Showing posts with label Coffee and Primate Conservation. Show all posts
Showing posts with label Coffee and Primate Conservation. Show all posts

Wednesday, August 19, 2020

The Role Coffee Plays In Javan Gibbon Conservation

 Written by: Benehad Gabriel Yosep Ruritan | Email : ben.ruritan@gmail.com 


Who is SwaraOwa?

Back in August 2020, I enrolled myself in an internship program with SwaraOwa. A non-governmental organization (NGO) focused on the conservation work for Indonesian primates, especially Gibbon, the small apes. Swaraowa means a gibbon voice in Javanese.

The history of SwaraOwa led by Arif Setiawan originally started  in 2008, when he runs the project in Mt. Slamet Central Java, for Endangered Primate Conservation Project, this project supported by Rufford Foundation. Then -a supported project named "Coffee and Primate Conservation" in 2012 with the objective of Javanese gibbon's habitat preservation in Petungkriyono District located in the western part of Dieng Mountain.

The coffee part of the name came from the approach that was taken by the team in creating a compromise between the residents' needs and the conservation objective of the project.  Coffee naturally grows beneath the cover of the rainforest in which the Javanese gibbon resides. And thus. Coffee cultivation and production work to redirect the local's of Sokokembang from forest damaging economic activities and into the preservation of the forest via sustainable economic development. And as of now, some amount of coffee from Petungkriyono is managed and distributed by OwaCoffee, a subsidiary of SwaraOwa.




OwaCoffee For SwaraOwa

I was assigned to the OwaCoffee activity during the internship program. This coffee program of SwaraOwa has become quite a success story. Over the years, it has fostered relationships with several zoos worldwide, such as the Singapore Zoo, Fort Wayne Children's Zoo and  Zoo Ostrava.  Through this coffee program, SwaraOwa enables itself to be self-sustainable and empowers the residents of the Sokokembang Village, seen from the growth of farming groups and infrastructure improvement the area has received over the years.

I met Dr. Muhammad Ali Imron from the Gadjah Mada University Forestry Faculty, which explained that most Indonesian NGOs inherits the problem of self-sustainability due to how they were founded.  Specifically, most NGOs grew from a time and funding limited project into an ongoing program. This condition hampers the transition process and induces financial problems in the future. SwaraOwa’s ability to be self-sustainable through its OwaCoffee program has been quite the inspiration to many other NGOs in Indonesia.

Predicaments Faced By OwaCoffee

However, the operation of OwaCoffee is not as smooth as it may seem. As lined out by Saladin Akbar from the BlackJava roastery located in Yogyakarta, the problem faced by this organization can be divided into three major categories, which are: farming, production, and distribution. 

 In farming, they face the need to educate local farmers of Petungkriyono in increasing their quality of coffee cherries, which in itself is no easy task knowing the deep level of intricacies revolving around coffee plantation such as managing the ground condition, understanding the need of the plants, knowing what and when to harvest. 

"the jungle beans" gibbon friendly coffee -  OwaCoffee

 While production includes everything post-harvest, this includes grading, hulling, storage, roasting, and many others, which greatly plays into the quality of the finished product. Lastly is the distribution, which talks about public intake of the product. Currently, single-origin coffee only makes a small percentage of Indonesian coffee consumption. 

 Akrom, the owner of Mari-ngopi a  coffee shop in Yogyakarta, informed me that the lack of specialty coffee absorption is due to the condition that Indonesians do not need specialty coffee. The masses are satisfied with the commercialized and easy to drink coffee mixers, which does not require high-grade coffee to be enjoyed.  This condition caused SwaraOwa to look for new ways for their coffee, the ex-situ distribution efforts, such as creating a bond with the Singaporean Zoo to market their products.

During my internship, I found SwaraOwa to be particularly ingenious.  Their ability to utilize Petungkriyono’s coffee as a medium to converse the Javanese primates, utilizing local empowerment through coffee plantations, was a breakthrough by itself. Through this kind of collaboration, sustainability was provided for the conservation activity that many have never recognized. SwaraOwa has ensured the continuity of the program via a separate entity, namely OwaCoffee that has a high interest in the market.

From this experience, I found out that conservation activities can be strengthened through public participation by various means, including market-based methods. The Indonesian gibbons at Petungkriyono District in Central Java are one of the benefactors of this mechanism.

 

Tuesday, July 21, 2020

Owa Jawa : Kopi dan Konservasi Primata

Oleh : A.Setiawan (a.setiawan@swaraowa.org)

Owa jawa (Hylobates moloch)

Kabar terbaru dari habitat owa jawa, minggu ini kami melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda karena pandemi Covid_19. Progam Kopi dan Konservasi Primata yang telah di mulai sejak tahun 2012, untuk mendukung pelestarian owa jawa di wilayah Jawa Tengah. Kopi yang menjadi pilihan komoditas yang dapat menggerakkan roda ekonomi di sekitar hutan habitat Owa memberikan harapan positif, dengan munculnya unit-unit kelompok usaha kopi di sekitar hutan Owa. Perubahan yang Nampak terlihat ketika panen kopi dibanding awal kita mulai project ini, kalau dulu jalan di dusun-dusun di Petungkriyono ini banyak kopi yang di jemur di jalan dengan kondisi kopi yang di jemur campur, sekarang sudah sebagian sudah ada  menjemur biji kopi lebih bersih, setidaknya sekarang sudah ada perbedaan dan peningkatan dalam mengelola kopi. Untuk melihat dan komunikasi lasung dan mendapatkan produk-produk ini dapat berkunjung langsung ke dusun Sokokembang, di Petungkriyono, Pekalongan,  swaraowa headquarter di Yogyakarta atau melalui sosial media owa coffee. 


