Showing posts with label burung. Show all posts
Showing posts with label burung. Show all posts

Monday, March 17, 2025

Perlindungan ikan, burung, dan primata di Dusun Sawahan: tonggak baru upaya pelestarian satwa liar Desa Mendolo

 Oleh : Imam Taufiqurrahman


Musyawarah warga Dukuh Sawahan yang dihadiri segenap warga, 15 Maret 2025

Sebuah tonggak baru dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati Desa Mendolo, Lebakbarang, dihasilkan lewat musyawarah warga Dukuh Sawahan, Sabtu, 15 Maret 2025. Berlangsung di kediaman Pak Kaliri, kepala desa Mendolo, musyawarah berhasil menyepakati aturan mengenai perlindungan ikan, burung, dan primata wilayah mereka.

Musyawarah dihadiri oleh total 31 orang, 22 di antaranya warga setempat. Terdapat kepala dusun, RT, RW, dan tokoh masyarakat, termasuk perwakilan dari pedukuhan lain. Dalam sambutannya, kepala desa menyambut baik dan mendukung upaya perlindungan yang lahir dari warga Dusun Sawahan tersebut. Hasil kesepakatan diharapkan dapat menjadi contoh dan diikuti oleh dusun-dusun lain, sehingga cita-cita perlindungan yang lebih luas di lingkup desa dapat terwujud.

Berpijak pada perlindungan ikan

Gagasan perlindungan satwa liar ini lahir dari para pemuda Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo. Yayasan Swaraowa mendukung inisiatif tersebut, yang menjadi bentuk dari keresahan atas mulai menghilangnya satwa-satwa di lingkungan mereka, adanya perburuan dari orang-orang luar yang dengan leluasa membawa senapan mencari satwa.

Sebenarnya bagi masyarakat pedukuhan Sawahan, upaya perlindungan satwa liar bukan hal baru. Mereka telah lama memiliki aturan bersama, berupa larangan mengambil ikan di Kedung Kali Bengang, Kali Wisnu. Lokasi tersebut berada persis di bawah jembatan masuk ke Dusun Sawahan.

papan larangan menangkap ikan di Kali Wisnu

Larangan yang dibuat oleh pemuda dusun tersebut mampu berjalan dengan efektif. Tidak ada forum kesepakatan tertulis yang disusun. Baru setidaknya semenjak 2017, mereka secara swadaya memasang papan larangan berbunyi ‘dilarang menangkap ikan dengan cara apa pun di Kali Wisnu’. Berkat itu, tidak ada pengambilan ikan di sungai yang menjadi habitat raja-udang kalung-biru tersebut. Padahal, memancing menjadi hobi atau kesenangan hampir semua orang.

Bagaimana praktik baik ini bisa berjalan dengan efektif?

Semua bermula dari keresahan yang timbul akibat hilangnya ikan-ikan di Kali Wisnu. Hilangnya ikan bahkan mungkin sudah terasa semenjak era 1980-an. Tidak ada lagi ikan, hanya cerita dari orang-orang tua, macam keberadaan ikan tombro sebesar meja. Pengambilan berlebihan, dengan segala cara, membuat ikan-ikan tersebut menghilang.

Inisiatif lahir untuk mulai membibit ikan-ikan lokal pada 2012. Adalah dua pemuda Sawahan, Rohim dan Siswoyo, yang mengawali menabur ikan di sungai. Bibit ikan mereka ambil dari kali di sekitar, seperti Kali Sengkarang.

Hasilnya menggembirakan. Ikan-ikan mulai terlihat lagi dan berkembang biak.

Ikan tombro di sungai Wisnu Sawahan

Awalnya hanya ragalan atau tombro yang dilepas. Setelah banyak orang mengetahui, praktik ini mendapat sambutan dari pihak luar. Dinas Pertanian setempat, misalnya, yang memberi sekitar 20 ribu bibit mélem pada sekitar 2021. Terdapat pula jenis lain yang pernah dilepas, macam ikan mas dan lele.

Alih-alih berhasil, praktik pengambilan ikan kembali terjadi. Bahkan mulai meresahkan karena ikan kembali menghilang, memicu para pemuda yang berpikir bahwa ancaman kehilangan ikan di sungai mereka dapat terulang kembali.

