Monday, December 19, 2016

Peran penting Jlarang si Bajing

Ketika anda di hutan atau di suatu tempat apa yang ada pikirkan kalau adan melihat mamalia kecil? Ya mamalia yang bobotnya relative ringan kurang dari 5 kg. Lucu, ingin membawa pulang, atau mengambil gambarnya saja, atau teringat cerita waktu masih kecil tentang tupai dan kelinci? Bajing, tupai, jlarang, landak, trenggiling itu beberapa di antaranya dalam bahasa jawa yang sering juga di temukan di habitat hutan yang masih alami.
Bajing jlarang

Karena ukurannya kecil, pemalu, sebagian besar aktif malam hari, kamuflase yang sempurna, tidak banyak juga yang concern dan peduli dengan peran mereka di alam. Menurut sejarah alam, jenis-jenis mamalia kecil ini sudah ada sejak 30-40 juta tahun yang lalu, jadi mereka sudah berasosiasi dengan hutan jauh sebelum manusia ada. Proses evolusi morphologinya juga tidak jauh berbeda hingga sekarang meskipun sudah puluhan juta tahun. Tentu ada hubungan yang erat antara mamalia kecil ini dengan hutan sebagai habitatnya.

Beberapa mamalia kecil ini di hutan berperan sebagai pollinator (penyerbuk bunga), pemakan buah dan pemencar biji-bijian di hutan. Artinya salah satu peran ekologisnya adalah membantu regenerasi hutan secara alami. Beberapa mamalia kecil juga menjadi mangsa dari jenis-jenis predator hutan, seperti burung elang. Dan sebagai fungsi estetis, ada kesenangan tersendiri bagi kita (manusia) untuk melihatnya di alam (namun hal ini juga belum banyak yang melakukan).

Jenis-jenis mamalia kecil ini adalah pemakan jamur pohon, tidak semua jamur itu jahat,banyak mikroorganisme yang tak kasat mata namun penting dalam alam ini. Apa kaitannya jamur-mamalia kecil dan pohon hutan??

Kalau anda sering melihat kayu yang ada bercak-bercak putih itu adalah beberapa jenis jamur yang berasosiasi dengan pohon hutan, jamur ini membatu pohon menangkap nutrisi yang tidak dapat di perolehnya dari yang sudah ada,sementara pohon menyediakan karbon dioksida dari fotosintesis untuk jamur. Ada korelasi positif hubungan pohon dan jenis-jenis jamur pohon ini.
jamur pohon (bercak putih) di habitat Owa jawa


Video berikut ini adalah yang kami dapatkan dari hutan Sokokembang, habitat Owa jawa di Petungkriyono, kabupaten Pekalongan. Terlihat seekor bajing Jlarang (Ratufa bicolor) yang memakan kulit batang pohon. Mycopaghy  adalah istilah untuk mamalia pemakan jamur, dan ini sedikit menjelaskan peran di atas bahwa, simbiosis antara jamur dan tumbuhan tinggkat tinggi inilah yang disebut micoriza, dan micoriza inilah di atarnya yang membatu pertumbuhan dan kesehatan pohon-pohon di hutan. 


Dengan di makannya jamur oleh bajing, makan spora jamur juga akan terbawa dan tersebar melalui kotoran Bajing. Hubungan yang cukup kompleks namun bisa kita pahami bahwa setiap binatang di hutan mempunyai peran yang tidak bisa di gantikan oleh yang lain, bahkan oleh manusia sekalipun. Oleh karena itu membiarkan binatang tetap di habitat aslinya, tidak memburunya,tidak mengambilnya sudah menjadi kewajiban  kita bahwa kita juga berperan dalam system ekologis ini.

Bajing jlarang/ Giant Squirrel



Friday, December 2, 2016

Catatan baru sebaran Owa Jawa


Gunung Kapur Siregol, Ds.Kramat Karang Moncol Purbalingga

Berawal dari informasi yang kami terima, survey dan monitoring sebaran primata Jawa di wilayah jawa tengah membawa kami mengunjungi lokasi baru, yang belum tercatat dalam survey-survey sebelumnya. Silahkan baca-baca tentang kegiatan ini yang dimulai sejak awal tahun 2016.  Sebelumnya data mengenai sebaran Owajawa juga telah di publikasi di jurnal ini.

rangkaian pegunungan di Kec.Karang moncol dan Rembang Purbalingga (survey 2013)

Informasi yang kami terima beberapa waktu lalu menyebutkan, bahwa ada kelompok owa yang teramati di wilayah kabupaten Purbalingga. Sebagaimana yang kita tahu wilayah ini telah kita survey tahun 2010-2013, dan lokasi nya berada di pegunungan antara G.slamet dan pegunungan Dieng. Survey tahun 2013 kami mengunjungi gunung Ardi lawet, dan mencatat perjumpaan tidak langsung keberadaan Owajawa. Kami mendengar suara morning call dari arah sebelah barat gunung lawet, dengan radius kurang lebih 800 meter-1400 meter.  Lokasi yang di informasikan kepada kami apabila di lihat di peta, tepatnya berada di sebelah barat dari gunung lawet, dan nampak disana memang topografi yang sangat curam dan sepertinya tidak mungkin di akses.

habitat Owa di gunung Siregol, Karangmoncol

Tanggal 21 November 2016 , bersama tim swaraowa, meluncur ke lokasi yang di informasikan tersebut, dan kami di pertemukan dengan mas Sa’ad seorang guru SD yang aktif dengan kegiatan pelestarian di Desa kramat, Karang moncol. Setelah meperkenalkan diri, kami langsung menuju ke lokasi yang dituju, ada jalan yang sudah bagus menyusuri tebing sungai yang dalam, di sebelah kiri gunung batu kapur (limestone) yang sangat tinggi dan di bagian bawah vegetasi kanan-kiri sungai yang lumayan rapat.
Owa jawa yang teramati di Siregol, Karangmoncol

