Showing posts with label Petungkriono. Show all posts
Showing posts with label Petungkriono. Show all posts

Sunday, March 7, 2021

Penyelamatan Hulu Sungai Kupang, Aksi konservasi Forum Kolaborasi Pengelolaan Hutan Petungkriyono

 oleh : Arif Setiawan @swaraowa

Dusun Lindon, desa Tlogohendro, menjadi lokasi yang menjembatani komunikasi antar pihak dalam wadah forum komunikasi pengelolaan hutan petungkriyono, untuk bertemu dan memulai  aksi bersama di lapangan. Kegiatan lapangan ini menjadi yang pertama kali sejak surat keputusan di keluaran oleh Gubernur jawa tengah, untuk forum kolaborasi pengelolaan hutan Petungkriyono.



Acara yang di inisiasi oleh Perhutani KPH Pekalongan Timur,  Cabang Dinas Kehutanan 4, Jawa Tengah dan SwaraOWA, telah berhasil mengundang  dan mempertemukan pihak-pihak terkait yang peduli akan pembangunan dan kelestarian hutan Petungkriyono.

Untuk sampai ke dusun Lindon, niat saja tidak cukup, namun perlu upaya yang tidak biasa-biasa saja, karena geografis yang bergunung, dan jalan berliku yang kanan-kirinya jurang dan tebing batu. Menjadi semangat  semua perserta yang  belum pernah berkunjung ke desa di pelosok pegunungan Kabupaten Pekalongan.






Acara penanaman pohon di hulu sungai Kupang,  mempertemukan anggota forum dan warga desa Tlogohendro, setidaknya untuk mengenalkan personal dan juga selanjutnya dapat  mengkomunikasikan kebijakan masing-masing Lembaga dalam mensinergikan tata Kelola  hutan yang menjadi habitat Owa Jawa, dan satwa-satwa endemik Jawa lainnya.  


Acara penanaman pohon hari kamis tanggal 4 Maret 2021 di hadiri oleh setidaknya 120 orang, yang Sebagian besar adalah warga desa Tlogohendro, dan tamu undangan dari anggota forum kolaborasi pengelolaan hutan Petungkriyono. Dibuka oleh Bapak Kaslam, selaku kepala Desa Tlogohendro, membuka dengan mengajak warga Tlogohendro khususnya untuk terus menjaga alam, karena alam juga sudah memberikan manfaatnya untuk kita sehari-hari,sperti udara bersih, menjaga dari bencana, dan tidak menebang  pohon-pohon yang ada di hutan. “Kegiatan seperti ini harusnya dapat di teruskan atau dapat di lakukan secara berkelanjutan, agar hutan juga terus lestari dan aman”, harapan pak Kaslam.

Bapak Sugiharto, dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah memberi sambutan bahwa kegiatan ini diharapkan menjadi momentum untuk melestarikan fungsi penting DAS Kupang, mengajak warga sekitar  menjadi bagian penting dalam menjaga Kawasan penting di Petungkriyono.  Jenis-jenis yang di tanam dan dibagikan ke warga di Tlogohendro kuranglebih 1250 batang, terdiri dari Bambu petung, dan Aren, yang secara ekologis penting untuk pelestarian tanah dan air, namun juga dari sisi ekonomi sangat berarti bagi warga Petungkriyono. Jenis yang lain adalah tanman buah Nangka, Sirsak, dan Petai dan Jengkol.




Pemilihan jenis pohon yang di tanam sudah melalui survey awal terhadap lokasi tanam, berada di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut, kondisi tegakan yang masih hidup,  keinginan warga dan fungsi ekologis tanaman itu sendiri. Bambu Petung ( Dendrocalamus asper) merupakan tanaman pencegah longsor yang baik, Bambu petung ini biasanya tumbuh di tepi-tepi sungai kecil yang berkontur curam. Bambu petung juga merupakan komoditas bahan pangan yang memanfaatkan rebungnya. Untuk bahan konstruksi dan kebutuhan penanaman sayuran ( ajir), juga sudah banyak di manfaatkan oleh petani-petani di bagian atas Petungkriyono, khususnya Tlogohendro.


Nangka ( Arthocarpus heterophyllus), merupakan komoditas bahan pangan yang utama untuk di Pekalongan, karena nasi megono , kuliner khas Pekalongan ini menggunakan Nangka muda sebagai bahan bakunya, meskipun belum ada data mengenai kebutuhan Nangka untuk megono, namun produsen Nangka untuk megono ini salah satunya berasal dari Kecamatan Petungkriyono. Jenis-jenis tanaman buah yang di tanam juga merupakan komoditas tanaman pangan sekaligus untuk fungsi ekologis tutupan hutan dan perbaikan habitat satwaliar.

Kopi Arabica Jawa, varian typica dan pohon Aren ( Arenga pinnata) menjadi salah satu komoditas unggulan warga di Tlogohendro dan umumnya warga di Petungkriyono, dan menjadi keinginan warga untuk memperbanyak tegakan kopi muda yang di tanam di lahan-lahan milik warga. Pohon aren selain berfungsi untuk mencegah longsor dan vegetasi penahan air hujan, aren ini menjadi sumber bahan baku untuk Gula aren dan Kolang-kaling yang sudah sejak dahulu di kelola warga di Petungkriyono. Pak Tasbin, Ketua LMDH Tlogohendro, mengungkapkan kalau potensi kopi di Desa Tloghendro ini sangat besar, namun masih belum dikelola dengan baik, tanaman-tanaman kopi sudah banyak yang tua dan kurang produktif. Dengan adanya regenerasi tanaman kopi ini, diharapkan dapat menyediakan kopi-kopi istimewa dalam waktu 4 tahun mendatang, ungkap pak Tasbin. 


Salah satu program pemberdayaan yang dilakukan oleh tim Swaraowa juga telah membuat semai kopi dan Aren ini di dusun Sokokembang. Bersama warga khusunya ibu-ibu di Sokokembang, tahun ini telah berhasil memproduksi kuranglebih 15000 batang bibit kopi Arabica dan 500 batang bibit Aren. Bibit siap tanam dari kebun bibit  di dusun, Sokokembang ini yang digunakan untuk penanaman di hulu Sungai Kupang.





