Showing posts with label pelatihan survey primata. Show all posts
Showing posts with label pelatihan survey primata. Show all posts

Wednesday, October 24, 2018

Pengalaman, pengetahuan baru untuk penelitian Primata

Pelatihan Metode Survei Primata
Sokokembang, Petungkriyono, Pekalongan
12-14 Oktober 2018
di tulis oleh :
Farhan Adyn, e-mail : farhan.adyn15@gmail.com


Apa yang terlintas di benak saat mendengar kata “Pekalongan”? Hampir kebanyakan akan langsung mengingat tentang Batik dan kainnya nan indah itu. Akan tetapi, bukan maksud ku mengunjungi kota ini untuk berbelanja, menambah koleksi batik yang siap dipakai saat menghadiri undangan acara-acara besar dan formal, melainkan memenuhi undangan Pelatihan Metode Survei Primata yang diselenggarakan oleh KP3 Primata UGM dan Swaraowa. Aku hadir sebagai partisipan representatif KSP Macaca UNJ bersama dua teman, Arief dan Rachmat, dari Jakarta yang keduanya merupakan perwakilan FSP Lutung UNAS. Kami tiba di Pekalongan dan dijemput oleh panitia menuju lokasi pelatihan. Sesaat setelah melewati perkebunan pinus PERHUTANI dan Perkebunan Karet ,  gapura dan tugu “Petungkriyono” telah menanti. Hal ini menandakan bahwa kami akan memasuki kawasan Hutan Lindung Sokokembang.
pintu masuk hutan Petungkriyono
Kesan tempat pelatihan ini, menurut kakak tingkat yang pernah mengikuti kegiatan serupa tahun lalu, tidak akan pernah terlupakan dalam hidup. Hutan Lindung Sokokembang termasuk hutan hujan dataran rendah tersisa di pulau Jawa yang benar-benar masih asri. Benar saja, saat pertama aku terkagum-kagum serta takjub kala mata memandangi tiap sudut bentang vegetasi dan kabut embun bergerak di atas rapatnya kanopi. O..iya, satu hal lagi yang ku tahu sebelum mengunjungi tempat ini, yakni kopi Owa. Berbeda dengan perkebunan kopi (yang cenderung disengaja & terkesan monokultur), kopi ini terkenal dengan sebutannya kopi Owa karena tanaman kopi (yang merupakan peninggalan sistem Tanam Paksa di Pekalongan dengan komoditi utama ialah kopi) hidup di dalam habitat nya Owa Jawa (Hylobates moloch Audebert, 1798) yang endemik di pulau ini.
praktek metode line transek
transek di persiapkan terlebih dahulu sebelum pengamatan dan diberi tanda

Hari pertama, Jum’at malam (12/10), diawali dengan pembukaan acara. Sambutan-sambutan diberikan kepada para peserta yang berjumlah 20 orang dari berbagai profil dan latar belakang. Ada peserta dari kalangan mahasiswa, pecinta alam, fotografer alam liar bahkan hingga advokat, berkumpul dan belajar bersama tentang survei populasi primata Jawa. Setelah dihangatkan oleh berbagai sambutan dari ketua pelaksana acara, Kepala KPH Pekalongan Timur,  serta perkenalan dengan peserta lainnya. Kemudian langsung dilanjutkan oleh pematerian pertama, pengantar tentang primata yang disampaikan oleh kak Salmah. Setelah itu, kami briefing untuk persiapan esoknya, dengan materi Survei Populasi dengan Teknik Line-Transect Sampling.

Penggunaan teknik tetap berdasarkan prinsip pengacakan (random) dan pengulangan (replication). Kegunaan teknik ini ialah untuk mencari dugaan/estimasi kepadatan (density) suatu objek (primata) per satuan luas/waktu. Adapun cara pengambilan datanya dengan berjalan lurus pada lintasan/jalur yang telah ditetapkan panjangnya (L), kemudian mencatat perjumpaan langsung dengan objek (N), lalu menembakkan sudut jalur & sudut objek dengan kompas (kemudian diselisihkan, α) serta mengestimasikan jarak langsung pengamat-objek (x). Tiga data terakhir dibutuhkan untuk mengetahui jarak antara objek yang tegak lurus dengan jalur (perpendicular distance/ppd/w) dengan prinsip trigonometri , (rumus sinus, cosinus atau tangen) digunakan untuk menghitung jarak tegak lurus antara primata dan transek, yang di tentukan dari dari sudut apit antara arah transek (pengamat) dan primata yang terlihat.

