Showing posts with label javan gibbon. Show all posts
Showing posts with label javan gibbon. Show all posts

Wednesday, September 14, 2016

Owa Jawa di Amerika

Gibbon Conservation Center, Santa Clarita, California

Salah satu tujuan yang paling ingin saya kunjungi setelah mengikuti Kongress IPS adalah Gibbon Conservaiton Center, di Santa Clarita, California. Tahun 2008 yang silam, saya pernah bertemu dengan Alan Mootnick di Bogor waktu itu sedang ada, symposium Owa nasional. Sejak saat itulah saya tahu bahwa ada pusat penangkaran Owa di luar Indonesia, yang telah lama berdiri dan berhasil membiakkan Owa. Yang saya tahu Owa jawa dari hasil penangkaran di tempat ini telah tersebar di beberapa kebun binatang di Amerika dan Eropa. Waktu itu ketika bertemu dengan Alan Mootnick ingin sekali melihat pusat penangkaran Owa ini, karena tidak hanya owa dari Jawa ada beberapa jenis yang ada di penangkaran  ini, dan termasuk salah satu penangkaran yang sukses membiakkan jenis-jenis Owa di luar habitat aslinya. Alan mootnick telah meninggal beberapa tahun lalu, silahkan baca disini obituary Alan mootnick http://www.latimes.com/local/obituaries/la-me-alan-mootnick-20111108-story.html

Waktu menyusun itinerary trip, ternyata untuk ke Santa Clarita, harus naik pesawat lagi kurang lebih 5 Jam, dengan perbedaan waktu antara Chicago dan Los Angles sekitar 2 jam, dan sepertinya kendaraan umum seperti bus atau kereta agak susah, karena jarak antara bandara los angles dan Gibbon center sekitar 2 jam. Saya sebelumnya sudah menghubungi kolega yang bekerja disana, kebetulan juga ada salah satu staff dari gibbon center yang ikut acara kongres, jadi banyak membantu untuk perjalanan ke Santa Clarita.

Singkat cerita, sampai di Los Angles kira-kira jam 1 malam, dan Gabby dan Tiffany membantu saya memesankan tiket taxy ke Gibbon Center, yang kuran lebih satu setengah jam perjalanan. Sampailah saya di Gibbon center tepat jam 3 pagi, hari masih gelap, dan ternyata tidak ada rumah atau pemukiman di sekitar pusat owa ini, berada di padang gurun California, yang kering , dingin di waktu malam dan panas kering di siang hari. Bagaimana Owa bisa bertahan di tempat seperti ini??
Habitat owa di Gibbon Conservation Center
Gabby yang sebelumnya telah menunggu kedatangan saya, menyambut saya dan membukakan pintu gerbang pusat primata, dan saya langsung di tunjukkan tempat tidur saya, yang berada di sebuat caravan. Kira-kira jam 5 pagi, suara gaduh di luar, semua owa telah bangun,dan bersuara, terdengar berbeda saya coba mengenali mana suara Owa jawa, dan saya mendengar dada beberapa individu owa jawa yang bersuara pagi itu. 


Owa jawa di Gibbon Conservation Center, dan suaranya di antara jenis-jenis owa yang lain

Setelah ngobrol tetang Owa kesempatan saya disini adalah belajar tentang bagaimana mengelola pusat primata ini, merawat Owa, dan memberikan pengetahuan kepada pengunjung.  Owa- owa di sini ada kurang lebih 40 individu, ada dari Thailand, China, dan Sumatra, dan Jawa. Dalam sehari owa -owa ini di beri makan 8 kali, terdiri dari buah-buahan daun  dan sejenis makanan buatan seperti pellet.

