Showing posts with label lebakbarang. Show all posts
Showing posts with label lebakbarang. Show all posts

Thursday, April 6, 2023

Monitoring Bersama Keanekaragaman Hayati Hutan Petungkriyono dan Lebakbarang

 Oleh : Kurnia Ahmaddin

Tim monitoring bersama


Dua kecamatan di Kabupaten Pekalongan yaitu Kecamatan Petungkriyono dan Kecamatan Lebakbarang, memiliki landscape yang istimewa, dari sisi keanekargaman hayati,  di kawasan ini setidaknya mewakili tipe habitat hutan tropis di pulau Jawa bagian Tengah, mulai hutan dataran rendahnya hingga ke hutan pegunungan. Kawasan ini karena merupakan pegunungan juga menjadi penting dari sisi hidrologis, karena curah hujan yang tinggi terjadi di wilayah ini, dan menjadi lebih penting karena air sebagai bahan baku untuk kawasan di bawahnya.  Untuk Owa jawa, kawasan pegunungan selatan di Pekalongan ini memiliki kesesuaian yang tinggi sebagai habitat Owa Jawa (Widyastutiet al, 2020), yang di huni kurang lebih 800-1000 individu ( Setiawan et al, 2012).

Salah satu bentuk kontribusi SwaraOwa sebagai anggota forum Kolaborasi pengelolaan hutan Petungkriyono yang di inisiasi tahun 2018 dan mendapatkan SK Gubernur Provinsi Jawa Tengah adalah melakukan monitoring keanekargaman hayati  di wilayah Hutan Petungkriyono dan di Kecamatan disekitarnya yang masih dalam satu landscape hutan pegununungan selatan Pekalongan.

Paok pancawarna (Hydrornis guajana) foto doc. PPM Mendolo

Kegitan monitoring satwa liar kami bersama masyarakat adalah pencarian burung  Raja-udang kalung-biru di DAS Sengkarang.  Kegiatan selanjutnya  pada pertengahan Januari hingga pertengahan maret  tahun 2023,  kami melakukan pendataan 5 taksa dengan Paguyuban Petani Mendolo di Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang,  Indonesian Dragonfly Society (IDS) dan Biolaska UIN Sunan Kalijaga.  Hasil sementara dari survei tersebut adalah 131 jenis Kupu-kupu, 27 jenis capung, 65 jenis Anggrek, 36 spesies herpetofauna dan 97 spesies burung telah teridentifikasi

Lebih lanjut lagi, 112 jenis burung telah teridentifikasi oleh PPM Mendolo. Data ini diperoleh secara mandiri  dengan melakukan survey hutan sejak akhir Agustus 2021 hingga bulan Februari 2023 dengan pengamatan rutin yang dilakukan oleh anggotannya. Tidak hanya data pengamatan, lebih dari 50 spesies burung dan 5 jenis primata jawa juga telah terdokumentasi dengan baik.

Kami juga melibatkan instansi pemerintahan dalam monitoring populasi Owa Jawa di hutan Sokokembang, di Kecamatan Petungkriyono. Pada tanggal 11-14 Februari 2023 bersama dengan BKSDA Jawa Tengah, CDK Wilayah 4, dan Perhutani KPH Pekalongan Timur kami melakukan pemantauan populasi Owa Jawa.

Macan tutul hitam/Kumbang ( Panthera pardus melas)

Kijang (Muntiacus muntjak)

Pemasangan camera trap

Penggunaan Camera Trap dan Perekam Suara Pasif

Perjumpaan dengan satwa liar secara langsung memiliki  keterbatasan hanya ketika kita berada di lapangan. Usaha kami dalam memperbaiki keterbatasan ini adalah dengan pemasangan kamera jebak ( Camera trap)  dan alat rekam suara yang keduanya merupakan alat monitoring dan penelitian yang pengamabilan datanya dilakukan secara otomatis dan alat-alat tersebut di letakkan di tinggal di hutan selama beberapa waktu. Kegiatan monitoring ini mendapat dukungan dari Mandai Nature dan Chance for Nature sebagai mitra donor dari Swaraowa,  selama periode 7 bulan ini  sejak bulan September 2023 telah terpasang 14 titik kamera trap dan 12 titik perekam suara pasif di hutan Sokokembang dan Mendolo.  

