Showing posts with label rekrekan. Show all posts
Showing posts with label rekrekan. Show all posts

Friday, December 15, 2023

Rekrekan di Hutan Petungkriyono, Pekalongan

ditulis oleh : Arrayaana Artaka

Rekrekan (Presbytis fredericae)

Hallo dunia, saya Arra, mahasiswi dari Fakultas Kehutanan di Institut Pertanian Malang, kampus kecil yang mungkin jarang diketahui banyak orang. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, skripsi merupakan hal yang wajib hukumnya untuk dituntaskan. Beruntungnya saya mendapatkan beasiswa dari SwaraOwa yang ditujukan untuk penelitian dengan judul “Pemodelan Spasial Kesesuaian Habitat Rekrekan (
Presbytis comata fredericae, Sody 1930) Menggunakan Analisis MaxEnt di Hutan Petungkriyono, KPH Pekalongan Timur”.
          Rekrekan adalah nama lokal untuk jenis monyet pemakan daun ( leaf eating monkeys) Presbytis fredericae,  jenis monyet ini endemik jawa, hanya ada di Pulau Jawa di bagian tengah hingga jawa bagian barat, kalau di jawa barat di kenal dengan nama surili.  Jadi terkait penelitian saya,  “Pemodelan” adalah proses membuat model atau representasi sederhana dari suatu objek atau sistem yang kompleks. Pemodelan digunakan untuk memahami dan memprediksi bagaimana suatu sistem bekerja, dan dapat membantu dalam pengembangan sistem baru atau perbaikan sistem yang sudah ada. Dalam konteks habitat modelling atau kesesesuaian habitat, pemodelan digunakan untuk memetakan distribusi habitat satwa liar, di penelitian saya Rekrekan monyet lutung endemik jawa yang menjadi object penelitian saya. 
Jadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kesesuaian habitat Rekrekan dan variabel yang berpengaruh terhadap prediksi keberadaan Rekrekan di Hutan Petungkriyono dengan harapan dapat menjadi pertimbangan perlindungan kawasan yang memiliki kesesuaian habitat tinggi bagi Rekrekan. Dalam istilah yang lebih sederhana, habitat modelling adalah cara untuk memprediksi di mana hewan hidup dan bagaimana mereka menggunakan lingkungan mereka. Ilmuwan menggunakan habitat modelling untuk memahami bagaimana spesies yang berbeda berinteraksi dengan lingkungan mereka dan bagaimana mereka mungkin merespons perubahan di habitat mereka.
Sejak tercetusnya judul tersebut, petualangan baru di hidup saya dimulai. Bagi seseorang yang sulit berkomunikasi dengan orang baru sepertiku, hal ini termasuk sebuah tantangan besar, apalagi saya yang bisa dikatakan manja ini kali ini harus melakukanya sendiri, mulai dari penyusunan sekaligus pengantaran proposal ke instansi terkait, sampai melewati berbagai macam jalan berdasarkan panduan GoogleMaps, kurang lebih 425 Km atau 13 Jam perjalanan dengan motor Beat “Pokoloko” milikku.  

Sebagian contoh perjumpaan Rekrekan dan lokasi perjumpaannya di hutan Petungkriyono. (1) Perjumpaan Rekrekan (2) Hutan primer (3). Hutan primer di dekat sungai (4) Hutan primer di dekat jalan (5) Bekas makan Rekrekan, daun muda Bendo (Artocarpus elasticus) (6) Aktivitas istirahat di pohon Mbulu so (Ficus depressa)


Singkat cerita, peneltian saya ini dilakukan kurang lebih selama 3 minggu, terhitung mulai pada tanggal 8 April 2023, bertepatan dengan minggu kedua puasa, kemudian pulang pada tanggal 15 April 2023 dan kembali lagi pada tanggal 7-20 Mei 2023. Ada dua macam data yang saya butuhkan, yaitu data kehadiran Rekrekan berupa titik koordinat perjumpaan rekrekan dan data variabel lingkungan berupa peta. Data perjumpaan Rekrekan dilakukan dengan cara survei langsung menggunakan metode transek untuk mencatat titik koordinat setiap perjumpaan Rekrekan. Ada 8 jalur yang digunakan dalam penelitian ini, dengan panjang jalur pengamatan masing-masing 2 Km. Setiap kelompok Rekrekan yang dijumpai akan diamati, kemudian dicatat waktu Rekrekan terlihat, jarak peneliti dengan Rekrekan, koordinat perjumpaan, jumlah individu dan tipe habitat.
Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh 25 titik sebaran kelompok Rekrekan dengan jumlah total individu 80 ekor. Jumlah individu dalam kelompok terdapat 2 ekor sampai 7 ekor, bahkan ada yang teramati hanya 1 ekor (sendiri). Perjumpaan kelompok Rekrekan didapatkan menyebar dengan tipe hutan alam primer, sekunder dan hutan tanaman. Pada hutan sekunder, Rekrekan sering terlihat di pinggir jalan, atau perbatasan perkebunan, sedangkan pada hutan tanaman sering terlihat di hutan pinus, sengon, dan durian. Perjumpaan Rekrekan terbanyak didapatkan di jalur sepanjang jalan , yaitu 5 titik perjumpaan dengan total  perjumpaan sebanyak  17 ekor. Hal ini dikarenakan jalur sepanjang jalan mudah diakses oleh pengamat, dan terdapat banyak pohon yang menjadi pakan Rekrekan. 
Pola persebaran Rekrekan dipengaruhi oleh ketersediaan sumber pakan, kebutuhan sumber air dan faktor gangguan. Rekrekan merupakan satwa Folivorus yang cenderung menyukai dedaunan, sehingga pada saat pengamatan, perjumpaan kelompok Rekrekan ditemukan berada pada beberapa jenis vegetasi yang menjadi pakan alaminya yaitu: Kayu Afrika (Meisopsis eminii), Beunying (Ficus fistulosa), Saninten (Castanopsistungeureut), Mbulu krandang (Ficus drupacea), Klepu (Nauclea orientalis), Bendo (Artocarpus elasticus), Dao (Drakontomelon dao) Hantap (Sterculia oblongata) Kesowo (Engelhardia serrata) dan Gorang (Trevesia sundaica).
Peta hasil pemodellan kesesuaian habitat Rekrekan di hutan Petungkriyono

