Showing posts with label Siberut. Show all posts
Showing posts with label Siberut. Show all posts

Wednesday, May 20, 2026

Survey Populasi Bilou ( Hylobates klossii) di Taman Nasional Siberut

Bilou sedang makan buah pohon tumu (Buchanania arborescens

oleh : Aloysius Yoyok

Melanjutkan program konservasi Bilou swaraowa , yang telah melakuan survey populasi di 9 hutan adat di Siberut Selatan di tahun 2025, kali ini survey dilaksanakan di Bekemen yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Siberut, tepatnya di wilayah SPTN 2 Siberut Utara. Bekemen sebenarnya adalah nama salah satu anak sungai hulu DAS sungai Sikabaluan. Di kawasan ini paket kegiatan kali ini diselenggarakan, selain untuk mendapatkan data populasi bilou dan primata sekaligus juga untuk pelaksanaan training ( untuk peningkatan kapasitas staff TN dan masyarakat sekitar kawasan)  pengambilan data populasi bilou dengan metode vokalisasi point count. Training ini terutama ditujukan untuk beberapa anggota tim survei yang baru, mereka adalah 5 orang anggota masyarakat setempat; 2 orang dari wilayah Siberut Utara, 1 orang dari wilayah Siberut Selatan, 1 orang dari wilayah Sipora, 1 orang dari wilayah Pagai Utara-Selatan serta 2 orang staf BTNS dari STPN 2 Sikabaluan.

diskusi dengan staff TN Siberut dan
pengenalan metode vocal count untuk survey populasi Bilou

Sebelum kegiatan ini dilaksanakan, tentu saja koordinasi dilaksanakan terlebih dahulu dengan membangun komunikasi ke pihak BTNS (Balai Taman Nasional Siberut) melalui Kepala SPTN wilayah 2 Siberut Utara. Sesuai prosedur standar, karena kegiatan ini akan dilaksanakan di dalam kawasan TN Siberut maka diperlukan Simaksi (surat ijin masuk kawasan konservasi). Pemilihan lokasi di dalam kawasan ini adalah sekaligus untuk pengambilan data populasi di kawasan yang diperkirakan memiliki potensi kepadatan dan kelimpahan populasi bilou tinggi. Kondisi ini diharapkan akan mendukung untuk tempat praktik pengamatan dan pengambilan data bagi peserta yang baru.

Jam 15.00 WIB pada Selasa 5/4/2026 tim yang akan melaksanakan kegiatan sudah lengkap terkumpul di kompleks perkantoran BTNS STPN 2 Sikabaluan. Atas ijin dari pihak BTNS melalui Kepala STPN 2, tempat ini menjadi piihan untuk penyelenggaraan pertemuan tim. Sore itu kegiatan pendahuluan training sekaligus pengambilan data populasi dimulai dengan penyampaian metode. Tidak terlalu rinci, hanya pada prinsip-prinsip utama saja untuk selanjutnyna peserta baru akan langsung belajar bersama sekaligus melakukan praktik pengambilan data di kawasan yang dipandang memiliki kelimpahan populasi tinggi di dalam kawasan TN Siberut.

Diskusi sore itu termasuk penentuan lokasi pengambilan titik pengamatan suara sekaligus pembagian peserta menjadi menjadi 3 tim. 3 titik lokasi pengamatan berhasil ditentukan berdasarkan pertimbangan jarak dari garis batas kawasan BTNS, jarak antar titik pengamatan dan juga berdasarkan peta kesesuaian untuk habitat bilou. Tim 1 adalah Yoyok, Kusmiadi (staf BTNS), Aolia dan Lily (staf BTNS), tim 2 adalah Erkanus, Iman, Adek dan Ilarius sementara tim 3 adalah Vincen, Matheus, Adin dan Ari. Tim 1 akan melakukan praktik pengambilan data populasi bilou dan primata melalui metode vokalisasi di Bekemen, Tim 2 di Balingken Bojakan sementara tim 3 akan di Tinaba, Bojakan.

tim survey di bersiap menuju lokasi

menyusuri sungai menuju Bojakan

Rabu menjelang siang 3 unit pompong sudah berderet di salah satu sudut epian muara Sungai Sikabaluan. P. Kusmiadi, seorang staf senior BTNS STPN 2 sejak kemarin sore sudah sibuk menghubungi pemilik pompong sekaligus merangkap operator yang akan mengangkut kami menuju sasaran tujuan masing-masing. Alih-alih dikemudikan oleh warga masyarakat lokal seperti 2 pompong yang lain, pompong tim 1 rupanya langsung dikemudikan oleh P. Kusmiadi, salah seorang staf BTNS yang rupanya sekaligus adalah penduduk desa Monganpoula.

Secara beriringan pompong yang telah sarat penumpang dan logistik untuk pelaksanaan survei bergerak menuju bagian hulu sungai Sikabaluan. Tujuan ke 3 tim ini adalah tim 2 dan 3 mengarah ke hulu bagian kiri yaitu melewati desa terakhir yang berbatas dengan kawasan TNS yaitu desa Bojakan. Sementara tim 1 bergerak menuju hulu sungai Sikabaluan di arah kanan yaitu kawasan Bekemen.

Pada awalnya kegiatan ini direncanakan akan terbagi ke 6 titik pengamatan yang berbeda. 3 titik pengamatan berada di sekitar hulu desa Bojakan dan 3 titik pengamatan berada di kawasan sekitar Bekemen. Namun sesudah tim terkumpul dan dilakukan diskusi berdasar metodologi yang mempertimbangkan jarak antar titik pengamatan, jarak terhadap garis batas kawasan TNS dan resiko ketersediaan akses maka titik pengamatan yang paling memungkinkan hanyalah 3 titik pengamatan saja, 1 titik pengamatan di Bekemen dan 2 pengamatan di Bojakan.

Survey lokasi ke 1. di Bekemen

pondok menginap di Bekemen

Saat tengah hari iringan ke 3 pompong sudah hampir mencapai persimpangan sungai yang terbelah menuju Bojakan dan Bekemen. Tim yang sudah membekali diri dengan menu makan siang kemudian beristirahat di tepian sungai itu untuk menikmati makan siang. Ke 3 pompong kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Sekitar 10 menit sesudah melewati muara sungai Bekemen, tim 1 secara mengejutkan bertemu dengan kelompok bokkoi yang sedang berkeliaran di sekitar pondok perladangan baru milik penduduk. Kelompok bokkoi itu kemungkinan sedang mengincar tanaman pisang ataupun potongan-potongan sagu persediaan untuk ternak babi yang ada di tepian sungai itu. Saya yang duduk di posisi terdepan di atas pompong itu sibuk, fokus memperhatikan jalur sungai untuk menghindari kayu-kayu yang sering membahayakan jalur perjalanan tidak menduga sama sekali jika akan bertemu dengan rombongan bokkoi itu, sekitar 6 ekor. Bergegas saya membuka tas tempat menyimpan kamera, sialnya karena saya belum menyiapkan kamera, kesempatan emas untuk mengambil foto-foto yang bagus itu tidak termanfaatkan dengan baik. Pemandangan kelompok bokkoi yang berada di tepian sungai semacam itu sangat sulit didapatkan di kawasan lain di pulau ini.

Perjalanan kali ini cukup beruntung karena tidak terlalu banyak kayu melintang. Kayu-kayu dari pepohonan yang tumbang dari lereng-lereng di tepian sungai seringkali masih ditemukan melintang mengahalangi jalur perjalanan pompong karena dihanyutkan oleh banjir besar sejak 2 bulan lalu. Sesudah sempat mendorong pompong selama 3 kali saja saat jam menunjukkan pukul 17.00 WIB, akhirnya kami tiba di bangunan yang dibangun oleh BTNS untuk semacam posko saat petugas BTNS berkunjung ke kawasan ini.

Sore itu kami bisa beristirahat dengan nyaman di bangunan milik BTNS itu. Titik pengamatan yang akan dituju sudah ditentukan yaitu di pertengahan jalur pengamatan 1, jalur terpanjang yang sering ditempuh oleh para petugas BTNS saat melakukan kunjungan ke kawasan ini.

Hari ke `1

Pagi-pagi benar saat jam masih menunjukkan pukul 04.30 WIB kami sudah terjaga dari tidur. Tidak ada yang perlu dibangunkan, kami segera bersiap untuk memulai kegiatan hari ini. Jam sudah menunjukkan pukul 05.15 WIB saat kami bergerak beriringan menembus pagi yang gelap lembab, berkabut dan gelap. Suara morning call dari bilou jantan sudah mengisi suasana pagi itu saat kami bahkan belum melangkah keluar dari dalam bangunan itu. Perjalanan melalui jalur pengamatan 1 BTNS di wilayah STPN 2 ini adalah dengan menyusuri punggungan bukit. Kami bergerak mendaki lereng bukit yang sudah tersedia, jalan setapak yang biasa ditempuh oleh para petugas BTNS saat melakukan kegiatan survei. Sesudah setengah jam perjalanan, sesudah kami melewati lereng bukit yang cukup terjal, kami akhirnya memutuskan tempat untuk kami akan melakukan pengamatan suara bilou di kawasan itu.

bilou yang terlihat di lokasi Bekemen
Saat perlahan sinar matahari mulai menerobos ranting-ranting dan dedaunan di hutan Bekemen itu, kami mulai menyadari jika di sekitar kami merupakan pohon tidur dari beberapa kelompok primata. Ada sekelompok keluarga bilou kira-kira 50 meter saja di lereng arah barat kami, lalu ada kelompok bilou lain di sekitar 70 meter di arah Utara, dan ada sekelompok simakobu di sekitar 50 meter di arah barat laut. Pagi itu kami mendapatkan suguhan alam khas Siberut yang memukau. Kami berhasil mencatatkan 9 great call suara bilou dan 2 alarm call dari kelompok bilou yang berada di dekat kami, dengan indera mereka yang tajam, mereka segera menyadari keberadaan kami di dekatnya.

