Monday, October 17, 2022

Perayaan Hari Pangan Sedunia : Sumber pangan dari Hutan Mendolo

 oleh : Sidiq Harjanto 


Bersama ke hutan mencari bahan makanan

Pangan merupakan kebutuhan vital bagi makhluk hidup termasuk manusia. Bagi manusia, pangan tidak hanya sekadar sumber nutrisi penopang kehidupan, tetapi juga memiliki makna-makna lain yang berkaitan dengan kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya. Prof. Triwibowo Yuwono, guru besar di bidang pertanian Universitas Gadjah Mada, dalam bukunya yang berjudul “Pembangunan Pertanian: Membangun Ideologi Pangan Nasional” menyebutkan bahwa pangan merupakan entitas ekonomi, simbol/identitas budaya, dan entitas pertahanan. 

Sebagai entitas ekonomi maksudnya adalah pangan merupakan komoditi yang bisa diperjualbelikan dan turut membangun perekonomian bangsa. Dari sudut pandang budaya, pangan yang diproduksi dan dikonsumsi merupakan simbol atau identitas budaya masyarakatnya. Misalnya, gudeg menjadi identitas budaya Yogyakarta, atau papeda yang identik dengan kultur masyarakat Papua. Lebih jauh lagi, kemampuan dalam mencukupi kebutuhan pangan rakyatnya merupakan aspek penting pertahanan sebuah bangsa. Bagaimana suatu bangsa bisa bertahan menghadapi krisis jika ketersediaan pangannya saja tidak tercukupi?

Memilah jenis-jenis tanaman dari hutan untuk diolah menjadi makanan


Saking pentingnya pangan bagi peradaban manusia, masyarakat dunia memperingati Hari Pangan Sedunia setiap tanggal 16 Oktober. Peringatan ini sudah dimulai sejak era awal 80-an sebagai pengingat  bahwa pangan mesti menjadi perhatian serius bagi setiap orang. Isu pangan semakin menguat dengan perkembangan situasi global seperti pandemi Covid 19 dan peperangan yang sangat mungkin akan  menggagalkan skenario dalam mewujudkan dunia bebas kelaparan dan malnutrisi pada 2030, sesuai tujuan kedua SDG’s.

Turut menyemarakkan Hari Pangan Sedunia tahun ini, Swaraowa bersama Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo membuat sebuah perayaan kecil di sudut kawasan hutan habitat owa jawa di Kabupaten Pekalongan, tepatnya di Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang. Kami ingin menjadi bagian dari upaya membumikan isu-isu global, termasuk ancaman krisis pangan dan perubahan iklim sekaligus mengajak masyarakat membuat aksi di lingkungan terkecil mereka.

Jenis tanaman pakis yang bisa diolah


Desa Mendolo sebagai salah satu desa hutan di Kabupaten Pekalongan memiliki potensi bahan pangan lokal yang melimpah berikut pengetahuan pengolahan yang mumpuni. Namun, data mengenai potensi pangan maupun rangkuman pengetahuan masyarakat tersebut belum terdokumentasi dengan baik. Hal ini memunculkan kekhawatiran bahwa generasi muda tidak lagi merawat tradisi berharga tersebut.

Ada beberapa poin pesan Hari Pangan Sedunia yang hendak disampaikan di Mendolo. Pertama, kita perlu merespon situasi global yang semakin tidak menentu, ditandai dengan dampak pandemi yang masih terasa, ancaman krisis akibat perang, kenaikan harga bahan bakar minyak, inflasi yang melanda dunia, hingga ancaman pemanasan global yang terus mengancam ketahanan pangan seluruh umat manusia. Sesuai dengan tema hari pangan dunia tahun ini: leave no one behind, kami memandang bahwa masyarakat perdesaan tak boleh ketinggalan dalam mempersiapkan komunitasnya mempersiapkan segala kemungkinan, termasuk ancaman krisis pangan. Akses terhadap wawasan global menjadi hak siapa saja, tak terkecuali petani di pinggiran hutan.