Sedangkan untuk pengambilan dan pengolahan data variabel lingkungan dilakukan dengan cara membuat peta yang mewakili karakter habitat Rekrekan. Variabel yang dipilih yaitu ketinggian, kelerengan, Vegetasi, suhu permukaan bumi,. informasinya menggunakan DEMNAS 64 bit yang memiliki resolusi 5-8 m, dan data Citra Landsat-8 TM. Data-data ini di kombinasikan dengan data perjumpaan Rekrekan yang di analisis menggunakan applikasi arcGis. 
Pada penelitian ini mengklasifikasi kesesuaian habitat Rekrekan dibagi menjadi tiga kelas, yaitu kesesuaian tinggi, kesesuaian sedang dan kesesuaian rendah. Menurut hasil analisa MaxEnt diperoleh bahwa Rekrekan tersebar di Hutan Petungkriyono.
Berdasarkan hasil analisa MaxEnt, kelas kesesuaian habitat Rekrekan di Hutan Petungkriyono, KPH Pekalongan Timur, seluas 2.658 ha (46%) merupakan kategori rendah, seluas 1.562 ha (27%) merupakan kategori sedang dan seluas 1.554 ha (26%) termasuk kategori tinggi.
Dengan adanyya penelitian ini, saya berharap Rekrekan, Hutan petungkriyono beserta ekosistemnya tetap lestari.  Penelitian ini juga menghasilkan deliniasi daerah yang dianggap sesuai bagi Rekrekan. Dimana dengan adanya deliniasi tersebut maka dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pengelola untuk melakukan perlindungan dan pengamanan terhadap lokasi tersebut, sehingga pengelolaan habitat Rekrekan dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Adanya deliniasi juga dapat membantu pengelola kawasan Hutan petungkriyono dalam melakukan survei dan monitoring terhadap Rekrekan sehingga jumlah populasi satwa liar tersebut dapat diketahui dengan baik juga untuk upaya peningkatan populasinya.
Akhir kata saya mengucapkan banyak terimakasih kepada SwaraOwa atas saran-masukan dan supportnya baik moral maupun material selama penelitian. Semoga semua makhluk hidup berbahagia menjalani petualangan gilanya masing-masing. Untuk membaca secara lengkap hasil penelitian saya, dapat di unduh di sini.
 
Salam Lestari!

Thursday, February 15, 2018

Catatan dari Lapangan : Bagaimana perilaku primata ketika hujan?

Rekrekan - Javan Surili ( Presbytis comata)

Hampir satu minggu lebih di habitat Owa jawa, hutan Sokokembang ini selalu basah, hujan setiap hari mengguyur setiap sudut belantara. Owa yang biasanyanya bersuara sejak dini hari, hari-hari ini tidak tedengar sama sekali. Matahari pun dalam hitungan menit saja bersinar, itupun tertup awan, panggilanp panggilan sinden hutan yang menunjukkan wilayah kelompok owa juga tidak terdengar.
Apa yang di lakukan owa atau primata lain di hutan ketika hari hujan? Bagaimana perilakunya? Seperti apa mereka memanfaatkan pohon ketika hari hujan?

Kemungkinan berjumpa dengan primata memang sangat kecil ketika hari hujan, dan data penelitian tentang hari hujan terkait dengan primata-primata sepertinya tidak banyak yang mengkajinya. Beberapa penelitian tentang pemanfaatan habitat primata, sebenarnya dapat diprediksi dengan sebaran resourcenya, entah itu sumber pakan , tempat berlindung, dan ruang.
Lutung ketika hujan

Kami mencoba menyusuri jalan yang biasa kami gunakan untuk monitoring primata ketika hari-hari biasa tidak hujan.Kami memilih jalur yang paling mudah, dari sisi aksesibilitas dan juga visibilitas, karena hujan dan kabut membatasi pengelihatan kita, peralatan juga di persiapkan untuk dalam kondisi hujan.


Satu kelompok Lutung (Trachyithecus auratus) akhirnya teramati dalam jalur ini, teramati 4 individu sendang berada di pohon, dan melihat mereka dalam hujan, terduduk diam, kami mengamati ada2 invidiu memang berada di cabang pohon yang tidak ada sama sekali peneduhnya, 1 individu terlihat berada di bawah naungan daun-daun , dan 1 individu terlihat berlindung di bawah tebalnya tanaman paku-pakuan (simbar). Dari 4 individu ini ter amati hampir lebih dari 30 menit, tidak melakukan aktifitas apapun, diam dan hanya sesekali berpindah posisi istirahat.  Kami mencoba menggunakan camera video untuk melihat bagaimana lebih dekat, dan sesekali rambut tebal Lutung ini di kibaskan.
Tidak jauh dari kelompok ini, teramati juga 2 individu Rekrekan ( Presbytis comata) yang meskipun hujan cukup deras kelompok ini terlihat bergerak. Namun sepertinya juga tidak melakukan akftifitas makan.

Lutung sedang berlindung ketika hujan

Pergerakan primata seringkali dapat di prediksi dengan sebaran resource nya, aktifitas harian sebenarnya dapat dengan mudah di ikuti ketika hari normal, waktu makan, waktu bergerak, istirahat , bisa di analisis pola nya. Ruang jelajah dan wilayah inti aktfitias tentu juga berubah. Anomali cuaca seperti minggu ini di habitat alam hutan sokokembang seperti minggu ini tentu juga mengubah pola normal yang biasanya primata lakukan. Hutan yang relatif utuh, sepertinya akan memberikan daya dukung yang sempurna untuk mengatasi anomali cuaca. Meskipun belum banyak yang meneliti tentang hal ini, asosiasi pohon dengna tanaman lain, karakteristik pohon dan keragaman jenis sangat mungkin mempengaruhi keberadaan primata.

