Showing posts with label hutan petungkriyono. Show all posts
Showing posts with label hutan petungkriyono. Show all posts

Friday, April 15, 2022

Solusi berkelanjutan, infrastruktur jaringan listrik ramah satwa, di Petungkriyono, Pekalongan

 UPDATE _15 April 2022

Oleh : Arif Setiawan

Rekrekan (Presbytis fredericae) dari hutan Petungkriyono

Pembangunan ekonomi dan infrastruktur yang cepat dalam tiga tahun terakhir membawa korban  tewasnya satwa-satwa asli Petungkriyono, termasuk primata-primata yang memang sudah teracam punah, tersengat listrik dari kabel listrik yang tidak berinsulasi ,yang masuk kedesa-desa di tengah hutan.

Petungkriyono adalah   kecamatan bagian dari Kabupaten Pekalongan sudah terkenal karena keberadaan hutan  dan satwaliarnya. Kawasan hutan dengan tipe hutan dataran rendah hingga penggunungan, merupakan yang tersisa saat ini di bagian tengah Pulau Jawa. Sudah seharusnya daerah ini menjadikan ini asset yang lestari , tidak semua daerah memiliki potensi seperti kecamatan Petungkriyono.

Dari 5 jenis primata Jawa dapat di temukan di Kawasan hutan di dua kecamatan ini, yaitu  Lutung jawa ( Trachypithecus auratus), Rekrekan ( Presbytis fredericae), Owa Jawa ( Hylobates moloch), Monyet ekor panjang ( Macaca fascicularis) dan Kukang jawa ( Nyctecebus javanicus). Kawasan hutan yang membentang dari ketinggian 200 meter di atas permukaan laut hingga hutan pegungungan dengan ketinggian 1900 meter, saat ini merupakan kantung hidupan liar endemik, tidak dijumpai di daerah  lain.

Jaringan listrik di antara kanopi hutan Petungkriyono

Pembangunan infrastruktur  terumata jaringan listrik sudah tentu di tunggu-tunggu oleh warga di sekitar hutan yang sudah sejak dahulu memang dalam posisi geografis yang kurang menguntungkan untuk mendapatakan aliran listrik dari pemerintah. Dua dusun yang paling merasakan dampak dari masuknya jaringan listrik ini adalah dusun Sokokembang dan Tinalum, yang sejak dahulu menggunakan listrik mandiri,  sejak tahun 2006 sudah ada tenaga surya yang digunakan masing-masing rumah, namun karena kondisi cuaca dan topografi khas pegunungan, panel-panel surya ini tidak dapat mengumpulkan energi matahari yang cukup, ditambah kemampuan aki untuk menyimpan juga semakin lama semakin singkat, sepertinya sudah tidak ada lagi yang menggunakan tenaga surya.

PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro), tahun 2009 pemerintah provinsi jawa tengah memberikan bantuan pembangkit listrik tenaga air untuk dua dusun tersebut, hingga tahun 2016, listrik tenaga air ini menggunakan turbin pembangkit yang ada di Sungai Welo, di dekat dusun Tinalum. Listrik ini juga melewati Kawasan hutan sepanjang dusun Tinalum dan Sokokembang, kabel yang di gunakan jaringan ini berinsulasi, kabel kawat yang di bungkus lapisan karet yang tidak membahayakan, meskipun melewati rimbunnya tajuk pohon tidak mebahayakan primata yang lewat disekitarnya. PLTMH ini berhenti total beroperasi  tidak menghasilkan listrik tahun 2017 akhir, karena kendala teknis dan lainsebagainya. Kemudian tahun 2019, bersamaan dengan masuknya jaringan listrik negara kedua dusun ini, Dusun Sokokembang mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk PLTMH, yang digunakan untuk di Dusun Sokokembang saja. Menjadi bermanfaat juga untuk warga 2 dusun ini, keberadaan jaringan listrik ini, dapat menggerakan kegiatan ekonomi khususnya konveksi dan usaha kopi yang menggunakan aliran listrik. Baca laporan disini tentang manfaat pembankit listrik tenaga air yang ada di Sokokembang : https://jateng.idntimes.com/news/jateng/dhana-kencana-1/peduli-konservasi-dari-pemanfaatan-energi-di-hutan-petungkriyono

