Thursday, April 30, 2026

Dari Sikabaluan hingga Sirilanggai : Catatan pengamatan alam dan komunitas desa di Siberut Utara

Oleh : Aoysius Yoyok

Lokasi yang di kunjungi, di Siberut Utara

Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui lokasi-lokasi  di luar kawasan Taman Nasional Siberut (TNS) di wilayah Siberut Utara yang masih memiliki potensi kelimpahan primata terutama Bilou, Owa Mentawai, survey awal  sebelum dilakukan survey populasi dengan menggunakan metode vocal count.Kegiatan ini dilakukan pada bulan Maret 2026. 

Persiapan

Sebelum kami melakukan perjalanan, terlebih dahulu informasi tentang keberadaan bilou dari masyarakat yang merupakan penduduk Sikabaluan dikumpulkan. Kegiatan ini dilakukan dengan melakukan komunikasi melalui telepon seluler. Informasi awal dari penduduk setempat ini dirasa penting karena sudah sejak 2013 tim belum melakukan perjalanan ke kawasan-kawasan hutan di daerah Siberut Utara ini. Selama satu dekade terakhir kawasan yang berada di luar zona inti TNS diduga kuat sudah banyak terdapat perubahan vegetasi hutan dan perubahan fungsi lahan. Proyek-proyek pembangunan infrastruktur oleh pemerintah berupa akses jalan, aktifitas perusahaan logging dan aktifitas pemanfaatan lahan oleh penduduk pasti akan memberi pengaruh yang besar dalam distribusi dan keberadaan primata di kawasan itu. 

melintasi jembatan roboh jl Monganpoula - Sotboyak

Perjalanan

Sesuai dengan informasi awal yang kami dapatkan, kami memutuskan untuk melakukan kunjungan, yang kami piih pertama adalah di dusun Puran. Di wilayah dusun ini dikabarkan masih memiliki sebaran populasi primata yang relatif mudah untuk ditemui. Dusun ini merupakan bagian dari Desa Muara Sikabaluan, Siberut Utara. Jika dari arah pusat kecamatan di Muara Sikabaluan dusun ini terletak di seberang sungai Sikabaluan, untuk menuju dusun ini jika kita tidak membawa barang yang berat, kita bisa menempuh perjalanan berjalan kaki sekitar 1 jam dengan menyusuri pantai saat pasang sedang surut. Atau jika laut sedang pasang naik kita bisa menggunakan moda transportasi berupa perahu pompong ataupun bermesin tempel. 

Sesuai dengan jadwal pelayaran kapal Mentawai Fast antar pulau, dari Siberut Selatan kami berlayar menuju Pelabuhan Pokai Siberut Utara, pada jam 11.00 WIB kami sudah tiba di tujuan kami. Perjalanan kemudian kami lanjutkan dengan menggunakan ojek sepeda motor menuju Muara Sikabaluan. Di situ kami akan bertemu dengan Bastian Sikaraja, seorang pemuda dari dusun Puran yang beberapa hari sebelumnya sudah kami hubungi. Secara adat wilayah dusun Puran adalah milik dari kelompok Sikaraja, kebetulan salah seorang dari anggota Sikaraja itu yang akan menjadi pemandu kami untuk melihat situasi hutan di sekitar dusun Puran. Perjalanan laut dengan perahu bermesin tempel 15 PK hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit saja, kami sudah tiba di rumah Bastian Sikaraja. Sebuah rumah di permukiman yang baru 2 tahun lalu dibangun. Permukiman yang mereka huni ini adalah sebuah permukiman baru, pemerintah melaksanakan program relokasi penduduk dari permukiman lama yang terletak di tepi pantai sebagai bagian ari program mitigasi dari ancaman tsunami. 

