Showing posts with label Konservasi. Show all posts
Showing posts with label Konservasi. Show all posts

Saturday, June 28, 2025

Upacara "Munggah Molo" di Sokokembang: Menyulam Doa dalam Tiang Pertama

 Oleh Arif Setiawan

 


Sebagai bagian dari tradisi luhur masyarakat Jawa di Petungkriyono, upacara *Munggah Molo* digelar untuk menandai dimulainya pembangunan Pusat Edukasi Konservasi SwaraOwa di Sokokembang. *Molo*, balok utama pada kerangka atap bangunan, secara simbolis memegang peran penting sebagai fondasi spiritual dan harapan akan rumah yang kokoh serta diberkahi.

Ritual ini diiringi dengan doa bersama dan sesaji berupa hasil bumi, simbol syukur dan harapan kepada Sang Pencipta serta penghormatan kepada alam sekitar. Di tengah hutan hujan dataran rendah yang menjadi habitat owa jawa, prosesi ini menjadi penanda menyatunya ilmu pengetahuan, budaya lokal, dan spiritualitas dalam sebuah bangunan yang akan menjadi ruang tumbuh bagi konservasi dan pembelajaran.

Tanggal 22 Juni 2025, menjadi penanda untuk pembangunan fasiltas edukasi konservasi swaraOwa, meskpun kegiatan pendahuluan pembersihan lahan dan pembuatan pondasi telah dimulai 3 hari sebelumnya. Bagian utama atap rumah tertinggi ini menjadi semangat tim swaraOwa untuk terus mengembangkan kegiatan pelestarian alam yang telah dan sedang dilakukan di habitat Owa Jawa. Bangunan ini nantinya akan berfungsi sebagai front office, pusat informasi untuk kegiatan swaraOwa.

Simbol-simbol dalam upacara *Munggah Molo* sarat makna filosofis dan spiritual, mencerminkan harapan akan rumah yang tidak hanya kokoh secara fisik, tetapi juga harmonis secara batin dan sosial. Berikut beberapa simbol utama yang biasa digunakan dalam tradisi ini, khususnya di wilayah seperti Petungkriyono:

 1. **Tebu (Saccharum officinarum)** 

   Melambangkan *manisnya kehidupan* dan harapan agar rumah menjadi tempat yang penuh kebaikan dan kebahagiaan. Tebu juga mencerminkan keteguhan dan kejujuran.

 2. **Padi (Oryza sativa)** 

   Simbol *kemakmuran dan kesejahteraan*. Padi yang menguning menandakan harapan agar penghuni rumah selalu tercukupi kebutuhan pangannya dan hidup dalam kelimpahan.

 3. **Kelapa (Cocos nucifera)** 

   Melambangkan *keutuhan dan kebermanfaatan*. Semua bagian kelapa bisa dimanfaatkan, mencerminkan harapan agar rumah menjadi tempat yang berguna bagi keluarga dan masyarakat.

 4. **Kain Merah Putih** 

   Simbol *nasionalisme dan perlindungan*. Warna merah putih juga dipercaya membawa energi positif dan perlindungan dari gangguan gaib. Kain ini digunakan untuk membungkus sesaji yang di tumbuk, yaitu daun dringo (Artemisia vulgaris), blanke sejenis rumput yang beraroma dan kencur (Kaempferia galanga) . Yang melambangkan perlindungan spritual, kesegaran, ketentraman, kekuatan dan ketahanan untuk bangunan dan yang menhuninya.

 5. **Uang Koin atau Logam** 

   Menandakan *rezeki dan kelancaran ekonomi*. Diletakkan sebagai doa agar rumah tidak kekurangan dan selalu diberi kelimpahan.

 6. **Jajanan Pasar dan Sesaji Hasil Bumi** 

   Wujud *syukur dan penghormatan* kepada leluhur serta alam sekitar. Ini juga memperkuat hubungan spiritual antara manusia dan lingkungan.

 7. **Kayu Jati atau Blandar Utama** 

   Kayu utama yang dinaikkan sebagai *molo* melambangkan *inti kehidupan dan arah tujuan*. Dalam konteks rumah, ini adalah fondasi spiritual dan simbol bahwa rumah akan menjadi tempat tumbuhnya nilai-nilai luhur.

 8. **Pisang satu tandan**

Satu tandan pisang terdiri dari banyak buah yang tumbuh bersama dalam satu tangkai. Ini mencerminkan harapan agar keluarga yang menempati rumah baru hidup rukun, saling mendukung, dan tidak tercerai-berai—seperti buah pisang yang tetap menyatu dalam satu tandan. Pisang juga merupakan simbol keberkahan dan kelimpahan,buah yang mudah tumbuh dan berbuah banyak. Dalam konteks upacara, satu tandan pisang menjadi doa agar rumah tersebut selalu diberkahi rezeki, kesehatan, dan kebahagiaan. Pisang juga melambangkan kesinambungan hidup. Setelah berbuah, pohon pisang akan mati, tetapi akan tumbuh tunas baru di sekitarnya. Ini menjadi simbol harapan agar rumah menjadi tempat tumbuhnya generasi baru yang membawa nilai-nilai kebaikan. Pisang satu tandan juga menjadi bagian dari sesaji sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan alam sekitar, memohon perlindungan dan restu atas rumah yang dibangun.

9. ** kembang telon** : Melati, Kenanga dan Mawar

10, **sesajen lainnya** :  jagung, tapih, baju kebaya, di taruh di bagian rangka molo, dan ayam ingkung utuh.

Semua sesajen ini kemudian di doakan bersama dan kemudian di makan bersama sarapan bagi tukang-tukang yang bekerjam membangun bangunan rumah ini. Tradisi ini menjadi symbol semangat dan doa untuk tim swaraowa yang ingin berkontribus aktif dalam pembangunan konservasi di Kabupaten Pekalongan khususnya dan yang mewakili sebaran penting untuk jenis-jenis primata terancam punah khususnya owa jawa.


Monday, March 17, 2025

Perlindungan ikan, burung, dan primata di Dusun Sawahan: tonggak baru upaya pelestarian satwa liar Desa Mendolo

 Oleh : Imam Taufiqurrahman


Musyawarah warga Dukuh Sawahan yang dihadiri segenap warga, 15 Maret 2025

Sebuah tonggak baru dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati Desa Mendolo, Lebakbarang, dihasilkan lewat musyawarah warga Dukuh Sawahan, Sabtu, 15 Maret 2025. Berlangsung di kediaman Pak Kaliri, kepala desa Mendolo, musyawarah berhasil menyepakati aturan mengenai perlindungan ikan, burung, dan primata wilayah mereka.

Musyawarah dihadiri oleh total 31 orang, 22 di antaranya warga setempat. Terdapat kepala dusun, RT, RW, dan tokoh masyarakat, termasuk perwakilan dari pedukuhan lain. Dalam sambutannya, kepala desa menyambut baik dan mendukung upaya perlindungan yang lahir dari warga Dusun Sawahan tersebut. Hasil kesepakatan diharapkan dapat menjadi contoh dan diikuti oleh dusun-dusun lain, sehingga cita-cita perlindungan yang lebih luas di lingkup desa dapat terwujud.