Jarak (ppd) ini digunakan sebagai preferensi lebar area sampling, atau telah disepakati sejak awal menggunakan jarak pandang optimum mata manusia (~50 meter), sehingga area sampling diproyeksikan berbentuk persegi panjang. Adapun persamaan matematis dari perumusan kepadatan/density (D) ini adalah:

D = N/A = n/2Lw

Hari itu (12/10), kami pun mengaplikasikan teori semalam di lapangan. Sebelumya, semua peserta dibagi menjadi 3 kelompok, masing-masing kelompok melalui jalur/transek: 1. Iger Menyan; 2. Rambut Putih; dan 3. Rumah pohon. Aku kebagian kelompok satu, transek 1. Iger Menyan. Menurut mas Wawan, panjang trek ini mencapai 700 meter yang berujung pada tumbuhan endemik Indonesia, damar-mata kucing (Shorea javanica Koord. & Valeton). Namun sayangnya, sepanjang perjalanan kami tidak menemukan/berjumpa langsung dengan objek (primata), hanya terdengar morning call/great call Owa Jawa di sisi tebing seberang. Dan lagi-lagi, kami kurang beruntung sebab terdapat pohon tumbang di titik 300 meter-an yang menghalangi jalan dan tidak memungkinkan untuk dilewati. Meskipun belum berkesempatan berjumpa langsung, kami tetap mengsimulasikan cara pengambilan data yang baik dan benar oleh pendamping jalur.
owa yang terfoto oleh peserta lain, mas Anjar dari Pekalongan
Sesampainya kami kembali ke basecamp, kami berisitirahat dan menyempatkan diri untuk mandi di sungai kolong jembatan. Air nya sangat bersih & jernih, sesuatu yang jarang bahkan tidak dapat ditemui di ibukota. Penyegaran ini guna persiapan untuk mengerahkan fikiran untuk mengolah data berikutnya. Rupanya teman kami di transek lain, ada yang menemukan sedikit individu, bahkan ada yang “panen” berjumpa dengan banyak individu dari beragam jenis primata, mulai dari Owa Jawa, Lutung Budeng, Rekrekan hingga Monyet Ekor panjang. Kemudian sesi tanya-jawab dan diskusi pun berjalan seru, berbagi pengalaman di lapang dan menambah wawasan dari tiap jawaban yang diberikan oleh pemateri dari Swaraowa, mas Wawan.
metode vocal-triangulasi untuk survey Owa

Malamnya dilanjutkan dengan briefing kembali, persiapan pengaplikasian dengan teknik yang berbeda. Kali ini kami mencoba menggunakan teknik triangulasi-Vocal Count. Tujuan metode ini menyerupai dengan teknik sebelumnya, yakni untuk mengetahui estimasi kepadatan populasi berdasarkan jumlah kelompok yang terdeteksi. Akan tetapi, survei populasi dengan teknik ini termasuk indirect survey/survei tidak langsung, sebab kita hanya menduga kepadatan berdasarkan asumsi keberadaan kelompok primata yang diwakili oleh vokalisasi satu individunya (biasanya betina, terkadang pula jantan, namun Owa Jawa tidak seperti owa lainnya yang melakukan duet, kecuali dia dan Siamang Kerdil/Hylobates klossii. Perlu dicatat pula, metode ini hanya berlaku pada objek yang telah diketahui pola perilaku bersuaranya. Bila proyeksi line-transect berbentuk persegi panjang, namun dalam triangulasi-vocal count diproyeksikan menjadi lingkaran.

Sebelum melakukan pengambilan data, hal yang perlu dicari ialah pos pendengaran/Listening-Post (Lps). Minimal pos yang dibutuhkan sebanyak 3 pos, dengan jarak antar masing-masing pos sekitar 0,3 km  >1 km. Adapun penentuan pos ini mempertimbangkan faktor topografi, potensi gangguan pendengaran, informasi awal spesies objek dan pengamat/pendengar itu sendiri.

