Showing posts with label lebah. Show all posts
Showing posts with label lebah. Show all posts

Monday, August 12, 2024

Mereguk Manisnya Budidaya Lebah di Desa penyangga habitat Owa Jawa

 

Rohim menunjukkan hasil panen madunya

oleh : Sidiq Harjanto

Datangnya musim kemarau pada pertengahan tahun 2024 membawa berkah bagi para peternak lebah klanceng di Desa Mendolo, Pekalongan. Semenjak bergulirnya program “Beekeeping for Gibbon Conservation” pada 2017, Swaraowa terus membersamai para peternak lebah klanceng untuk semakin mengoptimalkan manfaat lebah mungil nirsengat tersebut. Budidaya lebah menjadi tawaran alternatif ekonomi lestari bagi masyarakat di sekitar habitat owa jawa.

Adalah Tarjuki, sebagai perintis budidaya klanceng di desa Mendolo, pada bulan Juli lalu telah memanen belasan botol berkapasitas 450 ml. Senyum ceria menghias wajahnya saat berbagi cerita kepada kami. Madu sebanyak itu dipanen dari kotak-kotak klanceng yang ia taruh di beberapa lokasi kebunnya di Dusun Mendolo Wetan. Ia optimistis panenan tahun ini akan meningkat dibandingkan dengan panenan tahun lalu.

Kegiatan ibu-ibu di Kebun Brayan Urip


Senada dengan Tarjuki, Yukni Buhan seorang peternak lainnya juga memprediksi hasil panenan yang lebih melimpah musim ini.  Pemuda yang tinggal di Dusun Sawahan ini kini mengelola 9 kotak klanceng dari jenis Heterotrigona itama dan sekira 40 kotak Tetragonula laeviceps. “Koloni pertama yang saya pelihara ini didapat dari memasang perangkap pakai kotak kosong,” kenangnya sembari menunjukkan kotak kayu dengan lubang kecil yang dijejali lebah-lebah mungil hilir mudik keluar-masuk.

Ia pun telah memanen madu dari koloni-koloni itama-nya. Rata-rata satu kotak menghasilkan seliter madu. Sementara kotak-kotak laeviceps, jenis klanceng yang ukuran tubuhnya lebih kecil, akan dipanennya saat musim bunga durian, dua atau tiga bulan ke depan. Menurut pengalamannya, puncak-puncak musim madu itu saat musim bunga kayu babi (Crypteronia sp.), lalu bunga durian, dan terakhir saat musim bunga kayu sapi (Pometia pinnata) yaitu saat musim hujan tiba.

Yukni sedang panden madu
Yukni berencana untuk terus menambah kotak-kotak lebah kalnacengnya dengan teknik pemecahan koloni (splitting) dan pemasangan perangkap. Ditanya tentang kesiapan daya dukung lingkungan di lokasi budidaya, Yukni bertekad untuk terus menanam aneka tanaman yang mampu memperkaya ketersediaan pakan bagi lebah, termasuk kayu-kayu hutan.

Para peternak tidak hanya mendapatkan kemudahan pemanenan madu yang diperoleh dari usaha budidaya. Nusri Nurdin, peternak yang juga berprofesi sebagai pemanen madu lebah liar mendapatkan berkah lain. Selain memanen madu lebah hutan Apis dorsata, ia juga memanen madu klanceng liar sebagai sampingan. Di kalangan pemanen madu liar di Mendolo, pria yang akrab disapa Udin ini adalah salah satu yang paling pemberani. Ia tak ragu memanjat pohon-pohon tinggi yang dianggap ekstrem oleh kawan-kawan seprofesinya.

Bapak dua anak itu menuturkan bahwa semenjak maraknya budidaya yang dijalankan warga Mendolo, ia semakin mudah mendapatkan koloni lebah klanceng liar. Ia menduga seiring terus bertambahnya koloni yang dipelihara membuat populasi lebah klanceng di alam juga semakin terjaga. “Saya sudah panen tujuh koloni klanceng pada musim ini. Semuanya kini telah di pindahkan ke dalam kotak,” katanya.

Pendampingan Swaraowa untuk kegiatan budidaya lebah
Tujuh tahun yang lalu, kondisinya sangat berbeda. Kala itu, para pemanen lebah klanceng liar masih melakukan pemanenan yang tidak berkelanjutan. Mereka membongkar sarang untuk mengambil madu lalu meninggalkannya begitu saja sehingga koloni musnah. Tak terhitung berapa banyak koloni lebah yang hilang. Tentu saja, kita juga kehilangan manfaat para lebah sebagai serangga penyerbuk.

Melalui serangkaian program pelatihan, para pemanen madu klanceng liar diarahkan untuk menyelamatkan koloni lebah liar yang dipanen dari alam. Koloni-koloni dipindahkan ke dalam kotak untuk dibudidayakan. Cara-cara berkelanjutan juga diperkenalkan, seperti teknik pemecahan koloni, pencangkokan, dan pemasangan kotak perangkap.

Pembibitan kayu sapi, salah satu sumber bunga untuk lebah
Kini, tak kurang 25 orang warga Mendolo telah menjalankan usaha budidaya lebah klanceng dan menikmati manisnya usaha yang ramah lingkungan ini. Jumlah koloni yang dipelihara masing-masing peternak bervariasi. Namun, rata-rata tak kurang dari 5 kotak. Sebagian bahkan sudah lebih dari 20 kotak.

Jika para bapak dan pemuda cenderung membudidaya untuk memproduksi madu, hal berbeda dilakukan kelompok perempuan di Dusun Sawahan. Mereka yang menamakan diri “Kelompok Brayan Urip” ini memelihara lebah untuk mengoptimalkan jasa penyerbukan. Di sebidang tanah yang ditanami aneka sayur mayur, kotak-kotak klanceng dari jenis Tetragonula laeviceps ditempatkan.

Banyak penelitian menyimpulkan bahwa spesies klanceng berukuran kecil ini efektif membantu penyerbukan tanaman sayur seperti cabai. “Untuk tanaman cabai yang tanpa dipupuk dan tanpa perawatan intensif, hasilnya lumayan,” terang Sri Windriyah yang dipercayai sebagai ketua kelompok. Hasil panen dari kebun kolektif itu dijual dengan harga murah ke anggota untuk kebutuhan rumah tangga masing-masing. Keuntungannya disisihkan sebagai uang simpanan kelompok.