Sepulang dari pengamatan suara, kami sedikit dikejutkan oleh kedatangan tamu, operator pompong dari Mongan Poula yang kemarin berangkat mengantarkan 2 tim yang lain ke arah Bojakan. 2 orang operator pompong itu pun bercerita. Menjelang sore mereka sudah tiba di Bojakan. Mereka kemudian langsung menuju ke rumah Ilarius, seorang penduduk Bojakan yang juga adalah petugas lapangan BTNS. Sesuai arahan dari rekan-rekan staf BTNS mereka kemudian melakukan koordinasi ke pemerintahan setempat yaitu Kepala Dusun dan Kepala Desa. Dari pembicaraan itu diputuskan jika ke dua operator pompong dari Monganpoula disuruh untuk pulang dan tanggung jawab untuk menyediakan sarana transportasi maupun tenaga pemandu akan di sediakan oleh warga Bojakan. Ke dua operator pompong dari Monganpoula itu tidak berangka pulang kembali ke Mongan Poula tetapi kemudian malah memutuskan untuk bergabung dengan tim 1 yang melakukan survei di Bekemen. Tim 1 survei populasi bilou yang di Bekemen akhirnya kemudian berjumlah total menjadi 6 orang.

Namun kejutan lain di sore itu adalah tamu lain yang mengunjungi kami, 1 individu bilou jantan  jantan dewasa sedang mencari pohon tidurnya. Saat kami sedang berada di teras bangunan pos itu, tiba-tiba saya melihat bayangan primata yang melompat di pepohonan yang berada di seberang anak sungai di sebelah rumah pos BTNS Bekemen. Kami segera bergerak, mengambil posisi untuk menikmati pemandangan langka itu. Namun karena bilou itu menyadari keberadaan kami di bangunan pos itu, bilou itu kemudian bergerak menjauh ke arah lereng perbukitan, mencari pepohonan lain yang lebih nyaman untuk menghabiskan malam.

Hari ke 2

Pagi itu cuaca cukup cerah, terlihat bintang-bintang bertaburan di langit muncul dari sela-sela dedunan di halaman posko saat saya melangkah ke halaman bangunan tempat kami bermalam itu. Seperti biasa, saat jam menunjuk pukul 05.00 WIB, kami sudah bersiap untuk berangkat menuju lokasi pengamatan, tetapi kali ini bahkan saat menjelang kami tiba di lokasi pengamatan, kami sudah kehilangan suara morning call dari beberapa bilou di kawasan itu. Kami tetap melakukan pengamatan dengan sabar, sampai jam 10.00 WIB saat kami kemudian bergerak kembali menuju pos BTNS STPN wilayah 2, kami tetap tidak mendengar suara great call dari kelompok-kelompok bilou di kawasan itu. Namun saat dalam perjalanan kembali, kami bisa melihat kelompok-kelompok kecil simakobu di 2 titik di jalur perjalanan, mereka segera bergerak menjauh karena mendengar kedatangan kami yang kali ini berjumlah 6 orang akibat 2 orang operator pompong yang mengantarkan tim ke Bojakan datang bergabung dengan kami.

Simakobu ( Simias concolor) teramati di hari ke-2 di Bekemen

Hari ke 3

Pengamatan hari ke 3 berlangsung cukup seru. Di lokasi pengamatan kami bisa bertemu dengan kelompok simakobu yang berada di begitu dekat. Bagian dari kelompok itu ada 4 individu simakobu yang berwarna keemasan atau yang biasa disebut oleh penduduk setempat sebagai sulabei. 2 individu dewasa, 1 individu juvenile dan 1 individu anak. Saat matahari mulai bersinar mereka berloncatan mencari, mencari tempat yang nyaman untuk mencari makan, nampaknya kehadiran kami cukup mengganggu mereka. Di 10 meter arah barat laut, kami juga disuguhi pemandangan 1 individu simakobu jantan yang sedang bertengger di dahan kayu shorea, sementara di jarak sekitar 50 meter di arah barat, kelompok bilou berjumlah 4 individu terlihat sedang sibuk menikmati makanan mereka berupa buah tumu (Buchanania arborescens) yang saat itu terlihat di beberapa tempat sedang menghasilkan buah. Kami sibuk mengamati tingkah laku kelompok bilou itu sampai kemudian kelompok itu kemudian pergi dari pohon tumu itu, cukup lama, sekitar hampir 1 jam kami disuguhi tontonan langka itu.

Menjelang siang saat kami kemudian menyelesaikan proses pengamatan suara bilou hari itu, kami kemudian bergerak kembali meninggalkan lokasi pengamatan menuju pos. Namun kali ini saya ditemani pemandu mengambil jalur lain. Kami berdua bergerak menyusuri sambungan jalur pengamatan 1 BTNS Bekemen, belum sampai ke ujung jalur pengamatan, kami memotong jalur dan kami kemudian menemukan jalur pengamatan 2.

Jalur jalan setapak itu semakin menanjak, sambil mengamati sekeliling mencari kesempatan untuk medapatkan foto satwa atau primata. Kami lalu berjalan menuruni lereng bukit itu, menyeberangi anak sungai yang dari atas bukit terdengar bergemuruh akibat aliran air sungai itu terjun memalui bebatuan Sesudah kembali mendaki lereng yang cukup terjal kami kemudian beristirahat, peluh membasahi pakaian kami. Tiba-tiba kami mendengar benda yang terlihat berjatuhan dari atas kanopi pepohonan yang berada di dekat kami duduk. Ternyata seekor Mentawai civet atau musang Mentawai (Paradoxurus lignicolor)  yang berwarna coklat terlihat bergerak mencari tempat untuk bersembunyi. Mungkin dia terganggu akibat keberadaan kami di bawah pohon tempatnya beristirahat sirang itu. Tidak jauh dia bergerak, hanya berpindah pohon ke pohon sebelah, lalu mendekam di dahan kecil di ketinggian sekitar 7 meter saja.

Musang mentawai 

Puas mengamati satwa endemik dan mengambil bebeapa foto satawa itu kami kemudian melanjutkan perjalanan. Sayangnya baterai kamera kami sudah tidak ada lagi daya. Sepanjang perjalanan di jalur 2 itu kami kemudian bertemu dengan seekor simakobu jantan besar yang bahkan suara lompatan-lompatannya di atas pohon yang berdiri miring itu bahkan sampai terdengar berderap. Lalu kami juga bertemu dengan serombongan besar bokkoi yang sedang sibuk mencari makanan, ada yang bertenggar di pelepah bunga nibung, ada yang sedang mengais-ngais tanah, ada yang sedang berkejaran berebut makanan. Menjelang tiba di pos kami masih sempat melihat 2 individu simakobu yang sedang bertengger di dahan pohon di dekat jalan setapak yang kami lewati. Keduanya segera melompat, bergerak menjauh dari kami.

Tiba di rumah kami kemudian mendengar cerita dari teman-teman satu tim yang lain, dalam perjalanan pulang menuju pos, mereka bertemu sekelompok bilou. Namun mereka juga tidak bisa mengambil foto ataupun video karena teman yang membawa kamera masih tertinggal di belakang. Mereka bercerita jika kelompok bilou itu cukup lama bergelantungan memperhatikan mereka sebelum kemudia bergerak menjauh dari tim survei itu.

Hari menjelang sore saat hujan turun sangat deras selama sekitar 2 jam. Kami kemudian memutuskan untuk istirahat, namun salah seorang pemandu kemudian mengetahui jika air sungai sudah meninggi secara tiba-tiba, akibat hujan deras itu. Perahu-perahu dan mesin pompong hampir saja dihantam banjir jika kami tidak segera memindahkannya ke tempat yang lebih tinggi. Sore itu banjir di sungai Bekemen sudah hampir mencapai halaman rumah pos BTNS itu.

Hari ke 4

Hari ke 4 survei kami hanya berhasil mencatat 2 greatcall yang berasal dari jarak yang cukup jauh. Pagi itu cuaca berawan, hari semakin siang tetapi sinar matahari tidak bisa menembus pekatnya mendung dan kabut yang bergerak menyelimuti lingkungan perbukitan tempat kami melakukan pengamatan. Udara menjadi terasa lembab dan dingin, suara-suara bilou jantan yang mengisi pagi itu sudah terdiam, kami tidak mendengar suara great call lagi.

Namun pagi itu kami kembali disuguhi pemandangan sekelompok bilou yang berjumlah 4 individu itu kembali. Mereka terlihat asyik menikmati menu makan pagi mereka berupa buah tumu di tempat yang kemarin itu lagi. Kami kembali disibukkan dengan pemandangan yang hanya berjarak sekitar 30 meter di lereng bukit di sebelah kami berkumpul. Di sela-sela gerumbul dedaunan perdu, kami mengintip aktifitas primata ikon Siberut itu.

Survei lokasi ke 2 di Lakomonga

Perjalanan survei yang ke dua ini kami mengambil tempat di kawasan yang berjarak sekitar 5 km dari batas kawasan hutan BTN Siberut. Hutan Lakomonga ini memiliki hamparan hutan yang masih bagus dan bersambung dengan hutan di dalam kawasan BTN Siberut di Bekemen. Kali ini kami menumpang di pondok milik penduduk yang berasal dari Mongan Poula, Siberut Utara. Pondok itu adalah tempat beraktifitas keluarga Tou Laiteng Siribatek untuk beternak babi tradisional (pusainakat) dan juga tempat untuk bertani secara tradisional. Petak-petak tanaman keladi terlihat di sekitar bantaran sungai terlihat subur akibat tanah gembur yang sering terbawa banjir di sepanjang bantaran sungai itu. Petak-petak tanaman keladi itu dipagar dengan sejenis batang perdu yang diikat membanjar membentuk pagar untuk membatasi aktifitas ternak babi yang akan merusakkan tanaman. Selain itu keluarga ini juga biasa bertanam padi yang mereka budidayakan di tidak jauh dari lokasi pondok itu, tetapi saat kami berkunjung di pondok itu pertanian padi mereka sudah selesai mereka panen. 

Di sekitar pondok itu kami juga melihat tegakan pohon-pohon pinang yang sudah produktif, jumlah yang cukup untuk menambah penghasilan rumah tangga keluarga ini. Tidak jauh dari sekitar rumah mereka itu mereka juga memiliki beberapa rumpun kebun sagu di beberapa ceruk yang terdapat aliran anak sungai. Rumpun-rumpun batang sagu yang tidak terlalu banyak itu selain menjadi sumber pakan ternak babi dan ayam juga mereka olah menjadi tepung sagu basah untuk sumber pangan mereka sendiri. Menurut Tou Laiteng, hutan di kawasan Lakomonga sampai Bekemen secara tradisional adalah milik dari uma Siribatek. Di beberapa tempat di kawasan ini beberapa anggota penduduk dari Mongan Poula dan Bojakan memanfaatkannya untuk beternak babi maupun membuka lahan pertanian di sepanjang bantaran sungai.