Cara pengambilan datanya dengan para pengamat telah menempati masing-masing pos dengan waktu awal yang telah diseragamkan dan mencatat seluruh suara yang terdengar dari objek (primata, Owa). Ketika terdengar suara Owa, pengamat menembakkan sudut arah sumber suara, kemudian mengestimasikan jarak antara sumber ke pos pendengarannya, lalu mengkonfirmasikan kepada pos lain (dengan menggunakan komunikasi jarak jauh, ponsel, handy talky dsb.). Data yang benar-benar dipakai saat pengolahan data ialah data yang telah dikonfirmasi dari pos lain dan menunjukkan ke titik arah yang sama, sehingga diketahui lah titik temu/koordinat dari objek tersebut. Maka densitas adalah jumlah grup yang terdengar (n) per luas area/lingkaran yang telah dikalikan terlebih dahulu dengan konstanta probability calling (pm). Pm diperoleh dari survei awal, menghitung kemungkinan bersuara owa dalam periode waktu tertentu,  dimana nilainya 0 < pm < 1. Adapun persamaan matematisnya ialah:

D = n/(A (pm))
pm = n/H × 100%; dan 0 <; < 1,
nilai pm yang kita gunakan disini adalah 0.85

Sabtunya ,kami memparaktikan teknik ini. Kini, kami bergiliran menempati titik di jalur Rumah Pohon sebagai pos pendengaran kelompok kami. Pengamatan serentak dimulai di masing-masing pos pada jam 6 pagi dan berakhir bersamaan pada jam 9 pagi. Saat masih awal-awal terdegara banyak sekali suara dari berbagai sumber arah, akan tetapi semakin siang suasananya semakin sepi. Hanya saja kendala terjadi karena kebingungan menentukan sudut arah sumber suara, mengestimasikannya dan gangguan dari suara lain (seperti suara tonggeret, burung, bahkan mobil ambulans yang hampir membuat kami keliru.

Bagi orang yang biasa jalan jauh, mungkin teknik ini adalah tantangan tersendiri, karena kita harus dituntut diam dan menyimak dengan seksama pada titik yang telah ditentukan. Namun rupanya keunggulan dari teknik ini ialah mampu memberikan gambaran sebaran kelompok dalam waktu yang singkat. Namun kelemahannya kurang mampu memberikan informasi yang lebih detail terkait ukuran dan komposisi suatu populasi, dan perlu peninjauan kembali (validasi dengan teknik line-transect).

Setelah kami melaksanakan dan kembali ke rumah, kami langsung mendiskusikannya. Banyak ilmu baru dan wawasan menarik dari hasil sesi diskusi & sharing. Selanjutnya ada pemaparan materi & berbagi pengalaman dari dua pemateri undangan pelatihan kali ini, yakni ada Dr. Bosco Chan dari LSM yang berbasis di China Kadoorie Farm Botany Garden,dan ada Mbak Dwi Yandhi yang berasal dari Sulawesi, Macaca Nigra Project.
Dr.Bosco presentasi tentang upaya pelestarian Owa di P.Hainan Hongkong, China

Dr. Boscho mempresentasikan kerjanya, terutama kini menangani primata sekaligus mamalia terlangka di dunia, yakni Owa Hainan (Nomascus hainanus) yang endemic di satu lokasi Pulau Hainan. Beliau mencertitakan pengalamannya, upayanya hingga kendala-kendalanya saat itu kala mengetahui owa ini hanya tersisa beberapa indiviu, bahkan jumlah populasi global pernah mencapai hitungan jari saja! Setelah riset & observasi intensif, rupanya populasi ini menunjukkan tren kenaikkan ukuran populasinya.
mbak Yandhi presentasi tentang Macaca Nigra

Sedangkan mbak Yandhi, berbagi pengalaman selama 5 tahun terakhir hingga sekarang di Macaca Nigra Project (MNP). Pengalaman unik & menegangkannys, menghadapi tekanan masyarakat yg amat kuat hingga pemekaran ranah, yang tadinya hanya berfokus pada penelitian, kini MNP pun merambah ke dunia konservasi dan edukasi lingkungan dan juga pemberian wawasan dari segi edukasi.

Setelah sesi sharing berakhir, rupanya itu pun sesi terakhir, penutup agenda Pelatihan Metode Survei Primata. Tentunya diakhiri dengan sesi dokumentasi penutup acara. Pengabadian momen bersama, berfoto & bercanda setelah itu. Oh sungguh indah suasana ini, pengalaman yang tak terlupakan dan mendapatkan ilmu yang sangat bermanfaat. Tentunya, teman baru & relasi baru pun terjalin setelah pelatihan ini usai .
Foto bersama peserta, pemateri dan panitia MSP 2018

Terima Kasih banyak kepada KP3 Primata UGM sebagai penyelenggara acara, mas Wawan Swaraowa sebagai tuan rumah, dan pemateri undangan Mr. Bosco & mbak Yandhi yang telah meluangkan waktunya untuk berbagi pengalaman & semangatnya kepada para peserta.

