Showing posts with label Sawahan. Show all posts
Showing posts with label Sawahan. Show all posts

Monday, August 17, 2026

Konservasi Cawan Madu: Pendekatan Regeneratif untuk Resiliensi Habitat Owa Jawa

 

Interaksi lebah dan bunga kopi meningkatkan peluang terjadinya penyerbukan

Oleh: Sidiq Harjanto

Pada kotak-kotak kayu kecil di sudut kebun petani, lebah-lebah klanceng bekerja dengan tekun. Tidak seperti lebah sengat yang membangun sarang berbentuk segi enam simetris dari lilin murni, lebah nirsengat ini membangun wadah-wadah yang unik. Mereka mengumpulkan resin dari berbagai pepohonan hutan, lalu membentuk cawan-cawan cokelat kehitaman untuk menyimpan cadangan madu maupun polen yang mereka kumpulkan.

Dari cawan-cawan kecil itulah lahir sebuah cerita besar tentang keterhubungan. Setiap tetes madu yang kita minum terkoneksi langsung dengan keanekaragaman flora dan kelestarian hutan. Ketika petani merawat habitat klanceng dan menjaga tutupan pohon, mereka tak cuma mengisi cawan-cawan madu, tetapi sedang mempertahankan jalinan kehidupan.

Berangkat dari pemahaman itu, SwaraOwa memaknai pengembangan ekonomi berbasis hutan bukan sekadar memberikan keterampilan atau mengenalkan teknologi terapan kepada petani melainkan juga menumbuhkan 'ekosistem' yang regeneratif. Di dalamnya perlu ada koherensi antarpihak, kolaborasi, dan inovasi. Pembelajaran ini kami dapatkan dari pengalaman lebih dari delapan tahun introduksi pembudidayaan lebah klanceng di desa habitat Owa Jawa.

Darso dan Suroyo sedang memanen madu menggunakan pompa sedot

Lebah sebagai agen konservasi

Nektar adalah cairan manis yang dihasilkan berbagai jenis tumbuhan. Dengan kekayaan spesies penyusun vegetasi hutan, nektar dihasilkan dalam jumlah besar. Kita susah mengestimasinya karena sifatnya yang tersebar. Meskipun tersedia dalam jumlah melimpah, nektar tidak bernilai ekonomi. Namun, keajaiban terjadi ketika lebah telah mengubahnya menjadi madu, ia menjelma komoditas bernilai tinggi dan telah diperdagangkan selama ribuan tahun.

Lebah mengambil nektar dan serbuk sari dari tumbuhan sebagai sumber energi dan protein. Bagi mereka, itu adalah mekanisme mempertahankan eksistensi spesies. Akan tetapi, dilihat dari sudut pandang berbeda, kerja lebah juga meningkatkan kemungkinan keberlanjutan berbagai spesies lain. Interaksi antara lebah dengan bunga dapat berkontribusi meningkatkan keberhasilan penyerbukan, yang kemudian memicu pembuahan dan menghasilkan biji sebagai bakal generasi baru spesies tumbuhan yang didatanginya.

Regenerasi tumbuh-tumbuhan penyusun hutan adalah salah satu fondasi regenerasi hutan itu sendiri. Dengan hutan yang terus tumbuh, aneka spesies yang bergantung kepadanya otomatis juga lestari.

Logika ini yang kami pakai saat pertama kali belajar bersama mengenai pembudidayaan lebah bersama masyarakat di desa-desa sekitar habitat Owa Jawa. Konservasi spesies primata endemik dan terancam punah ini tidak hanya ditempuh dengan jalan linear seperti perlindungan dari perburuan, tetapi juga melalui jaring-jaring kompleksitas hutan itu sendiri.

Jika regenerasi hutan sebagai habitat Owa Jawa adalah isu jangka panjang, ketersediaan pakan baginya bisa diamati dalam skala waktu yang lebih singkat. Kelompok kera kecil ini merupakan satwa pemakan buah. Di sisi lain, lebah merupakan kelompok serangga penyerbuk dominan di hutan-hutan tropis. Di titik inilah kita menemukan korelasi beberapa aspek yang bertautan. Jejak jasa lebah mungkin terekam pada sebagian pakan yang menopang kehidupan Owa.