Belum berhenti dari kendaraan, kami sudah melihat adanya pergerakan di pohon-pohon di bawah tebing jurang ini, dan yang terlihat pada saat itu adalah Owa Jawa, setelah di amati lebih teliti, ternyata ada juga Binturong yang sedang mencari makan di pohon yang sama dengan kelompok Owa ini. Beberapa saat kami mengamati pergerakan owa ini, dan binturong. Catatan kami juga melihat ada julang emas melintas di atas gunung batu kapur ini. Elang jawa juga terdengar bersuara, namun tidak terlihat karena rapatnya tajuk.
Arctictis binturong


Limestone forest, istilah untuk hutan yang di pegunungan kapur, tidak banyak catatan yang menjelaskan tetang sebaran owa di tipe hutan ini, dengan karakter yang unik,  tebing berbentuk kerucut, tanah yang tipis,namun memiliki vegetasi yang rapat di dasarnya. Habitat unik yang perlu dilestarikan tidak hanya untuk keanekaragaman hayati namun sudah tentu menjadi landscape yang menarik dan indah untuk sekedar di kunjungi.

Beberapa daerah gunung kapur, juga mengalami ancaman serius karena kegiatan penambangan, sudah tentu manfaat secara fungsi ekologis juga hilang, semua kakayaan hayatinya hilang sebelum sempat di telilti lebih jelas manfaatnya. Perburuan juga mengakibatkan hutan-hutan menjadi "kosong" dan sepi, menghilangkan peran satwaliar dalam sistem ekologi.

Berbicara mengenai upaya pelestarian, akan menjadi pekerjaan bersama untuk kedepan bagi siapa saja yang peduli , beberapa potongan hutan di jawa tengah, juga masih menyimpan keanekaragaman yang tinggi, yang juga menjadi asset bagi daerah setempat. Upaya pelestarian dengan dasar ilmiah bisa menjadi inisiasi awal untuk Owa jawa di habitat limestone ini. Mengarus utamakan kegiatan wisata minat khusus juga bisa menjadi sarana untuk membangun ekonomi di tingkat site dari adanya primata endemik.

Bacaan lebih lanjut :

Setiawan, A., T. S. Nugroho , Y. Wibisono, V. Ikawati, J. Sugarjito, (2012), Population density and distribution of Javan gibbon (Hylobates moloch) in Central Java, Indonesia, Biodiversitas, Vol.13. No.1,p 23-27

 Whitten, T., Soeriaatmadja, R. E., Afiff, S. A., Widyantoro, A., Kartikasari, S. N., & Utami, T. B. (1999). Ekologi jawa dan bali. Prenhallindo

Monday, October 24, 2016

Suara Owa dalam secangkir Kopi


Kurang lebih 4 tahun sudah kegiatan proyek “Kopi dan Konservasi Primata” berjalan, perjalanan yang tidak singkat dan ternyata banyak hal yang juga telah memberi pengalaman dan pelajaran berharga bagi upaya konservasi primata endemik di wilayah Jawa Tengah. Pelestarian primata yang kita arus utamakan dengan mengkombinasikan penguatan ekonomi  untuk menopang kegiatan konservasi di habitat primata terancam punah, menjadi tantangan yang serius dan sekaligus menyenangkan.

Permasalahan selalu ada dan kegiatan pelestarian primata juga mengalami dinamika yang kadang ada hal hal yang tidak bisa diatasi sendiri. Mengkomunikasikan bahasa konservasi menjadi lebih universal dan mudah diterima kadang terlalu cepat hingga substansi pesan pelestarian ini menjadi ”buzz word”, atau kata-kata marketing hijau yang memeberi dukungan kepada kegiatan yang menurunkan kualitas hutan sebagai habitat primata endemik dan fungsi sosial dan ekonominya.
kegiatan produksi kopi Owa
Namun demikian,semangat dari dalam hati membuat kita terus melalui semua hal dengan senang, menambah jaringan teman, dan memulai hal yang baru menjadi motivasi lain, menaikan hormon dopamine ketika berkaitan dengan kopi dan konservasi primata. Beberapa kunjungan internasional menjadi corong kepada dunia luar bahwa kita juga tidak diam terhadap kepunahan-kepunahan dan kerusakan yang terjadi. 

bahasa bukan kendala lagi kalau membicarakan primata dan kopi
Sejak bulan Agustus hingga Oktober ini, kegiatan kita " kopi dan konservasi" mendapat tamu-tamu istimewa,yang tertarik untuk melihat langsung kegiatan ini. Kunjungan dari  director proyek pelestarian kukang (LFP) menjadi semangat bagi tim bahwa kita tidak sendirian menahan laju kepunahan primata jawa, Profesor Anna Nekaris, dari Oxford Brookes University, secara langsung menuliskan pesan dan kesan nya ketika berkunjung ke Sokokembang dan mengujungi markas SwaraOwa di Yogyakarta.


Ada juga kunjungan dari Secretariat land care Australia,membuat kita semakin percaya diri bahwa kopi dan produk hutan lainnya juga dapat menjadi satu-kesatuan cerita yang saling menguatkan untuk pelestarian primata dan hutan sebagai habitatnya.
Victoria Mack dari Secretariat for International Landcare Inc

Yang lebih sepesial lagi, adalah kunjungan 23 peserta pelatihan primata di Sokokembang, yang menjadi agenda tahunan proyek ini, teman baru yang mungkin di antaranya akan meneruskan upaya-upaya pelestarian serupa di  tempat lain atau di lain waktu.
Teman baru pegiat konservasi primata peserta pelatihan metode survey primata 2016 
produk-produk hasil hutan untuk konservasi
Produk-produk konservasi yang terinspirasi dari kegiatan ini telah dan sedang di kelola dan di pasarkan kepada masyarakat luas, kopi, madu dan gula aren menjadi media kita untuk menyuarakan pelestarian Owajawa dan hutan sebagai habitatnya. Penjualan -penjualan yang kita lakukan menghasilkan dana konservasi yang sustainable meskipun dalam jumlah yang masih relative kecil, namun penting untuk menyokong kegiatan selanjutnya dan juga memperluas target wilayah perlestarian primata dan semua fungsi penting hutan.  Bagi anda yang ingin berkontribusi terhadap produk-produk  dan aktif menyuarakan upaya pelestarian ini bisa langsung berkomunikasi dengan lewat media sosial kami di FB, twitter, IG @swaraOwa dan email : sokokembang.channel@gmail.com, atau melalui Buka Lapak. Terimakasih, Salam Owa!!

