Monday, June 3, 2019

Wawancara : Bas Van Balen , tentang Avifauna dan Hutan Petungkriyono

Oleh : Arif Setiawan, 3 Juni 2019

  • Pengamatan selama 3 hari tercatat 93 jenis burung di hutan Petungkriyono
  • Keberadaan burung di Hutan Petungkriyono, sangat potensial untuk di kembangkan sebagai wisata khusus, melihat burung di alam tanpa menangkapnya dalam sangkar.
  • Engkek geling (Cissa thalassina), salah satu Holy Grail untuk para birdwatcher, dan kini mungkin telah hilang dari Hutan Petungkriyono
  • Hutan Petungkriyono terbentang dari lowland hingga sub Montane, keragaman avifauna hutan Jawa ada disini.

Berawal dari penelitian sistematika Padi gogo di Jawa Barat tahun 1979, ketertarikan akan hidupan liar khususnya jenis-jenis burung di Indonesia bermula dan berkembang. Bernama lengkap Sabastian van Balen, lahir di kota Arnhem, Belanda bulan November tahun 1954,  yang akrab dengan nama Bas van balen telah memberi warna tersendiri, dasar dan pengembangan  untuk ilmu pengetahuan khususnya ornithology di Indonesia. Salah satunya "Buku panduan Burung-Burung Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan", menjadi salah satu kitab untuk para pengamat , peneliti dan pemerhati burung di dunia, dan ada  ratusan tulisan publikasi penelitian tentang burung burung di Indonesia,berkontribusi untuk penelitian dan konservasi burung di Indonesia.

Mendapat kesempatan istimewa bersama-sama langsung dengan Bas Van Balen beberapa hari di habitat Owa, Petungkriyono, menjadi motivasi tersendiri melakukan sesuatu untuk nilai keanekaragaman hayati yang lain selain primata. Wawancara ini saya lakukan bersama Bas van balen setelah 3 hari bersama-sama melakukan pengamatan burung (birdwatching) di hutan Petungkriyono, dan sudah tercatat 93 jenis burung di Petungkriyono selama pengamatan 3 hari tersebut.

Pak Bas demikian kami selanjutnya lebih akrab memanggil beliau, juga seorang ahli bioacustic, cabang ilmu pengetahuan yang meneliti tentang suara suara satwa, khususnya jenis-jenis burung. Identifikasi jenis-jenis burung melalui suara sudah menjadi keahliannya, dari suara ini juga saya mengajak untuk mendengarkan langsung suara beliau, tidak melihat secara fisik, namun kita akan mengenal Bas Van Balen sebagai mana beliau mengidentifikasi burung dengan suara, ada kesan-kesan harapan dan pesan untuk pembaca blog swaraowa dari Pak Bas tentang burung-burung  dan hutan di Petungkriyono.

Dengarkan hasil interview kami di link di soundcloud ( https://soundcloud.com/swara-owa/sets/interview-with-bas-van-balen-in-petungkriyono/s-mZk7X) dan bagian akhir dari wawancara ini kami tuliskan.

(1) Terimakasih, atas nama swaraowa,kami mengucapkan terimakasih atas kedatangan pak bas.



(2) Dibanding tahun 1995, bagaimana perubahan yang terjadi saat ini ? ( Pak Bas pernah melakukan survey tahun 1995 di pegungungan dieng, ada 3 lokasi yaitu Linggo Asri, Gunung Lumping, dan G.Perahu, baca laporannya disini )


(3) Jenisnya –jenis apa yang berkurang/hilang ?


(4) Apa tujuan Pak Bas datang kesini?


(5) Jenis apa lagi yang sudah menjadi menjadi Holy grail untuk para birdwatcher di Jawa ini?


(6) Ini pak bas, sudah 3 hari, sudah 93 jenis burung teridentifikasi,  bagaimana kesan-kesan pak Bas tentang burung-burung dan hutan di Petungkriyono?
(7) Harapan pak Bas apa tentang kawasan hutan Petungkriyono?


(8 ) Apa pesan pak Bas  untuk generasi millennial saat ini tentang burung dan hutan di petungkriyono?



(9) Kenapa pak Bas tertarik dengan Burung di Indonesia?
Banyak aspek ya itu, burung pada umumnya memberikan kesenangan tersendiri, dan ada kejutan, selalu kita bisa belajar  dan informasi yang baru dari burung, kalau saya sendiri tertarik dengan suara, setiap kali kelapangan pasti ada yang baru, ada logat lain, nada yang berbeda, atau suara yang sama sekali baru dari burung tertentu, saya senang sekali dengan itu, …sama dengan orang bikin foto, semakin baik, semakin unik…ini suara juga seperti itu…dan suara belum banyak yang mendalami itu..

(10) Kenapa pak Bas sangat menekuni suara burung/ bioacustic burung? Dan apa Kelebihan dan kekurangan metode suara untuk identifikasi burung apa ?

Ya..itu alat yang sangat mebantu, efisien…kekurangannya kalau burungnya diam, tidak bersuara…ha..ha..burung bersembunyi..kekurangannya itu aja…, dan seperti yang kita dengan sekarang ini ( ada tonggeret besuara, ketika sendang wawancara) kadang sangat mengganggu…kalau foto tidak masalah dengan ini, tapi kalau kita menggunakan suara ya…ini hancur…ha..ha..
(11) Sejak kapan Pak Bas mulai tertarik mengamati burung?
Sudah lama itu…pertama kali memakai teropong ya sudah di SD, saya pinjam teropong Bapak saya..(saya lahir tahun 1954, sejak SD kelas 5-6 , sudah tertarik burung, tapi belum mengamati…karena untuk mengamatiharus pergi keluar rumah…tapi sejak kecil saya senang mengamati gambar-gambar burung…
(12) Apa yang Pak Bas lakukan ketika waktu senggang, kala sendang santai?

Ya..sebetulnya saya juga suka membaca..malah bukan tentang burung saja…
(13) Siapa penulis favourit dari Indonesia?

