Showing posts with label #owacoffee. Show all posts
Showing posts with label #owacoffee. Show all posts

Friday, September 2, 2022

Peternak lebah perempuan : Inisiasi dari Sawahan untuk Keluarga dan Hutan

 Oleh : Sidiq Harjanto

Mengenalkan lebah klanceng untuk kelompok perempuan di Mendolo

Telah banyak artikel ilmiah maupun populer yang membahas mengenai manfaat budidaya lebah. Dua manfaat utama meliputi: manfaat ekonomi melalui penjualan produk-produk lebah, dan manfaat ekologi lewat jasa penyerbukan lebah. Mengenai jasa penyerbukan, dipercaya bahwa terdapat jasa lebah pada satu di antara tiga jenis makanan yang sehari-hari kita konsumsi.

Di Desa Mendolo, euforia meliponikultur sudah sedemikian terasa di kalangan kaum laki-laki. Mereka yang rata-rata merupakan pemanen madu hutan, merasa menemukan peluang baru lewat kegiatan budidaya. Tak heran, kini mereka berlomba-lomba untuk membudidayakan koloni-koloni lebah di kebun mereka masing-masing. Dengan membudidaya, keberlanjutan bisnis madu bisa lebih terjamin.

Lebah klanceng ( Heterotrigona itama)


Bergulirnya kegiatan budidaya lebah klanceng –atau kami menyebutnya meliponikultur- di desa penyangga habitat owa jawa, membuat kami tertantang untuk menggali lebih dalam manfaat aktivitas ini bagi kalangan masyarakat yang lebih luas. Maka pada 19 Agustus 2022, dibantu Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo, kami mengajak kaum perempuan di Mendolo untuk ikut terlibat dalam hiruk-pikuk aktivitas perlebahan ini. Tidak ada bahaya sengatan dari lebah mungil tersebut memungkinkan siapa saja untuk memeliharanya, termasuk kaum perempuan.

Kami meyakini bahwa kaum perempuan menjadi kelompok strategis dalam memasyarakatkan budidaya lebah klanceng. Setidaknya jika dikaitkan dengan peran perempuan dalam unit keluarganya. Dalam keluarga petani, sosok ibu biasanya masih ikut bekerja di ladang atau kebun bersama suaminya, meskipun dalam porsi yang lebih ringan. Dalam pengasuhan anak, sosok ibu biasanya memiliki intensitas yang lebih besar dalam interaksi dengan putra-putrinya.

Mengenalkan teknik budidaya lebah klanceng

Melihat peran mereka dalam keluarga, kaum perempuan rasa-rasanya bisa mengoptimalkan manfaat lebah bagi manusia melalui meliponikultur. Pertama, keterlibatan perempuan dalam meliponikultur bisa mengoptimalkan manfaat ekonomi lebah. Produk lebah berupa madu maupun pollen punya nilai ekonomi tinggi untuk menambah pemasukan keluarga. Tentu saja, produk lebah yang dipanen ini disisihkan dahulu untuk keperluan sumber nutrisi bagi keluarga. Mengonsumsi madu dan polen menambah daya tahan tubuh sehingga menghindarkan keluarga dari sakit. Hal ini juga berarti bisa meminimalkan pengeluaran untuk biaya pengobatan.

Kedua, pemeliharaan lebah bisa dikombinasikan dengan penataan lingkungan kampung. Perempuan, yang umumnya lebih memperhatikan aspek keindahan dibandingkan laki-laki, bisa menjadi penggeraknya. Bayangkan, kampung yang dihias aneka jenis bebungaan tentu akan menarik hati siapa saja. Di sisi lain, nektar dan serbuk sari dari bebungaan merupakan sumber pakan bagi lebah. Aneka jenis tanaman sayur bisa diintegrasikan. Di satu sisi, beberapa jenis tanaman sayur seperti cabai dan terong bisa menjadi sumber pakan bagi lebah. Sementara di sisi lain, tanaman-tanaman itu mendapatkan bantuan penyerbukan dari para lebah.

Desa Sawahan, Mendolo


Ketiga, ada peluang untuk memanfaatkan lebah sebagai media pembelajaran bagi anak-anak. Banyak aspek kehidupan lebah yang bisa menginspirasi kita. Misalnya, kebiasaan lebah menyimpan madu dan roti lebah. Ini bisa diibaratkan sebagai kebiasaan menabung. Kita bisa belajar etos kerja kepada lebah sebagai serangga pekerja keras. Mereka beraktivitas sepanjang hari. Uniknya, pembagian kerja mereka juga tampak jelas. Ada ratu lebah sebagai pemimpin, lalu lebah perawat yang mengurusi lebah-lebah uda yang baru saja menetas. Ada kumpulan lebah penjaga yang memastikan keamanan sarang. Pada fase alhir, lebah-lebah yang paling senior bertugas mencari dan mengumpulkan pakan.