Acara penanaman pohon di hulu Sungai Kupang, bertema “Penyelamatan hulu Sungai Kupang, untuk Pencegahan Banjir dan Longsor” juga merupakan bentuk kampanye penyadar tahuan tentang pentingnya Kawasan hulu sungai petungkriyono sebagai Kawasan tankapan air untuk wilayah dibawah, dan sarana edukasi untuk mengajak siapapun untuk menanam dan merestorasi Kawasan hutan. Pohon-pohon penting secara ekologis untuk melindungi tanah dan air, menyediaka pilihan-pilihan  komoditas ekonomi, dan juga tempat berlindung bagi berbagai hidupan liar.


Wednesday, August 19, 2020

The Role Coffee Plays In Javan Gibbon Conservation

 Written by: Benehad Gabriel Yosep Ruritan | Email : ben.ruritan@gmail.com 


Who is SwaraOwa?

Back in August 2020, I enrolled myself in an internship program with SwaraOwa. A non-governmental organization (NGO) focused on the conservation work for Indonesian primates, especially Gibbon, the small apes. Swaraowa means a gibbon voice in Javanese.

The history of SwaraOwa led by Arif Setiawan originally started  in 2008, when he runs the project in Mt. Slamet Central Java, for Endangered Primate Conservation Project, this project supported by Rufford Foundation. Then -a supported project named "Coffee and Primate Conservation" in 2012 with the objective of Javanese gibbon's habitat preservation in Petungkriyono District located in the western part of Dieng Mountain.

The coffee part of the name came from the approach that was taken by the team in creating a compromise between the residents' needs and the conservation objective of the project.  Coffee naturally grows beneath the cover of the rainforest in which the Javanese gibbon resides. And thus. Coffee cultivation and production work to redirect the local's of Sokokembang from forest damaging economic activities and into the preservation of the forest via sustainable economic development. And as of now, some amount of coffee from Petungkriyono is managed and distributed by OwaCoffee, a subsidiary of SwaraOwa.




OwaCoffee For SwaraOwa

I was assigned to the OwaCoffee activity during the internship program. This coffee program of SwaraOwa has become quite a success story. Over the years, it has fostered relationships with several zoos worldwide, such as the Singapore Zoo, Fort Wayne Children's Zoo and  Zoo Ostrava.  Through this coffee program, SwaraOwa enables itself to be self-sustainable and empowers the residents of the Sokokembang Village, seen from the growth of farming groups and infrastructure improvement the area has received over the years.

I met Dr. Muhammad Ali Imron from the Gadjah Mada University Forestry Faculty, which explained that most Indonesian NGOs inherits the problem of self-sustainability due to how they were founded.  Specifically, most NGOs grew from a time and funding limited project into an ongoing program. This condition hampers the transition process and induces financial problems in the future. SwaraOwa’s ability to be self-sustainable through its OwaCoffee program has been quite the inspiration to many other NGOs in Indonesia.

Predicaments Faced By OwaCoffee

However, the operation of OwaCoffee is not as smooth as it may seem. As lined out by Saladin Akbar from the BlackJava roastery located in Yogyakarta, the problem faced by this organization can be divided into three major categories, which are: farming, production, and distribution. 

 In farming, they face the need to educate local farmers of Petungkriyono in increasing their quality of coffee cherries, which in itself is no easy task knowing the deep level of intricacies revolving around coffee plantation such as managing the ground condition, understanding the need of the plants, knowing what and when to harvest. 

"the jungle beans" gibbon friendly coffee -  OwaCoffee

 While production includes everything post-harvest, this includes grading, hulling, storage, roasting, and many others, which greatly plays into the quality of the finished product. Lastly is the distribution, which talks about public intake of the product. Currently, single-origin coffee only makes a small percentage of Indonesian coffee consumption. 

 Akrom, the owner of Mari-ngopi a  coffee shop in Yogyakarta, informed me that the lack of specialty coffee absorption is due to the condition that Indonesians do not need specialty coffee. The masses are satisfied with the commercialized and easy to drink coffee mixers, which does not require high-grade coffee to be enjoyed.  This condition caused SwaraOwa to look for new ways for their coffee, the ex-situ distribution efforts, such as creating a bond with the Singaporean Zoo to market their products.

During my internship, I found SwaraOwa to be particularly ingenious.  Their ability to utilize Petungkriyono’s coffee as a medium to converse the Javanese primates, utilizing local empowerment through coffee plantations, was a breakthrough by itself. Through this kind of collaboration, sustainability was provided for the conservation activity that many have never recognized. SwaraOwa has ensured the continuity of the program via a separate entity, namely OwaCoffee that has a high interest in the market.

From this experience, I found out that conservation activities can be strengthened through public participation by various means, including market-based methods. The Indonesian gibbons at Petungkriyono District in Central Java are one of the benefactors of this mechanism.

 

Tuesday, July 21, 2020

Owa Jawa : Kopi dan Konservasi Primata

Oleh : A.Setiawan (a.setiawan@swaraowa.org)

Owa jawa (Hylobates moloch)

Kabar terbaru dari habitat owa jawa, minggu ini kami melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda karena pandemi Covid_19. Progam Kopi dan Konservasi Primata yang telah di mulai sejak tahun 2012, untuk mendukung pelestarian owa jawa di wilayah Jawa Tengah. Kopi yang menjadi pilihan komoditas yang dapat menggerakkan roda ekonomi di sekitar hutan habitat Owa memberikan harapan positif, dengan munculnya unit-unit kelompok usaha kopi di sekitar hutan Owa. Perubahan yang Nampak terlihat ketika panen kopi dibanding awal kita mulai project ini, kalau dulu jalan di dusun-dusun di Petungkriyono ini banyak kopi yang di jemur di jalan dengan kondisi kopi yang di jemur campur, sekarang sudah sebagian sudah ada  menjemur biji kopi lebih bersih, setidaknya sekarang sudah ada perbedaan dan peningkatan dalam mengelola kopi. Untuk melihat dan komunikasi lasung dan mendapatkan produk-produk ini dapat berkunjung langsung ke dusun Sokokembang, di Petungkriyono, Pekalongan,  swaraowa headquarter di Yogyakarta atau melalui sosial media owa coffee. 