Kebetulan saya sedang membaca bukunya Eka Kurniawan, ha..ha…ini ada 2 bukunya, sudah selesai satu.., Pramudya Ananta Toer…tapi itu harus sabar ha…ada yang bagus juga..yang juga lebih tipis..ha..ha..
(14) Tips-tips pak Bas  untuk pengamat burung pemula apa ?

uu..iii…tips pertamanya jangan pernah mudah  menyerah (give up) dan membikin catatan sebanyak mungkin…catatan tu yang penting, untuk nantinya juga..kalau kita ingin tahu bagaimana pengalaman kita di lokasi terntentu..bisa kita baca lagi itu catatan..saya catatan masih ada semua sejak tahun 79 ada…lengkap, jangan menunggu bikin catatan kalau sudah di rumah, karena akan lupa atau salah ingat..ketemu langsung catat…bisa juga pakai voice recorder, kalau sekarang ada smartphone..bisa juga catatan dengan ngomong..yang saya tau ya….tapi semua orang punya metode sendiri..paling penting catatan juga.

(15) Sekali lagi pesan-pesannya sekali lagi pak untuk generasi millennials apa Pak Bas?
Oooo..itu…banggakan ini ya..…kalian harus bangga dengan ini, kekayaan Indonesia khususnya Jawa, Jawa yang begitu terancam…banyak pihak yang ingin memanfaatkan kekayaan alam, tapi saya rasa alam juga punya hak sendiri, nggak usah di sentuh semuanya..jadi mungkin harus dibiarkan hanya untuk melihat-lihat saja untuk menikmati…

(16)Terimakasih pak Bas
Terimakasih juga…


Daftar Pustaka:

Nijman, V. and Van Balen, S.B., 1998. A faunal survey of the Dieng Mountains, Central Java, Indonesia: distribution and conservation of endemic primate taxa. Oryx32(2), pp.145-156.
Sound editor :

Monday, May 20, 2019

Hutan dan Lebah : Tabungan ekologi yang melimpah


Kebun koloni di Sokokembang

  •  Tahun 2017, Swaraowa memperkenalkan budidaya lebah, untuk mendukung kegiatan konservasi Owa Jawa di Kab.Pekalongan, Jawa Tengah
  •  Budidaya lebah,  membutuhkan investasi lahan yang minim, karena bisa di kombinasikan dengan kegiatan kehutanan atau pertanian lainnya.
  •  Lebah dapat sebagai sumber pendapatan berkelanjutan, berperan penting untuk regenerasi hutan dan produksi tanaman pangan.
  • Hutan menyediakan sumber nectar dan pollen yang melimpah dan beragam, makanan utama lebah.
Budidaya lebah madu, sering di masukkan dalam bidan kategori Agriculture, sebenarnya lebih kegiatan ini adalah masuk dalam industri kehutanan, namun budidaya lebah madu sendiri biasanya tidak dilakukan itensif di hutan itu sendiri, Entah kenapa ya?

Budidaya tradisional, untuk memelihara lebah madu biasanya sudah di kenal oleh warga sekitar hutan. Misalnya, Glodogan  istilah kotak lebah dari kayu log yang di lubangi tengahnya atau menggunakan pakis kayu ( Cyathea contaminans)  sudah sejak lama digunakan untuk memelihara lebah, mengkonsumsi madu bahkan telur atau larva lebah kadang juga menjadi sajian kuliner khas.

Mungkin berburu madu lebih cepat menghasilkan dibanding proses lama dalam mengembangkan atau membudidayakan lebah ini. Penghasil nectar dan serbuk sari yang paling berharga adalah pohon hutan, dan  semak, belukar,herba dari hutan yang alami. Dengan demikian hutan adalah sangat penting untuk sumber makanan lebah, kemungkinan untuk mengembangkan industri “beekeeping” tentu memiliki potensi lebih dibanding dengan daerah yang tidak mempunyai hutan alami.

hutan yang dekat pemukiman, sumber potensial makanan lebah

Kebutuhan lahan untuk mengembangkan budidaya lebah di hutan atau sekitar hutan bisa dikatakan minim, karena budidaya ini dapat dikombinasikan dengan kegiatan kehutanan atau pertanian pada umumnya. Hutan menyediakan nectar, dan polen sebagai makanan utama lebah, tidak seperti peternakan lainnya, lebah dapat pergi pulang sendiri mencari makan, menyimpannya sebagai cadangan makanan dalam bentuk madu dan juga lilin lebah. Peran penting dari kunjungan lebah-lebah ke bunga adalah polinasi ,mengawinkan tanaman, produksi buah, regenerasi hutan,  tanaman pangan, ada korelasi positif dengan adanya serangga pollinator, terutama jenis-jenis lebah.


Lebah klanceng menyerbuki tanaman pertanian (labu siam)

Klanceng Gagak (Heterotrigona itama)


Klanceng di bunga Dillenia sp, pohon yang alami tumbuh di hutan 


Dua tahun sudah, swaraowa mencoba menginisiasi budidaya lebah ini di habitat Owa Jawa, dikabupaten Pekalongan . Sebagai bagian kegiatan pelestarian hutan habitat primata terancam punah, kegiatan beekeeping masih menjadi sekutu kecil untuk menopang keberlanjutan konservasi Owa jawa. Namun demikian pengalaman berbeda dari kegiatan perlebahaan ini, koloni-koloni domestikasi dari koloni liar kini mulai menampakkan hasilnya, setidaknya ada 20 koloni yang terus di pantau di Sokokembang,di markas kopi owa, 17 koloni di dusun Mendolo. Kegagalan adalah pengalaman yang sangat berharga, pengalaman dengan lebah terutama dari jenis-jenis tanpa sengat, Klanceng setidaknya memberi harapan akan keberlanjutan inisiasi pelestarian Owa Jawa. Meskipun sudah banyak tempat melakukan budidaya lebah klanceng, dengan sepecies yang berbeda dan habitat yang berbeda, tentusaya praktek dan pengetahuan juga berbeda dan hal ini masih menjadi pekerjaan di waktu-waktu mendatang untuk setidaknya mencatat dan menganalisis permasalahan yang terjadi.