Proses penjemuran kopi di Sokokembang

Selain peningkatan pengetahuan tentang pengolahan kopi, melalui proyek ini kami juga mencoba melihat kemungkinan pengembangan unit usaha kopi di sektor hulu, melalui penyediaan bibit kopi, selain mengantisipasi produksi di masa mendatang, kegiatan ini juga memberikan dampak positif untuk pengembangan pengetahuan, pengalaman, dan sebagai alternatif pendapatan ekonomi dari produksi kopi itu sendiri. Adanya unit-unit kelola kopi yang tersebar di beberapa dusun di Petungkriyono, saat ini sudah ada alat sangrai kopi yang banyak di gunakan warga sekitar untuk menyangrai kopi untuk dikonsumsi sendiri atau pun di jual kembali. Apresiasi terhadap kopi itu sendiri juga sudah mulai terlihat, bahwa warga juga sudah menghargai kopi mereka sendiri, kemudian mengajak oranglain untuk menghargai kopi mereka yang mereka produksi.

Pembibitan Kopi di Sokokembang yang dimulai tahun 2018

Bibit bibit kopi ini kami kembangkan dari varietas yang sudah ada saat ini, jenis Kopi Arabica  varietas typica, atau di kenal dengan nama kopi jawa dan kopi Robusta. Yang sudah ada sejak jaman Belanda di kawasan ini. Pemilihan jenis ini lebih karena adaptasi yang sudah sejak lama, di kawasan pegunungan Jawa bagian Tengah. Pendekatan yang kami lakukan karena kegiatan ini dalam rangka mendukung kegiatan pelestarian Owa Jawa dan habitat aslinya, kami berkomunikasi dengan para pemburu-pemburu satwaliar di Petungkriyono, mencoba menyampaikan bahwa aktifitas perburuan yang dilakukan tidak akan mendatangkan uang yang membawa kebaikan  dan sudah pasti  juga merusak hutan.


Pembibitan kopi ini selain kami buat di dusun Sokokembang, juga kami buat di dusun Candi, dan tahun ini berhasil memproduksi bibit kopi kurang lebih 1500 bibit kopi yang sudah siap tanam, dan ada kuranglebih 20,000 bibit yang sedang dalam prooses. Bibit ini kami distribusikan ke petani di sekitar habitat Owa Jawa, di wilayah Jawa Tengah dan juga kami gunakan untuk fundrising, di jual untuk umum, dana yang terkumpul dari penjualan ini akan di gunakan kembali untuk kegiatan lapangan. Untuk taham pertama kami mengirim bibit kopi ke Dusun Gunung Malang di Purbalingga, Jawa Tengah. Hutan Gunung Slamet adalah habitat dari primata endemik dan mamalia Jawa 1, 2, 3.  Ada salah satu warga yang dulu juga terlibat dalam kegiatan survey Owa1, dan kebetulan juga mantan pemburu yang mau mengelola dan menanam kopi di lahannya.  Kami juga sempat melihat langsung habitat Owa di Gunung slamet ini, dan lokasi dimana kopi akan ditanam. Ancaman pembukaan hutan untuk perkebunan sepertinya masih ada, meningkatnya industri tanaman sayur di kawasan ini sudah tentu akan memberi tekanan tinggi terhadap tegakan hutan alam yang ada. Aktifitas kawasan penyangga hutan alam, kopi yang di bawa ke dusun Gunung Malang ini harapannya dapat memberikan alternative komoditas yang dapat di kelola bersamaan dengan tanaman pangan lainnya. Sistem budidaya wana tani yang mencampurkan berbagai macam komoditas akan memberikan nilai ekonomi sekaligus mendukung praktik terbaik dari pertanian di kawasan sekitar hutan.

Kawasan penyangga hutan lindung G.Slamet, lereng timur

Aktifitas para pemburu hutan untuk aktif mengelola lahan kopi akan menjadi kesibukan tersendiri yang sudah jelas hasil yang akan di peroleh, daripada harus berburu kehutan tanpa ada hasil yang pasti. Kegiatan berburu yang sifatnya mengeksplotasi sumberdaya alam di gantikan dengan kegiatan ekonomi produktif yang melestarikan hutan.


Daftar pustaka :
1. Setiawan, A., Wibisono, Y., Nugroho, T.S., Agustin, I.Y., Imron, M.A. and Pudyatmoko, S., 2010. Javan Surili: A Survey Population and Distribution in Mt. Slamet Central Java, Indonesia. Jurnal Primatologi Indonesia, 7(2).
2. Setiawan, A., Nugroho, T.S., Wibisono, Y., Ikawati, V. and SUGARDJITO, J., 2012. Population density and distribution of Javan gibbon (Hylobates moloch) in Central Java, Indonesia. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 13(1).
3. Maharadatunkamsi, M., 2017. Profil Mamalia Kecil Gunung Slamet Jawa Tengah. Jurnal Biologi Indonesia, 7(1).

Saturday, April 28, 2018

Seri Diskusi Konservasi #1 : “Penelitian Owa dan Lutung Merah di Kalimantan”

Lutung merah (Foto BNF)
Belajar  dari pengalaman dan keberhasilan kegiatan penelitian dan konservasi di tempat lain, tentu menjadi hal yang sangat istimewa. Permasalahan dan strategi pelestarian di tingkat site sudah pasti akan berbeda dari lokasi yang satu ke lokasi yang lain. Diskusi konservasi, pemaparan kegiatan lapangan, dan interaksi komunikasi secara langsung dengan pelaku pegiat konservasi menjadi motivasi tersendiri untuk terus melakukan kegiatan pelestarian alam.

Hal inilah salah beberapa hal yang mendasari swaraowa mengadakan seri diskusi konservasi, kebetulan sekali bulan April ini SwaraOwa bekerjasama dengan lembaga konservasi internasional yang berada di Kalimantan Tengah –Borneo Nature Foundation (BNF), ada kegiatan pertukaran staff untuk field visit. Seri dikusi konservasi yang pertama, telah sukses dilaksanakan tanggal 27 April 2018.

Owa Kalimantan (Foto BNF)

Acara di laksanakan di Welo asri, sebuah lokasi wisata edukasi yang sedang dibangun di habitat owa jawa oleh kelompok sadar wisata (Pokdarwis) desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono.Tim BNF di wakili oleh Eka Cahyaningrum (primate scientist), supian (koordinator peneliti lutung merah) dan Azis ( koordinator peneliti owa) dengan senang hati berbagi cerita lapangan untuk peserta yang mewakili beberapa lembaga dan organisasi yang tertarik dengan kegiatan ini.

