikan, ada pula yang ikut turun mencarikan ikan untuk temannya.

Aliran sungai terasa sangat sejuk. Bagi yang tak terbiasa, mungkin akan cepat merasa kedinginan. Namun, anak-anak itu terlihat biasa saja. Mereka menyebar mencari titik pengamatan masing-masing.  

Para pemuda yang telah mendapat pembekalan dan mencoba ber-fish watching di hari pertama, terus mendampingi dan ikut membimbing adik-adik mereka itu, 17 anak usia SD-SMP. Mulai dari membantu anak-anak cara mengenakan snorkel, menemani mencari ikan, sembari mengawasi yang lain.

Anak-anak dipandu menggunakan kacamata selam dan snorkel

Semakin lama, mereka semakin terlihat menikmati. Berbagai gaya ditunjukkan: tengkurap di atas bebatuan, berjongkok di kedalaman air atau berjalan merunduk. Memasuki kemarau seperti sekarang, kedalaman dan arus Kali Wisnu memang terbilang aman dan ideal. Alirannya dangkal dan tak seberapa dalam, berkecepatan arus sedang.

Sedikit ke hilir, di pinggiran sungai yang penuh bebatuan dan kolam dangkal, Pak Irwan mendapati ikan lain.

“Ini, ada sili,” ujarnya.

Ikan pipih panjang mirip belut itu bersembunyi di bawah bebatuan. Kepalanya menyembul, memperlihatkan mulutnya yang bermoncong. Sementara bagian belakang hingga ekornya menjuntai di bebatuan dasar sungai. Bila tak jeli, ikan dengan corak unik bernama ilmiah Macrognathus maculatus itu tak akan terlihat.

Sili yang teramati bersembunyi di bebatuan

Biasanya, sili mendiami kedung beraliran deras yang permukaannya tertutup riak dan buih air. Kalau tidak tertangkap pancing, sulit sekali ditemukan. Beruntung kali ini ia berdiam di bebatuan dangkal.

Tak seberapa jauh, giliran bokol yang terlihat. Jenis umum di Kali Wisnu dan di perairan air tawar Jawa itu berenang di sekitar tepian sungai. Nama ilmiahnya Barbodes binotatus. Adapula lunjar, sejenis wader dengan garis sisi biru. Menurut Pak Irwan, jenis dalam genus Rasbora sp ini masih memerlukan studi mendalam karena kemiripannya satu sama lain.

Riki, yang sedari tadi mengamati di area bawah jembatan, muncul ke permukaan.

“Ada kékél,” sebutnya.

Beberapa anak-anak lantas menghampiri bebatuan yang Riki tunjuk. Segera mereka membenamkan diri, mencari si endemik Jawa yang sepintas menyerupai lele itu. Bedanya, ikan bernama ilmiah Glypthotorax platypogon tersebut memiliki organ perekat di dada yang membuatnya mampu menempel di bebatuan dalam aliran arus deras.

Fish watching sebagai ekowisata

Tanpa terasa, telah hampir dua jam anak-anak berendam di sungai. Meski tampak tak puas, kegiatan harus dihentikan. Empat dari tujuh jenis ikan di Kali Wisnu berhasil teramati. Kalau mau lebih gigih, mungkin akan bisa menjumpai jenis lain, macam uceng.

Memang, aktivitas fish watching yang dilakukan di perairan tawar semacam ini jauh dari populer, bahkan mungkin nyaris tidak dikenal. Berbeda dengan aktivitas serupa di bawah laut, sampai-sampai sebutan snorkeling seakan identik dengannya.

Namun, mengamati ikan air tawar di habitat alaminya dapat dikemas untuk rekreasi, bahkan ekowisata. Sebuah cara yang berbeda dalam upaya mengenalkan keragaman jenis ikan lokal, sekaligus mengajak orang untuk lebih peduli terhadap kelestarian sungai dan jenis ikan yang hidup di dalamnya.