Proses penjemuran kopi di Sokokembang

Selain peningkatan pengetahuan tentang pengolahan kopi, melalui proyek ini kami juga mencoba melihat kemungkinan pengembangan unit usaha kopi di sektor hulu, melalui penyediaan bibit kopi, selain mengantisipasi produksi di masa mendatang, kegiatan ini juga memberikan dampak positif untuk pengembangan pengetahuan, pengalaman, dan sebagai alternatif pendapatan ekonomi dari produksi kopi itu sendiri. Adanya unit-unit kelola kopi yang tersebar di beberapa dusun di Petungkriyono, saat ini sudah ada alat sangrai kopi yang banyak di gunakan warga sekitar untuk menyangrai kopi untuk dikonsumsi sendiri atau pun di jual kembali. Apresiasi terhadap kopi itu sendiri juga sudah mulai terlihat, bahwa warga juga sudah menghargai kopi mereka sendiri, kemudian mengajak oranglain untuk menghargai kopi mereka yang mereka produksi.

Pembibitan Kopi di Sokokembang yang dimulai tahun 2018

Bibit bibit kopi ini kami kembangkan dari varietas yang sudah ada saat ini, jenis Kopi Arabica  varietas typica, atau di kenal dengan nama kopi jawa dan kopi Robusta. Yang sudah ada sejak jaman Belanda di kawasan ini. Pemilihan jenis ini lebih karena adaptasi yang sudah sejak lama, di kawasan pegunungan Jawa bagian Tengah. Pendekatan yang kami lakukan karena kegiatan ini dalam rangka mendukung kegiatan pelestarian Owa Jawa dan habitat aslinya, kami berkomunikasi dengan para pemburu-pemburu satwaliar di Petungkriyono, mencoba menyampaikan bahwa aktifitas perburuan yang dilakukan tidak akan mendatangkan uang yang membawa kebaikan  dan sudah pasti  juga merusak hutan.


Pembibitan kopi ini selain kami buat di dusun Sokokembang, juga kami buat di dusun Candi, dan tahun ini berhasil memproduksi bibit kopi kurang lebih 1500 bibit kopi yang sudah siap tanam, dan ada kuranglebih 20,000 bibit yang sedang dalam prooses. Bibit ini kami distribusikan ke petani di sekitar habitat Owa Jawa, di wilayah Jawa Tengah dan juga kami gunakan untuk fundrising, di jual untuk umum, dana yang terkumpul dari penjualan ini akan di gunakan kembali untuk kegiatan lapangan. Untuk taham pertama kami mengirim bibit kopi ke Dusun Gunung Malang di Purbalingga, Jawa Tengah. Hutan Gunung Slamet adalah habitat dari primata endemik dan mamalia Jawa 1, 2, 3.  Ada salah satu warga yang dulu juga terlibat dalam kegiatan survey Owa1, dan kebetulan juga mantan pemburu yang mau mengelola dan menanam kopi di lahannya.  Kami juga sempat melihat langsung habitat Owa di Gunung slamet ini, dan lokasi dimana kopi akan ditanam. Ancaman pembukaan hutan untuk perkebunan sepertinya masih ada, meningkatnya industri tanaman sayur di kawasan ini sudah tentu akan memberi tekanan tinggi terhadap tegakan hutan alam yang ada. Aktifitas kawasan penyangga hutan alam, kopi yang di bawa ke dusun Gunung Malang ini harapannya dapat memberikan alternative komoditas yang dapat di kelola bersamaan dengan tanaman pangan lainnya. Sistem budidaya wana tani yang mencampurkan berbagai macam komoditas akan memberikan nilai ekonomi sekaligus mendukung praktik terbaik dari pertanian di kawasan sekitar hutan.

Kawasan penyangga hutan lindung G.Slamet, lereng timur

Aktifitas para pemburu hutan untuk aktif mengelola lahan kopi akan menjadi kesibukan tersendiri yang sudah jelas hasil yang akan di peroleh, daripada harus berburu kehutan tanpa ada hasil yang pasti. Kegiatan berburu yang sifatnya mengeksplotasi sumberdaya alam di gantikan dengan kegiatan ekonomi produktif yang melestarikan hutan.


Daftar pustaka :
1. Setiawan, A., Wibisono, Y., Nugroho, T.S., Agustin, I.Y., Imron, M.A. and Pudyatmoko, S., 2010. Javan Surili: A Survey Population and Distribution in Mt. Slamet Central Java, Indonesia. Jurnal Primatologi Indonesia, 7(2).
2. Setiawan, A., Nugroho, T.S., Wibisono, Y., Ikawati, V. and SUGARDJITO, J., 2012. Population density and distribution of Javan gibbon (Hylobates moloch) in Central Java, Indonesia. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 13(1).
3. Maharadatunkamsi, M., 2017. Profil Mamalia Kecil Gunung Slamet Jawa Tengah. Jurnal Biologi Indonesia, 7(1).

Monday, January 20, 2020

Jaring Hantu Mengancam hidupan liar di Hutan


  • perburuan burung masih terjadi di hutan-hutan alam di Jawa Tengah
  • Jaring hantu, jaring burung yang ditinggalkan oleh para pemburu di hutan, terbentang dan menjerat burung-burung dan mamalia terbang seperti kelelawar.
  • burung mempunyai peran penting di alam, sebagai penyerbuk, penyebar biji, pemakan serangga hama, dan tentunya suara merdunya di alam adalah nilai seni tak terkira.