Bersebelahan dengan kebun sayur yang dikelola Kelompok Brayan Urip, sebuah persemaian sederhana tampak dijejali ratusan polybag berisi bibit aneka jenis tanaman. Kesadaran bahwa budidaya lebah membutuhkan lingkungan yang mendukung, terutama keberadaan hutan, mendorong komunitas peternak lebah untuk melakukan gerakan menanam. Untuk itulah persemaian ini dibuat, sebagai penyuplai kebutuhan bibit.

Rohim selaku penanggungjawab pembibitan di Sawahan menuturkan bahwa tahun ini persemaian yang dikelolanya akan menyediakan setidaknya 700 batang bibit kayu hutan seperti kayu sapi (Pometia pinnata), kayu babi (Crypteronia sp), klepu, manggis, dan salam. Ratusan batang bibit itu disiapkan untuk ditanam saat musim penghujan nanti.

“Tahun kemarin, dua ratusan batang bibit tanaman pucung telah tertanam di sepanjang alur-alur sungai di Dusun Sawahan ini,” kata Rohim. Penanaman dua ratusan bibit tanaman pucung (Pangium edule) itu dilakukan secara partisipatif. Sekira 20 orang petani menyediakan lahannya untuk ditanami. Warga semakin termotivasi untuk giat menanam setelah merasakan kekurangan air dampak fenomena el-nino tahun kemarin.

 Bagi Swaraowa, keterlibatan dalam kolaborasi program penanaman ini merupakan bentuk upaya untuk meningkatkan kualitas habitat bagi primata maupun hidupan liar lainnya. Desa Mendolo sendiri merupakan habitat bagi lima jenis primata jawa: owa jawa, lutung jawa, rekrekan, monyet ekor panjang, dan kukang jawa. Format konservasi dengan membuka ruang bagi masyarakat sebagai subjek utama telah dimulai dari desa ini.


Friday, May 20, 2022

World Bee Day 2022: dari Anton Jansa sampai konservasi hutan habitat owa jawa

 Oleh : Sidiq Harjanto



Pada tahun 2017, Slovenia mengajukan sebuah proposal usulan untuk memperingati Hari Lebah Dunia (World Bee Day) setiap tanggal 20 Mei. Tanggal tersebut merupakan hari kelahiran tokoh bernama Anton Jansa (1734-1773), seorang peternak lebah legendaris asal negeri balkan tersebut. Jansa telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya bagi pengembangan budidaya lebah. Beberapa prinsip penting budidaya lebah dan sistem pengelolaan apiari modern lahir dari tangan dinginnya.

Pada akhir 2017, PBB menerima usulan tersebut sehingga mulai 20 Mei 2018, masyarakat dunia memperingati Hari Lebah Dunia. Hari ini merupakan tahun kelima perayaan tersebut, mengambil tema “Bee Engaged: Celebrating the diversity of bees and beekeeping systems.” Momen ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya keanekaragaman jenis lebah dan variasi sistem budidayanya. Juga mengingatkan kita semua mengenai ancaman dan tantangan yang dihadapi lebah seperti: hilangnya habitat, perubahan iklim, dan pencemaran lingkungan.

Harus diakui, peran Slovenia bukan saja dalam mewujudkan peringatan Hari Lebah Dunia, tetapi juga dalam upaya pengembangan praktik-praktik budidaya lebah yang berkelanjutan. Slovenia sendiri, sejak abad ke-7 hingga saat ini memiliki reputasi yang sangat baik dalam bidang perlebahan. Di sanalah berbagai teknik budidaya lebah madu berkembang. Keuletan para peternak membuat lebah Apis melifera carnica (lebah karniola) sebagai subspesies asli Slovenia menjelma menjadi salah satu lebah madu paling unggul.

Ada beberapa prinsip mendasar dalam praktik budidaya lebah oleh masyarakat Slovenia: berdampingan erat dengan lebah, gaya hidup berkelanjutan, dan produksi pangan lokal. Prinsip-prinsip itu mengantarkan negara berpenduduk 2,1 juta itu menjadi leader dalam budidaya lebah. Slovenia adalah negara dengan jumlah peternak lebah dengan jumlah fantastis dihitung secara perkapita. Kantor Statistik Slovenia mencatat bahwa nyaris lima di antara seribu orang warganya adalah peternak lebah!

Jansa, selain mewariskan teknik budidaya modern juga memberi contoh sebuah relasi indah antara manusia dengan lebah. Ia yang memiliki talenta melukis menggunakan kotak-kotak lebah sebagai media berkreasi, menjadikannya media untuk lukisan indah berwarna-warni. Hingga sekarang, kotak-kotak berhias lukisan itu masih menjadi tradisi bagi peternak lebah di sana. Sebuah praktik yang unik dan menggembirakan ketika budidaya lebah tidak saja berhenti pada tataran teknis, tetapi merentang ke spektrum yang lebih luas.

Lalu apa yang bisa kita ambil dari kisah Anton Jansa, Slovenia, dan Hari Lebah Dunia? 

Bagi Swaraowa, ada kesan emosional tersendiri bahwa pekerjaan kami dalam pengembangan perlebahan memiliki rentang waktu yang beriringan dengan sejarah Hari Lebah Dunia. Baru sekira lima atau enam tahun kami berpartisipasi dalam pengembangan teknik budidaya lebah bagi masyarakat di sekitar habitat owa jawa di Petungkriyono dan Lebakbarang. Memang usia yang masih sangat muda dalam konteks tradisi budidaya, sangat jauh bila dibandingkan dengan apa yang diwariskan Jansa dan Slovenia. Namun, bukankah setiap perjalanan selalu dimulai dengan satu langkah pertama?

Kegiatan pelatihan lebah di tahun 2017


Kita di Indonesia tidak memiliki lebah karniola, si lebah unggul dari Slovenia. Namun jangan lupa, kita adalah negara yang memiliki keanekaragaman jenis lebah madu (Marga Apis) tertinggi di dunia, salah satunya A. cerana yang telah lama dibudidayakan secara tradisional oleh masyarakat perdesaan di Indonesia. Kita juga memiliki lebih dari 40 jenis lebah tanpa sengat (Meliponini). Itulah ladang besar yang mesti kita garap. Upaya memasyarakatkan budidaya lebah perlu terus digalakkan. Pengembangan teknik pemeliharaan jenis-jenis lebah asli atau native menjadi kunci kesuksesan mewujudkan tradisi, persis seperti yang dilakukan oleh rakyat Slovenia dengan karniolanya.

