Saturday, October 24, 2026

Jeritan Sunyi di Atas Kanopi: Mengapa Karhutla 2026 Menjadi Ancaman Nyata Bagi Kelestarian Owa?

 Oleh : Arif Setiawan

grafik ilustrasi ( AI) habitat Owa yang terbakar

Dalam rangka memperingati hari Owa sedunia tanggal 24 october ini, mewakili swaraOwa, saya  ingin menyampaikan keprihatinan yang mendalam untuk yang terdampak kebakaran hutan dan lahan tahun 2026 ini, kepada Masyarakat umum terutama di Kalimantan dan Sumatera, kami turut prihatin terjadinya bencana ini. dan tahun ini habitat 9 jenis Owa Indonesia sebagian besar telah semakin hilang terbakar.

Laporan spesifik mengenai owa (Hylobatidae) yang ditemukan mati langsung akibat terbakar di dalam kobaran api memang sangat jarang terdokumentasi secara rinci. Hal ini karena karakteristik owa sebagai primata arboreal yang sangat lincah di kanopi atas pohon membuat mereka biasanya dapat bergerak cepat menghindar ketika api mulai mendekat, berbeda dengan satwa darat yang lambat.

Penelitian dan pendokumentasian dampak langsung  kebakaran hutan dan lahan terhadap owa ini sangat penting, apabila nanti informasinya akan digunakan untuk mitigasi. Untuk di Sokokembang sendiri upaya monitoring juga sudah dilakukan, meskipun dengan banyak keterbatasan, beberapa peralatan untuk pemantauan suhu dan kelembaban udara tahun ini mengalami kerusakan, sehingga tidak dapat mencatat informasi iklim lokal di masa El-Nino ini secara real time. Monitoring dengan metode triangulasi klasik dengan 3 titik pengamat meskipun juga dilakukan namun masih memerlukan analisis lanjutan setelah periode monitoring musim ini selesai. Tentu saja swaraowa membuka kesempatan siapapun yang tertarik untuk mengkaji ini lebih jauh, bagaimana dampak El-Nino tahun ini terhadap perilaku atau pola aktifitas Owa jawa. 

Kendati demikian, bukan berarti owa aman dari bencana karhutla. Berbagai kajian konservasi dan laporan lapangan mengenai dampak kebakaran hutan menunjukkan bahwa owa menghadapi ancaman mematikan yang tidak kalah serius melalui efek sekunder dan tidak langsung dari karhutla:

• Paparan Asap Beracun (Efek Sublethal): Asap tebal karhutla merusak sistem pernapasan dan metabolisme satwa liar. Owa yang menghirup asap pekat dalam jangka panjang mengalami penurunan kondisi fisik, gangguan kesehatan akut, hingga kematian perlahan akibat kerusakan paru-paru.

• Hilangnya Teritori dan Sumber Pakan: Owa memiliki wilayah teritori yang sangat terikat dengan hutan primer atau sekunder tua. Kebakaran menghancurkan pohon-pohon buah sumber pakan utama mereka, membuat owa yang selamat dari kobaran api akhirnya mati kelaparan atau stres di luar batas teritori mereka. Dampak kemarau panjang (el-nino) sudah ada yang melakukan penelitian juga mempengaruhi ketersediaan buah di hutan, terutama jenis-jenis ficus1.

• Fragmentasi Habitat dan Kematian Genetik: Karhutla memecah koridor hutan alami. Kelompok owa yang terisolasi di sisa-sisa petak hutan yang terbakar sering kali sulit bertahan hidup dalam jangka panjang karena kesulitan mencari pasangan atau kerentanan terhadap penyakit.

• Hilangnya Komunikasi Sosial: Owa sangat bergantung pada suara atau "nyanyian" jarak jauh (greatcall) untuk mempertahankan teritori dan mencari pasangan. Polusi asap dan kepanikan akibat kebakaran mengganggu perilaku sosial dan sistem reproduksi mereka secara drastis. 

Secara umum, owa jarang ditemukan hangus terbakar di lokasi kejadian, namun populasi mereka mengalami penurunan drastis akibat kelaparan, penyakit pernapasan karena asap, serta kehancuran habitat pasca-karhutla.

