Showing posts with label kopi dan konservasi. Show all posts
Showing posts with label kopi dan konservasi. Show all posts

Friday, April 3, 2026

Pemetaan Potensi Kopi untuk Inklusivitas Habitat Owa Jawa

 

Owajawa ( Hylobates moloch) di temukan di habitat kopi naungan hutan alam /rustic shade grown coffee

Oleh : Sidiq Harjanto & Muhammad Kuswoto

Kopi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap habitat Owa Jawa di Hutan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan. Ada irisan kepentingan yang nyata antara kebutuhan ekonomi masyarakat dengan keutuhan hutan sebagai habitat berbagai satwa liar, termasuk primata endemik yang terancam punah ini. Belum lagi sederet fungsi hutan seperti penjaga siklus air dan pengikat tanah–pencegah longsor. Melanjutkan upaya untuk menemukan titik keseimbangan berbagai kepentingan itu, pada tahun ini kami memulai perluasan skema pengembangan kopi naungan (shade-grown coffee).

Selama satu bulan terakhir, kami telah melaksanakan pendataan terhadap komunitas petani kopi. Survei ini dilakukan ke sepuluh lokasi, meliputi enam desa dekat hutan di tiga kecamatan yang merupakan penyangga habitat Owa Jawa di Hutan Petungkriyono. Pendataan ini melintasi gradien ekologi maupun sosio-ekonomi yang kontras, mulai dari dataran yang relatif rendah–kurang lebih 300 mdpl, hingga dataran tinggi di atas 1.500 mdpl, mulai dari masyarakat petani hutan hingga masyarakat petani sayur–peladang intensif.

Pendataan ini tidak hanya memotret aspek pembudidayaan kopi, tetapi juga mencoba menyelami karakteristik masyarakat yang beranekaragam, mulai dari pola interaksi sosial hingga relasi mereka terhadap sumber daya hutan secara umum. Metode pendataan dilakukan dengan wawancara untuk melihat beberapa aspek: model pengelolaan kebun kopi yang dijalankan, potensi komoditas selain kopi, hingga aktivitas lain yang dilakukan di hutan. Sedangkan untuk mendapatkan gambaran langsung mengenai praktik budidaya kopi, kami melakukan peninjauan langsung ke kebun-kebun kopi yang dikelola masyarakat.

rustic shade-grown coffee /kopi naungan hutan alam 

Spektrum agroforestri kopi

Ada beberapa catatan menarik yang kami rangkum. Dari sisi produksi kopi, karena variasi ketinggian (altitude) yang cukup ekstrem, lokasi-lokasi penghasil kopi memiliki profil spesifik. Tujuh lokasi merupakan penghasil kopi robusta, sedangkan tiga lokasi lainnya dominan menghasilkan kopi arabika. Jenis kopi excelsa dan liberika juga dijumpai, namun kuantitasnya relatif kecil.

Kami menemukan ada tiga spektrum utama dalam pola pembudidayaan kopi di sekitar habitat Owa Jawa, dan sebagai penyederhanaan kami menyebutnya: kebun campur, agroforest sederhana, dan naungan hutan. Pada dasarnya, semua tipe merupakan bentuk agroforestri, tetapi berbeda dalam struktur penyusun dan kompleksitasnya. Pertama, yang dimaksud kebun campur adalah pembudidayaan kopi yang relatif intensif (dengan penyambungan batang, pemangkasan, dan kadang pemupukan) dikombinasi dengan jenis-jenis tanaman komoditi seperti cengkih, durian, alpukat, hingga pisang. Umumnya, praktik ini dilakukan di kebun milik atau di lahan hutan yang mudah diakses.

Burung paruh kodok, ditemukan di habitat kopi naungan rustic

Kedua, agroforest sederhana adalah saat tanaman kopi dikombinasikan dengan tanaman pangan seperti sayur-mayur atau jagung. Praktik ini jamak dilakukan di dataran tinggi dengan komoditas kopi dari jenis arabika. Kopi ditanam sebagai tanaman pembatas kebun atau tanaman sela pada ladang-ladang sayur ataupun tanaman jagung. Terkadang dijumpai pula pohon-pohon penaung, baik jenis liar maupun komersil sehingga menyerupai kebun campur. Meskipun demikian, perawatan kopi yang intensif jarang dijumpai pada tipe ini.

Ketiga, tipe naungan hutan (rustic shade) merupakan pembudidayaan kopi yang berada dalam kawasan hutan dan tumbuh di bawah naungan pohon-pohon hutan. Dalam praktik ini, perlakuan atau perawatan terhadap tanaman-tanaman kopi sangat minim, tanaman kopi umumnya tumbuh tinggi karena berlomba mendapatkan paparan cahaya matahari dengan pepohonan hutan. Pada tipe ini, kopi adalah bagian dari strata hutan itu sendiri. Tipe inilah yang paling ramah terhadap keberadaan satwa liar, termasuk Owa Jawa. Kami menjumpai beberapa praktik baik dalam pengelolaan kopi naungan hutan, misalnya: konservasi spesies pohon tertentu sebagai penaung, seperti pohon bendo (Artocarpus elasticus).

Aktivitas ekstraktif di desa-desa penghasil kopi


Kopi robusta kebun campur

Selain menggali potensi kopi dari desa-ke desa, kami juga menelusuri informasi mengenai aktivitas masyarakat yang berkaitan dengan hutan. Kami menjumpai masih adanya ruang aktivitas ekstraktif, termasuk perburuan satwa liar. Masalah perburuan ini melibatkan berbagai faktor yang berkelindan.

Kami mengidentifikasi tiga tipologi utama dalam aktivitas perburuan berdasarkan motivasi. Pertama, motif ekonomi: sebagian warga melakukan perburuan sebagai strategi bertahan hidup untuk menutupi celah pendapatan dari sektor utama terutama pertanian yang belum optimal. Umumnya menarget spesies burung kicauan yang punya nilai ekonomi. Kedua, motif rekreasi: sebagian lainnya melihat aktivitas ini sebagai hobi, pengisi waktu luang, atau pemuasan kegemaran yang telah mengakar dalam keseharian. Ketiga, motif pengendalian hama: sebagian masyarakat menganggap aktivitas perburuan sebagai upaya untuk mengendalikan populasi hewan-hewan yang dianggap hama bagi pertanian, misalnya babi hutan.

Kami mencoba memahami ketiga dimensi ini secara netral agar bisa menawarkan upaya intervensi yang tidak konfrontatif, melainkan substitusi nilai yang lebih berkelanjutan. Pendataan ini merupakan inisiasi untuk program peningkatan kapasitas petani dalam pengolahan kopi sekaligus untuk upaya konservasi, terutama bagi mereka yang memiliki aktivitas sampingan pemburu satwa liar. Skema ini bermaksud memperluas dampak dari Coffee and Primates Project yang telah melahirkan Owa Coffee lebih dari satu dekade lalu.

Titik nol baru kopi penjaga owa

 
Kopi arabica di tanam di tepi lahan kebun sayur

Sebagai tindak lanjut, kami akan berkolaborasi dengan 25 petani yang akan menjadi pionir dalam program peningkatan kapasitas selama kurang lebih satu tahun ke depan. Fokus utama kami adalah membangun komitmen jangka panjang untuk mengalihkan energi dan sumber daya mereka dari aktivitas berburu ke pengelolaan Kopi Naungan (shade-grown coffee). Upaya ini diarahkan untuk meningkatkan ekonomi keluarga petani melalui kopi berbasis agroforestry, sekaligus mengurangi aktivitas berburu di Hutan Petungkriyono.