Fish watching menjadi bentuk pemanfaatan lebih jauh dari melindungi dan melestarikan ikan perairan tawar. Kegiatan di Kali Wisnu ini terwacanakan dalam sarasehan dan workshop sungai di Dusun Sawahan pada 2025 silam. Pak Irwan yang hadir kala itu, memperkenalkan aktivitas yang pernah diujicobakannya di Yogyakarta.

Diskusi dan sharing bersama para pemuda sebelum aktivitas fish watching pertama, 23 Mei 2026

Mengembangkan fish watching sebagai ekowisata sangat mungkin dilakukan di Kali Wisnu. Masyarakat Dusun Sawahan telah lama meninggalkan praktik-praktik tak lestari dalam pemanfaatan sungai dan ikan. Dulu, saat kemarau adalah waktu terbaik bagi masyarakat Dusun Sawahan melakukan ‘tradisi’ meracun, alias ngobat. Kemarau kini, fish watching yang dilakukan. Kedung Kali Bengang telah menjadi suaka bagi ragalan dan ikan lain. Sebuah lubuk larangan yang patut dikembangkan ke depannya. Ragalan yang hadir kembali itu menjadi bukti keberhasilan upaya perlindungan bertahun, yang telah tertuang dalam kesepakatan bersama. Perencanaan yang matang memang sangat diperlukan dan harus menjadi perhatian utama dalam mengembangkan ekowisata minat khusus fish watching.

Hulu terlihat mendung. Beberapa pemuda yang bertugas mengawasi aktivitas di sungai memberi peringatan agar aktivitas di sungai berhenti. Dan benar saja, tak seberapa lama hujan pun turun.

Anak-anak pulang berganti pakaian. Mereka kembali berkumpul untuk mendiskusikan hasil kegiatan sembari menyantap makan siang. Tahapan awal dalam memperkenalkan fish watching pada pemuda dan anak-anak Dusun Sawahan telah selesai. Dan mereka bersepakat untuk melakukan fish watching­ lagi di lain waktu. Anda tertarik ikut mencoba?

Thursday, July 16, 2026

Rahasia di Balik Racun Gadung dan Pucung: Tanaman Hutan yang Menghidupi Warga Sekitar Hutan dan Menjaga Habitat Owa Jawa

 

Owa Jawa ( Hylobates moloch) menggunakan cabang pohon pucung sebagai perlintasan (Dok Alex Rifa'i)

Oleh : Sidiq Harjanto

Dua spesies tumbuhan hutan ini turut menjaga kelestarian Owa Jawa. Mereka tidak melakukan pemantauan populasi atau patroli pengamanan hutan seperti yang biasa kita lakukan. Namun, keduanya membentuk rangkaian hubungan antara manusia, pengetahuan, hutan, air, dan ekonomi yang membuat konservasi bisa berjalan dengan sendirinya. Dalam ilmu konservasi, hubungan seperti ini dikenal sebagai social-ecological system (SES). Ini adalah kisah umbi gadung dan biji pucung. 

Umbi gadung sekepalan tangan atau beberapa biji pucung bisa membawa akibat fatal jika dikonsumsi tanpa pengolahan. Keduanya sama-sama mengandung racun dosis tinggi. Namun, di tangan masyarakat Sawahan, racun bisa dijinakkan dan diubah menjadi pangan yang lezat dan terus mewarnai dinamika desa dari masa ke masa. 

Sawahan adalah dusun kecil di tepian habitat lima jenis primata Jawa, berada dalam wilayah administratif Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang. Di dusun ini, pangan lokal dan pengetahuan mengolahnya masih terus dirawat hingga sekarang, menjadi bagian integral dari relasi manusia dengan hutan. Ada lebih dari 80 jenis tumbuhan dan jamur liar yang bisa dikonsumsi. Empat tahun terakhir, agenda Pekan Pangan Mendolo rutin digelar, menjadi medium perayaan kedaulatan pangan dan bentuk upaya merawat kepedulian masyarakat terhadap isu pangan dan konservasi alam secara lebih luas.