Pakan Owa di Gibbon Conservation Center


Pusat konservasi Owa bukanlah kebun binatang seperti umumnya, pengunjung disini di batasi dan di atur sangat ketat ketika masuk kedalam kawasan, tidak boleh memberi pakan dari luar, dan yang sedang kena flu atau sakit tidak boleh masuk ke dalam, di sekitar kandang Owa. Gibbon Center hanya membuka untuk umum berkunjung di hari Sabtu dan Minggu antara jam 9.30- 12.00 pagi. Kesempatan ini juga saya turut berbagi pengalaman dengan pengunjung meceritakan tentang Owa jawa dan kondisi lapangan saat ini. Inilah salah satu peran yang di berikan pusat owa ini, memeberikan edukasi tentang Owa itu sendiri, dan juga menyebarluaskan pesan pelestarian owa dan habitat aslinya.
Gabby menjelaskan kepada pengunjung tentang Owa dan konservasinya

Lebih lanjut tentang Gibbon Conservation Center bisa baca di websitenya http://www.gibboncenter.org/

Sunday, May 8, 2016

Menjaga Owa si Penjaga Rimba

Owa jawa

Beberapa waktu yang lalu ada berita tentang penangkapan penjual Owa Jawa di sekitar habitat Owa. baca beritanya disini :http://www.radarpekalongan.com/6464/hewan-langka-diperjualbelikan-polres-pekalongan-bekuk-tiga-pelaku/http://www.kfmpekalongan.com/2016/03/satwa-liar-yang-hampir.html
Kasus ini masih di tangani oleh yang berwenang, dan semoga saja ada tindak lanjut dari kasus ini yang juga di beritakan ke masyarakat luas. Beberapa waktu lalu waktu tim swaraOwa survey di sekitaran Lingo asri, kami sempat singgah di obyek wisata tersebut, dan juga melihat langsung beberapa satwa yang ada di kandang-kandang di sini. Beberapa waktu sebelumnya beberapa kandang nampak kosong, kali ini beberapa kandang sudah terisi, dan ketika saya tanya sana-sini ternyata beberapa hewan itu adalah sitaan dari BKSDA yang di titipkan kepada minizoo Linggo asri ini.
Yang menarik perhatian kita adalah ada 2 jenis owa disitu, Owa jawa dan Owa Kalimantan. Mau di apakan hewan-hewan sitaan ini? Di lepas liarkan lagi sudah tentu butuh persyaratan khusus yang harus di lewati untuk bisa liar kembali. Yang jelas biaya untuk melepas liarkan tentu tidak sebanding dengan harga jual dari Owa ini yang di nikmati oleh penjual atau orang yang melihara owa ini sebagai koleksi pribadi.

Membayangkan bagaimana owa ini berayun bebas kesana kemari di hutan, memanggil dan menyanyi setiap hari di hutan adalah  amanah binatang ini sebagai cipataan Tuhan. Menghuni hutan, menjaga hutan tetap ramai, dan bisa di nikmati oleh manusia di sekitarnya. Peran ekologis sebagai binatang penyebar biji juga hilang karena Owa ini telah hidup di kandang sempit. Sebagai fauna endemik Jawa sudah tentu ini juga sebagai indentitas global dalam pergaulan dunia internasional. Tapi bagaimana kalau hanya ada di kandang saja??  Yang jelas untuk melepas liarkan kembali Owa, tentu butuh hutan, dan sementara ini hutan yang masih layak untuk Owa tinggal juga tidak banyak tersedia. Yang ada juga semakin terkikis habis.
Kandang sitaan 

Kita punya peran yang sama untuk melestarikan Owa dan hutan sebagai habitatnya, yang tinggal di pinggir hutan, yang jauh dari hutan, pemerintah, organisasi masyarakat, polisi, petugas kehutanan, mahasiswa, guru,pedagang, peneliti, jurnalis, penegak hukum ,selebritis, tokoh masyarakat, lembaga peneliti atau siapapun dapat berperan sesuai fungsinya dalam masyarakat.

