Saturday, May 23, 2020

Merawat Lebah: Matapencaharian berkelanjutan dan Pelestarian Hutan di Mendolo

Oleh : Sidiq Harjanto
Desa Mendolo, Lebak Barang,Kab. Pekalongan


Selain di Petungkriyono, Swaraowa telah memperlebar sayap ke Kecamatan Lebakbarang, dengan fokus kegiatan di Desa Mendolo. Desa ini dikelilingi hutan. Masih ada owa jawa dan jenis-jenis primata lain, termasuk kukang. Swaraowa mulai membuat kegiatan di Mendolo pertama kali di tahun 2015, ketika itu bersama dengan Dinas Kehutanan, Kabupaten Pekalongan, melakukan inventarisasi flora dan fauna dilindungi di Kabupaten Pekalongan,  dan setelah itu mulai sering berkunjung kesana, dan mengembangkan kegiatan bersama warga di Mendolo sejak tahun 2017 dan berjalan hingga sekarang. Desa ini memiliki 4 pedukuhan, sebagian besar warganya hidup dari mengelola lahan hutan dan memanen madu hutan. Karakter masyarakatnya yang sangat dekat dengan hutan menjadi alasan kuat bagi kami untuk menjadikan Mendolo sebagai site kegiatan.
Owa jawa di hutan Mendolo

Pada 2017 kami melakukan penggalian informasi mengenai jenis-jenis lebah madu yang ada di kawasan Mendolo, beserta pemanfaatannya. Dari hasil penggalian informasi tersebut ditemukan 5 jenis lebah madu, terdiri dari 2 jenis lebah bersengat, dan 3 jenis lebah tanpa sengat atau lazim disebut klanceng. Sebagian jenis lebah madu telah dimanfaatkan oleh masyarakat. Pemanenan madu hutan Apis dorsata dan lebah klanceng (Trigona spp.) dilakukan turun-temurun dan menjadi tradisi yang telah melekat pada masyarakat Mendolo. Hasil riset ini telah dipaparkan pada Seminar Nasional Perlebahan Tropik di Fak Peternakan, September 2019.


Koloni lebah klanceng yang sedang di kembangkan di Mendolo

Dengan informasi tersebut, bisa dikatakan bahwa perlebahan merupakan salah satu potensi besar dari Desa Mendolo. Maka strategi kami selanjutnya adalah melakukan uji coba budidaya khususnya untuk jenis-jenis lebah klanceng. Tahapannya meliputi menentukan lokasi uji coba, menentukan jenis yang ideal, membuat desain kotak budidaya (stup lebah). Langkah selanjutnya memperoleh koloni dari alam, memelihara koloni-koloni dengan  Kriteria jenis yang dipilih antara lain jumlahnya melimpah, produksi madu ekonomis, dan mudah dipelihara. Selama satu tahun uji coba, koloni-koloni lebah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan dan dianggap layak untuk ditingkatkan skalanya.
Hasil uji coba budidaya yang dilakukan di tahun sebelumnya menunjukkan hasil yang cukup baik. Maka pada 2019 kami memutuskan untuk membuat demplot budidaya sebagai pusat pembelajaran bagi masyarakat. Ini menjadi lompatan untuk scalling up meliponikultur di Mendolo. Harapannya dengan adanya pusat informasi perlebahan ini, maka masyarakat akan tertarik dan tergerak untuk melakukan budidaya. Ini akan menjadi langkah awal untuk mengangkat Mendolo sebagai sentra budidaya klanceng. Pada 2019 pula kami fokus pada penggalian informasi mengenai pakan lebah. Ketersediaan pakan lebah menjadi kunci penting dalam budidaya. Ada sekitar 44 jenis tumbuhan hutan yang menjadi pakan bagi lebah. Tumbuhan berbunga menyediakan sumber pakan, baik berupa nektar maupun serbuk sari.
Paguyuban Petani Muda Mendolo sedang belajar menyangrai kopi

Kami menyadari bahwa peran aktor lokal menjadi kunci kesuksesan program SwaraOwa di Mendolo. Antusiasme masyarakat lokal ditunjukkan dengan terbentuknya sebuah komunitas pemuda, yang kemudian menamakan diri sebagai Paguyuban Petani Muda Mendolo. Berdiri pada 18 Agustus 2019, dalam suasana hari kemerdekaan, sekelompok pemuda sepakat untuk mendedikasikan diri bagi pengembangan potensi desa mereka. Melalui diskusi bulanan mereka membangun persepsi dan menumbuhkan cita-cita. Program yang telah mereka jalankan meliputi penguatan kapasitas, partsisipasi dalam berbagai kegiatan, sampai kegiatan produksi. Kini mereka telah memiliki produk kopi dengan brand Kopi Batir. Mereka juga mulai merintis kebun pembibitan guna memenuhi kebutuhan bibit aneka tanaman budidaya bagi kebun-kebun mereka sendiri.
demplot lebah klanceng ds. Mendolo
demplot lebah klanceng ds.Mendolo


