Thursday, July 16, 2026

Rahasia di Balik Racun Gadung dan Pucung: Tanaman Hutan yang Menghidupi Warga Sekitar Hutan dan Menjaga Habitat Owa Jawa

 

Owa Jawa ( Hylobates moloch) menggunakan cabang pohon pucung sebagai perlintasan (Dok Alex Rifa'i)

Oleh : Sidiq Harjanto

Dua spesies tumbuhan hutan ini turut menjaga kelestarian Owa Jawa. Mereka tidak melakukan pemantauan populasi atau patroli pengamanan hutan seperti yang biasa kita lakukan. Namun, keduanya membentuk rangkaian hubungan antara manusia, pengetahuan, hutan, air, dan ekonomi yang membuat konservasi bisa berjalan dengan sendirinya. Dalam ilmu konservasi, hubungan seperti ini dikenal sebagai social-ecological system (SES). Ini adalah kisah umbi gadung dan biji pucung. 

Umbi gadung sekepalan tangan atau beberapa biji pucung bisa membawa akibat fatal jika dikonsumsi tanpa pengolahan. Keduanya sama-sama mengandung racun dosis tinggi. Namun, di tangan masyarakat Sawahan, racun bisa dijinakkan dan diubah menjadi pangan yang lezat dan terus mewarnai dinamika desa dari masa ke masa. 

Sawahan adalah dusun kecil di tepian habitat lima jenis primata Jawa, berada dalam wilayah administratif Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang. Di dusun ini, pangan lokal dan pengetahuan mengolahnya masih terus dirawat hingga sekarang, menjadi bagian integral dari relasi manusia dengan hutan. Ada lebih dari 80 jenis tumbuhan dan jamur liar yang bisa dikonsumsi. Empat tahun terakhir, agenda Pekan Pangan Mendolo rutin digelar, menjadi medium perayaan kedaulatan pangan dan bentuk upaya merawat kepedulian masyarakat terhadap isu pangan dan konservasi alam secara lebih luas.

Produk olahan gadung dan pucung produksi KWT di Sawahan
Pangan lokal dalam pusaran sejarah desa

Gadung adalah jenis umbi khas tropis dengan nama latin Dioscorea hispida. Umbi ini mengandung dioscorin dan sianida yang sangat beracun sehingga berbahaya jika dikonsumsi tanpa melalui proses pengolahan. Pucung atau kepayang adalah jenis pohon hutan yang biasanya tumbuh subur di area sempadan sungai. Memiliki nama latin Pangium edule, kadar racun tertinggi ada pada bijinya. Mengonsumsi biji yang tidak diolah dengan benar bisa menimbulkan efek memabukkan. Dari sanalah istilah “mabuk kepayang” lahir.

Kecerdasan para leluhur kita telah menemukan metode pengolahan yang membuat kedua tumbuhan beracun bisa diubah menjadi bahan pangan yang lezat. Gadung menjadi alternatif sumber karbohidrat ataupun sebagai bahan pangan tambahan seperti keripik. Sedangkan biji pucung diolah menjadi aneka bahan pangan, salah satunya kluwek, bumbu penyedap utama pada makanan legendaris seperti brongkos dan rawon. Di Pekalongan sendiri, ada sup tradisional khas yang menggunakan kluwek sebagai bahan utama kuahnya, dikenal sebagai pindang tetel.

Mengapa masyarakat Sawahan mengolah tumbuhan beracun menjadi bahan pangan? Jawabannya tidak berhenti pada kecerdasan dan keterampilan para leluhur–justru di sinilah terletak keunikannya. Situasi ini membutuhkan interaksi banyak aspek yang saling berkelindan: pengetahuan tradisional turun-temurun, daya dukung lingkungan, hingga insentif yang diberikan oleh sistem ekonomi.

Tidak ada dokumentasi komprehensif bagaimana masyarakat Sawahan memperoleh pengetahuan pengolahan bahan-bahan pangan beracun tersebut. Pengolahan gadung paling jauh bisa ditarik sekitar lima puluh tahun lalu, saat warga dusun ini meniru metode pengolahan gadung menjadi keripik dari warga desa lain. Namun, pengolahan yang lebih sederhana seperti peretan–sejenis nasi dari umbi yang dicacah–telah umum dilakukan sebelumnya. Untuk pengolahan pucung, informasinya malah lebih terbatas. Meskipun demikian, bisa dipastikan tradisinya tidak kalah tua.

