Showing posts with label kopi. Show all posts
Showing posts with label kopi. Show all posts

Tuesday, September 22, 2020

“Beasiswa KOPI OWA”



Program “Kopi dan Konservasi Primata 2020 -SWARAOWA, mengajak anda berkontribusi melalui pembelian Kopi “jungle bean” dari habitat Owa Jawa, seharga Rp 120.000,00 anda akan mendapatkan 2 bungkus kopi Arabica dan Robusta. Keuntungan penjualan kopi ini akan di gunakan untuk biasiswa penelitian Owa jawa dan burung Raja Udang Kalung Biru, di Hutan Petungkriyono,Kab.Pekalongan, Jawa Tengah.

Owa Jawa 



Burung Raja Udang Kalung Biru

Saat ini ada 2 mahasiswa yang akan melakukan penelitian tentang perilaku bersuara Owa Jawa (Hylobates moloch), dan Distribusi dan habitat burung Raja Udang Kalung biru (Alcedo euryzona). Tentang burung Raja Udang Kalung Biru ini merupakan burung langka terancam punah (Critically Endangered) yang di temukan tahun 2018 oleh tim SWARAOWA.

Pembelian kopi ini juga menjaga produksi kopi Owa di masa pandemic, dimana sangat terdampak karena tutupnya outlet-outlet/coffee shop jaringan kopi Owa saat ini. Dukungan anda sangat penting tidak hanya untuk mendukung penelitian satwa terancam punah tetapi juga mondorong warga sekitar hutan untuk tetap produktif dan menjaga kelestarian hutan.

Sampai bulan Desember 2020, penelitian ini membutuhkan dana kurang lebih Rp 30.000.000,00 (tiga puluh juta rupiah) dan saat ini sudah ada dana Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) untuk kegiatan kelapangan bulan September-November 2020. Penggalangan dana ini akan kami buka sampai akhir bulan November 2020, dan juga akan menjadi sekema berkelanjutan untuk upaya pelestarian primata dan burung langka di wilayah Jawa Tengah. Ikuti terus perkembangan kegiatan kami di sosial media SWARAOWA.

Pembelian bisa kopi kami layani melalui OWA COFFEE, no WA : 0823 1377 2667, Instagram dan twitter Owa Coffee, juga tokopedia : https://www.tokopedia.com/owacoffee

Monday, January 20, 2020

Jaring Hantu Mengancam hidupan liar di Hutan


  • perburuan burung masih terjadi di hutan-hutan alam di Jawa Tengah
  • Jaring hantu, jaring burung yang ditinggalkan oleh para pemburu di hutan, terbentang dan menjerat burung-burung dan mamalia terbang seperti kelelawar.
  • burung mempunyai peran penting di alam, sebagai penyerbuk, penyebar biji, pemakan serangga hama, dan tentunya suara merdunya di alam adalah nilai seni tak terkira.


Jaring Hantu atau ghost net, mungkin pernah mendengar ini, dan biasanya ini untuk di perairan/lautan  (marine wildlife), awalnya jaring-jaring nelayan ini  lepas , hilang, atau hanyut dan akhirn ya menjadi masalah buat ikan-ikan, penyu atau hidupan liar di laut. Banyak hidupan liar ini mati terjerat, terluka, kelaparan bahkan menelan jaring-jaring ini, ditemukan dalam pencernaan ikan bersama sampah-sampah plastik,  dan ternyata jaring hantu ini juga ada di hutan.

burung yang mati  hingga kering terjerat "jaring hantu"

Penggunaan jaring untuk menangkap burung, banyak di gunakan oleh pemburu-pemburu burung, hal ini dengan tujuan tentunya mendapat burung buruan lebih banyak dan mudah. Penggunaan jaring burung ini di kenali dari tanda-tanda yang biasa kita temukan, biasanya ada di tempat terbuka, atau membuat tempat terburka ada 2 tiang panjang dan terdapat sudung, atau tempat menunggu burung.
Jaring yang digunakan biasanya juga merupakan jaring khusus, ada yang menyebut dengan jala kabut, tidak terlihat jelas karena ukurannya benang yang dipakai yang kecil, dan sangat kuat, tidak mudah putus.
Jaring kabut terbentang  untuk menangkap burung

Namun yang terjadi ada beberapa pemburu yang mungkin karena tidak sabar atau alasan lain, meninggalkan jaring yang di pasang tadi, jaring yang di tinggalkan ini tentu saja akan menjadi jebakan untuk satwaliar yang terbang melintas, dan tentu saja tidak hanya burung, dan ini saya namakan “Jaring Hantu”.
jaring burung yang ditinggalkan pemburu

“Jaring Hantu”, karena di tinggalkan begitu saja tidak di lepas, dan menjadi perangkap apa saja yang lewat di tempat tersebut terutama yang terbang melintas seperti burung dan kelelawar. Yang terjerat jaring ini bisa di pastikan mati, karena tidak bisa lepas dan seperti yang kami temukan burung dan kelelawar yang tersangkut di jaring ini sampai mati kering. Burung-burung pemangsa bisa juga terjerat jaring tak bertuan ini, melihat ada burung yang terjerat tentu akan mengundang menarik burung pemangsa untuk datang juga. 
tiang penyangga jaring kabut untuk menangkap burung

