Tuesday, August 25, 2026

Motif Batik “ Wanara": Harmoni Filosofi Sido Luhur, Mitologi, dan Observasi Primata dalam Selembar Kain

 


oleh : Arif Setiawan

Ketika membuat design  motif batik Owa tahun lalu dengan sahabat saya Faiz Alymy sebenarnya muncul pilihan-pilihan untuk mengangkat tema jenis-jenis primata Indonesia. Kombinasi visualisasi alam terutama hutan dan konsep pola motif klasik.

Motif  batik kedua ini, kemudian kami  beri nama “ Wanara”,

Menghidupkan Kembali Monyet Pemakan Daun khas Nusantara

Inspirasi visual karya ini berakar dari karakteristik keanekaragaman hayati Indonesia, khususnya genera Presbytis—kelompok primata pemakan daun (folivore) kalau di jawa tengah ada ( Presbytis fredericae) Rekrekan, di Sumatera ada Simpai( Presbytis melalophos), di Kalimantan ada Kelasi ( Presbytis rubicunda) dan Bekantan ( Nasalis larvatus), , dan masih banyak lagi yang mempunyai karakther yang khas, dan sebaran alaminya mewakili keanekaragaman hayati di bagian barat kepulauan Nusantara Jawa-Kalimantan-Sumatera . Bahkan ada endemik di pulau-pulau kecil seperti di Mentawai ada Simakobu ( Simias concolor) dan Joja ( Presbytis poteziani), Kekah ( Presbytis natunae) di Natuna, (Presbytis siamensis) di Bintan.

Berbeda dengan pendekatan ilustrasi modern yang serba realistis, wujud sang Presbytis digubah ke dalam stilasi seni rupa klasik Solo (Surakarta).Garis-garis lekuk tubuhnya dibuat lincah dan bergelombang, memperlihatkan sifat arboreal mereka yang aktif berpindah di antara kanopi hutan, dan ciri khas morphologinya adalah rambut jambulnya. Isen-isen ( isian dalam )  dedaunan yang membalur anatomi  monyet secara eksplisit menegaskan hubungan simbiotik antara fauna ini dengan alam habitatnya.

Berpijak pada Pakem Sido Luhur

Secara struktur visual, desain ini dibangun di atas fondasi pola Sido Luhur—salah satu motif batik klasik keraton yang sarat makna. Kata sido berarti jadi atau terus-menerus, sementara luhur menyimbolkan keluhuran budi, kemuliaan, serta kehormatan hidup.

Bingkai geometris bersudut belah ketupat yang berpadu dengan ornamen utama di tengah menciptakan keseimbangan ruang yang agung. Garis-garis bergelombang yang membingkai pola ini mempertegas karakteristik estetika klasik Surakarta yang anggun, tertib, dan sarat makna transendental.

Mengapa "Wanara"?

Secara harfiah dalam bahasa Sanskerta, Wanara  merujuk pada ras kera atau monyet karena berekor. Namun dalam semesta Ramayana—wiracarita yang menjadi ruh berbagai pementasan wayang —Wanara melambangkan ketangkasan, kesetiaan, serta kecerdasan alami yang menjaga keseimbangan jagat.

Melalui penamaan ini, batik Motif Wanara hadir bukan sekadar sebagai ornamen fauna, melainkan sebagai bentuk penghormatan pada nilai-nilai kebijaksanaan lokal dan perlindungan alam liar yang berpadu dengan doa keluhuran hidup.

Merayakan Colobine Day 2026

Batik selalu menjadi media tutur yang ampuh. Lewat Batik Motif Wanara, saya berharap Colobine Day 2026 , 25 agustus ini, tidak hanya dirayakan sebagai momentum kepedulian lingkungan global, tetapi juga dirayakan dari dalam akar budaya kita sendiri. Memberi semangat khususnya kepada pegiat konservasi alam untuk melestarikan jenis-jenis monyet asli Indonesia, Bahwa penghormatan terhadap alam, keluhuran budi, dan habitat primata sesungguhnya telah lama terpahat seirama dalam filosofi busana Nusantara.


