Showing posts with label lutung. Show all posts
Showing posts with label lutung. Show all posts

Tuesday, October 17, 2023

LUTUNG JAWA, PRIMATA ENDEMIK DI RIMBA SOKOKEMBANG

oleh : Intan Rachmadanti Al-Huda













Saya mahasiswi  program studi  Kehutanan, Unversitas Sebelas Maret Surakarta, salah satu penerima beasiswa swaraowa, untuk tujuan penelitian Lutung Jawa. Pengamatan  lapangan telah dilakukan pada Bulan Mei hingga Bulan Juni 2023, Kami mengamati populasi dan persebaran lutung jawa di hutan Sokokembang, Petungkriyono, Pekalongan. Lutung jawa (Trachypithecus auratus) merupakan satwa endemik Pulau Jawa dan Bali yang populasinya semakin menurun dalam 36 tahun terakhir. 

Lutung jawa termasuk dalam primata dilindungi yang hidup secara berkelompok. Berdasarkan International Unioun for Corservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Red List 2021 lutung jawa termasuk dalam kategori Vulnerable atau rentan. Sedangkan menurut CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), lutung jawa termasuk kategori Appendix II. 













Kami melakukan pengamatan pada pagi dan sore hari pada jam aktif lutung jawa. Selama pengamatan, kami mengamati sebanyak 11 kelompok lutung jawa dengan jumlah individu sebanyak kurang lebih 100 individu lutung jawa yang tersebar di hutan Sokokembang. Tidak hanya lutung jawa, kami juga bertemu berbagai jenis satwa lainnya selama pengamatan. Surili (Presbitys fredericae), owa jawa (Hylobates moloch), dan Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) adalah jenis primata selain lutung jawa yang kami temukan di hutan Sokokembang. Selain primata terdapat pula beberapa jenis satwa lain yang seperti elang jawa (Nisaetus bartelsi), julang emas (Rhyticros undulatus), babi hutan (Sus scrofa), dan kijang (Muntiacus muntjak). Pada saat pengamatan lutung jawa, kami juga menemukan jejak kaki mamalia yang diduga merupakan macan tutul jawa (Panthera pardus melas). 

Setiap kelompok lutung jawa umumnya terdiri atas individu dewasa, remaja, dan anak. Individu anak lutung jawa yang baru lahir memiliki rambut berwarna orange yang sangat berbeda dengan lutung jawa dewasa yang memiliki warna rambut hitam. Pada saat pengamatan, terdapat beberapa individu lutung jawa berwarna orange yang sedang dalam gendongan induknya. selain itu juga terdapat individu anak yang telah berubah warna menjadi hitam yang juga teramati sedang bersama induknya. Warna orange ini pada bayi lutung terkait dengan pola asuh allomothering, dimana semua individu dewasa berperan sebagai induk pengasuh dan penjaga untuk bayi yang masih rentan, warna yang mencolok akan menarik perhatian individu lutung dewasa lainnya dalam satu kelompok untuk menaruh perhatian kepada bayi lutung. Pada pengamatan kali ini diketahui bahwa jumlah individu dewasa mendominasi struktur umur lutung jawa di hutan Sokokembang.













Kelompok lutung jawa bersifat uni-grup (one male and multi female) yaitu hanya terdapat satu individu jantan dewasa yang mendominasi dan memiliki tugas sebagai pemimpin kelompok dimana harus mengawasi, melindungi, dan memastikan anggota kelompoknya dalam keadaan aman. Oleh karena itu, lutung jawa termasuk satwa poligami karena jumlah betina lebih banyak dibandingkan dengan jumlah jantan dalam satu kelompok. Berdasarkan hasil pengamatan kami, lutung jawa di hutan Sokokembang terdiri atas 3 hingga 23 individu dalam setiap kelompok. Hal itu terjadi karena perbedaan kemampuan regenerasi setiap individu dan keberadaan predator yang berbeda pada setiap wilayah jelajah lutung jawa di hutan Sokokembang. 

Lutung jawa merupakan primata arboreal yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya dengan beraktivitas diatas pohon. Mulai dari aktivitas makan hingga aktivitas istirahat juga dilakukan diatas pohon.. Kami juga mengamati lutung jawa sedang melakukan aktivitas grooming diatas pohon. Grooming merupakan kegiatan mencari dan mengambil kotoran atau parasit dari permukaan kulit dan rambut.