Tentu tidak ada resep tunggal untuk mengurai problematika tersebut, tetapi ada beberapa tawaran untuk itu. Strategi Resiliensi Ekonomi: meningkatkan nilai tambah produk melalui perbaikan pasca-panen dan diversifikasi tanaman dalam lahan kopi (multi-komoditi). Targetnya adalah memastikan pendapatan dari kopi naungan lebih stabil dan menguntungkan ketimbang aktivitas ekstraktif di hutan. Petani didorong untuk tidak hanya menggantungkan nasib pada kopi sebagai komoditas tunggal, tetapi mengombinasikan dengan berbagai komoditas lain.

Strategi Prestise dan Keterampilan: mengalihkan aspek "tantangan" dan "kesenangan". Dari aktivitas berburu yang menantang ke iklim kompetitif lain yang produktif, misalnya kualitas kopi (specialty coffee). Kesenangan untuk mengeksplorasi hutan juga membawa peluang untuk melibatkan para petani dalam pendataan dan pemantauan kehati secara partisipatif dalam bingkai citizen science. Kontribusi kawan-kawan petani muda di Desa Mendolo dalam skema ini telah membuktikannya.

Tak bisa dimungkiri bahwa konflik satwa liar seringkali merupakan puncak gunung es dari permasalahan yang lebih besar dan kompleks. Munculnya gangguan pada tanaman budidaya oleh satwa liar bisa jadi disebabkan gangguan pada keseimbangan ekosistem: akibat hilangnya peran predator, misalnya. Strategi Literasi Ekologi (ekoliterasi): diterapkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat petani terhadap pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem demi keberlanjutan pertanian kita.

Bisa dibilang, pendataan ini menjadi titik nol baru bagi perjalanan panjang ke depan, di mana upaya gotong royong kita untuk kesejahteraan petani dan kelestarian habitat Owa Jawa tumbuh secara beriringan dalam satu lanskap produktif yang inklusif. Mengarusutamakan kopi naungan bukan saja menjaga resiliensi ekonomi masyarakat petani, tetapi juga menjaga koneksivitas habitat–prasyarat mutlak bagi kelestarian satwa liar. Artinya, prinsip inklusivitas berlaku tidak saja kepada sesama manusia, namun diperluas: termasuk memberi ruang kepada satwa liar. Kami ucapkan terima kasih kepada Air Asia Foundation atas dukungan terhadap program ini.

Saturday, June 19, 2021

Primate Survey Method Training Program : Building capacity for young primatologist

 written by Arif Setiawan, translated by TT Chan



The Primate Survey Methods Training Programme was held for the eighth time in May 2021, after having been delayed by the coronavirus pandemic. As in previous years, this was a collaboration with the Primate Study Group of Gadjah Mada University’s Faculty of Forestry. The Primate Survey Methods Training Programme, which we will refer to as PTP for short, aims to revitalise primate research, introduce basic primate survey techniques and create a network of primate conservation activists, all with a special focus on gibbon conservation.

The first PTP was held in 2013, with the initial goal of increasing the number of researchers and conservationists in Central Java. Between 2013 and 2019, 146 participants successfully completed the programme (see Table 1). Today, these PTP alumni are spread across different regions. Several of them are currently pursuing careers in primate and gibbon-related fields. They have started primate conservation projects encompassing tracts of gibbon habitat which had previously not been protected.

The training given in the PTP focusses primarily on a method of estimating the population  density of Javan gibbons using triangulation sistem, line transects and vocal counts. The programme usually lasts three days, with one day for classes and two for field practice. All editions of the PTP so far have taken place in Sokokembang hamlet (Kayupuring Village, Petungkriyono District).

Training sessions are complemented by presentations by guest speakers, who share their experience doing research or primate conservation. Among the speakers invited during previous rounds of the PTP is Dr Bosco Chan (Kadoorie Farm and Botanic Garden, Hong Kong), who has done fieldwork on the Hainan gibbon – the rarest in the world – and visited in 2018. We  also invited researcher Dwi Yandhi Febrianti, who works on the Celebes crested macaque (Macaca nigra) in North Sulawesi. In 2017 we have invited Dr. Andie Ang, raffle’s banded langur working group and Indonesian javan gibbon researcher, Rahayu Oktaviani as guest lecturer. We hope that the experiences of our invited researchers will inspire participants to embark on careers involving researching or conserving primates in Indonesia.

The PTP this year has had to be modified a little due to the pandemic. In addition to reducing the number of participants, we added a webinar before the main event at Sokokembang. This webinar, held on 22 May 2021, gave our guest speakers the opportunity to remotely address our 60 participants on various issues, which would normally have been presented live. Our first speaker, Dr Joe Smith, works as director of the animal programme at Fort Wayne Children’s Zoo. He talked about some activities at the zoo that contributed to ex-situ conservation initiatives and the role of Fort Wayne Children’s Zoo in gibbon conservation in particular. Our second guest speaker was Nur Aoliya, a primate researcher from Bogor Agricultural University (IPB) who is researching the bioacoustics of Javan gibbons in the Dieng Mountains. For those of you who did not have time to attend this webinar, you can watch the recording on YouTube.

 

 After the webinar, the PTP commenced in the Sokokembang forest, with 15 participants who had previously been selected based on a letter of motivation and their involvement in past and future projects relating to gibbons or other primates. In addition to those selected, there were three invited participants at this year’s PTP from Siberut. They represent a project on the Dwarf siamang, endemic to the Mentawai Islands in West Sumatra.

This year’s PTP focused on training participants in the vocal count triangulation method, which we had two days to try out in the Sokokembang Forest. This is a method commonly used to survey gibbon populations. Nur Aoliya, the gibbon researcher from IPB we mentioned above, was in charge of introducing participants to the vocal count method. She had previously also received SwaraOwa’s Kopi Owa scholarship.



On our first day in the field, we selected sites called listening point from where we intended to listen out for gibbon calls the next day.  We also did primate watching tours on the forest road that have been used regular monitoring. Its easy to spot all primates species that have been habituated to humans. In choosing our sites, we took into account how well we could hear forest sounds at each place and the topography of the Sokokembang Forest. In total, we settled on three listening points spaced around 500 m apart. On the same day, we also gave participants a feel of the primate diversity in Sokokembang, teaching them how to identify the different species and quickly estimate the number of individuals in each group they come across.

On the second day, we did a vocal count using the three listening points we had chosen the day before. Based on the loudness and direction of the calls, we estimated the positions of the gibbons. Each of the three sites was manned by one team of participants from 6.30 to 11.00am. All gibbon calls were recorded on specially prepared observation sheets. The data from each observation point was later analyzed to estimate gibbon abundance in the area covered. The advantage of using three listening points (triangulation) was that we could more accurately determine where each gibbon was calling from.

Over the three days of the programme, our participants managed to record the highest number of direct encounters (during priamate watching trip)  with primates in the Sokokembang Forest so far compared to previous years: 30 individuals belonging to four species (Javan gibbon, Javan surili, Javan lutung and Long-tailed macaque). Towards the end of the programme, each team also presented the observational data they collected from the vocal count and an analysis of gibbon density.

We hope that the PTP 2021 has given all participants a good assortment of experiences in the field and a basic understanding of the methods used in gibbon surveys, as well as reached out to those in the younger generation interested in primate research, especially that relating to gibbons.

The Primate Survey Methods Training Programme 2021 was made possible by support from Mandai Nature, Wildlife Reserves Singapore, Fort Wayne Children’s Zoo and Ostrava Zoo. Our thanks are also due to Perhutani Pekalongan Timur and the Kayupuring Village Government, Petungkriyono District, Pekalongan Regency.

Sunday, March 7, 2021

Penyelamatan Hulu Sungai Kupang, Aksi konservasi Forum Kolaborasi Pengelolaan Hutan Petungkriyono

 oleh : Arif Setiawan @swaraowa

Dusun Lindon, desa Tlogohendro, menjadi lokasi yang menjembatani komunikasi antar pihak dalam wadah forum komunikasi pengelolaan hutan petungkriyono, untuk bertemu dan memulai  aksi bersama di lapangan. Kegiatan lapangan ini menjadi yang pertama kali sejak surat keputusan di keluaran oleh Gubernur jawa tengah, untuk forum kolaborasi pengelolaan hutan Petungkriyono.



Acara yang di inisiasi oleh Perhutani KPH Pekalongan Timur,  Cabang Dinas Kehutanan 4, Jawa Tengah dan SwaraOWA, telah berhasil mengundang  dan mempertemukan pihak-pihak terkait yang peduli akan pembangunan dan kelestarian hutan Petungkriyono.

Untuk sampai ke dusun Lindon, niat saja tidak cukup, namun perlu upaya yang tidak biasa-biasa saja, karena geografis yang bergunung, dan jalan berliku yang kanan-kirinya jurang dan tebing batu. Menjadi semangat  semua perserta yang  belum pernah berkunjung ke desa di pelosok pegunungan Kabupaten Pekalongan.






Acara penanaman pohon di hulu sungai Kupang,  mempertemukan anggota forum dan warga desa Tlogohendro, setidaknya untuk mengenalkan personal dan juga selanjutnya dapat  mengkomunikasikan kebijakan masing-masing Lembaga dalam mensinergikan tata Kelola  hutan yang menjadi habitat Owa Jawa, dan satwa-satwa endemik Jawa lainnya.  


Acara penanaman pohon hari kamis tanggal 4 Maret 2021 di hadiri oleh setidaknya 120 orang, yang Sebagian besar adalah warga desa Tlogohendro, dan tamu undangan dari anggota forum kolaborasi pengelolaan hutan Petungkriyono. Dibuka oleh Bapak Kaslam, selaku kepala Desa Tlogohendro, membuka dengan mengajak warga Tlogohendro khususnya untuk terus menjaga alam, karena alam juga sudah memberikan manfaatnya untuk kita sehari-hari,sperti udara bersih, menjaga dari bencana, dan tidak menebang  pohon-pohon yang ada di hutan. “Kegiatan seperti ini harusnya dapat di teruskan atau dapat di lakukan secara berkelanjutan, agar hutan juga terus lestari dan aman”, harapan pak Kaslam.

Bapak Sugiharto, dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah memberi sambutan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi momentum untuk melestarikan fungsi penting DAS Kupang, mengajak warga sekitar  menjadi bagian penting dalam menjaga Kawasan penting di Petungkriyono.  Jenis-jenis yang di tanam dan dibagikan ke warga di Tlogohendro kuranglebih 1250 batang, terdiri dari Bambu petung, dan Aren, yang secara ekologis penting untuk pelestarian tanah dan air, namun juga dari sisi ekonomi sangat berarti bagi warga Petungkriyono. Jenis yang lain adalah tanman buah Nangka, Sirsak, dan Petai dan Jengkol.




Pemilihan jenis pohon yang di tanam sudah melalui survey awal terhadap lokasi tanam, berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut, kondisi tegakan yang masih hidup,  keinginan warga dan fungsi ekologis tanaman itu sendiri. Bambu Petung ( Dendrocalamus asper) merupakan tanaman pencegah longsor yang baik, Bambu petung ini biasanya tumbuh di tepi-tepi sungai kecil yang berkontur curam. Bambu petung juga merupakan komoditas bahan pangan yang memanfaatkan rebungnya. Untuk bahan konstruksi dan kebutuhan penanaman sayuran ( ajir), juga sudah banyak di manfaatkan oleh petani-petani di bagian atas Petungkriyono, khususnya Tlogohendro.


Nangka ( Arthocarpus heterophyllus), merupakan komoditas bahan pangan yang utama untuk di Pekalongan, karena nasi megono , kuliner khas Pekalongan ini menggunakan Nangka muda sebagai bahan bakunya, meskipun belum ada data mengenai kebutuhan Nangka untuk megono, namun produsen Nangka untuk megono ini salah satunya berasal dari Kecamatan Petungkriyono. Jenis-jenis tanaman buah yang di tanam juga merupakan komoditas tanaman pangan sekaligus untuk fungsi ekologis tutupan hutan dan perbaikan habitat satwaliar.

Kopi Arabica Jawa, varian typica dan pohon Aren ( Arenga pinnata) menjadi salah satu komoditas unggulan warga di Tlogohendro dan umumnya warga di Petungkriyono, dan menjadi keinginan warga untuk memperbanyak tegakan kopi muda yang di tanam di lahan-lahan milik warga. Pohon aren selain berfungsi untuk mencegah longsor dan vegetasi penahan air hujan, aren ini menjadi sumber bahan baku untuk Gula aren dan Kolang-kaling yang sudah sejak dahulu di kelola warga di Petungkriyono. Pak Tasbin, Ketua LMDH Tlogohendro, mengungkapkan kalau potensi kopi di Desa Tloghendro ini sangat besar, namun masih belum dikelola dengan baik, tanaman-tanaman kopi sudah banyak yang tua dan kurang produktif. Dengan adanya regenerasi tanaman kopi ini, diharapkan dapat menyediakan kopi-kopi istimewa dalam waktu 4 tahun mendatang, ungkap pak Tasbin. 


Salah satu program pemberdayaan yang dilakukan oleh tim Swaraowa juga telah membuat semai kopi dan Aren ini di dusun Sokokembang. Bersama warga khusunya ibu-ibu di Sokokembang, tahun ini telah berhasil memproduksi kuranglebih 15000 batang bibit kopi Arabica dan 500 batang bibit Aren. Bibit siap tanam dari kebun bibit  di dusun, Sokokembang ini yang digunakan untuk penanaman di hulu Sungai Kupang.





Acara penanaman pohon di hulu Sungai Kupang, bertema “Penyelamatan hulu Sungai Kupang, untuk Pencegahan Banjir dan Longsor” juga merupakan bentuk kampanye penyadar tahuan tentang pentingnya Kawasan hulu sungai petungkriyono sebagai Kawasan tankapan air untuk wilayah dibawah, dan sarana edukasi untuk mengajak siapapun untuk menanam dan merestorasi Kawasan hutan. Pohon-pohon penting secara ekologis untuk melindungi tanah dan air, menyediaka pilihan-pilihan  komoditas ekonomi, dan juga tempat berlindung bagi berbagai hidupan liar.


Wednesday, December 30, 2020

Kilasbalik 2020 : gita karya di tengah pandemi.

 oleh : Arif Setiawan. E-mail : a.setiawan@swaraowa.org


bentangalam kawasan hutan Petungkriyono


Bulan januari 2020, rencana untuk kegiatan-kegiatan pelestarian primata khususnya jenis-jenis owa  sudah sedemikian rupa telah  disusun,  tanpa menaruh perhatian pada gemuruh badai global yang sudah begerak. 2 kegiatan utama yaitu  untuk konservasi Owa di Jawa Tengah dan Owa bilou di Kep.Metawai telah menjadi motivasi kuat untuk memperkuat kerja konservasi di tingkat tapak.

