Saturday, November 25, 2023

Asian Bird Fair 2023 : Promosi wisata minat khusus pengamatan burung dan primata

 Oleh : Imam Taufiqurrahman

booth Primavest di ABF 2023

Uraian kegiatan

Asian Bird Fair (ABF) 2023 telah terlaksana di Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia, pada 13-17 Oktober. Ajang tahunan yang berlangsung selama lima hari ini mengusung kegiatan utama berupa pameran bagi pelaku ekowisata burung se-Asia pada 14-15 Oktober.

Di gelaran ABF ke-12 ini, penyelenggara mengusung tema “Burung dan Anak-anak: Bergandengan Tangan”. Datuk Christina Liew, Menteri Wisata, Budaya dan Lingkungan Sabah, hadir dan membuka pameran secara resmi.

Total terdapat 42 stan yang memeriahkan acara di Sabah International Convention Center tersebut. Stan terutama diisi oleh berbagai agen wisata perburungan dari negara-negara di Asia, juga beberapa perwakilan dari Amerika Selatan dan Australia. Selain itu, terdapat pula stan dari produk-produk pendukung dalam industri perburungan, seperti peralatan optik dan kamera.

Primavest turut mengambil bagian dalam pameran dan menjadi satu-satunya stan perwakilan Indonesia. Misi yang dibawa adalah memperkenalkan Primavest sebagai agensi dari SwaraOwa yang menawarkan berbagai produk paket wisata primata dan burung, serta produk-produk dari SwaraOwa dan Owa Coffee.

conservation products at ABF 2023
Stan mendapat apresiasi yang cukup baik dari para pengunjung. Beberapa agensi berminat untuk menjajaki produk paket wisata yang ditawarkan, meski belum sampai pada tahap pemesanan atau kerjasama lebih lanjut.

Dalam pameran, berbagai forum dan diskusi, serta aktivitas untuk anak-anak memeriahkan acara. Pembicara kunci yang dihadirkan, yaitu Noah Strycker, penulis buku “Birding Without Borders”. Noah pun membagikan pengalamannya berkeliling dunia untuk melihat sebanyak mungkin jenis burung dalam satu tahun. Ia menjalani ‘big year’, istilah yang lazimnya digunakan untuk kegiatan itu, pada 2015. Dalam perjalanan 365 harinya tersebut, pria asal Amerika itu mampu mencatatkan perjumpaan lebih dari 6.000 jenis burung di 41 negara. Jumlah yang mencakup 58,3% dari total burung dunia saat itu.

field trip ke Kinabalu Park-ABF 2023
Field Trip

Sebagai penghujung di rangkaian acara, panitia menyelenggarakan trip pengamatan burung pada 16 Oktober. Trip diawali dari Kinabalu Park, taman nasional yang terletak di kaki G. Kinabalu. Peserta mampu mengamati berbagai jenis burung menarik, seperti luntur kalimantan dan madi-hijau whitehead. Dua jenis endemik Kalimantan tersebut menjadi highlight dan relatif mudah dijumpai.

Lokasi ke-2 berlangsung di komplek resor Shangri-la Rasa Ria. Di lokasi, terdapat berbagai kawasan yang menjadi habitat beragam satwa, mulai dari hutan, pantai, hingga padang rumput. Kawasan tersebut mampu dikelola dengan baik sebagai tempat pengamatan satwa. Manajemen Shangri-la Rasa Ria juga mengelola satu area sebagai museum dan pusat informasi mengenai satwa liar di lokasi.

Banyak manfaat yang diperoleh dari keterlibatan dalam ABF ini. Pertama, ajang se-Asia ini membuka lebih luas kesempatan dalam memperkenalkan satwa liar Indonesia lewat produk paket wisata yang menjadi tawaran. Kedua, lewat ABF terbuka jejaring yang lebih luas untuk mengembangkan bisnis ekowisata satwa liar. Harapan ke depan, kesempatan dan peluang tersebut perlu dilanjutkan dengan menghadiri ajang-ajang serupa, seperti Asian Bird Fair 2024, yang rencana akan diselenggarakan di Filipina.



