Oleh Arif Setiawan
| kopi naungan hutan alam habitat Owa jawa-Sokokembang |
El-Nino adalah fenomena iklim global, secara sederhana adalah fenomena menghangatnya permukaan laut di Samudera pasifik bagian tengah dan timur, Pada kondisi normal, meningkatnya suhu permukaan laut ini menyebabkan, tekanan udara yang menyebabkan udara hangat yang membawa awan panas dan uap air mengalir dari belaha bumi barat ( benua amerika menuju Indonesia, yang menyebabkan hujan. Saat El- Nino terjadi angin tersebut melemah, yang disebabkan oleh meningkatnya suhu permukaan laut ( udara) yang semakin tinggi, dengan menybebabkan melemahnya tekanan udara , menyebabkan angin yang membawa awan ini idak sampai di Indonesia. Karena hal tersebut wilayah di Indonesia sebagian besar mengalami musim kemarau dan kering, yang lebih panjang dari biasanya.
Yang terjadi ketika El-Nino di Indonesia, seperti yang kita lihat saat ini kekeringan dimana-mana, sungai dan sumber mata air mengering, dan yang tahun 2026 ini terjadi kebakaran hutan dan lahan. Fenomena iklim global ini berkelindan dengan faktor-faktor lain, terutama sektor komoditas produksi yang terkait dengan tata kelola lahan. Kopi adalah salah satunya, Kegiatan kopi dan konservasi primata yang dilakukan untuk pelestarian Owa jawa, mencoba melihat fenomena El-Nino ini dalam skala kecil di sekitar habitat Owa di Pekalongan. Kopi robusta ( Coffea canephora) yang mendominasi habitat Owa di sekitar dusun-dusun, dan lahan Garapan warga di hutan, meskipun belum ada penelitian lebih lanjut terkait paparan el nino, tentu ada dampaknya.
| sungai sokokembang yang menyusut debit airnya di musim kemarau 2026 |
Saat ini, hutan habitat owa dimana sebagian besar kopi robusta di budidayakan, sedang mengalami paparan panas kemarau dari El-Nino. Dari pengamatan kami, beberapa tanaman kopi yang di tanam tanpa naungan, terlihat sangat layu, kering dan fase berbunga yang biasanya berwarna putih, bunga-bunga kopi ini warannya berubah menjadi merah muda, bahkan banyak di antaranya yang sudah kuncup namun langsung kering. Sungai-sungai yang pada musim kemarau normal, masih mengalirkan air, nampak kering, dan vegetasi di sekitarnya juga kering dan layu. Dari alat monitoring suhu yang di pasang di sokokembang di dalam ruangan menujukkan rata-rata 35 derajat, di luar bisa mencapai 37 derajat di puncak siang hari. Kelemban udara yang biasanya mencapai 80-90 % saat ini tercatat 35 %.
| tanaman kopi tanpa naungan di Sokokembang |
Pengamatan visual dari udara menggunakan drone, nampak sekali kopi yang di tanam dan terpapar matahari langsung nampak menguning daunnya. Kondisi berbeda sangat terlihat dari visual drone, kopi-kopi di bawah naungan tegakan hutan alam, terlihat sangat hijau, dan masih segar. Kopi naungan hutan alam secara microclimate, menyediakan kanopi pelindung untuk paparan sinar matahari, struktur vegetasi yang berlapis dan komposisi jenis tanaman yang beranekargam, memberikan variasi perlindungan dari waktu kewaktu mulai matahari terbit hingga terbenam. Suhu udara juga tentunya lebih dingin dibanding di lahan yang tidak ada naungan.
Meskipun penelitian tentang paparan El-nino secara langsung di habitat Owa dan kopi robusta ini belum dilakukan secara komprehensif, ada penelitian yang dapat digunakan sebagai referensi pembelajaran, lebih lengkap melihat fenomena El-Nino terhadap Pertumbuhan dan Produktifitas kopi di Jawa Timur, Penelitian ini bertjujuan, menguji dampak El Nino tahun 2015 terhadap iklim mikro, pertumbuhan dan produktifitas kopi robusta (klon Tugusari 6)di berbagai system agro-forestri di kawasan Gunung Gumitir, Banyuwangi Jawa Timur..
Pengaruh terhadap Iklim Mikro, Fenomena El Niño menyebabkan penurunan curah hujan tahunan yang signifikan dari rata-rata 3.975 mm} menjadi 1.801 mm, serta memperpanjang musim kemarau. Kebun tanpa naungan mengalami kondisi ekstrem dengan suhu rata-rata tertinggi 32,05 derajat dan kelembapan terendah 57,66%. Kopi di bawah hutan alam memiliki suhu paling terjaga 26,33 derajat dan kelembapan tertinggi 85%.
Pengaruh terhadap Pertumbuhan dan Produktivitas, Intensitas cahaya yang lebih rendah pada sistem naungan menghasilkan karakter daun yang lebih lebar, ruas yang lebih panjang, dan kandungan klorofil yang lebih tinggi. Kopi yang ditanam di bawah hutan alam menghasilkan jumlah dompolan, jumlah buah per dompol, dan total buah per pohon paling banyak. Produktivitas kopi Robusta tertinggi selama El Niño dicapai pada sistem hutan alam (1.497kg/ha) dan sistem naungan Leucaena 1.355 kg/ha karena kemampuannya menjaga kelembapan tanah dan lingkungan.
Sumber :
Yuliasmara, F., 2017. El Nino effect on coffee growth and productivity on several agroforestry systems in Gumitir Mountain Coffee Farms, East Java, Indonesia. Pelita Perkebunan, 33(3), pp.168-179.
No comments:
Post a Comment