Sesudah beristirahat sejenak, sore itu kami kemudian berangkat untuk melakukan observasi di hutan sekitar perumahan penduduk itu dengan ditemani oleh 3 orang penduduk Puran. Dan benar saja, seperti penyampaian mereka, kami segera melihat sosok bayangan primata yang bertengger di dahan pohon pulai. Pohon pulai itu berada di dekat rumah yang berderet paling dekat dengan kawasan hutan rawa yang mengelilingi sebagian permukiman itu, mungkin sekitar 50 meter saja. Kami kemudian berjalan menuju ke arah pohon itu. Seekor simakobu terlihat sedang beristirahat di dahan pohon itu. Dia kemudian terlihat bergerak mengambil tunas pulai itu dan memakannya. Namun sayang sekali, karena tidak terdapat jalur jalan menuju ke arah pohon pulai itu, suara berisik dari langkah-langkah kaki kami yang menginjak ranting-ranting kering membuat simakobu agak terganggu dan kemudian turun dari pohon, kemudian menghilang dari pandangan mata kami. 

simakobu ( Simias concolor)

Kami kemudian bergerak memasuki hutan rawa yang saat itu sedang cukup kering untuk kami masuki. Dari rumah terakhir di permukiman itu kami hanya masuk sekitar 200 meter saja melalui jalan setapak. Namun karena hari sudah mulai gelap kami tidak bisa mengambil foto primata yang kami lihat petang itu. 3 individu joja dan 1 individu simakobu terlihat dari jarak yang cukup dekat. 

Malam itu kami beristirahat di rumah Bastian Sikaraja. Pagi masih gelap, jam 04.00 WIB kami sudah terjaga dan kemudian duduk di teras, mendengarkan suara-suara satwa malam dan primata dari hutan dan perbukitan di sekitar permukiman itu. Morning call dari bilou terdengar dari 4 arah yang berbeda. Sementara suara jenis-jenis primata Siberut yang lain yaitu joja, bokkoi dan simakobu terdengar jelas sahut-menyahut di jarak yang cukup dekat, yang terdekat ada beberapa sumber suara yang bahkan kami perkirakan hanya berjarak kisaran puluhan meter saja di sekitar perumahan di Puran. 

Keesokan harinya jam masih menunjukkan pukul 05.30 WIB saat kami kemudian bergerak menuju perbukitan yang berada di arah barat permukiman ke arah kami mendengar salah satu suara morning call bilou. Menurut beberapa orang penduduk Puran, dari arah situ memang sering terdengar suara great call. Punggungan perbukitan itu oleh warga Puran dikenal sebagai Leleu Munduk. 

Namun setibanya kami di badan jalan Trans Siberut yang sudah bersemak tebal, kami tidak segera menemukan jalur jalan setapak menuju puncak bukit itu. Hari semakin siang, plan B kemudian diambil, kawatir kami akan kesiangan saat mencapai punggungan perbukitan kami pindah arah menuju ke puncak bukit yang bisa kemi temukan jalur jalannya. Kami menyusuri jalur jalan Trans Siberut dimana kelompok keluarga Sikaraja membuka perladangan di sepanjang kiri-kanan jalur jalan Trans Siberut yang menghubungkan Puran-Sirilogui itu. Jalur jalan itu sudah ditumbuhi semak belukar dan rerumputan yang cukup tebal dan tinggi membuat badan kami kemudian basah oleh embun yang menempel di belukar dan rerumputan itu. 

Bilou ( Hylobates klosii)

Sekitar jam 06.15 WIB, kami tiba di punggungan perbukitan yang sudah terbuka akibat pembukaan jalur jalan itu. Baru saja kami berhenti, kami langsung melihat bayangan kelompok primata di kerimbunan pepohonan di tepi jalur jalan itu. Kami kemudian bergerak perlahan mendekat. Tetapi semak yang rapat dengan jenis-jenis rotan kecil yang berduri menghambat langkah kami. Kelompok primata itu tidak terlihat dengan jelas, tetapi kami memperkirakan adalah 2 spesies yang berbeda, kemungkinan besar adalah simakobu dan joja. Saat kami merasa primata-primata itu sudah bergerak menjauh, tiba-tiba kami melihat satu individu bilou yang bergerak cepat, mungkin karena terkejut dengan kehadiran kami yang tidak menyangka jika di situ masih ada primata yang bersembunyi. Kami tepat berada di bawah pohon tempat 2 individu bilou itu bertengger. Awalnya kami sempat ragu jika yang kami lihat terakhir itu adalah kelompok bilou. Keduanya segera menghilang dibalik rimbunnya dedaunan pepohonan itu. Kami mengendap-endap, memperhatikan dengan hati-hati. Namun yang terlihat sedang memanjat batang pohon tidak jauh dari titik menghilangnya bilou itu adalah seekor simakobu muda. Dia terlihat sedang menikmati pucuk daun muda dari pohon itu. 

kailaba ( Antracoceros albirostris)

