Thursday, April 30, 2026

Dari Sikabaluan hingga Sirilanggai : Catatan pengamatan alam dan komunitas desa di Siberut Utara

Oleh : Aoysius Yoyok

Lokasi yang di kunjungi, di Siberut Utara

Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui lokasi-lokasi  di luar kawasan Taman Nasional Siberut (TNS) di wilayah Siberut Utara yang masih memiliki potensi kelimpahan primata terutama Bilou, Owa Mentawai, survey awal  sebelum dilakukan survey populasi dengan menggunakan metode vocal count.Kegiatan ini dilakukan pada bulan Maret 2026. 

Persiapan

Sebelum kami melakukan perjalanan, terlebih dahulu informasi tentang keberadaan bilou dari masyarakat yang merupakan penduduk Sikabaluan dikumpulkan. Kegiatan ini dilakukan dengan melakukan komunikasi melalui telepon seluler. Informasi awal dari penduduk setempat ini dirasa penting karena sudah sejak 2013 tim belum melakukan perjalanan ke kawasan-kawasan hutan di daerah Siberut Utara ini. Selama satu dekade terakhir kawasan yang berada di luar zona inti TNS diduga kuat sudah banyak terdapat perubahan vegetasi hutan dan perubahan fungsi lahan. Proyek-proyek pembangunan infrastruktur oleh pemerintah berupa akses jalan, aktifitas perusahaan logging dan aktifitas pemanfaatan lahan oleh penduduk pasti akan memberi pengaruh yang besar dalam distribusi dan keberadaan primata di kawasan itu. 

melintasi jembatan roboh jl Monganpoula - Sotboyak

Perjalanan

Sesuai dengan informasi awal yang kami dapatkan, kami memutuskan untuk melakukan kunjungan, yang kami piih pertama adalah di dusun Puran. Di wilayah dusun ini dikabarkan masih memiliki sebaran populasi primata yang relatif mudah untuk ditemui. Dusun ini merupakan bagian dari Desa Muara Sikabaluan, Siberut Utara. Jika dari arah pusat kecamatan di Muara Sikabaluan dusun ini terletak di seberang sungai Sikabaluan, untuk menuju dusun ini jika kita tidak membawa barang yang berat, kita bisa menempuh perjalanan berjalan kaki sekitar 1 jam dengan menyusuri pantai saat pasang sedang surut. Atau jika laut sedang pasang naik kita bisa menggunakan moda transportasi berupa perahu pompong ataupun bermesin tempel. 

Sesuai dengan jadwal pelayaran kapal Mentawai Fast antar pulau, dari Siberut Selatan kami berlayar menuju Pelabuhan Pokai Siberut Utara, pada jam 11.00 WIB kami sudah tiba di tujuan kami. Perjalanan kemudian kami lanjutkan dengan menggunakan ojek sepeda motor menuju Muara Sikabaluan. Di situ kami akan bertemu dengan Bastian Sikaraja, seorang pemuda dari dusun Puran yang beberapa hari sebelumnya sudah kami hubungi. Secara adat wilayah dusun Puran adalah milik dari kelompok Sikaraja, kebetulan salah seorang dari anggota Sikaraja itu yang akan menjadi pemandu kami untuk melihat situasi hutan di sekitar dusun Puran. Perjalanan laut dengan perahu bermesin tempel 15 PK hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit saja, kami sudah tiba di rumah Bastian Sikaraja. Sebuah rumah di permukiman yang baru 2 tahun lalu dibangun. Permukiman yang mereka huni ini adalah sebuah permukiman baru, pemerintah melaksanakan program relokasi penduduk dari permukiman lama yang terletak di tepi pantai sebagai bagian ari program mitigasi dari ancaman tsunami. 

Sesudah beristirahat sejenak, sore itu kami kemudian berangkat untuk melakukan observasi di hutan sekitar perumahan penduduk itu dengan ditemani oleh 3 orang penduduk Puran. Dan benar saja, seperti penyampaian mereka, kami segera melihat sosok bayangan primata yang bertengger di dahan pohon pulai. Pohon pulai itu berada di dekat rumah yang berderet paling dekat dengan kawasan hutan rawa yang mengelilingi sebagian permukiman itu, mungkin sekitar 50 meter saja. Kami kemudian berjalan menuju ke arah pohon itu. Seekor simakobu terlihat sedang beristirahat di dahan pohon itu. Dia kemudian terlihat bergerak mengambil tunas pulai itu dan memakannya. Namun sayang sekali, karena tidak terdapat jalur jalan menuju ke arah pohon pulai itu, suara berisik dari langkah-langkah kaki kami yang menginjak ranting-ranting kering membuat simakobu agak terganggu dan kemudian turun dari pohon, kemudian menghilang dari pandangan mata kami. 

simakobu ( Simias concolor)

Kami kemudian bergerak memasuki hutan rawa yang saat itu sedang cukup kering untuk kami masuki. Dari rumah terakhir di permukiman itu kami hanya masuk sekitar 200 meter saja melalui jalan setapak. Namun karena hari sudah mulai gelap kami tidak bisa mengambil foto primata yang kami lihat petang itu. 3 individu joja dan 1 individu simakobu terlihat dari jarak yang cukup dekat. 

