Showing posts with label swaraOwa. Show all posts
Showing posts with label swaraOwa. Show all posts

Tuesday, September 22, 2026

Merancang Strategi Konservasi Bilou Mentawai

 


Oleh :  Fatimah Zahratul Jannah

Pada 10 September 2026, Padang menjadi tempat bertemunya para peneliti, akademisi, pengelola kawasan, dan pegiat konservasi untuk membicarakan masa depan salah satu primata endemik Kepulauan Mentawai, owa bilou (Hylobates klossii). Melalui Workshop Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) Owa Bilou Mentawai, berbagai data dan pengetahuan tentang bilou mulai dipertemukan untuk melihat bagaimana populasi dan habitatnya dapat bertahan dalam jangka panjang.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Owa Bilou Mentawai. Workshop didukung oleh Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik, Kementerian Kehutanan, dan dilaksanakan oleh SwaraOwa berkolaborasi dengan Balai Taman Nasional Siberut.

Bilou (Hylobates klosii)

Pembukaan workshop dihadiri oleh perwakilan Balai Taman Nasional Siberut dan BKSDA Sumatera Barat, Ketua SRAK Owa Bilou Erlinda C. Kartika, Ph.D., serta Direktur SwaraOwa Arif Setiawan. Forum juga mempertemukan akademisi, peneliti, lembaga swadaya masyarakat, pengelola kawasan, dan berbagai pihak yang selama ini memiliki data maupun pengalaman terkait bilou.

Materi pertama disampaikan oleh Dr. Suci Atmoko dari Universitas Nasional, mengenai pengantar PVA untuk Bilou Mentawai yang menekankan tujuan dilakukannya PVA ini adalah untuk : adalah sebagai fondasi ilmiah untuk memetakan peluang bertahan hidup populasi Bilou di habitat aslinya serta memprediksi risiko kepunahan.

Selanjutnya, Nur Aoliya dari SwaraOwa memaparkan Populasi Bilou (Hylobates klossii) di Kepulauan Mentawai berdasarkan survey yang telah dilakukan di tahun 2025 dan tahun 2026. Dari survey yang dilakukan oleh tim swaraowa, dengan menggunakan metode fixed point- vocal count, metode titik ini digunakan untuk mendengarkan suara kelompok bilou bersuara, di seluruh lokasi-lokasi yang sebelumnya telah di pelajari berdasarkan informasi tutupan hutan dan informasi dari warga lokal mengenai keberadaan bilou.

Sebelum pengambilan data, tim survey telah mendapatkan pelatihan terlebih dahulu, 2 kali pelatihan dalam waktu total 2 minggu dilaksanakan di awal tahun 2025 dan di bulan ..wilayah di Taman Nasional Siberut, siberut utara. Tujuannya adalah untuk pengenalan metode dan prinsip dasar metode survey Bilou berdasarkan suara. Pengambilan data, dilakukan dengan rincian 23 titik LPS di Siberut ( 9 titik di dalam kawasan TNS dan 14 titik diluar kawasan ), di sipora 2 titik lps, di Pagai Utara dan Pagai Selatan 3 titik LPS. setiap titik di lakukan pengamatan selama 4 hari berturut-turut.

Menurut hasil tersebut , saat ini pulasi Bilou adalah  11,903.13 individu di seluruh Kepulauan Mentawai. Pulau Siberut ada kuranglebih 7,808 individu ( di dalam kawasan Taman Nasional), di Siberut luar Taman Nasional ada setidaknya 2,922 individu, di Pulau sipora, terdapat 229 individu, dan Pagai utara, Pagai Selatan ada setidaknya 943 individu.di seluruh Kepulauan Mentawai. Aoliya menjelaskan bahwa telah terjadi penurunan populasi di Mentawai keseluruhan selama 21 tahun (2005-2026) adalah 42% atau 2.3% per tahun, dg jumlah penurunan tidak seragam di tiap pulau. Estimasi ini dari nilai tengah (midpoint) populasi dari area suitable. Penurunan populasi didapat apabila dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, dengan tanpa mempertimbangkan lokasi LPS dan jumlah sampel lokasi, meskipun survey dilakukan oleh tim swaraOwa lebih banyak dibandingkan survey sebelumnya, di tahun 2025.

Luasan kesesuaian habitat Bilou di Kep Mentawai 

Selanjutnya, Kurnia Latifiana dari SwaraOwa yang menyampaikan Pemetaan Kesesuaian Habitat Bilou (Hylobates klossii) di Kepulauan Mentawai, Indonesia. Kurnia menekankan bahwa pemetaan kesesuaian habitat bilou adalah sangat penting karena sebagai peta dasar untuk konservasi species dalam skala landskap, memahami lokasi prioritas dan rencana konservasi. Kurnia menggunakan pendekatan pemodelan Maximum entropi dan Random forest berdasar lebih dari 300 titik perjumpaan bilou. Luasan habitat yang sesuai berada di siberut, hasil analisis mengenai luasan tutupan hutan dan habitat yang sesuai untuk Bilou, disajijan di bawah ini, dan analisis ini juga menjadi dasar untuk estimasi populasi yang dilakukan oleh tim swaraOwa.

Workshop ini juga menghadirkan, studi kasus dari Orangutan, dan sebagai pembelajaran dari pengalaman sebelumnya, Fajar Saputra dari FORINA berbagi mengenai pembelajaran PVA orangutan. Berbagai materi tersebut kemudian menjadi dasar untuk masuk ke bagian utama workshop, yaitu diskusi mengenai parameter yang perlu dimasukkan dalam PHVA bilou.

Setiap parameter dibahas bersama. Data populasi, reproduksi, mortalitas, habitat, serta berbagai informasi dari penelitian terdahulu ditinjau kembali untuk melihat data apa yang tersedia dan bagaimana data tersebut dapat digunakan dalam pemodelan. Diskusi dilakukan untuk mendapatkan kesepahaman di antara para pihak sebelum parameter dimasukkan ke dalam model. Dari proses tersebut, VORTEX dipilih sebagai perangkat pemodelan PHVA Owa Bilou. Model kemudian mulai dijalankan berdasarkan parameter yang telah dibahas dan disepakati dalam forum. Namun, proses ini masih akan berlanjut. Hasil pemodelan awal akan kembali didiskusikan bersama panelis PHVA untuk mendapatkan masukan dan penyempurnaan.

Bagi SwaraOwa, PHVA bukan hanya tentang menjalankan sebuah model. Lebih dari itu, proses ini menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai pengetahuan yang selama ini tersebar di antara peneliti, akademisi, pengelola kawasan, dan lembaga konservasi. Data lapangan dan pengalaman para pihak menjadi bagian penting untuk memahami kondisi bilou secara lebih utuh. Daftar peserta menunjukkan keterlibatan Universitas Andalas, Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat, FORINA, SINTAS, Yayasan Hutan Harimau, GJI, PRCF Indonesia, Balai TN Siberut, BKSDA Sumatera Barat, dan SwaraOwa.

Hasil dari proses PHVA selanjutnya akan dibawa ke dalam rangkaian workshop SRAK  dan menjadi salah satu bahan dalam penyusunan dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Owa Bilou Mentawai. Dari Padang, langkah untuk memahami dan menjaga bilou terus berlanjut. Karena menjaga bilou bukan hanya tentang mempertahankan satu jenis owa, tetapi juga memastikan hutan Mentawai tetap menjadi rumah bagi mereka, sekarang dan di masa yang akan datang.



Monday, September 14, 2026

Memanen Pembelajaran dari Kunjungan Belajar KWT Brayan Urip

 

masak bersama, dengan bahan pangan dari hutan Mendolo di Pasar Sehat Kepayang Yogyakarta

oleh : Sri Windriyah (Ketua KWT Brayan Urip Desa Mendolo)

Kegiatan Kunjungan Belajar KWT Brayan Urip dilaksanakan selama dua hari, yaitu pada tanggal 29 – 30 Agustus 2026. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menambah wawasan, pengetahuan, keterampilan, serta memperoleh inspirasi dalam pengembangan potensi desa, produk olahan, pengelolaan wisata, dan tata kelola kelembagaan.