Thursday, October 20, 2016

Pelatihan Bagi Calon Peneliti Primata

Oleh Bagas Adhi Kumoro (kumorobagas@yahoo.co.id)
Anggota KP3 Primata Fakultas Kehutanan UGM

Pelatihan Metode Survey Primata merupakan acara tahunan yang dilaksanakan oleh Coffee and Primate Conservation Project di wilayah sebaran primata endemik di wilayah Jawa Tengah ,bekerjasama dengan KP3 Primata Forestation UGM yang ditujukan bagi calon peneliti muda khususnya peneliti primata, dan membagun jaringan pegiat dan pelestari primata pada umumnya. Sebagai seorang mahasiswa yang tertarik akan kehidupan primata. Pelatihan ini diselenggarakan pada tanggal 7 – 9 Oktober 2016 di Dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Petungkriyono, Pekalongan. Peserta yang hadir pada pelatihan ini berasal dari berbagai daerah, daerah terdekat berasal dari Pekalongan sendiri, ada juga yang dari Jakarta, Yogjakarta, Semarang, Purwokerto, dan yang terjauh berasal dari Pulau Siberut, Mentawai. Peserta mewakili beberapa kelompok studi di Universitas, Pecinta Alam, Staff Perhutani KPH Pekalongan Timur dan anggota LMDH di Kabupaten Pekalongan.

Materi pertama dimulai pukul 20.00 tanggal 7 Oktober 2016 dengan pokok bahasan line transect yang diberikan oleh Mas Wawan dari SwaraOwa Pada materi pertama ini disambut sangat antusias oleh peserta. Antusias peserta dibuktikan dari banyaknya pertanyaan kritis yang diajukan, diskusi pun banyak terjadi dalam ruang materi. Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 22.00, diskusi harus dihentikan karena memasuki waktu istirahat. Pelaksanaan esok hari 8 Oktober 2016 akan banyak berada di lapangan dan itu akan menyita tenaga sehingga dibutuhkan waktu istirahat yang cukup.

Pengenalan metode survey primata line transect dan vocal count-triangulasi

Pagi itu pukul 6 matahari sudah menampakkan sinar tetapi ada suasana yang berbeda dari biasanya. Suasana pagi 8 Oktober 2016 lebih sunyi dari pagi-pagi biasanya. Kekhasan perilaku bersuara owa jawa yang dikenal sebagai morning call tidak terdengar pagi itu, padahal biasanya suara owa sudah mulai terdengar sejak pukul 5. Mbak Maida yang dulu pernah melakukan penelitian tentang karakteristik suara owa jawa menduga pagi itu owa belum bersuara karena semalaman hujan.