Selama periode ini, kedua jenis alat tersebut kami pasang selama 10 hingga 36 hari sebagai perwakilan data pada bulan basah. Hasil dari perekam suara dan kamera trap yang telah terpasang menjadi update keberadaan satwa yang ada di hutan Mendolo dan Sokokembang.  Hasil sementara dari kamera trap yang telah terpasang adalah perjumpaan dengan Macan Kumbang Pantera pardus, kijang muncak Muntiacus muntjak dan babi hutan.  Sementara hasil dari alat perekam suara pasif menunjukkan spesies Owa Jawa masih terdengar dengan baik pada ketinggian di atas 1000 mpdl di sisa hutan yang ada di kecamatan Lebakbarang. Perjumpaan dengan satwa-satwa tersebut semakin menegaskan bahwa hutan di kabupaten Pekalongan merupakan habitat bagi jenis-jenis mamalia besar.

 Ancaman Satwa Liar di hutan Petungkriyono dan Lebakbarang

Perburuan burung.

Selama pemasangan kamera dan pengamatan langsung di hutan, masih di jumpai sisa-sisa jejak dari pemburu burung. Berkurangnya jumlah burung tentu akan mengurangi keseimbangan fungsi hutan karena berkurangnya komponen penyusunnya. Hampir semua burung pemakan serangga menjadi incaran pemburu karena suara yang menarik. Hal ini bisa saja menjadi pemicu semakin banyaknya serangga hama. Lebih buruk lagi serangan serangga menjadi bencana ekologis yang merugikan manusia karena populasi tidak terkontrol akibat hilangnya pemangsa.

Penurunan jaring burung (foto doc. Perhutani KPH Pekalongan Timur)

Perburuan Babi hutan dan Monyet ekor panjang

Meskipun tidak banyak namun ada masyarakat yang masih berpikiran bahwa monyet ekor panjang dan babi hutan adalah hama yang boleh dibunuh. Hal ini bisa saja menjadi ancaman besar jika terjadi perburuan secara masif. Besar harapan kami supaya  perburuan satwa ini dapat di kendalikan ,  karena dapat memicu konflik dengan predator yang lebih besar akibat hilangnya pakan mereka, yaitu ketidak seimbangan rantai makanan di alam. Keberadaan komunitas berburu yang melakukan perburuan tanpa pertimbangan ekologis bisa memperparah konflik antara manusia dan satwaliar di hutan.

Urgensi Forum Kolaboratif Pengelolaan Hutan

Dampak positif keberadaan forum kolaboratif  pengelolaan hutan di Petungkriyono juga menjadi media komunikasi antar pihak terkait terutama pembuat kebijakan diwilayah ini. Sebagai contoh beberapa waktu lalu ada laporan tentang Jaring hantu, jaring yang di tinggal pemburu burung di hutan, karena di tinggal dan dalam kondisi terbentang, banyak jenis burung dan mamalia terbang mati terjerat di jaring ini. Laporan ke anggota forum langsung di respon dan menurunkan jaring tersebut. Tanggal 25 Februari 2023, ada di temukan macan tutul terluka di kawasan hutan Kroyakan, laporan temuan ini juga langsung diresponse BKSDA dan Perhutani untuk mengevakuasi macan tutul tersebut. Kegiatan monitoring ataupun patroli bersama ini harapannya dapat di laksanakan secara rutin, laporan-laporan yang di jumpai dari  hasil monitoring dan juga dalam rangka peningkatan kapasitas staff lapangan seharusnya dapat terus diperkuat dan di respon secara tepat untuk melestarikan keanekaraman hayati di wilayah penting ini

Thursday, February 2, 2023

Kekayaan rasa durian dan perspektif keanekaragaman hayati Desa Mendolo

 Oleh: Sidiq Harjanto & Kurnia Ahmadin

Varian Durian lokal  Mendolo (foto Ikmal, Biolaska)

Tekanan terhadap hutan habitat owa jawa bisa dikurangi dengan mengembangkan ekonomi berkelanjutan. Setidaknya, begitulah yang kami yakini. Pengembangan kopi hutan (kopi yang tumbuh di bawah naungan alami hutan), gula aren, dan budidaya lebah madu telah menjadi “amunisi” bagi Swaraowa dalam mendorong tumbuhnya ekonomi lestari bagi masyarakat sekitar hutan habitat owa jawa. Bentuk-bentuk usaha tersebut dianggap berkelanjutan sehingga selaras dengan upaya konservasi hutan. Ketika kesejahteraan masyarakat bisa terwujud melalui usaha berkelanjutan, maka eksploitasi berlebihan terhadap hutan bisa berkurang.

