Tuesday, August 25, 2026

Motif Batik “ Wanara": Harmoni Filosofi Sido Luhur, Mitologi, dan Observasi Primata dalam Selembar Kain

 


oleh : Arif Setiawan

Ketika membuat design  motif batik Owa tahun lalu dengan sahabat saya Faiz Alymy sebenarnya muncul pilihan-pilihan untuk mengangkat tema jenis-jenis primata Indonesia. Kombinasi visualisasi alam terutama hutan dan konsep pola motif klasik.

Motif  batik kedua ini, kemudian kami  beri nama “ Wanara”,

Menghidupkan Kembali Monyet Pemakan Daun khas Nusantara

Inspirasi visual karya ini berakar dari karakteristik keanekaragaman hayati Indonesia, khususnya genera Presbytis—kelompok primata pemakan daun (folivore) kalau di jawa tengah ada ( Presbytis fredericae) Rekrekan, di Sumatera ada Simpai( Presbytis melalophos), di Kalimantan ada Kelasi ( Presbytis rubicunda) dan Bekantan ( Nasalis larvatus), , dan masih banyak lagi yang mempunyai karakther yang khas, dan sebaran alaminya mewakili keanekaragaman hayati di bagian barat kepulauan Nusantara Jawa-Kalimantan-Sumatera . Bahkan ada endemik di pulau-pulau kecil seperti di Mentawai ada Simakobu ( Simias concolor) dan Joja ( Presbytis poteziani), Kekah ( Presbytis natunae) di Natuna, (Presbytis siamensis) di Bintan.

Berbeda dengan pendekatan ilustrasi modern yang serba realistis, wujud sang Presbytis digubah ke dalam stilasi seni rupa klasik Solo (Surakarta).Garis-garis lekuk tubuhnya dibuat lincah dan bergelombang, memperlihatkan sifat arboreal mereka yang aktif berpindah di antara kanopi hutan, dan ciri khas morphologinya adalah rambut jambulnya. Isen-isen ( isian dalam )  dedaunan yang membalur anatomi  monyet secara eksplisit menegaskan hubungan simbiotik antara fauna ini dengan alam habitatnya.

Berpijak pada Pakem Sido Luhur

Secara struktur visual, desain ini dibangun di atas fondasi pola Sido Luhur—salah satu motif batik klasik keraton yang sarat makna. Kata sido berarti jadi atau terus-menerus, sementara luhur menyimbolkan keluhuran budi, kemuliaan, serta kehormatan hidup.

Bingkai geometris bersudut belah ketupat yang berpadu dengan ornamen utama di tengah menciptakan keseimbangan ruang yang agung. Garis-garis bergelombang yang membingkai pola ini mempertegas karakteristik estetika klasik Surakarta yang anggun, tertib, dan sarat makna transendental.

Mengapa "Wanara"?

Secara harfiah dalam bahasa Sanskerta, Wanara  merujuk pada ras kera atau monyet karena berekor. Namun dalam semesta Ramayana—wiracarita yang menjadi ruh berbagai pementasan wayang —Wanara melambangkan ketangkasan, kesetiaan, serta kecerdasan alami yang menjaga keseimbangan jagat.

Melalui penamaan ini, batik Motif Wanara hadir bukan sekadar sebagai ornamen fauna, melainkan sebagai bentuk penghormatan pada nilai-nilai kebijaksanaan lokal dan perlindungan alam liar yang berpadu dengan doa keluhuran hidup.

Merayakan Colobine Day 2026

Batik selalu menjadi media tutur yang ampuh. Lewat Batik Motif Wanara, saya berharap Colobine Day 2026 , 25 agustus ini, tidak hanya dirayakan sebagai momentum kepedulian lingkungan global, tetapi juga dirayakan dari dalam akar budaya kita sendiri. Memberi semangat khususnya kepada pegiat konservasi alam untuk melestarikan jenis-jenis monyet asli Indonesia, Bahwa penghormatan terhadap alam, keluhuran budi, dan habitat primata sesungguhnya telah lama terpahat seirama dalam filosofi busana Nusantara.


No comments:

Post a Comment