Showing posts with label kopi dan konservasi primata. Show all posts
Showing posts with label kopi dan konservasi primata. Show all posts

Tuesday, September 22, 2020

“Beasiswa KOPI OWA”



Program “Kopi dan Konservasi Primata 2020 -SWARAOWA, mengajak anda berkontribusi melalui pembelian Kopi “jungle bean” dari habitat Owa Jawa, seharga Rp 120.000,00 anda akan mendapatkan 2 bungkus kopi Arabica dan Robusta. Keuntungan penjualan kopi ini akan di gunakan untuk biasiswa penelitian Owa jawa dan burung Raja Udang Kalung Biru, di Hutan Petungkriyono,Kab.Pekalongan, Jawa Tengah.

Owa Jawa 



Burung Raja Udang Kalung Biru

Saat ini ada 2 mahasiswa yang akan melakukan penelitian tentang perilaku bersuara Owa Jawa (Hylobates moloch), dan Distribusi dan habitat burung Raja Udang Kalung biru (Alcedo euryzona). Tentang burung Raja Udang Kalung Biru ini merupakan burung langka terancam punah (Critically Endangered) yang di temukan tahun 2018 oleh tim SWARAOWA.

Pembelian kopi ini juga menjaga produksi kopi Owa di masa pandemic, dimana sangat terdampak karena tutupnya outlet-outlet/coffee shop jaringan kopi Owa saat ini. Dukungan anda sangat penting tidak hanya untuk mendukung penelitian satwa terancam punah tetapi juga mondorong warga sekitar hutan untuk tetap produktif dan menjaga kelestarian hutan.

Sampai bulan Desember 2020, penelitian ini membutuhkan dana kurang lebih Rp 30.000.000,00 (tiga puluh juta rupiah) dan saat ini sudah ada dana Rp 10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) untuk kegiatan kelapangan bulan September-November 2020. Penggalangan dana ini akan kami buka sampai akhir bulan November 2020, dan juga akan menjadi sekema berkelanjutan untuk upaya pelestarian primata dan burung langka di wilayah Jawa Tengah. Ikuti terus perkembangan kegiatan kami di sosial media SWARAOWA.

Pembelian bisa kopi kami layani melalui OWA COFFEE, no WA : 0823 1377 2667, Instagram dan twitter Owa Coffee, juga tokopedia : https://www.tokopedia.com/owacoffee

Monday, September 23, 2019

Konservasi Primata Jawa dengan Board Game OWA

Oleh : Nur Hidayat & Nunuk Riza Puji , SMAN 1 Petungkriyono

"Life of the gibbon " Owa Board Game

Pelestarian Owa Jawa di Hutan Lindung Petungkriyono telah dan sedang dilakukan oleh banyak pihak, pemerintah, mahasiswa, peneliti, lembaga swadaya masyarakat, komunitas, dan juga warga sekitar hutan. Namun, generasi muda khususnya anak-anak sekolah sepertinya belum menjadi prioritas untuk menjadi pelaku langsung yang berkontribusi untuk konservasi Owa.
Siswa sekolah sebagai generasi penerus  seharusnya merupakan target prioritas untuk menghadapi tantang upaya konservasi Owa, sebagai generasi muda yang akan menjadi pelaku konservasi di tahun-tahun mendatang, setidaknya ada pengetahuan tambahan  tentang Owa Jawa, sebagai satwa yang ada di sekitar sekolah mereka. Pengetahuan ini meskipun ada dalam mata pelajaran sekolah, namun dengan keterbatasan sarana, waktu dan tenaga kadang informasi penting tentang Owa ini tidak di ketahui oleh anak-anak sekolah. Invoasi pembelajaran dan pengalaman lapangan juga menjadi tantangan tersendiri untuk mengenalkan muatan-muatan lokal yang sebenarnya bisa menjadi identias global untuk anak-anak dari habitat owa ini.



Pengenalan board game “OWA” ini berlangsung di sela-sela acara Simposium dan Kongres Primata 18-20 September 2019, Perhimpunan Peneliti dan Pemerhati Primata Indonesia, dengan presentasi oral berjudul “ Memperkenalkan konservasi Owa Jawa dengan media Boardgame”. Acara terbesar pertemuan ahli dan pemerhati primata di Indonesi yang di laksanakan oleh PERHAPPI ( Perhimpunan Ahli dan Pemerhati Primata Indonesia). Sekilas tentang boardgame OWA (Life of the Gibbon) dapat di saksikan di youtube. 




Kami, sebagai pengajar di Sekolah Menengah Atas di Kec. Petungkriyono bekerjasama dengan Swaraowa, membuat sebuah permainan edukasi untuk megenalkan Owa Jawa, dengan menggunakan media board game yang bertemakan Konservasi Owa Jawa. Boardgame  merupakan  jenis permainan yang menggunakan papan sebagai alat permainannya. Contoh board game yang populer adalah Ular Tangga, Monopoli, Ludo, dan Halma. Sayangnya, jenis permainan ini sampai sekarang hanya berkembang pesat di Eropa dan Amerika. Padahal dengan berbagai potensinya, board game mampu menjadi sebuah media kreatif yang efektif untuk menyampaikan pesan pegetahuan selain juga permainan yang menyenangkan.

