Friday, May 20, 2022

World Bee Day 2022: dari Anton Jansa sampai konservasi hutan habitat owa jawa

 Oleh : Sidiq Harjanto



Pada tahun 2017, Slovenia mengajukan sebuah proposal usulan untuk memperingati Hari Lebah Dunia (World Bee Day) setiap tanggal 20 Mei. Tanggal tersebut merupakan hari kelahiran tokoh bernama Anton Jansa (1734-1773), seorang peternak lebah legendaris asal negeri balkan tersebut. Jansa telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya bagi pengembangan budidaya lebah. Beberapa prinsip penting budidaya lebah dan sistem pengelolaan apiari modern lahir dari tangan dinginnya.

Pada akhir 2017, PBB menerima usulan tersebut sehingga mulai 20 Mei 2018, masyarakat dunia memperingati Hari Lebah Dunia. Hari ini merupakan tahun kelima perayaan tersebut, mengambil tema “Bee Engaged: Celebrating the diversity of bees and beekeeping systems.” Momen ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya keanekaragaman jenis lebah dan variasi sistem budidayanya. Juga mengingatkan kita semua mengenai ancaman dan tantangan yang dihadapi lebah seperti: hilangnya habitat, perubahan iklim, dan pencemaran lingkungan.

Harus diakui, peran Slovenia bukan saja dalam mewujudkan peringatan Hari Lebah Dunia, tetapi juga dalam upaya pengembangan praktik-praktik budidaya lebah yang berkelanjutan. Slovenia sendiri, sejak abad ke-7 hingga saat ini memiliki reputasi yang sangat baik dalam bidang perlebahan. Di sanalah berbagai teknik budidaya lebah madu berkembang. Keuletan para peternak membuat lebah Apis melifera carnica (lebah karniola) sebagai subspesies asli Slovenia menjelma menjadi salah satu lebah madu paling unggul.

Ada beberapa prinsip mendasar dalam praktik budidaya lebah oleh masyarakat Slovenia: berdampingan erat dengan lebah, gaya hidup berkelanjutan, dan produksi pangan lokal. Prinsip-prinsip itu mengantarkan negara berpenduduk 2,1 juta itu menjadi leader dalam budidaya lebah. Slovenia adalah negara dengan jumlah peternak lebah dengan jumlah fantastis dihitung secara perkapita. Kantor Statistik Slovenia mencatat bahwa nyaris lima di antara seribu orang warganya adalah peternak lebah!

Jansa, selain mewariskan teknik budidaya modern juga memberi contoh sebuah relasi indah antara manusia dengan lebah. Ia yang memiliki talenta melukis menggunakan kotak-kotak lebah sebagai media berkreasi, menjadikannya media untuk lukisan indah berwarna-warni. Hingga sekarang, kotak-kotak berhias lukisan itu masih menjadi tradisi bagi peternak lebah di sana. Sebuah praktik yang unik dan menggembirakan ketika budidaya lebah tidak saja berhenti pada tataran teknis, tetapi merentang ke spektrum yang lebih luas.

Lalu apa yang bisa kita ambil dari kisah Anton Jansa, Slovenia, dan Hari Lebah Dunia? 

Bagi Swaraowa, ada kesan emosional tersendiri bahwa pekerjaan kami dalam pengembangan perlebahan memiliki rentang waktu yang beriringan dengan sejarah Hari Lebah Dunia. Baru sekira lima atau enam tahun kami berpartisipasi dalam pengembangan teknik budidaya lebah bagi masyarakat di sekitar habitat owa jawa di Petungkriyono dan Lebakbarang. Memang usia yang masih sangat muda dalam konteks tradisi budidaya, sangat jauh bila dibandingkan dengan apa yang diwariskan Jansa dan Slovenia. Namun, bukankah setiap perjalanan selalu dimulai dengan satu langkah pertama?

Kegiatan pelatihan lebah di tahun 2017


Kita di Indonesia tidak memiliki lebah karniola, si lebah unggul dari Slovenia. Namun jangan lupa, kita adalah negara yang memiliki keanekaragaman jenis lebah madu (Marga Apis) tertinggi di dunia, salah satunya A. cerana yang telah lama dibudidayakan secara tradisional oleh masyarakat perdesaan di Indonesia. Kita juga memiliki lebih dari 40 jenis lebah tanpa sengat (Meliponini). Itulah ladang besar yang mesti kita garap. Upaya memasyarakatkan budidaya lebah perlu terus digalakkan. Pengembangan teknik pemeliharaan jenis-jenis lebah asli atau native menjadi kunci kesuksesan mewujudkan tradisi, persis seperti yang dilakukan oleh rakyat Slovenia dengan karniolanya.

Budidaya lebah di antara tanaman kopi-hutan


panen madu dari kotak lebah klanceng 


Kami percaya bahwa budidaya lebah bukan saja menjanjikan manfaat ekonomi berupa produk lebah bernilai ekonomi tinggi: madu, beepollen, propolis, lilin; dan juga jasa besar bagi ekosistem: penyerbukan. Lebih dari itu, budidaya lebah bisa merekatkan kembali relasi manusia dengan alam yang kian hari kian merenggang tergerus oleh zaman. Sejak awal, kami telah memiliki keyakinan bahwa tradisi budidaya lebah bisa menjadi media dalam membumikan isu-isu konservasi hutan, termasuk mempromosikan perlindungan dan pelestarian owa jawa.

 Kegiatan bididaya lebah untuk mendukung upaya pelestarian Owa Jawa


Hari ini juga (20 Mei)  tatkala Hari Lebah Dunia bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Jika pada 1908 berdirinya Boedi Oetomo menandai bangkitnya kesadaran untuk memerdekaan bangsa melalui nasionalisme dan persatuan, maka pada saat-saat ini kita bisa pula mengambil momentum peringatan itu untuk membangkitkan semangat mengelola sumber daya alam kita dengan lebih baik. Salah satunya melalui budidaya lebah.

Selamat Hari Lebah Dunia!