Lutung Jawa  mati tersengat listrik di hutan Petungkriyono

Lintasan satwa primata, dilalui jaringan listrik terbuka bertegangan tinggi
 

Mulai masukknya jaringan listrik negara inilah, bencana untuk primata-primata ini mulai terjadi, mati tersengat, menggelantung di kabel listrik jaringan terbuka. Kami mencatat kematian-kematian primata karena tersengat listrik ini di tabel berikut , sejak jaringan listrik  masuk,  sejak tahun 2019 sudah ada 6 primata mati tersengat listrik, dari kabel yang tanpa isolasi tersebut. Laporan-laporan tentang matinya primata karena jaringan listrik ini dapat di baca di berita ini : https://radarpekalongan.co.id/119342/gegara-kesetrum-primata-langka-ini-mati/ hingga yang terbaru minggu ini ( 2 Agustus 2021) satu lagi primata mati, Rekrekan (Presbytis comata) yang juga dilindungi dan terancam punah statusnya. Dan catatan kami berdasarkan pengamatan di lapangan dan laporan warga ada di tabel berikut ini :

Tabel (data kematian primata di Petungkriyono karena tersengat listrik )

no

Bulan/Tahun

Jenis Primata

1

Juni/ 2019

Rekrekan  (Presbytis comata)

2

Desember/2019

Lutung Jawa (Trachypithecus auratus)

3

Januari/2020

Lutung Jawa ( Trachypithecus auratus)

4.

July/2020

Rekrekan (Presbytis comata)

5.

Oktober/2020

Owa jawa ( Hylobates moloch)

6.

Agustus/2021

Rekrekan ( Presbytis comata)

 

update
7.            21 September 2022                      Lutung Jawa ( Trachypithecus auratus)
8.            19 November 2022                        Lutung Jawa ( Trachypithecus auratus)
9.            6 Februari 2022                            Lutung Jawa ( Trachypithecus auratus)
10.          13 April 2022                                Rekrekan  ( Presbytis comata)

Berdasar laporan sebelumnya, PLN pada taggal 4 Februari 2022, kabel listrik sudah di ganti dengan kabel yang berisolasi, di segmen kalibedug-sokokembang, dan welo asri. Kejadian terakhir tanggal 14 April 2022, terjadi di segmen yang belum di ganti kabel berisolasi.


Rekrekan yang mati tanggal 13 April 2022


Solusi Pembangunan Infrastruktur Jaringan Listrik ramah hutan dan satwa.

Kasus-kasus seperti ini sudah banyak terjadi di negara-negara berkembang, di berbagai negara, dan merupakan bentuk fragmentasi habitat, yang menimbulkan ancaman serius untuk kepunahan satwa-satwa arboreal, seperti jenis-jenis primata.Jaringan listrik murah dipilih untuk  dapat menjakau jauh kedalam pelosok-pelosok wilayah dengan topografi yang sulit di jangkau. Konsekwensinya harus mengorbankan satwaliar, dan pertimbangan ekologis sepertinya juga belum menjadi hal yang penting untuk pembangunan.

1.       Menggunakan kabel berinsulasi

Tentu hal ini setidaknya menjadi pilihan yang ramah bagi hutan dan hidupan liar, karena salah satu bentuk fragmentasi habitat melalui jaringan listrik dan jalan ini menjadi penyebab dan mempercepat kepunahan. Tentu butuh investasi lebih untuk infrastruktur ini, namun harus di pertimbangkan di lokasi-lokasi yang mempunyai keanekargaman tinggi seperti di Petungkriyono.