Referensi :

Reyna-Hurtado, R., Teichroeb, J.A., Bonnell, T.R., Hernández-Sarabia, R.U., Vickers, S.M., Serio-Silva, J.C., Sicotte, P., Chapman, C.A. and Stephens, D., 2017. Primates adjust movement strategies due to changing food availability. Behavioral Ecology.


Mitani, M., 1989. Cercocebus torquatus: adaptive feeding and ranging behaviors related to seasonal fluctuations of food resources in the tropical rain forest of south-western Cameroon. Primates, 30(3), pp.307-323.

Sunday, December 24, 2017

Tertangkap camera : perilaku Rekrekan, monyet langka endemik Jawa


2 individu Rekrekan (Presbytis comata) tertangkap jebakan camera

Jenis-jenis primata pemakan daun seperti Rekekan (Presbytis comata) atau Lutung ( Trachypithecu auratus), di laporkan telah menjadi hama bagi warga di sekitar hutan. Laporan-laporan ini kami coba telusuri bagaimana sebenarnya yang terjadi. Dan beberapa pengamatan di sekitar dusun Sokokembang juga melihat langsung bagaimana Rekrekan ini juga berada di sekitar perkebunan warga, entah itu mencari makan atapun sekedar lewat saja.
Rekrekan (Presbytis comata) tertangkap  camera di pohon Dadap 

Kami mencoba mendalami laporan-laporan ini, di sekitar hutan-hutan di Jawa Tengah, yang masih ada di jumpai Rekrekan, dan tentu saja dengan bukti-bukti yang sangat jelas akan memperkuat analisis bagaimana selanjutnya penanganan konflik primata dengan manusia ini. Ini masih merupakan studi awal di habitat asli Rekrekan di dusun Sokokembang, Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Pekalongan, mencoba mendokumentasikan konflik antara manusia dan primata, dan kami menggunakan metode  camera trap untuk melihat langsung bagamana Rekrekan ini menginvasi tanaman perkebunan warga yang berada di sekitar hutan.

Kami telah mendapatkan 2 dokumentasi camera trap untuk Rekrekan yang mengivasi lahan milik warga, yang pertama  di tahun 2015, kami memasang camera trap di canopy pohon, kurang lebih 4 meter di atas tanah, dan daun dadap  (Erithrina variegata )inilah yang menjadi incaran Rekrekan, karena terdapat di tengah perkebunan milik warga.  Untuk menuju pohon ini Rekrekan juga tidak sungkan untuk turun ke tanah dan bergerak di tempat terbuka. Kami mengamati kalau daun masih tersisa di pohon, maka Rekrekan juga akan datang lagi untuk makan.



Rekrekan sendang makan biji buah nangka 


Catatan camera trap kedua, kelompok rekrekan ini tertangkap camera sedang memakan buah Nangka (Arthocarpus heteropillus). Perilaku ini juga mengungkap bahwa buah nangka yang muda pun menjadi pilihan sumber pakan di antara daun-daun, terlihat dari camera biji nangka - nangka muda itu menjadi pilihan untuk di habiskan.
Catatan mengenai sumber pakan alami dari Rekrekan juga tidak terlalu banyak, secara umum kandungan kalori dalam biji lebih tinggi, mungkin itu juga yang membuat Rekrekan menyukai buah yang berbiji.  Kandungan nutrisi dan komposisi pakan ini juga banyak di teliliti untuk informasi konservasi ex-situ, karena sedapat mungkin primata primata yang ada di captive program seperti  di kebun binatang mempunyai asupan makanan yang hampir mendekati kondisi di alam. Oleh karena itu penelitian tentang sumber pakan alami  ini juga penting untuk pelestarian primata.

Selain itu laporan ilmiah tentang jenis-jenis primata di lindungi dan langka yang berkonflik dengan manusia masih sangat terbatas, khususnya di Jawa Tengah,warga sekitar hutan juga mengkategorikan primata jenis Rekrekan  yang mengganggu tanaman pertanian atau perkebunan ini juga sebagai hama. Yang mana biasanya penanggulangan hama juga tidak mempertimbangkan kelestarian primata, kompromi antara ekonomi dan  ekologi belum menemukan titik temu yang seimbang.

Penelitian tentang konflik primata dan manusia dan juga tentang komposisi pakan Rekrekan ini masih terlalu awal untuk  menyimpulkan sebuah solusi permasalahan, namun temuan sekecil apapun dilapangan tentu akan sangat penting bagi ilmu pengetahuan,  silahkan hubungi kami di swaraowa@gmail.coml bagi anda yang tertarik untuk kajian  ini lebih lanjut.


Referensi :

Kool, K.M., 1992. Food selection by the silver leaf monkey, Trachypithecus auratus sondaicus, in relation to plant chemistry. Oecologia, 90(4), pp.527-533.

Saturday, December 9, 2017

#primatajawa


Mengajak anda mengenal dan melestarikan primata Jawa.  Lutung , Rekrekan, Owa, Kukang dan Monyet Ekor Panjang, itulah 5 jenis primata yang ada di Pulau Jawa hingga saat ini.  Tersebar mulai dari ujung barat pulau jawa hingga ujung timur Pulau Jawa. Rekrekan dan Owa hanya terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Di Jawa barat Rekrekan di kenal dengna nama Surili. Monyet ekor panjang adalah yang paling luas sebarannya, dan dapat beradaptasi dengan kondisi habitat mulai dari pantai , sampai pegunungan, bahkan di tengah kota.  Owa, jenis kera yang bergerak menggunakan lengan tangan, mempunyai suara yang khas dipagi hari, adalah satu-satunya jenis kera yang ada di Jawa. Hutan yang masih alami adalah tempat hidupnya,pemakan buah . Kukang adalah satu satunya primata (nocturnal) malam di jawa.