Jaring Hantu atau ghost net, mungkin pernah mendengar ini, dan biasanya ini untuk di perairan/lautan  (marine wildlife), awalnya jaring-jaring nelayan ini  lepas , hilang, atau hanyut dan akhirn ya menjadi masalah buat ikan-ikan, penyu atau hidupan liar di laut. Banyak hidupan liar ini mati terjerat, terluka, kelaparan bahkan menelan jaring-jaring ini, ditemukan dalam pencernaan ikan bersama sampah-sampah plastik,  dan ternyata jaring hantu ini juga ada di hutan.

burung yang mati  hingga kering terjerat "jaring hantu"

Penggunaan jaring untuk menangkap burung, banyak di gunakan oleh pemburu-pemburu burung, hal ini dengan tujuan tentunya mendapat burung buruan lebih banyak dan mudah. Penggunaan jaring burung ini di kenali dari tanda-tanda yang biasa kita temukan, biasanya ada di tempat terbuka, atau membuat tempat terburka ada 2 tiang panjang dan terdapat sudung, atau tempat menunggu burung.
Jaring yang digunakan biasanya juga merupakan jaring khusus, ada yang menyebut dengan jala kabut, tidak terlihat jelas karena ukurannya benang yang dipakai yang kecil, dan sangat kuat, tidak mudah putus.
Jaring kabut terbentang  untuk menangkap burung

Namun yang terjadi ada beberapa pemburu yang mungkin karena tidak sabar atau alasan lain, meninggalkan jaring yang di pasang tadi, jaring yang di tinggalkan ini tentu saja akan menjadi jebakan untuk satwaliar yang terbang melintas, dan tentu saja tidak hanya burung, dan ini saya namakan “Jaring Hantu”.
jaring burung yang ditinggalkan pemburu

“Jaring Hantu”, karena di tinggalkan begitu saja tidak di lepas, dan menjadi perangkap apa saja yang lewat di tempat tersebut terutama yang terbang melintas seperti burung dan kelelawar. Yang terjerat jaring ini bisa di pastikan mati, karena tidak bisa lepas dan seperti yang kami temukan burung dan kelelawar yang tersangkut di jaring ini sampai mati kering. Burung-burung pemangsa bisa juga terjerat jaring tak bertuan ini, melihat ada burung yang terjerat tentu akan mengundang menarik burung pemangsa untuk datang juga. 
tiang penyangga jaring kabut untuk menangkap burung

Burung punya peran penting untuk sistem lingkungan, pemakan serangga penggangu tanaman, membantu penyerbukan, penyebar biji-bijian hutan dan masih banyak lagi, penelitian-penelitian tentang hal ini juga sudah banyak dibuktikan kalau ada peran penting burung di sekitar kita. Perburuan dengan cara apapun dan mengurungnya dalam sangkar tentu menghilangkan nilai penting burung untuk kita sendiri.
Caladi tilik (Picoides moluccensis) sedang mencarai serangga di pohon Sengon





Wednesday, December 13, 2017

Heterotrigona itama dari habitat Owa

Salah satu kegiatan penguatan ekonomi di habitat Owa Jawa, khususnya di wilayah hutan Sokokembang, Petungkriyono Pekalongan adalah membudidayakan lebah hutan. Bertujuan selain untuk produksi madu yang bernilai ekonomi tinggi dan sehat, namun juga mengarus utamakan peran lebah-lebah ini sebagai agen penyerbukan, pollinator.



Yang dalam video ini adalah jenis lebah madu klanceng memang paling besar di genus trigona,Heterotrigona itama lebah yang berwarna hitam dan, dan tentunya untuk produksi madu juga lebih cepat, secara kemampuan jelajah terbang tentu jenis ini juga lebih banyak mengunjugi bunga, kemungkinan fungsi pollinatorya juga lebih luas. Pelatihan budidaya lebah beberapa waktu lalu setidaknya juga telah memberi pengetahuan dan pengalaman baru bagi warga sekitar habita Owa, bahwa lebah-lebah ini juga turut berperan penting bagi lingkungan sekitar.

Warga ds.Sokokembang dengan kotak lebahnya

 Lingkungan yang sesuai tentu saja menjadi syarat untuk tumbuh berkembangnya lebah-lebah ini, dan tentunya butuh waktu untuk berproses menjadi sumber pendapatan  yang berkelanjutan. Harapan juga hutan terus lestari, karena semakin banyak pollinator juga memungkinkan hutan dan tanaman pangan terus ber regenarasi.
Peran penting lebah untuk penyerbukan tanaman

bacaan lebih lanjut :
https://taxo4254.wikispaces.com/Heterotrigona+itama
http://welovefuture.net/meliponiculture/?lang=en


Friday, August 5, 2016

Kelana si Kembang Asem : Macan Tutul Jawa

di tulis oleh: Sundah Bagus Wicaksono
e-mail : sbw_genetiq@yahoo.com

Macan Tutul yang tertangkap camera jebak

Sebagai seorang pengagum felids atau kucing-kucingan saya sangat antusias untuk mempelajari lebih jauh akan makhluk cantik nan eksotis ini. Jika dilihat dari persebaran subspesiesnya terbersit pertanyaan di benak saya, mengapa mereka bisa melanglangbuana sampai ke pulau Jawa, padahal mereka tidak ditemukan di pulau-pulau Indonesia yang lain bahkan Sumatera dan Bali atau Kalimantan sekalipun? Tidak seperti tiga kerabat besarnya yang lain (singa, harimau, dan jaguar) yang memiliki persebaran linear serta beraturan di tiap benua. Apakah ini salah satu contoh hasil survival dari mereka?
Perlu lagi kita ketahui bahwasannya negara kita dikaruniai satu dari beberapa subspesies mereka, namun perhatian kita selalu luput darinya dan melihat kepada spesies lain yang kita anggap jauh lebih penting untuk dipedulikan. Mungkin sebagian orang tidak mengetahui bahwa mereka termasuk satwa yang tergolong langka dan hampir hilang eksistensinya di bumi. Organisasi Konservasi Flora-Fauna Dunia; IUCN (International Union for Conservation of Nature) menyatakan bahwa status mereka sangat kritis saat ini, sama seperti sepupu lorengnya di Sumatera. Jumlahnya di alam tidak lebih dari 400 ekor yang tersebar di seluruh pulau Jawa.
Hampir sama seperti kasus di India, mereka sering terlibat konflik dengan manusia karena berbagai faktor. Banyak sekali informasi yang didapat tentang masuknya mereka ke kampung dan memangsa ternak lalu berakhir dengan kematian karena dibantai. Kita telah kehilangan dua subspesies kucing besar sekarang, apakah iya kita harus kehilangan satu lagi? Seyogyanya perhatian kita kepada mereka tidak kalah dibanding satwa langka yang lain dan selalu menjaga kelestariannya untuk masa depan. Menurut saya, sang raja hutan celingus dari Jawa ini adalah subspesies yang sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut.

