Tuesday, October 29, 2019

Pelatihan Pemodelan Distribusi Spesies menggunakan MaxEnt untuk Konservasi Primata Indonesia


Oleh : Luhur Septiadi
Jurusan Biologi, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang, Indonesia, 
email : luhur.septiadi@gmail.com

Sebagai agenda lanjutan dari Simposium dan Kongres Primata pada 18-20 September 2019 lalu, maka dilaksanakan Workshop MaxEnt sebagai upaya konservasi Primata di Indonesia. Kegiatan ini diselenggarakan bekerjasama dengan Jurusan Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang. Kegiatan ini dilaksanakan mulai dari 25-26 Oktober 2019 dan diikuti oleh sebanyak 25 peserta yang telah diseleksi sebelumnya,  dari berbagai macam universitas, komunitas, praktisi BKSDA, NGO, dan berbagai macam instansi lain dari Jawa dan ada juga beberapa peneliti dari Kalimantan.

Kegiatan ini eksklusif dilaksanakan di Malang, dalam upaya meningkatkan  kapasitas peneliti muda dan juga berjejaring dengan pegiat konservasi primata dan satwaliar khususnya yang ada di Jawa Timur. Acara ini diisi dengan pengenalan teori pada hari pertama sekaligus praktik pemodelan distribusi yang dilaksanakan pada hari berikutnya. Agenda pertama diisi oleh Iwan Kurniawan dari  Javan Langur Center- Aspinall Foundation Indonesia Program, yang menjelaskan terkait pengetahuan dasar mengenai primata di Indonesia, pola perdagangan primata di Jawa, perlakuan dalam konservasi primata, proses rehabilitasi primata, sekaligus upaya konservasi yang sejauh ini telah dilakukan khususnya di wilayah Jawa Timur diantaranya di Coban Talun dan Pantai Kondang Merak. Dari pemaparannya, upaya konservasi primata khususnya di Jawa Timur memerlukan perhatian yang lebih.

Agenda selanjutnya diisi oleh Salmah Widyastuti, Mahasiswi Program Magister Biologi Institut Pertanian Bogor, yang menjelaskan terkait Pengantar Model Distribusi Spesies menggunakan MaxEnt. Melalui penelitiannya tentang model kesesuian habitat Owa Jawa di daerah Jawa Tengah, dapat diketahui bahwa habitat dari Owa Jawa telah terfragmentasi, berdasarkan variabel lingkungannya berupa hutan alami, ketinggian, jarak ke wilayah produksi, dan temperatur. Dari sini, peserta dapat memahami cara kerja dan penggunaan MaxEnt untuk konservasi primata, yang kemudian akan dilanjutkan keesokan harinya untuk praktiknya dalam aplikasi secara langsung.
Foto Bersama peserta Workshop MaxEnt di Ruang Sidang Jurusan Kehutanan, UMM 2019

Keesokan harinya, agenda pelatihan MaxEnt dipandu langsung oleh Swiss Winasis dari Burungnesia. Peserta dibimbing secara intensif, dalam pengoperasian platform penganalisis spasial seperti ArcGIS dan MaxEnt. Dari praktiknya secara langsung, diketahui bahwa penggunaan MaxEnt akan lebih efektif apabila yang dimodelkan distribusinya merupakan spesies spesifik, memiliki preferensi habitat tertentu, dan dalam skala yang lebih luas.

foto bersama perserta pelatihan di hari ke-2

Pemodelan distribusi habitat dari suatu spesies spesifik khususnya primata sangatlah diperlukan dewasa ini, mengingat konversi lahan dan deforestasi di pulau Jawa yang kian hari kian meningkat. Keberadaan satwa-satwa primata di Indonesia sangatlah penting untuk di lestarikan, dan diharapkan peserta workshop kali ini dapat menerapkan ilmu yang didapatkan, untuk diterapkan ke lingkungan dan bidang ilmunya masing-masing. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan upaya konservasi Primata di Indonesia juga semakin mendapatkan prioritas dan perhatian lebih di seluruh lapisan dan elemen masyarakat.

Acara Workshop MaxEnt – Post Congress Training Program, Indonesia Primate Symposium & Congress 2019, dengan tema “Pemodelan Distribusi Spesies & Aplikasinya dalam Konservasi Primata Indonesia”, terselenggara berkat dukungan dari banyak pihak diantaranya Jurusan Kehutanan Universitas Muhammadiyah Malang, Perhimpunan Ahli dan Pemerhati Primata Indonesia (PERHAPPI), Kongress PrimataIndonesia, ARCUS Foundation, dan SwaraOwa.

Informasi mengenai rangkuman dalam cara dan penggunaan terkait teknis dalam analisis MaxEnt, dapat diunduh pada link dibawah ini.


Thursday, October 24, 2019

Pelatihan Metode Survey Primata untuk Hari Owa Sedunia



Untuk ke 7 kalinya tahun ini, proyek kopi dan konservasi primata menyelenggarakan acara tahunan untuk mengarus utamakan konservasi Owa di Indonesia. Seperti acara-acara sebelumnya acara ini di laksanakan bekerjasama dengan Kelompok Pemerhati dan Peneliti Primata (KP3 Primata) dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, sebagai panitia teknis acara. Tanggal 11-13 Oktober 2019,  sebanyak 25 peserta dari berbagai universitas , organisasi komunitas, BKSDA, Perhutani,  juga turut hadir dalam acara ini.

Acara tahun ini juga dilaksanakan untuk merayakan hari Owa internasional, yang di peringati setiap tanggal 24 Oktober 2019. Acara International Gibbon day sendiri juga di promosikan oleh IUCN gibbon specialist group, dan biasanya di adakan secara global di berbagai negara habitat asli owa owa, dan para peneliti dan pemerhati Owa di dunia. Acara ini dapat di ikuti di sosial media dengan hashtagh #IGD2019 atau #InternationalGibbonDay.
Foto bersama peserta MSP 2019

Tanggal 11 Oktober 2019, para peserta yang di organize oleh panitia yang di ketuai Giot Simanulang, sudah mulai berdatangan ke sokokembang, tercatat ada perwakilan dari Jakarta (UIN), Bandung ( Unpad), Yogyakarta (UGM), Semarang (Undip), kelompok pecinta alam, kelompok pegiat wisata di kabupaten Pekalongan, dan beberapa peserta yang merupakan warga di sekitar habitat Owa di Kecamatan Petungkriyono . Peserta tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kalau sebelumnya kita mengirim undangan untuk lembaga, atau kelompok studi untuk mengirimkan perwakilan peserta, namun kali ini peserta tahun ini di buat terbuka tidak dengan undangan namun dengan mengirimkan surat motivasi, menyebutkan alasan kenapa ingin bergabung ikut acara ini dan menceritakan sedikit latar belakang kegiatan yang sudah dilakukan.  Yang menarik dari sebaran peserta tahun ini ada dari sekitar habitat Owa sendiri dan yang terjauh dari Sumatera Utara, mahasiswa Universitas Padjajaran Bandung.