Kamis 23/04/2026 perjalanan di mulai dari Muara Sikabaluan tempat kami menginap di penginapan milik BTNS SPTN 2 dengan perjalanan darat menuju Mongan Poula dengan sepeda motor. Perjalanan ini memungkinkan untuk ditempuh karena anggota tim yang kali ini berangkat hanya 3 orang saja.  Jam menunjukkan pukul 13.00 WIB, matahari bersinar terik menyengat saat kami berangkat menuju Lakomonga dengan mempergunakan pompong. Namun karena kami berangkat dari Mongan Poula, perjalanan menyusuri sungai dengan pompong sudah terpangkas hampir sepertiga perjalanan. Jam masih menunjukkan pukul 17.00 WIB saat kami sudah tiba di tujuan kami, pondok milik Tou Laiteng Siribatek. Bangunan kecil beratapkan anyaman daun sagu yang terletak di bantaran sungai Bekemen. Pemilik pondok itu ramah menyambut kami.

Sore itu kami berbincang-bincang membahas rencana perjalanan untuk pengamatan suara bilou di kawasan itu. Tou Laiteng menunjukkan jika titik tertinggi perbukitan yang akan kami tuju adalah di seberang sungai Bekemen, tepatnya di bukit Lakomonga dimana sungai Lakomonga mengalir dari lereng perbukitan itu dan bermuara di sungai Bekemen. Malam itu kami tidur di atas tikar yang dipinjamkan oleh tuan rumah, tikar dari anyaman semacam perdu yang diproduksi oleh penduduk Cimpungan, Siberut Utara. Alas tidur yang bagi saya sangat nyaman. Karena pondok itu hanya memiliki 1 kamar saja, kami mengambil tempat di ruangan terbuka.

Bokkoi ( Macaca siberu)

Dini hari, hujan turun cukup deras. Namun kami beruntung karena saat jam menunjukkan pukul 05.30 WIB, hujan sudah reda. Kami berangkat menuju lokasi survei dengan menyeberangi sungai Bekemen menggunakan perahu yang biasanya dipasangi mesin pompong, namun kali ini tidak perlu mempergunakan mesin karena kami cukup menggunakan galah saja. Begitu tiba di seberang sungai, jalur menanjak di lereng bukit yang cukup terjal itu sudah menunggu kami. Posisi tepian sungai itu adalah titik dimana saat kami lewat seminggu lalu ketika menempuh perjalanan menuju hulu sungai ini, kami melihat serombongan bokkoi yang sedang berada tepian sungai itu.

Sekitar setengah jam kami berjalan beriring seperti merayap, menyusuri jalur jalan setapak terjal yang jarang diewati ini. Peluh bercucuran dari muka kami, pakaian kami juga segera menjadi basah meski pagi itu masih dingin dan gelap. Kami harus menerangi jalur jalan kami dengan senter. Di posisi paling depan Ondy, anak lelaki Tou Laiteng yang menjadi pemandu perjalanan kali ini. Sesekali dia sibuk membuka jalur jalan dengan menebas semak-berduri yang sering menghalangi jalur jalan. Tetapi kawasan ini sudah dikenalnya denan baik sehingga meski jalur bersemak dan masih gelap gulita, kami terus melangkah ke depan tanpa keraguan. Sampai di titik yang agak landai terlihat Ilarius sibuk, bagian kakinya terlihat berdarah, 3 ekor pacet terlihat menempel, menghisap darah di bagian kakinya. Pagi itu dia kehabisan persediaan celana panjang sehingga terpaksa harus memakai celana pendek saja, tanpa penangkal serangga, pacet sangat menyukai itu.

Joja ( Presbytis siberu)

Pagi itu di suasana yang cukup sepi, kicauan burung-burung hutan juga hanya sesekali terdengar. Hujan gerimis kembali turun, tidak lama tetapi mendung tetap menggantung di semua penjuru langit. Suara morning call bilou jantan belum terdengar sampai kami sudah mencapai titik tertinggi di perbukitan itu. Sampai jam sudah menunjukkan pukul 08.12 WIB  saat gerimis sudah mereda, kami kemudian mendengar 2 morning call, suara dari bilou jantan. Keduanya tidak jauh dari tempat kami melakukan pengamatan.

Hari pertama pengamatan itu, kami tidak berhasil mendengar suara great call bilou. Namun sepanjang pagi itu kami bisa mendengar beberapa suara primata lain di sekitar tempat kami melakukan pengamatan dari jarak yang relatif dekat. Saya meyakini jika meski pagi itu tidak terdengar suara great call bilou, hanya karena bilou-bilou itu memang sedang tidak bersuara saja. Melihat kondisi vegetasi hutan ini seharusnya kawasan ini merupakan habitat yang bagus untuk menjadi rumah bagi primata-primata itu. Begitupun cerita dari Tou Laiteng, biasanya bilou-bilou itu terdengar bersuara di kawasan hutan ini.

Dalam perjalanan pulang kami juga bisa melihat beberapa kelompok primata yang lain, joja dan simakobu, bokkoi meskipun belum kami lihat bentuk fisiknya, tetapi beberapa kali kami berhasil mendengar pekikan-pekikan khasnya. Hal itu menambah keyakinan jika kawasan ini memang masih menjadi menjadi habitat bilou.

Setibanya kami di pondok, Tou Laiteng juga cukup heran dengan cerita kami. Siang itu, dia juga bercerita jika di perbukitan yang terletak di belakang pondok itu terkadang suara bilou dan ke 3 jenis primata endemik Siberut lainnya sering dia lihat di pokok-pokok pepohonan di situ. Namun hujan rintik-rintik dan cuaca sore itu yang tidak mendukung, membuat kami mengurungkan niat untuk menjelajahi perbukitan di belakang pondok sore itu, meng-eksplor potensi keragamanhayati di situ.

Hari ke 2

Seperti biasa, pagi-pagi benar sebelum matahari terbit, saat hari masih gelap gulita kami kembali bergerak menuju titik pengamatan kami di puncak perbukitan itu. Pagi itu dari pondok saat kami maasih bersiap memulai perjalanan, kami sudah mendengar 2 sumber suara morning call dari jantan dewasa. Semakin kami mendekat ke arah titik tempat kami sudah menentukannya sebagai tempat pengamatan kami satu hari sebelumnya, kami menduga jika salah satu sumber suara berada di sekitar tempat itu. Benar saja. Di dekat tempat kami kemarin berkumpul untuk melakukan pengamatan, di kanopi pohon kruing yang tinggi menjulang, kami mendengar suara khas morning call bilou. 

Kami bergerak dengan sangat hati-hati. Guguran dedaunan kruing yang menumpuk di sekitar tempat itu menyulitkan kami untuk tidak berjalan tanpa suara. Di bawan pohon kruing itu, dengan perekam dari gawai saya berhasil merekam suara morning call bilou itu dengan cukup jelas. Kami kemudian duduk dengan berdiam diri tanpa bersuara, meski nyamuk semakin bertambah banyak yang berdengung-dengung berusaha menggigit kami. Namun bilou di kanopi kruing itu kemudian diam, tidak bersuara lagi saat matahari mulai terbit. Kami berusaha mengintip ke atas dari sela-sela rimbunnya dedaunan dari pepohonan lain yang lebih rendah. Namun nampaknya bilou itu hanya 1 individu dewasa jantan saja, dia tidak pernah kami lihat, nampaknya dia hanya bersembunyi di kerimbunan dedaunan pepohonan itu sampai kami meninggalkan tempat itu saat jam sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB.

Di pengamatan hari ke 2 itu, kami cukup disibukkan dengan suara-suara bilou dari beberapa arah. Ada, 4 great call dan 3 morning call. Selain itu, sekitar 50 meter dari tempat kami melakukan pengamatan itu kami juga melihat kelompok simakobu yang menghabiskan malam di dekat situ. Dalam perjalanan pulang kembali kami juga melihat 1 kelompok simakobu yang berbeda dan 1 kelompok bokkoi.

Tiba di pondok tempat kami bermalam, pasangan tuan rumah rupanya sedang dalam perjalanan menuju ke Bojakan untuk menggiling gabah hasil panen mereka untuk persediaan makanan. Karena cuaca yang terlihat mendung kami juga Kembali memutuskan untuk tidak melakukan perjalanan menjelajah hutan di perbukitan belakang pondok di sore itu. Tetapi teman kami memutuskan untuk berangkat mengisi waktu di sore itu untuk menumbang sagu sekaligus mengangkut potongan-potongan batang sagu itu untuk persediaan pakan ternak mereka. Tempat itu adalah tempat peternakan babi yang berada di tempat lain yang berada tidak jauh dari tempat itu.

burung Tiong emas

Di tengah hujan yang kemudian turun dengan deras sore itu anak Tou Laiteng yang lain, yang masih berada di pondok tiba-tiba memberi tahu saya jika dia melihat seekor babi hutan jantan dewasa yang ikut datang ke tempat pemberian pakan babi ternak mereka itu. Babi hutan jantan yang ditunjukkannya itu rupanya bukan berwarna hitam seperti yang saya bayangkan, melainkan berwarna putih dengan variasi belang kecoklatan. Dia mengikuti babi ternak betina dewasa yang sedang birahi. Anak itu juga bercerita jika kemarin sore sebenarnya dia mau memberitahu kami jika tidak jauh di belakang pondok di melihat 1 individu simakobu yang sedang bertengger di pohon dekat kaki perbukitan itu, tetapi niat itu dia urungkan karena bapaknya, Tou Laiteng sedang mengamati babi hutan yang sedang datang mendekat ke pondok. Babi hutan adalah salah satu binatang hutan sasarn perburuan yang menjadi favorit penduduk di Siberut pada umumnya.

Hari ke 3

Di hari yang ke 3 kami menumpang di pondok itu karena hujan deras yang mengguyur dari sore kemarin, kami sudah berangkat tidur sejak hari masih belum terlalu malam, akibatnya saat jam masih menunjukkan pukul 03.30 WIB kami sudah terjaga dari tidur. Namun pagi itu kemungkinan akibat kondisi fisik yang kurang fit akibat didera hujan sepanjang sore, salah satu teman kami terpaksa tidak bisa ikut untuk melakukan pengamatan suara primata akibat sakit gigi.