Pemilihan board game sebagai media pengenalan pelestarian owa jawa sangat cocok untuk siswa sekolah karena merupakan sebuah media yang kreatif dan menyenangkan. Selain itu board game ini dapat diintegrasikan sebagai media pembelajaran Biologi di SMA. Melalui pembelajaran biologi dengan board game ini siswa dapat memahami dan menyadari pentingnya konservasi Owa jawa di hutan lindung petungkriyono.

papan permainan OWA

Board game yang digunakan dalam pembelajaran biologi merupakan bentuk simulasi kehidupan Owa Jawa. Siswa berperan sebagai Owa Jawa yang mengumpulkan buah ficus sebagai makanan dengan melewati beberapa ekosistem di Hutan Lindung Petungkriyono. Ekosistem tersebut ada yang menguntungkan sehingga siswa mendapatkan buah ficus yang banyak dan ada pula yang kurang mendukung sehingga buah ficus yang didapat sedikit. Selain itu ada lingkungan yang rusak sehingga ketika dilewati akan kehilangan buah ficus. Penggambaran macam-macam ekosistem ini diharapkan mampu menimbulkan kesadaran siswa akan arti penting ekosistem yang baik untuk kelestarian Owa Jawa.
token permainan, gambar buah ficus makanan kesukaan Owa

Kartu interaksi

Owa Jawa juga akan melewati ekosistem yang dihuni manusia seperti pemukiman, ladang, objek wisata dan jalan raya. Pada ekosistem ini terdapat kartu interaksi yang isinya berupa perilaku manusia yang dapat merugikan atau menguntungkan Owa Jawa. Hal ini sebagai pengetahuan bagi siswa tentang perilaku manusia yang dapat membahayakan kehidupan ataupun yang mendukung kelestarian Owa Jawa.

Siswa bermain board game sambil belajar mengenai pelestarian lingkungan dengan aktif. Bermain board game dengan teman juga meningkatkan interaksi sosial antar siswa yang selama ini kurang karena dampak penggunaan smartphone. Pada akhirnya ketika bermain boardgame ini tanpa disadari siswa telah mempelajari cara hidup Owa Jawa dan faktor yang dapat mengancam ataupun mendukung kelestarian Owa Jawa. Dengan demikian akan tertanam sikap hidup positif untuk mendukung kelestarian Owa Jawa dalam diri siswa yang merupakan generasi muda Petungkriyono.

Tuesday, February 19, 2019

Seri Diskusi Konservasi #2 : Bekantan dan Orangutan di Bentang Alam Wehea-Kelay

Foto bersama peserta dan pembicara seri diskusi Bekantan dan Orangutan 

Sokokembang, 14 Februari 2019, pendopo kopi Owa mendapat kunjungan istimewa dari The Nature Conservansi Indonesia. Kunjungan ini berawal dari interest yang sama terhadap jenis-jenis Owa (Hylobatidae) yang ada di site TNC namun belum mendapatkan prioritas untuk upaya pelestariannya. Kemudian dibawah koordinasi Arif Rifqi, membawa tim lapangan mereka untuk melihat langsung bagaimana kegiatan monitoring Owa jawa yang di lakukan di Sokokembang.  Kedatangan tim ini juga mengajak serta 2 staff dari BALITEK KSDA yang aktif melakukan penelitian dan konservasi Bekatan, sementara Arif Rifqi saat ini juga sebagai coordinator untuk penelitian Orangutan di areal kerja TNC di Kalimantan Timur.

Anjar Prasojo presentasi tentang satwaliar di hutan Lindung Petungkriyono

Kedatangan tamu-tamu istemewa dengan pengalaman berbeda, sangat berharga sekali mau berbagi cerita lapangan dan inisiasi yang di lakukan. Acara seri diskusi yang telah di Inisiasi sejak tahun lalu oleh swaraOwa di gelar terbuka untuk umum, tercatat sebanyak 26 orang, telah mendaftar dan hadir hari ini tanggal 14 Februari 2019. Acara di buka oleh swaraowa dan perkenalan masing-masing peserta, selain 5 orang staff TNC dan 2 staff Balitek, ada mahasiswa, kelompok pecinta alam, komunitas fotografi,  wirausahawan batik, berasal dari Pekalongan, Semarang, dan Yogyakarta.
Untuk pembukaan acara diskusi, Anjar Prasojo dari komitas fotografi alam liar pekalongan mempresentasikan foto-foto satwaliar yang diperoleh di hutan Sokokembang untuk mengenalkan keragaman fauna di wilayah Pegunungan Pekalongan, Anjar juga menceritakan latar belakang kenapa beliau yang awalnya pelaku jual-beli satwa eksotik yang beralih menekuni fotografi alam liar, dan  berkarya melalui foto satwaliar daripada mengekang satwa dalam kandang.

Setelah pengenalan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Wawan dari SwaraOwa, Triatmoko dari Balitek KSDA Kalimantan Timur menceritakan tentang salah satu primata endemik Kalimantan, yaitu Bekantan (Nasalis larvatus). Menurut  Triatmoko,  Bekantan merupakan monyet pemakan daun (colobine) yang memiliki sitem pencernaan mirip dengan Sapi ( ruminansia), lambung bersekat-sekat dan bakteri pencernaan membantu mencerna daun-daun (Regurgitate-remastication). Secara morphology jantan dan betina dapat di bedakan dengan jelas dari bentuk hidungnya, Bekantan Jantan mempunya hidung lebih besar dan lebih panjang dari betina.Triatmoko menceritakan kalau bekatan ini mempunyai sistem sosial unik, membentuk kelompok int, dan di dalam kelompok inti ini mempunyai sub-sub kelompok yang lain yang mempunyai strata, ada kelompok non-breeding, all male group, one-male group dan soliter.
Triatmoko (Balitek KSDA/Primatlogi IPB), menjelaskan tentang Bekantan

Habitat bekatan banyak di jumpai di tep-tepi sungai, hutan rawa, dan  hutan mangrove. Kondisi terkini habitat bekantan di Kalimantan, kini juga telah dan sedang mengalami tekanan yang tinggi, karena koversi habitat menjadi pemukiman, tambak , tambang dan kelapa sawit. Hilangnya habitat asli bekantan  ini di khawatirkan akan semakin memperparah laju kepunahan bekantan, inisiasi-inisiasi di tingkat site, mempromosikan bekantan dengan kegiatan wisata yang ramah lingkungan juga telah dilakukan. Menyambungkan secara ekologis hutan-hutan yang terfragmentasi dengan hutan-hutan yang ada disekitarnya menjadi tantantang berbeda di antara banyaknya kepentingan.
Arif Rifqi (TNC) memaparkan tentang konservasi orangutan Bentang alam Wehea-Kelai