Acara dibuka langsung oleh perwakilan pemerintah desa Kayupuring, yang di wakili oleh Bapak Markuat kepala dusun Sokokembang, pak kadus memperkenalkan kepada peserta bahwa Sokokembang ini terkenal sebagai tempat wisata pendidikan, yang datang kesini biasanya untuk belajar tentang hutan dan segala isiniya. Panitia acara dari KP3 Primata juga memberikan sambutan selamat datang kepada peserta dan menjelaskan acara akan dimulai malam ini dengan materi pengantar oleh tim swarowa tentang metode line transect untuk survey primata.
Hari ke dua 12 Oktober 2019, jam 6.30 smua peserta sudah bersiap untuk menuju hutan untuk praktek lapangan metode line transek, ada 3 jalur yang sudah disiapkan oleh tim swaraowa,dengan peserta juga di damping oleh pemandu dari warga setempat. Beberapa peserta yang baru pertama kali masuk hutan dan merasakan langsung susahnya topography di hutan sokokembang ini. Pengalaman ini juga di ungkapkan beberapa peserta langsung dan berikut komentar salah satu peserta dari Sumatera Utara.
Mas Anton bercerita tentang pengalaman lapangannya

Acara sore hari tanggal 12 oktober adalah sesi sharing dari pembicara tamu, yaitu mas Anton Nurcahyo dari BOS foundation, dan Mbak Salmah  Widyastuti mahasiswa pascasarjana Institute Pertanian Bogor. Mas Anton menceritakan pengalamannya sejak mahasiswa S1 hingga saat ini. Pengalaman organisasi di kampus dan aktif dalam kegiatan Pengamat burung di Yogyakarta, menjadi motivasi awal mas Anton untuk terus berkegiatan terkait dengan konservasi alam, kemudian bergabung dengan WCS Indonesia di sumatera selatan untuk penelitian siamang dan ungko. Setelah dengan WCS mas anton sempat bergabung dengan TNC dan BOS Foundation untuk konservasi Orangutan.Penelitian terbaru dari mas Anton adalah tentang Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) dimana beliau salah satu yang terlibat langsung untuk meneliti sampel sampel tengkorak orangutan di seluruh dunia yang ada terutama yang ada di museum-museum sejarah alam.
Persiapan sebelum ke hutan

Pembicara kedua acara ini adalah mbak Salmah Widyastuti yang mempresentasikan tentang penelitiannya di Pegunungan Dieng untuk kesesuaian habitat Owa jawa. Penelitian ini sedang berjalan dan hasil awal penelitian ini menyebutkan bahwa sebaran owa jawa ini meliputi di 4 kabupaten, yaitu Batang, Pekalongan, Banjarnegara, dan Wonosobo, dan wilayah hutan di kabupaten Pekalongan merupakan wilayah dengan kesesuaian habitat tertinggi untuk Owa Jawa.

Hari ketiga, 13 oktober 2019, acara pelatihan untuk metode vocal count, khusus untuk Owa Jawa, metode ini menggunakan suara Owa sebagai dasar untuk estimasi populasi dan distribusi Owa, dengan menyiapkan titik-titik pengamatan sebagai Listening Post, peserta sudah mulai di lokasi sejak pukul 06.00 pagi, mencatat setiap suara yang terdengar, mencatat arahnya dan mengestimasi jaraknya. Mengenali suara owa juga menjadi pengalaman berbeda bagi para peserta, ada 2 lokasi yang mana perta menggunakan sebagai titik pengamatan (LPS), pengambilan data dilakukan hingga jam 8.30, dimana setelah jam ini sudah tidak terdengar ada owa yang bersuara lagi. Kemudian peserta kembali dari lapangan untuk menganalisis data yang diperoleh selama pengamatan suara dan mempresentasikan hasil pengamatan yang dilakukan.

Acara pelatihan MSP ini menjadi acara tahunan di Sokokembang bekerjasama dengan teman-teman dari KP3 Primata dan Forestation Fakultas Kehutanan UGM, dan acara yang ke-7 kali ini merupakan bagian dari kegiatan ProyekKopi dan Konservasi Primata yang didukung oleh Wildlife Reserve Singapore, Ostrava Zoo, dan Fortwayne Children’s Zoo.

Wednesday, September 25, 2019

Mentawai Primates : Strengthen cultural Identity and Grassroots Conservation

written by : Arif Setiawan
Kloss's Gibbon Photograped by Ismael, a day before departure to Yogyakarta


Biggest meeting of  Indonesian Primate  enthusiast have been done this week in Yogyakarta, 18-20 September 2019. Nearly 300 people gathered together, participants, invited guest, and officials, Indonesian primate enthusiast coming with their recent presentation talk and posters. Here I notice my personal insight towards Mentawai primates and it’s conservation effort on during the conference.
 
First, about opening ceremony, it has been long discussion with organizing committee, to perform something entertain but related to Indonesian primates. Than come up with two option i.e  : hanuman classic dance or Mentawai Primate traditional dance, than the committee select Mentawai primate dance that will be perform during opening ceremony. 
dance training before the real stage, it was in Uma

Seprianus perform as an eagle flying, training in Uma

Honestly it was not easy to make it, fortunately we have been working with a Mentawaian community since several years ago, with the Uma Malinggai Traditional Mentawai, so I talk to the team in Uma about this plan and to do  perform traditional dance from Mentawai, introducing mentawai culture and nature to the special guest of Indonesian primate congress and symposium. . So  the team prepare all the things in less than one month, 6 students from southern siberut  was selected by UMA elders to come and perform in the opening ceremony of the 5th congress of Indonesian Primatological Association and symposium on  Indonesian primates. 

