Showing posts with label Fortwayne Zoo. Show all posts
Showing posts with label Fortwayne Zoo. Show all posts

Saturday, December 2, 2023

Pelatihan Metode Survei Primata ke 10 Tahun 2023 : Representasi 9 Spesies Owa Di Indonesia

 Oleh : Nawang Wulan, Nur Aini, dan Jeffy Immanuel, KP3 Primata Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada

Foto Bersama pelatihan MSP X tahun 2023


Pada tanggal 23-26 November 2023 rangkaian Pelatihan Metode Survei Primata (MSP) X Tahun 2023 telah terlaksana, berlokasi di Hutan Sokokembang, Petungkriyono, Kab. Pekalongan, Jawa Tengah. MSP merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Swaraowa bekerja sama dengan Kelompok Pengaman, Peneliti, dan Pemerhati Primata Universitas Gadjah Mada. MSP X kali menghadirkan peserta dari hampir dari seluruh penjuru Indonesia berjumlah 15 orang dari berbagai Universitas, Organisasi/Komunitas, dan BKSDA, mulai dari Pulau Sumatera (Jambi, Palembang, Mentawai, Aceh, Jambi, Padang, dan Palembang), Jawa dan Kalimantan, hal ini sebagai bentuk perwakilan dari kehadiran 9 spesies Owa yang ada di Indonesia. Kesuksesan MSP X di dukung oleh Arcus Foundation, Chances for Nature, Fort Wayne Children’s Zoo, Ostrava Zoo, serta Owa Coffee.

Sebelum berangkat ke lokasi penelitian, untuk mengecek kesiapan dan alur keberangkatan peserta dilakukan Technical Meeting via Zoom Meeting pada tanggal 19 November 2023, dalam meeting dijabarkan rundown acara, barang bawaan, dan alur keberangkatan. Pada tanggal 21 November 2023 peserta berangkat secara serentak dari asal daerah masing-masing yang kemudian di lakukan penjemputan di Pasar Doro oleh tim MSP yang terbagi dalam 2 kloter.

Hari pertama pada tanggal 22 November kegiatan diawali dengan registrasi dari perwakilan Universitas yaitu Universitas Indo Global Mandiri Palembang, Universitas Riau, Universitas Palangka Raya, Universitas Mulawarman, Universitas Gadjah Mada, ST. Ilmu Kehutanan Pantekulu, Universitas Andalas, perwakilan lembaga Baraya Sanggabuana, Fauna & Flora, PT. Restorasi  Ekosistem Indonesia, Biolaska, OIC, Mentawai, Biologi Society Purwokerto, dan BKSDA bersamaan dengan pembagian merchandise kegiatan kepada peserta. Malam harinya, peserta dan panitia kegiatan saling memperkenalkan diri satu per satu sambil berbagi tentang kisah owa dari daerahnya masing-masing serta kegiatan konservasi pelestarian owa atau primata lain yang dilakukan. Malam ini menambahkan kesan keakraban dan kedekatan.

Pengenalan Program konservasi Owa di Petungkriyono  oleh ketua Yayasan Swaraowa, Arif Setiawan

Keesokan paginya, dimulai dari pembukaan oleh ketua acara MSP X dari Swaraowa Kurnia Ahmaddin yang langsung disambung dengan materi tentang sejarah kegiatan Metode Survey Primata dan pengenalan tentang Yayasan Swaraowa yang menjadi pionir konservasi owa jawa di Hutan Sokokembang, Petungkriyono, oleh ketua Yayasan Swaraowa, Arif Setiawan, dilanjutkan pematerian tentang pengambilan data menggunakan metode vocal count triangulation  dan kesesuaian habitat owa jawa di Pegunungan Dieng yang dibawakan oleh Salmah Widyastuti,  seorang kandidat doktor dari IPB University yang baru saja menyelesaikan sidang promosi doktornya. Metode vocal count triangulation adalah menghitung survei kepadatan ukuran populasi spesies yang mempunyai suara khas. Metode digunakan untuk mengetahui kehadiran dari spesies, koordinat, estimasi area jelajah dan estimasi populasi. 