Presentasi kedua di sampaikan oleh Arif Rifqi dari TNC Indonesia, bercerita tentang Orangutan (Pongo pygmaeus), di awal pemaparan Rifqi menyampaikan fakta-fakta orangutan di Indonesia, di antaranya kini ada 3 jenis orangutan yaitu 1 jenis orangutan kalimantan, dan 2 jenis orangutan di Sumatera ( Pongo abelii, dan Pongo tapanuliensis). Jumlah populasi orangutan liar untuk di Kalimantan lebih dari 50.000 individu, dan 12.000 individu di Sumatera, untuk orangutan tapanuli populasinya ada sekitar 760 individu. Orangutan dengan hanya 3 % genetika berbeda dengan manusia, merupakan identitas global, berperan dalam regenerasi hutan, karena menyebarkan biji-bijian, lebih dari 1400 jenis yang disebarkan oleh Orangutan, menjadikan kerabesar ini species payung untuk perlindungan ekosistem, ucap Rifqi.

Yang menarik lagi dari kerja konservasi orangutan di Kalimantan Timur ini, adalah inisiasi TNC Indonesia dalam membingkai upaya pelestarian orangutan ini melalui pendekatan mulit fungsi bentang alam, Landscape . Bagaimana mengintegrasikan upaya konservasi orangutan yang melibatkan banyak pihak, kedalam rencana tata ruang provinsi, sekaligus penguatan tatakelola para pihak di habitat Orangutan.  Pendekatan TNC Indonesia ini selain melibatkan masyarakat setempat juga pengelola kawasan tersebut, dan level bentang alam Wehea-Kelay seluas lebih dari 500.000 hektar, proses dari awal hingga terbentuk forum dan SK Gubernur menunjuk sebagai Kawasan Ekosistem Esesial, sebuah terobosan inovatif untuk pelestarian orangutan secara kolaboratif. Tidak hanya untuk orangutan fungsi penting kawasan ini diharapkan dapat terus dapat di kelola secara bijaksana dan berkelanjutan demikian tutup Rifqi.

(sampai jumpa di seri diskusi selanjutnya)



Wednesday, October 24, 2018

Pengalaman, pengetahuan baru untuk penelitian Primata

Pelatihan Metode Survei Primata
Sokokembang, Petungkriyono, Pekalongan
12-14 Oktober 2018
di tulis oleh :
Farhan Adyn, e-mail : farhan.adyn15@gmail.com


Apa yang terlintas di benak saat mendengar kata “Pekalongan”? Hampir kebanyakan akan langsung mengingat tentang Batik dan kainnya nan indah itu. Akan tetapi, bukan maksud ku mengunjungi kota ini untuk berbelanja, menambah koleksi batik yang siap dipakai saat menghadiri undangan acara-acara besar dan formal, melainkan memenuhi undangan Pelatihan Metode Survei Primata yang diselenggarakan oleh KP3 Primata UGM dan Swaraowa. Aku hadir sebagai partisipan representatif KSP Macaca UNJ bersama dua teman, Arief dan Rachmat, dari Jakarta yang keduanya merupakan perwakilan FSP Lutung UNAS. Kami tiba di Pekalongan dan dijemput oleh panitia menuju lokasi pelatihan. Sesaat setelah melewati perkebunan pinus PERHUTANI dan Perkebunan Karet ,  gapura dan tugu “Petungkriyono” telah menanti. Hal ini menandakan bahwa kami akan memasuki kawasan Hutan Lindung Sokokembang.
pintu masuk hutan Petungkriyono
Kesan tempat pelatihan ini, menurut kakak tingkat yang pernah mengikuti kegiatan serupa tahun lalu, tidak akan pernah terlupakan dalam hidup. Hutan Lindung Sokokembang termasuk hutan hujan dataran rendah tersisa di pulau Jawa yang benar-benar masih asri. Benar saja, saat pertama aku terkagum-kagum serta takjub kala mata memandangi tiap sudut bentang vegetasi dan kabut embun bergerak di atas rapatnya kanopi. O..iya, satu hal lagi yang ku tahu sebelum mengunjungi tempat ini, yakni kopi Owa. Berbeda dengan perkebunan kopi (yang cenderung disengaja & terkesan monokultur), kopi ini terkenal dengan sebutannya kopi Owa karena tanaman kopi (yang merupakan peninggalan sistem Tanam Paksa di Pekalongan dengan komoditi utama ialah kopi) hidup di dalam habitat nya Owa Jawa (Hylobates moloch Audebert, 1798) yang endemik di pulau ini.
praktek metode line transek
transek di persiapkan terlebih dahulu sebelum pengamatan dan diberi tanda

Hari pertama, Jum’at malam (12/10), diawali dengan pembukaan acara. Sambutan-sambutan diberikan kepada para peserta yang berjumlah 20 orang dari berbagai profil dan latar belakang. Ada peserta dari kalangan mahasiswa, pecinta alam, fotografer alam liar bahkan hingga advokat, berkumpul dan belajar bersama tentang survei populasi primata Jawa. Setelah dihangatkan oleh berbagai sambutan dari ketua pelaksana acara, Kepala KPH Pekalongan Timur,  serta perkenalan dengan peserta lainnya. Kemudian langsung dilanjutkan oleh pematerian pertama, pengantar tentang primata yang disampaikan oleh kak Salmah. Setelah itu, kami briefing untuk persiapan esoknya, dengan materi Survei Populasi dengan Teknik Line-Transect Sampling.

Penggunaan teknik tetap berdasarkan prinsip pengacakan (random) dan pengulangan (replication). Kegunaan teknik ini ialah untuk mencari dugaan/estimasi kepadatan (density) suatu objek (primata) per satuan luas/waktu. Adapun cara pengambilan datanya dengan berjalan lurus pada lintasan/jalur yang telah ditetapkan panjangnya (L), kemudian mencatat perjumpaan langsung dengan objek (N), lalu menembakkan sudut jalur & sudut objek dengan kompas (kemudian diselisihkan, α) serta mengestimasikan jarak langsung pengamat-objek (x). Tiga data terakhir dibutuhkan untuk mengetahui jarak antara objek yang tegak lurus dengan jalur (perpendicular distance/ppd/w) dengan prinsip trigonometri , (rumus sinus, cosinus atau tangen) digunakan untuk menghitung jarak tegak lurus antara primata dan transek, yang di tentukan dari dari sudut apit antara arah transek (pengamat) dan primata yang terlihat.