Pada 2017, muncul kesadaran dan inisiatif dari para pemuda untuk membuat larangan. Meskipun larangan tersebut tidak tertulis, namun setidaknya ada dua butir larangan yang berlaku ke siapa pun. Saat itu, semua orang, baik warga pedukuhan Sawahan maupun orang luar Sawahan, tidak diperbolehkan untuk memancing atau mengambil ikan dengan cara apa pun di Kedung Kali Bengang dan menyetrum (nyentér) atau meracun semua jenis ikan di sungai.

Kesepakatan yang hanya dihasilkan dari obrolan-obrolan keresahan tersebut menyebar dari mulut ke mulut. Getuk tular di antara warga, di antara para pemancing yang biasa datang ke Kali Wisnu. Ditambah sebuah plang hasil swadaya berdiri di jembatan, upaya-upaya tersebut berhasil membuat siapa pun tidak lagi memancing ikan di Kedung Kali Bengang, yang menjadi pusat pembibitan ikan di Kali Wisnu.

Kesepakatan larangan itu sebenarnya tidak disertai dengan sanksi. Namun, satu kejadian di sekitar 2021, para pemuda mendatangi orang yang dicurigai akan menyetrum ikan di sungai. Meskipun tidak terbukti, orang tersebut diberi arahan untuk tidak memancing di sungai.

Kesadaran bersama ini mendapat dukungan dari semua lapisan warga. Dari keresahan dan aksi para pemuda, para orang tua mengikuti, mengamini inisiatif perlindungan tersebut. Hingga saat ini, setidaknya terdapat tujuh jenis ikan yang ada di Kali Wisnu. Terdapat gabus atau kutuk, wader atau unjar, sili, kékél, ragalan, uceng, dan mélem. Hanya sejenis udang lobster air tawar, dikenal warga sebagai urang sempu, yang benar-benar menghilang dari Kali Wisnu.

Kesepakatan baru

Sejarah panjang itulah yang kemudian menjadi pijakan dalam musyawarah. Terkait ikan, bila sebelumnya bentuk perlindungan hanya berupa pelarangan, dalam musyawarah terdapat penambahan beberapa poin kesepakatan. Dari delapan poin yang dilahirkan, terdapat kesepakatan berupa tidak diperbolehkannya melepaskan jenis-jenis ikan asing serta komitmen untuk menjaga hutan di sepanjang hingga hulu sungai.

Berita Acara kesepakatan musyawarah tentang
 perlindungan ikan,
 burung, dan primata

Dalam musyawarah, aturan perlindungan satwa liar menghasilkan kesepakatan baru berupa perlindungan burung dan primata. Setiap jenis burung maupun primata, misalnya, dilarang untuk diambil. Praktik yang memang sudah dijalankan oleh warga, namun belum tertuang dan terdokumentasikan dalam kesepakatan bersama.

Aturan itu berlaku bagi semua orang, siapa pun, baik warga Sawahan maupun bukan. Adapun emprit dan monyet ekor-panjang yang dianggap sebagai gangguan, hasil musyawarah dengan bijak hanya memberlakukan pengusiran.

Guna mencegah hilangnya berbagai jenis pohon pakan primata, musyawarah menyepakati adanya larangan untuk menebang atau merusak pohon-pohon pakan alami primata. Adapun guna mencegah perubahan perilaku primata, dihasilkan kesepakatan untuk melarang adanya pemberian pakan secara langsung.

Hasil kesepakatan musyawarah ini sejalan dengan program konservasi raja-udang kalung-biru yang tengah dijalankan SwaraOwa. Keberadaan burung berstatus Kritis itu amat bergantung pada sungai berhutan sebagaimana Kali Wisnu. Kesepakatan yang dihasilkan lewat program yang didanai oleh ASAP dan OBC ini tidak hanya menjamin perlindungannya, namun juga sungai sebagai habitatnya. Termasuk pula ikan-ikan yang berpotensi sebagai sumber pakan burung yang populasi globalnya hanya kurang dari 250 ekor itu.