Monday, August 17, 2026

Konservasi Cawan Madu: Pendekatan Regeneratif untuk Resiliensi Habitat Owa Jawa

 

Interaksi lebah dan bunga kopi meningkatkan peluang terjadinya penyerbukan

Oleh: Sidiq Harjanto

Pada kotak-kotak kayu kecil di sudut kebun petani, lebah-lebah klanceng bekerja dengan tekun. Tidak seperti lebah sengat yang membangun sarang berbentuk segi enam simetris dari lilin murni, lebah nirsengat ini membangun wadah-wadah yang unik. Mereka mengumpulkan resin dari berbagai pepohonan hutan, lalu membentuk cawan-cawan cokelat kehitaman untuk menyimpan cadangan madu maupun polen yang mereka kumpulkan.

Dari cawan-cawan kecil itulah lahir sebuah cerita besar tentang keterhubungan. Setiap tetes madu yang kita minum terkoneksi langsung dengan keanekaragaman flora dan kelestarian hutan. Ketika petani merawat habitat klanceng dan menjaga tutupan pohon, mereka tak cuma mengisi cawan-cawan madu, tetapi sedang mempertahankan jalinan kehidupan.

Berangkat dari pemahaman itu, SwaraOwa memaknai pengembangan ekonomi berbasis hutan bukan sekadar memberikan keterampilan atau mengenalkan teknologi terapan kepada petani melainkan juga menumbuhkan 'ekosistem' yang regeneratif. Di dalamnya perlu ada koherensi antarpihak, kolaborasi, dan inovasi. Pembelajaran ini kami dapatkan dari pengalaman lebih dari delapan tahun introduksi pembudidayaan lebah klanceng di desa habitat Owa Jawa.

Darso dan Suroyo sedang memanen madu menggunakan pompa sedot

Lebah sebagai agen konservasi

Nektar adalah cairan manis yang dihasilkan berbagai jenis tumbuhan. Dengan kekayaan spesies penyusun vegetasi hutan, nektar dihasilkan dalam jumlah besar. Kita susah mengestimasinya karena sifatnya yang tersebar. Meskipun tersedia dalam jumlah melimpah, nektar tidak bernilai ekonomi. Namun, keajaiban terjadi ketika lebah telah mengubahnya menjadi madu, ia menjelma komoditas bernilai tinggi dan telah diperdagangkan selama ribuan tahun.

Lebah mengambil nektar dan serbuk sari dari tumbuhan sebagai sumber energi dan protein. Bagi mereka, itu adalah mekanisme mempertahankan eksistensi spesies. Akan tetapi, dilihat dari sudut pandang berbeda, kerja lebah juga meningkatkan kemungkinan keberlanjutan berbagai spesies lain. Interaksi antara lebah dengan bunga dapat berkontribusi meningkatkan keberhasilan penyerbukan, yang kemudian memicu pembuahan dan menghasilkan biji sebagai bakal generasi baru spesies tumbuhan yang didatanginya.

Regenerasi tumbuh-tumbuhan penyusun hutan adalah salah satu fondasi regenerasi hutan itu sendiri. Dengan hutan yang terus tumbuh, aneka spesies yang bergantung kepadanya otomatis juga lestari.

Logika ini yang kami pakai saat pertama kali belajar bersama mengenai pembudidayaan lebah bersama masyarakat di desa-desa sekitar habitat Owa Jawa. Konservasi spesies primata endemik dan terancam punah ini tidak hanya ditempuh dengan jalan linear seperti perlindungan dari perburuan, tetapi juga melalui jaring-jaring kompleksitas hutan itu sendiri.

Jika regenerasi hutan sebagai habitat Owa Jawa adalah isu jangka panjang, ketersediaan pakan baginya bisa diamati dalam skala waktu yang lebih singkat. Kelompok kera kecil ini merupakan satwa pemakan buah. Di sisi lain, lebah merupakan kelompok serangga penyerbuk dominan di hutan-hutan tropis. Di titik inilah kita menemukan korelasi beberapa aspek yang bertautan. Jejak jasa lebah mungkin terekam pada sebagian pakan yang menopang kehidupan Owa.