Every week I got update from Siberut, this is will be the first experience of these mentawaian going out far away from their home. While the dance team always send me update during practice, and dance have decided will perform about Mentawai gibbon dance and bird of prey dance.  

Long way trip, from Siberut to Yogyakarta, have made some Uma members are exhausted,  6 hours by ferry, a night stop at Padang than fly to Jogjakarta, 14 September leaving for Yogyakarta, and arrived on 16 September. One day arrived in Yogya this Mentawai team have opportunity to do dance exercise in the venue and prepare all the things with conference  organizer team.

On the day, opening ceremony everybody are nervous, when the host calling and introduction all dancers are so gorgeous and amazing, they did so confidence and attract audience. Watch here for their performance :


This dance  are perform usually for traditional ceremony in Mentawai, there are 3 gibbons who live  happily in the forest and looking for water to drinks.

Mentawai primate talks, compare to number of Mentawai primates species,  there are still lack of research and conservation works in Mentawai, I noticed some talks presentation about Mentawai primates, and meet people who work and interested on Mentawai Primate conservation fieldwork. There are 3 presentation talk about Mentawai primates, first is on the Biomedical and Biomolekular Symposium, Rizka Hasanah from Bogor Agricultural University, present her research entitled with Analisis Keragaman Genetik berdasarkan marka D-loop mtDNA dan gen TSPY pada Siamang Kerdil (Hylobates klossii) Kepulauan Mentawaifrom her presentation the conclusion is there is four haplotype based on mtDNA of Kloss gibbon in Mentawai, however need more sample for to get more information on the genetic.

Mentawai wildlife watching trip, have been launch during  Indonesian Gibbon Symposium 

Second talk is from Damianus Tateburuk, replace his colleague Ismael Saumanuk for a talk entitle with “ Gibbon Watching : Promosi Konservasi Primata Mentawai”, a collaborative work between Uma Malinggai and my team at swaraowa to promote conservation of Mentawai primates. Dami was said that we have been prepare sites for primate watching and launch a trip for primate watching in Mentawai,with a wildlife tour based in Yogyakarta (Loontour). Pocket guide of Mentawai also have been finished and ready to use for educational purposes among mentawaian and field guide reference. And my talk it self is about distribution status of kloss gibbon in Mentawai, based on 2011-2012 survey and 2017 fieldwork. I met two other students have been doing study in Mentawai for Siberut langur ( Presbytis poteziani) and Kloss's gibbon ( Hylobates klossii) however they do not give any presentation. Simakobu  (Simias concolor) and Mentawai macaques (Macaca siberu and Macaca pagensis)  haven't any update from participants. 


Pocket Guide of Mentawai Primates : a field guide reference for primate watching in Mentawai Island. official introduction conducted at NGOPI (Ngobrol Primata Indonesia), collaborative authors for this pocket guide book are : Kasih Putri Handayani, Ika Yuni Agustin, who did field work in Northen Siberut in 2011, and three members of Uma , i.e Mateus Sakaliau, Ismael Saumanuk, And Damianus Tateburuk. This book available for sell and can be purchased at Swaraowa’s booth during the conference, if you want to buy online please do through this link.

Pocket guide of Mentawai Primates

It was a great opportunity to introduce Mentawai primates and it’s cultural value among primatologist, with hope will gain more attention to support conservation fieldwork in Mentawai. The most important is to bring new experience and motivation for the Mentawaian who involved directly in this meeting, I am sure they will back to their native habitat with good memories that their primates and culture value received highest appreciation.

Monday, September 23, 2019

Konservasi Primata Jawa dengan Board Game OWA

Oleh : Nur Hidayat & Nunuk Riza Puji , SMAN 1 Petungkriyono

"Life of the gibbon " Owa Board Game

Pelestarian Owa Jawa di Hutan Lindung Petungkriyono telah dan sedang dilakukan oleh banyak pihak, pemerintah, mahasiswa, peneliti, lembaga swadaya masyarakat, komunitas, dan juga warga sekitar hutan. Namun, generasi muda khususnya anak-anak sekolah sepertinya belum menjadi prioritas untuk menjadi pelaku langsung yang berkontribusi untuk konservasi Owa.
Siswa sekolah sebagai generasi penerus  seharusnya merupakan target prioritas untuk menghadapi tantang upaya konservasi Owa, sebagai generasi muda yang akan menjadi pelaku konservasi di tahun-tahun mendatang, setidaknya ada pengetahuan tambahan  tentang Owa Jawa, sebagai satwa yang ada di sekitar sekolah mereka. Pengetahuan ini meskipun ada dalam mata pelajaran sekolah, namun dengan keterbatasan sarana, waktu dan tenaga kadang informasi penting tentang Owa ini tidak di ketahui oleh anak-anak sekolah. Invoasi pembelajaran dan pengalaman lapangan juga menjadi tantangan tersendiri untuk mengenalkan muatan-muatan lokal yang sebenarnya bisa menjadi identias global untuk anak-anak dari habitat owa ini.



Pengenalan board game “OWA” ini berlangsung di sela-sela acara Simposium dan Kongres Primata 18-20 September 2019, Perhimpunan Peneliti dan Pemerhati Primata Indonesia, dengan presentasi oral berjudul “ Memperkenalkan konservasi Owa Jawa dengan media Boardgame”. Acara terbesar pertemuan ahli dan pemerhati primata di Indonesi yang di laksanakan oleh PERHAPPI ( Perhimpunan Ahli dan Pemerhati Primata Indonesia). Sekilas tentang boardgame OWA (Life of the Gibbon) dapat di saksikan di youtube. 




Kami, sebagai pengajar di Sekolah Menengah Atas di Kec. Petungkriyono bekerjasama dengan Swaraowa, membuat sebuah permainan edukasi untuk megenalkan Owa Jawa, dengan menggunakan media board game yang bertemakan Konservasi Owa Jawa. Boardgame  merupakan  jenis permainan yang menggunakan papan sebagai alat permainannya. Contoh board game yang populer adalah Ular Tangga, Monopoli, Ludo, dan Halma. Sayangnya, jenis permainan ini sampai sekarang hanya berkembang pesat di Eropa dan Amerika. Padahal dengan berbagai potensinya, board game mampu menjadi sebuah media kreatif yang efektif untuk menyampaikan pesan pegetahuan selain juga permainan yang menyenangkan.

