Showing posts with label hari pangan. Show all posts
Showing posts with label hari pangan. Show all posts

Wednesday, December 4, 2024

Inovasi Pangan setelah 70 Tahun, Desa Mendolo.

 Penulis: Alex Rifa’i1 & Sri Windriyah2; Penyunting: Sidiq Harjanto

1Koordinator Divisi Konservasi Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo

2Ketua Kelompok Brayan Urip, Desa Mendolo

 

Aneka olahan Umbi Gadung

"Dari hutan ke meja makan, setiap langkah punya cerita luar biasa. Ini cerita perjalanan panjang aneka bahan pangan bersama harapan semua orang yang terlibat di dalamnya". Begitulah kira-kira rangkuman rangkaian acara Hari Pangan Sedunia 2024 di Desa Mendolo pada tahun ini.

Pada tanggal 19-20 Oktober 2024 Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo berkolaborasi dengan Kelompok Petani Perempuan Brayan Urip merayakan Hari Pangan Sedunia yang diperingati setiap tanggal 16 Oktober. Adapun tujuan perayaan ini adalah untuk mengenalkan kepada semua orang yang ikut berpartisipasi dalam acara ini tentang keanekaragaman pangan lokal yang ada di sekitar hutan Desa Mendolo.

Mengusung tema Hari Pangan Sedunia tahun 2024 ini yaitu "Hak Atas Pangan untuk Kehidupan yang Lebih Baik dan Masa Depan yang Lebih Baik", kami sekaligus melaunching produk olahan umbi gadung dan memfasilitasi kelompok Brayan Urip untuk memaparkan segala tentang produk yang dihasilkan.

Agenda Perayaan Hari Pangan tahun ini tidak sepadat dan sekompleks perayaan hari pangan tahun kemarin. Rangkaian acara yang kami selenggarakan dimulai dari kegiatan meramban (mencari dan memanen sayur, jamur, dan buah di hutan) bersama-sama dengan kawan-kawan dari Indonesia Dragonfly Society (IDS), Green Community, dan para kaum muda-mudi Desa Mendolo. Acara meramban ini berlangsung pada tanggal 19 Oktober 2024 dari pagi sampai siang.

Ibu-Ibu pahlawan di belakang layar

Setelah hasil meramban dirasa cukup, pada siang sampai sore kami menyortir semua bahan pangan lokal dari hutan yang sudah terkumpul, mulai dari jenis sayur, jamur, buah-buahan kita kelompokkan masing-masing menurut jenisnya. Sayangnya, hasil meramban tahun ini sedikit kurang maksimal dikarenakan cuaca yang ekstrem sehingga banyak bahan pangan lokal yang tidak bisa kami temukan di hutan. Sorenya, para ibu sudah memulai mengolah bahan yang sekiranya akan memakan waktu lama.

Di hari kedua, para ibu disibukkan di bagian dapur mulai dari pagi-pagi sekali mengolah semua bahan makanan yang akan kita santap bersama di siang hari nanti. Seperti tahun lalu, kali ini panitia kembali mengadakan workshop ditujukan bagi anak-anak untuk mengisi kegiatan di pagi hari. Workshop ini berupa latihan bersama membuat bungkus makanan dari daun pisang. Kami menyebutnya "takir".

Setelah acara workshop selesai, semua panitia mulai membantu semua persiapan yang masih belum sempurna. Siangnya, kami merayakan Hari Pangan Sedunia 2024 dengan makan bersama dengan menu yang berasal dari hutan sekitar desa kami. Para warga desa membaur dengan tamu dari luar desa dengan antusias luar biasa bersama-sama menikmati hasil meramban semua sajian, seperti: jenis-jenis sayuran, jamur, bunga kecombrang, dan buah-buahan hutan.

pemotongan tumpeng nasi Gadung

Setelah makan bersama selesai, kami bersama-sama menuju lapangan untuk memulai segala rangkaian acara yaitu launching produk olahan umbi gadung hasil inovasi kelompok Brayan Urip. Rangkaian acara meliputi sambutan dari ketua PPM Mendolo, sambutan Bapak Kepala Desa Mendolo, disusul acara inti yaitu Launching Produk Olahan Gadung secara simbolis melalui pemotongan tumpeng nasi gadung.