“Satwa ini dianggap setan karena menjadi makhluk yang jarang dan sulit untuk dijumpai secara langsung.”

Sedikit cerita saya mengenai satu kejadian dimana macan tutul Jawa masuk kampung dekat hutan Petungkriyono dan membuat heboh seisi kampung. Kisah ini saya dapat dari penuturan salah seorang warga kampung tersebut. Macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) atau orang dusun tesebut biasa menyebutnya macan kembang asem merupakan satu-satunya spesies kucing besar yang hingga saat ini masih hidup di tanah Jawa dan diisukan pernah berkeliaran di sekitar hutan Petungkriyono. Menurut Pak Kliwon, salah seorang warga Dusun Tinalum, satwa ini dianggap setan karena menjadi makhluk yang jarang dan sangat sulit dijumpai secara langsung, namun segelintir orang mengaku pernah berpapasan dengannya.
Di awal tahun 2000 dikabarkan bahwa ada kembang asem turun gunung lalu masuk ke pemukiman dan memangsa ternak milik warga. Adalah Dusun Sokokembang, sebuah dusun yang berada di Desa Kayupuring, Kec. Petungkriyono, Kab. Pekalongan, Jawa Tengah yang menjadi sasaran si kembang asem. Dusun ini adalah tetangga sebelah dari Dusun Tinalum. Selain menyerang ternak milik warga, kembang asem yang keluar dari persembunyiannya ini juga membuat resah warga kampung sehingga warga menjadi takut untuk melakukan aktivitas keseharian mereka apalagi di malam hari. Setelah beberapa hari kembang asem meneror, maka tekad warga untuk menangkapnya semakin bulat.
Petang menjelang. Setelah hewan peliharaan milik warga diamankan ke kandang, segeralah para bapak dan remaja lelaki bersiap diri di rumah masing-masing dengan beberapa alat pertahanan diri dan penangkap. Beberapa rumah menjadi sukarelawan penyedia umpan seekor ayam untuk memancing si kembang asem keluar. Benar saja setelah beberapa saat ditunggu, seekor ayam salah seorang warga mulai mengeok, layaknya di terkam sesuatu. Aba-aba inilah yang dinantikan oleh warga kampung untuk segera melakukan penggerebekan. Pertama-tama pemilik rumah yang mendapati umpannya diterkam memberitahukan ke tetangganya yang tidak terlalu jauh untuk memberi kabar ke semua warga kampung agar keluar rumah untuk bersiap melakukan eksekusi.
Satu persatu warga berdatangan menuju rumah yang mendapati umpannya telah dimangsa. Dengan langkah pelan mereka berjalan mendekati rumah tersebut dengan tujuan agar kehadiran mereka tidak terdeteksi si kembang asem. Setelah bersiap di posisi masing-masing, salah seorang warga memberanikan diri untuk mendekati kandang ayam yang di duga menjadi tempat kembang asem menyantap hidangannya. Berhasil. Seorang warga tadi berhasil melakukan penyerangan kepada kembang asem tepat dibadannya menggunakan sebilah kayu. Brukkk! Di bagian samping perut lah sebilah kayu tersebut mengenai. Sontak saja, si kembang asem langsung berlari menuju ke luar kandang. Karena menemukan jalan buntu akibat dihadang warga dan tidak bisa kabur kembali ke hutan, akhirnya kembang asem ini memilih masuk ke salah satu rumah warga yang aksesnya masih terbuka. Untung saja sudah tidak ada orang di dalamnya. Sorak riuh suara warga menambah ketegangan Dusun Sokokembang malam itu. Seperti sedang ada peristiwa pencurian atau pembunuhan.

“Dikarenakan tubuh sudah tidak bisa bergerak maupun meronta oleh jepitan bambu, maka dengan sekali ayunan tepat mengarah ke kepala lah kembang asem malang ini tumbang.”

Setelah hampir satu jam si kembang asem bersembunyi, warga pun beraksi lagi. Sekarang banyak dari warga yang memberanikan diri menjadi relawan untuk melakukan penyergapan langsung, karena mereka tahu bahwa si kembang asem saat ini telah terluka. Eksekusi dimulai kembali. Rumah yang dimasuki kembang asem dikunci dan ditutup rapat dari luar sehingga kembang asem tidak bisa lagi kabur. Warga memasukkan bambu-bambu panjang yang telah dipersiapkan untuk mengantisipasi tubuh kembang asem meronta melalui beberapa celah rumah yang memang bolong dan tidak tertutup. Tidak mudah, namun dengan masuknya kembang asem di bagian dalam rumah yang sempit menjadikan warga lebih mudah melakukan penggencetan badan. Sekali-dua kali kembang asem meronta, mungkin karena rasa takut dan luka memar yang menimpanya. Si kembang asem ini seperti kehilangan tenaga dan jarang sekali melawan. Dengan nafas terengah-engah dan sedikit merinding, seorang warga bersiap memukul dengan tongkat kayu yang lumayan keras tepat ke arah kepala. Dikarenakan tubuh sudah tidak bisa bergerak oleh jepitan bambu, maka dengan sekali ayunan tepat mengarah ke kepala lah kembang asem malang ini tumbang. Ya, macan tutul tersebut mati seketika dengan cedera parah di bagian belakang kepalanya.
Penggerebekan kasus pencurian telah usai dengan akhir kematian si kembang asem. Seakan teror yang dilakukan oleh kembang asem di Dusun Sokokembang lenyap seketika malam itu. Warga memastikan macan tutul tersebut telah mati. Satu per satu warga masuk ke dalam rumah eksekusi, menyeret, dan mengarak tubuh lemas si kembang asem keliling kampung, menandakan mereka berhasil menang mengalahkankan lawannya. Gembira, takut, lega, dan tentu saja rasa geram warga kampung menyulut aksi mereka untuk mulai menyembelih, menguliti, hingga beberapa ada yang memasak dagingnya untuk dimakan. Entah kenapa euphoria kemenangan warga kampung menjadikan mereka melakukan hal tersebut. Dengan adanya peristiwa malam itu menjadikan Dusun Sokokembang kembali aman dan tidak ada lagi cerita heboh oleh ulah kembang asem lain yang dapat meresahkan warga. Selama beberapa tahun warga tidak menjumpai lagi keberadaannya di sekitar hutan dan juga sangat jarang ada cerita warga bertemu langsung dengannya. Sekali lagi kembang asem menjadi setan.