Monday, February 12, 2024

PERTEMUAN PENGAMAT BURUNG INDONESIA (PPBI)

Dari Natuna belajar dari PPBI XI di Pekalongan

Oleh Ahdiani

Pertemuan Pengamat Burung Indonesia (PPBI), sebuah acara yang baru bagi saya. Ternyata pertemuan Tingkat Nasional ini sudah dilaksanakan 10 kali dan segera diselenggarakan yang ke 11 di desa Mendolo kecamatan Lebakbarang, Pekalongan. Informasi pertama kali saya dapatkan dari Mas Wawan, founder swaraowa. Swaraowa sendiri merupakan mitra terpenting bagi kami dari komunitas MANTAU KEKAH dalam melakukan Upaya konservasi kekah Natuna,dari beliau kami banyak belajar dan inspirasi akan eksistensi kekah natuna sebagai endemik di pulau bunguran, tempat saya tinggal. 

11 Januari 2024 sekitar jam 10 pagi, saya menadapat pesan singkat dari Mas Wawan. “Mau berangkat ke sini gak?. Swaraowa sediakan transportnya untuk satu orang dari Natuna.” Begitulah pesan singkat yang disertai dengan poster PPBI XI yang akan diselenggarakan di desa Mendolo, Pekalongan dari tanggal 19 hingga 21 Januari 2024. Tanpa berfikir Panjang, saya langsung mengiyakan dengan harapan bisa belajar banyak dalam pertemuan tersebut. Sebagai pemula dalam Upaya konservasi, tentu saya harus banyak belajar dari kegiatan-kegiatan seperti ini. Saya pun langsung mendaftarkan diri dengan biaya pendaftaran Rp. 250.000,- sesuai dengan dengan arahan dari panitia penyelenggara.

Kami pun mempersiapkan perjalanan menuju Pekalongan. Skenario perjalanan dari Natuna menuju Pekalongan akhirnya kami sepakati menggunakan pesawat Natuna ke Jakarta, dilanjutkan menggunakan kereta api dari Jakarta menuju Pekalongan. Tanggal 18 Januari 2024 saya berangkat seorang diri dari kediaman, desa Mekar Jaya kecamatan Bunguran Barat menuju bandara Ranai. Pukul 15.00 saya berangkat menuju Batam yang merupakan bandara transit pesawat yang saya tumpangi. Barulah pukul 18.40 WIB saya sampai di bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Dari bandara saya harus bergerak lagi ke stasiun Senen untuk melanjutkan perjalanan ke Pekalongan menggunakan kereta api. Saya baru sampai di stasiun Pekalongan pukul 05.00 WIB. Pekalongan untuk pertama kalinya saya sampai, membuat saya sangat terkagum dengan suasananya. Tentu sangat jauh berbeda dengan Natuna. Merupakan kepulauan terluar Indonesia, Natuna dikelilingi oleh laut China Selatan dan berbatasan langsung dengan beberapa negara. 

Saya langsung bergabung dengan beberapa peserta lain yang kebetulan tiba disaat yang sama di stasiun. Kami pun langsung bersiap bergerak ke lokasi yang diarahkan oleh panitia. Menggunakan taksi online, kami tiba di Kantor KPH Pekalongan dan bergabung dengan para peserta yang sudah sampai duluan. Sesuai jadwal, pukul 08.00 WIB kegiatan pun dimulai. Seminar Nasional Pengamat Burung Indonesia yang bertemakan “Kendurian Lawan Kepunahan” yang diisi oleh beberapa para narasumber yang sangat luar biasa dan kompeten dan mereka merupakan pelaku lapangan, membuat saya sangat terkagum dan banyak sekali ilmu dan inspirasi baru yang saya dapatkan. Selain ilmu, tentu juga semangat bergerak akan menjadi tambahan modal bagi saya agar bisa memaksimalkan upaya pelestarian satwa-satwa yang ada di Natuna.

Menggunakan “doplak”, peserta bergerak ke desa Mendolo begitu acara seminar selesai. Sampai di desa, peserta diarahkan ke homestay (rumah warga) yang memang sudah disiapkan oleh panitia. Setelah menyiapkan segala sesuatunya, peserta diarahkan untuk makan malam. Selesai makan malam, semua peserta berkumpul melakukan kegiatan diskusi bersama terkait berbagai potensi kegiatan yang bisa lakukan bersama untuk melawan kepunahan itu sendiri. Yang paling menarik dikegiatan malam pertama ini adalah, peserta disuguhi berbagai macam varian durian yang merupakan hasil petani lokal. Kebetulah dan memang sudah direncanakan sebelumnya oleh PPM Mendolo sebagai panitia untuk menyesuaikan waktu pelaksanaan bertepatan dengan musim durian.

