Showing posts with label petungkriyono. Show all posts
Showing posts with label petungkriyono. Show all posts

Monday, July 8, 2024

Workshop Aviturisme di Desa Kayupuring: Pengamatan Burung Sebagai Wisata Edukasi

 Oleh : Imam Taufiqurrahman

Foto bersama seluruh peserta workshop, 4 Juli 2024

Sebagai kegiatan yang bermuatan sains, dalam pengamatan burung terkandung unsur pendidikan lingkungan yang bisa menjadi sarana belajar yang menyenangkan. Terkait itu, SwaraOwa bersama pengelola obyek wisata Welo Asri mengadakan Workshop Aviturisme bertema “Pengamatan Burung sebagai Wisata Edukatif”.

Workshop yang didukung ASAP dan OBC sebagai bagian dari pengembangan program konservasi raja-udang kalung-biru ini dilaksanakan di obyek wisata Welo Asri, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, 3-4 Juli 2024. Kegiatan dimaksudkan agar pengelola dapat memiliki bekal dan pengalaman dalam merancang, mengelola hingga menyelenggarakan wisata pengamatan burung bermuatan edukasi dan konservasi.

 Para pelajar dari Desa Kayupuring saat mengamati burung, 4 Juli 2024


Pengelola obyek wisata Welo Asri sebagai wadah yang bergerak di bidang wisata alam, telah memiliki potensi dan sarana prasana yang mendukung. Beragam jenis burung sebagai potensi dan obyek kegiatan utama dapat dijumpai di area obyek wisata. Selain itu, terdapat sarana dan prasarana yang cukup representatif untuk terlaksananya kegiatan, seperti area kemping, area terbuka, serta ruang pertemuan.

Workshop menghadirkan narasumber Zulqarnain Assiddiqi, Direktur Endemic Indonesia Society, Yogyakarta. Lembaga konservasi keragaman hayati tersebut memiliki bidang pendampingan bidang wisata alam dan edukasi dalam eco-education trip.

Zulqarnain Assiddiqi dalam sesi sharing hasil pengamatan, 4 Juli 2024
Pada pelaksanaan di hari pertama, narasumber membekali pengelola obyek wisata Welo Asri dasar-dasar pemahaman dan wawasan mengenai pendidikan lingkungan. Pemaparan pada sembilan orang peserta tersebut kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan persiapan pelaksanaan kegiatan wisata edukasi yang berlangsung di hari berikutnya.

Para pengelola diarahkan untuk mampu merancang kegiatan. Terutama dari merancang bentuk dan tujuan, menyiapkan jalur pengamatan, hingga pembagian tugas dan peran sebagai fasilitator.

Rancangan tersebut kemudian dijalankan di hari berikutnya. Sebanyak 21 remaja usia SMP-SMA dari pedukuhan Kayupuring dan Setipis, Desa Kayupuring, mengikuti kegiatan ini. Mereka dibagi dalam empat kelompok. Tiap kelompok didampingi oleh 1-2 anggota pengelola obyek wisata Welo Asri yang telah mendapat pembekalan di hari sebelumnya.

Jenis-jenis burung yang dijumpai tiap kelompok saat pengamatan, 4 Juli 2024


Sebagian besar remaja yang menjadi peserta mengaku belum pernah melakukan kegiatan pengamatan burung. Namun demikian, mereka tampak antusias mengikuti kegiatan serta mampu mengamati dan mengenali berbagai jenis burung di sekitar mereka.

Mereka diberi penugasan untuk mengamati jenis dan perilaku burung yang dijumpai, mengenali habitat, serta membuat gambar atau sketsa burung yang teramati. Dalam tiga jam pengamatan di sekitar obyek wisata Welo Asri, beberapa jenis burung berhasil dijumpai peserta, di antaranya cucak kutilang, merbah corok-corok, julang emas, dan cabai bunga-api.

Usai pengamatan, para peserta didampingi fasilitator bergiliran mempresentasikan hasil pengamatan mereka. Tak hanya itu, mereka pun diminta untuk berbagi kesan serta pengalaman selama mengikuti pengamatan.

Di akhir acara, para peserta diminta untuk memberikan evaluasi dan penilaian pada pengelola obyek wisata Welo Asri. Terdapat 12 aspek yang dinilai, mulai dari kejelasan tujuan kegiatan, kecakapan pengelola kegiatan, hingga kebermanfaatan kegiatan.

Secara umum, kegiatan dinilai cukup baik dan menyenangkan. Para peserta memberi skor 9,4 pada pengelola obyek wisata Welo Asri. Sementara, kemampuan fasilitator dalam memandu mendapat skor 9.

Para peserta mengungkapkan bahwa kegiatan pengamatan burung yang mereka ikuti terasa menarik dan memberi manfaat. Bagi pengelola obyek wisata Welo Asri sebagai penyelenggara, poin-poin penilaian tersebut menjadi masukan yang positif dan membangun untuk mereka dapat menjalankan dan mengembangkan kegiatan serupa ke depannya.