“Selama beberapa tahun warga tidak menjumpai lagi keberadaan macan tutul di sekitar hutan dan juga sangat jarang ada cerita warga bertemu langsung dengan macan tutul. Sekali lagi kembang asem menjadi setan.”

Pada pertengahan tahun 2015 kemarin, tepatnya bulan Mei-Juni, kami tim peneliti dari UGM melakukan penelitian tentang Mamalia Kecil di Hutan Petungkriyono. Kami memulai survei dengan menulusuri habitat hutan kopi  di sekitar Dusun Tinalum dan Dusun Sokokembang, dusun yang telah dan sedang dikenal melalui kegiatan pelestarian Owa Jawa melalui Proyek Kopi dan Konservasi Primata. Di hutan di sekitar dusun ini kami, kemudian kami memasang jebakan kamera (Camera trap), di titik-titik yang telah kami survey sebelumnya.Untuk meminimalisir kesalahan dalam identifikasi maka camera trap kami setting menjadi mode video.
Lama menunggu, hasil video dari rekaman camera trap yang di dapat tidak tanggung-tanggung. Banyak sekali ternyata jenis fauna yang mendiami hutan Petungkriyono. Sebagian besar dari mereka bersifat nokturnal (aktif dalam melakukan aktivitas di malam hari) dan beberapa ada yang diurnal (aktif di siang hari).

Akan tetapi dari ratusan video yang dihasilkan hanya dua video lah yang membuat tim terkesima, khususnya saya yang benar-benar terkesima. Masing-masing video tersebut merekam satu spesies satwa yang terlihat sedang melintasi jalan setapak buatan warga untuk masuk hutan. Satu video agak kurang jelas karena posisi objek yang terlalu dekat dan satunya lagi sangat jelas. Satwa tadi memiliki ciri-ciri yang familir bagi saya. Satwa tersebut jelas dari kalangan karnivora. Rambutnya berwarna dasar kuning kejinggaan dengan pola tutul roset hitamnya dan bagian ujung ekor yang menghitam. Ya, indah sekali, sangat memanjakan mata. Tidak salah lagi ini adalah penampakan macan tutul Jawa alias sang raja celingus alias kembang asem. Walaupun bagian tubuh si kembang asem yang terekam di video tersebut hanya tampak belakang dan atasnya saja akan tetapi dapat dipastikan kalau satwa ini benar-benar Panthera pardus melas. Rasa lelah saya terbayarkan. Bukan main senangnya saya bersama tim mendapatkan hasil bonus dari penelitian yang lumayan mengerakan tenaga dan pikiran ini.

“Satwa tersebut jelas dari kalangan karnivora. Rambutnya berwarna dasar kuning kejinggaan dengan pola tutul roset hitamnya dan bagian ujung ekor yang menghitam. Ya, indah sekali, sangat memanjakan mata.”

Kedua video kembang asem tadi diambil dari camera trap yang terpasang tidak jauh dari pemukiman penduduk. Dengan melihat akses pergerakannya menggunakan jalan setapak milik warga, sebenarnya kembang asem tersebut sehari-hari hidup berdampingan dengan mereka hanya saja enggan untuk menampakkan diri. Mengapa kembang asem tersebut memakai jalan setapak milik warga untuk masuk ke hutan sebagai pergerakannya? Sebab spesies-spesies satwa karnivora seperti kucing-kucingan atau musang-musangan diketahui memang sering memakai jalur lintasan yang relatif terbuka dari tetumbuhan untuk pergerakan, seperti halnya kita bila berjalan di atas rumput, terasa risih dan geli di kaki dan lebih memilih berjalan di atas tanah kosong. Selain itu memang beberapa hari sebelum kembang asem tersebut melintas camera trap merekam video kijang betina yang kelihatannya bunting sedang lewat. Kemungkinan ini yang menarik perhatian si kembang asem untuk berada disana. Menurut beberapa ahli felids dunia, spesies macan tutul dan jaguar berburu mangsanya dengan trik stalker (membuntuti) dan mulai menyerang disaat mangsanya lengah.
si Kembang asem
Adanya rekaman dari dua video ini menjadi bukti nyata bahwa kembang asem masih bernafas bebas di seputar masyarakat sekitar hutan Petungkriyono. Meski sekarang kembang asem hadir di dekat warga kampung disaat melakukan aktivitas keseharian tanpa sepengetahuan mereka namun kembang asem tersebut tidak akan mengganggu. Tidak seperti dulu. Seolah-olah mereka berdua mengerti jika hidup berdampingan dan saling memahami satu sama lain adalah tujuan hidup yang harmonis. Penuturan warga kampung yang berpapasan langsung dengan kembang asem kini mulai bermunculan. Kisah kembang asem yang telah hilang ditelan zaman hingga hampir satu dekade ini pun akhirnya kembali. Tidak menjadi raja hutan yang celingus lagi.

