Showing posts with label linggoasri. Show all posts
Showing posts with label linggoasri. Show all posts

Saturday, September 15, 2018

Kalipaingan : Cerita Hutan dari Pekalongan


Pada minggu pertama ini survey dilakukan di hutan-hutan terfragmentasi di sekitar Obyek Wisata Linggoasri dan Kali Paingan, Pekalongan. Pengamatan dilakukan di area hutan lindung. Hutan di sini juga mengalami masa sangat suram, yaitu masa illegal logging yang parah, kurang lebih 2 dekade lalu. Beredar istilah plesetan kala itu di masyarakat tentang hutan negara. Dalam bahasa Jawa istilah “hutan negara” menjadi ‘alas negoro”. Kemudian diplesetkan menjadi negor’o (silahkan me-negor), negor = nebang. Jadi artinya silahkan menebang hutan…heheheh. Istilah ini menjadi guyonan bagi kami sambil berjalan menyusuri area survey. Tapi hal itu saat ini hanya guyonan, beberapa warga telah sadar dan bertekad untuk ikut membantu dalam usaha pelestarian hutan dan Owa Jawa.
Lutung Jawa

Dalam waktu seminggu kami melakukan pra survey ini, tiada hari dalam survey kami tidak bertemu dengan primata endemik Jawa. Mereka adalah Lutung Jawa (Trachypithecus auratus), Rekrekan (Presbytis comata), dan Owa Jawa (Hylobates moloch). Intensitas pertemuan dengan Lutung Jawa paling tinggi diantara 2 primata lainnya. Suara “Kekok” yang menggema dari Lutung Jawa seakan menyambut kedatangan kami saat hari pertama ke lapangan. Kemudian disusul dengan suara rekrekan “krekkk…krkkk…krekkkk” dan pada akhirnya nyanyian Owa Jawa yang sangat merdu pun juga terdengar.  Suara burung di area ini juga kadang terdengar cukup ramai di pagi hari. Beberapa kali kami bertemu dengan Kadalan birah (Rhamphococcyx curvirostris), Takur Tohtor (Megalaima armillaris), Cekakak Batu (Lacedo pulchella), dll. Burung elang juga kerap kali melintas di atas kami. Bahkan suara hempasan sayap Julang juga sempat mengegetkan kami dan kelompok Owa yang sedang memakan buah benda. Hal yang kurang pada survey kali ini yaitu kami tidak bertemu sama sekali dengan monyet ekor Panjang (Macaca fascicularis). Menurut Pak Waluyo dan Kang Sidik, teman kami, monyet ekor panjang banyak terdapat di kebun karet di pinggir jalan raya.
Rekrekan 
Kadalan Birah 

Diantara hutan terfragmentasi ini juga terdapat sawah masyarakat setempat. Saat ini sebagian besar sawah tidak dikelola karena musim kemarau. Saat musim kemarau air sungai tidak mampu mencukupi kebutuhan masyarakat untuk menanam padi.
Walaupun kami belum pernah menemukan tanda-tanda keberadaannya, kukang Jawa (Nicticebus javanicus) juga diperkirakan ada di area hutan ini. Untuk kukang, masyarakat mempunyai anggapan mistis tersendiri. Kukang dianggap sebagai satwa yang bisa membawa ketidakberuntungan, apalagi jika sampai membunuhnya. Menurut beberapa orang tua di sini, kukang juga bisa digunakan sebagai alat tenung untuk memisahkan suatu rumah tangga dan untuk membuat orang jatuh cinta , layaknya jaran goyang atau semar mesem.
Hutan habitat primata disekitar Linggoasri

Sempat saya bertanya ke beberapa orang mengenai kondisi owa saat ini dibanding dahulu. Seorang Ibu yang mengatakan, sebelumnya tidak mengetahui tentang Owa jawa. Mereka mengetahui bahwa di hutan ada Owa Jawa setelah adanya penelitian di desanya. Ternyata peran peneliti cukup penting untuk penyadartahuan masyarakat tentang keberadaan satwa penting di sekitarnya dalam upaya konservasi satwa terancam punah ini.
Cekakak Batu
Biji Kopi Kotoran Musang/Luwak 