Thursday, November 24, 2022

Urgensi Kanopi Hutan Bagi Primata Arboreal di Hutan Sokokembang

 oleh : M.Y . Khansa Kharismawan


Apa yang terbersit dalam benak anda ketika melihat beberapa foto diatas? Zebra cross sebagai jalur bagi pejalan kaki menyeberang atau Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang jalurnya terpisah dengan ketinggian tertentu dengan kendaraan bermotor dibawahnya. Kedua gambar tersebut mengingatkan kita akan betapa pentingnya keamanan dan keselamatan pejalan kaki dalam beraktivitas di sekitar jalan raya. Pertanyaan muncul terkait gambar ketiga berupa ranting-ranting pepohonan dan korelasinya terhadap kedua gambar pertama. Apakah gambar ketiga merupakan kondisi hutan sebelum dibangun jalan raya dan segala fasilitasnya? Tentu tidak gambar tersebut merupakan salah satu kondisi kanopi di Hutan Petungkriyono, Pekalongan, Jawa Tengah. Tepat di bawahnya melintas Jalan Raya Doro-Pekalongan yang menjadi akses menuju berbagai ekowisata di area Hutan Petungkriyono. Ketika melewati jalan tersebut kita dapat melihat berbagai satwa liar beraktivitas di diantara kanopi contohnya adalah lutung jawa (Trachypithecus auratus) dan owa jawa (Hylobates moloch).

Kotoran Lutung dan Kotoran Owa
Lutung jawa dan owa jawa merupakan jemis primata arboreal yang menghabiskan sebagian besar waktu diantara pepohonan. Apa yang akan terjadi apabila konektivitas kanopi  disekitar jalan raya tidak lagi dapat digunakan lagi bagi kedua primata tersebut? Apakah mereka harus mencari konektivitas kanopi lain, turun ke jalan untuk berpindah habitat atau bahkan terisolasi. Walaupun keberadaan jalan tidak memutus konektivitas kanopi secara seluruhnya, pelebaran jalan dan pembangunan fasilitas untuk ekowisata di sekitar area jalan yang tidak berkelanjutan bagi primata arboreal dapat mengancam keselamatan mereka. Ancamannya antara lain tertabrak kendaraan yang melintas, predasi, tersengat aliran listrik, dan rentan tertular penyakit. Penularan penyakit pada primata yang turun ke jalan dan melakukan kontak dengan tanah adalah infeksi Soil-Transmitted Helminth (STH),  cacing dari golongan nematoda  usus yang sifatnya parasit yang siklus perkembangbiakannya melalui tanah. Parasit ini bisa menginfeksi primata-primata yang turun ketanah atau mempunyai potensi bersentuhan dengan permukaan tanah.

 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi infeksi STH pada lutung jawa dan owa jawa melalui sampel feses di Hutan Petungkriyono. Hasil yang diperoleh nantinya dapat digunakan digunakan sebagai data pembanding apabila konektivitas antar kanopi di sekitar area jalan semakin jauh dan kontak antara primata arboreal dengan STH semakin sering. Indikasi owa jawa menggunakan akses jalan untuk berpindah habitat belum ditemukan. Berbeda dengan lutung jawa yang memiliki kecenderungan untuk beraktivitas pada strata kanopi yang dekat dengan tanah ataupun diatas tanah. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya bangkai lutung jawa di pinggir jalan dimana tidak ditemukan aliran listrik di area yang sama. Kami menduga lutung jawa tersebut mati tertabrak kendaraan yang melintas. Hasil publikasi selengkapnya dapat dilihat di  https://smujo.id/biodiv/article/view/11023/6152

 

Friday, February 26, 2021

Rimba Sokokembang ,rumah Lutung jawa berkembang

 berita foto Oleh : Arif Setiawan ( a.setiawan@swaraowa.org)

1.  Lutung Jawa (Trachypithecus auratus), IUCN mengkategorikan status keterancamannya rentan ( Vulnerable), artinya 3 tingkat lagi menuju kepunahan, merupakan  jenis monyet pemakan daun, yang tersebar di Pulau Jawa di hutan Sokokembang, Desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tenah. Mereka   hidup berkelompok 2- 15 individu, dalam satu kelompok  terdapat 1 jantan dewasa dengan  beberapa  beberapa betina (polyginous). 

 


2.       Lutung jawa sering di jumpai di pohon-pohon tepi jalan di hutan menuju Petungkriyono. Meskipun penelitian populasi belum pernah dilakukan, menurut pengamatan tim swaraowa di sepanjang jalan menuju Petungkriyono ini di jumpai kurang lebih ada 6 kelompok Lutung yang sering muncul.