Friday, November 3, 2023

Perayaan Hari Pangan Sedunia 2023: Kebun brayan urip dan Pentas kethoprak sayur

Oleh: Cashudi (Koordinator Paguyuban Petani Muda Mendolo)

Pentas Kethoprak " Suara Sayur"
Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo pada tahun ini, untuk kedua kalinya, mengorganisir perayaan Hari Pangan Sedunia. Perayaan ini bertujuan untuk mengenalkan pangan lokal yang ada di sekitar hutan Desa Mendolo terutama bagi generasi muda. Untuk pelaksanaannya, kami memilih tanggal 28-29 Oktober 2023. Perayaan kali ini memang tidak bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober 2023 dengan berbagai pertimbangan, seperti mengakomodir hari libur bagi adik-adik yang masih bersekolah agar mereka bisa berpartisipasi.

Desa kami kaya akan potensi pangan lokal. Sampai saat ini, kami sudah berhasil mendata lebih dari 85 jenis pangan lokal yang terdiri dari jamur, buah hutan, umbi-umbian, dan sayuran hutan. Kami dibantu Kelompok Mahasiswa Pecinta Alam Biolaska UIN Sunan Kalijaga, Indonesia Dragonfly Society, dan Yayasan Swaraowa telah memproduksi booklet katalog pangan lokal. Booklet ini meskipun belum mencakup semua jenis, harapannya bisa dibaca semua kalangan, terutama generasi muda di desa kami sendiri yang mungkin pengetahuan tentang pangan lokal masih kurang.

Kebetulan, tahun ini tema Hari Pangan Sedunia adalah “air adalah pangan, air adalah kehidupan”. Kami sekalian mengisi perayaan tahun ini dengan acara launching “Kebun Brayan Urip”. Kebun ini nantinya difungsikan sebagai fasilitas pembibitan tanaman hutan untuk konservasi air dan satwa liar, serta sebagai pusat belajar masyarakat mengenai pertanian dan kehutanan. Brayan Urip sendiri adalah sebuah bentuk kearifan lokal dalam penghargaan kepada semua makhluk. Kami ingin menggali lebih dalam lagi pesan-pesan yang terkandung dalam kearifan Brayan Urip ini.

meramban sayur liar di hutan Mendolo

Beberapa rangkaian acara mengisi perayaan hari pangan sedunia tahun ini. Pada hari pertama (28 Oktober 2023), kami mengajak segenap warga Mendolo, mahasiswa dari Biolaska UIN Sunan Kalijaga, teman-teman mahasiswa KKN UIN Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan beberapa tamu yang ikut trip untuk “meramban” bersama. Istilah meramban ini maksudnya adalah mencari dan mengumpulkan sayur dan makanan yang biasa dikonsumsi warga dukuh Sawahan yang tumbuh liar di hutan, kebun, maupun area persawahan.

Peserta meramban dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing menuju arah yang berbeda. Kelompok pertama dipimpin oleh saya sendiri, sedangkan kelompok kedua dipimpin oleh mas Diran. Selesai kegiatan, kami mengumpulkan hasil meramban di rumah Bapak Kasdani. Sayur, jamur, dan buah-buahan dipilih sesuai jenisnya masing-masing. Kami juga mendokumentasikan jenis-jenis tumbuhan yang tahun kemarin belum masuk dalam data kami.

salah satu adegan kethoprak suara sayur


Di sore harinya, kami mengisi acara dengan workshop daun pisang sebagai kemasan pangan. Kami mengumpulkan ibu-ibu dan anak-anak beserta teman-teman mahasiswa untuk pelatihan atau belajar membuat takir atau wadah makanan yang terbuat dari daun pisang. Dengan adanya workshop ini kami berharap agar warga mau kembali menggunakan kemasan dari daun yang jelas ramah lingkungan, sehingga bisa mengurangi produksi sampah plastik.

penonton ketoprak suara sayur


Pada malam harinya, kami memberi kesempatan para peserta dan mahasiswa untuk ikut pengamatan satwa nokturnal. Hewan target yang kami cari pada malam itu antara lain: kukang jawa, landak, burung celepuk, dan burung paruh kodok. Alhamdulillah, pada malam itu kami berhasil menjumpai burung paruh kodok dalam jarak yang sangat dekat.