Melalui budidaya lebah, konservasi Owa Jawa tidak hanya berlangsung di dalam hutan, tetapi juga diperluas ke lanskap sosial-ekologis yang mengelilinginya. Cawan madu menjadi titik masuk untuk memulainya, dengan argumen dasar: nilai ekonomi diperoleh bukan dengan menghabiskan sumber daya, tetapi dengan mempertahankan kemampuan lanskap untuk terus menghasilkan manfaat.


Dengan hati-hati, Yukni mengangkat brood cells - tempat untuk menetaskan telur dan larva lebah
 
untuk dibagi menjadi dua bagian


Posisi lebah dalam kompleksitas sistem sosial-ekologi

Menggunakan paradigma sistemik, kita menyadari bahwa hutan bukanlah entitas yang terisolir. Ekosistem hutan tropis secara tidak langsung dipengaruhi oleh bagaimana dinamika global berjalan. Dalam skala yang lebih kecil, dinamika ekosistem hutan berhubungan dengan bagaimana masyarakat di sekitarnya mendapatkan manfaat langsung. Cerita para petani hutan di Dusun Sawahan, Desa Mendolo, bisa memberikan gambaran yang mempermudah kita memahaminya.

Sebagai petani, Rohim (41) menggantungkan ekonomi dari tiga komoditas utama, meliputi durian, kopi, dan madu. Di luar itu, ada sumbangan dalam porsi yang lebih kecil dari kapulaga, jengkol, dan biji kepayang. Berangkat sebagai pemanen madu hutan (Apis dorsata), lima tahun terakhir ia membudidaya klanceng dari jenis Heterotrigona itama. Kini, mayoritas madu yang dijualnya berasal dari kotak-kotak budidaya di kebun, sementara sebagian kecil lainnya dari panen alam. Madu telah menyumbang sekitar 20% pemasukannya.

Bagi para pembudidaya klanceng di Sawahan, madu menjadi bantalan yang cukup kuat dalam hal ekonomi. Jika dihitung dari hasil panenan maupun potensi nilai ekonomi, madu relatif lebih stabil ketimbang komoditas lain. Bandingkan dengan kopi yang disparitas hasil panennya menunjukkan kontras yang lebar, angka tertinggi pada musim raya mencapai sekira tiga kali lipat dibandingkan angka terendah pada musim paceklik seperti sekarang ini.

Pada durian, kontras itu bisa jauh lebih besar lagi. Meskipun tertolong dengan harga pasar, namun tampaknya durian memiliki ambang optimal tertentu. Ketika panen raya, pasar bisa mencapai titik jenuh sehingga pengepul lokal kesulitan memasarkan lebih banyak durian yang disetor petani. Akibatnya, harga langsung jatuh.

Kombinasi beberapa sumber pendapatan seperti yang dimiliki Rohim dan banyak petani di desanya merupakan strategi untuk menjaga daya tahan menghadapi ketidakpastian pasar. Melalui agroforestri, petani bisa memperoleh pendapatan dari sumber yang beragam. Agroforestri adalah mengombinasi berbagai spesies tanaman pada satu lahan. Dalam satu kebun, kita bisa menemukan durian, kopi, kapulaga, pisang, dan berbagai tanaman pangan. Tak hanya tanaman budidaya, spesies liar masih diberi ruang untuk tumbuh.

praktik pemecahan koloni dengan warga Sawahan ( 8 agustus 2026)

Praktik ini tidak hanya menjaga resiliensi ekonomi bagi petani, tetapi juga memberi berbagai keuntungan lain.

Alih-alih menjual semua madu hasil panen, Rohim selalu menyisihkan setidaknya satu liter madu klanceng untuk mencukupi kebutuhan keluarga setiap bulannya. Baginya dan banyak keluarga pembudidaya lebah di dusun Sawahan, madu adalah suplemen kesehatan yang murah meriah, diramu oleh proses alami di hutan yang melingkupi desa. Pada cawan-cawan kecil di dalam kotak lebah klanceng itulah, para petani bisa mengaksesnya.