Contoh yang di terapkan untuk melindungi Sloth di Amerika Selatan. https://slothconservation.org/what-we-do/power-line-insulation/

 2.       Mengoptimalka PLTMH, salah satu sumber listrik yang terbarukan dan layak disebut “clean energy” sudah terbukti sangat membantu warga dan ramah satwaliar, tidak ada korban satwaliar sejak masukknya di Sokokembang dan Tinalum, hanya saja butuh perawatan dan dukungan kapasitas kelembagaan pengelolaanya, 2 pembangkit yang ada sekarang tidak berjalan lagi karena masalah tersebut. Sebenarnya nilai penting sungai, hutan dan aliran airnya dapat dioptimalkan dari penggunaan yang berkelanjutan ini. Baca laporan tentang PLTMH ini akhir tahun lalu masih berfungsi optimal di Sokokembang ( https://jateng.idntimes.com/news/jateng/dhana-kencana-1/peduli-konservasi-dari-pemanfaatan-energi-di-hutan-petungkriyono

 3.       Membuat Jembatan Kanopi

Membuat jalur penyeberangan satawaliar yang melintas kabel-kabel listrik terbuka tanpa insulasi. Metode ini sudah terbukti berhasil diterapkan di habitat primata satwaliar terancam punah lainnya.  Beberapa lokasi  dengan kanopi yang masih rapat dapat dibuatkan jembatan artifisial untuk menghubungkan kanopi-kanopi pohon supaya satwa-satwa penhuni pohon ini dapat berjalan melitas. Cotoh yang sudah berhasil di amerika selatan  https://www.ballenatales.com/new-bridge-monkey-capuchin-community/

4.       Menggunakan kabel berselubung pelindung kontak satwaliar

 Kabel-kabel bertegangan listrik tinggi, yang berada di wilayah pergerakan satwliar di beri pelindung berbahan silicon, sehingga listrik tidak dapat merambatkan energinya. Contohnya ada si marketplace ini : https://indonesian.alibaba.com/product-detail/22kv-spiral-silicone-tubing-to-protect-energized-system-from-wildlife-contact-60820300752.html

 Kasus-kasus ini kemungkinan akan dapat terus terjadi lagi apabila tidak ada perhatian dari pihak-pihak terkait, wilayah-wilayah dengan keanekargaman tinggi sudah seharusnya mendapatkan prioritas pengelolaan untuk dapat mempertahankan dan menjaga nilai hidupan liar yang juga menjadi asset daerah. Pembangunan berwawasan konservasi dan berkelanjutan diharapkan dapat di terapkan sekaligus memperkuat nilai tambah untuk produk-produk yang dihasilkan dari daerah-daerah dengan keanekaragaman tinggi.

5. Membuat jaringan listrik dalam tanah

Membuat jaringan ini tentu sangat mahal dan perencanaan yang matang, sudah ada kajian tentang hal ini. Secara estetika tentu tidak mengganggu keindahan bentang lahan dan tidak menyebabkan satwa arboreal kesetrum. 

 

Daftar Pustaka :

Al-Razi, H., Maria, M. and Muzaffar, S.B., 2019. Mortality of primates due to roads and power lines in two forest patches in Bangladesh. Zoologia (Curitiba)36.

Katsis, L., Cunneyworth, P.M., Turner, K.M. and Presotto, A., 2018. Spatial patterns of primate electrocutions in Diani, Kenya. International journal of primatology39(4), pp.493-510.

Pereira, A.A., Dias, B., Castro, S.I., Landi, M.F., Melo, C.B., Wilson, T.M., Costa, G.R., Passos, P.H., Romano, A.P., Szabó, M.P. and Castro, M.B., 2020. Electrocutions in free-living black-tufted marmosets (Callithrix penicillata) in anthropogenic environments in the Federal District and surrounding areas, Brazil. Primates61(2), pp.321-329.

