oleh : Sidiq Harjanto, Vika Bayu Iriyanto Putro & Muhammad Kuswoto
![]() |
| para petani mitra Kopi Owa - guardian of the gibbon |
Program Owa Coffee: Guardian of the Gibbon yang didukung oleh AirAsia Foundation telah memasuki kuartal ketiga. Program ini merupakan kelanjutan dari inisiatif skema kopi naungan (shade-grown coffee) sebagai bentuk praktik budidaya kopi ramah satwa liar. Dalam perjalanannya, sebagian petani mitra telah berhasil memproduksi kopi sesuai standar kualitas yang ditentukan. Meski demikian, upaya membangun tata kelola kopi naungan yang lestari, berkeadilan, sekaligus mendukung kelestarian habitat Owa Jawa di Petungkriyono masih memerlukan komitmen panjang.
Tantangan iklim dan dampaknya pada kopi
Pada 3 Oktober 2026, kami melakukan monitoring kedua dengan target utama mengevaluasi periode panen tahun ini. Semua petani mitra kami mengeluhkan kekeringan yang berdampak besar pada panenan kopi. Kondisi iklim tahun ini yang dipengaruhi El Nino membuat produksi kopi di berbagai wilayah di Indonesia mengalami penurunan signifikan, termasuk di Petungkriyono. Pengalaman empiris beberapa petani mitra kami bahkan menunjukkan penurunan sampai lebih dari 60% jika dibandingkan dengan musim panen tahun sebelumnya yang terbilang bagus.
![]() |
| kerusakan tanaman kopi tanpa naungan musim kemarau 2026 |
Penurunan drastis ini berdampak langsung pada total perolehan green bean Owa Coffee. Beruntung, program ekspansi yang menjaring petani dan pemroses (coffee processor) baru di tahun ini memberi bantalan pengaman yang krusial. Dari 25 petani baru yang bergabung, memang baru sekitar 40% yang telah menyetor hasil panen, sementara sebagian besar lainnya masih fokus pada pembenahan kebun. Namun, kontribusi kelompok baru ini sangat berarti: mereka menyumbang 25% dari total perolehan biji kopi pada tahun yang berat ini. Bahkan, untuk jenis robusta kontribusinya lebih dari 40%. Hasil evaluasi internal menunjukkan bahwa kualitas produk—yang notabene dihasilkan lewat pengalaman pertama para pemroses—sudah memuaskan.
| kondisi kopi dibawah naungan hutan di musim kemarau 2026 |
Dampak kekeringan bukan hanya dirasakan pada hasil panen, melainkan juga pada kesehatan tanaman. Pada lahan-lahan monokultur terbuka, dampak ini tampak sangat jelas: banyak tanaman kopi layu atau bahkan kering, dan akhirnya tidak tertolong. Tanda-tanda awal biasanya dimulai dari daun-daunnya yang menguning. Sementara itu, tanaman-tanaman kopi yang tumbuh di bawah lindungan kanopi lebat, jauh lebih aman dari kekeringan. Kopi naungan tidak hanya ramah satwa, tetapi juga lebih tahan cuaca ekstrem. Komposisi tanaman penyusun vegetasi dan tutupan tajuk mengunci kelembaban tanah, memungkinkan tanaman kopi mampu bertahan.
![]() |
| bertempat di swaraowa education center, pertemuan petani tidak hanya soal teknis tapi juga menjaga kekeluargaan |
Musim panen kopi di tahun ini telah berlalu. Namun, masih ada beberapa pekerjaan rumah untuk peningkatan produksi pada masa yang akan datang. Dalam waktu dekat, kami berencana mendistribusikan bibit kopi arabika untuk petani di ketinggian di atas 1.000 mdpl. Kawasan Petungkriyono atas sangat cocok untuk pengembangan kopi arabika. Namun, sebagai zona penting tangkapan air, penanaman kopi idealnya dilakukan melalui skema kopi naungan. Melalui skema ini, kita tidak hanya mengoptimalkan fungsi ekonomi, tetapi juga menjaga fungsi ekologi kawasan.
Dalam rangka peningkatan kualitas dan kuantitas biji kopi, introduksi teknologi tepat guna menjadi keniscayaan. Melihat kebutuhan paling mendasar di lapangan, kami akan mendistribusikan beberapa unit alat pengupas kering (coffee huller) kepada kelompok-kelompok petani mitra. Mesin pengupas menjadi solusi strategis atas permasalahan yang banyak dialami petani/pemroses yaitu tingginya persentase biji pecah akibat penggunaan alat pengupas yang belum standar.
Berakhirnya musim panen menjadi titik balik bagi para petani untuk kembali fokus pada perawatan tanaman—mempersiapkan musim kopi tahun depan. Petani perlu menjalankan praktik terbaiknya agar mendapatkan hasil yang memuaskan. Untuk itu, pada pertemuan ini, kami mengajak mereka untuk membedah buku panduan yang telah disusun sebagai acuan praktik lapangan yang lebih sistematis.
Riset partisipatif untuk kebun kopi naungan
Buku panduan praktik Kopi Naungan Holistik telah disusun. Panduan ini dihadirkan sebagai acuan bagi semua pihak yang membentuk rantai pasok Owa Coffee, termasuk petani. Praktik kopi naungan membawa implikasi yang berbeda semenjak di lahan budidaya, termasuk dalam hal perawatan tanaman. Upaya perawatan dilakukan guna mengoptimalkan produktivitas. Jika budidaya kopi monokultur dengan paparan cahaya matahari intens dan pemupukan intensif umumnya menggunakan teknik sambung, maka kopi naungan—terutama pada praktik kopi umbaran (rustic shade) dan agroforest kompleks—membutuhkan pendekatan berbeda.
Kami memberikan rekomendasi beberapa metode perawatan tanaman untuk sistem yang memberikan porsi naungan yang lebih lebat, antara lain: punggelan, sogolan selektif, dan lancuran. Sebagian metode tersebut belum lazim dipraktikan oleh para petani lokal. Melalui pertemuan ini, kami mempertemukan para petani dengan penyusun buku dengan maksud untuk mencapai kesamaan pemahaman mengenai istilah-istilah teknis yang digunakan. Selain itu, kami mencoba menggali masukan dari para petani berdasarkan pengalaman mereka di kebun.
Meskipun secara konseptual telah dielaborasi lengkap, tetapi aplikasi berbagai metode ini memerlukan monitoring dan evaluasi keberhasilan secara berkala. Kondisi ini justru memunculkan peluang untuk membuat riset perbandingan untuk menemukan praktik atau metode terbaik dalam kopi naungan. Kami menyepakati untuk membuat beberapa percobaan terukur guna menilai tingkat keberhasilan masing-masing metode. Melalui riset partisipatif, para petani tidak sekadar menjalankan instruksi satu arah, tetapi juga mendapat ruang belajar aktif dalam bentuk praktik langsung.
Pada akhirnya, skema Kopi Naungan Holistik mencoba melakukan pendekatan praktik budidaya kopi yang menggabungkan aspek keseimbangan agroekologi, perlindungan spesies, dan keberlanjutan sosial-budaya masyarakat lokal. Pendekatan ini diharapkan menghasilkan lanskap produktif yang menyejahterakan petani sekaligus mempertahankan daya dukung habitat bagi satwa liar, terutama Owa Jawa.



No comments:
Post a Comment