Di Desa Mendolo, kami mendampingi Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo untuk menjadi motor penggerak pelestarian alam di desanya. Kelompok ini turut berpartisipasi dalam mengarusutamakan upaya pelestarian keanekaragaman hayati (kehati). Pengembangan alternatif ekonomi diwujudkan dalam usaha prosesing pasca panen kopi, pengembangan produk turunan lilin lebah, dan inisiasi wisata minat khusus.

PPM Mendolo secara mandiri telah aktif merintis pendataan potensi avifauna di lingkungan desa, dan pemantauan primata seperti: owa jawa, lutung jawa, dan kukang jawa. Ada satu peluang besar untuk mengembangkan wisata pengamatan hidupan liar (wildlife watching) di Mendolo. Belakangan, jenis wisata ini telah berkembang dengan pesat di dunia. Tak ketinggalan pula, di negara kita.

Kedatangan tim peneliti dari Mahasiswa Pecinta Alam Biologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (Biolaska) dan Indonesia Dragonfly Society (IDS) pada medio Januari kemarin menjadi momen istimewa. Kegiatan  utama dua lembaga ini adalah eksplorasi keanekaragaman jenis anggrek, capung, kupu-kupu, herpetofauna, burung,dan primata. Sebuah program yang selaras dengan semangat anak-anak muda yang tergabung dalam PPM. Gayung bersambut, mereka dilibatkan penuh dalam kegiatan selama dua minggu ini.

Eksplorasi kekayaan cita rasa durian Mendolo

Durian telah menjadi komoditi unggulan yang diupayakan oleh warga Desa Mendolo sejak lama, setidaknya di dua pedukuhan. Bisa dikatakan, durian adalah salah satu penopang utama perekonomian warga. Durian Mendolo juga memiliki cita rasa yang unggul. Namun, karena akses jalan menuju desa ini yang belum mendukung, namanya kurang begitu dikenal oleh kalangan pecinta si buah khas tropis ini.

Muncul gagasan dari kaum muda untuk menyusun paket wisata yang menawarkan pengalaman menikmati durian lokal langsung di tempat di mana buah berduri ini dihasilkan. Mendatangkan wisatawan dalam grup-grup kecil menjadi strategi yang dipilih untuk mengakali kendala akses jalan. Wisata minat khusus ini menjadi harapan baru untuk mendongkrak nama Mendolo sebagai salah satu desa penghasil durian berkualitas.

Di sela kegiatan eksplorasi, PPM Mendolo mengajak Biolaska, IDS, dan Swaraowa untuk mendata potensi durian lokal di desa mereka. Hari itu, 15 Januari 2023, kami bersama-sama membedah karakter dan cita rasa buah durian lokal hasil budidaya para petani setempat. Aneka varian durian tersebut didokumentasi dan dicatat karakteristik cita rasanya. Pendokumentasian dan karakterisasi buah ini nantinya menghasilkan sebuah katalog yang bisa memandu para durian enthusiast untuk mengeksplorasi cita rasa durian lokal asli Mendolo.

Pada 24 varian durian yang dijadikan sampel, dijumpai bermacam-macam karakter, baik fisik maupun rasa. Bentuk buah bervariasi, seperti: bulat sempurna, bulat telur, bulat bergelombang, lonjong, hingga bentuk serupa tetes air. Warna kulit buah bervariasi dari warna hijau, kuning, hingga cokelat. Warna buah juga menunjukkan variasi warna seperti: putih, semlasih (putih kekuningan), hingga kuning. Dari sisi rasa buah, bisa ditemukan rasa manis creamy, alcoholic, agak pahit, hingga ketan. Ketebalan daging buah bisa dinilai dari yang tipis hingga yang tebal.

Kami meyakini bahwa eksplorasi cita rasa durian lokal bisa menjadi tawaran menarik bagi para pecintanya sehingga layak dibungkus dalam kemasan wisata. Belajar pada perkembangan komoditi kopi yang menawarkan eksplorasi pengalaman rasa dengan detail-detail yang mengagumkan, maka durian pun punya peluang yang sama. Apalagi jika dikaitkan dengan isu mengenai kehati.

