oleh : Arif Setiawan
Ketika membuat design motif batik Owa tahun lalu dengan sahabat saya
Faiz Alymy sebenarnya muncul pilihan-pilihan untuk mengangkat tema jenis-jenis
primata Indonesia. Kombinasi visualisasi
alam terutama hutan dan konsep pola motif klasik.
Motif batik kedua ini, kemudian kami beri nama “ Wanara”,
Menghidupkan Kembali Monyet Pemakan Daun khas Nusantara
Inspirasi visual karya ini berakar dari karakteristik
keanekaragaman hayati Indonesia, khususnya genera Presbytis—kelompok
primata pemakan daun (folivore) kalau di jawa tengah ada ( Presbytis
fredericae) Rekrekan, di Sumatera ada Simpai( Presbytis melalophos),
di Kalimantan ada Kelasi ( Presbytis rubicunda) dan Bekantan ( Nasalis
larvatus), , dan masih banyak lagi yang mempunyai karakther yang khas, dan
sebaran alaminya mewakili keanekaragaman hayati di bagian barat kepulauan Nusantara
Jawa-Kalimantan-Sumatera . Bahkan ada endemik di pulau-pulau kecil seperti di
Mentawai ada Simakobu ( Simias concolor) dan Joja ( Presbytis
poteziani), Kekah ( Presbytis natunae) di Natuna, (Presbytis siamensis) di Bintan.
Berbeda dengan pendekatan ilustrasi modern yang serba
realistis, wujud sang Presbytis digubah ke dalam stilasi seni rupa
klasik Solo (Surakarta).Garis-garis lekuk tubuhnya dibuat lincah dan
bergelombang, memperlihatkan sifat arboreal mereka yang aktif berpindah di
antara kanopi hutan, dan ciri khas morphologinya adalah rambut jambulnya.
Isen-isen ( isian dalam ) dedaunan yang
membalur anatomi monyet secara eksplisit
menegaskan hubungan simbiotik antara fauna ini dengan alam habitatnya.
Berpijak pada Pakem Sido Luhur
Secara struktur visual, desain ini dibangun di atas fondasi
pola Sido Luhur—salah satu motif batik klasik keraton yang sarat makna.
Kata sido berarti jadi atau terus-menerus, sementara luhur menyimbolkan
keluhuran budi, kemuliaan, serta kehormatan hidup.
Bingkai geometris bersudut belah ketupat yang berpadu dengan
ornamen utama di tengah menciptakan keseimbangan ruang yang agung. Garis-garis bergelombang yang membingkai
pola ini mempertegas karakteristik estetika klasik Surakarta yang anggun,
tertib, dan sarat makna transendental.
Mengapa "Wanara"?
Secara harfiah dalam bahasa Sanskerta, Wanara merujuk pada ras kera atau monyet karena
berekor. Namun dalam semesta Ramayana—wiracarita yang menjadi ruh berbagai
pementasan wayang —Wanara melambangkan ketangkasan, kesetiaan, serta kecerdasan
alami yang menjaga keseimbangan jagat.
Melalui penamaan ini, batik Motif Wanara hadir bukan
sekadar sebagai ornamen fauna, melainkan sebagai bentuk penghormatan pada
nilai-nilai kebijaksanaan lokal dan perlindungan alam liar yang berpadu dengan
doa keluhuran hidup.
Merayakan Colobine Day 2026
Batik selalu menjadi media tutur yang ampuh. Lewat Batik
Motif Wanara, saya berharap Colobine Day 2026 , 25 agustus ini, tidak hanya dirayakan sebagai
momentum kepedulian lingkungan global, tetapi juga dirayakan dari dalam akar
budaya kita sendiri. Memberi semangat khususnya kepada pegiat konservasi alam
untuk melestarikan jenis-jenis monyet asli Indonesia, Bahwa penghormatan
terhadap alam, keluhuran budi, dan habitat primata sesungguhnya telah lama
terpahat seirama dalam filosofi busana Nusantara.

No comments:
Post a Comment