Budidaya lebah di antara tanaman kopi-hutan


panen madu dari kotak lebah klanceng 


Kami percaya bahwa budidaya lebah bukan saja menjanjikan manfaat ekonomi berupa produk lebah bernilai ekonomi tinggi: madu, beepollen, propolis, lilin; dan juga jasa besar bagi ekosistem: penyerbukan. Lebih dari itu, budidaya lebah bisa merekatkan kembali relasi manusia dengan alam yang kian hari kian merenggang tergerus oleh zaman. Sejak awal, kami telah memiliki keyakinan bahwa tradisi budidaya lebah bisa menjadi media dalam membumikan isu-isu konservasi hutan, termasuk mempromosikan perlindungan dan pelestarian owa jawa.

 Kegiatan bididaya lebah untuk mendukung upaya pelestarian Owa Jawa


Hari ini juga (20 Mei)  tatkala Hari Lebah Dunia bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Jika pada 1908 berdirinya Boedi Oetomo menandai bangkitnya kesadaran untuk memerdekaan bangsa melalui nasionalisme dan persatuan, maka pada saat-saat ini kita bisa pula mengambil momentum peringatan itu untuk membangkitkan semangat mengelola sumber daya alam kita dengan lebih baik. Salah satunya melalui budidaya lebah.

Selamat Hari Lebah Dunia!

Monday, March 28, 2022

Meliponikultur Mendolo: merajut asa lewat budidaya

oleh : Sidiq Harjanto


kotak lebah klanceng di kebun campur/wana-tani. foto : swaraowa


Dalam sebuah dokumen yang dikeluarkan Food and Agriculture Organization (FAO), disebutkan bahwa budidaya lebah merupakan aktivitas ekonomi terbaik bagi masyarakat di sekitar kawasan hutan. Budidaya lebah memberikan dua manfaat yang saling melengkapi yaitu manfaat ekonomi melalui nilai jual produk-produknya, dan manfaat ekologi melalui jasa penyerbukan yang diberikan oleh lebah. Atas dasar itu, Swaraowa mengangkat perlebahan sebagai salah satu program prioritas bagi masyarakat yang tinggal di sekitar habitat owa jawa di Kecamatan Petungkriyono dan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan.

Lebah Klanceng ( Heterotrigona itama) Foto Wicak Baskoro

Di Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang, geliat budidaya lebah klanceng --atau dikenal dengan istilah meliponikultur-- mulai terasa sejak beberapa tahun terakhir. Dimulai dari inventarisasi jenis lebah, lalu pembuatan demplot budidaya, dan diikuti sosialisasi-sosialisasi kepada masyarakat mengenai potensi pengembangan meliponikultur di desa ini. Setidaknya setahun terakhir, beberapa warga telah memulai membudidayakan lebah klanceng, terutama jenis Heterotrigona itama.

diskusi teknik budidaya lebah klanceng. Foto : Cashudi

Pada 25 Maret 2022, Swaraowa dibantu Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo mengadakan pelatihan budidaya lebah klanceng bagi masyarakat Mendolo. Sedianya kegiatan ini sudah diagendakan pada tahun sebelumnya. Namun, situasi pandemi membuatnya tertunda. Sebanyak 21 orang warga mengikuti kegiatan pelatihan yang dikemas dalam bentuk diskusi partisipatif ini. Selain meningkatkan pemahaman dalam teknis pemeliharan lebah klanceng, pertemuan ini juga bertujuan untuk mengevaluasi budidaya lebah klanceng yang telah dijalankan oleh para warga.

Rohim, salah satu warga Mendolo mengisahkan bahwa kendala yang dihadapinya dalam membudidayakan lebah klanceng antara lain beberapa koloni lebah yang melemah, dan madu yang tidak segera bisa dipanen. “Saya sudah beberapa kali memindahkan koloni klanceng dan berakhir dengan kegagalan. Sepertinya lebah-lebah itu kabur,” katanya membuka diskusi. Kendala ini ternyata diamini oleh sebagian peserta lainnya. Mereka seringkali menghadapi permasalahan yang sama.

diskusi dan praktek pemindahan koloni. Foto Cashudi


Giliran para peternak yang telah berhasil untuk berbagi pengalaman masing-masing. Melalui diskusi yang berlangsung seru, akhirnya terungkap bahwa koloni-koloni yang melemah umumnya disebabkan oleh kesalahan dalam teknik pemindahan koloni. “Sebenarnya bukan koloninya kabur, tetapi kehabisan winih (lebah pekerja_red). Berarti cara pemindahannya yang belum baik,” kata Tarjuki yang telah berhasil membudidayakan sekitar 25 koloni lebah klanceng. Cara pemindahan koloni yang kurang tepat menyebabkan banyak lebah pekerja mengalami disorientasi sehingga kehilangan rumahnya.

Selain faktor pemindahan, lokasi lahan budidaya juga perlu dipertimbangkan. Lokasi yang baik hendaknya cukup ternaungi, tetapi tidak terlalu rapat. Setidaknya cahaya matahari masih bisa masuk dan sirkulasi udara harus bisa menjamin bahwa tempat menaruh koloni lebah tidak terlalu lembab agar tidak memicu tumbuhnya jamur yang bisa merusak sarang lebah. Tutupan vegetasi lahan juga tidak boleh terlalu terbuka karena rawan serangan burung seriti.

Pembudidaya atau peternak lebah mestinya selalu memantau koloni-koloni lebah yang dikelolanya, setidaknya seminggu sekali. Hal ini penting dilakukan untuk mendeteksi dini adanya binatang-binatang pengganggu seperti kumbang ketip, laba-laba, dan semut hitam. Jika binatang-binatang itu menyerang koloni maka produktivitas madunya bisa terganggu. Bahkan, beberapa jenis hama yang sifatnya parasit bisa memusnahkan koloni lebah sehingga menimbulkan kerugian besar bagi peternak.

Tarsono, peternak lainnya menekankan bahwa hendaknya pemanenan madu dilakukan secara bijak agar koloni lebah tetap memiliki persediaan makanan, terutama menjelang musim penghujan saat bunga-bunga penghasil pakan bagi lebah sudah mulai langka. “Dari pengalaman-pengalaman musim panen tahun kemarin, saya menyimpulkan bahwa madu klanceng jangan dipanen semuanya. Sebaiknya disisakan sebagian untuk persediaan pakan bagi koloni lebah, terutama saat menjelang musim penghujan,” terangnya. Untuk menjamin ketersediaan pakan, warga dihimbau menanam aneka bebungaan yang tidak mengenal musim. Bunga-bunga ini bisa mengisi bulan-bulan ‘paceklik’ bagi lebah.