Pemilihan board game sebagai media pengenalan pelestarian owa jawa sangat cocok untuk siswa sekolah karena merupakan sebuah media yang kreatif dan menyenangkan. Selain itu board game ini dapat diintegrasikan sebagai media pembelajaran Biologi di SMA. Melalui pembelajaran biologi dengan board game ini siswa dapat memahami dan menyadari pentingnya konservasi Owa jawa di hutan lindung petungkriyono.

papan permainan OWA

Board game yang digunakan dalam pembelajaran biologi merupakan bentuk simulasi kehidupan Owa Jawa. Siswa berperan sebagai Owa Jawa yang mengumpulkan buah ficus sebagai makanan dengan melewati beberapa ekosistem di Hutan Lindung Petungkriyono. Ekosistem tersebut ada yang menguntungkan sehingga siswa mendapatkan buah ficus yang banyak dan ada pula yang kurang mendukung sehingga buah ficus yang didapat sedikit. Selain itu ada lingkungan yang rusak sehingga ketika dilewati akan kehilangan buah ficus. Penggambaran macam-macam ekosistem ini diharapkan mampu menimbulkan kesadaran siswa akan arti penting ekosistem yang baik untuk kelestarian Owa Jawa.
token permainan, gambar buah ficus makanan kesukaan Owa

Kartu interaksi

Owa Jawa juga akan melewati ekosistem yang dihuni manusia seperti pemukiman, ladang, objek wisata dan jalan raya. Pada ekosistem ini terdapat kartu interaksi yang isinya berupa perilaku manusia yang dapat merugikan atau menguntungkan Owa Jawa. Hal ini sebagai pengetahuan bagi siswa tentang perilaku manusia yang dapat membahayakan kehidupan ataupun yang mendukung kelestarian Owa Jawa.

Siswa bermain board game sambil belajar mengenai pelestarian lingkungan dengan aktif. Bermain board game dengan teman juga meningkatkan interaksi sosial antar siswa yang selama ini kurang karena dampak penggunaan smartphone. Pada akhirnya ketika bermain boardgame ini tanpa disadari siswa telah mempelajari cara hidup Owa Jawa dan faktor yang dapat mengancam ataupun mendukung kelestarian Owa Jawa. Dengan demikian akan tertanam sikap hidup positif untuk mendukung kelestarian Owa Jawa dalam diri siswa yang merupakan generasi muda Petungkriyono.

Wednesday, August 28, 2019

Tradisi Pemanenan Madu Hutan Desa Mendolo


oleh : Sidiq Harjanto
  •  Desa Mendolo, Kecamatan Lebak Barang, Kabupaten Pekalongan memiliki tradisi turun temurun berburu madu di Hutan.
  •  Lebah hutan (Apis dorsata) adalah jenis lebah madu terbesar.
  •  Pada musim yang bagus, seperti tahun 2016, lebih dari 2,5 ton madu yang keluar dari Desa Mendolo
  • Mempertahankan kualitas lingkungan, terutama kelestarian hutan sebagai penopang kehidupan lebah hutan adalah salah satu kunci keberlanjutan produksi madu di Mendolo


Praktik pemanenan madu hutan di Desa Mendolo
Desa Mendolo terletak di Kec Lebakbarang, Kab Pekalongan. Kawasan desa ini didominasi oleh hutan alam, sedangkan sisanya merupakan kawasan wanatani atau agroforest. Tim swaraowa, pertamakali masuk ke Mendolo tahun 2010, ketikasurvey Owa Jawa di wilayah Kecamatan Lebak Barang, dan mulai intensif mengamati owa di desa ini 3 tahun terakhir ini. Desa ini identik dengan pemanenan lebah hutan atau masyarakat menyebutnya tawon nggung. Nama ilmiahnya Apis dorsata. Memanen madu hutan adalah keahlian mayoritas laki-laki dari desa ini. Ini adalah tradisi turun-temurun. Tidak ada yang tahu kapan mereka mulai memanen lebah. Jika ditanya kapan mulai, tidak ada yang mampu menjawab dengan detail. ‘Sudah dari nenek moyang kami’, jawab mereka. Artinya, tradisi ini memang sudah berlangsung sejak lama sekali. Memang ada perubahan dalam motif pemanenan lebah hutan. Dari yang dulunya memanen lebah untuk kebutuhan sendiri (subsisten), berubah menjadi mata pencaharian alternatif.

Madu bukan tujuan utama bagi masyarakat jaman dulu. Saat harga madu masih belum seperti saat ini, atau bahkan tidak laku dijual. Orang-orang justru memanen anakan lebah, pupa lebih tepatnya. Pupa atau kepompong lebah menjadi sumber protein tinggi bagi masyarakat pada masa itu. Hingga kemudian pada dua dekade terakhir, madu mulai menjadi komoditas yang banyak diburu. Harganya pun cukup menjanjikan. Para pemanen madu merubah pola kerjanya. Mereka hanya mengambil sarang madu saja, meninggalkan bagian anakan lebah.
Koloni Apis dorsata "tawon nggung"
Lebah hutan (Apis dorsata) adalah jenis lebah madu terbesar. Lebah ini hidup berkoloni, membangun sarang pada dahan-dahan pohon tinggi. Mereka bisa memproduksi madu dalam jumlah yang besar. Satu sarang bahkan bisa lebih dari 20 kilogram madu. Sesuai namanya, lebah hutan membutuhkan habitat hutan yang masih bagus. Lebah hutan membutuhkan sumber pakan dalam jumlah besar. Berdasarkan hasil Focus Group Discussion dengan masyarakat Mendolo, setidaknya ada lebih dari 40 jenis tanaman sumber pakan bagi lebah hutan. Salah satu sumber pakan lebah yang cukup dominan adalah Crypteronia sp. Masyarakat menyebutnya ‘kayu babi’. Jenis lainnya seperti kayu sapi (Sapindaceae), pakel (Mangifera foetida), dan durian (Durio sp.)
Bunga durian, sumber nectar bagi lebah



Bunga kayu Babi ( Cryptorenia sp)
Saat koloni-koloni lebah berdatangan untuk bersarang, biasanya mulai bulan Juli, orang-orang nyaris tiap hari masuk hutan untuk mencari keberadaan sarang lebah. Mereka membentuk tim-tim kecil. Sebuah tim pemanen madu terdiri dari dua atau lebih anggota tim. Satu orang berperan sebagai pemanjat dan pengambil sarang, sedangkan sisanya menjadi asisten. Menyiapkan peralatan, dan membantu proses panen madu. Alat-alat yang digunakan antara lain sige, upet, pisau/parang, karung, tali, ember, dan saringan. Sige adalah bambu yang digunakan untuk melakukan pemanjatan, terdiri dari dua bagian yaitu banthol (pengait), yang akan disambung dengan lonjoran (jumlahnya bisa lebih dari satu batang tergantung ketinggian sarang yang dipanjat). Sedangkan upet adalah bahan pembuat asap. Biasanya upet dibuat dari dedaunan yang diikat, kemudian dibakar di bagian ujungnya. Hasil pembakaran dedaunan yang masih agak basah ini menghasilkan asap untuk membuat lebah lebih tenang.