Destinasi yang dikunjungi pertama pada hari Sabtu (29/8) adalah Pasar Sehat Kepayang. Lokasinya di Animalika Social Space, Jalan Kaliurang km 9, Sardonoharjo, Ngangklik, Sleman, Yogyakarta. Kegiatan diawali dengan perkenalan kedua komunitas. Selanjutnya kami berbagi pengalaman, khususnya bagaimana memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitar untuk dikembangkan menjadi produk maupun kegiatan yang memiliki nilai manfaat dan nilai ekonomi.

Di pasar sehat, kami mendapatkan berbagai pembelajaran yang bersifat teknis, antara lain: cara memanfaatkan potensi yang tersedia di desa dan lingkungan sekitar sebagai ciri khas desa, dan bagaimana mengenalkan produk yang dikembangkan oleh masing-masing komunitas.

penyambutan di pasar sehat kepayang

Produk yang ada di Pasar Sehat Kepayang sangat beragam, antara lain: kombucha, tepache, es krim sehat, jus aneka sayur, es dawet, dan aneka sayur organik. Sementara itu, kami dari KWT Brayan Urip membawa aneka produk hasil bumi Mendolo, seperti: nasi gadung, tepung gadung, kerupuk gadung rasa udang, brownis gadung, sambel kluwek, dan aneka sayur hutan.

Kami juga mendapatkan ilmu baru lewat pengenalan bahan pengganti bumbu penyedap kimia buatan, alternatif bumbu sehat, obat herbal, dan olahan keripik dari tumbuhan alam sekitar. Kami diperkenalkan dengan beberapa tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan maupun obat herbal, antara lain: tumbuhan walang sangit dan wedusan sebagai alternatif pengganti micin, bunga bakso sebagai pengganti bawang putih, kemadu dan kenikir/cokra-cakri sebagai sayuran dan obat herbal, serta klateng yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan keripik dan obat herbal.

Selain itu, peserta juga mendapatkan pengetahuan baru mengenai cara penyimpanan sayuran, khususnya sayur rebung. Agar tahan lama, rebung bisa disimpan dengan cara difermentasi. Hal ini bisa meningkatkan kualitas dan daya simpan produk.

Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan memasak bersama dan dilanjutkan makan bersama. Kami saling bertukar sajian: peserta dari Mendolo menikmati sajian makanan yang disajikan Komunitas Pasar Sehat Kepayang, di antaranya: nasi sayur brongkos, es dawet, es krim manggga-kweni, tepache, kombucha, dan jus sayur.  Sebaliknya, KWT Brayan Urip Mendolo menghidangkan nasi gadung, sambel cepokak campur klanting, tumis blibar pucung, urap kecombrang campur kremo, botok keji, sambel kluwek, kerupuk gadung udang, dan brownis gadung. 

Setelah kegiatan di hari itu selesai, dilanjutkan dengan penutupan dan foto bersama. Selanjutnya, kami menuju penginapan. Kali ini kami mendapatkan pengalaman menginap di Hotel Java Village Resort. Lokasinya tidak jauh dari Animalika, tepatnya di Jalan Griya Taman Asri, Sleman.

mencicip sajian berbagai jamu produk Kebon Pasinaon,Magelang

Kunjungan hari ke dua (30/8) di Kebon Pasinaon Living Museum yang lokasinya ada di Jl. Wirodigdo Km. 3, Sirahan, Salam, Magelang. Kegiatan diawali dengan perkenalan dan penjelasan mengenai latar belakang serta konsep pembelajaran yang diterapkan di Kebon Pasinaon Living Museum. Kami mendapatkan berbagai pengalaman dan pengetahuan tentang kehidupan masyarakat, pertanian, budaya, dan tradisi masyarakat desa yang bertahan sejak zaman dahulu.

Pengelola memberikan presentasi singkat mengenai latar belakang pendirian dan gambaran kegiatan pembelajaran di Kebon Pasinaon Living Museum. Selanjutnya, kami mengikuti program trip dengan berbagai tema. Kami mulai dengan mengenal tata cara pemilihan lurah pada zaman dulu. Alat-alat yang digunakan untuk pemilihan yaitu menggunakan biting dan juga simbolis dari hasil bumi seperti padi, jagung, dan kelapa.

Kami kemudian diajak mengenal berbagai alat pertanian tradisional. Ada wluku, ani-ani, kepang, tedo, irig, pacul, lesung, dan alu. Mengenal berbagai tradisi pertanian seperti nggaru (membajak sawah menggunakan sapi), gengsot, napeni, tandur, nginter, ngencek, dan nutu. Di sesi ini, kami juga dikenalkan mengenai cara membuat jamur dari limbah janggel jagung.

Kami lalu berjalan berkeliing menuju pos-pos yang disediakan, mengikuti sepuluh tema Kebon, seperti Kebon Tandur, Kebon Empon, Kebon Dolan, Kebon Tonton, hingga Kebon Ciblon. Di pos berikutnya, kami mengenal berbagai empon-empon dan cara membuat jamu tradisional, khususnya jamu beras kencur. 

mencoba permainan tradisional

Selanjutnya, kami mencoba permainan tradisional seperti egrang, congklak, bekel, lompat tali dari karet, jamuran, dan balap perahu. Pos ini berada di Kebon Dolan. 

Karena kental dengan muatan budaya, Kebon Pasinaon menyajikan pengalaman langsung berupa praktik kesenian tradisional berupa tari dan kami pun mengikuti praktik menari. Kami juga mendapat kesempatan untuk menyimak seni geguritan dan puisi karya salah satu tokoh Kebon Pasinaon Living Museum.

Di pos Kebon Pawon, kami memasuki replika pawon tradisional dan mengenal berbagai alat dapur tradisional seperti luweng, dandang, kendi, kuali, teko, ceret, kenceng, centhong, irus, siwur, cething, kalo, parutan, ntik, tedo, irig, cobek, munthu, layah, cangkir, muk, dan masih banyak lagi.

Selanjutnya, kami berjalan menuju bagian belakang kampung untuk mengunjungi tempat mandi masyarakat zaman dulu yaitu belik dan sungai. Kami juga diperkenalkan mata air bertuah yang sumber airnya berasal langsung dari Gunung Merapi. Masyarakat setempat memiliki kepercayaan bahwa air tersebut dapat dimanfaatkan berbagai keperluan dan penyembuhan berbagai macam penyakit. Cara penggunaan air tersebut bisa diminum atau untuk cuci muka.

Di pos terakhir, kami belajar mengenai sejarah Desa Sirahan dengan mengunjungi bekas bangunan rumah tua yang merupakan peninggalan pemerintahan lurah pertama desa tersebut.

Kegiatan ditutup dengan makan bersama, penyampaian pesan dan kesan serta di lanjut foto bersama. Selesai sudah kunjungan kami, lalu rombongan dari Mendolo bersiap untuk perjalanan pulang.

Memanen banyak pembelajaran

Dari kegiatan kunjungan belajar di Pasar Sehat Kepayang, KWT Brayan Urip Mendolo memperoleh banyak ilmu dan inspirasi, khususnya dalam hal pengembangan produk dengan memanfaatkan tumbuhan dan potensi alam sekitar. Kami para peserta mendapatkan pengetahuan mengenai alternatif pengganti bahan penyedap, bumbu, pembuatan minuman, obat herbal tradisional, bahan pangan dari tumbuhan alam sekitar, serta cara penyimpanan sayuran rebung agar lebih tahan lama. Selain pengembangan produk, kami juga mendapatkan wawasan mengenai pengembangan wisata berbasis potensi lokal serta strategi pemasaran produk dan desa wisata.

Sementara itu, dari kunjungan ke Kebon Pasinaon Living Museum, kami mendapatkan pengetahuan mengenai pelestarian budaya, pertanian tradisional, kesenian, makanan dan jamu tradisional, serta pemanfaatan potensi desa sebagai daya tarik wisata. Yang tidak kalah penting, kegiatan tersebut memberikan motivasi dan kepercayaan diri kelompok untuk terus maju. Penjelasan mengenai potensi desa, berbagai kendala yang dihadapi, struktur kelembagaan, serta tata kelola kegiatan juga memberikan gambaran yang sangat bermanfaat bagi KWT Brayan Urip Mendolo. Berbagai potensi dan kegiatan yang telah dikembangkan di Kebon Pasinaon Living Museum ternyata memiliki banyak kesamaan dengan potensi yang ada di desa kami.