Demikian pula yang dilakukan Darso (34). Pekerjaan di kebun dan hutan membuatnya butuh stamina prima. Menurutnya, mengonsumsi madu secara rutin menjaga tubuh tetap bugar. Bagi masyarakat sekitar hutan, kebugaran adalah salah satu aset ekonomi. Ketika masyarakat merasakan langsung bahwa madu dari hutan yang terjaga menjadi "suplemen alami" dan benteng imunitas keluarga, itu memberi peluang terciptanya sistem umpan balik.

Madu sebagai komoditas ekonomi, maupun madu sebagai suplemen kesehatan bisa dimaknai sebagai bentuk-bentuk insentif yang diberikan hutan kepada masyarakat. Namun, insentif hanya bisa dipertahankan melalui resiprositas. Artinya, jika para petani ingin mendapatkan manfaat yang terus-menerus, mereka perlu secara sadar memelihara keutuhan hutan agar fungsi itu terus berjalan.

hasil pemecahan koloni

Merawat 'ekosistem' budidaya lebah

Inisiasi budidaya lebah klanceng yang kami jalankan berawal dari penyelamatan koloni liar yang dipanen dari alam. Semula, para pemanen madu sekadar mengambil madu dari sarang di pohon dan meninggalkan begitu saja koloni lebah dalam keadaan rusak. Pada akhirnya, jarang koloni yang selamat. Praktik semacam itu dikhawatirkan bisa mengancam populasi lebah liar di hutan.

Para pemanen madu lalu belajar memindahkan sarang klanceng ke dalam kotak budidaya untuk dipelihara. Tidak mudah untuk melakukan itu. Permasalahannya bukan pada hal teknis, melainkan pada aspek psikologis. Seorang pemanen madu alam biasa pergi ke hutan lalu membawa pulang hasil panen pada hari itu juga. Sementara itu, seorang pembudidaya perlu menghadapi delayed gratification. Memulai budidaya hari ini berarti baru bisa memanen beberapa bulan lagi.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, mereka pada akhirnya berhasil melewati titik kritis itu. Di Sawahan sendiri, sudah lebih dari sepuluh orang pembudidaya klanceng yang kini memetik manfaat nyata. Mereka bisa rutin memanen madu setiap bulan, mulai Juni hingga menjelang puncak musim hujan di bulan Desember.

Perkembangan ini membawa beberapa implikasi menarik, termasuk dalam hal bagaimana mendapatkan koloni untuk dipelihara. Suroyo (35), seorang petani lain yang baru dua tahun terakhir menekuni klanceng, menuturkan bahwa ia mendapatkan koloni dengan cara memasang kotak jebak. Dibandingkan rekan-rekan sesama pembudidaya, tingkat keberhasilan yang didapatnya jauh lebih tinggi. Didukung pengalaman panjang dengan lebah madu lokal (Apis cerana), ia memahami bagaimana menentukan lokasi pemasangan yang ideal.

Banyak warga ingin memulai budidaya, tetapi kesulitan mendapatkan koloni lebah adalah tantangan tersendiri. Keahlian yang dimiliki Suroyo sangat berharga untuk menjawabnya. Hanya saja, seringkali keahlian semacam ini sulit ditularkan karena variabelnya kompleks dan kalkulasi terjadi secara intuitif. Padahal, teknik jebak merupakan metode yang lestari karena tidak perlu membongkar sarang koloni liar yang risiko kegagalannya lebih tinggi sehingga berpotensi mengganggu keberlanjutan populasi di alam.

Menjawab tantangan kebutuhan koloni budidaya, awal Agustus ini kami mengadakan workshop. Berbeda dari workshop pada umumnya, tidak ada status narasumber ataupun peserta karena semua mengambil posisi setara—punya kesempatan yang sama dalam berbagi pengalaman masing-masing. Kegiatan ini hendak meningkatkan keterampilan para pembudidaya dalam metode pemecahan koloni (colony splitting). Pemecahan koloni adalah proses membagi satu koloni lebah klanceng yang sudah kuat menjadi dua atau lebih koloni baru. Ini merupakan alternatif di saat metode jebak belum efektif.