Berpijak pada perlindungan ikan

Gagasan perlindungan satwa liar ini lahir dari para pemuda Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo. Yayasan Swaraowa mendukung inisiatif tersebut, yang menjadi bentuk dari keresahan atas mulai menghilangnya satwa-satwa di lingkungan mereka, adanya perburuan dari orang-orang luar yang dengan leluasa membawa senapan mencari satwa.

Sebenarnya bagi masyarakat pedukuhan Sawahan, upaya perlindungan satwa liar bukan hal baru. Mereka telah lama memiliki aturan bersama, berupa larangan mengambil ikan di Kedung Kali Bengang, Kali Wisnu. Lokasi tersebut berada persis di bawah jembatan masuk ke Dusun Sawahan.

papan larangan menangkap ikan di Kali Wisnu

Larangan yang dibuat oleh pemuda dusun tersebut mampu berjalan dengan efektif. Tidak ada forum kesepakatan tertulis yang disusun. Baru setidaknya semenjak 2017, mereka secara swadaya memasang papan larangan berbunyi ‘dilarang menangkap ikan dengan cara apa pun di Kali Wisnu’. Berkat itu, tidak ada pengambilan ikan di sungai yang menjadi habitat raja-udang kalung-biru tersebut. Padahal, memancing menjadi hobi atau kesenangan hampir semua orang.

Bagaimana praktik baik ini bisa berjalan dengan efektif?

Semua bermula dari keresahan yang timbul akibat hilangnya ikan-ikan di Kali Wisnu. Hilangnya ikan bahkan mungkin sudah terasa semenjak era 1980-an. Tidak ada lagi ikan, hanya cerita dari orang-orang tua, macam keberadaan ikan tombro sebesar meja. Pengambilan berlebihan, dengan segala cara, membuat ikan-ikan tersebut menghilang.

Inisiatif lahir untuk mulai membibit ikan-ikan lokal pada 2012. Adalah dua pemuda Sawahan, Rohim dan Siswoyo, yang mengawali menabur ikan di sungai. Bibit ikan mereka ambil dari kali di sekitar, seperti Kali Sengkarang.

Hasilnya menggembirakan. Ikan-ikan mulai terlihat lagi dan berkembang biak.

Ikan tombro di sungai Wisnu Sawahan

Awalnya hanya ragalan atau tombro yang dilepas. Setelah banyak orang mengetahui, praktik ini mendapat sambutan dari pihak luar. Dinas Pertanian setempat, misalnya, yang memberi sekitar 20 ribu bibit mélem pada sekitar 2021. Terdapat pula jenis lain yang pernah dilepas, macam ikan mas dan lele.

Alih-alih berhasil, praktik pengambilan ikan kembali terjadi. Bahkan mulai meresahkan karena ikan kembali menghilang, memicu para pemuda yang berpikir bahwa ancaman kehilangan ikan di sungai mereka dapat terulang kembali.

Pada 2017, muncul kesadaran dan inisiatif dari para pemuda untuk membuat larangan. Meskipun larangan tersebut tidak tertulis, namun setidaknya ada dua butir larangan yang berlaku ke siapa pun. Saat itu, semua orang, baik warga pedukuhan Sawahan maupun orang luar Sawahan, tidak diperbolehkan untuk memancing atau mengambil ikan dengan cara apa pun di Kedung Kali Bengang dan menyetrum (nyentér) atau meracun semua jenis ikan di sungai.

Kesepakatan yang hanya dihasilkan dari obrolan-obrolan keresahan tersebut menyebar dari mulut ke mulut. Getuk tular di antara warga, di antara para pemancing yang biasa datang ke Kali Wisnu. Ditambah sebuah plang hasil swadaya berdiri di jembatan, upaya-upaya tersebut berhasil membuat siapa pun tidak lagi memancing ikan di Kedung Kali Bengang, yang menjadi pusat pembibitan ikan di Kali Wisnu.

Kesepakatan larangan itu sebenarnya tidak disertai dengan sanksi. Namun, satu kejadian di sekitar 2021, para pemuda mendatangi orang yang dicurigai akan menyetrum ikan di sungai. Meskipun tidak terbukti, orang tersebut diberi arahan untuk tidak memancing di sungai.

Kesadaran bersama ini mendapat dukungan dari semua lapisan warga. Dari keresahan dan aksi para pemuda, para orang tua mengikuti, mengamini inisiatif perlindungan tersebut. Hingga saat ini, setidaknya terdapat tujuh jenis ikan yang ada di Kali Wisnu. Terdapat gabus atau kutuk, wader atau unjar, sili, kékél, ragalan, uceng, dan mélem. Hanya sejenis udang lobster air tawar, dikenal warga sebagai urang sempu, yang benar-benar menghilang dari Kali Wisnu.

Kesepakatan baru

Sejarah panjang itulah yang kemudian menjadi pijakan dalam musyawarah. Terkait ikan, bila sebelumnya bentuk perlindungan hanya berupa pelarangan, dalam musyawarah terdapat penambahan beberapa poin kesepakatan. Dari delapan poin yang dilahirkan, terdapat kesepakatan berupa tidak diperbolehkannya melepaskan jenis-jenis ikan asing serta komitmen untuk menjaga hutan di sepanjang hingga hulu sungai.

Berita Acara kesepakatan musyawarah tentang
 perlindungan ikan,
 burung, dan primata

Dalam musyawarah, aturan perlindungan satwa liar menghasilkan kesepakatan baru berupa perlindungan burung dan primata. Setiap jenis burung maupun primata, misalnya, dilarang untuk diambil. Praktik yang memang sudah dijalankan oleh warga, namun belum tertuang dan terdokumentasikan dalam kesepakatan bersama.

Aturan itu berlaku bagi semua orang, siapa pun, baik warga Sawahan maupun bukan. Adapun emprit dan monyet ekor-panjang yang dianggap sebagai gangguan, hasil musyawarah dengan bijak hanya memberlakukan pengusiran.

Guna mencegah hilangnya berbagai jenis pohon pakan primata, musyawarah menyepakati adanya larangan untuk menebang atau merusak pohon-pohon pakan alami primata. Adapun guna mencegah perubahan perilaku primata, dihasilkan kesepakatan untuk melarang adanya pemberian pakan secara langsung.

Hasil kesepakatan musyawarah ini sejalan dengan program konservasi raja-udang kalung-biru yang tengah dijalankan SwaraOwa. Keberadaan burung berstatus Kritis itu amat bergantung pada sungai berhutan sebagaimana Kali Wisnu. Kesepakatan yang dihasilkan lewat program yang didanai oleh ASAP dan OBC ini tidak hanya menjamin perlindungannya, namun juga sungai sebagai habitatnya. Termasuk pula ikan-ikan yang berpotensi sebagai sumber pakan burung yang populasi globalnya hanya kurang dari 250 ekor itu.