 

Friday, December 15, 2023

Rekrekan di Hutan Petungkriyono, Pekalongan

ditulis oleh : Arrayaana Artaka

Rekrekan (Presbytis fredericae)

Hallo dunia, saya Arra, mahasiswi dari Fakultas Kehutanan di Institut Pertanian Malang, kampus kecil yang mungkin jarang diketahui banyak orang. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, skripsi merupakan hal yang wajib hukumnya untuk dituntaskan. Beruntungnya saya mendapatkan beasiswa dari SwaraOwa yang ditujukan untuk penelitian dengan judul “Pemodelan Spasial Kesesuaian Habitat Rekrekan (
Presbytis comata fredericae, Sody 1930) Menggunakan Analisis MaxEnt di Hutan Petungkriyono, KPH Pekalongan Timur”.
          Rekrekan adalah nama lokal untuk jenis monyet pemakan daun ( leaf eating monkeys) Presbytis fredericae,  jenis monyet ini endemik jawa, hanya ada di Pulau Jawa di bagian tengah hingga jawa bagian barat, kalau di jawa barat di kenal dengan nama surili.  Jadi terkait penelitian saya,  “Pemodelan” adalah proses membuat model atau representasi sederhana dari suatu objek atau sistem yang kompleks. Pemodelan digunakan untuk memahami dan memprediksi bagaimana suatu sistem bekerja, dan dapat membantu dalam pengembangan sistem baru atau perbaikan sistem yang sudah ada. Dalam konteks habitat modelling atau kesesesuaian habitat, pemodelan digunakan untuk memetakan distribusi habitat satwa liar, di penelitian saya Rekrekan monyet lutung endemik jawa yang menjadi object penelitian saya. 
Jadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kesesuaian habitat Rekrekan dan variabel yang berpengaruh terhadap prediksi keberadaan Rekrekan di Hutan Petungkriyono dengan harapan dapat menjadi pertimbangan perlindungan kawasan yang memiliki kesesuaian habitat tinggi bagi Rekrekan. Dalam istilah yang lebih sederhana, habitat modelling adalah cara untuk memprediksi di mana hewan hidup dan bagaimana mereka menggunakan lingkungan mereka. Ilmuwan menggunakan habitat modelling untuk memahami bagaimana spesies yang berbeda berinteraksi dengan lingkungan mereka dan bagaimana mereka mungkin merespons perubahan di habitat mereka.
Sejak tercetusnya judul tersebut, petualangan baru di hidup saya dimulai. Bagi seseorang yang sulit berkomunikasi dengan orang baru sepertiku, hal ini termasuk sebuah tantangan besar, apalagi saya yang bisa dikatakan manja ini kali ini harus melakukanya sendiri, mulai dari penyusunan sekaligus pengantaran proposal ke instansi terkait, sampai melewati berbagai macam jalan berdasarkan panduan GoogleMaps, kurang lebih 425 Km atau 13 Jam perjalanan dengan motor Beat “Pokoloko” milikku.  

Sebagian contoh perjumpaan Rekrekan dan lokasi perjumpaannya di hutan Petungkriyono. (1) Perjumpaan Rekrekan (2) Hutan primer (3). Hutan primer di dekat sungai (4) Hutan primer di dekat jalan (5) Bekas makan Rekrekan, daun muda Bendo (Artocarpus elasticus) (6) Aktivitas istirahat di pohon Mbulu so (Ficus depressa)


Singkat cerita, peneltian saya ini dilakukan kurang lebih selama 3 minggu, terhitung mulai pada tanggal 8 April 2023, bertepatan dengan minggu kedua puasa, kemudian pulang pada tanggal 15 April 2023 dan kembali lagi pada tanggal 7-20 Mei 2023. Ada dua macam data yang saya butuhkan, yaitu data kehadiran Rekrekan berupa titik koordinat perjumpaan rekrekan dan data variabel lingkungan berupa peta. Data perjumpaan Rekrekan dilakukan dengan cara survei langsung menggunakan metode transek untuk mencatat titik koordinat setiap perjumpaan Rekrekan. Ada 8 jalur yang digunakan dalam penelitian ini, dengan panjang jalur pengamatan masing-masing 2 Km. Setiap kelompok Rekrekan yang dijumpai akan diamati, kemudian dicatat waktu Rekrekan terlihat, jarak peneliti dengan Rekrekan, koordinat perjumpaan, jumlah individu dan tipe habitat.
Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh 25 titik sebaran kelompok Rekrekan dengan jumlah total individu 80 ekor. Jumlah individu dalam kelompok terdapat 2 ekor sampai 7 ekor, bahkan ada yang teramati hanya 1 ekor (sendiri). Perjumpaan kelompok Rekrekan didapatkan menyebar dengan tipe hutan alam primer, sekunder dan hutan tanaman. Pada hutan sekunder, Rekrekan sering terlihat di pinggir jalan, atau perbatasan perkebunan, sedangkan pada hutan tanaman sering terlihat di hutan pinus, sengon, dan durian. Perjumpaan Rekrekan terbanyak didapatkan di jalur sepanjang jalan , yaitu 5 titik perjumpaan dengan total  perjumpaan sebanyak  17 ekor. Hal ini dikarenakan jalur sepanjang jalan mudah diakses oleh pengamat, dan terdapat banyak pohon yang menjadi pakan Rekrekan. 
Pola persebaran Rekrekan dipengaruhi oleh ketersediaan sumber pakan, kebutuhan sumber air dan faktor gangguan. Rekrekan merupakan satwa Folivorus yang cenderung menyukai dedaunan, sehingga pada saat pengamatan, perjumpaan kelompok Rekrekan ditemukan berada pada beberapa jenis vegetasi yang menjadi pakan alaminya yaitu: Kayu Afrika (Meisopsis eminii), Beunying (Ficus fistulosa), Saninten (Castanopsistungeureut), Mbulu krandang (Ficus drupacea), Klepu (Nauclea orientalis), Bendo (Artocarpus elasticus), Dao (Drakontomelon dao) Hantap (Sterculia oblongata) Kesowo (Engelhardia serrata) dan Gorang (Trevesia sundaica).
Peta hasil pemodellan kesesuaian habitat Rekrekan di hutan Petungkriyono