Kegiatan bersama dengan tim malinggai Uma Mentawai disiberut selatan, dilakukan dengan tujuan untuk  meningkatkan kapasitas anggota Malinggai Uma, dengan mengenalkan fotografi satwa untuk tujuan pelestarian budaya dan keanekargaman hayati. 2 anggota malinggai uma telah di persenjatai dengan 2 kamera yang akan digunakan untuk berburu satwa, merekam sejarah alam, dan meninggalkan kebiasaan berburu yang tidak lagi menggunakan adat.

Program ini telah sedikit banyak memberikan dampak langsung, dengan terbitnya buku burung Mentawai dan buku primata Mentawai. Kerja kolaboratif dengan mendorong warga sekitar sebagai actor utama “paraconservationist” .  Tidak hanya primata, namun mengenalkan keanekargaman hayati lainnya yang ada di mentawai sekaligus memperkuat nilai budaya asli.

Bilou (Hylobates klossii)

Kegiatan Mentawai di bulan januari tersebut, sebenarnya juga akan mengawali kegiatan promosi konservasi primata Mentawai melalui wisata pengamatan primata, promosi melalui  website https://wildgibbonindonesia.com/  juga sudah di mulai dan perjalanan ini sebenarnya sudah di lakukan untuk ujicoba sebuah trip wisata pengamatan primata endemik Mentawai, dengan kombinasi wisata budaya. Baca trip reportnya di sini. Namun hal ini juga tertuda untuk pengembangannya, kalau sejak bulan Maret sampai saat ini wisata ke Mentawai juga masih tertunda untuk wisatawan target primatewatching ini yang kebanyak dari luar negeri. Beberapa kelompok wisatawan sudah memesan perjalanan ini sejak promosi kami di akhir tahun 2019, namun harus di batalkan karena situasi pandemi global.

Bulan februari, menjadi bulan terakhir sebelum tatanan global berubah karena pandemi virus covid 19, kesempatan mengupgrade pengetahuan, dan pengalaman tentang primate-primata sumatera datang Ketika Noel Rowe PCI mengajak untuk melakukan  primate watching trip ke sumatera bagian tengah, dan yang menjadi target species adalah jenis-jenis Presbytis sp.

Konsep primate watching trip ini lebih mirip perjalanan overland, dengan kendaraan 4x4, yang melintas hutan-hutan yang dapat di lalui kendaraan roda 4, namun masih memungkinkan melihat primate-primata. Perjalanan dimulai dari Padang sumatera barat, Jambi, Riau, hingga ke Sumatera Utara, dan Kembali lagi ke Padang. Total panjang perjalanan ini adalah kurang lebih 3500 km, selama 24 hari. Selain melihat langsung dan mendokumentasikan species-species simpai sumatera bagian tengah, juga melihat langsung ancaman kelestarian habitat dan populasi monyet daun endemik Sumatera. Taksonomi jenis-jenis simpai Sumatra ini memang masih sangat membingungkan dan di perdebatkan, selain kurang di perhatikan di kalangan peneliti dan konservasionist.  Primate watching ini sebenarnya baru di inisiasi dan akan menjadi salah satu sumberpendaan kegiatan swaraowa, pengalaman merencanakan, handling tamu dan juga kondisi lapangan menjadi sarana latihan untuk tur primata. Cerita perjalanan ini dapat di ikuti di Instagram swaraowa mulai tanggal 5 februari sampai 25 Februari 2020. Beberapa spot lokasi untuk pengamatan Ungko dan siamang terdata dengan kemungkinan akan di kunjungi lagi  di waktu mendatang. Hari-hari terakhir primatewatching trip Sumatra, kabar mengenai virus corona 19 sudah menyebar, di berbagai negara, namun sepertinya di Indonesia masih belum mendapat perhatian serius.

Tim kopi owa ds.Tlogohendro

Bulan Maret 2020, kegiatan proyek kopi dan konservasi primata 2020, akan ada kunjugan resmi dari Ostrava zoo, yang di wakili staf kebun binatang dan wakil duta besar dari Ceko untuk Indonesia. Kegiatan yang di rencakan mengunjungi Sokokembang dan desa mendolo untuk melihat demplot budidaya Lebah, namun bersamaan dengan acara ini, kami mendapat surat edaran dari Bupati kabupaten Pekalongan kalau tidak boleh mengadakan acara yang sifatnya mengumpulkan orang dan berkerumun untuk mencegah penularan virus. Sangat kecewa tentusaja, tapi ini juga mengikuti aturan pemerintah, apalagi untuk menjaga situasi tetap kondusif di desa tempat kegiatan. Acara di batalkan dan kami hanya bertemu dengan perwakilan staff kebun binatang Ostrava Zoo di Kota Pekalongan, dan langsung balik ke Jakarta.

Bulan  Maret awal adan juga tim swaraowa yang ikut pameran di Indofest awal bulan maret juga harus kembali ke habitat asal, karena acara festival produk-produk outdoor dan wisata alam itu juga di tutup sebelum acara selesai. Acara ini sebenarnya juga menjadi media promosi wisata minat khusus, di habitat owa jawa, namun sepertinya juga banyak hal yang harus dipersiapkan dan tertunda untuk pengembangan wisata ini. Sepertinya kegiatan wisata juga yang paling terkena dampak dari pandemi covid19.

Dari semua kegiatan proyek kopi dan konservasi primata tahun 2020, yang paling terasa dampaknya adalah ketika rantai penjualan komoditas kopi ramah hutan yang bekerjasama dengan Singapore zoo, terhenti, karena café shop  utama yang menjual kopi owa di Singapore tutup karena covid19. Stok kopi menumpuk di gundang kopi owa di Jogja, dan di rumah warga sekitar hutan habitat owa di Petungkriyono. Rencana kunjungan tim Wildlife Reserve Singapore dan journalist dari Singapore yang telah disusun pertengahan tahun 2019 juga harus di batalkan karena pandemi ini

Kuncitara terjadi dimana-mana, membatasi gerak manusia dan ekonomi , namun yang terjadi di habitat owa tidaklah sepenuhnya terkuncitara, dari pengamatan bulan Maret-Juni 2020, orang-orang sudah mulai jenuh dengan kondisi di rumah saja, dampaknya terhadap habitat owa apa ? hal ini juga masih menjadi tanda tanya. 2 bulan pertama lockdown saja jalan-jalan hutan sepi, setelah itu sepertinya hutan menjadi tempat hiburan di kala pandemi, wisatawan lokal setiap hari datang, entah hanya sekedar jalan-jalan, melihat hutan, dan beberapa spot  wisata  sungai juga menjadi tempat mengisi waktu. Kegiatan monitoring owa di sepanjang jalan dilakukan oleh warga di sokokembang, mencatat perjumpaan primate di sepanjang jalan antara Kroyakan hingga Sokokembang, kurang lebih 6 km.

Kegiatan panen madu klanceng di Ds. Mendolo

Kegiatan budidaya klanceng, yang telah berkembang di Dusun Mendolo,  kecamatan Lebakbarang, kabupaten Pekalongan, terus dipantau dari jarak jauh selama pandemic, meskipun tidak melihat langsung namun laporan-laporan perkembangan kegiatan terus di update tim di Mendolo.

Bulan Mei 2020, menjadi bulan baik untuk Owa Bilou, publikasi survey salah satu primata endemik Mentawai ini terbit di jurnal biodiversitas, yang di dukung penerbitannya oleh PERHAPPI melalui kongres primata Indonesia bulan September 2019.

Seri diskusi konservasi, menjadi kegiatan yang di tiadakan di tahun 2020, karena tidak memungkinkan untuk membuat acara mengumpulkan banyak orang di masa pandemi, kegiatan seri diskusi konservasi ini bertujuan untuk mengarus utamakan kegiatan pelestarian alam di habitat owa jawa, tidak hanya terkait dengan owa saja, tapi keanekaragaman hayati secara umum dan bagaimana memperkuat nilai tambahnya, sebagai bagian dari ekosistem, dan potensi sosial ekonominya. Sempat membuat acara pengganti seri diskusi konservasi ini dengan podcast swaraowa, yang kebetulan sempat menginterview Dr. Bas van Balen ketika berkunjung ke Petungkriyono. Podcastpun juga tidak dapat di lakukan secara berseri dengan kendala teknis.

Memasuki bulan juni 2020, ada 2 kegiatan penelitian di Sokokembang, perempuan-perempuan tangguh yang sangat tertarik untuk tidak terpaku diam di rumah, namun lebih memilih hutan dan membaur bersama warga sekitar hutan, yang pertama Nur Aoliya dari IPB yang meneliti perilaku bersuara owa jawa di wilayah pegunungan Dieng, yang mencakup 2 kabupaten, Batang dan Pekalongan. Baca cerita lapangan Aoliya disini  yang mengisahakan Owa seperti Diva di tengah rimba.  Yenni Rachmawati dari UNAIR tertarik meneliti keberadaan salah satu burung yang sangat terancam punah, Raja Udang Kalung Biru, yang ditemukan oleh tim swaraowa tahun 2018.  Kedua penelitian ini merupakan bagian dari program beasiswa Kopi Owa yang setiap tahun di adakan oleh proyek kopi dan konseravasi primata di Jawa Tengah.  Penelitian-penelitian ini masih terus berjalan hingga awal tahun 2021.

Bulan Agustus 2020, swaraowa menerima salah salah satu mahasiswa magang dari sebuah sekolah di Inggris, kegiatan magang ini juga bertujuan untuk memperluas jejaring konservasi owa dan meningkatkan kapasitas generasi muda untuk ikut dalam kegiatan lapangan konservasi owa secara langsung.

Memasuki akhir tahun 2020, kegiatan terkait budidaya lebah di desa Mendolo selain monitoring rutin setiap bulan, di bulan Oktober kami mengadakan kegiatan pelatihan pengolahan produk-produk turunan dari kegiatan perlebahaan ( beekeeping). Beeswax yang di hasilkan dari kegiatan pemanenan madu hutan di olah menjadi lilin dan pomade perawatan rambut. Produk-produk ini masih dalam taraf ujicoba dan memberikan contoh kepada warga sekitar hutan bahwa ada produk lain yang bisa di kembangkan dari kegiatan budidaya lebah . Bulan oktober juga menjadi hari Owa Internasional, tidak seperti biasanya kegiatan Pelatihan Metode Survey Primata ( MSP) yang dilakukan setiap tahun sejak tahun 2013 harus di tiadakan, tahun ini seharunya menjadi acara yang ke-8.

Kegiatan konservasi Bilou di Kep.Mentawai, bulan November 2020 aktif kembali, dengan melaksanakan kegiatan yang sempat tertunda  karena pandemi. Pelatihan guru-guru untuk meningkatkan pengalaman dan pengetahuan, serta metode mengajar yang menggunakan materi terkait dengan konservasi alam dan budaya Mentawai. Kegiatan ini didasari dari semakin terkikisnya budaya  asli Mentawai, yang juga semakin susahnya melihat primata-primata Mentawai , karena hilangnya hutan dan perburuan.

Salah satu kegiatan baru yang juga di inisiasi oleh tim swaraowa di masa  pandemi , adalah survey Monyet endemic pulau Natuna, Presbytis natunae. Bertujuan untuk mengupdate status dari jenis primata pemakan daun yang hanya ada di Pulau Natuna. Survey berhasil menemukan populasi Kekah Natuna di Pulau Bunguran. Hasil survey ini diharapkan juga dapat mengarusutamakan pelestarian primate di Pulau Natuna, dengan melibatkan pihak-pihak terkait .

Webinar Owa Indonesia menjadi salah satu kolaborasi aksi dengan pegiat konservasi primata Indonesia khususnya, jenis-jenis Owa dan hal ini terlaksana dengan adanya 3 seri diskusi online, seri Jawa, Sumatera dan Kalimantan.

Beberapa kegiatan tidak sempat terdokumentasikan di website atau blog swaraowa, karena keterbatasan waktu untuk menulis. Salah satu capaian penting namun juga tantanganbaru  untuk konservasi Owa di Kabupaten Pekalongan adalah , pengelolaan kolaboratif yang diinisiasi di tahun 2019, mendapatkan perhatian dari permerintah provinsi dengan adanya surat keputusan forum kolaboratif pengelolaan Kawasan hutan Petungkriyono, yang dalam hal ini forum bersama multipihak di wilayah kecamatan petungkriyono mengusulkan kurang lebih 5,173.80  ha, untuk dikelola secara kolaboratif, dalam usulan Kawasan Ekosistem Esensial.

Satu hal penting , pandemic global ini telah membatasi gerak  manusia, dimana kita juga berbagi ruang dengan alam dan segala isi dan permasalah sosial ekonominya. Praktik budaya konsumsi dan produksi yang berkelanjutan harus tempatkan di daftar prioritas, meskipun dalam sekala kecil, dan komunitas yang terbatas, karena ini  adalah pilihan yang harus kita ambil demi setiap gerak berdampak untuk alam.  

Kopi Owa Bilou


Akhir tahun 2020, kami tutup dengan meluncurkan Kopi Owa Bilou, yang bertujuan untuk mempromosikan kegiatan konservasi primata khususnya Bilou ( Hylobates klosii), owa endemik Mentawai.   Penjualan kopi ini di prioritaskan di wilayah sumatera barat khususnya Padang, dan Kepulauan Mentawai, bekerjasama dengan Malinggai Uma di Siberut Selatan.

Selamat tahun baru 2021.

 







Saturday, October 31, 2020

Pelatihan pemanfaatan dan pengembangan lilin lebah di Desa Mendolo, Lebakbarang, Pekalongan

Ditulis oleh : Sidiq harjanto, email : sidiqharjanto@gmail.com


produk jadi, lillin aroma terapi dan pomade rambut #wildlifefriendly

Kawasan hutan menjadi penyangga kehidupan bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Hutan memberikan manfaat berupa hasil kayu, hasil hutan bukan kayu (HHBK), maupun jasa lingkungan. Hutan menjadi habitat berbagai jenis fauna, termasuk jenis-jenis lebah. Lebah penghasil madu, sangat familiar sebagai salah satu contoh potensi HHBK. Jenis lebah yang paling banyak dipanen dari kawasan hutan adalah lebah hutan (Apis dorsata). Di samping memiliki nilai penting bagi ekosistem hutan sebagai agensia penyerbukan, lebah memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat hutan. Pengembangan dan pemanfaatan produk turunan dari kegiatan perlebahan ini diharapkan dapat memberi contoh dan mendorong kegiatan ekonomi produktif dan tidak merusak hutan dari sekitar habitat Owa Jawa.

Salah satu contoh pemanfaatan HHBK madu berada di salah satu site kegiatan SwaraOwa, yaitu Desa Mendolo. Desa ini termasuk wilayah administratif Kecamatan Lebakbarang, Kab Pekalongan. Kawasannya terdiri dari hutan alam, lahan wanatani, sawah, dan pemukiman. Desa ini telah identik dengan pemanenan lebah hutan atau masyarakat menyebutnya ‘tawon nggung’. Nama ilmiahnya Apis dorsata. Memanen madu hutan menjadi keahlian mayoritas laki-laki dari desa ini.

praktek pengolahan lilin lebah


Barangkali sebagian besar masyarakat hanya mengetahui madu sebagai produk perlebahan. Madu memang dikenal sebagai komoditas paling popular, karena sebagian besar orang menyukai rasa manisnya. Madu dikonsumsi sebagai suplemen kesehatan, atau bahkan sebagai obat. Hanya sampai di situ saja pengetahuan orang terhadap lebah. Padahal, selain madu masih banyak produk yang dihasilkan oleh lebah. Komoditas-komoditas lainnya antara lain propolis, royal jelly, pollen lebah (beepollen), dan lilin lebah (beeswax).

Lilin lebah atau dikenal sebagai beeswax dihasilkan oleh kelenjar pada bagian segmen-segmen perut (abdomen) lebah. Lilin ini merupakan bahan utama penyusun sarang bagi lebah, berbentuk segi enam yang sangat khas itu. Fungsinya adalah sebagai pelindung larva dan pupa, serta penyimpanan makanan seperti madu, roti lebah (beebread), dan royal jelly.  Lilin lebah ini bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia. Biasanya lilin lebah diekstrak dari sisa kantong madu yang telah dipanen. Sisa-sisa kantong madu tersebut dipanaskan hingga mencair, kemudian disaring, dan dicetak. Produknya masih berupa lilin mentah yang bisa diproses lagi menjadi berbagai produk turunan.

bahan bahan untuk membuat pomade dan lilin aromaterapi
Pemanfaatan lilin lebah di beberapa peradaban kuno barangkali adalah sebagai lilin bakar untuk penerangan. Orang-orang Mesir kuno juga menggunakan lilin lebah sebagai bahan patung dan lukisan. Pada masa lalu, beeswax juga digunakan dalam kedokteran gigi, misalnya sebagai bahan terapi gigi yang berlubang seperti yang ditemukan di Slovenia. Lalu dalam perkembangannya, lilin lebah digunakan dalam pembuatan kosmetik, sabun, dll. Di Jawa, tradisi lilin lebah juga sudah relatif tua, yaitu sebagai bahan dalam pembuatan batik.

Sebagai kontribusi dalam pengembangan produk-produk HHBK berbasis lebah, SwaraOwa membuat pelatihan pengolahan lilin lebah bagi Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo pada Minggu, 18 Oktober 2020, bertempat di demplot perlebahan SwaraOwa di Desa Mendolo. Pelatihan ini bertujuan untuk mengenalkan produk-produk turunan dari lilin lebah. Sebagai langkah awal, pelatihan ini mengangkat dua produk turunan, meliputi pomade dan lilin aroma terapi. Pomade merupakan produk yang popular digunakan dalam penataan rambut, terutama di kalangan anak muda. Sedangkan lilin aroma terapi adalah lilin bakar yang telah diinput dengan aneka aroma dari essensial oil. Dua produk ini dipilih karena proses pembuatannya yang sederhana.

Selain proses pembuatan yang mudah, bahan-bahannya pun cukup mudah diperoleh. Lilin lebah merupakan produk yang dihasilkan sendiri oleh para pemanen madu lebah dorsata di Desa Mendolo, sedangkan bahan-bahan lainnya relatif mudah diperoleh di pasaran. Beberapa di antaranya bahkan bisa diproduksi sendiri. Untuk pembuatan pomade, lilin lebah menjadi salah satu bahan utama, selain beberapa bahan lain seperti microwax, vaseline, virgin coconut oil (VCO), castor oil, dan essential oil. Sedangkan bahan untuk pembuatan aroma terapi antara lain beeswax, minyak kelapa, essential oil, benang katun untuk sumbu lilin, dan gelas wadah lilin.

Dalam pelaksanaan pelatihan ini, SwaraOwa menggandeng salah satu praktisi produsen pomade di Kabupaten Pekalongan @timbankklimis sebagai narasumber. Selain mengenalkan bahan dan proses pembuatan produk, narasumber juga memberikan gambaran pemasaran produk tersebut. Antusiasme peserta nampak dari awal sampai selesainya kegiatan pelatihan ini.

Dengan adanya pelatihan ini diharapkan bisa memberikan inspirasi bagi pemuda di Desa Mendolo, terutama mereka yang tergabung dalam kelompok PPM- Mendolo, untuk bisa mengoptimalkan potensi yang ada di wilayah mereka. Lilin lebah, misalnya, yang selama ini hanya dijual dalam bentuk yang masih mentah, dapat diolah menjadi produk dengan nilai jual yang jauh lebih tinggi. Dengan bekal keterampilan yang telah diberikan, semoga akan muncul produk-produk baru dari Desa Mendolo yang mencerminkan identitas desa ini sebagai desa hutan dengan segenap potensi alamnya. Salam lestari!

 

Wednesday, August 28, 2019

Tradisi Pemanenan Madu Hutan Desa Mendolo


oleh : Sidiq Harjanto
  •  Desa Mendolo, Kecamatan Lebak Barang, Kabupaten Pekalongan memiliki tradisi turun temurun berburu madu di Hutan.
  •  Lebah hutan (Apis dorsata) adalah jenis lebah madu terbesar.
  •  Pada musim yang bagus, seperti tahun 2016, lebih dari 2,5 ton madu yang keluar dari Desa Mendolo
  • Mempertahankan kualitas lingkungan, terutama kelestarian hutan sebagai penopang kehidupan lebah hutan adalah salah satu kunci keberlanjutan produksi madu di Mendolo


Praktik pemanenan madu hutan di Desa Mendolo
Desa Mendolo terletak di Kec Lebakbarang, Kab Pekalongan. Kawasan desa ini didominasi oleh hutan alam, sedangkan sisanya merupakan kawasan wanatani atau agroforest. Tim swaraowa, pertamakali masuk ke Mendolo tahun 2010, ketikasurvey Owa Jawa di wilayah Kecamatan Lebak Barang, dan mulai intensif mengamati owa di desa ini 3 tahun terakhir ini. Desa ini identik dengan pemanenan lebah hutan atau masyarakat menyebutnya tawon nggung. Nama ilmiahnya Apis dorsata. Memanen madu hutan adalah keahlian mayoritas laki-laki dari desa ini. Ini adalah tradisi turun-temurun. Tidak ada yang tahu kapan mereka mulai memanen lebah. Jika ditanya kapan mulai, tidak ada yang mampu menjawab dengan detail. ‘Sudah dari nenek moyang kami’, jawab mereka. Artinya, tradisi ini memang sudah berlangsung sejak lama sekali. Memang ada perubahan dalam motif pemanenan lebah hutan. Dari yang dulunya memanen lebah untuk kebutuhan sendiri (subsisten), berubah menjadi mata pencaharian alternatif.

Madu bukan tujuan utama bagi masyarakat jaman dulu. Saat harga madu masih belum seperti saat ini, atau bahkan tidak laku dijual. Orang-orang justru memanen anakan lebah, pupa lebih tepatnya. Pupa atau kepompong lebah menjadi sumber protein tinggi bagi masyarakat pada masa itu. Hingga kemudian pada dua dekade terakhir, madu mulai menjadi komoditas yang banyak diburu. Harganya pun cukup menjanjikan. Para pemanen madu merubah pola kerjanya. Mereka hanya mengambil sarang madu saja, meninggalkan bagian anakan lebah.
Koloni Apis dorsata "tawon nggung"
Lebah hutan (Apis dorsata) adalah jenis lebah madu terbesar. Lebah ini hidup berkoloni, membangun sarang pada dahan-dahan pohon tinggi. Mereka bisa memproduksi madu dalam jumlah yang besar. Satu sarang bahkan bisa lebih dari 20 kilogram madu. Sesuai namanya, lebah hutan membutuhkan habitat hutan yang masih bagus. Lebah hutan membutuhkan sumber pakan dalam jumlah besar. Berdasarkan hasil Focus Group Discussion dengan masyarakat Mendolo, setidaknya ada lebih dari 40 jenis tanaman sumber pakan bagi lebah hutan. Salah satu sumber pakan lebah yang cukup dominan adalah Crypteronia sp. Masyarakat menyebutnya ‘kayu babi’. Jenis lainnya seperti kayu sapi (Sapindaceae), pakel (Mangifera foetida), dan durian (Durio sp.)
Bunga durian, sumber nectar bagi lebah



Bunga kayu Babi ( Cryptorenia sp)
Saat koloni-koloni lebah berdatangan untuk bersarang, biasanya mulai bulan Juli, orang-orang nyaris tiap hari masuk hutan untuk mencari keberadaan sarang lebah. Mereka membentuk tim-tim kecil. Sebuah tim pemanen madu terdiri dari dua atau lebih anggota tim. Satu orang berperan sebagai pemanjat dan pengambil sarang, sedangkan sisanya menjadi asisten. Menyiapkan peralatan, dan membantu proses panen madu. Alat-alat yang digunakan antara lain sige, upet, pisau/parang, karung, tali, ember, dan saringan. Sige adalah bambu yang digunakan untuk melakukan pemanjatan, terdiri dari dua bagian yaitu banthol (pengait), yang akan disambung dengan lonjoran (jumlahnya bisa lebih dari satu batang tergantung ketinggian sarang yang dipanjat). Sedangkan upet adalah bahan pembuat asap. Biasanya upet dibuat dari dedaunan yang diikat, kemudian dibakar di bagian ujungnya. Hasil pembakaran dedaunan yang masih agak basah ini menghasilkan asap untuk membuat lebah lebih tenang.

Pemanjat memotong bagian kepala sarang yang berisi madu. Bagian brood yang berisi telur, larva dan pupa dibiarkan. Harapannya sarang akan kembali terisi madu dan nantinya bisa dipanen kembali. Dengan cara seperti ini, pemanenan bisa dilakukan dua atau tiga kali untuk setiap sarang. Teknik pemanenan ini relatif aman bagi keberlanjutan koloni-koloni lebah. Hasil panen dari tiap sarang sangat bervariasi. Bila beruntung bisa lebih dari 10 botol ukuran 650ml, dan kalau tidak beruntung bisa pulang dengan tangan hampa.

Karakter warna dan rasa yang beragam madu hutan desa Mendolo
Musim puncak panen madu biasanya berlangsung antara Juli-Oktober. Pada musim yang bagus, seperti tahun 2016, lebih dari 2,5 ton madu yang keluar dari desa ini. Di Mendolo sendiri saat ini ada 8 orang pengepul lokal, yang menampung hasil panen madu dari para pemanen. Produk lain yang sudah termanfaatkan adalah lilin lebah (beeswax). Lilin diekstrak dari sisa perasan sarang madu yang dipanaskan hingga mencair, kemudian disaring menggunakan kain. Lilin cair ini setelah dingin akan mengeras membentuk balok-balok lilin. Harga jual lilin mentah ini sekitar Rp. 50.000,-. Produk lebah lain yang potensial namun belum termanfaatkan adalah beepollen (roti lebah). Beepollen dihasilkan oleh fermentasi serbuk sari bebungaan yang disimpan di sarang lebah.

Melihat dari sekilas uraian di atas, beberapa tantangan kedepan masih dihadapi dalam tradisi pemanenan madu di Desa Mendolo, antara lain:
1.      Memperbaiki tata kelola pemanenan madu ditingkat desa.
2.      Mempertahankan kualitas lingkungan, terutama kelestarian hutan sebagai penopang kehidupan lebah hutan.
3.      Menjaga kualitas produk madu; mengingat semakin banyak pemanen madu bisa beresiko menurunkan kualitas, misalnya dari sisi umur panen, higienitas, dll.
4.      Diversifikasi produk, untuk meningkatkan nilai tambah. Misalnya produk beepollen, dan aneka produk turunan lebah.

Kita semua tentu saja berharap bahwa tradisi pemanenan madu di Desa Mendolo akan terus lestari dan memberikan manfaat untuk warga disana, dan yang tidak kalah pentingnya selain madu, peran lebah sebagai serangga penyerbuk ini tidak dapat digantikan oleh manusia dengan alat apapun, pollinasi. 

Monday, April 29, 2019

Sanca membunuh monyet, ditepi jalan menuju hutan Petungkriyono

  • Jenis primata yang mati adalah Monyet Ekor Panjang, Macaca fascicularis ( jantan), kelas umur dewasa.
  • Penyebab kematian monyet, karena berkonflik dengan  ular sanca (Phyton reticulatus)
  • Lokasi,  Ds. Kroyakan, Mesoyi, Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan
  • Jalan raya Doro-Petungkriyono, yang melewati hutan adalah pusat keanekaragaman hayati, pengguna yang lewat jalan ini sudah seharusnya menghormati dan menghargai keberadaan satwaliar.

Beberapa hari terakhir ini habitat owa jawa di kabupaten pekalongan, ramai memperbincangkan tentang temuan primata yang mati di pinggir jalan. Kematian primata ini sempat menjadi ramai di sosial media yang,karena diduga kematian monyet ini mati karena di tembak. Padahal sudah jelas sekali bahwa berburu apalagi menembak satwaliar di habitat hutan yang dilindungi adalah dilarang undang-undang meskipun satwanya tidak masuk dalam kategori dilindungi baca disini : http://ksdae.menlhk.go.id/jenis-tsl-dilindungi.html dan baca disini : https://www.profauna.net/id/regulasi/uu-5-1990-tentang-konservasi-sumber-daya-alam-hayati-dan-ekosistemnya

Penggunaan senapan angin juga sudah di atur undang-undang, tidak perbolehkan untuk perburuan satwaliar illegal, karena termasuk dalam kategori kejahatan kehutanan. Baca : https://www.mongabay.co.id/2018/04/02/respon-penembakan-satwa-dilindungi-perbakin-keluarkan-surat-edaran-pengaturan-penggunaan-senapan-angin/

Swaraowa mencoba membuat kronologis kejadian ini monyet yang mati di pinggir jalan tersebut.

Jumat, 26 April 2019. 

Jam 18.04 salah satu anggota swaraowa yang berada di dusun Sokokembang, mendapat laporan tentang adanya primata yang mati di tepi jalan. Laporan ini di kirimkan oleh salah satu “ komunitas goweser pekalongan ”  yang baru saja lewat di jalan itu, jam 3 sore.  Laporan ini kemudian langsung ditelusuri, dengan menanyakan beberapa warga ds. Sokokembang  yang kebetulan baru saja  lewat di jalan utama ke kecamatan petungkriyono, dari warga di dapatkan informasi memang benar melihatnya. 

Jam 18.30, bersama salah satu warga dusun Sokembang mencari ke  lokasi dimana di laporkan, 

Jam 18.46 ditemukan bangkai primata dan kemudian dilakukan identifikasi adalah jenis monyet ekor panjang ( Macaca fascicularis), berkelamin jantan (dewasa). 

Indentifikasi menemukan bahwa monyet ini terdapat luka di bagian dada, dan ada juga yang dipuggung. Karena pencahayaan kurang memadai pengamatan terhadap bangkai ini akan di lanjutkan esok pagi, ketika sudah terang.  Untuk menghindari hilangnya bangkai dimakan binatang lain, kami mengubur bankgai primata ini dalam tanah.