Burung punya peran penting untuk sistem lingkungan, pemakan serangga penggangu tanaman, membantu penyerbukan, penyebar biji-bijian hutan dan masih banyak lagi, penelitian-penelitian tentang hal ini juga sudah banyak dibuktikan kalau ada peran penting burung di sekitar kita. Perburuan dengan cara apapun dan mengurungnya dalam sangkar tentu menghilangkan nilai penting burung untuk kita sendiri.
Caladi tilik (Picoides moluccensis) sedang mencarai serangga di pohon Sengon





Monday, June 3, 2019

Wawancara : Bas Van Balen , tentang Avifauna dan Hutan Petungkriyono

Oleh : Arif Setiawan, 3 Juni 2019

  • Pengamatan selama 3 hari tercatat 93 jenis burung di hutan Petungkriyono
  • Keberadaan burung di Hutan Petungkriyono, sangat potensial untuk di kembangkan sebagai wisata khusus, melihat burung di alam tanpa menangkapnya dalam sangkar.
  • Engkek geling (Cissa thalassina), salah satu Holy Grail untuk para birdwatcher, dan kini mungkin telah hilang dari Hutan Petungkriyono
  • Hutan Petungkriyono terbentang dari lowland hingga sub Montane, keragaman avifauna hutan Jawa ada disini.

Berawal dari penelitian sistematika Padi gogo di Jawa Barat tahun 1979, ketertarikan akan hidupan liar khususnya jenis-jenis burung di Indonesia bermula dan berkembang. Bernama lengkap Sabastian van Balen, lahir di kota Arnhem, Belanda bulan November tahun 1954,  yang akrab dengan nama Bas van balen telah memberi warna tersendiri, dasar dan pengembangan  untuk ilmu pengetahuan khususnya ornithology di Indonesia. Salah satunya "Buku panduan Burung-Burung Sumatera, Jawa , Bali dan Kalimantan", menjadi salah satu kitab untuk para pengamat , peneliti dan pemerhati burung di dunia, dan ada  ratusan tulisan publikasi penelitian tentang burung burung di Indonesia,berkontribusi untuk penelitian dan konservasi burung di Indonesia.

Mendapat kesempatan istimewa bersama-sama langsung dengan Bas Van Balen beberapa hari di habitat Owa, Petungkriyono, menjadi motivasi tersendiri melakukan sesuatu untuk nilai keanekaragaman hayati yang lain selain primata. Wawancara ini saya lakukan bersama Bas van balen setelah 3 hari bersama-sama melakukan pengamatan burung (birdwatching) di hutan Petungkriyono, dan sudah tercatat 93 jenis burung di Petungkriyono selama pengamatan 3 hari tersebut.

Pak Bas demikian kami selanjutnya lebih akrab memanggil beliau, juga seorang ahli bioacustic, cabang ilmu pengetahuan yang meneliti tentang suara suara satwa, khususnya jenis-jenis burung. Identifikasi jenis-jenis burung melalui suara sudah menjadi keahliannya, dari suara ini juga saya mengajak untuk mendengarkan langsung suara beliau, tidak melihat secara fisik, namun kita akan mengenal Bas Van Balen sebagai mana beliau mengidentifikasi burung dengan suara, ada kesan-kesan harapan dan pesan untuk pembaca blog swaraowa dari Pak Bas tentang burung-burung  dan hutan di Petungkriyono.

Dengarkan hasil interview kami di link di soundcloud ( https://soundcloud.com/swara-owa/sets/interview-with-bas-van-balen-in-petungkriyono/s-mZk7X) dan bagian akhir dari wawancara ini kami tuliskan.

(1) Terimakasih, atas nama swaraowa,kami mengucapkan terimakasih atas kedatangan pak bas.



(2) Dibanding tahun 1995, bagaimana perubahan yang terjadi saat ini ? ( Pak Bas pernah melakukan survey tahun 1995 di pegungungan dieng, ada 3 lokasi yaitu Linggo Asri, Gunung Lumping, dan G.Perahu, baca laporannya disini )


(3) Jenisnya –jenis apa yang berkurang/hilang ?


(4) Apa tujuan Pak Bas datang kesini?


(5) Jenis apa lagi yang sudah menjadi menjadi Holy grail untuk para birdwatcher di Jawa ini?


(6) Ini pak bas, sudah 3 hari, sudah 93 jenis burung teridentifikasi,  bagaimana kesan-kesan pak Bas tentang burung-burung dan hutan di Petungkriyono?
(7) Harapan pak Bas apa tentang kawasan hutan Petungkriyono?


(8 ) Apa pesan pak Bas  untuk generasi millennial saat ini tentang burung dan hutan di petungkriyono?