Kehati sendiri dibagi dalam tiga tingkat, yakni: spesies, genetik, dan ekosistem. Sependek pemahaman kami, kekayaan varian durian di Mendolo kiranya bisa menjadi contoh keanekaragaman tingkat genetik. Lantas, bukankah mengapresiasi keanekaragaman varian tersebut bisa menjadi sebentuk upaya mengarusutamakan kesadaran akan kehati?

Keanekaragaman hayati dalam praktik pangan

proses pembuatan katalog tanaman pangan liar (Foto Ikmal, Biolaska


Apresiasi komunitas masyarakat terhadap keanekaragaman hayati bisa tercermin dari praktik pangan mereka. Isu mengenai potensi pangan lokal di Desa Mendolo sudah digaungkan sejak tahun kemarin, tepatnya pada Hari Pangan Sedunia, 16 Oktober. Masyarakat Mendolo sendiri, mengenali dan memanfaatkan setidaknya 80 jenis tumbuhan dan jamur liar sebagai bahan pangan. Namun, pengetahuan ini bisa hilang jika tidak terdokumentasi dengan baik.

Masih dalam rangkaian kegiatan yang sama, para peserta diajak untuk ngramban, sebuah istilah untuk aktivitas mengumpulkan tetumbuhan pangan yang tumbuh liar di hutan. Setiap jenis tumbuhan diambil sampelnya. Tim Biolaska dan IDS membantu mendokumentasi dan mengidentifikasi tiap spesies.  Hari itu ditutup dengan makan malam istimewa dengan menu-menu yang diolah dari hasil ngramban pagi hingga siang tadi.

proses pengumpulan sampel pangan liar ( foto Ikmal ,Biolaska)


Menikmati olahan pangan liar ( foto Ikmal, Biolaska)

Kehati pangan menjadi isu strategis karena menjadi kunci ketahanan masyarakat desa dalam menghadapi krisis pangan yang masih menjadi ancaman di masa depan. Di sisi lain, diversitas pangan juga membuka peluang munculnya produk bernilai ekonomi. Siapa tahu, di antara belasan jenis jamur hutan ada yang bisa dikembangkan sebagai komoditi baru. Bukan mustahil pula suatu saat blibar pucung/kepayang bisa dijual ke restoran-restoran mahal.

Menuju desa sadar kehati

Dalam perkembangannya, program-program yang berjalan di Mendolo bukan semata-mata ditujukan sebagai tawaran alternatif ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga digadang sebagai katalisator pembangunan desa. Undang-undang No 6 Tahun 2014 Tentang Desa berimplikasi pada perubahan paradigma dari “membangun desa” menjadi “desa membangun”. Artinya, aktor utama pembangunan desa mestinya adalah warga desa itu sendiri. Dalam perspektif kelestarian alam, kesadaran ruang hidup dan kesadaran mengenai sejarah desa perlu dimiliki masyarakat sebagai prasyarat kesuksesan praktik pembangunannya.

Pemahaman bahwa alam merupakan sebuah sistem yang bekerja terus-menerus, saling berinteraksi, sehingga manusia mesti mengenal faktor-faktor biotik dan abiotik beserta interaksi antarfaktor-faktor tersebut. Sebagai contoh sederhana, kita bisa mencermati praktik budidaya durian para petani di Mendolo. Sebagian besar petani di desa ini menggantungkan produktivitas tanamannya pada alam. Hal ini menegaskan pentingnya pengetahuan keseimbangan ekosistem yang akan berefek pada hasil panen yang bisa mereka dapatkan.

Ternyata, untuk menghasilkan hasil panen yang bagus, petani tidak cukup sekadar memberikan pupuk dan melakukan perawatan tanaman. Jangan lupa bahwa petani juga membutuhkan jasa pengendalian hama melalui burung-burung liar yang memangsa serangga, dan juga penyerbukan bunga dari jenis-jenis kelelawar pemakan nektar. Ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga kehati agar fungsi-fungsi ekosistem tetap terjaga.

Kehadiran tim Biolaska dan IDS membantu kami dalam transfer pengetahuan mengenai dasar dari komponen penyusun ekosistem yaitu keanekaragaman hayati. Untuk menjangkau rentang usia yang lebih luas mengenai transfer informasi ini, pada akhir kegiatan di Mendolo, Tim Biolaska dan IDS melakukan pengamatan kehati bersama dengan anak-anak dan remaja di desa Mendolo. Anggaplah ini sebagai ikhtiar konservasi agar generasi mendatang terus memiliki kesadaran mengenai pentingnya kehati dan keseimbangan ekosistem.