Pada acara puncak atau pada hari kedua, kami isi dengan acara launching kebun Brayan Urip. Kami mengundang berbagai pihak untuk ikut menjadi saksi launching kebun Raya Urip ini. Pada acara ini, kami menampilkan hiburan ketoprak sayur dengan lakon “suara sayur”. Setelah persiapan yang cukup panjang, kurang lebih dua bulan, pertunjukkan yang dimainkan para anggota PPM Mendolo dibantu mas Adin dari Swaraowa berhasil memeriahkan perayaan hari pangan tahun ini. Tentu saja tidak hanya kemeriahan yang kami harapkan, namun juga pesan atau kampanye pangan lokal dan konservasi hutan yang hendak disampaikan melalui pertunjukan tersebut semoga bisa diterima dengan baik.

foto bersama seluruh pemain, warga mendolo dan perwakilan pemerintah desa dan dinas terkait


Selesai acara launching, semua peserta dan tamu undangan serta warga Dusun Sawahan diarahkan ke kampung untuk makan bersama dengan menu hasil meramban pada hari pertama. Menunya cukup banyak, ada urap daun pakis, sayur bening daun ketupuk, lodeh lompong, oseng daun slempat, dan aneka sambal seperti kecombrang, klanting, kluwek, dan ukel. Buah durian sumbangan warga masyarakat Sawahan menjadi hidangan penutup bagi para tamu.

Saya mewakili PPM Mendolo mengucapkan banyak terima kasih kepada segenap tamu undangan, antara lain: CDK IV Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, Perum Perhutani yang diwakili BKPH Karanganyar, Camat beserta Muspika Lebakbarang, Kepala Desa Mendolo berikut perangkatnya. Tak lupa kepada Yayasan Swaraowa, Indonesia Dragonfly Society (IDS), Biolaska UIN Sunan Kalijaga, mahasiswa KKN UIN Gusdur unit Mendolo, serta semua warga masyarakat yang sangat antusias ikut membantu dan meramaikan acara kami ini. Ke depannya, kami berharap perayaan hari pangan bisa menjadi agenda rutin di Desa Mendolo, dan bisa mengundang para wisatawan datang ke desa kami. 

Salam.

Wednesday, November 1, 2023

Hari Owa 2023 : Camping Owa di Siregol, Kramat, Purbalingga

oleh : Arif Setiawan
camping ground Ds. Kramat

Tanggal 24 October setiap tahun diperingati sebagai hari owa internasional, sebagai bentuk campanye untuk pelestarian Owa di Indonesia. Swaraowa sejak 3 tahun yang lalu menggunakan momentum hari owa sedunia ini untuk mempromosikan kegiatan yang fun untuk mengenal owa, dan habitat aslinya melalui  pengamatan owa “gibbon watching” atau “gibbonning”.

Seperti kegiatan tahun-tahun sebelumnya, tahun 2023 ini SwaraOwa berkolaborasi dengan KP3 Primata, Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada mengadakan perayaan Hari owa ini dengan tema “gibbon camp”. Kamping untuk Owa, kurang lebih seperti itu tujuan acara ini. Konsep acara yang di kemas secara santai namun juga untuk mengumpulkan informasi terkait owa dan habitat aslinya, dan Masyarakat yang terlibat langsung dalam upaya pelestariannya. Tujuan kami Gibbon camp 2023 ini adalah Desa Kramat, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga. Lokasi ini pernah kami survey pertamakali ke wilayah ini pada expedisi owa jawa tahun  2013. Waktu itu kami mengidentifikasi populasi di pegunungan Siregol -Kramat-Ardilawet ini sup populasi yang terpisah dari 2 populasi owa jawa di jawa Tengah yaitu, Gunung Slamet dan landskap pegunungan Dieng.

foto bersama KP3 Primata, Sigotak dan SwaraOwa

Owa jawa siregol Kramat

Kemudian pada tahun 2016-2017, mas Faiz  ada salah satu warga dari desa Kramat ini, entah darimana bisa nyambung dengan kegiatan swaraowa waktu itu, yaitu ikut acara Pelatihan Metode Survey Primata di Sokokembang, darisinilah terus berkomunikasi dengan mas Faiz dan teman-teman nya di Kramat untuk konservasi owa Jawa, sampai saat ini Sigotak Narasi Konservasi menjadi nama sekaligus branding konservasi untuk desa Kramat.

Pada tahun  sebelumnya swaraowa juga pernah mendukung kegiatan Siregol Primate Watching, dan antusiasme warga terutama pegiat lingkungan di Purbalingga waktu itu cukup positif. Mas Faiz juga mereplikasi keberhasilan kopi owa di Kramat, untuk mempromosikan konservasi owa dan juga kegiatan ekonomi, dengan kopi sigotaknya, tentu saja karakter owa brakiasi ada di kemasannya.