Sedangkan untuk pengambilan dan pengolahan data variabel lingkungan dilakukan dengan cara membuat peta yang mewakili karakter habitat Rekrekan. Variabel yang dipilih yaitu ketinggian, kelerengan, Vegetasi, suhu permukaan bumi,. informasinya menggunakan DEMNAS 64 bit yang memiliki resolusi 5-8 m, dan data Citra Landsat-8 TM. Data-data ini di kombinasikan dengan data perjumpaan Rekrekan yang di analisis menggunakan applikasi arcGis. 
Pada penelitian ini mengklasifikasi kesesuaian habitat Rekrekan dibagi menjadi tiga kelas, yaitu kesesuaian tinggi, kesesuaian sedang dan kesesuaian rendah. Menurut hasil analisa MaxEnt diperoleh bahwa Rekrekan tersebar di Hutan Petungkriyono.
Berdasarkan hasil analisa MaxEnt, kelas kesesuaian habitat Rekrekan di Hutan Petungkriyono, KPH Pekalongan Timur, seluas 2.658 ha (46%) merupakan kategori rendah, seluas 1.562 ha (27%) merupakan kategori sedang dan seluas 1.554 ha (26%) termasuk kategori tinggi.
Dengan adanyya penelitian ini, saya berharap Rekrekan, Hutan petungkriyono beserta ekosistemnya tetap lestari.  Penelitian ini juga menghasilkan deliniasi daerah yang dianggap sesuai bagi Rekrekan. Dimana dengan adanya deliniasi tersebut maka dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pengelola untuk melakukan perlindungan dan pengamanan terhadap lokasi tersebut, sehingga pengelolaan habitat Rekrekan dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Adanya deliniasi juga dapat membantu pengelola kawasan Hutan petungkriyono dalam melakukan survei dan monitoring terhadap Rekrekan sehingga jumlah populasi satwa liar tersebut dapat diketahui dengan baik juga untuk upaya peningkatan populasinya.
Akhir kata saya mengucapkan banyak terimakasih kepada SwaraOwa atas saran-masukan dan supportnya baik moral maupun material selama penelitian. Semoga semua makhluk hidup berbahagia menjalani petualangan gilanya masing-masing. Untuk membaca secara lengkap hasil penelitian saya, dapat di unduh di sini.
 
Salam Lestari!

Thursday, April 6, 2023

Monitoring Bersama Keanekaragaman Hayati Hutan Petungkriyono dan Lebakbarang

 Oleh : Kurnia Ahmaddin

Tim monitoring bersama


Dua kecamatan di Kabupaten Pekalongan yaitu Kecamatan Petungkriyono dan Kecamatan Lebakbarang, memiliki landscape yang istimewa, dari sisi keanekargaman hayati,  di kawasan ini setidaknya mewakili tipe habitat hutan tropis di pulau Jawa bagian Tengah, mulai hutan dataran rendahnya hingga ke hutan pegunungan. Kawasan ini karena merupakan pegunungan juga menjadi penting dari sisi hidrologis, karena curah hujan yang tinggi terjadi di wilayah ini, dan menjadi lebih penting karena air sebagai bahan baku untuk kawasan di bawahnya.  Untuk Owa jawa, kawasan pegunungan selatan di Pekalongan ini memiliki kesesuaian yang tinggi sebagai habitat Owa Jawa (Widyastutiet al, 2020), yang di huni kurang lebih 800-1000 individu ( Setiawan et al, 2012).

Salah satu bentuk kontribusi SwaraOwa sebagai anggota forum Kolaborasi pengelolaan hutan Petungkriyono yang di inisiasi tahun 2018 dan mendapatkan SK Gubernur Provinsi Jawa Tengah adalah melakukan monitoring keanekargaman hayati  di wilayah Hutan Petungkriyono dan di Kecamatan disekitarnya yang masih dalam satu landscape hutan pegununungan selatan Pekalongan.

Paok pancawarna (Hydrornis guajana) foto doc. PPM Mendolo

Kegitan monitoring satwa liar kami bersama masyarakat adalah pencarian burung  Raja-udang kalung-biru di DAS Sengkarang.  Kegiatan selanjutnya  pada pertengahan Januari hingga pertengahan maret  tahun 2023,  kami melakukan pendataan 5 taksa dengan Paguyuban Petani Mendolo di Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang,  Indonesian Dragonfly Society (IDS) dan Biolaska UIN Sunan Kalijaga.  Hasil sementara dari survei tersebut adalah 131 jenis Kupu-kupu, 27 jenis capung, 65 jenis Anggrek, 36 spesies herpetofauna dan 97 spesies burung telah teridentifikasi

Lebih lanjut lagi, 112 jenis burung telah teridentifikasi oleh PPM Mendolo. Data ini diperoleh secara mandiri  dengan melakukan survey hutan sejak akhir Agustus 2021 hingga bulan Februari 2023 dengan pengamatan rutin yang dilakukan oleh anggotannya. Tidak hanya data pengamatan, lebih dari 50 spesies burung dan 5 jenis primata jawa juga telah terdokumentasi dengan baik.