Selain manfaat dari kunjungan pada dua destinasi utama, ada juga pembelajaran bagi kami selama di hotel. Kami mendapatkan pengalaman mengenai bagaimana tata cara check-in dan check-out, menggunakan fasilitas yang disediakan hotel berbintang, serta merasakan standar keramah-tamahan dan pelayanan hotel.

Kegiatan kunjungan belajar selama dua hari memberikan pengalaman dan wawasan yang sangat berharga bagi KWT Brayan Urip Mendolo. Kegiatan ini membuka pemikiran bahwa potensi alam, pertanian, budaya dan sumber daya yang ada di desa dapat dikembangkan menjadi produk unggulan maupun daya tarik wisata apabila dikelola dengan baik, kreatif, dan berkelanjutan.

Melalui kunjungan belajar ini, KWT Brayan Urip Mendolo semakin termotivasi untuk melakukan pembenahan tata kelola kelompok, pengembangan produk, pemanfaatan potensi alam sekitar, pelestarian budaya, pengelolaan wisata, dan strategi pemasaran produk.

Ilmu, pengalaman dan inspirasi yang diperoleh selama kunjungan belajar dapat diterapkan dan dikembangkan di desa sendiri, sehingga KWT Brayan Urip Mendolo menjadi kelompok yang semakin aktif, kreatif, mandiri, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Pada akhirnya, kami bisa turut serta dalam mendorong kemajuan desa.


Tuesday, August 25, 2026

Motif Batik “ Wanara": Harmoni Filosofi Sido Luhur, Mitologi, dan Observasi Primata dalam Selembar Kain

 


oleh : Arif Setiawan

Ketika membuat design  motif batik Owa tahun lalu dengan sahabat saya Faiz Alymy sebenarnya muncul pilihan-pilihan untuk mengangkat tema jenis-jenis primata Indonesia. Kombinasi visualisasi alam terutama hutan dan konsep pola motif klasik.

Motif  batik kedua ini, kemudian kami  beri nama “ Wanara”,

Menghidupkan Kembali Monyet Pemakan Daun khas Nusantara

Inspirasi visual karya ini berakar dari karakteristik keanekaragaman hayati Indonesia, khususnya genera Presbytis—kelompok primata pemakan daun (folivore) kalau di jawa tengah ada ( Presbytis fredericae) Rekrekan, di Sumatera ada Simpai( Presbytis melalophos), di Kalimantan ada Kelasi ( Presbytis rubicunda) dan Bekantan ( Nasalis larvatus), , dan masih banyak lagi yang mempunyai karakther yang khas, dan sebaran alaminya mewakili keanekaragaman hayati di bagian barat kepulauan Nusantara Jawa-Kalimantan-Sumatera . Bahkan ada endemik di pulau-pulau kecil seperti di Mentawai ada Simakobu ( Simias concolor) dan Joja ( Presbytis poteziani), Kekah ( Presbytis natunae) di Natuna, (Presbytis siamensis) di Bintan.

Berbeda dengan pendekatan ilustrasi modern yang serba realistis, wujud sang Presbytis digubah ke dalam stilasi seni rupa klasik Solo (Surakarta).Garis-garis lekuk tubuhnya dibuat lincah dan bergelombang, memperlihatkan sifat arboreal mereka yang aktif berpindah di antara kanopi hutan, dan ciri khas morphologinya adalah rambut jambulnya. Isen-isen ( isian dalam )  dedaunan yang membalur anatomi  monyet secara eksplisit menegaskan hubungan simbiotik antara fauna ini dengan alam habitatnya.

Berpijak pada Pakem Sido Luhur

Secara struktur visual, desain ini dibangun di atas fondasi pola Sido Luhur—salah satu motif batik klasik keraton yang sarat makna. Kata sido berarti jadi atau terus-menerus, sementara luhur menyimbolkan keluhuran budi, kemuliaan, serta kehormatan hidup.

Bingkai geometris bersudut belah ketupat yang berpadu dengan ornamen utama di tengah menciptakan keseimbangan ruang yang agung. Garis-garis bergelombang yang membingkai pola ini mempertegas karakteristik estetika klasik Surakarta yang anggun, tertib, dan sarat makna transendental.

Mengapa "Wanara"?

Secara harfiah dalam bahasa Sanskerta, Wanara  merujuk pada ras kera atau monyet karena berekor. Namun dalam semesta Ramayana—wiracarita yang menjadi ruh berbagai pementasan wayang —Wanara melambangkan ketangkasan, kesetiaan, serta kecerdasan alami yang menjaga keseimbangan jagat.

Melalui penamaan ini, batik Motif Wanara hadir bukan sekadar sebagai ornamen fauna, melainkan sebagai bentuk penghormatan pada nilai-nilai kebijaksanaan lokal dan perlindungan alam liar yang berpadu dengan doa keluhuran hidup.

Merayakan Colobine Day 2026

Batik selalu menjadi media tutur yang ampuh. Lewat Batik Motif Wanara, saya berharap Colobine Day 2026 , 25 agustus ini, tidak hanya dirayakan sebagai momentum kepedulian lingkungan global, tetapi juga dirayakan dari dalam akar budaya kita sendiri. Memberi semangat khususnya kepada pegiat konservasi alam untuk melestarikan jenis-jenis monyet asli Indonesia, Bahwa penghormatan terhadap alam, keluhuran budi, dan habitat primata sesungguhnya telah lama terpahat seirama dalam filosofi busana Nusantara.


Monday, August 17, 2026

Konservasi Cawan Madu: Pendekatan Regeneratif untuk Resiliensi Habitat Owa Jawa

 

Interaksi lebah dan bunga kopi meningkatkan peluang terjadinya penyerbukan

Oleh: Sidiq Harjanto

Pada kotak-kotak kayu kecil di sudut kebun petani, lebah-lebah klanceng bekerja dengan tekun. Tidak seperti lebah sengat yang membangun sarang berbentuk segi enam simetris dari lilin murni, lebah nirsengat ini membangun wadah-wadah yang unik. Mereka mengumpulkan resin dari berbagai pepohonan hutan, lalu membentuk cawan-cawan cokelat kehitaman untuk menyimpan cadangan madu maupun polen yang mereka kumpulkan.

Dari cawan-cawan kecil itulah lahir sebuah cerita besar tentang keterhubungan. Setiap tetes madu yang kita minum terkoneksi langsung dengan keanekaragaman flora dan kelestarian hutan. Ketika petani merawat habitat klanceng dan menjaga tutupan pohon, mereka tak cuma mengisi cawan-cawan madu, tetapi sedang mempertahankan jalinan kehidupan.

Berangkat dari pemahaman itu, SwaraOwa memaknai pengembangan ekonomi berbasis hutan bukan sekadar memberikan keterampilan atau mengenalkan teknologi terapan kepada petani melainkan juga menumbuhkan 'ekosistem' yang regeneratif. Di dalamnya perlu ada koherensi antarpihak, kolaborasi, dan inovasi. Pembelajaran ini kami dapatkan dari pengalaman lebih dari delapan tahun introduksi pembudidayaan lebah klanceng di desa habitat Owa Jawa.

Darso dan Suroyo sedang memanen madu menggunakan pompa sedot

Lebah sebagai agen konservasi

Nektar adalah cairan manis yang dihasilkan berbagai jenis tumbuhan. Dengan kekayaan spesies penyusun vegetasi hutan, nektar dihasilkan dalam jumlah besar. Kita susah mengestimasinya karena sifatnya yang tersebar. Meskipun tersedia dalam jumlah melimpah, nektar tidak bernilai ekonomi. Namun, keajaiban terjadi ketika lebah telah mengubahnya menjadi madu, ia menjelma komoditas bernilai tinggi dan telah diperdagangkan selama ribuan tahun.

Lebah mengambil nektar dan serbuk sari dari tumbuhan sebagai sumber energi dan protein. Bagi mereka, itu adalah mekanisme mempertahankan eksistensi spesies. Akan tetapi, dilihat dari sudut pandang berbeda, kerja lebah juga meningkatkan kemungkinan keberlanjutan berbagai spesies lain. Interaksi antara lebah dengan bunga dapat berkontribusi meningkatkan keberhasilan penyerbukan, yang kemudian memicu pembuahan dan menghasilkan biji sebagai bakal generasi baru spesies tumbuhan yang didatanginya.

