Showing posts with label stinglessbee. Show all posts
Showing posts with label stinglessbee. Show all posts

Monday, March 28, 2022

Meliponikultur Mendolo: merajut asa lewat budidaya

oleh : Sidiq Harjanto


kotak lebah klanceng di kebun campur/wana-tani. foto : swaraowa


Dalam sebuah dokumen yang dikeluarkan Food and Agriculture Organization (FAO), disebutkan bahwa budidaya lebah merupakan aktivitas ekonomi terbaik bagi masyarakat di sekitar kawasan hutan. Budidaya lebah memberikan dua manfaat yang saling melengkapi yaitu manfaat ekonomi melalui nilai jual produk-produknya, dan manfaat ekologi melalui jasa penyerbukan yang diberikan oleh lebah. Atas dasar itu, Swaraowa mengangkat perlebahan sebagai salah satu program prioritas bagi masyarakat yang tinggal di sekitar habitat owa jawa di Kecamatan Petungkriyono dan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan.

Lebah Klanceng ( Heterotrigona itama) Foto Wicak Baskoro

Di Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang, geliat budidaya lebah klanceng --atau dikenal dengan istilah meliponikultur-- mulai terasa sejak beberapa tahun terakhir. Dimulai dari inventarisasi jenis lebah, lalu pembuatan demplot budidaya, dan diikuti sosialisasi-sosialisasi kepada masyarakat mengenai potensi pengembangan meliponikultur di desa ini. Setidaknya setahun terakhir, beberapa warga telah memulai membudidayakan lebah klanceng, terutama jenis Heterotrigona itama.

diskusi teknik budidaya lebah klanceng. Foto : Cashudi

Pada 25 Maret 2022, Swaraowa dibantu Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo mengadakan pelatihan budidaya lebah klanceng bagi masyarakat Mendolo. Sedianya kegiatan ini sudah diagendakan pada tahun sebelumnya. Namun, situasi pandemi membuatnya tertunda. Sebanyak 21 orang warga mengikuti kegiatan pelatihan yang dikemas dalam bentuk diskusi partisipatif ini. Selain meningkatkan pemahaman dalam teknis pemeliharan lebah klanceng, pertemuan ini juga bertujuan untuk mengevaluasi budidaya lebah klanceng yang telah dijalankan oleh para warga.

Rohim, salah satu warga Mendolo mengisahkan bahwa kendala yang dihadapinya dalam membudidayakan lebah klanceng antara lain beberapa koloni lebah yang melemah, dan madu yang tidak segera bisa dipanen. “Saya sudah beberapa kali memindahkan koloni klanceng dan berakhir dengan kegagalan. Sepertinya lebah-lebah itu kabur,” katanya membuka diskusi. Kendala ini ternyata diamini oleh sebagian peserta lainnya. Mereka seringkali menghadapi permasalahan yang sama.

diskusi dan praktek pemindahan koloni. Foto Cashudi


Giliran para peternak yang telah berhasil untuk berbagi pengalaman masing-masing. Melalui diskusi yang berlangsung seru, akhirnya terungkap bahwa koloni-koloni yang melemah umumnya disebabkan oleh kesalahan dalam teknik pemindahan koloni. “Sebenarnya bukan koloninya kabur, tetapi kehabisan winih (lebah pekerja_red). Berarti cara pemindahannya yang belum baik,” kata Tarjuki yang telah berhasil membudidayakan sekitar 25 koloni lebah klanceng. Cara pemindahan koloni yang kurang tepat menyebabkan banyak lebah pekerja mengalami disorientasi sehingga kehilangan rumahnya.

Selain faktor pemindahan, lokasi lahan budidaya juga perlu dipertimbangkan. Lokasi yang baik hendaknya cukup ternaungi, tetapi tidak terlalu rapat. Setidaknya cahaya matahari masih bisa masuk dan sirkulasi udara harus bisa menjamin bahwa tempat menaruh koloni lebah tidak terlalu lembab agar tidak memicu tumbuhnya jamur yang bisa merusak sarang lebah. Tutupan vegetasi lahan juga tidak boleh terlalu terbuka karena rawan serangan burung seriti.

