Tuesday, February 19, 2019

Seri Diskusi Konservasi #2 : Bekantan dan Orangutan di Bentang Alam Wehea-Kelay

Foto bersama peserta dan pembicara seri diskusi Bekantan dan Orangutan 

Sokokembang, 14 Februari 2019, pendopo kopi Owa mendapat kunjungan istimewa dari The Nature Conservansi Indonesia. Kunjungan ini berawal dari interest yang sama terhadap jenis-jenis Owa (Hylobatidae) yang ada di site TNC namun belum mendapatkan prioritas untuk upaya pelestariannya. Kemudian dibawah koordinasi Arif Rifqi, membawa tim lapangan mereka untuk melihat langsung bagaimana kegiatan monitoring Owa jawa yang di lakukan di Sokokembang.  Kedatangan tim ini juga mengajak serta 2 staff dari BALITEK KSDA yang aktif melakukan penelitian dan konservasi Bekatan, sementara Arif Rifqi saat ini juga sebagai coordinator untuk penelitian Orangutan di areal kerja TNC di Kalimantan Timur.

Anjar Prasojo presentasi tentang satwaliar di hutan Lindung Petungkriyono

Kedatangan tamu-tamu istemewa dengan pengalaman berbeda, sangat berharga sekali mau berbagi cerita lapangan dan inisiasi yang di lakukan. Acara seri diskusi yang telah di Inisiasi sejak tahun lalu oleh swaraOwa di gelar terbuka untuk umum, tercatat sebanyak 26 orang, telah mendaftar dan hadir hari ini tanggal 14 Februari 2019. Acara di buka oleh swaraowa dan perkenalan masing-masing peserta, selain 5 orang staff TNC dan 2 staff Balitek, ada mahasiswa, kelompok pecinta alam, komunitas fotografi,  wirausahawan batik, berasal dari Pekalongan, Semarang, dan Yogyakarta.
Untuk pembukaan acara diskusi, Anjar Prasojo dari komitas fotografi alam liar pekalongan mempresentasikan foto-foto satwaliar yang diperoleh di hutan Sokokembang untuk mengenalkan keragaman fauna di wilayah Pegunungan Pekalongan, Anjar juga menceritakan latar belakang kenapa beliau yang awalnya pelaku jual-beli satwa eksotik yang beralih menekuni fotografi alam liar, dan  berkarya melalui foto satwaliar daripada mengekang satwa dalam kandang.

Setelah pengenalan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Wawan dari SwaraOwa, Triatmoko dari Balitek KSDA Kalimantan Timur menceritakan tentang salah satu primata endemik Kalimantan, yaitu Bekantan (Nasalis larvatus). Menurut  Triatmoko,  Bekantan merupakan monyet pemakan daun (colobine) yang memiliki sitem pencernaan mirip dengan Sapi ( ruminansia), lambung bersekat-sekat dan bakteri pencernaan membantu mencerna daun-daun (Regurgitate-remastication). Secara morphology jantan dan betina dapat di bedakan dengan jelas dari bentuk hidungnya, Bekantan Jantan mempunya hidung lebih besar dan lebih panjang dari betina.Triatmoko menceritakan kalau bekatan ini mempunyai sistem sosial unik, membentuk kelompok int, dan di dalam kelompok inti ini mempunyai sub-sub kelompok yang lain yang mempunyai strata, ada kelompok non-breeding, all male group, one-male group dan soliter.
Triatmoko (Balitek KSDA/Primatlogi IPB), menjelaskan tentang Bekantan

Habitat bekatan banyak di jumpai di tep-tepi sungai, hutan rawa, dan  hutan mangrove. Kondisi terkini habitat bekantan di Kalimantan, kini juga telah dan sedang mengalami tekanan yang tinggi, karena koversi habitat menjadi pemukiman, tambak , tambang dan kelapa sawit. Hilangnya habitat asli bekantan  ini di khawatirkan akan semakin memperparah laju kepunahan bekantan, inisiasi-inisiasi di tingkat site, mempromosikan bekantan dengan kegiatan wisata yang ramah lingkungan juga telah dilakukan. Menyambungkan secara ekologis hutan-hutan yang terfragmentasi dengan hutan-hutan yang ada disekitarnya menjadi tantantang berbeda di antara banyaknya kepentingan.
Arif Rifqi (TNC) memaparkan tentang konservasi orangutan Bentang alam Wehea-Kelai

Presentasi kedua di sampaikan oleh Arif Rifqi dari TNC Indonesia, bercerita tentang Orangutan (Pongo pygmaeus), di awal pemaparan Rifqi menyampaikan fakta-fakta orangutan di Indonesia, di antaranya kini ada 3 jenis orangutan yaitu 1 jenis orangutan kalimantan, dan 2 jenis orangutan di Sumatera ( Pongo abelii, dan Pongo tapanuliensis). Jumlah populasi orangutan liar untuk di Kalimantan lebih dari 50.000 individu, dan 12.000 individu di Sumatera, untuk orangutan tapanuli populasinya ada sekitar 760 individu. Orangutan dengan hanya 3 % genetika berbeda dengan manusia, merupakan identitas global, berperan dalam regenerasi hutan, karena menyebarkan biji-bijian, lebih dari 1400 jenis yang disebarkan oleh Orangutan, menjadikan kerabesar ini species payung untuk perlindungan ekosistem, ucap Rifqi.