Apresiasi sebesar-besarnya kepada Biolaska UIN Sunan Kalijaga, Indonesia Dragonfly Society, PPM Mendolo, pemerintah desa dan segenap masyarakat Mendolo.

 

Monday, October 17, 2022

Perayaan Hari Pangan Sedunia : Sumber pangan dari Hutan Mendolo

 oleh : Sidiq Harjanto 


Bersama ke hutan mencari bahan makanan

Pangan merupakan kebutuhan vital bagi makhluk hidup termasuk manusia. Bagi manusia, pangan tidak hanya sekadar sumber nutrisi penopang kehidupan, tetapi juga memiliki makna-makna lain yang berkaitan dengan kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya. Prof. Triwibowo Yuwono, guru besar di bidang pertanian Universitas Gadjah Mada, dalam bukunya yang berjudul “Pembangunan Pertanian: Membangun Ideologi Pangan Nasional” menyebutkan bahwa pangan merupakan entitas ekonomi, simbol/identitas budaya, dan entitas pertahanan. 

Sebagai entitas ekonomi maksudnya adalah pangan merupakan komoditi yang bisa diperjualbelikan dan turut membangun perekonomian bangsa. Dari sudut pandang budaya, pangan yang diproduksi dan dikonsumsi merupakan simbol atau identitas budaya masyarakatnya. Misalnya, gudeg menjadi identitas budaya Yogyakarta, atau papeda yang identik dengan kultur masyarakat Papua. Lebih jauh lagi, kemampuan dalam mencukupi kebutuhan pangan rakyatnya merupakan aspek penting pertahanan sebuah bangsa. Bagaimana suatu bangsa bisa bertahan menghadapi krisis jika ketersediaan pangannya saja tidak tercukupi?

Memilah jenis-jenis tanaman dari hutan untuk diolah menjadi makanan


Saking pentingnya pangan bagi peradaban manusia, masyarakat dunia memperingati Hari Pangan Sedunia setiap tanggal 16 Oktober. Peringatan ini sudah dimulai sejak era awal 80-an sebagai pengingat  bahwa pangan mesti menjadi perhatian serius bagi setiap orang. Isu pangan semakin menguat dengan perkembangan situasi global seperti pandemi Covid 19 dan peperangan yang sangat mungkin akan  menggagalkan skenario dalam mewujudkan dunia bebas kelaparan dan malnutrisi pada 2030, sesuai tujuan kedua SDG’s.

Turut menyemarakkan Hari Pangan Sedunia tahun ini, Swaraowa bersama Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo membuat sebuah perayaan kecil di sudut kawasan hutan habitat owa jawa di Kabupaten Pekalongan, tepatnya di Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang. Kami ingin menjadi bagian dari upaya membumikan isu-isu global, termasuk ancaman krisis pangan dan perubahan iklim sekaligus mengajak masyarakat membuat aksi di lingkungan terkecil mereka.

Jenis tanaman pakis yang bisa diolah


Desa Mendolo sebagai salah satu desa hutan di Kabupaten Pekalongan memiliki potensi bahan pangan lokal yang melimpah berikut pengetahuan pengolahan yang mumpuni. Namun, data mengenai potensi pangan maupun rangkuman pengetahuan masyarakat tersebut belum terdokumentasi dengan baik. Hal ini memunculkan kekhawatiran bahwa generasi muda tidak lagi merawat tradisi berharga tersebut.

Ada beberapa poin pesan Hari Pangan Sedunia yang hendak disampaikan di Mendolo. Pertama, kita perlu merespon situasi global yang semakin tidak menentu, ditandai dengan dampak pandemi yang masih terasa, ancaman krisis akibat perang, kenaikan harga bahan bakar minyak, inflasi yang melanda dunia, hingga ancaman pemanasan global yang terus mengancam ketahanan pangan seluruh umat manusia. Sesuai dengan tema hari pangan dunia tahun ini: leave no one behind, kami memandang bahwa masyarakat perdesaan tak boleh ketinggalan dalam mempersiapkan komunitasnya mempersiapkan segala kemungkinan, termasuk ancaman krisis pangan. Akses terhadap wawasan global menjadi hak siapa saja, tak terkecuali petani di pinggiran hutan.