Produk olahan gadung dan pucung produksi KWT di Sawahan
Pangan lokal dalam pusaran sejarah desa

Gadung adalah jenis umbi khas tropis dengan nama latin Dioscorea hispida. Umbi ini mengandung dioscorin dan sianida yang sangat beracun sehingga berbahaya jika dikonsumsi tanpa melalui proses pengolahan. Pucung atau kepayang adalah jenis pohon hutan yang biasanya tumbuh subur di area sempadan sungai. Memiliki nama latin Pangium edule, kadar racun tertinggi ada pada bijinya. Mengonsumsi biji yang tidak diolah dengan benar bisa menimbulkan efek memabukkan. Dari sanalah istilah “mabuk kepayang” lahir.

Kecerdasan para leluhur kita telah menemukan metode pengolahan yang membuat kedua tumbuhan beracun bisa diubah menjadi bahan pangan yang lezat. Gadung menjadi alternatif sumber karbohidrat ataupun sebagai bahan pangan tambahan seperti keripik. Sedangkan biji pucung diolah menjadi aneka bahan pangan, salah satunya kluwek, bumbu penyedap utama pada makanan legendaris seperti brongkos dan rawon. Di Pekalongan sendiri, ada sup tradisional khas yang menggunakan kluwek sebagai bahan utama kuahnya, dikenal sebagai pindang tetel.

Mengapa masyarakat Sawahan mengolah tumbuhan beracun menjadi bahan pangan? Jawabannya tidak berhenti pada kecerdasan dan keterampilan para leluhur–justru di sinilah terletak keunikannya. Situasi ini membutuhkan interaksi banyak aspek yang saling berkelindan: pengetahuan tradisional turun-temurun, daya dukung lingkungan, hingga insentif yang diberikan oleh sistem ekonomi.

Tidak ada dokumentasi komprehensif bagaimana masyarakat Sawahan memperoleh pengetahuan pengolahan bahan-bahan pangan beracun tersebut. Pengolahan gadung paling jauh bisa ditarik sekitar lima puluh tahun lalu, saat warga dusun ini meniru metode pengolahan gadung menjadi keripik dari warga desa lain. Namun, pengolahan yang lebih sederhana seperti peretan–sejenis nasi dari umbi yang dicacah–telah umum dilakukan sebelumnya. Untuk pengolahan pucung, informasinya malah lebih terbatas. Meskipun demikian, bisa dipastikan tradisinya tidak kalah tua.

Uji coba ekstraksi minyak kepayang

Pengetahuan dan keterampilan saja tidak cukup untuk membuat tradisi ini lestari. Ada faktor daya dukung lingkungan. Alam di Sawahan menyediakan habitat ideal bagi kedua spesies tumbuhan liar itu. Gadung tumbuh subur pada area hutan dengan tanah gembur dan kaya material organik. Pohon-pohon tinggi menyediakan media tumbuh. Dengan batang berdurinya, ia merambat melingkari pohon-pohon raksasa hingga bagian atas untuk mendapatkan paparan cahaya matahari. Putarannya selalu searah jarum jam. 

Wilayah di sekitar kampung dilalui sungai-sungai dengan area sempadan yang lembab, ideal sebagai tempat tumbuh pohon-pohon pucung. Spesies ini paling sering dijumpai pada habitat dataran rendah yang relatif basah, dan pohonnya dipercaya sebagai penjaga mata air. Di Sawahan, pohon pucung raksasa hampir selalu dijumpai di sekitar mata air. Monitoring satwa liar yang dilakukan Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo memberikan informasi empiris yang menarik mengenai peran pohon pucung bagi satwa liar, antara lain daun muda yang dimakan monyet rek-rekan, dan cabang-cabangnya yang memberi fungsi perlintasan bagi owa jawa (Alex Rifa’i, kom.pri.)

