Showing posts with label edukasi. Show all posts
Showing posts with label edukasi. Show all posts

Thursday, March 12, 2026

Sadar Akar Kenal Diri: Edukasi Generasi Lestari

anak-anak di ajak mengenal pawon, dapur tradisional

 oleh : Sidiq Harjanto

Alam dan kehidupan di desa tepi hutan menyediakan segenap pembelajaran dan media pengembangan diri bagi tiap-tiap generasi. Berangkat dari pemahaman itu, kami merintis model pendidikan lingkungan “Generasi Lestari” di Desa Mendolo. Program pendidikan lingkungan ini bertujuan untuk membangun kesadaran akan keterhubungan antara manusia dan alam melalui berbagai aspek kehidupan, seperti: sosial, budaya, ekonomi, hingga proses mental. Membuka program edukasi di 2026, kami melaksanakan dua rangkaian kegiatan yang dirancang untuk memperkuat "akar" anak-anak terhadap desa tempat tinggal, dan membangun "jangkar" emosional di dalam diri mereka sendiri.

Simulasi bertamu, kenal pawon, dan belajar komoditas

Pada tanggal 15 Februari 2026, anak-anak diajak untuk mengenal identitas lokal. Desa bukan sekadar tempat tinggal secara fisik, melainkan sebuah ekosistem sosial dan ekologis yang kompleks dan saling berkaitan. Melalui pemahaman itu, tak ada salahnya memulai pendidikan lingkungan dari pembelajaran etika. Pada sesi pertama, anak-anak diajak melakukan simulasi bertamu dalam rangka belajar unggah-ungguh (tata krama). Anak-anak berlatih bagaimana mengetok pintu rumah orang, menyapa, memosisikan diri, dan menghargai ruang hidup orang lain. Dalam perspektif konservasi, tata krama adalah "perekat sosial" yang menjaga keharmonisan antar-warga. Hal ini menjadi modal penting dalam membangun upaya kolaboratif menjaga hutan dan lingkungan di masa depan.

Belajar tatakrama bertamu

Selanjutnya, kami mengajak anak-anak memasuki pawon (dapur tradisional). Di sini, mereka belajar bahwa dapur bukan sekadar bangunan fisik yang berfungsi untuk memasak. Sebuah pawon adalah titik temu berbagai aspek. Termasuk antara hutan dan manusia. Di sanalah pusat pemrosesan energi yang mengoneksikan pangan dari alam dengan tubuh kita. Di dalamnya terdapat arsitektur unik yang penuh kearifan budaya, dan memenuhi aspek keberlanjutan dari kacamata ilmu pengetahuan modern. Misalnya, para-para di atas tungku untuk penyimpanan bahan pangan dan kayu bakar merupakan bentuk kaskade energi. Melalui teknologi vernakular, leluhur kita secara intuitif telah memahami prinsip termodinamika canggih melampaui zamannya. Tidak hanya berhenti pada teknologi, dapur tradisional juga sarat akan etika, seperti: pantangan menyisakan makanan. 

Sebagai salah satu bentuk pembelajaran kontekstual, anak-anak mengikuti proses pengolahan kluwek (Pangium edule) bersama para ibu dari KWT Brayanurip. Dengan melihat, memegang, dan mempraktikkan pengolahan secara langsung, mereka mengenal kluwek sebagai salah satu komoditas unggulan Desa Mendolo. Mengenal keunikan proses pengolahan dari biji yang mengandung racun asam sianida hingga menjadi bahan pangan yang gurih setelah difermentasi. Anak-anak belajar tentang kearifan lokal dalam mengelola sumber daya alam yang kompleks, menjadi produk bernilai ekonomi. 

Permainan Charades untuk pembelajaran emosi

Memasuki bulan Maret yang bertepatan dengan bulan Ramadan, fokus kegiatan bergeser ke arah "ekosistem internal" manusia, yaitu emosi. Momentum puasa menjadi laboratorium untuk mempraktikkan pengenalan emosi. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi sebuah latihan mengelola emosi dan melatih kesabaran. Bertajuk “Detektif Rasa: Menjelajahi Peta Emosi”, pada 10 Maret 2026, anak-anak diajak menjelajahi belantara emosi sebagai sisi penting kepribadian seorang manusia. 