Pembudidaya atau peternak lebah mestinya selalu memantau koloni-koloni lebah yang dikelolanya, setidaknya seminggu sekali. Hal ini penting dilakukan untuk mendeteksi dini adanya binatang-binatang pengganggu seperti kumbang ketip, laba-laba, dan semut hitam. Jika binatang-binatang itu menyerang koloni maka produktivitas madunya bisa terganggu. Bahkan, beberapa jenis hama yang sifatnya parasit bisa memusnahkan koloni lebah sehingga menimbulkan kerugian besar bagi peternak.

Tarsono, peternak lainnya menekankan bahwa hendaknya pemanenan madu dilakukan secara bijak agar koloni lebah tetap memiliki persediaan makanan, terutama menjelang musim penghujan saat bunga-bunga penghasil pakan bagi lebah sudah mulai langka. “Dari pengalaman-pengalaman musim panen tahun kemarin, saya menyimpulkan bahwa madu klanceng jangan dipanen semuanya. Sebaiknya disisakan sebagian untuk persediaan pakan bagi koloni lebah, terutama saat menjelang musim penghujan,” terangnya. Untuk menjamin ketersediaan pakan, warga dihimbau menanam aneka bebungaan yang tidak mengenal musim. Bunga-bunga ini bisa mengisi bulan-bulan ‘paceklik’ bagi lebah.

Para peserta lalu bersama-sama melihat desain kotak lebah klanceng yang ideal. Kotak eram untuk meletakkan telur-telur ukurannya 15x15x15 cm. Lalu, di bagian atasnya dipasang kotak topping untuk kompartemen madu. Dengan adanya pemisahan kotak eram dan kotak madu ini maka pemanenan bisa dilakukan tanpa terlalu mengganggu koloni lebah. Pemanenan madu sebaiknya dilakukan dengan alat sedot vakum elektrik sehingga kebersihannya terjaga. Teknik sedot ini juga mempercepat produksi madu karena sarang-sarang madu tidak ikut diambil sehingga lebah-lebah bisa mendaur ulang materialnya.

Pada kesempatan ini, Swaraowa membagikan buku petunjuk praktis budidaya lebah klanceng atau meliponikultur. Buku ini merupakan pengetahuan-pengetahuan yang dirangkum oleh Swaraowa dari riset yang dilakukan di demplot budidaya selama beberapa tahun terakhir dan data-data dari berbagai sumber rujukan pendukung. Buku ini diharapkan bisa menjadi tambahan referensi bagi masyarakat dalam mengembangkan usaha budidaya lebah yang telah mereka rintis.

Akhirnya, kegiatan pelatihan ini sekaligus menjadi persiapan bekal pengetahuan bagi para peternak lebah klanceng di Mendolo untuk mempersiapkan diri menghadapi musim kemarau tahun ini. Keringnya musim kemarau membuat bunga-bunga hutan bermekaran. Musim madu segera tiba. Para warga Mendolo telah bertekad meningkatkan keberhasilan budidaya klanceng di desa mereka.


Thursday, September 14, 2017

Pelatihan Budidaya Klanceng di Habitat Owa Jawa

Pengenalan lebah klanceng oleh Mas.Sidiq Harjanto

Welo Asri, 11 September 2017. Pelatihan budidaya lebah yang ada di habitat Owa bulan ini, juga dilakukan untuk lebah jenis stingless  atau lebih di kenal dengan klanceng. Lebah klanceng di habitat owajawa petungkriyono ini tercatat ada beberapa jenis, salah satunya Tetragonula laeficeps. Kalau pelatihan yang pertama kemaren tanggal 8-9 September bertujuan untuk mengenalkan teknik budidaya lebah madu-tawon unduhan (Apis cerana). Lebah lebah tanpa sengat ini berhabitat di hutan hujan dataran rendah, sementara itu utuk lebah sengat dari genus Apis ini lebih banyak di jumpa di habitat pegunungan, meskipun juga ada di dataran rendah.
Kantung madu lebah klanceng