Suara owa yang belum terdengar tidak mematahkan semangat kami untuk menuju ke lapangan dan mempraktikan materi semalam. Peserta dibagi menjadi 3 kelompok untuk menuju ke lokasi yang telah ditentukan untuk mempraktekan metode line transect. Saat perjalanan menuju lokasi, suara owa jawa mulai terdengar. Dari praktek metode line transect yang dilakukan, mendapatkan hasil owa jawa, monyet ekor panjang, dan lutung jawa.
peserta menerapkan langsung di lapangan metode survey primata
Setelah mencoba metode line transect pelatihan dilanjutkan dengan menganalisis hasil. Analisis hasil ini merupakan akhir dari materi pertama, kegiatan selanjutnya dilanjutkan dengan materi mengenai vocal count yang diberikan oleh Mbak Salma (mahasiswa Biologi UGM yang pernah melakukan penelitian menghitung populasi owa jawa menggunakan metode vocal count) dan Mbak Maida (mahasiswa Biologi UNJ yang pernah melakukan penelitian tentang karakteristik suara owa jawa). Metode vocal count adalah metode penaksiran populasi berdasarkan suara satwa, metode ini cocok dilakukan untuk menghitung populasi satwa yang memiliki perilaku bersuara. Mbak Maida mengatakan bahwa tiap individu owa jawa memiliki karakteristik suara yang berbeda sehingga tiap kelompok dapat diidentifikasi tanpa melihat secara langsung. Materi vocal count  dipraktekan di lapangan pagi tanggal  9 Oktober 2016.
Analisis data setelah dari lapangan 
Sekitar pukul 5 sore kegiatan dilanjutkan dengan sharing penelitian mengenai rekrekan (Presbytis comata) di sekitar lereng Gunung Merbabu oleh Mbak Kasih Putri. Sharing ini berkaitan dengan primata yang berada di hutan sekitar Dusun Sokokembang, primata yang ada yaitu owa jawa, rekrekan, lutung jawa, monyet ekor panjang, dan kukang jawa. Mbak Kasih Putri mengatakan bahwa rekrekan di sekitar lereng Gunung Merbabu belum banyak diteliti.
Materi ketiga dilaksanakan malam hari bersama dengan Mbak Winar dari KukangID tentang metode pengamatan satwa nokturnal, khususnya kukang jawa. Mbak Winar menjelaskan bahwa mata satwa nokturnal akan memantulkan cahaya lampu sehingga memberikan pantulan warna yang berbeda-beda tiap satwa. Malam itu memang terasa melelahkan karena pagi tadi telah melakukan perjalanan yang cukup lama tetapi ketika peserta diajak untuk mempraktekan metode ini menjadi bersemangat kembali. Setelah pengamatan diakhiri dengan melaporkan satwa nokturnal apa saja yang ditemukan. Materi ketiga ini menjadi penutup pelatihan metode survey primata hari kedua.
Owajawa yang teramati ketika pelatihan 
Hari ketiga 9 Oktober 2016 saatnya peserta mempraktekan metode vocal count. Peserta dibagi menjadi 3 kelompok dan menuju ke lokasi masing-masing sejak pukul 6 pagi.  Peserta berusaha tiba di lokasi sebelum owa jawa melakukan morning call. Syarat pemilihan lokasi untuk mendengarkan suara yaitu jauh dari gangguan suara lain seperti suara sungai dan kendaraan agar suara owa terdengar jelas. Selama perjalanan menuju ke lokasi yang jauh dari gangguan suara, owa jawa sudah mulai bersuara, pagi ini suara owa lebih banyak terdengar dibandingkan hari sebelumnya. Sesampainya di lokasi yang perlu dilakukan hanya fokus mendengarkan suara owa jawa kemudian memperkirakan arah datangnya suara owa dan jarak owa yang bersuara serta berkoordinasi dengan kelompok lain apakah mendengar suara yang sama. Metode ini dipraktekan sampai pukul 9.
Setelah mempraktekan metode di lapangan langkah selanjutnya menganalisis data yang telah didapatkan, analisis data ini dipandu oleh Mas Wawan dan Mbak Salma. Analisis dilakukan dengan menggabungkan semua data arah owa jawa bersuara dari 3 lokasi pengamatan berbeda dan dicari titik perpotongannya. Titik perpotongan itu diasumsikan sebagai lokasi owa jawa yang bersuara. Analisis data vocal count menjadi acara penutup kegiatan Pelatihan Metode Survey Primata. Waktu yang cukup padat untuk mempelajari 3 metode survey primata. Ucapan terimakasih untuk semua pihak yang terlibat, warga Sokokembang, LMDH desa Kayupuring, para sponsor Fortwayne Children’s Zoo, Ostrava Zoo, Wildlife Reserve Singapore , kopi Owa Sokokembang dan SwaraOwa.
Foto bersama seluruh peserta


Thursday, September 22, 2016

Owa Jawa di Amerika (Fort Wayne Children's Zoo)

Owa Jawa di FCZ (foto www.kidszoo.org)

Masih dalam rangkaian mengikuti kongres primata di Chicago (21-26 Agustus 2016),  kali ini kesempatan berkunjung ke Fortwayne Children’s Zoo,Indiana  Tahun 2012 awal, adalah pertama kali saya berhubungan dengan FCZ, waktu itu saya mengajukan proposal kegiatan konservasi Owa Jawa di hutan Sokokembang. Sejak saat itulah kegiatan konservasi Owa Jawa di Jawa Tengah mendapat perhatian khusus dari Fortwayne Children’s Zoo. Fortwayne Children’s Zoo  (FCZ)saat ini juga mempunyai 4 individu Owajawa, dan salah satu nya katanya hasil penangkaran dari Gibbon Conservation Center yang sebelumnya saya ceritakan.  Lebih jauh tentang Fortwayne Children's Zoo bisa baca di sini : http://kidszoo.org/

Turkey, salah satu burung asli Amerika

Rusa
Tahun 2014 FCZ juga yang telah berkunjung ke habitat Owa di Sokokembang (baca disini),  dan kali ini balasan kunjungan saya ke Fortwayne adalah salah satunya mempresentasi  kegiatan konservasi Owa jawa yang telah berlangsung hingga saat ini, dan mencoba membangun kolaborasi kegiatan konservasi di tahun -tahun selanjutnya, untuk jenis-jenis Owa terancam punah di Indonesia.
Saya menginap di rumah Joe Smith, program director di kebun binatan FCZ, sangat ramah dan saya diajak untuk wildlife watching dan melihat base ball salah satu amerikan sport yang paling favorit, dan sangat beruntung juga bahwa saya menjumpai beberapa satwa endemik amerika yang saat ini masih ada di sekitar kota fortwayne, di suaka alamnya.

Ada 2 presentasi yang saya lakukan, yang pertama untuk board member FCZ  dan presentasi di depan staff kebun binatang. Dari presentasi ini salah satunya fortwayne tetap akan mensuport kegiatan lapangan kita di tahun-tahun mendatang. Berita tentang kegiatan saya di fortwayne ini juga sempat di liput oleh media televisi lokal di fortwayne dan muncul di koran sehari setelahnya. (baca beritanya disini )

Ada Owa jawa yang di kebun binatang ini, dan ada bayi yang baru umur 1 tahun ketika saya hari itu disana, Owa disini di tempatkan di enclosure yang di kombinasi dengan vegetasi alami disana, dan ada ruangan khusus yang digunakan untuk Owa ketika musim salju tiba.  Berkunjung ke kebun binatang dengan pass khusus, tentu bisa masuk ke dalam di balik layar, bagaimana satwa-satwa ini di rawat dan di pelihara,dimana habitat dan kondisinya sangat berbeda sekali dengan kodisi asal habitatnya, butuh kerja ekstra keras dan biaya tinggi untuk merawat owa jawa disini. Di kebun binatang ini juga di arustamakan kita tidak hanya sekedar cinta atau menyayangi binatang/hewan tapi juga bagaimana melestarikan bintang ini melalui contoh sepesimen hidup yang ada di kebun binatang dan juga melestarikan habitat aslinya.
Bersama Jim dan Joe Smith (FCZ)


Ucapan terimakasih untuk Fortwayne Children’s Zoo  dari kami seluruh tim lapangan atas nama SwaraOwa, proyek kopi dan koservasi primata, yang telah mendukung upaya pelestarian owa jawa di Jawa Tengah.  