Jarak (ppd) ini digunakan sebagai preferensi lebar area sampling, atau telah disepakati sejak awal menggunakan jarak pandang optimum mata manusia (~50 meter), sehingga area sampling diproyeksikan berbentuk persegi panjang. Adapun persamaan matematis dari perumusan kepadatan/density (D) ini adalah:

D = N/A = n/2Lw

Hari itu (12/10), kami pun mengaplikasikan teori semalam di lapangan. Sebelumya, semua peserta dibagi menjadi 3 kelompok, masing-masing kelompok melalui jalur/transek: 1. Iger Menyan; 2. Rambut Putih; dan 3. Rumah pohon. Aku kebagian kelompok satu, transek 1. Iger Menyan. Menurut mas Wawan, panjang trek ini mencapai 700 meter yang berujung pada tumbuhan endemik Indonesia, damar-mata kucing (Shorea javanica Koord. & Valeton). Namun sayangnya, sepanjang perjalanan kami tidak menemukan/berjumpa langsung dengan objek (primata), hanya terdengar morning call/great call Owa Jawa di sisi tebing seberang. Dan lagi-lagi, kami kurang beruntung sebab terdapat pohon tumbang di titik 300 meter-an yang menghalangi jalan dan tidak memungkinkan untuk dilewati. Meskipun belum berkesempatan berjumpa langsung, kami tetap mengsimulasikan cara pengambilan data yang baik dan benar oleh pendamping jalur.
owa yang terfoto oleh peserta lain, mas Anjar dari Pekalongan
Sesampainya kami kembali ke basecamp, kami berisitirahat dan menyempatkan diri untuk mandi di sungai kolong jembatan. Air nya sangat bersih & jernih, sesuatu yang jarang bahkan tidak dapat ditemui di ibukota. Penyegaran ini guna persiapan untuk mengerahkan fikiran untuk mengolah data berikutnya. Rupanya teman kami di transek lain, ada yang menemukan sedikit individu, bahkan ada yang “panen” berjumpa dengan banyak individu dari beragam jenis primata, mulai dari Owa Jawa, Lutung Budeng, Rekrekan hingga Monyet Ekor panjang. Kemudian sesi tanya-jawab dan diskusi pun berjalan seru, berbagi pengalaman di lapang dan menambah wawasan dari tiap jawaban yang diberikan oleh pemateri dari Swaraowa, mas Wawan.
metode vocal-triangulasi untuk survey Owa

Malamnya dilanjutkan dengan briefing kembali, persiapan pengaplikasian dengan teknik yang berbeda. Kali ini kami mencoba menggunakan teknik triangulasi-Vocal Count. Tujuan metode ini menyerupai dengan teknik sebelumnya, yakni untuk mengetahui estimasi kepadatan populasi berdasarkan jumlah kelompok yang terdeteksi. Akan tetapi, survei populasi dengan teknik ini termasuk indirect survey/survei tidak langsung, sebab kita hanya menduga kepadatan berdasarkan asumsi keberadaan kelompok primata yang diwakili oleh vokalisasi satu individunya (biasanya betina, terkadang pula jantan, namun Owa Jawa tidak seperti owa lainnya yang melakukan duet, kecuali dia dan Siamang Kerdil/Hylobates klossii. Perlu dicatat pula, metode ini hanya berlaku pada objek yang telah diketahui pola perilaku bersuaranya. Bila proyeksi line-transect berbentuk persegi panjang, namun dalam triangulasi-vocal count diproyeksikan menjadi lingkaran.

Sebelum melakukan pengambilan data, hal yang perlu dicari ialah pos pendengaran/Listening-Post (Lps). Minimal pos yang dibutuhkan sebanyak 3 pos, dengan jarak antar masing-masing pos sekitar 0,3 km  >1 km. Adapun penentuan pos ini mempertimbangkan faktor topografi, potensi gangguan pendengaran, informasi awal spesies objek dan pengamat/pendengar itu sendiri.

Cara pengambilan datanya dengan para pengamat telah menempati masing-masing pos dengan waktu awal yang telah diseragamkan dan mencatat seluruh suara yang terdengar dari objek (primata, Owa). Ketika terdengar suara Owa, pengamat menembakkan sudut arah sumber suara, kemudian mengestimasikan jarak antara sumber ke pos pendengarannya, lalu mengkonfirmasikan kepada pos lain (dengan menggunakan komunikasi jarak jauh, ponsel, handy talky dsb.). Data yang benar-benar dipakai saat pengolahan data ialah data yang telah dikonfirmasi dari pos lain dan menunjukkan ke titik arah yang sama, sehingga diketahui lah titik temu/koordinat dari objek tersebut. Maka densitas adalah jumlah grup yang terdengar (n) per luas area/lingkaran yang telah dikalikan terlebih dahulu dengan konstanta probability calling (pm). Pm diperoleh dari survei awal, menghitung kemungkinan bersuara owa dalam periode waktu tertentu,  dimana nilainya 0 < pm < 1. Adapun persamaan matematisnya ialah:

D = n/(A (pm))
pm = n/H × 100%; dan 0 <; < 1,
nilai pm yang kita gunakan disini adalah 0.85

Sabtunya ,kami memparaktikan teknik ini. Kini, kami bergiliran menempati titik di jalur Rumah Pohon sebagai pos pendengaran kelompok kami. Pengamatan serentak dimulai di masing-masing pos pada jam 6 pagi dan berakhir bersamaan pada jam 9 pagi. Saat masih awal-awal terdegara banyak sekali suara dari berbagai sumber arah, akan tetapi semakin siang suasananya semakin sepi. Hanya saja kendala terjadi karena kebingungan menentukan sudut arah sumber suara, mengestimasikannya dan gangguan dari suara lain (seperti suara tonggeret, burung, bahkan mobil ambulans yang hampir membuat kami keliru.