Kami juga melibatkan instansi pemerintahan dalam monitoring populasi Owa Jawa di hutan Sokokembang, di Kecamatan Petungkriyono. Pada tanggal 11-14 Februari 2023 bersama dengan BKSDA Jawa Tengah, CDK Wilayah 4, dan Perhutani KPH Pekalongan Timur kami melakukan pemantauan populasi Owa Jawa.

Macan tutul hitam/Kumbang ( Panthera pardus melas)

Kijang (Muntiacus muntjak)

Pemasangan camera trap

Penggunaan Camera Trap dan Perekam Suara Pasif

Perjumpaan dengan satwa liar secara langsung memiliki  keterbatasan hanya ketika kita berada di lapangan. Usaha kami dalam memperbaiki keterbatasan ini adalah dengan pemasangan kamera jebak ( Camera trap)  dan alat rekam suara yang keduanya merupakan alat monitoring dan penelitian yang pengamabilan datanya dilakukan secara otomatis dan alat-alat tersebut di letakkan di tinggal di hutan selama beberapa waktu. Kegiatan monitoring ini mendapat dukungan dari Mandai Nature dan Chance for Nature sebagai mitra donor dari Swaraowa,  selama periode 7 bulan ini  sejak bulan September 2023 telah terpasang 14 titik kamera trap dan 12 titik perekam suara pasif di hutan Sokokembang dan Mendolo.  

Selama periode ini, kedua jenis alat tersebut kami pasang selama 10 hingga 36 hari sebagai perwakilan data pada bulan basah. Hasil dari perekam suara dan kamera trap yang telah terpasang menjadi update keberadaan satwa yang ada di hutan Mendolo dan Sokokembang.  Hasil sementara dari kamera trap yang telah terpasang adalah perjumpaan dengan Macan Kumbang Pantera pardus, kijang muncak Muntiacus muntjak dan babi hutan.  Sementara hasil dari alat perekam suara pasif menunjukkan spesies Owa Jawa masih terdengar dengan baik pada ketinggian di atas 1000 mpdl di sisa hutan yang ada di kecamatan Lebakbarang. Perjumpaan dengan satwa-satwa tersebut semakin menegaskan bahwa hutan di kabupaten Pekalongan merupakan habitat bagi jenis-jenis mamalia besar.

 Ancaman Satwa Liar di hutan Petungkriyono dan Lebakbarang

Perburuan burung.

Selama pemasangan kamera dan pengamatan langsung di hutan, masih di jumpai sisa-sisa jejak dari pemburu burung. Berkurangnya jumlah burung tentu akan mengurangi keseimbangan fungsi hutan karena berkurangnya komponen penyusunnya. Hampir semua burung pemakan serangga menjadi incaran pemburu karena suara yang menarik. Hal ini bisa saja menjadi pemicu semakin banyaknya serangga hama. Lebih buruk lagi serangan serangga menjadi bencana ekologis yang merugikan manusia karena populasi tidak terkontrol akibat hilangnya pemangsa.

Penurunan jaring burung (foto doc. Perhutani KPH Pekalongan Timur)

Perburuan Babi hutan dan Monyet ekor panjang

Meskipun tidak banyak namun ada masyarakat yang masih berpikiran bahwa monyet ekor panjang dan babi hutan adalah hama yang boleh dibunuh. Hal ini bisa saja menjadi ancaman besar jika terjadi perburuan secara masif. Besar harapan kami supaya  perburuan satwa ini dapat di kendalikan ,  karena dapat memicu konflik dengan predator yang lebih besar akibat hilangnya pakan mereka, yaitu ketidak seimbangan rantai makanan di alam. Keberadaan komunitas berburu yang melakukan perburuan tanpa pertimbangan ekologis bisa memperparah konflik antara manusia dan satwaliar di hutan.

Urgensi Forum Kolaboratif Pengelolaan Hutan

Dampak positif keberadaan forum kolaboratif  pengelolaan hutan di Petungkriyono juga menjadi media komunikasi antar pihak terkait terutama pembuat kebijakan diwilayah ini. Sebagai contoh beberapa waktu lalu ada laporan tentang Jaring hantu, jaring yang di tinggal pemburu burung di hutan, karena di tinggal dan dalam kondisi terbentang, banyak jenis burung dan mamalia terbang mati terjerat di jaring ini. Laporan ke anggota forum langsung di respon dan menurunkan jaring tersebut. Tanggal 25 Februari 2023, ada di temukan macan tutul terluka di kawasan hutan Kroyakan, laporan temuan ini juga langsung diresponse BKSDA dan Perhutani untuk mengevakuasi macan tutul tersebut. Kegiatan monitoring ataupun patroli bersama ini harapannya dapat di laksanakan secara rutin, laporan-laporan yang di jumpai dari  hasil monitoring dan juga dalam rangka peningkatan kapasitas staff lapangan seharusnya dapat terus diperkuat dan di respon secara tepat untuk melestarikan keanekaraman hayati di wilayah penting ini

Thursday, November 24, 2022

Urgensi Kanopi Hutan Bagi Primata Arboreal di Hutan Sokokembang

 oleh : M.Y . Khansa Kharismawan


Apa yang terbersit dalam benak anda ketika melihat beberapa foto diatas? Zebra cross sebagai jalur bagi pejalan kaki menyeberang atau Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang jalurnya terpisah dengan ketinggian tertentu dengan kendaraan bermotor dibawahnya. Kedua gambar tersebut mengingatkan kita akan betapa pentingnya keamanan dan keselamatan pejalan kaki dalam beraktivitas di sekitar jalan raya. Pertanyaan muncul terkait gambar ketiga berupa ranting-ranting pepohonan dan korelasinya terhadap kedua gambar pertama. Apakah gambar ketiga merupakan kondisi hutan sebelum dibangun jalan raya dan segala fasilitasnya? Tentu tidak gambar tersebut merupakan salah satu kondisi kanopi di Hutan Petungkriyono, Pekalongan, Jawa Tengah. Tepat di bawahnya melintas Jalan Raya Doro-Pekalongan yang menjadi akses menuju berbagai ekowisata di area Hutan Petungkriyono. Ketika melewati jalan tersebut kita dapat melihat berbagai satwa liar beraktivitas di diantara kanopi contohnya adalah lutung jawa (Trachypithecus auratus) dan owa jawa (Hylobates moloch).