(9) Kenapa pak Bas tertarik dengan Burung di Indonesia?
Banyak aspek ya itu, burung pada umumnya memberikan kesenangan tersendiri, dan ada kejutan, selalu kita bisa belajar  dan informasi yang baru dari burung, kalau saya sendiri tertarik dengan suara, setiap kali kelapangan pasti ada yang baru, ada logat lain, nada yang berbeda, atau suara yang sama sekali baru dari burung tertentu, saya senang sekali dengan itu, …sama dengan orang bikin foto, semakin baik, semakin unik…ini suara juga seperti itu…dan suara belum banyak yang mendalami itu..

(10) Kenapa pak Bas sangat menekuni suara burung/ bioacustic burung? Dan apa Kelebihan dan kekurangan metode suara untuk identifikasi burung apa ?

Ya..itu alat yang sangat mebantu, efisien…kekurangannya kalau burungnya diam, tidak bersuara…ha..ha..burung bersembunyi..kekurangannya itu aja…, dan seperti yang kita dengan sekarang ini ( ada tonggeret besuara, ketika sendang wawancara) kadang sangat mengganggu…kalau foto tidak masalah dengan ini, tapi kalau kita menggunakan suara ya…ini hancur…ha..ha..
(11) Sejak kapan Pak Bas mulai tertarik mengamati burung?
Sudah lama itu…pertama kali memakai teropong ya sudah di SD, saya pinjam teropong Bapak saya..(saya lahir tahun 1954, sejak SD kelas 5-6 , sudah tertarik burung, tapi belum mengamati…karena untuk mengamatiharus pergi keluar rumah…tapi sejak kecil saya senang mengamati gambar-gambar burung…
(12) Apa yang Pak Bas lakukan ketika waktu senggang, kala sendang santai?

Ya..sebetulnya saya juga suka membaca..malah bukan tentang burung saja…
(13) Siapa penulis favourit dari Indonesia?

Kebetulan saya sedang membaca bukunya Eka Kurniawan, ha..ha…ini ada 2 bukunya, sudah selesai satu.., Pramudya Ananta Toer…tapi itu harus sabar ha…ada yang bagus juga..yang juga lebih tipis..ha..ha..
(14) Tips-tips pak Bas  untuk pengamat burung pemula apa ?

uu..iii…tips pertamanya jangan pernah mudah  menyerah (give up) dan membikin catatan sebanyak mungkin…catatan tu yang penting, untuk nantinya juga..kalau kita ingin tahu bagaimana pengalaman kita di lokasi terntentu..bisa kita baca lagi itu catatan..saya catatan masih ada semua sejak tahun 79 ada…lengkap, jangan menunggu bikin catatan kalau sudah di rumah, karena akan lupa atau salah ingat..ketemu langsung catat…bisa juga pakai voice recorder, kalau sekarang ada smartphone..bisa juga catatan dengan ngomong..yang saya tau ya….tapi semua orang punya metode sendiri..paling penting catatan juga.

(15) Sekali lagi pesan-pesannya sekali lagi pak untuk generasi millennials apa Pak Bas?
Oooo..itu…banggakan ini ya..…kalian harus bangga dengan ini, kekayaan Indonesia khususnya Jawa, Jawa yang begitu terancam…banyak pihak yang ingin memanfaatkan kekayaan alam, tapi saya rasa alam juga punya hak sendiri, nggak usah di sentuh semuanya..jadi mungkin harus dibiarkan hanya untuk melihat-lihat saja untuk menikmati…

(16)Terimakasih pak Bas
Terimakasih juga…


Daftar Pustaka:

Nijman, V. and Van Balen, S.B., 1998. A faunal survey of the Dieng Mountains, Central Java, Indonesia: distribution and conservation of endemic primate taxa. Oryx32(2), pp.145-156.
Sound editor :

Friday, March 22, 2019

Menggagas Pengelolaan Kolaboratif Hutan Petungkriyono

  Oleh : Ahmad A Fahmi, Arif Setiawan, 22 Maret 2019

  •   Hutan Petungkriyono termasuk dalam BKPH Doro, KPH Pekalongan Timur memiliki luas 5189,507  ha, terdiri atas hutan Produksi Terbatas dengan Tanaman Pokok Pinus dan Hutan Alam Kayu Lain atau hutan alam yang berfungsi sebagai Hutan Lindung Terbatas (HLT) untuk fungsi Lindung Hidrologis 
  • Habitat satwa-satwa dan flora endemik Jawa, seperti : Owa, Macan tutul, Elang Jawa
  • Atraksi wisata yang ditawarkan sebagian besar berupa air terjun, wisata sungai, dan pemandangan alam. Jenis wisata yang dikembangkan masih berupa mass tourism dimana pengembangan infrastruktur buatan seperti tempat selfie yang instagrammable menjadi obyek favorit wisatawan
  • ·Berkembangnya kegiatan wisata alam di kawasan ini dapat dijadikan bukti bahwa hutan mampu memberikan manfaat ekonomi tanpa harus menebang ataupun mengubahnya.
  • Kelestarian  hutan merupakan kepentingan dan kebutuhan berbagai lapisan masyarakat, baik yang tinggal di sekitar hutan maupun masyarakat yang tinggal di daerah hilir, rusaknya Hutan Petungkriyono  akan memberikan dampak negatif  bagi keanekargaman hayati dan potensi ekonominya dan resiko bencana alam bagi masyarakat yang tinggal di daerah hilir,



Petungkriyono merupakan daerah pegunungan dengan ketinggian antara 600-2100 meter di atas permukaan air laut (mdpl) dimana sebagian wilayah merupakan daerah dataran tinggi Pegunungan Serayu Utara. Sebelah Selatan merupakan Kawasan Dataran Tinggi Dieng dengan rangkaian gunung seperti Gunung Rogojembangan, Gunung Kendalisodo, Gunung Sikeru, Gunung Perbata, Gunung Geni, dan Gunung Kukusan.