Sejatinya 2020 akan menjadi momentum untuk semakin meningkatkan skala kegiatan, namun pandemi Covid-19 telah memaksa semuanya berhenti. Yang bisa kami lakukan saat ini adalah melakukan refleksi terhadap apa-apa yang telah dikerjakan, menjadikannya bahan untuk memulai langkah baru. Situasi ini tentunya memaksa kami memutar otak untuk menyesuaikan diri. Akan banyak modifikasi pada program-program yang telah kami rancang, atau bisa saja akan ada ide segar yang benar-benar baru. Aapapun itu, semangat kami tetap akan menyala untuk terus berkarya bersama masyarakat Mendolo. Semoga pandemi segera berlalu, dan keadaan akan menjadi normal kembali.

Saturday, May 9, 2020

Laporan Terbaru : Sebaran Populasi Bilou ( Hylobates klossii) di Kepulauan Mentawai



Mentawai masih menjadi sesuatu yang berbeda di antara keunikan Sumatera, terutama dari sisi primatanya.  Dan juga tulisan ini saya tujukan untuk mengenang almarhum Dr.Tony Whitten, yang menjadi inisiator di awal pekerjaan ini. Perjalanan pertama ke Kepulauan Mentawai yang masih sangat saya ingat setiap langkahnya, ketika buku “Gibbon of Siberut” menjadi inspirasi untuk berangkat ke Mentawai di akhir tahun 2010.

tahun 2011, tim penulis bersama salah satu Sikeri di ds.Matotonan

Bulan Mei 2020 ini, secara resmi publikasi dari kegiatan saya dan teman-teman di Metawai secara resmi di terbitkan. Menjadi salah satu tulisan ilmiah terbaru di antara jurnal-jurnal ilmiah tentang keanekargaman hayati di Kepulauan yang jaraknya 157 km dari Padang itu.
Publikasi tersebut dapat di akses di journal Biodiversitas,volume 21 No 5 , Bulan Mei 2020. Publikasi berjudul “Distribution survey ofKloss’s Gibbon (Hylobates klossii) in Mentawai Island, Indonesia, merupakan hasil kegiatan penelitian survey di tahun 2010-2012, dan tahun 2017. Tujuan kegiatan tersebut adalah untuk menilai kerapatan, distribusi, habitat dan ancaman untuk Bilou di Kepulauan Mentawai. Kawasan diluar kawasan konservasi , menjadi target lokasi survey, dengan pertimbangan kerentanan, pusat aktifitas manusia namun  memiliki potensi keanekargaman yang tinggi.
salah satu lokasi survey di Siberut

Survey di lakukan dengan kombinasi metode vocal count (berdasarkan panggilan suara bilou)  karena bilou dan jenis-jenis Owa dapat dengan mudah kita ketahui keberadaannya dengan mendengarkan suaranya, dan line transek (perjumpaan langsung) untuk dapat mengetahui komposisi kelompok Bilou dan habitatnya. Tercatat 113 panggilan suara bilou (Morning call) yang terdengar dari 13 lokasi titik pengamatan (Listening Post) dengan kerapata 1.04-4.16 kelompok/km2. 75 data dari total yang tercatat tersebut kita gunakan untuk analisis kerapatanan populasi, kenapa hanya 75 karena ada minimum kriteria jarak yang terdengar untuk metode ini. Total panjang transek yang telah kita lalui dengan berjalan kaki adalah sepanjang 67 km dan berhasil mencatat perjumpaan dengan 35 individu Bilou. Sayangnya survey di Pulau Sipora dan Pagai Selatan tidak mencatat perjumpaan dengan Bilou,suarapun tidak terdengar.
tengkorak primata di Uma Matotonan

Tim dari Uma Malinggai menjadi ujung tombak dalam survey ini, dengan kemampuan lapangan yang tidak diragukan lagi menjadi kunci keberhasilan kegiatan ini, selain memiliki motivasi yang tinggi untuk pelestarian primata dan budaya Mentawai. Pengalaman survey hingga mempublikasikan tulisan ini adalah pengalaman yang sangat berharga dan bisa di pertimbangkan untuk di terapkan di lokasi lain dengan target species yang berbeda dan latar belakang permasalahan yang berbeda juga. Artinya memberi kesempatan penduduk setempat untuk terlibat langsung dalam upaya pelestarian dan promosi konservasi primata.



Daftar Pustaka :
Setiawan A, Simanjuntak C, Saumanuk I, Tateburuk D,Dinata Y, Liswanto D, Rafiastanto A. 2020. Distribution survey ofKloss’s Gibbons (Hylobates klosii) in Mentawai Islands,Indonesia. Biodiversitas 21:2224-2232