Pendidikan pelestarian alam dan mengarusutamakan konservasi tentu dapat di lakukan dimanapun dan kapanpun, tidak hanyak menindak tegas pelaku yang terlibat perburuan binatang liar, namun juga mencegah perburuan adalah lebih penting dilakukan dari tingkat site sampai pembuat kebijakan.  Jadi apa peran anda untuk melestarikan alam sekitar anda?
lahan pertanian di antara hutan habitat owa jawa

Saturday, October 10, 2015

Gibbon school day, saatnya Owa pergi ke Sekolah

Salah satu slide materi Gibbon School day

Mengarusutamakan, pelestarian Owa jawa dan habitatnya sudah seharusnya terus dilakukan. Bisa dilakukan dengan kampanye pelestarian, penelitian ataupun pemberdayaan masyarakat sekitar hutan habitat Owa.  Bulan September 2015, kegiatan penyebar luasan informasi tentang pelestarian hutan dan Owa jawa telah kami lakukan dengan menargetkan peserta dari kalangan pendidikan tingkat menengah, SMA, SMK di wilayah kabupaten Pekalongan. Kegiatan ini dalam rangkaian acara tahunan kami di habitat owa yaitu Gibbon schoodays. Dengan melibatkan pegiat pendidikan menengah di harapkan Owa jawa juga semakin dikenal dan di cintai oleh warga sekitar habitat sendiri, yaitu kalangan generasi muda anak-anak usia sekolah.

Tanggal  7 September 2015, bersama dengan perhutani Sakawanabakti Kabupaten Pekalongan, sekaligus acara perkemahan penggalang tingkat SMA dan SMK (Raida/Raimuna Jawa Tengah) kami menyampaikan presentasi di hadapan peserta jambore ini. Bertempat di balai kerja Perhutani di Kecamatan Kesesi, di hadapan kuranglebih 50 peserta terpilih dari SMA dan SMK di wilayah propinsi Jawa Tengah, penyampaian informasi tetenang Owajawa ini menjadi salah satu rangkaian acara jambore. Bangga juga dengan kegiatan jambore ini ternyata maskot acara ini adalah Owajawa, yang memang saat ini masih terdapat di wilayah Jawa Tengah khsusunya di kabupaten Pekalongan

Presentasi tentang Owajawa untuk peserta Jambore Pramuka


Tanggal  19 September 2015, basecamp penelitian di dusun Sokokembang kedatangan tamu guru-guru mata pelajaran biologi di tingkat kabupaten pekalongan (MGMP SMA/SMK Biologi), kedatangan guru-guru ini adalah untuk mengenal lebih jauh owajawa dan habitatnya di wilayah hutan Petungkriyono. 25 peserta yang terdiri guru-guru mata pelajaran biologi ini kami ajak langsung untuk pengamatan primata (Primate Watching) di hutan Sokokembang melihat langsung primata endemik Jawa yang ada di wilayah hutan Pekalongan. Pengenalan dan diskusi lebih jauh tentang kegiatan pelestarian Owajawa ini juga di lakukan di dalam ruang, untuk presentasi tentang primata-primata di wilayah kabupaten Pekalongan dan kegiatan pelestariannya. Presentasi yang di bawakan oleh salah satu tim SwaraOwa ini selanjutnya juga di bagikan kepada guru-guru untuk selanjutnya di informasikan kepada anak didikdi sekolah masing-masing.

Pengamatan Primata (Primate Watching


Salah satu kesimpulan dari kegiatan ini adalah, antusiasme guru-guru mata Pelajaran Biologi ini sehingga akan mengadakan acara ini lebih formal untuk peserta didik mereka. Harapannya semoga satwa-satwa langka yang ada di wilayah Kabupaten Pekalongan juga semakin di cintai  oleh warga dan mengajak masyarakat umum untuk menghargai hutan, habitat alami sebagai salah satu kekayaan ilmu pengetahuan yang tak ternilai.
Materi dalam ruang, dan diskusi tentang pelestarian Owa Jawa