Kecamatan Petungkriyono berada di wilayah Kabupaten Pekalongan bagian Selatan yang berbatasan dengan Kabupaten Banjarnegara di bagian Selatan. Luas wilayah Kecamatan Petungkriono adalah 7.358,523 ha yang sebagian besar adalah hutan negara seluas 5.189,507 Ha. Luas pemukiman hanyalah 119,652 ha (16 %) dari luas wilayah. Kawasan hutan di Kecamantan Petungkriyono merupakan salah satu kawasan hutan tropis yang masih tersisa di Pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah. Sebagian kawasannya yang masih utuh, rangkaian pegunungan Dieng di tengah Pulau jawa, mampu mendukung kehidupan beberapa satwa langka yang terancam punah seperti Elang jawa, monyet daun (Lutung dan Rekrekan, Macan tutul dan juga juga satwa endemik jawa yang sangat penting yaitu owa jawa (1; 2). 


Hutan Petungkriyono termasuk dalam BKPH Doro, KPH Pekalongan Timur memiliki luas 5189,507  ha, terdiri atas hutan Produksi Terbatas dengan Tanaman Pokok Pinus dan Hutan Alam Kayu Lain atau hutan alam yang berfungsi sebagai Hutan Lindung Terbatas (HLT) untuk fungsi Lindung Hidrologis . Hutan lindung memiliki luas 1931,90 ha (SK Menhut Nomor: 359/Menhut.II/2004 tanggal 1 Oktober 2004) (3). Hutan lindung Petungkriyono berfungsi sebagai Hutan Lindung Terbatas, Hutan lindung Petungkriyono masih merupakan hutan primer yang relatif terjaga, dengan tipe vegetasi hutan hujan tropis. Hutan primer merupakan hutan yang belum pernah dilakukan tebang habis (4).
Owa Jawa (Hylobates moloch)

Potensi dan Ancaman
Kondisi hutan yang masih utuh memberikan dampak sangat positif terhadap lingkungan sekitarnya, dimana banyak sungai dan air terjun yang masih dialiri air jernih sepanjang tahun. Dengan kondisinya yang masih alami, Kawasan Hutan Petungkriyono mempunyai potensi wisata alam yang sangat besar. Pada saat ini terdapat sekitar  8 obyek wisata alam yang terdapat di kawasan tersebut yang dikelola oleh masyarakat bekerjasama dengan Perhutani.

Atraksi wisata yang ditawarkan sebagian besar berupa air terjun, wisata sungai, dan pemandangan alam. Jenis wisata yang dikembangkan masih berupa mass tourism dimana pengembangan infrastruktur buatan seperti tempat selfie yang instagrammable menjadi obyek favorit wisatawan. Ekowisata meskipun sudah menjadi wacana di tingkat pemerintah daerah semenjak tahun 2005 namun masih belum dikembangkan secara serius meskipun potensi yang ada sangat besar.Masyarakat di sekitar Kawasan Hutan Petungkriyono saat ini tengah mengembangkan banyak inisiatif dan membangun berbagai obyek wisata di sekitar kawasan hutan ini. Berbagai atraksi coba dikembangkan oleh masyarakat seperti, melihat air terjun, wisata sungai ( river tubing, river tracking), pengamatan satwa di alam dan umumny pemandangan bentang lahan dan topografi bergunung dengan kehidupan pedesaan yang asri.

Pengembangan potensi wisata ini masih bersifat sporadis dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat atau individu secara mandiri. Pihak pemerintah daerah sendiri sangat mendukung dengan pengembangan wisata alam ini. Sejak tahun 2018 dilakukan penyempurnaan akses ke dalam kawasan dengan memperbaiki jalan. Saat ini akses jalan ke dalam kawasan sangat lancar karena jalan sudah berupa aspal hotmix dengan lebar 4 m. Dengan semakin terbukanya akses ini maka kegiatan wisata di kawasan ini semakin marak.

Berkembangnya wisata alam di kawasan ini merupakan berkah tersendiri bagi masyarakat. Kunjungan semakin meningkat pada hari-hari libur. Namun disisi lain kegiatan wisata ini berpotensi untuk meningkatkan gangguan terhadap kehidupan satwa liar yang ada di kawasan, jika tidak terkendali kegiatan wisata yang berlebihan justru dapat berefek negatif terhadap satwa liar seperti Owa Jawa yang merupakan ikon kawasan ini.