Selanjutnya, Sri Windriyah selaku koordinator kelompok brayan urip sekaligus ketua panitia acara perayaan hari pangan sedunia pada tahun ini memaparkan produk-produk inovasi gadung yang telah dihasilkan kelompok Brayan Urip.  Acara ditutup dengan pertunjukan seni musik gamelan oleh Sanggar Seni Puspita Sari dan Sanggar Seni Chandra Laras.

antusias warga ke lokasi perayaan hari pangan yang guyur hujan

Bukan hanya menjadi superhero di bagian konsumsi selama acara hari pangan berlangsung, kali ini dengan memanfaatkan hasil hutan bukan kayu (HHBK) kelompok Ibu-ibu Kebun Brayan Urip ingin menunjukkan keterampilanya dalam perayaan hari pangan sedunia kali ini.

Umbi Gadung kita bisa menyebutnya, atau dalam bahasa ilmiahnya Dioscorea hispida merupakan tanaman umbi-umbian yang tumbuh subur di sekitar hutan di Desa Mendolo. Tanaman dengan batang berduri yang merambat di pohon-pohon hutan yang lebih tinggi di sekelilingnya.

Kelompok Brayan Urip yang beranggotakan para ibu rumah tangga berupaya untuk mewarisi skill dan keterampilan dari leluhur. Salah satunya dalam pengolahan umbi gadung ini. Melalui proses yang panjang dan sangat membutuhkan ketelatenan, umbi beracun sianida bisa diubah menjadi berbagai macam makanan yang sangat lezat dan aman.

Fakta luar biasanya, tepung gadung ini menjadi terobosan baru dari kelompok ibu-ibu brayan urip,  setelah puluhan tahun lamanya umbi gadung hanya diproses sederhana untuk dijadikan makanan pengganti beras pada krisis pangan karena perang, dan di tahun 50-an ada orang dari luar desa mengajari pengolahan umbi gadung menjadi keripik.

workshop pembuatan Takir untuk anak-anak
Pada jaman dahulu, para tetua desa kami mengolah umbi gadung dengan cara direndam untuk menetralkan racun, lalu dibakar/dikukus dan langsung bisa disantap. Lazimnya metode memasak orang dulu adalah dibakar dalam bentuk gumpalan, tanpa melalui proses penjemuran lagi untuk dijadikan tepung, karena fungsi gadung kala itu adalah untuk sumber karbohidrat pengganti beras.

Kira-kira tujuh puluh tahun lamanya untuk sampai di tahun 2024, munculah ide dan inovasi-inovasi baru dari olahan umbi gadung, dan salah satu inovasi yang ditawarkan kali ini adalah pembuatan tepung dari umbi gadung.

Secara garis besar, proses pembuatan tepung menggunakan proses penetralan racun yang sama dengan apa yang telah diwariskan oleh para leluhur. Produk akhirnya saja yang berbeda. Gadung iris dilumuri abu dapur di hari pertama untuk untuk selanjutnya ke proses penjemuran. Setelah kering, umbi gadung direndam di air yang mengalir minimal selama 3 hari 2 malam, dan dicuci sehari 2 kali pagi dan sore agar sisa-sisa racun dan abu hilang.

pentas seni sanggar Seni Puspita Sari dan Sanggar Seni Chandra Laras.


Setelah proses perendaman selesai, umbi gadung masih melalui proses penjemuran kembali hingga kering. Pengeringan gadung sangat terbantu dengan adanya dome pengering yang difasilitasi Swaraowa beberapa waktu lalu. Sesudah kering pasca penjemuran ini, barulah umbi gadung bisa diproses untuk dijadikan tepung. Dengan cara ditumbuk hingga halus, lalu diayak.

Tepung gadung yang dihasilkan memiliki aroma dan rasa khas, dan teksturnya sedikit kasar. Tepung gadung bisa digunakan untuk membuat berbagai olahan berbahan dasar tepung pada umumnya, seperti: kerupuk, brownies, kue lapis, bahkan menjadi nasi tiwul gadung seperti yang kami sajikan pada saat pemotongan tumpeng sebagai penanda launching produk.