Acara ini di hadiri oleh kurang lebih 40 peserta, dari mahasiswa, kelompok pecinta alam, BKSDA dan Petugas Penyuluh Kehutanan, dan beberapa pegiat media sosial  di Kab.Pekalongan. Acara dibuka oleh ketua pokdarwis Welo Asri (M.Kuswoto) dengan memperkenalkan wilayah petungkriyono secara umum dan kemudian di sambut oleh pemaparan singkat jenis-jenis primata oleh Salmah widyastuti (swaraowa).


Mendengarkan cerita lapangan tim BNF yang sangat berbeda kondisi alamnya dengan habitat Owa di Petungkriyono, memberikan gambaran langsung bagaimana kegiatan penelitian di hutan rawa gambut dataran rendah di Sebangau.  Azis dan Supian menceritakan suka duka ketika dilapangan yang membatu peneliti-peneliti dari dalam dan luar negeri, kondisi hutan rawa yang terendam air dan ketika musim kemarau mengalami kebakaran hebat, adalah hal luar biasa yang di lakukan, untuk mengumpulkan informasi ilmiah sebagai dasar ilmu pengetahuan dan masukan untuk pengelolaan keanekargaman hayati.

Eka, Supian dan Azis dari BNF menyampaikan presentasi

Secara umum Eka memparkan bahwa kegiatan kegiatan penelitian inilah yang membentuk sebuah organisasi yang solid, program penelitian, program pelaksana, dan tim pendukung, menjadi sebuah kesatuan organisasi yang saling melengkapi untuk melestarikan keanekaragaman hayati di Sebangau.
Sesi Tanya jawab, memunculkan pertanyaan yang cukup menarik karena dari penelitian di Sebangau terdapat kelompok owa yang di anggota kelompoknya yang betinanya lebih dari satu, dan hal ini sangat jelas di ceritakan oleh tim, bagaimana mereka mengikuti perubahan yang terjadi dalam kelompok ini, owa yang di kenal sebagai binatang yang setia pasangan, ternyata kondisi di alam kadang berbeda dengan teori yang selama ini berlaku. Perilaku owa Kalimantan juga sangat jelas di ceritakan tentang perilaku bersuara yang berbeda dengan perilaku bersuara owa di petungkriyono, dimana owa jantan dan betina melakukan panggilan bersama-sama (duet call).
Suasana diskusi

Lutung merah yang di kenal dengan Bahasa Dayak dengan nama Kelasi (Presbytis rubicunda) sangat menarik di ceritakan bagaimana anggota  dalam kelompok ini menjalankan fungsi sosialnya, individu lain yang dewasa akan menjanga dan menggendong bayi lutung yang di tinggal induknya, bayi lutung merah teramati lebih berani, dan mandiri, meskipun terpisah dari induknya, berbeda dengan bayi Owa yang selalu dalam gendongan selama hampir 3 tahun.

Foto bersama dengan peserta (Foto Suprio Y)

Seri diskusi konservasi ini, di tutup oleh tim swaraowa dengan harapan kedepan dapat membangun komunikasi antar pegiat konservasi di wilayah habitat primata terancam punah, saling tukar pengalaman dan informasi juga menjadi hal yang sangat mungkin untuk membangun kolaborasi yang lebih nyata untuk konservasi primata Indonesia.

Sampai jumpa seri diskusi konservasi selanjutnya. (Salam Hijau)

Wednesday, March 28, 2018

Owa Jawa Hutan Sokokembang

Infografis Owa jawa hutan Sokokembang, Petungkriyono

Info grafis primata hutan Sokokembang ini dibuat berdasarkan penelitian Setiawan et. al 2012, penelitian-penelitian dasar terkait data populasi dan ancaman merupakan informasi awal yang sangat penting untuk menentukan langkah konservasi yang lebih lanjut.  dari penelitian-penelitian seperti inilah kegiatan konservasi yang sekarang dilakukan berdasarkan prioritas permasalahan dan kemungkinan keberhasilannya di pilih untuk di lakukan.

Menyampaikan hasil penelitian agar mudah di pahami masyarakat luas sepertinya masih menjadi tantantang tersendiri bagi akademisi, apalagi di gunakan sebaga rujukan pengambil kebijakan masih sangat perlu untuk di arus utamakan. sebagai contoh ,di tingkat lapangan dinamika sosial ekonomi dan perubahan penggunaan lahan tentu terus terjadi dari waktu ke waktu, dan tentu sedikit banyak mempengaruhi kondisi Owa Jawa di Sokokembang hingga saat ini.

Owa Jawa

Yang sering di tanyakan  orang mengenai Owa jawa biasanya  ada berapa populasinya? apakah banyak atau tidak? dan  ini adalah pertanyaan logis, juga  penting tapi  populasi saja sebenarnya tidak cukup untuk yang menjadi kriteria untuk sebuah kelestarian. banyak faktor lain yang mempengaruhi, apalagi dalam jangka waktu tertentu. dan sebenarnya owa jawa hanya bagian kecil dari keseluruhan pengelolaan habitat yang melampaui bentang alam dan administratif. Terlebih lagi jenis-jenis primata seperti Owa jawa telah menjadi perhatian komunitas global.

Penelitian-penelitian yang terus di perbaharui juga tentunya akan sangat membantu mendorong upaya konservasi yang menyesuaikan dengan situasi terbaru juga. Populasi Owa jawa khususnya di hutan Sokokembang, umumnya di Jawa Tengah ini memang perlu di update lagi, mudah-mudahan ini menjadi prioritas pekerjaan bersama pihak terkait untuk memperbaharui informasi ini sebagai masukan untuk pengelolaan yang berkelanjutan.

Referensi :

Setiawan, A., Nugroho, T.S., Wibisono, Y., Ikawati, V. and SUGARDJITO, J., 2012. Population density and distribution of Javan gibbon (Hylobates moloch) in Central Java, Indonesia. Biodiversitas Journal of Biological Diversity13(1).