Malam itu kami beristirahat di rumah Bastian Sikaraja. Pagi masih gelap, jam 04.00 WIB kami sudah terjaga dan kemudian duduk di teras, mendengarkan suara-suara satwa malam dan primata dari hutan dan perbukitan di sekitar permukiman itu. Morning call dari bilou terdengar dari 4 arah yang berbeda. Sementara suara jenis-jenis primata Siberut yang lain yaitu joja, bokkoi dan simakobu terdengar jelas sahut-menyahut di jarak yang cukup dekat, yang terdekat ada beberapa sumber suara yang bahkan kami perkirakan hanya berjarak kisaran puluhan meter saja di sekitar perumahan di Puran. 

Keesokan harinya jam masih menunjukkan pukul 05.30 WIB saat kami kemudian bergerak menuju perbukitan yang berada di arah barat permukiman ke arah kami mendengar salah satu suara morning call bilou. Menurut beberapa orang penduduk Puran, dari arah situ memang sering terdengar suara great call. Punggungan perbukitan itu oleh warga Puran dikenal sebagai Leleu Munduk. 

Namun setibanya kami di badan jalan Trans Siberut yang sudah bersemak tebal, kami tidak segera menemukan jalur jalan setapak menuju puncak bukit itu. Hari semakin siang, plan B kemudian diambil, kawatir kami akan kesiangan saat mencapai punggungan perbukitan kami pindah arah menuju ke puncak bukit yang bisa kemi temukan jalur jalannya. Kami menyusuri jalur jalan Trans Siberut dimana kelompok keluarga Sikaraja membuka perladangan di sepanjang kiri-kanan jalur jalan Trans Siberut yang menghubungkan Puran-Sirilogui itu. Jalur jalan itu sudah ditumbuhi semak belukar dan rerumputan yang cukup tebal dan tinggi membuat badan kami kemudian basah oleh embun yang menempel di belukar dan rerumputan itu. 

Bilou ( Hylobates klosii)

Sekitar jam 06.15 WIB, kami tiba di punggungan perbukitan yang sudah terbuka akibat pembukaan jalur jalan itu. Baru saja kami berhenti, kami langsung melihat bayangan kelompok primata di kerimbunan pepohonan di tepi jalur jalan itu. Kami kemudian bergerak perlahan mendekat. Tetapi semak yang rapat dengan jenis-jenis rotan kecil yang berduri menghambat langkah kami. Kelompok primata itu tidak terlihat dengan jelas, tetapi kami memperkirakan adalah 2 spesies yang berbeda, kemungkinan besar adalah simakobu dan joja. Saat kami merasa primata-primata itu sudah bergerak menjauh, tiba-tiba kami melihat satu individu bilou yang bergerak cepat, mungkin karena terkejut dengan kehadiran kami yang tidak menyangka jika di situ masih ada primata yang bersembunyi. Kami tepat berada di bawah pohon tempat 2 individu bilou itu bertengger. Awalnya kami sempat ragu jika yang kami lihat terakhir itu adalah kelompok bilou. Keduanya segera menghilang dibalik rimbunnya dedaunan pepohonan itu. Kami mengendap-endap, memperhatikan dengan hati-hati. Namun yang terlihat sedang memanjat batang pohon tidak jauh dari titik menghilangnya bilou itu adalah seekor simakobu muda. Dia terlihat sedang menikmati pucuk daun muda dari pohon itu. 

kailaba ( Antracoceros albirostris)

Sampai jam menunjukkan pukul 10.00 WIB kami tidak berhasil mendengar suara great call dari kelompok-kelompok bilou di sekitar permukiman Puran. Kami kemudian bergerak meninggalkan tempat kami melakukan pengamatan. Beberapa jenis burung berhasil kami lihat di pagi itu, beberapa tempat di sekitar kami juga terdengar suara dari simakobu, joja dan bokkoi yang sesekali mengejutkan kami karena terdengar cukup keras karena berada tidak jauh dari tempat kami melakukan pengamatan

Perjalanan pulang kami tempuh melalui jalur yang berbeda, kali ini kami melewati tepian hutan rawa melalui jalur jalan setapak. Menjelang tiba di permukiman, kami melintasi keluarga yang sedang bekerja membuka petak sawah baru di tepian hutan rawa itu. Menurut cerita mereka, sekelompok bilou berjumlah 3 individu beberapa hari lalu terlihat tidak jauh dari punggungan perbukitan tempat kami melakukan pengamatan. Kebetulan dia sedang membawa senapan angin, dia dengan jujur menceritakan jika seekor bilou dewasa dia tembak dengan senapan angin itu dan mengenai bagian pingganggnya. Kelompok bilou itu kemudian kabur namun orang itu meyakini jika bilou itu tidak mati karena senapan angin yang dipakai hanya berukuran standar dan tidak mempergunakan racun.

hutan di belakang pantai puran, habitat primata mentawai

Susur pantai sore hari

Sore harinya kami kemudian memutuskan untuk melakukan pengamatan di bagian pantai. Sepanjang pantai yang mengarah ke Muara Sikabaluan adalah pantai pasir yang berbatas dengan hutan rawa pasang-surut. Menurut cerita dari penduduk Puran kawasan itu adalah habitat dari  ke 3 primata selain bilou. Perjalanan kami sore itu kami tempuh dengan berjalan kaki santai, sambil mengamati kemungkinan perjumpaan dengan primata-primata itu. Benar saja, tidak jauh dari muara sungai Puran kami sudah berhasil melihat sekelompok simakobu, tetapi karena sore hari, sinar matahari sore membuat kami silau sehingga agak sulit untuk melakukan pengamatan. Namun sepanjang garis pantai, di sore itu kami berhasil melihat 3 kelompok simakobu dan 1 kelompok joja. Beberapa jenis burung yang juga kami lihat sore itu adalah dari jenis laitumuan atau kepodang hutan, kirik-kirik laut, pergam gading dan pergam abu-abu.