Uji coba ekstraksi minyak kepayang

Pengetahuan dan keterampilan saja tidak cukup untuk membuat tradisi ini lestari. Ada faktor daya dukung lingkungan. Alam di Sawahan menyediakan habitat ideal bagi kedua spesies tumbuhan liar itu. Gadung tumbuh subur pada area hutan dengan tanah gembur dan kaya material organik. Pohon-pohon tinggi menyediakan media tumbuh. Dengan batang berdurinya, ia merambat melingkari pohon-pohon raksasa hingga bagian atas untuk mendapatkan paparan cahaya matahari. Putarannya selalu searah jarum jam. 

Wilayah di sekitar kampung dilalui sungai-sungai dengan area sempadan yang lembab, ideal sebagai tempat tumbuh pohon-pohon pucung. Spesies ini paling sering dijumpai pada habitat dataran rendah yang relatif basah, dan pohonnya dipercaya sebagai penjaga mata air. Di Sawahan, pohon pucung raksasa hampir selalu dijumpai di sekitar mata air. Monitoring satwa liar yang dilakukan Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo memberikan informasi empiris yang menarik mengenai peran pohon pucung bagi satwa liar, antara lain daun muda yang dimakan monyet rek-rekan, dan cabang-cabangnya yang memberi fungsi perlintasan bagi owa jawa (Alex Rifa’i, kom.pri.)

Kondisi lingkungan tidak hanya mendukung pertumbuhan spesies, tetapi juga menyediakan “fasilitas produksi” gratis bagi petani. Sungai mengalir sepanjang tahun, menyediakan air sebagai elemen penting dalam penetralan racun, baik pada gadung ataupun pucung. Proses ini membutuhkan perendaman dan pencucian menggunakan air mengalir selama beberapa hari. Tanpa sumber daya air yang melimpah, pemrosesan menjadi tidak efisien. Namun, di sisi lain tanpa merawat hutan–termasuk pohon-pohon pucung–air bisa surut hingga titik kritis. Inilah contoh nyata umpan balik sistemik menggunakan cara pandang SES.

Akses pangan lokal mewakili kepentingan kaum perempuan terhadap hutan

Faktor lain yang penting dalam lestarinya pengolahan pangan lokal adalah adanya insentif ekonomi. Meskipun pemanfaatan secara subsisten juga terus dilakukan, pertimbangan ekonomi kemungkinan besar memiliki porsi tersendiri terutama ketika ketersediaan bahan melimpah. Gadung telah lama diperdagangkan dalam bentuk keripik. Pembelinya sebagian besar adalah tetangga sendiri, membentuk ekonomi mikro yang stabil dan berkelanjutan di lingkup dusun sendiri. 

Menurut cerita sesepuh, dahulu pucung lebih banyak diperdagangkan dalam bentuk blibar–daging biji (endosperma) yang telah dihilangkan racunnya, tetapi tidak difermentasi seperti pada kluwek. Blibar adalah bahan sayur yang bisa ditumis, digulai, atau dibikin rendang. Produk olahan ini konon dijajakan keliling dari desa ke desa. Hari ini, pucung lebih banyak dijual mentah ke pengepul. Blibar sendiri masih bertahan, tetapi lebih banyak dimanfaatkan secara subsisten.

Rek-rekan ( Presbytis fredericae) terpantau memakan daun muda pohon pucung (Dok Alex R)

Sistem pangan sebagai leverage konservasi 

Hubungan kompleks antara pangan – hutan – dan konservasi menjadi titik masuk bagi SwaraOwa. Kami berupaya tidak ada satu program yang berdiri sendiri. Setiap isu terjalin dengan isu-isu lain karena konservasi pada dasarnya menyentuh sesuatu yang bersifat sistemik. Karenanya, program koridor habitat Owa Jawa di Desa Mendolo yang dirintis bersama PPM Mendolo sejak 2023 tidak berhenti pada menanam pohon, tetapi juga membuka aneka peluang lain, termasuk penguatan sistem pangan lokal bagi masyarakat. 