Di sepanjang perjalanan menuju titik pengamatan kali itu, kami mendengar 2 suara morning call bilou dari 2 arah yang berbeda. Salah satu suara morning call itu semakin jelas saat kami semakin mendekat ke titik pengamatan. Namun tiba-tiba di lereng bukit tidak jauh dari tempat kami berdiri kami mendengar suara kayu tumbang yang berderak dan berdebum keras. Suara bilou terdiam tiba-tiba, sementara suara dari ke 3 primata yang lain terdengar sahut-menyahut. Kemungkinan karena terkejut. Sebentar kemudian kami melihat pergerakan dari 2 individu bilou yang melompat dari pohon, berpindah tempat.

Hari ke 3 pengamatan itu cukup sepi, hanya 2 suara morning call pagi tadi saja saat kami masih dalam perjalanan menuju titik pengamatan.

Saat perjalanan pulang pun kami hanya bertemu dengan serombongan simakobu yang bahkan kami tidak menyadari jika kelompok itu berada tempat itu sampai suara dahan dan ranting yang khas berbunyi, mengejutkan kami saat mereka berlompatan menjauh dari kami.

Hari ke 4

Sesuai dengan prediksi awal tentang potensi kelimpahan populasi bilou di kawasan ini, pada hari terakhir pengamatan akhirnya tim survei terpuaskan oleh suara-suara great call dari kelompok-kelompok bilou yang berada di kawasan itu. Suara great  call dari 8 arah yang berbeda dan 5 morning call. Kondisi ini sesuai juga dengan cerita dari pemilik pondok yang menghabiskan sebagian waktu mereka dengan aktifitas harian mereka di kawasan itu.

Potensi kawasan di jalur sungai Bekemen.

Dua kawasan hutan yang menjadi tempat kami melakukan pengamatan suara bilou adalah kawasan hutan yang memiliki ciri-ciri hutan yang masih sangat baik dengan kelimpahan karagamanhayati tinggi. Kedua tempat ini berjarak sekitar 5-6 km saja dan memiliki hamparan hutan yang bersambung. Jika titik pengamayan yang pertama adalah kawasan hulu sungai Bekemen yang masuk dalam kawasan BTN Siberut, maka lokasi survei yang ke dua yaitu di Lakomonga terletak tidak jauh dari sungai Bekemen yang bertemu dengan aliran sungai dari arah desa Bojakan yang membentuk sungai Sikabaluan. Ke dua tempat ini menyediakan bentang alam perbukitan dengan vegetasi hutan alam yang kaya akan keragamanhayati khas Siberut yang sangat tinggi.

Situasi di kedua kawasan ini menyediakan hal yang berbeda jika dibandingkan dengan kawasan Siberut di wilayah selatan yang memiliki tingkat perburuan tinggi. Di kawasan hutan sepanjang aliran sungai Bekemen ini kelimpahan satwa dan primata cukup mudah untuk ditemukan dan tidak se-waspada primata yang berada di Siberut bagian selatan.

 

Thursday, April 30, 2026

Dari Sikabaluan hingga Sirilanggai : Catatan pengamatan alam dan komunitas desa di Siberut Utara

Oleh : Aoysius Yoyok

Lokasi yang di kunjungi, di Siberut Utara

Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui lokasi-lokasi  di luar kawasan Taman Nasional Siberut (TNS) di wilayah Siberut Utara yang masih memiliki potensi kelimpahan primata terutama Bilou, Owa Mentawai, survey awal  sebelum dilakukan survey populasi dengan menggunakan metode vocal count.Kegiatan ini dilakukan pada bulan Maret 2026. 

Persiapan

Sebelum kami melakukan perjalanan, terlebih dahulu informasi tentang keberadaan bilou dari masyarakat yang merupakan penduduk Sikabaluan dikumpulkan. Kegiatan ini dilakukan dengan melakukan komunikasi melalui telepon seluler. Informasi awal dari penduduk setempat ini dirasa penting karena sudah sejak 2013 tim belum melakukan perjalanan ke kawasan-kawasan hutan di daerah Siberut Utara ini. Selama satu dekade terakhir kawasan yang berada di luar zona inti TNS diduga kuat sudah banyak terdapat perubahan vegetasi hutan dan perubahan fungsi lahan. Proyek-proyek pembangunan infrastruktur oleh pemerintah berupa akses jalan, aktifitas perusahaan logging dan aktifitas pemanfaatan lahan oleh penduduk pasti akan memberi pengaruh yang besar dalam distribusi dan keberadaan primata di kawasan itu. 

melintasi jembatan roboh jl Monganpoula - Sotboyak

Perjalanan

Sesuai dengan informasi awal yang kami dapatkan, kami memutuskan untuk melakukan kunjungan, yang kami piih pertama adalah di dusun Puran. Di wilayah dusun ini dikabarkan masih memiliki sebaran populasi primata yang relatif mudah untuk ditemui. Dusun ini merupakan bagian dari Desa Muara Sikabaluan, Siberut Utara. Jika dari arah pusat kecamatan di Muara Sikabaluan dusun ini terletak di seberang sungai Sikabaluan, untuk menuju dusun ini jika kita tidak membawa barang yang berat, kita bisa menempuh perjalanan berjalan kaki sekitar 1 jam dengan menyusuri pantai saat pasang sedang surut. Atau jika laut sedang pasang naik kita bisa menggunakan moda transportasi berupa perahu pompong ataupun bermesin tempel. 

Sesuai dengan jadwal pelayaran kapal Mentawai Fast antar pulau, dari Siberut Selatan kami berlayar menuju Pelabuhan Pokai Siberut Utara, pada jam 11.00 WIB kami sudah tiba di tujuan kami. Perjalanan kemudian kami lanjutkan dengan menggunakan ojek sepeda motor menuju Muara Sikabaluan. Di situ kami akan bertemu dengan Bastian Sikaraja, seorang pemuda dari dusun Puran yang beberapa hari sebelumnya sudah kami hubungi. Secara adat wilayah dusun Puran adalah milik dari kelompok Sikaraja, kebetulan salah seorang dari anggota Sikaraja itu yang akan menjadi pemandu kami untuk melihat situasi hutan di sekitar dusun Puran. Perjalanan laut dengan perahu bermesin tempel 15 PK hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit saja, kami sudah tiba di rumah Bastian Sikaraja. Sebuah rumah di permukiman yang baru 2 tahun lalu dibangun. Permukiman yang mereka huni ini adalah sebuah permukiman baru, pemerintah melaksanakan program relokasi penduduk dari permukiman lama yang terletak di tepi pantai sebagai bagian ari program mitigasi dari ancaman tsunami. 

Sesudah beristirahat sejenak, sore itu kami kemudian berangkat untuk melakukan observasi di hutan sekitar perumahan penduduk itu dengan ditemani oleh 3 orang penduduk Puran. Dan benar saja, seperti penyampaian mereka, kami segera melihat sosok bayangan primata yang bertengger di dahan pohon pulai. Pohon pulai itu berada di dekat rumah yang berderet paling dekat dengan kawasan hutan rawa yang mengelilingi sebagian permukiman itu, mungkin sekitar 50 meter saja. Kami kemudian berjalan menuju ke arah pohon itu. Seekor simakobu terlihat sedang beristirahat di dahan pohon itu. Dia kemudian terlihat bergerak mengambil tunas pulai itu dan memakannya. Namun sayang sekali, karena tidak terdapat jalur jalan menuju ke arah pohon pulai itu, suara berisik dari langkah-langkah kaki kami yang menginjak ranting-ranting kering membuat simakobu agak terganggu dan kemudian turun dari pohon, kemudian menghilang dari pandangan mata kami. 

simakobu ( Simias concolor)

Kami kemudian bergerak memasuki hutan rawa yang saat itu sedang cukup kering untuk kami masuki. Dari rumah terakhir di permukiman itu kami hanya masuk sekitar 200 meter saja melalui jalan setapak. Namun karena hari sudah mulai gelap kami tidak bisa mengambil foto primata yang kami lihat petang itu. 3 individu joja dan 1 individu simakobu terlihat dari jarak yang cukup dekat. 

Malam itu kami beristirahat di rumah Bastian Sikaraja. Pagi masih gelap, jam 04.00 WIB kami sudah terjaga dan kemudian duduk di teras, mendengarkan suara-suara satwa malam dan primata dari hutan dan perbukitan di sekitar permukiman itu. Morning call dari bilou terdengar dari 4 arah yang berbeda. Sementara suara jenis-jenis primata Siberut yang lain yaitu joja, bokkoi dan simakobu terdengar jelas sahut-menyahut di jarak yang cukup dekat, yang terdekat ada beberapa sumber suara yang bahkan kami perkirakan hanya berjarak kisaran puluhan meter saja di sekitar perumahan di Puran. 

Keesokan harinya jam masih menunjukkan pukul 05.30 WIB saat kami kemudian bergerak menuju perbukitan yang berada di arah barat permukiman ke arah kami mendengar salah satu suara morning call bilou. Menurut beberapa orang penduduk Puran, dari arah situ memang sering terdengar suara great call. Punggungan perbukitan itu oleh warga Puran dikenal sebagai Leleu Munduk. 

Namun setibanya kami di badan jalan Trans Siberut yang sudah bersemak tebal, kami tidak segera menemukan jalur jalan setapak menuju puncak bukit itu. Hari semakin siang, plan B kemudian diambil, kawatir kami akan kesiangan saat mencapai punggungan perbukitan kami pindah arah menuju ke puncak bukit yang bisa kemi temukan jalur jalannya. Kami menyusuri jalur jalan Trans Siberut dimana kelompok keluarga Sikaraja membuka perladangan di sepanjang kiri-kanan jalur jalan Trans Siberut yang menghubungkan Puran-Sirilogui itu. Jalur jalan itu sudah ditumbuhi semak belukar dan rerumputan yang cukup tebal dan tinggi membuat badan kami kemudian basah oleh embun yang menempel di belukar dan rerumputan itu. 