Melihat lebih jauh produk-produk turunan dari budidaya lebah ini, mungkin juga bisa menjadi strategi pemasaran dari kegiatan budidaya lebah. Meskipun trend konsumsi madu cenderung menunjukkan kenaikan, namun belum ada upaya serius untuk pihak-pihak terkait dikawasan ini mempopulerkan lebah madu sebagai bagian dari industri kehutanan dan pertanian yang berkelanjutan.
Koloni yang berhasil  dibudidayakan

Madu multifloral dari hutan, beragam karakter, rasa dan warna
Replikasi kepada warga sekitar hutan dan juga generasi muda menjadi tantang tersendiri untuk mengarus utamakan pengetahuan tentang lebah, peran pentingnya utuk ketahanan pangan dan peran lebah dalam ekosistem hutan. Penelitian terapan dan pendampingan peternak lebah diperlukan secara menyeluruh dan intensif untuk mengembangkan kegiatan perlebahan yang sudah berjalan saat ini.  Promosi tentang usaha budidaya lebah harus terus dilakukan, penguatan kelembangan dan kapasitas peternak lebah, akses  terhadap informasi, modal, pasar dan teknologi masih menjadi pekerjaan kedepan.

Daftar pustaka :

Kahono, S., Chantawannakul, P. and Engel, M.S., 2018. Social bees and the current status of beekeeping in Indonesia. In Asian Beekeeping in the 21st Century (pp. 287-306). Springer, Singapore.

Crane, E., 1999. The world history of beekeeping and honey hunting. Routledge.

Monday, April 29, 2019

Sanca membunuh monyet, ditepi jalan menuju hutan Petungkriyono

  • Jenis primata yang mati adalah Monyet Ekor Panjang, Macaca fascicularis ( jantan), kelas umur dewasa.
  • Penyebab kematian monyet, karena berkonflik dengan  ular sanca (Phyton reticulatus)
  • Lokasi,  Ds. Kroyakan, Mesoyi, Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan
  • Jalan raya Doro-Petungkriyono, yang melewati hutan adalah pusat keanekaragaman hayati, pengguna yang lewat jalan ini sudah seharusnya menghormati dan menghargai keberadaan satwaliar.

Beberapa hari terakhir ini habitat owa jawa di kabupaten pekalongan, ramai memperbincangkan tentang temuan primata yang mati di pinggir jalan. Kematian primata ini sempat menjadi ramai di sosial media yang,karena diduga kematian monyet ini mati karena di tembak. Padahal sudah jelas sekali bahwa berburu apalagi menembak satwaliar di habitat hutan yang dilindungi adalah dilarang undang-undang meskipun satwanya tidak masuk dalam kategori dilindungi baca disini : http://ksdae.menlhk.go.id/jenis-tsl-dilindungi.html dan baca disini : https://www.profauna.net/id/regulasi/uu-5-1990-tentang-konservasi-sumber-daya-alam-hayati-dan-ekosistemnya

Penggunaan senapan angin juga sudah di atur undang-undang, tidak perbolehkan untuk perburuan satwaliar illegal, karena termasuk dalam kategori kejahatan kehutanan. Baca : https://www.mongabay.co.id/2018/04/02/respon-penembakan-satwa-dilindungi-perbakin-keluarkan-surat-edaran-pengaturan-penggunaan-senapan-angin/

Swaraowa mencoba membuat kronologis kejadian ini monyet yang mati di pinggir jalan tersebut.

Jumat, 26 April 2019. 

Jam 18.04 salah satu anggota swaraowa yang berada di dusun Sokokembang, mendapat laporan tentang adanya primata yang mati di tepi jalan. Laporan ini di kirimkan oleh salah satu “ komunitas goweser pekalongan ”  yang baru saja lewat di jalan itu, jam 3 sore.  Laporan ini kemudian langsung ditelusuri, dengan menanyakan beberapa warga ds. Sokokembang  yang kebetulan baru saja  lewat di jalan utama ke kecamatan petungkriyono, dari warga di dapatkan informasi memang benar melihatnya. 

Jam 18.30, bersama salah satu warga dusun Sokembang mencari ke  lokasi dimana di laporkan, 

Jam 18.46 ditemukan bangkai primata dan kemudian dilakukan identifikasi adalah jenis monyet ekor panjang ( Macaca fascicularis), berkelamin jantan (dewasa). 

Indentifikasi menemukan bahwa monyet ini terdapat luka di bagian dada, dan ada juga yang dipuggung. Karena pencahayaan kurang memadai pengamatan terhadap bangkai ini akan di lanjutkan esok pagi, ketika sudah terang.  Untuk menghindari hilangnya bangkai dimakan binatang lain, kami mengubur bankgai primata ini dalam tanah.

Foto-foto terlampir ( yang di ambil pada malam hari).
monyet yang ditemukan mati

Jam 22.30, mengirimkan  laporan singkat ke BKSDA  resort Pemalang. 

Sabtu ,27 April 2019

Jam 10.15 anggota swaraowa menuju tempat di temukannya monyet ekorpanjang yang mati, tersebut untuk melihat bekas-bekas yang di tinggalkan oleh monyet ini dan kelompoknya.   Terlihat bekas longsoran dari bagian tebing, seperti bekas di lalui oleh satwa.

Kemudian, menanyakan perihal monyet ini di Ibu ( Parti 35 th) yang punya warung di atas monyet ini di temukan, menurut ibu tersebut,  kami menanyakan, “bagaimanabu apa serangan monyet disini semakin parah? Ibu itu menjawab “tidak, biasa saja”. Terus kami tanyakan apakah melihat ada monyet yang mati di sekitar sini? Ibu itu menjawab tidak tahu.
Kemudian, kami menyusuri dusun kroyakan, yang berbatasan dengan hutan pinus dan hutan lindung ini, menanyakan ada kepada warga bahwa serangan monyet memang ada, memakan buah pisang, dan durian. 

Selanjutnya, kami singgah di warung depan tugu petungkriyono natural heritage, Ibu ( Mulyati 60 th) mengatakan kami menanyakan apakah liat monyet yang mati di sekitar sini ? Ibu yang sehari-hari berjualan ini menceritakan  bahwa kemaren sekitar jam 1 ada monyet di makan oleh ular, katanya ular itu membelit monyet dan kemudian kelompok monyet yang lain menyerang menggit ular tersebut, terdengar ramai sekali karena kelompok monyet yang di atas bersuara semua., kejadian ini sempat di rekam oleh warga  dari dusun mesoyi yang bernama Gianto, yang kebetulan berada di tempat tersebut.

