Showing posts with label Pekalongan. Show all posts
Showing posts with label Pekalongan. Show all posts

Tuesday, October 21, 2025

“Dari Pekalongan untuk Hutan Jawa: Batik Owa Rayakan Oktober Istimewa”

 

motif batik Sidoluhur-Owa

Bulan October adalah bulan Istimewa dimana tanggal 2 October diperingati sebagai hari batik nasional dan tanggal 24 october sebagai hari  owa sedunia, untuk merayakan hari-hari penting ini, swaraowa meluncurkan produk konservasi baru, berupa motif batik owa , dengan nama “ sido luhur -Owa”


๐Ÿงต Narasi Motif Batik Owa: “Sido Luhur - Owa”

Motif ini lahir dari perjumpaan antara warisan batik klasik dan semangat konservasi masa kini, kegiatan pelestarian owa jawa di Pekalongan, yang sudah terkenal dengan batiknya. Terinspirasi dari batik Sido Luhur—yang secara filosofis melambangkan harapan akan kehidupan yang bermartabat dan penuh kebijaksanaan—motif ini menghadirkan wajah owa Jawa (Hylobates moloch) sebagai simbol penjaga hutan dan harmoni alam.

Wajah owa digambarkan secara simetris dan berulang, membentuk pola yang menyerupai catur gatra dalam batik klasik, menandakan keseimbangan antara manusia, alam, budaya, dan spiritualitas. Ornamen daun-daun tropis dari hutan dan pegunungan Jawa mengalir di sekelilingnya, merepresentasikan lanskap asli tempat owa hidup dan berperan sebagai penebar benih hutan, membantu regenerasi hutan secara alami.

Setiap garis dan lengkung dalam motif ini bukan sekadar estetika, melainkan narasi: tentang spesies yang terancam, tentang hutan yang menyimpan banyak nilai penting dan manusia yang diajak untuk melestarikan alam. Motif batik ini, akan digunakan dalam berbagai produk dan media untuk menyebarluaskan pesan konservasi , penghubung antara nilai luhur dan tindakan nyata untuk menjaga bumi.

 

Ikuti kami di platform social media :

๐ŸŒ website : https://swaraowa.org

๐Ÿ“ Blogs : https://swaraowa.blogspot.com

๐Ÿ“ฑ X, Facebook, Youtube,  Instagram: @swaraowa

Saturday, June 28, 2025

Upacara "Munggah Molo" di Sokokembang: Menyulam Doa dalam Tiang Pertama

 Oleh Arif Setiawan

 


Sebagai bagian dari tradisi luhur masyarakat Jawa di Petungkriyono, upacara *Munggah Molo* digelar untuk menandai dimulainya pembangunan Pusat Edukasi Konservasi SwaraOwa di Sokokembang. *Molo*, balok utama pada kerangka atap bangunan, secara simbolis memegang peran penting sebagai fondasi spiritual dan harapan akan rumah yang kokoh serta diberkahi.

Ritual ini diiringi dengan doa bersama dan sesaji berupa hasil bumi, simbol syukur dan harapan kepada Sang Pencipta serta penghormatan kepada alam sekitar. Di tengah hutan hujan dataran rendah yang menjadi habitat owa jawa, prosesi ini menjadi penanda menyatunya ilmu pengetahuan, budaya lokal, dan spiritualitas dalam sebuah bangunan yang akan menjadi ruang tumbuh bagi konservasi dan pembelajaran.

Tanggal 22 Juni 2025, menjadi penanda untuk pembangunan fasiltas edukasi konservasi swaraOwa, meskpun kegiatan pendahuluan pembersihan lahan dan pembuatan pondasi telah dimulai 3 hari sebelumnya. Bagian utama atap rumah tertinggi ini menjadi semangat tim swaraOwa untuk terus mengembangkan kegiatan pelestarian alam yang telah dan sedang dilakukan di habitat Owa Jawa. Bangunan ini nantinya akan berfungsi sebagai front office, pusat informasi untuk kegiatan swaraOwa.