Para peserta lalu bersama-sama melihat desain kotak lebah klanceng yang ideal. Kotak eram untuk meletakkan telur-telur ukurannya 15x15x15 cm. Lalu, di bagian atasnya dipasang kotak topping untuk kompartemen madu. Dengan adanya pemisahan kotak eram dan kotak madu ini maka pemanenan bisa dilakukan tanpa terlalu mengganggu koloni lebah. Pemanenan madu sebaiknya dilakukan dengan alat sedot vakum elektrik sehingga kebersihannya terjaga. Teknik sedot ini juga mempercepat produksi madu karena sarang-sarang madu tidak ikut diambil sehingga lebah-lebah bisa mendaur ulang materialnya.

Pada kesempatan ini, Swaraowa membagikan buku petunjuk praktis budidaya lebah klanceng atau meliponikultur. Buku ini merupakan pengetahuan-pengetahuan yang dirangkum oleh Swaraowa dari riset yang dilakukan di demplot budidaya selama beberapa tahun terakhir dan data-data dari berbagai sumber rujukan pendukung. Buku ini diharapkan bisa menjadi tambahan referensi bagi masyarakat dalam mengembangkan usaha budidaya lebah yang telah mereka rintis.

Akhirnya, kegiatan pelatihan ini sekaligus menjadi persiapan bekal pengetahuan bagi para peternak lebah klanceng di Mendolo untuk mempersiapkan diri menghadapi musim kemarau tahun ini. Keringnya musim kemarau membuat bunga-bunga hutan bermekaran. Musim madu segera tiba. Para warga Mendolo telah bertekad meningkatkan keberhasilan budidaya klanceng di desa mereka.


Friday, December 17, 2021

Jenis-jenis Lebah Madu di hutan habitat Owa Jawa


Kegiatan konservasi Owa jawa, yang telah dan sedang berjalan di Jawa Tengah, khususnya di wilayah Kabupaten Pekalongan, selain pengembangan komoditas wana-tani yang berkelanjutan dari kopi yang di pelihara di bawah naungan pohon-pohon hutan alam, sejak tahun 2017 mulai mengembangkan kegiatan pemanfaatan keberadaan lebah.  

Swaraowa dawah koordinasi ahli lebah, Sidiq Harjanto, mengawali kegiatan ini dengan mengidentifikasi jenis-jenis lebah yang ada di hutan Sokokembang, kemudian secara geografis mengamati jenis-jenis yang ada beberapa lokasi yang berbeda tipe habitat dan ketinggian tempat. Bersamaan dengan ini juga mulai mengidentifikasi kegiatan-kegiatan yang sudah ada terkait dengan pemanfaatan lebah. Perburuan lebah madu di musim kemarau, juga menjadi fenomena yang menarik untuk dipelajari dan di kembangkan pemanfaatan yang lestari. danLaporan singkat tentang jenis-jenis lebah ini di tuliskan di bulan februari 2017, (baca cinta lebah Indonesia). Bersaamaan dengan ini kegiatan untuk membudidayakan jenis-jenis lebah ini mulai di kembangkan, di beberapa desa di sekitar hutan habitat Owa jawa, di Sokokembang, Tinalum, untuk jenis-jenis lebah tanpa sengat, dan jenis-jenis lebah sengat dari keluarg Apis cerana di dusun Setipis, yang semuanya berada di wilayah kecamatan Petungkriyono

Pengembangan budidaya lebah ini karena sebaran Owa Jawa juga ada di hutan di wilayah kecamatan Lebakbarang, desa Mendolo menjadi salah satu lokasi pengembangan intensif untuk jenis-jenis lebah tanpa sengat, salah satu yang favorit di kembangkan karena produktifitas madunya tinggi adalah jenis Heterotrigona itama, dan hingga saat ini beberapa kelompok warga sudah memanfaatkan lebah ini untuk investasi yang ramah hutan sekaligus melimpah.

Kebutuhan lahan untuk mengembangkan budidaya lebah di hutan atau sekitar hutan bisa dikatakan minim, karena budidaya ini dapat dikombinasikan dengan kegiatan kehutanan atau pertanian pada umumnya. Hutan menyediakan nectar, dan polen sebagai makanan utama lebah, tidak seperti peternakan lainnya, lebah dapat pergi pulang sendiri mencari makan, menyimpannya sebagai cadangan makanan dalam bentuk madu dan juga lilin lebah. Peran penting dari kunjungan lebah-lebah ke bunga adalah polinasi ,mengawinkan tanaman, produksi buah, regenerasi hutan,  tanaman pangan, ada korelasi positif dengan adanya serangga pollinator, terutama jenis-jenis lebah

Saturday, October 31, 2020

Pelatihan pemanfaatan dan pengembangan lilin lebah di Desa Mendolo, Lebakbarang, Pekalongan

Ditulis oleh : Sidiq harjanto, email : sidiqharjanto@gmail.com


produk jadi, lillin aroma terapi dan pomade rambut #wildlifefriendly

Kawasan hutan menjadi penyangga kehidupan bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Hutan memberikan manfaat berupa hasil kayu, hasil hutan bukan kayu (HHBK), maupun jasa lingkungan. Hutan menjadi habitat berbagai jenis fauna, termasuk jenis-jenis lebah. Lebah penghasil madu, sangat familiar sebagai salah satu contoh potensi HHBK. Jenis lebah yang paling banyak dipanen dari kawasan hutan adalah lebah hutan (Apis dorsata). Di samping memiliki nilai penting bagi ekosistem hutan sebagai agensia penyerbukan, lebah memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat hutan. Pengembangan dan pemanfaatan produk turunan dari kegiatan perlebahan ini diharapkan dapat memberi contoh dan mendorong kegiatan ekonomi produktif dan tidak merusak hutan dari sekitar habitat Owa Jawa.

Salah satu contoh pemanfaatan HHBK madu berada di salah satu site kegiatan SwaraOwa, yaitu Desa Mendolo. Desa ini termasuk wilayah administratif Kecamatan Lebakbarang, Kab Pekalongan. Kawasannya terdiri dari hutan alam, lahan wanatani, sawah, dan pemukiman. Desa ini telah identik dengan pemanenan lebah hutan atau masyarakat menyebutnya ‘tawon nggung’. Nama ilmiahnya Apis dorsata. Memanen madu hutan menjadi keahlian mayoritas laki-laki dari desa ini.

praktek pengolahan lilin lebah


Barangkali sebagian besar masyarakat hanya mengetahui madu sebagai produk perlebahan. Madu memang dikenal sebagai komoditas paling popular, karena sebagian besar orang menyukai rasa manisnya. Madu dikonsumsi sebagai suplemen kesehatan, atau bahkan sebagai obat. Hanya sampai di situ saja pengetahuan orang terhadap lebah. Padahal, selain madu masih banyak produk yang dihasilkan oleh lebah. Komoditas-komoditas lainnya antara lain propolis, royal jelly, pollen lebah (beepollen), dan lilin lebah (beeswax).

