Showing posts with label Hylobates moloch. Show all posts
Showing posts with label Hylobates moloch. Show all posts

Saturday, December 9, 2017

#primatajawa


Mengajak anda mengenal dan melestarikan primata Jawa.  Lutung , Rekrekan, Owa, Kukang dan Monyet Ekor Panjang, itulah 5 jenis primata yang ada di Pulau Jawa hingga saat ini.  Tersebar mulai dari ujung barat pulau jawa hingga ujung timur Pulau Jawa. Rekrekan dan Owa hanya terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Di Jawa barat Rekrekan di kenal dengna nama Surili. Monyet ekor panjang adalah yang paling luas sebarannya, dan dapat beradaptasi dengan kondisi habitat mulai dari pantai , sampai pegunungan, bahkan di tengah kota.  Owa, jenis kera yang bergerak menggunakan lengan tangan, mempunyai suara yang khas dipagi hari, adalah satu-satunya jenis kera yang ada di Jawa. Hutan yang masih alami adalah tempat hidupnya,pemakan buah . Kukang adalah satu satunya primata (nocturnal) malam di jawa.

Primata-primata  ini terancam punah karena, hilangnya habitat aslinya, perambahan hutan, dan perburuan. Kukang hingga saat ini termasuk  salah satu  dari 25 primata dunia yang paling terancam punah. Owa, dan Rekrekan statusnya terancam punah (endangered) , Lutung masuk dalam kategori rentan (Vulnerable).

Kami mengajak anda untuk mengenal dan melestarikan primata-primata jawa, banyak nilai penting mereka di alam, untuk penelitian, edukasi, rekreasi, dan tentunya juga identitas kita di komunitas global, karena tidak di jumpai di negara lain selain di Pulau Jawa.

Sebagai salah satu bagian dari kegiatan Kopi dan Konservasi  Primata tahun 2017, kami membuat poster primata jawa,  poster ini di buat untuk khalayak umum sekaligus untuk membantu mengenalkan dan mendorong upaya pelestarian primata di Jawa. 

Untuk masyarakat umum, poster ini dapat  anda dapatkan ketika anda berkontribusi melalui program “#primatajawa ” dengan  membeli produk-produk konservasi yang berkelanjutan yang terkait dengan kegiatan  “Kopi dan Konservasi Primata “ , melalui akun media sosial @swaraOwa., dan email: swarowa@gmail.com ; http://swaraowa.com/sustainable-products/   atau mengunjungi workshop SwaraOwa,   lokasi : https://goo.gl/maps/Uy6ZnkG5Uow

Anda dapat berkunjung di habitat primata Jawa secara langsung di Omah kopi owa, ds. Sokokembang, Kecamatan Petungkriyono dan Welo Asri di desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan dengan belanja produk-produk dari habitat asli berupa, kopi, gula aren, madu, t-shirt dengan minimal belanja Rp 85.000,00 (Delapan puluh lima ribu rupiah) anda akan mendapatkan 1 poster.

Poster ini juga akan  di berikan secara cuma-cuma/gratis bagi sekolah, kelompok studi, atau komunitas,  yang tertarik untuk mengenalkan dan mengarus utamakan pelestarian  primata Jawa. silahkan hubungi kami di : swaraowa@gmail.com


Ikuti terus perkembangan kegiatan ini dengan taggar #primatajawa di blog www.swaraowa.blogspot.com; www.swaraowa.com; dan akun sosial media kami IG/twitter/FB/Soundcloud @swaraowa

Kegiatan untuk #primataJawa ini berlaku mulai tanggal 15 Desember 2017 hingga 15 Januari 2018