Monday, January 15, 2018

Interaksi Owa-Bunga : Florivory; Nectarivore; dan Pollinasi

primata arboreal : Owa jawa

Sebagai primata arboreal yang beraktifitas di atas pohon tentu saja Owa Jawa (Hylobates moloch) sangat erat potensi bersinggungan dengan bunga-bunga di hutan. Sudah kita ketahui bahwa Owa ini adalah tipe specialist, penyuka dan pemakan buah-buahan hutan. Lebih dari 60% makanannya adalah buah. Ada prosentasi kecil makanan owa ini adalah bunga, lihat video dan foto diatas bagaimana bagaimana Owa jawa sedang  memakan bunga
Owa sedang memakan bunga

Ketika sedang makan bunga, tentu saja ada bunga lain yang terkena dampaknya, yang mengakibatkan bertemunya serbuk sari ke kepala putik, dan proses penyerbukan terjadi. Namun apakah owa juga salah satu pollinator yang efektif, tidak banyak penelitian tentang ini. Dari video di atas terlihat sekali Owa sangat memilih bunga, karena ada buah yang tersedia di pohon itu namun ternyata owa tidak memilih buahnya.
Lebah juga hinggap di bunga 

Di foto yang lain ternyat tanpa sengaja bunga yang di makan Owa tersebut juga di kunjungi lebah, tentu saja lebah mengambil nectar atau pollen dari bunga tersebut, bisa di katakan terjadi polinasi. Penelitian tentang primata sebagai agen penyerbukan sudah ada bukti dari  jenis Kukang. Kukang adalah nectarivore pemakan nectar dari bunga, dan nectar ini menjadi bagian utama dari proporsi makanan Kukang. Biasanya binatang pemakan nectar juga mempunyai fisiologis yang adaptif untuk mengambil nectar, misalnya lidah yang panjang seperti pada kelelawar.
Tidak banyak informasi dan hal ini bisa merupkan studi awal tentang peran Owa sebagai agen penyerbuk. Pollinasi adalah bagian terpenting dari proses reproduksi tumbuhan, berdampak pada regenerasi hutan dan dinamika populasi. Salah satu peran penting keberadaan primata di alam yang tidak dapat di gantikan oleh manusia.

Referensi :

Heymann, E.W., 1941. FLORTVORY NECTARTVORI AND POLLTNATION-Areview OF PRIMATE. FLOWER INTERACTIONS. seed.

Nekaris, K.A.I., 2014. Extreme primates: Ecology and evolution of Asian lorises. Evolutionary Anthropology: Issues, News, and Reviews23(5), pp.177-187.

Friday, January 12, 2018

Lutung jawa : Pemakan daun Hutan Sokokembang



Primate wathching bulan Januari ini, kami mengamati kelompok Lutung di hutan Sokokembang, Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan.Teramati individu lutung dewasa yang memakan daun Ficus, dimana kita ketahui jenis pohon  ini daunnya agak keras dan bergetah putih, sangat jelas terlihat dalam pengamatan kali ini, daun-daun tua pun terlihat di makan oleh lutung. Nampak sekali gigi lutung juga terlihat coklat ke hitaman karena mengunyah daun-daun yang bergetah.

Lutung jawa (Trachypithecus auratus) adalah salah satu primata pemakan daun, dan karena makanannya inilah juga di kenal dengan nama Leaf eating monkeys. Pemakan daun ini di dunia primata masuk dalam keluarga Colobinae , tersebardi Asia dan Afrika.  Para pemakan daun ini tentu punya ke istimewaan dalam system pencernaannya, karena daun-daun hutan ini tidak mudah di cerna begitu saja ketika di kunyah dan di telan kedalam pencernaan. Yang di butuhkan dalam makanan primata untuk di ubah menjadi energi adalah protein,sementara protein dalam daun ini sangat susah di urai, karena terlindungi oleh serat dan juga zat tannin dan Phenol  yang sering terlihat seperti getah di daun .

Sistem pencernaan lutung memiliki ke istimewaan dimana terdapat ruang-ruang yang bersekat dan juga memiliki kelenjar ludah yang besar, ruang-ruand dalam lambung lutung ini tedapat bakteri fermentasi yang di gunakan untuk membusukkan daun-daun agar mudah di cerna. Proses fermentasi dalam perut lutung ini hampir sama dengan ruminatia, seperti sapi, membutuhkan waktu dan energi tersendiri untuk mencerna daun-daun yang dimakan.


Mengamati Lutung di habitat aslinya, sering kali melihat di sela-sela aktifitas makannya Lutung-lutung ini terlihat istirahat diam, atau bahkan tidur di cabang pohon, dan kalau meneliti tentang time budget, bisa juga prosentasi waktu istirahatnya tinggi, waktu istirahat inilah yang di gunakan untuk mencerna makanan daun daun, yang telah masuk dalam perut Lutung, waktu metabolism yang lambat terkait dengan nutrisi yang di cerna dari daun-daun yang mungkin kadang juga beracun.

Referensi :

Nijboer, J. and Clauss, M., 2006. The digestive physiology of colobine primates. Fibre intake and faeces quality in leaf-eating primates, p.9.



Thursday, January 26, 2017

Let it Bee : when the pollinators become mainstream

Stingless bee visiting flower of crop

Buzzzz…zzzzz  no we can’t hear the bee flying, this is tiny bee, size as flies, no sting, role as pollinators and producing honey too, Stingless bee!!. We have done shared our knowledge and gain new experience on meliponiculture in the habitat of critically endangered primates. Located in Kemuning village, Temanggung regency, Central Java, this site is recognized as habitat of Javan slow loris, first time we discover in this area in 2013 (read here for the report). After we found the javan slow loris existed, students continue to do research in this area. And now a conservation organization (Javan Wildlife Institute) initiated by Wildlife Lab of  Forestry Faculty, Gadjah Mada University continue the fieldwork, not only academic research but also assist people of Kemuning to protect and generate alternative income.