Primata-primata  ini terancam punah karena, hilangnya habitat aslinya, perambahan hutan, dan perburuan. Kukang hingga saat ini termasuk  salah satu  dari 25 primata dunia yang paling terancam punah. Owa, dan Rekrekan statusnya terancam punah (endangered) , Lutung masuk dalam kategori rentan (Vulnerable).

Kami mengajak anda untuk mengenal dan melestarikan primata-primata jawa, banyak nilai penting mereka di alam, untuk penelitian, edukasi, rekreasi, dan tentunya juga identitas kita di komunitas global, karena tidak di jumpai di negara lain selain di Pulau Jawa.

Sebagai salah satu bagian dari kegiatan Kopi dan Konservasi  Primata tahun 2017, kami membuat poster primata jawa,  poster ini di buat untuk khalayak umum sekaligus untuk membantu mengenalkan dan mendorong upaya pelestarian primata di Jawa. 

Untuk masyarakat umum, poster ini dapat  anda dapatkan ketika anda berkontribusi melalui program “#primatajawa ” dengan  membeli produk-produk konservasi yang berkelanjutan yang terkait dengan kegiatan  “Kopi dan Konservasi Primata “ , melalui akun media sosial @swaraOwa., dan email: swarowa@gmail.com ; http://swaraowa.com/sustainable-products/   atau mengunjungi workshop SwaraOwa,   lokasi : https://goo.gl/maps/Uy6ZnkG5Uow

Anda dapat berkunjung di habitat primata Jawa secara langsung di Omah kopi owa, ds. Sokokembang, Kecamatan Petungkriyono dan Welo Asri di desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan dengan belanja produk-produk dari habitat asli berupa, kopi, gula aren, madu, t-shirt dengan minimal belanja Rp 85.000,00 (Delapan puluh lima ribu rupiah) anda akan mendapatkan 1 poster.

Poster ini juga akan  di berikan secara cuma-cuma/gratis bagi sekolah, kelompok studi, atau komunitas,  yang tertarik untuk mengenalkan dan mengarus utamakan pelestarian  primata Jawa. silahkan hubungi kami di : swaraowa@gmail.com


Ikuti terus perkembangan kegiatan ini dengan taggar #primatajawa di blog www.swaraowa.blogspot.com; www.swaraowa.com; dan akun sosial media kami IG/twitter/FB/Soundcloud @swaraowa

Kegiatan untuk #primataJawa ini berlaku mulai tanggal 15 Desember 2017 hingga 15 Januari 2018

Friday, April 22, 2016

Pengamatan Primata di Kalipaingan Linggo Asri, Pekalongan

ditulis Oleh:
Kasih Putri Handayani
e-mail :kasihputri288@gmail.com 



Rekrekan (Presbytis comata) Kalipaingan, Linggoasri

Awal bulan April ini, tim SwaraOwa bergerak menuju fragmen hutan yang lain di Kabupaten Pekalongan, yakni di Desa Linggoasri. Mengawali hari, kami menuju ke Hutan alam yang masih tersisa di kawasan ini, yang berbatasan dengan sawah milik warga, dan bercampur dengan kebun kopi pada beberapa lokasi.
Warga dusun ini cukup akrab dengan Owa Jawa atau yang biasa mereka sebut dengan uwek-uwek atau weweg atau owak-owak. Dan pagi itu tim Swara Owa sangat beruntung karena bisa bertemu dengan kelompok tersebut. Satu kelompok dengan 4 individu dewasa serta 1 juvenile. Pada perjumpaan sebelumnya, kurang-lebih 2 tahun yang lalu, kelompok tersebut terdiri dari 4 individu, yang berarti terdapat pertambahan jumlah individu dalam 2 tahun terakhir.

Kelompok tersebut pun berlalu. Tidak lama berselang, nampak oleh kami kelompok owa yang lain. Dua kelompok owa dengan jarak yang tidak terlalu jauh, tidak sampai 500 meter. Satu hal yang menarik bagi saya secara pribadi, karena saya pikir akan ada perilaku agonostic ketika dua kelompok primata berdekatan, terlebih pada satu spesies yang sama. Namun hal tersebut tidak terjadi. Dalam kondisi habitat yang tidak cukup luas, kemungkinan homerange kelompok owa saling tumpang tindih.

Owa Jawa (Hylobates moloch)

Dari lokasi ini, kami  kembali ke Obyek Wisata Kali Paingan dimana kami menginap. Tempat wisata satu ini berbasis pada potensi sumber daya alam terutama Sungai Kali Paingan yang di kelola oleh LMDH Kali Paingan dan hutan lindung yang dibawah pengelolaan Perum Perhutani KPH Pekalongan Timur. Fun rafting, river tubing, jungle tracking serta outbound menjadi andalan obyek daya tarik wisata di kawasan ini. Melalui media wisata tersebut, pengelola Kali Paingan juga ingin memperkenalkan keanekaragaman hayati di sekitar Kali Paingan sekaligus upaya konservasinya. Saat ini, rekan-rekan pengelola Kali Paingan bersama organisasi setempat tengah dalam tahap pembangunan “mini arboretum” untuk konservasi jenis tumbuhan lokal. Dan di akhir pekan itu, SwaraOwa bersama tim pemandu Kali Paingan menyusuri dua jalur yang berbeda untuk mempelajari keberadaan primata di sekitar kawasan.
Hutan habitat Primata endemik Jawa di Linggo Asri


Menyusuri jalan setapak yang biasa dilalui masyarakat setempat, terlihat berbagai bentuk penggunaan lahan. Permukiman baru, bekas permukiman yang harus direlokasi karena bahaya longsor lahan, kebun kopi, sawah, sungai, hutan pinus serta tegakan hutan alam saling berinteraksi lengkap dengan aktivitas manusia di dalamnya. Dalam perjalanan tersebut, akhirnya kami berjumpa dengan Rekrekan yang menjadi target utama survei, juga Owa Jawa. Dua kelompok Rekrekan yang kami temui berada sangat dekat dengan lahan yang dikelola oleh warga. Satu kelompok bahkan turun ke sawah bera yang belum sempat digarap pemiliknya. Dalam kondisi hutan yang terfragmentasi, cara itulah yang mereka tempuh untuk menyikapi perubahan lingkungan yang terjadi.