Tuesday, July 19, 2016

Owa Jawa : Sinden Gunung Negeri Atas Awan (bagian 2)

di tulis oleh : Salmah Widyastuti
e-mail: salmah.w@mail.ugm.ac.id

 Ds.Tlogohendro

Pagi itu, 4 Juni 2016, pagi-pagi sekali kami ditemani salah satu warga habitat Owa,  berangkat menuju Desa Tlogohendro, Petungkriyono, untuk kembali melakukan survei populasi owa jawa di hutan Tlogohendro.  Survei lanjutan kali ini bertujuan untuk mengetahui jumlah rata-rata individu  owa jawa dalam satu kelompok atau group size, yang menghuni hutan negri di atas awan ini. Sebelum langsung terjun ke hutan, terlebih dahulu kami konfirmasi lokasi keberadaan kelompok-kelompok owa jawa lewat arah terdengarnya suara nyanyiannya. Namun hingga pukul 09.00 tak satu pun suara nyanyian sang sinden terdengar. Hal ini memang sering terjadi, karena nilai probabilitas owa bersuara yaitu di bawah satu, yaitu berkisar 0,85-1 (Brockleman and Ali, 1987). Artinya tidak setiap hari owa bersuara. Akhirnya kami langsung bergerak menuju hutan di sebelah utara Desa Tlogohendro berdasarkan data yang diperoleh pada survei beberapa bulan lalu. Melewati medan yang sulit, menaiki bukit, kemudian turun menyebrang sungai, dan kembali naik, berjalan perlahan menyusuri hutan dengan pepohonan menjulang kami berharap menjumpai kelompok owa jawa. Namun yang muncul hanya sepasang burung rangkong dari sarangnya di ketinggian pohon yang menjulang. Tak satu pun kelompok owa jawa yang menunjukan atraksinya pada kami di hari yang cerah itu.
Mencari kelompok Owa

Medan di hutan yang terletak di dataran tinggi ini memang berbeda dengan hutan lain yang berada di bawah 1000 mdpl yang terdapat di Petungkriyono. Kemungkinan butuh berhari-hari di dalam hutan Tlogohendro bila ingin menemukan kelompok owa jawa. Peluang untuk dapat berjumpa dengan kelompok owa jawa di hutan Tlogohendro ini kecil, karena besar populasi owa jawa di hutan dataran tinggi ini memang relatif rendah. Estimasi besar populasi owa jawa di hutan ini menggunakan metode vocal count yaitu 0,51 kelompok/km2 (radius efektif pendengaran= 0,7 km). Rendahnya populasi owa jawa di hutan ini dapat disebabkan karena letak hutan yang memasuki ketinggian diatas 1000 mdpl, dimana vegetasinya sudah tidak sebagus vegetasi di dataran rendah, keanekaragaman jenis penyusun vegetasinya mulai berkurang dan potensi sumber pakan bagi owa jawa juga berkurang.
Tetaplah terus bernyanyi menemani aktivitas warga Tlogohendro di pagi hari, dan mewarnai hutan negeri di atas awan .


Owa Jawa (Hylobates moloch)

Tuesday, October 27, 2015

Pelatihan Metode survey Primata : Jalur khusus melestarikan Primata Indonesia

Di tulis oleh : 
Novia Rachmawati  (email : srikandinovia@gmail.com) dan Tungga Dewi H.P (tdhp25@gmail.com)
Peserta Pelatihan Survey Primata 2015