Bukan tidak mungkin akan muncul inovasi-inovasi olahan umbi gadung lain yang akan muncul di masa yang akan datang. Atau bahkan akan muncul olahan keanekaragaman hasil hutan bukan kayu (HHBK) dari hutan Desa Mendolo yang lain lagi. Hutan Mendolo kaya dengan potensi.

Selain keanekaragaman hayati pangan lokal, masih ada juga fauna yang banyak jenisnya. Satwa-satwa penghuni hutan Desa Mendolo sangat menarik untuk diperbincangkan, dan keunikan hutan Desa Mendolo adalah menjadi tempat hidup bagi lima satwa primata jawa, yaitu: Owa jawa (Hylobates moloch), Lutung jawa (Trachypithecus auratus), Monyet ekor-panjang (Macaca fascicularis), Rek-rekan (Prebytis comata fredericae), Kukang jawa (Nycticebus javanicus).

Tentunya, perayaan Hari Pangan Sedunia ini bisa menjadi salah satu langkah awal bagi kami para warga Desa Mendolo untuk tetap menjaga kelestarian hutan dan hidup berdampingan dengan semua makhluk hidup yang ada di dalamnya. Harapan kami adalah tetap terjaganya kelestarian hutan Desa Mendolo yang selama ini menjadi sumber penghidupan kami serta warga desa lain yang juga ikut mendapatkan manfaatnya. Dengan terjaganya kelestarian dan keanekaragaman hayati hutan, alam akan memberikan kita banyak manfaat untuk kehidupan sekarang dan masa depan.

Ucapan terimakasih kepada Pemerintah Desa Mendolo, SwaraOwa, Indonesia Dragonfly Society, dan Green Community yang sudah ikut berkolaborasi dalam acara perayaan Hari Pangan Sedunia tahun 2024. Tak lupa kepada seluruh warga Desa Mendolo, Sanggar Seni Puspita Sari, dan Sanggar Seni Chandra Laras yang sudah ikut meramaikan acara ini.

Wednesday, October 16, 2024

Hari Pangan Sedunia 2024: Memaknai Biodiversitas Sebagai Akar Kedaulatan Pangan

 Oleh : Sidiq Harjanto

Mengolah umbi gadung

Sudah tiga tahun ini Swaraowa turut berpartisipasi dalam isu pangan, khususnya pangan lokal. Berawal dari seringnya berkegiatan di desa-desa di habitat Owajawa  lalu mendapat jamuan dari warga berupa aneka sayuran dan jamur yang dipetik dari hutan seperti: pakis, gorang, daun keji, kolang-kaling, gula aren, jamur kuping, jamur barat, dll. Semuanya enak dan sangat menggugah selera. Sedikit atau banyak, olahan-olahan pangan hutan itu telah menyeting ulang selera lidah kami, tim Swaraowa.

Kekaguman kami tentang pangan lokal terus berlanjut saat dipertemukan dengan olahan-olahan khusus dari jenis-jenis tumbuhan beracun seperti gadung dan keluwek. Bagaimana bisa, bahan yang awalnya mematikan itu diolah menjadi pangan yang lezat dan sangat aman dikonsumsi. Ini menunjukkan kejeniusan masyarakat kita dalam hal penyediaan pangan.

buzz pollinator

Jika dipotret lebih luas, kami melihat adanya irisan antara kepentingan pelestarian hutan yang awalnya sebagai habitat owa jawa dan aneka satwa liar dengan kepentingan masyarakat atas hutan dalam konteks pemanfaatan pangan. Kami ingin hutan lestari, demikian juga warga. Maka atas dasar itulah, dua kepentingan itu mesti dipadukan. Dimulai dari Desa Mendolo, kami bersama masyarakat mulai memetakan potensi pangan yang tersimpan di dalam hutan. Hasilnya, lebih dari 80 jenis tumbuhan dan jamur yang lazim dimanfaatkan oleh warga.