Lilin lebah atau dikenal sebagai beeswax dihasilkan oleh kelenjar pada bagian segmen-segmen perut (abdomen) lebah. Lilin ini merupakan bahan utama penyusun sarang bagi lebah, berbentuk segi enam yang sangat khas itu. Fungsinya adalah sebagai pelindung larva dan pupa, serta penyimpanan makanan seperti madu, roti lebah (beebread), dan royal jelly.  Lilin lebah ini bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia. Biasanya lilin lebah diekstrak dari sisa kantong madu yang telah dipanen. Sisa-sisa kantong madu tersebut dipanaskan hingga mencair, kemudian disaring, dan dicetak. Produknya masih berupa lilin mentah yang bisa diproses lagi menjadi berbagai produk turunan.

bahan bahan untuk membuat pomade dan lilin aromaterapi
Pemanfaatan lilin lebah di beberapa peradaban kuno barangkali adalah sebagai lilin bakar untuk penerangan. Orang-orang Mesir kuno juga menggunakan lilin lebah sebagai bahan patung dan lukisan. Pada masa lalu, beeswax juga digunakan dalam kedokteran gigi, misalnya sebagai bahan terapi gigi yang berlubang seperti yang ditemukan di Slovenia. Lalu dalam perkembangannya, lilin lebah digunakan dalam pembuatan kosmetik, sabun, dll. Di Jawa, tradisi lilin lebah juga sudah relatif tua, yaitu sebagai bahan dalam pembuatan batik.

Sebagai kontribusi dalam pengembangan produk-produk HHBK berbasis lebah, SwaraOwa membuat pelatihan pengolahan lilin lebah bagi Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo pada Minggu, 18 Oktober 2020, bertempat di demplot perlebahan SwaraOwa di Desa Mendolo. Pelatihan ini bertujuan untuk mengenalkan produk-produk turunan dari lilin lebah. Sebagai langkah awal, pelatihan ini mengangkat dua produk turunan, meliputi pomade dan lilin aroma terapi. Pomade merupakan produk yang popular digunakan dalam penataan rambut, terutama di kalangan anak muda. Sedangkan lilin aroma terapi adalah lilin bakar yang telah diinput dengan aneka aroma dari essensial oil. Dua produk ini dipilih karena proses pembuatannya yang sederhana.

Selain proses pembuatan yang mudah, bahan-bahannya pun cukup mudah diperoleh. Lilin lebah merupakan produk yang dihasilkan sendiri oleh para pemanen madu lebah dorsata di Desa Mendolo, sedangkan bahan-bahan lainnya relatif mudah diperoleh di pasaran. Beberapa di antaranya bahkan bisa diproduksi sendiri. Untuk pembuatan pomade, lilin lebah menjadi salah satu bahan utama, selain beberapa bahan lain seperti microwax, vaseline, virgin coconut oil (VCO), castor oil, dan essential oil. Sedangkan bahan untuk pembuatan aroma terapi antara lain beeswax, minyak kelapa, essential oil, benang katun untuk sumbu lilin, dan gelas wadah lilin.

Dalam pelaksanaan pelatihan ini, SwaraOwa menggandeng salah satu praktisi produsen pomade di Kabupaten Pekalongan @timbankklimis sebagai narasumber. Selain mengenalkan bahan dan proses pembuatan produk, narasumber juga memberikan gambaran pemasaran produk tersebut. Antusiasme peserta nampak dari awal sampai selesainya kegiatan pelatihan ini.

Dengan adanya pelatihan ini diharapkan bisa memberikan inspirasi bagi pemuda di Desa Mendolo, terutama mereka yang tergabung dalam kelompok PPM- Mendolo, untuk bisa mengoptimalkan potensi yang ada di wilayah mereka. Lilin lebah, misalnya, yang selama ini hanya dijual dalam bentuk yang masih mentah, dapat diolah menjadi produk dengan nilai jual yang jauh lebih tinggi. Dengan bekal keterampilan yang telah diberikan, semoga akan muncul produk-produk baru dari Desa Mendolo yang mencerminkan identitas desa ini sebagai desa hutan dengan segenap potensi alamnya. Salam lestari!

 

Saturday, May 23, 2020

Merawat Lebah: Matapencaharian berkelanjutan dan Pelestarian Hutan di Mendolo

Oleh : Sidiq Harjanto
Desa Mendolo, Lebak Barang,Kab. Pekalongan


Selain di Petungkriyono, Swaraowa telah memperlebar sayap ke Kecamatan Lebakbarang, dengan fokus kegiatan di Desa Mendolo. Desa ini dikelilingi hutan. Masih ada owa jawa dan jenis-jenis primata lain, termasuk kukang. Swaraowa mulai membuat kegiatan di Mendolo pertama kali di tahun 2015, ketika itu bersama dengan Dinas Kehutanan, Kabupaten Pekalongan, melakukan inventarisasi flora dan fauna dilindungi di Kabupaten Pekalongan,  dan setelah itu mulai sering berkunjung kesana, dan mengembangkan kegiatan bersama warga di Mendolo sejak tahun 2017 dan berjalan hingga sekarang. Desa ini memiliki 4 pedukuhan, sebagian besar warganya hidup dari mengelola lahan hutan dan memanen madu hutan. Karakter masyarakatnya yang sangat dekat dengan hutan menjadi alasan kuat bagi kami untuk menjadikan Mendolo sebagai site kegiatan.
Owa jawa di hutan Mendolo

Pada 2017 kami melakukan penggalian informasi mengenai jenis-jenis lebah madu yang ada di kawasan Mendolo, beserta pemanfaatannya. Dari hasil penggalian informasi tersebut ditemukan 5 jenis lebah madu, terdiri dari 2 jenis lebah bersengat, dan 3 jenis lebah tanpa sengat atau lazim disebut klanceng. Sebagian jenis lebah madu telah dimanfaatkan oleh masyarakat. Pemanenan madu hutan Apis dorsata dan lebah klanceng (Trigona spp.) dilakukan turun-temurun dan menjadi tradisi yang telah melekat pada masyarakat Mendolo. Hasil riset ini telah dipaparkan pada Seminar Nasional Perlebahan Tropik di Fak Peternakan, September 2019.