Solidaritas untuk Kebakaran Hutan di Kalimantan

Bulan Agustus lalu, Swaraowa telah berkolaborasi dengan seniman sketsa Indonesia mas @donisingo  dan @Vera Kersting untuk menjual karya sket dan mengumpulkan donasi untuk tujuan membantu kebakarang hutan,Kalimantan Barat. Total donasi yang terkumpul waktu itu lebih dari Rp 16 Juta dan sudah di distribusikan oleh Yayasan palung untuk bantuan air bersih, masker dan obat-obatan. Kami pernah berkunjung ke Kalimantan barat di lokasi proyek konservasi Yayasan palung, dan tim dari Yayasan palung juga perneh berkunjung ke Proyek konservasi Owa swaraOwa di Pekalongan, sehingga ada koneksi yang kuat, antara kami yang sama-sama mempunyai program konservasi,  rasanya sangat pilu melihat hutan-hutan yang menjadi sumber ekonomi warga disana dilalap api. Bagaimana dengan Owa? Laporan-laporan satwa terbakar di lokasi kebakaran hutan dan lahan sudah ada orangutan, monyet, bekantan, ular, dan tidak ada yang secara spesifik melaporkan Owa.  Saat itu kami kira, setelah bulan itu kebakaran hutan dan lahan mereda, tapi kenyataannya malah semakin membesar dan menyebar ke wilayah-wilayah di Kalimantan, sedih rasanya, mengumpat pun tidak akan banyak melepasak kesedihan ini.

Progam Konservasi owa di akhir tahun 2026

Di tahun 2026 ini swaraOwa, ada 2 project penting untuk owa Indonesia, yaitu di Pekalongan untuk Owa jawa dan di Kepulauan Mentawai, untuk Owa Bilou. Sudah setiap hari kami merayakan hari Owa ini, namun untuk memperluas jangkauan dampak konservasi 2 species penting ini, swaraOwa sebagai rangkaian peringatan hari Owa sedunia, ada beberapa kegiatan yang dilakukan yaitu :

1. Penyusunan SRAK Owa bilou Mentawai rangkaian pertemuwan workshop di Sipora, Mentawai tanggal 29-30 October 2026, meneruskan kegiatan sebelumnya yang telah dilakukan yaitu survey populasi Owa di seluruh kepulauan Mentawai, yang selesai padah akhir bulan Agustus lalu, dilanjutkan dengan kegiatan workshop PVA sebagai dasar untuk menyusun rencana strategis aksi konservasi Owa Bilou. Baca di sini untuk laporan kegiatan PVA Mentawai : https://swaraowa.org/merancang-strategi-konservasi-bilou-mentawai/ 

2. Gibbon Camp, acara tahunan yang diselenggarakan di habitat Owa, untuk ke-5 kalinya, kegiatan yang berkolaborasi dengn @KP3Primata ini dilakukan dengan tujuan untuk mempromosikan gibbon watching, mengangkat lokasi-lokasi di Jawa Tengah yang menjadi habitat Owa, dan pengamatan owa /gibbon watching ini sebagai kegiatan wisata minat khusus.

3. Pelatihan Metode Survey Owa, 15-19 November 2026, untuk ke 13 kalinya kegiatan ini akan dilakukan di Sokokembang, petungkriyono. Yang bertujuan untuk pengembangan kapasitas professional lokal, untuk melakukan teknik survey Owa.

Catatan terbaru kegiatan monitoring  Owa di Petungkriyono di bulan ini adalah : 

Partisipasi aktif warga lokal dalam kegiatan monitoring, menggunakan teknik vocal count /berdasar sura mendeteksi setidaknya 17 kelompok owa di Sawangan Ronggo.

Namun ada 1 catatan penting, juga 1 individu owa mati tersengat Listrik di Sawanganronggo, jaringan kabel listrik yang terkelupas, diduga menjadi penyebab tersengatnya owa di lintasan ini. dari data monitoring ada 3 individu di tempat ini pad awalnya, dan saat ini kelompok ini telah kehilangan induk jantannya. Solusi pembangunan infrastrutur berkelanjutan seharusnya terus di arustuamakan untuk wilayah-wilayah dengan keanekaragaman tinggi, seperti habitat Owa ini, harusnya pihak terkait memperhatikan ini. baca laporan swaraOwa tentang owa yang mati tersengat Listrik ini, jaringan Listrik milik negara ini melewati hutan di petungkriyono . (https://swaraowa.blogspot.com/2021/08/solusi-berkelanjutan-infrastruktur.html) 