Thursday, August 20, 2015

Pelatihan Metode Survei Primata Hutan Sokokembang, 14-16 September 2015


Latar Belakang
Kawasan hutan alam di Jawa Tengah adalah habitat primata endemik Jawa, salah satunya adalah Owa Jawa (Hylobates moloch) yang terletak di luar kawasan konservasi dan telah terfragmentasi. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melestarikan populasi Owa Jawa dan habitatnya, sebagai bentuk kontribusi terhadap rencana aksi Owa Jawa tahun 2012 hingga tahun 2021 mendatang. Tujuan khususnya adalah untuk melestarikan habitat Owa Jawa yang ada di bagian barat Pegunungan Dieng, melalui penelitian, penegakan hukum dan keterlibatan komunitas lokal. Kami akan mendorong peneliti-peneliti muda dan conservasionist melalui pelatihan dan praktek lapangan, peningkatan kegiatan penegakan hukum dan pengembangan dan pemberdayaan komunitas lokal berbasis pertanian kopi di Dusun Sokokembang, Pekalongan. Salah satu pelatihan yang perlu dilakukan adalah pelatihan survei primata dengan materi diskusi metode-metode yang digunakan serta praktek langsung di lapangan, misalnya line transect dan point count, serta analisis data yang memungkinkan dilakukan dari metode yang digunakan. Pelatihan ini merupakan kegiatan tahunan yang telah dilakukan sejak tahun 2013 dan tahun ini merupakan pelatihan yang ke-3, yang dilaksanakan oleh KP3 Primata Fakultas Kehutanan UGM yang bekerjasama dengan “Coffee and Primate Conservation Project-Yogyakarta Primate Study Club. Peningkatan kerjasama antara pelaku konservasi di Jawa Tengah, baik yang terlibat langsung maupun tidak akan menjadi langkah berikutnya setelah dilaksanakannya pelatihan. Melalui proses diskusi dalam acara pelatihan, diharapkan adanya kesepakatan mengenai metode yang tepat digunakan di kawasan hutan alam Jawa Tengah, sehingga hasil penelitian yang dilakukan oleh berbagai pihak dapat diintegrasikan untuk kepentingan bersama nantinya.

Tujuan
1.    Mendorong munculnya peneliti primata dari generasi muda.
2.    Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan teknis para peneliti terkait metodologi survei primata.
3.    Mendorong jejaring dan kerjasama antar peneliti primata terutama di tingkat lokal Jawa Tengah.

Lokasi dan Waktu Pelatihan
Pelatihan ini akan dilakukan pada tanggal 14 – 16 September 2015 di Dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan dan Hutan Lindung Petungkriyono, Perhutani KPH Pekalongan Timur.

Peserta
Mahasiswa perguruan tinggi, praktisi, dan perwakilan instansi di bidang Kehutanan di wilayah Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta.

Pemateri
1. Arif Setiawan,  (Coffee and Primate Conservation Project)
2. Ike Naya Naya Silana  (Perhimpunan Ahli dan Pemerhati Primata Indonesia) 

3. Indah Winarti  (IAR)

Kegiatan ini di dukung oleh :






Wednesday, May 20, 2015

Rainforest live 2015 : maukah anda tinggal sehari di hutan habitat Owajawa?


Hutan  dan  hidupan liar yang biasanya jauh dari tempat tinggal kita, senantiasa jauh dari perhatian, dan tidak banyak orang yang peduli. Kehidupan hutan dan segala  isinya, bahkan nilai penting ekosistem hutan itu sendiri tidak akan kita ketahui apabila kita tidak mengenalnya. Kita juga tidak akan mengerti bagaimana hutan dan hidupan liar ini saat ini sedang mengalami ancaman yang serius dari kerusakan dan kepunahan.

Mengenalkan hutan  dan segala isinya adalah sebagian upaya untuk melestarikan hutan itu sendiri. Oleh karena itu sebagai bagian dari upaya pelestarian hutan  pada tanggal 19 Juni 2015 tim “SwaraOwa: Kelompok Study dan Pemerhati Primata Yogyakarta” akan bergabung dengan komunitas global untuk bersama-sama mengenalkan hutan dan hidupan liar yang ada di dalamnya melalui program #rainforestlive.

Yaitu aktifitas mengenalkan pengamatan hidupan liar  dari berbagai penjuru belantara bumi ini melalui sosial media  secara langsung selama satu hari. Program ini akan di ikuti oleh beberapa lembaga peneliti dan lembaga konservasi dari berbagai negara dari berbagai tipe habitat. Tujuannya adalah 1. Menyampaikan  kepada masyarakat secara umum sebuah suasana atau seperti apa rasanya tinggal atau mengunjungi hutan. 2.untuk mengingatkan masyarakat luas  alasan positive merestorasi atau melestarikan hutan (untuk mengimbangi latarbelakang banyaknya pesan kerusakan hutan dan kepunahan)3. untuk menarik perhatian dan dukungan kepada organisasi organisasi yang terlibat langsung dalam kegiatan pelestarian hutan.