Charades emosi

Melalui permainan “Charades” yang interaktif, anak-anak diajak untuk mengenali spektrum perasaan mereka. Satu orang peserta memperagakan ekspresi emosi dasar, seperti: senang, sedih, marah, takut, dan jijik. Para peserta yang lain menebak jenis emosi yang sedang diperagakan. Secara bergantian, mereka berlatih memahami diri sendiri dengan cara yang asyik. Pada sesi refleksi, anak-anak bebas menceritakan perasaan mereka tanpa dihakimi. Setiap emosi adalah valid, namun respon terhadapnya perlu dikelola.

Menurut Daniel Goleman, kemampuan mengenali perasaan sendiri adalah keterampilan paling dasar dari kecerdasan emosional (emotional intelligence)1. Kita perlu membangun skema konservasi yang tidak hanya bertumpu pada kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan emosional. Anak yang mengenal emosinya akan lebih mampu berempati terhadap sesama, termasuk kepada satwa liar di alam, seperti Owa Jawa yang “bertetangga” dengan mereka. 

Dalam konteks program konservasi kolaboratif antara SwaraOwa - PPM Mendolo - KWT Brayanurip, rangkaian kegiatan ini merupakan upaya kami untuk memastikan bahwa inklusivitas habitat dimulai dari inklusivitas pendidikan. Dengan membekali anak-anak keterampilan tata krama, pemahaman tentang komoditas, dan kecerdasan emosional, kita sedang membangun fondasi bagi generasi penjaga hutan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga beradab, dan tangguh secara mental. Salam Lestari!


Ref: Goleman, Daniel. Emotional Intelligence: Kecerdasan Emosional. Cet. 20 Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2020.


Tuesday, December 23, 2025

SwaraOwa dan Sekolah Mentawai: Membangun Sikap Pro-Konservasi Sejak Dini

 

foto bersama dengan siswa SMA 1 Siberut Selatan

Oleh : Nur Aoliya

Program edukasi konservasi primata telah diselenggarakan oleh swaraOwa dengan komunitas lokal di Mentawai sejak tahun 2019, dengan fokus awal pada pelatihan bagi guru budaya Mentawai. Dan tahun 2025 ini, sasaran program kali dialihkan kepada siswa SD-SMA dengan tujuan sebagai berikut :

1. Memberikan pemahaman dasar kepada siswa-siswi mengenai keanekaragaman, peran ekologis, serta ancaman terhadap primata endemik Mentawai. 

2. Mengintegrasikan pengetahuan ilmiah dan kearifan budaya lokal dalam pembelajaran tentang konservasi primata Mentawai. 

3. Mendorong terbentuknya sikap peduli lingkungan dan perilaku pro-konservasi pada siswa-siswi sejak usia dini.

Rencana awal kegiatan dilaksanakan pada tanggal 19-20 November 2025, karena terkendala badai menyebabkan kegiatan mundur pada tanggal 21-22 November 2025 di Siberut Selatan. Sesi pertama berlangsung di SMP Negeri Siberut Selatan dengan peserta 42 siswa kelas VIII. Pada hari yang sama, agenda dilanjutkan di SD Negeri 06 Madobag dengan peserta sebanyak 46 siswa dari kelas IV–VI. Pada hari terakhir, program diikuti oleh 39 siswa SMA Negeri 1 Siberut Selatan yang tergabung dalam organisasi OSIS, Sispala, Pramuka, dan PKS.

Materi disampaikan oleh Eka Arismayanti untuk siswa SD dan SMP, sedangkan untuk siswa SMA materi disampaikan oleh Kurnia Akhmadin. Kegiatan dimulai dengan perkenalan singkat mengenai SwaraOwa, dilanjut presentasi interaktif selama kurang lebih 60 menit dan diakhiri diskusi ringan dan kuis berhadiah untuk siswa. Penyampaian materi disesuaikan dengan usia peserta dikarenakan kemampuan penalaran tiap jenjang pendidikan berbeda, serta metode pembelajaran yang sesuai untuk masing-masing kelompok. 

pengenalan keragaman primata Mentawai untuk Siswa SMP N 2 Siberut Selatan

Materi yang disampaikan kepada siswa SD dan SMP pada umumnya sama, mencakup ekologi dan primata, ancamannya, keterkaitan budaya Mentawai dengan primata, serta peran manusia dalam upaya konservasi. Perbedaan terletak pada metode penyampaian materi, di mana pada tingkat SD digunakan lebih banyak gambar dan alat peraga berupa boneka primata. Kedua jenjang sekolah menunjukkan fokus yang baik selama penyampaian materi. Namun, pada sesi diskusi terlihat perbedaan tingkat partisipasi, di mana diskusi pada tingkat SD cenderung bersifat satu arah dari pemateri. Sementara siswa SMP menunjukkan interaksi tanya jawab dua arah anatara pemateri dan siswa. 