Thursday, October 31, 2024

Kunjungan Sekolah : Pendidikan Konservasi untuk Generasi Muda

 Oleh Kurnia Ahmaddin


 Kunjungan kampanye konservasi bulan Oktober 2024 kami laksanakan dalam 2 rangkaian kegiatan. Peserta merupakan siswa SMA N 1 Batang yang tergabung dalam kelompok pecinta alam Gasmapala. Sejumlah 43 peserta mengikuti rangkaian acara yang kami mulai dengan acara pemberian materi mengenai pentingnya fungsi hutan, pentingnya Owa jawa dan satwa liar lain yang ada di hutan Petungkriyono. Pembekalan ini juga kami isi dengan materi etika pengamatan satwa liar dan cara identifikasi satwa liar yang akan mereka amati pada acara berikutnya. Pemberian materi ini dilaksanakan di Aula SMA 1 N Batang pada 8 Oktober 2024.

Rangkaian acara berikutnya adalah praktik pengamatan dan monitoring satwa liar yang dilaksanakan pada tanggal 13 Oktober 2024 di Welo Asri. Peserta berkumpul untuk pembagian kelompok dan pembagian jalur pengamatan yang ada di hutan sekitar Kawasan wisata Welo Asri. Untuk follow up program pelatihan monitoring yang telah terlaksana untuk pemuda desa Kayu Puring, kami mengajak 5 peserta pelatihan untuk menjadi pendamping dalam pelaksaan kegiatan pada pagi hari tersebut. Pendamping bertugas untuk mengingatkan etika pengamatan satwa liar dan membantu dalam pencarian satwa liar yang dapat teramati selama pengamatan berlangsung.

Pematerian di kelas, SMA 1 Batang


pengamatan satwa di hutan ds.kayupuring

Peserta dibagi menjadi 4 kelompok dan berjalan menuju 2 jalur berbeda yang ada di Welo Asri. Perjumpaan dengan Lutung Jawa sepertinya menjadi primadona dalam agenda pengamatan kali ini. Hal ini dapat terlihat dari hasil presentasi masing-masing kelompok yang semuanya mempresentasikan perjumpaan dengan Lutung jawa. Namun perolehan hari itu tidak hanya Lutung, peserta juga dapat mendeskripsikan 5 jenis burung yang mereka jumpai selama pengamatan dengan baik. Terlepas dari jumlah yang belum banyak namun, deskripsi yang cukup runtut dari peserta yang baru pertama melakukan pengamatan satwa liar merupakan modal yang baik untuk kegiatan pengamatan kedepannya.

diskusi hasil pengamatan

Rangkaian acara kami tutup dengan foto Bersama setelah pembagian souvenir gelas Owa jawa kepada masing-masing peserta dan pendamping. Harapan besar dari kegiatan ini adalah muncul inisiasi terkait dengan kecintaan pada satwa liar yang ada di sekitar lingkungan para generasi muda. Adanya kegiatan serupa yang kontinyu agaknya diperlukan untuk menambah kepedulian satwa liar untuk tetap lestari di alamnya.

Wednesday, June 22, 2022

Yang Muda yang Berkarya, Melestarikan dan Mengembangkan Potensi Desa

 oleh : Sidiq Harjanto

Durian, salah satu potensi wana-tani Desa Mendolo

Generasi muda memegang peran penting dalam membuat inovasi dan perubahan dalam banyak hal, termasuk dalam pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA). Generasi muda memiliki energi yang besar dan didukung kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi. Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo telah mencoba mengambil peran dalam pengelolaan SDA di Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan.

PPM Mendolo sendiri merupakan sebuah komunitas yang mewadahi para pemuda-pemudi di Desa Mendolo yang memiliki perhatian dalam pengelolaan hutan dengan core bussiness wanatani (agroforestri). Komunitas ini telah didirikan sejak 18 Agustus 2019 dan telah menjalankan berbagai kegiatan, antara lain: rintisan usaha kopi dengan merek ‘Kopi Batir’, unit persemaian aneka tanaman komoditas wanatani, dan pendataan flora-fauna.

Kegiatan Pengamatan Burung di Mendolo

Pada tanggal 14 Juni 2022, Swaraowa memfasilitasi PPM Mendolo untuk membentuk kepengurusan baru dan merancang program yang akan dijalankan selama tiga tahun ke depan. Swaraowa berkepentingan untuk mendukung kegiatan PPM Mendolo agar bisa berkolaborasi dalam membangun skema pengelolaan SDA secara berkelanjutan di kawasan penyangga habitat owa jawa.

Cashudi (31) terpilih secara aklamasi untuk memimpin PPM Mendolo periode 2022-2025. Sebagai koordinator utama, Hudi –panggilan akrabnya- bertanggung jawab atas jalannya program-program komunitas ini. Ada dua tema besar dalam visi-misinya, yaitu: inovasi wanatani dan konservasi. Untuk membantu kinerja kepengurusan, telah dibentuk pula perangkat-perangkat kelembagaan meliputi: sekretaris, bendahara, sie konservasi, sie pertanian peternakan, sie produksi, sie promosi publikasi, dan sie humas.

Melalui musyawarah anggota kali ini juga terungkap bahwa tantangan kedepan bagi PPM Mendolo masih cukup berat. Mulai dari menata usaha-usaha yang telah berjalan sampai dengan memunculkan inovasi-inovasi baru dalam rangka mengoptimalkan potensi desa.

Pertemuan  PPM Mendolo


Usaha kopi yang telah dijalankan selama tiga tahun masih terhambat kendala minimnya modal, infrastruktur pengolahan, dan peralatan-peralatan produksi. Pada pertemuan ini, dihasilkan rumusan tata kelola produksi yang diharapkan bisa mempermudah kinerja tim produksi. M. Ridho (29 th) selaku koordinator produksi kopi, memastikan bahwa usaha kopi yang dijalankan cukup menguntungkan, tetapi skalanya perlu terus ditingkatkan. “Diharapkan peran aktif anggota untuk membantu proses produksi dan pemasarannya,” katanya saat memaparkan rencana kelanjutan usaha Kopi Batir.

Bisnis kopi yang telah dijalankan Ridho dan teman-temannya di PPM Mendolo ini ternyata berdampak signifikan. Dengan peralatan dan modal yang serba terbatas, mereka mampu mengubah tradisi minum kopi di kalangan masyarakat Mendolo. Kini, para warga yang nota bene merupakan petani kopi, tidak lagi mengonsumsi kopi kemasan pabrik. Mereka memilih untuk menyangrai kopi dari kebun mereka sendiri menggunakan mesin rakitan yang dibuat Ridho. Hal ini membuktikan bahwa usaha inovatif sekecil apapun dengan segala keterbatasannya mampu memberikan efek yang melebihi ekspektasi.

Bunga Kayu Babi, penyedia nektar di hutan Desa Mendolo


Akhir Januari lalu, PPM Mendolo telah membuat inovasi dalam mempromosikan durian sebagai salah satu potensi unggulan desa. Melalui program trip wisata grup kecil, komunitas ini mengundang para durian enthusiast untuk datang ke Mendolo dan merasakan langsung atmosfer musim puncak panen durian. Tentu saja, para peserta trip bisa menikmati aneka cita rasa buah tropis itu sepuasnya. Dikombinasikan dengan aktivitas fotografi burung, trip ini diapresiasi dengan sangat baik oleh para peserta. Trip durian ini nantinya diupayakan bisa dilakukan rutin setiap tahun, tentunya dengan perbaikan-perbaikan yang diperlukan.