Regenerasi tumbuh-tumbuhan penyusun hutan adalah salah satu fondasi regenerasi hutan itu sendiri. Dengan hutan yang terus tumbuh, aneka spesies yang bergantung kepadanya otomatis juga lestari.

Logika ini yang kami pakai saat pertama kali belajar bersama mengenai pembudidayaan lebah bersama masyarakat di desa-desa sekitar habitat Owa Jawa. Konservasi spesies primata endemik dan terancam punah ini tidak hanya ditempuh dengan jalan linear seperti perlindungan dari perburuan, tetapi juga melalui jaring-jaring kompleksitas hutan itu sendiri.

Jika regenerasi hutan sebagai habitat Owa Jawa adalah isu jangka panjang, ketersediaan pakan baginya bisa diamati dalam skala waktu yang lebih singkat. Kelompok kera kecil ini merupakan satwa pemakan buah. Di sisi lain, lebah merupakan kelompok serangga penyerbuk dominan di hutan-hutan tropis. Di titik inilah kita menemukan korelasi beberapa aspek yang bertautan. Jejak jasa lebah mungkin terekam pada sebagian pakan yang menopang kehidupan Owa.

Melalui budidaya lebah, konservasi Owa Jawa tidak hanya berlangsung di dalam hutan, tetapi juga diperluas ke lanskap sosial-ekologis yang mengelilinginya. Cawan madu menjadi titik masuk untuk memulainya, dengan argumen dasar: nilai ekonomi diperoleh bukan dengan menghabiskan sumber daya, tetapi dengan mempertahankan kemampuan lanskap untuk terus menghasilkan manfaat.


Dengan hati-hati, Yukni mengangkat brood cells - tempat untuk menetaskan telur dan larva lebah
 
untuk dibagi menjadi dua bagian


Posisi lebah dalam kompleksitas sistem sosial-ekologi

Menggunakan paradigma sistemik, kita menyadari bahwa hutan bukanlah entitas yang terisolir. Ekosistem hutan tropis secara tidak langsung dipengaruhi oleh bagaimana dinamika global berjalan. Dalam skala yang lebih kecil, dinamika ekosistem hutan berhubungan dengan bagaimana masyarakat di sekitarnya mendapatkan manfaat langsung. Cerita para petani hutan di Dusun Sawahan, Desa Mendolo, bisa memberikan gambaran yang mempermudah kita memahaminya.

Sebagai petani, Rohim (41) menggantungkan ekonomi dari tiga komoditas utama, meliputi durian, kopi, dan madu. Di luar itu, ada sumbangan dalam porsi yang lebih kecil dari kapulaga, jengkol, dan biji kepayang. Berangkat sebagai pemanen madu hutan (Apis dorsata), lima tahun terakhir ia membudidaya klanceng dari jenis Heterotrigona itama. Kini, mayoritas madu yang dijualnya berasal dari kotak-kotak budidaya di kebun, sementara sebagian kecil lainnya dari panen alam. Madu telah menyumbang sekitar 20% pemasukannya.

Bagi para pembudidaya klanceng di Sawahan, madu menjadi bantalan yang cukup kuat dalam hal ekonomi. Jika dihitung dari hasil panenan maupun potensi nilai ekonomi, madu relatif lebih stabil ketimbang komoditas lain. Bandingkan dengan kopi yang disparitas hasil panennya menunjukkan kontras yang lebar, angka tertinggi pada musim raya mencapai sekira tiga kali lipat dibandingkan angka terendah pada musim paceklik seperti sekarang ini.

Pada durian, kontras itu bisa jauh lebih besar lagi. Meskipun tertolong dengan harga pasar, namun tampaknya durian memiliki ambang optimal tertentu. Ketika panen raya, pasar bisa mencapai titik jenuh sehingga pengepul lokal kesulitan memasarkan lebih banyak durian yang disetor petani. Akibatnya, harga langsung jatuh.

Kombinasi beberapa sumber pendapatan seperti yang dimiliki Rohim dan banyak petani di desanya merupakan strategi untuk menjaga daya tahan menghadapi ketidakpastian pasar. Melalui agroforestri, petani bisa memperoleh pendapatan dari sumber yang beragam. Agroforestri adalah mengombinasi berbagai spesies tanaman pada satu lahan. Dalam satu kebun, kita bisa menemukan durian, kopi, kapulaga, pisang, dan berbagai tanaman pangan. Tak hanya tanaman budidaya, spesies liar masih diberi ruang untuk tumbuh.

praktik pemecahan koloni dengan warga Sawahan ( 8 agustus 2026)

Praktik ini tidak hanya menjaga resiliensi ekonomi bagi petani, tetapi juga memberi berbagai keuntungan lain.

Alih-alih menjual semua madu hasil panen, Rohim selalu menyisihkan setidaknya satu liter madu klanceng untuk mencukupi kebutuhan keluarga setiap bulannya. Baginya dan banyak keluarga pembudidaya lebah di dusun Sawahan, madu adalah suplemen kesehatan yang murah meriah, diramu oleh proses alami di hutan yang melingkupi desa. Pada cawan-cawan kecil di dalam kotak lebah klanceng itulah, para petani bisa mengaksesnya.

Demikian pula yang dilakukan Darso (34). Pekerjaan di kebun dan hutan membuatnya butuh stamina prima. Menurutnya, mengonsumsi madu secara rutin menjaga tubuh tetap bugar. Bagi masyarakat sekitar hutan, kebugaran adalah salah satu aset ekonomi. Ketika masyarakat merasakan langsung bahwa madu dari hutan yang terjaga menjadi "suplemen alami" dan benteng imunitas keluarga, itu memberi peluang terciptanya sistem umpan balik.

Madu sebagai komoditas ekonomi, maupun madu sebagai suplemen kesehatan bisa dimaknai sebagai bentuk-bentuk insentif yang diberikan hutan kepada masyarakat. Namun, insentif hanya bisa dipertahankan melalui resiprositas. Artinya, jika para petani ingin mendapatkan manfaat yang terus-menerus, mereka perlu secara sadar memelihara keutuhan hutan agar fungsi itu terus berjalan.

hasil pemecahan koloni

Merawat 'ekosistem' budidaya lebah

Inisiasi budidaya lebah klanceng yang kami jalankan berawal dari penyelamatan koloni liar yang dipanen dari alam. Semula, para pemanen madu sekadar mengambil madu dari sarang di pohon dan meninggalkan begitu saja koloni lebah dalam keadaan rusak. Pada akhirnya, jarang koloni yang selamat. Praktik semacam itu dikhawatirkan bisa mengancam populasi lebah liar di hutan.

Para pemanen madu lalu belajar memindahkan sarang klanceng ke dalam kotak budidaya untuk dipelihara. Tidak mudah untuk melakukan itu. Permasalahannya bukan pada hal teknis, melainkan pada aspek psikologis. Seorang pemanen madu alam biasa pergi ke hutan lalu membawa pulang hasil panen pada hari itu juga. Sementara itu, seorang pembudidaya perlu menghadapi delayed gratification. Memulai budidaya hari ini berarti baru bisa memanen beberapa bulan lagi.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, mereka pada akhirnya berhasil melewati titik kritis itu. Di Sawahan sendiri, sudah lebih dari sepuluh orang pembudidaya klanceng yang kini memetik manfaat nyata. Mereka bisa rutin memanen madu setiap bulan, mulai Juni hingga menjelang puncak musim hujan di bulan Desember.

Perkembangan ini membawa beberapa implikasi menarik, termasuk dalam hal bagaimana mendapatkan koloni untuk dipelihara. Suroyo (35), seorang petani lain yang baru dua tahun terakhir menekuni klanceng, menuturkan bahwa ia mendapatkan koloni dengan cara memasang kotak jebak. Dibandingkan rekan-rekan sesama pembudidaya, tingkat keberhasilan yang didapatnya jauh lebih tinggi. Didukung pengalaman panjang dengan lebah madu lokal (Apis cerana), ia memahami bagaimana menentukan lokasi pemasangan yang ideal.