Berawal dari penanaman pohon, berlanjut ke pengembangan produk berbasis pangan lokal oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Brayanurip. Sistem pangan lokal bisa menjadi medium partisipasi bagi kaum perempuan dalam diskursus tata kelola pemanfaatan hutan. Di Sawahan, ruang partisipasi itu diwujudkan dalam upaya inovatif: mendongkrak gadung dan pucung naik kelas menjadi komoditas ekonomi sekaligus penjaga resiliensi pangan.

Kedua komoditas ini dipilih karena nilai historis yang panjang, tersedia melimpah, dan memiliki narasi yang kuat untuk menjelaskan SES. Interaksi panjang masyarakat dengan komoditas-komoditas pangan hutan membangun perpustakaan pengetahuan yang sangat berharga yang sayang jika hilang begitu saja. Kumpulan pengetahuan itu justru menjadi bahan utama untuk meningkatkan nilai tambah pada produk-produk yang selama ini termarginalkan. 

Tiga tahun terakhir, kelompok yang dipimpin Sri Windriyah (Diyah) ini telah melakukan riset pengembangan produk untuk kedua komoditas. Hasilnya adalah tepung gadung dan aneka sambal berbasis kluwek. Harus diakui, memang upaya ini belum mengejawantahkan produk yang dihasilkan secara massal. Namun, capaian tidak selalu tentang berapa banyak produk yang telah dihasilkan. Ia bisa berupa pengetahuan baru–ini tentang data-data teknis, formulasi produk, hingga desain rantai pasok yang akan menjadi fondasi penting bagi pengembangan ke depannya.

Di titik inilah kami sekarang. Datangnya musim kemarau menjadi penanda musim gadung yang akan berlangsung sampai kira-kira bulan September. Tidak lama setelah itu, musim buah pucung menyusul di belakangnya. Bulan-bulan ke depan terus menuntut produktivitas. Seiring dengan selesainya musim panen kopi pada bulan Juli ini, KWT Brayanurip bersiap memulai produksinya. 

Mengapa bentuk tepung dipilih pada gadung dan bentuk olahan kluwek pada pucung? Keduanya memiliki alasan yang mirip: memperpanjang umur simpan, lebih mudah dipasarkan, lebih fleksibel (misalnya tepung menjadi kue atau kerupuk), serta berpeluang membuka pasar baru. Pada aspek pasar, Diyah dan kawan-kawannya menemukan bahwa generasi muda tidak lagi antusias dengan keripik gadung atau blibar pucung. Karenanya, formulasi olahan baru menjadi keniscayaan. 

Gadung dan pucung tidak dipersiapkan untuk sumber ekonomi utama bagi masyarakat. Keduanya menambah nilai ekonomi hutan, melengkapi komoditas-komoditas yang lebih dulu eksis seperti kopi, durian, kapulaga, dan madu. Skema ini membentuk bantalan ekonomi yang lebih kuat sekaligus mempertahankan keanekaragaman hayati pada lahan-lahan produktif yang dikelola.

Pada konteks resiliensi pangan terhadap perubahan iklim, kiranya gadung bisa menjadi studi kasus menarik. Ia memiliki beberapa keunggulan bila dibandingkan dengan komoditas pangan lain, baik yang berbasis umbi maupun serealia. Salah satu keunggulan yang patut dicatat adalah kemudahan tumbuh dan ketahanan. Gadung cenderung tumbuh liar di hutan dan dipelihara oleh sistem alam itu sendiri. 

Karena mengandalkan alam, waktu yang perlu diinvestasikan dalam produksi tepung gadung hanya terbatas pada pemanenan dan pengolahan pasca-panen, yang kira-kira membutuhkan satu minggu. Angka ini sebenarnya sangat jauh dibandingkan dengan komoditas lain seperti singkong dan talas yang membutuhkan upaya penyiapan lahan, penanaman, perawatan berkala, bahkan pengamanan dari konflik satwa liar. 

Berdasarkan riset yang dilakukan KWT, untuk mendapatkan satu kilogram tepung, diperlukan kurang lebih 9 sampai 10 kilogram umbi segar. Dari tanaman yang sehat, angka itu bisa diperoleh dari satu rumpun saja. Berbeda dengan pangan lain seperti padi, singkong, atau talas yang sering diakses satwa liar, nyaris tidak ada satwa yang mendekati umbi gadung. Tantangan ke depan menjadi lebih bisa dikerucutkan: mengembangkan metode budidaya sederhana untuk produksi yang lebih terkontrol, dan memastikan akses pasar yang mengapresiasi produk akhir. 