Perkenalkan kami Novia dan Tungga. Kali ini kami di berikesempatan untuk menulis di blog SwaraOwa, dan berkontribusi dalam kegiatan “Coffee and Primate Conservation Project 2015”-(CPCP 2015).  
Kuranglebih bulan Mei 2015, dari CPCP mengontak kami sebagai kelompok studi primata yang aktif di Fakultas Kehutanan UGM, untuk belajar bersama tentang primata Indonesia khususnya Owa Jawa, dan  menceritakan bahwa ada kegiatan tahunan yang tahun ini akan di lakukan terkait proyek konservasi owa di Jawa Tengah. Kami dan teman-teman menyambut baik ide ini dan akhirnya bersama teman-teman di KP3 Primata berdiskusi panjang tentang teknis pelaksanaan kegiatan ini.
Tujuan kegiatan ini adalah untuk melestarikan habitat Owa Jawa yang ada di bagian barat Pegunungan Dieng hususnya yang masuk di wilayah Kabupaten Pekalongan, Kecamatan Petungkriyono melalui penelitian, dan keterlibatan komunitas lokal. Kami akan mendorong peneliti-peneliti muda dan pegiat konservasi melalui pelatihan dan praktek lapangan. Diharapkan, kegiatan ini dapat mendorong munculnya peneliti-peneliti muda di wilayah habitat primata dan sekaligus membangun jaringan pegiat pelestari primata di Indonesia pada umumnya.
Kegiatan pelatihan metode survey primata dilaksanakan pada tanggal 14-16 September 2015 yang diikuti oleh 23 peserta. Peserta yang datang berasal dari UNS, UNY, UGM, AMIKOM Purwokerto, UNNAS, UNSOED, IAR, BKSDA dan Perhutani. Pembicara yang datang berasal dari IAR (mbak Winar), dari PERHAPPI  (Mbak Ike). Mayoritas peserta berasal dari Fakultas Biologi. Para peserta dan panitia menginap di rumah Pak Tasuri, dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono
hutan habitat Primata di Sokokembang
 Kegiatan pada hari pertama dimulai pada malam hari dengan pematerian tentang metode line transect dan pengamatan satwa nocturnal. Keesokan harinya, peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk mempraktikkan metode line transect. Saat sore hari, data yang telah di dapat oleh para peserta di analisis yang dipandu langsung oleh mas wawan. Selain analisis data juga dilakukan evaluasi mengenai kegiatan pengamatan line transect. Tiap kelompok menceritakan hasil dari pengamatan dengan metode line transect dan dilanjutkan dengan pemberian materi dari Mbak Ike. Setelah Ishoma dilanjutkan dengan pemberian materi vocal count oleh Mas Wawan lalu dilanjutkan dengan pengamatan satwa nocturnal disekitar jalan Desa Sokokembang.

praktek pengambilan data Linetransect

Vocal count digunakan untuk mengetahui jumlah kelompok Owa Jawa yang ada di Hutan Lindung Petungkriyono. Pengambilan data vocal count harus dilakukan pagi-pagi yaitu pada pukul 5-9 pagi saja, karena Owa Jawa paling aktif bersuara pada waktu tersebut. Semua peserta dan pemateri ikut mengamati Owa Jawa dan dipandu oleh Mbak Maida ( Mahasiswa UNJ yang sedang mengambil data skripsi tentang perbedaan suara tiap kelompok Owa Jawa), mbak Lia yang dulu juga mengambil data skripsi owa jawa dengan metode vocal count.
Setelah pengambilan data, semua peserta dan pemateri kembali ke rumah Pak Tasuri untuk sarapan dan packing. Setelah sarapan, dilakukan analisis dan evaluasi mengenai pengamatan Owa Jawa dengan metode Vocal count. Pada pukul 12.00 WIB dilakukan penutupan acara dan setelah itu semua peserta diantarkan pulang oleh panitia.
group diskusi, analisis data line transect

Banyak hal yang berkesan selama mengikuti acara ini, mulai dari perjalanan menuju petungkriyono yang cukup panjang, bertemu teman-teman dari berbagai universitas, berbagi cerita tentang kegiatan apa saja yang ada di fakultas mereka, ingin skripsi dengan tema apa dan kebersamaan selama acara berlangsung, menikmati hidup tanpa adanya listrik dan susahnya mencari sinyal serta melihat kondisi ekosistem hutan lindung yang masih sangat bagus. Banyak ilmu yang kami dapat dari acara ini, mulai dari metode apa saja yang digunakan untuk pengamatan satwa khususnya primata, pengalaman para peserta dan pemateri  dan juga cara membuat kopi yang enak.
nyeduh kopi Owa menjadi acara tambahan

Oh ya, kegiatan ini selain jadi agenda tahunan pelestarian Owa Jawa di Jawa Tengah, juga telah di dukung oleh beberapa lembaga konservasi internasional, diantarana Fortwayne Children's Zoo, Wildlife Reserve Singapore dan Ostrava Zoo. Terimakasih untuk semua yang telah terlibat.