Kotoran Lutung dan Kotoran Owa
Lutung jawa dan owa jawa merupakan jemis primata arboreal yang menghabiskan sebagian besar waktu diantara pepohonan. Apa yang akan terjadi apabila konektivitas kanopi  disekitar jalan raya tidak lagi dapat digunakan lagi bagi kedua primata tersebut? Apakah mereka harus mencari konektivitas kanopi lain, turun ke jalan untuk berpindah habitat atau bahkan terisolasi. Walaupun keberadaan jalan tidak memutus konektivitas kanopi secara seluruhnya, pelebaran jalan dan pembangunan fasilitas untuk ekowisata di sekitar area jalan yang tidak berkelanjutan bagi primata arboreal dapat mengancam keselamatan mereka. Ancamannya antara lain tertabrak kendaraan yang melintas, predasi, tersengat aliran listrik, dan rentan tertular penyakit. Penularan penyakit pada primata yang turun ke jalan dan melakukan kontak dengan tanah adalah infeksi Soil-Transmitted Helminth (STH),  cacing dari golongan nematoda  usus yang sifatnya parasit yang siklus perkembangbiakannya melalui tanah. Parasit ini bisa menginfeksi primata-primata yang turun ketanah atau mempunyai potensi bersentuhan dengan permukaan tanah.

 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi infeksi STH pada lutung jawa dan owa jawa melalui sampel feses di Hutan Petungkriyono. Hasil yang diperoleh nantinya dapat digunakan digunakan sebagai data pembanding apabila konektivitas antar kanopi di sekitar area jalan semakin jauh dan kontak antara primata arboreal dengan STH semakin sering. Indikasi owa jawa menggunakan akses jalan untuk berpindah habitat belum ditemukan. Berbeda dengan lutung jawa yang memiliki kecenderungan untuk beraktivitas pada strata kanopi yang dekat dengan tanah ataupun diatas tanah. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya bangkai lutung jawa di pinggir jalan dimana tidak ditemukan aliran listrik di area yang sama. Kami menduga lutung jawa tersebut mati tertabrak kendaraan yang melintas. Hasil publikasi selengkapnya dapat dilihat di  https://smujo.id/biodiv/article/view/11023/6152

 

Thursday, October 27, 2022

Kisah dan Kesan para Juara Petungkriyono BirdRace 2022

oleh : Imam Taufiqurrahman


para juara  Petungkriyono Birdrace 2022 katergori umum dan mahasiswa

Wahyudi dan Candra Setyawan Nurwijaya tak menyangka mampu menyabet juara pertama kategori Umum Petungkriyono Bird Race 2022. Mereka datang tanpa persiapan dan bekal pengalaman.

“Teropong dan buku panduan saja dipinjami,” aku Wahyudi yang baru pertama kali mengikuti lomba pengamatan burung. Sementara, Candra punya sekali pengalaman dari mengikuti Sapa Burung Jatimulyo, lomba sejenis yang diselenggarakan pada Maret 2022.

“Lha, pas di Pos Sketsa, saya coba menggambar cekakak jawa, dijawab Candra elang jawa,” jelas Wahyudi sambil tertawa. Candra menimpali, mengatakan kalau sketsa yang digambar oleh rekannya itu memang lebih mirip elang.

Wahyudi (kiri) dan Candra (kanan) bersama Zulqarnain Assiddiqi yang
menjadi pendamping Karang Taruna Tlogoguwo, Purworejo


Seakan turut membenarkan, Wahyudi pun lantas mengakui kalau yang ia gambar sebenarnya tidak banyak memberi petunjuk. “Di sketsanya saya cuma kasih keterangan tulisan kalau warna burung sama seperti warna burung lainnya,” lanjut mantan ketua karang taruna Tlogoguwo itu kembali tertawa.

Namun, delegasi Karang Taruna Desa Tlogoguwo, Purworejo, itu, berhasil mengalahkan tujuh dari sedianya delapan tim lain yang terdaftar. Kunci strategi mereka rupanya dititikberatkan pada kecepatan untuk mengawali start dan merampungkan finish.

“Sing penting gasik,” (yang penting sepagi mungkin) ujar Wahyudi, “ben iso cepet turu.” (biar bisa lebih cepat untuk tidur).

Strategi itu dilakukan karena keduanya datang ke acara dengan sangat kelelahan. Di malam sebelum berangkat, mereka terlibat dalam kegiatan jathilan di desa hingga dini hari dan harus tidak tidur selama perjalanan.

Dan perjuangan terbayar. Mereka mendapat apresiasi langsung dari kepala desa yang bangga atas raihan keduanya. Termasuk apresiasi dari banyak teman dan tetangga di desa. Meskipun, itu diungkapkan dengan heran dan guyon, macam ‘Kok iso menang, kowe nyogok ya?” (Kok bisa menang, kalian menyogok ya?).