Kondisi lingkungan tidak hanya mendukung pertumbuhan spesies, tetapi juga menyediakan “fasilitas produksi” gratis bagi petani. Sungai mengalir sepanjang tahun, menyediakan air sebagai elemen penting dalam penetralan racun, baik pada gadung ataupun pucung. Proses ini membutuhkan perendaman dan pencucian menggunakan air mengalir selama beberapa hari. Tanpa sumber daya air yang melimpah, pemrosesan menjadi tidak efisien. Namun, di sisi lain tanpa merawat hutan–termasuk pohon-pohon pucung–air bisa surut hingga titik kritis. Inilah contoh nyata umpan balik sistemik menggunakan cara pandang SES.

Akses pangan lokal mewakili kepentingan kaum perempuan terhadap hutan

Faktor lain yang penting dalam lestarinya pengolahan pangan lokal adalah adanya insentif ekonomi. Meskipun pemanfaatan secara subsisten juga terus dilakukan, pertimbangan ekonomi kemungkinan besar memiliki porsi tersendiri terutama ketika ketersediaan bahan melimpah. Gadung telah lama diperdagangkan dalam bentuk keripik. Pembelinya sebagian besar adalah tetangga sendiri, membentuk ekonomi mikro yang stabil dan berkelanjutan di lingkup dusun sendiri. 

Menurut cerita sesepuh, dahulu pucung lebih banyak diperdagangkan dalam bentuk blibar–daging biji (endosperma) yang telah dihilangkan racunnya, tetapi tidak difermentasi seperti pada kluwek. Blibar adalah bahan sayur yang bisa ditumis, digulai, atau dibikin rendang. Produk olahan ini konon dijajakan keliling dari desa ke desa. Hari ini, pucung lebih banyak dijual mentah ke pengepul. Blibar sendiri masih bertahan, tetapi lebih banyak dimanfaatkan secara subsisten.

Rek-rekan ( Presbytis fredericae) terpantau memakan daun muda pohon pucung (Dok Alex R)

Sistem pangan sebagai leverage konservasi 

Hubungan kompleks antara pangan – hutan – dan konservasi menjadi titik masuk bagi SwaraOwa. Kami berupaya tidak ada satu program yang berdiri sendiri. Setiap isu terjalin dengan isu-isu lain karena konservasi pada dasarnya menyentuh sesuatu yang bersifat sistemik. Karenanya, program koridor habitat Owa Jawa di Desa Mendolo yang dirintis bersama PPM Mendolo sejak 2023 tidak berhenti pada menanam pohon, tetapi juga membuka aneka peluang lain, termasuk penguatan sistem pangan lokal bagi masyarakat. 

Berawal dari penanaman pohon, berlanjut ke pengembangan produk berbasis pangan lokal oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Brayanurip. Sistem pangan lokal bisa menjadi medium partisipasi bagi kaum perempuan dalam diskursus tata kelola pemanfaatan hutan. Di Sawahan, ruang partisipasi itu diwujudkan dalam upaya inovatif: mendongkrak gadung dan pucung naik kelas menjadi komoditas ekonomi sekaligus penjaga resiliensi pangan.

Kedua komoditas ini dipilih karena nilai historis yang panjang, tersedia melimpah, dan memiliki narasi yang kuat untuk menjelaskan SES. Interaksi panjang masyarakat dengan komoditas-komoditas pangan hutan membangun perpustakaan pengetahuan yang sangat berharga yang sayang jika hilang begitu saja. Kumpulan pengetahuan itu justru menjadi bahan utama untuk meningkatkan nilai tambah pada produk-produk yang selama ini termarginalkan. 

Tiga tahun terakhir, kelompok yang dipimpin Sri Windriyah (Diyah) ini telah melakukan riset pengembangan produk untuk kedua komoditas. Hasilnya adalah tepung gadung dan aneka sambal berbasis kluwek. Harus diakui, memang upaya ini belum mengejawantahkan produk yang dihasilkan secara massal. Namun, capaian tidak selalu tentang berapa banyak produk yang telah dihasilkan. Ia bisa berupa pengetahuan baru–ini tentang data-data teknis, formulasi produk, hingga desain rantai pasok yang akan menjadi fondasi penting bagi pengembangan ke depannya.