Banyak warga ingin memulai budidaya, tetapi kesulitan mendapatkan koloni lebah adalah tantangan tersendiri. Keahlian yang dimiliki Suroyo sangat berharga untuk menjawabnya. Hanya saja, seringkali keahlian semacam ini sulit ditularkan karena variabelnya kompleks dan kalkulasi terjadi secara intuitif. Padahal, teknik jebak merupakan metode yang lestari karena tidak perlu membongkar sarang koloni liar yang risiko kegagalannya lebih tinggi sehingga berpotensi mengganggu keberlanjutan populasi di alam.

Menjawab tantangan kebutuhan koloni budidaya, awal Agustus ini kami mengadakan workshop. Berbeda dari workshop pada umumnya, tidak ada status narasumber ataupun peserta karena semua mengambil posisi setara—punya kesempatan yang sama dalam berbagi pengalaman masing-masing. Kegiatan ini hendak meningkatkan keterampilan para pembudidaya dalam metode pemecahan koloni (colony splitting). Pemecahan koloni adalah proses membagi satu koloni lebah klanceng yang sudah kuat menjadi dua atau lebih koloni baru. Ini merupakan alternatif di saat metode jebak belum efektif.

Yukni Buhan (32) tampak sangat telaten mengamati sarang yang sudah terbuka. Menurut pengalamannya, tingkat keberhasilan pemecahan koloni terletak pada pengamanan ratu dan pupa ratu. Pada teknik splitting manual, prinsipnya adalah: satu koloni dipertahankan dengan ratu aktif, sedangkan koloni pecahan diberikan pupa ratu sebagai calon ratu baru. Jika pemecahan koloni dilakukan dengan grasa-grusu, seringkali ratu hilang atau terluka sementara sel calon ratu (queen cell) yang rawan pecah menjadi rusak.

Sebagai pembudidaya yang paling berpengalaman dalam teknik pemecahan, Yukni memandu proses ini sembari membagi banyak tips untuk meningkatkan keberhasilan. Metode ini membutuhkan kesabaran tingkat tinggi agar jangan sampai melukai lebah-lebah atau merusak kumpulan telur – pupa – larva (brood cell). Ia juga mewanti-wanti untuk secara rutin memeriksa perkembangan koloni pasca-pemecahan agar terhindar dari binatang pengganggu seperti semut.

Praktik pemecahan koloni kali ini berjalan lancar, meskipun keberhasilannya baru bisa dilihat beberapa minggu ke depan. Namun, pertemuan ini bukan sekadar meningkatkan pengalaman teknis melainkan sebentuk upaya merawat ‘ekosistem’ budidaya lebah yang telah dibangun para praktisinya. Ekosistem yang dimaksud adalah interaksi antar-aktor yang membentuk jaring-jaring kerja sama dalam skema pengembangan budidaya klanceng.

Melalui praktik bersama, keahlian dan keterampilan tidak lagi bersifat eksklusif. Dalam hal ini, karakter regeneratif itu kembali dimunculkan pada konteks lain, yaitu ekosistem pengetahuan. Dalam momen yang terbilang singkat, pembicaraan tidak berhenti pada bagaimana memperbanyak koloni, tetapi berkembang ke berbagai hal termasuk bagaimana meningkatkan ketersediaan pakan alami lebah, perkembangan alat penyedot madu, hingga pengalaman-pengalaman sederhana namun tetap berguna.

Bertambahnya koloni bisa berimplikasi pada kemungkinan peningkatan hasil panen yang artinya perlu memikirkan akses pasar yang lebih luas. Hal itu mungkin bisa dipecahkan bersama melalui perjumpaan-perjumpaan semacam ini. Membangun ekosistem ekonomi-ekologi berkelanjutan membutuhkan kolaborasi, alih-alih kompetisi.

Cawan madu bukan sekadar tempat di mana para pembudidaya mengarahkan ujung selang mesin sedotnya—mengumpulkan tetes demi tetes cairan manis yang membawa manisnya ekonomi lestari. Karena di dalamnya, simpul keterhubungan itu terlihat: Owa Jawa – hutan – pohon – lebah – manusia. Pendekatan regeneratif bukan sekadar tentang membiarkan hutan bertahan, melainkan tentang mendesain interaksi manusia di dalamnya menjadi tindakan memulihkan dan menjaga resiliensi. Hutan yang regeneratif adalah hutan di mana keberadaan manusia tidak dianggap sebagai beban ekologis, melainkan sebagai pemelihara.

Monday, August 10, 2026

Sensasi seru fish watching di Kali Wisnu

mengamati ikan di Kali Wisnu

Oleh : Imam Taufiqurrahman

Ada pemandangan tak biasa di Kedung Kali Bengang, Kali Wisnu, pada 23-24 Mei 2026. Sekelompok pemuda dan anak-anak Dusun Sawahan, Desa Mendolo, memenuhi area kedung. Sebagian yang berkacamata selam dan snorkel, tampak membenamkan diri di beningnya aliran sungai. Mereka tengah asyik mencoba ber-fish watching.

Segerombolan ragalan menjadi incaran mereka. Sang penghuni kedung berukuran sedang hingga besar itu berenang dengan lincah di beningnya air, terus menghindar dari anak-anak yang coba menghampiri.

“Jangan dikejar, biarkan,” cegah Pak Irwanjasmoro, narasumber sekaligus instruktur kegiatan. “Ditunggu saja,” lanjutnya, “biar ikannya datang sendiri.”

Sebegitu antusias anak-anak itu berkecipakan mencoba mendekati. Lantas, tersadar kalau mengejarnya percuma.

Mereka terlalu bersemangat. Pun, saking belum terbiasanya ber-fish watching. Baru pertama mereka mencoba melakukan pengamatan ikan dari bawah sungai. Naluri yang timbul jadinya mengejar, seperti ingin menangkap. Padahal, justru dengan berdiam, ikan-ikan akan menghampiri.

Layaknya snorkeling di perairan laut, fish watching di sungai rupanya tak kalah seru. Dan kita sama tau, sekadar berenang atau bermain air saja sudah cukup menyenangkan.

Sementara, fish watching lebih lagi dalam menyuguhkan sensasi yang berbeda. Membenamkan wajah, lalu bernapas dengan snorkel dan mendengarkan hembusan napas yang berderu telah cukup jadi pengalaman baru yang unik.

Belum lagi dari yang biasanya melihat ikan sebatas dari atas permukaan sungai. Lazimnya, ragalan atau Tor tambra hanya dilihat dari jalan atau jembatan, menyambut siapa pun yang hendak masuk ke Dusun Sawahan. Fish watching memungkinkan kita berenang bersama mereka, mengikuti pergerakannya di kedalaman air, sesekali mendapati mereka sejajar pandang mata.

peserta pengamatan ikan anak-anak remaja dan dewasa

Seiring waktu, anak-anak pun terlihat lebih tenang. Mereka rela bergantian menggunakan snorkel, antre dengan sabar di pinggir sungai. Ada yang hanya memperhatikan, ada pula yang ikut turun mencarikan ikan untuk temannya.

Aliran sungai terasa sangat sejuk. Bagi yang tak terbiasa, mungkin akan cepat merasa kedinginan. Namun, anak-anak itu terlihat biasa saja. Mereka menyebar mencari titik pengamatan masing-masing.  

Para pemuda yang telah mendapat pembekalan dan mencoba ber-fish watching di hari pertama, terus mendampingi dan ikut membimbing adik-adik mereka itu, 17 anak usia SD-SMP. Mulai dari membantu anak-anak cara mengenakan snorkel, menemani mencari ikan, sembari mengawasi yang lain.

Anak-anak dipandu menggunakan kacamata selam dan snorkel

Semakin lama, mereka semakin terlihat menikmati. Berbagai gaya ditunjukkan: tengkurap di atas bebatuan, berjongkok di kedalaman air atau berjalan merunduk. Memasuki kemarau seperti sekarang, kedalaman dan arus Kali Wisnu memang terbilang aman dan ideal. Alirannya dangkal dan tak seberapa dalam, berkecepatan arus sedang.

Sedikit ke hilir, di pinggiran sungai yang penuh bebatuan dan kolam dangkal, Pak Irwan mendapati ikan lain.