Salam Lestari, Salam Konservasi.

Tuesday, October 17, 2017

Pelatihan metode survey primata, hutan Sokokembang.

Foto bersama seluruh Peserta 

Habitat Owa jawa , hutan Sokokembang minggu ini menerima tamu-tamu  istimewa, anak-anak muda yang begitu antusiast untuk datang, belajar, berbagi pengalaman dan berjejaring untuk pelestarian primata di habitat aslinya . Pelatihan metode survey primata yang ke-5, dilaksanakan tanggal 13-15 Oktober 2017.  Kegiatan yang menjadi agenda tahunan yang telah dilakukan sejak tahun 2013. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mendorong munculnya peneliti primata atau pegiat konservasi  primata dari generasi muda, Meningkatkan kemampuan teknis dan pengetahuan tentang primata,  dan mendorong munculnya jejaring peneliti atau pegiat konservasi primata di wilayah habitat asli primata yang terancam punah.
acara bertempat di Pendopo Kopi Owa

Bertempat di rumah Kopi Owa di dusun Sokokembang, Kayupuring, Kecamatan Petungkriono , secara khusus 22 peserta di berbagai institusi mewakili organisasi mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat, kelompok pecinta alam, dan perwakilan dari BKSDA dan Perhutani di wilayah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, hadir untuk mengkuti rangkaian acara Pelatihan Metode Survey Primata 2017.
Pengamatan langsung di hutan

Selama 3 hari peserta di kenalkan dengan dasar-dasar teknik survey primata, yang diperkenalkan oleh tim SwaraOwa, tidak hanya dasar teori tapi juga langsung praktek di lapangan. Ada dua metode dasar yang di perkenalkan untuk survey primata, yaitu line transect dan metode vocal count-triangulation yang khusus di gunakan untuk estimasi populasi Owa Jawa. Dasar teori di berikan di awal acara dan kemudian esok harinya di praktekkan secara langsung di lapangan, termasuk bagaimana menganalisis data yang di peroleh.
Metode line transect diterapkan untuk mengestimasi populasi  primata secara langsung, dengan menggunakan jalur-jalur monitoring yang telah di persiapkan. Metode suara atau vocal count-triangulasi diterapkan berdasar Listening post (LPS) yang juga telah di persiapkan.

Jalur transek yang telah disiapkan
peserta di bagi dalam kelompok kecil untuk data collecting

Dalam kegiatan ini juga turut kita undang 3 pembicara yang berbagi pengalaman tentang penelitian dan konservasi Primata di tempat lain. Rahayu Octaviani dari Pusat penelitian dan konservasi Owa jawa di Gunung Halimun Salak, berkisah tentang kegiatan penelitian perilaku dan upaya pelestarian Owa Jawa. Penelitian sejak tahun 2007 di wilayah hutan Citalahab memberikan gambaran yang jelas tentang perkembangan perilaku dan populasi Owa jawa.
Rahayu Octaviani presentasi tentang Owa Jawa di Citalahab

Pembicara kedua yang kita datangkan di acara pelatihan ini adalah Nur Aolia coordinator program rehabilitasi Orangutan Yayasan Jejak Pulang, Kalimantan Timur. Aolia memaparkan ancaman kepunahan orangutan akibat hilangnya hutan dan perburuan. Banyak orangutan kemudian di”manusiakan”. Kegiatan rehabilitiasi yang mencoba menghutankan kembali orangutan, menjadi pengalaman yang berbeda bagi peserta.
Aolia presentasi tentang Orangutan

Ada satu pembicara yang di undang di acara ini adalah Andie Ang dari Singapura yang menceritakan pengalamannya membangun upaya konservasi dan penelitian monyet daun singapura (Raffless banded langur)-Presbytis femoralis. Penelitian DNA  untuk pelestarian primata di Singapura menjadi contoh yang menarik untuk melestarikan primata dengan melibatkan teknologi dan ilmu pengetahuan modern.  Kegiatan citizen science  yang di inisiasi untuk warga singapura memberikan hasil positif untuk meningkatkan kesadaran konservasi untuk primata yang terancam punah di Singapura.
Andie Ang dengan Raffles Banded Langur

Acara ini terselenggara melalui kegiatan "Kopi dan Konservasi Primata 2017, atas kerjasama dengan Kelompok Studi dan Pemerhati Primata Fakultas Kehutanan UGM di dukung oleh SwaraOwa, Fortwayne children zoo, Ostrava Zoo, dan Wildlife reserve Singapore.