"Wawa dan Lulu" sendang mengamati Owa jawa. "Primatewatching"

Memang waktu itu terlalu singkat untuk mengenal dan mempelajari biodiversitas kawasan Kali Paingan. Meskipun demikian kami cukup beruntung karena dalam waktu singkat kami sudah dipertemukan dengan dua spesies primata endemik Jawa. Dua primata dalam status konservasi Endangered yang masih bertahan pada kantong-kantong habitat hutan pegunungan di Jawa. Kami juga beruntung karena pada survei ini kami mendapatkan sahabat dan pegiat konservasi di habitat asli primata endemi Jawa. Mereka dengan semangat belajar  dan berupaya melestarikan alam sekitar, dan menambah semangat kami untuk terus mengarusutamakan upaya pelestarian  primata dan hutan sebagai habitat alaminya. Mereka adalah tim pemandu LMDH Kali Paingan, terimakasih “Wawa, Lulu, Rekkan, dan Monyi”.


Saturday, March 26, 2016

Mencari Rekrekan di Gunung Ungaran

ditulis oleh : Asman Adi Purwanto

Curug Lawe dan Perkebunan Teh Medini, Ungaran

Google Maps di Smartphone saya sudah susah untuk menunjukan arah jalan menuju Curug Lawe yang berada di kaki Gunung Ungaran, Kendal, Jawa Tengah 10 Maret lalu. Sinyal untuk internet mulai menghilang. Beruntunglah ada yang bisa kami tanya sehingga kami bisa melanjutkan perjalanan kami ke curug lawe untuk mencari keberadaan Rekrekan  (Presbytis comata fredericae) dan Lutung Jawa (Trachypithecus auratus).
Jalanan beraspal telah habis berganti dengan jalan makadam (berbatu) dan jalanan hanya bisa untuk satu mobil. Sampai akhirnya kami menemukan tanda-tanda perkampungan dan papan penunjuk jalan menuju Medino – Promasan. Tapi tidak untuk Curug Lawe. Nah lho?
Ternyata curug lawe yang kami tuju memang belum tenar seperti Curug Sewu Tawangmangu Kabupaten Karanganyar. Tempatnya nyelempit, dari kampung terakhir masih satu kilometer jarak tempuh jalan kaki. Dikarenakan waktu yang sudah menunjukan pukul 16:30 dan cuaca mendung akhirnya kamiputuskan untuk menginap di rumah salah seorang warga dan perjalanan ke curug lawe mencari kawanan Lutung Jawa keesokan harinya.
Dan, setelah kami tanya – tanya ke warga akhirnya kami menginap di Medini, di kediaman Pak Min yang menjadi Base Camp pendakian gunung ungaran.

********
 Jumat (11/03) pagi cuaca di medini terlihat kurang begitu bersahabat. Diluar rumah kabut terlihat cukup tebal disertai dengan gerimis.
“ Kalau sudah gerimis pasti turun kabut, Mas. Dan itu bisa sampai satu hari” terang pak Min kepada kami. “ Tidak apa-apa, Pak. Semoga saja nanti ada matahari” jawab saya.
Pak Min menyibukan diri membersihkan sampah dedaunan yang ada di halaman rumahnya. Beberapa kolam ikan Nila terisi sebagai cadangan sumber makanan keluarga. Beberapa warga terlihat bersiap memetik teh. Mereka diangkut menggunakan kendaraan Truk menuju lokasi perkebunan.
Waktu terus beranjak tapi kabut tak kunjung menghilang. Tapi ada tanda-tanda akan menghilang. Setelah makan pagi, kami berpamitan ke Pak Min dan keluarga untuk naik ke arah promasan. Menurut pak min, Lutung Jawa biasanya akan terlihat di hutan yang berada di atas perkebunan teh. Nah, kami coba mengamati lokasi yang disebutkan pak min. Menurut beliau kelompok lutung di jalur antara medini – promasan itu bisa diamati dari jalan.

Sepanjang perjalanan tampak para pemetik teh sedang memetik daun-daun teh yang masih terlihat segar. Beberapa sudah ada yang disimpan dipinggir jalan, dimasukan ke dalam karung angkut. Mereka terlihat tetap menggunakan jas hujan plastik. Siap-siap jika sewaktu-waktu turun hujan. Saya dan mas Wawan pun sesekali turun dari mobil dan mengamati kondisi hutan disekitar perkebunan teh. Hasilnya nihil, tidak ada penampakan lutung dan rekrekan.
Dilihat dari pencitraan satelit, kondisi hutan di sekitaran medini dan promasan itu terpetak – petak di punggungan yang berada diatas perkebunan teh medini. Sedangkan dari penampakan secara langsung kondisinya pun demikian. Hutan yang masih terlihat bagus terbagi – bagi di punggungan yang tidak dibuka sebagi perkebunan. Burung Cica koreng Jawa (Megalurus palustris) dan Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster) menjadi pelipur lara saya karena belum ada penampakan lutung jawa seperti yang disebutkan Pak Min.
Cica Koreng Jawa

Dalam perjalanan turun, di seberang jalan terlihat tanda-tanda adanya sekelompok Lutung Jawa sedang mencari makan. Jarak dari posisi kami berdiri sekitar 270 meter, jika difoto hanya terlihat titik gumpalan hitam-hitam di pepohonan. Total lutung jawa yang teramati 6 ekor terdiri dari remaja dan dewasa. Pengamatan kami  lakukan sekitar 5 – 10 menit dan berhenti karena gerimis kembali turun. Para lutung tetap tenang memetik pucuk daun dan memasukannya ke mulut. Tak peduli gerimis kembali turun.