Dittus, W.P., 2020. Shields on Electric Posts Prevent Primate Deaths: A Case Study at Polonnaruwa, Sri Lanka. Folia Primatologica91(6), pp.643-653





Monday, May 20, 2019

Hutan dan Lebah : Tabungan ekologi yang melimpah


Kebun koloni di Sokokembang

  •  Tahun 2017, Swaraowa memperkenalkan budidaya lebah, untuk mendukung kegiatan konservasi Owa Jawa di Kab.Pekalongan, Jawa Tengah
  •  Budidaya lebah,  membutuhkan investasi lahan yang minim, karena bisa di kombinasikan dengan kegiatan kehutanan atau pertanian lainnya.
  •  Lebah dapat sebagai sumber pendapatan berkelanjutan, berperan penting untuk regenerasi hutan dan produksi tanaman pangan.
  • Hutan menyediakan sumber nectar dan pollen yang melimpah dan beragam, makanan utama lebah.
Budidaya lebah madu, sering di masukkan dalam bidan kategori Agriculture, sebenarnya lebih kegiatan ini adalah masuk dalam industri kehutanan, namun budidaya lebah madu sendiri biasanya tidak dilakukan itensif di hutan itu sendiri, Entah kenapa ya?

Budidaya tradisional, untuk memelihara lebah madu biasanya sudah di kenal oleh warga sekitar hutan. Misalnya, Glodogan  istilah kotak lebah dari kayu log yang di lubangi tengahnya atau menggunakan pakis kayu ( Cyathea contaminans)  sudah sejak lama digunakan untuk memelihara lebah, mengkonsumsi madu bahkan telur atau larva lebah kadang juga menjadi sajian kuliner khas.

Mungkin berburu madu lebih cepat menghasilkan dibanding proses lama dalam mengembangkan atau membudidayakan lebah ini. Penghasil nectar dan serbuk sari yang paling berharga adalah pohon hutan, dan  semak, belukar,herba dari hutan yang alami. Dengan demikian hutan adalah sangat penting untuk sumber makanan lebah, kemungkinan untuk mengembangkan industri “beekeeping” tentu memiliki potensi lebih dibanding dengan daerah yang tidak mempunyai hutan alami.

hutan yang dekat pemukiman, sumber potensial makanan lebah

Kebutuhan lahan untuk mengembangkan budidaya lebah di hutan atau sekitar hutan bisa dikatakan minim, karena budidaya ini dapat dikombinasikan dengan kegiatan kehutanan atau pertanian pada umumnya. Hutan menyediakan nectar, dan polen sebagai makanan utama lebah, tidak seperti peternakan lainnya, lebah dapat pergi pulang sendiri mencari makan, menyimpannya sebagai cadangan makanan dalam bentuk madu dan juga lilin lebah. Peran penting dari kunjungan lebah-lebah ke bunga adalah polinasi ,mengawinkan tanaman, produksi buah, regenerasi hutan,  tanaman pangan, ada korelasi positif dengan adanya serangga pollinator, terutama jenis-jenis lebah.


Lebah klanceng menyerbuki tanaman pertanian (labu siam)

Klanceng Gagak (Heterotrigona itama)


Klanceng di bunga Dillenia sp, pohon yang alami tumbuh di hutan 


Dua tahun sudah, swaraowa mencoba menginisiasi budidaya lebah ini di habitat Owa Jawa, dikabupaten Pekalongan . Sebagai bagian kegiatan pelestarian hutan habitat primata terancam punah, kegiatan beekeeping masih menjadi sekutu kecil untuk menopang keberlanjutan konservasi Owa jawa. Namun demikian pengalaman berbeda dari kegiatan perlebahaan ini, koloni-koloni domestikasi dari koloni liar kini mulai menampakkan hasilnya, setidaknya ada 20 koloni yang terus di pantau di Sokokembang,di markas kopi owa, 17 koloni di dusun Mendolo. Kegagalan adalah pengalaman yang sangat berharga, pengalaman dengan lebah terutama dari jenis-jenis tanpa sengat, Klanceng setidaknya memberi harapan akan keberlanjutan inisiasi pelestarian Owa Jawa. Meskipun sudah banyak tempat melakukan budidaya lebah klanceng, dengan sepecies yang berbeda dan habitat yang berbeda, tentusaya praktek dan pengetahuan juga berbeda dan hal ini masih menjadi pekerjaan di waktu-waktu mendatang untuk setidaknya mencatat dan menganalisis permasalahan yang terjadi.