Pemanjat memotong bagian kepala sarang yang berisi madu. Bagian brood yang berisi telur, larva dan pupa dibiarkan. Harapannya sarang akan kembali terisi madu dan nantinya bisa dipanen kembali. Dengan cara seperti ini, pemanenan bisa dilakukan dua atau tiga kali untuk setiap sarang. Teknik pemanenan ini relatif aman bagi keberlanjutan koloni-koloni lebah. Hasil panen dari tiap sarang sangat bervariasi. Bila beruntung bisa lebih dari 10 botol ukuran 650ml, dan kalau tidak beruntung bisa pulang dengan tangan hampa.

Karakter warna dan rasa yang beragam madu hutan desa Mendolo
Musim puncak panen madu biasanya berlangsung antara Juli-Oktober. Pada musim yang bagus, seperti tahun 2016, lebih dari 2,5 ton madu yang keluar dari desa ini. Di Mendolo sendiri saat ini ada 8 orang pengepul lokal, yang menampung hasil panen madu dari para pemanen. Produk lain yang sudah termanfaatkan adalah lilin lebah (beeswax). Lilin diekstrak dari sisa perasan sarang madu yang dipanaskan hingga mencair, kemudian disaring menggunakan kain. Lilin cair ini setelah dingin akan mengeras membentuk balok-balok lilin. Harga jual lilin mentah ini sekitar Rp. 50.000,-. Produk lebah lain yang potensial namun belum termanfaatkan adalah beepollen (roti lebah). Beepollen dihasilkan oleh fermentasi serbuk sari bebungaan yang disimpan di sarang lebah.

Melihat dari sekilas uraian di atas, beberapa tantangan kedepan masih dihadapi dalam tradisi pemanenan madu di Desa Mendolo, antara lain:
1.      Memperbaiki tata kelola pemanenan madu ditingkat desa.
2.      Mempertahankan kualitas lingkungan, terutama kelestarian hutan sebagai penopang kehidupan lebah hutan.
3.      Menjaga kualitas produk madu; mengingat semakin banyak pemanen madu bisa beresiko menurunkan kualitas, misalnya dari sisi umur panen, higienitas, dll.
4.      Diversifikasi produk, untuk meningkatkan nilai tambah. Misalnya produk beepollen, dan aneka produk turunan lebah.

Kita semua tentu saja berharap bahwa tradisi pemanenan madu di Desa Mendolo akan terus lestari dan memberikan manfaat untuk warga disana, dan yang tidak kalah pentingnya selain madu, peran lebah sebagai serangga penyerbuk ini tidak dapat digantikan oleh manusia dengan alat apapun, pollinasi. 

Saturday, August 3, 2019

Burung Burung Kepulauan Mentawai

kegiatan tahun 2010 di Siberut


"The gibbon of Siberut", karya Tonny Whitten adalah salah satu buku menginspirasi saya untuk ke siberut, saya dapat buku ini tahun 2000, berisi catatan perjalanan Tonny Whitten dan istrinya pada tahun 1975-1978 di Siberut, dan tahun 2010 saya pertama kali menginjakkan kaki pertama kali di bumi Sikerei, hingga awal tahun 2012 banyak cerita dan pengalaman bersama tim lapangan dari Siberut Selatan. 
kegiatan tahun 2012 di Siberut Barat Daya

Kemudian tahun 2017 bersama SWARAOWA kegiatan untuk mendorong peningkatan pengetahuan dan ketrampilan untuk kawan-kawan yang aktif di Uma Malinggai Tradisional Mentawai, di Siberut Selatan dimulai. Dengan menggabungkan kegiatan pengamatan satwa dan fotografi setiap ke lapangan mendokumentasikan foto dan video satwa-satwa liar kep.Mentawai.
tim Malinggai Uma, kegiatan tahun 2017


Kegiatan pengamatan yang awalnya hanya fokus untuk jenis-jenis primata, juga mengumpulkan foto-foto satwa lainnya. Untuk jenis-jenis burung karena awalnya memang tidak tahu namanya, beruntung sekali ada salah satu orinitologist dari Yogyakarta Imam Taufiqurrahman turut serta ke Mentawai, foto-foto yang di kumpulkan oleh tim Malinggai Uma satu persatu mulai di identifikasi.
Penyusunan buku ini akhirnya di rencanakan setelah Imam ikut beberapa kali ke Mentawai, mengunjungi Siberut dan Sipora. Menurut catatan Imam ada 178 jenis burung Mentawai, yang sudah tercatat dalam publikasi Imiah, dan foto yang di kumpulkan selama pengamatan lapangan meskipun kita tidak ada di Mentawai juga semakin bertambah.
Buku Burung-Burung Kepulauan Mentawai

Hingga akhir 2018, setidaknya sudah 82 jenis burung sudah dijumpai dan ada foto nya. Penyusunan buku  burung Mentawai yang di motori Oleh Imam akhirnya menunjukkan hasil yang menggembirakan, dengan dukungan support yang kita dapatkan dari FortwayneChildren’s Zoo.
Bulan Mei 2019, Imam dan kawan-kawan dari Malinggai Uma ( Damianus, Ismael dan Mateus) bertemu Bupati Mentawai, Bp Yudas Sabagalet, membawa draft buku burung Mentawai dengan memohon untuk memberikan sambutan di buku yang disusun bersama ini. Pertemuan dengan kepala daerah menjadi motivasi tersendiri bagi tim penyusun buku ini.