Pengamatan suara dari permukiman

Karena pemandu kami rupanya ada kegiatan yang mengharuskan dia berangkat ke Padang pada esok harinya, kami kemudian memutuskan untuk ikut berangkat ke Muara Sikabaluan bersama-sama.

Jam 04.00 WIB kami sudah terbangun dari tidur dan kemudian duduk di teras rumah, melakukan pengamatan suara. Kami tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan pengamtan suara dari ketinggian punggunan bukit karena jam 09.00 WIB pemandu kami akan berangkat ke Muara Sikabaluan untuk kemudian berangkat ke Padang. Tidak lama berselang, suara-suara primata endemik Siberut itu sudah mulai bersahut-sahutan di sekitar rumah, sama dengan pagi hari saat hari pertama kami bermalam kemarin. Namun selain suara joja, simakobu dan bokkoi kali ini kami lebih fokus terhadap suara bilou. Sampai matahari sudah bersinar dan jam sudah menunjukkan pukul 06.00 saat aktifitas penduduk semakin ramai, kami berhasil mendengar 4 sumber suara morning call dari bilou, tetapi tidak ada yang bersuara great call, sampai para primata itu kemudian semakin jarang terdengar suaranya. 

Menurut beberapa penduduk, ada 2-3 kelompok bilou yang sering memperdengarkan suara great call, terutama dari arah perbukitan Munduk. Di kawasan itu biasanya terdengar 2 greatcall. Tetapi 2 hari kami berada di Puran kami belum berhasil mendengar suara great call dari Biloudi sekitar hutan  Puran.

Pengamatan di Bagan Bajuman, Sotboyak dan Sirilanggai

Dari beberapa informasi yang kami dapatkan, besok harinya dengan dipandu oleh P. Kusmiyadi staf BTNS yang kami kenal, kami berangkat untuk melakukan pengamatan suara, mengambil titik tidak jauh dari perladangan milik P. Kusmiyadi yaitu di Bagan Bajuman. Wilayah ini secara administatif masuk dalam wilayah desa Sotboyak. Dengan mempergunakan sepeda motor kami berangkat menyusuri jalan trans Siberut yang menghubungkan Muara Sikabaluan-Sotboyak. Seperti yang sudah kami perkirakan, selama 1 dekade terakhirsudah banyak sekali perubahan fungsi lahan. Lahan yang dahuulnya adalah hutan habitat dari satwa dan primata endemik Siberut itu kini sudah berubah menjadi jalur jalan yang lebar. Sepanjang kanan dan kiri jalur jalan itu kini adalah perladangan milik masyarakat setempat. 

Tiba di dekat jalur jalan setapak yang mengarah ke ladang P. Kusmiyadi kami kemudian menghentikan sepeda motor dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Kami memilih pondok kecil di perbukitan itu untuk melakukan pengamatan. Jam menunjukkan pukul 08.30 WIB saat kami berhasil mendengar suara great call yang terdengar cukup jauh. Kami memperkirakan berada di sekitar jarak 1 km dari tempat kami melakukan pengamatan. Suara great call pertama belum berhenti, kami segera mendengar suara greatcall ke dua dan ke tiga dari jarak yang relatif dekat, sekitar 300-400 meter saja dari tempat kami melakukan pengamatan. Pagi itu total kami berhasil mendengar suara great call bilou sebanyak 3 kali. Dari tempat kami melakukan pengamatan itu, kami juga berhasil mendengar suara joja dan bokkoi. 

Kawasan tempat kami melakukan pengamatan yang ke dua ini adalah termasuk dalam hutan yang dikuasai oleh uma SIrirui. Namun sejak pembukaan jalur jalan Trans Siberut Muara Sikabaluan-Sotboyak, kawasan hutan ini sebagian besar sudah beralih fungsi menjadi kawasan perladangan penduduk. Sumber suara great call dari kelompok bilou itu terlihat masih merupakan hutan yang memiliki tegakan-tegakan pohon-pohon alam yang berukuran besar. 

Siang itu kami kemudian pulang kembali ke penginapan kami di Muara Sikabaluan. 

Sore harinya kami kemudian berangkat untuk melakukan pengamatan primata di tepian jalur jalan Muara Sikabaluan-Mongan Poula. Di tempat itu menurut informasi yang kami peroleh penduduk sering melihat kelompok-kelompok bokkoi. Benar saja. Kami berhasil melihat setidaknya 3-4 ekor bokkoi muda yang sedang berkejar-kejaran. Namun sayangnya kami tidak berhasil mengambil foto yang bagus, kelompok bokkoi itu menyadari kedatangan kami dan kemudian bergerak di lantai hutan rawa itu. Namun gagal mengamati serombongan bokkoi itu kami malah berhasil melihat serombongan burung langka, merpati hutan perak. Beberapa ekor burung itu terlihat sedang sibuk mengerumuni pohon yang tumbuh tidak jauh dari jalan yang menghubungkan antara Muara Sikabaluan-Monganpoula. Belum puas kami menikmati pemandangan langka itu tiba-tiba pemilik kebun nenas di dekat situ datang. Di dekat kebun orang itu pohon yang menghasilkan buahan hutan yang menjadi makanan burung-burung itu tumbuh. Burung-burung itu kemudian bubar, pindah ke bagian lain dari hamparan lahan yang dahulunya adalah rawa-rawa itu. Kawanan burung itu terlihat hinggap bergerombol di dahandahan pohon tumu yang tinggi menjulang. 