Simbol-simbol dalam upacara *Munggah Molo* sarat makna filosofis dan spiritual, mencerminkan harapan akan rumah yang tidak hanya kokoh secara fisik, tetapi juga harmonis secara batin dan sosial. Berikut beberapa simbol utama yang biasa digunakan dalam tradisi ini, khususnya di wilayah seperti Petungkriyono:

 1. **Tebu (Saccharum officinarum)** 

   Melambangkan *manisnya kehidupan* dan harapan agar rumah menjadi tempat yang penuh kebaikan dan kebahagiaan. Tebu juga mencerminkan keteguhan dan kejujuran.

 2. **Padi (Oryza sativa)** 

   Simbol *kemakmuran dan kesejahteraan*. Padi yang menguning menandakan harapan agar penghuni rumah selalu tercukupi kebutuhan pangannya dan hidup dalam kelimpahan.

 3. **Kelapa (Cocos nucifera)** 

   Melambangkan *keutuhan dan kebermanfaatan*. Semua bagian kelapa bisa dimanfaatkan, mencerminkan harapan agar rumah menjadi tempat yang berguna bagi keluarga dan masyarakat.

 4. **Kain Merah Putih** 

   Simbol *nasionalisme dan perlindungan*. Warna merah putih juga dipercaya membawa energi positif dan perlindungan dari gangguan gaib. Kain ini digunakan untuk membungkus sesaji yang di tumbuk, yaitu daun dringo (Artemisia vulgaris), blanke sejenis rumput yang beraroma dan kencur (Kaempferia galanga) . Yang melambangkan perlindungan spritual, kesegaran, ketentraman, kekuatan dan ketahanan untuk bangunan dan yang menhuninya.

 5. **Uang Koin atau Logam** 

   Menandakan *rezeki dan kelancaran ekonomi*. Diletakkan sebagai doa agar rumah tidak kekurangan dan selalu diberi kelimpahan.

 6. **Jajanan Pasar dan Sesaji Hasil Bumi** 

   Wujud *syukur dan penghormatan* kepada leluhur serta alam sekitar. Ini juga memperkuat hubungan spiritual antara manusia dan lingkungan.

 7. **Kayu Jati atau Blandar Utama** 

   Kayu utama yang dinaikkan sebagai *molo* melambangkan *inti kehidupan dan arah tujuan*. Dalam konteks rumah, ini adalah fondasi spiritual dan simbol bahwa rumah akan menjadi tempat tumbuhnya nilai-nilai luhur.

 8. **Pisang satu tandan**

Satu tandan pisang terdiri dari banyak buah yang tumbuh bersama dalam satu tangkai. Ini mencerminkan harapan agar keluarga yang menempati rumah baru hidup rukun, saling mendukung, dan tidak tercerai-berai—seperti buah pisang yang tetap menyatu dalam satu tandan. Pisang juga merupakan simbol keberkahan dan kelimpahan,buah yang mudah tumbuh dan berbuah banyak. Dalam konteks upacara, satu tandan pisang menjadi doa agar rumah tersebut selalu diberkahi rezeki, kesehatan, dan kebahagiaan. Pisang juga melambangkan kesinambungan hidup. Setelah berbuah, pohon pisang akan mati, tetapi akan tumbuh tunas baru di sekitarnya. Ini menjadi simbol harapan agar rumah menjadi tempat tumbuhnya generasi baru yang membawa nilai-nilai kebaikan. Pisang satu tandan juga menjadi bagian dari sesaji sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan alam sekitar, memohon perlindungan dan restu atas rumah yang dibangun.

9. ** kembang telon** : Melati, Kenanga dan Mawar

10, **sesajen lainnya** :  jagung, tapih, baju kebaya, di taruh di bagian rangka molo, dan ayam ingkung utuh.