Koloni lebah klanceng yang sedang di kembangkan di Mendolo

Dengan informasi tersebut, bisa dikatakan bahwa perlebahan merupakan salah satu potensi besar dari Desa Mendolo. Maka strategi kami selanjutnya adalah melakukan uji coba budidaya khususnya untuk jenis-jenis lebah klanceng. Tahapannya meliputi menentukan lokasi uji coba, menentukan jenis yang ideal, membuat desain kotak budidaya (stup lebah). Langkah selanjutnya memperoleh koloni dari alam, memelihara koloni-koloni dengan  Kriteria jenis yang dipilih antara lain jumlahnya melimpah, produksi madu ekonomis, dan mudah dipelihara. Selama satu tahun uji coba, koloni-koloni lebah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan dan dianggap layak untuk ditingkatkan skalanya.
Hasil uji coba budidaya yang dilakukan di tahun sebelumnya menunjukkan hasil yang cukup baik. Maka pada 2019 kami memutuskan untuk membuat demplot budidaya sebagai pusat pembelajaran bagi masyarakat. Ini menjadi lompatan untuk scalling up meliponikultur di Mendolo. Harapannya dengan adanya pusat informasi perlebahan ini, maka masyarakat akan tertarik dan tergerak untuk melakukan budidaya. Ini akan menjadi langkah awal untuk mengangkat Mendolo sebagai sentra budidaya klanceng. Pada 2019 pula kami fokus pada penggalian informasi mengenai pakan lebah. Ketersediaan pakan lebah menjadi kunci penting dalam budidaya. Ada sekitar 44 jenis tumbuhan hutan yang menjadi pakan bagi lebah. Tumbuhan berbunga menyediakan sumber pakan, baik berupa nektar maupun serbuk sari.
Paguyuban Petani Muda Mendolo sedang belajar menyangrai kopi

Kami menyadari bahwa peran aktor lokal menjadi kunci kesuksesan program SwaraOwa di Mendolo. Antusiasme masyarakat lokal ditunjukkan dengan terbentuknya sebuah komunitas pemuda, yang kemudian menamakan diri sebagai Paguyuban Petani Muda Mendolo. Berdiri pada 18 Agustus 2019, dalam suasana hari kemerdekaan, sekelompok pemuda sepakat untuk mendedikasikan diri bagi pengembangan potensi desa mereka. Melalui diskusi bulanan mereka membangun persepsi dan menumbuhkan cita-cita. Program yang telah mereka jalankan meliputi penguatan kapasitas, partsisipasi dalam berbagai kegiatan, sampai kegiatan produksi. Kini mereka telah memiliki produk kopi dengan brand Kopi Batir. Mereka juga mulai merintis kebun pembibitan guna memenuhi kebutuhan bibit aneka tanaman budidaya bagi kebun-kebun mereka sendiri.
demplot lebah klanceng ds. Mendolo
demplot lebah klanceng ds.Mendolo


Sejatinya 2020 akan menjadi momentum untuk semakin meningkatkan skala kegiatan, namun pandemi Covid-19 telah memaksa semuanya berhenti. Yang bisa kami lakukan saat ini adalah melakukan refleksi terhadap apa-apa yang telah dikerjakan, menjadikannya bahan untuk memulai langkah baru. Situasi ini tentunya memaksa kami memutar otak untuk menyesuaikan diri. Akan banyak modifikasi pada program-program yang telah kami rancang, atau bisa saja akan ada ide segar yang benar-benar baru. Aapapun itu, semangat kami tetap akan menyala untuk terus berkarya bersama masyarakat Mendolo. Semoga pandemi segera berlalu, dan keadaan akan menjadi normal kembali.

Thursday, November 15, 2018

Tabungan ekologi : Serangga pollinasi



Akhir tahun 2017, kita pertamakali mencoba mengenalkan teknik budidaya lebah kepada warga sekitar hutan habitat Owa di Pekalongan (baca disini liputannya). Berawal dari pengamatan sehari-hari ketika musim kemarau memang banyak sekali pemburu lebah madu, ada beberapa warga yang sudah mencoba membudidayakan dengan metode tradisional.  Artinya pengetahuan dan praktik budidaya sudah ada hanya perlu di tingkatkan pengetahuan dan prakteknya.

Melihat tempat lain sebagai referensi juga sangat membantu pengetahuan budidaya lebah ini, terutama membangun sesama pegiat lebah saling tukar pengalaman dan pengetahuan. Sisi ekonomi juga sudah mulai muncul, karena madu juga di banyak di jual belikan di dusun-dusun sekitar hutan.
Seperti tulisan terdahulu, lebah klanceng sangat potensial untuk dikembangkan untuk mendukung pelestarian hutan habitat owa, pengelolaan yang berkelanjutan menjadi tantangan ke depan, karena selain ada nilai ekonomi, budidaya lebah juga sangat erat kaitannya dengan sistem budidaya pertanian yang ramah lingkungan. Dan sangat sesuai apabila di terapkan dalam sistem agroforest, sebagai kawasan penyangga hutan habitat Owa.
Sedang memeriksa kotak lebah di Ds.Sokokembang

Di Sokokembang kini ada salah satu alumni pelatihan tahun lalu yang terus mencoba pengembangan budidaya Klanceng ini, pengalaman setahun ini dimulai dari koloni liar yang coba di domestikasi dan di kembangkan di sekitar rumah. Sudah ada sekitar 20 kotak, lebah yang terus di pantau perkembangannya. Ada yang pergi, ada yang mati, ada yang di serang kelompok lebah lain, menyesuaikan ukuran kotak lebah, dan produksi madu dapat di pantau selama setahun ini, dan sepertinya untuk melangkah ke sisi bisnis, juga masih perlu waktu dan ketekunan.
Budah durian di dusun Mendolo, setelah 1 minggu usai berbunga
Di Dusun Mendolo, kita juga mempunya tempat belajar tentang lebah ini, hampir semua warga dusun sudah mengenal lebah klanceng, berburu madu hutan menjadi pekerjaan sampingan yang utama ketika musim kemarau. Bukan hal baru tentang lebah madu, tapi selalu ada yang baru untuk dipelajari dari kegiatan ini. Salah satu warga di dusun ini saat ini juga mempunyai kurang lebih 30 kotak lebah, dan melihat hal ini beberapa tetangga juga sudah mulai ada yang memelihara 1-3 kotak di sekitar rumah. Pengalaman yang berbeda dengan di Sokokembang juga memunculkan hal-hal yang tidak di perkirakan sebelumnya, misalnya, kondisi sekitar tempat budidaya adalah banyak sumber bunga, produksi madu juga sangat melimpah.
kotak-kotak lebah di sela-sela tanaman kebun sekitar rumah
Lebah, T. itama di hutan habitat Owa Jawa