merpati hutan perak, Columba argentina

Galig ( Psitinus cyanurus)

Esok paginya mengisi waktu sebelum kami harus berangkat dengan kapal terakhir sebelum jadwal pelayaran diliburkan untuk memberi kesempatan awak kapal merayakan hari raya Idul Fitri, kami menyempatkan diri untuk melakukan pengamatan di punggungan perbukitan di dekat Sirilanggai. Menurut informasi awal yang kami peroleh, dari arah perbukitan Sigoibong. Di punggungan bukit tepian jalan menuju Sirilanggai kami kemudian melakukan pengamatan. Punggunan bukit ini merupakan perladangan yang belum lama dibuka. Terlihat dari vegetasi tanaman yang masih kecil dan pokok-pokok rumpun pisang yang sudah terserang penyakit yang mendominasi hamparan lahan itu. Jam menunjukkan pukul )7.30 WIB saat kami mendengar suara morning call dari seberang jalan. Jarak sumber suara itu kami perkirakan sekitar 400 meter saja. Sumber suara itu terlihat dari pepohonan pulai yang tumbuh di hutan rawa dekat perbukitan. Namun tidak lama kemudian suara morning call itu kemudian menghilang. Pagi itu kami tidak berhasil mendengar suara great call dari perbukitan Sigoibong, Sirilanggai.

Kesimpulan

Dari hasil kunjungan singkat itu, kami melihat jika dalam 12 tahun terakhir kawasan Siberut Utara di bagian luar zona inti TNS telah mengalami perubahan fungsi kelola lahan yang cukup signifikan. Aktifitas dari pembangunan infrasruktur berupa jalan yang ditujukan untuk akses antar kecamatan melalui skema Trans Siberut dan pembukaan permukiman baru di Puran untuk program mitigasi kebencanaan ancaman tsunami di sisi lain telah memberikan tekanan yang tinggi kepada hutan dan keanekaragaman hayati sekitar dusun Puran. Di sepanjang kanan-kiri jalur jalan itu kini telah berubah menjadi kawasan perladangan masyarakat. Jalur jalan yang mengambil jalur di kaki perbukitan dan memotong kontur perbukitan ke arah desa Sirilogui telah membuat vegetasi hutan di sekitar Puran berubah menjadi lahan terbuka. Kawasan yang dahulunya adalah habitat dari bilou. Kini jenis-jenis primata selain bilou banyak ditemukan di kawasan hutan rawa yang berada di sekeliling permukiman dusun Puran. Ke 3 jenis primata selain bilou itu relatif mudah untuk dijumpai. Namun selama 2 hari di Puran, kami masih berhasil mendengar 4 sumber suara morning call, 3 dari arah punggungan perbukitan dan 1 sumber suara dari arah hutan rawa tidak jauh dari kawasan pesisir. Menurut informasi dari penduduk setempat, suara great call sering mereka dengar dari arah perbukitan yang mereka kenal sebagai Leleu Munduk.

Sementara itu di kawasan yang lain yaitu di sekitar Muara Sikabaluan, Mongan Poula, Sotboyak,Pokai dan Sirilanggai, kami mendapat informasi keberadaan bilou di hutan milik uma Sirirui yaitu di Bagan Bajuman yang secara administratif masuk dalam wilayah desa Sotboyak. Kawasan ini dalam 12 tahun terakhir telah banyak mengalami perubahan fungsi lahan. Tempat yang dahulunya adalah hutan kini di banyak tempat penduduk telah membuka perladangan. Terdapat 2 jalur jalan yang telah dibangun dalam 15 tahun terakhir, yang pertama adalah jalur jalan yang dikelola dengan skema swa-kelola oleh masyarakat melalui keproyekan yang dikelola oleh kelompok masyarakat. Jalur jalan ini biasanya dibangun untuk penghubung antar dusun dan antar desa. Jalur jalan yang ke dua adalah jalan besar yang dikelola kontraktor sebagai bagian dari proyek pembangunan Trans Siberut. Di Siberut Utara, sebagian kawasan hutan di luar kawasan TNS juga telah menjadi konsesi kelola perusahaan logging yang baru di awal tahun ini berhenti beroperasi. Selama 2 hari kami melakukan observasi dan pengamatan, kami hanya mendapatkan 3 greatcall bilou di kawasan hutan Bagan Bajuman di wilayah desa Sotboyak dan 1 morning call di Hutan Sigoibong, dusun Sirilanggai.

Di sepanjang jalur jalan Muara Sikabaluan-Mongan poula kami menemukan beberapa spot yang menyediakan vegetasi tumbuhan kayu di daerah rawa-rawa yang menghasilkan buahan hutan sumber pakan yang disukai oleh beberapa jenis burung. Di antara beberapajenis burung itu yang menarik adalah serombongan burung merati hutan perak (Columba argentina). menurut beberapa orang penduduk jenis burung langka itu memang sering terlihat di kawasan itu saat musim-musim tertentu, saat pepohonan penghasil makanannya berbuah. Kunjungan kami itu adalah di bulan Maret 2026, pengujung musim buah pepohonan hutan itu.