Melalui budidaya lebah, konservasi Owa Jawa tidak hanya berlangsung di dalam hutan, tetapi juga diperluas ke lanskap sosial-ekologis yang mengelilinginya. Cawan madu menjadi titik masuk untuk memulainya, dengan argumen dasar: nilai ekonomi diperoleh bukan dengan menghabiskan sumber daya, tetapi dengan mempertahankan kemampuan lanskap untuk terus menghasilkan manfaat.


Dengan hati-hati, Yukni mengangkat brood cells - tempat untuk menetaskan telur dan larva lebah
 
untuk dibagi menjadi dua bagian


Posisi lebah dalam kompleksitas sistem sosial-ekologi

Menggunakan paradigma sistemik, kita menyadari bahwa hutan bukanlah entitas yang terisolir. Ekosistem hutan tropis secara tidak langsung dipengaruhi oleh bagaimana dinamika global berjalan. Dalam skala yang lebih kecil, dinamika ekosistem hutan berhubungan dengan bagaimana masyarakat di sekitarnya mendapatkan manfaat langsung. Cerita para petani hutan di Dusun Sawahan, Desa Mendolo, bisa memberikan gambaran yang mempermudah kita memahaminya.

Sebagai petani, Rohim (41) menggantungkan ekonomi dari tiga komoditas utama, meliputi durian, kopi, dan madu. Di luar itu, ada sumbangan dalam porsi yang lebih kecil dari kapulaga, jengkol, dan biji kepayang. Berangkat sebagai pemanen madu hutan (Apis dorsata), lima tahun terakhir ia membudidaya klanceng dari jenis Heterotrigona itama. Kini, mayoritas madu yang dijualnya berasal dari kotak-kotak budidaya di kebun, sementara sebagian kecil lainnya dari panen alam. Madu telah menyumbang sekitar 20% pemasukannya.

Bagi para pembudidaya klanceng di Sawahan, madu menjadi bantalan yang cukup kuat dalam hal ekonomi. Jika dihitung dari hasil panenan maupun potensi nilai ekonomi, madu relatif lebih stabil ketimbang komoditas lain. Bandingkan dengan kopi yang disparitas hasil panennya menunjukkan kontras yang lebar, angka tertinggi pada musim raya mencapai sekira tiga kali lipat dibandingkan angka terendah pada musim paceklik seperti sekarang ini.

Pada durian, kontras itu bisa jauh lebih besar lagi. Meskipun tertolong dengan harga pasar, namun tampaknya durian memiliki ambang optimal tertentu. Ketika panen raya, pasar bisa mencapai titik jenuh sehingga pengepul lokal kesulitan memasarkan lebih banyak durian yang disetor petani. Akibatnya, harga langsung jatuh.

Kombinasi beberapa sumber pendapatan seperti yang dimiliki Rohim dan banyak petani di desanya merupakan strategi untuk menjaga daya tahan menghadapi ketidakpastian pasar. Melalui agroforestri, petani bisa memperoleh pendapatan dari sumber yang beragam. Agroforestri adalah mengombinasi berbagai spesies tanaman pada satu lahan. Dalam satu kebun, kita bisa menemukan durian, kopi, kapulaga, pisang, dan berbagai tanaman pangan. Tak hanya tanaman budidaya, spesies liar masih diberi ruang untuk tumbuh.

praktik pemecahan koloni dengan warga Sawahan ( 8 agustus 2026)

Praktik ini tidak hanya menjaga resiliensi ekonomi bagi petani, tetapi juga memberi berbagai keuntungan lain.

Alih-alih menjual semua madu hasil panen, Rohim selalu menyisihkan setidaknya satu liter madu klanceng untuk mencukupi kebutuhan keluarga setiap bulannya. Baginya dan banyak keluarga pembudidaya lebah di dusun Sawahan, madu adalah suplemen kesehatan yang murah meriah, diramu oleh proses alami di hutan yang melingkupi desa. Pada cawan-cawan kecil di dalam kotak lebah klanceng itulah, para petani bisa mengaksesnya.