Bagi orang yang biasa jalan jauh, mungkin teknik ini adalah tantangan tersendiri, karena kita harus dituntut diam dan menyimak dengan seksama pada titik yang telah ditentukan. Namun rupanya keunggulan dari teknik ini ialah mampu memberikan gambaran sebaran kelompok dalam waktu yang singkat. Namun kelemahannya kurang mampu memberikan informasi yang lebih detail terkait ukuran dan komposisi suatu populasi, dan perlu peninjauan kembali (validasi dengan teknik line-transect).

Setelah kami melaksanakan dan kembali ke rumah, kami langsung mendiskusikannya. Banyak ilmu baru dan wawasan menarik dari hasil sesi diskusi & sharing. Selanjutnya ada pemaparan materi & berbagi pengalaman dari dua pemateri undangan pelatihan kali ini, yakni ada Dr. Bosco Chan dari LSM yang berbasis di China Kadoorie Farm Botany Garden,dan ada Mbak Dwi Yandhi yang berasal dari Sulawesi, Macaca Nigra Project.
Dr.Bosco presentasi tentang upaya pelestarian Owa di P.Hainan Hongkong, China

Dr. Boscho mempresentasikan kerjanya, terutama kini menangani primata sekaligus mamalia terlangka di dunia, yakni Owa Hainan (Nomascus hainanus) yang endemic di satu lokasi Pulau Hainan. Beliau mencertitakan pengalamannya, upayanya hingga kendala-kendalanya saat itu kala mengetahui owa ini hanya tersisa beberapa indiviu, bahkan jumlah populasi global pernah mencapai hitungan jari saja! Setelah riset & observasi intensif, rupanya populasi ini menunjukkan tren kenaikkan ukuran populasinya.
mbak Yandhi presentasi tentang Macaca Nigra

Sedangkan mbak Yandhi, berbagi pengalaman selama 5 tahun terakhir hingga sekarang di Macaca Nigra Project (MNP). Pengalaman unik & menegangkannys, menghadapi tekanan masyarakat yg amat kuat hingga pemekaran ranah, yang tadinya hanya berfokus pada penelitian, kini MNP pun merambah ke dunia konservasi dan edukasi lingkungan dan juga pemberian wawasan dari segi edukasi.

Setelah sesi sharing berakhir, rupanya itu pun sesi terakhir, penutup agenda Pelatihan Metode Survei Primata. Tentunya diakhiri dengan sesi dokumentasi penutup acara. Pengabadian momen bersama, berfoto & bercanda setelah itu. Oh sungguh indah suasana ini, pengalaman yang tak terlupakan dan mendapatkan ilmu yang sangat bermanfaat. Tentunya, teman baru & relasi baru pun terjalin setelah pelatihan ini usai .
Foto bersama peserta, pemateri dan panitia MSP 2018

Terima Kasih banyak kepada KP3 Primata UGM sebagai penyelenggara acara, mas Wawan Swaraowa sebagai tuan rumah, dan pemateri undangan Mr. Bosco & mbak Yandhi yang telah meluangkan waktunya untuk berbagi pengalaman & semangatnya kepada para peserta.

Salam Lestari, Salam Konservasi.

Thursday, October 20, 2016

Pelatihan Bagi Calon Peneliti Primata

Oleh Bagas Adhi Kumoro (kumorobagas@yahoo.co.id)
Anggota KP3 Primata Fakultas Kehutanan UGM

Pelatihan Metode Survey Primata merupakan acara tahunan yang dilaksanakan oleh Coffee and Primate Conservation Project di wilayah sebaran primata endemik di wilayah Jawa Tengah ,bekerjasama dengan KP3 Primata Forestation UGM yang ditujukan bagi calon peneliti muda khususnya peneliti primata, dan membagun jaringan pegiat dan pelestari primata pada umumnya. Sebagai seorang mahasiswa yang tertarik akan kehidupan primata. Pelatihan ini diselenggarakan pada tanggal 7 – 9 Oktober 2016 di Dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Petungkriyono, Pekalongan. Peserta yang hadir pada pelatihan ini berasal dari berbagai daerah, daerah terdekat berasal dari Pekalongan sendiri, ada juga yang dari Jakarta, Yogjakarta, Semarang, Purwokerto, dan yang terjauh berasal dari Pulau Siberut, Mentawai. Peserta mewakili beberapa kelompok studi di Universitas, Pecinta Alam, Staff Perhutani KPH Pekalongan Timur dan anggota LMDH di Kabupaten Pekalongan.

Materi pertama dimulai pukul 20.00 tanggal 7 Oktober 2016 dengan pokok bahasan line transect yang diberikan oleh Mas Wawan dari SwaraOwa Pada materi pertama ini disambut sangat antusias oleh peserta. Antusias peserta dibuktikan dari banyaknya pertanyaan kritis yang diajukan, diskusi pun banyak terjadi dalam ruang materi. Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 22.00, diskusi harus dihentikan karena memasuki waktu istirahat. Pelaksanaan esok hari 8 Oktober 2016 akan banyak berada di lapangan dan itu akan menyita tenaga sehingga dibutuhkan waktu istirahat yang cukup.

Pengenalan metode survey primata line transect dan vocal count-triangulasi

Pagi itu pukul 6 matahari sudah menampakkan sinar tetapi ada suasana yang berbeda dari biasanya. Suasana pagi 8 Oktober 2016 lebih sunyi dari pagi-pagi biasanya. Kekhasan perilaku bersuara owa jawa yang dikenal sebagai morning call tidak terdengar pagi itu, padahal biasanya suara owa sudah mulai terdengar sejak pukul 5. Mbak Maida yang dulu pernah melakukan penelitian tentang karakteristik suara owa jawa menduga pagi itu owa belum bersuara karena semalaman hujan.