Sampai jam menunjukkan pukul 10.00 WIB kami tidak berhasil mendengar suara great call dari kelompok-kelompok bilou di sekitar permukiman Puran. Kami kemudian bergerak meninggalkan tempat kami melakukan pengamatan. Beberapa jenis burung berhasil kami lihat di pagi itu, beberapa tempat di sekitar kami juga terdengar suara dari simakobu, joja dan bokkoi yang sesekali mengejutkan kami karena terdengar cukup keras karena berada tidak jauh dari tempat kami melakukan pengamatan

Perjalanan pulang kami tempuh melalui jalur yang berbeda, kali ini kami melewati tepian hutan rawa melalui jalur jalan setapak. Menjelang tiba di permukiman, kami melintasi keluarga yang sedang bekerja membuka petak sawah baru di tepian hutan rawa itu. Menurut cerita mereka, sekelompok bilou berjumlah 3 individu beberapa hari lalu terlihat tidak jauh dari punggungan perbukitan tempat kami melakukan pengamatan. Kebetulan dia sedang membawa senapan angin, dia dengan jujur menceritakan jika seekor bilou dewasa dia tembak dengan senapan angin itu dan mengenai bagian pingganggnya. Kelompok bilou itu kemudian kabur namun orang itu meyakini jika bilou itu tidak mati karena senapan angin yang dipakai hanya berukuran standar dan tidak mempergunakan racun.

hutan di belakang pantai puran, habitat primata mentawai

Susur pantai sore hari

Sore harinya kami kemudian memutuskan untuk melakukan pengamatan di bagian pantai. Sepanjang pantai yang mengarah ke Muara Sikabaluan adalah pantai pasir yang berbatas dengan hutan rawa pasang-surut. Menurut cerita dari penduduk Puran kawasan itu adalah habitat dari  ke 3 primata selain bilou. Perjalanan kami sore itu kami tempuh dengan berjalan kaki santai, sambil mengamati kemungkinan perjumpaan dengan primata-primata itu. Benar saja, tidak jauh dari muara sungai Puran kami sudah berhasil melihat sekelompok simakobu, tetapi karena sore hari, sinar matahari sore membuat kami silau sehingga agak sulit untuk melakukan pengamatan. Namun sepanjang garis pantai, di sore itu kami berhasil melihat 3 kelompok simakobu dan 1 kelompok joja. Beberapa jenis burung yang juga kami lihat sore itu adalah dari jenis laitumuan atau kepodang hutan, kirik-kirik laut, pergam gading dan pergam abu-abu.

Pengamatan suara dari permukiman

Karena pemandu kami rupanya ada kegiatan yang mengharuskan dia berangkat ke Padang pada esok harinya, kami kemudian memutuskan untuk ikut berangkat ke Muara Sikabaluan bersama-sama.

Jam 04.00 WIB kami sudah terbangun dari tidur dan kemudian duduk di teras rumah, melakukan pengamatan suara. Kami tidak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan pengamtan suara dari ketinggian punggunan bukit karena jam 09.00 WIB pemandu kami akan berangkat ke Muara Sikabaluan untuk kemudian berangkat ke Padang. Tidak lama berselang, suara-suara primata endemik Siberut itu sudah mulai bersahut-sahutan di sekitar rumah, sama dengan pagi hari saat hari pertama kami bermalam kemarin. Namun selain suara joja, simakobu dan bokkoi kali ini kami lebih fokus terhadap suara bilou. Sampai matahari sudah bersinar dan jam sudah menunjukkan pukul 06.00 saat aktifitas penduduk semakin ramai, kami berhasil mendengar 4 sumber suara morning call dari bilou, tetapi tidak ada yang bersuara great call, sampai para primata itu kemudian semakin jarang terdengar suaranya. 

Menurut beberapa penduduk, ada 2-3 kelompok bilou yang sering memperdengarkan suara great call, terutama dari arah perbukitan Munduk. Di kawasan itu biasanya terdengar 2 greatcall. Tetapi 2 hari kami berada di Puran kami belum berhasil mendengar suara great call dari Biloudi sekitar hutan  Puran.