 

Pematerian metode vocal count triangulation oleh Salmah Widyastuti


Pematerian bioakustik dan pengenalan suara dari owa jawa oleh Nur Aoliya

Setelah istirahat makan siang, peserta kegiatan kembali diperhadapkan dengan materi kedua yaitu bioakustik dan pengenalan suara dari owa jawa yang dipaparkan oleh Nur Aoliya, awardee beasiswa Swaraowa yang sedang menempuh pendidikan magister di IPB University dengan tesis yang membahas tentang topik yang sama, yaitu bioakustik owa jawa. Hawa serius masih memenuhi seisi ruangan karena materi yang diberikan tergolong baru bagi peserta kegiatan walaupun pematerian telah usai, namun panitia kegiatan, Mas Tariyo dan Mas Apen, masuk dan memberikan ice breaking kepada peserta yang juga ditujukan untuk membentuk tiga kelompok untuk kegiatan lapangan esok hari dan lusa. Malamnya, peserta yang telah terbagi menjadi tiga kelompok kembali dikumpulkan untuk mendengarkan pematerian terakhir di hari ini tentang pengambilan data suara dengan alat passive voice recorder SM4 yang akan dipraktikkan esok hari oleh Kurnia Ahmaddin dari Swaraowa. Analisis data kehadiran owa jawa dilakukan dengan menggunakan suara great call dari owa jawa betina dengan menggunakan aplikasi Raven Pro.  Hari yang panjang ini ditutup dengan pengarahan peserta untuk kegiatan lapangan oleh panitia kegiatan.

Pemateri tamu Yan Lu, Cloud Mountain Conservation Foundation-China, tentang konservasi owa jambul hitam


  Pada hari ketiga sebagai implementasi dari pengajaran hari sebelumya, dilakukan kegiatan lapangan yang terbagi menjadi 3 Listening Post (LP) yaitu Sawah Cilik dan dua lokasi Penggung. Perjalanan menuju titik listening post dimulai serentak pukul 06.30 WIB dan dilakukan pemasangan passive voice recorder SM4 serta praktek metode vocal count triangulation hingga pukul 10.00 WIB, dalam hal ini dibutuhkan ketenangan serta kefokusan agar dapat mendeteksi kehadiran dari suara owa jawa. Kegiatan hari itu dilanjutkan dengan analisis data populasi dengan google maps pro dari metode vocal count triangulation yang disambung oleh pematerian dari Cloud Mountain Consevation Faoundation-China dan Peneliti dan penggiat konservasi Owa Jambul Hitam (Black crested gibbon), Nomascus hainanus, Ms Yan Lu yang bertemakan Konservasi Owa di China.

Pengenalan alat rekam pasive untuk monitoring owa

Ms. Yan Lu, ikut bersama mendampingi peserta di Listening post

Pada kegiatan lapangan hari kedua dilakukan kembali pengamatan dengan metode vocal count triangulation dan pelepasan alat passive voice recorder SM4 yang dilanjutkan dengan analisis populasi dan data vocal owa jawa yang didapat pada hari itu. Untuk mengetahui hasil analisis setiap kelompok, dilakukan pembuatan laporan yang kemudian dipresentasikan ke esokan harinya dalam bentuk Power Point. Hari itu kegiatan cukup padat tetapi peserta dapat melaluinya dengan baik dan penuh canda tawa.

Tibalah peserta pada hari terakhir kegiatan MSP X ini. Hari ini peserta diajak untuk bersenang-senang dengan berkeliling melakukan primate watching dan kunjungan ke tempat budidaya lebah madu yang dibina oleh Swaraowa. Untuk menuju lokasi pengamatan primata peserta menggunakan kendaraan khusus Petungkriyono yaitu  Doplak. Dalam primate watching peserta tidak hanya dapat melihat owa jawa namun hari itu terlihat pula lutung jawa (Rachypithecus auratus), rekrekan (Presbytis comata) dan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).  Perjalanan dilanjutkan menuju tempat budidaya lebah madu Hoyo Madu milik Berkah Farm Pak Cahyono, tempat budidaya lebah madu ini merupakan binaan dari yayasan Swaraowa yang berlokasi dihabitat owa jawa di Desa Petungkriyono, dalam kunjungan ini dikenalkan berbagai produk madu murni dan koleksi madu dari masa kemasa. Setibanya di stasiun riset kegiatan dilanjutkan dengan presentasi masing-masing kelompok listening post, dan sesuai tradisi MSP sebagai bentuk apresiasi akan disematkan mahkota yang terbuat dari kumpulan snack yang dirancang sedemikian rupa menjadi bentuk mahkota. 