 


3.       Lutung jawa mempunyai anak yang bewarna orange , kemudian berubah menjadi hitam dalam waktu rata-rata 2,9 bulan (Trisilo et al, 2021). Warna orange ini memberi merupakan bentuk adaptasi dan evolusi dimana semua anggota Lutung jawa dalam kelompok akan mudah mengawasi dan melindungi bayi Lutung Jawa dari ancaman predator atau gangguan lainnya.

 


4.       Lutung Jawa bergerak dengan ke empat alat geraknya ( quadrupedal), dan memanfaatkan waktu hidupnya di atas pohon, dan sesekali turun ke tanah untuk mencari serangga dan sumbermakanan di strata bawah atau lantai hutan.

 


5.       Lutung jawa, termasuk primata dilindungi, berdasarkan UU no 5 Tahun 1990, tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan Permenhut no P.106 /MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. 


6.       Aktifitas harian lutung jawa, biasanya lebih banyak istirahat , karena mereka memerlukan waktu dan energy  untuk mencerna daun-daun yang susah di cerna. Pencernaan lutung jawa hampir menyerupai ruminant, lambung bersekat-sekat dengan bantuan bakteri pencernaan untuk mencerna daun-daun. Meskipun terlihat tidur rebahan di cabang pohon, Lutung -lutung ini sebenarnya sedang mencerna makanannya.

 


7.       Pengamatan bulan Februari 2021, kelompok lutung jawa hutan di hutan Sokokembang mencatat ada 6 betina menggendong bayi lutung, ada yang masih berwarna orange ada yang sudah berwarna hitam seperti induknya.

 




8.       Teramati 2 individu Lutung Jawa sedang grooming ,aktivitas sosial untuk membersihkan badan, memperkuat ikatan kelompok dan juga melepas ketegangan atau stress.

 


9.       Hutan petungkriyono, dengan kondisi yang relatif rapat merupakan kondisi yang diperlukan oleh lutung jawa untuk terus berkembang. Keberadaan lutung yang mudah di amati di pinggir jalan, tanpa merasa terganggu bisa menjadi atraksi wisata alam yang natural. Namun dengan tetap menjaga jarak tidak terlalu dekat, tidak memberi makan, dan juga tidak membuang sampah sembarangan.




Sunday, September 9, 2018

Penghuni Wana Wisata Kali Paingan : Lutung Jawa

Lutung jawa (Trachypithecus auratus) merupakan salah satu primata endemik yang dimiliki Indonesia. Primata ini adalah salah satu dari 40 jenis primata yang dapat ditemukan di Indonesia. Lutung jawa dapat ditemukan di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Lombok. Namun, sebagai salah satu satwa eksotis yang dimiliki negeri kita, kondisi lutung jawa berada pada titik rawan untuk menuju kepunahan. Dalam IUCN red list status konservasi lutung jawa berada pada tingkat “vulnerable” yang artinya lutung jawa memiliki kondisi rentan terhadapat kepunahan di habitatnya.

Lutung Jawa, Kali paingan, Linggo Asri.

Salah satu tempat kita dapat menemukan lutung jawa adalah di hutan yang berada di kawasan Wana Wisata Kalipaingan. Wana Wisata Kalipaingan sendiri berada di Kabupaten Pekalongan, Kecamatan Kajen, Desa Linggoasri. Untuk menemukan lutung jawa di lokasi ini cukup mudah, Biasanya pada pagi atau sore hari di sekitar resort wisata dapat dijumpai satu kelompok lutung yang bermain dan mencari makan di pepohonan di sekitar resort wisata. Dengan perjumpaan yang mudah apakah kondisi lutung jawa di Wana Wisata Kalipaingan berada dalam kondisi yang aman ?. Pertanyaan ini yang pertama kali muncul saat melihat lutung jawa begitu mudah ditemukan di kawasan wisata ini, mengingat kondisi lutung jawa sendiri yang semakin hari semakin terancam keberadaanya di alam.

Dalam 3 kali survei yang dilakuakan di dua jalur hutan sekitar Wana Wisata Kalipaingan ditemukan beberapa kelompok lutung jawa. Intensitas pertemuan dengan lutung termasuk cukup sering. Dalam jalur pengamtan dengan panjang 4 km dapat ditemukan 7 kelompok lutung jawa dengan pengulangan pengambilan data sebanyak 3 kali. Jumlah individu yang dapat teramati adalah 26.