#Rainforestlive akan di publish sehari penuh bersama-sama dari berbagai lokasi penelitian dan pelestarian hidupan liar dari berbagai belahan dunia..Dari hutan Sokokembang, Petungkriyono, Pekalongan, Jawa Tengah, sebagai habitat primata endemik P.Jawa , Owajawa (Hylobates moloch), kami akan berkontribusi dengan mempublish hasil-hasil pengamatan  berupa foto dan video tentang hidupan liar yang ada di hutan habitat Owajawa. Silahkan pantau beberapa akun sosial media kami pada tanggal 19 Juni 2015 twitter @SwaraOwa; instagram@SwaraOwa, soundcloud @swaraOwa dan facebook fanpage  www.facebook.com/swaraOwa




Thursday, March 19, 2015

Wildlife Friendly Coffee, Cerita secangkir kopi dari habitat Owa

Tulisan ini mengajak anda untuk lebih memberikan perhatian kepada alam di sekitar kita, bahwa kita hidup di bumi adalah saling berbagi dengan hidupan lainnya, termasuk satwaliar. Banyak cerita bahwa hidupan liar dan habitatnya juga telah membawa kesejahteraan bagi manusia di sekitarnya. Sudah selayaknya kita ikut berkontribusi langsung untuk memperlambat laju kepunahan hidupan liar di sekitar kita.

Penelitian dan pelestarian  Owa jawa (Hylobates moloch) di hutan Sokokembang,Petungkriyono, Pekalongan, setidaknya telah memberikan tantangan yang berbeda bagaimana kita lebih menghargai apa yang ada disekitar kita. Termasuk nilai penting suatu satwaliar dan habitatnya itu sendiri. Beberapa foto di bawah ini telah mengungkap jenis-jenis satwaliar yang ada di habitat owa, yang juga hutan kopi robusta.
Menggunakan kamera yang bekerja automatis  yang kami tempatkan di atas permukaan tanah dan di tajuk pohon telah berhasil mengidentifikasi jenis-jenis satwaliar yang hidup di lahan kopi hutan.

Babi Hutan


Landak

Rekrekan

Kopi yang tumbuh di hutan dan diolah tanpa merusak habitat hidupan liar tentunya mempunyai nilai lebih dibandingkan dengan kopi  tumbuh dengan cara  membuka hutan dan tanpa memberikan ruang bagi hidupan liar lainnya untuk habitatnya. Kopi yang tumbuh di hutan tentunya di proses dengan melibatkan masyarakat sekitar hutan, bagaimana mereka memanen dan memproses kopi-kopi tersebut tentunya tidak semudah apabila dalam habitat yang monoculture. Batasan-batasan kondisi geografis, cuaca dan tenaga tentunya tidak akan terpikir nyata apabila kita hanya duduk diam membaca tulisan ini sambil minum kopi di rumah.

Sebagai bagian dari tujuan kami memperkenalkan dan mengajak untuk melestarikan habitat hidupan liar, untuk  anda yang jauh dari hutan dan peminum kopi sudah selayaknya memberikan perhatian lebih kepada secangkir kopi yang tempat tumbuhnya juga menjadi rumah bagi fauna-fauna yang hampir punah ini. Menghargai kopi tentunya sudah tidak hanya sekedar citarasanya , namun juga menjadi kebanggaan dan kenikmatan tersendiri bahwa kita telah berkontribusi bagi kelestarian alam ini. 

Thursday, October 2, 2014

GIBBON SCHOOL DAYS, when the gibbon goes to school.


Series of meetings to rise conservation awareness and education were done toward youth people surrounding javan gibbon habitat, within Pekalongan regency. First meeting was done at August 2014 where we have invited school teachers from senior high school to visit Sokokembang village, as our basecamp for our “Coffee and Primate Conservation Project” which supported by Fort Wayne Children's Zoo, Singapore Zoo, Ostrava Zoo. At least four teachers from four different senior high school were attended our invitation. We introduce our program and more discussion about endangered primates and high biodiversity value of forest in Petungkriono district.Then the meeting with school teachers was follow up by next meeting i.e nature photography workshop.
                       