Yukni Buhan (32) tampak sangat telaten mengamati sarang yang sudah terbuka. Menurut pengalamannya, tingkat keberhasilan pemecahan koloni terletak pada pengamanan ratu dan pupa ratu. Pada teknik splitting manual, prinsipnya adalah: satu koloni dipertahankan dengan ratu aktif, sedangkan koloni pecahan diberikan pupa ratu sebagai calon ratu baru. Jika pemecahan koloni dilakukan dengan grasa-grusu, seringkali ratu hilang atau terluka sementara sel calon ratu (queen cell) yang rawan pecah menjadi rusak.

Sebagai pembudidaya yang paling berpengalaman dalam teknik pemecahan, Yukni memandu proses ini sembari membagi banyak tips untuk meningkatkan keberhasilan. Metode ini membutuhkan kesabaran tingkat tinggi agar jangan sampai melukai lebah-lebah atau merusak kumpulan telur – pupa – larva (brood cell). Ia juga mewanti-wanti untuk secara rutin memeriksa perkembangan koloni pasca-pemecahan agar terhindar dari binatang pengganggu seperti semut.

Praktik pemecahan koloni kali ini berjalan lancar, meskipun keberhasilannya baru bisa dilihat beberapa minggu ke depan. Namun, pertemuan ini bukan sekadar meningkatkan pengalaman teknis melainkan sebentuk upaya merawat ‘ekosistem’ budidaya lebah yang telah dibangun para praktisinya. Ekosistem yang dimaksud adalah interaksi antar-aktor yang membentuk jaring-jaring kerja sama dalam skema pengembangan budidaya klanceng.

Melalui praktik bersama, keahlian dan keterampilan tidak lagi bersifat eksklusif. Dalam hal ini, karakter regeneratif itu kembali dimunculkan pada konteks lain, yaitu ekosistem pengetahuan. Dalam momen yang terbilang singkat, pembicaraan tidak berhenti pada bagaimana memperbanyak koloni, tetapi berkembang ke berbagai hal termasuk bagaimana meningkatkan ketersediaan pakan alami lebah, perkembangan alat penyedot madu, hingga pengalaman-pengalaman sederhana namun tetap berguna.

Bertambahnya koloni bisa berimplikasi pada kemungkinan peningkatan hasil panen yang artinya perlu memikirkan akses pasar yang lebih luas. Hal itu mungkin bisa dipecahkan bersama melalui perjumpaan-perjumpaan semacam ini. Membangun ekosistem ekonomi-ekologi berkelanjutan membutuhkan kolaborasi, alih-alih kompetisi.

Cawan madu bukan sekadar tempat di mana para pembudidaya mengarahkan ujung selang mesin sedotnyamengumpulkan tetes demi tetes cairan manis yang membawa manisnya ekonomi lestari. Karena di dalamnya, simpul keterhubungan itu terlihat: Owa Jawa – hutan – pohon – lebah – manusia. Pendekatan regeneratif bukan sekadar tentang membiarkan hutan bertahan, melainkan tentang mendesain interaksi manusia di dalamnya menjadi tindakan memulihkan dan menjaga resiliensi. Hutan yang regeneratif adalah hutan di mana keberadaan manusia tidak dianggap sebagai beban ekologis, melainkan sebagai pemelihara.

Thursday, May 15, 2025

Urgensi koridor habitat bagi owa jawa: dua tahun program penanaman partisipatif

 oleh Sidiq Harjanto ( SwaraOwa) dan  Alex Rifa’i (PPM Mendolo)

kelompok owa yang di monitor di Sawahan ( foto PPM Mendolo)

Owa jawa (Hylobates moloch) adalah satu di antara sembilan jenis owa (gibbon) yang ada di Indonesia. Sebaran kera kecil dengan warna rambut abu-abu ini endemik Pulau Jawa dan terbatas di bagian tengah dan barat pulau. Owa jawa dijumpai di habitat hutan tropis dataran rendah dengan spesifikasi tertentu. Mereka hidup arboreal (pada kanopi hutan) sehingga membutuhkan konektivitas kanopi hutan yang baik. Saat ini, owa jawa masuk dalam daftar spesies terancam punah (endangered) dalam daftar merah IUCN.