Kita memilih lokasi di Welo Asri, salah satu tempat wisata yang di kelola warga kayupuring, untuk tujuan wisata. Pemilihan lokasi ini karena lebah-lebah klanceng, lebah kecil tanpa sengat ini banyak di hutan mulai dari Sokokembang hingga Kayupuring, dan beberapa warga memang telah mengenali klanceng dari madu nya yang lebih asam dibanding dengan madu yang di hasilkan oleh lebah madu (tawon unduhan). Namun sebenarnya jenis-jenis klanceng ini karena ukurannya yang kecil, menurut beberapa penelitian sangat berperan dalam penyerbukan tanaman kopi, untuk jenis robusta di hutan habiat Owa, dan bisa jadi ada korelasi positif antara produksi kopi robusta dan keberadaan klanceng.
inisiasi awal tentang lebah di habitat Owa Jawa telah di lakukan dan baca disini laporannya .

Memindah koloni alam ke kotak lebah

Pelatihan dipandu oleh tim swaraOwa dan turut mengundang 12 warga dari beberapa desa di Petungkriyono. Dimulai dengan pengenalan jenis-jenis lebah dan potensinya sebaga penghasil madu. Lebah-lebah klanceng ini banyak di besarang di lubang-lubang kayu atau bambu. Klanceng mempunyai struktur sarang yang berbeda dengan tawon unduhan, oleh karena itu kotak lebah klanceng juga berbeda dengan kotak lebah tawon unduhan.
kotak lebah klanceng

Pemindahan koloni dari alam dan bagaimana merawatnya dan mengembangkan koloni adalah sangat penting untuk klanceng agar supaya menetap di sarang barunya. Tanaman yang berbunga sepanjang tahun adalah sangat penting bagi sumber pakan klanceng. Jenis-jenis tanaman pangan yang berbunga sepanjang tahun juga mulai di identifikasi untuk di kembangkan di sekitar lokasi kotak klanceng.
Klanceng sebagai agen penyerbukan, penghasil madu, dan produk-produk turunannya sangat potensial di kembangkan sebagai bagian terintegrasi pertanian  yang ramah lingkungan. Di akhir acara ini rencana tindak lanjut pelatihan ini juga di diskusikan. Salah satunya adalah mengarus utamakan wisata edukatif tentang lebah di welo asri.  Wisata minat khusus yang sifatnya edukatif dan menambah pengetahuan dan pengalaman pengunjung akan di kembangkan di welo asri, salah satunya adalah lebah-lebah ini. Harapanya pengetahuan tentang lebah ini dapat di bagikan kepada pengunjung oleh para pemandu wisata yang ada di welo asri.