"primatewatching" salah satu kegiatan wisata minat khusus

Di sisi yang lain ternyata kawasan ini juga masih mengalami tekanan dan juga gangguan. Kegiatan-kegiatan pelanggaran hukum seperti perburuan liar dan juga pembalakan liar masih terjadi di kawasan hutan ini. Perburuan liar yang terjadi saat ini dilakukan oleh pendatang dari luar dan sebagian juga masyarakat setempat. Jenis satwa yang diburu adalah terutama jenis-jenis burung, kijang , Ayam hutan, babi hutan, luwak, trenggiling, landak, dan berbagai macam satwa lainnya. Bisa dikatakan tidak ada jenis satwa spesifik yang dijadikan target dimana satwa yang dijumpai itulah yang akan diburu.

Meskipun tidak dalam jumlah besar dan masif, disinyalir masih terdapat praktek illegal logging yang dilakukan oleh oknum masyarakat. Meskipun skala penebangan tersebut kecil namun jika dilakukan secara terus-menerus maka dikhawatirkan hal ini akan menimbulkan dampak kerusakan pada ekosistem hutan. Terdapat beberapa jenis kayu yang sering dijadikan target favorit para penebang yaitu kayu wuru dan kayu babi. Fenomena perburuan liar dan juga illegal logging yang terjadi di kawasan hutan ini menunjukkan bahwa sistem pengelolaan yang saat ini ada masih belum mampu memberikan jaminan keamanan bagi kawasan hutan ini.

Kebutuhan Dukungan Parapihak dan Nilai Penting Kolaborasi

Hutan dengan segala potensi dan fungsinya, sejatinya berhubungan dengan kepentingan banyak pihak. Kelestarian hutan bukanlah kepentingan pihak pengelola (dalam hal ini Perhutani, misalnya). Kelestarian  hutan merupakan kepentingan dan kebutuhan berbagai lapisan masyarakat, baik yang tinggal di sekitar hutan maupun masyarakat yang tinggal di daerah hilir, rusaknya Hutan Petungkriyono  akan memberikan dampak negatif dan resiko bencana alam bagi masyarakat yang tinggal di daerah hilir. Kerusakan hutan juga akan memicu hilangnya keanekaragaman hayati dan juga potensi ekonomi masyarakat seperti potensi wisata alam.

Berkembangnya kegiatan wisata alam di kawasan ini dapat dijadikan bukti bahwa hutan mampu memberikan manfaat ekonomi tanpa harus menebang ataupun mengubahnya. Pengelolaan wisata alam yang baik dan berkelanjutan ke depan tentunya juga membutuhkan peran banyak pihak. Dengan demikian pengelolaan Hutan Petungkriyono sejatinya juga membutuhkan dukungan dari banyak pihak selain institusi utama yaitu Perhutani. Masyarakat dan pemerintah desa perlu ditingkatkan kepeduliannya dalam hal ini. Instansi pemerintah daerah baik di kabupaten maupun provinsi juga seharusnya memberikan kontribusi positif bagi pengelolaan Hutan Petungkriyono yang lestari dan mensejahterakan masyarakat. Beberapa pihak yang terkait dengan kawasan ini adalah:

Table. Para pihak dan Fungsi Utamanya
Para Pihak
Fungsi/Peran Utama Yang diharapkan dalam pengembangan manajemen kolaboratif

Perhutani KPH Pekalongan Timur
Pengelolaan kawasan Hutan Petungkriyono secara umum.
Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah
Berwenang dalam pengelolaan sumberdaya hutan di wilayah Provinsi Jawa Tengah
Mengkoordinasikan peran parapihak di tingkat provinsi maupun nasional
Bappeda Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Pekalongan
Mengembangkan perencanaan pembangunan dan tata ruang wilayah
Balai Konservasi Sumberdaya Alam Provinsi Jawa Tengah
Pelestarian sumberdaya hayati terutama spesies langka di wilayah Provinsi Jawa Tengah, khususnya di kawasan Hutan Petungkriyono dan sekitarnya
Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Pekalongan
-         Mengembangkan program-program yang bertujuan menjaga kualitas lingkungan hidup
          Melaksanakan pemantauan terhadap kualitas lingungan hidup
Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Pekalongan
Mengembangkan destinasi dan obyek wisata yang ramah lingkungan dan berkeadilan sosial
Dinas PU
Meningkatkan kualitas infrastruktur
Kepolisian
Penegakan dan pembinaan hokum hokum
Pemerintah Desa
          Mengembangkan dan menjalankan kebijakan pembangunan desa yang ramah lingkungan  sesuai kewenangannya
        Mengembangkan program-program kesejahteraan berbasis dana desa
Masyarakat Desa  
Mengembangkan potensi hutan secara berkelanjutan,

      Berpartisipasi aktif dalam pengembangan kebijakan dan program pembangunan
Organisasi masyarakat / LSM
Pengembangan kapasitas, advokasi, networking, dll
Pihak Swasta/Perusahaan
            Mengembangkan  investasi berdasarkan prinsip keberlanjutan
            Pengembangan program-program Tanggung Jawab Sosial  Perusahaan (CSR)

Keterlibatan dan kontribusi dari berbagai pihak ini seharusnya tidak berjalan sendiri-sendiri namun juga ditopang oleh semangat mengembangkan sinergi atau keterpaduan sehingga terjadi hubungan yang saling melengkapi satu dengan yang lainnya sehingga pengelolaan kawasan ini dapat berjalan secara optimal. Jika peran parapihak ini  tanpa didasari oleh semangat menjalin sinergi maka hal ini dapat menyebabkan berbagai persoalan ke depan berupa konflik kepentingan antar pihak.(5) Oleh karena itu perlu dikembangkan sebuah proses kolaborasi parapihak yang berkepentingan dengan pengelolaan Hutan Petungkriyono.