Jam 11.56. 2 orang anggota swaraowa melakukan otopsi lagi, menggali tempat kami mengubur dan mengangkat bangkai monyet yang di temukan pada malam sebelumnya, dilakukan cek lagi terhadap luka-lukanya, yang di bagian punggung juga terdapat dua lubang berjarak sekitar 4 cm yang satu besar yang satu lebih kecil ukurannya, demikian juga yang ada di bagian dada, ada dua lubang juga yang satu lebih lebar diameternya dan yang satunya lebih keci.jarak sekitar  4 cm antar lubang.

Jam 13.20, BKSDA Jawa Tengah yang di wakili Bapak Slamet Mahlul dari resort Pemalang tiba di Sokokembang, kami langsung melihat kembali tempat kejadian dan menanyakan tentang kejadian monyet ekor panjang yang mati ini, Kami bertemu ibu Mulyati lagi  yang berjualan di dekat lokasi, dan kebetulan yang kemaren di ceritakan ada yang merekam video ada di tempat itu,  ada Bapak Eko (36 thn) penjual baso yang menyaksikan sendiri kejadian dan mendapat rekaman video dari teman nya yang ada di lokasi tersebut.

Jam 16.11, menerima kiriman video peristiwa  dari Jagawana Perhutani KPH Pekalongan Timur, dan seperti terlihat, seekor ular sanca (Phyton reticulatus) yang membelit seekor monyet, berada di tengah jalan, dan monyet terlihat tidak berdaya kemudian di tinggal oleh ular sanca. 

28 April 2019, mendapatkan kiriman video dari warga dusun Mesoyi yang melihat langsung kejadian ini.



*********************************************************************************


Monyet yang sendang makan di tepi jalan

Macaca fascicularis , Monyet ekor panjang 

Monyet ekor panjang , adalah jenis primata yang dapat hidup di berbagai tipe habitat, hutan, tepi hutan, kebun, ladang, bahkan perkotaan 1. Hidup berkelompok dengan banyak jantan dan banyak betina, dengan jantan dewasa ada yang dominan terhadap anggota kelompok lainnya.  Jenis primata ini dapat mudah sekali beradaptasi di habitat manusia misalnya tepi jalan, tepi hutan, dan tempat-tempat wisata yang tidak mengelola sampah dan tidak dikelola dengan bijaksana.  Keberadaanya di hutan lindung pekalongan dilindungi undang-undang karena berada di kawasan lindung.
Bacaan lanjutan tentang monyet ekor panjang : https://www.ecologyasia.com/verts/mammals/long-tailed_macaque.htm

Phyton reticulatus, Ular  Sanca

Jenis ular yang sangat mudah beradaptasi di berbagai tipe habitat, dapat di jumpai di hutan dataran rendah hingga pegunungan, di pemukiman, ladang, perkebunan, areal pertanian, sawah, dan rawa bakau dekat pantai. Menurut laporan ukuran terbesar dari ular ini yang pernah di temukan adalah 10.2 meter,tercatat sebagai ular terpanjang di dunia. Mangsa ular ini adalah mamalia kecil hingga ukuran sedang seperti babi hutan, dan rusa 2. Dilaporkan juga ular ini memangsa manusia di Sulawesi  (https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-44519734). 


Kawasan hutan  yang dilalui jalan utama dari kecataman Doro ke kecamatan Petungkriyono ini saat ini menjadi kawasan yang mendapat tekanan aktifitas manusia cukup tinggi, maraknya kegiatan wisata alam di kawasan ini membuat kawasan ini banyak di kunjungi, lalulintas pengunjung satu-satunya jalan yang mudah dilewati adalah jalan Doro-Petungkriyono ini, padalah jalan ini juga menjadi pusat keanekaragaman hayati. Perilaku pengunjung atau siapapun yang menggunakan jalan ini sudah selayaknya mendapat perhatian untuk lebih ramah terhadap satwa yang berhabitat di hutan sepanjang jalan ini.

Jenis monyet ekor panjang, adalah jenis yang mudah sekali menyesuaikan perubahan habitat, perubahan perilaku juga bisa terjadi karena berubahnya sumber pakan. Aktifitas manusia yang kadang memberi makan ,meninggalkan sampah bungkus makanan, menyebabkan pola sebaran monyet ini berada juga di pusat aktifitas manusia, oleh karena itu dilarang memberi makan, mengganggu monyet ini untuk menghindari perubahan perilaku dan agresifitas monyet. 

Ular sanca tentu saja juga mengikuti pergerakan mangsanya, kawasan hutan di kroyakan yang menjadi habitat mangsa ular sanca, menjadi areal perburuan bagi Sanca, termasuk juga hingga jalan raya, yang menjadi lalulintas aktifitas manusia.  Bukan tidak mungkin satwa-satwa yang melintas jalan ini bisa juga tertabrak kendaraan yang lewat ataupun sebaliknya, kita bisa terluka karena tidak siap melihat keberadaan  satwa-satwa liar dekat dengan kita. 

Mengatur perilaku manusia yang lewat jalan hutan dari Doro-Petungkriyono sudah selayaknya harus dibuat berbeda dengan jalan pada umumnya untuk menghargai kekayaan keanekargaman hayati yang di miliki Kabupaten Pekalongan.


Daftar pustaka :
1. Eudey, A.A., 2008. The crab-eating macaque (Macaca fascicularis): widespread and rapidly declining. Primate conservation, 23(1), pp.129-133.
2. Reynolds, R. G., Niemiller, M. L., & Revell, L. J. ,2014. Toward a Tree-of-Life for the boas and pythons: Multilocus species-level phylogeny with unprecedented taxon sampling. Molecular phylogenetics and evolution, 71, 201-213.

Tuesday, April 9, 2019

Lutung Dahi Putih : Catatan Baru di Kalimantan Tengah

Presbytis frontata Lutung dahi Putih


Catatan perjumpaan terbaru untuk salah satu jenis primata endemik Kalimantan di laporkan oleh tim swaraowa, dari kegiatan pengamatan primata bulan Oktober tahun 2018.
Temuan ini menambah pengetahuan tentang sebaran dan populasi primata ini di Kalimantan Tengah, dan sudah di publikasikan melalui jurnal  Southeast Asia Vertebrate Record, dan bisa download melaui link berikut.   Lutung dahi putih (Presbytis frontata) adalah jenis monyet pemakan daun endemik Kalimantan. Dengan ciri hitam di seluruh tubuh dan warna putih di bagian kepala depan, Lutung ini sangat berbeda dengan jenis surili  dari genus presbytis lainnya yang ada di Kalimantan. Menurut IUCN Red list, primata ini masuk dalam kategori vulnerable (VU) 1 dan masuk dalam kategori satwa dilindungi ( NOMOR P.92/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2018)

Beruk (Macaca nemestrina)
(Presbytis rubicunda) Lutung merah

Perjumpaan dengan primata ini berada di kawasan HCV Bukit Santuai, yang terletak konsesi perkebunan Kelapa Sawit Agro Wana Lestari, Kota Waringing Timur, Kalimantan Tengah. Menurut Ika Yuni Agustin, di hutan alam di Bukit Santuai ini juga menjadi habitat Owa (Hylobates albibarbis), Lutung merah ( Presbytis rubicunda) juga ada Beruk (Macaca nemestrina), dan Monyet Ekor panjang ( Macaca facicularis).