Krisis iklim yang semakin nyata mengancam penyediaan pangan kita di masa depan. Gadung dan pucung berpotensi menjadi barier proteksi ketahanan pangan masyarakat desa. Hanya saja, ini bukan semata tentang melestarikan tanaman-tanaman itu, namun juga pengetahuan mengolahnya. Yang diwariskan bukan sekadar tanaman, melainkan kemampuan mengubah racun menjadi pangan. Kepunahan data dan informasi yang terkandung dalam pengetahuan tradisional sama mengerikannya dengan kepunahan spesies itu sendiri.

Konservasi tidak cukup dengan menjaga hutan agar pohon tetap berdiri. Konservasi juga menjaga hubungan antara manusia, pengetahuan, dan lanskap yang membuat hutan tetap bernilai. Gadung dan pucung menjadi bukti bahwa ketika masyarakat memperoleh manfaat dari hutan, mereka memiliki alasan untuk ikut menjaganya. Pangan adalah daya ungkit konservasi yang patut kita perhitungkan, karena ia menyentuh titik nadi kehidupan.

Kami ucapkan terima kasih kepada Yayasan Astra Honda Motor, PT Musashi Auto Parts Indonesia, PT Astemo Bekasi Manufacturing, PT Yutaka Manufacturing Indonesia, dan PT Suryaraya Rubberindo Industries atas dukungan terhadap program penguatan kelompok KWT Brayanurip pada tahun ini. Apresiasi juga disampaikan kepada narasumber yang membuat artikel pendek ini terwujud: Biyung Mirah, Pak Casbari, Pak Kaliri, Sri Windriyah, Rohim, Alex Rifa’i, para ibu di KWT Brayanurip dan kawan-kawan PPM Mendolo. 


Wednesday, July 1, 2026

Upaya Swaraowa Naikkan Kelas Kopi Pekalongan lewat Pasca-Panen Modern

 

foto bersama di Sentra Specialty Coffee Arabica-mas Iyan Bondowoso

Oleh : Vika Bayu Iriyanto Putro

Sejak dimulainya proyek kopi dan konservasi tahun 2012, di Petungkriyono, kopi hingga saat ini telah menjadi salah satu komoditas unggulan dari habitat Owa , memberikan warna perekonomian di Petungkriyono. Keterlibatan petani-petani sebagai komponen utama rantai pasok kopi ini, membuat Kopi Owa yang saat ini menjadi branding sekaligus gerakan pelestarian Owa, juga terus  berkembang, mengikuti pola pasar dan menambah pengetahuan tentang ceruk-ceruk peluang yang bisa di perbaiki dalam proses produksi sekaligus nilau jual kopi.

Pengolahan tradisional

Pengolahan pasca-panen telah menjadi titik tolak untuk mengangkat nilai kopi di Petungkriyono,  secara umum didominasi oleh dua metode konvensional, yaitu proses alami (natural/dry process) dan proses basah (washed process) . Di pasar global, ada satu lagi metode yang populer yaitu wet hulled/giling basah,  namun sangat jarang dilakukan di prosesor-prosesor di Petungkriyono, ketiga metode ini telah lama menjadi acuan utama bagi sebagian besar petani dalam menjaga standar mutu produk, dengan pertimbangan ketersediaan prasarana, cuaca dan kecepatan perputaran cash di tingkat petani.

Namun, kondisi berbeda ditemukan pada komunitas petani kopi di wilayah Kecamatan Petungkriyono, Lebakbarang, dan Talun, Kabupaten Pekalongan. Di kawasan tersebut, aktivitas pasca-panen masih sangat bergantung pada metode tradisional proses alami/dry process ( petik  kemudian langsung di jemur sampai kering) , dan kami menyebut proses ini giling-alami (kopi di panen kemudian di giling kulitnya kemudian di jemur sampai kering) yang diwariskan secara turun-temurun, dengan tingkat adopsi pengetahuan teknologi pasca-panen yang relatif masih minim.