Ibu-ibu dari Sawahan mengolah bahan makanan dari hutan


Kedua, desa perlu menggali kembali potensi pangan lokal yang dimilikinya yang umumnya kian tergerus oleh serbuan pangan impor. Ada indikasi desa mengalami krisis regenerasi keahlian pengelolaan pangan, misalnya dilihat dari turunnya kemampuan generasi muda mengenali jenis-jenis tumbuhan potensial pangan di lingkungan sekitar. Kemungkinan terburuknya adalah kegagalan generasi Millennial, generasi Z, dan generasi Alpha meneruskan tradisi pemanfaatan pangan lokal. Padahal, kunci resiliensi masyarakat tropis dalam menghadapi krisis pangan terletak pada kemampuan mengelola keanekaragaman hayati yang sangat melimpah, termasuk dalam konteks pangan.

Menikmati sajian makanan dari hutan


Rangkaian perayaan Hari Pangan Sedunia di Desa Mendolo diawali dengan pengumpulan dan pendataan potensi pangan lokal yang tersedia di kebun dan hutan sekitar kampung. Sekira pukul 08.00 WIB, sekelompok ibu paruh baya dibantu oleh para pemuda-pemudi di Pedukuhan Sawahan mulai menyisir jalan-jalan setapak yang membelah kebun hingga kawasan hutan, sembari mengumpulkan aneka jenis tanaman pangan. Para pemuda-pemudi mencatat dan mendokumentasikan setiap jenis bahan pangan tersebut.

Sore harinya, sebuah acara Focus Group Discussion (FGD) digelar dengan menghadirkan unsur pemerintah desa, perwakilan sesepuh desa, kalangan perempuan, dan generasi muda. Dalam FGD yang difasilitasi Swaraowa, terungkap bahwa ada setidaknya 80 jenis tumbuhan yang merupakan bahan pangan. Aneka jenis tumbuhan sebagai sumber karbohidrat, protein, sayur mayur, hingga buah-buahan yang disediakan hutan tersebut telah dimanfaatkan secara turun temurun. Namun, tak bisa dimungkiri bahwa ada kecenderungan pergeseran pola konsumsi. Keahlian mengenali dan mengolah pangan lokal di komunitas masyarakat mulai luntur seiring dengan serbuan komoditi pangan industri yang umumnya menawarkan kepraktisan. FDG diakhiri dengan membuat rencana aksi bersama dalam menjawab beberapa permasalahan yang terkuak dalam diskusi.

pentas seni memperingati hari pangan


Malam yang dingin di Mendolo tidak menyurutkan sekira lima puluh warga dari berbagai usia berkumpul di kediaman salah satu warga. Sarasehan dan pentas seni kecil-kecilan disambut sangat antusias oleh segenap warga. Acara dimulai dengan sambutan oleh Koordinator PPM Mendolo, Cashudi. Dalam sambutannya, ia menekankan agar generasi muda mulai belajar mengenali dan memanfaatkan potensi pangan lokal di sekitar wilayah masing-masing. Bapak Kaliri, Kepala Desa Mendolo, menyampaikan himbauan bagi warga untuk menghidupkan kembali tradisi pertanian pangan yang mulai memudar terutama di kalangan generasi muda.

Yurizal Rahman, petani muda di Mendolo, menyampaikan kegelisahannya tentang masa depan pertanian di desanya melalui sebuah karya puisi berjudul “Suara Hati Tani”. Puisi tersebut dibawakan dengan sangat brilian oleh rekannya, Ja’an, yang berhasil membuat gemuruh tepuk tangan memecah kesunyian malam. Pesan yang disampaikannya melalui pembacaan puisi tersebut sangat jelas yaitu ajakan untuk kembali menghidupkan kembali tradisi bertani karena pertanian adalah salah satu penopang utama peradaban.

Puncak acara sarasehan adalah penyampaian hasil diskusi sore tadi. Rohim, selaku perwakilan forum diskusi memaparkan rencana aksi hasil kesepakatan bersama. Ia memaparkan bahwa perlu adanya penyusunan data dasar potensi pangan lokal yang nantinya bisa digunakan sebagai media transfer pengetahuan lintas generasi. Proyek tersebut bakal menjadi pekerjaan kolektif dan lintas generasi. Generasi tua diharapkan mentransfer pengetahuan mereka dalam pengenalan dan pengolahan pangan sementara generasi muda mendokumentasikan sebanyak yang mereka mampu.