(feeding time, lutung jawa sedang makan)

Meskipun intesitas pertemuan dengan lutung jawa di lokasi ini cukup sering, terdapat kerawanan terhadap kondisi habiatat lutung jawa di sekitar Wana Wisata Kalipaingan. Dalam survei yang dilakukan terhadap habitat lutung jawa terdapat perubahan fungsi hutan menjadi ladang perkebunan yang menyebabkan deforestasi dan fragmentasi. Hutan sekitar Wana Wisata Kalipaingan berada dekat dengan pemukiman masyarakat sehingga ada beberapa wilayah hutan yang dijadikan sebagai ladang atau kebun dengan cara membuka ladang baru di hutan. Perubahan fungsi ini membuat kondisi lutung jawa tidak aman. Faktor deforestasi hutan menjadi faktor selain perburuan yang dapat menurunkan populasi lutung jawa.

Meskipun perjumpaan lutung jawa di Wana Wisata Kalipaingan cukup sering namun, kondisi habitat lutung jawa di lokasi ini cukup mengkhawatirkan. Apabila tidak ada solusi terhadap perubahan tata fungsi hutan menjadi area ladang dan perkebunan hal ini dapat menurunkan populasi lutung jawa di sekitar Wana Wisata Kalipaingan. Sehingga perlu kerjasama antara pemerintah, masyarakat dan pemerhati primata agar kondisi habitat dan populasi lutung jawa bisa tetap dijaga.
Survey, ini merupakan bagian dari Kegiatan penelitian, dalam menempuh skripsi,di fakultas Biologi Universitas Diponegoro, Semarang yang bekerjasama dengan program “Kopi dan Konservasi Primata 2018-SwaraOwa, didukung oleh Fortwayne Children’s Zoo, Ostrava Zoo, dan Wildlife Reserve Singapore.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
ditulis Oleh : Arif Kurniawan, email :  kurniawanarif160@gmail.com
mahasiswa Fakultas Biologi, Universitas Diponegoro Semarang.

Monday, June 25, 2018

Pengamatan primata : Kelas imajinasi untuk pemula


Menginspirasi generasi selanjutnya untuk mengenal alam dan lingkungan sekitarnya adalah penting untuk sebagai bagian upaya untuk melestarikan alam. Apa yang kita rasakan di sekitar kita 10-30 tahun yang lalu tentu sangat berbeda dengan apa yang anak-anak sekarang rasakan, terutama terkait dengan interaksi dengan lingkungannya. Gadget dan Internet lebih dekat dengan generasi sekarang, dan bermain di sungai, di sawah, mencari serangga tanah, tidak lebih menarik daripada main game atau di aktif di sosial media melihat, tokoh idola atau permainan yang sedang trending.
pengamat primata cilik dari Sokokembang


Sepertinya hal ini juga terjadi dimanapun, di kota, di kampong-kampung, desa, pinggiran kota, bahkan di desa-desa tengah hutan, meskipun dengan intensitas yang berbeda tentunya. Sebagi contoh di Sokokembang sebagai dusun di Tengah hutan hingga sejak beberapa tahun silam warga disini sangat intense berinteraksi dengan pendatang dari luar terutama yang terkait dengan hutan dan primata.  Interaksi secara fisik anak-anak dengan hutan sepertinya juga sudah mengalami perubahan, karena beberapa orangutan mereka juga berubah mata pencaharian dan apalagi orangtua baru yang mempunyai mata pencaharian yang tidak terkait langsung dengan hutan. Sepertinya juga butuh analisis yang lebih dalam tentang perubahan pola-pola interaksi ini.
 anak-anak sedang mengamati Lutung

Suatu hari anak-anak yang awal awal tahun kita berada di Sokokembang masih dalam gendongan atau baru lahir, kini anak-anak ini sudah berumur 5-8 tahun, mereka sering berkumpul di pedopo kopi Owa, sekedar main-main, dan sering juga mereka penasaran dengan apa yang kita lakukan. Mencoba camera, mencoba binokuler, dan bertanya apapun tentang apa yang mereka ingin tahu.
Kemudian kita singkatnya bersepakat dengan anak-anak ini, untuk mengajak mereka pengamatan primata, terlebih dahulu kita minta anak-anak ini untuk minta ijin orangtuanya. Hari yang di tentukan mereka datang lengkap, pakai sepatu, celana panjang, topi, bekal minum dan makanan kecil, dan tidak lupa alat tulis.