Catatan publikasi terbaru tentang populasi serangga termasuk di dalamnya lebah dan kumbang, di bebebrapa negara tropis mengalami penurunan yang cukup drastic. Tahun 2014 para ahli serangga dunia telah memperingatkan bahwa telah terjadi penurunan hingga 45%. Dan tahun 2017 publikasi terbaru ini telah mengalami penurunan hingga 75 %. Tentu saja hal ini di peroleh dari data yang informasi tentang serangga ini sudah cukup tersedia dengan baik.  Dari tulisan tersebut sangat sederhana indikatornya, dan mungkin bisa kita coba juga di tempat kita. Kalau berkendara malam hari dalam jarak tertentu berapa banyak serangga yang menabrak kaca mobil kita, atau lampu depan kita? Karena serangga bisanya mencari arah datang sumber cahaya kalau malam hari.  Bisa anda ingat waktu kecil anda kalau sering naik motor atau mobil malam hari sering nggak nabrak serangga terbang malam hari? dan kalau anda ingat, bandingkan dengan sekarang apakah serangga yang menabrak anda ketika jalan malam hari lebih banyak sekarang atau jauh lebih sedikit?

Apa nilai pentingnya serangga? Lebih dari 70% species binatang adalah serangga. Mungkin bisa saja kita katakan sekedar serangga, tapi merekalah yang membuat sistem ekologi di bumi berputar. Serangga menyerbuki tanaman pangan yang kita makan (sayuran, durian, mangga, pisang, pohon buah di hutan), serangga merupakan pengendali alami hama tanaman pangan, ada juga serangga-serangga yang khusus menguraikan sampah-sampah kita. 
Ya mereka sangat penting untuk kehidupan kita. Kehilangan para serangga bisa terjadi bencana ekologis !!
Owa jawa primata pemakan buah
Sentul, atau kecapi  (Sandoricum sp) salah satu buah kesukaan Owa

Kegiatan-kegiatan di sekitar hutan, sebagai pendukung untuk menjaga hutan tetap ada seperti hutan berdasarkan hubungan saling ketergantungan inilah menjadi salah satu yang coba terus di arus utamakan dalam bingkai  konservasi Owa jawa. Prinsip ekologis yang saling terkait,  peran penting hidupan  liar untuk kehidupan , dalah hal yang mudah di baca atau di ucapkan, namun pelaksanaan dari ide atau gagasan itu tidaklah semudah yang ada dalam tulisan, karena madu memang tidak selalu “manis”.

Sumber bacaan :




Wednesday, December 13, 2017

Heterotrigona itama dari habitat Owa

Salah satu kegiatan penguatan ekonomi di habitat Owa Jawa, khususnya di wilayah hutan Sokokembang, Petungkriyono Pekalongan adalah membudidayakan lebah hutan. Bertujuan selain untuk produksi madu yang bernilai ekonomi tinggi dan sehat, namun juga mengarus utamakan peran lebah-lebah ini sebagai agen penyerbukan, pollinator.



Yang dalam video ini adalah jenis lebah madu klanceng memang paling besar di genus trigona,Heterotrigona itama lebah yang berwarna hitam dan, dan tentunya untuk produksi madu juga lebih cepat, secara kemampuan jelajah terbang tentu jenis ini juga lebih banyak mengunjugi bunga, kemungkinan fungsi pollinatorya juga lebih luas. Pelatihan budidaya lebah beberapa waktu lalu setidaknya juga telah memberi pengetahuan dan pengalaman baru bagi warga sekitar habita Owa, bahwa lebah-lebah ini juga turut berperan penting bagi lingkungan sekitar.

Warga ds.Sokokembang dengan kotak lebahnya

 Lingkungan yang sesuai tentu saja menjadi syarat untuk tumbuh berkembangnya lebah-lebah ini, dan tentunya butuh waktu untuk berproses menjadi sumber pendapatan  yang berkelanjutan. Harapan juga hutan terus lestari, karena semakin banyak pollinator juga memungkinkan hutan dan tanaman pangan terus ber regenarasi.
Peran penting lebah untuk penyerbukan tanaman

bacaan lebih lanjut :
https://taxo4254.wikispaces.com/Heterotrigona+itama
http://welovefuture.net/meliponiculture/?lang=en


Thursday, September 14, 2017

Pelatihan Budidaya Klanceng di Habitat Owa Jawa

Pengenalan lebah klanceng oleh Mas.Sidiq Harjanto

Welo Asri, 11 September 2017. Pelatihan budidaya lebah yang ada di habitat Owa bulan ini, juga dilakukan untuk lebah jenis stingless  atau lebih di kenal dengan klanceng. Lebah klanceng di habitat owajawa petungkriyono ini tercatat ada beberapa jenis, salah satunya Tetragonula laeficeps. Kalau pelatihan yang pertama kemaren tanggal 8-9 September bertujuan untuk mengenalkan teknik budidaya lebah madu-tawon unduhan (Apis cerana). Lebah lebah tanpa sengat ini berhabitat di hutan hujan dataran rendah, sementara itu utuk lebah sengat dari genus Apis ini lebih banyak di jumpa di habitat pegunungan, meskipun juga ada di dataran rendah.
Kantung madu lebah klanceng

Kita memilih lokasi di Welo Asri, salah satu tempat wisata yang di kelola warga kayupuring, untuk tujuan wisata. Pemilihan lokasi ini karena lebah-lebah klanceng, lebah kecil tanpa sengat ini banyak di hutan mulai dari Sokokembang hingga Kayupuring, dan beberapa warga memang telah mengenali klanceng dari madu nya yang lebih asam dibanding dengan madu yang di hasilkan oleh lebah madu (tawon unduhan). Namun sebenarnya jenis-jenis klanceng ini karena ukurannya yang kecil, menurut beberapa penelitian sangat berperan dalam penyerbukan tanaman kopi, untuk jenis robusta di hutan habiat Owa, dan bisa jadi ada korelasi positif antara produksi kopi robusta dan keberadaan klanceng.
inisiasi awal tentang lebah di habitat Owa Jawa telah di lakukan dan baca disini laporannya .