Shadegrown coffee habitat of Javan slow loris
Javan Slow loris

As we know wildlife hunting is the main threats for the biodiversity in Kemuning forest, we try to develop solution to increase their knowledge and capacity to maintain sustainable forest product. We have been working since last year to manage stingless bee honey from the Javan gibbon habitat, and now we try to introduce this scheme in the kukang habitat. Mainstreaming conservation of pollinators and introducing management of the stingless bee honey production.
Stingless bee honey 
On Saturday and Sunday (21/22 January 2017) organized by JAWI we conduct training for villagers in Kemuning, and there are 10 participants from the Kemuning village to join in the two days training. Our team give an introduction and share experience on stingless bee, honeys and their relationship with crops and forest habitat. Introductory about native bees and it’s role in our environment were emphasized in the discussion with the participants. Moreover, this bee is producing honey that very healthy and economically viable.
knowledge sharing about stingless bee
This training is intended to bring some long-term solution to conserve forest as habitat of endangered animals but also give real example for sustainable forest product who provide sustainable income. Next activities is we will active to encourage participants to manage bees colonies and give direct assistant on marketing strategy for the  stingless bee honey.
field practice, how to manage stingless bee colony



Monday, October 24, 2016

Suara Owa dalam secangkir Kopi


Kurang lebih 4 tahun sudah kegiatan proyek “Kopi dan Konservasi Primata” berjalan, perjalanan yang tidak singkat dan ternyata banyak hal yang juga telah memberi pengalaman dan pelajaran berharga bagi upaya konservasi primata endemik di wilayah Jawa Tengah. Pelestarian primata yang kita arus utamakan dengan mengkombinasikan penguatan ekonomi  untuk menopang kegiatan konservasi di habitat primata terancam punah, menjadi tantangan yang serius dan sekaligus menyenangkan.

Permasalahan selalu ada dan kegiatan pelestarian primata juga mengalami dinamika yang kadang ada hal hal yang tidak bisa diatasi sendiri. Mengkomunikasikan bahasa konservasi menjadi lebih universal dan mudah diterima kadang terlalu cepat hingga substansi pesan pelestarian ini menjadi ”buzz word”, atau kata-kata marketing hijau yang memeberi dukungan kepada kegiatan yang menurunkan kualitas hutan sebagai habitat primata endemik dan fungsi sosial dan ekonominya.
kegiatan produksi kopi Owa
Namun demikian,semangat dari dalam hati membuat kita terus melalui semua hal dengan senang, menambah jaringan teman, dan memulai hal yang baru menjadi motivasi lain, menaikan hormon dopamine ketika berkaitan dengan kopi dan konservasi primata. Beberapa kunjungan internasional menjadi corong kepada dunia luar bahwa kita juga tidak diam terhadap kepunahan-kepunahan dan kerusakan yang terjadi. 

bahasa bukan kendala lagi kalau membicarakan primata dan kopi
Sejak bulan Agustus hingga Oktober ini, kegiatan kita " kopi dan konservasi" mendapat tamu-tamu istimewa,yang tertarik untuk melihat langsung kegiatan ini. Kunjungan dari  director proyek pelestarian kukang (LFP) menjadi semangat bagi tim bahwa kita tidak sendirian menahan laju kepunahan primata jawa, Profesor Anna Nekaris, dari Oxford Brookes University, secara langsung menuliskan pesan dan kesan nya ketika berkunjung ke Sokokembang dan mengujungi markas SwaraOwa di Yogyakarta.


Ada juga kunjungan dari Secretariat land care Australia,membuat kita semakin percaya diri bahwa kopi dan produk hutan lainnya juga dapat menjadi satu-kesatuan cerita yang saling menguatkan untuk pelestarian primata dan hutan sebagai habitatnya.
Victoria Mack dari Secretariat for International Landcare Inc

Yang lebih sepesial lagi, adalah kunjungan 23 peserta pelatihan primata di Sokokembang, yang menjadi agenda tahunan proyek ini, teman baru yang mungkin di antaranya akan meneruskan upaya-upaya pelestarian serupa di  tempat lain atau di lain waktu.
Teman baru pegiat konservasi primata peserta pelatihan metode survey primata 2016 
produk-produk hasil hutan untuk konservasi
Produk-produk konservasi yang terinspirasi dari kegiatan ini telah dan sedang di kelola dan di pasarkan kepada masyarakat luas, kopi, madu dan gula aren menjadi media kita untuk menyuarakan pelestarian Owajawa dan hutan sebagai habitatnya. Penjualan -penjualan yang kita lakukan menghasilkan dana konservasi yang sustainable meskipun dalam jumlah yang masih relative kecil, namun penting untuk menyokong kegiatan selanjutnya dan juga memperluas target wilayah perlestarian primata dan semua fungsi penting hutan.  Bagi anda yang ingin berkontribusi terhadap produk-produk  dan aktif menyuarakan upaya pelestarian ini bisa langsung berkomunikasi dengan lewat media sosial kami di FB, twitter, IG @swaraOwa dan email : sokokembang.channel@gmail.com, atau melalui Buka Lapak. Terimakasih, Salam Owa!!

Sunday, August 21, 2016

Konservasi Terkafeinasi : Masa depan Owa di Tanah Jawa

Jungle bean di habitat aslinya

Jungle bean, menjadi produk konservasi kita tahun 2016 ini, dengan tujuan untuk mengenalkan kepada khalayak umum, inilah  Owa dari pulau Jawa. Kegiatan pelestarian primata melalaui “Coffee and Primate Conservation Project” ini telah menambah hormon dopamine, atau gembira ketika melakukan kegiatan dimanapun, yang terkait dengan kopi, hutan dan khususnya primata yang terancam punah. Caffeinated conservation, itulah kata-kata yang mungkin pas.

Mulai pertemuan Konservasi Asia 2016 di Singapore beberapa bulan yang lalu, kami mewakili project kopi dan koservasi primata, membawa produk produk hutan berkelanjutan di hadapan komunitas internasional. Kopi, gula aren dan madu menjadi pembawa pesan konservasi primata di Jawa Tengah, khususnya dari habitat Owa jawa.

Bulan Agustus ini, ada pertemuan terbesar pegiat primata, yang di adakan di Chicago, kongres primata dunia, kesempatan ini juga menjadi semangat kami untuk memperkenalkan kegiatan pelestarian Owa jawa ini dan juga menjadi tempat berbagi pengalaman dan membangun jaringan di tingkat global untuk pelestarian primata. 