Dari pemetaan potensi itu lalu berkembanglah menjadi berbagai program kolaborasi seperti pengembangan produk turunan, pembuatan demplot pangan lokal yang dikombinasikan dengan budidaya lebah trigona, dan pengembangan wisata experience berbasis biodiversitas pangan. Muaranya nanti adalah bersama-sama menemukan equilibrium antara daya dukung lingkungan dengan kesejahteraan masyarakat.

Pangan yang tak sesederhana apa yang tersaji di meja-meja makan kita

Pangan ternyata tidak sesederhana sekadar nutrisi penopang kehidupan. Pangan juga dimaknai sebagai entitas ekonomi karena banyak komoditi pangan yang diperjual belikan. Pangan juga merupakan entitas pertahanan karena menjadi salah satu parameter utama dalam menilai seberapa kuat sebuah bangsa. Pangan juga merupakan simbol budaya, bisa dilihat dari keunikan dan kekhasan kuliner yang muncul dari setiap peradaban.

mengumpulkan bahan pangan dari hutan "ngramban"

Tak jarang tanpa sadar kita terjebak pada perspektif sempit bahwa pangan sebatas sumber karbohidrat atau sering disebut pangan pokok seperti beras, gandum, dan jagung. Padahal menurut Codex Alimentarius, pangan (food) didefinisikan sebagai segala bahan, baik yang diolah, setengah jadi, atau mentah, yang ditujukan untuk konsumsi manusia, dan termasuk minuman, permen karet, dan bahan apa pun yang telah digunakan dalam pembuatan, penyiapan atau pengolahan “makanan”, tetapi tidak termasuk kosmetik, atau tembakau, atau zat yang hanya digunakan sebagai obat.

Merujuk pada definisi tersebut, maka bahan minuman seperti kopi dan teh yang banyak dibudidayakan para petani kita itu juga termasuk kategori pangan. Begitupun dengan madu, aneka rempah-rempah, maupun aneka empon-empon yang lazim ada dalam wadah bumbu dapur. Juga bahan anorganik seperti garam. Pangan menjadi sangat beranekaragam dan tentu saja membawa kerumitan tersendiri.

daun pakis untuk sayur

Ada ungkapan yang sering kita dengar: “Kalau belum makan nasi, rasanya belum makan.” Dari ungkapan ini tersirat bahwa kita sudah sedemikian tergantung dengan padi sebagai bahan nasi. Bangsa lain mungkin saja mengalami hal serupa, dengan komoditi yang berbeda. Mungkin gandum, atau jagung. Padahal, berbicara sumber karbohidrat, sangat banyak alternatif tersedia. Mulai dari aneka umbi-umbian, tepung sagu, hingga buah-buahan seperti sukun.

Banyak varietas atau bahkan spesies pangan yang akhirnya sudah jarang dijumpai, sebagian lainnya tidak pernah termanfaatkan secara optimal. Itu semua terjadi karena semakin jarang dimanfaatkan dan pengetahuan kita pun akhirnya terputus. Sebagai negara megabiodiversitas, seyogyanya kita jangan tergantung dengan beras dan pangan yang umum tersedia di pasaran. Kita mesti mengoptimalkan potensi biodiversitas pangan yang kita miliki. Itulah kedaulatan pangan. Sains sendiri telah menyatakan bahwa semakin terdiversivikasi bahan yang kita makan, semakin baik bagi tubuh kita.

Kolangkalin buah aren, makanan Owa Jawa


Mengolah nira Aren menjadi Gula

Biodiversitas pangan sebagai bagian dari sistem alam

Setelah kita mencapai kesadaran tentang betapa kayanya potensi pangan yang kita miliki, tidak hanya berhenti di situ saja, tetapi juga perlu mempertimbangkan mengenai bagaimana proses menghasilkannya. Keanekaragaman pangan berkaitan erat dengan keanekaragaman hayati. Misalnya, ada jasa makhluk-makhluk hidup lain yang saling menopang dalam proses pembudidayaan pangan.