Budi Santoso (31) yang memiliki minat besar dalam pengembangan birdwatching (pengamatan burung) sebagai atraksi wisata minat khusus menuturkan bahwa mulai banyak peminat wisata ini, tetapi PPM selaku pengelola mesti memastikan kesiapan pemandu dan paket-paket yang ditawarkan. Dari sisi potensi jenis-jenis burung yang diincar pengamat dan fotografer, Mendolo menyimpan banyak jenis potensial. Hanya saja, perlu dipastikan titik-titik di mana burung-burung itu mudah dijumpai.

Owa jawa di hutan Mendolo

Pada tema konservasi, PPM Mendolo masih akan fokus pada pendataan potensi flora-fauna dan pemetaan serta pemeliharaan mata air di wilayah desa. Rohim (37) selaku Koordinator Sie Konservasi akan mengupayakan agar PPM Mendolo bisa menjadi penggerak kesadaran masyarakat dalam isu-isu konservasi seperti perburuan satwa, kelestarian mata air, dan permasalahan sampah. “Kita mulai dengan memberikan contoh yang baik kepada masyarakat,” katanya.

PPM Mendolo berupaya menyelesaikan permasalahan-permasalahan lingkungan dengan memberikan alternatif pemecahannya. Misalnya dalam hal limbah ternak. Selama ini, limbah ternak yang dihasilkan para peternak sapi nyaris tak termanfaatkan dan dikhawatirkan malah mencemari sungai-sungai yang masih bersih. Sebagai inovasi dalam pengelolaan limbah ini, Sholeh Widiantoro (22) mengusulkan usaha pengolahan kotoran ternak untuk dijadikan pupuk. Tak hanya sekadar usul, dia menawarkan diri untuk memimpin jalannya usaha ini. “Berdasarkan uji coba yang pernah dilakukan, saya menyimpulkan bahwa potensi pasar pupuk ini cukup besar. Bahkan, dari kalangan petani di dalam wilayah desa sendiri banyak yang berminat,” katanya.

Elang jawa, fauna langka hutan Mendolo

Mendolo sebagai desa penghasil madu mulai merasakan dampak lingkungan dari pembalakan liar yang pernah terjadi sekira dua dasawarsa yang lalu. Semakin langkanya kayu babi (Crypteronia sp) dikeluhkan oleh para pemanen maupun peternak lebah madu. Jenis pohon hutan tersebut merupakan sumber pakan utama bagi lebah-lebah Apis dorsata maupun lebah nirsengat (Heterotrigona itama) di Mendolo. Semakin langka kayu babi berimplikasi pada semakin berkurangnya hasil panen madu dan semakin menjauhnya sebaran koloni lebah liar dari kawasan permukiman sehingga semakin menyulitkan pemanenan. “Selain tanaman-tanaman produksi, kami juga akan membibitkan pohon pucung untuk konservasi mata air, dan kayu babi untuk pengayaan pakan lebah,” papar Restu (28) yang memimpin divisi pembibitan.

Selama tiga tahun berkiprah, kegiatan PPM Mendolo masih didominasi kalangan pemuda. Menjadi tantangan lain untuk menarik minat para pemudi untuk ikut terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan komunitas ini. “Para pemudi masih mengalami kendala karena rata-rata kegiatan rapat-rapat PPM dilakukan pada malam hari sedangkan jarak antar dusun cukup jauh dan aksesnya sulit. Hal ini menjadi kesulitan bagi mereka,” kata Hudi yang masih memikirkan solusi untuk memecahkan permasalahan itu.

Tiga tahun ke depan akan menjadi pembuktian bagi Hudi dan kawan-kawannya di Mendolo untuk memberikan alternatif baru nan segar bagi pengelolaan SDA desa secara berkelanjutan. Selamat berkarya, PPM Mendolo! Salam Lestari!


Sunday, October 31, 2021

Merawat Warisan Alam : Hutan Mendolo

 Oleh : Arif Setiawan


Owa jawa, foto hasil monitoring di Mendolo, foto oleh Hudi

Desa Mendolo terletak di kecamatan Lebakbarang Kabupaten Pekalongan, lokasi ini masuk salah satu dari 16 lokasi prioritas untuk habitat Owa di Jawa Tengah ( Setiawan et al, 2012). Keberadaan owa di wilayah ini juga menjadi dasar untuk menentukan kegiatan konservasi jangka panjang untuk Owa jawa , yang dilakukan Swaraowa. Hutan Mendolo terletak di sekitar desa Mendolo, juga merupakan Kawasan hutan dengan status Hutan Produksi , yang masuk dalam pengelolaan Perum Perhutani, KPH Pekalongan Timur.

Berdasarkan survey terbaru tahun 2020 (Widyastuti et al 2020),  yang memodelkan prediksi keberadaan owa, berdasarkan tinjuaan kesesuaian habitat, kawasan ini merupakan habitat owa jawa, dengan kesesuaian tinggi, dengan nilai kemungkinan perjumpaan owa yang tinggi. Artinya hutan di kawasan ini sangat cocok untuk owa jawa tinggal, berdasarkan parameter prediksi seperti kelerengan, suhu, tutupan lahan, jarak terhadap pusat aktifitas manusia, seperti jalan, dan pemukiman.

 Melihat kawasan ini penting untuk habitat Owa jawa, skema yang sama dengan kegiatan sebelumnya di Sokokembang, untuk meningkatkan ekonomi dan praktik pertanian wana-tani, merupakan kegiatan yang dikembangkan di dusun ini untuk konservasi Owa. Awal mula kegiatan masuk di Desa Mendolo, pada tahunahun 2015,  ketika waktu itu  bersama  pemerintah daerah kabupaten Pekalonganuntuk inventarisasai flora dan fauna dilindungi , (https://swaraowa.blogspot.com/2015/09/survey-bersama-fauna-dan-flora.html )dan salah satu lokasi surveynya adalah Hutan Desa Mendolo. Sejak saat itu, tim swaraowa  secara rutin berkunjung ke Mendolo. Kegiatan-kegiatan kunjungan ini menjadi salah satu strategi kami membangun komunikasi dengan warga Desa terutama, untuk memetakan prioritas komotidas yang selanjutnya dapat di kembangkan, denga tujuan sebagai pendapatan ekonomi  sekaligus mendorong pelestarian hutan.