Kunjungan ke pusat budidaya lebah Hoyo Madu Berkah Farm, ds Setipis

Primate watching

Penutupan MSP disampaikan oleh ketua Yayasan Swaraowa, Arif Setiawan. Harapannya selesai dari terlaksananya MSP X tahun 2023 ini dapat mengenalkan teknik dasar survei populasi Owa dengan metode Vocal Count Triangulation dan teknologi bioakustik untuk penelitian dan monitoring Owa, serta membangun dan memperkuat jaringan peneliti dan penggiat di bidang konservasi.

 

Lestari Alamku, Lestari Owaku!

Saturday, August 11, 2018

Kunjungan Fortwayne Children’s Zoo ke habitat Owa Jawa

Bulan Juli 2018, swaraowa kedatangan tamu special yang sudah sejak tahun 2010 mendukung kegiatan lapangan kita untuk melestarikan primata jawa, khususnya Owa jawa. Dr. Joe Smith dan Amber dari Fortwayne Children's Zoo, mewakili Kebun binatang yang berbasis di Indiana Amerika berkunjung untuk melihat langsung habitat  Owa Jawa.

kegiatan pengamatan primata

Kegiatan kunjungan ini di awali dengan mengunjungi swaraowa di Yogyakarta, melihat rumah produksi kopi owa, beramah tamah dengan tim dan juga sedikit berbagi update tentang kegiatan yang sudah berjalan hingga saat ini. Kami mengajak 2 tamu special ini ke habitat Owa di Sokokembang dan juga berkunjung ke Desa Tlogohendro, dan Mendolo di Kecamatan Lebakbarang.

Owa jawa terekam sedang istirahat

Primatewatching menjadi tujuan utama di Sokokembang, untuk melihat langsung primata-primata Jawa yang ada di hutan sekitar dusun Sokokembang. Meskipun tidak masuk kedalam hutan, pengamatan di jalur yang biasa kita gunakan untuk monitoring, kita sangat beruntung pagi itu melihat langsung ke-4 primata Jawa, kecuali si Kukang yang memang aktif malam hari.
Dusun Mendolo, kurang lebih 1 jam perjalanan dari Sokokembang ke kecamatan Lebakbarang, dan kegiatan kita disini sudah kita inisiasi kurang lebih 2 tahun,untuk pendampingan budidaya lebah klanceng dan juga pengolahan kopi hutan. Kami sempat melakukan night walk di jalan tengah hutan yang menghubungkan desa Mendolo dan Kutorembet, dan hasilnya kami melihat kucing hutan (Prionailurus bengalensis)  yang termasuk salah satu carnivor malam dan  juga kucing di lindungi yang berhabitat di hutan-hutan dataran rendah di Jawa.
mengenalkan berbagai macam karakter cita rasa kopi 

Cupping test, menjadi penutup rangkaian kunjungan ini, bersamaan dengan kegiatan panen raya kopi tahun ini, kami mencoba mengenalkan beberapa jenis kopi dengan beberapa proses pengolahan. Kopi-kopi ini bersal dari lokas-lokasi yang merupakan habitat primata Jawa, mulai dari Gunung Papandayan di Jawa Barat, Gunung slamet, Purbalingga, Pekalongan dan di bagian paling timur kita mendapatkan kopi dari Temanggung.  Beberapa daerah ini merupakan lokasi penting untuk pelestarian primata jawa, dan melihat potensi kopi saat ini, mengolahnya sebagai produk yang bekelanjutan tanpa merusak hutan menjadi tantangan untuk waktu-waktu mendatang, mengingat potensi terus meningkatnya konsumsi kopi.


foto bersama keluarga kopi owa di Sokokembang

Monday, October 24, 2016

Suara Owa dalam secangkir Kopi


Kurang lebih 4 tahun sudah kegiatan proyek “Kopi dan Konservasi Primata” berjalan, perjalanan yang tidak singkat dan ternyata banyak hal yang juga telah memberi pengalaman dan pelajaran berharga bagi upaya konservasi primata endemik di wilayah Jawa Tengah. Pelestarian primata yang kita arus utamakan dengan mengkombinasikan penguatan ekonomi  untuk menopang kegiatan konservasi di habitat primata terancam punah, menjadi tantangan yang serius dan sekaligus menyenangkan.