Sayangnya, peran dan jasa alam dalam produksi pangan ini jarang kita perhatikan. Misalnya jasa burung dan laba-laba yang mengendalikan populasi serangga hama, atau lebah dan tawon yang membantu proses penyerbukan. Belum lagi cacing dan mikrobia yang sangat penting dalam menjaga kesuburan tanah di mana aneka tanaman pangan itu tumbuh. Semakin kecil wujudnya, semakin tak mendapat perhatian.

Seiring dengan pergeseran paradigma yang memandang alam sebagai sebuah sistem besar, kiranya kita perlu menata kembali cara-cara kita dalam menghasilkan pangan. Pendekatan-pendekatan yang bersifat mekanistis-reduksionis dalam bidang pertanian perlu diganti dengan pendekatan sistemis, yang menempatkannya menjadi bagian sistem alam. Implementasi sederhananya, prinsip kehati-hatian perlu kita kedepankan, misalnya dalam penggunaan pupuk kimia sintetis, pestisida, hormon-hormon pemacu, dan rekayasa genetika.

Turut merayakan hari pangan sedunia

Hari ini, 16 Oktober 2024 bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia kami mengajak kepada para khalayak untuk merayakan keragaman hayati pangan yang kita miliki dengan cara mengenali, mengapresiasi, dan mulai mempertimbangkan untuk memasukkan pangan-pangan lokal yang dihasilkan petani lokal dengan cara-cara yang berkelanjutan sebagai bagian dari menu makan kita sehari-hari.

Terakhir, saya kutip perkataan Masanobu Fukuoka, seorang praktisi ‘pertanian alami’ dari Jepang: “Jika kita mengalami krisis pangan, bukanlah disebabkan oleh daya produktifitas alam yang tidak mencukupi, melainkan oleh keinginan manusia yang berlebih-lebihan.” 

Friday, November 3, 2023

Perayaan Hari Pangan Sedunia 2023: Kebun brayan urip dan Pentas kethoprak sayur

Oleh: Cashudi (Koordinator Paguyuban Petani Muda Mendolo)

Pentas Kethoprak " Suara Sayur"
Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo pada tahun ini, untuk kedua kalinya, mengorganisir perayaan Hari Pangan Sedunia. Perayaan ini bertujuan untuk mengenalkan pangan lokal yang ada di sekitar hutan Desa Mendolo terutama bagi generasi muda. Untuk pelaksanaannya, kami memilih tanggal 28-29 Oktober 2023. Perayaan kali ini memang tidak bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober 2023 dengan berbagai pertimbangan, seperti mengakomodir hari libur bagi adik-adik yang masih bersekolah agar mereka bisa berpartisipasi.

Desa kami kaya akan potensi pangan lokal. Sampai saat ini, kami sudah berhasil mendata lebih dari 85 jenis pangan lokal yang terdiri dari jamur, buah hutan, umbi-umbian, dan sayuran hutan. Kami dibantu Kelompok Mahasiswa Pecinta Alam Biolaska UIN Sunan Kalijaga, Indonesia Dragonfly Society, dan Yayasan Swaraowa telah memproduksi booklet katalog pangan lokal. Booklet ini meskipun belum mencakup semua jenis, harapannya bisa dibaca semua kalangan, terutama generasi muda di desa kami sendiri yang mungkin pengetahuan tentang pangan lokal masih kurang.

Kebetulan, tahun ini tema Hari Pangan Sedunia adalah “air adalah pangan, air adalah kehidupan”. Kami sekalian mengisi perayaan tahun ini dengan acara launching “Kebun Brayan Urip”. Kebun ini nantinya difungsikan sebagai fasilitas pembibitan tanaman hutan untuk konservasi air dan satwa liar, serta sebagai pusat belajar masyarakat mengenai pertanian dan kehutanan. Brayan Urip sendiri adalah sebuah bentuk kearifan lokal dalam penghargaan kepada semua makhluk. Kami ingin menggali lebih dalam lagi pesan-pesan yang terkandung dalam kearifan Brayan Urip ini.

meramban sayur liar di hutan Mendolo

Beberapa rangkaian acara mengisi perayaan hari pangan sedunia tahun ini. Pada hari pertama (28 Oktober 2023), kami mengajak segenap warga Mendolo, mahasiswa dari Biolaska UIN Sunan Kalijaga, teman-teman mahasiswa KKN UIN Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan beberapa tamu yang ikut trip untuk “meramban” bersama. Istilah meramban ini maksudnya adalah mencari dan mengumpulkan sayur dan makanan yang biasa dikonsumsi warga dukuh Sawahan yang tumbuh liar di hutan, kebun, maupun area persawahan.