Owa jawa di hutan Mendolo, berdasarkan survey monitoring yang dilakukan berdasarkan suara (vocal count) terdapat kurang lebih 4 kelompok. Yang sebarannya terdapat di lokasi-lokasi bervegetasi alami dan susah di akses manusia, namun juga berada di kawasan yang budidaya agro-forest ( wana-tani), durian  dan kopi.


menikmati madu Mendolo


Desa,  Mendolo juga dikenal dengan penghasil durian,  Kawasan wana-tani durian ini tumbuh diantara pohon kayu alam, dimana durian merupakan komoditi yang dibudidayakan secara intensif, dan produk durian dari Desa ini mensuplai pasar-pasar durian Pekalongan dan sekitarnya ketika musim panen tiba. Meskipun penelitian tentang produktifitas durian dan faktor bio-ekologi  belum pernah di teliti, namun ada indikasi kalau produktifitas durian ini, terkait dengan keberadaan pollinator penyerbuk, seperti kelelawar, (baca liputan IDN Times tentang kelelawar di Hutan Mendolo ) dan serangga penyerbuk, seperti lebah-lebah. Salah satu produk komoditas yang terkait dengan wana-tani durian ini, adalah salah satunya madu, yang melimpah ketika musim bunga durian tiba. Hampir semua penduduk di desa ini terutama yang laki-laki adalah pemburu madu hutan.  Tradisi berburu madu hutan ini sudah turun-temurun dilakukan, madu juga menjadi konsumsi dan juga sumber ekonomi. Hasil survey awal untuk potensi madu hutan di des aini di tulis disini : https://swaraowa.blogspot.com/2019/08/tradisi-pemanenan-madu-hutan-desa.html. Berdasar kegiatan ini, akhirnya swaraowa dengan tim Beekeping , mulai memfokuskan kegiatan untuk mengangkat pengembangan budidaya jenis lebah tanpa sengat, atau klanceng. 

Sepah hutan (Pericrocotus flammeus)

Kadal punuk (Gonocephalus chamaeleontinus)

Gelatik batu kelabu (Lonchura oryzivora)

Paguyuban Petani Muda Mendolo  menjadi motor penggerakan pelestarian di mendolo, memupuk semangat kebersamaan dan kebanggaan akan hutan Mendolo. Berawal dari kegiatan pertemuan dengan di dusun Mendolo dan pelatihan di proses pasca panen di Swaraowa  Yogyakarta, rangkaian kegiatan anak-anak muda di desa mendolo ini terus muncul. Kegiatan perbaikan pasca panen kopi telah berhasil mendirikan “ Kopi Batir “, kewirausahaan kecil yang menghasilkan produk lokal dari kopi robusta dusun Mendolo. Seperti slogannya, “nepungke seduluran”, yang berarti kopi juga bertujuan mempererat persaudaraan, kegiatan PPM Mendolo juga membangun kesadaran generasi muda Mendolo untuk lebih peduli dan melestarikan hutan dan nilai penting keberadaan hidupan liar, sebagai penghuni hutan dan mengoptimalkan nilai penting keberadaannya sebagai penyedia jasa ekologi.

Kegiatan-kegiatan untuk memperkuat perlindungan Kawasan hutan pelan namun pasti terus dipupuk, inisiasi-insiasi dari warga untuk merawat alam.Kegiatan pengamatan primata,  burung, telah dan sedang di kembangkan di Mendolo ( foto-foto diatas adalah beberapa species yang di jumpai selama pengamatan) tujuannya adalah  untuk meningkatkan kapasitas generasi muda, mengenal hidupan liar penting disekitar desa, burung dan flora fauna juga merupakan asset desa yang harus di jaga kelestariannya, bukan tidak mungkin kemudian hari dapat mendatangkan keuntungan secara ekonomi yang lebih lestari.

Beberapa produk hasil kegiatan di dusun Mendolo dapat di peroleh melalui Kopi Batir dan Owa coffee. Meskipun masih dalam skala kecil, kopi dan madu hutan hasil budidaya warga dapat membantu memotivasi warga sekitar hutan dan mendukung kegiatan konservasi Owa dan pelestarian hutan di kawasan hutan Mendolo dan sekitarnya.


Saturday, August 28, 2021

Limbah Konfeksi untuk Konservasi

 oleh : Elna Novitasari Br.Ginting dan Arif Setiawan



Salah satu yang menggerakkan ekonomi warga di Pekalongan adalah konfeksi (industri pakaian), dan hal ini hampir merata di semua wilayah, dari kota hingga ke pelosok desa-desa sekitar hutan pun juga ada rantai ekonomi usaha konfeksi ini. Mulai dari memotong bahan baku kain, menjahit, memasang kancing,resleteing, sablon, mewarnai, dan juga yang sudah turun temurun dilakukan adalah membatik.

Kami melihat rantai ekonomi konfeksi ini di Sokokembang, salah satu dusun paling dekat dengan habitat Owa Jawa (Hylobates moloch) di Pekalongan, primata langka yang hampir punah dan sudah ada sejak pertama kali kami singgah di dusun di Tengah hutan habitat Owa ini, tahun 2006. Beberapa warga terlibat langsung dan mendapatkan penghasilan utama dari kegiatan konveksi, menjahit bagian dari pakaian yang merupakan bagian kecil dari sbuah rangkaian proses produksi pakaian jadi. Warga yang bekerja di sektor ini bisa di bilang 45% dari total keluarga yang ada di Sokokembang, yang bekerja di sektor lain seperti bertani, beternak,  di kebun dan hutan. Tahun-tahun awal kami memulai kegiatan di sokokembang hingga tahun 2014, warga yang bekerja menjahit, melakukan pekerjaannya ini di tempat bos atau juragan yang mempunyai mesin-mesin jahit dan bahan kain, tidak melakukan pekerjaan ini di rumah. Setiap hari dari Senin-Kamis, Sabtu, Minggu, dan libur di hari Jumat.


Sudah tentu pekerja-pekerja konfeksi ini relasi dengan hutan sebagai habitat Owa Jawa tidak sedekat warga yang bekerja dirumah, bertani, kehutan, mengolah kopi dan lain sebagainya. Namun mereka mempunyai peran penting juga dalam memutar roda ekonomi pada umumnya kehidupan di sekitar hutan. Nama-nama pohon hutan, pengetahuan tentang binatang-binatang hutan, tentu berbeda dengan warga yang sering masuk hutan. Menceritakan dan menggambarkan Owa saja kadang masih salah dengan menyebut ekor ada di Owa, karena sanggat jarang sekali melihat Owa. Yang sudah benar mereka ceritakan adalah mengenai suaranya, karena suara-suara owa terdengar cukup jelas di pagi hari.


Tim Wildgibbon Indonesia- Swaraowa beberapa waktu lalu dalam suasana pandemi, mencoba mencari solusi untuk menyambungkan permasalahan owa ini ke bidang yang menjadi mayoritas pekerjaan dan yang ada di Pekalongan, konfeksi. Melihat kain-kain perca sisa potongan, ada dimana-mana, meskipun juga sudah ada yang memanfaatkan, namun tim mencoba membuat berbeda dengan tujuan untuk mengenalkan dusun Sokokembang .

Tas kain 'tote bag' menjadi pilihan, memanfaatkan limbah kain potongan, bagi warga yang pekerjaannya memang menjahit, mulai membuat pola, menyambung  kain-kain dan membentuk sebuah tas yang siap dan layak pakai adalah hal mudah yang dapat di kerjakan di sela-sela menjahit menyelesaikan pekerjaan harian. Namun, hal ini juga coba diperkenalkan kepada generasi muda yang aktif di Sokokembang. Pelatihan singkat diberikan oleh warga yang sudah mahir dalam menjahit, dan tim Wildgibbon memberikan sentuhan tambahan untuk kain perca yang di manfaatkan ulan untuk tas. Hasil akhir dari kain perca tersebut jadi sebuah "tote bag", dengan logo utama Owa Coffee dan Sokokembang.