Suara owa yang belum terdengar tidak mematahkan semangat kami untuk menuju ke lapangan dan mempraktikan materi semalam. Peserta dibagi menjadi 3 kelompok untuk menuju ke lokasi yang telah ditentukan untuk mempraktekan metode line transect. Saat perjalanan menuju lokasi, suara owa jawa mulai terdengar. Dari praktek metode line transect yang dilakukan, mendapatkan hasil owa jawa, monyet ekor panjang, dan lutung jawa.
peserta menerapkan langsung di lapangan metode survey primata
Setelah mencoba metode line transect pelatihan dilanjutkan dengan menganalisis hasil. Analisis hasil ini merupakan akhir dari materi pertama, kegiatan selanjutnya dilanjutkan dengan materi mengenai vocal count yang diberikan oleh Mbak Salma (mahasiswa Biologi UGM yang pernah melakukan penelitian menghitung populasi owa jawa menggunakan metode vocal count) dan Mbak Maida (mahasiswa Biologi UNJ yang pernah melakukan penelitian tentang karakteristik suara owa jawa). Metode vocal count adalah metode penaksiran populasi berdasarkan suara satwa, metode ini cocok dilakukan untuk menghitung populasi satwa yang memiliki perilaku bersuara. Mbak Maida mengatakan bahwa tiap individu owa jawa memiliki karakteristik suara yang berbeda sehingga tiap kelompok dapat diidentifikasi tanpa melihat secara langsung. Materi vocal count  dipraktekan di lapangan pagi tanggal  9 Oktober 2016.
Analisis data setelah dari lapangan 
Sekitar pukul 5 sore kegiatan dilanjutkan dengan sharing penelitian mengenai rekrekan (Presbytis comata) di sekitar lereng Gunung Merbabu oleh Mbak Kasih Putri. Sharing ini berkaitan dengan primata yang berada di hutan sekitar Dusun Sokokembang, primata yang ada yaitu owa jawa, rekrekan, lutung jawa, monyet ekor panjang, dan kukang jawa. Mbak Kasih Putri mengatakan bahwa rekrekan di sekitar lereng Gunung Merbabu belum banyak diteliti.
Materi ketiga dilaksanakan malam hari bersama dengan Mbak Winar dari KukangID tentang metode pengamatan satwa nokturnal, khususnya kukang jawa. Mbak Winar menjelaskan bahwa mata satwa nokturnal akan memantulkan cahaya lampu sehingga memberikan pantulan warna yang berbeda-beda tiap satwa. Malam itu memang terasa melelahkan karena pagi tadi telah melakukan perjalanan yang cukup lama tetapi ketika peserta diajak untuk mempraktekan metode ini menjadi bersemangat kembali. Setelah pengamatan diakhiri dengan melaporkan satwa nokturnal apa saja yang ditemukan. Materi ketiga ini menjadi penutup pelatihan metode survey primata hari kedua.
Owajawa yang teramati ketika pelatihan 
Hari ketiga 9 Oktober 2016 saatnya peserta mempraktekan metode vocal count. Peserta dibagi menjadi 3 kelompok dan menuju ke lokasi masing-masing sejak pukul 6 pagi.  Peserta berusaha tiba di lokasi sebelum owa jawa melakukan morning call. Syarat pemilihan lokasi untuk mendengarkan suara yaitu jauh dari gangguan suara lain seperti suara sungai dan kendaraan agar suara owa terdengar jelas. Selama perjalanan menuju ke lokasi yang jauh dari gangguan suara, owa jawa sudah mulai bersuara, pagi ini suara owa lebih banyak terdengar dibandingkan hari sebelumnya. Sesampainya di lokasi yang perlu dilakukan hanya fokus mendengarkan suara owa jawa kemudian memperkirakan arah datangnya suara owa dan jarak owa yang bersuara serta berkoordinasi dengan kelompok lain apakah mendengar suara yang sama. Metode ini dipraktekan sampai pukul 9.
Setelah mempraktekan metode di lapangan langkah selanjutnya menganalisis data yang telah didapatkan, analisis data ini dipandu oleh Mas Wawan dan Mbak Salma. Analisis dilakukan dengan menggabungkan semua data arah owa jawa bersuara dari 3 lokasi pengamatan berbeda dan dicari titik perpotongannya. Titik perpotongan itu diasumsikan sebagai lokasi owa jawa yang bersuara. Analisis data vocal count menjadi acara penutup kegiatan Pelatihan Metode Survey Primata. Waktu yang cukup padat untuk mempelajari 3 metode survey primata. Ucapan terimakasih untuk semua pihak yang terlibat, warga Sokokembang, LMDH desa Kayupuring, para sponsor Fortwayne Children’s Zoo, Ostrava Zoo, Wildlife Reserve Singapore , kopi Owa Sokokembang dan SwaraOwa.
Foto bersama seluruh peserta


Friday, April 22, 2016

Pengamatan Primata di Kalipaingan Linggo Asri, Pekalongan

ditulis Oleh:
Kasih Putri Handayani
e-mail :kasihputri288@gmail.com 



Rekrekan (Presbytis comata) Kalipaingan, Linggoasri

Awal bulan April ini, tim SwaraOwa bergerak menuju fragmen hutan yang lain di Kabupaten Pekalongan, yakni di Desa Linggoasri. Mengawali hari, kami menuju ke Hutan alam yang masih tersisa di kawasan ini, yang berbatasan dengan sawah milik warga, dan bercampur dengan kebun kopi pada beberapa lokasi.
Warga dusun ini cukup akrab dengan Owa Jawa atau yang biasa mereka sebut dengan uwek-uwek atau weweg atau owak-owak. Dan pagi itu tim Swara Owa sangat beruntung karena bisa bertemu dengan kelompok tersebut. Satu kelompok dengan 4 individu dewasa serta 1 juvenile. Pada perjumpaan sebelumnya, kurang-lebih 2 tahun yang lalu, kelompok tersebut terdiri dari 4 individu, yang berarti terdapat pertambahan jumlah individu dalam 2 tahun terakhir.

