Oleh : Arif Setiawan
![]() |
| grafik ilustrasi ( AI) habitat Owa yang terbakar |
Dalam rangka memperingati hari Owa sedunia tanggal 24 october ini, mewakili swaraOwa, saya ingin menyampaikan keprihatinan yang mendalam untuk yang terdampak kebakaran hutan dan lahan tahun 2026 ini, kepada Masyarakat umum terutama di Kalimantan dan Sumatera, kami turut prihatin terjadinya bencana ini. dan tahun ini habitat 9 jenis Owa Indonesia sebagian besar telah semakin hilang terbakar.
Laporan spesifik mengenai owa (Hylobatidae) yang ditemukan mati langsung akibat terbakar di dalam kobaran api memang sangat jarang terdokumentasi secara rinci. Hal ini karena karakteristik owa sebagai primata arboreal yang sangat lincah di kanopi atas pohon membuat mereka biasanya dapat bergerak cepat menghindar ketika api mulai mendekat, berbeda dengan satwa darat yang lambat.
Penelitian dan pendokumentasian dampak langsung kebakaran hutan dan lahan terhadap owa ini sangat penting, apabila nanti informasinya akan digunakan untuk mitigasi. Untuk di Sokokembang sendiri upaya monitoring juga sudah dilakukan, meskipun dengan banyak keterbatasan, beberapa peralatan untuk pemantauan suhu dan kelembaban udara tahun ini mengalami kerusakan, sehingga tidak dapat mencatat informasi iklim lokal di masa El-Nino ini secara real time. Monitoring dengan metode triangulasi klasik dengan 3 titik pengamat meskipun juga dilakukan namun masih memerlukan analisis lanjutan setelah periode monitoring musim ini selesai. Tentu saja swaraowa membuka kesempatan siapapun yang tertarik untuk mengkaji ini lebih jauh, bagaimana dampak El-Nino tahun ini terhadap perilaku atau pola aktifitas Owa jawa.
Kendati demikian, bukan berarti owa aman dari bencana karhutla. Berbagai kajian konservasi dan laporan lapangan mengenai dampak kebakaran hutan menunjukkan bahwa owa menghadapi ancaman mematikan yang tidak kalah serius melalui efek sekunder dan tidak langsung dari karhutla:
• Paparan Asap Beracun (Efek Sublethal): Asap tebal karhutla merusak sistem pernapasan dan metabolisme satwa liar. Owa yang menghirup asap pekat dalam jangka panjang mengalami penurunan kondisi fisik, gangguan kesehatan akut, hingga kematian perlahan akibat kerusakan paru-paru.
• Hilangnya Teritori dan Sumber Pakan: Owa memiliki wilayah teritori yang sangat terikat dengan hutan primer atau sekunder tua. Kebakaran menghancurkan pohon-pohon buah sumber pakan utama mereka, membuat owa yang selamat dari kobaran api akhirnya mati kelaparan atau stres di luar batas teritori mereka. Dampak kemarau panjang (el-nino) sudah ada yang melakukan penelitian juga mempengaruhi ketersediaan buah di hutan, terutama jenis-jenis ficus1.
• Fragmentasi Habitat dan Kematian Genetik: Karhutla memecah koridor hutan alami. Kelompok owa yang terisolasi di sisa-sisa petak hutan yang terbakar sering kali sulit bertahan hidup dalam jangka panjang karena kesulitan mencari pasangan atau kerentanan terhadap penyakit.
• Hilangnya Komunikasi Sosial: Owa sangat bergantung pada suara atau "nyanyian" jarak jauh (greatcall) untuk mempertahankan teritori dan mencari pasangan. Polusi asap dan kepanikan akibat kebakaran mengganggu perilaku sosial dan sistem reproduksi mereka secara drastis.
Secara umum, owa jarang ditemukan hangus terbakar di lokasi kejadian, namun populasi mereka mengalami penurunan drastis akibat kelaparan, penyakit pernapasan karena asap, serta kehancuran habitat pasca-karhutla.