Jungle bean di kota Chicago


Perjalanan lebih dari 20 jam, telah di tempuh mulai dari habitat Owajawa -Kuala lumpur-London-Chicago, banyak pengalaman dan hal baru selama perjalanan ini, dan tentunya dalam satu minggu ke depan (sejak tulisan ini terbit) akan banyak hal baru dan teman baru yang membuat cerita konservasi primata ini semakin menarik…(bersambung)

Wednesday, February 24, 2016

Jalak Lawu, nyanyian syahdu di hutan bisu

Di tulis oleh : Asman Adi Purwanto


suara burung Ceret Gunung

Hawa dingin langsung menyeruak menyerang kami yang datang dari dataran rendah, ketika kami datang di Cemoro Kandang. Suhu 13 – 14 derajat celcius saja sudah cukup membuat kami seperti kucing takut dengan air. "Tim monyet "SwaraOwa datang ke Cemoro Kandang di Lereng Selatan Gunung Lawu untuk melakukan pendataan kemungkinan adanya Surili Jawa atau yang biasa kami sebut dengan nama Rekrekan (Presbitys comata)

Saya mungkin satu-satunya anggota tim yang lebih fokus pada kegiatan pengamatan dan konservasi burung. Menjejakan kaki di Lawu adalah yang pertama kali buat saya. Berharap bisa mendapatkan banyak catatan baru yang tidak saya temukan di gunung – gunung lain di Pulau Jawa. Ceret Jawa (Locustella montis ) dan tentu saja sang legenda Jalak Gading atau Anis Gunung (Turdus poliocephalus stresemanni) mejadi target saya disela-sela mencari keberadaan primata endemik Jawa.

Suara-suara burung sudah mulai terdengar dari basecamp cemoro kandang tempat kami nge-pos. Beberapa jenis merupakan suara dari jenis burung yang sudah pernah kami jumpai sebelumnya sehingga bagi kami suara tersebut sudah tidak asing. Dan, kami bisa langsung mengenali suara tersebut. Begitu juga sepanjang jalur pendakian dan jalan setapak yang kami telusuri suara-suara burung dari yang kami kenal sampai dengan suara yang menurut kami masih asing menjadi penyemangat kami mencari keberadaan rekrekan (Presbytis comata) dan Lutung Jawa (Trachypithecus auratus). Beberapa suara burung yang belum kami kenali, kami mencoba untuk merekam untuk kepentingan identifikasi.

Ceret Gunung (Cettia vulcania)merupakan burung yang paling umum. Di semua jalur yang kami masuki, kami selalu menemukan jenis tersebut. Awalnya saya pikir itu Ceret Jawa (Locustella montis) ternyata setelah yang punya suara keluar dari semak belukar langsung ketahuan. Dan,  ceret jawa yang menjadi target saya, saya hanya mendengarkan suaranya saja tanpa melihat langsung wujud aslinya.

Di jalur cemoro kandang hal menarik lainnya selain melimpahnya jenis ceret gunung, kami juga menemikan aktifitas Ciu Besar (Pteruthius flaviscapis) yang membawa mangsa di paruhnya dan selalu mengeluarkan suara peringatan. Jantan dan Betina ciu besar selalu bersamaan mengeluarkan suara ketika ada kami dilokasi dimana kami juga menemukan suara Lutung Jawa dihari pertama. Asumsi kami sepasang burung tersebut sedang dalam masa berbiak dan posisi sarang bisa jadi ada di lokasi itu.
Jalak Lawu


Tidak kami cari, keberuntungan datang, si Jalak gading,  atau Jalak Lawu pun akhirnya, menampakan diri dan langsung beraksi di depan camera. Burung ini adalah salah satu ras burung kicau dari marga Turdidae,  yang hanya ada  di G.lawu tidak di jumpai  di tempat lain.

Sekitar 20 jenis burung yang kami jumpai dalam waktu 4 hari, dengan jumlah jenis burung yang kami temukan justru  menjadi keheranan bagi kami. Mengapa demikian?

Hutan lereng selatan gunung lawu memiliki tipe habitat hutan hujan tropis dengan vegetasi yang masih sangat bagus. Bahkan lebih bagus dari Merbabu. Dengan kondisi demikian, ekspektasi kami pada saat berangkat kami dapat menjumpai jenis satwa yang cukup melimpah, mulai dari aves sampai mamalia. Akan tetapi dugaan kami meleset, hutan begitu sepi dari suara burung, jejak mamalia baik jejak kaki dan kotoran, yang ada hanya jejak roda sepeda motor.
Mungkin hal ini terjadi akibat dari dampak penangkapan burung yang cukup tinggi di kawasan tersebut. Pak Kholil, mantri perhutani wilayah magetan dalam obrolan santai mengatakan masih saja ada orang-orang tak bertanggung jawab masuk ke kawasan lawu untuk menangkap burung.
“Yang masuk menangkap burung ya ada saja, mas. Mereka masuk melalui jalan-jalan setapak yang jauh dari pantauan kami”. Jelas pak Kholil, dan keterbatasan personel untuk mengamankan kawasan yang luas.

Kegiatan perburuan satwa mempunya dampak yang sangat besar terhadap populasi satwa di alam khususnya burung. Hilangnya burung burung ini juga mengakibatkan peran penting dari burung tersebut juga hilang. Sudah nyata, menikmati kicauan burung di hutan tidak lagi terdengar, fungsi burung sebagai pengendali hama, sudah dirasakan petani, dan fungsinya digantikan dengan pestisida kimia. 
Dari beberapa pengalaman kami mengunjungi beberapa kawasan hutan yang memiliki intensias penangkapan burungnya tinggi, hutan – hutan menjadi sunyi sekan bisu, " Empty forest syndrome” .

Melalui kegiatan survey surili jawa ini, kami berharap dan mengajak semua pihak untuk berpartisipasi aktif menjaga ekosistem Gunung Lawu. Hal itu disambut baik oleh Komunitas Anak Gunung Lawu  (AGL)  yang mengharapkan hasil dari kegiatan ini dapat menjadi rujukan mereka dalam berkontribusi nyata melestarikan kawasan lawu khususnya di kawasan cemoro kandang hingga ke Puncak Lawu. 