Perburuan Burung
Lokasi berikutnya adalah kawasan hutan di aliran sungai air terjun “curug” lawe. Menurut informasi dari KP3 Primata Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada yang sebelumnya berkegiatan dilokasi tersebut, ditemukan beberapa Lutung.
Mobil kami parkir di pinggir jalan dekat rumah warga. Menurut informasi warga sekitar, jarak dari tempat parkir ke curug lawe sekitar 1 kilometer. Hutan diatas aliran sungai tampak bagus dan rimbun. Tepat kalau dibilang sebagai habitat primata jawa. Hutannya masih terlihat alami dengan pohon-pohon besar mendominasi. Suara burung saling bersahutan. Minus suara burung elang yang selalu menjadi favorit saya. Mungkin karena cuaca siang itu baru saja selesai gerimis dan matahari tak kunjung keluar.
Sepah kecil, sebagai burung pemikat

Tak kurang seratus meter dari lokasi air terjun kami menemukan kegiatan perburuan burung. Terdapat dua sangkar burung yang di isi Sepah Kecil , Burungmadu Pengantin dan Gelatik Batu Kelabu sebagai burung pemikat. Metode yang digunakan adalah menggunakan getah pohon Artocarpus sp. yang dililitkan pada ranting dan sangkar burung diletakan di bawah ranting dengan perekat tersebut. Tidak lama kami berada di lokasi itu dua orang pemburu yang berasal dari daerah sekitar curug lawe itu muncul. Ternyata tidak hanya menggunakan getah sebagai perekat, mereka juga menggunakan jaring kabut dan burung pemikat lainnya yakni Beluk Ketupa (Ketupa ketupu).
Kegiatan penangkapan burung di curug lawe menurut keterangan dua orang pemburu tersebut memang kerap terjadi. Sasarannya adalah burung- burung kicau seperti Burungmadu, Sikatan, Kacamata, Cica daun dan burung kicau lainnya.

“ Sampeyan Cuma cari burung apa semua jenis satwa yang bisa ditangkap juga sampeyan ambil, Mas?”. Tanya saya kepada kedua pemburu tersebut. “Misal ada lutung juga sampeyan tangkap”. Saya menambahkan.“ndak, Mas. Kami Cuma cari burung saja kok, Mas. Itu saja susah, burungnya makin sedikit”. Jawab salah satu dari mereka.
“Biasanya sampeyan jual sendiri ke pasar apa ada pengepul yang datang ke rumah sampeyan? Atau sampeyan jual kemana?” “Dikumpulin dulu di rumah, kalau sudah kumpul dan burung sudah bisa makan pur (pelet) baru kami bawa ke pasar, Mas. Biasanya kami jual ke Wajo”

Curug Lawe

Kawasan Curug Lawe, Medini dan Ungaran pada khususnya merupakan kawasan diluar kawasan konservasi/lindung yang lemah segi penegakan hukumnya sehingga aktifitas perburuan burung dan satwaliar lainnya luput dari pengawasan pihak/instansi terkait. Yang kami khawatirkan para pemburu burung juga akan menangkap semua jenis satwa yang mereka temukan. Misal Lutung Jawa yang berada di kawasan curug lawe hingga ke ungaran.

Melalui kegiatan survey ini selain kami mencari data keberadaan Rekrekan dan Lutung Jawa di Ungaran juga sembari berbagi informasi kepada warga mengenai keberadaan dua jenis satwa tersebut. Hal itu kami harap bisa menjadi jembatan saling tukar informasi dengan warga. Meskipun target utama pencarian kami tidak tercapai, berbagi informasi kepada warga sekitar habitat rekrekan dan lutung jawa juga sangat penting. 

Wednesday, February 24, 2016

Jalak Lawu, nyanyian syahdu di hutan bisu

Di tulis oleh : Asman Adi Purwanto


suara burung Ceret Gunung

Hawa dingin langsung menyeruak menyerang kami yang datang dari dataran rendah, ketika kami datang di Cemoro Kandang. Suhu 13 – 14 derajat celcius saja sudah cukup membuat kami seperti kucing takut dengan air. "Tim monyet "SwaraOwa datang ke Cemoro Kandang di Lereng Selatan Gunung Lawu untuk melakukan pendataan kemungkinan adanya Surili Jawa atau yang biasa kami sebut dengan nama Rekrekan (Presbitys comata)

Saya mungkin satu-satunya anggota tim yang lebih fokus pada kegiatan pengamatan dan konservasi burung. Menjejakan kaki di Lawu adalah yang pertama kali buat saya. Berharap bisa mendapatkan banyak catatan baru yang tidak saya temukan di gunung – gunung lain di Pulau Jawa. Ceret Jawa (Locustella montis ) dan tentu saja sang legenda Jalak Gading atau Anis Gunung (Turdus poliocephalus stresemanni) mejadi target saya disela-sela mencari keberadaan primata endemik Jawa.

Suara-suara burung sudah mulai terdengar dari basecamp cemoro kandang tempat kami nge-pos. Beberapa jenis merupakan suara dari jenis burung yang sudah pernah kami jumpai sebelumnya sehingga bagi kami suara tersebut sudah tidak asing. Dan, kami bisa langsung mengenali suara tersebut. Begitu juga sepanjang jalur pendakian dan jalan setapak yang kami telusuri suara-suara burung dari yang kami kenal sampai dengan suara yang menurut kami masih asing menjadi penyemangat kami mencari keberadaan rekrekan (Presbytis comata) dan Lutung Jawa (Trachypithecus auratus). Beberapa suara burung yang belum kami kenali, kami mencoba untuk merekam untuk kepentingan identifikasi.

Ceret Gunung (Cettia vulcania)merupakan burung yang paling umum. Di semua jalur yang kami masuki, kami selalu menemukan jenis tersebut. Awalnya saya pikir itu Ceret Jawa (Locustella montis) ternyata setelah yang punya suara keluar dari semak belukar langsung ketahuan. Dan,  ceret jawa yang menjadi target saya, saya hanya mendengarkan suaranya saja tanpa melihat langsung wujud aslinya.

Di jalur cemoro kandang hal menarik lainnya selain melimpahnya jenis ceret gunung, kami juga menemikan aktifitas Ciu Besar (Pteruthius flaviscapis) yang membawa mangsa di paruhnya dan selalu mengeluarkan suara peringatan. Jantan dan Betina ciu besar selalu bersamaan mengeluarkan suara ketika ada kami dilokasi dimana kami juga menemukan suara Lutung Jawa dihari pertama. Asumsi kami sepasang burung tersebut sedang dalam masa berbiak dan posisi sarang bisa jadi ada di lokasi itu.
Jalak Lawu


Tidak kami cari, keberuntungan datang, si Jalak gading,  atau Jalak Lawu pun akhirnya, menampakan diri dan langsung beraksi di depan camera. Burung ini adalah salah satu ras burung kicau dari marga Turdidae,  yang hanya ada  di G.lawu tidak di jumpai  di tempat lain.

Sekitar 20 jenis burung yang kami jumpai dalam waktu 4 hari, dengan jumlah jenis burung yang kami temukan justru  menjadi keheranan bagi kami. Mengapa demikian?

Hutan lereng selatan gunung lawu memiliki tipe habitat hutan hujan tropis dengan vegetasi yang masih sangat bagus. Bahkan lebih bagus dari Merbabu. Dengan kondisi demikian, ekspektasi kami pada saat berangkat kami dapat menjumpai jenis satwa yang cukup melimpah, mulai dari aves sampai mamalia. Akan tetapi dugaan kami meleset, hutan begitu sepi dari suara burung, jejak mamalia baik jejak kaki dan kotoran, yang ada hanya jejak roda sepeda motor.
Mungkin hal ini terjadi akibat dari dampak penangkapan burung yang cukup tinggi di kawasan tersebut. Pak Kholil, mantri perhutani wilayah magetan dalam obrolan santai mengatakan masih saja ada orang-orang tak bertanggung jawab masuk ke kawasan lawu untuk menangkap burung.
“Yang masuk menangkap burung ya ada saja, mas. Mereka masuk melalui jalan-jalan setapak yang jauh dari pantauan kami”. Jelas pak Kholil, dan keterbatasan personel untuk mengamankan kawasan yang luas.

Kegiatan perburuan satwa mempunya dampak yang sangat besar terhadap populasi satwa di alam khususnya burung. Hilangnya burung burung ini juga mengakibatkan peran penting dari burung tersebut juga hilang. Sudah nyata, menikmati kicauan burung di hutan tidak lagi terdengar, fungsi burung sebagai pengendali hama, sudah dirasakan petani, dan fungsinya digantikan dengan pestisida kimia. 
Dari beberapa pengalaman kami mengunjungi beberapa kawasan hutan yang memiliki intensias penangkapan burungnya tinggi, hutan – hutan menjadi sunyi sekan bisu, " Empty forest syndrome” .

Melalui kegiatan survey surili jawa ini, kami berharap dan mengajak semua pihak untuk berpartisipasi aktif menjaga ekosistem Gunung Lawu. Hal itu disambut baik oleh Komunitas Anak Gunung Lawu  (AGL)  yang mengharapkan hasil dari kegiatan ini dapat menjadi rujukan mereka dalam berkontribusi nyata melestarikan kawasan lawu khususnya di kawasan cemoro kandang hingga ke Puncak Lawu. 

Tuesday, February 23, 2016

Lutung Kelabu dari G.Lawu

Di tulis oleh : Kasih Putri Handayani
e-mail :kasihputri288@gmail.com 
 
Lutung Jawa (Trachypithecus auratus)


Disambut kabut tebal dan gerimis, Rabu, 10 Februari 2016, akhirnya tim SwaraOwa sampai di Basecamp Pendakian Cemoro Kandang, lereng selatan Gunung Lawu. Misi kami kali ini adalah untuk memperbarui informasi mengenai primata Jawa. Gunung Lawu ini merupakan lokasi pertama yang kami survei terkait potensinya sebagai area distribusi primata, terutama jenis Rekrekan atau Surili (Presbytis comata).

Secara administratif, lereng selatan Gunung Lawu ini merupakan perbatasan antara Kabupaten Karanganyar (Provinsi Jawa Tengah) dengan Kabupaten Magetan (Provinsi Jawa Timur). Kawasan ini juga berkembang menjadi tempat wisata yang cukup ramai, mulai dari Telaga Sarangan, Cemoro Sewu hingga Cemoro Kandang. Jalur pendakian Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu juga merupakan jalur favorit para pendaki gunung untuk mencapai puncak Lawu yang dikenal dengan nama Hargo Dumilah (3.265 mdpl). Selain dari kalangan pecinta alam, beberapa orang mendaki Gunung ini untuk kepentingan ritual.

Sepintas, penutupan lahan sebagian besar kawasan lereng selatan Gunung Lawu ini berupa hutan (hutan tanaman dan hutan alam), yang berbatasan dengan permukiman dan lahan pertanian warga. Nampak pula bekas kebakaran hebat tahun lalu, yang menyisakan tegakan-tegakan batang pinus yang kering. Dilihat dari citra di Google Earth, nampak jelas kebakaran tersebut turut memisah-misahkan kawasan hutan yang ada.

Hutan tanaman di kawasan ini umumnya disusun oleh jenis tanaman pinus, puspa, bintamin dan eucalyptus. Disamping hutan tanaman, lereng selatan Gunung Lawu masih memiliki ekosistem hutan hujan tropis yang sangat menawan. Pohon pasang (Lithocarpus sp., famili Fagaceae) atau pohon oak, tumbuh kokoh dengan batang dan dahan yang menjadi habitat bagi berbagai jenis lumut, paku-pakuan dan anggrek epifit. Cahaya matahari menerobos di sela-sela kanopi hutan yang terbuka, menjadikan lantai hutan terasa lembab terlebih pada musim hujan. Kami pun berulang kali hanya berdecak kagum melihat hutan yang sangat idah ini.
 