Bilou ( Hylobates klosii)

Sekitar jam 06.15 WIB, kami tiba di punggungan perbukitan yang sudah terbuka akibat pembukaan jalur jalan itu. Baru saja kami berhenti, kami langsung melihat bayangan kelompok primata di kerimbunan pepohonan di tepi jalur jalan itu. Kami kemudian bergerak perlahan mendekat. Tetapi semak yang rapat dengan jenis-jenis rotan kecil yang berduri menghambat langkah kami. Kelompok primata itu tidak terlihat dengan jelas, tetapi kami memperkirakan adalah 2 spesies yang berbeda, kemungkinan besar adalah simakobu dan joja. Saat kami merasa primata-primata itu sudah bergerak menjauh, tiba-tiba kami melihat satu individu bilou yang bergerak cepat, mungkin karena terkejut dengan kehadiran kami yang tidak menyangka jika di situ masih ada primata yang bersembunyi. Kami tepat berada di bawah pohon tempat 2 individu bilou itu bertengger. Awalnya kami sempat ragu jika yang kami lihat terakhir itu adalah kelompok bilou. Keduanya segera menghilang dibalik rimbunnya dedaunan pepohonan itu. Kami mengendap-endap, memperhatikan dengan hati-hati. Namun yang terlihat sedang memanjat batang pohon tidak jauh dari titik menghilangnya bilou itu adalah seekor simakobu muda. Dia terlihat sedang menikmati pucuk daun muda dari pohon itu. 

kailaba ( Antracoceros albirostris)

Sampai jam menunjukkan pukul 10.00 WIB kami tidak berhasil mendengar suara great call dari kelompok-kelompok bilou di sekitar permukiman Puran. Kami kemudian bergerak meninggalkan tempat kami melakukan pengamatan. Beberapa jenis burung berhasil kami lihat di pagi itu, beberapa tempat di sekitar kami juga terdengar suara dari simakobu, joja dan bokkoi yang sesekali mengejutkan kami karena terdengar cukup keras karena berada tidak jauh dari tempat kami melakukan pengamatan

Perjalanan pulang kami tempuh melalui jalur yang berbeda, kali ini kami melewati tepian hutan rawa melalui jalur jalan setapak. Menjelang tiba di permukiman, kami melintasi keluarga yang sedang bekerja membuka petak sawah baru di tepian hutan rawa itu. Menurut cerita mereka, sekelompok bilou berjumlah 3 individu beberapa hari lalu terlihat tidak jauh dari punggungan perbukitan tempat kami melakukan pengamatan. Kebetulan dia sedang membawa senapan angin, dia dengan jujur menceritakan jika seekor bilou dewasa dia tembak dengan senapan angin itu dan mengenai bagian pingganggnya. Kelompok bilou itu kemudian kabur namun orang itu meyakini jika bilou itu tidak mati karena senapan angin yang dipakai hanya berukuran standar dan tidak mempergunakan racun.

hutan di belakang pantai puran, habitat primata mentawai

Susur pantai sore hari

Sore harinya kami kemudian memutuskan untuk melakukan pengamatan di bagian pantai. Sepanjang pantai yang mengarah ke Muara Sikabaluan adalah pantai pasir yang berbatas dengan hutan rawa pasang-surut. Menurut cerita dari penduduk Puran kawasan itu adalah habitat dari  ke 3 primata selain bilou. Perjalanan kami sore itu kami tempuh dengan berjalan kaki santai, sambil mengamati kemungkinan perjumpaan dengan primata-primata itu. Benar saja, tidak jauh dari muara sungai Puran kami sudah berhasil melihat sekelompok simakobu, tetapi karena sore hari, sinar matahari sore membuat kami silau sehingga agak sulit untuk melakukan pengamatan. Namun sepanjang garis pantai, di sore itu kami berhasil melihat 3 kelompok simakobu dan 1 kelompok joja. Beberapa jenis burung yang juga kami lihat sore itu adalah dari jenis laitumuan atau kepodang hutan, kirik-kirik laut, pergam gading dan pergam abu-abu.

Pengamatan suara dari permukiman

Karena pemandu kami rupanya ada kegiatan yang mengharuskan dia berangkat ke Padang pada esok harinya, kami kemudian memutuskan untuk ikut berangkat ke Muara Sikabaluan bersama-sama.

Jam 04.00 WIB kami sudah terbangun dari tidur dan kemudian duduk di teras rumah, melakukan pengamatan suara. Kami tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan pengamtan suara dari ketinggian punggunan bukit karena jam 09.00 WIB pemandu kami akan berangkat ke Muara Sikabaluan untuk kemudian berangkat ke Padang. Tidak lama berselang, suara-suara primata endemik Siberut itu sudah mulai bersahut-sahutan di sekitar rumah, sama dengan pagi hari saat hari pertama kami bermalam kemarin. Namun selain suara joja, simakobu dan bokkoi kali ini kami lebih fokus terhadap suara bilou. Sampai matahari sudah bersinar dan jam sudah menunjukkan pukul 06.00 saat aktifitas penduduk semakin ramai, kami berhasil mendengar 4 sumber suara morning call dari bilou, tetapi tidak ada yang bersuara great call, sampai para primata itu kemudian semakin jarang terdengar suaranya. 

Menurut beberapa penduduk, ada 2-3 kelompok bilou yang sering memperdengarkan suara great call, terutama dari arah perbukitan Munduk. Di kawasan itu biasanya terdengar 2 greatcall. Tetapi 2 hari kami berada di Puran kami belum berhasil mendengar suara great call dari Biloudi sekitar hutan  Puran.

Pengamatan di Bagan Bajuman, Sotboyak dan Sirilanggai

Dari beberapa informasi yang kami dapatkan, besok harinya dengan dipandu oleh P. Kusmiyadi staf BTNS yang kami kenal, kami berangkat untuk melakukan pengamatan suara, mengambil titik tidak jauh dari perladangan milik P. Kusmiyadi yaitu di Bagan Bajuman. Wilayah ini secara administatif masuk dalam wilayah desa Sotboyak. Dengan mempergunakan sepeda motor kami berangkat menyusuri jalan trans Siberut yang menghubungkan Muara Sikabaluan-Sotboyak. Seperti yang sudah kami perkirakan, selama 1 dekade terakhirsudah banyak sekali perubahan fungsi lahan. Lahan yang dahuulnya adalah hutan habitat dari satwa dan primata endemik Siberut itu kini sudah berubah menjadi jalur jalan yang lebar. Sepanjang kanan dan kiri jalur jalan itu kini adalah perladangan milik masyarakat setempat. 

Tiba di dekat jalur jalan setapak yang mengarah ke ladang P. Kusmiyadi kami kemudian menghentikan sepeda motor dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Kami memilih pondok kecil di perbukitan itu untuk melakukan pengamatan. Jam menunjukkan pukul 08.30 WIB saat kami berhasil mendengar suara great call yang terdengar cukup jauh. Kami memperkirakan berada di sekitar jarak 1 km dari tempat kami melakukan pengamatan. Suara great call pertama belum berhenti, kami segera mendengar suara greatcall ke dua dan ke tiga dari jarak yang relatif dekat, sekitar 300-400 meter saja dari tempat kami melakukan pengamatan. Pagi itu total kami berhasil mendengar suara great call bilou sebanyak 3 kali. Dari tempat kami melakukan pengamatan itu, kami juga berhasil mendengar suara joja dan bokkoi. 

Kawasan tempat kami melakukan pengamatan yang ke dua ini adalah termasuk dalam hutan yang dikuasai oleh uma SIrirui. Namun sejak pembukaan jalur jalan Trans Siberut Muara Sikabaluan-Sotboyak, kawasan hutan ini sebagian besar sudah beralih fungsi menjadi kawasan perladangan penduduk. Sumber suara great call dari kelompok bilou itu terlihat masih merupakan hutan yang memiliki tegakan-tegakan pohon-pohon alam yang berukuran besar. 

Siang itu kami kemudian pulang kembali ke penginapan kami di Muara Sikabaluan. 

Sore harinya kami kemudian berangkat untuk melakukan pengamatan primata di tepian jalur jalan Muara Sikabaluan-Mongan Poula. Di tempat itu menurut informasi yang kami peroleh penduduk sering melihat kelompok-kelompok bokkoi. Benar saja. Kami berhasil melihat setidaknya 3-4 ekor bokkoi muda yang sedang berkejar-kejaran. Namun sayangnya kami tidak berhasil mengambil foto yang bagus, kelompok bokkoi itu menyadari kedatangan kami dan kemudian bergerak di lantai hutan rawa itu. Namun gagal mengamati serombongan bokkoi itu kami malah berhasil melihat serombongan burung langka, merpati hutan perak. Beberapa ekor burung itu terlihat sedang sibuk mengerumuni pohon yang tumbuh tidak jauh dari jalan yang menghubungkan antara Muara Sikabaluan-Monganpoula. Belum puas kami menikmati pemandangan langka itu tiba-tiba pemilik kebun nenas di dekat situ datang. Di dekat kebun orang itu pohon yang menghasilkan buahan hutan yang menjadi makanan burung-burung itu tumbuh. Burung-burung itu kemudian bubar, pindah ke bagian lain dari hamparan lahan yang dahulunya adalah rawa-rawa itu. Kawanan burung itu terlihat hinggap bergerombol di dahandahan pohon tumu yang tinggi menjulang. 

merpati hutan perak, Columba argentina

Galig ( Psitinus cyanurus)

Esok paginya mengisi waktu sebelum kami harus berangkat dengan kapal terakhir sebelum jadwal pelayaran diliburkan untuk memberi kesempatan awak kapal merayakan hari raya Idul Fitri, kami menyempatkan diri untuk melakukan pengamatan di punggungan perbukitan di dekat Sirilanggai. Menurut informasi awal yang kami peroleh, dari arah perbukitan Sigoibong. Di punggungan bukit tepian jalan menuju Sirilanggai kami kemudian melakukan pengamatan. Punggunan bukit ini merupakan perladangan yang belum lama dibuka. Terlihat dari vegetasi tanaman yang masih kecil dan pokok-pokok rumpun pisang yang sudah terserang penyakit yang mendominasi hamparan lahan itu. Jam menunjukkan pukul )7.30 WIB saat kami mendengar suara morning call dari seberang jalan. Jarak sumber suara itu kami perkirakan sekitar 400 meter saja. Sumber suara itu terlihat dari pepohonan pulai yang tumbuh di hutan rawa dekat perbukitan. Namun tidak lama kemudian suara morning call itu kemudian menghilang. Pagi itu kami tidak berhasil mendengar suara great call dari perbukitan Sigoibong, Sirilanggai.