Solidaritas untuk Kebakaran Hutan di Kalimantan
Bulan Agustus lalu, Swaraowa telah berkolaborasi dengan seniman sketsa Indonesia mas @donisingo dan @Vera Kersting untuk menjual karya sket dan mengumpulkan donasi untuk tujuan membantu kebakarang hutan,Kalimantan Barat. Total donasi yang terkumpul waktu itu lebih dari Rp 16 Juta dan sudah di distribusikan oleh Yayasan palung untuk bantuan air bersih, masker dan obat-obatan. Kami pernah berkunjung ke Kalimantan barat di lokasi proyek konservasi Yayasan palung, dan tim dari Yayasan palung juga perneh berkunjung ke Proyek konservasi Owa swaraOwa di Pekalongan, sehingga ada koneksi yang kuat, antara kami yang sama-sama mempunyai program konservasi, rasanya sangat pilu melihat hutan-hutan yang menjadi sumber ekonomi warga disana dilalap api. Bagaimana dengan Owa? Laporan-laporan satwa terbakar di lokasi kebakaran hutan dan lahan sudah ada orangutan, monyet, bekantan, ular, dan tidak ada yang secara spesifik melaporkan Owa. Saat itu kami kira, setelah bulan itu kebakaran hutan dan lahan mereda, tapi kenyataannya malah semakin membesar dan menyebar ke wilayah-wilayah di Kalimantan, sedih rasanya, mengumpat pun tidak akan banyak melepasak kesedihan ini.
Progam Konservasi owa di akhir tahun 2026
Di tahun 2026 ini swaraOwa, ada 2 project penting untuk owa Indonesia, yaitu di Pekalongan untuk Owa jawa dan di Kepulauan Mentawai, untuk Owa Bilou. Sudah setiap hari kami merayakan hari Owa ini, namun untuk memperluas jangkauan dampak konservasi 2 species penting ini, swaraOwa sebagai rangkaian peringatan hari Owa sedunia, ada beberapa kegiatan yang dilakukan yaitu :
1. Penyusunan SRAK Owa bilou Mentawai rangkaian pertemuwan workshop di Sipora, Mentawai tanggal 29-30 October 2026, meneruskan kegiatan sebelumnya yang telah dilakukan yaitu survey populasi Owa di seluruh kepulauan Mentawai, yang selesai padah akhir bulan Agustus lalu, dilanjutkan dengan kegiatan workshop PVA sebagai dasar untuk menyusun rencana strategis aksi konservasi Owa Bilou. Baca di sini untuk laporan kegiatan PVA Mentawai : https://swaraowa.org/merancang-strategi-konservasi-bilou-mentawai/
2. Gibbon Camp, acara tahunan yang diselenggarakan di habitat Owa, untuk ke-5 kalinya, kegiatan yang berkolaborasi dengn @KP3Primata ini dilakukan dengan tujuan untuk mempromosikan gibbon watching, mengangkat lokasi-lokasi di Jawa Tengah yang menjadi habitat Owa, dan pengamatan owa /gibbon watching ini sebagai kegiatan wisata minat khusus.
3. Pelatihan Metode Survey Owa, 15-19 November 2026, untuk ke 13 kalinya kegiatan ini akan dilakukan di Sokokembang, petungkriyono. Yang bertujuan untuk pengembangan kapasitas professional lokal, untuk melakukan teknik survey Owa.
Catatan terbaru kegiatan monitoring Owa di Petungkriyono di bulan ini adalah :
Partisipasi aktif warga lokal dalam kegiatan monitoring, menggunakan teknik vocal count /berdasar sura mendeteksi setidaknya 17 kelompok owa di Sawangan Ronggo.
Namun ada 1 catatan penting, juga 1 individu owa mati tersengat Listrik di Sawanganronggo, jaringan kabel listrik yang terkelupas, diduga menjadi penyebab tersengatnya owa di lintasan ini. dari data monitoring ada 3 individu di tempat ini pad awalnya, dan saat ini kelompok ini telah kehilangan induk jantannya. Solusi pembangunan infrastrutur berkelanjutan seharusnya terus di arustuamakan untuk wilayah-wilayah dengan keanekaragaman tinggi, seperti habitat Owa ini, harusnya pihak terkait memperhatikan ini. baca laporan swaraOwa tentang owa yang mati tersengat Listrik ini, jaringan Listrik milik negara ini melewati hutan di petungkriyono . (https://swaraowa.blogspot.com/2021/08/solusi-berkelanjutan-infrastruktur.html)
Selain itu, untuk kegiatan konservasi Owajawa di Pekalongan saat ini sudah ada terbangun pusat informasi konservasi owajawa di Sokokembang, fasilitas yang berfungsi sebagai community hub, yang dapat digunakan untuk pertemuan komunitas, pegiat konservasi,peneliti dengan warga lokal, menyediakan ruang diskusi, berbagi pengalaman dan membuka kolaborasi, skaligus showroom untuk kegiatan dan produk-produk konservasi di Petungkriyono dan sekitarnya.( https://swaraowa.org/sokokembang-gibbon-conservation-education-center-a-bridge-of-knowledge-culture-and-action/)
Sumber bacaan
1. Harrison, R.D., 2001. Drought and the consequences of El Nino in Borneo: a case study of figs. Population Ecology, 43(1), pp.63-75.

No comments:
Post a Comment