Buat Wahyudi dan Candra, keikutsertaan mereka lebih untuk sekadar meramaikan acara, menambah pengalaman dan mengenal kawasan Petungkriyono, serta bertemu dengan para peserta lain yang datang. Berasal dari Purworejo yang masih dalam satu provinsi, mereka cukup terkesan dengan hidangan lokal yang disuguhkan.

Nico (tengah) dan Rio (kanan) menerima trofi dari Direktur  SwaraOwa Arif Setiawan

Bila tim MuLia tampil sebagai juara pertama untuk kategori Umum, tim Ngalor-Ngidul yang mewakili Paguyuban Pengamat Burung Jogja merebut juara pertama di kategori Mahasiswa. Komunitas yang jadi wadah kelompok-kelompok pengamat burung berbasis kampus di Yogyakarta itu diwakili oleh Raden Nicosius Liontino Alieser dan Rio Syahrudin.

Dihubungi terpisah, Nico mengaku tidak menarget juara. “Nggak narget,” akunya, ”malah nggak narget burung, sebenarnya lebih ingin lihat owa.”

Sebagaimana banyak peserta lain, Nico merasa cukup kaget ketika mengetahui format lomba ternyata berbeda dari yang pernah mereka tahu. “Istilahnya kita nggak kosong-kosong banget lah soal bird race,” sebut Nico. Ia menjelaskan, “Selain tanya-tanya ke senior yang pernah ikut, Rio sebelumnya pernah ikut Lawu Birdwatching Competition 2019.”

Meskipun kaget, mereka telah mempersiapkan diri dengan belajar. Diawali dari mempelajari gambaran kawasan hutan Petungkriyono, mereka kemudian mengompilasi catatan jenis dari berbagai sumber dan referensi, macam buku panduan dan Atlas Burung Indonesia.

Malam usai briefing teknis lomba, mereka menyusun strategi. Keduanya mendiskusikan pilihan rute menuju pos-pos yang akan didatangi, menduga-duga tantangan-tantangan yang akan dihadapi pada tiap pos.

“Nggak kebayang sih pos-posnya, saya kira bakal disuruh buat yel-yel,” kata Nico.

Bagi Nico yang juga ketua Paguyuban, Pos Tebak Suara menjadi yang paling menarik. Sementara yang paling seru dan menantang adalah Pos Puzzle.

Saat ditanya mengenai kekurangan dari lomba, Nico menyebut kendala sinyal yang tidak stabil sehingga merasa kesulitan saat mengirim data pengamatan ke Burungnesia. Ia harus berulang kali gagal dan harus mengulang pengiriman data. Mengenai jalannya acara, ia merasa cukup terganggu saat listrik padam berjam-jam di hari pertama, meski bisa memaklumi karena itu terjadi di luar antisipasi.

Namun, Nico mengapresiasi kegiatan tersebut. Sebagaimana Wahyudi dan Candra, Nico merasa ajang lomba seperti Petungkriyono Bird Race menjadi sarana yang baik untuk bertemu dan berbagi dengan teman sesama komunitas.

Pulang dengan menggondol hadiah sebesar tiga juta rupiah, Nico menyebut hadiah itu akan dibagi-bagi. Tak hanya untuknya dan Rio, tetapi juga disisihkan untuk kas komunitasnya.

“Belum tau buat apa, tapi paling nggak bisa buat kas nanti bikin kegiatan,” jelasnya. Berharap saja kegiatan itu berupa syukuran. Makan-makan atas kemenangan yang mereka raih.

Hasil Lomba Petungkriyono Birdrace 2022

 Oleh : Imam Taufiqurrahman

foto bersama peserta dan panitia

Gelaran tiga hari lomba dan sarasehan konservasi Petungkriyono Bird Race 2022 telah usai. Berpusat di area wisata Black Canyon yang terletak di Dusun Tinalum, Desa Kayupuring, rangkaian acara ditutup dengan pengumuman pemenang, Minggu, 23 Oktober.

Di kategori Umum, tim MuLia yang beranggotakan Wahyudi dan Candra Setyawan Nurwijaya mampu merebut juara pertama. Delegasi dari Karang Taruna Desa Tlogoguwo, Purworejo, itu, berhasil mengalahkan tujuh dari sedianya delapan tim lain yang terdaftar.

Masih di kategori yang sama, juara ke-2 diraih tim Butuh Pendamping Hidup. Tim beranggotakan Muhammad Bilal Yogaswara dan Ainaya Nurfadila yang mewakili Simpul Indonesia. Juara ke-3 diraih tim Finding Burung Dulu dari Finding Orchid, terdiri dari Aditya Nurrahma Badri dan Niken Rahmawati. Kedua tim tersebut berasal dari Jakarta.

Juara-Juara Petungkriyono Birdrace


Kategori Umum diikuti beberapa organisasi sosial kemasyarakatan. Selain karang taruna, terdapat kelompok pemuda, kelompok tani hutan, juga Masyarakat Mitra Polhut. Mereka datang dari berbagai daerah di Jawa, meliputi Jakarta, Pekalongan, Purworejo, Klaten, dan Yogyakarta.

Sementara untuk kategori Mahasiswa, juara pertama direbut oleh tim Ngalor-Ngidul, wakil dari Paguyuban Pengamat Burung Jogja. Komunitas yang jadi wadah kelompok pengamat burung berbasis kampus di Yogyakarta itu mengirim Raden Nicosius Liontino Alieser dan Rio Syahrudin.