Seiring dengan melonjaknya perkembangan industri kopi di Indonesia sejak kita mulai proyek kopi dan konservasi di tahun 2012, dinamika pasar mengalami pergeseran yang signifikan. Sejak awal melalui skema Kopi Owa, prosesor atau pengolah kopi dibentuk untuk menampung atau membeli kopi-kopi dari Petani, kemudian di prosesor inilah kopi kemudian di proses sesuai standart baku dan mutu. Kami mengenalkan proses rendam (washed), natural dan honey.  Dalam hal ini kopi owa, mengikuti pasar specialty coffee dan nilai tambah konservasi owa sebagai storry telling narasi konservas Owa Jawa. Dan saat ini dari sisi proses produksi kopi ini ( di level prosessor) pasar ini telah berkembang pesat, menciptakan trend baru yang kadang tidak realistis untuk  dilaksanakan di level petani ataupun prosessor di level petani. 

Para prosessor kopi kini dituntut untuk terus beradaptasi dengan tren pengolahan pasca-panen modern demi memenuhi spesifikasi dan standar kualitas yang diminta oleh pasar nasional maupun internasional. Oleh karena itu, terdapat kesenjangan (gap) yang nyata antara praktik tradisional di Kabupaten Pekalongan dengan tuntutan pasar modern yang berbasis pada standardisasi mutu dan cita rasa.

Pengolahan kopi modern

Dalam industri kopi modern, pasca-panen tidak lagi sekadar proses mengeringkan buah kopi agar tidak busuk. Hari ini, pasca-panen telah bertransformasi menjadi *proses manipulasi rasa (flavor pembuatan) melalui kontrol biokimiawi yang presisi.

Para prosesor kopi modern kini bertindak atau esperimen terkait pasca panen modern , dengan tidak hanya mengandalkan proses alami dari fermentasi,namun juga telah menambahakan mikroba spesifik, pengendalian suhu, keasaman ( ph) dan oksigen, hingga muncul teknik inovatif dalam pasca panen kopi terutama dari petik hingga biji siap roasting,  seperti Anaerobic Fermentation, Carbonic Maceration dan infused fermentation.

Mengapa Tren Ini Penting untuk Prosessor kopi 

Melonjaknya tren ini didorong oleh pasar Specialty Coffee yang berani membayar harga berkali-kali lipat lebih mahal untuk kopi yang memiliki profil rasa unik dan skor uji cita rasa (cupping score) di atas 85 poin. 

Permintaan pasar dunia

Permintaan pasar internasional terhadap kopi yang diproses secara modern (experimental processing) kini berada pada level tertinggi sepanjang sejarah industri kopi specialty. Negara-negara importir besar seperti Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, negara- negara timur tengah serta negara-negara di Eropa Barat tidak lagi sekadar mencari pasokan kopi dalam jumlah besar, melainkan mencari keunikan rasa dan konsistensi mutu yang tinggi.

Para pemangku kepentingan (buyers dan roasters) internasional tidak sekadar membeli produk jadi, mereka membeli cerita di balik prosesnya (storytelling). Petani yang menjual kopi proses modern ke pasar global wajib menyertakan log data yang detail (Suhu tangki saat fermentasi, Nilai keasaman (pH) selama proses pembongkaran gula buah, Durasi penjemuran ) Keterbukaan informasi ini krusial karena para penyangrai (roasters) luar negeri membutuhkan konsistensi rasa yang sama untuk dibeli kembali pada musim panen berikutnya.

kunjungan ke kebun kopi di Puslit Kopi

Perkaya Ilmu Pasca-Panen: Kunjungan ke Jember dan Bondowoso

Oleh karena berdasarkan dinamika kopi Owa, tersebut diatas , Dalam upaya mendongkrak kualitas dan nilai jual kopi lokal, tim Swaraowa menggelar kegiatan studi banding pada 18–21 Juni 2026. Kegiatan ini mengajak para petani dan prosesor kopi dari Kabupaten Pekalongan dan sekitarnya untuk berkunjung ke pusat-pusat riset serta pengolahan kopi modern di Jawa Timur, yaitu di Kabupaten Jember dan Bondowoso. Kegiatan studi banding ini didukung oleh Mandai Nature melalui Proyek Kopi Owa 2025-2028. 

Sebanyak 10 petani terpilih menjadi perwakilan dalam kegiatan ini, yang berasal dari beberapa wilayah:

Kecamatan Petungkriyono: Desa Yosorejo (2 orang), Desa Tlogohendro (2 orang), Desa Tlogopakis (1 orang), dan Desa Kayupuring (2 orang).

Kecamatan Lebakbarang: Desa Mendolo (1 orang).