Kesimpulan

Dari hasil kunjungan singkat itu, kami melihat jika dalam 12 tahun terakhir kawasan Siberut Utara di bagian luar zona inti TNS telah mengalami perubahan fungsi kelola lahan yang cukup signifikan. Aktifitas dari pembangunan infrasruktur berupa jalan yang ditujukan untuk akses antar kecamatan melalui skema Trans Siberut dan pembukaan permukiman baru di Puran untuk program mitigasi kebencanaan ancaman tsunami di sisi lain telah memberikan tekanan yang tinggi kepada hutan dan keanekaragaman hayati sekitar dusun Puran. Di sepanjang kanan-kiri jalur jalan itu kini telah berubah menjadi kawasan perladangan masyarakat. Jalur jalan yang mengambil jalur di kaki perbukitan dan memotong kontur perbukitan ke arah desa Sirilogui telah membuat vegetasi hutan di sekitar Puran berubah menjadi lahan terbuka. Kawasan yang dahulunya adalah habitat dari bilou. Kini jenis-jenis primata selain bilou banyak ditemukan di kawasan hutan rawa yang berada di sekeliling permukiman dusun Puran. Ke 3 jenis primata selain bilou itu relatif mudah untuk dijumpai. Namun selama 2 hari di Puran, kami masih berhasil mendengar 4 sumber suara morning call, 3 dari arah punggungan perbukitan dan 1 sumber suara dari arah hutan rawa tidak jauh dari kawasan pesisir. Menurut informasi dari penduduk setempat, suara great call sering mereka dengar dari arah perbukitan yang mereka kenal sebagai Leleu Munduk.

Sementara itu di kawasan yang lain yaitu di sekitar Muara Sikabaluan, Mongan Poula, Sotboyak,Pokai dan Sirilanggai, kami mendapat informasi keberadaan bilou di hutan milik uma Sirirui yaitu di Bagan Bajuman yang secara administratif masuk dalam wilayah desa Sotboyak. Kawasan ini dalam 12 tahun terakhir telah banyak mengalami perubahan fungsi lahan. Tempat yang dahulunya adalah hutan kini di banyak tempat penduduk telah membuka perladangan. Terdapat 2 jalur jalan yang telah dibangun dalam 15 tahun terakhir, yang pertama adalah jalur jalan yang dikelola dengan skema swa-kelola oleh masyarakat melalui keproyekan yang dikelola oleh kelompok masyarakat. Jalur jalan ini biasanya dibangun untuk penghubung antar dusun dan antar desa. Jalur jalan yang ke dua adalah jalan besar yang dikelola kontraktor sebagai bagian dari proyek pembangunan Trans Siberut. Di Siberut Utara, sebagian kawasan hutan di luar kawasan TNS juga telah menjadi konsesi kelola perusahaan logging yang baru di awal tahun ini berhenti beroperasi. Selama 2 hari kami melakukan observasi dan pengamatan, kami hanya mendapatkan 3 greatcall bilou di kawasan hutan Bagan Bajuman di wilayah desa Sotboyak dan 1 morning call di Hutan Sigoibong, dusun Sirilanggai.

Di sepanjang jalur jalan Muara Sikabaluan-Mongan poula kami menemukan beberapa spot yang menyediakan vegetasi tumbuhan kayu di daerah rawa-rawa yang menghasilkan buahan hutan sumber pakan yang disukai oleh beberapa jenis burung. Di antara beberapajenis burung itu yang menarik adalah serombongan burung merati hutan perak (Columba argentina). menurut beberapa orang penduduk jenis burung langka itu memang sering terlihat di kawasan itu saat musim-musim tertentu, saat pepohonan penghasil makanannya berbuah. Kunjungan kami itu adalah di bulan Maret 2026, pengujung musim buah pepohonan hutan itu.



Friday, December 26, 2025

Dimana Bilou Bersuara? Pemetaan Habitat Owa Mentawai

 

Oleh Kurnia Latifiana

Pembaruan informasi tutupan lahan dan penilaian kesesuaian habitat memberikan dasar untuk mengidentifikasi area prioritas untuk perlindungan, restorasi, dan pengelolaan yang lebih baik. Peta yang dihasilkan melalui penilaian ini dapat mendukung pengambilan keputusan konservasi di seluruh Kepulauan Mentawai. Dengan memberikan wawasan dan perspektif spasial yang komprehensif sebagai upaya untuk memperkuat strategi konservasi primata dan berkontribusi pada tindakan berbasis science yang melindungi Owa mentawai- Bilou ( Hylobates klosii) dan habitat hutan mereka yang tersisa.

Tujuan

Untuk memberikan wawasan mengenai tindakan konservasi bagi Bilou, penilaian ini bertujuan untuk:

Perbarui peta tutupan lahan Kepulauan Mentawai untuk memberikan representasi terkini tentang kondisi hutan dan potensi ancaman di bentang alam.

Mengembangkan dan memperkirakan habitat yang sesuai untuk Bilou di seluruh kepulauan menggunakan variabel spasial dan ekologis untuk mengidentifikasi habitat prioritas dan area yang berpotensi berisiko.

Metode

Studi kami dilakukan di seluruh Kepulauan Mentawai, khususnya berfokus pada sembilan hutan adat di desa Madobag dan Matotonan. Hutan-hutan ini dirawat oleh masyarakat setempat, dan sangat penting karena menyediakan habitat bagi Bilou dan membantu menjaga konektivitas hutan. Untuk memahami seberapa baik area-area ini mendukung gibbon, kami menggabungkan pengetahuan dari studi sebelumnya dengan pengamatan baru dari lapangan. Kami mengamati di mana Bilou terlihat, dan kami juga mencatat kondisi lahan dan hutan. Dengan menggunakan citra satelit, kami membuat peta tutupan hutan yang diperbarui, yang kami periksa dan perbaiki dengan bantuan survei lokal. Terakhir, kami menggunakan model komputer untuk memprediksi area mana yang paling cocok untuk Bilou dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti tutupan hutan, kesehatan pohon, bentuk lahan, iklim, dan seberapa dekat hutan tersebut dengan sungai atau desa. Dengan cara ini, kita dapat melihat tempat mana yang paling penting untuk melindungi Bilou dan mendukung upaya masyarakat untuk menjaga kesehatan hutan.

Hasil

Pemetaan tutupan lahan

Owa Bilou sangat terkait dengan habitat hutan, khususnya hutan sekunder. Peta tutupan lahan terbaru tahun 2025 memberikan gambaran spasial terkini tentang kondisi hutan di seluruh Kepulauan Mentawai, dengan perhatian khusus pada sembilan hutan adat di desa Madobag dan Matotonan. Klasifikasi tutupan lahan memiliki keterbatasan dalam membedakan antara hutan sekunder dan vegetasi pohon campuran yang ditanam. Verifikasi lapangan membantu meningkatkan akurasi klasifikasi, terutama di daerah yang didominasi oleh zona vegetasi campuran dan petak-petak kecil hutan sekunder.

Penilaian kesesuaian habitat

Habitat yang diprediksi sesuai secara spasial tumpang tindih dengan sebagian besar catatan kemunculan gibbon dari studi sebelumnya dan survei lapangan terbaru pada tahun 2025. Terdapat 60 titik kehadiran (95%) yang berada dalam area yang diklasifikasikan sebagai habitat yang sesuai, menunjukkan kesesuaian antara prediksi model dan pengamatan lapangan.

Di seluruh Kepulauan Mentawai, habitat yang sesuai diperkirakan sekitar 399.045,24 ha dan mewakili 66,69% dari total luas wilayah (lihat Tabel), di mana 302.647,59 ha berada di Pulau Siberut. Di dalam hutan adat prioritas di Pulau Siberut, habitat yang sesuai diprediksi mencakup sekitar 78,59% dari pulau tersebut. Luas habitat yang sesuai per pulau dirangkum dalam tabel.

Kesesuaian habitat dibentuk oleh pola kombinasi struktur hutan, kondisi iklim, dan karakteristik medan. Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2, tutupan lahan merupakan variabel yang paling berpengaruh, menyumbang 40% pada model, diikuti oleh curah hujan (22%), tutupan pohon (18%), dan ketinggian (14%), sedangkan semua variabel lainnya secara individual menyumbang kurang dari 10%. Variabel tekanan manusia menunjukkan kontribusi langsung yang relatif rendah, bukan karena tidak signifikan secara ekologis, tetapi karena pengaruhnya sebagian besar ditangkap secara tidak langsung melalui perubahan tutupan lahan dan kondisi hutan.

Model tersebut mengkonfirmasi bahwa hutan sekunder merupakan prediktor paling penting dari distribusi Bilou di Kepulauan Mentawai. Area dengan tutupan pohon yang lebih tinggi dikaitkan dengan probabilitas kemunculan gibbon yang lebih tinggi. Kondisi ini juga mengkonfirmasi bahwa gibbon sangat bergantung pada kanopi hutan yang utuh secara struktural.Biloubergantung pada lapisan kanopi atas untuk perilaku-perilaku penting, termasuk pergerakan, makan, istirahat, dan vokalisasi, yang membutuhkan struktur hutan yang berkelanjutan dan berkembang dengan baik.

Disclaimer : Informasi yang ditampilkan di sini hanyalah sebagian dari analisis kesesuaian habitat untuk Program Konservasi Owa Bilou Mentawai. Silakan hubungi swaraOwa at gmail.com untuk diskusi lebih lanjut mengenai analisis tersebut.


Tuesday, December 23, 2025

SwaraOwa dan Sekolah Mentawai: Membangun Sikap Pro-Konservasi Sejak Dini

 

foto bersama dengan siswa SMA 1 Siberut Selatan

Oleh : Nur Aoliya

Program edukasi konservasi primata telah diselenggarakan oleh swaraOwa dengan komunitas lokal di Mentawai sejak tahun 2019, dengan fokus awal pada pelatihan bagi guru budaya Mentawai. Dan tahun 2025 ini, sasaran program kali dialihkan kepada siswa SD-SMA dengan tujuan sebagai berikut :

1. Memberikan pemahaman dasar kepada siswa-siswi mengenai keanekaragaman, peran ekologis, serta ancaman terhadap primata endemik Mentawai. 

2. Mengintegrasikan pengetahuan ilmiah dan kearifan budaya lokal dalam pembelajaran tentang konservasi primata Mentawai. 

3. Mendorong terbentuknya sikap peduli lingkungan dan perilaku pro-konservasi pada siswa-siswi sejak usia dini.

Rencana awal kegiatan dilaksanakan pada tanggal 19-20 November 2025, karena terkendala badai menyebabkan kegiatan mundur pada tanggal 21-22 November 2025 di Siberut Selatan. Sesi pertama berlangsung di SMP Negeri Siberut Selatan dengan peserta 42 siswa kelas VIII. Pada hari yang sama, agenda dilanjutkan di SD Negeri 06 Madobag dengan peserta sebanyak 46 siswa dari kelas IV–VI. Pada hari terakhir, program diikuti oleh 39 siswa SMA Negeri 1 Siberut Selatan yang tergabung dalam organisasi OSIS, Sispala, Pramuka, dan PKS.