Wednesday, September 14, 2016

Owa Jawa di Amerika

Gibbon Conservation Center, Santa Clarita, California

Salah satu tujuan yang paling ingin saya kunjungi setelah mengikuti Kongress IPS adalah Gibbon Conservaiton Center, di Santa Clarita, California. Tahun 2008 yang silam, saya pernah bertemu dengan Alan Mootnick di Bogor waktu itu sedang ada, symposium Owa nasional. Sejak saat itulah saya tahu bahwa ada pusat penangkaran Owa di luar Indonesia, yang telah lama berdiri dan berhasil membiakkan Owa. Yang saya tahu Owa jawa dari hasil penangkaran di tempat ini telah tersebar di beberapa kebun binatang di Amerika dan Eropa. Waktu itu ketika bertemu dengan Alan Mootnick ingin sekali melihat pusat penangkaran Owa ini, karena tidak hanya owa dari Jawa ada beberapa jenis yang ada di penangkaran  ini, dan termasuk salah satu penangkaran yang sukses membiakkan jenis-jenis Owa di luar habitat aslinya. Alan mootnick telah meninggal beberapa tahun lalu, silahkan baca disini obituary Alan mootnick http://www.latimes.com/local/obituaries/la-me-alan-mootnick-20111108-story.html

Waktu menyusun itinerary trip, ternyata untuk ke Santa Clarita, harus naik pesawat lagi kurang lebih 5 Jam, dengan perbedaan waktu antara Chicago dan Los Angles sekitar 2 jam, dan sepertinya kendaraan umum seperti bus atau kereta agak susah, karena jarak antara bandara los angles dan Gibbon center sekitar 2 jam. Saya sebelumnya sudah menghubungi kolega yang bekerja disana, kebetulan juga ada salah satu staff dari gibbon center yang ikut acara kongres, jadi banyak membantu untuk perjalanan ke Santa Clarita.

Singkat cerita, sampai di Los Angles kira-kira jam 1 malam, dan Gabby dan Tiffany membantu saya memesankan tiket taxy ke Gibbon Center, yang kuran lebih satu setengah jam perjalanan. Sampailah saya di Gibbon center tepat jam 3 pagi, hari masih gelap, dan ternyata tidak ada rumah atau pemukiman di sekitar pusat owa ini, berada di padang gurun California, yang kering , dingin di waktu malam dan panas kering di siang hari. Bagaimana Owa bisa bertahan di tempat seperti ini??
Habitat owa di Gibbon Conservation Center
Gabby yang sebelumnya telah menunggu kedatangan saya, menyambut saya dan membukakan pintu gerbang pusat primata, dan saya langsung di tunjukkan tempat tidur saya, yang berada di sebuat caravan. Kira-kira jam 5 pagi, suara gaduh di luar, semua owa telah bangun,dan bersuara, terdengar berbeda saya coba mengenali mana suara Owa jawa, dan saya mendengar dada beberapa individu owa jawa yang bersuara pagi itu. 


Owa jawa di Gibbon Conservation Center, dan suaranya di antara jenis-jenis owa yang lain

Setelah ngobrol tetang Owa kesempatan saya disini adalah belajar tentang bagaimana mengelola pusat primata ini, merawat Owa, dan memberikan pengetahuan kepada pengunjung.  Owa- owa di sini ada kurang lebih 40 individu, ada dari Thailand, China, dan Sumatra, dan Jawa. Dalam sehari owa -owa ini di beri makan 8 kali, terdiri dari buah-buahan daun  dan sejenis makanan buatan seperti pellet.

Pakan Owa di Gibbon Conservation Center


Pusat konservasi Owa bukanlah kebun binatang seperti umumnya, pengunjung disini di batasi dan di atur sangat ketat ketika masuk kedalam kawasan, tidak boleh memberi pakan dari luar, dan yang sedang kena flu atau sakit tidak boleh masuk ke dalam, di sekitar kandang Owa. Gibbon Center hanya membuka untuk umum berkunjung di hari Sabtu dan Minggu antara jam 9.30- 12.00 pagi. Kesempatan ini juga saya turut berbagi pengalaman dengan pengunjung meceritakan tentang Owa jawa dan kondisi lapangan saat ini. Inilah salah satu peran yang di berikan pusat owa ini, memeberikan edukasi tentang Owa itu sendiri, dan juga menyebarluaskan pesan pelestarian owa dan habitat aslinya.
Gabby menjelaskan kepada pengunjung tentang Owa dan konservasinya

Lebih lanjut tentang Gibbon Conservation Center bisa baca di websitenya http://www.gibboncenter.org/

Saturday, September 10, 2016

Kisah Owa Jawa di Amerika

logo kongres IPS

Acara kongres IPS (International Primatological Society)di Chicago menjadi kesempatan kita dari project “Kopi dan konservasi primata” untuk membawa pesan pelestarian Owa jawa ke komunitas internasional (baca disini tulisan sebelumnya). Presentasi di hadapan peserta kongres telah di sampaikan pada tanggal 23 Agustus 2016, dalam symposium Community Conservation of Primate. Baca disini abstract presentasi kami, yang berjudul "Caffeinated Conservation :  an outlook for gibbon of Java"

Kongres yang berlangsung 6 hari mulai tanggal 21-26 Agustus, salah satu pesan pelestarian primata yang kami ikuti adalah dengan turut berpartisipasi dalam silent auction, acara lelang produk-produk dari habitat primata atau pun dari proyek kegiatan penelitian primata untuk di donasikan kepada konservasi primata yang di kelola oleh IPS. Kami membawa produk special yang kami kemas untuk menyampaikan pesan pelestarian Owa jawa, kopi Arabica dan Robusta dari habitat Owa di petungkriyono Pekalongan, dan juga t-shirt official project kopi dan konservasi primata.
Bert Covert, pemenang lelang kopi owa