Demikian pula yang dilakukan Darso (34). Pekerjaan di kebun dan hutan membuatnya butuh stamina prima. Menurutnya, mengonsumsi madu secara rutin menjaga tubuh tetap bugar. Bagi masyarakat sekitar hutan, kebugaran adalah salah satu aset ekonomi. Ketika masyarakat merasakan langsung bahwa madu dari hutan yang terjaga menjadi "suplemen alami" dan benteng imunitas keluarga, itu memberi peluang terciptanya sistem umpan balik.

Madu sebagai komoditas ekonomi, maupun madu sebagai suplemen kesehatan bisa dimaknai sebagai bentuk-bentuk insentif yang diberikan hutan kepada masyarakat. Namun, insentif hanya bisa dipertahankan melalui resiprositas. Artinya, jika para petani ingin mendapatkan manfaat yang terus-menerus, mereka perlu secara sadar memelihara keutuhan hutan agar fungsi itu terus berjalan.

hasil pemecahan koloni

Merawat 'ekosistem' budidaya lebah

Inisiasi budidaya lebah klanceng yang kami jalankan berawal dari penyelamatan koloni liar yang dipanen dari alam. Semula, para pemanen madu sekadar mengambil madu dari sarang di pohon dan meninggalkan begitu saja koloni lebah dalam keadaan rusak. Pada akhirnya, jarang koloni yang selamat. Praktik semacam itu dikhawatirkan bisa mengancam populasi lebah liar di hutan.

Para pemanen madu lalu belajar memindahkan sarang klanceng ke dalam kotak budidaya untuk dipelihara. Tidak mudah untuk melakukan itu. Permasalahannya bukan pada hal teknis, melainkan pada aspek psikologis. Seorang pemanen madu alam biasa pergi ke hutan lalu membawa pulang hasil panen pada hari itu juga. Sementara itu, seorang pembudidaya perlu menghadapi delayed gratification. Memulai budidaya hari ini berarti baru bisa memanen beberapa bulan lagi.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, mereka pada akhirnya berhasil melewati titik kritis itu. Di Sawahan sendiri, sudah lebih dari sepuluh orang pembudidaya klanceng yang kini memetik manfaat nyata. Mereka bisa rutin memanen madu setiap bulan, mulai Juni hingga menjelang puncak musim hujan di bulan Desember.

Perkembangan ini membawa beberapa implikasi menarik, termasuk dalam hal bagaimana mendapatkan koloni untuk dipelihara. Suroyo (35), seorang petani lain yang baru dua tahun terakhir menekuni klanceng, menuturkan bahwa ia mendapatkan koloni dengan cara memasang kotak jebak. Dibandingkan rekan-rekan sesama pembudidaya, tingkat keberhasilan yang didapatnya jauh lebih tinggi. Didukung pengalaman panjang dengan lebah madu lokal (Apis cerana), ia memahami bagaimana menentukan lokasi pemasangan yang ideal.

Banyak warga ingin memulai budidaya, tetapi kesulitan mendapatkan koloni lebah adalah tantangan tersendiri. Keahlian yang dimiliki Suroyo sangat berharga untuk menjawabnya. Hanya saja, seringkali keahlian semacam ini sulit ditularkan karena variabelnya kompleks dan kalkulasi terjadi secara intuitif. Padahal, teknik jebak merupakan metode yang lestari karena tidak perlu membongkar sarang koloni liar yang risiko kegagalannya lebih tinggi sehingga berpotensi mengganggu keberlanjutan populasi di alam.

Menjawab tantangan kebutuhan koloni budidaya, awal Agustus ini kami mengadakan workshop. Berbeda dari workshop pada umumnya, tidak ada status narasumber ataupun peserta karena semua mengambil posisi setara—punya kesempatan yang sama dalam berbagi pengalaman masing-masing. Kegiatan ini hendak meningkatkan keterampilan para pembudidaya dalam metode pemecahan koloni (colony splitting). Pemecahan koloni adalah proses membagi satu koloni lebah klanceng yang sudah kuat menjadi dua atau lebih koloni baru. Ini merupakan alternatif di saat metode jebak belum efektif.