Materi disampaikan oleh Eka Arismayanti untuk siswa SD dan SMP, sedangkan untuk siswa SMA materi disampaikan oleh Kurnia Akhmadin. Kegiatan dimulai dengan perkenalan singkat mengenai SwaraOwa, dilanjut presentasi interaktif selama kurang lebih 60 menit dan diakhiri diskusi ringan dan kuis berhadiah untuk siswa. Penyampaian materi disesuaikan dengan usia peserta dikarenakan kemampuan penalaran tiap jenjang pendidikan berbeda, serta metode pembelajaran yang sesuai untuk masing-masing kelompok. 

pengenalan keragaman primata Mentawai untuk Siswa SMP N 2 Siberut Selatan

Materi yang disampaikan kepada siswa SD dan SMP pada umumnya sama, mencakup ekologi dan primata, ancamannya, keterkaitan budaya Mentawai dengan primata, serta peran manusia dalam upaya konservasi. Perbedaan terletak pada metode penyampaian materi, di mana pada tingkat SD digunakan lebih banyak gambar dan alat peraga berupa boneka primata. Kedua jenjang sekolah menunjukkan fokus yang baik selama penyampaian materi. Namun, pada sesi diskusi terlihat perbedaan tingkat partisipasi, di mana diskusi pada tingkat SD cenderung bersifat satu arah dari pemateri. Sementara siswa SMP menunjukkan interaksi tanya jawab dua arah anatara pemateri dan siswa. 

pemberian buku burung dan primata Menawai ,
karya tim swaraowa, untuk guru SD N 6 Madobag

Siswa SMA mendapatkan materi yang lebih mendalam mengenai isu konservasi kaitanya dengan siklus air, manfaat flora dan fauna, Ekologi primata Mentawai dan kaitanya dengan budaya Mentawai, serta peluang keterlibatan generasi muda dalam aksi konservasi. Diskusi pada tingkat SMA tidak hanya melibatkan pemateri dan siswa, namun juga terjadi pertukaran pendapat antar siswa sehingga diskusi berlangsung intraktuf dan multi arah. Salah satu isu yang menjadi pro-kontra antar siswa adalah terkait satwa primata yang dijadikan bahan makanan diluar kegiatan adat. 

Pendekatan presentasi dan diskusi terbuka terbukti efektif untuk mendorong partisipasi siswa pada jenjang SMP dan SMA. Sementara itu, untuk siswa SD diperlukan penguatan metode yang lebih interaktif agar keterlibatan peserta dapat meningkat. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam menumbuhkan kesadaran dan kepedulian generasi muda terhadap upaya pelestarian primata dan lingkungan.


Siapa yang Menjaga Bilou Siberut Saat Hutan Berpindah Tangan?

Oleh : Aloysius Yoyok

Survei populasi bilou, Owa mentawai -Hylobates klossii ini dilakukan di kawasan hutan yang secara administratif masuk ke dalam wilayah desa Maileppet. Sebagian besar kawasan hutan di wilayah desa ini sudah beralih kepemilikan secara adat. Dari kelompok-kelompok uma (suku) yang menguasai lahan hutan itu secara turun-temurun, belakangan ini terutama ketika pembangunan infrastruktur berupa akses jalan secara masif dilakukan oleh pemerintah, pada umumnya lahan-lahan itu sudah dikapling-kapling dengan ukuran yang bervariasi dan kini sudah dikuasai oleh kelompok-kelompok penduduk migran. 

Di Kawasan desa Maileppet yang terletak di pesisir timur pulau ini carut-marut klaim kepemilikan lahan dan hutan yang berlarut-larut telah turut memberikan efek negatif terhadap isu-isu konservasi alam. Sebagian besar lahan hutan ini adalah lahan yang secara adat masih menjadi sengketa antara kelompok uma Sarubei yang tinggal di Maileppet dengan kelompok uma Sarereake yang tinggal di Saliguma dan kelompok uma Samalinggai yang tinggal di Muara Siberut. Penjualan lahan yang dilakukan oleh beberapa oknum anggota uma itu adalah salah satu strategi untuk menguasai dan mendapatkan keuntungan tunai cepat dari lahan dan hutan itu. 

Hutan alam yang tersisa di desa Maileppet ini terletak di sekitar perbatasan Desa Maileppet dengan desa Saliguma. Di era 70-80 an kawasan ini pernah menjadi wilayah konsesi HPH yang dikuasai oleh PT. CPPS. Setelah beberapa tahun berlalu, ketika alam berlahan memulihkan diri, ketika kayu-kayu pioner mulai mengisi celah-celah kosong di sepanjang jalur jalan logging, pada tahun 2000 an penduduk Siberut seolah berlomba-lomba membuka hutan kembali secara masif terutama di daerah dataran yang memiliki lapisan tanah subur yang cocok untuk bertanam nilam. Komoditi penghasil minyak atsiri ekspor ini pernah mengalami masa keemasannya di wilayah ini pada tahun-tahun itu. 

Kini sesudah pemerintah kabupaten memutuskan untuk membuka akses penghubung antar kecamatan, di ruas jalur jalan yang menghubungkan Desa Maileppet- Desa Saliguma itu jalur jalan yangdisebut sebagai jalur Trans  Siberut ruas Maileppet-Saliguma itu dibangun  dengan memanfaatkan bekas jalur jalan logging yang pernah dibangun oleh PT. CPPS itu. Namun pembukaan jalur jalan itu telah mendorong terjadinya peralihan kepemilikan lahan dari kelompok-kelompok adat ke tangan kelompok-kelompok penduduk migran. 

Kondisi habitat bilou di hutan Mailepet

Lokasi 

Survei populasi bilou ini dilaksanakan di kawasan hutan di sekitar bantaran sungai Panasalat yang mengalir dari lereng perbukitan Simaelu-elu dan bermuara di Teluk Sadabak. Di kawasan ini masih terdapat beberapa fragmen hutan yang telah tersekat-sekat oleh perladangan tradisional dengan vegetasi utama berupa tanaman pohon durian, cempedak, kelapa dan jenis-jenis tanaman tradisional lainnya dan sebagian lahan yang lain kini adalah lahan-lahan kosong, hutan alam itu telah dibabat dan ditebang. Karena pemilik lahan itu sebagian besar adalah etnis pendatang, nampaknya sebagian kawasan itu akan dikelola dengan teknik dan cara yang tidak lagi seperti dahulu. Kelompok-kelompok penduduk penduduk itu dari etnis pendatang (Batak, Nias, Minangkabau). 

Kegiatan survei populasi bilou di kawasan ini dilakukan karena adanya pengalaman tim survei yang masih mendengar suara-suara dari kelompok-kelompok bilou yang masih menempati kawasan itu saat kebetulan melintasi kawasan itu. 

Pelaksanaan kegiatan 

Kegiatan ini dilaksanakan dengan metode triangulasi, metode survei dengan pengambilan data suara di 3 titik pengamatan yang dilaksanakan selama 4 hari, terhitung dari tanggal 12-15/12/2025. Penentuan ke 3 titik triangulasi sempat mengalami sedikit kendala. Generasi muda yang berasal dari Maileppet kurang begitu mengenali lekuk-liku lingkungan alam yang pernah menjadi milik mereka itu. Ke 3 titik pengamatan suara mengambil titik masing-masing 2 titik pengamatan di dekat hulu sungai Panasalat dan 1 titik pengamatan di dekat hulu sungai Simanggeak.

Hari pertama, 12/12/2025

Sesudah sempat tertunda selama 3 hari akibat cuaca yang terus-menerus hujan di akhir tahun ini, tim akhirnya berangkat menuju kawasan yang sudah direncanakan. Jam menunjukkan pukul 05.15 saat hujan sudah mereda 1 jam sebelum tim berangkat. Namun meski cuaca agak mendung di pagi itu pada pengamatan suara di hari pertama ke 2 tim yang mengamati di titik LPS 1 dan 2 berhasil mendengar 4 suara bilou, 1 sumber suara terdengar cukup dekat, hanya berjarak sekitar 200 meter saja dari titik LPS 1, sementara 1 kelompok bilou dari arah dekat sungai Panasalat memperdengarkan suara great call-nya. 2 sumber suara bilou yang lain tidak memperdengarkan great call, hanya morning call saja. Sesudah jam pengamatan suara berlalu di pukul 10.00 WIB, tim dari LPS 1 kemudian bergerak perlahan-lahan menuju arah suara bilou yang berjarak sekitar 200 meter saja dari titik LPS. Namun sayangnya tim belum berhasil melihat langsung kelompok kecil bilou itu karena hujan kemudian turun dengan intensitas cukup deras. Namun meski demikian kelompok kecil ini kemungkinan besar terdiri dari 2 individu saja, ditilik dari suara yang dihasilkan oleh kelompok kecil itu, ada 2 variasi suara morning call, 1 individu dewasa dan 1 individu remaja.

Hari ke dua, 13/12/2025

Pada survei yang dilaksanakan pada hari ke 2, cuaca kembali cenderung berawan, matahari hanya sedikit memunculkan sinarnya dan kembali hujan gerimis turun. Pada survei hari ke dua itu tim dari LPS 1 berhasil mendengar suara morning call dari kelompok bilou,hanya berjarak sekitar 300 meter dari titik pengamatan. Sesudah jam pengamatan suara berlalu, tim kembali bergerak untuk melihat langsung kelompok bilou itu. Kali ini tim berhasil melihat langsung kelompok bilou itu yang terdiri dari 2 individu dewasa dan 1 individu remaja. 

Demikian juga tim yang melakukan pengamatan di titik LPS 3 rupanya juga bertemu dengan kelompok bilou yang sedang bergerak aktif di kanopi pepohonan, tidak jauh dari titik LPS 3. Kelompok bilou itu terdiri dari 2 individu dewasa, 1 individu remaja menjelang dewasa, 2 individu remaja dan 1 individu anak-anak.

Kondisi hutan di tempat pengamatan LPs 2

Hari ke 3, 14/12/2025

Pada hari ke 3 pengamatan cuaca cenderung cerah namun pagi itu angin berhembus cukup kencang. Sampai jam pengamatan berakhir ke 3 tim tidak berhasil mendengar suara bilou. 