Selain itu,  untuk kegiatan konservasi Owajawa di Pekalongan saat ini  sudah ada terbangun pusat informasi konservasi owajawa di Sokokembang, fasilitas yang berfungsi sebagai community hub, yang dapat digunakan untuk pertemuan komunitas, pegiat konservasi,peneliti dengan warga lokal, menyediakan ruang diskusi, berbagi pengalaman dan membuka kolaborasi, skaligus showroom untuk kegiatan  dan produk-produk konservasi di Petungkriyono dan sekitarnya.( https://swaraowa.org/sokokembang-gibbon-conservation-education-center-a-bridge-of-knowledge-culture-and-action/) 


Sumber bacaan

1. Harrison, R.D., 2001. Drought and the consequences of El Nino in Borneo: a case study of figs. Population Ecology, 43(1), pp.63-75.


Friday, October 16, 2026

Solusi berkelanjutan, infrastruktur jaringan listrik ramah satwa, di Petungkriyono, Pekalongan

 UPDATE _15 April 2022; 16 Oct 2026

Oleh : Arif Setiawan

Rekrekan (Presbytis fredericae) dari hutan Petungkriyono

Pembangunan ekonomi dan infrastruktur yang cepat dalam tiga tahun terakhir membawa korban  tewasnya satwa-satwa asli Petungkriyono, termasuk primata-primata yang memang sudah teracam punah, tersengat listrik dari kabel listrik yang tidak berinsulasi ,yang masuk kedesa-desa di tengah hutan.

Petungkriyono adalah   kecamatan bagian dari Kabupaten Pekalongan sudah terkenal karena keberadaan hutan  dan satwaliarnya. Kawasan hutan dengan tipe hutan dataran rendah hingga penggunungan, merupakan yang tersisa saat ini di bagian tengah Pulau Jawa. Sudah seharusnya daerah ini menjadikan ini asset yang lestari , tidak semua daerah memiliki potensi seperti kecamatan Petungkriyono.

Dari 5 jenis primata Jawa dapat di temukan di Kawasan hutan di dua kecamatan ini, yaitu  Lutung jawa ( Trachypithecus auratus), Rekrekan ( Presbytis fredericae), Owa Jawa ( Hylobates moloch), Monyet ekor panjang ( Macaca fascicularis) dan Kukang jawa ( Nyctecebus javanicus). Kawasan hutan yang membentang dari ketinggian 200 meter di atas permukaan laut hingga hutan pegungungan dengan ketinggian 1900 meter, saat ini merupakan kantung hidupan liar endemik, tidak dijumpai di daerah  lain.

Jaringan listrik di antara kanopi hutan Petungkriyono

Pembangunan infrastruktur  terumata jaringan listrik sudah tentu di tunggu-tunggu oleh warga di sekitar hutan yang sudah sejak dahulu memang dalam posisi geografis yang kurang menguntungkan untuk mendapatakan aliran listrik dari pemerintah. Dua dusun yang paling merasakan dampak dari masuknya jaringan listrik ini adalah dusun Sokokembang dan Tinalum, yang sejak dahulu menggunakan listrik mandiri,  sejak tahun 2006 sudah ada tenaga surya yang digunakan masing-masing rumah, namun karena kondisi cuaca dan topografi khas pegunungan, panel-panel surya ini tidak dapat mengumpulkan energi matahari yang cukup, ditambah kemampuan aki untuk menyimpan juga semakin lama semakin singkat, sepertinya sudah tidak ada lagi yang menggunakan tenaga surya.

PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro), tahun 2009 pemerintah provinsi jawa tengah memberikan bantuan pembangkit listrik tenaga air untuk dua dusun tersebut, hingga tahun 2016, listrik tenaga air ini menggunakan turbin pembangkit yang ada di Sungai Welo, di dekat dusun Tinalum. Listrik ini juga melewati Kawasan hutan sepanjang dusun Tinalum dan Sokokembang, kabel yang di gunakan jaringan ini berinsulasi, kabel kawat yang di bungkus lapisan karet yang tidak membahayakan, meskipun melewati rimbunnya tajuk pohon tidak mebahayakan primata yang lewat disekitarnya. PLTMH ini berhenti total beroperasi  tidak menghasilkan listrik tahun 2017 akhir, karena kendala teknis dan lainsebagainya. Kemudian tahun 2019, bersamaan dengan masuknya jaringan listrik negara kedua dusun ini, Dusun Sokokembang mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk PLTMH, yang digunakan untuk di Dusun Sokokembang saja. Menjadi bermanfaat juga untuk warga 2 dusun ini, keberadaan jaringan listrik ini, dapat menggerakan kegiatan ekonomi khususnya konveksi dan usaha kopi yang menggunakan aliran listrik. Baca laporan disini tentang manfaat pembankit listrik tenaga air yang ada di Sokokembang : https://jateng.idntimes.com/news/jateng/dhana-kencana-1/peduli-konservasi-dari-pemanfaatan-energi-di-hutan-petungkriyono