“Ini, ada sili,” ujarnya.

Ikan pipih panjang mirip belut itu bersembunyi di bawah bebatuan. Kepalanya menyembul, memperlihatkan mulutnya yang bermoncong. Sementara bagian belakang hingga ekornya menjuntai di bebatuan dasar sungai. Bila tak jeli, ikan dengan corak unik bernama ilmiah Macrognathus maculatus itu tak akan terlihat.

Sili yang teramati bersembunyi di bebatuan

Biasanya, sili mendiami kedung beraliran deras yang permukaannya tertutup riak dan buih air. Kalau tidak tertangkap pancing, sulit sekali ditemukan. Beruntung kali ini ia berdiam di bebatuan dangkal.

Tak seberapa jauh, giliran bokol yang terlihat. Jenis umum di Kali Wisnu dan di perairan air tawar Jawa itu berenang di sekitar tepian sungai. Nama ilmiahnya Barbodes binotatus. Adapula lunjar, sejenis wader dengan garis sisi biru. Menurut Pak Irwan, jenis dalam genus Rasbora sp ini masih memerlukan studi mendalam karena kemiripannya satu sama lain.

Riki, yang sedari tadi mengamati di area bawah jembatan, muncul ke permukaan.

“Ada kékél,” sebutnya.

Beberapa anak-anak lantas menghampiri bebatuan yang Riki tunjuk. Segera mereka membenamkan diri, mencari si endemik Jawa yang sepintas menyerupai lele itu. Bedanya, ikan bernama ilmiah Glypthotorax platypogon tersebut memiliki organ perekat di dada yang membuatnya mampu menempel di bebatuan dalam aliran arus deras.

Fish watching sebagai ekowisata

Tanpa terasa, telah hampir dua jam anak-anak berendam di sungai. Meski tampak tak puas, kegiatan harus dihentikan. Empat dari tujuh jenis ikan di Kali Wisnu berhasil teramati. Kalau mau lebih gigih, mungkin akan bisa menjumpai jenis lain, macam uceng.

Memang, aktivitas fish watching yang dilakukan di perairan tawar semacam ini jauh dari populer, bahkan mungkin nyaris tidak dikenal. Berbeda dengan aktivitas serupa di bawah laut, sampai-sampai sebutan snorkeling seakan identik dengannya.

Namun, mengamati ikan air tawar di habitat alaminya dapat dikemas untuk rekreasi, bahkan ekowisata. Sebuah cara yang berbeda dalam upaya mengenalkan keragaman jenis ikan lokal, sekaligus mengajak orang untuk lebih peduli terhadap kelestarian sungai dan jenis ikan yang hidup di dalamnya.

Fish watching menjadi bentuk pemanfaatan lebih jauh dari melindungi dan melestarikan ikan perairan tawar. Kegiatan di Kali Wisnu ini terwacanakan dalam sarasehan dan workshop sungai di Dusun Sawahan pada 2025 silam. Pak Irwan yang hadir kala itu, memperkenalkan aktivitas yang pernah diujicobakannya di Yogyakarta.

Diskusi dan sharing bersama para pemuda sebelum aktivitas fish watching pertama, 23 Mei 2026

Mengembangkan fish watching sebagai ekowisata sangat mungkin dilakukan di Kali Wisnu. Masyarakat Dusun Sawahan telah lama meninggalkan praktik-praktik tak lestari dalam pemanfaatan sungai dan ikan. Dulu, saat kemarau adalah waktu terbaik bagi masyarakat Dusun Sawahan melakukan ‘tradisi’ meracun, alias ngobat. Kemarau kini, fish watching yang dilakukan. Kedung Kali Bengang telah menjadi suaka bagi ragalan dan ikan lain. Sebuah lubuk larangan yang patut dikembangkan ke depannya. Ragalan yang hadir kembali itu menjadi bukti keberhasilan upaya perlindungan bertahun, yang telah tertuang dalam kesepakatan bersama. Perencanaan yang matang memang sangat diperlukan dan harus menjadi perhatian utama dalam mengembangkan ekowisata minat khusus fish watching.

Hulu terlihat mendung. Beberapa pemuda yang bertugas mengawasi aktivitas di sungai memberi peringatan agar aktivitas di sungai berhenti. Dan benar saja, tak seberapa lama hujan pun turun.

Anak-anak pulang berganti pakaian. Mereka kembali berkumpul untuk mendiskusikan hasil kegiatan sembari menyantap makan siang. Tahapan awal dalam memperkenalkan fish watching pada pemuda dan anak-anak Dusun Sawahan telah selesai. Dan mereka bersepakat untuk melakukan fish watching­ lagi di lain waktu. Anda tertarik ikut mencoba?

Thursday, July 23, 2026

Monitoring Satwaliar: Memperkuat akar konservasi dan apresiasi keanekargaman hayati

 Oleh : Kurnia Ahmaddin

bayi owa teramati di Mendolo

Kegiatan monitoring satwa liar pada periode Januari- Juni 2026 belum terdapat banyak perubahan metode dengan monitoring pada tahun lalu. Kami masih melakukan monitoring dan patroli primata yang dilakukan oleh warga lokal di Desa Mendolo, Kayupuring dan Pacet. Hanya saja pada tahun ini kami mendorong mereka untuk bergerak mandiri selama pengambilan data lapangan setelah pada tahun lalu kami masih banyak mendampingi masyarakat untuk mengambil data catatan perjumpaan.  

Hasil catatan pengamatan selama total 96 hari pengamatan di 3 desa tersebut sejauh ini terdapat 197 bar data pengamatan primata Jawa.  Dengan catatan perjumpaan dengan Owa jawa sebanyak 43 titik, Kukang jawa 10 titik, Lutung jawa 92 titik, Monyet ekor-panjang 32 titik dan 20 laporan perjumpaan dengan Rekrekan. Di Mendolo kami menemukan 2 catatan penambahan individu baru yaitu kelompok Owa kupel dan kelompok Owa perliman. Namun demikian pada bulan Mei, kelompok Owa kupel sudah tidak membawa anak lagi. Sehingga jumlah individu pada kedua kelompok tersebut saat ini sama-sama 5. Pohon pakan sejauh ini kami berjumpa dengan 32 catatan pohon pakan namun hanya 27 yang dapat kami identifikasi. 

Catatan penting lainnya dari pemantauan berbasis komunitas kami adalah dokumentasi seekor Binturong, Beruang Kucing (Arctictis binturong), penampakan yang sangat langka hanya pada musim berbuah tertentu. Binturong, dalam bahasa inggris  bearcat merupakan anggota keluarga Viverridae (musang) terbesar. Dengan tubuh bongsor berbulu hitam lebat mirip beruang, wajah yang sekilas seperti kucing, dan ekor panjang yang kuat, binturong adalah potret nyata dari keunikan evolusi alam. Namun, di balik semua keunikan fisiknya, keberadaan satwa arboreal ini sering kali luput dari pandangan kita yang hidup terpisah dari batas hutan. Di sinilah peran krusial dari aktivitas monitoring (pemantauan) keanekaragaman hayati secara berkala. Menariknya, garda terdepan dari kegiatan pemantauan ini bukan lagi sekadar peneliti dari luar, melainkan warga lokal yang tinggal di sekitar hutan. Binturong adalah mamalia yang dilindungi oleh hukum Indonesia dan hewan ini.

Memantau keberadaan binturong di alam liar bukanlah perkara mudah. Sifatnya yang nokturnal dan lebih banyak menghabiskan waktu di pucuk-pucuk pohon membuat perjumpaan langsung menjadi momen yang sangat langka. Melalui pemasangan camera trap (kamera jebak) atau survei jalur hutan yang konsisten, para warga sekitar hutan kini aktif mengumpulkan data esensial: kapan mereka aktif, pohon apa yang menjadi sumber pakan favorit mereka, hingga bagaimana peta sebaran mereka. 