Permasalahan selalu ada dan kegiatan pelestarian primata juga mengalami dinamika yang kadang ada hal hal yang tidak bisa diatasi sendiri. Mengkomunikasikan bahasa konservasi menjadi lebih universal dan mudah diterima kadang terlalu cepat hingga substansi pesan pelestarian ini menjadi ”buzz word”, atau kata-kata marketing hijau yang memeberi dukungan kepada kegiatan yang menurunkan kualitas hutan sebagai habitat primata endemik dan fungsi sosial dan ekonominya.
kegiatan produksi kopi Owa
Namun demikian,semangat dari dalam hati membuat kita terus melalui semua hal dengan senang, menambah jaringan teman, dan memulai hal yang baru menjadi motivasi lain, menaikan hormon dopamine ketika berkaitan dengan kopi dan konservasi primata. Beberapa kunjungan internasional menjadi corong kepada dunia luar bahwa kita juga tidak diam terhadap kepunahan-kepunahan dan kerusakan yang terjadi. 

bahasa bukan kendala lagi kalau membicarakan primata dan kopi
Sejak bulan Agustus hingga Oktober ini, kegiatan kita " kopi dan konservasi" mendapat tamu-tamu istimewa,yang tertarik untuk melihat langsung kegiatan ini. Kunjungan dari  director proyek pelestarian kukang (LFP) menjadi semangat bagi tim bahwa kita tidak sendirian menahan laju kepunahan primata jawa, Profesor Anna Nekaris, dari Oxford Brookes University, secara langsung menuliskan pesan dan kesan nya ketika berkunjung ke Sokokembang dan mengujungi markas SwaraOwa di Yogyakarta.


Ada juga kunjungan dari Secretariat land care Australia,membuat kita semakin percaya diri bahwa kopi dan produk hutan lainnya juga dapat menjadi satu-kesatuan cerita yang saling menguatkan untuk pelestarian primata dan hutan sebagai habitatnya.
Victoria Mack dari Secretariat for International Landcare Inc

Yang lebih sepesial lagi, adalah kunjungan 23 peserta pelatihan primata di Sokokembang, yang menjadi agenda tahunan proyek ini, teman baru yang mungkin di antaranya akan meneruskan upaya-upaya pelestarian serupa di  tempat lain atau di lain waktu.
Teman baru pegiat konservasi primata peserta pelatihan metode survey primata 2016 
produk-produk hasil hutan untuk konservasi
Produk-produk konservasi yang terinspirasi dari kegiatan ini telah dan sedang di kelola dan di pasarkan kepada masyarakat luas, kopi, madu dan gula aren menjadi media kita untuk menyuarakan pelestarian Owajawa dan hutan sebagai habitatnya. Penjualan -penjualan yang kita lakukan menghasilkan dana konservasi yang sustainable meskipun dalam jumlah yang masih relative kecil, namun penting untuk menyokong kegiatan selanjutnya dan juga memperluas target wilayah perlestarian primata dan semua fungsi penting hutan.  Bagi anda yang ingin berkontribusi terhadap produk-produk  dan aktif menyuarakan upaya pelestarian ini bisa langsung berkomunikasi dengan lewat media sosial kami di FB, twitter, IG @swaraOwa dan email : sokokembang.channel@gmail.com, atau melalui Buka Lapak. Terimakasih, Salam Owa!!

Thursday, September 22, 2016

Owa Jawa di Amerika (Fort Wayne Children's Zoo)

Owa Jawa di FCZ (foto www.kidszoo.org)

Masih dalam rangkaian mengikuti kongres primata di Chicago (21-26 Agustus 2016),  kali ini kesempatan berkunjung ke Fortwayne Children’s Zoo,Indiana  Tahun 2012 awal, adalah pertama kali saya berhubungan dengan FCZ, waktu itu saya mengajukan proposal kegiatan konservasi Owa Jawa di hutan Sokokembang. Sejak saat itulah kegiatan konservasi Owa Jawa di Jawa Tengah mendapat perhatian khusus dari Fortwayne Children’s Zoo. Fortwayne Children’s Zoo  (FCZ)saat ini juga mempunyai 4 individu Owajawa, dan salah satu nya katanya hasil penangkaran dari Gibbon Conservation Center yang sebelumnya saya ceritakan.  Lebih jauh tentang Fortwayne Children's Zoo bisa baca di sini : http://kidszoo.org/