Melihat lebih jauh produk-produk turunan dari budidaya lebah ini, mungkin juga bisa menjadi strategi pemasaran dari kegiatan budidaya lebah. Meskipun trend konsumsi madu cenderung menunjukkan kenaikan, namun belum ada upaya serius untuk pihak-pihak terkait dikawasan ini mempopulerkan lebah madu sebagai bagian dari industri kehutanan dan pertanian yang berkelanjutan.
Koloni yang berhasil  dibudidayakan

Madu multifloral dari hutan, beragam karakter, rasa dan warna
Replikasi kepada warga sekitar hutan dan juga generasi muda menjadi tantang tersendiri untuk mengarus utamakan pengetahuan tentang lebah, peran pentingnya utuk ketahanan pangan dan peran lebah dalam ekosistem hutan. Penelitian terapan dan pendampingan peternak lebah diperlukan secara menyeluruh dan intensif untuk mengembangkan kegiatan perlebahan yang sudah berjalan saat ini.  Promosi tentang usaha budidaya lebah harus terus dilakukan, penguatan kelembangan dan kapasitas peternak lebah, akses  terhadap informasi, modal, pasar dan teknologi masih menjadi pekerjaan kedepan.

Daftar pustaka :

Kahono, S., Chantawannakul, P. and Engel, M.S., 2018. Social bees and the current status of beekeeping in Indonesia. In Asian Beekeeping in the 21st Century (pp. 287-306). Springer, Singapore.

Crane, E., 1999. The world history of beekeeping and honey hunting. Routledge.

Monday, April 29, 2019

Sanca membunuh monyet, ditepi jalan menuju hutan Petungkriyono

  • Jenis primata yang mati adalah Monyet Ekor Panjang, Macaca fascicularis ( jantan), kelas umur dewasa.
  • Penyebab kematian monyet, karena berkonflik dengan  ular sanca (Phyton reticulatus)
  • Lokasi,  Ds. Kroyakan, Mesoyi, Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan
  • Jalan raya Doro-Petungkriyono, yang melewati hutan adalah pusat keanekaragaman hayati, pengguna yang lewat jalan ini sudah seharusnya menghormati dan menghargai keberadaan satwaliar.

Beberapa hari terakhir ini habitat owa jawa di kabupaten pekalongan, ramai memperbincangkan tentang temuan primata yang mati di pinggir jalan. Kematian primata ini sempat menjadi ramai di sosial media yang,karena diduga kematian monyet ini mati karena di tembak. Padahal sudah jelas sekali bahwa berburu apalagi menembak satwaliar di habitat hutan yang dilindungi adalah dilarang undang-undang meskipun satwanya tidak masuk dalam kategori dilindungi baca disini : http://ksdae.menlhk.go.id/jenis-tsl-dilindungi.html dan baca disini : https://www.profauna.net/id/regulasi/uu-5-1990-tentang-konservasi-sumber-daya-alam-hayati-dan-ekosistemnya

Penggunaan senapan angin juga sudah di atur undang-undang, tidak perbolehkan untuk perburuan satwaliar illegal, karena termasuk dalam kategori kejahatan kehutanan. Baca : https://www.mongabay.co.id/2018/04/02/respon-penembakan-satwa-dilindungi-perbakin-keluarkan-surat-edaran-pengaturan-penggunaan-senapan-angin/

Swaraowa mencoba membuat kronologis kejadian ini monyet yang mati di pinggir jalan tersebut.

Jumat, 26 April 2019. 

Jam 18.04 salah satu anggota swaraowa yang berada di dusun Sokokembang, mendapat laporan tentang adanya primata yang mati di tepi jalan. Laporan ini di kirimkan oleh salah satu “ komunitas goweser pekalongan ”  yang baru saja lewat di jalan itu, jam 3 sore.  Laporan ini kemudian langsung ditelusuri, dengan menanyakan beberapa warga ds. Sokokembang  yang kebetulan baru saja  lewat di jalan utama ke kecamatan petungkriyono, dari warga di dapatkan informasi memang benar melihatnya. 

Jam 18.30, bersama salah satu warga dusun Sokembang mencari ke  lokasi dimana di laporkan, 

Jam 18.46 ditemukan bangkai primata dan kemudian dilakukan identifikasi adalah jenis monyet ekor panjang ( Macaca fascicularis), berkelamin jantan (dewasa). 