Hingga hari kelima ternyata smua produk kita mendapat apresiasi yang banyak, lelang kita mulai dengan harga 10USD, hingga hari kelima ternyata sampai 25 USD.
suasana lelang untuk donasi konservasi


Kongress primata tahun 2016, ada banyak presentasi dari Indonesia tentang penelitian dan kegiatan konservasi, namun masih banyak di dominasi peneliti asing, dan perwakilan dari Indonesia dalam acara ini ada 5 orang, yaitu Bapak Jamartin Sihite mewakili project orangutan Kalimantan, Bapak Made Wedana dari proyek rehabilitisi primata Jawa, mbak Yeni Saraswati dari Orangutan Sumatra, mbak Dwi Yandhi dari proyek Macaca Nigra dan saya sendiri mewakili SwaraOwa.
Perwakilan Indonesia di IPS kongress

Mendengar pengalaman lapangan dari berbabagi negara yang mempunyai primata sudah tentu memberikan tambahan informasi dan berbagi solusi yang di hadapi untuk pelestarian primata dan habitatnya. Kongres primata ini menjadi acara 2 tahunan para pegiat dan peneliti primata untuk berbagi kisah lapangan, dan kegiatan konservasi primata. Beberapa di antaranya yang sangat menarik adalah kisah dari cina dan madagaskar yang memodifikasi camera trap yang bisa bertahan hingga 1 setengah tahun, tanpa mengganti batrey. Kisah pejuang primata dari Nepal,yang tanpa henti berkunjung ke sekolah-sekolah untuk mengenalkan primata endemik Nepal, dan masih banyak lagi kisah keberhasilan penelitian dan kegiatan konservasi primata dari berbagai habitat primata di dunia. (bersambung).
bersama pegiat primata dari Jepang, Benin, dan Nepal




Sunday, August 21, 2016

Konservasi Terkafeinasi : Masa depan Owa di Tanah Jawa

Jungle bean di habitat aslinya

Jungle bean, menjadi produk konservasi kita tahun 2016 ini, dengan tujuan untuk mengenalkan kepada khalayak umum, inilah  Owa dari pulau Jawa. Kegiatan pelestarian primata melalaui “Coffee and Primate Conservation Project” ini telah menambah hormon dopamine, atau gembira ketika melakukan kegiatan dimanapun, yang terkait dengan kopi, hutan dan khususnya primata yang terancam punah. Caffeinated conservation, itulah kata-kata yang mungkin pas.

Mulai pertemuan Konservasi Asia 2016 di Singapore beberapa bulan yang lalu, kami mewakili project kopi dan koservasi primata, membawa produk produk hutan berkelanjutan di hadapan komunitas internasional. Kopi, gula aren dan madu menjadi pembawa pesan konservasi primata di Jawa Tengah, khususnya dari habitat Owa jawa.

Bulan Agustus ini, ada pertemuan terbesar pegiat primata, yang di adakan di Chicago, kongres primata dunia, kesempatan ini juga menjadi semangat kami untuk memperkenalkan kegiatan pelestarian Owa jawa ini dan juga menjadi tempat berbagi pengalaman dan membangun jaringan di tingkat global untuk pelestarian primata. 

Jungle bean di kota Chicago


Perjalanan lebih dari 20 jam, telah di tempuh mulai dari habitat Owajawa -Kuala lumpur-London-Chicago, banyak pengalaman dan hal baru selama perjalanan ini, dan tentunya dalam satu minggu ke depan (sejak tulisan ini terbit) akan banyak hal baru dan teman baru yang membuat cerita konservasi primata ini semakin menarik…(bersambung)

Friday, August 5, 2016

Kelana si Kembang Asem : Macan Tutul Jawa

di tulis oleh: Sundah Bagus Wicaksono
e-mail : sbw_genetiq@yahoo.com

Macan Tutul yang tertangkap camera jebak

Sebagai seorang pengagum felids atau kucing-kucingan saya sangat antusias untuk mempelajari lebih jauh akan makhluk cantik nan eksotis ini. Jika dilihat dari persebaran subspesiesnya terbersit pertanyaan di benak saya, mengapa mereka bisa melanglangbuana sampai ke pulau Jawa, padahal mereka tidak ditemukan di pulau-pulau Indonesia yang lain bahkan Sumatera dan Bali atau Kalimantan sekalipun? Tidak seperti tiga kerabat besarnya yang lain (singa, harimau, dan jaguar) yang memiliki persebaran linear serta beraturan di tiap benua. Apakah ini salah satu contoh hasil survival dari mereka?
Perlu lagi kita ketahui bahwasannya negara kita dikaruniai satu dari beberapa subspesies mereka, namun perhatian kita selalu luput darinya dan melihat kepada spesies lain yang kita anggap jauh lebih penting untuk dipedulikan. Mungkin sebagian orang tidak mengetahui bahwa mereka termasuk satwa yang tergolong langka dan hampir hilang eksistensinya di bumi. Organisasi Konservasi Flora-Fauna Dunia; IUCN (International Union for Conservation of Nature) menyatakan bahwa status mereka sangat kritis saat ini, sama seperti sepupu lorengnya di Sumatera. Jumlahnya di alam tidak lebih dari 400 ekor yang tersebar di seluruh pulau Jawa.
Hampir sama seperti kasus di India, mereka sering terlibat konflik dengan manusia karena berbagai faktor. Banyak sekali informasi yang didapat tentang masuknya mereka ke kampung dan memangsa ternak lalu berakhir dengan kematian karena dibantai. Kita telah kehilangan dua subspesies kucing besar sekarang, apakah iya kita harus kehilangan satu lagi? Seyogyanya perhatian kita kepada mereka tidak kalah dibanding satwa langka yang lain dan selalu menjaga kelestariannya untuk masa depan. Menurut saya, sang raja hutan celingus dari Jawa ini adalah subspesies yang sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut.