Kelompok tersebut pun berlalu. Tidak lama berselang, nampak oleh kami kelompok owa yang lain. Dua kelompok owa dengan jarak yang tidak terlalu jauh, tidak sampai 500 meter. Satu hal yang menarik bagi saya secara pribadi, karena saya pikir akan ada perilaku agonostic ketika dua kelompok primata berdekatan, terlebih pada satu spesies yang sama. Namun hal tersebut tidak terjadi. Dalam kondisi habitat yang tidak cukup luas, kemungkinan homerange kelompok owa saling tumpang tindih.

Owa Jawa (Hylobates moloch)

Dari lokasi ini, kami  kembali ke Obyek Wisata Kali Paingan dimana kami menginap. Tempat wisata satu ini berbasis pada potensi sumber daya alam terutama Sungai Kali Paingan yang di kelola oleh LMDH Kali Paingan dan hutan lindung yang dibawah pengelolaan Perum Perhutani KPH Pekalongan Timur. Fun rafting, river tubing, jungle tracking serta outbound menjadi andalan obyek daya tarik wisata di kawasan ini. Melalui media wisata tersebut, pengelola Kali Paingan juga ingin memperkenalkan keanekaragaman hayati di sekitar Kali Paingan sekaligus upaya konservasinya. Saat ini, rekan-rekan pengelola Kali Paingan bersama organisasi setempat tengah dalam tahap pembangunan “mini arboretum” untuk konservasi jenis tumbuhan lokal. Dan di akhir pekan itu, SwaraOwa bersama tim pemandu Kali Paingan menyusuri dua jalur yang berbeda untuk mempelajari keberadaan primata di sekitar kawasan.
Hutan habitat Primata endemik Jawa di Linggo Asri


Menyusuri jalan setapak yang biasa dilalui masyarakat setempat, terlihat berbagai bentuk penggunaan lahan. Permukiman baru, bekas permukiman yang harus direlokasi karena bahaya longsor lahan, kebun kopi, sawah, sungai, hutan pinus serta tegakan hutan alam saling berinteraksi lengkap dengan aktivitas manusia di dalamnya. Dalam perjalanan tersebut, akhirnya kami berjumpa dengan Rekrekan yang menjadi target utama survei, juga Owa Jawa. Dua kelompok Rekrekan yang kami temui berada sangat dekat dengan lahan yang dikelola oleh warga. Satu kelompok bahkan turun ke sawah bera yang belum sempat digarap pemiliknya. Dalam kondisi hutan yang terfragmentasi, cara itulah yang mereka tempuh untuk menyikapi perubahan lingkungan yang terjadi.

"Wawa dan Lulu" sendang mengamati Owa jawa. "Primatewatching"

Memang waktu itu terlalu singkat untuk mengenal dan mempelajari biodiversitas kawasan Kali Paingan. Meskipun demikian kami cukup beruntung karena dalam waktu singkat kami sudah dipertemukan dengan dua spesies primata endemik Jawa. Dua primata dalam status konservasi Endangered yang masih bertahan pada kantong-kantong habitat hutan pegunungan di Jawa. Kami juga beruntung karena pada survei ini kami mendapatkan sahabat dan pegiat konservasi di habitat asli primata endemi Jawa. Mereka dengan semangat belajar  dan berupaya melestarikan alam sekitar, dan menambah semangat kami untuk terus mengarusutamakan upaya pelestarian  primata dan hutan sebagai habitat alaminya. Mereka adalah tim pemandu LMDH Kali Paingan, terimakasih “Wawa, Lulu, Rekkan, dan Monyi”.


Saturday, March 26, 2016

Mencari Rekrekan di Gunung Ungaran

ditulis oleh : Asman Adi Purwanto

Curug Lawe dan Perkebunan Teh Medini, Ungaran

Google Maps di Smartphone saya sudah susah untuk menunjukan arah jalan menuju Curug Lawe yang berada di kaki Gunung Ungaran, Kendal, Jawa Tengah 10 Maret lalu. Sinyal untuk internet mulai menghilang. Beruntunglah ada yang bisa kami tanya sehingga kami bisa melanjutkan perjalanan kami ke curug lawe untuk mencari keberadaan Rekrekan  (Presbytis comata fredericae) dan Lutung Jawa (Trachypithecus auratus).
Jalanan beraspal telah habis berganti dengan jalan makadam (berbatu) dan jalanan hanya bisa untuk satu mobil. Sampai akhirnya kami menemukan tanda-tanda perkampungan dan papan penunjuk jalan menuju Medino – Promasan. Tapi tidak untuk Curug Lawe. Nah lho?
Ternyata curug lawe yang kami tuju memang belum tenar seperti Curug Sewu Tawangmangu Kabupaten Karanganyar. Tempatnya nyelempit, dari kampung terakhir masih satu kilometer jarak tempuh jalan kaki. Dikarenakan waktu yang sudah menunjukan pukul 16:30 dan cuaca mendung akhirnya kamiputuskan untuk menginap di rumah salah seorang warga dan perjalanan ke curug lawe mencari kawanan Lutung Jawa keesokan harinya.
Dan, setelah kami tanya – tanya ke warga akhirnya kami menginap di Medini, di kediaman Pak Min yang menjadi Base Camp pendakian gunung ungaran.