Dari program ini, salah satu hal lagi yang menjadi contoh dan sekaligus tantangan adalah memunculkan kegiatan konservasi sekaligus memupuk jiwa entrepreneur atau wirausaha. Keberadaan tim konservasi sudah seharusnya dapat menambah nilai dari apapun yang terkait langsung atau tidak langsung dengan misi konservasi yang di angkatnya. Menjual produk dengan strategi pemasaran, tidak akan jadi apabila hanya dalam tataran rencana dan wacana, namun hal ini sudah menjadi bagian dari kegiatan wirausaha itu sendiri, yang juga dapat mendatangkan keuntungan ekonomi, dan harapnnya memang mendorong kegiatan konservasi selanjutnya.


Monday, April 19, 2021

Mengamati Owa Jawa, Sebuah Kisah di Hutan Tombo dan Kalitengah

 Oleh : Devi Candra Lestari 

 

Perkenalkan nama saya Devi Candra Lestari, mahasiswi jurusan akhir yang sedang berusaha meraih gelar untuk membanggakan kedua orang tua di salah satu universitas terbaik di Indonesia, Universitas Gadjah Mada dan mengambil jurusan S1 Kehutanan. Pandemi COVID-19 yang tiba-tiba saja merebak di seluruh dunia memberikan pengaruh yang cukup besar dalam berbagai aspek kehidupan, salah satunya akademik. Ya, semua mulai dilakukan secara daring, bahkan untuk mahasiswa akhir yang harus melakukan penelitian untuk memperoleh gelar sarjana pun harus benar-benar mempertimbangkan banyak hal, karena saya yakin kesehatan menjadi prioritas utama di masa seperti sekarang ini. Dengan melakukan beberapa konsultasi bersama dosen pembimbing skripsi, akhirnya saya mengambil topik penelitian yang dapat dilakukan secara daring. Hal ini memang memudahkan saya dalam menyelasaikan tugas akhir saya, akan tetapi hal ini membuat saya membuang kesempatan melihat dunia lebih luas dengan alasan “ke lapangan untuk ambil data skripsi”. Hampir setahun saya hanya “menganggur” di rumah hingga akhirnya seorang kakak tingkat memberikan tawaran sebagai relawan di Swaraowa, sebuah lembanga swadaya masayarkat yang bergerak di bidang pelestarian hutan untuk jenis-jenis Owa di Indonesia . Kesempatan relawan ini untuk membantu seorang mahasiswi S2 Institute Pertanian Bogor (IPB) yang mendapat beasiswa dari Swaraowa, yang sedang mengambil data thesis bertemakan bioacoustic Owa Jawa. Setelah banyak menimbang dengan keyakinan bahwa belum tentu kesempatan seperti ini akan datang lagi, saya akhirnya mendaftarkan diri sebagai relawan di SwaraOwa.

Nur Aoliya (Kiri) dan Saya ( kanan)

Namanya Nur Aoliya, saya memanggilnya Mbak Lia, ketertarikannya terhadap primata membuatnya memilih Owa Jawa sebagai obyek penelitian untuk tugas akhirnya, baik saat sedang berusaha memperoleh gelar sarjana saat S1, dan juga untuk saat ini. Pengetahuan yang luas tentang primata dan pengalamannya dalam hal konservasi dan rehabilitasi primata membuatnya memiliki banyak cerita yang menarik untuk didengarkan. Penelitiannya kali ini dimaksudkan untuk mengetahui variasi greatcall suara Owa Jawa di daerah pegunungan dieng. Greatcall disini adalah lengkingan suara keras yang dihasilkan oleh owa betina dewasa, Suara ini menunjukkan bahwa lokasi tersebut merupakan teritori suatu kelompok Owa Jawa yang harus mereka pertahankan dari kelompok lainnya. Variasi akan terbentuk dari berbagai kondisi yang berbeda di tiap titik pengambilan data.

recorder dan shotgun mic

Apabila fotografer memerlukan kamera untuk mendapatkan targetnya, kami memerlukan sebuah senjata yaitu perekam suara, Linear Pulse Code Modulation- PCM dengan device tambahan  shotgun microphone yang khusus untuk digunakan merekam suara satwaliar (baca disini tentang shotgun mic). Alat ini mampu merekam suara Owa Jawa yang terdengar bahkan hingga radius ratusan meter. Nantinya hasil rekaman dari alat ini akan di analisis kembali, divisualisasikan sehingga dapat diketahui sonogram greatcall Owa Jawa di tiap titik pengambilan data-Listening Posts (LPs). Alat ini cukup mudah digunakan, hanya saja dalam menggunakannya perlu menghindari kebisingan seperti suara kendaraan bermotor, suara sumber air yang cukup deras, dan hal lain yang mampu mengganggu kualitas suara dari Owa Jawa itu sendiri. Selain rekaman suara, estimasi jarak dan sudut sumber suara Owa Jawa juga diperlukan untuk mengidentifikasi jumlah kelompok Owa Jawa yang ada. Biasanya, satu kelompok berisi 4 hingga 6 ekor owa yang terdiri dari owa jantan, owa betina, dan anak-anak mereka.


Lutron digital Anemometer,Hygrometer, Termometer and lightmeter

Garmin GPS Handheld

measuring tape

Pengambilan data juga dilakukan untuk data-data lain, seperti data kondisi lingkungan dan juga data vegetasi. Data kondisi lingkungan diambil tiap jam, mulai dari pengamatan dimulai hingga berakhir sekitar pukul 12.00 siang. Data yang diambil berupa data suhu, kelembaban, kecepatan angin, intensitas cahaya, dan kondisi cuaca. Data vegetasi diambil satu kali di tiap lokasi dengan data-data yang diperlukan dalam pembuatan diagram profil pohon. Data-data tersebut akan menunjukkan kondisi yang berbeda di tiap lokasi pengambilan data yang nantinya dapat digunakan sebagai faktor penentu variasi greatcall suara Owa Jawa.

mbak Lia sedang mengambil data vegetasi

Saya berkesampatan untuk membantu Mbak Lia mengambil data di 2 lokasi, karena lokasi lain telah selesai dilakukan pengambilan data. Lokasi pertama berada di Desa Tombo, Kec. Bandar, Kab. Batang. Selama di Desa Tombo, kami menginap di rumah Pak Saatu. Beliau merupakan kepala dusun yang juga bekerja sebagai petani padi. Beliau tinggal bersama istri, anak, dan juga 2 cucunya.