Pengamatan di Bagan Bajuman, Sotboyak dan Sirilanggai

Dari beberapa informasi yang kami dapatkan, besok harinya dengan dipandu oleh P. Kusmiyadi staf BTNS yang kami kenal, kami berangkat untuk melakukan pengamatan suara, mengambil titik tidak jauh dari perladangan milik P. Kusmiyadi yaitu di Bagan Bajuman. Wilayah ini secara administatif masuk dalam wilayah desa Sotboyak. Dengan mempergunakan sepeda motor kami berangkat menyusuri jalan trans Siberut yang menghubungkan Muara Sikabaluan-Sotboyak. Seperti yang sudah kami perkirakan, selama 1 dekade terakhirsudah banyak sekali perubahan fungsi lahan. Lahan yang dahuulnya adalah hutan habitat dari satwa dan primata endemik Siberut itu kini sudah berubah menjadi jalur jalan yang lebar. Sepanjang kanan dan kiri jalur jalan itu kini adalah perladangan milik masyarakat setempat. 

Tiba di dekat jalur jalan setapak yang mengarah ke ladang P. Kusmiyadi kami kemudian menghentikan sepeda motor dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Kami memilih pondok kecil di perbukitan itu untuk melakukan pengamatan. Jam menunjukkan pukul 08.30 WIB saat kami berhasil mendengar suara great call yang terdengar cukup jauh. Kami memperkirakan berada di sekitar jarak 1 km dari tempat kami melakukan pengamatan. Suara great call pertama belum berhenti, kami segera mendengar suara greatcall ke dua dan ke tiga dari jarak yang relatif dekat, sekitar 300-400 meter saja dari tempat kami melakukan pengamatan. Pagi itu total kami berhasil mendengar suara great call bilou sebanyak 3 kali. Dari tempat kami melakukan pengamatan itu, kami juga berhasil mendengar suara joja dan bokkoi. 

Kawasan tempat kami melakukan pengamatan yang ke dua ini adalah termasuk dalam hutan yang dikuasai oleh uma SIrirui. Namun sejak pembukaan jalur jalan Trans Siberut Muara Sikabaluan-Sotboyak, kawasan hutan ini sebagian besar sudah beralih fungsi menjadi kawasan perladangan penduduk. Sumber suara great call dari kelompok bilou itu terlihat masih merupakan hutan yang memiliki tegakan-tegakan pohon-pohon alam yang berukuran besar. 

Siang itu kami kemudian pulang kembali ke penginapan kami di Muara Sikabaluan. 

Sore harinya kami kemudian berangkat untuk melakukan pengamatan primata di tepian jalur jalan Muara Sikabaluan-Mongan Poula. Di tempat itu menurut informasi yang kami peroleh penduduk sering melihat kelompok-kelompok bokkoi. Benar saja. Kami berhasil melihat setidaknya 3-4 ekor bokkoi muda yang sedang berkejar-kejaran. Namun sayangnya kami tidak berhasil mengambil foto yang bagus, kelompok bokkoi itu menyadari kedatangan kami dan kemudian bergerak di lantai hutan rawa itu. Namun gagal mengamati serombongan bokkoi itu kami malah berhasil melihat serombongan burung langka, merpati hutan perak. Beberapa ekor burung itu terlihat sedang sibuk mengerumuni pohon yang tumbuh tidak jauh dari jalan yang menghubungkan antara Muara Sikabaluan-Monganpoula. Belum puas kami menikmati pemandangan langka itu tiba-tiba pemilik kebun nenas di dekat situ datang. Di dekat kebun orang itu pohon yang menghasilkan buahan hutan yang menjadi makanan burung-burung itu tumbuh. Burung-burung itu kemudian bubar, pindah ke bagian lain dari hamparan lahan yang dahulunya adalah rawa-rawa itu. Kawanan burung itu terlihat hinggap bergerombol di dahandahan pohon tumu yang tinggi menjulang. 

merpati hutan perak, Columba argentina

Galig ( Psitinus cyanurus)

Esok paginya mengisi waktu sebelum kami harus berangkat dengan kapal terakhir sebelum jadwal pelayaran diliburkan untuk memberi kesempatan awak kapal merayakan hari raya Idul Fitri, kami menyempatkan diri untuk melakukan pengamatan di punggungan perbukitan di dekat Sirilanggai. Menurut informasi awal yang kami peroleh, dari arah perbukitan Sigoibong. Di punggungan bukit tepian jalan menuju Sirilanggai kami kemudian melakukan pengamatan. Punggunan bukit ini merupakan perladangan yang belum lama dibuka. Terlihat dari vegetasi tanaman yang masih kecil dan pokok-pokok rumpun pisang yang sudah terserang penyakit yang mendominasi hamparan lahan itu. Jam menunjukkan pukul )7.30 WIB saat kami mendengar suara morning call dari seberang jalan. Jarak sumber suara itu kami perkirakan sekitar 400 meter saja. Sumber suara itu terlihat dari pepohonan pulai yang tumbuh di hutan rawa dekat perbukitan. Namun tidak lama kemudian suara morning call itu kemudian menghilang. Pagi itu kami tidak berhasil mendengar suara great call dari perbukitan Sigoibong, Sirilanggai.