Mendampingi anak-anak pengamatan tentu sangat berbeda dengan mendampingi orang dewasa, seakan kelebihan energy, selalu muncul pertanyaan pertanyaan yang kadang tidak kita duga sama sekali. Mengamati pohon, owa, lutung, serangga secara langsung dan mendiskusikan secara sederhana dengan mereka tidak semudah menjelaskan kepada orang dewasa.


Membawa anak-anak ke alam, menjadi fenomena baru di beberapa kota besar, dan apakah ini hanya ikut-ikutan saja atau memang menjadi keresahan para penyelenggara pendidikan? 15-20 tahun mendatang anak-anak ini akan menjadi pelaku penting dalam pelestarian alam, organisasi dan pegiat konservasi di berbagai negara haibitat primata  juga melakukan strategi ini untuk anak-anak, meskipun juga banyak keterbatasan, namun pendidikan konservasi adalah pekerjaan bersama. Mendekatkan mereka kepada alam harusnya menjadi bagian dari strategi untuk melestarikan bumi dan isinya. Bisa kita mulai dari halaman depan rumah kita, hal kecil kehidupan yang sering kita lihat, dengar dan rasakan.


Bacaan :
Uhl, C., 1998. Conservation biology in your own front yard. Conservation Biology12(6), pp.1175-1177.

Thursday, February 15, 2018

Catatan dari Lapangan : Bagaimana perilaku primata ketika hujan?

Rekrekan - Javan Surili ( Presbytis comata)

Hampir satu minggu lebih di habitat Owa jawa, hutan Sokokembang ini selalu basah, hujan setiap hari mengguyur setiap sudut belantara. Owa yang biasanyanya bersuara sejak dini hari, hari-hari ini tidak tedengar sama sekali. Matahari pun dalam hitungan menit saja bersinar, itupun tertup awan, panggilanp panggilan sinden hutan yang menunjukkan wilayah kelompok owa juga tidak terdengar.
Apa yang di lakukan owa atau primata lain di hutan ketika hari hujan? Bagaimana perilakunya? Seperti apa mereka memanfaatkan pohon ketika hari hujan?

Kemungkinan berjumpa dengan primata memang sangat kecil ketika hari hujan, dan data penelitian tentang hari hujan terkait dengan primata-primata sepertinya tidak banyak yang mengkajinya. Beberapa penelitian tentang pemanfaatan habitat primata, sebenarnya dapat diprediksi dengan sebaran resourcenya, entah itu sumber pakan , tempat berlindung, dan ruang.
Lutung ketika hujan

Kami mencoba menyusuri jalan yang biasa kami gunakan untuk monitoring primata ketika hari-hari biasa tidak hujan.Kami memilih jalur yang paling mudah, dari sisi aksesibilitas dan juga visibilitas, karena hujan dan kabut membatasi pengelihatan kita, peralatan juga di persiapkan untuk dalam kondisi hujan.


Satu kelompok Lutung (Trachyithecus auratus) akhirnya teramati dalam jalur ini, teramati 4 individu sendang berada di pohon, dan melihat mereka dalam hujan, terduduk diam, kami mengamati ada2 invidiu memang berada di cabang pohon yang tidak ada sama sekali peneduhnya, 1 individu terlihat berada di bawah naungan daun-daun , dan 1 individu terlihat berlindung di bawah tebalnya tanaman paku-pakuan (simbar). Dari 4 individu ini ter amati hampir lebih dari 30 menit, tidak melakukan aktifitas apapun, diam dan hanya sesekali berpindah posisi istirahat.  Kami mencoba menggunakan camera video untuk melihat bagaimana lebih dekat, dan sesekali rambut tebal Lutung ini di kibaskan.
Tidak jauh dari kelompok ini, teramati juga 2 individu Rekrekan ( Presbytis comata) yang meskipun hujan cukup deras kelompok ini terlihat bergerak. Namun sepertinya juga tidak melakukan akftifitas makan.

Lutung sedang berlindung ketika hujan

Pergerakan primata seringkali dapat di prediksi dengan sebaran resource nya, aktifitas harian sebenarnya dapat dengan mudah di ikuti ketika hari normal, waktu makan, waktu bergerak, istirahat , bisa di analisis pola nya. Ruang jelajah dan wilayah inti aktfitias tentu juga berubah. Anomali cuaca seperti minggu ini di habitat alam hutan sokokembang seperti minggu ini tentu juga mengubah pola normal yang biasanya primata lakukan. Hutan yang relatif utuh, sepertinya akan memberikan daya dukung yang sempurna untuk mengatasi anomali cuaca. Meskipun belum banyak yang meneliti tentang hal ini, asosiasi pohon dengna tanaman lain, karakteristik pohon dan keragaman jenis sangat mungkin mempengaruhi keberadaan primata.