Harapan kami, pengenalan meliponikultur bagi kaum perempuan di Mendolo bisa menjadi pintu masuk baru dalam menggugah kesadaran kritis masyarakat di sekitar hutan dalam pengelolaan sumber daya alam secara lestari, sekaligus berwirausaha mandiri yang mendukung konservasi. Melalui pembudidayaan lebah, semua kalangan masyarakat diajak untuk mengembangkan potensi masing-masing dengan cara yang unik. 

Program pengembangan budidaya lebah untuk perempuan ini, merupakan bagian dari kegiatan konservasi Owa Jawa di Jawa Tengah, SwaraOwa tahun 2022-2023 yang di dukung oleh Mandai Nature dan Fortwayne Children's Zoo.


Wednesday, August 19, 2020

The Role Coffee Plays In Javan Gibbon Conservation

 Written by: Benehad Gabriel Yosep Ruritan | Email : ben.ruritan@gmail.com 


Who is SwaraOwa?

Back in August 2020, I enrolled myself in an internship program with SwaraOwa. A non-governmental organization (NGO) focused on the conservation work for Indonesian primates, especially Gibbon, the small apes. Swaraowa means a gibbon voice in Javanese.

The history of SwaraOwa led by Arif Setiawan originally started  in 2008, when he runs the project in Mt. Slamet Central Java, for Endangered Primate Conservation Project, this project supported by Rufford Foundation. Then -a supported project named "Coffee and Primate Conservation" in 2012 with the objective of Javanese gibbon's habitat preservation in Petungkriyono District located in the western part of Dieng Mountain.

The coffee part of the name came from the approach that was taken by the team in creating a compromise between the residents' needs and the conservation objective of the project.  Coffee naturally grows beneath the cover of the rainforest in which the Javanese gibbon resides. And thus. Coffee cultivation and production work to redirect the local's of Sokokembang from forest damaging economic activities and into the preservation of the forest via sustainable economic development. And as of now, some amount of coffee from Petungkriyono is managed and distributed by OwaCoffee, a subsidiary of SwaraOwa.




OwaCoffee For SwaraOwa

I was assigned to the OwaCoffee activity during the internship program. This coffee program of SwaraOwa has become quite a success story. Over the years, it has fostered relationships with several zoos worldwide, such as the Singapore Zoo, Fort Wayne Children's Zoo and  Zoo Ostrava.  Through this coffee program, SwaraOwa enables itself to be self-sustainable and empowers the residents of the Sokokembang Village, seen from the growth of farming groups and infrastructure improvement the area has received over the years.

I met Dr. Muhammad Ali Imron from the Gadjah Mada University Forestry Faculty, which explained that most Indonesian NGOs inherits the problem of self-sustainability due to how they were founded.  Specifically, most NGOs grew from a time and funding limited project into an ongoing program. This condition hampers the transition process and induces financial problems in the future. SwaraOwa’s ability to be self-sustainable through its OwaCoffee program has been quite the inspiration to many other NGOs in Indonesia.

Predicaments Faced By OwaCoffee

However, the operation of OwaCoffee is not as smooth as it may seem. As lined out by Saladin Akbar from the BlackJava roastery located in Yogyakarta, the problem faced by this organization can be divided into three major categories, which are: farming, production, and distribution. 

 In farming, they face the need to educate local farmers of Petungkriyono in increasing their quality of coffee cherries, which in itself is no easy task knowing the deep level of intricacies revolving around coffee plantation such as managing the ground condition, understanding the need of the plants, knowing what and when to harvest. 

"the jungle beans" gibbon friendly coffee -  OwaCoffee

 While production includes everything post-harvest, this includes grading, hulling, storage, roasting, and many others, which greatly plays into the quality of the finished product. Lastly is the distribution, which talks about public intake of the product. Currently, single-origin coffee only makes a small percentage of Indonesian coffee consumption. 

 Akrom, the owner of Mari-ngopi a  coffee shop in Yogyakarta, informed me that the lack of specialty coffee absorption is due to the condition that Indonesians do not need specialty coffee. The masses are satisfied with the commercialized and easy to drink coffee mixers, which does not require high-grade coffee to be enjoyed.  This condition caused SwaraOwa to look for new ways for their coffee, the ex-situ distribution efforts, such as creating a bond with the Singaporean Zoo to market their products.

During my internship, I found SwaraOwa to be particularly ingenious.  Their ability to utilize Petungkriyono’s coffee as a medium to converse the Javanese primates, utilizing local empowerment through coffee plantations, was a breakthrough by itself. Through this kind of collaboration, sustainability was provided for the conservation activity that many have never recognized. SwaraOwa has ensured the continuity of the program via a separate entity, namely OwaCoffee that has a high interest in the market.

From this experience, I found out that conservation activities can be strengthened through public participation by various means, including market-based methods. The Indonesian gibbons at Petungkriyono District in Central Java are one of the benefactors of this mechanism.