Tujuan dari pengembangan Pengelolaan Kolaboratif di Kawasan Hutan Petungkriyono adalahMengembangkan kesepakatan-kesepakatan  parapihak yang terkait dengan Hutan Petungkriyono yang dapat menjamin kelestarian sumberdaya hutan dan keberlanjutan pengelolaan potensinya. Mengembangkan keterpaduan dan sinergi parapihak yang mempunyai kepentingan terhadap pengelolaan Hutan Petungkriyono. Mengembangkan dukungan yang lebih luas terhadap pengelolaan potensi dan pelestarian Hutan Petungkriyono

Dalam jangka pendek kegiatan pengembangan co-manajemen ini akan menghasilkan sebuah dokumen Rencana Induk Kolaboratif yang berisi gagasan mendasar dan umum parapihak dalam memanfaatkan sekaligus melestarikan kawasan Hutan Petungkriyono

Beberapa dampak yang diharapkan dari kegiatan penyusunan Rencana Kolaborasi Pengelolaan dan Pelestarian Kawasan Hutan Petungkriyono  adalah sebagai berikut: Munculnya keterpaduan dan sinergi yang konstruktif diantara parapihak yang terkait dengan pengelolaan dan pelestarian Kawasan Hutan Petungkriyono ke depan. Terkoleksinya data sebagai basis analisis untuk pengembangan Kawasan Hutan Petungkriyono ke depan. Terbukanya jalinan komunikasi antar pihak yang berkepentingan dengan Kawasan Hutan Petungkriyono sehingga mengurangi dan mencegah resiko konflik di masa yang akan datang. Meningkatnya kemampuan parapihak terutama masyarakat desa dalam menyusun langkah-langkah pengembangan Kawasan Hutan Petungkriyono yang menjamin kelestarian sumberdaya dan lingkungan.

Daftar Pustaka:

1 . Nijman, V. and Van Balen, S.B., 1998. A faunal survey of the Dieng Mountains, Central Java, Indonesia: distribution and conservation of endemic primate taxa. Oryx, 32(2), pp.145-156.
2. Setiawan, A., Nugroho, T.S., Wibisono, Y., Ikawati, V. and SUGARDJITO, J., 2012. Population density and distribution of Javan gibbon (Hylobates moloch) in Central Java, Indonesia. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 13(1).
3. SK Menhut Nomor: 359/Menhut.II/2004 tanggal 1 Oktober 2004
4. Fisher, R.J., 1995. Collaborative management of forests for conservation and development (p. 65). Gland, Switzerland: Iucn.



Sunday, December 9, 2018

SwaraOwa (Voice of the Gibbon): A Coffee Adventure


by Adeline Chang

The Coffee and Primate Conservation Project was started in 2012, by the SwaraOwa team, building upon an earlier project by Arif Setiawan in 2008. The main object is to conserve the endangered Javanese Gibbon and its natural habitat. The spends its time swinging through the rainforests on the Indonesian island of Java. Villages are scattered throughout the rainforest, and community investment is essential! To increase interest in conserving the rainforest, SwaraOwa supports the villagers to (sustainably) scale up production of the coffee that already grows naturally in the forest, learn about proper cultivation and sorting techniques, and obtain better access to the coffee markets.
֍
Meeting
It was sweltering the day I met Arif Setiawan (he prefers Wawan) at the Singapore Botanic Gardens. We were cocooned in an air-conditioned room, where three different speakers shared their primate conservation projects in Indonesia. When it was Wawan’s turn, he stood up with a big smile and a relaxed nature that bespoke a deep inner peace. Speaking animatedly, he told us about his team’s work with village communities to conserve gibbons and their rainforest habitats. Out in the lush isolation, they had formed connections that were improving the financial security of villagers, and slowly transforming the way villagers saw the rainforest. A truly beautiful long-term project.
What most piqued my interest that day, however, was their leveraging of shade-grown coffee. With the project’s support, the coffee plant already growing naturally under the steady shade and protection of the rainforest canopy became a source of income for the villagers – a clever, economic and biodynamic way of encouraging them to value and live in harmony with the rainforest and its other animal inhabitants.
Coffee! The ex-barista in me was wide awake and at attention.  
After the talk, I made a beeline for Wawan, where I asked him curiously about how much income the coffee planting brought villagers (a supplementary amount, as it turns out), and about the sales avenues for the coffee. I was flying to Indonesia the following month for a meditation stay and short holiday, and when I said I’d be in Yogyakarta and would love to visit the forest, this beast of a gentleman immediately invited me to visit their office and roasting facility.
Fast forward a month, and after my first visit to the office, Wawan messaged me to say they were visiting the field site, 7 hours from Yogyakarta. There was a seat for me in the jeep – did I want to come along?
Of course, I said yes!
֍
The Journey
I arrive late at the building, heart racing. My usually unkempt short hair lies flat, plastered to my head with sweat, as I nudge the helmet off my head and hand it to the ojek driver. “Makasih, pak.” It’s 40 minutes past when I was meant to arrive.
But I’ve forgotten about Indonesia’s jam karet – what they call rubber time, a pointer to that incredible flexibility with which people treat the hours of the day.
As I walk into the office-warehouse-discussion centre rolled in one, apologising profusely, everyone tells me to relax. Wawan is hard at work on his computer, Yoshi immediately starts brewing me a coffee, and our bee expert Sidiq has yet to arrive. The aroma of roasting coffee wafts over from the next room as I sit contentedly.
It’s nearly 12 when we begin our drive in the muggy heat. The windows of the Jeep are rolled down, but only when it begins pouring does the cooling air bring blessed respite. We pass out of the jam-packed city and through smaller towns and streaks of empty surrounded by hulking trees, stopping every couple of hours so Yoshi can take a break. By the time we enter the Sokokembang forest, night has fallen – it’s eerie winding along the road in the dark, car lights at full beam, our eyes peeled for snakes, civets, even Javan leopards. But no luck tonight.
In the village, we are hosted by the Sokokembang village chief and his wife, Pak E and Mak E. Beside the chief’s front porch sits a little Swara Owa office – about 5 by 3 metres, lit up by hydro-powered lights, just like everything else in the village, which doesn’t have access to the electric grid. My room, in contrast, is constantly lit by a light with no off-switch, and permanently damp and cool. 
Exhausted by the journey, I quickly fall asleep.
֍
The Field
The next day, the jungle swallows us into its wild arms. We walk for an hour, eyes fixed on the green canopies. Wawan is an expert at spotting the groups of primates, scanning the tree canopies and pointing them out to me.
The first time I catch sight of a leaf monkey is magical. In the gentle morning light, the heart-shaped silver of its face gleams, while its body shines black and glossy. Through my binoculars its eyes seem to gaze straight into mine.

(Photo by Arif) A lutung and her young, pausing on a branch.

The silvery gibbon (owa, in Indonesian) – the namesake of this conservation project – is, in contrast, far less delicate in appearance. Warm grey, it fills out its curves and swings with easy agility from branch to branch.

(Photo by Arif) A Javan gibbon, its strong, endlessly long arm stretched high for support.

Visiting Gondang Village
It takes us half an hour to curve northwards, hugging the cliff, as the paddy fields fall away into sparse forest. The last stretch of our journey can barely be called a road, and I feel myself slip-sliding as our black four-wheeler bumps its way, snail-like, along the rocky track.


As we move inwards from the cliff edges, the view is stunning – grey puffs caressing the lush, verdant fields. 


On this last stretch of road, the drive becomes extremely slow going.

I feel a sense of relief when we arrive; my bum is beginning to hurt.
Inside the Gondang village chief’s house, darkness reigns. Sparse daylight filters into a space that’s both living room and kitchen. For chairs, we arrange tiny wooden blocks around the low table: I imitate Yoshi, who stacks two together to make a more comfortable seat.
Pak Untung, the chief, is dressed neatly in a blue polo, with a kind, handsome face and crow lines that crease every time he smiles or laughs. Everyone shakes hands with him before bringing them, gently, towards their chests. He grins when Wawan gives him a box of bak pia, a pastry filled with crumbly green bean, and passes it to his wife.
After we settle down, they begin a long chat. Their words are interspersed with easy silences, funny stories, and dramatic jokes which leave everyone roaring with laughter. Pak Untung tells them about the most recent harvest (“bad”, he says, but the men needle him and everyone laughs). Another man enters the house, an unplanned and unannounced visit – he joins us at the table. The men smile and tell me that in the village, you can talk to anyone you bump into. Everyone knows everyone else, and everyone is welcome, always. Already feeling the fatigue of so much interaction, I remain nevertheless charmed by the tightness of their social circles, and the warmth with which they treat each other. 
I am the only woman at the table. On the floortop fireplace two metres away, his wife cooks for us, spicy onion leaves, slices of omelette, fried fish, and souped up vegetables with corn rice. Soon the table is heaped with dishes, and we pile in. “No corn rice here means no rice at all,” Wawan remarks matter-of-factedly.

Pak Untung eating a banana from the huge stalk that Wawan has brought, earlier, Wawan received the banana fruits from the swaraOwa nursery plot in Sokokembang.