Indentifikasi menemukan bahwa monyet ini terdapat luka di bagian dada, dan ada juga yang dipuggung. Karena pencahayaan kurang memadai pengamatan terhadap bangkai ini akan di lanjutkan esok pagi, ketika sudah terang.  Untuk menghindari hilangnya bangkai dimakan binatang lain, kami mengubur bankgai primata ini dalam tanah.

Foto-foto terlampir ( yang di ambil pada malam hari).
monyet yang ditemukan mati

Jam 22.30, mengirimkan  laporan singkat ke BKSDA  resort Pemalang. 

Sabtu ,27 April 2019

Jam 10.15 anggota swaraowa menuju tempat di temukannya monyet ekorpanjang yang mati, tersebut untuk melihat bekas-bekas yang di tinggalkan oleh monyet ini dan kelompoknya.   Terlihat bekas longsoran dari bagian tebing, seperti bekas di lalui oleh satwa.

Kemudian, menanyakan perihal monyet ini di Ibu ( Parti 35 th) yang punya warung di atas monyet ini di temukan, menurut ibu tersebut,  kami menanyakan, “bagaimanabu apa serangan monyet disini semakin parah? Ibu itu menjawab “tidak, biasa saja”. Terus kami tanyakan apakah melihat ada monyet yang mati di sekitar sini? Ibu itu menjawab tidak tahu.
Kemudian, kami menyusuri dusun kroyakan, yang berbatasan dengan hutan pinus dan hutan lindung ini, menanyakan ada kepada warga bahwa serangan monyet memang ada, memakan buah pisang, dan durian. 

Selanjutnya, kami singgah di warung depan tugu petungkriyono natural heritage, Ibu ( Mulyati 60 th) mengatakan kami menanyakan apakah liat monyet yang mati di sekitar sini ? Ibu yang sehari-hari berjualan ini menceritakan  bahwa kemaren sekitar jam 1 ada monyet di makan oleh ular, katanya ular itu membelit monyet dan kemudian kelompok monyet yang lain menyerang menggit ular tersebut, terdengar ramai sekali karena kelompok monyet yang di atas bersuara semua., kejadian ini sempat di rekam oleh warga  dari dusun mesoyi yang bernama Gianto, yang kebetulan berada di tempat tersebut.

Jam 11.56. 2 orang anggota swaraowa melakukan otopsi lagi, menggali tempat kami mengubur dan mengangkat bangkai monyet yang di temukan pada malam sebelumnya, dilakukan cek lagi terhadap luka-lukanya, yang di bagian punggung juga terdapat dua lubang berjarak sekitar 4 cm yang satu besar yang satu lebih kecil ukurannya, demikian juga yang ada di bagian dada, ada dua lubang juga yang satu lebih lebar diameternya dan yang satunya lebih keci.jarak sekitar  4 cm antar lubang.

Jam 13.20, BKSDA Jawa Tengah yang di wakili Bapak Slamet Mahlul dari resort Pemalang tiba di Sokokembang, kami langsung melihat kembali tempat kejadian dan menanyakan tentang kejadian monyet ekor panjang yang mati ini, Kami bertemu ibu Mulyati lagi  yang berjualan di dekat lokasi, dan kebetulan yang kemaren di ceritakan ada yang merekam video ada di tempat itu,  ada Bapak Eko (36 thn) penjual baso yang menyaksikan sendiri kejadian dan mendapat rekaman video dari teman nya yang ada di lokasi tersebut.

Jam 16.11, menerima kiriman video peristiwa  dari Jagawana Perhutani KPH Pekalongan Timur, dan seperti terlihat, seekor ular sanca (Phyton reticulatus) yang membelit seekor monyet, berada di tengah jalan, dan monyet terlihat tidak berdaya kemudian di tinggal oleh ular sanca. 