Wednesday, January 13, 2016

Kunjungan Universitas Missouri ke Habitat Owa

Tahun 2016 kegiatan pelestarian Owa Jawa di awali dengan kegiatan mengenalkan pada dunia luar bahwa kita mempunyai kekayaan alam yang unik dan kita juga turut aktif menjaga melestarikan keanekaragaman hayati yang ada di sekitar kita. Tamu kita kali ini adalah mahasiswa dari UniversitasMissouri Amerika, yang segaja datang mengunjungi kegiatan project “Kopi dan Konservasi Primata” yang telah dan sedang berjalan di Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan.

foto bersama Kepala Desa Kayu Puring

Awal kunjungan ini ketika bulan November 2015 pihak kampus Missouri, menghubungi kita setelah menemukan laporan dan kegiatan pelestarian Owa jawa ini lewat website swaraOwa. Mereka waktu itu sedang menyusun kegiatan kunjungan ke Indonesia yang tujuannya adalah untuk mengenal budaya alam dan kegiatan budidaya  pertanian dan kehutanan di Indonesia.

Singkat cerita, tanggal 9 Januari ke 9 mahasiswa dan 2 pengelola trip dari universitas  Missouri datang, dan untuk mengawali kegaitan field trip, kami awali dengan  presentasi tentang Project Kopi dan Konservasi Primata. Bertempat di project kafe patner, kafe @mariNgopi menjadi tempat mengenalkan cerita  kopi hutan dan  Owa Jawa sebagai primata endemik Jawa.

acara presentasi di kafe maringopi (foto Dani)

Kunjungan ke habitat Owa terlaksana tanggal 10 Januari 2015, pagi hari yang kita tentukan tim swaraowa bertemu dengan mahasiswa ini terminal bus  Doro, Kabupten Pekalongan, hal ini dikarenakan untuk masuk ke sokokembang tidak memungkinkan menggunakan kendaraan bis besar, dan kami juga mempertimbangkan warga sokokembang untuk terlibat langsung dalam trip ini, jadi kami membawa tamu-tamu ini menuju Sokokembang menggunakan Doplak, kendaraan pick up angkutan warga dan barang di Petungkriyono.
Sengaja menggunakan kendaraan bak terbuka karena alasan untuk mengamati primata ( Primate-watching)  di jalur hutan sokokembang dari Kroyakan sampai Sokokembang, kendaraan ini pas sekali, dan kita bisa sambil berdiri di belakang mengamati hutan di sekitar jalan  dan primata yang kebetulan berada di pinggir jalan dalam hutan .
Pengamatan Primata
Turun di gerbang ekowisata Petungkriyono, kami langsung di sambut kelompok monyet ekor panjang, dan Rekrekan, dan mulai dari sini obrolan tentang primata dan hutan dimulai. Setidaknya membedakan monyet dan kera juga menjadi hal yang paling sederhana untuk di kenalkan kepada mahasiswa asing ini. Ciri-ciri fisik adalah yang paling mudah di kenali, Owa yang tidak berekor dan monyet dengan ekornya.Namun ada dua jenis monyet berbulu hitam di hutan Sokokembang, yaitu Rekrekan dan Lutung Jawa. Keduanya dapat di bedakan dari warna bulu di dadanya, rekrekan lebih banyak warna putih, dan lutung cenderung gelap semuanya.
Selanjutnya acara di dusun Sokokembang kita sudah di sambut oleh bapak kepala desa Kayupuring, yang mengucapkan selamat datang kepada tamu jauh ini, dan memberikan gambaran sekilas tentang Sokokembang, Primata , potensi-potensi yang ada di habitat Owa jawa ini.
Acara mengenal kopi dan system budidaya selanjutnya menjadi agenda kunjugan sehari di habitat Owa, ke sebelas peserta ini kemudian kami ajak melihat menyusuri tegakan kopi hutan (shade grown coffee) Sokokembang yang menjadi habitat primata jawa dan satwa unik lainnya.
Melihat langsung habitat Owa dan kopi hutan 
Setelah menyusuri hutan dan melihat langsung tanaman kopi hutan, perserta kami ajak berpetualang menikmati cita rasa kopi habitat owa, dengan peralatan seduh manual kopi Arabica, kopi robusta yang sudah kami siapkan kami seduh dan semua peserta kami ajak memberikan komentar tentang kopi yang mereka minum tentu saja sambil menikmati pemandangan hutan disekitar Sokokembang.
coffee cupping  kopi habitat Owa
peserta field trip "Nature, Culture, and Agriculture"
Acara yang menutup rangkaian kegiatan ini adalah River tubbing, di dusun Kayupuring. River tubing  menyusuri sungai Welo, juga menjadi media mengenalkan habitat Owa Jawa dari sungai yang membelah hutan Petungkriyono. Kegiatan ini menjadi penutup rangkaian kunjugan  nature, culture dan agriculture .
r
River tubing Kali Welo ds.Kayupuring (foto :Purwo)





Monday, November 2, 2015

Owa jawa : Identitas Global Kabupaten Pekalongan

foto bersama di kedai kopi Owa
Tulisan berjudul What Does Coffee Have to Do With Gibbons? di blog Wildlife Reserve Singapore, menjadi awal dari pertemuan kita  dengan mereka, yang telah memberikan dukungan untuk kegiatan pelestarian Owa Jawa di habitat alamnya, dan tulisan ini mengulas kegiatan kunjungan WRS ke habitat owa terkait kegiatan "kopi dan konservasi Primata" Pada tanggal 16 October sampai 19 october 2015, perwakilan WRS memberikan dukungan langsung dengan  berkunjung ke  lapangan untuk melihat melihat langsung permasalahan dan kegiatan yang telah dan sedang di lakukan melestarikan owajawa dan juga peningkatan ekonomi warga sekitar hutan melalui kopi hutan.

Owa dan kopi lah yang sebernarnya mempertemukan tim swaraOwa dan WRS, sehingga mereka tertarik untuk datang ke lapangan langsung melihat langsung upaya pelestarian owajawa  wilayah hutan Petungkriyono, Kabupaten Pekalonngan. Hari pertama tanggal 16 October pagi hari kita mengamati primata di sekitaran hutan Sokokembang, dan mengenalkan tanaman kopi jenis jenis kopi yang ada di sekitaran habitat Owa. Menyusuri jalan antara Sokokembang hingga Kroyakan menjadi menu wajib untuk pengamatan primata di hutan sokokembang. Kemungkinan bertemu dengan jenis-jenis primata Jawa yang ada di hutan ini juga sangat tinggi karena kelompok yang di tepi jalan ini relatif mudah terhabituasi.