Friday, February 17, 2017

Cinta Lebah Indonesia

ditulis Oleh:
Sidiq Harjanto
email : sidiqharjanto@gmail.com

Berternak lebah menghasilkan madu juga membatu produksi tanaman pangan
Selain menghasilkan produk madu yang bernilai ekonomi, lebah memiliki peran yang sangat penting dalam membantu penyerbukan berbagai jenis tanaman tropis, dalam hal ini hutan pada umumnya. Lebah penghasil madu di Indonesia didominasi oleh 3 jenis yaitu Apis dorsata, A mellifera, dan A cerana. Lebah madu A. mellifera sendiri bukan merupakan jenis asli Indonesia, dan sengaja didatangkan ke dalam negeri sebagai lebah penghasil madu. Sebagai negara dengan kekayaan alam yang melimpah, Indonesia memiliki banyak jenis lebah asli (native bee) yang menghasilkan madu.  Dari marga Apis tercatat ada A. andreniformis, A. cerana, Apis dorsata, A. koschevnikovi, dan A. nigrocincta.
 Lebah hutan (Apis dorsata) hidup di habitat hutan yang relatif masih baik, membangun sarang terutama pada dahan-dahan pohon. Menghasilkan madu lebih dari 5 liter perkoloni, lebah ini masih menjadi salah satu pemasok kebutuhan madu nasional. Jenis lebah lokal asli Indonesia lainnya, Apis cerana, cukup banyak dipelihara oleh para peternak skala kecil di pedesaan. Produksi madu dari jenis ini tidak terlalu melimpah namun banyak diburu karena kualitasnya dianggap lebih bagus dibandingkan madu dari lebah impor.
Apis cerana, salah satu lebah asli Indonesia
Barangkali sedikit dari kita yang mengetahui bahwa selain lebah-lebah dari marga Apis, kita memiliki kelompok lebah lain yang potensial untuk menghasilkan produk-produk lebah (madu, polen, propolis). Lebah-lebah tersebut menghuni hutan-hutan yang kita miliki, beberapa jenis bahkan telah beradaptasi hidup di sekitar pemukiman. Uniknya, mereka tidak mempunyai sengat. Lebah tanpa sengat dikenal dengan berbagai nama lokal. Sebutan-sebutan tersebut antara lain kelulut (Melayu), klanceng (Jawa), teuweul (Sunda), gala-gala (Sulawesi), dll. Jenis lebah tanpa bersengat di Indonesia berdasarkan catalog Indomalayan Stingless Bee (Rasmussen, 2008) setidaknya ada 35 jenis. Lebah tanpa sengat dalam satu suku dengan Apis, termasuk dalam suku Apidae, tribus Meliponini.
Taksonomi
Kindom
Filum
Kelas
Bangsa
Suku
Tribus
Marga
: Animalia
: Arthropoda
: Insecta
: Hymenoptera
: Apidae
: Meliponini
: Geniotrigona, Heterotrigona, Lepidotrigona, Sundatrigona, Tetrigona, Tetragonula, dll.
 
lebah tanpa sengat Heterotrigona itama (yang besar) dan Tetragonula cf laeviceps

Lebah tanpa sengat hidup dalam koloni dengan pembagian tugas yang jelas (eusosial). Dalam satu koloni terdiri dari satu atau lebih ratu, ratusan lebah jantan, dan ribuan lebah betina steril. Tugas ratu adalah bertelur untuk menghasilkan keturunan baru. Tugas lebah jantan hanya kawin. Sedangkan lebah betina steril memiliki berbagai tugas seperti mengumpulkan pakan; menjaga sarang; dan merawat ratu, lebah jantan, dan lebah-lebah muda.
Semua jenis lebah tanpa sengat diketahui bersarang pada lubang, dengan satu pintu masuk yang dilengkapi dengan sistem keamanan. Karena tidak dilengkapi dengan organ penyengat sebagai pertahanan diri, mereka membangun sarangnya dengan suatu sistem keamanan yang unik guna menjaga sarang dari ancaman penyusup maupun penyakit. Pemilihan sarang pada lebah tak bersengat cenderung menunjukkan adanya variasi. Misalnya jenis Heterotrigona itama cenderung memilih lubang-lubang pohon sebagai tempat membangun sarang. Heterotrigona thoracica cenderung memilih lubang-lubang batuan atau pohon dengan diameter batang yang besar. Sedangkan jenis Tetragonula laeviceps, sebagai jenis yang cukup umum, cenderung lebih pragmatis dalam memilih media sarang. Mereka bisa menghuni ruas bambu, lubang pada cacat bangunan, pipa, dll.
sarang lebah tanpa sengat