Yukni Buhan (32) tampak sangat telaten mengamati sarang yang sudah terbuka. Menurut pengalamannya, tingkat keberhasilan pemecahan koloni terletak pada pengamanan ratu dan pupa ratu. Pada teknik splitting manual, prinsipnya adalah: satu koloni dipertahankan dengan ratu aktif, sedangkan koloni pecahan diberikan pupa ratu sebagai calon ratu baru. Jika pemecahan koloni dilakukan dengan grasa-grusu, seringkali ratu hilang atau terluka sementara sel calon ratu (queen cell) yang rawan pecah menjadi rusak.

Sebagai pembudidaya yang paling berpengalaman dalam teknik pemecahan, Yukni memandu proses ini sembari membagi banyak tips untuk meningkatkan keberhasilan. Metode ini membutuhkan kesabaran tingkat tinggi agar jangan sampai melukai lebah-lebah atau merusak kumpulan telur – pupa – larva (brood cell). Ia juga mewanti-wanti untuk secara rutin memeriksa perkembangan koloni pasca-pemecahan agar terhindar dari binatang pengganggu seperti semut.

Praktik pemecahan koloni kali ini berjalan lancar, meskipun keberhasilannya baru bisa dilihat beberapa minggu ke depan. Namun, pertemuan ini bukan sekadar meningkatkan pengalaman teknis melainkan sebentuk upaya merawat ‘ekosistem’ budidaya lebah yang telah dibangun para praktisinya. Ekosistem yang dimaksud adalah interaksi antar-aktor yang membentuk jaring-jaring kerja sama dalam skema pengembangan budidaya klanceng.

Melalui praktik bersama, keahlian dan keterampilan tidak lagi bersifat eksklusif. Dalam hal ini, karakter regeneratif itu kembali dimunculkan pada konteks lain, yaitu ekosistem pengetahuan. Dalam momen yang terbilang singkat, pembicaraan tidak berhenti pada bagaimana memperbanyak koloni, tetapi berkembang ke berbagai hal termasuk bagaimana meningkatkan ketersediaan pakan alami lebah, perkembangan alat penyedot madu, hingga pengalaman-pengalaman sederhana namun tetap berguna.

Bertambahnya koloni bisa berimplikasi pada kemungkinan peningkatan hasil panen yang artinya perlu memikirkan akses pasar yang lebih luas. Hal itu mungkin bisa dipecahkan bersama melalui perjumpaan-perjumpaan semacam ini. Membangun ekosistem ekonomi-ekologi berkelanjutan membutuhkan kolaborasi, alih-alih kompetisi.

Cawan madu bukan sekadar tempat di mana para pembudidaya mengarahkan ujung selang mesin sedotnyamengumpulkan tetes demi tetes cairan manis yang membawa manisnya ekonomi lestari. Karena di dalamnya, simpul keterhubungan itu terlihat: Owa Jawa – hutan – pohon – lebah – manusia. Pendekatan regeneratif bukan sekadar tentang membiarkan hutan bertahan, melainkan tentang mendesain interaksi manusia di dalamnya menjadi tindakan memulihkan dan menjaga resiliensi. Hutan yang regeneratif adalah hutan di mana keberadaan manusia tidak dianggap sebagai beban ekologis, melainkan sebagai pemelihara.

Monday, August 10, 2026

Sensasi seru fish watching di Kali Wisnu

mengamati ikan di Kali Wisnu

Oleh : Imam Taufiqurrahman

Ada pemandangan tak biasa di Kedung Kali Bengang, Kali Wisnu, pada 23-24 Mei 2026. Sekelompok pemuda dan anak-anak Dusun Sawahan, Desa Mendolo, memenuhi area kedung. Sebagian yang berkacamata selam dan snorkel, tampak membenamkan diri di beningnya aliran sungai. Mereka tengah asyik mencoba ber-fish watching.