1. Meijaard, E. & Nijman, V. 2008. Presbytis frontataThe IUCN Red List of Threatened Species 2008:e.T18127A7665520. http://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T18127A7665520.enDownloaded on 08 April 2019.

Friday, March 22, 2019

Menggagas Pengelolaan Kolaboratif Hutan Petungkriyono

  Oleh : Ahmad A Fahmi, Arif Setiawan, 22 Maret 2019

  •   Hutan Petungkriyono termasuk dalam BKPH Doro, KPH Pekalongan Timur memiliki luas 5189,507  ha, terdiri atas hutan Produksi Terbatas dengan Tanaman Pokok Pinus dan Hutan Alam Kayu Lain atau hutan alam yang berfungsi sebagai Hutan Lindung Terbatas (HLT) untuk fungsi Lindung Hidrologis 
  • Habitat satwa-satwa dan flora endemik Jawa, seperti : Owa, Macan tutul, Elang Jawa
  • Atraksi wisata yang ditawarkan sebagian besar berupa air terjun, wisata sungai, dan pemandangan alam. Jenis wisata yang dikembangkan masih berupa mass tourism dimana pengembangan infrastruktur buatan seperti tempat selfie yang instagrammable menjadi obyek favorit wisatawan
  • ·Berkembangnya kegiatan wisata alam di kawasan ini dapat dijadikan bukti bahwa hutan mampu memberikan manfaat ekonomi tanpa harus menebang ataupun mengubahnya.
  • Kelestarian  hutan merupakan kepentingan dan kebutuhan berbagai lapisan masyarakat, baik yang tinggal di sekitar hutan maupun masyarakat yang tinggal di daerah hilir, rusaknya Hutan Petungkriyono  akan memberikan dampak negatif  bagi keanekargaman hayati dan potensi ekonominya dan resiko bencana alam bagi masyarakat yang tinggal di daerah hilir,



Petungkriyono merupakan daerah pegunungan dengan ketinggian antara 600-2100 meter di atas permukaan air laut (mdpl) dimana sebagian wilayah merupakan daerah dataran tinggi Pegunungan Serayu Utara. Sebelah Selatan merupakan Kawasan Dataran Tinggi Dieng dengan rangkaian gunung seperti Gunung Rogojembangan, Gunung Kendalisodo, Gunung Sikeru, Gunung Perbata, Gunung Geni, dan Gunung Kukusan.


Kecamatan Petungkriyono berada di wilayah Kabupaten Pekalongan bagian Selatan yang berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara di bagian Selatan. Luas wilayah Kecamatan Petungkriono adalah 7.358,523 ha yang sebagian besar adalah hutan negara seluas 5.189,507 Ha. Luas pemukiman hanyalah 119,652 ha (16 %) dari luas wilayah. Kawasan hutan di Kecamantan Petungkriyono merupakan salah satu kawasan hutan tropis yang masih tersisa di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah. Sebagian kawasannya yang masih utuh, rangkaian pegunungan Dieng di tengah Pulau jawa, mampu mendukung kehidupan beberapa satwa langka yang terancam punah seperti Elang jawa, monyet daun (Lutung dan Rekrekan, Macan tutul dan juga juga satwa endemik jawa yang sangat penting yaitu owa jawa (1; 2). 


Hutan Petungkriyono termasuk dalam BKPH Doro, KPH Pekalongan Timur memiliki luas 5189,507  ha, terdiri atas hutan Produksi Terbatas dengan Tanaman Pokok Pinus dan Hutan Alam Kayu Lain atau hutan alam yang berfungsi sebagai Hutan Lindung Terbatas (HLT) untuk fungsi Lindung Hidrologis . Hutan lindung memiliki luas 1931,90 ha (SK Menhut Nomor: 359/Menhut.II/2004 tanggal 1 Oktober 2004) (3). Hutan lindung Petungkriyono berfungsi sebagai Hutan Lindung Terbatas, Hutan lindung Petungkriyono masih merupakan hutan primer yang relatif terjaga, dengan tipe vegetasi hutan hujan tropis. Hutan primer merupakan hutan yang belum pernah dilakukan tebang habis (4).
Owa Jawa (Hylobates moloch)

Potensi dan Ancaman
Kondisi hutan yang masih utuh memberikan dampak sangat positif terhadap lingkungan sekitarnya, dimana banyak sungai dan air terjun yang masih dialiri air jernih sepanjang tahun. Dengan kondisinya yang masih alami, Kawasan Hutan Petungkriyono mempunyai potensi wisata alam yang sangat besar. Pada saat ini terdapat sekitar  8 obyek wisata alam yang terdapat di kawasan tersebut yang dikelola oleh masyarakat bekerjasama dengan Perhutani.

Atraksi wisata yang ditawarkan sebagian besar berupa air terjun, wisata sungai, dan pemandangan alam. Jenis wisata yang dikembangkan masih berupa mass tourism dimana pengembangan infrastruktur buatan seperti tempat selfie yang instagrammable menjadi obyek favorit wisatawan. Ekowisata meskipun sudah menjadi wacana di tingkat pemerintah daerah semenjak tahun 2005 namun masih belum dikembangkan secara serius meskipun potensi yang ada sangat besar.Masyarakat di sekitar Kawasan Hutan Petungkriyono saat ini tengah mengembangkan banyak inisiatif dan membangun berbagai obyek wisata di sekitar kawasan hutan ini. Berbagai atraksi coba dikembangkan oleh masyarakat seperti, melihat air terjun, wisata sungai ( river tubing, river tracking), pengamatan satwa di alam dan umumny pemandangan bentang lahan dan topografi bergunung dengan kehidupan pedesaan yang asri.