Wednesday, January 13, 2016

Kunjungan Universitas Missouri ke Habitat Owa

Tahun 2016 kegiatan pelestarian Owa Jawa di awali dengan kegiatan mengenalkan pada dunia luar bahwa kita mempunyai kekayaan alam yang unik dan kita juga turut aktif menjaga melestarikan keanekaragaman hayati yang ada di sekitar kita. Tamu kita kali ini adalah mahasiswa dari UniversitasMissouri Amerika, yang segaja datang mengunjungi kegiatan project “Kopi dan Konservasi Primata” yang telah dan sedang berjalan di Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan.

foto bersama Kepala Desa Kayu Puring

Awal kunjungan ini ketika bulan November 2015 pihak kampus Missouri, menghubungi kita setelah menemukan laporan dan kegiatan pelestarian Owa jawa ini lewat website swaraOwa. Mereka waktu itu sedang menyusun kegiatan kunjungan ke Indonesia yang tujuannya adalah untuk mengenal budaya alam dan kegiatan budidaya  pertanian dan kehutanan di Indonesia.

Singkat cerita, tanggal 9 Januari ke 9 mahasiswa dan 2 pengelola trip dari universitas  Missouri datang, dan untuk mengawali kegaitan field trip, kami awali dengan  presentasi tentang Project Kopi dan Konservasi Primata. Bertempat di project kafe patner, kafe @mariNgopi menjadi tempat mengenalkan cerita  kopi hutan dan  Owa Jawa sebagai primata endemik Jawa.

acara presentasi di kafe maringopi (foto Dani)

Kunjungan ke habitat Owa terlaksana tanggal 10 Januari 2015, pagi hari yang kita tentukan tim swaraowa bertemu dengan mahasiswa ini terminal bus  Doro, Kabupten Pekalongan, hal ini dikarenakan untuk masuk ke sokokembang tidak memungkinkan menggunakan kendaraan bis besar, dan kami juga mempertimbangkan warga sokokembang untuk terlibat langsung dalam trip ini, jadi kami membawa tamu-tamu ini menuju Sokokembang menggunakan Doplak, kendaraan pick up angkutan warga dan barang di Petungkriyono.
Sengaja menggunakan kendaraan bak terbuka karena alasan untuk mengamati primata ( Primate-watching)  di jalur hutan sokokembang dari Kroyakan sampai Sokokembang, kendaraan ini pas sekali, dan kita bisa sambil berdiri di belakang mengamati hutan di sekitar jalan  dan primata yang kebetulan berada di pinggir jalan dalam hutan .
Pengamatan Primata
Turun di gerbang ekowisata Petungkriyono, kami langsung di sambut kelompok monyet ekor panjang, dan Rekrekan, dan mulai dari sini obrolan tentang primata dan hutan dimulai. Setidaknya membedakan monyet dan kera juga menjadi hal yang paling sederhana untuk di kenalkan kepada mahasiswa asing ini. Ciri-ciri fisik adalah yang paling mudah di kenali, Owa yang tidak berekor dan monyet dengan ekornya.Namun ada dua jenis monyet berbulu hitam di hutan Sokokembang, yaitu Rekrekan dan Lutung Jawa. Keduanya dapat di bedakan dari warna bulu di dadanya, rekrekan lebih banyak warna putih, dan lutung cenderung gelap semuanya.
Selanjutnya acara di dusun Sokokembang kita sudah di sambut oleh bapak kepala desa Kayupuring, yang mengucapkan selamat datang kepada tamu jauh ini, dan memberikan gambaran sekilas tentang Sokokembang, Primata , potensi-potensi yang ada di habitat Owa jawa ini.
Acara mengenal kopi dan system budidaya selanjutnya menjadi agenda kunjugan sehari di habitat Owa, ke sebelas peserta ini kemudian kami ajak melihat menyusuri tegakan kopi hutan (shade grown coffee) Sokokembang yang menjadi habitat primata jawa dan satwa unik lainnya.
Melihat langsung habitat Owa dan kopi hutan 
Setelah menyusuri hutan dan melihat langsung tanaman kopi hutan, perserta kami ajak berpetualang menikmati cita rasa kopi habitat owa, dengan peralatan seduh manual kopi Arabica, kopi robusta yang sudah kami siapkan kami seduh dan semua peserta kami ajak memberikan komentar tentang kopi yang mereka minum tentu saja sambil menikmati pemandangan hutan disekitar Sokokembang.
coffee cupping  kopi habitat Owa
peserta field trip "Nature, Culture, and Agriculture"
Acara yang menutup rangkaian kegiatan ini adalah River tubbing, di dusun Kayupuring. River tubing  menyusuri sungai Welo, juga menjadi media mengenalkan habitat Owa Jawa dari sungai yang membelah hutan Petungkriyono. Kegiatan ini menjadi penutup rangkaian kunjugan  nature, culture dan agriculture .
r
River tubing Kali Welo ds.Kayupuring (foto :Purwo)





Saturday, July 4, 2015

Owa si Penyayi Rimba (bagian 1)

di tulis oleh Maida @meeda_yameda

Komunikasi merupakan suatu perilaku yang sangat penting bagi makhluk hidup. Organisme dapat bertukar informasi antar satu sama lain secara efektif dengan menggunakan sinyal saat berkomunikasi, salah satunya yaitu menggunakan sinyal berupa suara atau vokalisasi. Owa jawa (Hylobates moloch) dari kelompok Gibbon yang merupakan satwa endemik Indonesia yang hanya terdapat di Pulau Jawa, memiliki ciri khas berupa vokalisasi. Sinyal suara pada Owa jawa digunakan sebagai suatu alat komunikasi antar individu dalam satu kelompok atau kelompok yang berbeda.
Berbedanya anatomi saluran vokal pada setiap individu Owa jawa, memungkinkan setiap individu Owa jawa akan menghasilkan suara yang berbeda. Hal tersebut kemungkinan dijadikan sebagai identitas individu atau kelompok oleh Owa jawa.
Female song bout merupakan salah satu contoh vokalisasi pada Owa jawa yang digunakan untuk berkomunikasi antar kelompok dalam menjaga jarak antar kelompok sehingga teritorial kelompok tidak akan tumpang tindih yang biasanya dilakukan pagi hari. Uniknya, hanya individu betina dewasa dalam kelompok yang menjadi perwakilan dalam menandai teritorial kelompok, kontribusi jantan dewasa sangatlah sedikit dan hampir tidak pernah. Hal tersebut juga terjadi pada Owa klosii (Hylobates klossii) dari Sumatera (berdasarkan studi yang dilakukan oleh Haimoff dan Tilson, 1985).