Segerombolan ragalan menjadi incaran mereka. Sang penghuni kedung berukuran sedang hingga besar itu berenang dengan lincah di beningnya air, terus menghindar dari anak-anak yang coba menghampiri.

“Jangan dikejar, biarkan,” cegah Pak Irwanjasmoro, narasumber sekaligus instruktur kegiatan. “Ditunggu saja,” lanjutnya, “biar ikannya datang sendiri.”

Sebegitu antusias anak-anak itu berkecipakan mencoba mendekati. Lantas, tersadar kalau mengejarnya percuma.

Mereka terlalu bersemangat. Pun, saking belum terbiasanya ber-fish watching. Baru pertama mereka mencoba melakukan pengamatan ikan dari bawah sungai. Naluri yang timbul jadinya mengejar, seperti ingin menangkap. Padahal, justru dengan berdiam, ikan-ikan akan menghampiri.

Layaknya snorkeling di perairan laut, fish watching di sungai rupanya tak kalah seru. Dan kita sama tau, sekadar berenang atau bermain air saja sudah cukup menyenangkan.

Sementara, fish watching lebih lagi dalam menyuguhkan sensasi yang berbeda. Membenamkan wajah, lalu bernapas dengan snorkel dan mendengarkan hembusan napas yang berderu telah cukup jadi pengalaman baru yang unik.

Belum lagi dari yang biasanya melihat ikan sebatas dari atas permukaan sungai. Lazimnya, ragalan atau Tor tambra hanya dilihat dari jalan atau jembatan, menyambut siapa pun yang hendak masuk ke Dusun Sawahan. Fish watching memungkinkan kita berenang bersama mereka, mengikuti pergerakannya di kedalaman air, sesekali mendapati mereka sejajar pandang mata.

peserta pengamatan ikan anak-anak remaja dan dewasa

Seiring waktu, anak-anak pun terlihat lebih tenang. Mereka rela bergantian menggunakan snorkel, antre dengan sabar di pinggir sungai. Ada yang hanya memperhatikan, ada pula yang ikut turun mencarikan ikan untuk temannya.

Aliran sungai terasa sangat sejuk. Bagi yang tak terbiasa, mungkin akan cepat merasa kedinginan. Namun, anak-anak itu terlihat biasa saja. Mereka menyebar mencari titik pengamatan masing-masing.  

Para pemuda yang telah mendapat pembekalan dan mencoba ber-fish watching di hari pertama, terus mendampingi dan ikut membimbing adik-adik mereka itu, 17 anak usia SD-SMP. Mulai dari membantu anak-anak cara mengenakan snorkel, menemani mencari ikan, sembari mengawasi yang lain.

Anak-anak dipandu menggunakan kacamata selam dan snorkel

Semakin lama, mereka semakin terlihat menikmati. Berbagai gaya ditunjukkan: tengkurap di atas bebatuan, berjongkok di kedalaman air atau berjalan merunduk. Memasuki kemarau seperti sekarang, kedalaman dan arus Kali Wisnu memang terbilang aman dan ideal. Alirannya dangkal dan tak seberapa dalam, berkecepatan arus sedang.

Sedikit ke hilir, di pinggiran sungai yang penuh bebatuan dan kolam dangkal, Pak Irwan mendapati ikan lain.

“Ini, ada sili,” ujarnya.

Ikan pipih panjang mirip belut itu bersembunyi di bawah bebatuan. Kepalanya menyembul, memperlihatkan mulutnya yang bermoncong. Sementara bagian belakang hingga ekornya menjuntai di bebatuan dasar sungai. Bila tak jeli, ikan dengan corak unik bernama ilmiah Macrognathus maculatus itu tak akan terlihat.

Sili yang teramati bersembunyi di bebatuan

Biasanya, sili mendiami kedung beraliran deras yang permukaannya tertutup riak dan buih air. Kalau tidak tertangkap pancing, sulit sekali ditemukan. Beruntung kali ini ia berdiam di bebatuan dangkal.