Pengembangan potensi wisata ini masih bersifat sporadis dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat atau individu secara mandiri. Pihak pemerintah daerah sendiri sangat mendukung dengan pengembangan wisata alam ini. Sejak tahun 2018 dilakukan penyempurnaan akses ke dalam kawasan dengan memperbaiki jalan. Saat ini akses jalan ke dalam kawasan sangat lancar karena jalan sudah berupa aspal hotmix dengan lebar 4 m. Dengan semakin terbukanya akses ini maka kegiatan wisata di kawasan ini semakin marak.

Berkembangnya wisata alam di kawasan ini merupakan berkah tersendiri bagi masyarakat. Kunjungan semakin meningkat pada hari-hari libur. Namun disisi lain kegiatan wisata ini berpotensi untuk meningkatkan gangguan terhadap kehidupan satwa liar yang ada di kawasan, jika tidak terkendali kegiatan wisata yang berlebihan justru dapat berefek negatif terhadap satwa liar seperti Owa Jawa yang merupakan ikon kawasan ini.

"primatewatching" salah satu kegiatan wisata minat khusus

Di sisi yang lain ternyata kawasan ini juga masih mengalami tekanan dan juga gangguan. Kegiatan-kegiatan pelanggaran hukum seperti perburuan liar dan juga pembalakan liar masih terjadi di kawasan hutan ini. Perburuan liar yang terjadi saat ini dilakukan oleh pendatang dari luar dan sebagian juga masyarakat setempat. Jenis satwa yang diburu adalah terutama jenis-jenis burung, kijang , Ayam hutan, babi hutan, luwak, trenggiling, landak, dan berbagai macam satwa lainnya. Bisa dikatakan tidak ada jenis satwa spesifik yang dijadikan target dimana satwa yang dijumpai itulah yang akan diburu.

Meskipun tidak dalam jumlah besar dan masif, disinyalir masih terdapat praktek illegal logging yang dilakukan oleh oknum masyarakat. Meskipun skala penebangan tersebut kecil namun jika dilakukan secara terus-menerus maka dikhawatirkan hal ini akan menimbulkan dampak kerusakan pada ekosistem hutan. Terdapat beberapa jenis kayu yang sering dijadikan target favorit para penebang yaitu kayu wuru dan kayu babi. Fenomena perburuan liar dan juga illegal logging yang terjadi di kawasan hutan ini menunjukkan bahwa sistem pengelolaan yang saat ini ada masih belum mampu memberikan jaminan keamanan bagi kawasan hutan ini.

Kebutuhan Dukungan Parapihak dan Nilai Penting Kolaborasi

Hutan dengan segala potensi dan fungsinya, sejatinya berhubungan dengan kepentingan banyak pihak. Kelestarian hutan bukanlah kepentingan pihak pengelola (dalam hal ini Perhutani, misalnya). Kelestarian  hutan merupakan kepentingan dan kebutuhan berbagai lapisan masyarakat, baik yang tinggal di sekitar hutan maupun masyarakat yang tinggal di daerah hilir, rusaknya Hutan Petungkriyono  akan memberikan dampak negatif dan resiko bencana alam bagi masyarakat yang tinggal di daerah hilir. Kerusakan hutan juga akan memicu hilangnya keanekaragaman hayati dan juga potensi ekonomi masyarakat seperti potensi wisata alam.

Berkembangnya kegiatan wisata alam di kawasan ini dapat dijadikan bukti bahwa hutan mampu memberikan manfaat ekonomi tanpa harus menebang ataupun mengubahnya. Pengelolaan wisata alam yang baik dan berkelanjutan ke depan tentunya juga membutuhkan peran banyak pihak. Dengan demikian pengelolaan Hutan Petungkriyono sejatinya juga membutuhkan dukungan dari banyak pihak selain institusi utama yaitu Perhutani. Masyarakat dan pemerintah desa perlu ditingkatkan kepeduliannya dalam hal ini. Instansi pemerintah daerah baik di kabupaten maupun provinsi juga seharusnya memberikan kontribusi positif bagi pengelolaan Hutan Petungkriyono yang lestari dan mensejahterakan masyarakat. Beberapa pihak yang terkait dengan kawasan ini adalah:

Table. Para pihak dan Fungsi Utamanya
Para Pihak
Fungsi/Peran Utama Yang diharapkan dalam pengembangan manajemen kolaboratif

Perhutani KPH Pekalongan Timur
Pengelolaan kawasan Hutan Petungkriyono secara umum.
Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah
Berwenang dalam pengelolaan sumberdaya hutan di wilayah Provinsi Jawa Tengah
Mengkoordinasikan peran parapihak di tingkat provinsi maupun nasional
Bappeda Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Pekalongan
Mengembangkan perencanaan pembangunan dan tata ruang wilayah
Balai Konservasi Sumberdaya Alam Provinsi Jawa Tengah
Pelestarian sumberdaya hayati terutama spesies langka di wilayah Provinsi Jawa Tengah, khususnya di kawasan Hutan Petungkriyono dan sekitarnya
Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Pekalongan
-         Mengembangkan program-program yang bertujuan menjaga kualitas lingkungan hidup
          Melaksanakan pemantauan terhadap kualitas lingungan hidup
Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Pekalongan
Mengembangkan destinasi dan obyek wisata yang ramah lingkungan dan berkeadilan sosial
Dinas PU
Meningkatkan kualitas infrastruktur
Kepolisian
Penegakan dan pembinaan hokum hokum
Pemerintah Desa
          Mengembangkan dan menjalankan kebijakan pembangunan desa yang ramah lingkungan  sesuai kewenangannya
        Mengembangkan program-program kesejahteraan berbasis dana desa
Masyarakat Desa  
Mengembangkan potensi hutan secara berkelanjutan,

      Berpartisipasi aktif dalam pengembangan kebijakan dan program pembangunan
Organisasi masyarakat / LSM
Pengembangan kapasitas, advokasi, networking, dll
Pihak Swasta/Perusahaan
            Mengembangkan  investasi berdasarkan prinsip keberlanjutan
            Pengembangan program-program Tanggung Jawab Sosial  Perusahaan (CSR)

Keterlibatan dan kontribusi dari berbagai pihak ini seharusnya tidak berjalan sendiri-sendiri namun juga ditopang oleh semangat mengembangkan sinergi atau keterpaduan sehingga terjadi hubungan yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya sehingga pengelolaan kawasan ini dapat berjalan secara optimal. Jika peran parapihak ini  tanpa didasari oleh semangat menjalin sinergi maka hal ini dapat menyebabkan berbagai persoalan ke depan berupa konflik kepentingan antar pihak.(5) Oleh karena itu perlu dikembangkan sebuah proses kolaborasi parapihak yang berkepentingan dengan pengelolaan Hutan Petungkriyono.