********
 Jumat (11/03) pagi cuaca di medini terlihat kurang begitu bersahabat. Diluar rumah kabut terlihat cukup tebal disertai dengan gerimis.
“ Kalau sudah gerimis pasti turun kabut, Mas. Dan itu bisa sampai satu hari” terang pak Min kepada kami. “ Tidak apa-apa, Pak. Semoga saja nanti ada matahari” jawab saya.
Pak Min menyibukan diri membersihkan sampah dedaunan yang ada di halaman rumahnya. Beberapa kolam ikan Nila terisi sebagai cadangan sumber makanan keluarga. Beberapa warga terlihat bersiap memetik teh. Mereka diangkut menggunakan kendaraan Truk menuju lokasi perkebunan.
Waktu terus beranjak tapi kabut tak kunjung menghilang. Tapi ada tanda-tanda akan menghilang. Setelah makan pagi, kami berpamitan ke Pak Min dan keluarga untuk naik ke arah promasan. Menurut pak min, Lutung Jawa biasanya akan terlihat di hutan yang berada di atas perkebunan teh. Nah, kami coba mengamati lokasi yang disebutkan pak min. Menurut beliau kelompok lutung di jalur antara medini – promasan itu bisa diamati dari jalan.

Sepanjang perjalanan tampak para pemetik teh sedang memetik daun-daun teh yang masih terlihat segar. Beberapa sudah ada yang disimpan dipinggir jalan, dimasukan ke dalam karung angkut. Mereka terlihat tetap menggunakan jas hujan plastik. Siap-siap jika sewaktu-waktu turun hujan. Saya dan mas Wawan pun sesekali turun dari mobil dan mengamati kondisi hutan disekitar perkebunan teh. Hasilnya nihil, tidak ada penampakan lutung dan rekrekan.
Dilihat dari pencitraan satelit, kondisi hutan di sekitaran medini dan promasan itu terpetak – petak di punggungan yang berada diatas perkebunan teh medini. Sedangkan dari penampakan secara langsung kondisinya pun demikian. Hutan yang masih terlihat bagus terbagi – bagi di punggungan yang tidak dibuka sebagi perkebunan. Burung Cica koreng Jawa (Megalurus palustris) dan Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster) menjadi pelipur lara saya karena belum ada penampakan lutung jawa seperti yang disebutkan Pak Min.
Cica Koreng Jawa

Dalam perjalanan turun, di seberang jalan terlihat tanda-tanda adanya sekelompok Lutung Jawa sedang mencari makan. Jarak dari posisi kami berdiri sekitar 270 meter, jika difoto hanya terlihat titik gumpalan hitam-hitam di pepohonan. Total lutung jawa yang teramati 6 ekor terdiri dari remaja dan dewasa. Pengamatan kami  lakukan sekitar 5 – 10 menit dan berhenti karena gerimis kembali turun. Para lutung tetap tenang memetik pucuk daun dan memasukannya ke mulut. Tak peduli gerimis kembali turun.

Perburuan Burung
Lokasi berikutnya adalah kawasan hutan di aliran sungai air terjun “curug” lawe. Menurut informasi dari KP3 Primata Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada yang sebelumnya berkegiatan dilokasi tersebut, ditemukan beberapa Lutung.
Mobil kami parkir di pinggir jalan dekat rumah warga. Menurut informasi warga sekitar, jarak dari tempat parkir ke curug lawe sekitar 1 kilometer. Hutan diatas aliran sungai tampak bagus dan rimbun. Tepat kalau dibilang sebagai habitat primata jawa. Hutannya masih terlihat alami dengan pohon-pohon besar mendominasi. Suara burung saling bersahutan. Minus suara burung elang yang selalu menjadi favorit saya. Mungkin karena cuaca siang itu baru saja selesai gerimis dan matahari tak kunjung keluar.
Sepah kecil, sebagai burung pemikat

Tak kurang seratus meter dari lokasi air terjun kami menemukan kegiatan perburuan burung. Terdapat dua sangkar burung yang di isi Sepah Kecil , Burungmadu Pengantin dan Gelatik Batu Kelabu sebagai burung pemikat. Metode yang digunakan adalah menggunakan getah pohon Artocarpus sp. yang dililitkan pada ranting dan sangkar burung diletakan di bawah ranting dengan perekat tersebut. Tidak lama kami berada di lokasi itu dua orang pemburu yang berasal dari daerah sekitar curug lawe itu muncul. Ternyata tidak hanya menggunakan getah sebagai perekat, mereka juga menggunakan jaring kabut dan burung pemikat lainnya yakni Beluk Ketupa (Ketupa ketupu).
Kegiatan penangkapan burung di curug lawe menurut keterangan dua orang pemburu tersebut memang kerap terjadi. Sasarannya adalah burung- burung kicau seperti Burungmadu, Sikatan, Kacamata, Cica daun dan burung kicau lainnya.

“ Sampeyan Cuma cari burung apa semua jenis satwa yang bisa ditangkap juga sampeyan ambil, Mas?”. Tanya saya kepada kedua pemburu tersebut. “Misal ada lutung juga sampeyan tangkap”. Saya menambahkan.“ndak, Mas. Kami Cuma cari burung saja kok, Mas. Itu saja susah, burungnya makin sedikit”. Jawab salah satu dari mereka.
“Biasanya sampeyan jual sendiri ke pasar apa ada pengepul yang datang ke rumah sampeyan? Atau sampeyan jual kemana?” “Dikumpulin dulu di rumah, kalau sudah kumpul dan burung sudah bisa makan pur (pelet) baru kami bawa ke pasar, Mas. Biasanya kami jual ke Wajo”

Curug Lawe

Kawasan Curug Lawe, Medini dan Ungaran pada khususnya merupakan kawasan diluar kawasan konservasi/lindung yang lemah segi penegakan hukumnya sehingga aktifitas perburuan burung dan satwaliar lainnya luput dari pengawasan pihak/instansi terkait. Yang kami khawatirkan para pemburu burung juga akan menangkap semua jenis satwa yang mereka temukan. Misal Lutung Jawa yang berada di kawasan curug lawe hingga ke ungaran.

Melalui kegiatan survey ini selain kami mencari data keberadaan Rekrekan dan Lutung Jawa di Ungaran juga sembari berbagi informasi kepada warga mengenai keberadaan dua jenis satwa tersebut. Hal itu kami harap bisa menjadi jembatan saling tukar informasi dengan warga. Meskipun target utama pencarian kami tidak tercapai, berbagi informasi kepada warga sekitar habitat rekrekan dan lutung jawa juga sangat penting.