Binturong ( Arctictis binturong) 
Keistimewaan Binturong

Yang istimewa dari binturong ini, biasanya mengeluarkan bau seperti jagung bakar, sebagai teritorial scent atau tanda, bau ini dihasilkan dari kelenjar dibawah ekornya. Binturong mempunyai ekor yang bisa mencengkeram seperti tangan ( prehensil) yang berfungsi membantu bergerak di pucuk kanopi pohon untuk menggapai buah. Binturong berperan sama seperti owa, sebagai petani hutan, menyebarkan biji biji pohon dari buah yang di makannya. Dan yang unik lagi, binturong betina memiliki organ sperti penis ( pseudo penis) yang merupakan salah satu bukti evolusi alam,  dimana hormon testosteron sangat kuat sampai mempengaruhi bentuk fisik betina yang berfungsi untuk bertahan di alam, atau habitat yang susah  hal ini diistilahkan sebagai  maskulinitas anatomi.

Mengapa Harus Melibatkan Warga Terdekat dengan Hutan?

Melibatkan masyarakat lokal dalam monitoring satwa liar bukan sekadar urusan efisiensi logistik lapangan. Ini adalah langkah strategis yang menyentuh akar konservasi itu sendiri. Warga sekitar adalah orang-orang yang berinteraksi langsung dengan hutan setiap hari. Merekalah yang paling pertama mengetahui jika ada perubahan di dalam hutan, dan mereka pula yang akan menerima dampak langsung jika ekosistem tersebut rusak.

Ketika warga lokal dilatih dan dilibatkan secara aktif dalam monitoring, sains tidak lagi menjadi menara gading yang jauh dari realitas. Sains dan konservasi bertransformasi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.

Monitoring keanekaragaman hayati memiliki esensi yang jauh lebih dalam daripada sekadar mengoleksi barisan angka statistik atau dokumentasi digital. Tujuan utama dari monitoring ini adalah untuk memperkuat apresiasi kita terhadap keanekaragaman hayati itu sendiri. Bagaimana mungkin kita bisa mengapresiasi, mencintai, dan tergerak untuk melindungi sesuatu yang keberadaannya bahkan tidak kita ketahui?


Thursday, July 16, 2026

Rahasia di Balik Racun Gadung dan Pucung: Tanaman Hutan yang Menghidupi Warga Sekitar Hutan dan Menjaga Habitat Owa Jawa

 

Owa Jawa ( Hylobates moloch) menggunakan cabang pohon pucung sebagai perlintasan (Dok Alex Rifa'i)

Oleh : Sidiq Harjanto

Dua spesies tumbuhan hutan ini turut menjaga kelestarian Owa Jawa. Mereka tidak melakukan pemantauan populasi atau patroli pengamanan hutan seperti yang biasa kita lakukan. Namun, keduanya membentuk rangkaian hubungan antara manusia, pengetahuan, hutan, air, dan ekonomi yang membuat konservasi bisa berjalan dengan sendirinya. Dalam ilmu konservasi, hubungan seperti ini dikenal sebagai social-ecological system (SES). Ini adalah kisah umbi gadung dan biji pucung. 

Umbi gadung sekepalan tangan atau beberapa biji pucung bisa membawa akibat fatal jika dikonsumsi tanpa pengolahan. Keduanya sama-sama mengandung racun dosis tinggi. Namun, di tangan masyarakat Sawahan, racun bisa dijinakkan dan diubah menjadi pangan yang lezat dan terus mewarnai dinamika desa dari masa ke masa. 

Sawahan adalah dusun kecil di tepian habitat lima jenis primata Jawa, berada dalam wilayah administratif Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang. Di dusun ini, pangan lokal dan pengetahuan mengolahnya masih terus dirawat hingga sekarang, menjadi bagian integral dari relasi manusia dengan hutan. Ada lebih dari 80 jenis tumbuhan dan jamur liar yang bisa dikonsumsi. Empat tahun terakhir, agenda Pekan Pangan Mendolo rutin digelar, menjadi medium perayaan kedaulatan pangan dan bentuk upaya merawat kepedulian masyarakat terhadap isu pangan dan konservasi alam secara lebih luas.

Produk olahan gadung dan pucung produksi KWT di Sawahan
Pangan lokal dalam pusaran sejarah desa

Gadung adalah jenis umbi khas tropis dengan nama latin Dioscorea hispida. Umbi ini mengandung dioscorin dan sianida yang sangat beracun sehingga berbahaya jika dikonsumsi tanpa melalui proses pengolahan. Pucung atau kepayang adalah jenis pohon hutan yang biasanya tumbuh subur di area sempadan sungai. Memiliki nama latin Pangium edule, kadar racun tertinggi ada pada bijinya. Mengonsumsi biji yang tidak diolah dengan benar bisa menimbulkan efek memabukkan. Dari sanalah istilah “mabuk kepayang” lahir.

Kecerdasan para leluhur kita telah menemukan metode pengolahan yang membuat kedua tumbuhan beracun bisa diubah menjadi bahan pangan yang lezat. Gadung menjadi alternatif sumber karbohidrat ataupun sebagai bahan pangan tambahan seperti keripik. Sedangkan biji pucung diolah menjadi aneka bahan pangan, salah satunya kluwek, bumbu penyedap utama pada makanan legendaris seperti brongkos dan rawon. Di Pekalongan sendiri, ada sup tradisional khas yang menggunakan kluwek sebagai bahan utama kuahnya, dikenal sebagai pindang tetel.

Mengapa masyarakat Sawahan mengolah tumbuhan beracun menjadi bahan pangan? Jawabannya tidak berhenti pada kecerdasan dan keterampilan para leluhur–justru di sinilah terletak keunikannya. Situasi ini membutuhkan interaksi banyak aspek yang saling berkelindan: pengetahuan tradisional turun-temurun, daya dukung lingkungan, hingga insentif yang diberikan oleh sistem ekonomi.

Tidak ada dokumentasi komprehensif bagaimana masyarakat Sawahan memperoleh pengetahuan pengolahan bahan-bahan pangan beracun tersebut. Pengolahan gadung paling jauh bisa ditarik sekitar lima puluh tahun lalu, saat warga dusun ini meniru metode pengolahan gadung menjadi keripik dari warga desa lain. Namun, pengolahan yang lebih sederhana seperti peretan–sejenis nasi dari umbi yang dicacah–telah umum dilakukan sebelumnya. Untuk pengolahan pucung, informasinya malah lebih terbatas. Meskipun demikian, bisa dipastikan tradisinya tidak kalah tua.

Uji coba ekstraksi minyak kepayang

Pengetahuan dan keterampilan saja tidak cukup untuk membuat tradisi ini lestari. Ada faktor daya dukung lingkungan. Alam di Sawahan menyediakan habitat ideal bagi kedua spesies tumbuhan liar itu. Gadung tumbuh subur pada area hutan dengan tanah gembur dan kaya material organik. Pohon-pohon tinggi menyediakan media tumbuh. Dengan batang berdurinya, ia merambat melingkari pohon-pohon raksasa hingga bagian atas untuk mendapatkan paparan cahaya matahari. Putarannya selalu searah jarum jam. 

Wilayah di sekitar kampung dilalui sungai-sungai dengan area sempadan yang lembab, ideal sebagai tempat tumbuh pohon-pohon pucung. Spesies ini paling sering dijumpai pada habitat dataran rendah yang relatif basah, dan pohonnya dipercaya sebagai penjaga mata air. Di Sawahan, pohon pucung raksasa hampir selalu dijumpai di sekitar mata air. Monitoring satwa liar yang dilakukan Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo memberikan informasi empiris yang menarik mengenai peran pohon pucung bagi satwa liar, antara lain daun muda yang dimakan monyet rek-rekan, dan cabang-cabangnya yang memberi fungsi perlintasan bagi owa jawa (Alex Rifa’i, kom.pri.)

Kondisi lingkungan tidak hanya mendukung pertumbuhan spesies, tetapi juga menyediakan “fasilitas produksi” gratis bagi petani. Sungai mengalir sepanjang tahun, menyediakan air sebagai elemen penting dalam penetralan racun, baik pada gadung ataupun pucung. Proses ini membutuhkan perendaman dan pencucian menggunakan air mengalir selama beberapa hari. Tanpa sumber daya air yang melimpah, pemrosesan menjadi tidak efisien. Namun, di sisi lain tanpa merawat hutan–termasuk pohon-pohon pucung–air bisa surut hingga titik kritis. Inilah contoh nyata umpan balik sistemik menggunakan cara pandang SES.