Yang menarik lagi dari kerja konservasi orangutan di Kalimantan Timur ini, adalah inisiasi TNC Indonesia dalam membingkai upaya pelestarian orangutan ini melalui pendekatan mulit fungsi bentang alam, Landscape . Bagaimana mengintegrasikan upaya konservasi orangutan yang melibatkan banyak pihak, kedalam rencana tata ruang provinsi, sekaligus penguatan tatakelola para pihak di habitat Orangutan.  Pendekatan TNC Indonesia ini selain melibatkan masyarakat setempat juga pengelola kawasan tersebut, dan level bentang alam Wehea-Kelay seluas lebih dari 500.000 hektar, proses dari awal hingga terbentuk forum dan SK Gubernur menunjuk sebagai Kawasan Ekosistem Esesial, sebuah terobosan inovatif untuk pelestarian orangutan secara kolaboratif. Tidak hanya untuk orangutan fungsi penting kawasan ini diharapkan dapat terus dapat di kelola secara bijaksana dan berkelanjutan demikian tutup Rifqi.

(sampai jumpa di seri diskusi selanjutnya)



Wednesday, January 30, 2019

Belajar dari Para Burung : Kongress Peneliti dan Pemerhati Burung

tim Uma malinggai yang ikut dalam acara kongress burung 

Acara Kongress Peneliti dan Pemerhati Burung Indonesia yang ke-5 menjadi kesempatan SwaraOwa mengajak tim dari Uma Malinggai Tradisional  Mentawai belajar tentang burung-burung di Indonesia, permasalahan dan potensinya pemanfaatannya. Acara yang di selenggarakan di Padang tanggal 26-29 Januari 2019 ini di laksanakan di Universitas Negeri Padang dan juga di Universitas Andalas.
Kesempatan untuk mempromosikan keanekaragaman jenis burung di Kep.Mentawai juga menjadi pengalaman tersendiri untuk tim kali ini. Acara  di mulai di hari minggu, di UNP dan kita ikut dalam 2 workhsop yaitu  ada yang masuk di kelas “ekowisata burung” dan ada yang masuk di kelas “Pengawasan dan Perdagangan Burung”.

Ridwan Tulus, dari SumatraandBeyond berbagi pengalaman bagaimana beliau membangun usaha ekowisata di wilayah Sumatra, dengan konsep  “Protect The Culture, Protect The Nature, Empower & Bring Benefit for Local People, and Support Conservation”.  Sesi ini menjadi diskusi menarik dengan teman-teman dari Mentawai, karena tim yang kita ajak ini juga merupakan bagian dari pelaku wisata yang ada di Kep.Mentawai.

Giyanto dari WCS Indonesia Program, menyampaikan cerita bagaimana beliau mendorong para penegak hukum di Indonesia terkait dengan perdangangan satwaliar, dengan metode “undercover” yang terbentuk dari naluri sepertinya ini menjadi metode pengumpulan data di level grassroots yang sangat penuh resiko. Namun dari kegiatan mas Giyanto ini memberikan banyak kemajuan untuk penegakan hukum khususnya terkait kejahatan satwaliar di Indonesia. Apalagi burung, yang kini berjumlah 1771 jenis ini hampir 15% di antaranya adalah terancam punah. Modus jual beli burung ini sudah sedemikian canggih seperti dalam sindikat narkoba, perdagangan illegal yang di lakukan secara sistematis, terorganisir, canggih, dalam skala nasional dan internasional, Indonesia sebagai sumber keanekargaman hayati tinggi sekaligus sebagai pasarnya. Menurut mas Giyanto, jenis-jenis burung yang di perdaganggankan di Indonesia  80% merupakan tangkapan dari alam liar, di tahun 2016-2018 dari 3 lokasi pasar burung saja tercatat 412 jenis dan 712866 individu yang di jual belikan.

Hari kedua  menjadi kesempatan kita untuk menampilkan hasil pengamatan tentang burung-burung Pantai di Kep.Mentawai, hasil pengamatan ini juga menjadi hasil karya ilmiah pertama untuk tim Mentawai ini tentang burung-burung pantai, dan dapat di download disini untuk 2 publikasi penelitian dari kegiatan di Kep.mentawai. Meskipun tujuan utama di kepulauan Mentawai adalah untuk pelestarian Bilou, namun pengalaman tentang burung ini menjadi hal baru dan juga kemungkinan yang dapat di kembangkan sebagai bagian upaya pelestarian keanekargaman hayati kep.mentawai yang berkelanjutan. 

Bagi tim Uma Malinggai acara ini menjadi penting untuk melatih kemampuan, meningkatkan kapasitas dan juga menambah jejaring pegiat konservasi alam, dan motivasi juga untuk tampil di acara tahun depan dengan membawakan sendiri hasil pengamatannya, sampai jumpa di KPPBI VI, di Jawa Timur.



Thursday, January 24, 2019

Seri Diskusi Konservasi #2 : Orangutan dan Bekantan

Bulan Februari 2019 acara seri diskusi konservasi yang ke dua kalinya di gelar, kali ini bertepatan dengan kunjungan lapangan dari kawan-kawan pegiat konservasi primata di Kalimantan Timur. Bekatan dan Orangtuan kalimatan keduanya merupakan primata endemik Kalimantan. untuk profil kedua pembicara ini dapat di baca di link berikut ini https://id.linkedin.com/in/arifqbio dan https://triatmokonature.wordpress.com

Acara ini gratis, namun silahkan menghubungi Contact Person yang tercantum untuk mendaftar. Terimakasih.