Rekrekan (Presbytis comata)
Untuk mencari keberadaan primata, tim swaraOwa bergerak menyusuri jalur pendakian dan jalan-jalan setapak di dalam kawasan hutan, dari sekitar jalur Cemoro Kandang hingga Mojosemi. Dihari pertama survey, belum terlalu jauh kami berjalan dari basecamp Cemoro Kandang, terdengar loudcall Lutung Budeng yang sangat khas. “kekok kekok, kekok kekok”, kurang lebih demikian vokalisasinya. Mendengar panggilan tersebut, kami segera bergerak menaiki punggungan menuju arah datang suara. Akhirnya terlihat oleh kami dua individu lutung yang tengah bergerak di pohon. Namun nampaknya mereka tidak hanya berdua. Terdengar suara berisik individu lain dan juga gerakan dahan-dahan pohon di belakang mereka. Terlihat satu individu lutung yang nampak lebih “gendut” dari individu lainnya, dengan rambut bagian ventral yang berwarna abu-abu keputihan. Rambut di bagian wajah juga nampak keputihan. Mungkin ini yang dimaksud oleh masyarakat setempat, tentang Lutung kelabu. Ketika kami mengumpulkan informasi dari masyarakat, mereka menyatakan belum pernah melihat monyet berjambul dan berbibir merah yang kami cari (Rrekrekan). Namun mereka meyakini ada monyet yang rambut muka dan dadanya berwarna keputihan seperti halnya Rekrekan dalam satu kelompok lutung budeng yang dominan hitam. Dalam satu perjumpaan lain dengan kelompok lutung budeng, variasi warna rambut juga terlihat. Kali ini kami bisa melihat lebih dekat dan jelas, bahwa memang beberapa individu lutung memiliki warna rambut yang keputihan di bagian ventral (dada dan perut), tangan dan bagian dalam kaki. Warna keputihan juga menghiasi bagian luar kaki, tangan dan juga bagian muka.


Satu kelompok lagi kami jumpai di tepi jalan raya pada lereng yang cukup curam. Terlihat satu individu muda (infant) digendong induknya. Bagian kepala dan punggung infant tersebut telah berwarna hitam, sementara bagian depan (dada dan perut) masih berwarna putih kekuningan. Mengetahui keberadaan kami, dengan segera mereka bergerak menjauh dari jalan. Nampak bekas semak di tepi jalan yang mereka lalui. Mereka harus mengambil resiko, keluar dari hutan dan menyeberang jalan raya yang cukup lebar dan ramai untuk mencari makan di hutan seberang jalan. Mungkin seperti inilah cikal-bakal terjadinya fragmentasi hutan.


Habitat Lutung di G.Lawu

Satu hal yang menarik perhatian kami. Kawasan lereng selatan Gunung Lawu ini masih memiliki hutan alam yang vegetasinya masih sangat bagus. Dengan kondisi demikian, kami berharap dapat menjumpai biodiversitas satwa yang tinggi. Namun dugaan kami meleset. Hutan alam yang indah tersebut sangat sepi. Tidak banyak jenis burung yang kami jumpai, yang sebagian besar merupakan jenis burung semak. Apakah ini dampak aktivitas perburuan yang hingga kini masih saja terjadi? Atau memang kami datang diwaktu yang kurang tepat, saat satwa-satwa tersebut tengah bersembunyi. Entahlah. Dan melalui kegiatan serta tulisan ini, kami ingin mengajak sahabat-sahabat semua untuk turut menjaga keseimbangan ekosistem Gunung Lawu, sebagai kawasan pegunungan yang penting secara ekologi , ekonomi, ilmu pengetahuan,wisata dan juga budaya.

Tuesday, February 9, 2016

Survey Rekrekan Jawa Tengah


Tahun monyet 2016, ini kami akan memulai kegiatan konservasi primata Jawa dengan mereview kembali beberapa species primata Jawa yang kurang mendapat perhatian dan perlu informasi terbaru terkait dengan distribusi, populasi, ancaman dan kondisi habitatnya. Salah satu primata jawa yang menjadi prioritas untuk kita perbaharui informasinya adalah “Rekrekan” (Presbytis fredericae).

Penelitian tentang populasi dan distribusi, perilaku dan habitat di antaranya telah dilakukan di Gunung Slamet, Hutan Sokokembang , dan Gunung Merbabu. Saat ini primata ini termasuk kategori endangered dalam IUCN redlist, dan mengenai distribusinya hingga saat ini sebaran paling timur yang sudah tercatat secara ilmiah adalah di Gunung Merbabu. Namun beberapa laporan sebelumnya memberi catatan tentang keberadaan monyet pemakan daun ini, terdapat di Gunung Lawu, namun hanya menyebutkan bahwa catatan tersebut berdasarkan informasi warga yang medengar suaranya saja.

Olehkarena itu, tim SwaraOwa bulan februari ini mulai bergerak dari bagian timur propinsi Jawa Tengah, untuk mencari keberadaan Rekrekan, survey ini juga menjadi bagian promosi konservasi primata endemic jawa ke beberapa pihak terkait dan mempromosikan pelestarian monyet ini, untuk memeperkuat nilai fungsinya sebagai jenis endemik Jawa.
Ikuti kabar lapangan dari kegiatan survey Rekrekan di blog ini, akun sosial media kami : twitter, IG, FB @swaraOwa.

Bacaan : 
http://www.iucnredlist.org/details/18125/0
https://www.researchgate.net/publication/275516529_Population_and_distribution_of_Rekrekan_Presbytis_fredericae_in_the_southern_slope_of_Mt_Slamet_Central_Java
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78018