Akses pangan lokal mewakili kepentingan kaum perempuan terhadap hutan

Faktor lain yang penting dalam lestarinya pengolahan pangan lokal adalah adanya insentif ekonomi. Meskipun pemanfaatan secara subsisten juga terus dilakukan, pertimbangan ekonomi kemungkinan besar memiliki porsi tersendiri terutama ketika ketersediaan bahan melimpah. Gadung telah lama diperdagangkan dalam bentuk keripik. Pembelinya sebagian besar adalah tetangga sendiri, membentuk ekonomi mikro yang stabil dan berkelanjutan di lingkup dusun sendiri. 

Menurut cerita sesepuh, dahulu pucung lebih banyak diperdagangkan dalam bentuk blibar–daging biji (endosperma) yang telah dihilangkan racunnya, tetapi tidak difermentasi seperti pada kluwek. Blibar adalah bahan sayur yang bisa ditumis, digulai, atau dibikin rendang. Produk olahan ini konon dijajakan keliling dari desa ke desa. Hari ini, pucung lebih banyak dijual mentah ke pengepul. Blibar sendiri masih bertahan, tetapi lebih banyak dimanfaatkan secara subsisten.

Rek-rekan ( Presbytis fredericae) terpantau memakan daun muda pohon pucung (Dok Alex R)

Sistem pangan sebagai leverage konservasi 

Hubungan kompleks antara pangan – hutan – dan konservasi menjadi titik masuk bagi SwaraOwa. Kami berupaya tidak ada satu program yang berdiri sendiri. Setiap isu terjalin dengan isu-isu lain karena konservasi pada dasarnya menyentuh sesuatu yang bersifat sistemik. Karenanya, program koridor habitat Owa Jawa di Desa Mendolo yang dirintis bersama PPM Mendolo sejak 2023 tidak berhenti pada menanam pohon, tetapi juga membuka aneka peluang lain, termasuk penguatan sistem pangan lokal bagi masyarakat. 

Berawal dari penanaman pohon, berlanjut ke pengembangan produk berbasis pangan lokal oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Brayanurip. Sistem pangan lokal bisa menjadi medium partisipasi bagi kaum perempuan dalam diskursus tata kelola pemanfaatan hutan. Di Sawahan, ruang partisipasi itu diwujudkan dalam upaya inovatif: mendongkrak gadung dan pucung naik kelas menjadi komoditas ekonomi sekaligus penjaga resiliensi pangan.

Kedua komoditas ini dipilih karena nilai historis yang panjang, tersedia melimpah, dan memiliki narasi yang kuat untuk menjelaskan SES. Interaksi panjang masyarakat dengan komoditas-komoditas pangan hutan membangun perpustakaan pengetahuan yang sangat berharga yang sayang jika hilang begitu saja. Kumpulan pengetahuan itu justru menjadi bahan utama untuk meningkatkan nilai tambah pada produk-produk yang selama ini termarginalkan. 

Tiga tahun terakhir, kelompok yang dipimpin Sri Windriyah (Diyah) ini telah melakukan riset pengembangan produk untuk kedua komoditas. Hasilnya adalah tepung gadung dan aneka sambal berbasis kluwek. Harus diakui, memang upaya ini belum mengejawantahkan produk yang dihasilkan secara massal. Namun, capaian tidak selalu tentang berapa banyak produk yang telah dihasilkan. Ia bisa berupa pengetahuan baru–ini tentang data-data teknis, formulasi produk, hingga desain rantai pasok yang akan menjadi fondasi penting bagi pengembangan ke depannya.

Di titik inilah kami sekarang. Datangnya musim kemarau menjadi penanda musim gadung yang akan berlangsung sampai kira-kira bulan September. Tidak lama setelah itu, musim buah pucung menyusul di belakangnya. Bulan-bulan ke depan terus menuntut produktivitas. Seiring dengan selesainya musim panen kopi pada bulan Juli ini, KWT Brayanurip bersiap memulai produksinya. 

Mengapa bentuk tepung dipilih pada gadung dan bentuk olahan kluwek pada pucung? Keduanya memiliki alasan yang mirip: memperpanjang umur simpan, lebih mudah dipasarkan, lebih fleksibel (misalnya tepung menjadi kue atau kerupuk), serta berpeluang membuka pasar baru. Pada aspek pasar, Diyah dan kawan-kawannya menemukan bahwa generasi muda tidak lagi antusias dengan keripik gadung atau blibar pucung. Karenanya, formulasi olahan baru menjadi keniscayaan. 

Gadung dan pucung tidak dipersiapkan untuk sumber ekonomi utama bagi masyarakat. Keduanya menambah nilai ekonomi hutan, melengkapi komoditas-komoditas yang lebih dulu eksis seperti kopi, durian, kapulaga, dan madu. Skema ini membentuk bantalan ekonomi yang lebih kuat sekaligus mempertahankan keanekaragaman hayati pada lahan-lahan produktif yang dikelola.

Pada konteks resiliensi pangan terhadap perubahan iklim, kiranya gadung bisa menjadi studi kasus menarik. Ia memiliki beberapa keunggulan bila dibandingkan dengan komoditas pangan lain, baik yang berbasis umbi maupun serealia. Salah satu keunggulan yang patut dicatat adalah kemudahan tumbuh dan ketahanan. Gadung cenderung tumbuh liar di hutan dan dipelihara oleh sistem alam itu sendiri. 

Karena mengandalkan alam, waktu yang perlu diinvestasikan dalam produksi tepung gadung hanya terbatas pada pemanenan dan pengolahan pasca-panen, yang kira-kira membutuhkan satu minggu. Angka ini sebenarnya sangat jauh dibandingkan dengan komoditas lain seperti singkong dan talas yang membutuhkan upaya penyiapan lahan, penanaman, perawatan berkala, bahkan pengamanan dari konflik satwa liar. 

Berdasarkan riset yang dilakukan KWT, untuk mendapatkan satu kilogram tepung, diperlukan kurang lebih 9 sampai 10 kilogram umbi segar. Dari tanaman yang sehat, angka itu bisa diperoleh dari satu rumpun saja. Berbeda dengan pangan lain seperti padi, singkong, atau talas yang sering diakses satwa liar, nyaris tidak ada satwa yang mendekati umbi gadung. Tantangan ke depan menjadi lebih bisa dikerucutkan: mengembangkan metode budidaya sederhana untuk produksi yang lebih terkontrol, dan memastikan akses pasar yang mengapresiasi produk akhir. 

Krisis iklim yang semakin nyata mengancam penyediaan pangan kita di masa depan. Gadung dan pucung berpotensi menjadi barier proteksi ketahanan pangan masyarakat desa. Hanya saja, ini bukan semata tentang melestarikan tanaman-tanaman itu, namun juga pengetahuan mengolahnya. Yang diwariskan bukan sekadar tanaman, melainkan kemampuan mengubah racun menjadi pangan. Kepunahan data dan informasi yang terkandung dalam pengetahuan tradisional sama mengerikannya dengan kepunahan spesies itu sendiri.

Konservasi tidak cukup dengan menjaga hutan agar pohon tetap berdiri. Konservasi juga menjaga hubungan antara manusia, pengetahuan, dan lanskap yang membuat hutan tetap bernilai. Gadung dan pucung menjadi bukti bahwa ketika masyarakat memperoleh manfaat dari hutan, mereka memiliki alasan untuk ikut menjaganya. Pangan adalah daya ungkit konservasi yang patut kita perhitungkan, karena ia menyentuh titik nadi kehidupan.

Kami ucapkan terima kasih kepada Yayasan Astra Honda Motor, PT Musashi Auto Parts Indonesia, PT Astemo Bekasi Manufacturing, PT Yutaka Manufacturing Indonesia, dan PT Suryaraya Rubberindo Industries atas dukungan terhadap program penguatan kelompok KWT Brayanurip pada tahun ini. Apresiasi juga disampaikan kepada narasumber yang membuat artikel pendek ini terwujud: Biyung Mirah, Pak Casbari, Pak Kaliri, Sri Windriyah, Rohim, Alex Rifa’i, para ibu di KWT Brayanurip dan kawan-kawan PPM Mendolo.