Fragmentasi habitat menjadi ancaman yang mempercepat kepunahan spesies karismatik ini. Kondisi fragmentasi habitat yang dimaksud adalah saat area hutan tidak lagi menyediakan konektivitas tajuk atau kanopi yang baik. Sederhananya, satu hamparan hutan terpecah menjadi blok-blok yang lebih kecil. Karena kebutuhan akan tajuk hutan yang terkoneksi, sedikit saja gangguan pada habitat owa semisal pembukaan jalan bisa memberikan fragmentasi habitat bagi jenis-jenis owa, termasuk owa jawa.

Ketika satu kelompok atau keluarga owa terpisah dari populasi, meningkatkan peluang terjadinya perkawinan sedarah yang berujung pada hanyutan genetik. Perkawinan antar anggota keluarga yang masih berkerabat dekat secara dramatis mengurangi keanekaragaman gen. Hal ini berakibat pada masalah-masalah kesehatan maupun kemampuan adaptasi dan meningkatkan risiko kepunahan. Semakin masif isolasi populasi, maka laju kepunahan suatu spesies juga semakin meningkat.

peta hutan terfragmentasi di Sawahan
Monitoring kelompok owa di habitat terfragmentasi

Butuh kejelian untuk memastikan adanya fragmentasi habitat bagi owa jawa. Secara sekilas, tak jarang tutupan lahan tampak relatif baik. Namun, jika kita mengacu pada kebutuhan spesifik spesies kera kecil dari suku Hylobatidae ini yang membutuhkan hutan heterogen, ternyata tidak semua area cocok dengan kebutuhan populasi owa. Tercacat beberapa kantong hutan habitat owa jawa dikelilingi area kebun, seperti durian dan kopi, atau tutupan vegetasi homogen lain yang tidak kompatibel dengan kebutuhan habitat.

Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo bekerja sama dengan Swaraowa, telah melakukan monitoring terhadap kelompok-kelompok owa jawa yang berada pada blok hutan kecil yang terpisah dari blok hutan utama. Kelompok-kelompok owa tersebut umumnya berbagi ruang pada area berhutan yang jauh di bawah luas teritori ideal. Dari data monitoring inilah, ke depannya upaya-upaya pelestarian bisa dirumuskan.

Kegiatan monitoring Owa jawa ( foto PPM Mendolo)
Tim monitoring berjumlah dua atau tiga orang setiap harinya, berangkat di pagi hari sekitar pukul 05:30  WIB atau kadang jadwal berangkat bisa lebih pagi lagi. Setiba di lokasi monitoring, tim mulai mengamati aktivitas harian kelompok owa jawa, seperti aktivitas makan, bermain, istirahat, dan tidur. Selain itu, kami juga mencatat jenis-jenis pohon pakan, dan rata-rata ketinggian kanopi yang mereka gunakan untuk beraktivitas. Data-data ini penting mengingat area habitat mereka beririsan dengan lahan garapan masyarakat.  

Beberapa kali kelompok owa terpantau menyeberang ke area kebun kopi yang rata-rata ketinggian pohonnya tidak lebih dari lima meter. Bahkan, sempat ada beberapa orang warga yang melaporkan bahwa mereka pernah melihat owa jawa berjalan di atas tanah. Fenomena owa berjalan di tanah ini sekilas tampak lucu, tetapi temuan ini mengkhawatirkan karena menyimpang dari perilaku alaminya. Owa jawa adalah hewan yang sepenuhnya arboreal, jika sampai turun ke tanah untuk menyeberang dari satu pohon ke pohon yang lain, hal ini mengindikasikan habitatnya sudah tidak ideal.

penanaman pohon pakan Owa ( foto PPM Mendolo)


Koridor hutan untuk koneksi habitat

Saat ini kita berpacu dengan waktu. Data-data mengenai fragmentasi habitat bagi owa jawa di Kawasan Dieng Utara masih sangat terbatas. Namun, mulai ada temuan-temuan yang mengindikasikan kondisi itu. Hal ini menuntut respon yang sigap untuk menghindari risiko percepatan kepunahan. Berangkat dari data yang masih sangat terbatas, upaya-upaya meskipun dalam skala yang kecil telah dilakukan. Salah satu upaya yang ditempuh adalah melalui pembuatan koridor habitat dan pengayaan pohon pakan.