Tuesday, October 27, 2015

Pelatihan Metode survey Primata : Jalur khusus melestarikan Primata Indonesia

Di tulis oleh : 
Novia Rachmawati  (email : srikandinovia@gmail.com) dan Tungga Dewi H.P (tdhp25@gmail.com)
Peserta Pelatihan Survey Primata 2015

Perkenalkan kami Novia dan Tungga. Kali ini kami di berikesempatan untuk menulis di blog SwaraOwa, dan berkontribusi dalam kegiatan “Coffee and Primate Conservation Project 2015”-(CPCP 2015).  
Kuranglebih bulan Mei 2015, dari CPCP mengontak kami sebagai kelompok studi primata yang aktif di Fakultas Kehutanan UGM, untuk belajar bersama tentang primata Indonesia khususnya Owa Jawa, dan  menceritakan bahwa ada kegiatan tahunan yang tahun ini akan di lakukan terkait proyek konservasi owa di Jawa Tengah. Kami dan teman-teman menyambut baik ide ini dan akhirnya bersama teman-teman di KP3 Primata berdiskusi panjang tentang teknis pelaksanaan kegiatan ini.
Tujuan kegiatan ini adalah untuk melestarikan habitat Owa Jawa yang ada di bagian barat Pegunungan Dieng hususnya yang masuk di wilayah Kabupaten Pekalongan, Kecamatan Petungkriyono melalui penelitian, dan keterlibatan komunitas lokal. Kami akan mendorong peneliti-peneliti muda dan pegiat konservasi melalui pelatihan dan praktek lapangan. Diharapkan, kegiatan ini dapat mendorong munculnya peneliti-peneliti muda di wilayah habitat primata dan sekaligus membangun jaringan pegiat pelestari primata di Indonesia pada umumnya.
Kegiatan pelatihan metode survey primata dilaksanakan pada tanggal 14-16 September 2015 yang diikuti oleh 23 peserta. Peserta yang datang berasal dari UNS, UNY, UGM, AMIKOM Purwokerto, UNNAS, UNSOED, IAR, BKSDA dan Perhutani. Pembicara yang datang berasal dari IAR (mbak Winar), dari PERHAPPI  (Mbak Ike). Mayoritas peserta berasal dari Fakultas Biologi. Para peserta dan panitia menginap di rumah Pak Tasuri, dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono
hutan habitat Primata di Sokokembang
 Kegiatan pada hari pertama dimulai pada malam hari dengan pematerian tentang metode line transect dan pengamatan satwa nocturnal. Keesokan harinya, peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk mempraktikkan metode line transect. Saat sore hari, data yang telah di dapat oleh para peserta di analisis yang dipandu langsung oleh mas wawan. Selain analisis data juga dilakukan evaluasi mengenai kegiatan pengamatan line transect. Tiap kelompok menceritakan hasil dari pengamatan dengan metode line transect dan dilanjutkan dengan pemberian materi dari Mbak Ike. Setelah Ishoma dilanjutkan dengan pemberian materi vocal count oleh Mas Wawan lalu dilanjutkan dengan pengamatan satwa nocturnal disekitar jalan Desa Sokokembang.

praktek pengambilan data Linetransect

Vocal count digunakan untuk mengetahui jumlah kelompok Owa Jawa yang ada di Hutan Lindung Petungkriyono. Pengambilan data vocal count harus dilakukan pagi-pagi yaitu pada pukul 5-9 pagi saja, karena Owa Jawa paling aktif bersuara pada waktu tersebut. Semua peserta dan pemateri ikut mengamati Owa Jawa dan dipandu oleh Mbak Maida ( Mahasiswa UNJ yang sedang mengambil data skripsi tentang perbedaan suara tiap kelompok Owa Jawa), mbak Lia yang dulu juga mengambil data skripsi owa jawa dengan metode vocal count.
Setelah pengambilan data, semua peserta dan pemateri kembali ke rumah Pak Tasuri untuk sarapan dan packing. Setelah sarapan, dilakukan analisis dan evaluasi mengenai pengamatan Owa Jawa dengan metode Vocal count. Pada pukul 12.00 WIB dilakukan penutupan acara dan setelah itu semua peserta diantarkan pulang oleh panitia.
group diskusi, analisis data line transect