Wednesday, April 29, 2026

Pelatihan Kopi Naungan: menuju keselarasan ekonomi dan konservasi

 

foto bersama persta workshop

Sidiq Harjanto, Vika Bayu Iriyanto, & Muhammad Kuswoto

Di Petungkriyono, kopi bukan sekadar komoditi. Ia tumbuh di bawah naungan pohon-pohon hutan–berbagi ruang dengan satwa liar, termasuk Owa Jawa. Di rumah-rumah warga Petung, kopi dihidangkan, dibicarakan, dan diposisikan sebagai pengikat kebersamaan lintas generasi. Berangkat dari realitas ini, konservasi Owa Jawa di Petungkriyono berupaya memadukan pengelolaan habitat, penguatan ekonomi, dan revitalisasi sosial budaya. Kopi menjadi titik masuk strategis sekaligus daya ungkit (leverage) untuk visi besar itu.

Pada Selasa, 21 April 2026, telah diadakan Workshop dan Pelatihan “Kopi Naungan” bagi para petani kopi terpilih dari sepuluh lokasi yang tersebar di desa-desa habitat inti maupun penyangga habitat owa jawa. Bertempat di Dusun Sokokembang, Desa Kayupuring; kami mengundang 25 orang petani di lingkup Kecamatan Petungkriyono, Talun, dan Doro. Melalui dukungan dan pembiayaan dari Air Asia Foundation, workshop dan pelatihan ini merupakan bagian dari program social enterpriseOwa Coffee: Guardian of the Gibbon” selama satu tahun.

Sebanyak 24 orang peserta mengikuti seluruh rangkaian acara hari itu (satu orang peserta berhalangan hadir). Para peserta berlatar belakang petani dari berbagai rentang usia. Mereka memiliki interaksi yang intens dengan satwa liar, yang dalam praktik sehari-hari mencakup pemanfaatan sumber daya hutan sekaligus menghadapi tantangan konflik dengan satwa pada lahan pertanian. Workshop ini bertujuan memperkuat peran mereka sebagai aktor kunci yang mengelola zona kontak antara aktivitas manusia dan kehidupan liar melalui praktik budidaya yang harmonis.

Dalam seremoni pembukaan, hadir Kepala Desa Kayupuring, Kapolsek Petungkriyono, dan perwakilan dari Perum Perhutani BKPH Doro. Semua pihak, sebagai stakeholder pengelolaan kawasan hutan Petungkriyono, menyambut baik program ini. Arif Setiawan (Direktur SwaraOwa) dalam sambutannya menyampaikan latar belakang program ini yang merupakan kelanjutan dari skema pengembangan ekonomi masyarakat melalui program Kopi dan Konservasi primata yang telah dirintis sejak 2013.

ilustrasi kopi naungan dari salah satu peserta

Kopi naungan dalam paradigma multidimensional

Implementasi kegiatan ini adalah memfasilitasi para petani kopi dalam memperoleh penguasaan teoretis maupun pengalaman empiris mengenai potensi kopi sebagai komoditas perkebunan tahunan yang strategis untuk dikembangkan. Konsep agroforestri kopi berbasis naungan (shade-grown coffee) yang diinisiasi menekankan pada aspek simbiosis antara budidaya kopi dengan pelestarian habitat satwa liar, khususnya Owa Jawa (Hylobates moloch).

Secara ekologis, tanaman kopi memerlukan tutupan vegetasi sebagai pelindung optimal bagi pertumbuhannya. Di sisi lain, Owa Jawa sebagai spesies primata arboreal membutuhkan kontinuitas tajuk untuk mendukung mobilitas dan aktivitas hariannya. Selain Owa Jawa, keberadaan struktur vegetasi yang kompleks ini juga menjadi mikrohabitat esensial bagi keanekaragaman hayati lainnya, termasuk Lutung Jawa (Trachypithecus auratus), Rekrekan (Presbytis fredericae), dan berbagai spesies avifauna (burung).

Pada sesi pertama, diberikan materi dan kesempatan tanya-jawab mengenai konsep kopi naungan melalui agroforestri, lanskap dan potensi pasar kopi, pengelolaan kopi ramah satwa, dan potensi sumber daya pangan dalam kebun kopi naungan. Tim SwaraOwa memaparkan konsep Kopi Naungan untuk konservasi Owa Jawa di Petungkriyono. Dalam konsep ini, pengelolaan kebun kopi tidak lagi hanya mengandalkan logika linear seperti intensifikasi untuk peningkatan hasil, melainkan pendekatan multidimensional. Kopi naungan mensyaratkan praktik perlindungan tutupan vegetasi (coverage), keragaman spesies pohon asli, organik, komitmen perlindungan satwa liar, dan jaminan ruang partisipasi bagi kaum perempuan.

Edi Dwi Atmaja dari Katamata Coffee memaparkan gambaran situasi pasar kopi di Indonesia yang memang masih didominasi oleh kopi konvensional. Namun, dalam beberapa tahun belakangan, ceruk pasar yang mengapresiasi kopi dengan skema khusus–termasuk kopi naungan untuk konservasi–terus tumbuh. Berbasis sepuluh tahun pengalaman di bisnis roastery dan kedai kopi, ia melihat peluang pasar semakin terbuka. Kopi naungan membangun segmentasi khusus, memiliki potensi tambahan nilai ekonomi dari apresiasi konsumen terhadap praktik baik yang dijalankan. Dalam pengembangannya, selain memastikan praktik terbaik di kebun dan rantai pasok yang bertanggungjawab sebagai syarat mutlak, membangun narasi yang menarik untuk menggugah pasar menjadi strategi yang perlu terus dikembangkan ke depannya.