Setelah mendapatkan no ISBN dari perpustakaan nasional buku burung-burung Mentawai ini telah secara resmi di publikasikan, dan kami juga menjual buku ini untuk selanjutnya keuntungan penjualan buku ini akan digunakan untuk mendukung kegiatan lapangan di Mentawai.  Kami mengajak anda untuk mengenal dan melestarikan kekayaan alam Mentawai, untuk pembelian buku ini silahkan melalui link ini: https://shopee.co.id/Burung-Burung-Kepulauan-Mentawai-i.4837480.2432705311


Monday, July 15, 2019

Seri Diskusi Konservasi 3 #Avitourism

foto bersama peserta dan pembicara seri diskusi 


Sokokembang, 6 Juli 2019. Menghadirkan 2 pembicara yang merupakan pelaku dalam industri wisata minat khusus pengamatan burung di Indonesia, Seri diskusi konservasi yang ke-3 telah sukses dilaksanakan. Peserta yang hadir juga tidak hanya dari sekitar Pekalongan juga dari ada beberapa peserta dari luar kota pekalongan, mahasiswa, masyarakat umum, Perhutani, dan perwakilan dari LMDH, Perangkat Desa Mesoyi , Desa Kayupuring dan Desa Tlogohendro.

Seperti biasanya acara yang di kemas dengan obrolan santai di pandu oleh tim SwaraOwa, yang sengaja mendatangkan narasumber untuk mewacanakan dan mengarus utamakan kegiatan wisata minat khusus di antara wisata-wisata massal yang telah dan sedang berkembang di wilayah kabupaten Pekalongan, khususnya di Petungkriyono.
Imam (Loontour

Imam Taufiqurrahman ornithologist dari kota Gudeg, dan juga sebagai  pelaku operator birding tour Lootour, mengawali dengan pengertian Avitourism itu sendiri, yaitu merupakan bagian dari kegiatan wisata alam yang fokus pada aktifitas mengamati burung liar, bentuk aktifitasnya bisa berupa  pengamatan burung ( birdwatching),  mengunjungi bird fair,(yaitu pameran tetang kegiatan biridwatching di seluruh dunia), ikut dalam kegiatan pengamatan yang di selenggarakan oleh birowisata, dan fotografi burung. Kesemua aktivitas ini dilakukan dengan prinsip bertanggunjawab, mengedepankan perlindungan lingkungan, dan meningkatkan kehidupan masyarakat setempat.
Peminat wisata minat khusus ini menurut Imam juga mempunyai karakter tersendiri,seperti ketertarikan yang tinggi terhadap burung di habitat asli, kalangan terpelajar, melakukan perjalanan dalam kelompok kecil dan mampu secara finansial.

Potensi Indonesia, sebagai negara yang memiliki keanekaragaman yang tinggi, jenis-jenis endemic dan keragaman landscape dan budaya memilik potensi untuk di terapkannya wisata minat khusus pengamatan burung. Namun ancaman wisata ini telah, dan sedang terjadi perburuan burung, kerusakan habitat, dan wisata yang tidak berwawasan lingkungan mengakibatkan burung-burung  di alam sebagai atraksi wisata juga hilang.

Sebagai tour operator yang dirintis  sejak tahun 2009, Loontour birding nya mas Imam banyak melakukan kegiatan membawa wisatawan pengamat burung di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Seperti tour operator lainnya pelayanan terhadap wisatawan ini memang harus mendapat perhatian serius, selain membantu wisatawan  mengamati burung. Wisatawan dari Amerika dan Eropa masih menjadi konsumen terbanyak dari birding tournya mas Imam.
Kukuh ( Birdpacker)

Pembicara kedua Waskito Kukuh Wibowo, yang juga sudah beberapa kali mengunjungi habitat Owa di Petungkriyono ini, tentu saya kedatangan sebelumnya juga untuk birding. Kebetulan juga mas Kukuh ini sama dengan mas Imam mengawali kegiatan birding nya juga dari almamater yang sama di Yogyakarta, kemudian dengan Birdpacker yang berbasis di Malang, Jawa Timur, mengembangkan usaha guiding pengamatan burung. Yang awalnya hanya sebatas hobi namun sekarang menjadi pekerjaan yang memberi banyak pengalaman, teman dan tentunya penghasilan.

Yang harus menjadi perhatian dan menjadi tantang dalam bisnis ekowisata ini  menurut mas Kukuh di antaranya adalah : laju kehancuran dan kepunahan burung-burung di alam, ketrampilan bahasa inggris, karena target pasarnya adalah orang luar negri, hospitality dan standar operational prosedur dari mitra/tour operator lokal, persaingan dengan tour operator dari luar negeri, penetrasi pasar, dan peralatan yang kurang memadai. 

Dengan jumlah species burung di Indonesia kurang lebih 1777 species 1 dan kurang lebih 430 nya adalah endemik, potensi yang belum tergarap optimal oleh sektor wisata saat ini, di Amerika industri wisata minat khusus ini sudah bisa menghasilkan 32 Miliar Dollar, dalam setahun, , menurut mas Kukuh. Birdwatching tours merupakan salah satu alternatif untuk menekan dampak eksploitasi burung di alam, dan menjadi solusi kompromi antara ekonomi dan ekologi yang sering kali berseteru satu sama lain.

Daftar pustaka :

Monday, June 3, 2019

Wawancara : Bas Van Balen , tentang Avifauna dan Hutan Petungkriyono

Oleh : Arif Setiawan, 3 Juni 2019

  • Pengamatan selama 3 hari tercatat 93 jenis burung di hutan Petungkriyono
  • Keberadaan burung di Hutan Petungkriyono, sangat potensial untuk di kembangkan sebagai wisata khusus, melihat burung di alam tanpa menangkapnya dalam sangkar.
  • Engkek geling (Cissa thalassina), salah satu Holy Grail untuk para birdwatcher, dan kini mungkin telah hilang dari Hutan Petungkriyono
  • Hutan Petungkriyono terbentang dari lowland hingga sub Montane, keragaman avifauna hutan Jawa ada disini.