Inovasi dan promosi dalam pengolahan pangan lokal menjadi isu penting lainnya. Inovasi sederhana bisa dilakukan dengan cara memperkaya produk olahan. Sementara itu, gerakan menyajikan olahan pangan khas Mendolo kepada setiap tamu yang datang dari luar daerah bisa menjadi ajang promosi. Pemerintah Desa siap menjadi leader dalam hal ini. Dalam waktu dekat, kata Rohim, akan dibuat kebun koleksi dan kebun pembibitan bagi beberapa tumbuhan pangan strategis yang akan dikelola oleh komunitas perempuan dan PPM Mendolo.

Tepuk tangan dan gelak tawa kembali menggema saat beberapa pemuda mementaskan permainan “Uwi-uwinan”. Dua orang pemain berperan sebagai petani, sedangkan beberapa yang lain berperan sebagai umbi uwi (Dioscorea sp). Dengan kata lain, uwi-uwinan merupakan permainan peran. Permainan ini sangat populer sampai kalangan generasi 90an. Namun, akhir-akhir ini sudah tidak pernah lagi dimainkan. Anak-anak menyimak dengan antusias adegan demi adegan yang dibawakan oleh para pemain.

Minggu, 16 Oktober 2022, untuk pertama kalinya warga Mendolo bergabung dengan masyarakat global menuju puncak perayaan Hari Pangan Sedunia. Semenjak pagi, kelompok perempuan telah sibuk di dapur, mengolah beragam menu masakan dengan bahan-bahan pangan yang dikumpulkan dari hutan. Setidaknya, ada 18 jenis menu masakan dihasilkan ibu-ibu tersebut. Beberapa di antaranya: sayur ketupuk, urap pakis, oseng cowetan, perkedel talas, gulai ikan sungai, dan sambal klanthing (bunga gorang).

Siang hari, segenap warga kembali berkumpul. Doa bersama dipimpin Bapak Cahyono, dengan maksud memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan atas karunia alam yang memberikan penghidupan bagi warga. Juga permohonan keselamatan untuk waktu-waktu selanjutnya. Menu makan siang kali ini terasa sangat istimewa. Banyak menu yang baru pertama kali dicicipi oleh generasi muda. Sementara bagi generasi tua, menu-menu yang disajikan membangkitkan kenangan masa muda mereka yang sangat akrab dengan aneka olahan tersebut.

Demikianlah, rangkaian peringatan Hari Pangan Sedunia di Mendolo berakhir. Namun, akhir rangkaian ini justru menjadi permulaan bagi warga masyarakat untuk memberikan makna baru dalam bidang pangan bahwa merawat aneka pangan dari hutan merupakan modal resiliensi menghadapi berbagai situasi global ke depan. Atau, setidaknya seperti itulah yang diharapkan. Swaraowa memiliki kepentingan dalam perayaan hari pangan ini sebagai medium dalam menyemangati masyarakat desa hutan khususnya di sekitar habitat Owa jawa,  untuk terus memelihara keberagaman pangan mereka yang pada muaranya sama saja dengan mengonservasi keanekaragaman hayati dan ekosistem hutan.

Selamat Hari Pangan Sedunia 2022. 

Saturday, May 23, 2020

Merawat Lebah: Matapencaharian berkelanjutan dan Pelestarian Hutan di Mendolo

Oleh : Sidiq Harjanto
Desa Mendolo, Lebak Barang,Kab. Pekalongan


Selain di Petungkriyono, Swaraowa telah memperlebar sayap ke Kecamatan Lebakbarang, dengan fokus kegiatan di Desa Mendolo. Desa ini dikelilingi hutan. Masih ada owa jawa dan jenis-jenis primata lain, termasuk kukang. Swaraowa mulai membuat kegiatan di Mendolo pertama kali di tahun 2015, ketika itu bersama dengan Dinas Kehutanan, Kabupaten Pekalongan, melakukan inventarisasi flora dan fauna dilindungi di Kabupaten Pekalongan,  dan setelah itu mulai sering berkunjung kesana, dan mengembangkan kegiatan bersama warga di Mendolo sejak tahun 2017 dan berjalan hingga sekarang. Desa ini memiliki 4 pedukuhan, sebagian besar warganya hidup dari mengelola lahan hutan dan memanen madu hutan. Karakter masyarakatnya yang sangat dekat dengan hutan menjadi alasan kuat bagi kami untuk menjadikan Mendolo sebagai site kegiatan.
Owa jawa di hutan Mendolo