Keberadaan satwa primata, burung, dan satwa lainnya sangat penting dalam ekosistem hutan. Keberadaan primata dan burung juga membuat keindahan tersendiri bagi hutan. Hutan yang sepi tanpa nyanyian satwa menjadikan hutan tersebut kurang menarik dan serasi. Beruntunglah hutan-hutan di area ini masih cukup ramai dengan suara satwa liarnya. Jejak kotoran yang diperkirakan adalah feses keluarga kucing dan juga feses luwak juga masih bisa dijumpai. Semoga hutan-hutan di kawasan Linggoasri ini terus lestari. Dan untuk kalian, primata dan burung-burung penghuni hutan, teruslah bertahan kawan, rimbunkan dan indahkan hutan dengan kehadiran dan nyanyian kalian!!!

--------------------------------------------------------------------------------------------------------
ditulis OLeh : Ika Yuni Agustin, Pegiat Konservasi Primata, dari Malang, Jawa Timur; e-mail : ikayuni.agustin@gmail.com

Friday, July 27, 2018

Owa jawa : dalam riuh derasnya Kali Paingan





Halo, perkenalkan saya Fadhil mahasiswa tingkat akhir departemen Biologi Universitas Diponegoro, Semarang, penikmat masakan ibu dan saya suka berkegiatan di alam.

Menjelang akhir tahun 2017, pergolakan dalam hati saya semakin menuju titik puncaknya, ketika teman seangkatan sebagian besar sudah memiliki konsep yang akan mereka bawa untuk tugas akhirnya. namun saya, jangankan konsep topik saja saya tidak punya, karena ilmu biologi murni itu sangat luas.

Saya baru ingat, sebelumnya saya sempat mengikuti kegiatan pelatihan dan pengamatan Owa Jawa di Petungkriyono, yang di selenggarakan oleh Swaraowa tahun lalu,  saya sadar begitu kayanya Indonesia dengan banyak spesies primata endemik yang mendiami bumi pertiwi. Kecintaan akan primata semakin bertumbuh, saya kemudian memutuskan mewujudkannya dalam topik tugas akhir yang menghantarkan saya jauh ke pedalaman hutan tropis sungai Kali Paingan, di Desa Linggo Asri, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan.
Jalur Jurang Jero, Kalipaingan

Secara topografi, sungai yang berada 2 kilometer dari objek wisata Linggo Asri ini dikelilingi oleh perbukitan hutan tropis yang lebat. Kawasan hutan lindung ini dikelola oleh Perhutani dan sebagian lainnya digarap sebagai perkebunan dan pertanian oleh warga. Aktivitas pariwisata menjadi primadona disini, LMDH Kali Paingan sebagai pengelola menyediakan beragam fasilitas wisata seperti outbond, fun rafting, river tubbing, serta jungle tracking. Selain itu fasilitas penunjang berupa mushalla, aula, makanan & minuman, perpustakaan dan toilet. Semuanya lengkap dan terangkum menempatkan sungai Kali Paingan menjadi porosnya.

Dalam penelitian ini saya berusaha untuk mengetahui berapa populasi Owa jawa yang mendiami hutan lindung kali paingan dengan menggunakan metode jalur “line transect”. Jalur yang saya gunakan berupa jalan setapak dengan 2 jalur berbeda yakni jalur kali wadas mewakili sisi timur dan jalur jurang jero yang mewakili sisi barat kali paingan. Pada bulan april lalu saya menetap dan tinggal bersama kru “Kali Paingan Adventure” selama hampir 1 bulan. Sepuluh hari bersih digunakan untuk pengamatan, masing 5 hari pada pada dua jalur berbeda.