Ibu-ibu dari Sawahan mengolah bahan makanan dari hutan


Kedua, desa perlu menggali kembali potensi pangan lokal yang dimilikinya yang umumnya kian tergerus oleh serbuan pangan impor. Ada indikasi desa mengalami krisis regenerasi keahlian pengelolaan pangan, misalnya dilihat dari turunnya kemampuan generasi muda mengenali jenis-jenis tumbuhan potensial pangan di lingkungan sekitar. Kemungkinan terburuknya adalah kegagalan generasi Millennial, generasi Z, dan generasi Alpha meneruskan tradisi pemanfaatan pangan lokal. Padahal, kunci resiliensi masyarakat tropis dalam menghadapi krisis pangan terletak pada kemampuan mengelola keanekaragaman hayati yang sangat melimpah, termasuk dalam konteks pangan.

Menikmati sajian makanan dari hutan


Rangkaian perayaan Hari Pangan Sedunia di Desa Mendolo diawali dengan pengumpulan dan pendataan potensi pangan lokal yang tersedia di kebun dan hutan sekitar kampung. Sekira pukul 08.00 WIB, sekelompok ibu paruh baya dibantu oleh para pemuda-pemudi di Pedukuhan Sawahan mulai menyisir jalan-jalan setapak yang membelah kebun hingga kawasan hutan, sembari mengumpulkan aneka jenis tanaman pangan. Para pemuda-pemudi mencatat dan mendokumentasikan setiap jenis bahan pangan tersebut.

Sore harinya, sebuah acara Focus Group Discussion (FGD) digelar dengan menghadirkan unsur pemerintah desa, perwakilan sesepuh desa, kalangan perempuan, dan generasi muda. Dalam FGD yang difasilitasi Swaraowa, terungkap bahwa ada setidaknya 80 jenis tumbuhan yang merupakan bahan pangan. Aneka jenis tumbuhan sebagai sumber karbohidrat, protein, sayur mayur, hingga buah-buahan yang disediakan hutan tersebut telah dimanfaatkan secara turun temurun. Namun, tak bisa dimungkiri bahwa ada kecenderungan pergeseran pola konsumsi. Keahlian mengenali dan mengolah pangan lokal di komunitas masyarakat mulai luntur seiring dengan serbuan komoditi pangan industri yang umumnya menawarkan kepraktisan. FDG diakhiri dengan membuat rencana aksi bersama dalam menjawab beberapa permasalahan yang terkuak dalam diskusi.

pentas seni memperingati hari pangan


Malam yang dingin di Mendolo tidak menyurutkan sekira lima puluh warga dari berbagai usia berkumpul di kediaman salah satu warga. Sarasehan dan pentas seni kecil-kecilan disambut sangat antusias oleh segenap warga. Acara dimulai dengan sambutan oleh Koordinator PPM Mendolo, Cashudi. Dalam sambutannya, ia menekankan agar generasi muda mulai belajar mengenali dan memanfaatkan potensi pangan lokal di sekitar wilayah masing-masing. Bapak Kaliri, Kepala Desa Mendolo, menyampaikan himbauan bagi warga untuk menghidupkan kembali tradisi pertanian pangan yang mulai memudar terutama di kalangan generasi muda.

Yurizal Rahman, petani muda di Mendolo, menyampaikan kegelisahannya tentang masa depan pertanian di desanya melalui sebuah karya puisi berjudul “Suara Hati Tani”. Puisi tersebut dibawakan dengan sangat brilian oleh rekannya, Ja’an, yang berhasil membuat gemuruh tepuk tangan memecah kesunyian malam. Pesan yang disampaikannya melalui pembacaan puisi tersebut sangat jelas yaitu ajakan untuk kembali menghidupkan kembali tradisi bertani karena pertanian adalah salah satu penopang utama peradaban.