Pada 2017 kami melakukan penggalian informasi mengenai jenis-jenis lebah madu yang ada di kawasan Mendolo, beserta pemanfaatannya. Dari hasil penggalian informasi tersebut ditemukan 5 jenis lebah madu, terdiri dari 2 jenis lebah bersengat, dan 3 jenis lebah tanpa sengat atau lazim disebut klanceng. Sebagian jenis lebah madu telah dimanfaatkan oleh masyarakat. Pemanenan madu hutan Apis dorsata dan lebah klanceng (Trigona spp.) dilakukan turun-temurun dan menjadi tradisi yang telah melekat pada masyarakat Mendolo. Hasil riset ini telah dipaparkan pada Seminar Nasional Perlebahan Tropik di Fak Peternakan, September 2019.


Koloni lebah klanceng yang sedang di kembangkan di Mendolo

Dengan informasi tersebut, bisa dikatakan bahwa perlebahan merupakan salah satu potensi besar dari Desa Mendolo. Maka strategi kami selanjutnya adalah melakukan uji coba budidaya khususnya untuk jenis-jenis lebah klanceng. Tahapannya meliputi menentukan lokasi uji coba, menentukan jenis yang ideal, membuat desain kotak budidaya (stup lebah). Langkah selanjutnya memperoleh koloni dari alam, memelihara koloni-koloni dengan  Kriteria jenis yang dipilih antara lain jumlahnya melimpah, produksi madu ekonomis, dan mudah dipelihara. Selama satu tahun uji coba, koloni-koloni lebah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan dan dianggap layak untuk ditingkatkan skalanya.
Hasil uji coba budidaya yang dilakukan di tahun sebelumnya menunjukkan hasil yang cukup baik. Maka pada 2019 kami memutuskan untuk membuat demplot budidaya sebagai pusat pembelajaran bagi masyarakat. Ini menjadi lompatan untuk scalling up meliponikultur di Mendolo. Harapannya dengan adanya pusat informasi perlebahan ini, maka masyarakat akan tertarik dan tergerak untuk melakukan budidaya. Ini akan menjadi langkah awal untuk mengangkat Mendolo sebagai sentra budidaya klanceng. Pada 2019 pula kami fokus pada penggalian informasi mengenai pakan lebah. Ketersediaan pakan lebah menjadi kunci penting dalam budidaya. Ada sekitar 44 jenis tumbuhan hutan yang menjadi pakan bagi lebah. Tumbuhan berbunga menyediakan sumber pakan, baik berupa nektar maupun serbuk sari.
Paguyuban Petani Muda Mendolo sedang belajar menyangrai kopi

Kami menyadari bahwa peran aktor lokal menjadi kunci kesuksesan program SwaraOwa di Mendolo. Antusiasme masyarakat lokal ditunjukkan dengan terbentuknya sebuah komunitas pemuda, yang kemudian menamakan diri sebagai Paguyuban Petani Muda Mendolo. Berdiri pada 18 Agustus 2019, dalam suasana hari kemerdekaan, sekelompok pemuda sepakat untuk mendedikasikan diri bagi pengembangan potensi desa mereka. Melalui diskusi bulanan mereka membangun persepsi dan menumbuhkan cita-cita. Program yang telah mereka jalankan meliputi penguatan kapasitas, partsisipasi dalam berbagai kegiatan, sampai kegiatan produksi. Kini mereka telah memiliki produk kopi dengan brand Kopi Batir. Mereka juga mulai merintis kebun pembibitan guna memenuhi kebutuhan bibit aneka tanaman budidaya bagi kebun-kebun mereka sendiri.
demplot lebah klanceng ds. Mendolo
demplot lebah klanceng ds.Mendolo


Sejatinya 2020 akan menjadi momentum untuk semakin meningkatkan skala kegiatan, namun pandemi Covid-19 telah memaksa semuanya berhenti. Yang bisa kami lakukan saat ini adalah melakukan refleksi terhadap apa-apa yang telah dikerjakan, menjadikannya bahan untuk memulai langkah baru. Situasi ini tentunya memaksa kami memutar otak untuk menyesuaikan diri. Akan banyak modifikasi pada program-program yang telah kami rancang, atau bisa saja akan ada ide segar yang benar-benar baru. Aapapun itu, semangat kami tetap akan menyala untuk terus berkarya bersama masyarakat Mendolo. Semoga pandemi segera berlalu, dan keadaan akan menjadi normal kembali.