Kopi  Owa Sigotak

Acara gibbon day 2023 tanggal 24-25 October  kembali swaraowa mengunjungi Kramat Siregol untuk setidaknya menguatkan saling mendukung dan mempromosikan konservasi Owa. Teman-teman KP3 primata sebanyak 16 orang ikut bersama memeriahkan acara ini, dan camping 1 malam dan pengamatan ke esokan harinya menjadi acara inti dari gibbon day kali ini. Didampingi oleh tim Sigotak, camping ground yang tersedia di halaman taman Bumdes sKramat sangat nyaman, dengan latar belakang pegununganBeser- Siregol-Kramat-cupu-simembut-ardilawet. Camping ground ini sudah lengkap fasilitasnya, listrik air, masjid, toilet dan ada kantor penjaganya, yang bawa mobil camper/ camper van bisa langsung parkir dan mendirikan tenda. Teman-teman KP3 primata juga membawa tenda masing-masing, makan bisa sekaligus di pesan atau mau masak sendiri juga bisa.

Malam hari tanggal 24 kita sampai di Kramat, langsung kami di sambut oleh mas Faiz di kafe nya, dan dilanjuktan mendirikan tenda saat itu juga kemudian makan malam dan disaambung dengan diskusi tentang persiapan pengamatan besok paginya.

Jam 4.30, suara adzan dari masjid di camping ground membangunkan kami semua, pas sekali sekaligus persiapan pengamatan , dan jam 5.30 oleh teman-teman sigotak, “Coak” mobil pick up sudah stanby membawa kami ke lokasi pengamatan.

Jarak camping ground dan lokasi pengamatan kurang lebih 10 menit naik mobil, ada tanjakan yang cukup curam dan sempit menuju lokasi pengamatan, sangat disarankan menggunakan kendaraan dan driver setempat untuk naik ke lokasi pengamatan Owa, yang berada di tepi tebing curam Sungai Tambra. Jalan ini juga jalan utama menuju desa Sirau, dan kita pernah menyusuri jalan ini hingga ke Watukumpul, dimana ada sub-populasi owa juga di hutan-hutan yang sudah terfragmentasi di pegunungan Tengah antara gunung slamet dan pekalongan ini.

Tebing batu curam dan rapatnya vegetasi di bagian bawah jurang menjadi habitat istimewa pagi owa dan primata lainnya di siregol Kramat, karena tidak ada kemungkinan akses manusia masuk dan mengganggu atau merusak hutan disini. Untuk menemukan Owa atau me motret owa disini disarankan menggunakan alat bantu binokuler atau monokuler, karena jaraknya yang cukup jauh, dan camera dengan tele setidaaknya 600-900 mm, akan sangat membantu mengabadikan gerakan primata atau owa.

Kelompok lutung teramati yang pertama kali, kemudian kelompok Owa. Jarak yang jauh dari pengamat, menjadikan pengamatan disini tidak membuat owa menjadi takut, atau pergi, jadi kalau kita menyiapkan alat pantau jarak jauh sepert camera dengan tele dan tripod sangat menyenangkan melihat perilaku owa disini.


Owa Jawa ( Hylobates moloch) individu yang teramati di siregol

Kemudian kami berjalan mendaki menyusuri jalan siregol ini, kelompo owa yang terlihat sangat jauh, hingga teman-teman yang kurang biasa dengan pengamatan jarak jauh agak kesulitan menemukan owa yang bergerak, ayunan cabang pohon menjadi pemandu untuk menemukan Owa. Satu kelompok yang kami temui terdiri 4 individu dan terlihat menggendong bayi. Agak susah melihat detail apa yang dimakan oleh owa ini, namun setidaknya kami mengidentifikasi jenis-jenis ficus atau beringin buahnya yang dimakan.

Sambil pengamatan tentusaja mendiskusikan apa yang kita lihat bersama,penelitian atau apapun terkait owa disini sangat mungkin di kaji untuk penelitian tugas akhir atau skripsi. Membangun hipotesis-hipotesis pertanyaan-pertanyaan ilimiah, akan lebih mudah jika kita melihat langsung kondisi dilapangan daripada hanya berdasarkan teori-teori di kelas.

Gibbon watching atau gibboning ini juga menjadi sarana promosi wisata minat khusus, dari antusiasme di sosial media story di IG swaraowa mendapatkan impression 5.024, dimana 44% merupakan non followers. Mengenalkan daerah dan juga memperkuat branding konservasi yang sudah di inisiasi oleh Sigotak Narasi Konservasi bahwa kawasan ini merupakan kawasan penting untuk konservasi Owa di Jawa Tengah.