Hari ke-2 dari rangkaian kegiatan PPBI XI di desa Mendolo ini adalah pengamatan burung yang ada di sekitaran hutan desa. Yang menjadi perhatian saya adalah pagi hari saya dibangunkan oleh nyanyian owa. Mendengar suara nyanyian owa merupakan pengalaman pertama bagi saya. Berikutnya setelah sarapan, peserta dibagi menjadi 2 tim dan bergerak di 2 lokasi yang berbeda. Saya sendiri memilih untuk melakukan pengamatan burung dilokasi dusun tempat kami menginap. Selama pertemuan pengamatan burung di desa Mendolo, kami diajak untuk menjelajahi berbagai habitat burung di sekitar desa. Burung-burung berkicau mengisi udara segar di pagi hari di tengah-tengah hutan durian yang penuh dengan buah durian yang siap untuk dipanen. Sungguh pemandangan yang luar biasa dan mengagumkan.

Dalam aktifitas hari kedua ini, kami juga diperlihatkan bagaimana kegiatan budidaya lebah yang dilakukan oleh Masyarakat Mendolo. Tentu sangat menarik perhatian saya karena memang sebelumnya juga saya sudah merencanakan melakukan hal yang sama untuk tujuan edukasi dan konservasi di Natuna terkait lebah yang sudah kami temukan berbagai jenis.

Selain pengamatan burung, kegiatan ini juga memberi kami, khusunya saya kesempatan untuk bertemu langsung dan belajar dari para ahli serta pengamat burung dari berbagai daerah. Diskusi-diskusi yang kami adakan membahas isu-isu konservasi dan pentingnya melestarikan habitat alam bagi burung. Ini adalah kesempatan langka untuk memperdalam pemahaman kami tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati di seluruh Indonesia.


Foto bersama adalah sesi akhir di hari terakhir kegiatan sebelum para peserta kembali ke daerah asalnya masing-masing. Saat akhirnya tiba waktu untuk meninggalkan desa Mendolo, Pekalongan, kami membawa pulang kenangan yang tak terlupakan dari petualangan kami. Dari keindahan alam Natuna hingga keanekaragaman burung di desa Mendolo, setiap langkah diikuti oleh keajaiban alam yang mengagumkan. Kami berharap bahwa pengalaman ini tidak hanya akan menjadi sebuah laporan perjalanan, tetapi juga akan menjadi dorongan untuk melindungi dan memelihara kekayaan alam Indonesia untuk generasi mendatang, khususnya bagi saya pengalaman dari kegiatan ini menjadi nutrisi semangat baru untuk lebih giat bergerak agar semua pihak bisa sadar bersama akan eksistensi dari keberadaan satwa-sata di sekitar kita.


Saturday, January 20, 2024

Kendurian melawan kepunahan Burung

 Press release

"KENDURIAN MELAWAN KEPUNAHAN" Pertemuan Paguyuban Pengamat Burung Indonesia di Desa Mendolo, Kec.Lebakbarang, Pekalongan



Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki keanekaragaman burung yang melimpah. Tercatat lebih dari 1700 spesies burung menghuni seluruh pulau di Indonesia. Hal ini menempatkan Indonesia pada peringkat ke-4 sebagai negara dengan jumlah spesies burung terbanyak di dunia. Tidak berhenti pada data tersebut, Indonesia menduduki peringkat pertama dengan jumlah jenis endemik tertinggi di dunia. Namun, keberadaan burung tersebut bukan tanpa ancaman. Adanya perburuan liar, perdagangan, kerusakan lingkungan dan alih fungsi lahan menjadi ancaman keberadaan burung di habitatnya. Selama 2 dekade kebelakang jenis yang paling terancam adalah jenis burung kicau. Perburuan dan perdagangan jenis burung ini turut mempercepat laju kepunahan. Survei pada tahun 2018 tercatat lebih dari 70 juta burung dipelihara dalam sangkar. Ancaman ini akan menjadi bencana kepunahan jika tidak ditangani lebih serius.