Seperti lebah Apis, lebah tanpa sengat juga mengumpulkan nektar dan polen sebagai makanan. Nektar diproses menjadi madu, sedangkan serbuk sari digunakan untuk makanan ratu lebah dan larva lebah. Baik madu maupun serbuk sari (roti lebah) disimpan dalam kantong-kantong yang terbuat dari campuran resin tanaman dan lilin lebah, sebagai cadangan makanan.
Di sisi lain, lebah berukuran kecil –tidak lebih besar dari lalat- ini juga menghadapi ancaman serius oleh semakin terdesaknya habitat mereka. Sebagaimana kita ketahui, Indonesia merupakan salah satu negara dengan laju kehilangan hutan yang tinggi di dunia. Hilangnya hutan sebagai habitat utama lebah tanpa sengat menyebabkan hilangnya banyak populasi lebah dari kelompok ini di berbagai tempat. Beberapa jenis tertentu masih mampu bertahan di habitat yang kurang bersahabat, namun mereka juga menghadapi masalah dalam menemukan tempat untuk bersarang. Tak heran jika lebah-lebah mungil tersebut terkadang dijumpai bersarang di tempat yang kurang layak.
Besarnya keanekaragaman jenis lebah tanpa bersengat; dengan variasi dalam ukuran tubuh, perilaku, dan relung habitatnya; menjadikan mereka memiliki peran dominan dalam penyerbukan. Penyerbukan bunga pada beberapa jenis tanaman diduga sangat tergantung dengan keberadaan lebah. Dengan manfaat yang sedemikian besar, kiranya diperlukan upaya serius guna menjaga kelestarian lebah tak bersengat di Indonesia

 Save our native bees!


Rasmussen, C. 2008. Catalog of Indomalayan / Australasian stingless bee (Hymenoptera: Apidae: Meliponini. Zootaxa, 1935, 3-80.

Thursday, January 26, 2017

Let it Bee : when the pollinators become mainstream

Stingless bee visiting flower of crop

Buzzzz…zzzzz  no we can’t hear the bee flying, this is tiny bee, size as flies, no sting, role as pollinators and producing honey too, Stingless bee!!. We have done shared our knowledge and gain new experience on meliponiculture in the habitat of critically endangered primates. Located in Kemuning village, Temanggung regency, Central Java, this site is recognized as habitat of Javan slow loris, first time we discover in this area in 2013 (read here for the report). After we found the javan slow loris existed, students continue to do research in this area. And now a conservation organization (Javan Wildlife Institute) initiated by Wildlife Lab of  Forestry Faculty, Gadjah Mada University continue the fieldwork, not only academic research but also assist people of Kemuning to protect and generate alternative income.

Shadegrown coffee habitat of Javan slow loris
Javan Slow loris

As we know wildlife hunting is the main threats for the biodiversity in Kemuning forest, we try to develop solution to increase their knowledge and capacity to maintain sustainable forest product. We have been working since last year to manage stingless bee honey from the Javan gibbon habitat, and now we try to introduce this scheme in the kukang habitat. Mainstreaming conservation of pollinators and introducing management of the stingless bee honey production.
Stingless bee honey 
On Saturday and Sunday (21/22 January 2017) organized by JAWI we conduct training for villagers in Kemuning, and there are 10 participants from the Kemuning village to join in the two days training. Our team give an introduction and share experience on stingless bee, honeys and their relationship with crops and forest habitat. Introductory about native bees and it’s role in our environment were emphasized in the discussion with the participants. Moreover, this bee is producing honey that very healthy and economically viable.
knowledge sharing about stingless bee
This training is intended to bring some long-term solution to conserve forest as habitat of endangered animals but also give real example for sustainable forest product who provide sustainable income. Next activities is we will active to encourage participants to manage bees colonies and give direct assistant on marketing strategy for the  stingless bee honey.
field practice, how to manage stingless bee colony