Berawal dari penelitian sistematika Padi gogo di Jawa Barat tahun 1979, ketertarikan akan hidupan liar khususnya jenis-jenis burung di Indonesia bermula dan berkembang. Bernama lengkap Sabastian van Balen, lahir di kota Arnhem, Belanda bulan November tahun 1954,  yang akrab dengan nama Bas van balen telah memberi warna tersendiri, dasar dan pengembangan  untuk ilmu pengetahuan khususnya ornithology di Indonesia. Salah satunya "Buku panduan Burung-Burung Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan", menjadi salah satu kitab untuk para pengamat , peneliti dan pemerhati burung di dunia, dan ada  ratusan tulisan publikasi penelitian tentang burung burung di Indonesia,berkontribusi untuk penelitian dan konservasi burung di Indonesia.

Mendapat kesempatan istimewa bersama-sama langsung dengan Bas Van Balen beberapa hari di habitat Owa, Petungkriyono, menjadi motivasi tersendiri melakukan sesuatu untuk nilai keanekaragaman hayati yang lain selain primata. Wawancara ini saya lakukan bersama Bas van balen setelah 3 hari bersama-sama melakukan pengamatan burung (birdwatching) di hutan Petungkriyono, dan sudah tercatat 93 jenis burung di Petungkriyono selama pengamatan 3 hari tersebut.

Pak Bas demikian kami selanjutnya lebih akrab memanggil beliau, juga seorang ahli bioacustic, cabang ilmu pengetahuan yang meneliti tentang suara suara satwa, khususnya jenis-jenis burung. Identifikasi jenis-jenis burung melalui suara sudah menjadi keahliannya, dari suara ini juga saya mengajak untuk mendengarkan langsung suara beliau, tidak melihat secara fisik, namun kita akan mengenal Bas Van Balen sebagai mana beliau mengidentifikasi burung dengan suara, ada kesan-kesan harapan dan pesan untuk pembaca blog swaraowa dari Pak Bas tentang burung-burung  dan hutan di Petungkriyono.

Dengarkan hasil interview kami di link di soundcloud ( https://soundcloud.com/swara-owa/sets/interview-with-bas-van-balen-in-petungkriyono/s-mZk7X) dan bagian akhir dari wawancara ini kami tuliskan.

(1) Terimakasih, atas nama swaraowa,kami mengucapkan terimakasih atas kedatangan pak bas.



(2) Dibanding tahun 1995, bagaimana perubahan yang terjadi saat ini ? ( Pak Bas pernah melakukan survey tahun 1995 di pegungungan dieng, ada 3 lokasi yaitu Linggo Asri, Gunung Lumping, dan G.Perahu, baca laporannya disini )


(3) Jenisnya –jenis apa yang berkurang/hilang ?


(4) Apa tujuan Pak Bas datang kesini?


(5) Jenis apa lagi yang sudah menjadi menjadi Holy grail untuk para birdwatcher di Jawa ini?


(6) Ini pak bas, sudah 3 hari, sudah 93 jenis burung teridentifikasi,  bagaimana kesan-kesan pak Bas tentang burung-burung dan hutan di Petungkriyono?
(7) Harapan pak Bas apa tentang kawasan hutan Petungkriyono?


(8 ) Apa pesan pak Bas  untuk generasi millennial saat ini tentang burung dan hutan di petungkriyono?



(9) Kenapa pak Bas tertarik dengan Burung di Indonesia?
Banyak aspek ya itu, burung pada umumnya memberikan kesenangan tersendiri, dan ada kejutan, selalu kita bisa belajar  dan informasi yang baru dari burung, kalau saya sendiri tertarik dengan suara, setiap kali kelapangan pasti ada yang baru, ada logat lain, nada yang berbeda, atau suara yang sama sekali baru dari burung tertentu, saya senang sekali dengan itu, …sama dengan orang bikin foto, semakin baik, semakin unik…ini suara juga seperti itu…dan suara belum banyak yang mendalami itu..

(10) Kenapa pak Bas sangat menekuni suara burung/ bioacustic burung? Dan apa Kelebihan dan kekurangan metode suara untuk identifikasi burung apa ?

Ya..itu alat yang sangat mebantu, efisien…kekurangannya kalau burungnya diam, tidak bersuara…ha..ha..burung bersembunyi..kekurangannya itu aja…, dan seperti yang kita dengan sekarang ini ( ada tonggeret besuara, ketika sendang wawancara) kadang sangat mengganggu…kalau foto tidak masalah dengan ini, tapi kalau kita menggunakan suara ya…ini hancur…ha..ha..
(11) Sejak kapan Pak Bas mulai tertarik mengamati burung?
Sudah lama itu…pertama kali memakai teropong ya sudah di SD, saya pinjam teropong Bapak saya..(saya lahir tahun 1954, sejak SD kelas 5-6 , sudah tertarik burung, tapi belum mengamati…karena untuk mengamatiharus pergi keluar rumah…tapi sejak kecil saya senang mengamati gambar-gambar burung…
(12) Apa yang Pak Bas lakukan ketika waktu senggang, kala sendang santai?

Ya..sebetulnya saya juga suka membaca..malah bukan tentang burung saja…
(13) Siapa penulis favourit dari Indonesia?

Kebetulan saya sedang membaca bukunya Eka Kurniawan, ha..ha…ini ada 2 bukunya, sudah selesai satu.., Pramudya Ananta Toer…tapi itu harus sabar ha…ada yang bagus juga..yang juga lebih tipis..ha..ha..
(14) Tips-tips pak Bas  untuk pengamat burung pemula apa ?

uu..iii…tips pertamanya jangan pernah mudah  menyerah (give up) dan membikin catatan sebanyak mungkin…catatan tu yang penting, untuk nantinya juga..kalau kita ingin tahu bagaimana pengalaman kita di lokasi terntentu..bisa kita baca lagi itu catatan..saya catatan masih ada semua sejak tahun 79 ada…lengkap, jangan menunggu bikin catatan kalau sudah di rumah, karena akan lupa atau salah ingat..ketemu langsung catat…bisa juga pakai voice recorder, kalau sekarang ada smartphone..bisa juga catatan dengan ngomong..yang saya tau ya….tapi semua orang punya metode sendiri..paling penting catatan juga.