 
Owa yang mencari makan di Pohon Benda
Pengamatan pertama jalur Kali wadas. Nama jalur ini diambil dari nama anak sungai Kali Paingan. Jarak yang harus ditempuh adalah sekitar 4 km dari pemukiman warga terdekat. Jarak yang lumayan jauh dan medan yang cukup sulit menguji ketahanan fisik saya. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal saya mensiasati untuk memulai aktivitas pengamatan lebih pagi sekitar jam 05.30 WIB. Hari pertama membuahkan hasil, setelah perjalanan dan beberapa jam penantian, akhirnya terpantau 2 individu jantan dan betina yang sedang bergelantungan pada pohon Pukuran (Ficus sinuata). Saya rasa ini merupakan pasangan muda karena sekilas perawakan tubuhnya tidak terlalu besar untuk sekelas owa jawa dewasa. Keesokan harinya saya kembali lagi, dengan kondisi hari yang masih pagi buta saya mempercepat gerak langkah agar tidak kehilangan momentum sedikitpun. Ketika hampir sampai pada pos pengamatan, tiba – tiba terdengar suara gemuruh pada pohon, saya berusaha agar tetap tenang dan mengamati kondisi sekitar, dugaan saya benar. Terdapat 2 individu dewasa dan 1 individu muda sedang melakukan akrobatik berpindah dari satu pohon menuju pohon Benda (Artocarpus elasticus (Blume)).
Habitat Owa Jawa di Kalipaingan

Pada ujung jalur ini terdapat lahan pertanian warga dan juga sebuah gubuk petani yang saya gunakan untuk beristirahat dan mengamati owa jawa dan primata lain karena lokasinya yang cukup strategis. Selain Owa jawa, beberapa primata endemik seperti rekrekan dan lutung juga dijumpai disini. Pada jalur ini vegetasi bambu (Bambusa vulgaris), beberapa pohon pakan lainnya seperti pohon Benda (Artocarpus elasticus (Blume)) dan pohon pukuran (Ficus sinuata )  adalah yang mendominasi sehingga jalur ini memang habitat yang cocok untuk primata melangsungkan hidupnya. Pengamatan tetap dilanjutkan hingga hari kelima, namun tidak ada tanda – tanda kehadiran kembali owa jawa.
Peta lokasi penelitian di Kalipaingan

Pengamatan kedua di jalur Jurang Jero. Seperti namanya, jalur ini berada diatas jurang yang terhubung dengan sungai kali paingan di bawahnya. Jarak yang ditempuh cukup singkat di banding jalur kali wadas yakni sekitar 2 km namun harus melewati jalan setapak yang menanjak. Pengamatan hari pertama saya menemukan 3 individu, 2 individu dewasa dan 1 individu muda. Kelompok ini sedang melakukan brakhiasi pada percabangan pohon buluh (Urostigma glaberrimum (Blume)). Hari kedua tidak membuahkan hasil, namun keesokan harinya, ada yang membuat saya terkagum – kagum. Saya menemukan 1 kelompok owa jawa yang lengkap, terdapat 4 individu, dua diantaranya pasangan induk dan dua lainnya adalah satu juvenile dan 1 bayi (infant) yang masing dalam gendongan induknya.

Dari keseluruhan data yang telah diperoleh, saya berhasil menemukan 4 kelompok Owa jawa  dengan ukuran beragam. Komposisi 2 pasangan induk dan 1 anak menjadi ukuran kelompok tertinggi yang dapat dijumpai pada dua jalur. Vegetasi kedua jalur sangat mendukung kehidupan owa jawa maupun primata yang lain. Pohon pakan favorit seperti pohon Benda, rumpun Bambu, pohon buluh dan pohon Pukuran tersedia pada dua jalur ini. 

bersama crew Kalipaingan

Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Swaraowa yang sudah mendukung kegiatan penelitian ini, tak lupa juga kepada seluruh kru “Kali Paingan Adventure” terutama mas Sidik yang telah mendukung dan memfasilitasi kegiatan pengamatan selama di lapangan. Sungguh pengalaman yang tak terlupakan menjadi salah satu bagian dari agen konservasi owa jawa. Semoga penelitian dapat bermanfaat bagi kita semua.


Panjang umur konservasi!