Semua sesajen ini kemudian di doakan bersama dan kemudian di makan bersama sarapan bagi tukang-tukang yang bekerjam membangun bangunan rumah ini. Tradisi ini menjadi symbol semangat dan doa untuk tim swaraowa yang ingin berkontribus aktif dalam pembangunan konservasi di Kabupaten Pekalongan khususnya dan yang mewakili sebaran penting untuk jenis-jenis primata terancam punah khususnya owa jawa.


Thursday, June 12, 2025

Melodi Hutan: Studi Perilaku Bersuara Owa Jawa di Pekalongan

 Oleh : Khoirun Nisa Julianti

Owa Jawa (Hylobates moloch) di Hutan Sawahwan ,Pekalongan
Uweg ... uweg ... uweg ... uweg

Suara owa jawa bergema di seantero hutan. Matahari pagi bersinar hangat. Suasana hutan turut diramaikan oleh gemerisik daun, kicauan burung, kokok ayam hutan, hingga suara tonggeret yang bersahutan. Suara seperti ini , hanya bisa ditemukan di Pulau Jawa, biasa dikenal oleh warga lokal sebagai uweg-uweg. Suara owa jawa dapat didengar oleh manusia hingga jarak 2 km dari keberadaannya.

Perkenalkan saya Nisa, mahasiswi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Bersama rekan saya, Zizah, dan didampingi oleh pendamping penelitian dari PPM (Paguyuban Petani Muda) Mendolo, saya berkesempatan mengamati perilaku owa jawa langsung di habitat aslinya, di desa Mendolo, tepatnya di hutan dukuh Sawahan.

Pengamatan perilaku owa jawa ini saya lakukan dalam rangka penelitian yang di dukung oleh beasiswa Swaraowa. Penelitian ini juga merupakan skripsi saya yang berjudul “Studi Perilaku Bersuara Owa Jawa (Hylobates moloch Audebert, 1798) di Hutan Mendolo, Pekalongan, Jawa Tengah”. Tujuan utama dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui perilaku bersuara owa jawa pada kondisi habitat yang terfragmentasi dan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhinya.

Owa jawa adalah makhluk sosial yang hidup dalam kelompok kecil dan sangat bergantung pada kelestarian hutan. Pada dasarnya owa jawa dan manusia bisa hidup berdampingan. Sayangnya, kenyataan di lapangan tak selalu demikian. Bagian hutan yang dulunya menjadi rumah bagi owa jawa lama-kelamaan mengalami perubahan fungsi. Kami mengamati langsung pengaruh alih fungsi lahan tersebut terhadap perilaku owa jawa.

Karakter morfologi yang mencolok dan dapat diamati secara langsung pada owa jawa adalah tubuhnya yang ditutupi rambut berwarna kelabu. Kelompok owa jawa termasuk dalam satwa monogami yang terdiri dari sepasang jantan dan betina yang hidup bersama seumur hidup. Pasangan ini akan membesarkan anak-anaknya secara bersama-sama. Ketika anak owa jawa sudah mulai dewasa sekitar usia 6-8 tahun, mereka akan mulai meninggalkan kelompok keluarganya.  Hubungan ini bukan hanya soal reproduksi, tapi juga ikatan sosial yang kuat mirip seperti pasangan hidup pada manusia. Ciri khas lainnya adalah bentuk lengannya yang sangat panjang dan lentur. Bahkan, panjang lengannya hampir dua kali lipat lebih panjang dari panjang tubuhnya. Hal ini memungkinkan mereka bergerak dengan cepat dan lincah dari pohon ke pohon—brakiasi.

Suara owa jawa memiliki banyak fungsi penting dalam kehidupan sosial mereka. Suara-suara ini bisa menjadi cara owa jawa untuk menandai batas wilayah antar kelompok; menjaga sumber daya seperti makanan, tempat tinggal, atau pasangan; bahkan menarik perhatian calon pasangan. Menariknya, vokalisasi owa jawa ini juga dapat bersifat menantang atau bersaing, meniru, sampai "merengek" minta perhatian. Di balik nyanyiannya yang khas, ada banyak makna sosial yang tersembunyi.