Event photography training was done in 20-21 Sept 2014, in Kayupuring village, Petungkriono District, Pekalongan Regency, Central Java.This event as a part of Javan gibbon and habitat conservation programs in Petungkriono forest areas. The aim is to promote conservation of endangered primates and as well as  an efforts to increase the capacity of communities around the area of ​​their habitat, to increase knowledge, raise conservation awareness of our environment, and to build a network of  young conservationists in surounding javan gibbon habitat.


Totally 25 participants from Pekalongan regecency, represent their schools, government officer, youth nature community, and people from the village were joint in the event. Three trainers i.e. Dr. M.Ali Imron-wildlife researcher of Gadjah Mada University, Swis Winasis-WildlifePhotographer and Regina Safri  - Photojournalist, were guide participants not only in the room theory but also in the field, practicing photograph and direct discussion with the experts.

check these video and photos out for impression of participants during the event :
photography workshop (20-21 Sept 2014) Javangibbon conservation


Friday, September 5, 2014

Coffee and Primate Conservation : a cup of java for gibbon


The title above is  oral presentation title during International Primatological  Society XXV Congress in Hanoi, Vietnam 11-17 Agustus 2014. Abstract for this presentation can be read here. The presentation is about our field work "Coffee and Primate Conservation Project" activities in Central Java. Please contact the author personally for further information.

Its largest meeting  in the field of primatology, where we can share information about primate research and conservation, meet the expert, funding agency and develop professional network for primate study and conservation.
.
We also joined in to the post congress of IPS, in Bogor 18-22 August, here about the meeting information and we also give a talk about our project in Sokokembang forest. There are two other poster presentation from our project activities, presented by our project team member. Read here  http://www.sea-primate.org/pdf/ecology/Aryanti.Ecology.pdf


We would like to thanks to Conservation International, Margoth Marsh Biodiversity Foundation, and IUCN Primate SSC for the travel grant to attend the IPS meeting in Vietnam.

Thursday, July 17, 2014

Participatory Biodiversity Mapping, at Javan gibbon’s village, Kayupuring, Central Java, Indonesia

One of the problems to raise awareness about forest and primate conservation in Javan gibbon’s habitat are very limited information even more there is no baseline species diversity, ecology, spatial location and conservation status of the protected species. All these information are useful if we use to talk with people in the village to motivate them to conserve their biodiversity actually. The specific aim of this activities are to mine information about biodiversity especially wildlife that usually found in Kayupuring village area’s based on community knowledge and their field observation, and we add more detail information on their basic ecology and its conservation status, then we present on the village biodiversity map.


This program is a part of Our Coffee and Primate Conservation Project that funded by Fortwayne Children Zoo and Singapore Zoo, cooperation with Wildlife Lab, Forest Resource Conservation Dept, Faculty of Forestry, Gadjah Mada University, of Yogyakarta. Located at Kayupuring village, on 17-19 June 2014, we have meeting series and guided by GIS expert from the university to discuss about wildlife that usually found in their village and forest, than we ask them to describe as clear as possible based on their field observation and we match this information to the field guide book as scientific clarification. And finally we use Google earth, to map wildlife encounter by the villagers.
Participants of Participatory biodiversity Mapping

GIS experts and wildlife ecologist from Gadjah Mada University giving a talk.

Friday, July 11, 2014

The 2nd Primate Survey Training, Sokokembang 9-11 June 2014

This activities was initiated last year in 2013, where we realize that primate conservation should be based on scientific information. And actually there is a problems to conserve endangered primate and its habitat in central java , that we lack of capacity and knowledge about primate survey method. 

Thus , the training aims are :1 to raise and encourage young primate researchers and conservationist in central Java. 2. To enhance knowledge and technical experience on field primate survey. 3. To establish professional network among young primatologist in central java.