(15) Sekali lagi pesan-pesannya sekali lagi pak untuk generasi millennials apa Pak Bas?
Oooo..itu…banggakan ini ya..…kalian harus bangga dengan ini, kekayaan Indonesia khususnya Jawa, Jawa yang begitu terancam…banyak pihak yang ingin memanfaatkan kekayaan alam, tapi saya rasa alam juga punya hak sendiri, nggak usah di sentuh semuanya..jadi mungkin harus dibiarkan hanya untuk melihat-lihat saja untuk menikmati…

(16)Terimakasih pak Bas
Terimakasih juga…


Daftar Pustaka:

Nijman, V. and Van Balen, S.B., 1998. A faunal survey of the Dieng Mountains, Central Java, Indonesia: distribution and conservation of endemic primate taxa. Oryx32(2), pp.145-156.
Sound editor :

Monday, May 20, 2019

Hutan dan Lebah : Tabungan ekologi yang melimpah


Kebun koloni di Sokokembang

  •  Tahun 2017, Swaraowa memperkenalkan budidaya lebah, untuk mendukung kegiatan konservasi Owa Jawa di Kab.Pekalongan, Jawa Tengah
  •  Budidaya lebah,  membutuhkan investasi lahan yang minim, karena bisa di kombinasikan dengan kegiatan kehutanan atau pertanian lainnya.
  •  Lebah dapat sebagai sumber pendapatan berkelanjutan, berperan penting untuk regenerasi hutan dan produksi tanaman pangan.
  • Hutan menyediakan sumber nectar dan pollen yang melimpah dan beragam, makanan utama lebah.
Budidaya lebah madu, sering di masukkan dalam bidan kategori Agriculture, sebenarnya lebih kegiatan ini adalah masuk dalam industri kehutanan, namun budidaya lebah madu sendiri biasanya tidak dilakukan itensif di hutan itu sendiri, Entah kenapa ya?

Budidaya tradisional, untuk memelihara lebah madu biasanya sudah di kenal oleh warga sekitar hutan. Misalnya, Glodogan  istilah kotak lebah dari kayu log yang di lubangi tengahnya atau menggunakan pakis kayu ( Cyathea contaminans)  sudah sejak lama digunakan untuk memelihara lebah, mengkonsumsi madu bahkan telur atau larva lebah kadang juga menjadi sajian kuliner khas.

Mungkin berburu madu lebih cepat menghasilkan dibanding proses lama dalam mengembangkan atau membudidayakan lebah ini. Penghasil nectar dan serbuk sari yang paling berharga adalah pohon hutan, dan  semak, belukar,herba dari hutan yang alami. Dengan demikian hutan adalah sangat penting untuk sumber makanan lebah, kemungkinan untuk mengembangkan industri “beekeeping” tentu memiliki potensi lebih dibanding dengan daerah yang tidak mempunyai hutan alami.

hutan yang dekat pemukiman, sumber potensial makanan lebah

Kebutuhan lahan untuk mengembangkan budidaya lebah di hutan atau sekitar hutan bisa dikatakan minim, karena budidaya ini dapat dikombinasikan dengan kegiatan kehutanan atau pertanian pada umumnya. Hutan menyediakan nectar, dan polen sebagai makanan utama lebah, tidak seperti peternakan lainnya, lebah dapat pergi pulang sendiri mencari makan, menyimpannya sebagai cadangan makanan dalam bentuk madu dan juga lilin lebah. Peran penting dari kunjungan lebah-lebah ke bunga adalah polinasi ,mengawinkan tanaman, produksi buah, regenerasi hutan,  tanaman pangan, ada korelasi positif dengan adanya serangga pollinator, terutama jenis-jenis lebah.


Lebah klanceng menyerbuki tanaman pertanian (labu siam)

Klanceng Gagak (Heterotrigona itama)


Klanceng di bunga Dillenia sp, pohon yang alami tumbuh di hutan 


Dua tahun sudah, swaraowa mencoba menginisiasi budidaya lebah ini di habitat Owa Jawa, dikabupaten Pekalongan . Sebagai bagian kegiatan pelestarian hutan habitat primata terancam punah, kegiatan beekeeping masih menjadi sekutu kecil untuk menopang keberlanjutan konservasi Owa jawa. Namun demikian pengalaman berbeda dari kegiatan perlebahaan ini, koloni-koloni domestikasi dari koloni liar kini mulai menampakkan hasilnya, setidaknya ada 20 koloni yang terus di pantau di Sokokembang,di markas kopi owa, 17 koloni di dusun Mendolo. Kegagalan adalah pengalaman yang sangat berharga, pengalaman dengan lebah terutama dari jenis-jenis tanpa sengat, Klanceng setidaknya memberi harapan akan keberlanjutan inisiasi pelestarian Owa Jawa. Meskipun sudah banyak tempat melakukan budidaya lebah klanceng, dengan sepecies yang berbeda dan habitat yang berbeda, tentusaya praktek dan pengetahuan juga berbeda dan hal ini masih menjadi pekerjaan di waktu-waktu mendatang untuk setidaknya mencatat dan menganalisis permasalahan yang terjadi.

Melihat lebih jauh produk-produk turunan dari budidaya lebah ini, mungkin juga bisa menjadi strategi pemasaran dari kegiatan budidaya lebah. Meskipun trend konsumsi madu cenderung menunjukkan kenaikan, namun belum ada upaya serius untuk pihak-pihak terkait dikawasan ini mempopulerkan lebah madu sebagai bagian dari industri kehutanan dan pertanian yang berkelanjutan.
Koloni yang berhasil  dibudidayakan

Madu multifloral dari hutan, beragam karakter, rasa dan warna
Replikasi kepada warga sekitar hutan dan juga generasi muda menjadi tantang tersendiri untuk mengarus utamakan pengetahuan tentang lebah, peran pentingnya utuk ketahanan pangan dan peran lebah dalam ekosistem hutan. Penelitian terapan dan pendampingan peternak lebah diperlukan secara menyeluruh dan intensif untuk mengembangkan kegiatan perlebahan yang sudah berjalan saat ini.  Promosi tentang usaha budidaya lebah harus terus dilakukan, penguatan kelembangan dan kapasitas peternak lebah, akses  terhadap informasi, modal, pasar dan teknologi masih menjadi pekerjaan kedepan.

Daftar pustaka :

Kahono, S., Chantawannakul, P. and Engel, M.S., 2018. Social bees and the current status of beekeeping in Indonesia. In Asian Beekeeping in the 21st Century (pp. 287-306). Springer, Singapore.

Crane, E., 1999. The world history of beekeeping and honey hunting. Routledge.