Turkey, salah satu burung asli Amerika

Rusa
Tahun 2014 FCZ juga yang telah berkunjung ke habitat Owa di Sokokembang (baca disini),  dan kali ini balasan kunjungan saya ke Fortwayne adalah salah satunya mempresentasi  kegiatan konservasi Owa jawa yang telah berlangsung hingga saat ini, dan mencoba membangun kolaborasi kegiatan konservasi di tahun -tahun selanjutnya, untuk jenis-jenis Owa terancam punah di Indonesia.
Saya menginap di rumah Joe Smith, program director di kebun binatan FCZ, sangat ramah dan saya diajak untuk wildlife watching dan melihat base ball salah satu amerikan sport yang paling favorit, dan sangat beruntung juga bahwa saya menjumpai beberapa satwa endemik amerika yang saat ini masih ada di sekitar kota fortwayne, di suaka alamnya.

Ada 2 presentasi yang saya lakukan, yang pertama untuk board member FCZ  dan presentasi di depan staff kebun binatang. Dari presentasi ini salah satunya fortwayne tetap akan mensuport kegiatan lapangan kita di tahun-tahun mendatang. Berita tentang kegiatan saya di fortwayne ini juga sempat di liput oleh media televisi lokal di fortwayne dan muncul di koran sehari setelahnya. (baca beritanya disini )

Ada Owa jawa yang di kebun binatang ini, dan ada bayi yang baru umur 1 tahun ketika saya hari itu disana, Owa disini di tempatkan di enclosure yang di kombinasi dengan vegetasi alami disana, dan ada ruangan khusus yang digunakan untuk Owa ketika musim salju tiba.  Berkunjung ke kebun binatang dengan pass khusus, tentu bisa masuk ke dalam di balik layar, bagaimana satwa-satwa ini di rawat dan di pelihara,dimana habitat dan kondisinya sangat berbeda sekali dengan kodisi asal habitatnya, butuh kerja ekstra keras dan biaya tinggi untuk merawat owa jawa disini. Di kebun binatang ini juga di arustamakan kita tidak hanya sekedar cinta atau menyayangi binatang/hewan tapi juga bagaimana melestarikan bintang ini melalui contoh sepesimen hidup yang ada di kebun binatang dan juga melestarikan habitat aslinya.
Bersama Jim dan Joe Smith (FCZ)


Ucapan terimakasih untuk Fortwayne Children’s Zoo  dari kami seluruh tim lapangan atas nama SwaraOwa, proyek kopi dan koservasi primata, yang telah mendukung upaya pelestarian owa jawa di Jawa Tengah.  

Thursday, August 20, 2015

Pelatihan Metode Survei Primata Hutan Sokokembang, 14-16 September 2015


Latar Belakang
Kawasan hutan alam di Jawa Tengah adalah habitat primata endemik Jawa, salah satunya adalah Owa Jawa (Hylobates moloch) yang terletak di luar kawasan konservasi dan telah terfragmentasi. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melestarikan populasi Owa Jawa dan habitatnya, sebagai bentuk kontribusi terhadap rencana aksi Owa Jawa tahun 2012 hingga tahun 2021 mendatang. Tujuan khususnya adalah untuk melestarikan habitat Owa Jawa yang ada di bagian barat Pegunungan Dieng, melalui penelitian, penegakan hukum dan keterlibatan komunitas lokal. Kami akan mendorong peneliti-peneliti muda dan conservasionist melalui pelatihan dan praktek lapangan, peningkatan kegiatan penegakan hukum dan pengembangan dan pemberdayaan komunitas lokal berbasis pertanian kopi di Dusun Sokokembang, Pekalongan. Salah satu pelatihan yang perlu dilakukan adalah pelatihan survei primata dengan materi diskusi metode-metode yang digunakan serta praktek langsung di lapangan, misalnya line transect dan point count, serta analisis data yang memungkinkan dilakukan dari metode yang digunakan. Pelatihan ini merupakan kegiatan tahunan yang telah dilakukan sejak tahun 2013 dan tahun ini merupakan pelatihan yang ke-3, yang dilaksanakan oleh KP3 Primata Fakultas Kehutanan UGM yang bekerjasama dengan “Coffee and Primate Conservation Project-Yogyakarta Primate Study Club. Peningkatan kerjasama antara pelaku konservasi di Jawa Tengah, baik yang terlibat langsung maupun tidak akan menjadi langkah berikutnya setelah dilaksanakannya pelatihan. Melalui proses diskusi dalam acara pelatihan, diharapkan adanya kesepakatan mengenai metode yang tepat digunakan di kawasan hutan alam Jawa Tengah, sehingga hasil penelitian yang dilakukan oleh berbagai pihak dapat diintegrasikan untuk kepentingan bersama nantinya.