Lutung Jawa  mati tersengat listrik di hutan Petungkriyono

Lintasan satwa primata, dilalui jaringan listrik terbuka bertegangan tinggi
 

Mulai masukknya jaringan listrik negara inilah, bencana untuk primata-primata ini mulai terjadi, mati tersengat, menggelantung di kabel listrik jaringan terbuka. Kami mencatat kematian-kematian primata karena tersengat listrik ini di tabel berikut , sejak jaringan listrik  masuk,  sejak tahun 2019 sudah ada 6 primata mati tersengat listrik, dari kabel yang tanpa isolasi tersebut. Laporan-laporan tentang matinya primata karena jaringan listrik ini dapat di baca di berita ini : https://radarpekalongan.co.id/119342/gegara-kesetrum-primata-langka-ini-mati/ hingga yang terbaru minggu ini ( 2 Agustus 2021) satu lagi primata mati, Rekrekan (Presbytis comata) yang juga dilindungi dan terancam punah statusnya. Dan catatan kami berdasarkan pengamatan di lapangan dan laporan warga ada di tabel berikut ini :

Tabel (data kematian primata di Petungkriyono karena tersengat listrik )

no

Bulan/Tahun

Jenis Primata

1

Juni/ 2019

Rekrekan  (Presbytis comata)

2

Desember/2019

Lutung Jawa (Trachypithecus auratus)

3

Januari/2020

Lutung Jawa ( Trachypithecus auratus)

4.

July/2020

Rekrekan (Presbytis comata)

5.

Oktober/2020

Owa jawa ( Hylobates moloch)

6.

Agustus/2021

Rekrekan ( Presbytis comata)

 

update
7.            21 September 2022                      Lutung Jawa ( Trachypithecus auratus)
8.            19 November 2022                        Lutung Jawa ( Trachypithecus auratus)
9.            6 Februari 2022                            Lutung Jawa ( Trachypithecus auratus)
10.          13 April 2022                                Rekrekan  ( Presbytis comata)

Berdasar laporan sebelumnya, PLN pada taggal 4 Februari 2022, kabel listrik sudah di ganti dengan kabel yang berisolasi, di segmen kalibedug-sokokembang, dan welo asri. Kejadian terakhir tanggal 14 April 2022, terjadi di segmen yang belum di ganti kabel berisolasi.


Rekrekan yang mati tanggal 13 April 2022

update 
15 October 2026, 1 Owajawa  (lokasi) Sawanganronggo

Laporan di terima oleh tim swaraowa, tanggal 15 October 2025, jam 13.28, 1 individu jantan dewasa ditemukan mati, di ds. Sawanganronggo, Desa Tlagapakis, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan,  kemudian tim menelurusi kronologi, dan mengkonfirmasi informasi tersebut. Owa telah mati dan di kuburkan pada tanggal 12 October 2025, setelah ditemukan dengan kondisi tangan terbakar. Laporan ini kemudian teruskan kepada pihak terkait anggota forum kolaborasi pengelolaan hutan petungkriyono dan laporan ke PLN secara personal telah disampaikan ke petugas, namun belum mendapat respon.

Owa jawa mati tersengat listrik
di Sawanganronggo ( foto; Bambang)



Solusi Pembangunan Infrastruktur Jaringan Listrik ramah hutan dan satwa.

Kasus-kasus seperti ini sudah banyak terjadi di negara-negara berkembang, di berbagai negara, dan merupakan bentuk fragmentasi habitat, yang menimbulkan ancaman serius untuk kepunahan satwa-satwa arboreal, seperti jenis-jenis primata.Jaringan listrik murah dipilih untuk  dapat menjakau jauh kedalam pelosok-pelosok wilayah dengan topografi yang sulit di jangkau. Konsekwensinya harus mengorbankan satwaliar, dan pertimbangan ekologis sepertinya juga belum menjadi hal yang penting untuk pembangunan.