Banyak hal yang berkesan selama mengikuti acara ini, mulai dari perjalanan menuju petungkriyono yang cukup panjang, bertemu teman-teman dari berbagai universitas, berbagi cerita tentang kegiatan apa saja yang ada di fakultas mereka, ingin skripsi dengan tema apa dan kebersamaan selama acara berlangsung, menikmati hidup tanpa adanya listrik dan susahnya mencari sinyal serta melihat kondisi ekosistem hutan lindung yang masih sangat bagus. Banyak ilmu yang kami dapat dari acara ini, mulai dari metode apa saja yang digunakan untuk pengamatan satwa khususnya primata, pengalaman para peserta dan pemateri  dan juga cara membuat kopi yang enak.
nyeduh kopi Owa menjadi acara tambahan

Oh ya, kegiatan ini selain jadi agenda tahunan pelestarian Owa Jawa di Jawa Tengah, juga telah di dukung oleh beberapa lembaga konservasi internasional, diantarana Fortwayne Children's Zoo, Wildlife Reserve Singapore dan Ostrava Zoo. Terimakasih untuk semua yang telah terlibat.

Thursday, August 20, 2015

Pelatihan Metode Survei Primata Hutan Sokokembang, 14-16 September 2015


Latar Belakang
Kawasan hutan alam di Jawa Tengah adalah habitat primata endemik Jawa, salah satunya adalah Owa Jawa (Hylobates moloch) yang terletak di luar kawasan konservasi dan telah terfragmentasi. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melestarikan populasi Owa Jawa dan habitatnya, sebagai bentuk kontribusi terhadap rencana aksi Owa Jawa tahun 2012 hingga tahun 2021 mendatang. Tujuan khususnya adalah untuk melestarikan habitat Owa Jawa yang ada di bagian barat Pegunungan Dieng, melalui penelitian, penegakan hukum dan keterlibatan komunitas lokal. Kami akan mendorong peneliti-peneliti muda dan conservasionist melalui pelatihan dan praktek lapangan, peningkatan kegiatan penegakan hukum dan pengembangan dan pemberdayaan komunitas lokal berbasis pertanian kopi di Dusun Sokokembang, Pekalongan. Salah satu pelatihan yang perlu dilakukan adalah pelatihan survei primata dengan materi diskusi metode-metode yang digunakan serta praktek langsung di lapangan, misalnya line transect dan point count, serta analisis data yang memungkinkan dilakukan dari metode yang digunakan. Pelatihan ini merupakan kegiatan tahunan yang telah dilakukan sejak tahun 2013 dan tahun ini merupakan pelatihan yang ke-3, yang dilaksanakan oleh KP3 Primata Fakultas Kehutanan UGM yang bekerjasama dengan “Coffee and Primate Conservation Project-Yogyakarta Primate Study Club. Peningkatan kerjasama antara pelaku konservasi di Jawa Tengah, baik yang terlibat langsung maupun tidak akan menjadi langkah berikutnya setelah dilaksanakannya pelatihan. Melalui proses diskusi dalam acara pelatihan, diharapkan adanya kesepakatan mengenai metode yang tepat digunakan di kawasan hutan alam Jawa Tengah, sehingga hasil penelitian yang dilakukan oleh berbagai pihak dapat diintegrasikan untuk kepentingan bersama nantinya.

Tujuan
1.    Mendorong munculnya peneliti primata dari generasi muda.
2.    Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan teknis para peneliti terkait metodologi survei primata.
3.    Mendorong jejaring dan kerjasama antar peneliti primata terutama di tingkat lokal Jawa Tengah.

Lokasi dan Waktu Pelatihan
Pelatihan ini akan dilakukan pada tanggal 14 – 16 September 2015 di Dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan dan Hutan Lindung Petungkriyono, Perhutani KPH Pekalongan Timur.

Peserta
Mahasiswa perguruan tinggi, praktisi, dan perwakilan instansi di bidang Kehutanan di wilayah Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta.

Pemateri
1. Arif Setiawan,  (Coffee and Primate Conservation Project)
2. Ike Naya Naya Silana  (Perhimpunan Ahli dan Pemerhati Primata Indonesia) 

3. Indah Winarti  (IAR)

Kegiatan ini di dukung oleh :