Tujuan
1.    Mendorong munculnya peneliti primata dari generasi muda.
2.    Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan teknis para peneliti terkait metodologi survei primata.
3.    Mendorong jejaring dan kerjasama antar peneliti primata terutama di tingkat lokal Jawa Tengah.

Lokasi dan Waktu Pelatihan
Pelatihan ini akan dilakukan pada tanggal 14 – 16 September 2015 di Dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan dan Hutan Lindung Petungkriyono, Perhutani KPH Pekalongan Timur.

Peserta
Mahasiswa perguruan tinggi, praktisi, dan perwakilan instansi di bidang Kehutanan di wilayah Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta.

Pemateri
1. Arif Setiawan,  (Coffee and Primate Conservation Project)
2. Ike Naya Naya Silana  (Perhimpunan Ahli dan Pemerhati Primata Indonesia) 

3. Indah Winarti  (IAR)

Kegiatan ini di dukung oleh :






Friday, July 11, 2014

The 2nd Primate Survey Training, Sokokembang 9-11 June 2014

This activities was initiated last year in 2013, where we realize that primate conservation should be based on scientific information. And actually there is a problems to conserve endangered primate and its habitat in central java , that we lack of capacity and knowledge about primate survey method. 

Thus , the training aims are :1 to raise and encourage young primate researchers and conservationist in central Java. 2. To enhance knowledge and technical experience on field primate survey. 3. To establish professional network among young primatologist in central java.

Totally 21 participants,  were joint in 3 days training in Sokokembang (see photo.1), they are come from university students, forestry government staff ,Journalist, and local NGO  from surrounding javan gibbon habitat in central java
2014 training participants 

In this training, we introduce two methods that can be applied in the  field for primate survey training, i.e “line transect” and “vocal count-triangulation” especially for gibbon survey. The training including room discussion, field practice (data collection) and its data analysis.

During the training we also received coverage from national newspaper, and published at  11 June 2014 (photo.2).
newspaper coverage about the primate survey training in Sokokembang forest

Saturday, June 21, 2014

Field visit Fortwayne Zoo in Sokokembang forest

Sokokembang forest view

17-20 June 2014 are special days for the coffee and primate conservation project, in Sokokembang village, Petungkriono , Central Java. We had a visit from Fort Wayne zoo staff (Dr. Joe Smith) and Fort Worth Zoo  (Dr  Nancy  P. Lung). The reason to visit Sokokembang is Javan gibbon, to see the field condition, problems and real action to stop extinction of the rarest gibbon in Indonesia.
As host for the project, after we introduce all the the project team we visiting Kayupuring village to meet village government officers there. Our mission is to express appreciation to the local government that Sokokembang within Kayupuring village has become part of the world’s attention to conserve endangered primates. Primate and habitat preservation involving forest communities have a real contribution to sustainable development with economic and ecological consideration complementary.

Primate watching in Sokokembang forest also become most interesting for our guest, we had observe with very clearly all four primate species in the forest i.e Javan gibbon (Hylobates moloch) Javan langur (Trachypithecus auratus), Javan Surili (Presbytis fredericae) and Longtailed macaque (Macaca fascicularis), so lucky  we are,  observing all these primate in a single feeding tree, where there was ficus tree have been fruited and all the primates have been feed on them.

We also invited our guest to join in our village meeting, meet the villagers who processing forest-coffee and off course to feel our jungle track heading to our tree house which usually to be used as javan gibbon monitoring based on their call.

Three days for the field visit also giving invaluable experience and  motivation to our team member to continue our works, to conserve our endangered primates and it's habitat, and photos will tell you more than words.
with village government officers

Joe and Dr.Sena adisubrata from Gadjah Mada University

ID?

primate watching

Civet coffee

Nancy and Emily trying to capture the gibbon



Bird watching from tree house

Walking through forest coffee habitat

coffee processing and other non timber forest products

group photo with team, family and tv crew