Di titik inilah kami sekarang. Datangnya musim kemarau menjadi penanda musim gadung yang akan berlangsung sampai kira-kira bulan September. Tidak lama setelah itu, musim buah pucung menyusul di belakangnya. Bulan-bulan ke depan terus menuntut produktivitas. Seiring dengan selesainya musim panen kopi pada bulan Juli ini, KWT Brayanurip bersiap memulai produksinya. 

Mengapa bentuk tepung dipilih pada gadung dan bentuk olahan kluwek pada pucung? Keduanya memiliki alasan yang mirip: memperpanjang umur simpan, lebih mudah dipasarkan, lebih fleksibel (misalnya tepung menjadi kue atau kerupuk), serta berpeluang membuka pasar baru. Pada aspek pasar, Diyah dan kawan-kawannya menemukan bahwa generasi muda tidak lagi antusias dengan keripik gadung atau blibar pucung. Karenanya, formulasi olahan baru menjadi keniscayaan. 

Gadung dan pucung tidak dipersiapkan untuk sumber ekonomi utama bagi masyarakat. Keduanya menambah nilai ekonomi hutan, melengkapi komoditas-komoditas yang lebih dulu eksis seperti kopi, durian, kapulaga, dan madu. Skema ini membentuk bantalan ekonomi yang lebih kuat sekaligus mempertahankan keanekaragaman hayati pada lahan-lahan produktif yang dikelola.

Pada konteks resiliensi pangan terhadap perubahan iklim, kiranya gadung bisa menjadi studi kasus menarik. Ia memiliki beberapa keunggulan bila dibandingkan dengan komoditas pangan lain, baik yang berbasis umbi maupun serealia. Salah satu keunggulan yang patut dicatat adalah kemudahan tumbuh dan ketahanan. Gadung cenderung tumbuh liar di hutan dan dipelihara oleh sistem alam itu sendiri. 

Karena mengandalkan alam, waktu yang perlu diinvestasikan dalam produksi tepung gadung hanya terbatas pada pemanenan dan pengolahan pasca-panen, yang kira-kira membutuhkan satu minggu. Angka ini sebenarnya sangat jauh dibandingkan dengan komoditas lain seperti singkong dan talas yang membutuhkan upaya penyiapan lahan, penanaman, perawatan berkala, bahkan pengamanan dari konflik satwa liar. 

Berdasarkan riset yang dilakukan KWT, untuk mendapatkan satu kilogram tepung, diperlukan kurang lebih 9 sampai 10 kilogram umbi segar. Dari tanaman yang sehat, angka itu bisa diperoleh dari satu rumpun saja. Berbeda dengan pangan lain seperti padi, singkong, atau talas yang sering diakses satwa liar, nyaris tidak ada satwa yang mendekati umbi gadung. Tantangan ke depan menjadi lebih bisa dikerucutkan: mengembangkan metode budidaya sederhana untuk produksi yang lebih terkontrol, dan memastikan akses pasar yang mengapresiasi produk akhir. 

Krisis iklim yang semakin nyata mengancam penyediaan pangan kita di masa depan. Gadung dan pucung berpotensi menjadi barier proteksi ketahanan pangan masyarakat desa. Hanya saja, ini bukan semata tentang melestarikan tanaman-tanaman itu, namun juga pengetahuan mengolahnya. Yang diwariskan bukan sekadar tanaman, melainkan kemampuan mengubah racun menjadi pangan. Kepunahan data dan informasi yang terkandung dalam pengetahuan tradisional sama mengerikannya dengan kepunahan spesies itu sendiri.

Konservasi tidak cukup dengan menjaga hutan agar pohon tetap berdiri. Konservasi juga menjaga hubungan antara manusia, pengetahuan, dan lanskap yang membuat hutan tetap bernilai. Gadung dan pucung menjadi bukti bahwa ketika masyarakat memperoleh manfaat dari hutan, mereka memiliki alasan untuk ikut menjaganya. Pangan adalah daya ungkit konservasi yang patut kita perhitungkan, karena ia menyentuh titik nadi kehidupan.