Pertemuan Pengamat Burung Indonesia atau lebih dikenal dengan PPBI adalah forum yang mewadahi para pengamat, fotografer dan pegiat konservasi burung dalam diskusi konservasi burung. Forum ini dilaksanakan pertama pada tahun 2007 yang mencakup segala kalangan usia. Pada perjalanannya forum ini sudah mempublikasikan karya bersama yaitu kode etik pengamat burung Indonesia pada tahun 2019 dan Atlas Burung Indonesia Volume 1 pada Tahun 2021. Forum PPBI terakhir di Tabanan, Bali pada bulan Mei tahun 2022 menyepakati pada tahun berikutnya diskusi akan dibawakan adalah upaya penanggulangan perburuan dan perdagangan burung liar yang ada di Indonesia. Besar harapan kami forum ini dapat membawa langkah nyata dalam upaya menjaga kelestarian burung liar di Indonesia.

Kabupaten Pekalongan merupakan kawasan dengan kantung hutan yang masih tersisa di Jawa Tengah. Potensi keanekaragaman burung masih relatif tinggi dengan 116 jenis lebih terdapat di kawasan hutan Lebakbarang. Namun, ancaman perburuan masih aktif di seluruh kawasan hutan di Kabupaten Pekalongan. PPBI XI dengan tema “Kendurian Lawan Kepunahan” ini, selaras dengan semangat masyarakat Desa Mendolo dalam mempertahankan potensi Desa untuk kelestarian burung liar. Masyarakat Desa Mendolo sejak tahun 2019 aktif dalam pengumpulan data keanekaragaman burung serta potensi pendukung lain. Tidak berhenti pada pendataan saja masyarakat juga aktif dalam perlawanan terhadap perburuan burung di kawasan Desa, sehingga agenda tahunan PPBI ini sangat cocok dilaksanakan di Desa Mendolo.

Pelaksanaan PPBI XI tahun 2024 ini akan dilaksanakan pada tanggal 19-21 Januari 2024 bertempat di Aula KPH Pekalongan Timur dan desa Mendolo. Menyesuaikan dengan tema, PPBI tahun ini akan ada seminar nasional pada hari pertama di KPH Pekalongan Timur yang akan diisi oleh:

1. Dwi Nugroho Adhiasto dari yayasan SCENTS

2. Marison Guciano dari yayasan Flight Indonesia

3. Bern Fertie dari Cikananga Conservation Breeding Center

4. Happy Ferdianyah dari yayasan Planet Indonesia

5. Andri Suhandri dari KTH Wanapaksi

6. Mutia Hanifah sebagai Koordinator pembuatan aplikasi perdagangan burung

Pembicara merupakan aktivis dan pelaku konservasi yang erat kaitanya dengan perlawanan perburuan dan perdangangan burung serta penangkaran burung liar untuk konservasi.

Pada hari ke-dua peserta akan melakukan pengamatan burung bersama di Desa Mendolo sembari menikmati sumber hasil bumi terbesar di desa tersebut yaitu buah durian. Malam hari akan ada diskusi mengenai kerja bersama apa yang akan dilakukan selama satu tahun kedepan sebelum berjumpa lagi di PPBI pada tahun berikutnya. Selama di Desa Mendolo peserta akan menginap di rumah warga dan menjadi warga desa Mendolo dalam sehari.

Bagi seluruh warga Indonesia yang tertarik untuk mengikuti kegiatan ini dapat mendaftar melalui tautan bit.ly/PPBIXI2024. Untuk informasi lebih lanjut peserta dapat menghubungi narahubung kami yaitu:

Feri : 0852 2943 0160 (WA)

Ridho : 0823 2786 3548 (WA)

Sampai jumpa di PPBI XI 2024 salam lestari.


Monday, January 20, 2020

Jaring Hantu Mengancam hidupan liar di Hutan


  • perburuan burung masih terjadi di hutan-hutan alam di Jawa Tengah
  • Jaring hantu, jaring burung yang ditinggalkan oleh para pemburu di hutan, terbentang dan menjerat burung-burung dan mamalia terbang seperti kelelawar.
  • burung mempunyai peran penting di alam, sebagai penyerbuk, penyebar biji, pemakan serangga hama, dan tentunya suara merdunya di alam adalah nilai seni tak terkira.