Di Desa Kemuning, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung, skema kopi konservasi dijalankan oleh Javan Wildlife Institute (JAWI). Denis Albihad selaku direktur JAWI memaparkan skema yang dijalankan di Kemuning bersama kelompok masyarakat yang didampingi. Pembudidayaan kopi telah dijalankan secara organik, melindungi pepohonan hutan, dan terintegrasi dengan skema konservasi Kukang Jawa (Nycticebus javanicus). Tidak hanya dari panenan kopi, para petani yang tergabung dalam kelompok juga menerima manfaat ekonomi dari tumbuhnya aktivitas ekowisata.

Kopi naungan memungkinkan nilai tambah dari potensi pangan–aneka spesies liar: herba, perdu, dan aneka jamur hutan yang mengisi lapisan bawah (understory). Dalam presentasinya, Amelia Nugrahaningrum menampilkan segenap potensi pangan lokal di Petungkriyono. Sebagian masih lazim dimanfaatkan hingga sekarang, sementara sebagian lainnya mulai jarang diketahui. Melalui lembaga Genau Indonesia, Amel dan suaminya mencoba berkontribusi melestarikan potensi pangan itu melalui skema wisata pengalaman (experience-based tourism) di Desa Tlogopakis.

peserta menjelaskan praktik terkini tentang kopi di desanya

Mempertajam implementasi praktik kopi naungan

Pada sesi kedua, melalui focus group discussion (FGD), semakin terang bahwa kopi–dan pembudidayaannya–merupakan titik simpul dari berbagai aspek kehidupan masyarakat. Ada irisan banyak kepentingan di sana sehingga perlu ketelitian dan kehati-hatian dalam menyikapinya. Setidaknya kami membedahnya dari perspektif ekologi, ekonomi, dan sosial budaya.

Kopi merupakan salah satu komoditi utama selain berbagai tanaman agroforestri seperti rempah-rempah, durian, petai, aren, dan umbi-umbian. Hanya saja, para petani cenderung menganggap kopi sebagai tumpuan harapan utama sehingga belum mengoptimalkan komoditas lain. Padahal, berbagai tanaman komoditas yang tumbuh bersama spesies asli dalam satu lahan kelola tidak saja memberi manfaat ekonomi, tetapi juga menciptakan mikroekosistem yang menjaga resiliensi agroforestri sendiri. Kebun dengan vegetasi kompleks secara otomatis memungkinkan terjadinya feedback loop dalam jasa pengendalian hama, penyerbukan, dan perlindungan dari kekeringan ekstrem.

Mayoritas peserta mengeluhkan interaksi dengan satwa liar yang tak jarang menyebabkan konflik pada lahan pertanian. Misalnya, keberadaan populasi Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) yang dianggap sebagai hama pertanian oleh para petani. Hal ini juga terjadi di banyak tempat di Indonesia dan hingga saat ini belum ada konsensus dalam mengurai masalah ini. Melalui FGD, justru muncul peluang: sains warga (citizen science) yaitu melibatkan petani dalam pengumpulan data lapangan. Ketersediaan data seperti populasi, perilaku, dan eksistensi musuh alami–predator, bisa menjadi informasi berharga untuk pemecahan masalah ini di masa depan.

Harapan untuk sistem pertanian yang berkelanjutan masih ada. Para peserta saling berbagi pengalaman masing-masing. Cukup banyak cerita positif. Bapak Sawal dari Desa Lemahabang menceritakan kebiasaan menanam cabai dan umbi-umbian di kebun. Beliau menanam untuk memanen dan mengonsumsi sendiri. Manfaat ekonomi tidak datang secara langsung, melainkan dari substitusi: menghemat pengeluaran uang tunai dengan cara menginvestasikan tenaga–menanam sendiri bahan pangan sehari-hari.

Rudi, petani muda dari Sawangan Ronggo menggambarkan langsung dalam kertas plano bagaimana komposisi kebun kopi di dusunnya yang masih memberi ruang bagi berbagai spesies pohon hutan seperti: bendo, kayu babi, gintung, sentul, dan aren. Sawangan Ronggo punya potensi aren yang melimpah, menjadi penopang ekonomi melalui gula aren. Melalui sketsa yang dibuatnya, tampak tanaman kapulaga mengisi lapisan vegetasi bawah. Rempah ini menjadi sumber pendapatan tambahan yang bisa dipanen dua bulan sekali.

Muncul pula usulan untuk mengintegrasikan budidaya lebah ke dalam kebun kopi. Integrasi lebah ke kebun bisa membawa banyak manfaat. Secara ekonomi, budidaya lebah bisa menjadi tambahan pemasukan melalui pemanenan madu. Di sisi lain, lebah merupakan agen penyerbuk yang efisien, baik bagi tanaman kopi maupun spesies pohon liar secara umum. Sebagai konsekuensi, praktik organik menjadi keniscayaan untuk melindungi lebah dari paparan bahan kimia. Piloting budidaya lebah lokal telah dirintis SwaraOwa sejak 2017 di Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang.

Workshop dan pelatihan ini menjadi pembuka kolaborasi jangka panjang kami. Pada bulan Mei, berbarengan dengan awal musim panen kopi, kami akan kembali bertemu dalam kegiatan serupa dengan tema yang lebih praktikal: proses pasca-panen kopi. Melalui skema kopi naungan yang holistik–berbasis kedalaman wawasan dan keterampilan mumpuni, kami berupaya mencapai keselarasan antara kepentingan kelestarian alam dan kepentingan kesejahteraan masyarakat.

