Thursday, July 23, 2026

Monitoring Satwaliar: Memperkuat akar konservasi dan apresiasi keanekargaman hayati

 Oleh : Kurnia Ahmaddin

bayi owa teramati di Mendolo

Kegiatan monitoring satwa liar pada periode Januari- Juni 2026 belum terdapat banyak perubahan metode dengan monitoring pada tahun lalu. Kami masih melakukan monitoring dan patroli primata yang dilakukan oleh warga lokal di Desa Mendolo, Kayupuring dan Pacet. Hanya saja pada tahun ini kami mendorong mereka untuk bergerak mandiri selama pengambilan data lapangan setelah pada tahun lalu kami masih banyak mendampingi masyarakat untuk mengambil data catatan perjumpaan.  

Hasil catatan pengamatan selama total 96 hari pengamatan di 3 desa tersebut sejauh ini terdapat 197 bar data pengamatan primata Jawa.  Dengan catatan perjumpaan dengan Owa jawa sebanyak 43 titik, Kukang jawa 10 titik, Lutung jawa 92 titik, Monyet ekor-panjang 32 titik dan 20 laporan perjumpaan dengan Rekrekan. Di Mendolo kami menemukan 2 catatan penambahan individu baru yaitu kelompok Owa kupel dan kelompok Owa perliman. Namun demikian pada bulan Mei, kelompok Owa kupel sudah tidak membawa anak lagi. Sehingga jumlah individu pada kedua kelompok tersebut saat ini sama-sama 5. Pohon pakan sejauh ini kami berjumpa dengan 32 catatan pohon pakan namun hanya 27 yang dapat kami identifikasi. 

Catatan penting lainnya dari pemantauan berbasis komunitas kami adalah dokumentasi seekor Binturong, Beruang Kucing (Arctictis binturong), penampakan yang sangat langka hanya pada musim berbuah tertentu. Binturong, dalam bahasa inggris  bearcat merupakan anggota keluarga Viverridae (musang) terbesar. Dengan tubuh bongsor berbulu hitam lebat mirip beruang, wajah yang sekilas seperti kucing, dan ekor panjang yang kuat, binturong adalah potret nyata dari keunikan evolusi alam. Namun, di balik semua keunikan fisiknya, keberadaan satwa arboreal ini sering kali luput dari pandangan kita yang hidup terpisah dari batas hutan. Di sinilah peran krusial dari aktivitas monitoring (pemantauan) keanekaragaman hayati secara berkala. Menariknya, garda terdepan dari kegiatan pemantauan ini bukan lagi sekadar peneliti dari luar, melainkan warga lokal yang tinggal di sekitar hutan. Binturong adalah mamalia yang dilindungi oleh hukum Indonesia dan hewan ini.

Memantau keberadaan binturong di alam liar bukanlah perkara mudah. Sifatnya yang nokturnal dan lebih banyak menghabiskan waktu di pucuk-pucuk pohon membuat perjumpaan langsung menjadi momen yang sangat langka. Melalui pemasangan camera trap (kamera jebak) atau survei jalur hutan yang konsisten, para warga sekitar hutan kini aktif mengumpulkan data esensial: kapan mereka aktif, pohon apa yang menjadi sumber pakan favorit mereka, hingga bagaimana peta sebaran mereka. 

Binturong ( Arctictis binturong) 
Keistimewaan Binturong

Yang istimewa dari binturong ini, biasanya mengeluarkan bau seperti jagung bakar, sebagai teritorial scent atau tanda, bau ini dihasilkan dari kelenjar dibawah ekornya. Binturong mempunyai ekor yang bisa mencengkeram seperti tangan ( prehensil) yang berfungsi membantu bergerak di pucuk kanopi pohon untuk menggapai buah. Binturong berperan sama seperti owa, sebagai petani hutan, menyebarkan biji biji pohon dari buah yang di makannya. Dan yang unik lagi, binturong betina memiliki organ sperti penis ( pseudo penis) yang merupakan salah satu bukti evolusi alam,  dimana hormon testosteron sangat kuat sampai mempengaruhi bentuk fisik betina yang berfungsi untuk bertahan di alam, atau habitat yang susah  hal ini diistilahkan sebagai  maskulinitas anatomi.

Mengapa Harus Melibatkan Warga Terdekat dengan Hutan?

Melibatkan masyarakat lokal dalam monitoring satwa liar bukan sekadar urusan efisiensi logistik lapangan. Ini adalah langkah strategis yang menyentuh akar konservasi itu sendiri. Warga sekitar adalah orang-orang yang berinteraksi langsung dengan hutan setiap hari. Merekalah yang paling pertama mengetahui jika ada perubahan di dalam hutan, dan mereka pula yang akan menerima dampak langsung jika ekosistem tersebut rusak.

Ketika warga lokal dilatih dan dilibatkan secara aktif dalam monitoring, sains tidak lagi menjadi menara gading yang jauh dari realitas. Sains dan konservasi bertransformasi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.

Monitoring keanekaragaman hayati memiliki esensi yang jauh lebih dalam daripada sekadar mengoleksi barisan angka statistik atau dokumentasi digital. Tujuan utama dari monitoring ini adalah untuk memperkuat apresiasi kita terhadap keanekaragaman hayati itu sendiri. Bagaimana mungkin kita bisa mengapresiasi, mencintai, dan tergerak untuk melindungi sesuatu yang keberadaannya bahkan tidak kita ketahui?


No comments:

Post a Comment