Hari ke 4, 15/12/2025

Pengamatan yang dilakukan pada hari ke 4 juga gagal mendeteksi suara bilou. Pagi itu cuaca cenderung berawan namun tidak lagi ditingkahi hembusan angin kencang seperti pada pengamatan yang dilakukan pada hari ke 3. Namun meski cuaca cenderung lebih baik, pengamatan suara pada hari ke 3 itu hanya berhasil mendengar suara dari kelompok simakobu (Simias concolor) saja yang bersuara saat mendengar bunyi pesawat terbang melintas di udara.

Potensi dan peluang 

Kawasan di mana kegiatan survei populasi bilou ini dilakukan merupakan kawasan yang cukup terjangkau dari pemukiman di Maileppet. Maileppet sendiri merupakan gerbang masuk di Siberut bagian selatan karena di desa ini terletak dermaga utama untuk bersandar kapal yang tiba dari Padang. Selama 4 hari kegiatan survei populasi bilouini dilakukan, tim berhasil melihat langsung keberadaan 2 kelompok bilou yang masing-masing terdiri dari 3 individu dan 5 individu. Sementara 1 kelompok yang terdengar bersuara great call serta 1 kelompok yang terdengar bersuara morning call belum berhasil diidentifikasi ukuran kelompok itu. Kegiatan survei populasi primata ini berhasil membuktikan jika di kawasan hutan yang relatif kurang bagus (siutable) itu ternyata masih terdapat kelompok-kelompok bilou. 

Di waktu dan tempat yang berbeda tim juga berhasil berdiskusi dengan Kepala Desa Maileppet dan melakukan share informasi terkait hasil kegiatan survei populasi bilou itu. Secara umum Kepala Desa Maileppet mendukung kegiatan konservasi bilou di wilayah administratifnya dan berencana untuk turut mengembangkan potensi desa itu sebagai destinasi wisata minat khusus pengamatan satwa liar.

Namun meski kawasan ini adalah wilayah konservasi dari BKSDA Sumatra Barat namun kawasan hutan ini memiliki kerumitan yang sangat khas. BKSDA sebagai pemangku kepentingan utama sebagai wakil dari pemerintah seolah tidak berdaya mengelola kawasan yang menjadi tanggung jawabnya ini. Penduduk setempat selama ini terus saja melakukan jual-beli kapling-kapling lahan hutan di kawasan itu. Penebangan kayu-kayu besar untuk kebutuhan konstruksi penduduk setempat sebagian besar berasal dari wilayah itu, demikian pula pembukaan hutan untuk pengambangan perladangan penduduk terus saja berlangsung. Demikian pula perburuan liar yang kini dilakukan oleh generasi muda dengan menggunakan senapan angin yang lebih modern; dilengkapi dengan teleskop dan peredam suara juga semakin masif dan belum ada kontrol dari pihak manapun. Hal ini tentu saja merupakan tantangan besar untuk konservasi hutan dan keanekeragamanhayati di wilayah hutan ini, terutama mengingat sebagian kawasan hutan itu kini secara tradisional sudah berpindahtangan dari penduduk setempat ke tangan penduduk dari etnis pendatang meskipun belum memiliki legalitas sah dari pihak yang berwenang.


Monday, October 27, 2025

"Menelusuri Bat Kailolot: Survei Sehari di Hutan Adat Salaisek"

 Oleh :Aloysius Yoyok

Bilou ( Hylobates klossii)

Kegiatan kali ini hanya survey singkat ke hutan milik uma Salaisek, pada tangga 13 Oktober 2025. Kawasan hutan Bat Kailolot ini adalah milik uma Salaisek yang berbatas sepadan dengan hutan milik uma Salimu. Perbatasan hutan yang secara adat menjadi kekuasaan mereka itu terletak di sepanjang punggung perbukitan yang kebetulan menjadi lintasan jalan setapak Gotab-Salapak. 

Lahan milik uma Salaisek ini di beberapa spot sejak beberapa dekade lalu sudah dikelola sebagai areal perladangan tradisional; sebagian lahan rawa-rawa dikelola sebagai kebun sagu sementara lahan dataran kering dikelola sebagai tempat pengembangan perladangan tradisional (pumonean) yang berisi tanaman tua (jenis-jenis tanaman buah-buahan lokal). Lahan ini juga pernah dimanfaatkan oleh beberapa penduduk setempat untuk areal pengembangan peternakan babi tradisional (pusainakat) tetapi semenjak generasi tua pemilik pusainakat itu sudah tidak ada lagi dan generasi sekarang sekarang ini tidak lagi melanjutkan usaha itu, maka areal itu kini kembali ditumbuhi oleh vegetasi yang cukup rapat dengan jalur-jalur jalan setapak yang sudah tidak terlihat lagi, tertutup oleh tumbuhan hutan dan semak. Melakukan survei di kawasan ini harus dipandu oleh orang yang memang memahami kawasan karena jalur-jalur jalan setapak lama yang sudah hilang.

jalur berlumpur di rawa-rawa 

Kawasan lahan hutan Bat Kailolot ini selain berbatas sepadan dengan hutan milik Salimu di sepanjang punggung perbukitan di sebelah selatan, di sebelah timur dan utara lahan mereka ini berbatas dengan punggung perbukitan dimana jalan trans Siberut ruas Maileppet-Saliguma yang dibuka dengan memanfaatkan bekas jalan perusahaan kayu log di tahun 80 an. Sampai beberapa tahun lalu sebelum jalan trans Siberut itu dibuka pada tahun 2017 lalu, kelimpahan satwa dan primata di kawasan itu masih terlihat bagus. Jika berkunjung di kawasan itu, jika di pagi hari buta maka nyanyian morning call dari kelompok-kelompok bilou akan terdengar di sekitar pondok, demikian juga dengan ke 3 jenis primata yang lain termasuk juga ragam satwanya. 

Rute Perjalanan

Rute yang dipilih untuk mencapai lokasi survei itu adalah dengan menempuh jalur laut dari Maileppet-Gotab, kemudian dari Gotab menuju Bat Kailolot dengan jalan kaki, bisa juga dengan menempuh dengan perjalanan jalur darati melalui jalur jalan sekunder yang menghubungkan permukiman Gotab-Jalan Trans, tetapi kami memilih melalui jalur jalan setapak yang menghubungkan permukiman Gotab-Pondok Dami  ( Dami ini sahabat saya dari Gotab) di Bat Kailolot tepi jalur jalan trans ruas Maileppet-Saliguma juga.

Perjalanan laut dari Maileppet-Gotab kami tempuh dengan pompong sekitar 1 jam dan perjalanan darat yang kami tempuh dengan berjalan kaki menyusuri jalur jalan setapak kami tempuh juga selama kira-kira 1 jam. 

Kebetulan perjalanan kami tempuh di sore hari, di tengah hujan yang turun semenjak pagi. Sesudah beristirahat sejenak di Gotab, saat matahari tenggelam kami berangkat dengan berjalan kaki menuju pondok ladang Dami yang terletak di Bat Kailolot. 

Sebenarnya jika cuaca cenderung kering perjalanan menuju lokasi itu bisa ditempuh melalui jalur jalan trans Siberut ruas Maileppet-Saliguma mempergunakan sepeda motor, sekitar 40 menit saja. Tetapi jika cuaca cenderung hujan, pilihan jalur jalan ini bisa memiliki risiko besar karena jalur jalan ini belum ada pengerasan masih berupa tanah lempungan di sepanjang punggung perbukitan yang merupakan bekas jalan logging di masa lalu, jalanan akan menjadi lengket dan berlumpur saat hujan turun. Jika situasi menjadi seperti itu maka kendaraan bermotor biasa akan terjebak dan harus menunggu cuaca cerah untuk membuat jalur jalan tanah itu kering kembali.

Kotkot -Kadalan siberut (Phaenicophaeus curvirostris)


Situasi Hutan Bat Kailolot 

Semenjak jalur trans Siberut ruas Maileppet-Saliguma ini dibuka, maka hutan di sepanjang kanan dan kiri jalur jalan trans itu dari arah Maileppet dari Km 0 – Km 9 rata-rata sudah beralih kepemilikan menjadi milik masyarakat migran atau pendatang dari etnis di luar Mentawai. Lokasi hutan Bat Kailolot milik Salaisek ini terletak di sekitar Km 13. Pada umumnya lahan di sepanjang jalur jalan itu belum diperjualbelikan tetapi kini di tepian jalur jalan itu pengusahaan penduduk lokal adalah dengan kembali membabatnya untuk lokasi perladangan.

Dari hasil pengamatan selama sehari, dari total sebanyak 9 suara bilou yang terdengar dengan rincian 7 suara merupakan great call dan 2 suara hanya morning call saja. Dari 7 suara great call itu terdapat 4 kelompok bilou yang bersuara great call di dekat jalur jalan trans Siberut itu, 2 kelompok bersuara dari arah hutan milik Salaisek dan 2 suara great call yang lain dari arah hutan milik uma Sabbangan, di seberang jalan trans. Saat pengamatan suara sedang dilakukan dan kelompok-kelompok bilou itu sedang bersuara, kebetulan ada 3 titik sumber suara greatcall yang tiba-tiba berhenti bersuara dan berganti menjadi suara alarm call, kemungkinan besar karena di dekat tempat kelompok-kelompok bilou itu bersuara adalah memang jalur setapak yang menjadi lintasan penduduk lokal menuju ke perladangan mereka. Kebetulan pagi itu mereka melintas di bawah pohon tempat kelompok-kelompok bilou itu bersuara.

foto bersama keluarga bapak Nasril

Secara umum terlepas dari kemungkinan berkurangnya vegetasi hutan terutama di sepanjang tepian jalur jalan trans Siberut, tetapi kawasan hutan Bat Kailolot milik Salaisek ini merupakan bagian dari hamparan hutan yang masih luas. Hamparan hutan itu secara adat merupakan milik Salimu, Salaisek, Samaurau dan Satoinong. Kawasan ini terletak di antara permukiman Salappak dan Gotab-Siguluk-guluk kawasan yang masih memiliki vegetasi hutan yang bagus dan memiliki kelimpahan satwa maupun primata yang bagus juga. Di kawasan ini tidak banyak penduduk yang mengelola lahan hutan itu untuk perladangan tradisional karena lokasinya yang cukup jauh dari permukiman dan akses menuju areal itu yang sulit. Pada beberapa dekade lalu penduduk memanfaatkan beberapa spot lokasi hutan itu untuk peternakan babi tradisional tetapi kini sudah sekitar 15 tahun lalu ditinggalkan dan tidak lagi dikelola.