 

Tuesday, July 21, 2020

Owa Jawa : Kopi dan Konservasi Primata

Oleh : A.Setiawan (a.setiawan@swaraowa.org)

Owa jawa (Hylobates moloch)

Kabar terbaru dari habitat owa jawa, minggu ini kami melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda karena pandemi Covid_19. Progam Kopi dan Konservasi Primata yang telah di mulai sejak tahun 2012, untuk mendukung pelestarian owa jawa di wilayah Jawa Tengah. Kopi yang menjadi pilihan komoditas yang dapat menggerakkan roda ekonomi di sekitar hutan habitat Owa memberikan harapan positif, dengan munculnya unit-unit kelompok usaha kopi di sekitar hutan Owa. Perubahan yang Nampak terlihat ketika panen kopi dibanding awal kita mulai project ini, kalau dulu jalan di dusun-dusun di Petungkriyono ini banyak kopi yang di jemur di jalan dengan kondisi kopi yang di jemur campur, sekarang sudah sebagian sudah ada  menjemur biji kopi lebih bersih, setidaknya sekarang sudah ada perbedaan dan peningkatan dalam mengelola kopi. Untuk melihat dan komunikasi lasung dan mendapatkan produk-produk ini dapat berkunjung langsung ke dusun Sokokembang, di Petungkriyono, Pekalongan,  swaraowa headquarter di Yogyakarta atau melalui sosial media owa coffee. 


Proses penjemuran kopi di Sokokembang

Selain peningkatan pengetahuan tentang pengolahan kopi, melalui proyek ini kami juga mencoba melihat kemungkinan pengembangan unit usaha kopi di sektor hulu, melalui penyediaan bibit kopi, selain mengantisipasi produksi di masa mendatang, kegiatan ini juga memberikan dampak positif untuk pengembangan pengetahuan, pengalaman, dan sebagai alternatif pendapatan ekonomi dari produksi kopi itu sendiri. Adanya unit-unit kelola kopi yang tersebar di beberapa dusun di Petungkriyono, saat ini sudah ada alat sangrai kopi yang banyak di gunakan warga sekitar untuk menyangrai kopi untuk dikonsumsi sendiri atau pun di jual kembali. Apresiasi terhadap kopi itu sendiri juga sudah mulai terlihat, bahwa warga juga sudah menghargai kopi mereka sendiri, kemudian mengajak oranglain untuk menghargai kopi mereka yang mereka produksi.

Pembibitan Kopi di Sokokembang yang dimulai tahun 2018

Bibit bibit kopi ini kami kembangkan dari varietas yang sudah ada saat ini, jenis Kopi Arabica  varietas typica, atau di kenal dengan nama kopi jawa dan kopi Robusta. Yang sudah ada sejak jaman Belanda di kawasan ini. Pemilihan jenis ini lebih karena adaptasi yang sudah sejak lama, di kawasan pegunungan Jawa bagian Tengah. Pendekatan yang kami lakukan karena kegiatan ini dalam rangka mendukung kegiatan pelestarian Owa Jawa dan habitat aslinya, kami berkomunikasi dengan para pemburu-pemburu satwaliar di Petungkriyono, mencoba menyampaikan bahwa aktifitas perburuan yang dilakukan tidak akan mendatangkan uang yang membawa kebaikan  dan sudah pasti  juga merusak hutan.


Pembibitan kopi ini selain kami buat di dusun Sokokembang, juga kami buat di dusun Candi, dan tahun ini berhasil memproduksi bibit kopi kurang lebih 1500 bibit kopi yang sudah siap tanam, dan ada kuranglebih 20,000 bibit yang sedang dalam prooses. Bibit ini kami distribusikan ke petani di sekitar habitat Owa Jawa, di wilayah Jawa Tengah dan juga kami gunakan untuk fundrising, di jual untuk umum, dana yang terkumpul dari penjualan ini akan di gunakan kembali untuk kegiatan lapangan. Untuk taham pertama kami mengirim bibit kopi ke Dusun Gunung Malang di Purbalingga, Jawa Tengah. Hutan Gunung Slamet adalah habitat dari primata endemik dan mamalia Jawa 1, 2, 3.  Ada salah satu warga yang dulu juga terlibat dalam kegiatan survey Owa1, dan kebetulan juga mantan pemburu yang mau mengelola dan menanam kopi di lahannya.  Kami juga sempat melihat langsung habitat Owa di Gunung slamet ini, dan lokasi dimana kopi akan ditanam. Ancaman pembukaan hutan untuk perkebunan sepertinya masih ada, meningkatnya industri tanaman sayur di kawasan ini sudah tentu akan memberi tekanan tinggi terhadap tegakan hutan alam yang ada. Aktifitas kawasan penyangga hutan alam, kopi yang di bawa ke dusun Gunung Malang ini harapannya dapat memberikan alternative komoditas yang dapat di kelola bersamaan dengan tanaman pangan lainnya. Sistem budidaya wana tani yang mencampurkan berbagai macam komoditas akan memberikan nilai ekonomi sekaligus mendukung praktik terbaik dari pertanian di kawasan sekitar hutan.

Kawasan penyangga hutan lindung G.Slamet, lereng timur

Aktifitas para pemburu hutan untuk aktif mengelola lahan kopi akan menjadi kesibukan tersendiri yang sudah jelas hasil yang akan di peroleh, daripada harus berburu kehutan tanpa ada hasil yang pasti. Kegiatan berburu yang sifatnya mengeksplotasi sumberdaya alam di gantikan dengan kegiatan ekonomi produktif yang melestarikan hutan.


Daftar pustaka :
1. Setiawan, A., Wibisono, Y., Nugroho, T.S., Agustin, I.Y., Imron, M.A. and Pudyatmoko, S., 2010. Javan Surili: A Survey Population and Distribution in Mt. Slamet Central Java, Indonesia. Jurnal Primatologi Indonesia, 7(2).
2. Setiawan, A., Nugroho, T.S., Wibisono, Y., Ikawati, V. and SUGARDJITO, J., 2012. Population density and distribution of Javan gibbon (Hylobates moloch) in Central Java, Indonesia. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 13(1).
3. Maharadatunkamsi, M., 2017. Profil Mamalia Kecil Gunung Slamet Jawa Tengah. Jurnal Biologi Indonesia, 7(1).

Friday, July 3, 2020

Nyanyian Owa Jawa : diva di tengah rimba

Oleh : Nur Aoliya , email :  nuraoliya@apps.ipb.ac.id

 

Sepasang Owa Jawa

“Emang ada Owa Jawa di Pekalongan?” itu pertanyaan pertama saya saat mendengar program konservasi owa jawa oleh Coffee and Primate Conservation Project atau sekarang lebih dikenal SwaraOwa  di desa sukokembang, kecamatan petungkriyono kabupaten pekalongan tahun 2014. Sampai sekarang tahun 2020 masih ada orang yang mempertanyakan akan hal itu, bahkan orang pekalongan sendiri ada yang tidak tahu kalo ada Owa Jawa di Pekalongan.

Salah satu yang unik dari owa adalah suara atau nyanyiannya, bak sebuah lagu. Baik owa betina maupun jantan dapat bersuara, namun waktu dan tipe suaranya berbeda. Owa jantan cenderung bersuara sebelum fajar sedangkan Owa betina cenderung bersuara setelah terang dan kadang siang hari. Jenis-jenis owa menghasilkan  nyanyian lagu yang keras dan panjang yang sebagian besar dipamerkan oleh pasangan yang telah kawin. Biasanya, pasangan menggabungkan nyanyian ini  (repertoire) dalam interaksi vokal, tepat waktu, dan kompleks untuk menghasilkan  pola duet yang baik.1

Perbedaan waktu bersuara Owa Jawa ini, kenapa seperti itu juga belum banyak yang meneliti. Di dunia hanya Owa dari Jawa dan Owa dari Mentawai dimana antara jantan dan betina tidak menyanyi bersama.

Lebih menarik lagi suara yang dinyanyikan owa betina pada pagi hari yang disebut great call, karena suaranya sangat khas. Suaranya dimulai dengan suara “waa” dengan interval lambat yang semakin cepat sampai ke lengkingan panjang dan diakkhiri dengan interval yang semakin melambat.  Mungkin karena itulah satwa ini lebih dikenal sebagai owa-owa/ uwek-uwek karena suarnya terdengar melafalkan kata tersebut. Suara betina selain khas juga memiliki peranan sangat penting, yaitu sebagai tanda daerah teritorinya. Setiap kelompok owa memiliki area yang digunakan sebagai tempat mencari makan, istirahat, reproduksi, dan segala aktifitasnya. Area tersebut akan dijaga dan tidak akan mengijinkan owa dari kelompok lain untuk memasuki area mereka. Tugas owa betina ini menyiarkan batas-batas areanya melalui suaranya tiap pagi.

Lantas bagaimana owa tau bahwa ini suara betina yang mana? Dan dari kelompok mana? ini menjadi daya tarik saya untuk mepelajari variasi great call owa di sokokembang sebagai skripsi yang didukung oleh Swaraowa. Ternyata setelah saya mempelajari lebih lanjut baik secara literature maupun penelitian langsung setiap suara betina ini memiliki perbedaan. Perbedaanya dapat kita lihat dengan cara memvisualisasikan suara nyanyiannya, dan perbedaan yang utama  dari nadanya, durasinya dan frekuensinya (lihat gambar dan video). Seperti suara manusia yang berbeda-beda sehingga kita bisa membedakan manusia hanya dari suaranya tanpa melihat wujudnya kan? owa jawa juga begitu.

Visualisasi suara 3 individu Owa jawa

Saat ada satu betina yang bersuara maka akan memancing betina lain akan bersuara.  Antar betina yang beda kelompok tidak akan bersuara bersamaan alias bergantian, agar pesan  masing-masing kelompok tersampaikan. Biasanya betina remaja akan belajar bersuara bersama induk betinanya, tapi kadang suaranya masih nanggung atau tidak seharmoni induknya. Owa tidak akan bersuara saat hujan atau malam harinya hujan. Soalnya suaranya akan lebih sulit terdengar oleh kelompok lain dan butuh energi lebih saat hujan.  Jadi dari pada energi terbuang sia-sia untuk bersuara lebih baik digunakan untuk menghangatkan badan. Sama seperti kita kalo hujan juga penginya rebahan ajah, tidak  buang-buang energi.

Demikianlah sebagian fakta unik tentang owa jawa. Mudah-mudahan owa jawa dimanapun khususnya di Petungkriyono akan tetap lestari,  owa membantu regenerasi alami pohon-pohon alam, kita butuh hutan  dan owa jawa sebegai satu kesatuan, menikmati udara segar, air sungai yang deras dan jernih, sumber ekonomi dan  ilmu pengetahuan  yang harus kita rawat dan kelola dengan bijaksana. Menikmati nyanyiannya di hutan setidaknya akan memberikan rasa kedamaian diantara riuhnya suara-suara gemuruh pembangungan anthroposentris , nyanyian Owa seperti diva di tengah belatara, yang menunjukkan bahwa hutan tempat hidupnya masih terjaga. Melestarikan owa jawa dan hutan sama sajah menjamin kehidupan untuk manusia generasi selanjutnya.

 

Daftar Pustaka

1. Geissmann, T. dan V. Nijman. 2001. Calling Behaviour of Wild Javan Gibbons Hylobates moloch In Java, Indonesia dalam Forest (and) Primates. Conservation and ecology of the endemic primates of Java and Borneo. Tropenbos Kalimantan Series


Thursday, April 2, 2020

Dukungan Ostrava Zoo dan Warga Ceko untuk Konservasi Owa Jawa


swaraowa mobile unit

Kopi dan konservai primata adalah proyek yang di inisiasi oleh SWARAOWA yang bertujuan untuk melestarikan Owa jawa melalui kegiatan ekonomi berkelanjutan di sekitar habitat Owa. Kegiatan ini dimulai tahun 2012, dengan dasar penelitian survey populasi dan distribusi Owa Jawa di Jawa Tengah. Salah satu hasil penelitian tersebut adalah mencatat populasi terbesar untuk Owa di Jawa Tengah terdapat di Hutan Petungkriyono, Pekalongan. Prioritas upaya pelestarian dengan peningkatan ekonomi warga sekitar hutan habitat Owa jawa terus di kembangkan hingga saat ini.
Pengembangan pengolahan komoditas hutan, peningkatan kapasitas kelompok-kelompok masyarakat sekitar hutan dan pemasaran menjadi kegiatan utama untuk mendorong keberlanjutan pelestarian Owa Jawa dan habitat aslinya. Sejak tahun 2012 dengan bantuan Ostrava Zoo dan beberapa donor lain sudah memberikan hasil nyata dengan munculnya usaha kopi untuk konservasi Kopi Owa di tingkat lokal hingga pasar internasional.

Tahun 2019 tepatnya bulan September, bekerjasama dengan Ostrava Zoo,  telah digelar charity run, lari untuk tujuan menggalang dana untuk konservasi Owa Jawa. Tujuan penggalangan dana ini adalah untuk mendukung tim lapangan dengan kendaraan operasional yang dapat digunakan untuk kegiatan kampanye edukasi konservasi dan pemasaran produk-produk komoditas dari habitat Owa Jawa.
Acara lari yang digelar tersebut berlangsung sukses,berhasil mengumpulkan dana CZK 200.00 liputan acara lari ini dapat dilihat disini.

Dana ini kemudian secara langsung deserahkan tim swaraowa untuk kendaraan operasional seperti yang dimaksud di awal rencana. Dalam waktu sekitar 3 bulan, kami dapat mewujudkan kendaraan tersebut, dan saat ini sudah digunakan tim  sebagai kendaraan operasional. lihat di youtube https://youtu.be/vAjHCaTEKCg


untuk mendukung kegiatan ekonomi di habitat Owa Jawa

mendukung kegiatan edukasi konservasi 


Acara simbolis penyerahaan bantuan ini dilakukan beberapawa waktu yang lalu oleh perwakilan dari Ostrava Zoo yang di wakili oleh Frantisek Pibirsky dan Bapak Jacub Cerny Deputi Duta Besar Republik Ceko  untuk Indonesia. Namun acara ini tidak bisa mengajak langsung ke lapangan karena dampak wabah COVID_19 ini juga melanda habitat Owa Jawa. Dengan kondisi yang mendadak berubah acara yang sudah direncanakan sebelumnya akhirnya di batalkan dan mudah mudahan akan ada kesempatan lain waktu yang lebih baik.
Perwakilan dari Kedutaan Rep.Ceko dan Ostrava Zoo
Ostrava zoo juga mengirimkan 2000 gelas yang dapat di gunakan untuk perlengkapan minum sehari-hari, gelas ini dapat diperoleh kalau anda berkunjung ke Kopi Owa di Sokokembang  atau belanja produk-produk SWARAOWA seharga minimal Rp 100,000.