Thursday, January 19, 2017

Tabungan Ekologi : Mengelola Lebah dan Kopi


Selamat Tahun Baru 2017 !! tulisan pertama untuk mengawali semangat baru pelestarian Owa di Indonesia. Alam menyediakan hal baru bagi yang berpikir untuk di pelajari dan dikembangkan untuk kemajuan kehidupan sosioekologis kita. Hal baru  yang coba kita pelajari saat ini adalah tentang serangga-serangga yang yang membantu penyerbukan kopi hutan di habitat Owa. Salah satu focus taxa kita kali ini adalah jenis lebah tanpa sengat. Warga sekitar habitat menyebut klanceng, sejenis tawon seukuran lalat yang sering bersarang di dalam batang pohon menghasilkan madu. Madu lebah ini mempunyai nilai ekonomi tinggi, namun karena masih memanen secara alami dari hutan produksi madu ini juga sangat terbatas, pada musim musim tertentu saja dan juga dengan jumlah yang sedikit.
lebah tanpa sengat di bunga kopi robusta
Sudah kita ketahui, adanya buah kopi, adalah karena adanya proses penyerbukan (bertemunya serbuk sari dengan putik), silahkan baca artikel di bawah. Proses penyerbukan ini ada yang terjadi dengan sendirinya juga ada yang dibantu  faktor dari luar, misal angin, serangga dan juga buatan (manusia). Serangga penyerbukan telah membuktikan peningkatan produksi kopi di beberapa daerah penghasil kopi. Jasa penyerbukan ini ada yang menghitung nilai nya hingga 350 miliar $US.  Namun kita pada umumnya tidak begitu menaruh perhatian kepada lebah atau serangga-serangga yang membantu pembuahan bunga kopi, jenis apa saja, kapan waktunya, dan bagaimana keberhasilannya dan tentunya masih banyak pertanyaan lain yang bisa kita pikirkan selanjutnya.

Untuk saat ini, hampir semua wilayah di Indonesia lebah ini yang dimanfaatkan adalah madunya, itupun juga masih banyak yang sifatnya exploitasi dari alam, madu hutan yang diambil dengan tanpa mempertimbangkan kelestarian lebah itu sendiri. Madu di ambil dengan mengambil habis sarang dan anak-anaknya. Bahkan dengan batuan api yang beberapa kasus di lapangan juga menimbulkan kebakaran hutan. Karena api yang di tinggalkan oleh pemburu madu hutan hidup membesar dan menyebar luas membakar hutan. Banyak cerita juga di hutan-hutan penghasil lebah para pemetik madu liar ini meninggal karena mengabaikan keselamatan ketika memetik madu.

Pemetik madu hutan, mengambil resiko tinggi tapi tidak lestari

Peran lebah sebagai pollinator, inilah yang menjadi hal baru yang sedang kita arusutamakan untuk pelestarian hutan dan juga meningkatkan produksi kopi juga tanaman pertanian perkebunan lainnya . Bagaimana kaitannya dengan Owa?? Owa  jawa adalah primata pemakan buah, buah-buah hutan ini juga terbentuk dari proses penyerbukan alami, dan salah satu faktornya adalah oleh pollinator. Lebah tanpa sengat tentu lebih ramah dari pada lebah-lebah lainnya karena setidaknya mereka tidak menyengat. Berdasar pengamatan lapangan juga nampak selalu hinggap di pohon-pohon pakan Owa.
Menjamin keberadaan lebah berarti menyediakan buah pakan Owa dan regenerasi hutan terus terjadi.

hutan sebagai tabungan ekologi
Selain itu untuk mengurangi tekanan terhadap habitat primata terancam punah, madu mempunyai nilai ekonomi yang tinggi,  budidaya lebah yang di kembangkan di sekitar hutan bisa menjadi tambungan ekologis jangka panjang yang tidak hanya sumber pangan yang sehat namun juga berperan penting untuk melestarikan lingkungan sekitar kita secara berkelanjutan.