Penulis :
M. Fadhil Randa Putra

randa_fadhil@yahoo.com










Friday, April 22, 2016

Pengamatan Primata di Kalipaingan Linggo Asri, Pekalongan

ditulis Oleh:
Kasih Putri Handayani
e-mail :kasihputri288@gmail.com 



Rekrekan (Presbytis comata) Kalipaingan, Linggoasri

Awal bulan April ini, tim SwaraOwa bergerak menuju fragmen hutan yang lain di Kabupaten Pekalongan, yakni di Desa Linggoasri. Mengawali hari, kami menuju ke Hutan alam yang masih tersisa di kawasan ini, yang berbatasan dengan sawah milik warga, dan bercampur dengan kebun kopi pada beberapa lokasi.
Warga dusun ini cukup akrab dengan Owa Jawa atau yang biasa mereka sebut dengan uwek-uwek atau weweg atau owak-owak. Dan pagi itu tim Swara Owa sangat beruntung karena bisa bertemu dengan kelompok tersebut. Satu kelompok dengan 4 individu dewasa serta 1 juvenile. Pada perjumpaan sebelumnya, kurang-lebih 2 tahun yang lalu, kelompok tersebut terdiri dari 4 individu, yang berarti terdapat pertambahan jumlah individu dalam 2 tahun terakhir.

Kelompok tersebut pun berlalu. Tidak lama berselang, nampak oleh kami kelompok owa yang lain. Dua kelompok owa dengan jarak yang tidak terlalu jauh, tidak sampai 500 meter. Satu hal yang menarik bagi saya secara pribadi, karena saya pikir akan ada perilaku agonostic ketika dua kelompok primata berdekatan, terlebih pada satu spesies yang sama. Namun hal tersebut tidak terjadi. Dalam kondisi habitat yang tidak cukup luas, kemungkinan homerange kelompok owa saling tumpang tindih.

Owa Jawa (Hylobates moloch)

Dari lokasi ini, kami  kembali ke Obyek Wisata Kali Paingan dimana kami menginap. Tempat wisata satu ini berbasis pada potensi sumber daya alam terutama Sungai Kali Paingan yang di kelola oleh LMDH Kali Paingan dan hutan lindung yang dibawah pengelolaan Perum Perhutani KPH Pekalongan Timur. Fun rafting, river tubing, jungle tracking serta outbound menjadi andalan obyek daya tarik wisata di kawasan ini. Melalui media wisata tersebut, pengelola Kali Paingan juga ingin memperkenalkan keanekaragaman hayati di sekitar Kali Paingan sekaligus upaya konservasinya. Saat ini, rekan-rekan pengelola Kali Paingan bersama organisasi setempat tengah dalam tahap pembangunan “mini arboretum” untuk konservasi jenis tumbuhan lokal. Dan di akhir pekan itu, SwaraOwa bersama tim pemandu Kali Paingan menyusuri dua jalur yang berbeda untuk mempelajari keberadaan primata di sekitar kawasan.
Hutan habitat Primata endemik Jawa di Linggo Asri


Menyusuri jalan setapak yang biasa dilalui masyarakat setempat, terlihat berbagai bentuk penggunaan lahan. Permukiman baru, bekas permukiman yang harus direlokasi karena bahaya longsor lahan, kebun kopi, sawah, sungai, hutan pinus serta tegakan hutan alam saling berinteraksi lengkap dengan aktivitas manusia di dalamnya. Dalam perjalanan tersebut, akhirnya kami berjumpa dengan Rekrekan yang menjadi target utama survei, juga Owa Jawa. Dua kelompok Rekrekan yang kami temui berada sangat dekat dengan lahan yang dikelola oleh warga. Satu kelompok bahkan turun ke sawah bera yang belum sempat digarap pemiliknya. Dalam kondisi hutan yang terfragmentasi, cara itulah yang mereka tempuh untuk menyikapi perubahan lingkungan yang terjadi.

"Wawa dan Lulu" sendang mengamati Owa jawa. "Primatewatching"

Memang waktu itu terlalu singkat untuk mengenal dan mempelajari biodiversitas kawasan Kali Paingan. Meskipun demikian kami cukup beruntung karena dalam waktu singkat kami sudah dipertemukan dengan dua spesies primata endemik Jawa. Dua primata dalam status konservasi Endangered yang masih bertahan pada kantong-kantong habitat hutan pegunungan di Jawa. Kami juga beruntung karena pada survei ini kami mendapatkan sahabat dan pegiat konservasi di habitat asli primata endemi Jawa. Mereka dengan semangat belajar  dan berupaya melestarikan alam sekitar, dan menambah semangat kami untuk terus mengarusutamakan upaya pelestarian  primata dan hutan sebagai habitat alaminya. Mereka adalah tim pemandu LMDH Kali Paingan, terimakasih “Wawa, Lulu, Rekkan, dan Monyi”.