 Salah satu hal menarik yang saya dapatkan dari tinggal di rumah Pak Saatu adalah hangatnya kasih sayang di lingkup keluarga telah membentuk tata karma yang baik untuk anaknya. Apa yang terlintas dalam pikiran anda apabila mendengar tingkah laku anak kecil “jaman now”? Mungkin beberapa akan mengatakan hilang unggah-ungguhnya, atau bahkan beberapa akan mengatakan hilang Jawa-nya (karena saya berasal dari Jawa). Hal ini membuat saya akhirnya memutuskan untuk memulai memperkenalkan diri menggunakan Bahasa Indonesia, bahasa nasional kita, kepada kedua cucu Pak Saatu. Mendengar jawaban mereka, saya menjadi malu. Tata bahasa mereka, jauh lebih baik dibandingkan dengan saya. Bahkan sering kali saya dibuat kebingungan ketika menjawab pertanyaan mereka. Dalam benak saya, saya berfikir, “ setidaknya, Bahasa Krama saya harus sama halusnya lah dengan merek,” tapi eksekusinya, saya hanya bisa menambal beberapa kosakatamenggunakan Bahasa Nasional karena sayapun bingung harus berbicara apa. Sebenarnya, mereka juga telah mengetahui teknologi seperti halnya kita, akan tetapi lingkungan yang terus menjaga tradisi membuat mereka secara sukarela akhirnya juga ikut mengamalkan tradisi tersebut.

Semburat jingga, pagi di Desa Tombo. Foto Nur Aoliya


LPs  (Listening post ) di desa tombo, dihadapkan pada Gunung Kendalisodo. Foto Nur Aoliya


        Selama pengambilan data, kami ditemani oleh Mbah Dasto, yang kebetulan lokasi kebun kopinya cukup dekat dengan lokasi pengambilan data kami. Jarak dari desa menuju lokasi pengambilan data kami cukup jauh, terlebih lagi kami juga masih harus berjalan sekitar 30 menit lamanya. Kenyataan itu menuntut kami untuk berangkat pagi-pagi sekali untuk bisa mencapai titik sebelum pukul 06.00, waktu awal pengambilan data. Berangkat pagi ternyata tidak sepenuhnya memberatkan. Kami selalu disambut semburat jingga pagi Desa Tombo yang hangat dan juga sekelompok ibu-ibu pemetik teh yang tersenyum ramah, bergegas menuju  kebun teh dengan tas dan caping mereka. Penduduk desa ini mayoritas merupakan pemetik teh, petani kopi dan juga petani padi, karena menurut Pak Saatu, desa ini sangat tidak cocok digunakan sebagai lahan perkebunan karena masalah hama yang cukup merepotkan.

sedang merekam suara owa di lokasi LPs

            Suara Owa Jawa beberapa kali terdengar di lokasi ini. Akan tetapi, saya, yang sama sekali belum pernah melihat Owa Jawa secara langsung sangat ingin melihatnya. Satu hari, dua hari, harapan saya pupus dan ini berlanjut hingga hari terakhir. Tak satupun terlihat Owa Jawa yang terlihat, Suara-suara yang terdengar memang berasal dari lokasi yang cukup jauh dari lokasi pengambilan data kami. Pengambilan data akhirnya diakhiri, dan kami akhirnya berpindah ke lokasi selanjutnya yaitu di Desa Kalitengah, Kec. Blado, Kab. Batang.

ikut memetik teh, di perkebunan di sekitar lokasi pengamatan



    Kami akhirnya bertemu keluarga baru di Desa Kalitengah ini. Desa Kalitengah merupakan daerah wisata yang cukup ramai dikunjungi pelancong yang ingin menikmati keindahan kebun teh dan juga menikmati secangkir kopi khas daerah ini. Kami menginap di rumah Pak Sis selama di desa ini. Karena lokasi ini lokasi baru, kami melakukan observasi lapangan selama 2 hari untuk menentukan lokasi pengambilan data. Kami membuka telinga lebar-lebar untuk dapat menemukan suara Owa Jawa sebagai target baru untuk bisa direkam suaranya. Setelah melakukan pencarian, akhirnya kami mendapatkan lokasi pengamatan yang baru, yaitu di sebuah punggungan dekat desa yang berhadapan langsung dengan bukit-bukit dan lembah yang masih sangat rimbun hutannya. Data yang kami peroleh di desa ini tidak jauh berbeda dengan Desa Tombo. Suara Owa Jawa beberapa kali terdengar, tapi tidak satupun Owa Jawa yang terlihat. Akan tetapi, dibandingkan dengan Desa Tombo, suara Owa Jawa di lokasi ini lebih jarang terdengar.

bentang hutan di LPs Kalitengah. Foto Arif Setiawan

Akhirnya setelah 8 hari di lapangan, pengamatan pun selesai. Kami kembali ke Kec. Doro, menuju kontrakan salah satu rekan kami yang juga bekerja di Yayasan SwaraOwa, saya memanggilnya Mbak Alif. Kami menginap untuk satu malam, dan besoknya, kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Petungkriyono, melihat-lihat kalau-kalau saya beruntung bisa berjumpa dengan Owa Jawa yang sampai hari terakhir pengamatan belum pernah secara langsung melihatnya. 

Owa jawa yang kami jumpai di Petungkriyono



Perjalanan menuju Petungkriyono sangat menyenangkan. Udara yang masih terasa segar dan pemandangan yang indah cukup menghibur saya. Hingga akhirnya, kami berhenti di sebuah spot wisata yang memang sudah tidak beroperasi lagi. Beruntungnya, setelah kami memarkirkan motor, terlihat Owa Jawa sedang bergelantungan tepat di atas kami. Selain itu, kami juga bertemu sekelompok lutung yang sedang “bersantai” di sebuah pohon. Di lokasi ini, juga terdapat banyak burung yang berterbangan dan berkicauan. Atraksi utama dari spot wisata ini yaitu air terjun. Setelah dirasa cukup puas melihat satwa-satwa yang ada, akhirnya kami memutuskan tracking menuju air terjun tersebut. Setelah sampai, semburan air yang sangat dingin, bebatuan sungai, dan air yang tumpah dari ketinggian, telah menyambut kami. Pemandangan yang cukup menakjubkan. Kami mengabadikan beberapa momen di lokasi ini untuk memnandakan bahwa kami pernah mengunjungi lokasi ini. Rasa penasaran akan bentuk Owa Jawa secara langsung dan rasa lelah yang ditimbun selama pengamatan akhirnya terbayarkan dengan apa yang kami dapatkan di sini. Semoga, kedepannya lokasi ini dapat kembali dibuka sebagai salah satu destinasi spot forest healing yang tidak hanya mengunggulkan air terjunnya, tetapi juga keindahan alam dan satwanya.

air terjun di Petungkriyono. Foto Alfah Dina

Banyak hal yang saya dapatkan selama perjalanan kali ini. Jiwa sosialisasi saya dituntut untuk terbangun kembali setelah sempat “mati” selama “menganggur” di masa Pandemi COVID-19 ini. Unggah-ungguh dan tata karma kembali diasah karena saya juga harus bisa berbaur dengan masyarakat setempat agar kami sama-sama nyaman untuk dapat tinggal bersama. Pengalaman baru juga didapatkan, karena saya baru benar-benar mempraktikan di lapangan bagaimana sebenarnya mengamati primate, terkhusus Owa Jawa. Ilmu-ilmu yang hanya bisa didapatkan selama kita berada di lapangan, bukan saat kita hanya duduk dan mendengarkan ketika di kelas. Kapasitas diri menjadi lebih meningkat dan juga kesempatan ini membuka kesempatan saya untuk membuka jejaring konservasi lebih lebar lagi.