Tujuan dari pengembangan Pengelolaan Kolaboratif di Kawasan Hutan Petungkriyono adalahMengembangkan kesepakatan-kesepakatan  parapihak yang terkait dengan Hutan Petungkriyono yang dapat menjamin kelestarian sumberdaya hutan dan keberlanjutan pengelolaan potensinya. Mengembangkan keterpaduan dan sinergi parapihak yang mempunyai kepentingan terhadap pengelolaan Hutan Petungkriyono. Mengembangkan dukungan yang lebih luas terhadap pengelolaan potensi dan pelestarian Hutan Petungkriyono

Dalam jangka pendek kegiatan pengembangan co-manajemen ini akan menghasilkan sebuah dokumen Rencana Induk Kolaboratif yang berisi gagasan mendasar dan umum parapihak dalam memanfaatkan sekaligus melestarikan kawasan Hutan Petungkriyono

Beberapa dampak yang diharapkan dari kegiatan penyusunan Rencana Kolaborasi Pengelolaan dan Pelestarian Kawasan Hutan Petungkriyono  adalah sebagai berikut: Munculnya keterpaduan dan sinergi yang konstruktif diantara parapihak yang terkait dengan pengelolaan dan pelestarian Kawasan Hutan Petungkriyono ke depan. Terkoleksinya data sebagai basis analisis untuk pengembangan Kawasan Hutan Petungkriyono ke depan. Terbukanya jalinan komunikasi antar pihak yang berkepentingan dengan Kawasan Hutan Petungkriyono sehingga mengurangi dan mencegah resiko konflik di masa yang akan datang. Meningkatnya kemampuan parapihak terutama masyarakat desa dalam menyusun langkah-langkah pengembangan Kawasan Hutan Petungkriyono yang menjamin kelestarian sumberdaya dan lingkungan.

Daftar Pustaka:

1 . Nijman, V. and Van Balen, S.B., 1998. A faunal survey of the Dieng Mountains, Central Java, Indonesia: distribution and conservation of endemic primate taxa. Oryx, 32(2), pp.145-156.
2. Setiawan, A., Nugroho, T.S., Wibisono, Y., Ikawati, V. and SUGARDJITO, J., 2012. Population density and distribution of Javan gibbon (Hylobates moloch) in Central Java, Indonesia. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 13(1).
3. SK Menhut Nomor: 359/Menhut.II/2004 tanggal 1 Oktober 2004
4. Fisher, R.J., 1995. Collaborative management of forests for conservation and development (p. 65). Gland, Switzerland: Iucn.



Sunday, March 10, 2019

Pelatihan Konservasi Owa Kalimantan dan Habitatnya.


di tulis oleh :  Kasih Putri Handayani 
e-mail : kasihputri288@gmail.com

Kalimantan Tengah, 26-28 Februari 2019, SwaraOwa bekerjasama dengan Goodhope Asia Holding, Ltd., Borneo Nature Foundation, IUCN Primate-Section on Small Apes, , Tropenbos Indonesia Program, dan ELTI.

Foto bersama peserta pelatihan

Kegiatan pelatihan ini merupakan follow up dari pelatihan sebelumnya yang dilaksanakan bulan Agustus 2018, masih dalam upaya konservasi Owa di areal perkebunan kelapa sawit. Mengapa owa?

"Begini Gaeeesss"Owa dan siamang, atau yang secara luas disebut dengan gibbon, mungkin memang tidak setenar orang utan ataupun harimau. Namun sesungguhnya, selain memiliki berbagai keunikan, gibbon juga memiliki peran yang tak kalah penting di dalam ekosistem sebagai agen penyebar biji.



Dari 20 spesies gibbon, Indonesia memiliki 9 spesies yang tersebar pada sisa-sisa hutan di Pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa, serta Kepulauan Mentawai, baik pada kawasan yang dilindungi ataupun tidak. Keberadaan owa di luar kawasan konservasi, dalam hal ini area konsesi perkebunan kelapa sawit, terkadang luput dari perhatian atau tidak menjadi prioritas pengelola kawasan. Oleh karena itu, melalui rangkaian kegiatan ini, kami ingin mengarusutamakan konservasi owa dan habitatnya di kalangan pengelola perkebunan kelapa sawit.

Pelatihan  kali ini berpusat di PT AWL-KMS di Kecamatan Bukit Santuai, Kotawaringin Timur. Selain perwakilan dari tuan rumah, pelatihan ini diikuti oleh perwakilan PT Agro Indomas dan PT Agro Bukit dari Group Goodhope; PT KKP dari Wilmar Group; Musim Mas Group; serta PT Sawit Nabati Agro, IOI Group. Yang istimewa dalam pelatihan kali ini adalah materi yang bersifat multidisiplin karena selain belajar tentang owa, kami semua juga belajar tentang pentingnya identifikasi tumbuhan dan  pelibatan masyarakat dalam upaya konservasi.