Totally 21 participants,  were joint in 3 days training in Sokokembang (see photo.1), they are come from university students, forestry government staff ,Journalist, and local NGO  from surrounding javan gibbon habitat in central java
2014 training participants 

In this training, we introduce two methods that can be applied in the  field for primate survey training, i.e “line transect” and “vocal count-triangulation” especially for gibbon survey. The training including room discussion, field practice (data collection) and its data analysis.

During the training we also received coverage from national newspaper, and published at  11 June 2014 (photo.2).
newspaper coverage about the primate survey training in Sokokembang forest

Saturday, June 21, 2014

Field visit Fortwayne Zoo in Sokokembang forest

Sokokembang forest view

17-20 June 2014 are special days for the coffee and primate conservation project, in Sokokembang village, Petungkriono , Central Java. We had a visit from Fort Wayne zoo staff (Dr. Joe Smith) and Fort Worth Zoo  (Dr  Nancy  P. Lung). The reason to visit Sokokembang is Javan gibbon, to see the field condition, problems and real action to stop extinction of the rarest gibbon in Indonesia.
As host for the project, after we introduce all the the project team we visiting Kayupuring village to meet village government officers there. Our mission is to express appreciation to the local government that Sokokembang within Kayupuring village has become part of the world’s attention to conserve endangered primates. Primate and habitat preservation involving forest communities have a real contribution to sustainable development with economic and ecological consideration complementary.

Primate watching in Sokokembang forest also become most interesting for our guest, we had observe with very clearly all four primate species in the forest i.e Javan gibbon (Hylobates moloch) Javan langur (Trachypithecus auratus), Javan Surili (Presbytis fredericae) and Longtailed macaque (Macaca fascicularis), so lucky  we are,  observing all these primate in a single feeding tree, where there was ficus tree have been fruited and all the primates have been feed on them.

We also invited our guest to join in our village meeting, meet the villagers who processing forest-coffee and off course to feel our jungle track heading to our tree house which usually to be used as javan gibbon monitoring based on their call.

Three days for the field visit also giving invaluable experience and  motivation to our team member to continue our works, to conserve our endangered primates and it's habitat, and photos will tell you more than words.
with village government officers

Joe and Dr.Sena adisubrata from Gadjah Mada University

ID?

primate watching

Civet coffee

Nancy and Emily trying to capture the gibbon



Bird watching from tree house

Walking through forest coffee habitat

coffee processing and other non timber forest products

group photo with team, family and tv crew


Monday, June 16, 2014

SwaraOwa

"javan gibbon sonogram (male call)"
SwaraOwa is Javanese words, it’s meant  “calling of the gibbon”. We are a group of young people from surrounding Javanese primate habitat’s in central Java, Indonesia,  who want to try to contribute in conservation programs of our endangered primate species and it’s habitat. This blog belong to our group, and we use this SwaraOwa to talk with all of you, human primate in this planet earth, to raise attention and conservation awareness, also to  build a professional network, to  conserve our remaining forest,  where our last non-human primate living in,and off course for our future.
For our previous conservation project activities, you can read here,  and  here for another active blog, (available in Bahasa only). You can also follow us on tweeter @swaraOwa

Tuesday, June 10, 2014

Javan Gibbon on the Radio

Even people of Pekalogan, there are still some of them not know their own forest and unique primate, such as Javan silvery gibbon, which can be found nowhere else on earth. Sokokembang forest is located about one and half hours from the city of Pekalongan. its located in the mountainous area and Pekalongan city located along the coastline of north Java sea. However, mountainous area in Petungkriono district, that also habitat of Javan gibbon actually is critically important for Pekalongan city, where this mountain as watercatchment areas from all the rivers streaming down through Pekalongan. We have initiated a public campaing to introduce Javan gibbon and its conservation habitat in Sokokembang forest through a radio program. The aim is to promote and raising conservation awareness of an endemic primates of Pekalongan regency .

Collaborate with local radio “Radio Kota Batik” in Pekalongan, series of talkshow was succeed to be done at 24 April, 8 May , 22 May and 5 June 2014. We use this program not only to introduce our Primate Study Club but also more important to share information about our activities and to promote conservation of endangered primate which still exist in Pekalongan regency, that actually need more attention from people of Pekalongan themselves.
Agnes (our team member) have been on aired talk about Javan gibbon conservation activities.