Foto-foto terlampir ( yang di ambil pada malam hari).
monyet yang ditemukan mati

Jam 22.30, mengirimkan  laporan singkat ke BKSDA  resort Pemalang. 

Sabtu ,27 April 2019

Jam 10.15 anggota swaraowa menuju tempat di temukannya monyet ekorpanjang yang mati, tersebut untuk melihat bekas-bekas yang di tinggalkan oleh monyet ini dan kelompoknya.   Terlihat bekas longsoran dari bagian tebing, seperti bekas di lalui oleh satwa.

Kemudian, menanyakan perihal monyet ini di Ibu ( Parti 35 th) yang punya warung di atas monyet ini di temukan, menurut ibu tersebut,  kami menanyakan, “bagaimanabu apa serangan monyet disini semakin parah? Ibu itu menjawab “tidak, biasa saja”. Terus kami tanyakan apakah melihat ada monyet yang mati di sekitar sini? Ibu itu menjawab tidak tahu.
Kemudian, kami menyusuri dusun kroyakan, yang berbatasan dengan hutan pinus dan hutan lindung ini, menanyakan ada kepada warga bahwa serangan monyet memang ada, memakan buah pisang, dan durian. 

Selanjutnya, kami singgah di warung depan tugu petungkriyono natural heritage, Ibu ( Mulyati 60 th) mengatakan kami menanyakan apakah liat monyet yang mati di sekitar sini ? Ibu yang sehari-hari berjualan ini menceritakan  bahwa kemaren sekitar jam 1 ada monyet di makan oleh ular, katanya ular itu membelit monyet dan kemudian kelompok monyet yang lain menyerang menggit ular tersebut, terdengar ramai sekali karena kelompok monyet yang di atas bersuara semua., kejadian ini sempat di rekam oleh warga  dari dusun mesoyi yang bernama Gianto, yang kebetulan berada di tempat tersebut.

Jam 11.56. 2 orang anggota swaraowa melakukan otopsi lagi, menggali tempat kami mengubur dan mengangkat bangkai monyet yang di temukan pada malam sebelumnya, dilakukan cek lagi terhadap luka-lukanya, yang di bagian punggung juga terdapat dua lubang berjarak sekitar 4 cm yang satu besar yang satu lebih kecil ukurannya, demikian juga yang ada di bagian dada, ada dua lubang juga yang satu lebih lebar diameternya dan yang satunya lebih keci.jarak sekitar  4 cm antar lubang.

Jam 13.20, BKSDA Jawa Tengah yang di wakili Bapak Slamet Mahlul dari resort Pemalang tiba di Sokokembang, kami langsung melihat kembali tempat kejadian dan menanyakan tentang kejadian monyet ekor panjang yang mati ini, Kami bertemu ibu Mulyati lagi  yang berjualan di dekat lokasi, dan kebetulan yang kemaren di ceritakan ada yang merekam video ada di tempat itu,  ada Bapak Eko (36 thn) penjual baso yang menyaksikan sendiri kejadian dan mendapat rekaman video dari teman nya yang ada di lokasi tersebut.

Jam 16.11, menerima kiriman video peristiwa  dari Jagawana Perhutani KPH Pekalongan Timur, dan seperti terlihat, seekor ular sanca (Phyton reticulatus) yang membelit seekor monyet, berada di tengah jalan, dan monyet terlihat tidak berdaya kemudian di tinggal oleh ular sanca. 

28 April 2019, mendapatkan kiriman video dari warga dusun Mesoyi yang melihat langsung kejadian ini.



*********************************************************************************


Monyet yang sendang makan di tepi jalan

Macaca fascicularis , Monyet ekor panjang 

Monyet ekor panjang , adalah jenis primata yang dapat hidup di berbagai tipe habitat, hutan, tepi hutan, kebun, ladang, bahkan perkotaan 1. Hidup berkelompok dengan banyak jantan dan banyak betina, dengan jantan dewasa ada yang dominan terhadap anggota kelompok lainnya.  Jenis primata ini dapat mudah sekali beradaptasi di habitat manusia misalnya tepi jalan, tepi hutan, dan tempat-tempat wisata yang tidak mengelola sampah dan tidak dikelola dengan bijaksana.  Keberadaanya di hutan lindung pekalongan dilindungi undang-undang karena berada di kawasan lindung.
Bacaan lanjutan tentang monyet ekor panjang : https://www.ecologyasia.com/verts/mammals/long-tailed_macaque.htm

Phyton reticulatus, Ular  Sanca

Jenis ular yang sangat mudah beradaptasi di berbagai tipe habitat, dapat di jumpai di hutan dataran rendah hingga pegunungan, di pemukiman, ladang, perkebunan, areal pertanian, sawah, dan rawa bakau dekat pantai. Menurut laporan ukuran terbesar dari ular ini yang pernah di temukan adalah 10.2 meter,tercatat sebagai ular terpanjang di dunia. Mangsa ular ini adalah mamalia kecil hingga ukuran sedang seperti babi hutan, dan rusa 2. Dilaporkan juga ular ini memangsa manusia di Sulawesi  (https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-44519734). 


Kawasan hutan  yang dilalui jalan utama dari kecataman Doro ke kecamatan Petungkriyono ini saat ini menjadi kawasan yang mendapat tekanan aktifitas manusia cukup tinggi, maraknya kegiatan wisata alam di kawasan ini membuat kawasan ini banyak di kunjungi, lalulintas pengunjung satu-satunya jalan yang mudah dilewati adalah jalan Doro-Petungkriyono ini, padalah jalan ini juga menjadi pusat keanekaragaman hayati. Perilaku pengunjung atau siapapun yang menggunakan jalan ini sudah selayaknya mendapat perhatian untuk lebih ramah terhadap satwa yang berhabitat di hutan sepanjang jalan ini.

Jenis monyet ekor panjang, adalah jenis yang mudah sekali menyesuaikan perubahan habitat, perubahan perilaku juga bisa terjadi karena berubahnya sumber pakan. Aktifitas manusia yang kadang memberi makan ,meninggalkan sampah bungkus makanan, menyebabkan pola sebaran monyet ini berada juga di pusat aktifitas manusia, oleh karena itu dilarang memberi makan, mengganggu monyet ini untuk menghindari perubahan perilaku dan agresifitas monyet. 

Ular sanca tentu saja juga mengikuti pergerakan mangsanya, kawasan hutan di kroyakan yang menjadi habitat mangsa ular sanca, menjadi areal perburuan bagi Sanca, termasuk juga hingga jalan raya, yang menjadi lalulintas aktifitas manusia.  Bukan tidak mungkin satwa-satwa yang melintas jalan ini bisa juga tertabrak kendaraan yang lewat ataupun sebaliknya, kita bisa terluka karena tidak siap melihat keberadaan  satwa-satwa liar dekat dengan kita. 

Mengatur perilaku manusia yang lewat jalan hutan dari Doro-Petungkriyono sudah selayaknya harus dibuat berbeda dengan jalan pada umumnya untuk menghargai kekayaan keanekargaman hayati yang di miliki Kabupaten Pekalongan.


Daftar pustaka :
1. Eudey, A.A., 2008. The crab-eating macaque (Macaca fascicularis): widespread and rapidly declining. Primate conservation, 23(1), pp.129-133.
2. Reynolds, R. G., Niemiller, M. L., & Revell, L. J. ,2014. Toward a Tree-of-Life for the boas and pythons: Multilocus species-level phylogeny with unprecedented taxon sampling. Molecular phylogenetics and evolution, 71, 201-213.