Sebagai penutup, sesuai dengan tema workshop ini, "Owa coffee : guardian of the gibbon" bisa di artikan  "Kopi Owa : Penjaga hutan dan Owa", maksudnya adalah bukan sekadar branding, melainkan menekankan bahwa:

1. Produksi kopi ini melibatkan petani sebagai aktor utama.  Mereka bukan hanya produsen kopi, tetapi juga bagian dari gerakan konservasi.

2. Petani berperan ganda: menghasilkan kopi berkualitas sekaligus menjaga hutan sebagai habitat owa. Dengan begitu, setiap cangkir kopi yang dihasilkan membawa pesan bahwa kopi ini lahir dari hutan yang tetap lestari.

3. Makna simbolis: kopi menjadi medium yang menghubungkan konsumen dengan perjuangan petani menjaga owa dan hutan.


Friday, April 3, 2026

Pemetaan Potensi Kopi untuk Inklusivitas Habitat Owa Jawa

 

Owajawa ( Hylobates moloch) di temukan di habitat kopi naungan hutan alam /rustic shade grown coffee

Oleh : Sidiq Harjanto & Muhammad Kuswoto

Kopi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap habitat Owa Jawa di Hutan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan. Ada irisan kepentingan yang nyata antara kebutuhan ekonomi masyarakat dengan keutuhan hutan sebagai habitat berbagai satwa liar, termasuk primata endemik yang terancam punah ini. Belum lagi sederet fungsi hutan seperti penjaga siklus air dan pengikat tanah–pencegah longsor. Melanjutkan upaya untuk menemukan titik keseimbangan berbagai kepentingan itu, pada tahun ini kami memulai perluasan skema pengembangan kopi naungan (shade-grown coffee).

Selama satu bulan terakhir, kami telah melaksanakan pendataan terhadap komunitas petani kopi. Survei ini dilakukan ke sepuluh lokasi, meliputi enam desa dekat hutan di tiga kecamatan yang merupakan penyangga habitat Owa Jawa di Hutan Petungkriyono. Pendataan ini melintasi gradien ekologi maupun sosio-ekonomi yang kontras, mulai dari dataran yang relatif rendah–kurang lebih 300 mdpl, hingga dataran tinggi di atas 1.500 mdpl, mulai dari masyarakat petani hutan hingga masyarakat petani sayur–peladang intensif.

Pendataan ini tidak hanya memotret aspek pembudidayaan kopi, tetapi juga mencoba menyelami karakteristik masyarakat yang beranekaragam, mulai dari pola interaksi sosial hingga relasi mereka terhadap sumber daya hutan secara umum. Metode pendataan dilakukan dengan wawancara untuk melihat beberapa aspek: model pengelolaan kebun kopi yang dijalankan, potensi komoditas selain kopi, hingga aktivitas lain yang dilakukan di hutan. Sedangkan untuk mendapatkan gambaran langsung mengenai praktik budidaya kopi, kami melakukan peninjauan langsung ke kebun-kebun kopi yang dikelola masyarakat.

rustic shade-grown coffee /kopi naungan hutan alam 

Spektrum agroforestri kopi

Ada beberapa catatan menarik yang kami rangkum. Dari sisi produksi kopi, karena variasi ketinggian (altitude) yang cukup ekstrem, lokasi-lokasi penghasil kopi memiliki profil spesifik. Tujuh lokasi merupakan penghasil kopi robusta, sedangkan tiga lokasi lainnya dominan menghasilkan kopi arabika. Jenis kopi excelsa dan liberika juga dijumpai, namun kuantitasnya relatif kecil.

Kami menemukan ada tiga spektrum utama dalam pola pembudidayaan kopi di sekitar habitat Owa Jawa, dan sebagai penyederhanaan kami menyebutnya: kebun campur, agroforest sederhana, dan naungan hutan. Pada dasarnya, semua tipe merupakan bentuk agroforestri, tetapi berbeda dalam struktur penyusun dan kompleksitasnya. Pertama, yang dimaksud kebun campur adalah pembudidayaan kopi yang relatif intensif (dengan penyambungan batang, pemangkasan, dan kadang pemupukan) dikombinasi dengan jenis-jenis tanaman komoditi seperti cengkih, durian, alpukat, hingga pisang. Umumnya, praktik ini dilakukan di kebun milik atau di lahan hutan yang mudah diakses.

Burung paruh kodok, ditemukan di habitat kopi naungan rustic

Kedua, agroforest sederhana adalah saat tanaman kopi dikombinasikan dengan tanaman pangan seperti sayur-mayur atau jagung. Praktik ini jamak dilakukan di dataran tinggi dengan komoditas kopi dari jenis arabika. Kopi ditanam sebagai tanaman pembatas kebun atau tanaman sela pada ladang-ladang sayur ataupun tanaman jagung. Terkadang dijumpai pula pohon-pohon penaung, baik jenis liar maupun komersil sehingga menyerupai kebun campur. Meskipun demikian, perawatan kopi yang intensif jarang dijumpai pada tipe ini.