Peserta meramban dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing menuju arah yang berbeda. Kelompok pertama dipimpin oleh saya sendiri, sedangkan kelompok kedua dipimpin oleh mas Diran. Selesai kegiatan, kami mengumpulkan hasil meramban di rumah Bapak Kasdani. Sayur, jamur, dan buah-buahan dipilih sesuai jenisnya masing-masing. Kami juga mendokumentasikan jenis-jenis tumbuhan yang tahun kemarin belum masuk dalam data kami.

salah satu adegan kethoprak suara sayur


Di sore harinya, kami mengisi acara dengan workshop daun pisang sebagai kemasan pangan. Kami mengumpulkan ibu-ibu dan anak-anak beserta teman-teman mahasiswa untuk pelatihan atau belajar membuat takir atau wadah makanan yang terbuat dari daun pisang. Dengan adanya workshop ini kami berharap agar warga mau kembali menggunakan kemasan dari daun yang jelas ramah lingkungan, sehingga bisa mengurangi produksi sampah plastik.

penonton ketoprak suara sayur


Pada malam harinya, kami memberi kesempatan para peserta dan mahasiswa untuk ikut pengamatan satwa nokturnal. Hewan target yang kami cari pada malam itu antara lain: kukang jawa, landak, burung celepuk, dan burung paruh kodok. Alhamdulillah, pada malam itu kami berhasil menjumpai burung paruh kodok dalam jarak yang sangat dekat.

Pada acara puncak atau pada hari kedua, kami isi dengan acara launching kebun Brayan Urip. Kami mengundang berbagai pihak untuk ikut menjadi saksi launching kebun Raya Urip ini. Pada acara ini, kami menampilkan hiburan ketoprak sayur dengan lakon “suara sayur”. Setelah persiapan yang cukup panjang, kurang lebih dua bulan, pertunjukkan yang dimainkan para anggota PPM Mendolo dibantu mas Adin dari Swaraowa berhasil memeriahkan perayaan hari pangan tahun ini. Tentu saja tidak hanya kemeriahan yang kami harapkan, namun juga pesan atau kampanye pangan lokal dan konservasi hutan yang hendak disampaikan melalui pertunjukan tersebut semoga bisa diterima dengan baik.

foto bersama seluruh pemain, warga mendolo dan perwakilan pemerintah desa dan dinas terkait


Selesai acara launching, semua peserta dan tamu undangan serta warga Dusun Sawahan diarahkan ke kampung untuk makan bersama dengan menu hasil meramban pada hari pertama. Menunya cukup banyak, ada urap daun pakis, sayur bening daun ketupuk, lodeh lompong, oseng daun slempat, dan aneka sambal seperti kecombrang, klanting, kluwek, dan ukel. Buah durian sumbangan warga masyarakat Sawahan menjadi hidangan penutup bagi para tamu.

Saya mewakili PPM Mendolo mengucapkan banyak terima kasih kepada segenap tamu undangan, antara lain: CDK IV Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah, Perum Perhutani yang diwakili BKPH Karanganyar, Camat beserta Muspika Lebakbarang, Kepala Desa Mendolo berikut perangkatnya. Tak lupa kepada Yayasan Swaraowa, Indonesia Dragonfly Society (IDS), Biolaska UIN Sunan Kalijaga, mahasiswa KKN UIN Gusdur unit Mendolo, serta semua warga masyarakat yang sangat antusias ikut membantu dan meramaikan acara kami ini. Ke depannya, kami berharap perayaan hari pangan bisa menjadi agenda rutin di Desa Mendolo, dan bisa mengundang para wisatawan datang ke desa kami. 

Salam.