Kami ucapkan terima kasih kepada Yayasan Astra Honda Motor, PT Musashi Auto Parts Indonesia, PT Astemo Bekasi Manufacturing, PT Yutaka Manufacturing Indonesia, dan PT Suryaraya Rubberindo Industries atas dukungan terhadap program penguatan kelompok KWT Brayanurip pada tahun ini. Apresiasi juga disampaikan kepada narasumber yang membuat artikel pendek ini terwujud: Biyung Mirah, Pak Casbari, Pak Kaliri, Sri Windriyah, Rohim, Alex Rifa’i, para ibu di KWT Brayanurip dan kawan-kawan PPM Mendolo. 


Saturday, May 23, 2026

Dari Pekalongan ke Siberut: Petualangan Konservasi dan Budaya mentawai

 

bersama tim menggunakan pompong

oleh : Iman sofiana

Petualangan baru hidup saya kali ini dimulai dari Stasiun Pekalongan,  untuk pertama kali menapakkan kaki menuju tanah Sumatera dan langsung ke bagian terjauhnya yaitu pulau Mentawai. Tujuan utama kami ke pulau Mentawai adalah untuk survei populasi Owa bilou dan primata endemik, Mentawai di Kawasan Taman Nasional Siberut. Bersama dengan staff Swaraowa kami menggunakan kereta api menuju Jakarta. Sampai di Jakarta pada pagi hari, kami langsung bergegas menuju bandara Soekarno-hatta untuk terbang ke Padang. Penerbangan kali ini adalah penerbangan yang pertama pertama bagi saya. Saya merasa campur aduk diantara tegang dan grogi namun juga penasaran bagaimana rasanya terbang. Bingung, mungkin adalah kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaan saya yang masih antusias dengan perjalanan ini.

Rasa tegang seketika sirna ketika datang rasa takjub dan seru ketika saya melihat pemandangan awan dan langit biru beriring dengan getar pesawat saat mengudara. Pengalaman terbang kali pertama ini, tak akan terlupakan untuk saya. Saya cukup terkejut ketika tiba-tiba terdengar suara pramugari yang khas dan memberitahukan bahwa pesawat segera landing di bandara Internasinonal Minangkabau. Tidak terasa ternyata perjalanan secepat itu, hanya dalam 1 jam 50 menit kami sudah tiba di Padang. Sore hari kali ini saya mengantar tim Swaraowa untuk presentasi di Balai Taman Nasional Siberut yang kami lanjut dengan menginap semalam di Padang karena esok pagi kami harus menyeberang ke pulau Mentawai.

burung tepekong 

Selasa 21 April 2026, kegiatan kami mulai pukul 05.00 pagi untuk bergegas dari hotel menuju ke pelabuhan untuk naik kapal cepat mentawai fast menuju pulau Siberut. Di sini saya juga baru tahu bahwa Mentawai adalah nama gugus kepulauan dan tujuan kami adalah pulau terbesar di gugus tersebut. Ternyata memang berbeda rasanya naik kapal ferry dan kapal cepat. Laju 30 knot dengan angin sepoi di galangan atas terasa sangat cepat laju kapal kami ini. Kebetulan kami menyebrang pada cuaca buruk, sehingga saya pun merasakan guncangan ombak Samudra Hindia yang cukup membuat pusing. Karena mulai gerimis saya turun untuk duduk di kursi peunumpang dan segera tidur agar tidak semakin mual. Selama 5 jam perjalanan kami lalui dan akhirnya tiba juga waktunya saya menapakkan kaki di pulau Siberut.

Setibanya kami di Sikabaluan yang merupakan kota kecamatan di Siberut Utara, pada siang hari kami langsung mengadakan pelatihan dan koordinasi untuk kegiatan survei di esok harinya. Pelatihan singkat ini dilakukan di kantor Seksi Taman Nasional Siberut dan materinya mengenai metode pengumpulan data dengan point count dengan menghitung suara Greatcall Owa bilou betina serta penggunaan aplikasi penunjang kegiatan survei ini. Setelah sesi pelatihan dan perkenalan selesai, kami langsung membagi tim jadi 3 dan saya masuk di tim Bojakan 2 yang akan survei ke arah hutan di sekitar sungai Belingken. Hari ini kami tutup dengan packing peralatan, logistik dan perlengkapan pribadi dan dilanjutkan dengan tidur.

burung kehicap ranting

 Rabu 22 April 2026, pukul 10.00 wib kami berangkat mengarungi sungai Sikabaluan menuju  desa Bojakan ditemani birunya langit tanpa polusi dan hembusan sepoi yang sejuk. Hijaunya pohon-pohon hutan ditepi sungai dengan deru mesin 50 cc mendorong sampan kayu utuh membuat suasana jadi membuat saya terlelap di atas sampan. Kami sempat sandar di tepi sungai yang tanahnya berlumpur untuk makan siang setakah 3 jam perjalanan. Di lokasi ini 1 sampan yang membawa tim Bekemen berpisah dengan kami 2 sampan tim Bojakan. Semakin menuju hulu air sungai semakin dangkal yang membuat mesin pompong bekerja keras yang akhirnya jebol mesinnya. Peristiwa ini menambah pengalaman baru untukku karena mendorong sampan di rintik gerimis syahdu, untungnya perjalanan tinggal 500 Meter lagi. Dibantu supir yang menggunakan sebilah bambu untuk mendorong pompong ketika melewati ‘kedungan’, setelah 5 jam perjalanan tibalah kami di Desa Bojakan. Kami menginap 1 malam di desa untuk istirahat dan koordinasi untuk esoknya kami mulai perjalanan lagi menuju site.

Kamis pagi selepas sarapan dengan pompong baru milik warga lokal dengan kernetnya, saya, Pak Ila, Bang Erkanus dan Mas Ari  kembali mengarungi sungai. Kali ini menyusuri sungai Belingken menujuk titik koordinat survei kami. Dangkalnya arus sungai ini sungguh menantang karena membuat kami harus menguras tenaga ekstra. Pompong dengan logistik 5 hari survei harus kami dorong sepanjang kira-kira 1,5 KM. Sampai dihulu kami memutuskan untuk beristirahat dan makan siang di pondok ternak babi tepi sungai. Setelah survei bukit target ‘LPS’ akhirnya kami putuskan untuk camp di pondok babi ini. Sebenarnya saya agak kurang nyaman dengan bau sagu busuk sisa pakan ternak bercampur bau kotoran babi. Namun demi kelancaran survei saya harus melawan shock culture pertama saya ini, mohon dimaklumi di Mendolo tidak ada orang pelihara babi ‘hehe’. Malam pertama mencoba terbiasa dengan aroma ternak ini saya rebahan dan mendengar cerita lokal tentang kepercayaan pada pohon hutan yang mempunyai roh nenek moyang dan pantangan yang tidak boleh dilakukan selama di hutan.  Saya merasa survei ini saya akan mendapat banyak cerita budaya Mentawai dari yang magis hingga yang logis ‘hehe’.

di atas pompong alat transportasi utama di siberut

Pagi hari Jumat 24 April 2026, sebelum matahari terbit kami harus berjalan menuju titik ‘LPS’ yang berjarak 700 M dari camp karena hari ini adalah hari pertama kami mengambil data. Sesuai cerita survei sebelumnya jam 5.45 morning call terdengar dari beberapa dan kami mulai mencatatnya sesuai prosedur. Namun sayangnya kami tidak ada satupun greatcall yang terdengar dari LPS kami hingga jam 10.00.  Waktu tersebut adalah waktu terakhir pengambilan suara sehingga kami harus kembali ke camp untuk sarapan bagi tim Bilou maupun tim babi di bawahnya hehe. Seperti biasa saya melewati malam dengan cerita-cerita kearifan lokal sambil berjuang menghadapi nyamuk dan agas.