Tak seberapa jauh, giliran bokol yang terlihat. Jenis umum di Kali Wisnu dan di perairan air tawar Jawa itu berenang di sekitar tepian sungai. Nama ilmiahnya Barbodes binotatus. Adapula lunjar, sejenis wader dengan garis sisi biru. Menurut Pak Irwan, jenis dalam genus Rasbora sp ini masih memerlukan studi mendalam karena kemiripannya satu sama lain.

Riki, yang sedari tadi mengamati di area bawah jembatan, muncul ke permukaan.

“Ada kékél,” sebutnya.

Beberapa anak-anak lantas menghampiri bebatuan yang Riki tunjuk. Segera mereka membenamkan diri, mencari si endemik Jawa yang sepintas menyerupai lele itu. Bedanya, ikan bernama ilmiah Glypthotorax platypogon tersebut memiliki organ perekat di dada yang membuatnya mampu menempel di bebatuan dalam aliran arus deras.

Fish watching sebagai ekowisata

Tanpa terasa, telah hampir dua jam anak-anak berendam di sungai. Meski tampak tak puas, kegiatan harus dihentikan. Empat dari tujuh jenis ikan di Kali Wisnu berhasil teramati. Kalau mau lebih gigih, mungkin akan bisa menjumpai jenis lain, macam uceng.

Memang, aktivitas fish watching yang dilakukan di perairan tawar semacam ini jauh dari populer, bahkan mungkin nyaris tidak dikenal. Berbeda dengan aktivitas serupa di bawah laut, sampai-sampai sebutan snorkeling seakan identik dengannya.

Namun, mengamati ikan air tawar di habitat alaminya dapat dikemas untuk rekreasi, bahkan ekowisata. Sebuah cara yang berbeda dalam upaya mengenalkan keragaman jenis ikan lokal, sekaligus mengajak orang untuk lebih peduli terhadap kelestarian sungai dan jenis ikan yang hidup di dalamnya.

Fish watching menjadi bentuk pemanfaatan lebih jauh dari melindungi dan melestarikan ikan perairan tawar. Kegiatan di Kali Wisnu ini terwacanakan dalam sarasehan dan workshop sungai di Dusun Sawahan pada 2025 silam. Pak Irwan yang hadir kala itu, memperkenalkan aktivitas yang pernah diujicobakannya di Yogyakarta.

Diskusi dan sharing bersama para pemuda sebelum aktivitas fish watching pertama, 23 Mei 2026

Mengembangkan fish watching sebagai ekowisata sangat mungkin dilakukan di Kali Wisnu. Masyarakat Dusun Sawahan telah lama meninggalkan praktik-praktik tak lestari dalam pemanfaatan sungai dan ikan. Dulu, saat kemarau adalah waktu terbaik bagi masyarakat Dusun Sawahan melakukan ‘tradisi’ meracun, alias ngobat. Kemarau kini, fish watching yang dilakukan. Kedung Kali Bengang telah menjadi suaka bagi ragalan dan ikan lain. Sebuah lubuk larangan yang patut dikembangkan ke depannya. Ragalan yang hadir kembali itu menjadi bukti keberhasilan upaya perlindungan bertahun, yang telah tertuang dalam kesepakatan bersama. Perencanaan yang matang memang sangat diperlukan dan harus menjadi perhatian utama dalam mengembangkan ekowisata minat khusus fish watching.

Hulu terlihat mendung. Beberapa pemuda yang bertugas mengawasi aktivitas di sungai memberi peringatan agar aktivitas di sungai berhenti. Dan benar saja, tak seberapa lama hujan pun turun.

Anak-anak pulang berganti pakaian. Mereka kembali berkumpul untuk mendiskusikan hasil kegiatan sembari menyantap makan siang. Tahapan awal dalam memperkenalkan fish watching pada pemuda dan anak-anak Dusun Sawahan telah selesai. Dan mereka bersepakat untuk melakukan fish watching­ lagi di lain waktu. Anda tertarik ikut mencoba?