Kopi Owa Sokokembang

Jungle bean - Owa Coffee


Atas nama tim SWARAOWA kami mengucapkan terimakasih kepada Ostrava Zoo dan warga Ceko pada umumnya yang ikut acara charity run untuk mendukung pelestarian Owa Jawa . 

" Ahoj Ostravo, dekujeme" !!

Saturday, December 9, 2017

#primatajawa


Mengajak anda mengenal dan melestarikan primata Jawa.  Lutung , Rekrekan, Owa, Kukang dan Monyet Ekor Panjang, itulah 5 jenis primata yang ada di Pulau Jawa hingga saat ini.  Tersebar mulai dari ujung barat pulau jawa hingga ujung timur Pulau Jawa. Rekrekan dan Owa hanya terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Di Jawa barat Rekrekan di kenal dengna nama Surili. Monyet ekor panjang adalah yang paling luas sebarannya, dan dapat beradaptasi dengan kondisi habitat mulai dari pantai , sampai pegunungan, bahkan di tengah kota.  Owa, jenis kera yang bergerak menggunakan lengan tangan, mempunyai suara yang khas dipagi hari, adalah satu-satunya jenis kera yang ada di Jawa. Hutan yang masih alami adalah tempat hidupnya,pemakan buah . Kukang adalah satu satunya primata (nocturnal) malam di jawa.

Primata-primata  ini terancam punah karena, hilangnya habitat aslinya, perambahan hutan, dan perburuan. Kukang hingga saat ini termasuk  salah satu  dari 25 primata dunia yang paling terancam punah. Owa, dan Rekrekan statusnya terancam punah (endangered) , Lutung masuk dalam kategori rentan (Vulnerable).

Kami mengajak anda untuk mengenal dan melestarikan primata-primata jawa, banyak nilai penting mereka di alam, untuk penelitian, edukasi, rekreasi, dan tentunya juga identitas kita di komunitas global, karena tidak di jumpai di negara lain selain di Pulau Jawa.

Sebagai salah satu bagian dari kegiatan Kopi dan Konservasi  Primata tahun 2017, kami membuat poster primata jawa,  poster ini di buat untuk khalayak umum sekaligus untuk membantu mengenalkan dan mendorong upaya pelestarian primata di Jawa. 

Untuk masyarakat umum, poster ini dapat  anda dapatkan ketika anda berkontribusi melalui program “#primatajawa ” dengan  membeli produk-produk konservasi yang berkelanjutan yang terkait dengan kegiatan  “Kopi dan Konservasi Primata “ , melalui akun media sosial @swaraOwa., dan email: swarowa@gmail.com ; http://swaraowa.com/sustainable-products/   atau mengunjungi workshop SwaraOwa,   lokasi : https://goo.gl/maps/Uy6ZnkG5Uow

Anda dapat berkunjung di habitat primata Jawa secara langsung di Omah kopi owa, ds. Sokokembang, Kecamatan Petungkriyono dan Welo Asri di desa Kayupuring, Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan dengan belanja produk-produk dari habitat asli berupa, kopi, gula aren, madu, t-shirt dengan minimal belanja Rp 85.000,00 (Delapan puluh lima ribu rupiah) anda akan mendapatkan 1 poster.

Poster ini juga akan  di berikan secara cuma-cuma/gratis bagi sekolah, kelompok studi, atau komunitas,  yang tertarik untuk mengenalkan dan mengarus utamakan pelestarian  primata Jawa. silahkan hubungi kami di : swaraowa@gmail.com


Ikuti terus perkembangan kegiatan ini dengan taggar #primatajawa di blog www.swaraowa.blogspot.com; www.swaraowa.com; dan akun sosial media kami IG/twitter/FB/Soundcloud @swaraowa

Kegiatan untuk #primataJawa ini berlaku mulai tanggal 15 Desember 2017 hingga 15 Januari 2018

Thursday, January 19, 2017

Tabungan Ekologi : Mengelola Lebah dan Kopi


Selamat Tahun Baru 2017 !! tulisan pertama untuk mengawali semangat baru pelestarian Owa di Indonesia. Alam menyediakan hal baru bagi yang berpikir untuk di pelajari dan dikembangkan untuk kemajuan kehidupan sosioekologis kita. Hal baru  yang coba kita pelajari saat ini adalah tentang serangga-serangga yang yang membantu penyerbukan kopi hutan di habitat Owa. Salah satu focus taxa kita kali ini adalah jenis lebah tanpa sengat. Warga sekitar habitat menyebut klanceng, sejenis tawon seukuran lalat yang sering bersarang di dalam batang pohon menghasilkan madu. Madu lebah ini mempunyai nilai ekonomi tinggi, namun karena masih memanen secara alami dari hutan produksi madu ini juga sangat terbatas, pada musim musim tertentu saja dan juga dengan jumlah yang sedikit.
lebah tanpa sengat di bunga kopi robusta
Sudah kita ketahui, adanya buah kopi, adalah karena adanya proses penyerbukan (bertemunya serbuk sari dengan putik), silahkan baca artikel di bawah. Proses penyerbukan ini ada yang terjadi dengan sendirinya juga ada yang dibantu  faktor dari luar, misal angin, serangga dan juga buatan (manusia). Serangga penyerbukan telah membuktikan peningkatan produksi kopi di beberapa daerah penghasil kopi. Jasa penyerbukan ini ada yang menghitung nilai nya hingga 350 miliar $US.  Namun kita pada umumnya tidak begitu menaruh perhatian kepada lebah atau serangga-serangga yang membantu pembuahan bunga kopi, jenis apa saja, kapan waktunya, dan bagaimana keberhasilannya dan tentunya masih banyak pertanyaan lain yang bisa kita pikirkan selanjutnya.

Untuk saat ini, hampir semua wilayah di Indonesia lebah ini yang dimanfaatkan adalah madunya, itupun juga masih banyak yang sifatnya exploitasi dari alam, madu hutan yang diambil dengan tanpa mempertimbangkan kelestarian lebah itu sendiri. Madu di ambil dengan mengambil habis sarang dan anak-anaknya. Bahkan dengan batuan api yang beberapa kasus di lapangan juga menimbulkan kebakaran hutan. Karena api yang di tinggalkan oleh pemburu madu hutan hidup membesar dan menyebar luas membakar hutan. Banyak cerita juga di hutan-hutan penghasil lebah para pemetik madu liar ini meninggal karena mengabaikan keselamatan ketika memetik madu.

Pemetik madu hutan, mengambil resiko tinggi tapi tidak lestari

Peran lebah sebagai pollinator, inilah yang menjadi hal baru yang sedang kita arusutamakan untuk pelestarian hutan dan juga meningkatkan produksi kopi juga tanaman pertanian perkebunan lainnya . Bagaimana kaitannya dengan Owa?? Owa  jawa adalah primata pemakan buah, buah-buah hutan ini juga terbentuk dari proses penyerbukan alami, dan salah satu faktornya adalah oleh pollinator. Lebah tanpa sengat tentu lebih ramah dari pada lebah-lebah lainnya karena setidaknya mereka tidak menyengat. Berdasar pengamatan lapangan juga nampak selalu hinggap di pohon-pohon pakan Owa.
Menjamin keberadaan lebah berarti menyediakan buah pakan Owa dan regenerasi hutan terus terjadi.

hutan sebagai tabungan ekologi
Selain itu untuk mengurangi tekanan terhadap habitat primata terancam punah, madu mempunyai nilai ekonomi yang tinggi,  budidaya lebah yang di kembangkan di sekitar hutan bisa menjadi tambungan ekologis jangka panjang yang tidak hanya sumber pangan yang sehat namun juga berperan penting untuk melestarikan lingkungan sekitar kita secara berkelanjutan.



Monday, October 24, 2016

Suara Owa dalam secangkir Kopi


Kurang lebih 4 tahun sudah kegiatan proyek “Kopi dan Konservasi Primata” berjalan, perjalanan yang tidak singkat dan ternyata banyak hal yang juga telah memberi pengalaman dan pelajaran berharga bagi upaya konservasi primata endemik di wilayah Jawa Tengah. Pelestarian primata yang kita arus utamakan dengan mengkombinasikan penguatan ekonomi  untuk menopang kegiatan konservasi di habitat primata terancam punah, menjadi tantangan yang serius dan sekaligus menyenangkan.

Permasalahan selalu ada dan kegiatan pelestarian primata juga mengalami dinamika yang kadang ada hal hal yang tidak bisa diatasi sendiri. Mengkomunikasikan bahasa konservasi menjadi lebih universal dan mudah diterima kadang terlalu cepat hingga substansi pesan pelestarian ini menjadi ”buzz word”, atau kata-kata marketing hijau yang memeberi dukungan kepada kegiatan yang menurunkan kualitas hutan sebagai habitat primata endemik dan fungsi sosial dan ekonominya.
kegiatan produksi kopi Owa
Namun demikian,semangat dari dalam hati membuat kita terus melalui semua hal dengan senang, menambah jaringan teman, dan memulai hal yang baru menjadi motivasi lain, menaikan hormon dopamine ketika berkaitan dengan kopi dan konservasi primata. Beberapa kunjungan internasional menjadi corong kepada dunia luar bahwa kita juga tidak diam terhadap kepunahan-kepunahan dan kerusakan yang terjadi. 

bahasa bukan kendala lagi kalau membicarakan primata dan kopi
Sejak bulan Agustus hingga Oktober ini, kegiatan kita " kopi dan konservasi" mendapat tamu-tamu istimewa,yang tertarik untuk melihat langsung kegiatan ini. Kunjungan dari  director proyek pelestarian kukang (LFP) menjadi semangat bagi tim bahwa kita tidak sendirian menahan laju kepunahan primata jawa, Profesor Anna Nekaris, dari Oxford Brookes University, secara langsung menuliskan pesan dan kesan nya ketika berkunjung ke Sokokembang dan mengujungi markas SwaraOwa di Yogyakarta.


Ada juga kunjungan dari Secretariat land care Australia,membuat kita semakin percaya diri bahwa kopi dan produk hutan lainnya juga dapat menjadi satu-kesatuan cerita yang saling menguatkan untuk pelestarian primata dan hutan sebagai habitatnya.
Victoria Mack dari Secretariat for International Landcare Inc

Yang lebih sepesial lagi, adalah kunjungan 23 peserta pelatihan primata di Sokokembang, yang menjadi agenda tahunan proyek ini, teman baru yang mungkin di antaranya akan meneruskan upaya-upaya pelestarian serupa di  tempat lain atau di lain waktu.
Teman baru pegiat konservasi primata peserta pelatihan metode survey primata 2016 
produk-produk hasil hutan untuk konservasi
Produk-produk konservasi yang terinspirasi dari kegiatan ini telah dan sedang di kelola dan di pasarkan kepada masyarakat luas, kopi, madu dan gula aren menjadi media kita untuk menyuarakan pelestarian Owajawa dan hutan sebagai habitatnya. Penjualan -penjualan yang kita lakukan menghasilkan dana konservasi yang sustainable meskipun dalam jumlah yang masih relative kecil, namun penting untuk menyokong kegiatan selanjutnya dan juga memperluas target wilayah perlestarian primata dan semua fungsi penting hutan.  Bagi anda yang ingin berkontribusi terhadap produk-produk  dan aktif menyuarakan upaya pelestarian ini bisa langsung berkomunikasi dengan lewat media sosial kami di FB, twitter, IG @swaraOwa dan email : sokokembang.channel@gmail.com, atau melalui Buka Lapak. Terimakasih, Salam Owa!!

Thursday, July 21, 2016

Kisah Owa di Konservasi Asia

 Akhir bulan juni tanggal 29 Juni -2 July 2016, adalah kesempatan kami mempromosikan kegiatan pelestarian primata endemik jawa (Owa Jawa) di forum internasional. Kali ini pertemuan 2 tahunan para  peneliti dan pegiat konservasi di wilayah Asia (ATBC dan SCB), yang berlangsung di National University of Singapore (NUS). Silahkan berkunjung ke link ini untuk acara ini Conservation Asia Pertemuan ini mejadi salah satu favorit kita untuk bergabung dengan komunitas global dalam menyuarakan upaya pelestarian primata di Indonesia dan khususnya Owa jawa. Conservation Asia 2016, kali ini tercatat 500 delegasi dari 37 negara yang hadi terdaftar sebagai peserta symposium.

Betemu dengan pegiat primata dari berbagai negara

Setelah beraktifitas dengan kegiatan lapangan kemudian menceritakan ke orang lain dalam forum resmi dari berbagai negara adalah suatu motivasi tersendiri, dan menjadi kebanggaan tersendiri dapat berbagi pengalaman kegiatan lapangan dalam berkontribusi untuk kelestarian hidupan liar yang sudah terancam punah . Tidak hanya untuk Owa jawa, tapi secara langsung presentasi ini juga mengenalkan kegiatan “Kopi dan Konservasi Primata” dari habitat aslinya Petungkriyono Pekalongan, Jawa Tengah .

Presentasi berjudul “ What Does Coffee have to Do with gibbon” adalah rangkuman cerita lapangan sejak tahun 2007 kita mulai penelitian Owa jawa di Jawa Tengah hingga 3 tahun terakhir ini kita mendorong kegiatan ekonomi untuk tujuan konservasi melalui produk hasil hutan  : kopi, gula aren dan madu sebagai media untuk mengajak melestarikan primata endemik Jawa.

Presentasi "Kopi dan Konservasi Primata" foto Oleh : H.A.Wahyudi

Forum ini juga menjadi media belajar kita, untuk upaya kegiatan serupa dari kisah sukses di negara lain.Banyak peneliti-peneliti, pegiat dan pemerhati lingkungan hadir dan mempresentasikan hasil-hasil ataupun penelitian dan kegiatan konservasi yang sudah dan sedang mereka jalani. Pilihan diskusi dan tanya jawab langsung di permudah dengan paralel symposium yang mana kita bisa memilih sesuai bidang yang kita minati.

Acara Pembukaan symposium Conservation Asia 2016

Selain mengenalkan Owajawa acara ini juga menjadi bagian dari marketing strategi untuk pelestarian primata dengan menggerakkan ekonomi dari sekitar habitat primata itu sendiri, Kopi Owa yang telah dan sedang kita kembangkan sebagai sustainable product ikut menjadi bagian dari presentasi kita. Produk-produk ini adalah hasil kerjasama kita dengan warga sekitar habitat primata yang menjadi bagian dari pengembangan Proyek Kopi dan Konservasi Primata. Lebih jauh tentang acara ini dapat di baca di link ini dan abstract presentasi kita dapat di download disini.
Mengenalkan Owa Jawa melalui produk kopi dari habitat Owa Jawa.