Wednesday, September 10, 2014

Coffee and Primate Conservation


Central Java, Indonesia, forest fragmentation and degradation in the gibbon’s habitat is the main problems, due to economic problems, people near by the forest encroaching the forest for their income. Coffee is one of the commodities in Petungkriono district, however the value coffee is very low and doesn’t have any additional value towards farmer near by the forest. Forest-Coffee , its shade grown coffee planted by villagers in Sokokembang village, people planted coffee under natural shade of forest trees where Javan gibbon and other javan endemic primates lived there naturally. It has been practiced since many years ago by villagers. These coffees are grown in the wild and processed traditionally by villagers at Sokokembang. Coffee production techniques in Sokokembang that preserve natural trees as shade trees, have important consequence for conservation of Javan gibbon habitat and other endemic species.

 In this project we have been  doing  scientific research and conservation awareness activities combine with community empowerment to conserve Javan gibbon (Hylobates moloch) and its habitat in Petungkriono district, Pekalongan regency, especially Sokokembang village for pilot project. We have bee enhance economic value of forest coffee through building capacity of coffee farmer, enhance their knowledge on coffee processing and develop coffee and conservation marketing strategy.

We have been work since 2007 with people of javan gibbon habitat ( read reports and publications) for primate ecological study, and intensively work with community in 2012, some result showed that rain forest products are soo precious as we thought before, and its really important to support people livelihood surrounding the forest, indeed. However some of them need to be enhanced for the quality, offcourse we have to assist to penetrate the market too. We have already some rainforest products, such as shade grown coffee, palm sugar, and fruity-forest syrup. As sustainable rule that we have been applied, all the profits from the products will go directly to support endangered primates conservation activities and forest coffee farmers as well in this region. These products can be purchased by order to our emails : c.nur.annisa (at) gmail.com; wawan5361 (at)gmail.com

Sunday, July 20, 2014

Javan gibbon ecological study and Monitoring,in Sokokembang forest.

recording the gibbon calls

A longterm study about Javan gibbon and its ecology we called “Javan gibbon remote monitoring network” have been initiated in Sokokembang forest, Central Java, Indonesia. The Javan gibbon with their unique behavior have been studied, by its calling behavior for population monitoring. The specific aim is to provide scientific information on Javan gibbon acoustic behavior,  to know their population dynamic and we will use this result to raise conservation awareness,  broadcast the recorded calls  and other  rainforest  sound recording to world wide through the website.

Starting at March 2014 we have set a tree house for javan gibbon monitoring, and monitoring activities conducted monthly in four consecutive days. Set of directional microphone and smartphone have been used to record calling of the gibbon. Here for example of the result :


recording equipments

Tuesday, June 10, 2014

Javan Gibbon on the Radio

Even people of Pekalogan, there are still some of them not know their own forest and unique primate, such as Javan silvery gibbon, which can be found nowhere else on earth. Sokokembang forest is located about one and half hours from the city of Pekalongan. its located in the mountainous area and Pekalongan city located along the coastline of north Java sea. However, mountainous area in Petungkriono district, that also habitat of Javan gibbon actually is critically important for Pekalongan city, where this mountain as watercatchment areas from all the rivers streaming down through Pekalongan. We have initiated a public campaing to introduce Javan gibbon and its conservation habitat in Sokokembang forest through a radio program. The aim is to promote and raising conservation awareness of an endemic primates of Pekalongan regency .

Collaborate with local radio “Radio Kota Batik” in Pekalongan, series of talkshow was succeed to be done at 24 April, 8 May , 22 May and 5 June 2014. We use this program not only to introduce our Primate Study Club but also more important to share information about our activities and to promote conservation of endangered primate which still exist in Pekalongan regency, that actually need more attention from people of Pekalongan themselves.
Agnes (our team member) have been on aired talk about Javan gibbon conservation activities.