Memindah koloni alam ke kotak lebah

Pelatihan dipandu oleh tim swaraOwa dan turut mengundang 12 warga dari beberapa desa di Petungkriyono. Dimulai dengan pengenalan jenis-jenis lebah dan potensinya sebaga penghasil madu. Lebah-lebah klanceng ini banyak di besarang di lubang-lubang kayu atau bambu. Klanceng mempunyai struktur sarang yang berbeda dengan tawon unduhan, oleh karena itu kotak lebah klanceng juga berbeda dengan kotak lebah tawon unduhan.
kotak lebah klanceng

Pemindahan koloni dari alam dan bagaimana merawatnya dan mengembangkan koloni adalah sangat penting untuk klanceng agar supaya menetap di sarang barunya. Tanaman yang berbunga sepanjang tahun adalah sangat penting bagi sumber pakan klanceng. Jenis-jenis tanaman pangan yang berbunga sepanjang tahun juga mulai di identifikasi untuk di kembangkan di sekitar lokasi kotak klanceng.
Klanceng sebagai agen penyerbukan, penghasil madu, dan produk-produk turunannya sangat potensial di kembangkan sebagai bagian terintegrasi pertanian  yang ramah lingkungan. Di akhir acara ini rencana tindak lanjut pelatihan ini juga di diskusikan. Salah satunya adalah mengarus utamakan wisata edukatif tentang lebah di welo asri.  Wisata minat khusus yang sifatnya edukatif dan menambah pengetahuan dan pengalaman pengunjung akan di kembangkan di welo asri, salah satunya adalah lebah-lebah ini. Harapanya pengetahuan tentang lebah ini dapat di bagikan kepada pengunjung oleh para pemandu wisata yang ada di welo asri.


Monday, September 11, 2017

Pelatihan Budidaya Lebah di habitat Owa Jawa

peserta pelatihan lebah
Membudiayakan lebah masih menjadi hal baru untuk sebagian warga serkitar hutan, meskipun sudah di kenal lewat madunya, untuk mendapatkan madu sebagai salah satu sumber ekonomi tidak banyak warga sekitar hutan yang menekuni usaha lebah ini. Peran lebah sebagai penyerbuk tanaman pangan juga tidak banyak yang mengambil bagian untuk di prioritaskan. Habitat Owa di wilayah kecamatan Petungkriyono ini memiliki potensi yang baik untuk budidaya lebah, bunga-bunga dari pohon-pohon di hutan, dan tanaman budidaya  menyediakan sumber pangan bagi lebah, menghasilkan madu yang bernilai ekonomi tinggi.

sarang lebah dari kolini liar
Perburuan lebah liar di hutan untuk diambil madunya masih terjadi saat ini,tentunya hal ini sangat beresiko bagi yang memetiknya, koloni lebah juga terancam punah karena cara memanennya yang tidak mempertimbangkan kelestarian lebah itu sendiri, sarang lebah di ambil dan tentunya banyak yang mati. Ancaman lain yang muncul dari kegiatan perburuan lebah ini adalah terjadinya kebakaran hutan karena menggunakan api untuk memanen lebah liar,yang kadang di tinggalkan begitu saja bisa membesar dan membakar hutan, padahal lebah ini sangat berperan dalam sistem ekologi, sebagai penyerbuk tanaman pangan, produksi tanaman pangan bisa menurun apabila tidak ada serangga ata lebah penyerbuk. 

Beberapa warga sekitar hutan juga sudah mencoba membudidayakan hal ini, namun karena berbagai permasalahan teknis, kurangnya pengetahuan dasar tentang lebah, beberapa upaya budidaya tradisional ini kurang optimal. 

Tanggal 8-9 September ini, swaraowa mengadakan pelatihan peningkatan kapasitas untuk warga sekitar hutan habitat Owa untuk membudidayakan lebah. Tujuannya adalah untuk memberikan kemampuan teknis dan pengetahuan dasar tentang budidaya lebah, sebagai sumber madu yang bernilai ekonomi tinggi juga mengarus utamakan lebah sebagai agen penyerbuk untuk tanaman pangan yang ada di sekitar hutan.
Dr. Hari mencoba memindahkan koloni ke kotak lebah

Kami mengajak DR. Hari Purwanto, seorang entomolog (ahli serangga) dari fakultas biologi UGM dan juga seorang yang di besarkan di keluarga peternak lebah di Kab.Batang. Pengalaman keluarga dan ilmu yang tentang lebah inilah yang di bagikan kepada peserta.

Berlokasi di dusun Setipis, Desa Kayupuring, Kec.Petungkriyono, acara ini di ikuti kurang lebih 20 orang warga, beberapa di antaranya memang mempunyai koloni lebah yang di pelihara, dan sebagian besar juga pernah mengelola lebah untuk di ambil madunya.
mencari permasalahan dari sistem budidaya lebah yang sudah ada 

Pelatihan ini menghususkan budidaya lebah asli yang ada dari hutan, yaitu Apis cerana, warga menyebut tawon unduhan, yang berbeda dengan lebah madu pada umumnya Apis melifera. Menurut pak hari, apis cerana bibitnya tidak perlu beli, karena jenis ini memang sudah ada di sekitar kita, dan tidak terlalu mudah terserang penyakit.  Pengenalan lebah sebagai makhluk sosial, yang mempunya perilaku khusus, adalah sangat penting sebagai dasar untuk membudidayakan.

Acara hari pertama adalah materi kelas, berisi teori-teori tentang lebah dan teknik budidayanya, dan kemudian praktek lapangan untuk menilai lingkungan yang cocok untuk budidaya lebah. Lebah sangat membutuhkan bunga, untuk sumber pakan dan kalau untuk menghasilkan madu tentu membutuhkan bunga yang tersedia sepanjang tahun. Sebagai contoh pak Hari menyebutkan, bahwa tanaman kaliandra merah yang cukup banyak di sekitar dusun Setipis, sangat penting bagi lebah, untuk saat ini tanaman ini hanya di gunakan untuk pakan ternak, namun untuk lebah harusnya tanaman ini disisakan hingga berbunga, supaya lebah juga bisa terus berada disekitar kita, karena bunga kaliandra merah ini sangat baik menyediakan nectar bagi lebah.

mengenalkan sistem kotak lebah frame dan peralatan pendukungya


Hari kedua, peserta di ajak untuk praktek langsung memindah koloni dari liar dan juga bagamana memperbanyak koloni dari koloni yang sudah ada. Pengenalan alat-alat untuk membantu budidaya lebah juga di perkenalkan, seperti penggunaan beenet dan  smoker. Kotak lebah yang khusus di design untuk jenis lebah Apis cerana juga di kenalkan, dengan kotak lebah system frame dan top bar, ini dapat mempermudah merawat lebah. Hari kedua di akhiri dengan diskusi bersama yang di pandu oleh tim swaraOwa untuk menyusun rencana tindak lanjut dari pelatihan ini.