“Satwa ini dianggap setan karena menjadi makhluk yang jarang dan sulit untuk dijumpai secara langsung.”

Sedikit cerita saya mengenai satu kejadian dimana macan tutul Jawa masuk kampung dekat hutan Petungkriyono dan membuat heboh seisi kampung. Kisah ini saya dapat dari penuturan salah seorang warga kampung tersebut. Macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) atau orang dusun tesebut biasa menyebutnya macan kembang asem merupakan satu-satunya spesies kucing besar yang hingga saat ini masih hidup di tanah Jawa dan diisukan pernah berkeliaran di sekitar hutan Petungkriyono. Menurut Pak Kliwon, salah seorang warga Dusun Tinalum, satwa ini dianggap setan karena menjadi makhluk yang jarang dan sangat sulit dijumpai secara langsung, namun segelintir orang mengaku pernah berpapasan dengannya.
Di awal tahun 2000 dikabarkan bahwa ada kembang asem turun gunung lalu masuk ke pemukiman dan memangsa ternak milik warga. Adalah Dusun Sokokembang, sebuah dusun yang berada di Desa Kayupuring, Kec. Petungkriyono, Kab. Pekalongan, Jawa Tengah yang menjadi sasaran si kembang asem. Dusun ini adalah tetangga sebelah dari Dusun Tinalum. Selain menyerang ternak milik warga, kembang asem yang keluar dari persembunyiannya ini juga membuat resah warga kampung sehingga warga menjadi takut untuk melakukan aktivitas keseharian mereka apalagi di malam hari. Setelah beberapa hari kembang asem meneror, maka tekad warga untuk menangkapnya semakin bulat.
Petang menjelang. Setelah hewan peliharaan milik warga diamankan ke kandang, segeralah para bapak dan remaja lelaki bersiap diri di rumah masing-masing dengan beberapa alat pertahanan diri dan penangkap. Beberapa rumah menjadi sukarelawan penyedia umpan seekor ayam untuk memancing si kembang asem keluar. Benar saja setelah beberapa saat ditunggu, seekor ayam salah seorang warga mulai mengeok, layaknya di terkam sesuatu. Aba-aba inilah yang dinantikan oleh warga kampung untuk segera melakukan penggerebekan. Pertama-tama pemilik rumah yang mendapati umpannya diterkam memberitahukan ke tetangganya yang tidak terlalu jauh untuk memberi kabar ke semua warga kampung agar keluar rumah untuk bersiap melakukan eksekusi.
Satu persatu warga berdatangan menuju rumah yang mendapati umpannya telah dimangsa. Dengan langkah pelan mereka berjalan mendekati rumah tersebut dengan tujuan agar kehadiran mereka tidak terdeteksi si kembang asem. Setelah bersiap di posisi masing-masing, salah seorang warga memberanikan diri untuk mendekati kandang ayam yang di duga menjadi tempat kembang asem menyantap hidangannya. Berhasil. Seorang warga tadi berhasil melakukan penyerangan kepada kembang asem tepat dibadannya menggunakan sebilah kayu. Brukkk! Di bagian samping perut lah sebilah kayu tersebut mengenai. Sontak saja, si kembang asem langsung berlari menuju ke luar kandang. Karena menemukan jalan buntu akibat dihadang warga dan tidak bisa kabur kembali ke hutan, akhirnya kembang asem ini memilih masuk ke salah satu rumah warga yang aksesnya masih terbuka. Untung saja sudah tidak ada orang di dalamnya. Sorak riuh suara warga menambah ketegangan Dusun Sokokembang malam itu. Seperti sedang ada peristiwa pencurian atau pembunuhan.

“Dikarenakan tubuh sudah tidak bisa bergerak maupun meronta oleh jepitan bambu, maka dengan sekali ayunan tepat mengarah ke kepala lah kembang asem malang ini tumbang.”

Setelah hampir satu jam si kembang asem bersembunyi, warga pun beraksi lagi. Sekarang banyak dari warga yang memberanikan diri menjadi relawan untuk melakukan penyergapan langsung, karena mereka tahu bahwa si kembang asem saat ini telah terluka. Eksekusi dimulai kembali. Rumah yang dimasuki kembang asem dikunci dan ditutup rapat dari luar sehingga kembang asem tidak bisa lagi kabur. Warga memasukkan bambu-bambu panjang yang telah dipersiapkan untuk mengantisipasi tubuh kembang asem meronta melalui beberapa celah rumah yang memang bolong dan tidak tertutup. Tidak mudah, namun dengan masuknya kembang asem di bagian dalam rumah yang sempit menjadikan warga lebih mudah melakukan penggencetan badan. Sekali-dua kali kembang asem meronta, mungkin karena rasa takut dan luka memar yang menimpanya. Si kembang asem ini seperti kehilangan tenaga dan jarang sekali melawan. Dengan nafas terengah-engah dan sedikit merinding, seorang warga bersiap memukul dengan tongkat kayu yang lumayan keras tepat ke arah kepala. Dikarenakan tubuh sudah tidak bisa bergerak oleh jepitan bambu, maka dengan sekali ayunan tepat mengarah ke kepala lah kembang asem malang ini tumbang. Ya, macan tutul tersebut mati seketika dengan cedera parah di bagian belakang kepalanya.
Penggerebekan kasus pencurian telah usai dengan akhir kematian si kembang asem. Seakan teror yang dilakukan oleh kembang asem di Dusun Sokokembang lenyap seketika malam itu. Warga memastikan macan tutul tersebut telah mati. Satu per satu warga masuk ke dalam rumah eksekusi, menyeret, dan mengarak tubuh lemas si kembang asem keliling kampung, menandakan mereka berhasil menang mengalahkankan lawannya. Gembira, takut, lega, dan tentu saja rasa geram warga kampung menyulut aksi mereka untuk mulai menyembelih, menguliti, hingga beberapa ada yang memasak dagingnya untuk dimakan. Entah kenapa euphoria kemenangan warga kampung menjadikan mereka melakukan hal tersebut. Dengan adanya peristiwa malam itu menjadikan Dusun Sokokembang kembali aman dan tidak ada lagi cerita heboh oleh ulah kembang asem lain yang dapat meresahkan warga. Selama beberapa tahun warga tidak menjumpai lagi keberadaannya di sekitar hutan dan juga sangat jarang ada cerita warga bertemu langsung dengannya. Sekali lagi kembang asem menjadi setan.

“Selama beberapa tahun warga tidak menjumpai lagi keberadaan macan tutul di sekitar hutan dan juga sangat jarang ada cerita warga bertemu langsung dengan macan tutul. Sekali lagi kembang asem menjadi setan.”

Pada pertengahan tahun 2015 kemarin, tepatnya bulan Mei-Juni, kami tim peneliti dari UGM melakukan penelitian tentang Mamalia Kecil di Hutan Petungkriyono. Kami memulai survei dengan menulusuri habitat hutan kopi  di sekitar Dusun Tinalum dan Dusun Sokokembang, dusun yang telah dan sedang dikenal melalui kegiatan pelestarian Owa Jawa melalui Proyek Kopi dan Konservasi Primata. Di hutan di sekitar dusun ini kami, kemudian kami memasang jebakan kamera (Camera trap), di titik-titik yang telah kami survey sebelumnya.Untuk meminimalisir kesalahan dalam identifikasi maka camera trap kami setting menjadi mode video.
Lama menunggu, hasil video dari rekaman camera trap yang di dapat tidak tanggung-tanggung. Banyak sekali ternyata jenis fauna yang mendiami hutan Petungkriyono. Sebagian besar dari mereka bersifat nokturnal (aktif dalam melakukan aktivitas di malam hari) dan beberapa ada yang diurnal (aktif di siang hari).

Akan tetapi dari ratusan video yang dihasilkan hanya dua video lah yang membuat tim terkesima, khususnya saya yang benar-benar terkesima. Masing-masing video tersebut merekam satu spesies satwa yang terlihat sedang melintasi jalan setapak buatan warga untuk masuk hutan. Satu video agak kurang jelas karena posisi objek yang terlalu dekat dan satunya lagi sangat jelas. Satwa tadi memiliki ciri-ciri yang familir bagi saya. Satwa tersebut jelas dari kalangan karnivora. Rambutnya berwarna dasar kuning kejinggaan dengan pola tutul roset hitamnya dan bagian ujung ekor yang menghitam. Ya, indah sekali, sangat memanjakan mata. Tidak salah lagi ini adalah penampakan macan tutul Jawa alias sang raja celingus alias kembang asem. Walaupun bagian tubuh si kembang asem yang terekam di video tersebut hanya tampak belakang dan atasnya saja akan tetapi dapat dipastikan kalau satwa ini benar-benar Panthera pardus melas. Rasa lelah saya terbayarkan. Bukan main senangnya saya bersama tim mendapatkan hasil bonus dari penelitian yang lumayan mengerakan tenaga dan pikiran ini.

“Satwa tersebut jelas dari kalangan karnivora. Rambutnya berwarna dasar kuning kejinggaan dengan pola tutul roset hitamnya dan bagian ujung ekor yang menghitam. Ya, indah sekali, sangat memanjakan mata.”

Kedua video kembang asem tadi diambil dari camera trap yang terpasang tidak jauh dari pemukiman penduduk. Dengan melihat akses pergerakannya menggunakan jalan setapak milik warga, sebenarnya kembang asem tersebut sehari-hari hidup berdampingan dengan mereka hanya saja enggan untuk menampakkan diri. Mengapa kembang asem tersebut memakai jalan setapak milik warga untuk masuk ke hutan sebagai pergerakannya? Sebab spesies-spesies satwa karnivora seperti kucing-kucingan atau musang-musangan diketahui memang sering memakai jalur lintasan yang relatif terbuka dari tetumbuhan untuk pergerakan, seperti halnya kita bila berjalan di atas rumput, terasa risih dan geli di kaki dan lebih memilih berjalan di atas tanah kosong. Selain itu memang beberapa hari sebelum kembang asem tersebut melintas camera trap merekam video kijang betina yang kelihatannya bunting sedang lewat. Kemungkinan ini yang menarik perhatian si kembang asem untuk berada disana. Menurut beberapa ahli felids dunia, spesies macan tutul dan jaguar berburu mangsanya dengan trik stalker (membuntuti) dan mulai menyerang disaat mangsanya lengah.
si Kembang asem
Adanya rekaman dari dua video ini menjadi bukti nyata bahwa kembang asem masih bernafas bebas di seputar masyarakat sekitar hutan Petungkriyono. Meski sekarang kembang asem hadir di dekat warga kampung disaat melakukan aktivitas keseharian tanpa sepengetahuan mereka namun kembang asem tersebut tidak akan mengganggu. Tidak seperti dulu. Seolah-olah mereka berdua mengerti jika hidup berdampingan dan saling memahami satu sama lain adalah tujuan hidup yang harmonis. Penuturan warga kampung yang berpapasan langsung dengan kembang asem kini mulai bermunculan. Kisah kembang asem yang telah hilang ditelan zaman hingga hampir satu dekade ini pun akhirnya kembali. Tidak menjadi raja hutan yang celingus lagi.