1.       Menggunakan kabel berinsulasi

Tentu hal ini setidaknya menjadi pilihan yang ramah bagi hutan dan hidupan liar, karena salah satu bentuk fragmentasi habitat melalui jaringan listrik dan jalan ini menjadi penyebab dan mempercepat kepunahan. Tentu butuh investasi lebih untuk infrastruktur ini, namun harus di pertimbangkan di lokasi-lokasi yang mempunyai keanekargaman tinggi seperti di Petungkriyono.

Contoh yang di terapkan untuk melindungi Sloth di Amerika Selatan. https://slothconservation.org/what-we-do/power-line-insulation/

 2.       Mengoptimalka PLTMH, salah satu sumber listrik yang terbarukan dan layak disebut “clean energy” sudah terbukti sangat membantu warga dan ramah satwaliar, tidak ada korban satwaliar sejak masukknya di Sokokembang dan Tinalum, hanya saja butuh perawatan dan dukungan kapasitas kelembagaan pengelolaanya, 2 pembangkit yang ada sekarang tidak berjalan lagi karena masalah tersebut. Sebenarnya nilai penting sungai, hutan dan aliran airnya dapat dioptimalkan dari penggunaan yang berkelanjutan ini. Baca laporan tentang PLTMH ini akhir tahun lalu masih berfungsi optimal di Sokokembang ( https://jateng.idntimes.com/news/jateng/dhana-kencana-1/peduli-konservasi-dari-pemanfaatan-energi-di-hutan-petungkriyono

 3.       Membuat Jembatan Kanopi

Membuat jalur penyeberangan satawaliar yang melintas kabel-kabel listrik terbuka tanpa insulasi. Metode ini sudah terbukti berhasil diterapkan di habitat primata satwaliar terancam punah lainnya.  Beberapa lokasi  dengan kanopi yang masih rapat dapat dibuatkan jembatan artifisial untuk menghubungkan kanopi-kanopi pohon supaya satwa-satwa penhuni pohon ini dapat berjalan melitas. Cotoh yang sudah berhasil di amerika selatan  https://www.ballenatales.com/new-bridge-monkey-capuchin-community/

4.       Menggunakan kabel berselubung pelindung kontak satwaliar

 Kabel-kabel bertegangan listrik tinggi, yang berada di wilayah pergerakan satwliar di beri pelindung berbahan silicon, sehingga listrik tidak dapat merambatkan energinya. Contohnya ada si marketplace ini : https://indonesian.alibaba.com/product-detail/22kv-spiral-silicone-tubing-to-protect-energized-system-from-wildlife-contact-60820300752.html

 Kasus-kasus ini kemungkinan akan dapat terus terjadi lagi apabila tidak ada perhatian dari pihak-pihak terkait, wilayah-wilayah dengan keanekargaman tinggi sudah seharusnya mendapatkan prioritas pengelolaan untuk dapat mempertahankan dan menjaga nilai hidupan liar yang juga menjadi asset daerah. Pembangunan berwawasan konservasi dan berkelanjutan diharapkan dapat di terapkan sekaligus memperkuat nilai tambah untuk produk-produk yang dihasilkan dari daerah-daerah dengan keanekaragaman tinggi.

5. Membuat jaringan listrik dalam tanah

Membuat jaringan ini tentu sangat mahal dan perencanaan yang matang, sudah ada kajian tentang hal ini. Secara estetika tentu tidak mengganggu keindahan bentang lahan dan tidak menyebabkan satwa arboreal kesetrum. 

 

Daftar Pustaka :

Al-Razi, H., Maria, M. and Muzaffar, S.B., 2019. Mortality of primates due to roads and power lines in two forest patches in Bangladesh. Zoologia (Curitiba), 36.

Katsis, L., Cunneyworth, P.M., Turner, K.M. and Presotto, A., 2018. Spatial patterns of primate electrocutions in Diani, Kenya. International journal of primatology, 39(4), pp.493-510.

Pereira, A.A., Dias, B., Castro, S.I., Landi, M.F., Melo, C.B., Wilson, T.M., Costa, G.R., Passos, P.H., Romano, A.P., Szabó, M.P. and Castro, M.B., 2020. Electrocutions in free-living black-tufted marmosets (Callithrix penicillata) in anthropogenic environments in the Federal District and surrounding areas, Brazil. Primates, 61(2), pp.321-329.

Dittus, W.P., 2020. Shields on Electric Posts Prevent Primate Deaths: A Case Study at Polonnaruwa, Sri Lanka. Folia Primatologica, 91(6), pp.643-653





Tuesday, October 13, 2026

Dari Isu Iklim Hingga Praktik Kebun Kopi Naungan: Guardian of The Gibbon

 oleh : Sidiq Harjanto, Vika Bayu Iriyanto Putro & Muhammad Kuswoto

para petani mitra Kopi Owa - guardian of the gibbon

Program Owa Coffee: Guardian of the Gibbon yang didukung oleh AirAsia Foundation telah memasuki kuartal ketiga. Program ini merupakan kelanjutan dari inisiatif skema kopi naungan (shade-grown coffee) sebagai bentuk praktik budidaya kopi ramah satwa liar. Dalam perjalanannya, sebagian petani mitra telah berhasil memproduksi kopi sesuai standar kualitas yang ditentukan. Meski demikian, upaya membangun tata kelola kopi naungan yang lestari, berkeadilan, sekaligus mendukung kelestarian habitat Owa Jawa di Petungkriyono masih memerlukan komitmen panjang.

Tantangan iklim dan dampaknya pada kopi

Pada 3 Oktober 2026, kami melakukan monitoring kedua dengan target utama mengevaluasi periode panen tahun ini. Semua petani mitra kami mengeluhkan kekeringan yang berdampak besar pada panenan kopi. Kondisi iklim tahun ini yang dipengaruhi El Nino membuat produksi kopi di berbagai wilayah di Indonesia mengalami penurunan signifikan, termasuk di Petungkriyono. Pengalaman empiris beberapa petani mitra kami bahkan menunjukkan penurunan sampai lebih dari 60% jika dibandingkan dengan musim panen tahun sebelumnya yang terbilang bagus. 

kerusakan tanaman kopi tanpa naungan musim kemarau 2026

Penurunan drastis ini berdampak langsung pada total perolehan green bean Owa Coffee. Beruntung, program ekspansi yang menjaring petani dan pemroses (coffee processor) baru di tahun ini memberi bantalan pengaman yang krusial. Dari 25 petani baru yang bergabung, memang baru sekitar 40% yang telah menyetor hasil panen, sementara sebagian besar lainnya masih fokus pada pembenahan kebun. Namun, kontribusi kelompok baru ini sangat berarti: mereka menyumbang 25% dari total perolehan biji kopi pada tahun yang berat ini. Bahkan, untuk jenis robusta kontribusinya lebih dari 40%. Hasil evaluasi internal menunjukkan bahwa kualitas produk—yang notabene dihasilkan lewat pengalaman pertama para pemroses—sudah memuaskan.

kondisi kopi dibawah naungan hutan di musim kemarau 2026

Dampak kekeringan bukan hanya dirasakan pada hasil panen, melainkan juga pada kesehatan tanaman. Pada lahan-lahan monokultur terbuka, dampak ini tampak sangat jelas: banyak tanaman kopi layu atau bahkan kering, dan akhirnya tidak tertolong. Tanda-tanda awal biasanya dimulai dari daun-daunnya yang menguning. Sementara itu, tanaman-tanaman kopi yang tumbuh di bawah lindungan kanopi lebat, jauh lebih aman dari kekeringan. Kopi naungan tidak hanya ramah satwa, tetapi juga lebih tahan cuaca ekstrem. Komposisi tanaman penyusun vegetasi dan tutupan tajuk mengunci kelembaban tanah, memungkinkan tanaman kopi mampu bertahan.

bertempat di swaraowa education center, pertemuan petani tidak hanya soal teknis
tapi juga menjaga kekeluargaan
Agenda strategis selanjutnya

Musim panen kopi di tahun ini telah berlalu. Namun, masih ada beberapa pekerjaan rumah untuk peningkatan produksi pada masa yang akan datang. Dalam waktu dekat, kami berencana mendistribusikan bibit kopi arabika untuk petani di ketinggian di atas 1.000 mdpl. Kawasan Petungkriyono atas sangat cocok untuk pengembangan kopi arabika. Namun, sebagai zona penting tangkapan air, penanaman kopi idealnya dilakukan melalui skema kopi naungan. Melalui skema ini, kita tidak hanya mengoptimalkan fungsi ekonomi, tetapi juga menjaga fungsi ekologi kawasan.

Dalam rangka peningkatan kualitas dan kuantitas biji kopi, introduksi teknologi tepat guna menjadi keniscayaan. Melihat kebutuhan paling mendasar di lapangan, kami akan mendistribusikan beberapa unit alat pengupas kering (coffee huller) kepada kelompok-kelompok petani mitra. Mesin pengupas menjadi solusi strategis atas permasalahan yang banyak dialami petani/pemroses yaitu tingginya persentase biji pecah akibat penggunaan alat pengupas yang belum standar.

Berakhirnya musim panen menjadi titik balik bagi para petani untuk kembali fokus pada perawatan tanaman—mempersiapkan musim kopi tahun depan. Petani perlu menjalankan praktik terbaiknya agar mendapatkan hasil yang memuaskan. Untuk itu, pada pertemuan ini, kami mengajak mereka untuk membedah buku panduan yang telah disusun sebagai acuan praktik lapangan yang lebih sistematis. 

Riset partisipatif untuk kebun kopi naungan

Buku panduan praktik Kopi Naungan Holistik telah disusun. Panduan ini dihadirkan sebagai acuan bagi semua pihak yang membentuk rantai pasok Owa Coffee, termasuk petani. Praktik kopi naungan membawa implikasi yang berbeda semenjak di lahan budidaya, termasuk dalam hal perawatan tanaman. Upaya perawatan dilakukan guna mengoptimalkan produktivitas. Jika budidaya kopi monokultur dengan paparan cahaya matahari intens dan pemupukan intensif umumnya menggunakan teknik sambung, maka kopi naungan—terutama pada praktik kopi umbaran (rustic shade) dan agroforest kompleks—membutuhkan pendekatan berbeda. 

Kami memberikan rekomendasi beberapa metode perawatan tanaman untuk sistem yang memberikan porsi naungan yang lebih lebat, antara lain: punggelan, sogolan selektif, dan lancuran. Sebagian metode tersebut belum lazim dipraktikan oleh para petani lokal. Melalui pertemuan ini, kami mempertemukan para petani dengan penyusun buku dengan maksud untuk mencapai kesamaan pemahaman mengenai istilah-istilah teknis yang digunakan. Selain itu, kami mencoba menggali masukan dari para petani berdasarkan pengalaman mereka di kebun. 

Meskipun secara konseptual telah dielaborasi lengkap, tetapi aplikasi berbagai metode ini memerlukan monitoring dan evaluasi keberhasilan secara berkala. Kondisi ini justru memunculkan peluang untuk membuat riset perbandingan untuk menemukan praktik atau metode terbaik dalam kopi naungan. Kami menyepakati untuk membuat beberapa percobaan terukur guna menilai tingkat keberhasilan masing-masing metode. Melalui riset partisipatif, para petani tidak sekadar menjalankan instruksi satu arah, tetapi juga mendapat ruang belajar aktif dalam bentuk praktik langsung.

Pada akhirnya, skema Kopi Naungan Holistik mencoba melakukan pendekatan praktik budidaya kopi yang menggabungkan aspek keseimbangan agroekologi, perlindungan spesies, dan keberlanjutan sosial-budaya masyarakat lokal. Pendekatan ini diharapkan menghasilkan lanskap produktif yang menyejahterakan petani sekaligus mempertahankan daya dukung habitat bagi satwa liar, terutama Owa Jawa.




Sunday, October 4, 2026

Kopi Naungan habitat Owa , bertahan di masa El-Nino

 Oleh Arif Setiawan

kopi naungan hutan alam habitat Owa jawa-Sokokembang

El-Nino adalah fenomena iklim global, secara sederhana adalah fenomena menghangatnya permukaan laut di Samudera pasifik bagian tengah dan timur, Pada kondisi normal, meningkatnya suhu permukaan laut ini menyebabkan, tekanan udara yang menyebabkan udara hangat yang membawa awan panas dan uap air mengalir dari belaha bumi barat ( benua amerika menuju Indonesia, yang menyebabkan hujan. Saat El- Nino terjadi angin tersebut melemah, yang disebabkan oleh meningkatnya suhu permukaan laut ( udara)  yang semakin tinggi, dengan menybebabkan melemahnya tekanan udara , menyebabkan angin yang membawa awan ini idak sampai di Indonesia. Karena hal tersebut wilayah di Indonesia sebagian besar mengalami musim kemarau dan kering, yang lebih panjang dari biasanya.

Yang terjadi ketika El-Nino di Indonesia, seperti yang kita lihat saat ini kekeringan dimana-mana, sungai dan sumber mata air mengering, dan yang tahun 2026 ini terjadi kebakaran hutan dan lahan. Fenomena iklim global ini berkelindan dengan faktor-faktor lain, terutama sektor komoditas produksi yang terkait dengan tata kelola  lahan.  Kopi adalah salah satunya, Kegiatan kopi dan konservasi primata yang dilakukan untuk pelestarian Owa jawa, mencoba melihat fenomena El-Nino ini dalam skala kecil di sekitar habitat Owa di Pekalongan. Kopi robusta ( Coffea canephora) yang mendominasi habitat Owa di sekitar dusun-dusun, dan lahan Garapan warga di hutan, meskipun belum ada penelitian lebih lanjut terkait paparan el nino, tentu ada dampaknya. 

sungai sokokembang yang menyusut debit airnya di musim kemarau 2026

Saat ini, hutan habitat owa dimana sebagian besar kopi robusta di budidayakan, sedang mengalami paparan panas kemarau dari El-Nino. Dari pengamatan kami, beberapa tanaman kopi yang di tanam tanpa naungan, terlihat sangat layu, kering dan fase berbunga yang biasanya berwarna putih, bunga-bunga kopi ini warannya berubah menjadi merah muda, bahkan banyak di antaranya yang sudah kuncup namun langsung kering. Sungai-sungai yang pada musim kemarau normal, masih mengalirkan air, nampak kering, dan vegetasi di sekitarnya juga kering dan layu. Dari alat monitoring suhu yang di pasang di sokokembang di dalam ruangan menujukkan rata-rata 35 derajat, di luar bisa mencapai 37 derajat di puncak siang hari. Kelemban udara yang biasanya mencapai 80-90 % saat ini tercatat 35 %. 

tanaman kopi tanpa naungan di Sokokembang

Pengamatan visual dari udara menggunakan drone, nampak sekali kopi yang di tanam dan terpapar matahari langsung nampak menguning daunnya. Kondisi berbeda sangat terlihat dari visual drone, kopi-kopi di bawah naungan tegakan hutan alam, terlihat sangat hijau, dan masih segar. Kopi naungan hutan alam secara microclimate, menyediakan kanopi pelindung untuk paparan sinar matahari, struktur vegetasi yang berlapis dan komposisi jenis tanaman yang beranekargam, memberikan variasi perlindungan dari waktu kewaktu mulai matahari terbit hingga terbenam. Suhu udara juga tentunya lebih dingin dibanding di lahan yang tidak ada naungan. 

Meskipun penelitian tentang paparan El-nino secara langsung di habitat Owa dan kopi robusta ini belum dilakukan secara komprehensif, ada penelitian yang dapat digunakan sebagai referensi pembelajaran,  lebih lengkap melihat fenomena El-Nino terhadap Pertumbuhan dan Produktifitas kopi di Jawa Timur,  Penelitian ini bertjujuan, menguji dampak El Nino tahun 2015 terhadap iklim mikro, pertumbuhan dan produktifitas kopi robusta (klon Tugusari 6)di berbagai system agro-forestri di kawasan Gunung Gumitir, Banyuwangi Jawa Timur.. 

Pengaruh terhadap Iklim Mikro,  Fenomena El Niño menyebabkan penurunan curah hujan tahunan yang signifikan dari rata-rata 3.975 mm} menjadi 1.801 mm, serta memperpanjang musim kemarau. Kebun tanpa naungan mengalami kondisi ekstrem dengan suhu rata-rata tertinggi 32,05  derajat dan kelembapan terendah 57,66%. Kopi di bawah hutan alam memiliki suhu paling terjaga 26,33 derajat dan kelembapan tertinggi 85%.

Pengaruh terhadap Pertumbuhan dan Produktivitas, Intensitas cahaya yang lebih rendah pada sistem naungan menghasilkan karakter daun yang lebih lebar, ruas yang lebih panjang, dan kandungan klorofil yang lebih tinggi. Kopi yang ditanam di bawah hutan alam menghasilkan jumlah dompolan, jumlah buah per dompol, dan total buah per pohon paling banyak. Produktivitas kopi Robusta tertinggi selama El Niño dicapai pada sistem hutan alam (1.497kg/ha) dan sistem naungan Leucaena 1.355 kg/ha karena kemampuannya menjaga kelembapan tanah dan lingkungan.

Sumber :

Yuliasmara, F., 2017. El Nino effect on coffee growth and productivity on several agroforestry systems in Gumitir Mountain Coffee Farms, East Java, Indonesia. Pelita Perkebunan, 33(3), pp.168-179.