Posisi juara ke-2 diraih oleh Muhammad Nafis Ufsi dan Ridza Dewananta Subagyo dari tim Haliaster, Mapala Haliaster Universitas Diponegoro, Semarang. Sementara juara ke-3 diraih David Suharjanto dan Haqqul Fata dari tim Bionic, Kelompok Pengamat Burung Bionic Universitas Negeri Yogyakarta. Di pembukaan acara, David didapuk untuk membacakan Kode Etik Pengamat Burung Indonesia yang diikuti oleh peserta yang hadir.

Pengamatan burung oleh peserta

peserta menyelesaikan tantangan di salah satu pos lomba


Persaingan di kategori Mahasiswa menjadi yang paling ketat. Para juara mampu menyisihkan belasan tim lain yang mewakili berbagai organisasi kampus, seperti kelompok pengamat burung dan satwa liar, mahasiswa pencinta alam, maupun himpunan mahasiswa. Mereka berasal dari beragam universitas, sebut saja Universitas Negeri Jakarta, Universitas Nasional, IPB University, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Institut Pertanian Malang, Universitas Negeri Malang, serta Universitas Airlangga.

Seluruh pemenang berhak atas trofi juara dan hadiah senilai total 12 juta rupiah. Selain itu, terdapat penghargaan khusus sebagai Tim Terniat diberikan kepada Rangkong Racing Club dari Mapalipma (Mahasiswa Pencinta Alam Institut Pertanian Malang) yang beranggotakan Arrayaana Artaka dan Ahmad Nizar Zulmi Yahya.

Sarasehan Konservasi



Selain lomba, rangkaian acara diisi dengan sarasehan konservasi. Agenda terbagi dalam tiga sesi.

Sesi pertama menghadirkan Untoro Tri Pamungkas, Adm Perhutani KPH Pekalongan Timur dan Direktur  SwaraOwa Arif Setiawan sebagai pembicara. Sesi ini mengusung tema terkait konservasi di kawasan hutan Petungkriyono.

Sarasehan berikutnya menghadirkan pembicara utama Waskito Kukuh Wibowo dari Birdpacker, Malang, yang memberi paparan tentang ekowisata burung di Indonesia. Kuswoto ketua Welo Asri menjadi pembicara pembuka mewakili salah satu pengelola obyek wisata di Desa Kayupuring.

Pada sarasehan ke-3, Imam Taufiqurrahman dari SwaraOwa mengawali paparan tentang keterlibatan masyarakat tujuh desa dalam survei raja-udang kalung-biru. Sarasehan terakhir yang menyuguhkan tema kontribusi warga dalam konservasi burung itu lalu menghadirkan dua pembicara utama.

Pertama, Kelik Suparno ketua Divisi Konservasi KTH Wanapaksi, Jatimulyo. Ia berbagi mengenai aktivitas kelompoknya dalam menggagas Jatimulyo sebagai Desa Ramah Burung. Per Oktober 2022, program adopsi sarang yang digulirkan kelompoknya semenjak 2017, mampu menjaga 61 sarang dari 15 jenis burung, termasuk burung-burung kicau yang semakin langka, macam sulingan atau sikatan cacing (Cyornis banyumas) dan empuloh janggut (Alophoixus bres).

Tercatat 93 anakan berhasil keluar dari sarang. Program unggulan KTH Wanapaksi tersebut melibatkan 45 pengadopsi, baik individu maupun lembaga dan berkontribusi pada 29 orang pemilik lahan. Dari program, lebih dari 45 juta rupiah dana adopsi terkumpul dan tersalurkan pada beberapa pihak, mencakup RT/RW yang menjadi lokasi sarang adopsi, pemilik lahan, serta KTH Wanapaksi sebagai pengelola.

Sarasehan dipungkasi oleh Swiss Winnasis, penggagas aplikasi Burungnesia. Berbeda dari narasumber lain, Swiss memilih untuk merangkum paparan demi paparan narasumber sebelumnya. Ia berupaya untuk memantik diskusi dengan para peserta guna merumuskan hal-hal yang bisa menjadi kontribusi para pengamat burung bagi konservasi burung.

Swiss mengungkap fakta miris mengenai silent forest, saat satwa menghilang dari habitatnya. Betapa perburuan dan perdagangan burung begitu mengeksploitasi tak terkendali, menghilangkan peran dan fungsi mereka di alam. Hutan hijau lebat Petungkriyono disebutnya sebagai contoh sempurna dari silent forest.

Pria Batu tersebut memberi bukti fenomena hutan Petungkriyono yang sunyi lewat catatan pengamatan yang dihasilkan para peserta sepanjang lomba. Terungkap tak lebih dari 32 jenis burung yang dijumpai para peserta dalam setengah hari pengamatan. Bahkan, umumnya peserta hanya mencatat kehadiran 8-10 jenis saja.

Diskusi berlanjut pada sesi perkenalan dan aktivitas yang dilakukan wakil-wakil peserta. Bahasan mengenai Pertemuan Pengamat Burung Indonesia ke-10 jadi salah satu yang mengemuka. Rencana, forum tersebut akan berlangsung di Jakarta.

Usai tertunda dua tahun akibat Covid, agenda pertemuan itu belum lagi ada kejelasan pelaksanaan. Dalam diskusi, wakil-wakil peserta dari Jakarta kemudian diminta untuk membawa bahasan agenda pertemuan agar disampaikan pada para pengamat burung Jakarta.