Referensi :

Reyna-Hurtado, R., Teichroeb, J.A., Bonnell, T.R., Hernández-Sarabia, R.U., Vickers, S.M., Serio-Silva, J.C., Sicotte, P., Chapman, C.A. and Stephens, D., 2017. Primates adjust movement strategies due to changing food availability. Behavioral Ecology.


Mitani, M., 1989. Cercocebus torquatus: adaptive feeding and ranging behaviors related to seasonal fluctuations of food resources in the tropical rain forest of south-western Cameroon. Primates30(3), pp.307-323.

Friday, January 12, 2018

Lutung jawa : Pemakan daun Hutan Sokokembang



Primate wathching bulan Januari ini, kami mengamati kelompok Lutung di hutan Sokokembang, Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan.Teramati individu lutung dewasa yang memakan daun Ficus, dimana kita ketahui jenis pohon  ini daunnya agak keras dan bergetah putih, sangat jelas terlihat dalam pengamatan kali ini, daun-daun tua pun terlihat di makan oleh lutung. Nampak sekali gigi lutung juga terlihat coklat ke hitaman karena mengunyah daun-daun yang bergetah.

Lutung jawa (Trachypithecus auratus) adalah salah satu primata pemakan daun, dan karena makanannya inilah juga di kenal dengan nama Leaf eating monkeys. Pemakan daun ini di dunia primata masuk dalam keluarga Colobinae , tersebardi Asia dan Afrika.  Para pemakan daun ini tentu punya ke istimewaan dalam system pencernaannya, karena daun-daun hutan ini tidak mudah di cerna begitu saja ketika di kunyah dan di telan kedalam pencernaan. Yang di butuhkan dalam makanan primata untuk di ubah menjadi energi adalah protein,sementara protein dalam daun ini sangat susah di urai, karena terlindungi oleh serat dan juga zat tannin dan Phenol  yang sering terlihat seperti getah di daun .

Sistem pencernaan lutung memiliki ke istimewaan dimana terdapat ruang-ruang yang bersekat dan juga memiliki kelenjar ludah yang besar, ruang-ruand dalam lambung lutung ini tedapat bakteri fermentasi yang di gunakan untuk membusukkan daun-daun agar mudah di cerna. Proses fermentasi dalam perut lutung ini hampir sama dengan ruminatia, seperti sapi, membutuhkan waktu dan energi tersendiri untuk mencerna daun-daun yang dimakan.


Mengamati Lutung di habitat aslinya, sering kali melihat di sela-sela aktifitas makannya Lutung-lutung ini terlihat istirahat diam, atau bahkan tidur di cabang pohon, dan kalau meneliti tentang time budget, bisa juga prosentasi waktu istirahatnya tinggi, waktu istirahat inilah yang di gunakan untuk mencerna makanan daun daun, yang telah masuk dalam perut Lutung, waktu metabolism yang lambat terkait dengan nutrisi yang di cerna dari daun-daun yang mungkin kadang juga beracun.

Referensi :

Nijboer, J. and Clauss, M., 2006. The digestive physiology of colobine primates. Fibre intake and faeces quality in leaf-eating primates, p.9.



Saturday, December 9, 2017

#primatajawa


Mengajak anda mengenal dan melestarikan primata Jawa.  Lutung , Rekrekan, Owa, Kukang dan Monyet Ekor Panjang, itulah 5 jenis primata yang ada di Pulau Jawa hingga saat ini.  Tersebar mulai dari ujung barat pulau jawa hingga ujung timur Pulau Jawa. Rekrekan dan Owa hanya terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Di Jawa barat Rekrekan di kenal dengna nama Surili. Monyet ekor panjang adalah yang paling luas sebarannya, dan dapat beradaptasi dengan kondisi habitat mulai dari pantai , sampai pegunungan, bahkan di tengah kota.  Owa, jenis kera yang bergerak menggunakan lengan tangan, mempunyai suara yang khas dipagi hari, adalah satu-satunya jenis kera yang ada di Jawa. Hutan yang masih alami adalah tempat hidupnya,pemakan buah . Kukang adalah satu satunya primata (nocturnal) malam di jawa.

Primata-primata  ini terancam punah karena, hilangnya habitat aslinya, perambahan hutan, dan perburuan. Kukang hingga saat ini termasuk  salah satu  dari 25 primata dunia yang paling terancam punah. Owa, dan Rekrekan statusnya terancam punah (endangered) , Lutung masuk dalam kategori rentan (Vulnerable).

Kami mengajak anda untuk mengenal dan melestarikan primata-primata jawa, banyak nilai penting mereka di alam, untuk penelitian, edukasi, rekreasi, dan tentunya juga identitas kita di komunitas global, karena tidak di jumpai di negara lain selain di Pulau Jawa.

Sebagai salah satu bagian dari kegiatan Kopi dan Konservasi  Primata tahun 2017, kami membuat poster primata jawa,  poster ini di buat untuk khalayak umum sekaligus untuk membantu mengenalkan dan mendorong upaya pelestarian primata di Jawa. 

Untuk masyarakat umum, poster ini dapat  anda dapatkan ketika anda berkontribusi melalui program “#primatajawa ” dengan  membeli produk-produk konservasi yang berkelanjutan yang terkait dengan kegiatan  “Kopi dan Konservasi Primata “ , melalui akun media sosial @swaraOwa., dan email: swarowa@gmail.com ; http://swaraowa.com/sustainable-products/   atau mengunjungi workshop SwaraOwa,   lokasi : https://goo.gl/maps/Uy6ZnkG5Uow

Anda dapat berkunjung di habitat primata Jawa secara langsung di Omah kopi owa, ds. Sokokembang, Kecamatan Petungkriyono dan Welo Asri di desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan dengan belanja produk-produk dari habitat asli berupa, kopi, gula aren, madu, t-shirt dengan minimal belanja Rp 85.000,00 (Delapan puluh lima ribu rupiah) anda akan mendapatkan 1 poster.

Poster ini juga akan  di berikan secara cuma-cuma/gratis bagi sekolah, kelompok studi, atau komunitas,  yang tertarik untuk mengenalkan dan mengarus utamakan pelestarian  primata Jawa. silahkan hubungi kami di : swaraowa@gmail.com


Ikuti terus perkembangan kegiatan ini dengan taggar #primatajawa di blog www.swaraowa.blogspot.com; www.swaraowa.com; dan akun sosial media kami IG/twitter/FB/Soundcloud @swaraowa

Kegiatan untuk #primataJawa ini berlaku mulai tanggal 15 Desember 2017 hingga 15 Januari 2018

Tuesday, February 23, 2016

Lutung Kelabu dari G.Lawu

Di tulis oleh : Kasih Putri Handayani
e-mail :kasihputri288@gmail.com 
 
Lutung Jawa (Trachypithecus auratus)


Disambut kabut tebal dan gerimis, Rabu, 10 Februari 2016, akhirnya tim SwaraOwa sampai di Basecamp Pendakian Cemoro Kandang, lereng selatan Gunung Lawu. Misi kami kali ini adalah untuk memperbarui informasi mengenai primata Jawa. Gunung Lawu ini merupakan lokasi pertama yang kami survei terkait potensinya sebagai area distribusi primata, terutama jenis Rekrekan atau Surili (Presbytis comata).

Secara administratif, lereng selatan Gunung Lawu ini merupakan perbatasan antara Kabupaten Karanganyar (Provinsi Jawa Tengah) dengan Kabupaten Magetan (Provinsi Jawa Timur). Kawasan ini juga berkembang menjadi tempat wisata yang cukup ramai, mulai dari Telaga Sarangan, Cemoro Sewu hingga Cemoro Kandang. Jalur pendakian Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu juga merupakan jalur favorit para pendaki gunung untuk mencapai puncak Lawu yang dikenal dengan nama Hargo Dumilah (3.265 mdpl). Selain dari kalangan pecinta alam, beberapa orang mendaki Gunung ini untuk kepentingan ritual.

Sepintas, penutupan lahan sebagian besar kawasan lereng selatan Gunung Lawu ini berupa hutan (hutan tanaman dan hutan alam), yang berbatasan dengan permukiman dan lahan pertanian warga. Nampak pula bekas kebakaran hebat tahun lalu, yang menyisakan tegakan-tegakan batang pinus yang kering. Dilihat dari citra di Google Earth, nampak jelas kebakaran tersebut turut memisah-misahkan kawasan hutan yang ada.

Hutan tanaman di kawasan ini umumnya disusun oleh jenis tanaman pinus, puspa, bintamin dan eucalyptus. Disamping hutan tanaman, lereng selatan Gunung Lawu masih memiliki ekosistem hutan hujan tropis yang sangat menawan. Pohon pasang (Lithocarpus sp., famili Fagaceae) atau pohon oak, tumbuh kokoh dengan batang dan dahan yang menjadi habitat bagi berbagai jenis lumut, paku-pakuan dan anggrek epifit. Cahaya matahari menerobos di sela-sela kanopi hutan yang terbuka, menjadikan lantai hutan terasa lembab terlebih pada musim hujan. Kami pun berulang kali hanya berdecak kagum melihat hutan yang sangat idah ini.
 
Rekrekan (Presbytis comata)
Untuk mencari keberadaan primata, tim swaraOwa bergerak menyusuri jalur pendakian dan jalan-jalan setapak di dalam kawasan hutan, dari sekitar jalur Cemoro Kandang hingga Mojosemi. Dihari pertama survey, belum terlalu jauh kami berjalan dari basecamp Cemoro Kandang, terdengar loudcall Lutung Budeng yang sangat khas. “kekok kekok, kekok kekok”, kurang lebih demikian vokalisasinya. Mendengar panggilan tersebut, kami segera bergerak menaiki punggungan menuju arah datang suara. Akhirnya terlihat oleh kami dua individu lutung yang tengah bergerak di pohon. Namun nampaknya mereka tidak hanya berdua. Terdengar suara berisik individu lain dan juga gerakan dahan-dahan pohon di belakang mereka. Terlihat satu individu lutung yang nampak lebih “gendut” dari individu lainnya, dengan rambut bagian ventral yang berwarna abu-abu keputihan. Rambut di bagian wajah juga nampak keputihan. Mungkin ini yang dimaksud oleh masyarakat setempat, tentang Lutung kelabu. Ketika kami mengumpulkan informasi dari masyarakat, mereka menyatakan belum pernah melihat monyet berjambul dan berbibir merah yang kami cari (Rrekrekan). Namun mereka meyakini ada monyet yang rambut muka dan dadanya berwarna keputihan seperti halnya Rekrekan dalam satu kelompok lutung budeng yang dominan hitam. Dalam satu perjumpaan lain dengan kelompok lutung budeng, variasi warna rambut juga terlihat. Kali ini kami bisa melihat lebih dekat dan jelas, bahwa memang beberapa individu lutung memiliki warna rambut yang keputihan di bagian ventral (dada dan perut), tangan dan bagian dalam kaki. Warna keputihan juga menghiasi bagian luar kaki, tangan dan juga bagian muka.


Satu kelompok lagi kami jumpai di tepi jalan raya pada lereng yang cukup curam. Terlihat satu individu muda (infant) digendong induknya. Bagian kepala dan punggung infant tersebut telah berwarna hitam, sementara bagian depan (dada dan perut) masih berwarna putih kekuningan. Mengetahui keberadaan kami, dengan segera mereka bergerak menjauh dari jalan. Nampak bekas semak di tepi jalan yang mereka lalui. Mereka harus mengambil resiko, keluar dari hutan dan menyeberang jalan raya yang cukup lebar dan ramai untuk mencari makan di hutan seberang jalan. Mungkin seperti inilah cikal-bakal terjadinya fragmentasi hutan.


Habitat Lutung di G.Lawu

Satu hal yang menarik perhatian kami. Kawasan lereng selatan Gunung Lawu ini masih memiliki hutan alam yang vegetasinya masih sangat bagus. Dengan kondisi demikian, kami berharap dapat menjumpai biodiversitas satwa yang tinggi. Namun dugaan kami meleset. Hutan alam yang indah tersebut sangat sepi. Tidak banyak jenis burung yang kami jumpai, yang sebagian besar merupakan jenis burung semak. Apakah ini dampak aktivitas perburuan yang hingga kini masih saja terjadi? Atau memang kami datang diwaktu yang kurang tepat, saat satwa-satwa tersebut tengah bersembunyi. Entahlah. Dan melalui kegiatan serta tulisan ini, kami ingin mengajak sahabat-sahabat semua untuk turut menjaga keseimbangan ekosistem Gunung Lawu, sebagai kawasan pegunungan yang penting secara ekologi , ekonomi, ilmu pengetahuan,wisata dan juga budaya.