pemberian buku burung dan primata Menawai ,
karya tim swaraowa, untuk guru SD N 6 Madobag

Siswa SMA mendapatkan materi yang lebih mendalam mengenai isu konservasi kaitanya dengan siklus air, manfaat flora dan fauna, Ekologi primata Mentawai dan kaitanya dengan budaya Mentawai, serta peluang keterlibatan generasi muda dalam aksi konservasi. Diskusi pada tingkat SMA tidak hanya melibatkan pemateri dan siswa, namun juga terjadi pertukaran pendapat antar siswa sehingga diskusi berlangsung intraktuf dan multi arah. Salah satu isu yang menjadi pro-kontra antar siswa adalah terkait satwa primata yang dijadikan bahan makanan diluar kegiatan adat. 

Pendekatan presentasi dan diskusi terbuka terbukti efektif untuk mendorong partisipasi siswa pada jenjang SMP dan SMA. Sementara itu, untuk siswa SD diperlukan penguatan metode yang lebih interaktif agar keterlibatan peserta dapat meningkat. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam menumbuhkan kesadaran dan kepedulian generasi muda terhadap upaya pelestarian primata dan lingkungan.


Thursday, October 31, 2024

Kunjungan Sekolah : Pendidikan Konservasi untuk Generasi Muda

 Oleh Kurnia Ahmaddin


 Kunjungan kampanye konservasi bulan Oktober 2024 kami laksanakan dalam 2 rangkaian kegiatan. Peserta merupakan siswa SMA N 1 Batang yang tergabung dalam kelompok pecinta alam Gasmapala. Sejumlah 43 peserta mengikuti rangkaian acara yang kami mulai dengan acara pemberian materi mengenai pentingnya fungsi hutan, pentingnya Owa jawa dan satwa liar lain yang ada di hutan Petungkriyono. Pembekalan ini juga kami isi dengan materi etika pengamatan satwa liar dan cara identifikasi satwa liar yang akan mereka amati pada acara berikutnya. Pemberian materi ini dilaksanakan di Aula SMA 1 N Batang pada 8 Oktober 2024.

Rangkaian acara berikutnya adalah praktik pengamatan dan monitoring satwa liar yang dilaksanakan pada tanggal 13 Oktober 2024 di Welo Asri. Peserta berkumpul untuk pembagian kelompok dan pembagian jalur pengamatan yang ada di hutan sekitar Kawasan wisata Welo Asri. Untuk follow up program pelatihan monitoring yang telah terlaksana untuk pemuda desa Kayu Puring, kami mengajak 5 peserta pelatihan untuk menjadi pendamping dalam pelaksaan kegiatan pada pagi hari tersebut. Pendamping bertugas untuk mengingatkan etika pengamatan satwa liar dan membantu dalam pencarian satwa liar yang dapat teramati selama pengamatan berlangsung.

Pematerian di kelas, SMA 1 Batang


pengamatan satwa di hutan ds.kayupuring

Peserta dibagi menjadi 4 kelompok dan berjalan menuju 2 jalur berbeda yang ada di Welo Asri. Perjumpaan dengan Lutung Jawa sepertinya menjadi primadona dalam agenda pengamatan kali ini. Hal ini dapat terlihat dari hasil presentasi masing-masing kelompok yang semuanya mempresentasikan perjumpaan dengan Lutung jawa. Namun perolehan hari itu tidak hanya Lutung, peserta juga dapat mendeskripsikan 5 jenis burung yang mereka jumpai selama pengamatan dengan baik. Terlepas dari jumlah yang belum banyak namun, deskripsi yang cukup runtut dari peserta yang baru pertama melakukan pengamatan satwa liar merupakan modal yang baik untuk kegiatan pengamatan kedepannya.

diskusi hasil pengamatan

Rangkaian acara kami tutup dengan foto Bersama setelah pembagian souvenir gelas Owa jawa kepada masing-masing peserta dan pendamping. Harapan besar dari kegiatan ini adalah muncul inisiasi terkait dengan kecintaan pada satwa liar yang ada di sekitar lingkungan para generasi muda. Adanya kegiatan serupa yang kontinyu agaknya diperlukan untuk menambah kepedulian satwa liar untuk tetap lestari di alamnya.