Hari kedua survei mungkin adalah hari keberuntungan kedua saya setelah bertemu Habib Syeikh di bandara pada saat saya berangkat kali ini saya bisa melihat Owa Bilou. Kira-kira arah 16° dari LPS  dengan jarak 400 M, 3 individu terlihat berpindah dari pohon ke pohon dengan cepat sehingga kami tidak sempat mendokumentasikan momen ini. Hari ini saya pulang menuju camp dengan gembira. Sayangnya sampai di pondok, tim kami baru sadar bahwa kami mulai kehabisan logistik. Untuk mengatasi hal itu, memanfaatkan keberuntungan saya, Alhamdulillah saya bisa menambah lauk dengan memancing ikan dan mencari udang untuk semua orang.

Lanjut cerita dihari ke-tiga, ternyata pak Erkanus lupa membawa mie instan yang sudah dibeli untuk tim sehingga saat ini tim kami diliputi kegalauan  bahan pangan yang sudah menipis. Untungnya setelah menunggu 2 hari akhirnya kami bisa mencatatkan suara Greatcall yang membuat kami merasa kerja keras ini tidak sia-sia. Walaupun ketika sampai pondok saya galau lagi karena stok lauk yang menipis dan pas mancing dapatnya ya ikan kecil. Sekembalinya saya dari mancing, di pondok ternyata ternyata teman-teman lokal sudah menyembelih babi ternak kecil untuk merayakan data yang kami dapat katanya, aslinya ya karena lauk sudah habis hehe. Agar semua senang, karena saya muslim saya goreng ikan hasil mancing tadi dan lanjut makan malam bersama.

Senin 27 April 2026 adalah hari terakhir kami survei di titik ini. Gerimis di pagi hari dan cuaca yang agak mendung mungkin membuat Bilou tidak berbunyi di hari ini. Namun mengingat hari ini adalah hari terakhir di hutan Bojakan kami tetap menjaga semangat untuk menyelesaikan survei ini. Sebelum pulang dari pondok kami mengisi tenaga dengan sisa daging babi dan ikan goreng untuk saya. Hal ini karena kami harus berjalan kaki selama 2 jam terlebih dahulu akibat air yang semakin dangkal. Sebelum pulang ke Sikabaluan kami bertemu dengan tim Bojakan 2 di desa untuk menyelesaikan urusan administrasi dan lanjut berangkat ke hilir dengan pompon. Perjalan pulang menuju hilir tidak seberat ketika berangkat dan kamipun kembali tiba di kantor Resort hanya dalam 3 jam perjalanan.

Rencana awal kami akan menyeberang pada hari Selasa namun karena tim Swaraowa dan tim survei lokal masih harus rapat terlebih dahulu kami pun memutuskan untuk menyeberang besok di hari Kamis. Karenanya saya manfaatkan waktu untuk menikmati pantai, ombak, sepoi angin dan tentunya sunrise Siberut Utara. Desir tenang ombak, angin sepoi, gumpalan awan bersirat jingga keemasan, dan redup perahu-perahu nelayan jauh di  tengah Samudra membuat saya bersyukur akan harmonisasi suasana hangat ini yang menjadi penutup cerita saya di Siberut. Esok siang saya harus kembali menuju padang dan menginap semalam sebelum kembali ke Jawa.

Tepat sebelum meninggalkan pulau Sumatera saya, mas Adin dan mbak Aolia sempat memotret Lutung kelabu di rawa-rawa depan bandara Minangkabau. Mentawai bagi saya adalah harmonisasi hutan, laut, dan kearifan lokal yang berusaha menuju keseimbangan dengan segala perjuangannya. Menurut saya hutan bagi Masyarakat lokal Mentawai adalah ruang hidup sakral yang harus dihormati. Untuk menutup cerita, saya buatkan jargon tim Bojakan 2 yaitu “Makan babi boleh, primata jangan” catatan besar kecuali untuk acara adat hehe.