Tahun ini, menjadi tahun kedua bagi warga Dukuh Sawahan, Desa Mendolo untuk menjalankan program penanaman koridor dan pengayaan jenis-jenis pohon hutan. Bibit yang ditanam tahun ini meliputi kayu babi (Crypteronia sp.), kayu sapi (Pometia pinnata), rau, sentul, nangkan. Total sekira 700 batang bibit. Sebagian bibit ditanam pada sempadan sungai-sungai kecil, atau alur menurut istilah lokal. Penanaman pada alur-alur ini diharapkan bisa menjadi koridor hutan di masa depan, sekaligus untuk konservasi air dan tanah.

Selain area-area sempadan sungai, aneka bibit buah hutan juga ditanam di lahan-lahan garapan guna meningkatkan populasi pohon pakan bagi owa jawa. Jenis-jenis pohon pakan kesukaan owa misalnya rau (Drancontomelon dao), bendo (Artocarpus elasticus), nangkan (Artocarpus rigidus), dan sentul (Sandoricum koetjape). Dengan model agroforestri yang diperkaya, diharapkan kelompok-kelompok owa jawa masih dapat bertahan, setidaknya dari sisi koneksi tajuk dan ketersediaan pakan.

Konsep koridor habitat di Mendolo ini mirip dengan program community baboon sanctuary yang telah berhasil menjaga populasi monyet howler di Belize, Amerika Tengah. Sifatnya jangka panjang dan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Secara prinsip, program ini berusaha mencari ekuilibrium antara kebutuhan ideal habitat owa jawa dengan kepentingan ekonomi masyarakat dari pengelolaan lahan.

Konservasi berbasis masyarakat

Tak bisa dimungkiri bahwa banyak permasalahan lingkungan hidup bersifat global, seperti perubahan iklim, kepunahan massal, dan deforestasi –termasuk fragmentasi habitat. Namun, cara-cara penanganannya bisa kita mulai dari skala kecil. Aksi-aksi konservasi perlu disesuikan dengan konteks lokal. Skalanya bisa berbasis ekoregion, bioregion, lansekap, atau bahkan pada lingkup administratif yang kecil, misalnya desa. Pada konteks desa, konservasi berbasis masyarakat menjadi paradigma sekaligus strategi yang menjanjikan.

Di Dukuh Sawahan telah ada inisiasi Peraturan Dukuh (Perduk) yang mengatur perlindungan satwa liar. Perduk ini berlaku untuk beberapa kelompok satwa, yaitu: ikan, burung, dan primata. Bergulirnya kesepakatan warga ini membawa angin segar bagi upaya pelestarian keanekaragaman hayati di Desa Mendolo. Pelestarian satwa liar tentu tidak bisa berhenti pada larangan perburuan saja, tetapi perlu semakin diperdalam menuju pelestarian habitat. Program koridor hutan ini menjadi salah satu ikhtiar jangka panjang menuju ke sana.

Program koridor habitat dan pengayaan pohon pakan ini berbasis masyarakat. Partisipasi warga menjadi kunci keberlangsungan. Kerelaan penggarap lahan (area-area sempadan sungai), konsistensi pengadaan bibit, penanaman, hingga komitmen perawatan-pemeliharaan pohon sangat tergantung peran aktif warga masyarakat. Saat ini peran-peran itu ada pada para petani sebagai penggarap lahan, kelompok wanita tani yang membantu penyediaan bibit, juga para anggotai PPM Mendolo yang secara bergantian melakukan monitoring kelompok-kelompok owa di wilayah Mendolo. Kami ucapkan terima kasih kepada mereka untuk kontribusi yang sangat berarti.