Jaring Hantu atau ghost net, mungkin pernah mendengar ini, dan biasanya ini untuk di perairan/lautan  (marine wildlife), awalnya jaring-jaring nelayan ini  lepas , hilang, atau hanyut dan akhirn ya menjadi masalah buat ikan-ikan, penyu atau hidupan liar di laut. Banyak hidupan liar ini mati terjerat, terluka, kelaparan bahkan menelan jaring-jaring ini, ditemukan dalam pencernaan ikan bersama sampah-sampah plastik,  dan ternyata jaring hantu ini juga ada di hutan.

burung yang mati  hingga kering terjerat "jaring hantu"

Penggunaan jaring untuk menangkap burung, banyak di gunakan oleh pemburu-pemburu burung, hal ini dengan tujuan tentunya mendapat burung buruan lebih banyak dan mudah. Penggunaan jaring burung ini di kenali dari tanda-tanda yang biasa kita temukan, biasanya ada di tempat terbuka, atau membuat tempat terburka ada 2 tiang panjang dan terdapat sudung, atau tempat menunggu burung.
Jaring yang digunakan biasanya juga merupakan jaring khusus, ada yang menyebut dengan jala kabut, tidak terlihat jelas karena ukurannya benang yang dipakai yang kecil, dan sangat kuat, tidak mudah putus.
Jaring kabut terbentang  untuk menangkap burung

Namun yang terjadi ada beberapa pemburu yang mungkin karena tidak sabar atau alasan lain, meninggalkan jaring yang di pasang tadi, jaring yang di tinggalkan ini tentu saja akan menjadi jebakan untuk satwaliar yang terbang melintas, dan tentu saja tidak hanya burung, dan ini saya namakan “Jaring Hantu”.
jaring burung yang ditinggalkan pemburu

“Jaring Hantu”, karena di tinggalkan begitu saja tidak di lepas, dan menjadi perangkap apa saja yang lewat di tempat tersebut terutama yang terbang melintas seperti burung dan kelelawar. Yang terjerat jaring ini bisa di pastikan mati, karena tidak bisa lepas dan seperti yang kami temukan burung dan kelelawar yang tersangkut di jaring ini sampai mati kering. Burung-burung pemangsa bisa juga terjerat jaring tak bertuan ini, melihat ada burung yang terjerat tentu akan mengundang menarik burung pemangsa untuk datang juga. 
tiang penyangga jaring kabut untuk menangkap burung

Burung punya peran penting untuk sistem lingkungan, pemakan serangga penggangu tanaman, membantu penyerbukan, penyebar biji-bijian hutan dan masih banyak lagi, penelitian-penelitian tentang hal ini juga sudah banyak dibuktikan kalau ada peran penting burung di sekitar kita. Perburuan dengan cara apapun dan mengurungnya dalam sangkar tentu menghilangkan nilai penting burung untuk kita sendiri.
Caladi tilik (Picoides moluccensis) sedang mencarai serangga di pohon Sengon





Saturday, August 3, 2019

Burung Burung Kepulauan Mentawai

kegiatan tahun 2010 di Siberut


"The gibbon of Siberut", karya Tonny Whitten adalah salah satu buku menginspirasi saya untuk ke siberut, saya dapat buku ini tahun 2000, berisi catatan perjalanan Tonny Whitten dan istrinya pada tahun 1975-1978 di Siberut, dan tahun 2010 saya pertama kali menginjakkan kaki pertama kali di bumi Sikerei, hingga awal tahun 2012 banyak cerita dan pengalaman bersama tim lapangan dari Siberut Selatan. 
kegiatan tahun 2012 di Siberut Barat Daya

Kemudian tahun 2017 bersama SWARAOWA kegiatan untuk mendorong peningkatan pengetahuan dan ketrampilan untuk kawan-kawan yang aktif di Uma Malinggai Tradisional Mentawai, di Siberut Selatan dimulai. Dengan menggabungkan kegiatan pengamatan satwa dan fotografi setiap ke lapangan mendokumentasikan foto dan video satwa-satwa liar kep.Mentawai.
tim Malinggai Uma, kegiatan tahun 2017