How Appropriate is Direct Trade?
Interpersonal ties are absolutely key in these sequestered mountain villages. Here, direct trade (which involves farmers trading directly with roasters, in small quantities and for higher  buying prices) seems like it should have potential. But as we sit on the bamboo gazebo out front (Pak E built it on his own from the bamboo trees that are abundant all around us), Wawan explains how some farmers, buoyed up by the high prices fetched by their first mini batch of beans sold via direct trade, shift their land to farm far more coffee, not realizing that the amount the direct trader can purchase from them is limited. And what about fellow villagers, drawn by monetary promise into an enterprise that then blasts away at ecological stability and biodiversity in the area?
Everything is interlinked in a web of cause and effect, and the best overall outcome from direct trade may be effected only if we recognize that its ripple effects extend beyond just the two parties who engage in the sale, and far beyond the money – with implications for both community ties as well as environmental sustainability.
Robusta coffee in the shaded canopies of Hutan Sokokembang
Coffee naturally grows under shaded tree canopies, and traditionally this has allowed coffee cultivation to be a key part of sustainable agro-foresty systems combining tree species, coffee, and other agricultural commodities[5]. Due to the forces of capital supply and demand, however, monoculture and sun-grown coffee are now de rigour.
Should this transition from shade- to sun-grown take place here, in the villages of the Sokokembang Rainforest, the future of the primates who dwell in the canopies will be hit, hard. This is part of a trajectory that SwaraOwa hopes to prevent.




The vibrant rainforest is key to preserving the endangered Javanese gibbons and leaf monkeys in the region.

Slow Change
Kula boten mangertos – I don’t understand. This is the extent of my Javanese, so in the villages, where most people speak only Javanese, what I gather from the conversations comes from my fragments of Bahasa, and Wawan, Yoshi and Sidiq translating interesting bits into English for me.
In Sokokembang village, where we spend three nights, the camaraderie between Pak E, Mak E and the Swara Owa team is palpable. We spend the afternoons on the front porch, chatting, sipping tea and coffee while sitting on lesehan (floor mats prevalent throughout Central Java). The coffee is thick and heavy with grounds, and on the second day I opt for tea. Once, the sole village midwife – an elderly lady who’s at least 70 years old, and hobbles swiftly on bare feet – stops by, sits down for a chat, and asks me if I’m a man or woman, a question I’ve become used to by then; my short hair perturbs people. And sometimes, we simply sit in silence, listening to the birds calling from the trees. 
During our trip to Gondang village, we spend two hours in the chief’s house. For most of that time, the conversation covers everything except coffee and the forest. We eat lunch, laugh uproariously, and smoke countless cigarettes, tossing the finished butts into the low wood fire. Once, Sidiq heads out and when he comes back, tells us: “There was a minor earthquake!”
The biggest element in this conservation project is trust-building. It is the iffiest element, impossible to copy and paste wholesale, and the fruits that I witness are thanks to years of trial and error by Wawan and his team. “Each village is different. For example, in Gondang Pak Untung is very well-loved by all the people, so we began circulating our posters through him. When he needs help at the house, everyone shows up, even when he doesn’t ask. But Sokokembang is totally different; most of the houses here are families [blood-related in some way], and so everything we do is a little trickier, more complicated. People are more difficult to convince. But over the years we build trust with the people.”
All this requires endless patience and commitment, and in this environment one begins to appreciate that one of the ingredients for success is the passage of time.

What’s a coffee drinker to do?
1.       Ethics and Sustainability: This is a toughie. Fair Trade coffee beans are not equal – their sale doesn’t benefit all member farmers equally; this depends on the cooperative the farmers belong to. Rainforest Alliance certification is far more holistic in its concern for both financial and environmental sustainability, but only requires that 30% of the beans in certified bags satisfy these conditions. There’s also another certification that’s a radical breakaway from these – called the Small Producers’ Symbol, it’s owned and run by producers in the South (instead of the North), and is meant to ensure that administrative fees are far lower (one-fourth) and that more of these (a third) go back into the cooperatives[6]. Still, for now it remains carried by just a handful of roasters in the USA, Canada, and France[7]. Ultimately, your choices will depend on what’s available around you and on the kind of information you can get about the specific farms or beans you’re purchasing. 
2.       Taste: What about us coffee snobs? Those who look out for acidity, body and sweetness in their cuppa? Those sneaky ones who know the difference between an Ethiopia Yirgacheffe Kochere and a Panama Geisha? Despite its limitations, buying direct trade coffee can offer a good balance between coffee quality, monetary fairness for the farmer, and sustained biodiversity in the coffee-growing region. Generations will feel the impact of our choices today - it's a small world that we share with wildlife and nature!
3.       Everything: We can start by genuinely caring about our neighbours near and far, and acknowledging the implications of the coffee we buy without allowing uncomfortable knowledge to paralyze us. Instead, turn that into a positive emotion! The most impactful people I know are always fighting for change whilst staying grateful for what they have access to.
Ultimately, that hardest bit might be recognizing the issue for how complicated it is, and reigning in the temptation to simplify things and magic up silver bullets to make ourselves feel better. Using that knowledge to move in small ways closer towards fairer trade is perhaps the best that any of us as consumers can do.










About Adeline Chang

Adeline is a restless ex-barista who's fallen in love with growing food sustainably, breathing in the splendour of wilderness, and dancing through the thick and thin of life.
https://tropicalgardeninglife.wordpress.com/