Kecamatan Talun: 1 orang perwakilan.

Kecamatan Lemahabang: 1 orang perwakilan.

Kunjugan di lab pembuatan pupuk organik di Puslit Kopi dan Kakao

Hari Pertama: Belajar Budidaya hingga Hilirisasi di Puslitkoka Jember

Pada 19 Juni 2026, perjalanan dimulai dengan mendatangi Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) di Kabupaten Jember. Pusat penelelitian ini adalah pusat riset hulu hingga hilir kopi terlengkap di Indonesia. Ini menjadi tempat strategis untuk mempelajari teknik budidaya modern, pengendalian hama, hingga inovasi pengolahan pascapanen berstandar tinggi. Di sini, para peserta dibimbing langsung oleh para narasumber yang kompeten dan spesialis di bidangnya masing-masing.

Materi Kelas & Praktik Kebun: Petani belajar teori perawatan tanaman kopi, mulai dari persiapan tanam, perawatan tahun pertama, hingga tahun-tahun berikutnya. Peserta kemudian diajak langsung ke kebun kopi robusta untuk mempraktikkan pemeliharaan pohon serta teknik pemilihan bibit robusta unggul.

Tur Pasca-Panen & Pengolahan: Selama kurang lebih 2,5 jam, rombongan berkeliling melihat proses penjemuran buah kopi, mengamati alat-alat pasca-panen klasik, hingga mengintip proses penyangraian (roasting) kopi sebelum dikemas untuk didistribusikan ke berbagai jaringan ritel.

melihat proses pasca panen di Farmer Arabica Ijen ,Bondowoso

Pemanfaatan Limbah kopi di Tory Javanese Cafe

Petani kopi juga berkesempatan mengunjungi ketempat Mas Andik Irawan, seorang akademisi sekaligus pemilik Tory Javanese Cafe. Dari Mas Andik, para petani belajar proses pasca-panen modern, salah satunya adalah teknik infusi (infused process) pada kopi robusta. Tidak hanya soal rasa kopi, kunjungan ini membuka wawasan baru tentang konsep zero waste (tanpa limbah). Peserta diajak ke laboratorium untuk melihat pembuatan pupuk organik dari limbah kopi, serta belajar mengolah kulit luar kopi menjadi bubur kertas yang kemudian disulap menjadi produk kerajinan unik bernilai ekonomi seperti tas dan dompet.

Hari Kedua: Mengintip Rahasia Kopi Eksperimental di Bondowoso

Perjalanan berlanjut ke Kabupaten Bondowoso untuk menemui salah satu prosesor kopi ternama di Indonesia, Iyan, pemilik Farmer Arabika Ijen.

Kunjungan ini menjadi pengalaman pertama yang sangat berharga bagi para petani dan prosesor dari Pekalongan. Mereka diperkenalkan secara langsung pada metode pengolahan modern yang sedang menjadi tren global, seperti: Carbonic Maceration (Maserasi Karbonat), Infused Process (Proses Infusi)

 dan Anaerobic Process (Proses Anaerob) Ketiga proses eksperimental tersebut terbukti mampu memanipulasi dan menciptakan profil rasa kopi yang unik, bersih, dan sangat digemari oleh pencinta kopi nasional maupun internasional.

instalasi fermentasi kopi di mas Iyan Arabica coffee farmer-Bondowoso

Pasca-Panen Modern sebagai jalan pilihan untuk menambah nilai Kopi

Studi banding ini membuka mata para peserta mengenai potensi keuntungan ekonomi yang nyata. Pengolahan kopi modern mampu mendongkrak harga jual komoditas secara signifikan dibandingkan dengan proses klasik (tradisional).

Sebagai gambaran perbandingan harga di pasaran:

Proses Klasik/Tradisional: Rp140.000 – Rp150.000 per kg.

Proses Anaerob (Natural/Honey): Mencapai Rp190.000 per kg.

Proses Carbonic Maceration: Bisa menembus harga Rp250.000- Rp450.000 per kg.

Perbedaan harga yang cukup tinggi ini menjadi motivasi dan bahan evaluasi besar bagi para petani dan prosesor kopi  di Pekalongan. Sekembalinya dari Jawa Timur, ilmu-ilmu baru ini diharapkan dapat segera diterapkan secara bertahap demi memajukan industri kopi di desa mereka masing-masing.