Kesimpulan

Dari hasil kunjungan singkat itu, kami melihat jika dalam 12 tahun terakhir kawasan Siberut Utara di bagian luar zona inti TNS telah mengalami perubahan fungsi kelola lahan yang cukup signifikan. Aktifitas dari pembangunan infrasruktur berupa jalan yang ditujukan untuk akses antar kecamatan melalui skema Trans Siberut dan pembukaan permukiman baru di Puran untuk program mitigasi kebencanaan ancaman tsunami di sisi lain telah memberikan tekanan yang tinggi kepada hutan dan keanekaragaman hayati sekitar dusun Puran. Di sepanjang kanan-kiri jalur jalan itu kini telah berubah menjadi kawasan perladangan masyarakat. Jalur jalan yang mengambil jalur di kaki perbukitan dan memotong kontur perbukitan ke arah desa Sirilogui telah membuat vegetasi hutan di sekitar Puran berubah menjadi lahan terbuka. Kawasan yang dahulunya adalah habitat dari bilou. Kini jenis-jenis primata selain bilou banyak ditemukan di kawasan hutan rawa yang berada di sekeliling permukiman dusun Puran. Ke 3 jenis primata selain bilou itu relatif mudah untuk dijumpai. Namun selama 2 hari di Puran, kami masih berhasil mendengar 4 sumber suara morning call, 3 dari arah punggungan perbukitan dan 1 sumber suara dari arah hutan rawa tidak jauh dari kawasan pesisir. Menurut informasi dari penduduk setempat, suara great call sering mereka dengar dari arah perbukitan yang mereka kenal sebagai Leleu Munduk.

Sementara itu di kawasan yang lain yaitu di sekitar Muara Sikabaluan, Mongan Poula, Sotboyak,Pokai dan Sirilanggai, kami mendapat informasi keberadaan bilou di hutan milik uma Sirirui yaitu di Bagan Bajuman yang secara administratif masuk dalam wilayah desa Sotboyak. Kawasan ini dalam 12 tahun terakhir telah banyak mengalami perubahan fungsi lahan. Tempat yang dahulunya adalah hutan kini di banyak tempat penduduk telah membuka perladangan. Terdapat 2 jalur jalan yang telah dibangun dalam 15 tahun terakhir, yang pertama adalah jalur jalan yang dikelola dengan skema swa-kelola oleh masyarakat melalui keproyekan yang dikelola oleh kelompok masyarakat. Jalur jalan ini biasanya dibangun untuk penghubung antar dusun dan antar desa. Jalur jalan yang ke dua adalah jalan besar yang dikelola kontraktor sebagai bagian dari proyek pembangunan Trans Siberut. Di Siberut Utara, sebagian kawasan hutan di luar kawasan TNS juga telah menjadi konsesi kelola perusahaan logging yang baru di awal tahun ini berhenti beroperasi. Selama 2 hari kami melakukan observasi dan pengamatan, kami hanya mendapatkan 3 greatcall bilou di kawasan hutan Bagan Bajuman di wilayah desa Sotboyak dan 1 morning call di Hutan Sigoibong, dusun Sirilanggai.

Di sepanjang jalur jalan Muara Sikabaluan-Mongan poula kami menemukan beberapa spot yang menyediakan vegetasi tumbuhan kayu di daerah rawa-rawa yang menghasilkan buahan hutan sumber pakan yang disukai oleh beberapa jenis burung. Di antara beberapajenis burung itu yang menarik adalah serombongan burung merati hutan perak (Columba argentina). menurut beberapa orang penduduk jenis burung langka itu memang sering terlihat di kawasan itu saat musim-musim tertentu, saat pepohonan penghasil makanannya berbuah. Kunjungan kami itu adalah di bulan Maret 2026, pengujung musim buah pepohonan hutan itu.



No comments:

Post a Comment