Monday, March 17, 2025

Perlindungan ikan, burung, dan primata di Dusun Sawahan: tonggak baru upaya pelestarian satwa liar Desa Mendolo

 Oleh : Imam Taufiqurrahman


Musyawarah warga Dukuh Sawahan yang dihadiri segenap warga, 15 Maret 2025

Sebuah tonggak baru dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati Desa Mendolo, Lebakbarang, dihasilkan lewat musyawarah warga Dukuh Sawahan, Sabtu, 15 Maret 2025. Berlangsung di kediaman Pak Kaliri, kepala desa Mendolo, musyawarah berhasil menyepakati aturan mengenai perlindungan ikan, burung, dan primata wilayah mereka.

Musyawarah dihadiri oleh total 31 orang, 22 di antaranya warga setempat. Terdapat kepala dusun, RT, RW, dan tokoh masyarakat, termasuk perwakilan dari pedukuhan lain. Dalam sambutannya, kepala desa menyambut baik dan mendukung upaya perlindungan yang lahir dari warga Dusun Sawahan tersebut. Hasil kesepakatan diharapkan dapat menjadi contoh dan diikuti oleh dusun-dusun lain, sehingga cita-cita perlindungan yang lebih luas di lingkup desa dapat terwujud.

Berpijak pada perlindungan ikan

Gagasan perlindungan satwa liar ini lahir dari para pemuda Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo. Yayasan Swaraowa mendukung inisiatif tersebut, yang menjadi bentuk dari keresahan atas mulai menghilangnya satwa-satwa di lingkungan mereka, adanya perburuan dari orang-orang luar yang dengan leluasa membawa senapan mencari satwa.

Sebenarnya bagi masyarakat pedukuhan Sawahan, upaya perlindungan satwa liar bukan hal baru. Mereka telah lama memiliki aturan bersama, berupa larangan mengambil ikan di Kedung Kali Bengang, Kali Wisnu. Lokasi tersebut berada persis di bawah jembatan masuk ke Dusun Sawahan.

papan larangan menangkap ikan di Kali Wisnu

Larangan yang dibuat oleh pemuda dusun tersebut mampu berjalan dengan efektif. Tidak ada forum kesepakatan tertulis yang disusun. Baru setidaknya semenjak 2017, mereka secara swadaya memasang papan larangan berbunyi ‘dilarang menangkap ikan dengan cara apa pun di Kali Wisnu’. Berkat itu, tidak ada pengambilan ikan di sungai yang menjadi habitat raja-udang kalung-biru tersebut. Padahal, memancing menjadi hobi atau kesenangan hampir semua orang.

Bagaimana praktik baik ini bisa berjalan dengan efektif?

Semua bermula dari keresahan yang timbul akibat hilangnya ikan-ikan di Kali Wisnu. Hilangnya ikan bahkan mungkin sudah terasa semenjak era 1980-an. Tidak ada lagi ikan, hanya cerita dari orang-orang tua, macam keberadaan ikan tombro sebesar meja. Pengambilan berlebihan, dengan segala cara, membuat ikan-ikan tersebut menghilang.

Inisiatif lahir untuk mulai membibit ikan-ikan lokal pada 2012. Adalah dua pemuda Sawahan, Rohim dan Siswoyo, yang mengawali menabur ikan di sungai. Bibit ikan mereka ambil dari kali di sekitar, seperti Kali Sengkarang.

Hasilnya menggembirakan. Ikan-ikan mulai terlihat lagi dan berkembang biak.

Ikan tombro di sungai Wisnu Sawahan

Awalnya hanya ragalan atau tombro yang dilepas. Setelah banyak orang mengetahui, praktik ini mendapat sambutan dari pihak luar. Dinas Pertanian setempat, misalnya, yang memberi sekitar 20 ribu bibit mélem pada sekitar 2021. Terdapat pula jenis lain yang pernah dilepas, macam ikan mas dan lele.

Alih-alih berhasil, praktik pengambilan ikan kembali terjadi. Bahkan mulai meresahkan karena ikan kembali menghilang, memicu para pemuda yang berpikir bahwa ancaman kehilangan ikan di sungai mereka dapat terulang kembali.

Pada 2017, muncul kesadaran dan inisiatif dari para pemuda untuk membuat larangan. Meskipun larangan tersebut tidak tertulis, namun setidaknya ada dua butir larangan yang berlaku ke siapa pun. Saat itu, semua orang, baik warga pedukuhan Sawahan maupun orang luar Sawahan, tidak diperbolehkan untuk memancing atau mengambil ikan dengan cara apa pun di Kedung Kali Bengang dan menyetrum (nyentér) atau meracun semua jenis ikan di sungai.

Kesepakatan yang hanya dihasilkan dari obrolan-obrolan keresahan tersebut menyebar dari mulut ke mulut. Getuk tular di antara warga, di antara para pemancing yang biasa datang ke Kali Wisnu. Ditambah sebuah plang hasil swadaya berdiri di jembatan, upaya-upaya tersebut berhasil membuat siapa pun tidak lagi memancing ikan di Kedung Kali Bengang, yang menjadi pusat pembibitan ikan di Kali Wisnu.

Kesepakatan larangan itu sebenarnya tidak disertai dengan sanksi. Namun, satu kejadian di sekitar 2021, para pemuda mendatangi orang yang dicurigai akan menyetrum ikan di sungai. Meskipun tidak terbukti, orang tersebut diberi arahan untuk tidak memancing di sungai.

Kesadaran bersama ini mendapat dukungan dari semua lapisan warga. Dari keresahan dan aksi para pemuda, para orang tua mengikuti, mengamini inisiatif perlindungan tersebut. Hingga saat ini, setidaknya terdapat tujuh jenis ikan yang ada di Kali Wisnu. Terdapat gabus atau kutuk, wader atau unjar, sili, kékél, ragalan, uceng, dan mélem. Hanya sejenis udang lobster air tawar, dikenal warga sebagai urang sempu, yang benar-benar menghilang dari Kali Wisnu.

Kesepakatan baru

Sejarah panjang itulah yang kemudian menjadi pijakan dalam musyawarah. Terkait ikan, bila sebelumnya bentuk perlindungan hanya berupa pelarangan, dalam musyawarah terdapat penambahan beberapa poin kesepakatan. Dari delapan poin yang dilahirkan, terdapat kesepakatan berupa tidak diperbolehkannya melepaskan jenis-jenis ikan asing serta komitmen untuk menjaga hutan di sepanjang hingga hulu sungai.

Berita Acara kesepakatan musyawarah tentang
 perlindungan ikan,
 burung, dan primata

Dalam musyawarah, aturan perlindungan satwa liar menghasilkan kesepakatan baru berupa perlindungan burung dan primata. Setiap jenis burung maupun primata, misalnya, dilarang untuk diambil. Praktik yang memang sudah dijalankan oleh warga, namun belum tertuang dan terdokumentasikan dalam kesepakatan bersama.

Aturan itu berlaku bagi semua orang, siapa pun, baik warga Sawahan maupun bukan. Adapun emprit dan monyet ekor-panjang yang dianggap sebagai gangguan, hasil musyawarah dengan bijak hanya memberlakukan pengusiran.

Guna mencegah hilangnya berbagai jenis pohon pakan primata, musyawarah menyepakati adanya larangan untuk menebang atau merusak pohon-pohon pakan alami primata. Adapun guna mencegah perubahan perilaku primata, dihasilkan kesepakatan untuk melarang adanya pemberian pakan secara langsung.

Hasil kesepakatan musyawarah ini sejalan dengan program konservasi raja-udang kalung-biru yang tengah dijalankan SwaraOwa. Keberadaan burung berstatus Kritis itu amat bergantung pada sungai berhutan sebagaimana Kali Wisnu. Kesepakatan yang dihasilkan lewat program yang didanai oleh ASAP dan OBC ini tidak hanya menjamin perlindungannya, namun juga sungai sebagai habitatnya. Termasuk pula ikan-ikan yang berpotensi sebagai sumber pakan burung yang populasi globalnya hanya kurang dari 250 ekor itu.