 
Vvinita, Xavier dan Drew sedang mengamati kelompok lutung di hutan sokokembang
  

Dalam  waktu kurang lebih 3 jam menyusuri jalan ini, setidaknya semua jenis primata di hutan Sokokembang sudah terwakili, Rekrekan (Presbytis fredericae) menjadi primata yang pertama di jumpai. Owa jawa (Hylobates moloch) yang semenjak pagi terdengar suaranya,akhirnya juga dijumpai, meskipun jaraknya yang relatif jauh, namun setidaknya 2 kali perjumpaan dengan Owa juga sangat meyakinkan bahwa hutan Sokokembang ini juga menjadi tempat hidup bagi populasi owa yang bagus. Lutung jawa (Trachypithecus auratus) menjadi favorit dalam primate watching ini, karena kita menjumpai lebih dari 2 kelompok dan masing masing kelompok ternyata juga tidak terlalu takut dengan kehadiran kita yang mengamati. Ada satu jenis lagi yang kita amati di hutan sokokembang yaitu monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) kelompok monyet ini di jumpai sedang mencari makan bersama dengan kelompok lutung, dan dengan mudah juga dapat dikenali dari pola perilakunya yang banyak aktifitas di atas tanah, dan suaranya yang gaduh.
lutung jawa 

Selain mengamati primata, kami juga mengenalkan proses produksi gula aren yang menjadi salah satu sumber penghasilan warga sekitar hutan habitat Owa, Sokokembang. Siang itu setelah mengamati primata kita melihat proses pembuatan gula semut aren oleh salah satu warga Sokokembang. Mulai dari nira sampai menjadi kemasan gula aren yang siap kita jual ke pasar.

mak Damuri sedang menjelaskan proses pembuatan gula aren jahe

Sore harinya, masih di dusun Sokokembang kita mengadakan acara bersama warga, khususnya ibu-ibu untuk saling tukar pengalaman bagaimana menyangrai kopi. Acara ini kita kemas secara fun namun juga ada kompetisinya, yaitu lomba menyangrai kopi. menyangrai kopi adalah pekerjaan sehari-hari oleh ibu-ibu warga dusun sokokembang, dan kali ini kita kebetulan ada tamu dari singapore zoo juga yang tertarik dengan kopi dari habitat owa. Lomba sangrai kopi ini dilakukan secara tradisional dan hasil sangrainya kemudian kita nilai bersama mana yang terbaik. Kopi yang di sangrai adalah jenis kopi robusta hutan.
suasana lombang sangrai kopi

Acara lomba sangrai kopi ini di ikuti oleh 6 orang ibu-ibu perwakilan dari warga sokokembang, menggunakan kuwali tanah dan kayu bakar yang seperti biasa dilakukan oleh ibu-ibu Sokokembang.
Di akhir acara cukup membuat tim peniliai kebingungan juga menentukan mana yang hasil sangrai yang bagus, dan akhirnya ada salah satu pemenang yang muncul di antara hasil sangrai tersebut. Menurut tim penilai hasil sangrai dengan disaksikan oleh ibu-ibu di jelaskan bahwa sangrai kopi dengan peralatan tradisional ini juga cukup unik, dan hasilnya akan sangat tergantung dengan konsistensi api dan cara mengaduk kopinya, kadang api  dari kayu yang  terlalu besar  membuat kopi terlalu hangus di permukaan luar namun di biji bagian dalam belum terlalu matang.

penilaian hasil sangrai kopi

Kesokan harinya kita ajak tamu-tamu dari Singapore Zoo ini menuju dusun Gondang, Desa Tlogohendro, dusun ini juga telah menjadi bagian kegiatan  konservasi owa, melalui produksi kopi Arabica nya. Perjalanan ke dusun Gondang kita tempuh kurang lebih 1 jam menggunakan angkutan doplak, yang sehari-hari juga di gunakan warga untuk transportasi. Di dusun Gondang langsung di sambut oleh pak Bau (kepala dusun) dan di jamu dengan hangat dengan sajian khas dusun Gondang yaitu nasi jagung dan sambel krangean.
Di dusun ini kita melihat bagaimana proses pengolahan kopi arabica mulai dari petik sampai penjemuran kopi, acara ngobrol dengan warga juga berlangsung dengan penuh canda karena masing-masing tidak mengerti bahasa yang digunakan.
 
wawancara dengan warga dusun Gondang, Tlogohendro

Tanggal 19 October 2015, perjalanan kunjugan “ Kopi  dan Konservasi Owa” ini juga sampai ke pusat pemerintahan Kabupaten Pekalongan, hari itu juga kita sudah di siapkan acara oleh  kabupaten Pekalongan dalam hal ini adalah BAPPEDA untuk menghadiri acara pemaparan hasil penelitian oleh tim peneliti dan capaian keberhasilan konservasi Owa di wilayah kabupaten Pekalongan. Acara ini juga menjadi sangat menarik dan antusias di ikuti oleh peserta undangan, yang terdiri dari perwakilan kecamatan di kabupaten pekalongan dan pihak terkait kehutanan di wilayah Kab.Pekalongan, yaitu  Dinas kehutanan , perhutani dan BKSDA dan juga dari anggota DPRD kabupaten pekalongan. Acara diskusi ini sekaligus menjadi pertemuan awal untuk mendorong kegiatan pelestarian Owa jawa khususnya di Kabupaten Pekalongan  agar  menjadi agenda prioritas pemerintah daerah, karena dengan Owa jawa tidak hanya menjadi aset daerah namun juga dapat  menjadi salah satu potensi peningkatan ekonomi warga sekitar habitat Owa dari kopi yang di kelola dengan ramah untuk tujuan pemanfaatan hasil hutan yang lestari.

acara presentasi kegiatan "coffee and primate cnservation" di BAPPEDA Kab.Pekalongan