28 April 2019, mendapatkan kiriman video dari warga dusun Mesoyi yang melihat langsung kejadian ini.



*********************************************************************************


Monyet yang sendang makan di tepi jalan

Macaca fascicularis , Monyet ekor panjang 

Monyet ekor panjang , adalah jenis primata yang dapat hidup di berbagai tipe habitat, hutan, tepi hutan, kebun, ladang, bahkan perkotaan 1. Hidup berkelompok dengan banyak jantan dan banyak betina, dengan jantan dewasa ada yang dominan terhadap anggota kelompok lainnya.  Jenis primata ini dapat mudah sekali beradaptasi di habitat manusia misalnya tepi jalan, tepi hutan, dan tempat-tempat wisata yang tidak mengelola sampah dan tidak dikelola dengan bijaksana.  Keberadaanya di hutan lindung pekalongan dilindungi undang-undang karena berada di kawasan lindung.
Bacaan lanjutan tentang monyet ekor panjang : https://www.ecologyasia.com/verts/mammals/long-tailed_macaque.htm

Phyton reticulatus, Ular  Sanca

Jenis ular yang sangat mudah beradaptasi di berbagai tipe habitat, dapat di jumpai di hutan dataran rendah hingga pegunungan, di pemukiman, ladang, perkebunan, areal pertanian, sawah, dan rawa bakau dekat pantai. Menurut laporan ukuran terbesar dari ular ini yang pernah di temukan adalah 10.2 meter,tercatat sebagai ular terpanjang di dunia. Mangsa ular ini adalah mamalia kecil hingga ukuran sedang seperti babi hutan, dan rusa 2. Dilaporkan juga ular ini memangsa manusia di Sulawesi  (https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-44519734). 


Kawasan hutan  yang dilalui jalan utama dari kecataman Doro ke kecamatan Petungkriyono ini saat ini menjadi kawasan yang mendapat tekanan aktifitas manusia cukup tinggi, maraknya kegiatan wisata alam di kawasan ini membuat kawasan ini banyak di kunjungi, lalulintas pengunjung satu-satunya jalan yang mudah dilewati adalah jalan Doro-Petungkriyono ini, padalah jalan ini juga menjadi pusat keanekaragaman hayati. Perilaku pengunjung atau siapapun yang menggunakan jalan ini sudah selayaknya mendapat perhatian untuk lebih ramah terhadap satwa yang berhabitat di hutan sepanjang jalan ini.

Jenis monyet ekor panjang, adalah jenis yang mudah sekali menyesuaikan perubahan habitat, perubahan perilaku juga bisa terjadi karena berubahnya sumber pakan. Aktifitas manusia yang kadang memberi makan ,meninggalkan sampah bungkus makanan, menyebabkan pola sebaran monyet ini berada juga di pusat aktifitas manusia, oleh karena itu dilarang memberi makan, mengganggu monyet ini untuk menghindari perubahan perilaku dan agresifitas monyet. 

Ular sanca tentu saja juga mengikuti pergerakan mangsanya, kawasan hutan di kroyakan yang menjadi habitat mangsa ular sanca, menjadi areal perburuan bagi Sanca, termasuk juga hingga jalan raya, yang menjadi lalulintas aktifitas manusia.  Bukan tidak mungkin satwa-satwa yang melintas jalan ini bisa juga tertabrak kendaraan yang lewat ataupun sebaliknya, kita bisa terluka karena tidak siap melihat keberadaan  satwa-satwa liar dekat dengan kita. 

Mengatur perilaku manusia yang lewat jalan hutan dari Doro-Petungkriyono sudah selayaknya harus dibuat berbeda dengan jalan pada umumnya untuk menghargai kekayaan keanekargaman hayati yang di miliki Kabupaten Pekalongan.


Daftar pustaka :
1. Eudey, A.A., 2008. The crab-eating macaque (Macaca fascicularis): widespread and rapidly declining. Primate conservation, 23(1), pp.129-133.
2. Reynolds, R. G., Niemiller, M. L., & Revell, L. J. ,2014. Toward a Tree-of-Life for the boas and pythons: Multilocus species-level phylogeny with unprecedented taxon sampling. Molecular phylogenetics and evolution, 71, 201-213.