Monday, November 30, 2020

Pelatihan Guru Budaya Mentawai : Memperkuat Nilai Budaya dan Pelestarian Primata

peserta pelatihan guru budaya mentawai di Uma Malinggai. (Foto. Mateus Sakaliou )


Pelatihan guru dan fasilitator budaya mentawai, telah sukses dilaksanakan tanggal 25-27 November 2020, berlokasi di Malinggai Uma Tradisional Mentawai, dusun Puro 2, Desa Mailepet, Siberut Selatan. Acara ini dilatarbelakangi oleh semakin terkikisnya nilai-nilai budaya dan nilai penting konservasi alam yang ada di Kepulauan Mentawai. Degradasi hutan dan perburuan yang tidak lagi menggunakan aturan adat menyebabkan primata-primata mentawai semakin susah di temukan, bahkan sudah ada yang sangat kritis dan terancam punah,generasi muda mentawai sendiri juga semakin sulit menjumpai primata-primata ini di hutan-hutan sekitar mereka. 

Tujuan kegiatan pelatihan untuk guru-guru ini adalah 1. untuk memperkenalkan kepada guru dan fasilitator budaya mentawai mengenai primata dan keanekaragaman hayati. 2 Meningkatkan kapasitas guru-guru sekolah dan pengajar budaya mentawai, melalui metode pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan terkait dengan primata dan hutan. Peserta yang ikut kegiatan ini ada 9 guru dari sekolah-sekolah di kecamatan siberut selatan dan siberut barat daya, 4 orang fasilitator sekolah budaya Mentawai, dan 7 orang dari malinggai Uma Mentawai. 

Kegiatan meliputi materi ruang yang disampaikan oleh pemateri undangan dan kegiatan pengamatan lapangan ke hutan Tololago, di Siberut Barat Daya. Guru-guru lokal ini terpilih karena mereka adalah aset konservasi primata dalam jangka panjang, yang selalu beinteraksi dengan siswa setiap hari sehingga dapat menyampaikan pesan-pesan pelestarian alam, dengan dukungan program pemerintah. Guru-guru peserta ini adalah warga yang menetap di Mentawai, jadi mereka dapat memahami situasi lebih baik terhadap anak didik sebagai generasi mendatang yang akan melajutkan tongkat estafet pelestarian alam dan budaya mentawai. 

Peserta di acara pembukaan pelatihan (Foto. Mateus Sakaliou)

foto bersama perwakilan pemeritah daerah Kab.Kep.Mentawai (Foto. Mateus Sakaliou)



Acara pembukaan dimulai tanggal 26 November 2020, dibuka oleh Camat siberut selatan, dan turut serta dalam memberikan sambutan acara ini adalah Sekertaris dinas Pariwisata Kab.Kepulauan Mentawai Bpk. Aban Barnabas dan perwakilan dari dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kep.Mentawai . Tokoh-tokoh adat dari siberut selatan juga turut hadir dalam pembukaan acara ini. Acara kemudian dilanjutkan dengan materi oleh pembicara utama Bpk. Nur Hidayat guru SMA 1 Petungkriyono, yang berbagi pengalaman tentang metode pembelajaran konservasi melalui permainan kartu dan boardgame owa. Pak Nur Hidayat yang sehari-hari mengajar biologi di sekolah habitat di sekitar habitat Owa jawa di Pekalongan Jawa Tengah, bersama rekan-rekan di sekolahan telah mengembangkan metode pembelajaran yang kreatif menggunakan kartu dan boardgame untuk mengenalkan Owa Jawa. 

Pemateri ke dua adalah pegiat konservasi primata dan burung dari Siberut dan Sipora, Ismael Saumanuk dan Mateus Sakaliou yang menceritakan pengalamanya mengamati primata mentawai di hutan dan burung-burung di Kep.Sipora, melalui foto-foto dan video dokumentasi yang mereka buat sendiri. Ika Cahya Ningrum dan Arif Setiawan mewakili swaraowa juga memberikan presentasi tentang dasar-dasar pengetahuan primata terutama terkait dengan primata asli mentawai yang dapat digunakan untuk penunjang muatan lokal pelajaran budaya mentawai. 
Perjalanan ke Tololago ( Foto. Mateus Sakaliou)


Foto Group 1. di hutan Tololago (Foto. Mateus Sakaliou)

Dalam acara ini peserta juga mendapatkan materi buku panduan lapangan primata Mentawai, burung-burung Mentawai, poster kupu-kupu dan capung dan poster tentang reptil dan amphibi, yang kesemua foto-foto nya diperoleh di habitat asli di Kep.Mentawai dari hasil survey visual hidupan liar tim Swaraowa dan Malinggai Uma. 

Acara kunjungan lapangan atau pengamatan primata semua peserta dibawa menuju ke hutan Tololago, yang berada di desa Teluk Katurai, Kecamatan Siberut Barat Daya, Lokasi ini merupakan salah satu kawasan hutan diluar kawasan konservasi Taman nasional siberut yang berdasarkan penelitian tim swaraowa dan malinggai uma, masih di huni oleh ke5 primata asli mentawai, dengan lokasi akses yang relatif lebih mudah, kurang lebih 1 jam melalui teluk Katurai. Pengamatan lapangan peserta dibagi menjadi 4 kelompok dengan masing masing kelompok ada 5-7 orang, yang berjalan di jalur-jalur pengamatan yang sudah disiapkan terlebih dahulu oleh tim Malinggai Uma. 

Foto bersama peserta di Tololago (Foto. Mateus Sakaliou)
 


Bilou ( Hylobates klosii) yang dijumpai group 1. (Foto. Mateus Sakaliou)

Pengamatan primata dan satwaliar ini bertujuan untuk mengenalkan kondisi hutan dan metode pembelajaran di alam untuk mengamati, mencatat, dan menganalisis hasil pengamatan dan presentasi hasil pengamatan kepada peserta lainnya, setelah kegiatan selesai. Pengamatan ini harapannya juga dapat menginspirasi para guru untuk mengajak anak didiknya tentang alam dan biodiversitas yang sangat terkait dengan nilai-nilai budaya yang ada di sekitar sekolahan atau suatu saat dapat mengembangkan muatan edukasi konservasi untuk kegiatan pembelajaran disekolah masing-masing.
Kelompok 1 sangat beruntung sekali dalam kegiatan ini yang dapat melihat langsung Bilou dan Bokkoi dijalur pengamatan mereka. Sementara itu kelompok 2 juga melaporkan menjumpai Bajing terbang siberut yang termasuk juga dalam satwa endemic siberut.

Rangkaian acara ini di fasitasi oleh tim swaraowa dan panitia lokal dari Malinggai Uma Mentawai yang telah menginisiasi kegiatan ini bekerjasama dengan malinggai uma mentawai sejak tahun 2017, khususnya untuk pelestarian owa mentawai, Bilou. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan simposium dan kongres primata 2019 PERHAPPI ( Perhimpunan Ahli dan Pemerhati Primata Indonesia yang didukung oleh Arcus foundation, dan Fortwayne Children’s Zoo yang mendukung konservsi Owa Mentawai melalui swaraowa.