Sekitar pukul 6 pagi, saya, Zizah dan pendamping penelitian dari PPM Mendolo menyusuri jalur-jalur sempit di dalam hutan. Kami berusaha mencari keberadaan owa di antara rimbunnya dedaunan. Terkadang kami mengikuti arah suara panggilan owa yang bergema dari kejauhan. Pengamatan owa jawa di hutan bukanlah perkara yang mudah, apalagi owa jawa disini dikenal dengan sifat pemalu dan defensifnya terhadap keberadaan manusia. Luka masa lalu owa mungkin masih membekas dalam darah mereka. Dulu, warga sekitar masih memburu owa untuk dijual maupun dikonsumsi. Minimnya ilmu pengetahuan yang beredar di masyarakat lokal mendasari peristiwa masa lalu tersebut. Untungnya, beberapa tahun belakangan warga desa sudah memiliki kesadaran untuk menjaga berkah alam yang mereka punya.

Landskap hutan Sawahan, Mendolo, Pekalongan

Dalam mengamati keseharian owa jawa, penting untuk menggunakan metode ilmiah yang sistematis. Setiap 30 menit, dilakukan pencatatan perilaku lewat teknik scan sampling. Selama 5 menit kami akan mencatat apa saja yang sedang dilakukan oleh setiap individu, apakah mereka makan, bergerak, bersuara, atau beristirahat. Lima menit itu kemudian dibagi, jadi setiap satu menit kami mengamati dan mencatat aktivitas mereka secara detail. Selain itu, jika ada perilaku menarik atau tidak biasa yang muncul di luar waktu pengamatan, kami juga mencatatnya secara ad libitum alias spontan, supaya tidak ada momen penting yang terlewat.

Sebagai peneliti, untuk mendukung pengamatan ini, di samping pengamatan perilaku dan aktivitas owa jawa yang dilakukan hingga siang bahkan sore hari sampai owa tertidur di pohon tidurnya. Saya memasang alat perekam suara pasif di dua titik strategis dalam hutan. Alat ini dipasang tinggi-tinggi untuk merekam suara hutan dengan jangkauan yang luas mulai dari suara nyanyian owa di pagi hari hingga suara satwa lain yang hidup berdampingan. Dari data rekaman ini, saya bisa mengetahui rentang frekuensi dan durasi suara owa bersuara, sekaligus memastikan tipe-tipe suara yang dinyanyikan oleh masing-masing individu owa. Vokal owa jawa memiliki pola khas yang bisa dibedakan dari suara satwa lain.

A person climbing a tree

AI-generated content may be incorrect.A box attached to a tree

AI-generated content may be incorrect.

   Pemasangan alat rekam pasif di dua titik strategis

Berkunjung ke calling tree atau “pohon panggilan” owa jawa. Pohon ini adalah titik strategis dan spesial tempat owa bernyanyi, semacam panggung utama di tengah hutan. Pohon ini biasanya tinggi, kokoh, dan punya kanopi terbuka, sehingga suara owa bisa terdengar jauh hingga 2 km. Di sinilah owa jawa betina biasanya bernyanyi di pagi hari yang penuh makna untuk menandai wilayah, memperkuat ikatan, sekaligus menunjukkan eksistensi mereka pada kelompok lain. Calling tree menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial owa jawa, dan juga menjadi titik fokus yang membantu saya dalam merekam dan mempelajari vokalisasi mereka.

A couple of people standing in a forest

AI-generated content may be incorrect.A tree with many branches

AI-generated content may be incorrect.

Calling tree owa jawa

     Saya berharap penelitian ini nanti hasilnya dapat memberikan kontribusi informasi data pada upaya konservasi owa jawa dan juga menjadi masukan dan acuan bagi penelitian selanjutnya untuk pengembangan strategi konservasi owa jawa. Menjaga kelestariannya berarti melindungi lingkungan, mendukung ilmu pengetahuan, dan menjalankan tanggung jawab kita sebagai penjaga alam.