Kegiatan pengamatan yang awalnya hanya fokus untuk jenis-jenis primata, juga mengumpulkan foto-foto satwa lainnya. Untuk jenis-jenis burung karena awalnya memang tidak tahu namanya, beruntung sekali ada salah satu orinitologist dari Yogyakarta Imam Taufiqurrahman turut serta ke Mentawai, foto-foto yang di kumpulkan oleh tim Malinggai Uma satu persatu mulai di identifikasi.
Penyusunan buku ini akhirnya di rencanakan setelah Imam ikut beberapa kali ke Mentawai, mengunjungi Siberut dan Sipora. Menurut catatan Imam ada 178 jenis burung Mentawai, yang sudah tercatat dalam publikasi Imiah, dan foto yang di kumpulkan selama pengamatan lapangan meskipun kita tidak ada di Mentawai juga semakin bertambah.
Buku Burung-Burung Kepulauan Mentawai

Hingga akhir 2018, setidaknya sudah 82 jenis burung sudah dijumpai dan ada foto nya. Penyusunan buku  burung Mentawai yang di motori Oleh Imam akhirnya menunjukkan hasil yang menggembirakan, dengan dukungan support yang kita dapatkan dari FortwayneChildren’s Zoo.
Bulan Mei 2019, Imam dan kawan-kawan dari Malinggai Uma ( Damianus, Ismael dan Mateus) bertemu Bupati Mentawai, Bp Yudas Sabagalet, membawa draft buku burung Mentawai dengan memohon untuk memberikan sambutan di buku yang disusun bersama ini. Pertemuan dengan kepala daerah menjadi motivasi tersendiri bagi tim penyusun buku ini.

Setelah mendapatkan no ISBN dari perpustakaan nasional buku burung-burung Mentawai ini telah secara resmi di publikasikan, dan kami juga menjual buku ini untuk selanjutnya keuntungan penjualan buku ini akan digunakan untuk mendukung kegiatan lapangan di Mentawai.  Kami mengajak anda untuk mengenal dan melestarikan kekayaan alam Mentawai, untuk pembelian buku ini silahkan melalui link ini: https://shopee.co.id/Burung-Burung-Kepulauan-Mentawai-i.4837480.2432705311


Tuesday, May 30, 2017

Burung-Burung Siberut : warisan unik yang hampir larut

ditulis oleh : Imam Taufiqurrahman, email : orny_man@yahoo.com; Foto : Ismael Saumanuk

Peta kuno kep.Mentawai, dari Pinterest.com
Gulungan ombak dan kekhasan adat budaya telah lama membuat Siberut menjadi perhatian dunia. Namun keunikan pulau terbesar di gugus kepulauan Mentawai ini tak hanya itu. Nyaris separuh dari 37 jenis mamalia, termasuk lima primatanya, berstatus endemik. Ada sekitar 6o jenis herpetofauna dan lebih dari 150 jenis burung telah tercatat.

Misteri avifauna yang ada pernah mencipta daya tarik tersendiri bagi para naturalis. Uniknya, ini belumlah berlangsung lama. Dibanding Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan sebagai pulau-pulau utama Bumi Sikerei, eksplorasi burung di Siberut menjadi yang terakhir dilakukan.
Cecil Boden Kloss yang berkebangsaan Inggris, bersama rombongan dari Museum Raffles Singapura, adalah yang mengungkapnya pada 1924. Terpaut 22 tahun ketika Kloss pertama datang ke Pagai Utara dan Pagai Selatan, berselang 32 tahun setelah Dr. E. Modigliani asal Italia datang ke Sipora.