Puncak acara sarasehan adalah penyampaian hasil diskusi sore tadi. Rohim, selaku perwakilan forum diskusi memaparkan rencana aksi hasil kesepakatan bersama. Ia memaparkan bahwa perlu adanya penyusunan data dasar potensi pangan lokal yang nantinya bisa digunakan sebagai media transfer pengetahuan lintas generasi. Proyek tersebut bakal menjadi pekerjaan kolektif dan lintas generasi. Generasi tua diharapkan mentransfer pengetahuan mereka dalam pengenalan dan pengolahan pangan sementara generasi muda mendokumentasikan sebanyak yang mereka mampu.

Inovasi dan promosi dalam pengolahan pangan lokal menjadi isu penting lainnya. Inovasi sederhana bisa dilakukan dengan cara memperkaya produk olahan. Sementara itu, gerakan menyajikan olahan pangan khas Mendolo kepada setiap tamu yang datang dari luar daerah bisa menjadi ajang promosi. Pemerintah Desa siap menjadi leader dalam hal ini. Dalam waktu dekat, kata Rohim, akan dibuat kebun koleksi dan kebun pembibitan bagi beberapa tumbuhan pangan strategis yang akan dikelola oleh komunitas perempuan dan PPM Mendolo.

Tepuk tangan dan gelak tawa kembali menggema saat beberapa pemuda mementaskan permainan “Uwi-uwinan”. Dua orang pemain berperan sebagai petani, sedangkan beberapa yang lain berperan sebagai umbi uwi (Dioscorea sp). Dengan kata lain, uwi-uwinan merupakan permainan peran. Permainan ini sangat populer sampai kalangan generasi 90an. Namun, akhir-akhir ini sudah tidak pernah lagi dimainkan. Anak-anak menyimak dengan antusias adegan demi adegan yang dibawakan oleh para pemain.

Minggu, 16 Oktober 2022, untuk pertama kalinya warga Mendolo bergabung dengan masyarakat global menuju puncak perayaan Hari Pangan Sedunia. Semenjak pagi, kelompok perempuan telah sibuk di dapur, mengolah beragam menu masakan dengan bahan-bahan pangan yang dikumpulkan dari hutan. Setidaknya, ada 18 jenis menu masakan dihasilkan ibu-ibu tersebut. Beberapa di antaranya: sayur ketupuk, urap pakis, oseng cowetan, perkedel talas, gulai ikan sungai, dan sambal klanthing (bunga gorang).

Siang hari, segenap warga kembali berkumpul. Doa bersama dipimpin Bapak Cahyono, dengan maksud memanjatkan rasa syukur kepada Tuhan atas karunia alam yang memberikan penghidupan bagi warga. Juga permohonan keselamatan untuk waktu-waktu selanjutnya. Menu makan siang kali ini terasa sangat istimewa. Banyak menu yang baru pertama kali dicicipi oleh generasi muda. Sementara bagi generasi tua, menu-menu yang disajikan membangkitkan kenangan masa muda mereka yang sangat akrab dengan aneka olahan tersebut.

Demikianlah, rangkaian peringatan Hari Pangan Sedunia di Mendolo berakhir. Namun, akhir rangkaian ini justru menjadi permulaan bagi warga masyarakat untuk memberikan makna baru dalam bidang pangan bahwa merawat aneka pangan dari hutan merupakan modal resiliensi menghadapi berbagai situasi global ke depan. Atau, setidaknya seperti itulah yang diharapkan. Swaraowa memiliki kepentingan dalam perayaan hari pangan ini sebagai medium dalam menyemangati masyarakat desa hutan khususnya di sekitar habitat Owa jawa,  untuk terus memelihara keberagaman pangan mereka yang pada muaranya sama saja dengan mengonservasi keanekaragaman hayati dan ekosistem hutan.

Selamat Hari Pangan Sedunia 2022. 

2 comments: