Showing posts with label endangered. Show all posts
Showing posts with label endangered. Show all posts

Wednesday, July 26, 2017

Arung ombak Mentawai: Burung Laut Pulau Siberut




ditulis oleh : 
Imam Taufiqurrahman,
email : orny_man@yahoo.com

Melaju di atas Mentawai fast

Sekira dua jam lepas pelabuhan Padang, seekor burung laut yang tengah asyik mengapung tiba-tiba terbang menghindar dari kapal cepat yang saya tumpangi. Ukurannya tak seberapa besar dan tampak hanya hitam. Sejenis petrel-badai kah, atau penggunting laut?
Ah, sayang terlewatkan. Mengetahui itu, Kang Wawan lantas mengajak ke buritan. Saya tak menolak.

Cuaca terasa bersahabat. Langit cerah biru berawan tipis, matahari pun masih hangat. Air laut tampak begitu tenang tak beriak. Di dek belakang ini, beberapa penumpang mancanegara asyik berbincang. Lainnya sekadar duduk melamun menatap laut atau tertidur. Sebagian besar mereka ini datang untuk mencandai ombak Mentawai.
Iku ki papan surfing kabeh, Mam,” (Itu papan surfing semua, Mam) jelas Kang Wawan saat melihat saya bersandar pada setumpukan barang yang rapat tertutup terpal. Tak mengherankan memang. Seperti Nias, sisi barat Kepulauan Mentawai menghadap Samudera Hindia. Di musim yang tepat seperti saat ini, terbentuk gulungan-gulungan ombak yang menarik minat para penunggang ombak.
Buntut-sate putih ras lepturus
Tiba-tiba seekor burung putih melintas dari arah depan kapal. Ekornya berpita panjang menjuntai. Tak salah lagi, buntut-sate putih Phaethon lepturus. Senang sekali melihatnya. Biasanya hanya bisa menjumpainya dari tepian tebing di Gunung Kidul. Baru ini saya menjumpainya di laut lepas. Kang Wawan menunjuk seekor lagi yang tengah mengapung-apung di lautan. Laju Mentawai Fast mengagetkan si burung yang lantas terbang menjauh.
Buntut-sate putih ras fulvus
Berbeda dari buntut-sate putih sebelumnya yang berwarna kekuningan, burung kedua itu terlihat putih bersih. Tak salah lagi, mereka dua anak jenis berbeda; yang berwarna kekuningan adalah fulvus, dikenal juga sebagai Golden Tropicbird, sementara yang putih bersih dari anak-jenis lepturus. Beberapa ekor dara-laut batu Onychoprion anaethetus dan seekor yang kembali tak teridentifikasi menemani perjalanan. Pukul 11 kapal sandar di pelabuhan pertama, Pelabuhan Laut Pokai, Muara Sikabaluan. Dua jam lagi hingga Pelabuhan Mailepet di Muara Siberut yang jadi tujuan.

    





Tuesday, May 23, 2017

Suara Alam Mentawai

Mulai bulan maret 2017, swaraOwa juga ada kegiatan di Kepulauan Mentawai, khususnya Siberut, tentunya untuk menambah pengalaman lapangan,membangun jaringan untuk memberikan kontribusi dalam upaya pelestarian jenis Owa endemik Kep.Mentawai. Owa di kep.Mentawai berwarna hitam gelap, dikenal dengan nama, Bilou nama ilimiahnya  (Hylobates klossii), silahkan cek di  daftar merah IUCN  untuk informasi tentang species ini.  
Bilou dan anaknya

Awal kegiatan ini bermula tahun 2010-2012, cerita lapangan waktu itu bisa di baca di blog http://monyetdaun.blogspot.co.id/ , dengan kata kunci " bilou ". Kemudian di akhir tahun 2016, bersama tim lapangan dari Siberut Selatan yang di motori oleh Damianus Tateburuk dan Ismael Saumanuk (Aman Andei) melalui Uma Malinggai Tradisional Mentawai, kami mencoba berkolaborasi lagi melakukan hal kecil untuk kontribusi menyebarkan pesan positif  pelestarian primata asli Mentawai khususnya di Pulau Siberut.
Menyusuri sungai Siberut

Bulan Maret 2017,  kami mulai dengan menggunakan peralatan  fotografi dan audio untuk dokumentasi keanekaragaman hayati di Pulau Siberut. dengan foto inilah kita dapat bercerita tanpa banyak kata-kata, Aman Andei dengan "panah" barunya untuk berburu yaitu sebuah camera  NIKON P900 dan Dami juga telah menggunakan kamera untuk dokumentasi. Tujuannya adalah untuk merekam keanekaragaman hayati, budaya dan peristiwa yang sehari hari terjadi di sekitar mereka.
Berburu foto

Kami langsung menuju lokasi berburu, di sekitar Siberut selatan, target kami adalah burung-burung di sekitar muara siberut. Sangat beruntung karena bulan-bulan ini adalah bulan dimana musim migrasi, jadi ada tamu-tamu istimewa dari belahan bumi utara yang singgah di Siberut. Beberapa foto yang kami dapatkan di antaranya ini. Selama beberapa hari berturut-turut kami menyambangi muara sungai siberut (dibelakang pasar siberut selatan), Kesempatan yang langka dan juga beruntung kami dapat menyaksikan langsung tamu-tamu jauh burung-burung migran yang singgah di Pulau Siberut.
Menyusuri sungai Siberut
Trinil kaki merah  ( 2 individu kiri) dan Cerek kernyut ( kanan)



Banyak hal terjadi terkait dengan keanekaragaman hayati di tempat-tempat yang sulit di jangkau, kita tidak pernah tahu dan tidak kenal, karena tidak ada dokumentasi apapun tentang hal itu. Oleh karena itu peran warga sekitar  habitat keanekargaman hayati berperan penting dalam mengarus utamakan pentingnya pelestarian alam. Lebih penting lagi foto-foto dan rekaman audio yang kami dapatkan dari alam mentawai juga menjadi semangat tersendiri bagi kami untuk terus berbuat sesuatu menyuarakan keindahan  dan kelestarian alam.
Piligi nama lokal siberut untuk burung elang ular bido

Pantau terus lini masa kami @swaraOwa dan tim dari lapangan dengan harapan suara alam Mentawai terus bergema menebarkan pesan positif  nilai keanekaragaman hayati dari pulau-pulau  di Samudera hindia,  ucapan terimakasih juga untuk  IUCN Gibbon specialist group dan Wildlife reserve Singapore yang telah mendukung kegiatan ini

Friday, August 5, 2016

Kelana si Kembang Asem : Macan Tutul Jawa

di tulis oleh: Sundah Bagus Wicaksono
e-mail : sbw_genetiq@yahoo.com

Macan Tutul yang tertangkap camera jebak

Sebagai seorang pengagum felids atau kucing-kucingan saya sangat antusias untuk mempelajari lebih jauh akan makhluk cantik nan eksotis ini. Jika dilihat dari persebaran subspesiesnya terbersit pertanyaan di benak saya, mengapa mereka bisa melanglangbuana sampai ke pulau Jawa, padahal mereka tidak ditemukan di pulau-pulau Indonesia yang lain bahkan Sumatera dan Bali atau Kalimantan sekalipun? Tidak seperti tiga kerabat besarnya yang lain (singa, harimau, dan jaguar) yang memiliki persebaran linear serta beraturan di tiap benua. Apakah ini salah satu contoh hasil survival dari mereka?
Perlu lagi kita ketahui bahwasannya negara kita dikaruniai satu dari beberapa subspesies mereka, namun perhatian kita selalu luput darinya dan melihat kepada spesies lain yang kita anggap jauh lebih penting untuk dipedulikan. Mungkin sebagian orang tidak mengetahui bahwa mereka termasuk satwa yang tergolong langka dan hampir hilang eksistensinya di bumi. Organisasi Konservasi Flora-Fauna Dunia; IUCN (International Union for Conservation of Nature) menyatakan bahwa status mereka sangat kritis saat ini, sama seperti sepupu lorengnya di Sumatera. Jumlahnya di alam tidak lebih dari 400 ekor yang tersebar di seluruh pulau Jawa.
Hampir sama seperti kasus di India, mereka sering terlibat konflik dengan manusia karena berbagai faktor. Banyak sekali informasi yang didapat tentang masuknya mereka ke kampung dan memangsa ternak lalu berakhir dengan kematian karena dibantai. Kita telah kehilangan dua subspesies kucing besar sekarang, apakah iya kita harus kehilangan satu lagi? Seyogyanya perhatian kita kepada mereka tidak kalah dibanding satwa langka yang lain dan selalu menjaga kelestariannya untuk masa depan. Menurut saya, sang raja hutan celingus dari Jawa ini adalah subspesies yang sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut.

“Satwa ini dianggap setan karena menjadi makhluk yang jarang dan sulit untuk dijumpai secara langsung.”

Sedikit cerita saya mengenai satu kejadian dimana macan tutul Jawa masuk kampung dekat hutan Petungkriyono dan membuat heboh seisi kampung. Kisah ini saya dapat dari penuturan salah seorang warga kampung tersebut. Macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) atau orang dusun tesebut biasa menyebutnya macan kembang asem merupakan satu-satunya spesies kucing besar yang hingga saat ini masih hidup di tanah Jawa dan diisukan pernah berkeliaran di sekitar hutan Petungkriyono. Menurut Pak Kliwon, salah seorang warga Dusun Tinalum, satwa ini dianggap setan karena menjadi makhluk yang jarang dan sangat sulit dijumpai secara langsung, namun segelintir orang mengaku pernah berpapasan dengannya.
Di awal tahun 2000 dikabarkan bahwa ada kembang asem turun gunung lalu masuk ke pemukiman dan memangsa ternak milik warga. Adalah Dusun Sokokembang, sebuah dusun yang berada di Desa Kayupuring, Kec. Petungkriyono, Kab. Pekalongan, Jawa Tengah yang menjadi sasaran si kembang asem. Dusun ini adalah tetangga sebelah dari Dusun Tinalum. Selain menyerang ternak milik warga, kembang asem yang keluar dari persembunyiannya ini juga membuat resah warga kampung sehingga warga menjadi takut untuk melakukan aktivitas keseharian mereka apalagi di malam hari. Setelah beberapa hari kembang asem meneror, maka tekad warga untuk menangkapnya semakin bulat.
Petang menjelang. Setelah hewan peliharaan milik warga diamankan ke kandang, segeralah para bapak dan remaja lelaki bersiap diri di rumah masing-masing dengan beberapa alat pertahanan diri dan penangkap. Beberapa rumah menjadi sukarelawan penyedia umpan seekor ayam untuk memancing si kembang asem keluar. Benar saja setelah beberapa saat ditunggu, seekor ayam salah seorang warga mulai mengeok, layaknya di terkam sesuatu. Aba-aba inilah yang dinantikan oleh warga kampung untuk segera melakukan penggerebekan. Pertama-tama pemilik rumah yang mendapati umpannya diterkam memberitahukan ke tetangganya yang tidak terlalu jauh untuk memberi kabar ke semua warga kampung agar keluar rumah untuk bersiap melakukan eksekusi.
Satu persatu warga berdatangan menuju rumah yang mendapati umpannya telah dimangsa. Dengan langkah pelan mereka berjalan mendekati rumah tersebut dengan tujuan agar kehadiran mereka tidak terdeteksi si kembang asem. Setelah bersiap di posisi masing-masing, salah seorang warga memberanikan diri untuk mendekati kandang ayam yang di duga menjadi tempat kembang asem menyantap hidangannya. Berhasil. Seorang warga tadi berhasil melakukan penyerangan kepada kembang asem tepat dibadannya menggunakan sebilah kayu. Brukkk! Di bagian samping perut lah sebilah kayu tersebut mengenai. Sontak saja, si kembang asem langsung berlari menuju ke luar kandang. Karena menemukan jalan buntu akibat dihadang warga dan tidak bisa kabur kembali ke hutan, akhirnya kembang asem ini memilih masuk ke salah satu rumah warga yang aksesnya masih terbuka. Untung saja sudah tidak ada orang di dalamnya. Sorak riuh suara warga menambah ketegangan Dusun Sokokembang malam itu. Seperti sedang ada peristiwa pencurian atau pembunuhan.

“Dikarenakan tubuh sudah tidak bisa bergerak maupun meronta oleh jepitan bambu, maka dengan sekali ayunan tepat mengarah ke kepala lah kembang asem malang ini tumbang.”

Setelah hampir satu jam si kembang asem bersembunyi, warga pun beraksi lagi. Sekarang banyak dari warga yang memberanikan diri menjadi relawan untuk melakukan penyergapan langsung, karena mereka tahu bahwa si kembang asem saat ini telah terluka. Eksekusi dimulai kembali. Rumah yang dimasuki kembang asem dikunci dan ditutup rapat dari luar sehingga kembang asem tidak bisa lagi kabur. Warga memasukkan bambu-bambu panjang yang telah dipersiapkan untuk mengantisipasi tubuh kembang asem meronta melalui beberapa celah rumah yang memang bolong dan tidak tertutup. Tidak mudah, namun dengan masuknya kembang asem di bagian dalam rumah yang sempit menjadikan warga lebih mudah melakukan penggencetan badan. Sekali-dua kali kembang asem meronta, mungkin karena rasa takut dan luka memar yang menimpanya. Si kembang asem ini seperti kehilangan tenaga dan jarang sekali melawan. Dengan nafas terengah-engah dan sedikit merinding, seorang warga bersiap memukul dengan tongkat kayu yang lumayan keras tepat ke arah kepala. Dikarenakan tubuh sudah tidak bisa bergerak oleh jepitan bambu, maka dengan sekali ayunan tepat mengarah ke kepala lah kembang asem malang ini tumbang. Ya, macan tutul tersebut mati seketika dengan cedera parah di bagian belakang kepalanya.
Penggerebekan kasus pencurian telah usai dengan akhir kematian si kembang asem. Seakan teror yang dilakukan oleh kembang asem di Dusun Sokokembang lenyap seketika malam itu. Warga memastikan macan tutul tersebut telah mati. Satu per satu warga masuk ke dalam rumah eksekusi, menyeret, dan mengarak tubuh lemas si kembang asem keliling kampung, menandakan mereka berhasil menang mengalahkankan lawannya. Gembira, takut, lega, dan tentu saja rasa geram warga kampung menyulut aksi mereka untuk mulai menyembelih, menguliti, hingga beberapa ada yang memasak dagingnya untuk dimakan. Entah kenapa euphoria kemenangan warga kampung menjadikan mereka melakukan hal tersebut. Dengan adanya peristiwa malam itu menjadikan Dusun Sokokembang kembali aman dan tidak ada lagi cerita heboh oleh ulah kembang asem lain yang dapat meresahkan warga. Selama beberapa tahun warga tidak menjumpai lagi keberadaannya di sekitar hutan dan juga sangat jarang ada cerita warga bertemu langsung dengannya. Sekali lagi kembang asem menjadi setan.

“Selama beberapa tahun warga tidak menjumpai lagi keberadaan macan tutul di sekitar hutan dan juga sangat jarang ada cerita warga bertemu langsung dengan macan tutul. Sekali lagi kembang asem menjadi setan.”

Pada pertengahan tahun 2015 kemarin, tepatnya bulan Mei-Juni, kami tim peneliti dari UGM melakukan penelitian tentang Mamalia Kecil di Hutan Petungkriyono. Kami memulai survei dengan menulusuri habitat hutan kopi  di sekitar Dusun Tinalum dan Dusun Sokokembang, dusun yang telah dan sedang dikenal melalui kegiatan pelestarian Owa Jawa melalui Proyek Kopi dan Konservasi Primata. Di hutan di sekitar dusun ini kami, kemudian kami memasang jebakan kamera (Camera trap), di titik-titik yang telah kami survey sebelumnya.Untuk meminimalisir kesalahan dalam identifikasi maka camera trap kami setting menjadi mode video.
Lama menunggu, hasil video dari rekaman camera trap yang di dapat tidak tanggung-tanggung. Banyak sekali ternyata jenis fauna yang mendiami hutan Petungkriyono. Sebagian besar dari mereka bersifat nokturnal (aktif dalam melakukan aktivitas di malam hari) dan beberapa ada yang diurnal (aktif di siang hari).

Akan tetapi dari ratusan video yang dihasilkan hanya dua video lah yang membuat tim terkesima, khususnya saya yang benar-benar terkesima. Masing-masing video tersebut merekam satu spesies satwa yang terlihat sedang melintasi jalan setapak buatan warga untuk masuk hutan. Satu video agak kurang jelas karena posisi objek yang terlalu dekat dan satunya lagi sangat jelas. Satwa tadi memiliki ciri-ciri yang familir bagi saya. Satwa tersebut jelas dari kalangan karnivora. Rambutnya berwarna dasar kuning kejinggaan dengan pola tutul roset hitamnya dan bagian ujung ekor yang menghitam. Ya, indah sekali, sangat memanjakan mata. Tidak salah lagi ini adalah penampakan macan tutul Jawa alias sang raja celingus alias kembang asem. Walaupun bagian tubuh si kembang asem yang terekam di video tersebut hanya tampak belakang dan atasnya saja akan tetapi dapat dipastikan kalau satwa ini benar-benar Panthera pardus melas. Rasa lelah saya terbayarkan. Bukan main senangnya saya bersama tim mendapatkan hasil bonus dari penelitian yang lumayan mengerakan tenaga dan pikiran ini.

“Satwa tersebut jelas dari kalangan karnivora. Rambutnya berwarna dasar kuning kejinggaan dengan pola tutul roset hitamnya dan bagian ujung ekor yang menghitam. Ya, indah sekali, sangat memanjakan mata.”

Kedua video kembang asem tadi diambil dari camera trap yang terpasang tidak jauh dari pemukiman penduduk. Dengan melihat akses pergerakannya menggunakan jalan setapak milik warga, sebenarnya kembang asem tersebut sehari-hari hidup berdampingan dengan mereka hanya saja enggan untuk menampakkan diri. Mengapa kembang asem tersebut memakai jalan setapak milik warga untuk masuk ke hutan sebagai pergerakannya? Sebab spesies-spesies satwa karnivora seperti kucing-kucingan atau musang-musangan diketahui memang sering memakai jalur lintasan yang relatif terbuka dari tetumbuhan untuk pergerakan, seperti halnya kita bila berjalan di atas rumput, terasa risih dan geli di kaki dan lebih memilih berjalan di atas tanah kosong. Selain itu memang beberapa hari sebelum kembang asem tersebut melintas camera trap merekam video kijang betina yang kelihatannya bunting sedang lewat. Kemungkinan ini yang menarik perhatian si kembang asem untuk berada disana. Menurut beberapa ahli felids dunia, spesies macan tutul dan jaguar berburu mangsanya dengan trik stalker (membuntuti) dan mulai menyerang disaat mangsanya lengah.
si Kembang asem
Adanya rekaman dari dua video ini menjadi bukti nyata bahwa kembang asem masih bernafas bebas di seputar masyarakat sekitar hutan Petungkriyono. Meski sekarang kembang asem hadir di dekat warga kampung disaat melakukan aktivitas keseharian tanpa sepengetahuan mereka namun kembang asem tersebut tidak akan mengganggu. Tidak seperti dulu. Seolah-olah mereka berdua mengerti jika hidup berdampingan dan saling memahami satu sama lain adalah tujuan hidup yang harmonis. Penuturan warga kampung yang berpapasan langsung dengan kembang asem kini mulai bermunculan. Kisah kembang asem yang telah hilang ditelan zaman hingga hampir satu dekade ini pun akhirnya kembali. Tidak menjadi raja hutan yang celingus lagi.

Tuesday, February 9, 2016

Survey Rekrekan Jawa Tengah


Tahun monyet 2016, ini kami akan memulai kegiatan konservasi primata Jawa dengan mereview kembali beberapa species primata Jawa yang kurang mendapat perhatian dan perlu informasi terbaru terkait dengan distribusi, populasi, ancaman dan kondisi habitatnya. Salah satu primata jawa yang menjadi prioritas untuk kita perbaharui informasinya adalah “Rekrekan” (Presbytis fredericae).

Penelitian tentang populasi dan distribusi, perilaku dan habitat di antaranya telah dilakukan di Gunung Slamet, Hutan Sokokembang , dan Gunung Merbabu. Saat ini primata ini termasuk kategori endangered dalam IUCN redlistdan mengenai distribusinya hingga saat ini sebaran paling timur yang sudah tercatat secara ilmiah adalah di Gunung Merbabu. Namun beberapa laporan sebelumnya memberi catatan tentang keberadaan monyet pemakan daun ini, terdapat di Gunung Lawu, namun hanya menyebutkan bahwa catatan tersebut berdasarkan informasi warga yang medengar suaranya saja.

Olehkarena itu, tim SwaraOwa bulan februari ini mulai bergerak dari bagian timur propinsi Jawa Tengah, untuk mencari keberadaan Rekrekan, survey ini juga menjadi bagian promosi konservasi primata endemic jawa ke beberapa pihak terkait dan mempromosikan pelestarian monyet ini, untuk memeperkuat nilai fungsinya sebagai jenis endemik Jawa.
Ikuti kabar lapangan dari kegiatan survey Rekrekan di blog ini, akun sosial media kami : twitter, IG, FB @swaraOwa.

Bacaan : 
http://www.iucnredlist.org/details/18125/0
https://www.researchgate.net/publication/275516529_Population_and_distribution_of_Rekrekan_Presbytis_fredericae_in_the_southern_slope_of_Mt_Slamet_Central_Java
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/78018

Wednesday, January 13, 2016

Kunjungan Universitas Missouri ke Habitat Owa

Tahun 2016 kegiatan pelestarian Owa Jawa di awali dengan kegiatan mengenalkan pada dunia luar bahwa kita mempunyai kekayaan alam yang unik dan kita juga turut aktif menjaga melestarikan keanekaragaman hayati yang ada di sekitar kita. Tamu kita kali ini adalah mahasiswa dari UniversitasMissouri Amerika, yang segaja datang mengunjungi kegiatan project “Kopi dan Konservasi Primata” yang telah dan sedang berjalan di Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan.

foto bersama Kepala Desa Kayu Puring

Awal kunjungan ini ketika bulan November 2015 pihak kampus Missouri, menghubungi kita setelah menemukan laporan dan kegiatan pelestarian Owa jawa ini lewat website swaraOwa. Mereka waktu itu sedang menyusun kegiatan kunjungan ke Indonesia yang tujuannya adalah untuk mengenal budaya alam dan kegiatan budidaya  pertanian dan kehutanan di Indonesia.

Singkat cerita, tanggal 9 Januari ke 9 mahasiswa dan 2 pengelola trip dari universitas  Missouri datang, dan untuk mengawali kegaitan field trip, kami awali dengan  presentasi tentang Project Kopi dan Konservasi Primata. Bertempat di project kafe patner, kafe @mariNgopi menjadi tempat mengenalkan cerita  kopi hutan dan  Owa Jawa sebagai primata endemik Jawa.

acara presentasi di kafe maringopi (foto Dani)

Kunjungan ke habitat Owa terlaksana tanggal 10 Januari 2015, pagi hari yang kita tentukan tim swaraowa bertemu dengan mahasiswa ini terminal bus  Doro, Kabupten Pekalongan, hal ini dikarenakan untuk masuk ke sokokembang tidak memungkinkan menggunakan kendaraan bis besar, dan kami juga mempertimbangkan warga sokokembang untuk terlibat langsung dalam trip ini, jadi kami membawa tamu-tamu ini menuju Sokokembang menggunakan Doplak, kendaraan pick up angkutan warga dan barang di Petungkriyono.
Sengaja menggunakan kendaraan bak terbuka karena alasan untuk mengamati primata ( Primate-watching)  di jalur hutan sokokembang dari Kroyakan sampai Sokokembang, kendaraan ini pas sekali, dan kita bisa sambil berdiri di belakang mengamati hutan di sekitar jalan  dan primata yang kebetulan berada di pinggir jalan dalam hutan .
Pengamatan Primata
Turun di gerbang ekowisata Petungkriyono, kami langsung di sambut kelompok monyet ekor panjang, dan Rekrekan, dan mulai dari sini obrolan tentang primata dan hutan dimulai. Setidaknya membedakan monyet dan kera juga menjadi hal yang paling sederhana untuk di kenalkan kepada mahasiswa asing ini. Ciri-ciri fisik adalah yang paling mudah di kenali, Owa yang tidak berekor dan monyet dengan ekornya.Namun ada dua jenis monyet berbulu hitam di hutan Sokokembang, yaitu Rekrekan dan Lutung Jawa. Keduanya dapat di bedakan dari warna bulu di dadanya, rekrekan lebih banyak warna putih, dan lutung cenderung gelap semuanya.
Selanjutnya acara di dusun Sokokembang kita sudah di sambut oleh bapak kepala desa Kayupuring, yang mengucapkan selamat datang kepada tamu jauh ini, dan memberikan gambaran sekilas tentang Sokokembang, Primata , potensi-potensi yang ada di habitat Owa jawa ini.
Acara mengenal kopi dan system budidaya selanjutnya menjadi agenda kunjugan sehari di habitat Owa, ke sebelas peserta ini kemudian kami ajak melihat menyusuri tegakan kopi hutan (shade grown coffee) Sokokembang yang menjadi habitat primata jawa dan satwa unik lainnya.
Melihat langsung habitat Owa dan kopi hutan 
Setelah menyusuri hutan dan melihat langsung tanaman kopi hutan, perserta kami ajak berpetualang menikmati cita rasa kopi habitat owa, dengan peralatan seduh manual kopi Arabica, kopi robusta yang sudah kami siapkan kami seduh dan semua peserta kami ajak memberikan komentar tentang kopi yang mereka minum tentu saja sambil menikmati pemandangan hutan disekitar Sokokembang.
coffee cupping  kopi habitat Owa
peserta field trip "Nature, Culture, and Agriculture"
Acara yang menutup rangkaian kegiatan ini adalah River tubbing, di dusun Kayupuring. River tubing  menyusuri sungai Welo, juga menjadi media mengenalkan habitat Owa Jawa dari sungai yang membelah hutan Petungkriyono. Kegiatan ini menjadi penutup rangkaian kunjugan  nature, culture dan agriculture .
r
River tubing Kali Welo ds.Kayupuring (foto :Purwo)





Saturday, October 10, 2015

Gibbon school day, saatnya Owa pergi ke Sekolah

Salah satu slide materi Gibbon School day

Mengarusutamakan, pelestarian Owa jawa dan habitatnya sudah seharusnya terus dilakukan. Bisa dilakukan dengan kampanye pelestarian, penelitian ataupun pemberdayaan masyarakat sekitar hutan habitat Owa.  Bulan September 2015, kegiatan penyebar luasan informasi tentang pelestarian hutan dan Owa jawa telah kami lakukan dengan menargetkan peserta dari kalangan pendidikan tingkat menengah, SMA, SMK di wilayah kabupaten Pekalongan. Kegiatan ini dalam rangkaian acara tahunan kami di habitat owa yaitu Gibbon schoodays. Dengan melibatkan pegiat pendidikan menengah di harapkan Owa jawa juga semakin dikenal dan di cintai oleh warga sekitar habitat sendiri, yaitu kalangan generasi muda anak-anak usia sekolah.

Tanggal  7 September 2015, bersama dengan perhutani Sakawanabakti Kabupaten Pekalongan, sekaligus acara perkemahan penggalang tingkat SMA dan SMK (Raida/Raimuna Jawa Tengah) kami menyampaikan presentasi di hadapan peserta jambore ini. Bertempat di balai kerja Perhutani di Kecamatan Kesesi, di hadapan kuranglebih 50 peserta terpilih dari SMA dan SMK di wilayah propinsi Jawa Tengah, penyampaian informasi tetenang Owajawa ini menjadi salah satu rangkaian acara jambore. Bangga juga dengan kegiatan jambore ini ternyata maskot acara ini adalah Owajawa, yang memang saat ini masih terdapat di wilayah Jawa Tengah khsusunya di kabupaten Pekalongan

Presentasi tentang Owajawa untuk peserta Jambore Pramuka


Tanggal  19 September 2015, basecamp penelitian di dusun Sokokembang kedatangan tamu guru-guru mata pelajaran biologi di tingkat kabupaten pekalongan (MGMP SMA/SMK Biologi), kedatangan guru-guru ini adalah untuk mengenal lebih jauh owajawa dan habitatnya di wilayah hutan Petungkriyono. 25 peserta yang terdiri guru-guru mata pelajaran biologi ini kami ajak langsung untuk pengamatan primata (Primate Watching) di hutan Sokokembang melihat langsung primata endemik Jawa yang ada di wilayah hutan Pekalongan. Pengenalan dan diskusi lebih jauh tentang kegiatan pelestarian Owajawa ini juga di lakukan di dalam ruang, untuk presentasi tentang primata-primata di wilayah kabupaten Pekalongan dan kegiatan pelestariannya. Presentasi yang di bawakan oleh salah satu tim SwaraOwa ini selanjutnya juga di bagikan kepada guru-guru untuk selanjutnya di informasikan kepada anak didikdi sekolah masing-masing.

Pengamatan Primata (Primate Watching


Salah satu kesimpulan dari kegiatan ini adalah, antusiasme guru-guru mata Pelajaran Biologi ini sehingga akan mengadakan acara ini lebih formal untuk peserta didik mereka. Harapannya semoga satwa-satwa langka yang ada di wilayah Kabupaten Pekalongan juga semakin di cintai  oleh warga dan mengajak masyarakat umum untuk menghargai hutan, habitat alami sebagai salah satu kekayaan ilmu pengetahuan yang tak ternilai.
Materi dalam ruang, dan diskusi tentang pelestarian Owa Jawa

Wednesday, May 20, 2015

Rainforest live 2015 : maukah anda tinggal sehari di hutan habitat Owajawa?


Hutan  dan  hidupan liar yang biasanya jauh dari tempat tinggal kita, senantiasa jauh dari perhatian, dan tidak banyak orang yang peduli. Kehidupan hutan dan segala  isinya, bahkan nilai penting ekosistem hutan itu sendiri tidak akan kita ketahui apabila kita tidak mengenalnya. Kita juga tidak akan mengerti bagaimana hutan dan hidupan liar ini saat ini sedang mengalami ancaman yang serius dari kerusakan dan kepunahan.

Mengenalkan hutan  dan segala isinya adalah sebagian upaya untuk melestarikan hutan itu sendiri. Oleh karena itu sebagai bagian dari upaya pelestarian hutan  pada tanggal 19 Juni 2015 tim “SwaraOwa: Kelompok Study dan Pemerhati Primata Yogyakarta” akan bergabung dengan komunitas global untuk bersama-sama mengenalkan hutan dan hidupan liar yang ada di dalamnya melalui program #rainforestlive.

Yaitu aktifitas mengenalkan pengamatan hidupan liar  dari berbagai penjuru belantara bumi ini melalui sosial media  secara langsung selama satu hari. Program ini akan di ikuti oleh beberapa lembaga peneliti dan lembaga konservasi dari berbagai negara dari berbagai tipe habitat. Tujuannya adalah 1. Menyampaikan  kepada masyarakat secara umum sebuah suasana atau seperti apa rasanya tinggal atau mengunjungi hutan. 2.untuk mengingatkan masyarakat luas  alasan positive merestorasi atau melestarikan hutan (untuk mengimbangi latarbelakang banyaknya pesan kerusakan hutan dan kepunahan)3. untuk menarik perhatian dan dukungan kepada organisasi organisasi yang terlibat langsung dalam kegiatan pelestarian hutan.

#Rainforestlive akan di publish sehari penuh bersama-sama dari berbagai lokasi penelitian dan pelestarian hidupan liar dari berbagai belahan dunia..Dari hutan Sokokembang, Petungkriyono, Pekalongan, Jawa Tengah, sebagai habitat primata endemik P.Jawa , Owajawa (Hylobates moloch), kami akan berkontribusi dengan mempublish hasil-hasil pengamatan  berupa foto dan video tentang hidupan liar yang ada di hutan habitat Owajawa. Silahkan pantau beberapa akun sosial media kami pada tanggal 19 Juni 2015 twitter @SwaraOwa; instagram@SwaraOwa, soundcloud @swaraOwa dan facebook fanpage  www.facebook.com/swaraOwa




Wednesday, September 10, 2014

Coffee and Primate Conservation


Central Java, Indonesia, forest fragmentation and degradation in the gibbon’s habitat is the main problems, due to economic problems, people near by the forest encroaching the forest for their income. Coffee is one of the commodities in Petungkriono district, however the value coffee is very low and doesn’t have any additional value towards farmer near by the forest. Forest-Coffee , its shade grown coffee planted by villagers in Sokokembang village, people planted coffee under natural shade of forest trees where Javan gibbon and other javan endemic primates lived there naturally. It has been practiced since many years ago by villagers. These coffees are grown in the wild and processed traditionally by villagers at Sokokembang. Coffee production techniques in Sokokembang that preserve natural trees as shade trees, have important consequence for conservation of Javan gibbon habitat and other endemic species.

 In this project we have been  doing  scientific research and conservation awareness activities combine with community empowerment to conserve Javan gibbon (Hylobates moloch) and its habitat in Petungkriono district, Pekalongan regency, especially Sokokembang village for pilot project. We have bee enhance economic value of forest coffee through building capacity of coffee farmer, enhance their knowledge on coffee processing and develop coffee and conservation marketing strategy.

We have been work since 2007 with people of javan gibbon habitat ( read reports and publications) for primate ecological study, and intensively work with community in 2012, some result showed that rain forest products are soo precious as we thought before, and its really important to support people livelihood surrounding the forest, indeed. However some of them need to be enhanced for the quality, offcourse we have to assist to penetrate the market too. We have already some rainforest products, such as shade grown coffee, palm sugar, and fruity-forest syrup. As sustainable rule that we have been applied, all the profits from the products will go directly to support endangered primates conservation activities and forest coffee farmers as well in this region. These products can be purchased by order to our emails : c.nur.annisa (at) gmail.com; wawan5361 (at)gmail.com

Friday, September 5, 2014

Coffee and Primate Conservation : a cup of java for gibbon


The title above is  oral presentation title during International Primatological  Society XXV Congress in Hanoi, Vietnam 11-17 Agustus 2014. Abstract for this presentation can be read here. The presentation is about our field work "Coffee and Primate Conservation Project" activities in Central Java. Please contact the author personally for further information.

Its largest meeting  in the field of primatology, where we can share information about primate research and conservation, meet the expert, funding agency and develop professional network for primate study and conservation.
.
We also joined in to the post congress of IPS, in Bogor 18-22 August, here about the meeting information and we also give a talk about our project in Sokokembang forest. There are two other poster presentation from our project activities, presented by our project team member. Read here  http://www.sea-primate.org/pdf/ecology/Aryanti.Ecology.pdf


We would like to thanks to Conservation International, Margoth Marsh Biodiversity Foundation, and IUCN Primate SSC for the travel grant to attend the IPS meeting in Vietnam.

Saturday, June 21, 2014

Field visit Fortwayne Zoo in Sokokembang forest

Sokokembang forest view

17-20 June 2014 are special days for the coffee and primate conservation project, in Sokokembang village, Petungkriono , Central Java. We had a visit from Fort Wayne zoo staff (Dr. Joe Smith) and Fort Worth Zoo  (Dr  Nancy  P. Lung). The reason to visit Sokokembang is Javan gibbon, to see the field condition, problems and real action to stop extinction of the rarest gibbon in Indonesia.
As host for the project, after we introduce all the the project team we visiting Kayupuring village to meet village government officers there. Our mission is to express appreciation to the local government that Sokokembang within Kayupuring village has become part of the world’s attention to conserve endangered primates. Primate and habitat preservation involving forest communities have a real contribution to sustainable development with economic and ecological consideration complementary.

Primate watching in Sokokembang forest also become most interesting for our guest, we had observe with very clearly all four primate species in the forest i.e Javan gibbon (Hylobates moloch) Javan langur (Trachypithecus auratus), Javan Surili (Presbytis fredericae) and Longtailed macaque (Macaca fascicularis), so lucky  we are,  observing all these primate in a single feeding tree, where there was ficus tree have been fruited and all the primates have been feed on them.

We also invited our guest to join in our village meeting, meet the villagers who processing forest-coffee and off course to feel our jungle track heading to our tree house which usually to be used as javan gibbon monitoring based on their call.

Three days for the field visit also giving invaluable experience and  motivation to our team member to continue our works, to conserve our endangered primates and it's habitat, and photos will tell you more than words.
with village government officers

Joe and Dr.Sena adisubrata from Gadjah Mada University

ID?

primate watching

Civet coffee

Nancy and Emily trying to capture the gibbon



Bird watching from tree house

Walking through forest coffee habitat

coffee processing and other non timber forest products

group photo with team, family and tv crew


Monday, June 16, 2014

SwaraOwa

"javan gibbon sonogram (male call)"
SwaraOwa is Javanese words, it’s meant  “calling of the gibbon”. We are a group of young people from surrounding Javanese primate habitat’s in central Java, Indonesia,  who want to try to contribute in conservation programs of our endangered primate species and it’s habitat. This blog belong to our group, and we use this SwaraOwa to talk with all of you, human primate in this planet earth, to raise attention and conservation awareness, also to  build a professional network, to  conserve our remaining forest,  where our last non-human primate living in,and off course for our future.
For our previous conservation project activities, you can read here,  and  here for another active blog, (available in Bahasa only). You can also follow us on tweeter @swaraOwa