Jauhnya rentang waktu terjadi bukan tanpa sebab. Mengawali pemaparan hasil eksplorasinya, Kloss mengungkap alasan di balik itu. “Telah beberapa kali saya mengajukan ijin pada pemerintah Hindia Belanda untuk kunjungan ke Siberut,” jelasnya, “ Ketika akhirnya ijin turun, naturalis yang namanya tersemat pada salah satu primata endemik Mentawai ini mengeksplorasi avifauna Siberut selama satu bulan. Ia lalu mengunjungi kembali Sipora dan Pagai setelahnya. Kedatangan Kloss dan rombongannya ini tak hanya untuk burung, namun juga flora fauna lainnya serta etnografi. Hasil-hasil eksplorasi itu terpublikasi secara terpisah, dengan mengusung satu tajuk judul, Spolia Mentawiensis (atau dalam beberapa makalah tertulis Spolia Mentawiensia).
Srigunting kelabu
Kloss menyusun laporan hasil eksplorasi burung bersama Frederick Nutter Chasen. Tercatat 87 jenis di seluruh Kepulauan Mentawai. Khusus Siberut, ia mengumpulkan 314 spesimen dari 58 jenis. Enam di antaranya (dari total sebelas untuk seluruh kepulauan) dikukuhkan sebagai taksa baru, termasuk celepuk mentawai Otus mentawi yang di kemudian hari menjadi jenis tersendiri. 
Mengacu daftar jenis dari IOC, kini Kepulauan Mentawai memiliki dua jenis endemik. Selain celepuk mentawai, terdapat uncal pulau Macropygia modiglianii yang baru-baru ini dipisahkan dari uncal buau Macropygia emiliana. Adapun anak jenis dari kadalan birah Phaenicophaeus curvirostris  oeneicaudus, elang-ular bido Spilornis cheela sipora atau srigunting sumatera Dicrurus sumatranus viridinitens, terdapat beberapa ahli memisahkannya menjadi jenis tersendiri. Namun demikian peneguhan ini belum diamini seluruh kalangan.
Elang ular bido yang teramati di Siberut
Di hasil yang terbilang gemilang itu, Kloss sampai berani sesumbar, “Saya kira tak akan banyak lagi temuan tersisa bagi yang berikutnya berkunjung untuk kepentingan ornitologi, kecuali mungkin jenis-jenis migran dan burung pantai.”
Pernyataan Kloss seakan mampu menghentikan kajian ornitologi di pulau yang hampir seukuran Nias itu. Saat ini, di hampir satu abad setelahnya, hanya terbit sepuluh makalah mengenai burung-burung Siberut. Dua di antaranya yang mengungkap keberadaan sejenis paruh kodok sempat ramai diperbincangkan. Beberapa ahli menduga itu sebagai anak jenis dari paruh-kodok tanduk Batrachostomus cornutus yang belum terdeskripsi. Namun hanya sampai sebatas itu. Tak ada lagi kejelasan, tak terdengar lagi ada upaya pengkajian lebih dalam.
Mengingat keunikan sejarah alam Siberut, sebenarnya banyak tema lain yang menarik untuk dikuak. Berjarak hampir 150 km dari daratan Sumatera tidak serta-merta menjadikan avifauna Siberut serupa. Ketiadaan beberapa famili penghuni lantai hutan, seperti ayam hutan dan sempidan (Phasianidae) atau burung-burung semak, seperti pelanduk dan tepus (Timaliidae) demikian kontras dengan kondisi hutan Sumatera atau bahkan Sunda Besar. Tak ada satupun perwakilan dari burung pelatuk (Picidae), takur (Megalaimidae), atau kacamata (Zosteropidae), untuk menyebut beberapa.
Trinil Kaki Merah
‘Kekosongan’ yang diketahui semenjak lama itu menciptakan kekhasan relung ekologi yang menarik untuk dipelajari. Beragam jenis bajing tanah, tikus, dan mamalia kecil lainnya dianggap mengisi ketiadaan anggota burung semak. Banyaknya anggota keluarga merpati (Columbidae) seakan menggantikan ketiadaan jenis-jenis takur atau rangkong (Bucerotidae) yang hanya diwakili satu jenis. Pernah dilaporkan perilaku srigunting yang mencari makan dengan gaya pelatuk.
Beo Siberut
Kajian etno-ornitologi tak kalah menariknya. Lebih dari 50 jenis burung memiliki nama lokalnya sendiri. Cukup menjadi indikasi betapa dekat kehidupan masyarakat suku Mentawai yang dikenal sebagai salah satu suku tertua di Nusantara dengan burung. Belum lagi keberadaan lagu, tarian, motif dalam uma dan titi atau kisah-kisah legenda terkait hubungan manusia Mentawai dan burung.
dinding sebuah uma di Siberut
Minimnya eksplorasi ornitologi di Siberut membuat kesempatan melakukan penelitian terbuka lebar. Tak hanya taksonomi, ekologi, dan etno-ornitologi, studi jenis-jenis tunggal, juga upaya konservasinya, penting untuk dilakukan. Apalagi dengan kian berkurangnya tutupan hutan, proyek pengembangan sarana dan prasarana berupa jalan maupun bangunan atau jumlah penduduk yang kian bertambah. Belum lagi ancaman dari perburuan burung untuk diperdagangkan. Tantangan nyata ada di hadapan.