Gambar 1. Peralatan penelitian.
Identifikasi kelompok pada satu listening post di Hutan Sokokembang dilakukan pada minggu pertama dalam studi ini. Pencatatan sudut dari arah datangnya suara dan jarak pengamat pada Owa jawa yang bersuara dilakukan agar dapat mengetahui letak dan jumlah kelompok Owa jawa yang suaranya terdengar dari listening post. Selain itu, juga dilakukan pencatatan jumlah great call, waktu bersuara serta perekaman suara great call dari beberapa kelompok yang nantinya akan dianalisis menggunakan Raven pro 1.4.

Gambar 2. Pengambilan data suara Owa jawa.
Hasil sementara menunjukan bahwa terdapat 9 kelompok Owa jawa yang suaranya terdengar hingga listening post. Jarak objek bervariasi dari 400-2000 m. Namun, hanya great call dari beberapa individu yang direkam karena jauhnya jarak pengamat dengan objek. Pergeseran sudut yang tercatat dari setiap kelompok adalah 0o hingga 87o dari utara.
Dalam sembilan kelompok ini, kelompok 2 memiliki jumlah great call paling banyak. Namun, cukup sulit dalam menganalisis suara kelompok ini karena ada duet call yang terjadi antara induk betina dengan anaknya. Mereka melakukan single wa-notes dalam waktu yang bersamaan, akan tetapi saat masuk kedalam fase great call, hanya induk betina yang bersuara.

Thursday, March 19, 2015

Wildlife Friendly Coffee, Cerita secangkir kopi dari habitat Owa

Tulisan ini mengajak anda untuk lebih memberikan perhatian kepada alam di sekitar kita, bahwa kita hidup di bumi adalah saling berbagi dengan hidupan lainnya, termasuk satwaliar. Banyak cerita bahwa hidupan liar dan habitatnya juga telah membawa kesejahteraan bagi manusia di sekitarnya. Sudah selayaknya kita ikut berkontribusi langsung untuk memperlambat laju kepunahan hidupan liar di sekitar kita.

Penelitian dan pelestarian  Owa jawa (Hylobates moloch) di hutan Sokokembang,Petungkriyono, Pekalongan, setidaknya telah memberikan tantangan yang berbeda bagaimana kita lebih menghargai apa yang ada disekitar kita. Termasuk nilai penting suatu satwaliar dan habitatnya itu sendiri. Beberapa foto di bawah ini telah mengungkap jenis-jenis satwaliar yang ada di habitat owa, yang juga hutan kopi robusta.
Menggunakan kamera yang bekerja automatis  yang kami tempatkan di atas permukaan tanah dan di tajuk pohon telah berhasil mengidentifikasi jenis-jenis satwaliar yang hidup di lahan kopi hutan.

Babi Hutan


Landak

Rekrekan

Kopi yang tumbuh di hutan dan diolah tanpa merusak habitat hidupan liar tentunya mempunyai nilai lebih dibandingkan dengan kopi  tumbuh dengan cara  membuka hutan dan tanpa memberikan ruang bagi hidupan liar lainnya untuk habitatnya. Kopi yang tumbuh di hutan tentunya di proses dengan melibatkan masyarakat sekitar hutan, bagaimana mereka memanen dan memproses kopi-kopi tersebut tentunya tidak semudah apabila dalam habitat yang monoculture. Batasan-batasan kondisi geografis, cuaca dan tenaga tentunya tidak akan terpikir nyata apabila kita hanya duduk diam membaca tulisan ini sambil minum kopi di rumah.

Sebagai bagian dari tujuan kami memperkenalkan dan mengajak untuk melestarikan habitat hidupan liar, untuk  anda yang jauh dari hutan dan peminum kopi sudah selayaknya memberikan perhatian lebih kepada secangkir kopi yang tempat tumbuhnya juga menjadi rumah bagi fauna-fauna yang hampir punah ini. Menghargai kopi tentunya sudah tidak hanya sekedar citarasanya , namun juga menjadi kebanggaan dan kenikmatan tersendiri bahwa kita telah berkontribusi bagi kelestarian alam ini. 

Tuesday, December 30, 2014

SwaraOwa, menyuarakan pelestarian Owa Jawa dan habitatnya

spectogram suara  Owa Jawa

Hutan Sokokembang, Petungkriono, Pekalongan. Salah satu yang menarik dari mempelajari hidupan liar  adalah perilakunya. Bersuara pada waktu-waktu tertentu, dengan suara yang khas dan intonasi tertentu dan waktu tertentu dan juga kemudian di respon oleh individu atau kelompok lain dengan suara yang khas juga. Inilah yang dalam ilmu pengetahuan di sebut “bioacustic” sinyal suara  yang dikeluarkan oleh hidupan liar oleh untuk tujuan komunikasi dan orientasi, atau pun untuk tujuan tertentu ataupun menunjukkan keberadaan hidupan liar itu sendiri.

Sebagai contoh Owajawa sangat unik perilakunya, untuk melihatnya pun susah, namun hampir setiap pagi primata ini bersuara dan  suara owa yang keras dapat di dengar hinga lebih dari 1.5 km. Dengan topografi habitatnya yang bergunung semakin sulit untuk dapat melihat langsung keberadaan Owa Perilaku bersuara ini juga menjadi identitas individu yang membedakan individu satu dengan yang lain.

Applikasi penelitian ini sementara dapat digunakan untuk tujuan edukasi dan peningkatan kepedulian pelestarian alam. Para pembaca blog yang tinggal jauh dari hutan juga dapat mulai mengenal bahwa hutan , binatang, serangga,kodok,burung,  angin, air dan segala hidupan liar juga mempunyai cara unik untuk berkomunikasi. Selamat mendengarkan suara-suara dari hutan habitat Owa jawa di link berikut ini https://soundcloud.com/sokokembang-petungkriono