Ketiga, tipe naungan hutan (rustic shade) merupakan pembudidayaan kopi yang berada dalam kawasan hutan dan tumbuh di bawah naungan pohon-pohon hutan. Dalam praktik ini, perlakuan atau perawatan terhadap tanaman-tanaman kopi sangat minim, tanaman kopi umumnya tumbuh tinggi karena berlomba mendapatkan paparan cahaya matahari dengan pepohonan hutan. Pada tipe ini, kopi adalah bagian dari strata hutan itu sendiri. Tipe inilah yang paling ramah terhadap keberadaan satwa liar, termasuk Owa Jawa. Kami menjumpai beberapa praktik baik dalam pengelolaan kopi naungan hutan, misalnya: konservasi spesies pohon tertentu sebagai penaung, seperti pohon bendo (Artocarpus elasticus).

Aktivitas ekstraktif di desa-desa penghasil kopi


Kopi robusta kebun campur

Selain menggali potensi kopi dari desa-ke desa, kami juga menelusuri informasi mengenai aktivitas masyarakat yang berkaitan dengan hutan. Kami menjumpai masih adanya ruang aktivitas ekstraktif, termasuk perburuan satwa liar. Masalah perburuan ini melibatkan berbagai faktor yang berkelindan.

Kami mengidentifikasi tiga tipologi utama dalam aktivitas perburuan berdasarkan motivasi. Pertama, motif ekonomi: sebagian warga melakukan perburuan sebagai strategi bertahan hidup untuk menutupi celah pendapatan dari sektor utama terutama pertanian yang belum optimal. Umumnya menarget spesies burung kicauan yang punya nilai ekonomi. Kedua, motif rekreasi: sebagian lainnya melihat aktivitas ini sebagai hobi, pengisi waktu luang, atau pemuasan kegemaran yang telah mengakar dalam keseharian. Ketiga, motif pengendalian hama: sebagian masyarakat menganggap aktivitas perburuan sebagai upaya untuk mengendalikan populasi hewan-hewan yang dianggap hama bagi pertanian, misalnya babi hutan.

Kami mencoba memahami ketiga dimensi ini secara netral agar bisa menawarkan upaya intervensi yang tidak konfrontatif, melainkan substitusi nilai yang lebih berkelanjutan. Pendataan ini merupakan inisiasi untuk program peningkatan kapasitas petani dalam pengolahan kopi sekaligus untuk upaya konservasi, terutama bagi mereka yang memiliki aktivitas sampingan pemburu satwa liar. Skema ini bermaksud memperluas dampak dari Coffee and Primates Project yang telah melahirkan Owa Coffee lebih dari satu dekade lalu.

Titik nol baru kopi penjaga owa

 
Kopi arabica di tanam di tepi lahan kebun sayur

Sebagai tindak lanjut, kami akan berkolaborasi dengan 25 petani yang akan menjadi pionir dalam program peningkatan kapasitas selama kurang lebih satu tahun ke depan. Fokus utama kami adalah membangun komitmen jangka panjang untuk mengalihkan energi dan sumber daya mereka dari aktivitas berburu ke pengelolaan Kopi Naungan (shade-grown coffee). Upaya ini diarahkan untuk meningkatkan ekonomi keluarga petani melalui kopi berbasis agroforestry, sekaligus mengurangi aktivitas berburu di Hutan Petungkriyono.

Tentu tidak ada resep tunggal untuk mengurai problematika tersebut, tetapi ada beberapa tawaran untuk itu. Strategi Resiliensi Ekonomi: meningkatkan nilai tambah produk melalui perbaikan pasca-panen dan diversifikasi tanaman dalam lahan kopi (multi-komoditi). Targetnya adalah memastikan pendapatan dari kopi naungan lebih stabil dan menguntungkan ketimbang aktivitas ekstraktif di hutan. Petani didorong untuk tidak hanya menggantungkan nasib pada kopi sebagai komoditas tunggal, tetapi mengombinasikan dengan berbagai komoditas lain.

Strategi Prestise dan Keterampilan: mengalihkan aspek "tantangan" dan "kesenangan". Dari aktivitas berburu yang menantang ke iklim kompetitif lain yang produktif, misalnya kualitas kopi (specialty coffee). Kesenangan untuk mengeksplorasi hutan juga membawa peluang untuk melibatkan para petani dalam pendataan dan pemantauan kehati secara partisipatif dalam bingkai citizen science. Kontribusi kawan-kawan petani muda di Desa Mendolo dalam skema ini telah membuktikannya.

Tak bisa dimungkiri bahwa konflik satwa liar seringkali merupakan puncak gunung es dari permasalahan yang lebih besar dan kompleks. Munculnya gangguan pada tanaman budidaya oleh satwa liar bisa jadi disebabkan gangguan pada keseimbangan ekosistem: akibat hilangnya peran predator, misalnya. Strategi Literasi Ekologi (ekoliterasi): diterapkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat petani terhadap pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem demi keberlanjutan pertanian kita.

Bisa dibilang, pendataan ini menjadi titik nol baru bagi perjalanan panjang ke depan, di mana upaya gotong royong kita untuk kesejahteraan petani dan kelestarian habitat Owa Jawa tumbuh secara beriringan dalam satu lanskap produktif yang inklusif. Mengarusutamakan kopi naungan bukan saja menjaga resiliensi ekonomi masyarakat petani, tetapi juga menjaga koneksivitas habitat–prasyarat mutlak bagi kelestarian satwa liar. Artinya, prinsip inklusivitas berlaku tidak saja kepada sesama manusia, namun diperluas: termasuk memberi ruang kepada satwa liar. Kami ucapkan terima kasih kepada Air Asia Foundation atas dukungan terhadap program ini.