Secara keseluruhan, penyelenggaraan Petungkriyono Bird Race 2022 ini mendapat dukungan dan bantuan dari banyak pihak. Asian Species Action Partenrship (ASAP), Oriental Bird Club (OBC), Fort Wayne Children's Zoo, Zoo Ostrava, dan Chances for Nature hadir sebagai sponsor utama. Perhutani menjadi sponsor pendukung dengan menyediakan lokasi transit saat kedatangan dan kepulangan peserta, dana, dan doorprize.

SwaraOwa sebagai penyelenggara acara mendapat bantuan tak ternilai dari berbagai unsur masyarakat warga Desa Kayupuring yang terlibat, terutama warga Dusun Tinalum dan Sokokembang. Selain itu, bantuan dalam kepanitiaan juga diberikan oleh anggota Paguyuban Petani Muda Mendolo, perwakilan mahasiswa Universitas Pekalongan, serta warga dari desa Doro, yang lokasinya berberbatasan langsung dengan hutan Petungkriyono.

Kegiatan lomba dan sarasehan konservasi ini menjalin kerjasama obyek wisata Black Canyon dan Welo Asri yang memfasilitasi tempat penyelenggaraan. Burungnesia dan Birdpacker menyediakan aplikasi untuk digunakan dalam lomba dan juga berbagai doorprize.

Ticket to the Moon menyediakan doorprize utama untuk para peserta. Doorprize menarik lainnya disediakan oleh Owa Coffee, Perhutani serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah. Sementara, Tower Bersama Group memberi layanan kesehatan gratis selama sehari bagi para peserta dan panitia.

Monday, October 3, 2022

PETUNGKRIYONO BIRD RACE 2022

 




SwaraOwa- Petungkriyono Bird Race 2022,  untuk pertama kalinya  lomba pengamatan burung di habitat aslinya hutan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan,  akan di gelar pada tanggal 21-23 Oktober 2022. Lomba ini merupakan ajang kompetisi yang menguji keterampilan dan pengetahuan para peserta lomba seputar burung di alam dan konservasinya.

Tidak sebagaimana umumnya, lomba akan dikemas secara berbeda. Dalam “Petungkriyono Bird Race 2022” para peserta akan ditantang untuk mengadu strategi, kecepatan, dan kemampuan guna mengumpulkan sebanyak-banyaknya poin dalam waktu yang telah ditentukan.

Adapun syarat dan ketentuan lomba adalah sebagai berikut:

Syarat dan Ketentuan Umum

1.    Lomba terbuka untuk umum yang dibagi dalam dua kategori, yakni:

a.       Umum (Kelompok Tani Hutan/Karang Taruna/Kelompok Sadar Wisata/dll), dan

b.       Mahasiswa (Kelompok studi/Kelompok pengamat burung/Mahasiswa Pecinta alam/dll).

2.    Lomba berlangsung di area yang telah ditentukan oleh panitia dalam wilayah Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah dan kawasan Perhutani (BKPH Doro- KPH Pekalongan Timur).

3.    Peserta lomba merupakan kelompok/tim yang menjadi perwakilan resmi organisasi. Dikarenakan terbatasnya kuota, maka tiap organisasi hanya dapat mengirimkan 1 tim (dibuktikan dengan melampirkan surat pendelegasian dari organisasi).

4.    Tim terdiri dari 2 orang dengan kuota per kategori minimal 5 tim dan maksimal 10 tim. Bila jumlah minimal tim dalam suatu kategori tidak terpenuhi, maka lomba akan dilaksanakan tanpa kategori.

5.    Pendaftaran dibuka pada 3-7 Oktober 2022 dengan biaya sebesar Rp. 300.000,- dan dapat ditutup sebelumnya bila kuota telah terpenuhi.

6.    Pendaftaran dilakukan secara online melalui tautan berikut: https://is.gd/auVMix

 

7.    Panitia akan terlebih dahulu melakukan verifikasi dan seleksi tim berdasarkan urutan pendaftaran dan kelengkapan syarat berupa surat pendelegasian.

8.    Tim yang lolos seleksi persyaratan akan diumumkan secara terbuka dan diharuskan melunasi biaya pendaftaran paling lambat 3 hari setelah pengumuman.

9.    Pembayaran dilakukan melalui ke rekening Bank Jago 109108292401 a/n Nur Aoliya. Mohon sertakan bukti transfer ke email petungkriyonobirdrace2022@gmail.com atau WA 089643284028 (Lala)

10.Tim yang tidak melakukan pembayaran pada hari yang ditentukan akan dinyatakan gugur dan kuota akan diberikan pada tim lain.

11.Tim peserta diharuskan membawa peralatan dan perlengkapan pribadi, meliputi:

c.       Peralatan kemping: tenda, matras, dan kantung tidur (sleeping bag)

d.       Peralatan pengamatan: binokuler, buku panduan identifikasi, dan alat tulis

e.       Peralatan lapangan: hp, jas hujan, payung, dan atau keperluan pribadi masing-masing.


 HADIAH TIAP KATEGORI

1.       Juara I

a.       Hadiah senilai Rp 3 juta

b.       Piala

c.       Plakat

d.       Sertifikat

2.       Juara II

a.       Hadiah senilai Rp 2 juta

b.       Piala

c.       Plakat

d.       Sertifikat

3.       Juara III

a.       Hadiah senilai Rp 1 juta

b.       Piala

c.       Plakat

d.       Sertifikat