Hari ke-1. Materi ruang

Materi pertama disampaikan oleh Arif Setiawan dari, SwaraOwa. Wawan menyampaikan materi tentang Owa secara umum, sebagai primata penyebar biji, hidup berpasangan, dan punya nilai sebagai identitas daerah, karena tidak smua daerah mempunyai Owa. Ancaman kelestarian dan habitatnya,  serta berbagi pengalaman tentang program konservasi owa di Pekalongan yang diangkat melalui kopi owa, dan di Kepulauan Mentawai.
Materi kelas, bersama peserta  pelatihan

Materi kedua oleh Eka Cahyaningrum dari ,BNF.   Eka berbagi pengalaman tentang penelitian dan upaya konservasi owa-owa di Sebangau, Kalimantan Tengah. Eka kembali menekankan peran penting owa-owa bagi ekosistem hutan. Kenyataan bahwa owa masih dapat dijumpai pada hutan yang tidak ditempati orang utan, membuatnya menjadi tumpuan utama dalam persebaran biji di hutan.
Eka (BNF) menyampaikan cerita tentang Owa kalimatan

Materi ketiga adalah tentang pelibatan masyarakat dalam konservasi hutan dan program restorasi, yang disampaikan oleh Evi Indraswati dari  PILI Pusat Informasi Lingkungan Indonesia. Terdapat 3 pokok bahasan yang beliau sampaikan yakni  pelibatan/pemberdayaan dan teknik sosial; strategi mendorong perubahan sosial; serta pengalaman tentang restorasi hutan berbasis masyarakat. Evi yang akrab dipanggil Epoy ini menekankan pentingnya empati yang menjadi lantai dasar dalam teknis fasilitasi yang merupakan kunci dalam proses kolaborasi. Diskusi pada sesi ini berlangsung tak kalah seru mengingat sebagian peserta pelatihan berhadapan langsung dengan masyarakat sekitar perkebunan yang memiliki beragam kepentingan dan kebutuhan.
Dr. Insya menjelaskan teknik identifikasi flora di habitat Owa

Materi terakhir di hari pertama pelatihan ini disampaikan oleh Dr. Arbainsyah dari ELTI. Beliau menyampaikan materi tentang identifikasi tumbuhan. Materi ini sangat penting dalam upaya konservasi owa, mengingat owa adalah primata arboreal yang sangat tergantung pada keberadaan pohon. Dr. Insya demikian lebih akrab di panggil, menyampaikan materi identifikasi tumbuhan yang dulu terkesan rumit dan cenderung hafalan, menjadi lebih menarik. Karena kami diajak untuk mengenali jenis tumbuhan melalui karakter utamanya.

Hari ke-2. Praktik lapangan

Pada saat praktik lapangan ini, peserta dibagi ke dalam 3 kelompok untuk melakukan praktik survey owa dengan metode vocal count, identifikasi minimal 3 sampel tumbuhan, dan survey social. Pagi pukul 05.30 tim sudah berangkat menuju Pos Keramat, Bukit Santuai untuk praktik survey owa sekaligus identifikasi tumbuhan. Sayangnya, hingga pukul 08.00 cuaca mendung dan tak satupun suara owa yang terdengar. Akhirnya ketika hujan mulai turun, tim ditarik kembali ke pos untuk sarapan. Kurang lebih pukul 08.40 tiba-tiba terdengar suara owa dari arah bukit. Perwakilan kelompok langsung memulai mengambil data.

Pukul 09.30 tim bergerak menuju Desa Tanah Haluan untuk praktik survey sosial. Masing-masing kelompok sudah memiliki tugas berupa informasi yang harus diambil. Tiba di desa, beberapa warga sudah menunggu untuk mengikuti praktik FGD yang kemudian dilanjutkan dengan wawancara.
Malam harinya, setelah beristirahat sejenak, masing-masing kelompok mempersiapkan laporan hasil praktik yang akan disampaikan esok harinya.
Praktek lapangan di HCV Bukit Santuai

Hari ke-3. Penanaman, presentasi peserta, kesimpulan dan penutupan

Hari terakhir pelatihan di awali dengan kegiatan penanaman di sekitar Sungai Egang yang termasuk kedalam areal HCV. Area ini juga merupakan habitat owa Kalimantan serta lutung merah. Terdapat ± 20 bibit yang ditanam beriring harapan agar pohon-pohon tersebut dapat tumbuh dengan baik. Selepas penanaman, kami kembali menuju GMO untuk presentasi hasil praktik.
Pada praktik survey owa, masing-masing tim memberikan hasil perhitungan kepadatan kelompok owa di masing-masing listening post serta kendala yang dihadapi. Untuk praktik identifikasi tumbuhan, masing-masing kelompok menampilkan foto sample beserta karakteristik dan nama ilmiahnya. Untuk survey sosial, menyesuaikan dengan tugas masing-masing kelompok. Terdapat beberapa catatan menarik dari survey sosial ini yakni terkait dengan keberadaan owa dan orang utan sebagai hewan yang dianggap keramat, serta beberapa jenis tumbuhan yang penting dalam upacara adat. Dengan demikian maka terlihat interaksi antara hidupan liar baik hewan maupun tumbuhan, serta manusia.

Selepas presentasi, masing-masing narasumber memberikan ulasan singkat dan rangkuman kegiatan. Sebaliknya, peserta juga memberikan tanggapan baik harapan maupun evaluasi untuk kegiatan ini. Secara umum, peserta menyambut baik inisiatif konservasi owa ini. Mereka juga berharap untuk bisa menerapkan dan menyebarluaskan pengetahuan dan keterampilan yang telah mereka peroleh, di lingkungan kerja masing-masing. Menjelang pukul 12.00 kegiatan ditutup oleh GM PT AWL. Beliau juga berpesan kepada kami semua untuk menerapkan apa yang telah kami peroleh selama pelatihan karena upaya konservasi memang sangat penting dilakukan demi menjaga keseimbangan ekosistem, lingkungan tempat tinggal kita,manusia.

"Semangat Pagi dan Salam Owa"

Testimoni peserta:
saya sangat senang dengan adanya pelatihan konservasi owa dan habitatnya dikarenakan pelatihan sudah cukup menyeluruh, mulai dari cara monitoring atau survey populasi, identifikasi tanaman untuk menjadi panduan dalam preferensi makanan owa dan juga mempelajari sosialnya yang tidak bisa lepas dari suatu keberhasilan program konservasi. Ditambah lagi dengan pemberi materi beserta asistennya yang super komunikatif
Harapan saya, kedepannya perlu ada studi yang komprehensif mengenai preferensi makanan owa terutama di daerah Kalimantan. Hal ini juga bisa menjadi pedoman dalam melakukan revegetasi lahan sesuai dengan jenis alami habitat dan ketercukupan sumber makanan owa -- Fery -Musim Mas Group

Kesan saya ikut pelatihan senang sekali bertemu orang-orang yang memang ahli di bidangnya..
Pesan saya mungkin nanti lebih ditekankan untuk sampai mengetahui jumlah individu nya, agar tidak rancu -- Vivi-IOI Group